Anak-Anak Yatim Hebat

Kata “yatim” dalam bentuk single disebut di dalam al-Quran sebanyak 9 kali. Sedangkan kata “yatâmâ” yang berarti plural anak-anak yatim disebut sebanyak 13 kali. Posisi anak yatim sangat dimuliakan dalam al-Quran. Tak sedikit orang-orang hebat yang disebut al-Quran adalah anak-anak yatim. Pemimpin para pecinta anak yatim adalah Nabi Muhammad SAW, yang dulunya merupakan anak yatim, karena beliau tak pernah bertatap muka dengan ayah kandungnya. Tak heran, beliau sangat mencintai anak yatim. Para pengkafil yatim beliau janjikan akan selalu dekat dengannya nanti di surga Allah. Dan siapa yang menghardik dan memusuhi atau berbuat zhalim kepada anak yatim sama saja bermusuhan dengannya juga termasuk satu dari sekian karakter para pendusta agama Allah.

Nabi Isa as. juga anak yatim, karena memang beliau tak pernah memiliki ayah secara biologis. Beliau menjadi tanda kekuasaan penciptaan Allah. Sama halnya Adam as, yang juga tak pernah memiliki orang tua, karena dia diciptakan Allah sebagai manusia pertama yang tak berhubungan dengan ciptaan Allah lainnya. Adam diciptakan dari ketidakadaan.

Maryam, ibu Isa, juga terlahir sebagai anak yatim. Ia disiapkan Allah menjadi pembuka munculnya ayat-ayat dan tanda kekuasaan Allah di masa yang akan datang.

Sedangkan Yusuf as. meski ia memiliki orang tua, tapi masa kecil, remaja hingga dewasanya menjadi yatim. Karena beliau dijauhkan dari ayahnya juga keluarganya.

Nabi Ismail as. putra Nabi Ibrahim, juga menjadi yatim sejak kecilnya, karena dihijrahkan ke tempat yang jauh dari ayahnya. Ia juga hanya beberapa kali saja berjumpa dengan ayahnya.

Anak yatim mungkin sebuah istilah yang seringnya diperuntukkan menggambarkan kondisi seorang anak yang kehilangan ayahnya. Sebenarnya kehilangan ayah tidaklah hanya kehilangan permanen, bisa juga karena banyak hal anak-anak kehilangan ayahnya. Kehadiran fisiknya tak ada, kabarnya tak diketahui, tidak jelas rimbanya. Hal itu lebih menyedihkan jika sang ayah sebenarnya masih berstatus sebagai orang yang ada atau masih hidup.

Di bumi keberkahan Baitul Maqdis, mungkin saat ini bila dipersentasikan jumlah anak-anak yatim sangat banyak. Keyatiman yang terjadi bila diakibatkan sebab-sebab natural, barangkali kondisi seperti ini bisa diantisipasi, baik oleh perorangan atau kelembagaan melalui lembaga-lembaga kemanusiaan. Tapi, seandainya anak-anak yatim itu hadir dan muncul akibat sebuah peristiwa kerusakan atau keburukan yang disebabkan oleh kezhaliman, maka itulah yang harus segera diselesaikan oleh semua manusia yang masih memiliki nurani.

Anak-anak kecil di Gaza dan sebagian besar wilayah Palestina yang tinggal menyisakan beberapa persen saja dari wilayah aslinya, adalah gambaran suram bentuk keyatiman yang memprihatinkan. Mereka bahkan bukan kehilangan ayah tapi juga kakak-kakaknya. Sang ayah dan kakak, sebagian meninggal sebagai korban perang, atau di dalam penjara Zionis Israel tanpa bisa dilacak keberadaannya. Sebagian lagi, diketahui berada di dalam penjara, namun tak bisa ditemui dengan tanpa alasan yang jelas. Sebagian lain, menghilang tanpa kabar. Sebagian berada jauh di suatu tempat, sebagian lagi tidak menentu di tempat-tempat pengungsian, beranak-pinak di pengungsian tanpa memiliki tanah air dan tak pernah bisa kembali untuk menjenguk anak-anaknya yang dulu.

Jika, saja al-Quran menganjurkan umat Islam untuk memperhatikan anak-anak yatim secara umum. Lalu, anak-anak yatim yang sangat menderita akibat kezhaliman di Palestina, sudah semestinya harus diakhiri penderitaan mereka. Belumlagi, anak-anak yatim yang juga berada di balik jeruji besi kezhaliman Israel. Meskipun, faktanya para pejuang yang hebat selalu terlahir sebagai anak-anak kecil. Fakta mencengangkan terjadi justru angka kelahiran tumbuh berkembang di Palestina, dalam keadaan yang sangat sulit.

Wahai orang-orang yang ingin bertetangga dengan Rasulullah SAW, berbuatlah sesuatu untuk anak-anak yatim Baitul Maqdis. Wallahu al-Musta’ân.

 

Catatan Keberkahan 87

Jakarta, 01.02.2018

SAIFUL BAHRI

Iklan