Bintu Syathi, Aisyah Abdurrahman

BINTU SYÂTHI’

DAN ALIRAN TAFSIR SASTRA TEMATIK*

Saiful Bahri, MA.**

Pendahuluan

Al-Qur’an yang diturunkan dengan Bahasa Arab sekaligus merupakan mukjizat Nabi Muhammad saw. adalah tantangan bagi seluruh manusia dan jin. Baik yang memahami bahasa Arab, berbicara dan tahu seluk beluknya, ataupun mereka yang tidak tahu sama sekali. Semuanya menerima tantangan mukjizat ini[1]. Dan hingga saat ini, al-Qur’an tetap sakti. Kokoh tiada tertandingi dengan model tulisan apapun dan dari bahasa manapun, Arab ataupun yang lainnya. Dalam bentuk apapun.

Salah satu keunikan al-Qur’an adalah adanya pengulangan-pengulangan di berbagai tempat. Para ulama banyak yang membicarakan keunikan ini serta menghubungkannya dengan studi tematik modern. Muhammad Quthb misalnya menegaskan sisi tantangan tersebut dengan berbagai gaya bahasa. Bahkan ada pengulangan dalam satu surat sebanyak 31 kali, seperti surat ar-Rahmân. Beliau ambil permisalan ketika kita mengenal seseorang tidaklah mungkin mengetahui sepotong-sepotong ciri-ciri fisiknya. Karena kesatuan fisik seseorang meliputi semuanya; mata, hidung, telinga, dan sebagainya. Itulah yang dinamakan keutuhan[2].

Dr. Muhammad al-Higazy membahasnya lebih rinci dalam al-Wahdah al-Maudhu’iyyah fi al-Qur’an al-Karim. Dalam bahasa beliau disebut fenomena al-Qur’an (Dhahirah Qur’aniyyah). Tema-tema tertentu diulang di berbagai bagian dengan corak yang berbeda sesuai kondisi, dan lingkungan serta waktu turunnya[3]. Surat-surat makkiyah berbeda dengan yang madaniyyah[4].

Kesatuan tema inilah yang akhirnya memunculkan sebuah aliran penafsiran tematik. Baik yang bercorak umum, yang hanya menghubungkan simpul hubungan antar bagian al-Qur’an diberbagai pembahasan. Biasanya kajian bahasa dan sastra. Ataupun yang bercorak khusus, sebagai tuntutan bahasan tertentu dengan menghubungkan seluruh unsur yang ada di dalam al-Qur’an. Semisal kajian perempuan dalam al-Qur’an, dan sejenisnya.

Aliran tafsir bercorak sastra sosial, misalnya, lahir di era modern yang diprakarsasi oleh madrasah Muhammad Abduh. Sebuah corak tafsir modern dengan pembacaan berbagai masalah sosial yang berkembang di tengah masyarakat, diintegrasikan dengan sentuhan-sentuhan sastra[5]. Dengan perluasan makna tafsir bira’yi Muhammad Abduh menjadi inspirator aliran tafsir modern yang memberikan ruang akal lebih luas.

Dalam perkembangannya, kajian-kajian bahasa yang menekankan pembahasan sastra terutama balâghahnya masih kurang. Kebanyakan mencukupkan dengan buku-buku klasik tulisan ulama abad ke-4 sampai abad ke-8. Inilah kira-kira yang kemudian menjadi mativator utama seorang Bintu Syâthi’ untuk mengembangkan kajian tematik bahasa sastra dalam tafsir. Kita mengenal salah satu buku tematik fenomenal beliau; at-Tafsîr al-Bayâni li al-Qur’ân al-Karîm.

Bintu Syâthi’ dan at-Tafsîr al-Bayâni li al-Qur’ân al-Karîm.

Barangkali back ground studi bahasa dan sastra, yang membuat beliau semakin mencintai pembahasan kesastraan. Apalagi pada masa-masa perkuliaan beliau di Mesir pendalaman bahasa ini dikaitkan dengan studi al-Qur’an. Yang kemudian beliau kembangkan lebih lanjut ketika bertandang ke Maroko. Tepatnya di Universitas Qarawiyyin. Guru Besar Studi al-Qur’an ini beberapa kali diundang untuk mengisi forum ilmiah internasional dengan tema studi dan kajian al-Qur’an, sejak awal-awal tahun 1960-an. Hal ini salah satu yang membantu beliau untuk lebih intens menghubungkan kajian bahasa dan sastra sebagai spesialisasi beliau dengan kemukjizatan bahasa dalam al-Qur’an.

Buku yang kita bahas saat ini, at-Tafsîr al-Bayâni li al-Qur’ân al-Karîm, awalnya merupakan tema-tema muhadharah beliau untuk para mahasiswa Fakultas Syari’ah di Fas. Sebelumnya juga ”al-I’jaz al-Bayani” yang awalnya adalah materi Ulum al-Qur’an di Universitas Dar al-Hadits al-Hasaniyah di Rabath. Hingga beliau benar-benar meluangkan waktu untuk spesialisasi kajian bahasa al-Qur’an di Universitas Qarawiyyin[6] sejak tahun 1970.

Buku tafsir tematik ini diklasifikasikan oleh Dr. Abdusattar Fathullah Said dalam tafsir maudhui ’am (tafsir tematik bercorak umum)[7]. Sebuah gaya penafsiran dengan kajian tematik umum di berbagai masalah yang berbeda dengan sudut pandang yang satu. Seperti halnya kajian tafsir ayat-ayat hukum, misalnya.

Dr. A’isyah Abdurrahman ’Bintu Syâthi’, yang juga guru besar sastra Ain Syams, menekankan aspek pembahasan kemukjizatan sastra bahasa dalam al-Qur’an, sebagai kesatuan rasa (wahdah dzauqiyyah dan wijdâniyyah).

Metodologi Tafsir Sastra Tematik

Bintu Syâthi’ sangat terpengaruh gaya sang guru yang juga pendamping hidupnya, Syeikh Amin al-Khuly. Secara garis besar metodologi kajian sastra tematik al-Qur’an disimpulkan dalam empat pokok pikiran[8].

Pertama, mengumpulkan unsur-unsur tematik secara keseluruhan yang ada di beberapa surat. Untuk dipelajari secara tematik. Dalam buku ini beliau tidak memakai metode kajian tematik murni seperti itu. Namun, dengan pengembangan induktif (istiqrâ’i). Mula-mula beliau gambarkan ruh sastra tematik secara umum. Kemudian merincinya per-ayat. Akan tetapi perincian ini berbeda dengan perincian yang digunakan dalam kajian tafsir tahlily (analitik) yang cenderung menggunakan maqtha’ (pemberhentian tematik dalam satu surat). Di sini beliau membuka dengan kupasan bahasa dalam ayat itu kemudian dibandingkan dengan berbagai ayat yang memiliki kesamaan gaya bahasa. Kadang menyebut jumlah kata. Adakalanya memberikan kesamaan dan perbedaan dalam penggunaannya. Terakhir beliau simpulkan korelasi antara gaya bahasa tersebut.

Kedua, memahami beberapa hal di sekitar nash yang ada. Seperti mengkaji ayat sesuai turunnya[9]. Untuk mengetahui kondisi waktu dan lingkungan diturunkannya ayat-ayat al-Qur’an pada waktu itu. Dikorelasikan dengan studi asbab an-nuzul. Meskipun beliau tetap menegaskan kaedah al-ibrah bi’umûm al-lafzh lâ bi khus6ush as-sabab (kesimpulan yang diambil menggunakan keumuman lafazh bukan dengan kekhususan sebab-sebab turun ayat).

Ketiga, memahami dalâlah al-lafzh. Maksudnya indikasi makna yang terkandung dalam lafazh-lafazh al-Qur’an. Apakah dipahami sebagaimana zhahirnya ataukah mengandung arti majâz (kiasan) dengan berbagai macam klasifikasinya. Kemudian ditadabburi dengan siyaq khâsh (hubungan-hubungan kalimat khusus) dalam satu surat. Setelahnya mengorelasikannya dengan siyâq ’âm (hubungan kalimat secara umum) dalam al-Qur’an.

Keempat, memahami rahasia ta’bîr dalam al-Qur’an. Hal ini sebagai klimaks kajian sastra. Dengan mengungkap keindahan, pemilihan kata, beberapa penakwilan yang ada di beberapa buku tafsir yang mu’tamad. Tanpa mengesampingkan posisi gramatikal arab (i’rab) dan kajian balâghah.

Sastra tematik yang penulis maksudkan di sini adalah, corak tafsir modern yang menganut madzhab dan aliran tematik umum (maudhû’i ’âm). Pengkajiannya dikhususkan pada pembahasan sastra bahasa dalam satu surat. Beliau tidak mengambil seluruh surat dalam al-Qur’an. Namun, beberapa surat pendek saja. Yaitu tujuh surat pendek juz ’amma pada buku pertama; adh-Dhuhâ, asy-Syarh, az-Zalzalah, al-’Âdiyât, an-Nâzi’ât, al-Balad, dan at-Takâtsur. Dan tujuh surat pendek lainnya pada buku kedua; al-’Âlaq, al-Qalam, al-’Ashr, Al-Lail, al-Fajr, al-Humazah, dan al-Mâ’ûn.

Sebagai perbandingan, Muhammad Quthb juga mengkaji secara tematik umum persurat dengan klasifikasi makky madany serta klasifikasi masing-masing keduanya. Dengan satu titik central; kajian tematik akidah. Karena menurut beliau tema besar al-Qur’an adalah pemurnian akidah[10]. Setelah mengupas beberapa aspek penting dalam tema besar yang ingin beliau sampaikan beliau menafsirkannya secara tematik dalam beberapa sampel surat. Tiga surat makkiyah; ar-Ra’d, Luqmân, dan Fâthir. Juga tiga surat madaniyyah; al-Baqarah, Âly ’Imrân dan an-Nisâ’.

Rujukan Utama

Dalam buku ini Bintu Syâthi’ banyak meruju’ ke pendapat Zamakhsyari dalam bukunya al-Kasysyâf dan Abu Hayyan dalam tafsirnya al-Bahr al-Muhîth. Dalam mukaddimahnya secara metodologi beliau mengikuti sang guru dan suaminya, Amin Khuly.

Serta sedikit banyak beliau juga mengadopsi beberapa gaya Mushtafa Shadiq ar-Rafi’iy. Lebih rinci tentang ini beliau tulis dalam mukaddimah buku ulumul qur’an ”al-I’jâz al-Bayâniy[11].

Beberapa Contoh

Salah satu contoh tafsir sastra tematik Bintu Syâthi’, surat al-Zalzalah[12]. Dibuka dengan tema umum; al-yaum al-âkhir. Kemudian beliau mengkalisifasikannya sebagai awal-awal surat madaniyyah. Yaitu berada pada urutan keenam. Surat madaniyyah seperti ini justru menekankan aspek akhidah dan iman pada hari akhir. Memberikan gambaran sebaliknya, surat-surat makkiyyah juga bukan berarti tak memuat tasyri’ dan penjelasan hukum.

Mukaddimah singkat ini segara beliau lanjutkan dengan malâmih (outward) sastra tematik dalam surat ini. Pertama, ayatnya pendek–pendek. Ini mengindikasikan bagi pendengar adanya keseriusan dan pesan yang urgen yang tak bertele-tele. Kedua, dalam ungkapan yang singkat seperti ini pun masih ada pengulangan-pengulangan untuk penekanan-penekanan tertentu. Ketiga, kata-kata yang dipilih pun berpengaruh kuat seperti zalzalah (bergoncang) untuk menunjukkan kedashsyatan. Ungkapan serupa juga ada di surat-surat lain seperti al-ghasyiyah, ath-thammah, al-waqi’ah dan lain-lain. Keempat, disebut dalam bentuk pasif. Tanpa menyebutkan subyek (pelaku)nya. Ini memberi tekanan pada perhatian kepada kejadiannya. Bukan berarti menafikan keberadaan pelakunya. Beliau juga menyebutkan hal serupa di beberapa ayat yang tersebar di berbagai surat al-Qur’an. Dalam hal ini penakwilan fâ’il (subyek) tidak dibenarkan. Karena sudah jelas, yaitu Allah. Pesan yang disampaikan kepada manusia, bahwa bumi yang sedang dihuni saat ini memiliki potensi bergoncang kapan saja. Goncangan yang berbeda-beda yang bahkan bisa berakibat kehancuran yang berakhir dengan kefanaan.

Setelah itu, Bintu Syâthi’ merincinya tiap ayat. Dari sejak penyebutan arti bahasa, pemilihan kata zalzalah (baik kata zulzilat maupun kata zilzâlahâ), kemudian pengungkapan dalam bentuk madhi (past tense) yang bermaksud suatu kepastian dan penggunaan kata syarat idza (apabila).

Pada ayat selanjutnya beliau menguraikan penggunaan kata aktif akhrajat (mengeluarkan) dan bumi sebagai pelakunya. Ini merupakan jenis kiasan. Setelah itu merinci penafsiran ’atsqâl (beban-beban berat yang dikandung bumi).

Pada ayat selanjutnya, titik tekannya adalah keheranan manusia. Baik yang beriman maupun yang kafir. Sebagian mufassirin ada yang berpendapat orang kafir saja. Di sini beliau mentarjih pendapat pertama. Dikarenakan tak ada dalil yang mengkhususkan keumuman ayat ini.

Pertanyaan ini pun tanpa jeda langsung dijawab pada ayat selanjutnya. Beliau juga sedikit menyitir pendapat para ahli tafsir tentang ”penceritaan” bumi. Sebagian tetap menjadikannya ungkapan kiasan. Sebagian lagi berpendapat sebaliknya, bahwa memang benar-benar hari itu bumi bisa berbicara. Dalam kesempatan ini beliau menyebutkan pendapat beberapa mufassir, diantaranya; ath-Thabary, az-Zamakhsyary, Abu Hayyan, dan at-Thabursy.

Pertanyaan-pertanyaan yang memungkinkan akan timbul pun ditimpali dengan ayat selanjutnya. Bahwa ini semata adalah titah pencipta manusia, Tuhan yang mengutus Muhammad pada kaumnya dan seluruh manusia setelahnya. Dalam ayat ini beliau agak panjang lebar berbicara masalah wahyu.

Pesan penting berikutnya adalah penggunaan kata yauma`idzin (pada hari itu). Untuk menunjukkan posisi dan keberadaan manusia setelah terpendam di alam kubur dan dibangkitkan kemudian. Menurut Sayyid Quthb ini adalah bagian penggambaran penokohan dan setting. Seolah-olah pembaca dan pendengarnya seperti berada di depan sebuah film dan pertunjukan yang benar-benar nyata di depannya[13]. Beliau kembali mengungkap rahasia pengungkapan dengan kata yashdur (keluar) bukan dengan sinonim lainnya yakhruj atau yansharif. Lebih jelas lagi setelah ada penjelasan bagaimana cara keluarnya manusia dari kuburnya. Yaitu bermacam-macam. Berbeda-beda. Berpisah-pisah. Berpencar-pencar. Keduanya beliau pakai. Bermacam-macam dan berbeda sesuai amalannya di dunia. Sedang berpencar dan berpisah-pisah, dikarenakan kondisi yang demikian mencekam. Menanti sebuah pengadilan agung yang sangat menentukan nasib mereka.

Bagaimana balasan mereka setelah itu diterangkan dalam dua ayat penutup. Kedua ayat ini memiliki muqâbalah (perbandingan) yang jelas sekaligus menunjukkan keindahan gaya bahasa. Beliau juga menyebutkan rahasia penggunaan kata ”mitsqâla dzarrah”. Di samping menyebutkan perbedaan madzhab dalam memahami ayat ini. Baik para mutakallimîn maupun firaq yang ada. Ada Zamakhsyari sebagai sampel pemikiran mu’tazilah. Abu Hayyan, mewakili dhahiriyyah. Kemudian at-Thabursy, mufassir syi’ah. Polemik ini muncul saat ada pertanyaan, kebaikan yang dilakukan orang kafir yang dijatuhkan dengan kekafirannya. Sebanyak apapun kebaikan itu. Bahkan beliau juga tak melewatkan pendapat Syeikh Muhammad Abduh, salah seorang tokoh yang dikaguminya.

Pada akhirnya, hanya Allahlah yang berhak menentukan balasan ini. ”Dia memberi ampun kepada siapa yang dikehendaki-Nya dan mengadzab siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. 48: 14)

Penutup

Demikian seklumit tentang pembaruan tafsir yang dibawakan oleh Bintu Syathi’ dalam tafsirnya, at-Tafsîr al-Bayâni li al-Qur’ân al-Karîm. Semoga yang sedikit ini bermanfaat untuk menjadi stimulan mudârasah kita terhadap al-Qur’an. Sehingga semakin meningkatkan keimanan kita kepadanya sekaligus menjadikan hidup kita lebih berkualitas. WalLâhu al-Musta’ân.

Pagi menjelang siang

Cairo, 28 September 2005


* Pernah disampaikan pada Diskusi Inklusif Musim Tsaqafi di Sekretariat PCI Muhammadiyah Cairo, Rabu, 28 September 2005

** Peserta Program S3 Jurusan Tafsir, Fakultas Ushuluddin, Universitas al-Azhar Cairo.

[1] Lihat al-Baqilany, I’jâz al-Qur’an, (Beirut: Dar al-Jail), Cet.I, 1991, hal.165

[2] Muhammad Quthb, Dirâsât Qur’âniyyah, (Beirut: Dar asy-Syuruq), Cet.VI, 2004, hal.254-255.

[3] Dr. Muhammad al-Higazy, al-Wahdah al-Maudhû’iyyah fi al-Qur’ân al-Karîm, (Zaqaziq: Maktabah Dar at-Tafsir), Cet.II, 2004, hal.87

[4] Beliau menyebut jumlah surat makkiyah sekitar 80-an dan madaniyyah sebanyak 29 surat. (Ibid). Lihat lebih jelas pembagian Makky dan Madany dalam As-Suyuthi, al-`Itqân fi ’Ulûmi al-Qur’ân, (Beirut: Dar al-Kuutub al-’Ilmiyyah), Cet.I, 2004, hal.21 dan Dr. Muhammad Abu Syahbah, al-Madkhal li Dirâsati al-Qur’ân, (Cairo: Maktabah as-Sunnah), Cet.I, 1992, hal.203

[5] Dr. Muhammad Husein adz-Dzahaby, At-Tafsîr wa al-Mufassirûn, (Cairo: Maktabah Wahbah), Cet.VI, 1995, 2/588.

[6] Bintu Syâthi’, at-Tafsîr al-Bayâni li al-Qur’ân al-Karîm, (Cairo: Dar al-Ma’ârif), Cet.VII, 1/10.

[7] Dr. Abdussattar Fathullah Said, al-Madkhal ilâ at-Tafsîr al-Maudhû’iy, (Cairo: Dar at-Tauzi’), Cet.II, 1991, hal. 32

[8] Sebagaimana yang beliau nukil dan ringkas dari buku Manâhij Tajdid-nya Amin al-Khuly. At-Tafsîr al-Bayâni li al-Qur’ân al-Karîm, Op. Cit. 1/10.

[9] Imam Suyuthi menyebutkan qashidahTaqrîb al-Ma`mûl fi Tartîb an-Nuzûl” karya al-Burhan al-Ja’bary. Meski pada akhirnya beliau mengomentari keanehan pendapat yang diambil dari salah seorang tabiin, Jabir bin Zaid. Lebih jelas bisa dilihat (As-Suyuthi, al-`Itqân fi ’Ulûmi al-Qur’ân, Op. Cit, hal.44).

[10] Muhammad Quthb, Dirâsât Qur’âniyyah, Op.Cit, hal.513.

[11] Bintu Syâthi’, at-Tafsîr al-Bayâni li al-Qur’ân al-Karîm, Op.Cit, hal.14.

[12] Bintu Syâthi’, at-Tafsîr al-Bayâni li al-Qur’ân al-Karîm, Op.Cit, hal.79.

[13] Pembahasan ini lebih lanjut dibahas Sayyid Quthb dalam buku beliau; At-Tashwir al-Fanniy fi al-Qur’an.