Benarkah Nabi Muhammad Punya Niat Bunuh Diri?

Hadits terhentinya wahyu di awal masa kenabian

dan “isu”bunuh diri Rasulullah saw.

Menyambung beberapa riwayat yang sering dijadikan senjata untuk “menembak” Rasulullah saw. Mencela kepribadian beliausebagai seorang Nabi sang tauladan dan uswah hasanah kita semua.

Yaitu sebuah hadits yang diulang beberapa kali oleh Imam Bukhori di tiga tempat yang berbeda dengan penambahan yang berbeda pula. Yaitu tentang hadits terhentinya wahyu dan “isu” bunuh diri Rasulullah saw.

Bunyi (terjemahan) haditsnya sebagaimana yang diriwayatkan Aisyah: “Awal dari dimulainya wahyu ke Rasulullah adalah mimpi yang benar pada saat tidur. Beliau tidaklah melihat mimpi itu kecuali datangnya seperti cahaya shubuh. Beliau mendatangi (gua) Hira’ dan bertahannuts di sana. Yaitu beribadah pada malam hari beberapa waktu lamanya dan membawa bekal untuk kepentingan tsb. Kemudian beliau kembali ke Khadijah seraya dibekali dengan yang serupa. Hingga suatu ketika di Gua Hira’ beliau dikejutkan. Malaikat mendatanginya seraya berkata: Bacalah. Nabi saw. menjawabnya: Aku berkata: Aku tak bisa membaca. Dia menarikku. Mendekapku erat sehingga aku kepayahan, kemudian melepaskanku. Dia berkata (lagi): Bacalah. Aku menjawab:Aku tak bisa membaca. Dia menarikku dan mendekapku untuk kedua kalinya……(berhubung haditsnya panjang sayapotong sampai di sini)… Waraqah berkata: Ya. Tidaklah ada seorang lelakipun yang datang serupa dengan apa seperti yang kau bawa kecuali dia dimusuhi. Jika aku sempat menemui harimu akan kutolong engkau dengan sungguh-sungguh. Kemudian tak lama kemudian dia meninggal. Dan wahyu pun terputus (berhenti sementara). Sehingga Nabi Saw bersedih. Seperti apa yang sampai ke kami, kesedihan yang mengakibatkan beliau pergi berkali-kali untuk menolakkan dirinya dari puncak bukitdst

(HR Imam al-Bukhary)

Keterangan:

  1. Warna Merah adalah bunyi hadits yang disepakati (mu’tamad dan banyak dipakai). Yaitu berhenti pada bunyi itu. (diriwayatkan Imam Bukhary di Kitab I: Bad’i al Wahyi (Permulaan Wahyu) Bab III hadits ke 3)
  2. Warna Hijau. (diriwayatkan Imam Bukhary di Kitab 65: at Tafsir (Tafsir al-Qur’an) Bab I hadits ke 4953) Tambahan yang didapat dari riwayat Yunus bin Yazid dari Ibnu Syihab.
  3. Warna Coklat. (diriwayatkan Imam Bukhary di Kitab 91: at Ta’bir (sesuatu yang bisa diekspresikan dan diinterpretasikan) Bab I hadits ke 6982) Tambahan riwayat yang didapatkan oleh Ma’mar dari Imam az-Zuhry.

Analisis Hadits:

Analisis Ibnu Hajar, penulis Fathul Bary, Syarah Shahih Bukhary: Banyak ulama yang meragukan keaslian teks tersebut berasal dari Aisyah, rawy tertinggi hadits ini. Maka tambahan ini ditimpakan sebagai analisa dan perkataan Imam Zuhry. Dalam hadits ini dinamakan MUDROJ. Namun Ibnu Hajar tak melemahkan hadits ini. Beliau menambahkan: seandainya benar pun hal tersebut dapat dimaklumi. Karena ini berkaitan dengan keberlangsungan status beliau. Benarkah status beliau sebagai Nabi ini diteruskan. Kok berhenti wahyunya. Kecemasan-kecemasan ini membawa beliau berkali-kali bolak-balik ke gua dan gunung/bukit. Tempat beliau menerima wahyu pertama. Ini urusan besar. Dan bersangkutan dengan hajat orang banyak. Bahkan seluruh umat manusia. Selain itu saat itu belum ada penjelasan tentang (hukum)+larangan bunuh diri.

Kalau bahasa sekarang kalau pun saat ini orang-orang bunuh diri karena tertekan dengan masalahnya sendiri. Belum pernah ada cerita bunuh diri karena merasa bertanggung jawab kepada nasib orang banyak.

Ada yang bilang tambahan itu ditelusuri dari Imam Abdul Rozaq yang hidup setelah az-Zuhry. Itu yang terlacak satu-satunya yang beda berasal dari dia. Karena orang sekaliber Imam Zuhry sulit dipercaya rasanya bila salah atau lupa atau sengaja memasukkan lafaz tambahan.

Memang kemudian saya pun agak heran ketika orang sekaliber Syeikh Ramadhan al Buthy dan Mubarakfury membiarkan begitu saja riwayat tersebut tanpa ada komentar. Menurut saya ini sangat penting untuk dikomentari. Agar tidak salah mempersepsikan kondisi psikis Rasulullah saw saat itu. Memang benar Rasul cemas dan sedih. Tapi untuk sampai pada level itu. Entar dulu…J

Kurang lebih saya simpulkan dari hasil bacaan saya dari beberapa buku yang ada dirumah. Kurang lebihnya sebagai berikut:

Sebenarnya saya ingin berpihak pada orang yang mengatakan bahwa tambahan tersebut adalah lemah. Tapi saya takut implikasinya mengakibatkan pada “meragukan validitas Shahih Bukhory” yang jelas-jelas diperas dari ratusan ribu hadits. Ini fatal. Maka saya mengambil pendapat yang tengah-tengah. Tidak juga menerima langsung atau menolaknya. Kira-kira seperti Ibnu Hajar lah. Sang Penulis Fathul Bary. Imam Bukhory sendiri menempatkannya di belakang. Hadits yang disepakati ditempatkan di Kitab pertama, di awal buku. Kemudian setelahnya yang ada tambahan sedikit. Dan terakhir dibelakangkan pada Kitab Ta’bir (yang disana ada berbagai mimpi, simbol dan beberapa hal yang bisa diinterpretasikan). Karena hadits ini (hadits tambahan maksudnya) masih bisa ditakwilkan dan diinterpretasikan.

Ada kejanggalan lagi. Yaitu berulangnya malaikat menegur dan mengatakan :Engkau benar utusan Allah. Dan beliau tetep saja berulang kali mencoba terjun. Mestinya beliau percaya dengan Jibril sebagai utusan Allah yang mengawalnya.

Namun lagi-lagi beberapa ulama mencoba menginterpretasikannya: Hal tsb bisa jadi karena beberapa hal. Diantaranya beliau mengkhawatirkan terhentinya/terputusnya wahyu karena sebab atau kesalahan yang beliau lakukan. Atau hukuman dari kesalahan yang dilakukan. Atau tekanan-tekanan yang dilakukan oleh kaumnya nanti. Kecemasan-kecemasan dalam rangka mensosialisasikan diri pada umatnya. Bagaimana nanti tanggapan mereka. Serta berbagai interpretasi lain.

Yang kedua. Ketika seseorang mendapat nikmat atau sesuatu yang berharga di tempat itu. Kemudian terhenti, ia akan mencoba mendatangi tempat tersebut. Menunggu-nunggu kedatangannya kembali. Menaiki gunung ke arah yang lebih tinggi lagi. Berputar-putar. Cemas dan gelisah. Mungkin saat menerima hadits ini sang rawi mengira Rasul saw berusaha bunuh diri. Padahal Cuma mondar-mandir saja. Menengok kanan kiri kadang sesekali ke bawah gunung. Ini wajar. Namanya juga orang menunggu.

Ini juga sekaligus mengajarkan pada beliau bahwa Tidak boleh memastikan. Karena urusan wahyu adalah urusan Allah. Beliau hanya menunggu dan meminta petunjuk dari-Nya. Ini nanti juga terjadi seperti yang ada pada (Surat al-Kahfi: 23-24).

Kalau kita telusuri kembali bahwa proses turunnya wahyu pertama juga cukup panjang. Berawal dari mimpi. Kemudian Allah memupuk kecenderungan dan kesukaan menyendiri dalam beribadah dan bertahannus di gua Hira. Hingga pada saat yang pas Allah menurunkan wahyu-Nya. Ini justru menunjukkan kemanusiaan Rasul. Artinya beliau memang manusia. Bisa saja cemas-gelisah-takut dll.

Jadi sebaiknya untuk cari amannya. Yang paling laik dipakai adalah hadits pertama (merah). Kemudian kalau pun untuk menggambarkan kesedihan cukuplah pakai riwayat kedua (hijau). Adapun riwayat ketiga (coklat) hanya digunakan untuk perbandingan saja. Ga usah terlalu diangkat dan dipopulerkan sampai ngalahin yang petama. Karena secara otomatis pengulangan sampai yang terpanjang pun maka yang terpendek (yang merah) tetep saja begitu. Maka ia menjadi riwayat yang disepakati. Serta jalan (riwayat)-nya kuat dan banyak. Beda dengan yang ketiga (coklat). Ini dibilang mudroj. Juga terputus. Karena ini adalah perkataan perawi. Bukan isi hadits yang diriwayatkan. Ini menjadi lemah. Jadi keshahihannya hanya sampai yang disepakati.

Lalu mengapa Imam Bukhari perlu memuat riwayat ini. Tentunya beliau sudah berpikir panjang akan aksesnya. Ini menurut Dr Said Showaby (dosen sirah saya dulu di S1) agar kita bisa membedakan ketiga hadits tersebut. Derajatnya tentu berbeda. Karena disana beliau jeli membedakan jalannya lingkaran riwayat satu persatu.

Sebenarnya bukan masalah bunuh diri yang bisa jadi syubhat penting. Yaitu sebuah celah yang dipakai untuk memukul akidah. “Bagaimana mungkin Rasul meragukan kenabian beliau?” Bolehkah itu terjadi?

Dan masalahnya tidak terletak pada masalah ragu atau tidak. Adalah masalah manusiawi atau tidaknya sikap dan perasaan Rasul. Toh, kemudian beliau mantap dan lalu menyampaikan risalah tersebut kepada segenap umatnya. Perebatan masalah ini cukup panjang.

Saya masih belum puas membaca pembacaan Ibnu hajar saja. Tapi sekaligus mengakui bahwa dari sekian syarah Shahih Bukhori memang laik jika kemudian beliau diletakkan di nomor wahid. Terlepas dari beberapa pembacaan beliau yang tentunya ada beberapa yang perlu untuk diikritisi tanpa harus mengurangi rasa hormat pada beliau..

Dan memang sepertinya tidak masuk akal jika orang sebaik dan sehebat Nabi Muhammad saw memiliki niatan untuk bunuh diri. Wallahu a’lam

Lanjutan Kajian Hadits Nabi

Akhir Pekan, Kamis, Dokki

30.10.2008