Relativitas Waktu

Karunia waktu adalah salah satu nikmat yang sering dilalaikan manusia. Padahal Allah tak sedikit bersumpah dengan nama dan satuan waktu, juga menyebutnya dalam al-Quran. Waktu-waktu yang disebut seperti malam, siang, pagi dan petang adalah pertanda keniscayaan manusia dibatasi oleh waktu. Sementara satuan waktu, seperti tujuh hari atau malam, sepuluh hari, tiga puluh atau empat puluh hari, bilangan bulan, tahun dan seterusnya adalah pertanda Allah memperhatikan nominal-nominal tersebut, namun tak berarti mengkultuskan. Karena hakikat waktu bukanlah pada bilangan atau angka, namun pada apa yang terjadi atau diperbuat manusia.

Nilai manusia tak selalu diukur dari usia. Seseorang berusia 40 tahun belum tentu lebih baik dari yang berusia 30 tahun. Jika ukurannya angka, maka umat Nabi Muhammad SAW kalah kualitas dengan umat Nabi Nuh ‘alaihissalam. Demikian halnya kuantitas amal, tidak pula menjadi barometer nilai manusia. Karena yang dinilai Allah adalah kualitasnya.

Sebaliknya, jika yang menjadi patokan adalah standar modern bisa jadi Nabi Nuh dinilai sebagai nabi yang gagal karena dengan waktu panjang hanya sedikit saja pengikutnya. (baca: Angka-Angka dan Batas Kemampuan)

Mari belajar dari kemuliaan yang Allah sematkan lailatul qadar. Malam itu nominalnya satu, tapi nilainya mengalahkan seribu bulan. Tingkat kelebihan dan keistimewaannya juga limitless (tanpa batas). Hanya Allah saja yang mengetahui kelebihan kuailtas tersebut.

Di zaman sekarang diperlukan pengetahuan yang baik tentang efektivitas waktu dan kegiatan. Banjir informasi di era digital menjadikan internet menjadi kebutuhan primer manusia modern. Berinteraksi dengan mesin menjadi keniscayaan. Jika tak punya modal pemahaman baik tentang literasi media, maka ia akan ditenggelamkan oleh teknologi modern.

Sebagian orang waktunya habis untuk mengumpulkan materi demi menghidupi diri dan keluarganya. Sebagian muda habis waktu di depan gadgetnya. Sebagian lagi dihabiskan dengan permainan-permainan yang melenakan. Sebagian yang memahami, bahwa pertempuran zaman modern berbentuk proxy (jarak jauh) dan menggunakan media, menjadikannya meladeni semua isi media; terutama media sosial. Sehingga ia kehabisan waktu dan tidak fokus.

Orang-orang yang cerdas adalah yang mampu fokus. Nabi Muhammad SAW mengajarkan melatih kecerdasan sebagai “al-kayyis” yaitu yang mengetahui dan menyiapkan kehidupan setelah mati. Hanya sedikit orang yang membayangkan dan menyiapkan kehidupan setelah matinya. Sebagian besar manusia berkhayal tentang kehidupan dunianya dan melupakan kehidupan setelahnya. Andai semua khayalannya bisa terwujud, maka kebanyakan manusia hanya berkhayal hidup di dunia saja. Itulah jebakan hidup matrealisme dan hedonisme.

Jika dzikir istighfar ada waktu-waktu istimewa, dan membaca al-Quran juga demikian, maka perlu menyusun strategi agar usia kita yang tak banyak ini lebih bermanfaat. Agar waktu satu hari kita bisa bernilai lebih baik dari puluhan, ratusan atau ribuan hari manusia lainnya, maka kitalah yang perlu fokus dan menyusun prioritasnya. Kita perlu mempartisi waktu kita. Namun, membagi bukan untuk memisah-misahkan satu dengan lainnya. Karena pada hakikatnya, hidup dan mati seseorang bisa dipersembahkan semuanya untuk beribadah kepadaAllah SWT. Demikian halnya saat kita menyaksikan kezhaliman terjadi di mana-mana. Maka perlu mulai dan fokus dari sumbernya. Dari kezhaliman global, tapi aksinya dimulai dari individu dan keluarga dekat.

Keterbatasan waktu kita ini juga sebaiknya tak membuat diri ini terpancing untuk banyak berkomentar dan terlalu memikirkan komentar orang di sekitar kita. Berbuatlah, maka Allah akan menyaksikannya. Berbuatlah kebaikan, dan jangan remehkan sekecil apapun. Jadikan waktu ini penuh berkah, dengan senyuman dan tebarkan optimisme. Bisa jadi, hal tersebutlah yang akan meruntuhkan kezhaliman yang makin merajalela dan ditakuti oleh orang yang lemah imannya. WalLâhu al-Musta’ân.

 

Catatan Keberkahan 83

Jakarta, 08.01.2018

SAIFUL BAHRI

Iklan

Kultwit: Memohon Keberkahan #waktu

S a i f u l   B a h r i

jam tangan
Memohon keberkahan #waktu …
1. Allah berikan durasi #waktu yg sama kpd setiap makhluknya. 1 hari di bumi sbg tempat kehidupan sama dgn 24 jam lamanya. Tanpa dibedakan.
2. Dgn #waktu yg sama tsb kondisi orang berbeda2. Ada yg sukses, jd org hebat yg bermanfaat & produktif. Sbagian lg ada yg tak berbuat apa2
3. Dgn karunia #waktu org2 shalih manfaatkan utk perbaiki diri, tebar kebaikan, ajak sbanyak2 orang utk dekat dgn orbit kebaikan & kesalihan
4. Dgn karunia #waktu org2 btaqwa jg diri dr kelalaian & ktidakmanfaatan hidup. Pertahankan kualitas hidup standar dg menaati petunjuk Allah
5. Dg #waktu yg sama org2 zhalim puaskan diri utk tindas sesamanya. Tenggelamkan dlm kebencian manusia & murka Allah, tambah pundi-2 dosanya
6. Dg #waktu yg sama org-2 bodoh buang-2 banyak kesempatan utk perbaiki hidupnya, tuntut ilmu, berguru pd ulama, banyak membaca & berdialog
7. Para ulama dg karunia #waktu wakafkan diri utk ilmu, mencarinya ke berbagai pelosok bumi kmd sebarkan ke mana-2, maksimalkan pengaruhnya.
8. Ilmu yg bermanfaat memberi pengaruh positif pd jiwa ulama & pencerahan bg masyarakat sekitarnya. Itulah keberkahan #waktu yg
sebenarnya
9. Imam Nawawi yg hidupnya (hanya) berusia 45 th. Sumbangkan karya2 terbaiknya sbg warisan utk umat setelahnya. Bermanfaat & sgt inspiratif
10. Nabi Nuh as tempuh #waktu yg panjang dlm dakwahnya; 950 th. Tp hasilnya tak sedikitpun memengaruhi semangat & kualitas dirinya. Berkah.
11. Yahya as muda berani sampaikan kebenaran kpd penguasa yg zhalim. Meski berakibat terbunuhnya beliau. #waktu pendek tp berefek dahsyat
12. Pemimpin alim & adil, Umar bin Abd Aziz hanya 2,5 thn sj. Sejahterakan rakyatnya, hadirkan keadilan bg masyarakatnya. #waktu yg
singkat
13. Nabi Muhammad saw, miliki istri lebih dr satu, pemimpin negara, panglima perang, penyayang yatim & janda, pahlawan fakir miskin. #waktu
14. Beliau jg guru bg para sahabat, qiyamullail setiap malam, khusyu’ dlm shalat, pergi ke pasar, beraktivitas padat. #waktu yg dipangkas?
15. Org2 hebat itu miliki #waktu yg sama spt kita. Tp keberkahan telah membedakan hidup mreka. Bermanfaat utk masyarakatnya & makin bertaqwa
16. Saat tak produktif mengapa ada rasionalisasi: “AKU TAK PUNYA #waktu !” sesibuk apakah org yg mengatakannya,lebih sibuk dr Nabi Muhammad?
17. Saat tak bisa tolong si mazhlum dg bantuan, bahkan sekedar doa pun tidak. Ada yg berkata juga: “AKU TAK PUNYA #waktu” sesibuk apakah dia
18. Saat hidup stagnan, biasa2, atau penuh perbuatan sia2. Segera bangkit & katakan: “AKU MASIH PUNYA #waktu . Setidaknya kesempatan
berubah
19. Mungkin ini hikmah Allah bersumpah dg beberapa #waktu : malam, siang, shubuh & dhuha. Bahkan dirangkum dlm istilah “wal-ashr”. DEMI
MASA
20. Akar katanya mirip “ashir” yg berarti jus buah; saripati buah. Maka “al-ashru” adl saripati & intisari #waktu. Waktu produktif manusia.
21. Sgt wajar dikatakan bahwa manusia sungguh “sangat merugi”. Yaitu mereka yg tak tahu, tak sadar ada karunia keberkahan dlm #waktun ya.
22. Manusia merugi adl mereka yg tak tahu #waktu produktifnya. Tak bisa gunakan sebaik-baiknya. Tak mampu syukuri nikmat & karunia mahal tsb
23. Allah berikan solusi utk melacak #waktu produktif tsb dgn: kristalisasi iman pd Allah, realisasikan dg tindakan nyata & saling
berwasiat
24. Saling berwasiat dlm kebenaran. Membela, menjunjung, pertahankan & sebarkan kebenaran (al-haq) serta bersabar melakukannya terus-menerus
25. Di usia 40 th Sang Nabi SAW mulai kebaikan dr sendiri. 13 th setelahnya diikuti oleh 114.000 org dr berbagai suku. Inilah berkah
#waktu
26. Al-Bukhori kumpulkan hadits 600.000 slm 16 th.Diperas jd 7563 hadis dlm Shahihnya,jd referensi penting bg setiap muslim.Berkah #waktunya
27. Keberkahan #waktu adl misteri. Tp setiap kita punya kesempatan sama utk meraihnya. Usaha-Tekad-Saling ingatkan. Yakin pd Pemilik waktu.
28. Jangan berhenti berbuat… sambil memohon keberkahan #waktu agar diri kita bermanfaat untuk sebanyak mungkin para makhluk-Nya. ~ tamat ~

Jakarta, 26.09.2013