يوسف القرضاوي

YÛSUL AL-QARADHÂWY:

KARUNIA ALLAH DI ABAD MODERN*

(Da’i, ‘Âlim, Aktivis, Faqîh, Guru, Sastrawan, Intelektual, Orator dan Pemikir)

Saiful Bahri**

Mukaddimah

Mengkaji pemikiran seseorang memerlukan penguasaan yang cukup baik terhadap perkembangan pemikiran serta pengaruh-pengaruh yang dialami olehnya. Dan yang tak kalah pentingnya, bagaimana sang tokoh tumbuh dalam keluarga dan berada di lingkungannya.

Tulisan berikut belum bisa dikatakan mewakili penguasaan pemikiran seorang Syeikh al-Qaradhâwy, dikarenakan penulis belum banyak berinteraksi dan membaca karya beliau. Bahkan hanya sedikit saja buku yang selesai terbaca. Penulis sempat bertemu beliau sekali, ketika beliau datang ke Mesir di suatu musim panas dan mengisi sebuah ceramah di Masjid Musthafa Mahmud, Muhandisin, Cairo. Penulis tertolong dengan diterbitkannya sebuah buku yang dipersembahkan dalam rangka memperingati usia beliau yang ke-70 tahun[1]. Selain itu beberapa buku yang mudah terjangkau oleh kemampuan penulis yang terbatas.

Profil Tokoh

Yusuf Abdullah al-Qaradhâwy dilahirkan di kota al-Mahallah al-Kubrâ, propinsi al-Gharbea, 09 September 1926. Dalam usia dua tahun al-Qaradhâwy telah yatim. Ayahnya meninggal dan hanya memiliki putra semata wayang serta tak sempat menyaksikan karunia Allah tersebut tumbuh dewasa dengan kecerdasan dan kesalihannya. Tak berapa lama, sang Ibu pun menyusul ayahnya; berpulang ke pangkuan Allah. Sang Ibu sempat menyaksikannya selesai menghafal al-Qur’an dengan bacaan yang bagus. Al-Qaradhâwy menghafalnya sebelum genap berusia 10 tahun.

Beliau menempuh semua jenjang pendidikannya di Lembaga Islam al-Azhar, Mesir. Menyelesaikan strata S1 pada tahun 1953 di Fakultas Ushuluddin dan memperoleh Diploma mengajar pada tahun 1954. Pada tahun 1960 menyelesaikan (tamhidy) masternya di jurusan Tafsir Hadits. Kemudian pada tahun 1973 meraih gelar doktor dengan disertasi: Az-Zakâh wa `Atsâruhâ fi Halli al-Musykilât al-Ijtimâ’iyyah. Yang kemudian dicetak dengan sebuah judul yang sangat terkenal; Fiqhu az-Zakâh: Dirâsah Muqâranah li `Ahkâmihâ wa Falsafatihâ fi Dhau`’i al-Qur’ân wa as-Sunnah.

Al-Qaradhâwy muda sibuk mengajar dan berkhutbah di beberapa masjid. Kemudian beliau bekerja di kantor Pengembangan Budaya Keislaman di Al Azhar. Menjadi Pengawas Masalah Keagamaan di Kementrian Wakaf Mesir. Tahun 1961 beliau bertuas di Qatar dan menjadi Kepala Ma’had Tsanawy di sana. Tahun 1973 setelah Fakultas Tarbiyah dibuka di Universitas Qatar beliau memprakarsai didirikannya Jurusan Studi Islam. Pada tahun 1990 beliau bertugas ke Aljazair dan setelah itu kembali lagi ke Qatar sebagai Direktur Pusat Studi Sunnah dan Sirah.

Beliau aktif di beberapa Majma’ dan Lembaga-lembaga Ilmiah dan Dakwah, diantaranya: Majma’ Fikih Rabithah ‘Alam Islamy di Makkah, Majma’ Buhus al-Hadharah al-Islamiyah di Yordania, Pusat Studi Islam di Oxford, Majelis Pemangku Amanat Universitas Islam Internasional Islamabad serta mengepalai beberapa Badan Pengawas Syariah di berbagai Perbankan Islam.

Al-Qaradhâwy sangat terkesan dengan kepribadian beberapa tokoh. Di antaranya Hasan al-Banna, pendiri al-Ikhwân al-Muslimûn. Disamping beberapa tokoh lain seperti Syeikh Muhammad Khidhr Husein, Syeikh Mahmud Syaltut, Dr. Abdul Halim Mahmud, al-Bahi al-Khuly, Syeikh Muhammad al-Ghazali dan Sayyid Sâbiq.

Pengenalannya terhadap pribadi Hasan al-Banna yang kharismatik sebagai seorang guru dan penceramah yang bernuansa lain, membuat beliau tertarik. Dan pada akhirnya bergabung dalam kafilah dakwah al-Ikhwân al-Muslimûn. Semasa kuliah bahkan sempat menjadi ajudan Mursyid kedua al-Ikhwân al-Muslimûn, Syeikh Hasan al-Hudhaiby. Menemani beliau dalam berbagai perjalanan dakwah.

Keaktifan beliau dalam dakwah tak pernah putus dan berhenti. Baik dari sejak muda di usia-usia sekolah dan kuliah. Ataupun pada saat beliau aktif menulis dan menggoreskan karya-karya brilian.

Al-Qaradhâwy sempat beberapa kali dipenjara. Pertama kalinya pada tahun 1949, di akhir tahun Tsanawiyah pada masa Raja Farouk. Kemudian pada tahun 1954-56. Dan kembali ditahan pada tahun 1965 di masa pemerintahan Gamal Abdun Naser.

Dalam keluarganya al-Qaradhâwy dikenal sebagai suami yang baik bagi istrinya serta putra-putrinya. Serta bertanggung jawab dalam membina mereka sebagaimana al-Qaradhâwy mendakwahkan Islam di luar keluarganya.[2]

Karya al-Qaradhâwy

Sejak usia 17 tahun al-Qaradhâwy muda mengumpulkan tulisannya menjadi sebuah karya yang siap cetak. Akan tetapi pasca keterlibatan al-Ikhwân al-Muslimûn dalam pembebasan Palestina yang berujung pada penangkapan para aktivisnya, Al-Qaradhâwy ikut merasakan akibatnya. Al-Ikhwân al-Muslimûn dilarang, kekayaannya disita dan disegel. Beberapa karya beliau juga ikut hilang.

Karya-karya al-Qaradhâwy tidaklah sulit untuk dipahami. Beliau lebih suka menggunakan bahasa yang lugas dan mudah dipahami serta tidak bertele-tele. Tidak berputar-putar pada tataran filosofis saja, namun lebih menekankan aspek praktik dan mengangkat realita serta menghubungkannya sengan penyelesaian dan pendekatan keislaman. Buku-buku, khutbah dan ceramahnya mudah dipahami.

Hingga saat ini karya-karya al-Qaradhâwy sudah lebih dari 100 buku diberbagai disiplin dan wawasan, tentang fikih, ekonomi Islam, tafsir hadits, aqidah, akhlak dan pembinaan spiritual, dakwah dan tarbiyah, silsilah proyek kebangkitan umat dan pergerakan Islam, seputar Islamiyyat ‘ammah, biografi dan siroh tokoh, adab dan sastra serta beberapa kumpulan ceramah dan khutbah. Ada 9 buku yang ditulis para tokoh-tokoh tentang al-Qaradhâwy serta ada 5 tesis dan disertasi yang membahas metodologi dakwah, peran pemikiran dan karya-karya beliau.[3] Di antara sekian karya al-Qaradhâwy tak sedikit yang sudah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa. Buku dan karya al-Qaradhâwy selalu ditunggu untuk segera ditransfer ke seluruh pelosok dunia.

Al-Qaradhâwy Moderat dan Universalitas Islam

Salah satu masalah yang sering diperdebatkan orang adalah tentang hubungan antara Islam dan Arabisme. Untuk menjawab pemahaman parsial dan kepingan pemikiran sebagian pemikir,al-Qaradhâwy menjawab dengan bahasa sederhana dengan tujuan mensosialisasikan dan mendakwahkan Islam sebagaimana mestinya untuk dipahami. Yaitu keutuhan Islam sebagai ajaran Allah. Al-Qaradhâwy menulis beberapa karakteristik utama ajaran agama Islam. Ajaran Islam yang memiliki tujuh karakter pokok: Rabbâniyah (bersumber dari Tuhan), Insâniyyah (humanis), Syumûl (integral dan universal), Wasathiyah (moderat), Wâqi’iyyah (realistis), Wudhûh (jelas) serta integrasi antara yang konstan dan fleksibel (tsabât dan murûnah)[4].

Fondasi pemahaman yang kokoh tentang karakteristik inilah yang kemudian akan mengokohkan pemahaman yang mapan tentang Islam dan Arabisme. Secara khusus bahkan beliau meluangkan waktunya untuk kembali menulis sebuah buku yang berjudul ats-Tsaqâfah al-‘Arabiyyah al-Islâmiyyah wa al-Mu’âshirah. Al-Qaradhâwy membidik kebimbangan pemikiran yang mempertanyakan keaslian peradaban Islam. Benarkah bisa disebut sebagai peradaban Islam, bukan peradaban Arab. Di mana letak perbedaannya? Apa hubungan Islam dan Arab. Setelah itu bagaimana umat ini semestinya mempertegas identitasnya. Identitas dan loyalitasnya. Untuk Islam dan bukan Arab. Al-Qaradhâwy bermaksud menengahi perseteruan dua kubu ekstrim. Satu pihak yang bermaksud meniadakan nasionalisme Arab dan di lain pihak para murid orientalis yang tergila-gila dengan wacana Nasionalisme Arab dengan mengatasnamakan revolusi dan memarginalkan peran serta identitas Islam.

Lebih lanjut al-Qaradhâwy kembali menjelaskan pembahasan Peradaban dan Kebudayaan dalam konteks modern dalam sebuah buku yang cukup baru Tsaqâfatunâ Baina al Infitâh wa al-Inghilâq. Al-Qaradhâwy ingin mengajak umat Islam berintrospeksi diri terhadap sikap dan gaya hidup serta kreatifitas serta peradaban umat. Pembicaraan masalah ini bukanlah kepentingan orang lain. Namun, menjadi kepentingan kita sebagai umat untuk memperhatikan masalah kita. Untuk sebuah perbaikan dan peningkatan ke arah yang lebih baik. Introspeksi dalam artian apakah sikap kita selama ini kolot dan kaku atau cenderung membuka diri tanpa selektifikas. Al-Qaradhâwy ingin melepaskan umat dari belenggu perdebatan wacana peradaban dan kebudayaan menjadi perbincangan peran riil terhadap perbaikan dan reformasi internal[5].

Seruan moderat yang diusung al-Qaradhâwy adalah berada pada kesatuan dan sebuah titik temu antara dua kutub ekstrim, dari pemahaman konservatif dan pemahaman liberal yang lepas. Titik temu moderat ini tercermin dalam akidah. Yaitu keberadaan umat antara kepercayaan tahayyul dan khurafat serta anti ketuhanan (atheisme). Moderat dalam beribadah, yang tercermin dalam kemudahan yang tidak menganggap mudah atau menyepelekan. Dalam dimensi akhlak, menujunjung pekerti mulia. Namun, tetap menempatkan manusia sebagai manusia yang bukan malaikat dan selalu terhindar dari kesalahan. Titik temu berikutnya pada garis tengah antara spiritualisme dan matrealisme.[6]

Sebagai ‘alim yang moderat al-Qaradhâwy juga mengambil jalan tengah untuk mengambil sebuah hukum. Sebagai contoh sederhana, bagaimana beliau melihat peran cinema dan perfilman dalam dakwah serta seni dan dunia sastra. Lebih jelasnya pada pembahasan fikih al-Qaradhâwy.

Al-Qaradhâwy Seorang Fakih

Sebagai seseorang yang menekuni spesialisasi al-Qur’an dan al-Hadits secara akademik beliau laik untuk disebut orang yang memahami agama, seorang faqih. Akan tetapi yang dimaksud dengan faqih di sini lebih dalam dari itu. Penguasaan yang matang tentang berbagai madzhab fikih membuatnya seimbang dalam memberikan fatwa. Dengan penggalian hukum dari dua sumber aslinya, al-Qur’an dan as-Sunnah.

Kematangan fikih al-Qaradhâwy sebenarnya dimulai dari orientasinya yang obsesif untuk tidak terkungkung dalam sebuah pemahaman tertentu tanpa melihat pendapat lain atau fanatisme madzhab. Cara pandang dan pembelajaran fikih seperti inilah yang menyebabkan cara pengambilan hukum serta fatwanya menjadi lebih terbuka, lintas madzhab dengan didasarkan pada sikap moderat (wasathiyah) dan penuh toleransi (tasâmuh) serta memudahkan pemahaman dan pelaksanaan ajaran agama (taysîr).

Tak mengherankaan jika kemudian Syeikh al Azhar, Mahmud Syaltut menugaskan al-Qaradhâwy untuk menulis sebuah buku yang kemudian diberi judul al-Halâl wa al-Harâm fi al-Islam. Dalam mukadimah cetakan pertama al-Qaradhâwy mengatakan, “Kantor Kebudayaan Islam al-Azhar memberitahukan pada saya keinginan Syeikh al-Azhar agar saya ikut serta dalam proyek ilmiah dengan menulis buku-buku sederhana yang akan diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris. Untuk mengenalkan Islam dan ajarannya di Eropa dan Amerika serta mendakwahi orang-orang non muslim.”[7] Buku ini telah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa dunia dan menjadi salah satu buku terlaris al-Qaradhâwy.

Al-Qaradhâwy juga menulis sebuah buku sederhana yang mengupas tentang berbagai permasalahan yang berkaitan dengan puasa. Tulisan tersebut dikemas dalam fikih taysir.[8]

Lebih dari itu sifat faqih secara spesifik dilekatkan pada pribadi al-Qaradhâwy bila dihubungkan dengan teori-teori maqâshid syarî’ah. Yaitu kandungan maksud teks-teks agama dari Allah, baik yang berbentuk perintah atau anjuran maupun yang berbentuk larangan.

Al-Qaradhâwy tak memiliki pandangan yang jauh berbeda dengan jumhur ulama dalam masalah ini. Yang kemudian diterjemahkan dalam kasus-kasus kontemporer. Sebagai contoh tentang permasalahann monopoli. Al-Qaradhâwy menyebutkan pentingnya keikutsertaan publik dalam menikmati hasil-hasil bumi dan kekayaan sosial sebagaimana contoh tentang pembagian fay’. Yaitu prioritas pada golongan-golongan lemah seperti fakir miskin, yatim piatu dan ibnu sabil[9]. “Apa saja harta rampasan (fai-i) yang diberikan Allah kepada Rasul-Nya yang berasal dari penduduk kota-kota maka adalah untuk Allah, Rasul, kerabat Rasul, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang-orang yang dalam perjalanan, supaya harta itu jangan hanya beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kamu…”[10]

Al-Qaradhâwy menggali khazanah maqâshid ini dengan mengupas terlebih dahulu tangga-tangga hal-hal primer (dharûriyât) dalam Islam. Adapun urutan tangga-tangga tersebut Al-Qaradhâwy memilih pendapat Imam al-Ghazali, yaitu: agama, jiwa, akal, nasab dan harta[11]. Bertolak dari hal ini kemudian al-Qaradhâwy memformat sebuah fikih baru sebagai tuntutan realita. Fikih realita ini kental dalam studi fikih prioritas dan muwâzanah.

Al-Qaradhâwy menjelaskan dengan membuka urgensi fikih prioritas bagi umat ini. Kemudian menghubungkan keterkaitan permasalahan ini dengan pembelajaran fikih-fikih lainnya, seperti fikih muwâzanah., fikih maqâshid dan fikih nushûsh. Prioritas yang berlevel dan bermacam-macam ini dirinci dengan contoh-contoh relita kontemporer. Prioritas kualitas/ cara (kaif) atas kuantitas (kam). Prioritas dalam berbagai aspek, seperti dimensi ilmu dan pemikiran, dakwah dan fatwa, dimensi praktek dan proyek-proyek Islami, prioritas dalam hal-hal yang diperintahkan dan dianjurkan, prioritas dalam hal-hal yang berhubungan dengan larangan Allah serta prioritas dalam urgensi perbaikan sosial dan reformasi (ishlâh)[12].

Prof. Dr. Ahmad ar-Raisuny[13] menilai bahwa keistimewaan fikih al-Qaradhâwy terletak pada ketekunannya dalam meletakkan berbagai ta’lil (alasan) serta analisa maqâshid syari’ahnya. Al-Qaradhâwy sering mengulang-ulang pernyataan Ibnul Qayyim, ”Sesungguh-nya ajaran syari’ah ini dibangun atas dasar hukum dan kemaslahatan hamba baik di dunia maupun di akhirat, semuanya keadilan, kerahmatan, hikmah dan penuh maslahat.[14]

Dalam mukaddimah Fatâwâ Mu’ashirahnya al-Qaradhâwy menjelaskan metodologi pengambilan fatwa dan hukum fikih. Mencoba menggali rahasia hikmah tasyri’ dan ta’lil fiqhy. Sebagai misal sederhana ketika al-Qaradhâwy menyinggung permasalahan maslahat.

“Sebagian manusia menyempitkan keluasan makna maslahat menjadi beberapa dimensi yang kecil. Tak heran jika pemahaman ini kemudian terbelenggu menjadi parsial, individual, lokal, maslahat sesaat dan bersifat duniawy.”[15]

Hal di atas sangat menggelisahkan al-Qaradhâwy. Apalagi jika pemahaman ini menjangkiti para tokoh dan pemuka masyarakat yang didengar perkataannya. Sungguh akan sangat memprihatinkan. “Padahal semestinya kita memandang maslahat ini dengan lebih luas. Ada dimensi integral, jamaah, universal, matari, spiritual, kepentingan yang akan datang, kekal, serta orientasi masa depan dan akhirat.”[16] Sebagaimana beliau membuat wacana baru yang hendak disosialisasikan kepada umat ini bahwa pemahaman tentang terminologi fikih tak selamanya berkutat tentang masalah peribadatan dan hal-hal furû’iyyah. Akan tetapi lebih luas dari itu. Yaitu mengaitkan segala permasalahan hidup dan hajat manusia dengan aturan Allah. Inilah yang kemudian kita kenal sekarang ini dengan terma fikih realita (Fiqh al-Wâqi’)

Al-Qaradhâwy, Dakwah dan Palestina

Ketertarikan al-Qaradhâwy terhadap figur Hasan Al-Banna membuatnya ingin mengetahui lebih jauh metode dakwah lelaki kharismatik tersebut. Al-Qaradhâwy memulai halaqah ilmiahnya bersama Syeikh Bahi al-Khuly. Saat itu al-Qaradhâwy bergabung bersama para pelajar tsanawiyyah dalam pelajaran Ahad dan Selasa pagi. Al-Qaradhâwy memulai bergabung dalam pelajaran kisah-kisah al-Qur’an. Di saat yang sama al-Qaradhâwy kadang mengikuti ceramah-ceramah yang disampaikan Hasan al-Banna.

Al-Qaradhâwy muda menjadi seorang dai dan orator yang hebat. Kata-katanya bukan hanya tegas dan berwibawa akan tetapi menyentuh karena disampaikan dengan hati dan segenap perasaan. Meyakini pesan gurunya, al-Banna ketika memberi wejangan “Perangilah manusia dengan cinta.”

Setelah berakhir perang dunia kedua, al-Banna menyeru pada dunia Islam untuk bangkit melepaskan diri dari kungkungan kolonialisme. Diantaranya menentang pendudukan Palestina dan menolak eksistensi Yahudi Israel di Palestina.

Seruan al-Banna segera menyebar ke seluruh pelosok Mesir. Adapun di Thantha, al-Qaradhâwy berperan sebagai penggerak para pemuda. Dalam waktu yang tak terlalu lama kafilah jihad al-Ikhwan al-Muslimun segera bergerak ke Palestina.

Tahun 1949 merupakan cobaan pertama untuk seorang al-Qaradhâwy. Ketika pemerintah kemudian menangkapi para aktivis al-Ikhwan al-Muslimun. Pada tanggal 8 September 1948 keluar keputusan militer pembubaran al-Ikhwan al-Muslimun. Penyitaan dan penyegelan kekayaannya dilakukan di mana-mana. Penangkapan para aktivisnya dilakukan secara besar-besaran. Dan al-Qaradhâwy muda merupakan salah satu tokoh yang dicari dan kemudian ditangkap oleh pihak security.

Dakwah al-Qaradhâwy berlanjut ketika meneruskan studinya di Universitas al-Azhar. Baik dilakukan antar sesama temannya ataupun kepada al-Azhar secara institusi untuk mengadakan reformasi. Otokritik terhadap ini sebenarnya telah lama ditulisnya. Namun, hilang bersama berbagai peristiwa intimidasi, penangkapan dan penyitaan khazanah al-Ikhwan al-Muslimun. Berkat taufik Allah lah akhirnya al-Qaradhâwy dapat kembali mempersembahkan otokritiknya terhadap al-Azhar dalam rangka memperingati 1000 tahun al-Azhar[17]. Sebagaimana al-Qaradhâwy mempersembahkan sebuah buku yang ditulisnya dalam rangka 70 tahun al-Ikhwan al-Muslimun, sebagai refleksi perjalanan dakwah[18].

Pasca revolusi tahun 1952 cobaan itu kembali menyambanginya. Al-Qaradhâwy kembali ditangkap pada tahun 1954. Setelah menyerukan independensi al-Azhar dan terjadi penagkapan besar-besaran. Terlebih pasca peristiwa Rekayasa Mansyiyah. Beliau dijebloskan ke penjara militer selama 20 bulan. Dan pada awal Juni 1956 beliau kembali menghirup udara kebebasan.

Penangkapan, intimidasi dan cobaan ini tak membuat al-Qaradhâwy berhenti berdakwah. Karena pemahaman dakwah yang sangat luas membuatnya mampu berdakwah di mana dan kapan saja. Baik melalui mimbar atau pena. Hanya saja, sebagian tulisan-tulisannya menghilang hingga saat ini dikarenakan penyitaan dan penangkapan para aktivis al-Ikhwan al-Muslimun.

Pada tahun 1960 beliau berangkat ke Qatar untuk bertugas di sana. Dan tabiat da’inya membuatnya mengabdikan diri untuk dakwah dengan totalitas penuh. Beberapa proyek dakwah berhasil dicanangkan dan dirintis di Qatar. Bahkan dari sana al-Qaradhâwy berpikir merambah dunia Eropa dan Amerika.

Sebagai pemikir dan intelektual andalan al-Ikhwan al-Muslimun, al-Qaradhâwy menjadi salah satu pilar penting untuk menyebarkan pemahaman dakwah ke seluruh pelosok dunia. Bukan hanya dengan karya saja al-Qaradhâwy mengunjungi berbagai belahan dunia. al-Qaradhâwy juga mendapat tugas melakukan perjalanan dakwah terutama di awal-awal perintisan dakwah di luar negeri. Al-Qaradhâwy ke Palestina dan Syiria. Datangnya seorang tokoh seperti al-Qaradhâwy dapat menjadikan spirit baru bagi para pelaku dakwah di luar pusatnya.

Geliat dakwah al-Qaradhâwy juga terlihat jelas dalam tulisan-tulisannya. Terutama dalam silsilah asShahwah al-Islâmiyyah. Ini merupakan proyek dakwahnya yang bertujuan untuk menyadarkan umat akan kebangkitan Islam. Serta menempuh jalan-jalan kemanusian dengan melengkapi perangkat-perangkat kebangkitan tersebut. Al-Qaradhâwy menulisnya dalam Min `Ajli Shahwah Râsyidah. Kemudian secara terperinci al-Qaradhâwy memaparkan beberapa hal yang berkaitan dengan pemahaman kebangkitan; Ash-Shahwah al-Islâmiyyah wa Humûm al-Wathan al-‘Araby, Ash-Shahwah al-Islâmiyyah baina al-Juhûd wa at-Tatharruf, Ash-Shahwah al-Islâmiyyah baina al-Ikhtilâf al-Masyrû’ wa at-Tafarruq al-Madzmûm dan Ash-Shahwah al-Islâmiyyah min al-Murâhaqah `ilâ ar-Rusyd.

Dalam mengokohkan fondasi kebangkitan ini diperlukan sebuah gerakan riil dengan tujuan dan target yang jelas. Untuk kepentingan ini diperlukan pula perangkat bernama jaringan, network atau gerakan. Al-Qaradhâwy merumuskannya dalam prioritas pergerakan Islam yang dibutuhkan umat untuk proyek kebangkitan[19]. Al-Qaradhâwy memulainya dengan membuka cakrawala pandangan tentang pergerakan Islam dan kaitannya dengan gerakan pembaruan keislaman. Setelah itu menjelaskan keluasan lapangan kerja proyek ini. Baik dari sejak kerja pembinaan (takwin) sampai lapangan politik atau ekonomi dan sosial serta berbagai lapangan lain.

Kemudian al-Qaradhâwy menjelaskan karakteristik dan sifat-sifat gerakan Islam yang diperlukan di masa-masa mendatang. Yaitu sebuah gerakan yang integral dan mendunia. Garapannya dari sejak dimensi keilmuwan dan pemikiran sampai pada dakwah dan pengayaan wawasan serta pembinaan dan pembentukan pribadi sampai pada perangkat supremasi bernama politik.

Al-Qaradhâwy dan Problematika Perempuan Kontemporer

Al-Qaradhâwy memang bisa dikatakan tak memiliki buku khusus tentang perempuan yang ditulisnya secara spesifik, kecuali beberapa buku kecil dalam silsilah Rasâ`il Tarsyîd ash-Shahwah. Akan tetapi al-Qaradhâwy sering mengangkat tema-tema yang berkaitan tentang perempuan dalam berbagai tulisannya. Dr. Hibah Rauf Izzat[20] mengamati perhatian al-Qaradhâwy tentang berbagai problematika kontemporer yang dihadapi perempuan[21].

Pola pandang moderat al-Qaradhâwy terlihat dalam penegasan kata-katanya,

“Laki-laki memiliki beberapa keistimewaan dalam hukum, bukan karena keberadaan laki-laki lebih mulia dan dekat di sisi Allah dari pada seorang perempuan. Sesungguhnya yang paling mulia adalah yang paling bertakwa di antara mereka; laki-laki ataupun perempuan. Keistimewaan ini dikarenakan tugas yang disesuaikan dengan kondisi fitrah masing-masing laki-laki dan perempuan[22].”

Islam sebagai agama yang memuliakan perempuan mengatur secara global interaksi perempuan di tengah pluralitas komunitas sosial. Pengaturan ini bukan dimaksudkan untuk mengekang, namun sebagai rambu-rambu penjaga kehormatan dan kelaikan fitrah yang dimilikinya. Sehingga perempuan selain sebagai potensi individu juga sebagai anggota masyarakat yang sama-sama bisa memberikan sumbangan riil untuk masyarakatnya.

Al-Qaradhâwy membeberkan panjang beberapa hadits dan peristiwa dalam sirah Nabi saw. serta para sahabat tentang keterlibatan perempuan dalam perbaikan sosial serta di medan jihad sekalipun.

Al-Qaradhâwy menyayangkan pandangan sebagian kaum muslimin tentang perempuan. Apalagi di tengah problematika kontemporer seperti saat ini. Pandangan yang terlalu “mengekang” justru akan berakibat pada pemberontakan perempuan. Karena itu sudah sepatutnya perempuan mendapatkan fasilitas pendidikan yang memadai sebagaimana laki-laki. Bahkan seharusnya lebih dari itu. Karena fitrah perempuan pertama sebagai pendidik bagi anak-anaknya. Sempitnya pandangan ini bisa dipengaruhi ketidakpahaman terhadap teks-teks agama yang mengedepankan taysîr (kemudahan) serta mengambil dalil-dalil yang hanya untuk mendukung pendapat ini. Atau bisa juga dikarenakan peletakan dalil/teks-teks tidak dalam konteks yang benar. Atau sebaliknya pandangan yang menjurus pada paham emansipasi liberal yang cenderung membebaskan perempuan sebebas-bebasnya.

Sebuah contoh, al-Qaradhâwy mencoba menganalisa sebuah hadits yang kadang cenderung disalahgunakan untuk mendiskreditkan kaum perempuan. Hadits yang diriwayatkan oleh Abi Sa’id al-Khudzry. Suatu ketika Rasulullah saw. dalam kesempatan Khutbah Idnya beliau berpesan pada kaum perempuan: Wahai kaum perempuan bersedekahlah sesungguhnya aku diperlihatkan bahwa kebanyakan penghuni neraka adalah kalian (kaum perempuan-pen). Mereka bertanya: Karena apa wahai Rasulullah? Beliau menjawab: Kalian banyak fitnah dan sering mendurhakai suami. Aku tak melihat orang yang kurang akal dan agamanya yang sanggup menghilangkan akal seorang laki-laki yang teguh dari pada salah satu dari kalian. Mereka kembali bertanya: Apa kekurangan agama dan akal kami wahai Rasullullah? Beliau menjawab: Bukankah persaksian perempuan setengah persaksian laki-laki? Mereka menjawab: benar. Beliau berkata: itulah sebagian kekurangan akalnya. Bukankah ketika dia sedang haidh dia tak mengerjakan shalat dan tidak berpuasa? Mereka menjawab: benar. Beliau mengatakan: itulah sebagian kekuarangan agamanya. (HR. Bukhari Muslim)[23]

Untuk mengetahui konteks dan pemahaman sebuah teks hadits al-Qaradhâwy mengajak untuk menelusurinya dari sumber yang orisinil serta membaca beberapa konsideran dan hadits-hadits lain baik yang qawliyah, fi’liyah ataupun taqririyah[24].

Hadits di atas bukanlah sebuah pengukuhan untuk sebuah ketentuan umum atau menghukumi. Lebih tepatnya sebagai ungkapan keheranan dari fenomena kekurangan perempuan yang ada yang kemudian mampu menghilangkan rasionalitas cerdas laki-laki yang teguh[25]. Konteks utama hadits ini adalah perintah bersedekah dan melindungi diri dari api neraka.

Dalam kesempatan lain[26] al-Qaradhâwy meyakinkan bahwa kata-kata “kekurangan akal dan agama” hanya sekali disebut. Itu pun dalam rangka nasehat lembut yang dimukaddimahi khusus untuk para perempuan. Kalimat di atas tidak datang tiba-tiba atau berada dalam suatu momen independen dalam bentuk pengukuhan. Tidak dalam majelis umum, tidak juga dalam majelis khusus perempuan atau bahkan majelis khusus laki-laki.

Lebih menarik lagi analisa al-Qaradhâwy tentang keterlibatan politik kaum perempuan. Terutama dalam pencalonan di parlemen dan peran-peran lainnya[27]. Diawali dengan meneliti dan menganalisa firman Allah, “Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu.”[28] Apakah benar ayat ini diperuntukkan kepada semua kaum muslimat?

Kemudian al-Qaradhâwy juga menyinggung soal perwalian umum seorang perempuan. Laikkah seorang perempuan menjadi presiden, mentri atau sebagai kepala proyek besar. Bagaimana al-Qaradhâwy memandang semua masalah ini?

Al-Qaradhâwy terkenal dengan ketajaman studi maqâshid dalam setiap pandangan dan analisanya. Itulah yang kemudian menjadikan pendapatnya berada di tengah, moderat. Namun, bukan berarti mengambang. Al-Qaradhâwy senantiasa mengajak untuk kembali kepada dua referensi pokok ajaran agama ini, al-Qur’an dan as-Sunnah.

Al-Qaradhâwy Sastrawan

Dr. Naguib Kaelani pernah menulis, ”para sastrawan muslim… selaiknya memperhatikan asal dari estetika dan keindahan serta kandungan orisinilitas pemikiran. Karena percobaan lapangan membuktikan seleksi yang sebenarnya. Keberhasilan pencitraan yang benar akan membuka cakrawala adab islami di tengah-tengah alur kata-kata dan untaian kalimat.”[29] Dan al-Qaradhâwy merupakan salah satu sastrawan yang membuktikan kebenaran bisa diterima secara baik.

Sebagai sastrawan yang pandai merangkai huruf-huruf untuk bukan sekedar dinikmati sebagai hiburan atau estetika al-Qaradhâwy tak pernah lupa untuk menyisipkan nilai dakwah sebagai jiwa dan ruh pesan satranya. Dari sejak yang berbentuk narasi dan makalah, khutbah ataupun syi’ir dan drama.

Karya yang berbentuk dialog drama beliau ada dua yaitu Yusuf ash-Shiddiq dan ‘Alim wa ath-Thagiyah. Kisah drama yang kedua menuturkan perhelatan haq dan bathil antara seorang ulama sahabat yang teguh bernama Said bin Jabir dan seorang penguasa yang lalim Hajjaj ats-Tsaqafy. Kisah dramatis dalam kungkungan sel-sel kecongkakan ini berakhir dengan unhappy ending, syahidnya sang alim yang teguh berpendirian di tangan penguasa yang kehilangan hati nurani.

Selain itu al-Qaradhâwy menulis sejumlah diwan syi’ir dan auto biografi perjalanan hidup yang dialaminya sebagai refleksi kepribadian yang matang dalam berbagai perkembangan dan peralihan masa. Auto biografi itu diberi judul Ibnu al-Qaryah wa al-Kuttâb; malamih sirah wamasirah.

Al-Qaradhâwy dan Permasalahan Sosial Serta Ekonomi Islam

Salah satu persembahan utama al-Qaradhâwy kepada khazanah Islamiyah adalah karya monumentalnya; Fiqh az-Zakâh. Ini menunjukkan perhatian penulisnya yang sangat mendalam terhadap penyelesaian Islami terhadap kasus-kasus dan peristiwa ekonomi dan sosial. Fikih Zakat didedikasikan untuk memberikan solusi praktis dilema zakat dan masalah perpajakan. Zakat sebagai solusi kebuntuan masalah-masalah sosial yang dihadapi negara-negara berkembang.

Al-Qaradhâwy memulai pembahasan ini dari memperjelas hakikat perbedaan antara zakat dan pajak. Kemudian membahas dasar-dasar teoritis perlunya zakat dan pajak. Perbandingan kebutuhan keduanya. Prioritas dan fungsi balance zakat. Dan bila koordinasi dan pengelolaan zakat ini dilakukan secara profesional, maka keseimbangan dan keadilan sosial akan terwujud[30]. Selain itu beliau juga tidak melewatkan berbagai permasalahan yang berhubungan tentang zakat. Sebagaimana para salaf menulis dan ditambah dengan berbagai kasus-kasus kontemporer. Tak heran jika buku ini menjadi referensi penting tentang perzakatan[31].

Karya-karya beliau yang lain yang didedikasikan untuk kepentingan ekonomi Islam: Daur al-Qiyam wa al-Akhlâq fi al-`Iqtishâd al-`Islâmy, Fawaidu al-Bunuk, Daur az-Zakah fi ‘Ilaj al-Masyakil al-`Iqtishadiyyah.

Dalam permasalahan perbaikan sendi-sendi sosial permasalahan masyarakat beliau menulis persoalan serius tentang pengangguran dan kesenjangan sosial, Musykilatu al-Faqr wa Kaifa ‘Alajaha al-Islam. Bahwa nilai-nilai normatif akhlak sosial merupakan ruh syariah Islam[32]. Karenanya kepentingan umum yang dimaksud adalah konsep keadilan sosial.

Perbaikan sosial yang dimaksudkan beliau adalah totalitas peran seorang muslim untuk memperbaiki masyarakatnya. Perbaikan sebagaimana metode dakwah yang dipelajarinya dari pendiri al-Ikhwân al-Muslimûn, Hasan al-Banna. Perbaikan yang dimulai dari pendekatan dan kesalihan individu yang akan menunjang terbentuknya keluarga sinergis yang baik untuk menopang keseimbangan sosial yang Islami dan berkeadilan. Dan bahwa tujuan untuk membangun khilafah islamiyah tak hanya menggunakan pendekatan-pendekatan politik. Karena itu perlu upaya-upaya serius untuk mendekati masyarakat dengan pendekatan akar bawah dan kesejahteraan. Karena itu beliau mengajak dan menyeru untuk membentuk jam’iyyah-jamiyyah khairiyah, lembaga-lembaga zakat dan panti asuhan serta penggalangan dana untuk para penuntut ilmu disamping untuk solidaritas dunia Islam[33]. Dan karena Islam adalah ajaran yang integral serta universal. Beliau meyimpan pertanyaan obsesif dalam benak reformisnya, bagaimana jika orang-orang kaya umat Islam ini mengumpulkan uang. Kemudian mereka menjadikannya sebagai modal untuk diputar sebagai aktivitas ekonomi Islam[34]. Namun, permasalahannya tak semudah yang beliau khayalkan. Kendala teknis lapangan menjadi ganjalan kedua setelah ganjalan pertama, yaitu kesadaran para orang-orang kaya tersebut. Di samping tak bisa dilepaskan dari sebuah pertanyaan baru, siapa yang mengoordinir pengumpulan harta tersebut. Belum lagi dihadapkan pada stigma negatif Islam phobia yang melekatkan predikat teroris dengan sangat congkaknya.

Al-Qaradhâwy, Pers dan Media Massa

Dalam dunia pers dan media massa al-Qaradhâwy sangat aktif berperan dalam perbaikan dan pencitraan pers Islam yang profesional. Dimulai dari keaktifan al-Qaradhâwy menulis sebagai kontributor atau konsultan di sejumlah majalah seperti al-Ummah, ad-Dauhah, Jaridah al-Arab, asy-Syarq, ar-Rayah dan ar-Rayyan. Selain itu al-Qaradhâwy sering tampil di mesia audio (radio) dan audio visual (televisi).

Sumbangsih pers al-Qaradhâwy tak berhenti sampai di situ. Al-Qaradhâwy mencoba merambah dunia maya dan menyerukan proyek besar ini sebagai jihad kontemporer untuk mengkaunter hal-hal yang negatif yang ada di jaringan internet. Al-Qaradhâwy menggagas berdirinya Jam’iyyah al-Balagh ats-Tsaqafiyyah sebagai fasilitator terluncurnya website islam terkemuka islamonline.net. Website ini terupdate dengan bagus dan terbit dalam edisi dua bahasa, Arab dan Inggris. Pertama kali diluncurkan pada tanggal 1 Oktober 1999[35].

Al-Qaradhâwy dan Para Kritikusnya

Walau bagaimanapun al-Qaradhâwy tetap seorang manusia biasa yang sarat dengan kekurangan. Tak ada seorang pun yang perkataan dan ide-idenya diterima semua pihak. Demikian halnya seorang al-Qaradhâwy. Meskipun banyak kalangan menerima ide dan gagasan-gagasan moderatnya, namun tetap ada pihak yang beroposisi dan mengambil jarak sebagai kritikus.

Permasalahannya bukan terletak pada siapa yang mengkritik, namun lebih bagus jika difokuskan pada apa muatan kritik tersebut dan bagaimana kritik tersebut disampaikan.

Di antara ulama yang mengkritik al-Qaradhâwy sekaligus menghormatinya sebagai seorang ‘alim adalah Syeikh Abdullah bin Bas, Syeikh Nasiruddin al-Albany serta Syeikh Rasyid al-Ghanusi. Syeikh al-Albany misalnya, menulis sebuah buku khusus yang diberi judul Ghâyah al-Marâm fî Takhrîj Hadîts al-Halâl wa al-Harâm. Al-Albany mengadakan studi analitik (takhrîj) kesahihan hadis-hadis yang ada dalam buku al-Halâl wa al-Harâm fî al-Islâm.

Selain itu, menurut Isham Talimah[36], kelompok yang keras mengkritik pemikiran Qardhawi adalah mereka yang menamakan diri sebagai kaum Salafî. Ia telah menemukan ada oknum yang menulis sebuah buku yang berjudul al-Qardhâwi fî al-Mîzân. Buku ini beredar luas di Sudi Arabia. Buku ini telah dijawab secara ilmiah oleh salah seorang mantan hakim Syari’ah Qatar, Syaikh Walid Hadi.[37]

Penutup

Rasanya terlalu singkat perjalanan pustaka menyusuri jejak kepribadian dan biografi seorang alim seperti al-Qaradhâwy. Semoga tulisan ini bisa mewakili sedikit gambaran tentang pemikiran moderat beliau. Mudah-mudahan Allah senantiasa memberkahi dan memperbanyak orang-orang seperti beliau. Amin.

Cairo, 24 Agustus 2004


ë Pernah dipresentasikan pada Workshop Pemikiran Ulama Kontemporer, Keluarga Pelajar Jakarta-Mesir, 26-27 Agustus 2004 di Wisma Nusantara, Cairo.

ëë Peserta Program S3 Universitas Al Azhar Cairo, Fakultas Ushuludin, Jurusan Tafsir.

[1] Yusuf al-Qaradhâwy: Kalimât fi Takrîmihî wa Buhûs fi Fikrihi wa Fiqhihi, Muhdâh `Ilaihi bi Munâsabati Bulûghihi as-Sab’în, (Cairo: Darussalam), Cet.I, 2004.

[2] Seperti yang dituturkan Dr. Abdurrahman Yusuf al-Qaradhâwy, Aby, dalam Yusuf al-Qaradhâwy: Kalimât fi Takrîmihî wa Buhûs fi Fikrihi wa Fiqhihi, Op.Cit, hal. 394

[3] Yusuf al-Qaradhâwy: Kalimât fi Takrîmihî wa Buhûs fi Fikrihi wa Fiqhihi, Op.Cit, hal. 969-977

[4] Dr. Yusuf al-Qaradhâwy, al-Khashâ`ish al-‘Âmmah li al-Islâm, (Beirut: Muassasah Risalah), cet. VIII, 1993

[5] Saiful Bahri, Dr. Yusuf al-Qaradhâwy: Kebudayaan Umat Islam; Ekslusif atau Inklusif?, dalam Diskursus Kontekstualisasi Pemikiran Islam, (Cairo: Kelompok Studi Walisongo), cet. I, 2003, hal. 195

[6] Dr. Yusuf al-Qaradhâwy, al-Khashâ`ish al-‘Âmmah li al-Islâm, Op. Cit, hal. 127-156

[7] Dr. Yusuf al-Qaradhâwy, al-Halâl wa al-Harâm fi al-Islâm, (Cairo: Maktabah Wahbah), cet. XXII, 1997, hal. 9

[8] lihat karya beliau yang berjudul Taysîr al-Fiqh fi Dhau’’i al-Qur’an wa as-Sunnah (Fiqh ash-Shiyam), (Beirut: Muassasah Risalah), Cet. III, 1993.

[9] Dr. Yusuf al-Qaradhâwy, As-Sunnah Mashdaran li al-Ma’rifah wa al-Hadhârah, (Beirut: Dar Syuruq), cet.II, 1998, hal. 231

[10] QS. Al-Hasyr:7

[11] Dr. Yusuf al-Qaradhâwy, As-Siyâsah as-Syar’iyyah fi Dhau’i Nushus asy-Syari’ah wa Maqâshidiha, (Cairo:Maktabah Wahbah), cet. I, 1998, hal. 311-313

[12] Dr. Yusuf al-Qaradhâwy, Fi Fiqhi al-Awlawiyât; Dirâsah Jadâdah fi Dhau`’i al-Qur’an wa as-Sunnah, (Cairo: Maktabah Wahbah), cet. II, 1996

[13] Guru Besar Ushul Fikih dan Maqashid Syari’ah Universitas Muhammad al-Khamis dan Ketua Gerakan at-Tauhid wa al-Islah, Maroko.

[14]Yusuf al-Qaradhâwy: Kalimât fi Takrîmihî wa Buhûs fi Fikrihi wa Fiqhihi, Op. Cit, hal. 120

[15] Dr. Yusuf al-Qaradhâwy, As-Siyasah as-Syar’iyyah fi Dhau’i Nushus asy-Syari’ah wa Maqashidiha, Op. Cit, hal. 255

[16] Ibid hal. 256

[17] Dr. Yusuf al-Qaradhâwy, Risâlah al-Azhar Baina al-`Ams wa al-Ghadd, (Cairo: Maktabah Wahbah), cet. I, 1984

[18] Yaitu buku beliau, Al-Ikhwan al-Muslimun; 70 ‘Aman fi ad-Da’wah wa at-Tarbiyah.

[19] Dr. Yusuf al-Qaradhâwy, Awlawiyat al-Harakah al-Islamiyyah fi al-Marhalah al-Qadimah, (Bahama: Bank at-Taqwa), tanpa tahun.

[20] Dosen Fakultas Ekonomi dan Ilmu-ilmu Politik Universitas Cairo.

[21] Yusuf al-Qaradhâwy: Kalimât fi Takrîmihî wa Buhûs fi Fikrihi wa Fiqhihi, Op. Cit, hal. 917

[22] Dr. Yusuf al-Qaradhâwy, Malâmih al-Mujtama’ al-Muslim `Alladzi Nunsyiduhu, (Cairo:Maktabah Wahbah), Cet.I, 1993.

[23] Al-Bukhari, hadits 293, Kitab: Haydh, Bab: Tarku al Hâ`idh as-Shaum. Dan Muslim, hadits 114, Kitab: al-Imân, Bab: Nuqshan al-Iman bi Naqs at-Tha’at.

[24] Dr. Yusuf al-Qaradhâwy, al-Marji’iyyah al-‘Ulya fi al-Islam li al-Qur’an wa as-Sunnah, (Cairo: Maktabah Wahbah), 1992, hal. 197

[25] Ibid. 199

[26] Saat beliau memberikan kata pengantar untuk buku salah satu sahabat terdekatnya, Abdul Halim Abu Syuqqah, Tahrir al-Mar’ah fi Ashri ar-Risalah.

[27] Pandangan-pandangan moderat beliau tentang perempuan bisa dibaca dalam buku-bukunya: Min Fiqh ad-Daulah, Muslimatul Ghad dan Markaz al-Mar’ah fil-Hayah al-Islamiyah.

[28] (QS. Al-Ahzab: 33)

[29] Yusuf al-Qaradhâwy: Kalimât fi Takrîmihî wa Buhûs fi Fikrihi wa Fiqhihi, Op. Cit, hal. 508

[30] Lihat pada bahasan tentang Zakat dan Pajak pada jilid kedua, Fiqh az-Zakah (Beirut: Muassasah Risalah), cet.VII, 2001

[31] Yusuf al-Qaradhâwy: Kalimât fi Takrîmihî wa Buhûs fi Fikrihi wa Fiqhihi, Op. Cit, hal. 948. Buku Fiqh az-Zakah memuat 300-an hadits dan 227 ayat al-Qur’an yang memiliki keterkaitan dengan masalah-masalah ekonomi

[32] Dr. Yusuf al-Qaradhâwy, Madkhal li Dirasati as-Syari’ah al-Islamiyyah, (Cair: Maktabah Wahbah), cet. IV, 2001, hal. 75

[33] Dr. Yusuf al-Qaradhâwy, al-Hall al-Islamy; Faridhah wa Dharurah, (Bahama: Bank at-Taqwa), tanpa tahun.

[34] Yusuf al-Qaradhâwy: Kalimât fi Takrîmihî wa Buhûs fi Fikrihi wa Fiqhihi, Op. Cit, hal. 957

[35] Yusuf al-Qaradhâwy: Kalimât fi Takrîmihî wa Buhûs fi Fikrihi wa Fiqhihi, Op. Cit, hal.226

[36] Sekretaris al-Qaradhâwy, alumni Universitas al-Azhar.

[37] Cecep Taufikurrohman, S.Ag, Syaikh Qardhawi: Guru Umat Pada Zamannya, www.islamlib.com, published: 9/7/2002.

Iklan