Tadabbur QS. Al-Alaq (96)

BACALAH DENGAN NAMA TUHANMU*

Dr. H. Saiful Bahri, M.A**

 

Mukaddimah

Para ulama meyakini bahwa Surat Al-‘Alaq merupakan surat yang pertama kali diturunkan Allah kepada Nabi Muhammad Saw di Makkah([1]).Sebagaian besar mushaf yang beredar saat ini menulis surat ini dengan nama Surat Al-‘Alaq. Dan lima ayat pertamanya menjadi wahyu pertama beliau yang disampaikan melalui Malaikat Jibril([2]). Serta ayat-ayat lainnya yang tersisa diturunkan setelah beberapa waktu berlalu dari sejak wahyu pertama diberikan.

Tema yang diangkat surat ini cukup beragam. Dari sejak tema wahyu dan turunnya al-Qur’an kepada Nabi Muhammad saw, pembicaraan sifat dan tabiat manusia yang melampaui batas dalam urusan harta, serta kisah Abu Jahal yang menghalang-halangi Nabi Muhammad dan melarang beliau untuk shalat di Masjidil Haram. Surat ini diakhiri dengan ancaman Allah untuk orang-orang yang masih terus bersikukuh dalam kesesatan dan sikapnya yang melampaui batas serta perintah kepada nabi-Nya untuk meneruskan shalat dan sujudnya tanpa mempedulikan gertakan sang durjana([3]).

Adapun urutannya yang berada setelah Surat At-Tin seolah memberi isyarat hubungan erat antara keduanya. Terutama dalam pembahasan tentang manusia. Jika dalam surat sebelumnya manusia disebut sebagai penciptaan terbaik yang dilakukan Allah dengan sempurna, maka dalam surat ini dibahas asal muasal penciptaan tersebut serta dimensi lain dari sisi kejiwaan manusia yang kadang melampaui batas serta kufur ni’mat; padahal Allah telah mengaruniakan kepadanya segala kesempurnaan.

Membaca Penciptaan Manusia

Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan”. (QS. 96: 01)

Itulah bunyi ayat pertama surat ini. Memberikan perintah secara jelas kepada Nabi Muhammad saw. juga kepada umatnya untuk membaca. Membaca dengan nama Allah Sang Pencipta. Hal ini secara langsung memberikan isyarat bahwa umat Islam harus me-nuntut ilmu. Karena membaca merupakan pintu ilmu. Dengan membaca cakrawala berpikir seseorang semakin luas. Dengan membaca kebodohan dan ketidaktahuan bisa diobati, bahkan dipunahkan. Dan karena membaca merupakan gerbang ilmu dan pengetahuan.

Apalagi jika perintah membaca ini dikaitkan secara bersamaan dengan menyebut nama Tuhan Sang Pencipta. Tentulah kaitan tersebut ada maksudnya. Mungkin untuk mengingatkan bahwa kemampuan baca seseorang Allah lah yang mengaruniakannya sebagaimana ia diciptakan oleh-Nya. Karena itu dalam segala aktivitasnya termasuk membaca sudah selaiknya ia mengingat Sang Pencipta, ”yang telah menciptakan manusia dari segumpal darah” (QS. 96: 02)

Segumpal darah yang secara anatomis belum bisa disebut sebagai manusia itu nantinya akan terlahir sebagai makhluk sempurna yang bisa membaca. Jika segumpal darah tersebut teronggok di tepi jalan, siapa yang akan menghargai dan memuliakannya?

Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha Pemurah”. (QS. 96: 03)

Allahlah yang memuliakannya. Mengangkat derajatnya. Di atas semua makhluk yang diciptakan-Nya. Dzat yang pemurah dan penuh kasih sayang tersebut yang, ”mengajar (manusia) dengan perantaran pena”. (QS. 96: 04)

Dengan belajar membaca dan kemudian menulis maka manusia akan meraih ilmu. Baik ilmu dunia maupun akhirat. Inilah yang oleh Ibnu Katsir kemudian disimpulkan dari sebuah atsar, ”Ikatlah ilmu dengan menulis([4]). Dengan menjadi manusia yang berilmu sesuatu yang sebelumnya tidak diketahui menjadi jelas. Sesuatu yang sebelumnya menjadi rahasia berubah tersingkap.

Adam ditinggikan derajatnya melebihi para malaikat dan semua makhluk-Nya karena diajarkan ”nama-nama” oleh Allah sehingga ia mengetahui sesuatu yang sebe-lumnya tak diketahuinya. ”Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya” (QS. 96: 05). Tidakkah manusia kemudian merasa ada perubahan ke arah baik dari dalam dirinya. Dari tak mampu melihat kemudian ia bisa melihat. Tak mampu bicara dan mengungkapkan sesuatu karena keterbatasannya, kemudian ia bahkan mampu melakukannya dengan baik. Dari tak berdaya hanya terlentang kemudian ia belajar berbaring miring dan kemudian duduk, lalu berjalan dan berlari serta mengendarai berbagai jenis kendaraan. Dari tak tahu satu hurufpun, kemudian ia bisa merangkai huruf-huruf menjadi kata-kata yang menjadi sarana komunikasi dengan sesama manusia. Siapa yang mengubah kondisi tersebut?

Hanya Allah lah yang mampu menjadikan perubahan ke arah baik tersebut.

Seharusnya karunia penciptaan dan pengajaran yang sangat luar biasa ini direspon positif oleh manusia. Yaitu dengan rasa syukur dan totalitas pengabdian serta penghambaan yang ikhlas kepada-Nya. Namun, justru kebanyakan manusia tak melakukannya. Mereka bahkan bukan hanya tak pandai bersyukur, tapi mendustakan dan mengingkarinya.

Manusia yang Tak Mau Bersyukur

Manusia yang seharusnya dengan memaksimalkan akalnya mampu membaca keagungan dan kebesaran Allah serta ciptaan-Nya ternyata tidak demikian. “Ketahuilah! Sesungguhnya manusia benar-benar melampaui batas” (QS. 96: 06)

Tentu wajar jika Allah menganggapnya sebagai sebuah sikap yang keterlaluan dan melampaui batas. Tak sedikit pun para pendusta yang mengingkari nikmat tersebut merasa bahwa ketiadaannya yang berubah menjadi bentuk sempurna serta menjadi serba bisa adalah sebuah karunia yang agung. Dan bukan sesuatu yang sederhana.

Ia melampaui batas dalam segala perilakunya. Dalam bersikap, berkata-kata dan bergaul. Sombong dalam berpakaian, berlebih-lebihan dalam makanan dan kendaraan-nya([5]). Ia cenderung meremehkan dan merendahkan sesamanya. Hal tersebut dipicu oleh kebodohan dan ketidaktahuannya. “Karena dia melihat dirinya serba cukup” (QS. 96: 07)

Sikap yang diambilnya barangkali bermula dari pola pikirnya yang salah. Ia merasa berkecukupan. Dengan menjadi seorang sarjana atau ilmuwan ternama, kemudian ia memiliki kehidupan yang mapan, rumahnya mewah. Sikap ”al-istighna” ini hanya bisa dimiliki oleh Allah, karena Dia memang tak memerlukan bantuan dan pertolongan siapapun. Dia yang Maha Kaya, Maha Sempurna dan selalu bisa berbuat apa saja sesuai kehendak-Nya. Dzat dengan sifat-sifat yang serba maha tersebut memanglah laik untuk merasa cukup dari apa dan siapapun. Jika manusia dengan segala keterbatasannya kemudian merasa cukup yang mengakibatkannya tinggi hati dan sombong maka hal tersebut membuatnya lupa. Lupa dari mana ia berasal dan ke mana hendak kembali. Namun, jika ia merasa cukup dan kemudian menjadi qana’ah maka itu sebuah sikap yang terpuji. Tapi dalam ayat ini dipakai al-istighna`, sehingga tidak menyimpan sedikitpun arti qana’ah yang baik tersebut.

Sesungguhnya hanya kepada Tuhanmulah kembali(mu)” (QS. 96: 08)

Dalam ayat ini Allah menggunakan gaya bahasa beralih (uslûb al-iltifât) yaitu dari sebelumnya yang menggunakan kata ganti ketiga (dhamir gha`ib) berubah menjadi mukhatab yang menggunakan kata ganti kedua (kamu). Hal ini dimaksudkan memberikan kesan lebih dan menggetarkan hati setiap manusia yang tidak mau bersyukur akan kedahsyatan dankeseriusan ancaman Allah([6]). Mereka semua akan kembali kepada Allah melalui pintu keniscayaan bernama kematian lalu dibangkitkan kembali di hari penentuan.

Dan kembali kepada Allah berarti asal dari kejadian manusia juga bermula dari titah Allah. Dikembalikan kepada-Nya berarti pertanggungjawaban dari semua yang dilakukan-nya ketika di dunia.

Lihatlah orang yang sombong tersebut dan bagaimana ia hidup dengan penuh keangkuhan. ”Bagaimana pendapatmu tentang orang yang melarang, seorang hamba ketika mengerjakan shalat” (QS. 96: 09-10)

Dituturkan dalam sebuah riwayat bahwa Abu Jahal bermaksud hendak melarang dan menghalang-halangi Nabi Muhammad yang sedang shalat dengan berbagai jalan. Tapi usahanya selalu gagal. Bahkan dari sekian usahanya, ia menjumpai sesuatu yang menakut-kan berada di sisi Nabi Muhammad saw, sehingga ia lari terbirit-birit ketakutan karenanya([7]).

Padahal jika ia tahu bahwa di antara karunia terbesar Allah adalah dengan mengutus Nabi Muhammad saw, sang manusia terbaik untuk seluruh manusia sebagai rahmat Allah di bumi-Nya. Seharusnya ia bersyukur dan menyukuri nikmat penciptaan, pengajaran dan berbagai nikmat Allah yang tiada pernah bisa terhitung.

Seharusnya ia mengajak kepada kebaikan, ”Bagaimana pendapatmu jika orang yang melarang itu berada di atas kebenaran. Atau dia menyuruh bertakwa (kepada Allah)?” (QS. 96: 11-12)

Alangkah baiknya jika seandainya ia mau berpikir sejenak dan kemudian menikti jalan kebenaran dengan ketakwaan dan mengajak sesamanya untuk mengikuti risalah Nabi Muhamamd saw. Ia gunakan pengaruh dan hartanya. Posisi dan status sosialnya. Tentu hal tersebut akan jauh lebih baik. Sayangnya, Abu Jahal tidaklah menggunakan kesempatan yang diberikan Allah untuk memperbaiki diri dengan berbagai kebaikan tersebut.

Bagaimana pendapatmu jika orang yang melarang itu mendustakan dan berpa-ling?” (QS. 96: 13)

Inilah yang menjadi pilihannya. Ia menahbiskan diri menjadi musuh terdepan bagi dakwah Nabi Muhammad saw dan para pengikutnya.

Pilihan yang Selalu Berkonsekuensi

Jika mendustakan dan menghalang-halangi dakwah serta risalah yang dibawa Nabi Muhammad merupakan pilihan yang diambil oleh orang yang tidak memahami atau mengingkari dahsyatnya nikmat dan karunia diutusnya beliau, maka balasan yang buruk sangat pantas baginya. Karena ia telah melecehkan keberadaan dan kekuasaan Dzat Yang Maha Melihat.

Tidaklah dia mengetahui bahwa sesungguhnya Allah melihat segala perbuatan-nya?” (QS. 96: 14)

Bisa jadi bukan karena ketidaktahuan, namun karena kesombongan dan keangkuhan hati yang menutupi kesadaran akan kemahabesaran Allah. Karenanya ia berbuat sesuka hati dan tidak pernah sekalipun ia mengerem nafsunya serta memperturutkan hawa dan syahwat kesesatannya. Ia tidak sadar bahwa yang ia musuhi dan ia hadapi bukanlah sekedar anak yatim saja. Tapi beliau adalah utusan Sang Maha Perkasa yang secara penuh memback up dakwahnya.

Tidakkah ia sadar akan ancaman Allah, ”Ketahuilah, sungguh jika dia tidak berhenti (berbuat demikian) niscaya kami tarik ubun-ubunnya, (yaitu) ubun-ubun orang yang mendustakan lagi durhaka.” (QS. 96: 15-16)

Menurut al-Mubarrid, salahs eorang pakar Bahasa Arab terkemuka, mengatakan, ”as-saf’u” artinya mengambil dengan paksa dan kekerasan([8]). Apalagi yang diambil di sini adalah ubun-ubun. Maka bukan hanya fisik yang tersakiti. Ia akan benar-benar merasa terhinakan dan direndahkan. Karena ubun-ubun atau kepala adalah bagian termulia manusia.

Ada pendapat lain dari al-Farra` bahwa yang dimaksud di sini adalah menghitamkan wajah([9]) sebagai kiasan akan ditimpakan kepadanya adzab neraka yang pedih dan menghanguskan.

Yaitu ubun-ubun atau wajah yang hangus milik sang pendusta yang mengingkari dan memusuhi serta menyakiti Nabi Muhammad saw. Para pakar bahasa di sini membolehkan badal (ganti) dengan menggunakan isim nakirah padahal sebelumnya disebut dengan isim makrifat. Az-Zamakhsyari dan Abu Hayyan memberikan dispensasi tersebut karena isim nakirah setelah makrifat tersebut memberikan penjelasan sebagai sifat([10]). Sehingga seolah ia berdiri sendiri memberikan penjelasan tambahan setelahnya (al-ifadah)([11]).

Jika hal di atas terjadi, maka kepada siapa lagi ia hendak meminta pertolongan. ”Maka biarlah dia memanggil golongannya (untuk menolongnya)” (QS. 96: 17) Sebagaimana ia mengumpulkan mereka di darunnadwah, mengadakan konspirasi untuk mencelakakan Nabi Muhamamd saw. Dalam ayat ini seolah kata ”nadiah” yang berarti majelis menyimpan sebuah mudhaf yaitu para pegiatnya([12]).

Namun, panggilan dan permintaan tolong tersebut tak menghasilkan apapun kecuali keputusasaan dan penyesalan. Karena nasib mereka juga tak lebih baik darinya. Justru Allah yang ”akan memanggil Malaikat Zabaniyah” (QS. 96: 18) dan diperintahkan untuk mendatanginya, kemudian memberikan siksaan yang tiada tandingan dan bandingannya sebelum dan sesudahnya.

Maka, orang dengan karakter pembangkang dan pendusta tersebut tak perlu lagi didengar perkataannya apalagi sampai terpengaruh dengan syubhat dan ejekannya. Dan salah satu jalan untuk menguatkan diri dari pengaruh kejelekan tersebut yang paling mujarab adalah dengan mendekatkan diri kepada Allah dan bersujud kepada-Nya.

Sekali-kali jangan, janganlah kamu patuh kepadanya; dan sujudlah dan dekatkanlah (dirimu kepada Tuhan)” (QS. 96: 19)

Para ulama kemudian menyimpulkan bahwa kedekatan terbaik dan paling dekat seorang hamba dengan rabbnya terjadi pada saat ia bersujud. Apalagi ada sebuah hadits yang menyatakan, ”Keadaan yang paling dekat dari seorang hamba dengan Tuhannya adalah pada saat ia bersujud maka perbanyaklah berdoa([13]).

Penutup

Semoga akhir yang tragis yang dialami oleh Abu Jahal –baik di dunia dengan mati terhinakan atau di akhirat sengsara dalam keabadian adzab-Nya- bisa kita jadikan pelajaran untuk tidak mencoba-coba menjadi penghalang dakwah Rasulullah saw atau menjadi orang yang mengabaikan sunnah-sunnahnya. Karena, pertemuan dengan makhluk termulia ini menjadi impian setiap muslim. Semoga kelak kita dipertemukan dengan beliau dalam naungan ridha Allah swt. Amin.

Pengajian Shubuh, Ainal Yaqin, Kalibata-Jaksel

Selasa, 16 Maret 2010


* Tadabbur surat Al-‘Alaq (segumpal darah): [96], Juz Amma (30)

** Alumni Program S3 Jurusan Tafsir dan Ilmu al-Qur’an Universitas al-Azhar, Cairo

([1]) lihat: Jalaluddin as-Suyuthi, al-Itqân fi ‘Ulûmi al-Qur’ân, Beirut: Darul Kutub al-Ilmiah, Cet.I, 2004 M/1425 H, hlm.20-21; Badruddin az-Zarkasyi, al-Burhân fi ‘Ulûmi al-Qur’ân, Beirut: Darul Fikr, Cet.I, 1988 M/1408 H, Vol.1, hlm. 249. Prof. Dr. Jum’ah Ali Abd. Qadir, Ma’âlim Suar al-Qur’ân, Cairo: Universitas al-Azhar, cet.I, 2004 M/1424 H, vol.2, hlm.824

([2]) Demikian pendapat sebagian besar ulama bahwa lima ayat tersebut menjadi wahyu pertama Nabi Saw. Seperti diungkapkan oleh As-Suyuthi, Az-Zarkasyi, al-Wahidy, al-Baghawy, al-Qurthuby, Syeikh Az-Zurqany, Dr. Muhammad Abu Syahbah dan sebagainya. (secara ringkas bisa dirujuk rangkumannya dalam tesis penulis: Kitab Lawami’ al Burhan wa Qawathi’ al-Bayan fi Ma’ani al-Qur’an Karya Imam al-Ma’iny: Dirasah wa Tahqiq, Cairo: Universitas al-Azhar Jurusan Tafsir, 2006, Vol.2, hlm. 885)

([3]) Muhammad Ali Ash-Shabuni, Ijazu al-Bayan fi Suar al-Qur’an, Cairo: Dar Ali Shabuni, 1986 M-1406 H, hlm. 304-305

([4]) Abu al-Fida` Ibnu Katsir,  Tafsir al-Qur’an al-Azhim, Mansoura: Maktabah al-Iman, Cet.I, 1996 M-1417 H, Vol.VIII, hlm. 251

([5]) seperti penafsiran al-Kalby yang disitir oleh al-Baghawy dan al-Alusy dalam tafsirnya (Al-Baghawy, Ma’alim at-Tanzil, Beirut: Darul Kutub al-Ilmiah, Cet.I, 2004 M-1424 H, Vol.IV, hlm. 475; Syihabuddin al-Alusy, Ruhul Maani, Beirut: Dar al-Fikr, 1997 M-1417 H, Vol. 30, hlm. 326)

([6]) Ruhul Ma’any, Ibid., 30/327

([7]) sebab turunnya ayat ini diriwayatkan oleh Imam Muslim, Ahmad dan An-Nasa`i dari riwayat Abu Hurairah ra. Abu Jahal bersumpah demi Latta dan Uzza untuk menghalangi Rasulullah saw kalau sampai ia melihat beliau shalat akan dipukulnya kaki beliau dan wajah muliau akan dilempar dengan pasir. Suatu ketika beliau menjumpai Rasul sedang shalat, ia berusaha melakukan niatnya. Tapi seketika itu pula ia melihat sesuatu yang menakutkan berada di sisi Nabi saw sehingga ia berlari terbirit-birit. Rasul saw bersabda, “Jika ia benar-benar melaksanakan niatnya maka tubuhnya akan berkeping-keping dihancurkan oleh malaikat” (Ibid, hlm. 328). Juga sebagaimana diriwayatkan oleh Ibnu al-Mundzir dengan redaksi yang serupa (Prof. Dr. Muhammad Hasan al-Himshy, Tafsir wa Bayan Mufradat al-Qur’an A’la Mushafi at-Tajwid ma’a Asbabi an-Nuzul li as-Suyuthi, Beirut: Muassasah al-Iman, cet.I, 1999 M – 1419 H, hlm. 540)

([8]) Ruhul Ma’ani, Op.Cit., 30/334.

([9])Abu Zakariya al-Farra’, Ma’ani al-Qur’an, Beirut: Darul Kutub al-Ilmiah, Cet.1, 2003 M/1423 H, Vol.III, hlm. 169.

([10]) Az-Zamakhsyari, al-Kasyaf an Haqa`iq at-Tanzil wa Uyun al-Aqawil fi Wujuh at-Ta`wil, Cairo: Maktabah Musthafa al-Halaby, Cet.I, 1354 H, Vol.IV, hlm. 224, Abu Hayyan, al-Bahr al-Muhith, Beirut: darul Kutub al-Ilmiah, Cet.I, 2001 M-1422 H, Vol.VIII, hlm. 491

([11]) Ruhul Manani, Op.Cit, 30/335

([12]) Az-Zajjaz, Ma’ami al-Qur’an wa I’rabuhu, Cairo: Darul Hadits, 2004 M/1424 H, Vol.V, hlm. 263

([13]) Hadits diriwayatkan Abu Hurairah ra (HR. Muslim)

Tadabbur QS. At-Tin (95)

BUAH TIN DAN ZAITUN*

Dr. H. Saiful Bahri, M.A**

Mukaddimah

Menurut para ulama Surat At-Tin diturunkan Allah di Makkah setelah Surat al-Buruj([1]). Tema besar surat makkiyah ini adalah dua. Pertama, pengangkatan Allah terhadap derahat manusia dengan memuliakannya. Kedua, tema iman dan amal serta balasannya. Itulah yang kelak akan membuktikan bahwa Allahlah sebijak-bijaknya hakim yang akan menuntaskan dan mengadili semua permasalahan manusia dengan seadil-adilnya([2]).

Tempat-Tempat Suci

Dalam surat ini Allah bersumpah dengan beberapa hal.

Pertama,  ”Demi (buah) Tin dan (buah) Zaitun” (QS. 95: 01).

            Sebagian pakar tafsir ada yang mengartikan sumpah pertama ini dengan nama bukit yang ada di Baitul Maqdis, Palestina. Ini pendapat Ikrimah([3]). Sementara Qatadah mengatakan bahwa Tin adalah bukit di Damaskus dan Zaitun adalah nama bukit di Baitul Maqdis([4]). Namun, tidak sedikit yang menyebutkan bahwa yang dimaksud di sini adalah nama dua buah yang sudah dikenal oleh orang Arab juga manusia secara umum yaitu buah Tin yang sangat manis dan buah Zaitun yang pahit namun banyak manfaatnya. Jika yang dimaksud adalah tempat maka bisa konteksnya dengan menambah penafsirannya menjadi bukit atau tempat tumbuhnya kedua buah tersebut. Yaitu di dataran Baitul Maqdis. Gagasan ini seperti disampaikan Syihabuddin al-Alusy dalam tafsirnya([5]).

Kedua, “Dan demi bukit Sinai”. (QS. 95: 02)

            Adapun tempat kedua yang dipakai bersumpah di sini adalah bukit Sinai, yang menurut kebanyakan ahli tafsir dimaknai dengan bukit tempat Musa menerima wahyu yaitu di bukit Sinai, Mesir([6]). Menurut Ikrimah, ”sinîn” berarti baik, yaitu dalam bahasa habasyah (Etiophia)([7]).

Ketiga, ”Dan demi kota (Makkah) ini yang aman”. (QS. 95: 03)

Makkah yang disebut sebagai tempat yang aman karena dijaga Allah dari sentuhan Dajjal dan karena didalamnya terdapat Baitullah. Di sana Nabi Muhammad saw, utusan pamungkas-Nya dilahirkan dan dibesarkan serta menerima wahyu-Nya yang pertama. Demikian sebagaimana dituturkan sebagian besar para ahli tafsir dan ulama.

Lalu, apa hubungannya ketiga sumpah di atas dengan tema besar yang akan diusung oleh surat At-Tîn ini. Surat yang membawa misi manusia terbaik ini selain memerlukan kaidah yang nantinya akan disebutkan Allah, juga memerlukan contoh.

Penyebutan ketiga kelompok sumpah tersebut seolah mengindikasikan beberapa hal berikut:

  1. Sumpah dengan Buah Tin dan Zaitun yang berarti mengisyaratkan tempat asal kedua buah tersebut mengingatkan kita juga seluruh umat Islam akan perjuangan Nabi Isa yang terlahir tanpa bapak karena titah Allah, sekaligus sebagai tanda-tanda kekuasaan-Nya. Ia tumbuh bersama didikan Allah melalui ibunya yang sendiri.
  2. Kedua, bukit Sinai memberikan isyarat tempat Nabi Musa menerima wahyu. Nabi yang juga perjuangannya tak ringan. Sejak kecil harus berpisah dengan keluarganya. Kemudian dididik oleh rezim yang kejam dan bengis tapi ditakdirkan untuk menyampaikan risalah keadilan di depan sumber dan inisiator kezhaliman yang sekaligus sebagai ayah angkatnya. Sebuah dilema yang harus dihadapi. Bahkan kisahnya termasuk cerita yang seirng diulang di dalam al-Qur’an dan dijadikan simbol perlawanan tokoh protagonis yang membela kebenaran, keadilan dan orang-orang tertindas melawan simbol dan icon kezhaliman, Fir’aun dan sekutunya.
  3. Adapun negeri yang aman yang berarti Makkah mengisyaratkan sebuah kisah epik dan kepahlawanan seorang nabi yatim yang menjadi pamungkas nabi dan rasul Allah. Nabi Muhammad saw yang ditahbiskan sebagai manusia bahkan makhluk terbaik dari yang pernah ada dan akan ada, dengan membawa risalah yang akan kekal sampai hari penentuan, hari kiamat. Bersifat universal, diperuntukkan kepada seluruh manusia dan jin, lintas teritorial, lintas generasi dan lintas waktu.

Penyebutan sumpah di atas tidak dimaksudkan sesuai urutan waktu atau menunjuk-kan kemuliaan satu di atas lainnya. Namun, lebih merupakan penyebutan kolektif. Sebagaimana Allah memuliakan satu tempat di antara yang lainnya, para ulama sepakat bahwa Allah memuliakan Masjidil Haram melebihi masjid-masjid yang lain termasuk Masjil al-Aqsha yang juga memiliki keutamaan dibandingkan yang lainnya. Demikian juga, Nabi Isa diutus setelah Nabi Musa tapi disebut terlebih dahulu. Dan mereka adalah orang terbaik di zamannya. Penyebutan Nabi Muhammad saw di akhir tetap tidak menutupi kemuliaan beliau sebagai manusia terbaik sepanjang masa. Sekaligus sebagai penegasan kekekalan penjagaan Allah terhadap risalah tauhid hingga akhir zaman. Karena umat Nabi Musa dan Nabi Isa as. yang tadinya mengimani dan memperjuangkan serta mendakwahkan risalah tauhid, kini sebaliknya bukan hanya mengingkari, bahkan memusuhi risalah tauhid yang dibawa Nabi Muhammad dan para da’i penerus dakwahnya.

Manusia Terbaik dan Manusia Terburuk

Sesungguhnya kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya” (QS. 95: 04)

Setelah Allah bersumpah dengan tiga kelompok tempat di atas yang juga mengindikasikan tiga manusia terbaik yang diciptakan-Nya dan diutus-Nya ke bumi untuk membimbing manusia, kini giliran Allah menyampaikan maksud-Nya yang menjadi misi surat ini. Yaitu, mengungkap tanda-tanda kekuasaan Allah Swt. melalui penciptaan manusia yang sangat dahsyat, dalam bentuk yang sempurna dan terbaik di antara sekian makhluk Allah yang ada di alam ini.

Secara fisik, manusia diberi indera terlengkap. Dibekali dengan otak dan perasaan. Struktur tubuh dan anatominya juga bagus dan indah. Proses penciptaannya bahkan sangat menakjubkan.

Kebaikan di sini mencakup berbagai dimensi. Secara fisik manusia adalah makhluk Allah yang terbaik. Meskipun ia kadang mengagumi alam ini dan isi-isinya, namun ia akan lebih takjub bila melihat dirinya sendiri. Jantung yang berdetak sebelum ia dilahirkan dari rahim ibunya dan tak pernah berhenti sampai sebelum ajal mendatanginya. Organ-organ luar yang tatanan eksteriornya sangat eksotis. Organ-organ dalam yang sangat seimbang. Sehingga ia benar-benar menjadi manusia yang –sebenarnya- memiliki amanah menanggung tugas kekhalifahan dan memakmurkan bumi Allah dengan sebaik-baiknya dan bukan merusaknya.

Dimensi non materi juga demikian. Manusia diberi rasa sedih dan gembira. Nikmat lupa dan ingat dan sebagainya.

Namun, bila kemuliaan dan segala perangkat kesempurnaan ini tak pandai disyukuri akan mengakibatkan murka Allah yang sangat mengerikan. ”Kemudian kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya (neraka)” (QS. 95: 05)

Adakah kehinaan dan kenistaan selain mendekam di dalam panasnya neraka? Kesengsaraan dan keabadian dalam penyesalan. Dari struktur kata yang dipakai sangat menarik. ”asfala sâfilîn” yang secara zhahir berarti tempat terendah diantara orang-orang penghuni tempat rendah/dasar neraka.

Meskipun Ibnu Abbas dalam riwayat yang lain, juga Qatadah, al-Kalbi, adh-Dhahhak dan Ibrahim an-Nakha’i menafsirkan ayat ini dengan pengembalian Allah terhadap keadaan manusia seperti semula pada saat ia renta dan pikun, mudah lupa dan sarat dengan kelemahan([8]).

Orang-orang yang tak pandai menyukuri nikmat kesempurnaan atau bahkan mendustakan dan mengingkarinya serta menggunakan karunia Allah untuk hal-hal yang menyebabkan murka-Nya pada hakikatnya derajat mereka diturunkan. Dijatuhkan lebih rendah dari binatang sekalipun.

Menjaga Nilai Standar Kebaikan

            ”Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh; aka bagi mereka pahala yang tiada putus-putusnya” (QS. 95: 06)

            Inilah nilai standar untuk menjaga kualitas kesempurnaan manusia. Iman dan amal salih. Iman dengan berbagai dimensi keimanan yang diikuti dan dibuktikan dengan keseriusan beramal baik dan menjaga kontinyuitas serta kualitasnya. Hal inilah yang menjaga manusia untuk keluar dari rel kesempurnaan. Orang yang memiliki karakteristik demikian laik mendapat balasan kebaikan dari Allah secara sempurna pula. Yaitu tidak terkurangi dan bahkan tidak terputus-putus([9]).

            Imam Thabrani mengeluarkan sebuah hadits qudsi yang mengabarkan bahwa jika seorang hamba diberi cobaan Allah diantaranya berupa sakit dan ia ridho dan bersyukur atas cobaan itu maka saat ia sembuh bagaikan terlahir kembali dari rahim ibunya, dosa-dosanya tergugurkan dan mendapatkan pahala sebagaimana saat ia melakukan kebaikan ketika ia sehat.

Lemahnya Alasan Pendustaan Hari Pembalasan

Jika tanda-tanda di atas sudah demikian jelasnya, lantas apa yang menyebabkan mata hati manusia tertutup sehingga tak mampu dan tak mau melihat dan menerima kebenaran yang sangat jelas.

Maka apakah yang menyebabkan kamu mendustakan (hari) pembalasan sesudah (adanya keterangan-keterangan) itu?” (QS. 95: 07)

Hanya orang-orang bodoh saja yang kemudian berpaling dari meyakini kepastian hari perhitungan tersebut. Hari tatkala keadilan ditegakkan dan tak ada yang bisa menutup-nutupi kezhaliman sekecil apapun.

Karena itu sangat wajar bila kata ganti yang digunakan mengkhithab di ayat ini adalah langsung. Yaitu kata ganti kedua ”kamu” (يكذبـك). Hal ini sekaligus untuk memberikan tantangan kepada jiwa yang selalu menentang titah dan perintah Allah yang dibawa oleh utusan-Nya.

Bukankah Allah hakim yang seadil-adilnya?” (QS. 95: 08)

Jika nantinya Allah memuliakan kembali orang beriman dan beramal salih dengan kemuliaan yang lebih serta memperlakukan orang-orang yang mendustakan dengan balasan adzab dan siksa maka yang demikian itu bukanlah sebuah kezhaliman. Karena Allah takkan memurkai dan menyiksa hamba-Nya kecuali setimpal dengan perbuatan dan kezhalimannya. Jika kemudian Allah melebihkan pahala dan balasan kebaikan itu semata karena rahmat dan kemurahan Dzat yang serba maha sesuai dengan janjinya tak sering diucapkan disela-sela firman-Nya.

Maka pertanyaan di akhir surat ini tidaklah untuk dijawab. Karena jawabannya hanya satu. Yaitu, berupa pembuktian keadilan yang jelas tanpa ada yang disembunyikan. Karena persaksian yang dihadirkan bukan hanya buku catatan dan orang-orang lain yang bersangkutan. Namun, berupa bukti otentik yang tak terbantahkan.

Pada hari ini kami tutup mulut mereka; dan berkatalah kepada kami tangan mereka dan kaki mereka memberi kesaksian terhadap apa yang dahulu mereka lakukan”. (QS. 36: 65)

Penutup

Jika Allah memuliakan tempat, waktu dan juga manusia pilihan-Nya untuk menjadi pelajaran yang baik bagi orang yang mau menggunakan akalnya. Maka menjadi manusia baik yang tahu dan bisa menyukuri kesempurnaan adalah pilihan, bukan paksaan. Namun, pilihan ini mendatangkan konsekuensi yang berbeda. Jika iman dan amal yang dipilih maka Allah menjanjikan balasan yang tak terkira baiknya. Namun, jika ingkar dan dusta yang dilakukan maka Allah tak punya alternatif selain mengganjarnya dengan murka dan kehinaan di dalam kekekalan neraka-Nya. Semoga pilihan kita tepat sesuai inayah-Nya. Amin.

Pengajian Shubuh, Ainal Yaqin, Kalibata-Jaksel

Selasa, 09 Maret 2010


* Tadabbur surat At-Tîn (Buah Tin): [95], Juz Amma (30)

** Alumni Program S3 Jurusan Tafsir dan Ilmu al-Qur’an Universitas al-Azhar, Cairo

([1]) lihat: Jalaluddin as-Suyuthi, al-Itqân fi ‘Ulûmi al-Qur’ân, Beirut: Darul Kutub al-Ilmiah, Cet.I, 2004 M/1425 H, hlm.20-21; Badruddin az-Zarkasyi, al-Burhân fi ‘Ulûmi al-Qur’ân, Beirut: Darul Fikr, Cet.I, 1988 M/1408 H, Vol.1, hlm. 249. Prof. Dr. Jum’ah Ali Abd. Qadir, Ma’âlim Suar al-Qur’ân, Cairo: Universitas al-Azhar, cet.I, 2004 M/1424 H, vol.2, hlm.820

([2]) Muhammad Ali Ash-Shabuni, Ijazu al-Bayan fi Suar al-Qur’an, Cairo: Dar Ali Shabuni, 1986 M-1406 H, hlm. 303

([3]) Al-Baghawy, Ma’alim at-Tanzil, Beirut: Darul Kutub al-Ilmiah, Cet.I, 2004 M-1424 H, Vol.IV, hlm.  472

([4])Syihabuddin al-Alusy, Ruhul Maani, Beirut: Dar al-Fikr, 1997 M-1417 H, Vol. 30, hlm. 311

([5]) Ibid.

([6]) Seperti dikemukakan oleh Ibnu Abbas ra. (Ibnu Jarir ath-Thabary, Jami’ al-Bayan fi Ta’wil Ay al-Qur’an, tahqiq: Mahmud Syakir, Beirut: Dar Ihya at-Turats al-Araby, Cet.I, 2001 M-1421 H, Vol. 30, hlm. 291)

([7]) Ibid, hlm. 292

([8]) Ibid. hlm. 296-297, Abu Ubaidah, Majaz al-Qur’an, Cairo: Maktabah al-Khanji, tt. Vol.II, hlm. 303, Imam al-Qurthubi, al-Jami’ li Ahkami al-Qur’an, Cairo: Darul Hadits, 2002 M-1423 H, Vol. X, hlm. 356, Tafsir Ibnu Katsir, 8/249.

([9]) Lihat tesis penulis:  Kitab Lawami’ al Burhan wa Qawathi’ al-Bayan fi Ma’ani al-Qur’an Karya Imam al-Ma’iny: Dirasah wa Tahqiq, Cairo: Universitas al-Azhar Jurusan Tafsir, 2006, Vol.2, hlm. 881

Tadabbur QS. Alam Nasyrah (94)

SATU KESULITAN DUA KEMUDAHAN*

Dr. H. Saiful Bahri, M.A**

Mukaddimah

Menurut para ulama Surat Alam Nasyrah diturunkan di Makkah setelah Surat adh-Dhuha sebagaimana urutannya dalam mushaf usmany([1]). Surat ini memiliki beberapa nama selain Alam Nasyrah, di antarnya: asy-Syarh([2]), seperti yang terdapat dibanyak cetakan mushaf sekarang dan buku-buku tafsir. Juga al-Insyirah seperti yang disebutkan Imam Jalaluddin as-Suyuthi dan Ibnu al-Jauzy dalam tafsirnya([3]).

Surat ini merupakan kelanjutan surat sebelumnya, karena sama-sama membahas kepribadian Nabi Muhammad saw dan kondisi yang dihadapi oleh beliau. Keduanya juga menyebutkan kenikmatan-kenikmatan yang diberikan Allah. Jika di surat sebelumnya Allah menyebutkan tiga nikmatnya: Allah lah yang memberikan inayah/perlindungan saat kondisi beliau yatim, fakir dan kebingungan. Maka pada surat ini Allah tambahkan tiga nikmat-Nya yang lain lagi, yaitu: nikmat kelapangan dada([4]), meringankan beban beliau saat berhadapan dengan kaumnya ketika menyampaikan risalah kenabian yang tak ringan, juga Allah tinggikan kedudukan dan derajat beliau baik di bumi maupun di langit melebihi segala ciptaan-Nya yang pernah ada, dan yang akan ada.

Hal ini semata diperuntukkan kepada beliau demi menghibur sekaligus menguatkan azam beliau. Di tengah teror yang tak henti-hentinya dari musyrikin Makkah. Di akhir surat ini Allah memerintahkan untuk menggunakan waktu sebaik-baiknya, juga untuk beribadah setelah menyampaikan risalah. Perpindahan-perpindahan aktivitas tersebut merupakan refleksi rasa syukur([5]) kepada Allah swt atas karunia nikmat-nikmat-Nya yang sangat banyak yang tak memungkinkan untuk dihitung-hitung apalagi untuk dibalas.

Kenikmatan-Kenikmatan

Bukankah kami telah melapangkan untukmu dadamu? Dan kami telah menghilangkan daripadamu bebanmu. Yang memberatkan punggungmu? Dan kami tinggikan bagimu sebutan (nama)mu”. (QS. 94: 1-4)

Nikmat pertama yang disebut Allah adalah nikmat kelapangan dada. Diturunkan dalam bentuk pertanyaan sebagaimana surat sebelumnya. Hal ini dimaksudkan supaya Nabi Muhammad saw juga benar-benar bepikir, merenungi lebih dalam atas karunia dan nikmat-nikmat yang diberikan Allah kepadanya. Lebih dari yang sekadar disebut-Nya.

Ayat di atas mengandung dua makna, zhahir dan batin. Secara zhahir Rasulullah saw pernah dibersihkan organ dalamnya oleh malaikat sewaktu masih kecil. Demikian juga setelah itu. Sebagian ulama berpendapat bahwa hal tersebut terjadi berkali-kali. Pertama kali terjadi pada saat beliau berusia empat tahun, yaitu masa-masa terakhir beliau di asuh oleh Halimah Sa’diyah di perkampungan Bani Sa’d sebelum dikembalikan kepada ibunya. Kedua, terjadi pada saat beliau berumur duapuluhan tahun. Ketiga, terjadi lagi sebelum beliau Isra’ Mi’raj([6]). Dalam riwayat Imam Ahmad bahkan dijelaskan bahwa tujuan pembelahan dada beliau –operasi fisik- secara zhahir adalah untuk membuang dendam, hasad dan iri (al-ghill wa al-hasad) dan kemudian memasukkan cinta dan kasih sayang (rahmah wa ra`fah) ([7]). Menariknya Imam al-Baidhawy mengatakan bahwa seolah-olah ini merupakan athaf dari surat sebelumnya yang datang dengan kata tanya (istifham) (ألم يجدك يتيماً). Dan untuk menegaskan bahwa masih banyak nikmat-nikmat Allah yang lain yang tidak disebut dan manusia tak mampu menghitungnya.

Adapun kandungan makna batinnya, bahwa Allah telah memberikan kelapangan dada dengan membuka hati beliau untuk dimudahkan menerima ilmu dan hikmah kenabian serta risalah. Demikian ditegaskan maknanya oleh Imam al-Baghawi([8]). Bahkan para tokoh sufi lebih suka memakai makna batin ini dan lebih merajihkannya karena kata yang dipakai “syaraha”.

Nikmat kedua, menghilangkan beratnya beban-beban dakwah Rasulullah saw. Sebagian para ahli tafsir menafsirkan “al-wizr” di sini adalah kesalahan dan kealpaan yang dilakukan Nabi Muhammad sebelum beliau jadi nabi. Semuanya telah Allah ampunkan. Tapi tak sedikit yang menafsirkannya dengan beban secara umum yang dihadapi oleh Rasulullah saw dalam melaksanakan misi yang dianugerahkan Allah kepada beliau, yaitu: menyampai-kan risalah kenabian. Baik beban fisik dengan teror yang diterimanya, maupun secara psikis yang dialaminya berkali-kali. Dari sejak hinaan, cemoohan, ancaman, tuduhan keji atau bahkan rayuan dan bujukan. Semuanya Allah jadikan ringan. Bahkan Allah melengkapinya dengan nikmat selanjutnya.

Nikmat ketiga, ditinggikan derajatnya. Allah angkat derajat beliau sebagai nabi. Bahkan disandingkan namanya dengan asma Allah Yang Mahaagung. Namanya disebut oleh penduduk bumi dan langit disepanjang waktu. Penduduk bumi yang shalat saja berputar dari pagi ke pagi selalu ada yang shalat, syahadatain dibaca di dalamnya. Dalam khutbah, syahadatain juga dibaca, sebelum ijab qabul pernikahan syahadatain juga dibaca. Banyak riwayat yang menyebutan kemuliaan beliau yang diberikan Allah dengan penyebutan tersebut([9]).

Kemudahan-Kemudahan

Setelah menyebutkan nikmat dan karunia yang diberikan Allah kepada Nabi-Nya Allah menegaskan sebuah makna yang memberikan sugesti kemenangan, kebahagiaan dan ketenangan. Simaklah kedahsyatan janji-Nya:

Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Sesung-guhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan”. (QS. 94: 5-6)

Apa rahasia pengulangan kalimat-kalimat di atas. Apa makna yang terkandung hingga Allah perlu mengulangi dan menegaskan pesan-pesan-Nya.

Imam al-Baghawi, Imam al-Ma’iny dan Syeikh Muhyiddin ad-Darwisy menyimpulkan dari struktur gaya bahasa di atas dengan sebuah kaidah kebahasaan: “Isim nakirah jika disebut dua kali maka yang kedua tidaklah sama dengan yang pertama. Namun, jika isim makrifat disebut dua kali maka yang kedua sama dengan yang pertama([10]). Dari kaidah ini bisa ditarik sebuah kesimpulan, setiap satu kesulitan terdapat dua kemudahan. Setidaknya akan berupa penyelesaian yang terbaik serta pahala kebaikan yang hanya diketahui Allah jika bersabar dalam menghadapinya. Setelah kesulitan dan beban-beban dakwah yang berat di Makkah Allah akan berikan kemudahan dan kemenangan di Madinah.

Kemudahan yang diberikan Allah bahkan berlipat-lipat. Jika Nabi saw terlahir sebagai yatim, beliau bahkan menyantuni banyak fakir miskin dan anak-anak yatim serta para janda miskin. Allah berikan kekayaan, beliau diangkat derajatnya, dilapangkan dadanya dan diringankan beban-bebannya. Apalagi setelah diangkat sebagai Nabi dan Rasul Allah swt. Meski, tekanan justru datang setelah itu tapi kemudahan dan kemenangan Allah jadikan setelahnya. Rahmatan lil alamin, beliau bahkan kemudian menjelma menjadi rahmat –atas titah Allah- bagi segenap alam semesta. Bukan hanya bagi manusia saja.

Jika pada mulanya Islam ditekan. Pengikutnya juga ditindas dan dihina. Yang mengikutinya juga orang-orang lemah dan terzhalimi. Tapi akhirnya Allah mengubahnya sesuai janjinya. Sebagai contoh kisah Fathu Makkah memberikan kebenaran janji Allah. Dengan segala izzah, Rasul memasuki kota Makkah. Jika sebelumnya orang-orang kuat penduduk Makkah menindas beliau dan para pengikutnya, maka pada saat itu semuanya tertunduk pasrah. Bahkan sebagian dari mereka ada yang melarikan diri. Kemuliaan yang tak menjadikan beliau sombong dan lupa diri. Beliau justru memperbanyak tasbih dan istighfar, bersyukur atas kemuliaan dan kemenangan yang dikaruniakan Allah; mengukuh-kan dan mengokohkan agama-Nya di muka bumi ini.

Jadi, yakinlah setidaknya setiap satu kesulitan ada dua kemudahan yang disiapkan Allah, kemudahan duniawi dan ukhrawy. Tak heran jika kemudian beliau bersabda sebagaimana yang diriwayatkan Ibnu Abbas dan Ibnu Mas’ud ra., “Beritakan kabar gembira, telah datang kemudahan. Takkan pernah satu kesulitan mengalahkan dua kemudahan([11]).

Maha Benar Allah dalam segala firman-Nya.

Perpindahan Aktivitas

Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain”.(QS. 94: 7)

Inilah makna istirahat yang sebenarnya. Bukanlah dengan bermalas-malasan dan bersantai, namun dengan perpindahan dari satu aktivitas ke aktivitas lain. Sehingga akan maksimal produktifitas seseorang. Maka Nabi Muhammad saw mencontohkan setelah menyampaikan dakwahnya, beliau diperintah untuk bersegera beribadah sebagai rasa syukur atas nikmat kenabian sekaligus sebagai rasa tawakkal memasrahkan usaha yang telah dilakukan sebelumnya. Bahwa hasil dari dakwah beliau sepenuhnya diserahkan kepada Allah swt.

Inilah yang seharusnya juga ditiru oleh para pengikut beliau. Jika itu benar-benar kita lakukan maka kemudahan-kemudahan akan semakin banyak diberikan Allah. Dan Allah akan tinggikan pula izzah agama ini melalui tangan-tangan kita.

Selain itu ayat ini mengisyaratkan sebuah keseimbangan ideal. Setelah kita sibuk dan beramal untuk dunia kita maka seharusnya kita juga berbuat dan beramal untuk akhirat kita.

Dan hanya kepada Tuhanmu lah hendaknya kamu berharap” (QS. 94: 8)

Kesyukuran itu lebih sempurna bila kita jadikan Allah benar-benar satu-satunya tempat bergantung dan berharap. Apa yang lebih indah dari rasa syukur yang dikaruniakan Allah yang telah menyebut bahwa hanya sedikit saja dari hamba-Nya yang mampu bersyukur dengan baik.

Sang Guru Ibnu Atha`illah As-Sakandary mengimbuhkan sebuah makna yang sangat dalam, “Allah menganugerahimu tiga kemuliaan, yaitu: Dia membuatmu ingat (dzikir) kepada-Nya. Kalaulah bukan karena karunia-Nya, engkau tak pantas menjadi ahli dzikir kepada-Nya. Dia membuatmu diingat oleh-Nya (madzkur), karena Dia sendiri yang menisbahkan dzikir itu untukmu. Dan Dia juga membuatmu diingat di sisi-Nya, saat Allah sempurnakan nikmat-Nya kepadamu([12]).

Penutup

Itulah Allah. Dzat yang rahmat-Nya luas tanpa batas. Dzat yang kasih sayang-Nya tidak terbilang. Pernahkah kita menghitung nikmat dan karunia yang diberikan-Nya kepada kita. Padahal tak banyak yang sudah kita lakukan untuk menyukurinya. Berapa kalikah kita berbuat dosa dan melanggar larangan-Nya, tak menunaikan hak-hak-Nya dengan baik? Namun, hingga saat ini Dia masih saja memberi kesempatan pada kita untuk bertaubat dan memperbaiki kesalahan-kesalahan kita. Betapa banyak kesalahan yang kita sembunyikan dari orang tua kita, istri kita, anak kita dan dari orang banyak. Dan Allah tetap terus menutupnya. Akankah kita melupakannya begitu saja? Alangkah baiknya jika kita tak menghentikan pengharapan kita pada-Nya dan terus mendekatkan diri padanya dengan taubat dan istighfar. Itulah kesempurnaan pengharapan. Maka, Dialah Dzat yang laik untuk benar-benar diharapkan karena Dia tak pernah menyelisihi dan mengingkari janji-Nya serta mengabaikan ketulusan pengharapan hamba-hamba-Nya.

Pengajian Shubuh, Ainal Yaqin, Kalibata-Jaksel

Selasa, 01 Maret 2010


* Tadabbur surat Alam Nasyrah (Melapangkan): [93], Juz Amma (30)

** Alumni Program S3 Jurusan Tafsir dan Ilmu al-Qur’an Universitas al-Azhar, Cairo

([1]) lihat: Jalaluddin as-Suyuthi, al-Itqân fi ‘Ulûmi al-Qur’ân, Beirut: Darul Kutub al-Ilmiah, Cet.I, 2004 M/1425 H, hlm.20-21; Badruddin az-Zarkasyi, al-Burhân fi ‘Ulûmi al-Qur’ân, Beirut: Darul Fikr, Cet.I, 1988 M/1408 H, Vol.1, hlm. 249. Prof. Dr. Jum’ah Ali Abd. Qadir, Ma’âlim Suar al-Qur’ân, Cairo: Universitas al-Azhar, cet.I, 2004 M/1424 H, vol.2, hlm.816

([2]) Ibid. hlm. 817

([3]) lihat: Jalaluddin as-Suyuthi, ad-Dur al-Mantsur fi at-Tafsir bi al-Ma`tsur, Beirut: Dar al-Fikr, Cet.I, 1983 M-1403 H,, Vol.VIII, hlm. 547, Abdurrahman Ibnu al-Jauzy, Zad al-Masir fi Ilmi at-Tafsir, Beirut: al-Maktab al-Islami, Cet.III, 1404 H, Vol.IX, hlm. 162

([4]) ada banyak pendapat tentang pembelahan dada Nabi Muhammad saw yang insya Allah akan kita bicarakan saat menadabburi ayatnya nanti.

([5]) Muhammad Ali Ash-Shabuni, Ijazu al-Bayan fi Suar al-Qur’an, Cairo: Dar Ali Shabuni, 1986 M-1406 H, hlm. 302

([6]) Lihat: Syihabuddin al-Alusy, Ruhul Maani, Beirut: Dar al-Fikr, 1997 M-1417 H, Vol. 30, hlm. 299-300, Abu al-Fida` Ibnu Katsir, Tafsir al-Qur`an al-Azhim, Cairo: al-Maktab Ats-Tsaqafi, Cet.I, 2001 M, Vol. IV, hlm. 528

([7]) Tafsir Ibnu Katsir, Ibid.

([8]) Al-Baghawy, Ma’alim at-Tanzil, Beirut: Darul Kutub al-Ilmiah, Cet.I, 2004 M-1424 H, Vol.IV, hlm. 469

([9]) Ali bin Ahmad Al-Wahidy, Al-Wasith fi Tafsir al-Qur’an al-Majid, Beirut: Darul Kutub al-Ilmiah, Cet.I, 1994 M-1415 H, Vol.IV, hlm.416-417, juga: Ibnu Jarir ath-Thabary, Jami’ al-Bayan fi Ta’wil Ay al-Qur’an, tahqiq: Mahmud Syakir, Beirut: Dar Ihya at-Turats al-Araby, Cet.I, 2001 M-1421 H, Vol. 30, hlm. 285

([10]) Al-Baghawy, Ma’alim at-Tanzil, Op.Cit, Vol. IV, hlm. 470, Muhyiddin ad-Darwisy, I’rabu al-Qur`an al-Karim wa Bayanuhu, Beirut: Dar Ibnu Katsir, Cet. IX, 2005 M-1426 H, Vol. VIII,hlm. 353, lihat tesis penulis: Kitab Lawami’ al Burhan wa Qawathi’ al-Bayan fi Ma’ani al-Qur’an Karya Imam al-Ma’iny: Dirasah wa Tahqiq, Cairo: Universitas al-Azhar Jurusan Tafsir, 2006, Vol.2, hlm. 876

([11]) Ibnu Jarir ath-Thabary, Jami’ al-Bayan,Op.Cit, Vol. 30, hlm. 286, Abul Qasim Jarullah Az-Zamakhsyari, al-Kasyaf an Haqa`iq at-Tanzil wa ‘Uyun al-Aqawil fi Wujuh at-Ta`wil, Cairo: Maktabah Mustafa Muhammad, Cet.I, 1354 H, Vol.IV, hlm. 221

([12]) Ibnu Atha’illah as-Sakandary, Kitab al-Hikam, Penerjemah: Dr. Ismail Ba’adillah, Jakarta: Khatulistiwa Press, Cet.II, Juni 2008, hlm. 289

Tadabbur QS. Adh-Dhuha (93)

BELAJAR BERSYUKUR*

Dr. H. Saiful Bahri, M.A**

Mukaddimah

Menurut para ulama Surat Adh-Dhuha diturunkan di Makkah setelah Surat al-Fajr([1]). Surat ini berisi tentang pribadi Rasulullah saw. Kegelisahan dan kesedihan yang dialami beliau sangat wajar, ditengah terror fisik dan psikis yang dilancarkan kuffar Quraisy kepada beliau dan sahabatnya untuk mencegah dan menghalangi berkembangnya dakwah yang beliau bawa. Bahkan Allah bersumpah demi untuk mengatakan bahwa Dia sama sekali takkan pernah meninggalkan nabi-Nya sendirian apalagi memarahinya, seperti yang hdituduhkan oleh kaum musyrikin Makkah. Allah takkan pernah membiarkannya bersedih. Allah menghibur beliau dengan mengingatkan janji-Nya yang pasti akan dipenuhi-Nya kelak. Menariknya, Allah juga mengingatkan bahwa beliau telah dikaruniai berbagai kenikmatan yang sangat berharga. Kefakiran, keadaan yatim, kesusahan dan kebingungan yang pernah dialaminya, dikaruniai Allah setelahnya berupa kekayaan, kesuksesan, bahkan diangkat derajatnya di langit dan di bumi. Semua adalah karunia Allah yang laik untuk disyukuri. Maka Allah memberikan perintah untuk menyukurinya dengan menyayangi anak yatim dan orang-orang miskin yang membutuhkan bantuan([2]).

Allah Selalu Menyertai

Hanya untuk menegaskan bahwa Allah takkan pernah meninggalkan Nabi Muhammad saw, tidak juga marah terhadapnya, Allah memulai surat ini dengan bersumpah dengan waktu dhuha dan waktu malam.

Demi waktu matahari sepenggalahan naik. Dan demi malam apabila telah sunyi” (QS. 93: 1-2)

Apa rahasia Allah memilih dua waktu tersebut? Waktu dhuha adalah permulaan siang. Waktu produktif kebanyakan manusia. Pada jam-jam inilah manusia memulai aktivitasnya. Ada yang mulai bekerja, ada yang berangkat ke sekolah belajar dan mengajarkan ilmu, ada yang mulai bertanam mencari jalan rizki, ada yang membuka toko, membuka pintu-pintu rahmat Allah.

Dalam sejarahnya, di waktu dhuha inilah Musa as. menundukkan kesombongan Fir’aun dengan mengalah tukang-tukang sihirnya, “Berkata Musa: “waktu untuk pertemuan (kami dengan) kamu itu ialah di hari raya dan hendaklah dikumpulkan manusia pada waktu matahari sepenggalahan naik”. (QS. Thaha: 59)

Kemudian Allah bersumpah demi waktu malam yang menampakkan ketenangannya. Sunyi dengan kesenyapannya. Itulah tabiat malam. Dijadikan Allah sebagai waktu beristirahat manusia setelah seharian bekerja dan beraktivitas. Allah jadikan juga waktu untuk berkumpul dengan keluarga. Allah berikan kesempatan untuk melakukan hal-hal yang dianggap paling privasi. Karena waktu malam jauh lebih tenang dibanding waktu lainnya.

Di antara sekian hamba-Nya ada yang merasa bahwa karunia ketenangan malam ini harus disyukuri. Karenanya ia rela melawan kantuk, bangkit dan segera bersujud serta bersimpuh di hadapan Dzat yang serba maha.

Inilah dua simbol yang pasti akan dialami oleh kebanyakan manusia. Setelah muda banyak beraktivitas, kelak ia akan tua dan harus mengurangi kegiatannya. Secara psikis juga –biasanya- ketenangan orang tua jauh di atas orang muda. Sebagai sunnah Allah, ma-nusia setelah beraktivitas juga memerlukan waktu dan jeda untuk beristirahat. Dan makna-makna lain yang tersirat dari sumpah di atas, dan yang terpenting adalah bahwa semua waktu itu pasti berputar dan berganti. Sadar atau tidak waktu terus berputar. Allahlah yang menjadikannya demikian. Tidak heran jika kemudian Abu Hurairah ra mendapat pesan dari Rasul saw untuk tidak meninggalkan Shalat Dhuha([3]) (HR. Bukhari, Muslim dan Abu Dawud)

Tuhanmu tiada meninggalkan kamu dan tiada (pula) benci kepadamu” (QS. 93: 3)

Ada beberapa versi sebab-sebab diturunkannya ayat ini. Ibnu Hajar mengatakan bahwa yang paling terkenal adalah tentang tersendatnya turunnya wahyu pada waktu tertentu yang dialami oleh Rasulullah saw. Meski terkenal tapi –masih menurut Ibnu Hajar- sangat aneh bila dijadikan sebab turunnya ayat ini. Adapun riwayat yang shahih, berasal dari Bukhari dan Muslim. Suatu ketika Rasulullah berkeluh kesah dan mengadu kepada Allah. Selama dua malam beliau sakit dan tidak berdiri/keluar rumah. Datang seorang perempuan kepadanya dan mengatakan,”Wahai Muhammad, mana setanmu. Kurasa dia telah meninggalkanmu” maka diturunkanlah ayat ini([4]). Hadis ini juga diriwayatkan oleh Tirmizi, Ahmad, an-Nasa`i, dan pakar hadis lainnya([5]).

Kenikmatan dan Karunia Allah

Dan sesungguhnya hari kemudian itu lebih baik bagimu daripada yang sekarang (permulaan). Dan kelak Tuhanmu pasti memberikan karunia-Nya kepadamu, lalu (hati) kamu menjadi puas”. (QS. 93: 4-5)

Sebab turun ayat ini diriwayatkan oleh Imam ath-Thabrani, al-Baihaqi dan al-Hakim dengan sanad hasan. Abdullah bin Abbas meriwayatkannya,”Rasulullah saw dibujuk dengan ditawarkan kepadanya sesuatu yang akan terbuka untuk umatnya, yaitu dunia” ([6]).

Jika pada ayat sebelumnya beliau dicemooh karena seolah beliau dibiarkan Allah maka ada usaha lain untuk meneror psikis beliau dengan tawaran yang menggiurkan. Yaitu godaan dunia. Namun, Rasulullah berdakwah tidaklah untuk memperkaya diri atau mencari pengaruh di tengah umatnya. Karena itu Allah meneguhkan pendirian beliau.

Sebagai gantinya Allah menawarkan sesuatu yang kelak akan membuat Rasul saw puas dan ridho. Karena kekekalan nikmat akhirat jauh lebih sempurna dengan segala kemegahan isi dunia yang banyak menggiurkan kebanyakan manusia.

Setidaknya Allah kemudian memerintahkan kepada kekasih-Nya ini untuk mengingat-ingat beberapa nikmat di antara nikmat-Nya yang tak terbilang yang diberikan kepada beliau:

  • Pertama, “Bukankah dia mendapatimu sebagai seorang yatim, lalu dia melindungimu?” (QS. 93: 6)

Nabi Muhammad terlahir sebagai anak yatim. Ia bahkan tak pernah tahu seperti apa wajah ayahnya. Kemudian belum banyak beliau menikmati kebersamaan dengan ibunya setelah kembali dari Bani Sa’d tempat beliau disusui dan dibesarkan di sana, Aminah, sang ibu dipanggil Allah menyusul ayahnya. Kakek yang mengasuhnya setelah itu pun dipanggil Allah. Hingga Muhammad kecil diasuh oleh pamannya, Abu Thalib. Siapa yang mengatur peristiwa demi peristiwa itu. Siapa sesungguhnya yang merekayasa semuanya. Allah lah pada hakikatnya yang mendidik dan mengasuh Nabi Muhammad, meskipun sebabnya melalui ibu, kakek dan paman juga orang-orang lainnya. Siapa pula yang menumbuhkan kecintaan mereka kepada Nabi Muhammad.

  • Kedua, “Dan dia mendapatimu sebagai seorang yang bingung, lalu dia memberikan petunjuk” (QS. 93: 7)

Yang dimaksud “dhall” di sini bukanlah kesesatan seperti tersesatnya orang-orang musyrik dan kafir. Namun, sebagian besar pakar tafsir mengatakan bahwa kebenaran tak bisa semata dicapai akal. Siapa yang memberi petunjuk jika bukan Allah. Secara spesifik sebagian ahli tafsir berpendapat petunjuk yang dimaksud di sini adalah kenabian dan syariat yang dibawa oleh beliau([7]).

  • Ketiga, “Dan dia mendapatimu sebagai seorang yang kekurangan, lalu dia memberikan kecukupan” (QS. 93: 8)

Allah membebaskan Nabi Muhammad saw dari kefakiran dengan memberi kecukupan. Dari sejak diberi kemampuan mencari nafkah melalui menggembala kambing, kemudian berdagang dan sukses di bidang tersebut, hingga kemudian menikah dengan seorang konglerawati yang shalihah; Khadijah binti Khuwailid ra([8]). Kemudian Allah berikan rasa cukup dan qanaah dalam hati beliau([9]).

Bersyukur Atas Karunia Allah

            Tiga karunia yang diberikan Allah di atas sudah selaiknya disyukuri dengan baik. Oleh karena itu Allah melanjutkan pesan dan risalah langit-Nya. Allah juga menganjurkan Rasul-Nya dan diwanti-wanti dengan tiga hal berikut

  • Pertama, “Sebab itu, terhadap anak yatim janganlah kamu berlaku sewenang-wenang”. (QS. 93: 9)

Berbuat baik dan tidak menzhalimi anak yatim menjadi prioritas dalam menyukuri nikmat Allah. Terlebih bagi Rasulullah saw sangat terasa, bagaimana beliau menjadi anak yatim tapi dicintai dan dimuliakan oleh orang-orang sekelilingnya. Tak heran jika dalam berbagai kesempatan beliau sering mengatakan “Aku dan pengafil anak yatim seperti dua jari ini([10])”. Beliau menunjuk jari tengah dan jari telunjuk beliau. Az-Zajjaj memberikan penakwilan lain, yaitu ini sekaligus larangan untuk menzhalimi anak yatim dengan berbagai cara. Di antaranya memakan harta anak yatim yang diwarisi dari orang tuanya. Maka jangan berlaku zhalim terhadap hartanya([11]), demikian pesan itu.

  • Kedua, “Dan terhadap orang yang minta-minta, janganlah kamu menghardiknya”. (QS. 93: 10).

Jika ada orang yang meminta maka sebaiknya kita memberinya sesuatu yang membuatnya berbahagia atau setidaknya menghilangkan sedikit bebannya. Jika seandainya kita belum mampu atau tidak memberinya apapun maka sebaiknya kata-kata yang baiklah yang kita berikan kepadanya. Allah berfirman dalam ayat lain, “Perkataan yang baik dan pemberian maaf lebih baik dari sedekah yang diiringi dengan sesuatu yang menyakitkan (perasaan si penerima). Allah Maha Kaya lagi Maha Penyantun” (QS. 2: 263)

  • Ketiga, “Dan terhadap nikmat Tuhanmu, maka hendaklah kamu menyebut-nyebut”. (QS. 93: 11)

Azz-Zajaj, Imam al-Qurthuby menafsirkan ayat ini sesuai dengan konteks Rasulullah adalah bersyukur dengan menyampaikan risalah kenabian beliau([12]). Jika ayat ini diper-untukkan kepada kita maka konteksnya lebih luas. Yang dimaksud menyebut-nyebut, berbicara atau berbagai saat kita mendapat nikmat juga luas. Diawali dengan bertah-mid dan bersyukur kepada Allah, kita disunnahkan untuk memberitahu orang-orang yang dekat dan kita cintai. Jika memungkinkan maka percikan nikmat tersebut juga bi-sa bermanfaat bagi orang lain. Jika nikmat itu adalah harta maka bersyukurlah dengan zakat dan shadaqah. Jika nikmat itu adalah ilmu maka bersyukurlah dengan meng-amalkan dan mengajarkannya. Tapi, menyebut-nyebut nikmat secara berlebihan akan mengundang rasa iri dan dengki, maka sebaiknya hal tersebut dilakukan dengan wajar.

Penutup       

            Semoga dengan inspirasi surat ini kita bisa memanfaatkan waktu kita untuk kebaikan. Selanjutnya kita mampu menjadi hamba yang bersyukur dan bisa menularkan kesyukuran ini kepada orang lain dengan keteladanan dan perkataan yang baik. Amin.

Pengajian Shubuh, Ainal Yaqin, Kalibata-Jaksel

Selasa, 23 Pebruari 2010


* Tadabbur surat Adh-Dhuha (Waktu Dhuha): [93], Juz Amma (30)

** Alumni Program S3 Jurusan Tafsir dan Ilmu al-Qur’an Universitas al-Azhar, Cairo

([1]) lihat: Jalaluddin as-Suyuthi, al-Itqân fi ‘Ulûmi al-Qur’ân, Beirut: Darul Kutub al-Ilmiah, Cet.I, 2004 M/1425 H, hlm.20-21; Badruddin az-Zarkasyi, al-Burhân fi ‘Ulûmi al-Qur’ân, Beirut: Darul Fikr, Cet.I, 1988 M/1408 H, Vol.1, hlm. 249.Prof. Dr. Jum’ah Ali Abd. Qadir, Ma’âlim Suar al-Qur’ân, Cairo: Universitas al-Azhar, cet.I, 2004 M/1424 H, vol.2, hlm.812

([2]) Muhammad Ali Ash-Shabuni, Ijazu al-Bayan fi Suar al-Qur’an, Cairo: Dar Ali Shabuni, 1986 M-1406 H, hlm. 301

([3]) Ini merupakan salah satu wasiat Rasulullah saw kepada Abu Hurairah yang berjumlah tiga: dua rakaat Shalat Dhuha, puasa tiga haris setiap bulan (ayyamul baidh) dan shalat witir sebelum tidur. Selain diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dengan sedikit perbedaan Abu Dawud juga meriwayatkannya dalam Kitab Shalah Bab al-Witr Qabla an-Naum, hadits nomer 1286 (Muhammad Nashiruddin al-Albany, Shahih Sunan Abi Dawud, Op.Cit, Vol.V, hlm.175)

([4]) Prof. Dr. Muhammad Hasan al-Himshy, Tafsir wa Bayan Mufradat al-Qur’an A’la Mushafi at-Tajwid ma’a Asbabi an-Nuzul li as-Suyuthi, Beirut: Muassasah al-Iman, cet.I, 1999 M – 1419 H, hlm. 534

([5]) Syihabuddin al-Alusy, Ruhul Maani, Beirut: Dar al-Fikr, 1997 M-1417 H, Vol. 30, hlm. 282

([6]) Prof. Dr. Muhammad Hasan al-Himshy, Op.Cit, hlm. 538

([7]) Ali bin Ahmad Al-Wahidy, Al-Wasith fi Tafsir al-Qur’an al-Majid, Beirut: Darul Kutub al-Ilmiah, Cet.I, 1994 M-1415 H, Vol.IV, hlm. 511; Al-Baghawy, Ma’alim at-Tanzil, Beirut: Darul Kutub al-Ilmiah, Cet.I, 2004 M-1424 H, Vol.IV, hlm. 466

([8]) lihat tesis penulis: Kitab Lawami’ al Burhan wa Qawathi’ al-Bayan fi Ma’ani al-Qur’an Karya Imam al-Ma’iny: Dirasah wa Tahqiq, Cairo: Universitas al-Azhar Jurusan Tafsir, 2006, Vol.2, hlm. 868.

([9]) Al-Baghawy, Ma’alim at-Tanzil, 4/467

([10]) Diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam kitab al-Adab Bab Fadhlu Man Ya’ulu Yatiman, hadits no. 6005. Juga Imam Muslim Kitab Zuhd wa Raqa`iq, hadits no. 2983. Juga Imam Tirmizi Kitab al-Birr wa ash-Shilah, no. 1918 (Ibnu Hajar al-Asqalany, Fathu al-Bari bi Syarhi Shahih al-Bukhari, Cairo: Maktabah  Ash-Shafa, Cet.I, 2003 M-1424 H, Vol. X, hlm. 507; Muhyiddin bin Syarah an-Nawawy, Shahih Muslim bi Syarhi an-Nawawy, Cairo: Darul Hadits, Cet.I, 1994 M-1415 H, Vol.IX, hlm.339, Sunan at-Tirmizi, Beirut: Darul Kutub al-Ilmiah, Cet.I, 2003 M-1424 H, hlm. 471)

([11]) Az-Zajjaz, Ma’ami al-Qur’an wa I’rabuhu, Cairo: Darul Hadits, 2004 M/1424 H, Vol.V, hlm. 259

([12]) Ibid. lihat juga: al-Jami’ li Ahkami al-Qur’an, Cairo: Darul Hadits, 2002 M-1423 H, Vol.X, hlm. 344

Tadabbur QS. Al-Lail (92)

TERMINAL KEPUASAN YANG KEKAL*

Dr. H. Saiful Bahri, M.A**

Mukaddimah

Para ulama berbeda pendapat apakah Surat Al-Lail makkiyah atau madaniyah. Namun, menurut Jalaluddin as-Suyuthi, “Surat al-Lail lebih dikenal sebagai surat makki-yah([1]). Surat al-Lail diturunkan kepada Nabi Muhammad saw. setelah surat al-A’la([2]).

Surat ini membicarakan perbuatan dan amal manusia yang bermacam-macam. Perbedaan amal tersebut memiliki konsekuensi yang berbeda pula, yaitu kebahagiaan dan kesengsaraan. Pada akhirnya semua bermuara pada ridha Allah yang dibalas dengan surga-Nya atau kemurkaan Allah yang diturunkan melalui neraka-Nya.

Surat ini juga menjelaskan kesalahan persepsi sebagian orang tentang harta. Namun hal tersebut tidak memberi manfaat sedikit pun di hari kiamat. Hal ini dilengkapi dengan contoh kebahagiaan yang dirasakan oleh orang yang bertakwa yang selalu menyucikan jiwanya([3]).

 

Siang Malam Manusia Selalu Berusaha

            Dengan dimulainya sumpah Allah yang menggunakan pasangan waktu siang dan malam yang kemudian diikuti dengan sumpah menggunakan penciptaan laki-laki dan perempuan, lalu menjelaskan perbedaan perbuatan dan usaha manusia, mengindikasikan seolah manusia baik laki-laki atau perempuan siang atau malam selalu berusaha dan bekerja untuk menyambung hidup di dunia dan sebagian sadar juga meneruskannya untuk persiapan hidup di akhirat.

            “Demi malam apabila menutupi (cahaya siang). Dan siang apabila terang benderang. Dan penciptaan laki-laki dan perempuan”. (QS. 92: 1-3)

            Sumpah di atas mengisyaratkan bahwa segala sesuatu di ala mini diciptakan Allah dengan berpasangan. Keduanya menjadi unsur penting dalam kehidupan. Keduanya saling terkait dan berhubungan. Maka keduanya juga saling melengkapi.

            “Sesungguhnya usaha kamu memang berbeda-beda”. (QS. 92: 4)

Ada yang konsisten menjaga amalnya agar selalu berada dalam kebaikan. Namun, sebaliknya, juga ada yang selalu berada dalam kejahatan. Di samping itu ayat di atas juga mengindikasikan bahwa manusia yang berbeda-beda juga memiliki perbuatan dan pekerjaan yang berbeda-beda. Baik pekerjaan dan amal duniawi maupun perbuatan atau amal ukhrawi juga bertingkat-tingkat. Maka sebagaimana perbedaan amal ini maka ganjaran dan balasannya kelak juga berbeda.

Perbuatan dan Konsekuensinya

            “Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa. Dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (surga). Maka kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah”. (QS. 92: 5-7)

            Orang-orang yang berani menginfakkan hartanya di jalan Allah. Ia tak pernah khawatir sedikit pun akan ditimpa kebangkrutan. Lalu ia juga bertakwa dan menjaga diri dari yang diharamkan Allah. Sebagaimana ditafsirkan oleh Ibnu Abbas ra([4]). Dan ia meyakini bahwa yang dilakukannya tidaklah sia-sia. Allah telah menjanjikan balasan yang sangat luar biasa. Maka ia mempercayainya dengan sepenuh hati. Menurut beberapa ulama dan ahli tafsir kata “al-Husna” di sini artinya bermacam-macam. Ad yang menafsirkannya dengan surga([5]). Sebagian lain menafsirkannya sebagai lâ ilâha illalLâh([6]), islam([7]), dan balasan Allah atas amal kebaikan([8]). Namun, semuanya tidaklah berlawanan arti karena muaranya sama yaitu Allah yang menjanjikan balasan bagi setiap amal baik yaitu surga melalui tuntunan agama Islam.

            Maka sebagai konsekuensi dari kedermaan dan ketakwaan serta tsiqah billah ini membuahkan hasil yang manis berupa kemudahan. Yaitu kemudahan dalam membiasa-kan amal kebaikan serta kemudahan memperoleh kebahagiaan dan kelapangan hidup dan kelak dimudahkan jalannya menuju surga.

            Ayat ini diturunkan untuk mengabadikan akhlak mulia Abu Bakar ra yang membeli Bilal bin Rabah dari Umayah bin Khalaf serta memerdekakan Bilal tanpa syarat apapun([9]). Zubair bin Awwam menceritakan bahwa pembelian Bilal dihina oleh banyak orang karena menurut mereka alangkah baiknya jika Abu Bakar membeli budak yang lebih baik dari Bilal. Tapi penghinaan ini tak digubris oleh Abu Bakar([10]).

            Menurut riwayat lain ayat ini diturunkan untuk mengapresiasi Abu Dahdah al-Anshary yang suatu hari berada di kediaman seorang munafik yang memiliki kurma. Ia melihat kurma-kurma tersebut berjatuhan ke rumah tetangganya yang yatim. Orang munafik tersebut mengambili kurma-kurma tersebut, khawatir akan diambil oleh anak-anak yatim tetangganya. Abu Dahdah al-Anshary berkata kepada mereka, “Biarkan saja itu untuk mereka maka engkau akan mendapat gantinya di surga”. Namun sang munafik tersebut tidak menggubrisnya. Abu Dahdah kemudian membelinya semuanya dan menghibahkannya untuk anak-anak yatim tersebut([11]).

            “Dan adapun orang-orang yang bakhil dan merasa dirinya cukup. Serta mendustakan pahala terbaik. Maka kelak kami akan siapkan baginya (jalan) yang sukar”. (QS. 92: 8-10)

            Sebaliknya orang yang bakhil dengan menimbun hartanya dan kikir dalam mendermakannya ia akan merasa berada dalam gelimangan harta. Ia mempresepsikan bahwa dengan harta ia bisa memiliki segalanya dan memnuhi semua keinginannya. Maka ia kemudian menjadi bertambah sombong. Allah pun tak lagi dianggapnya sebagai Tuhan yang memberinya karunia dan rizki yang lapang. Ia lupakan Allah. Ia dustakan ketuhanan-Nya. Ia ragukan keserbamahaannya. Maka ia pun meragukan janjinya. Bahkan ia dustakan sama sekali dan menganggap bahwa kebenaran hari akhir dan pembalasan amal hanya sebuah ilusi.

Maka orang yang memiliki karakter seperti di atas ini sangat laik bila diberikan kesulitan yang berlipat. Allah mudahkan baginya jalan kesukaran. Maka hidupnya akan dipenuhi kesulitan meski ia berlimpah harta. Hatinya tak tenang. Fisiknya digerogoti penyakit. Dan kelak saat maut menjemputnya ia baru merasakan kerugian dan petaka besar yang akan menyengsarakannya.

Dan hartanya tidak bermanfaat baginya apabila ia telah binasa”. (QS. 92: 11)

Taradda” artinya mati dan dikuburkan([12]). Ini merupakan kiasan dari kematian dan kebinasaan([13]). Harta yang ditimbun dan selalu dijaganya siang malam tersebut tak bisa menghalangi datangnya kehancuran dan kematiannya. Dan tak sepeserpun dari harta yang dikumpulkan tersebut yang ia bawa ke liang lahat. Jika pun orang yang masih hidup memaksakan untuknya membawa harta tersebut, hal itu tidaklah berguna. Bahkan kalau pun hal tersebut bisa terjadi ia akan berhadapan dengan makhluk yang tidak mengenal arti dunia. Maka ia takkan pernah bisa menyuapnya dengan harta.

Dua Jalan Telah Dibentangkan

            Ada dua jalan yang sama-sama terbuka. Manusia diberi kebebasan untuk memilih jalan tersebut. Namun, Allah tetaplah bijak dan maha asih. Dia menurunkan dan mengirim utusan-Nya dari kalangan manusia untuk mengingatkan mereka dan membimbing agar para manusia tidak tersesat dalam memilih jalan itu. Maka, Dia pun mengobral petunjuk-Nya. Sampai demikian pun manusia tetap saja banyak yang enggan mengambilnya.

Sesungguhnya kewajiban kamilah memberi petunjuk” (QS. 92: 12)

Tidaklah akan mungkin terjadi kesalahan bila seseorang mau mengikuti petunjuk Allah dengan benar. Karena Allah memiliki segalanya. “Dan sesungguhnya kepunyaan kamilah akhirat dan dunia”. (QS. 92: 13). Dunia dan seisinya Allahlah pemiliknya. Demikian pula akhirat dan semuanya yang berhubungan dengannya Allah lah yang mengendalikan-nya. Bila seseorang lebih memilih dunia dan menghalanginya untuk mencintai pemiliknya maka ia benar-benar akan sengsara ketika memasuki alam akhirat, saat kehidupan dunia-nya dipertanggungjawabkan dan kemudian dibalas dengan setimpal.

Pada suasana yang demikian orang-orang yang bakhil di atas akan sangat menyesali kebodohan dirinya. Padahal Allah telah benar-benar mengirim orang terbaik di antara mereka untuk menjadi pengingat yang baik. “Maka, kami memperingatkan kamu dengan neraka yang menyala-nyala” (QS. 92: 14)

Neraka yang menyala tersebut disediakan untuk mereka yang mendustakannya. “Tidak masuk ke dalamnya kecuali orang yang paling celaka” (QS. 92:15). Orang-orang cela-ka itu adalah orang “yang mendustakan (kebenaran) dan berpaling (dari iman)” (QS. 92: 16)

Dan dengan cinta-Nya pula “kelak akan dijauhkan orang yang paling takwa dari neraka itu” (QS. 92: 17). Siapakah orang-orang yang beruntung tersebut. Yaitu orang “Yang menafkahkan hartanya (di jalan Allah) untuk membersihkannya”(QS. 92: 18). Ia semata mengharap mampu membersihkan jiwanya.

Dia membersihkan dirinya, juga hartanya dari sesuatu yang ia khawatirkan akan menyebabkan murka Allah juga ia bersihkan jiwanya dari sifat riya’ dan sombong yang kadang merupakan akibat bila seseorang mendapat kenikmatan berupa harta dan kedudukan di atas rata-rata sesamanya.

Padahal tidak ada seorang pun memberikan suatu nikmat kepadanya yang harus di-balasnya” (QS. 92: 19). Dia bersedekah dan mengeluarkan hartanya dalam jalan kebaikan bukan karena sebuah balas budi yang menjadi tanggungannya atau supaya kelak jika ia dalam kesulitan akan ada balasan yang membantu mengelurkannya dari kesusahan. Atau ia berharap dengan yang lebih baik dari yang didermakannya. Kedermawanannya tersebut di-landaskan pada keikhlasan yang sangat dijiwainya. Allah menuturkannya, “Tetapi (dia mem-berikan itu semata-mata) karena mencari ridha Tuhannya Yang Maha Tinggi” (QS. 92: 20)

Dan karena ia mampu melakukan dan menunjukkan kemurnian cintanya tersebut pada pemilik dunia dan akhirat kelak ia akan puas dantakkan merasa rugi. “Dan kelak dia benar-benar mendapat kepuasan” (QS. 92: 21) Dan kepuasan yang demikian itu bersifat kekal. Maka ia menjadi orang yang paling beruntung, sebagai balasan atas usahanya yang terus menjaga diri untuk menjadi hamba-Nya yang paling bertaqwa. Dalam surat al-Fajr Allah menggabungkan dua kepuasan dan keridhaan sekaligus, “Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya” (QS. 89:28). Ia rela dengan janji Allah dan ia puas dengan balasan-Nya. Allah pun mencintai dan meridhainya. Sungguh sebuah puncak kepuasan yang sebenar-benarnya.

Baik itu Abu Bakar ash-Shiddiq atau pun Abu Dahdah al-Anshary juga para pengikut jejak mereka dalam kedermawanan, kelak akan benar-benar merasakan kepuasan yang tak terputus dan abadi.

Penutup

            Itulah kemurnian amal dan kejernihan hati yang diperuntukkan hanya menghadap dan mengharap Allah semata. Yang demikian itulah yang akan membawa keuntungan yang hakiki. Tentang kemurnian amal ini ada baiknya kita simak petuah bijak Sang Guru, Ibnu Athaillah as-Sakandary,”Sebagaimana Allah tidak menyukai amal yang tidak sepenuhnya bagi-Nya, Allah juga tidak menyukai hati yang tak sepenuhnya bagi-Nya. Amal yang tidak sepenuhnya bagi-Nya tidak Dia terima, dan hati yang tidak sepenuhnya bagi-Nya tidak dipedulikan oleh-Nya ([14]). Karena itu Allah sangat membenci orang-orang munafik, karena hati mereka tidak pernah berada ditempat yang tetap. Mereka hanya mencari kemanfaatan. Disitu ada kemanfaatan, hati mereka akan mendekat ke sana, tak menjadi soal apakah itu berlawanan dengan nurani atau tidak. Semoga Allah memberikan hati yang tetap kepada kita. Hati yang ditetapkan di jalan kebaikan dan ketaatan. Amin.

Pengajian Shubuh, Ainal Yaqin, Kalibata-Jaksel

Selasa, 16 Pebruari 2010


* Tadabbur surat Al-Lail (Malam): [92], Juz Amma (30)

** Alumni Program S3 Jurusan Tafsir dan Ilmu al-Qur’an Universitas al-Azhar, Cairo

([1]) lihat: Jalaluddin as-Suyuthi, al-Itqân fi ‘Ulûmi al-Qur’ân, Beirut: Darul Kutub al-Ilmiah, Cet.I, 2004 M/1425 H, hlm.26;. Prof. Dr. Jum’ah Ali Abd. Qadir, Ma’âlim Suar al-Qur’ân, Cairo: Universitas al-Azhar, cet.I, 2004 M/1424 H, vol.2, hlm.808

([2]) lihat: Jalaluddin as-Suyuthi, al-Itqân fi ‘Ulûmi al-Qur’ân, Op.Cit, hlm. 21; Badruddin az-Zarkasyi, al-Burhân fi ‘Ulûmi al-Qur’ân, Beirut: Darul Fikr, Cet.I, 1988 M/1408 H, Vol.1, hlm. 249.

([3]) Muhammad Ali Ash-Shabuni, Ijazu al-Bayan fi Suar al-Qur’an, Cairo: Dar Ali Shabuni, 1986 M-1406 H, hlm. 299-300

([4]) al-Qurthuby, al-Jami’ li Ahkami al-Qur’an, Cairo: Darul Hadits, 2002 M-1423 H, Vol.X, hlm. 328

([5]) sebagaimana pendapat Mujahid (Ibnu Jarir ath-Thabary, Jami’ al-Bayan fi Ta’wil Ay al-Qur’an, tahqiq: Mahmud Syakir, Beirut: Dar Ihya at-Turats al-Araby, Cet.I, 2001 M-1421 H, Vol. 30, hlm. 267, Al-Baghawy, Ma’alim at-Tanzil, Beirut: Darul Kutub al-Ilmiah, Cet.I, 2004 M-1424 H, Vol.IV, hlm. 462, al-Qurthubi, Op.Cit, 10/328, Syihabuddin al-Alusy, Ruhul Maani, Beirut: Dar al-Fikr,  1997 M-1417 H, Vol. 30, hlm. 267)

([6]) sebuah atsar dinukil oleh Syihabuddin Mahmud al-Alusy (Ruhul Maani, Ibid. hlm. 266)

([7]) Ibid.

([8]) pendapat Qatadah dan al-Kalby (Al-Baghawy, Ma’alim at-Tanzil, Op.Cit. Vol. IV, hlm. 462)

([9]) Ibid. hlm. 463

([10])Ruhul Maani, Op.Cit. hlm.267

([11]) Ibid. hlm. 264

([12]) Sebagaimana pendapat Mujahid (Jami’ al-Bayan, Op.Cit, Vol. 30, hlm. 273, Ma’alim at-Tanzil, Op.Cit, Vol.IV, hlm. 463)

([13]) Ruhul Maani, Vol. 30, hlm. 269

([14]) Ibnu Atha’illah as-Sakandary, Kitab al-Hikam, Penerjemah: Dr. Ismail Ba’adillah, Jakarta: Khatulistiwa Press, Cet.II, Juni 2008, hlm. 234.

Tadabbur QS. Asy-Syams (91)

PARA PENYEMBELIH UNTA*

Dr. H. Saiful Bahri, M.A**

Mukaddimah

Menurut jumhur mufassirin Surat As-Syams diturunkan Allah di Makkah setelah Surat Al-Qadar([1]). Tema sentral surat As-Syams ini berkisar pada dua bahasan besar, yaitu: jiwa manusia dan tabiat-tabiatnya yang membentuk karakter baik atau buruk, kemudian tema kezhaliman dan pembangkangan yang langsung disebut secara lugas dan eksplisit, yaitu pembangkangan kaum Tsamud yang menyembelih unta yang mereka minta supaya keluar dari batu. Padahal Nabi Salih as. memesan agar mereka menjaganya dan memberinya minum. Tujuan penyembelihan ini semata hanya ingin menyelisihi perintah dan nasihat Nabi Salih as. Orang-orang seperti ini takkan pernah ditolerir oleh Allah yang murka dan tak sedikitpun Allah khawatir akibat adzab yang ia turunkan. Semua itu tak mengurangi atau menambah kekuasaan dan kemuliaan-Nya([2]).

Tiga Pasang Mengiringi Jiwa

            Kali ini, dalam surat ini Allah sekaligus menghadirkan tiga pasang makhluk-Nya yang digunakan-Nya untuk bersumpah. Yaitu matahari dan bulan, siang dan malam, serta langit dan bumi. Simaklah ritme dan kekuatan diksinyanya berikut.

Demi matahari dan cahayanya di pagi hari. Dan bulan apabila mengiringinya. Dan siang apabila menampakkannya. Dan malam apabila menutupinya. Dan langit serta pembinaannya. Dan bumi serta penghamparannya”. (QS. 91: 1-6)

Sumpah yang biasanya mendahului hal besar yang akan disampaikan Allah ini, hadir dalam gaya bahasa yang luar biasa indahnya.

Pertama, pasangan matahari dan bulan. Matahari yang sinarnya baru saja meninggi saat kita disunnahkan untuk melaksanakan shalat dhuha dijadikan sumpah oleh Allah. Demikian juga bulan yang mengiringi matahari, yang cahayanya merupakan pantulan cahaya matahari. Mengelilinginya bersama planet-planet yang Allah jadikan mengorbit pada matahari.

Kata mengiringi “talâhâ” menurut al-Farra’ ini mengindikasikan bahwa bulan menyerap cahaya matahari kemudian memantulkannya ke bumi([3]). Dan pantulan ini terus berputar hingga bertemu pada titik sama saat keduanya; matahari dan bulan berhadapan sehingga menjadi bulatan penuh yang biasanya kita kenal dengan bulan purnama([4]).

Kedua, pasangan siang dan malam. Siang yang nampak terang benderang sepadan dengan permulaan sumpah ini, yaitu matahari yang mulai meninggi dan mulai mengusir kabut pagi dan kegelapan malam pun pelahan hilang sama sekali. Dan saat malam datang kembali, maka keadaan yang terang tersebut sirna tertutup oleh hitam. Kegelapan malam. Pada waktu siang terlihat jelas karena diterangi matahari dan pada malam hari matahari tertutup([5]).

Ketiga, pasangan langit dan bumi. Keluasan langit yang demikian –seolah- tiada batasnya tak ada yang tahu bagaimana Allah membuat dan menjadikannya demikian kokoh tanpa tiang penyangga. Maka kata “banâhâ” sangat tepat mewakili ungkapan penciptaan tersebut. Dengan kata tersebut mewakili penciptaan, pembangunan dan kemegahan secara otomatis akal yang sehat akan menanyakan, “siapakah yang sanggup membuatnya demikian?” Dan tentu saja jawabannya adalah Allah. Karena itu Imam Hasan al-Bashry dan Mujahid menakwilkannya dengan menyelipkan kata “alladzi” yang berarti yang menciptanya([6]).

Demikian juga rahasia pemilihan bumi sebagai tempat manusia, di antara jutaan bahkan mungkin milyaran planet yang ada di alam semesta ini. Kenapa Allah memilih bumi dan bukan yang lainnya. Maka gunakanlah akal untuk mencerna dan menadabburi semesta yang sangat luas.

Tiga pasang makhluk Allah di atas seharusnya membuat manusia berpikir sejenak. Kenapa keenam hal tersebut diadakan Allah. Bahkan dalam surat ini untuk mengiringi sumpah yang ke tujuh. “Dan jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya)” (QS. 91: 7)

Keagungan dan kemegahan ciptaan-Nya yang serba berpasangan tersebut seharusnya mampu membuat manusia sadar akan kebesaran Allah dan bermuara pada totalitas penghambaan kepada-Nya. Apalagi semuanya, matahari, bulan, siang, malam, langit dan bumi disediakan untuk manusia. Yang dalam sumpah ke tujuh ini disebut dengan “jiwa”. Tak seorang pun mengetahui bagaimana Allah mencipta jiwa dan di mana letaknya dalam badan manusia. Jika penciptaan manusia secara biologis saat ini telah terungkap prosesnya maka tak seorang mampu menyibak rahasia jiwa/ruh manusia.

Sebagian pakar tafsir ada yang menakwilkan jiwa di sini adalah Adam, sebagai manusia pertama yang diciptakan oleh Allah([7]).

Pembersihan Jiwa dan Konsekuensi Kebalikannya

            Nikmat Allah di atas yang enam (matahari, bulan, siang, malam, langit dan bumi) bisa dirasakan oleh manusia. Yang selaiknya membuat manusia terus bersyukur kepada-Nya. Pada ayat selanjutnya Allah lengkapkan dengan nikmat abstrak lainnya. Yaitu petunjuk dan jalan ketakwaan untuk ditempuh para pencari kebahagiaan dan jalan kefasikan untuk dijauhi agar tak terjerumus dalam jurang kenistaan dan kecelakaan yang abadi.

Maka Allah ilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya” (QS. 91: 8)

Dan jiwa yang beruntung dan bahagia adalah jiwa yang mau berusaha terus me-nyucikan diri. “Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu” (QS. 91: 9).

Kesucian jiwa ini harus terus kita rawat, jaga dan pelihara dari kekotoran. Tentunya dengan ketakwaan yang kualitasnya terus kita tingkatkan. Selain itu dengan doa sebagaimana yang diajarkan oleh Rasulullah saw, “Ya Allah karuniakan kepada kami hati yang bertaqwa, bersihkan dan sucikan karena Engkau sebaik-baik Dzat yang menyuci-kannya, Engkau yang menguasainya dan menjadi tuan atasnya”.

اللهم آت نفوسنا تقواها، وزكّها أنت خير من زكاها، أنت وليها ومولاها([8]).

Sebaliknya, orang-orang yang membiarkan dirinya berbuat zhalim dengan mengotorinya kejernihan jiwanya, kelak akan benar-benar merugi dan ia sangat menyesali kerugiannya itu. “Dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya” (QS. 91: 10)

Dalam ayat ini Allah memberikan contoh riil dan kongkrit seperti siapakah dan bagaimana contoh orang-orang yang merugi dan mengotori jiwanya. Allah kisahkan cerita kaum Tsamud, kaum Nabi Shalih as.

(kaum) Tsamud telah mendustakan (rasulnya) Karena mereka melampaui batas. Ketika bangkit orang yang paling celaka di antara mereka. Lalu Rasul Allah (Saleh) berkata kepada mereka: (“Biarkanlah) unta betina Allah dan minumannya”. Lalu mereka mendustakannya dan menyembelih unta itu, Maka Tuhan mereka membinasakan mereka disebabkan dosa mereka, lalu Allah menyama-ratakan mereka (dengan tanah)”. (QS. 91: 11-15)

Kaum Tsamud adalah bangsa besar yang pernah terkenal. Keberadaan mereka  yaitu setelah Kaum ‘Ad dihancurkan Allah. Dinamakan demikian dari nama kakek mereka. Tiga bersaudara keturunan Amir bin Iram bin Sam bin Nuh as. Mereka digolongkan bangsa Arab (al-Aribah) yang tinggal di bebatuan di kota al-Hijr yang terletak di antara negeri Hijaz dan Tabuk dan telah punah. Tiada satu pun dari mereka yang tersisa demikian juga jejak-jejak peradaban mereka, terkubur bersama kesombongan yang diadzab oleh Allah. Hanya sebagian kecil di antara mereka yang mau beriman kepada risalah yang dibawa Nabi Salih as. yang diutus Allah untuk memberikan petunjuk kebenaran kepada mereka([9]).

Sebagaimana diceritakan sebelum surat ini di beberapa surat-surat lainnya Allah mengutus Nabi Salih kepada mereka supaya terbebas dari penyembahan terhadap berhala yang tidak mendatangkan manfaat dan mudharat sedikit pun. Mereka kemudian meminta mukjizat kerasulan. Allah kabulkan dengan mengeluarkan unta dari batu sebagaimana tuntutan mereka. Nabi Salih meminta mereka memuliakannya dan tidak menyakitinya namun mereka dengan sengaja menyembelihnya, hanya untuk menyelisihi perintah nabi mereka yang juga saudara terbaik mereka.

Lihatlah pesan Nabi Salih dalam Surat Asy-Syu’ara. “Adakah kamu akan dibiarkan tinggal disini (di negeri kamu ini) dengan aman. Di dalam kebun-kebun serta mata air. Dan tanam-tanaman dan pohon-pohon kurma yang mayangnya lembut. Dan kamu pahat sebagian dari gunung-gunung untuk dijadikan rumah-rumah dengan rajin. Maka bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku” (QS. 26: 146-150)

Kenikmatan dan kemampuan serta kekuatan yang diberikan Allah telah membuat mereka lalai dan terlena sehingga tak mau beribadah kepada Allah. Misi Nabi Salih pun untuk mengembalikan mereka pada fitrah. Namun, tidak semuanya mengindahkan peringatan beliau. Lihatlah pesan tegas Nabi Salih, “Adakah kamu akan dibiarkan tinggal disini (di negeri kamu ini) dengan aman”. Kenyamanan hunian yang asri membuat mereka lupa bahwa mereka suatu saat akan mati dan meninggalkan semua peradaban yang mereka bangun([10]). Dan mereka sama sekali tak memikirkan hal tersebut.

Puncak kesombongan tersebut terjadi ketika mereka menyembelih unta. Dan yang mengambil inisiatif sekaligus melaksanakannya adalah Qaddar bin Salif bin Janda’ dan kemudian diikuti oleh orang-orang dari kabilah lain dan semuanya berjumlah sembilan orang. Seperti yang dikabarkan Allah dalam surat an-Naml, “Dan adalah di kota itu sembilan orang laki-laki yang membuat kerusakan di muka bumi, dan mereka tidak berbuat kebaikan”. (QS. 27: 48)

Setelah perbuatan yang mendatangkan murka Allah ini karena mereka tak menunjukkan tanda-tanda penyesalan sama sekali. Bahkan mereka menantang Salih untuk meminta diturunkan adzab kepada mereka. Lebih dari itu mereka bersekongkol merencanakan konspirasi untuk membunuh Nabi Allah tersebut. Masih kelanjutan surat An-Naml, “Mereka berkata: Bersumpahlah kamu dengan nama Allah, bahwa kita sung-guh-sungguh akan menyerangnya dengan tiba-tiba beserta keluarganya di malam hari, Kemudian kita katakan kepada warisnya (bahwa) kita tidak menyaksikan kematian keluarganya itu, dan Sesungguhnya kita adalah orang-orang yang benar”(QS. 27: 49)

Mereka merencanakan pembunuhan terhadap Nabi Salih di malam hari, Allah lebih dahsyat makar-Nya. Sebelum mereka melaksanakan rencana dan konspirasi keji ini, Allah dahului mereka dengan adzab yang belum pernah diturunkan kepada siapapun sebelumnya. Yaitu dengan teriakan yang sangat keras dan menghancurkan segalanya. Binasalah kaum yang diberi kelebihan Allah dengan berbagai keistimewaan namun enggan menyukurinya. Sebagaimana dikabarkan al-Qur’an di beberapa tempat dalam surat-suratnya([11]). Allah meratakan mereka dengan tanah. Dalam ayat ini digunakan ungkapan “damdama” yang berasal dari bergoyangnya bangunan sampai keras hingga terbalik dan mneimpa apa yang ada di bawahnya, kemudian rata sehingga tak terlihat bekasnya([12]).

Dan Allah sama sekali tidak merugi dengan sikap dan kebijakan-Nya yang mengerikan tersebut. “Dan Allah tidak takut terhadap akibat tindakan-Nya itu” (QS. 91: 15). Allah tak khawatir telah menzhalimi mereka, karena sesungguhnya merekalah yang berbuat zhalim. Bukankah sebelumnya Allah telah kirim kepada mereka orang terbaik yang berada di tengah-tengah mereka yang sangat mereka cintai dan hormati. Namun, setelah Salih mengungkapkan misinya, mereka berbalik memusuhinya.

Penutup

            Di antara orang yang paling baik adalah yang mampu mengambil pelajaran dari suatu peristiwa yang telah berlalu sehingga tak terjerumus dalam kesalahan yang sama. Semoga Allah menjadikan kita orang yang mampu terus memperbaiki diri. Sehingga umur kita bermanfaat, senada dengan ungkapan Ibnu Athaillah as-Sakandary,”Siapa yang diberkahi umurnya, maka dalam waktu singkat ia dapat meraih berbagai karunia Allah, sebuah karunia yang sulit diungkap melalui kata-kata dan tak terjangkau lewat isyarat ([13]).

Pengajian Shubuh, Ainal Yaqin, Kalibata-Jaksel

Selasa, 09 Pebruari 2010


* Tadabbur surat As-Syams (Matahari): [91], Juz Amma (30)

** Alumni Program S3 Jurusan Tafsir dan Ilmu al-Qur’an Universitas al-Azhar, Cairo

([1]) lihat: Jalaluddin as-Suyuthi, al-Itqân fi ‘Ulûmi al-Qur’ân, Beirut: Darul Kutub al-Ilmiah, Cet.I, 2004 M/1425 H, hlm. 20-22; Badruddin az-Zarkasyi, al-Burhân fi ‘Ulûmi al-Qur’ân, Beirut: Darul Fikr, Cet.I, 1988 M/1408 H, Vol.1, hlm. 249. Prof. Dr. Jum’ah Ali Abd. Qadir, Ma’âlim Suar al-Qur’ân, Cairo: Universitas al-Azhar, cet.I, 2004 M/1424 H, vol.2, hlm.804

([2]) Muhammad Ali Ash-Shabuni, Ijazu al-Bayan fi Suar al-Qur’an, Cairo: Dar Ali Shabuni, 1986 M-1406 H, hlm. 298

([3]) Abu Zakariya al-Farra’, Ma’ani al-Qur’an, Beirut: Darul Kutub al-Ilmiah, Cet.1, 2003 M/1423 H, Vol.III, hlm. 156

([4]) Syihabuddin al-Alusy, Ruhul Maani, Beirut: Dar al-Fikr,  1997 M-1417 H, Vol. 30, hlm. 253

([5]) Al-Farra’, Ma’ani al-Qur’an, Op.Cit, III/156, Muhammad bin Yusuf Abu Hayyan, al-Bahr al-Muhith, Beirut: Darul Kutub Ilmiah, Cet.I, 2001 M-1422 H, Vol.VIII, hlm. 473, Ruhul Ma’ani, Op.Cit, 30/254.

([6]) Ibnu Jarir ath-Thabary, Jami’ al-Bayan fi Ta’wil Ay al-Qur’an, tahqiq: Mahmud Syakir, Beirut: Dar Ihya at-Turats al-Araby, Cet.I, 2001 M-1421 H, Vol. 30, hlm.254

([7]) Ruhul Ma’ani, Op.Cit, 30/256.

([8]) potongan doa yang diriwayatkan oleh sahabat Zaid bin Arqam ra. ditakhrij oleh Imam Muslim dalam Shahihnya. Dalam Kitab adz-Dzikr wa ad-Du’a, Bab at-Ta’awudz min Syarri ma ‘Amil, hadits nomer 2722 (Shahih Muslim bi Syarhi an-Nawawy, Cairo: Darul Hadits, Cet.1, 1994 M-1415 H, Vol.IX, hlm. 48). Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Ahmad bin Hanbal, Ibnu Abi Syaibah, dan Imam an-Nasa’i (lihat: Ruhul Ma’ani, Op.Cit, 30/260)

([9]) Ibnu Katsir, Al-Bidayah wa an-Nihayah, Beirut: Darul Kutub al-Ilmiah, tt. Vol. 1, hlm. 123

([10]) Mamhmud Mishry, Qashashu al-Anbiya`, Cairo: Dar at-Taqwa, Cet.I, 2002 M-1423 H, hlm. 117

([11]) Lihat QS. al-A’raf : 78, QS. Hud: 67-68, QS. Al-Qamar: 29-31, QS. An-Naml: 51-52, QS. Al-Haqqah: 5.

([12]) lihat tesis penulis: Kitab Lawami’ al Burhan wa Qawathi’ al-Bayan fi Ma’ani al-Qur’an Karya Imam al-Ma’iny: Dirasah wa Tahqiq, Cairo: Universitas al-Azhar Jurusan Tafsir, 2006, Vol.2, hlm. 857.

([13]) Ibnu Atha’illah as-Sakandary, Kitab al-Hikam, Jakarta: Khatulistiwa Press, Cet.II, Juni 2008, hlm. 290

Tadabbur QS. Al-Balad (90)

AKHIR JALAN MENDAKI*

Dr. H. Saiful Bahri, M.A**

Mukaddimah: Meluruskan Persepsi

Menurut jumhur ulama dan ahli tafsir surat Al-Balad diturunkan Allah di Makkah setelah Surat Qâf([1]). Tema surat-surat makkiyah sangat menonjol dalam surat ini. Apalagi secara eksplisit Allah bersumpah dengan negeri kelahiran Nabi Muhammad saw yang tak lain adalah Makkah. Dalam surat ini juga Allah menceritakan kondisi penduduk Makkah yang masih mendustakan agama Allah. Mereka silau dengan kekuatan yang mereka miliki. Mereka mengira dengan harta yang mereka kerahkan dan orang-orang yang mereka himpun akan mampu membendung kehendak Allah. Mereka takkan pernah mampu membungkam risalah kebenaran yang dibawa putra terbaik Kabilah Quraisy ini. Seperti beberapa surat makkiyah yang lainnya, surat ini ditutup dengan pembicaraan kedahsyatan hari kiamat terutama hal-hal yang berkaitan dengannya yaitu hari pembalasan. Akhir dari nasib yang akan diterima orang-orang yang beriman dan orang-orang kafir([2]).

Yang menarik dari pembahasan dalam surat ini adalah merupakan kelanjutan dari surat sebelumnya. Jika dalam surat Al-Fajr banyak pembahasan mengenai harta, teru-tama yang berkaitan dengan kesalahan persepsi mengenai harta yang berakibat pada kesalahan berikutnya yaitu: memakan harta anak yatim, harta warisan, enggan menolong fakir miskin, serta berlebihan dalam mencintai dunia, maka dalam surat ini mereka digambarkan Allah juga salah dalam menginvestasikan harta. Harta yang mereka kumpulkan dengan susah payah tersebut malah digunakan untuk menghalangi agama Allah. Maka Allah menjelaskan investasi-investasi yang beruntung, seperti: memerdeka-kan budak, memberi makan orang yang kelaparan, menyantuni fakir miskin dan anak yatim serta menyambung silaturrahmi dan menebar kasih sayang([3]). Harta yang diinvestasikan dalam urusan dan hal-hal tersebut akan Allah jamin keuntungannya. Mereka akan dimasukkan ke dalam golongan kanan yang dimuliakan Allah.

 

Sumpah dan Janji Allah

            “Aku benar-benar bersumpah dengan kota Ini (Mekah)” (QS. 90: 1)

            Hampir semua ulama sepakat bahwa yang dimaksud negeri yang digunakan sumpah dalam ayat di atas adalah negeri kelahiran Nabi Muhammad saw, yaitu kota Makkah. Setidaknya seperti demikian pendapat Ibnu Abbas, Mujahid, Qatadah, Atha’ dan Ibnu Zaid, seperti dituturkan Ibnu Jarir ath-Thabary([4]). Ibnu Katsir menambahkan  bahwa Ikrimah juga berpendapat demikian([5]).

Dan kamu (Muhammad) bertempat di kota Mekah ini”. (QS. 90: 2)

Meskipun Rasulullah saw lahir dan tinggal di Makkah, namun yang dimaksud alam ayat ini adalah bahwa kelak Nabi Muhammad akan bisa memasuki Makkah dengan tenang. Karena itu lafzah yang dipakai adalah “hillun” yang berarti halal. Karena keberadaan Rasulullah di tempat kelahirannya pun selalu identik dengan penderitaan, tekanan dan kesusahan-kesusahan yang diakibatkan dari perbuatan orang-orang kuffar Quraisy. Seolah-olah beliau “diharamkan” atau terhalang dari menikmati hidup di kampong halamannya. Bahkan dalam salah satu riwayat, beliau menangis ketika meninggalkan Makkah saat hendak berhijrah. Pada hakikatnya beliau sangat mencintai Makkah, namun penduduknya lah yang menyia-nyiakannya dan menyakitinya bahkan mengusirnya. Namun Allah Maha Mendengar, maka Dia kabulkan impian Rasulullah kembali ke tempat kelahirannya. Dalam keadaan tenang, terhormat dan takkan ada lagi yang mengharam-kannya dari melakukan apapun di tempat itu kecuali hanya Allah. Ini merupakan berita gembira bagi Nabi Muhammad saw dan para sahabatnya. Janji Allah tersebut akan terealisasi secara sempurna kelak pada tahun ke tujuh hijriyah melalui sebuah peristiwa akbar yang diabadikan sejarah, Fathu Makkah([6]).

Pada hari itu beliau melindungi dan memuliakan orang-orang tertentu. Beliau memaafkan kesalahan dan kejahatan musuh-musuhnya yang sebagian juga merupakan keluarganya. Tak ada dendam sedikitpun di hatinya. Namun, beliau juga memerintahkan kepada umat Islam untuk membunuh beberapa orang yang hari itu darahnya dihalalkan karena kejahatan yang tak lagi bisa ditolerir. Seperti Abdullah bin Khathl, bukan hanya karena berkhianat dengan pura-pura masuk Islam untuk memperoleh amanah Rasulullah saw tapi dia juga bersekongkol dengan musyrikin Makkah dan kembali menjadi musyrik serta membunuh seorang Anshar yang waktu itu diutus bersamanya([7]). Muqis bin Dhababah juga termasuk dalam daftar orang yang dicari untuk dibunuh dengan dua kesalahan yang serupa: murtad dan berkhianat serta membunuh utusan Rasulullah saw([8]). Juga beberapa nama lain diantaranya Ikrimah bin Abu Jahal yang kemudian melarikan diri dan bersembunyi di Yaman. Akhirnya beliau masuk Islam setelah Rasul saw wafat dan setelah itu beliau menebus semua kesalahannya dengan mendermakan kemampuannya untuk membela Islam. Ikrimah pun menjadi salah seorang ulama tabi’in yang disegani.

Dan demi bapak dan anaknya”. (QS. 90: 3)

Sebagian mufassirin berpendapat bahwa yang dimaksud bapak di sini adalah Adam. Ada juga yang mengatakannya Nuh atau Ibrahim as. Sedangkan Imam al-Mawardi mengatakan bahwa yang dimaksud “bapak” di sini adalah Nabi Muhammad saw dan “anak” adalah umatnya. Hal tersebut karena ada konsideran yang disebut di dua ayat sebelumnya yang membicarakan tentang beliau([9]). Namun, Imam al-Alusy lebih memilih penafsiran umum terhadap ayat ini yaitu setiap bapak dan keturu-nannya([10]). Ini untuk menujukkan kekuasaan Allah. Bapak hanyalah merupakan salah satu sebab keberadaan anaknya, namun pada hakikatnya yang menjadi penentu dan pencipta hanyalah Allah Yang Maha Kuasa.

 

Akibat Salah Persepsi

            “Sesungguhnya kami telah menciptakan manusia berada dalam susah payah”. (QS. 90: 4). Yang dimaksud dengan “كبد” adalah kesulitan dan kesusahan yang ditemui manusia dalam kehidupannya. Baik yang berupa kepayahan fisik yang bisa dirasakan oleh tubuh manusia dan penyakit-penyakit yang dideritanya, ataupun kepayahan psikis yang hanya bisa dirasakan seperti rasa sedih dan takut. Dalam Surat al-Insyiqaq Allah juga menjelaskan makna lain dari kepayahan ini, yaitu kerja dan usaha yang keras. “Hai manusia, sesungguhnya kamu telah bekerja dengan sungguh-sungguh menuju Tuhanmu, maka pasti kamu akan menemui-Nya” (QS. 84: 6) Karena ketika di dunia manusia telah berusaha bekerja keras untuk memenuhi segala keperluan hidupnya. Sebagian di antara mereka bahkan berlebihan hingga melupakan hak jasadnya untuk beristirahat. Sebagian lagi bahkan melupakan Allah, Dzat yang membuatnya berkecukupan dalam kehidupannya.

Sebagian manusia menyadari kekeliruannya, sehingga ia pun semakin bekerja dan berusaha keras untuk memenuhi hak-haknya, keluarganya, masyarakat sekelilingnya, dan tentunya Allah. Dalam keadaan payah seperti yang dijelaskan di atas, sebagian manusia juga memiliki orientasi hidup yang salah dan persepsi yang tidak benar tentang kehidupannya.

            “Apakah manusia itu menyangka bahwa sekali-kali tiada seorang pun yang berkuasa atasnya? Dan mengatakan: “Aku telah menghabiskan harta yang banyak”. Apakah dia menyangka bahwa tiada seorangpun yang melihatnya?”. (QS. 90: 5-7)

            Setidaknya ada tiga kesalahan persepsi orang-orang kafir yang kemudian bisa menyebabkan mereka memusuhi Rasulullah dan ajaran yang dibawanya.

  1. Kesombongan yang melampaui batas sehingga ia merasa menjadi orang yang berkuasa. Dengan kedudukan dan posisi sosial serta harta yang melimpah menyebabkan seseorang lupa bahwa ada Dzat Yang Maha Kuasa.
  2. Bahwa yang mereka namakan “kebaikan” adalah mempertahankan posisi mereka meskipun dengan menghabiskan harta. Maka tak masalah jika harta yang mereka peroleh baik dengan jalan baik atau tidak benar mereka mubadzirkan karena tak mengerti prioritas investasi yang benar.
  3. Dengan merasa bahwa tak seorang pun bisa mengawasi gerak-geriknya, maka ia bisa seenaknya berbuat, meskipun itu melawan hati nurani dan menzhalimi diri sendiri serta orang lain.

Sadarkah ia, bahwa harta yang ia cari dan kemudian mereka mubadzirkan kelak akan ditanya oleh Allah dari mana ia mendapatkannya dan ke mana saja ia habiskan?([11]).

            Seharusnya orang-orang yang salah persepsi di atas sadar akan karunia Allah yang luar biasa yang dalam surat ini hanya disinggung beberapa saja, yang berkaitan dengan misi besar surat ini.

            “Bukankah kami telah memberikan kepadanya dua buah mata. Lidah dan dua buah bibir. Dan kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan”. (QS. 90: 8-10)

            Dua mata, lidah, dua bibir adalah sekian dari nikmat Allah yang melekat dalam jasad manusia. Bahkan ia bisa melihatnya sendiri dengan berdiri di depan cermin, maka ia akan segera mendapatinya. Seharusnya ia bisa melihat. Dengan dua mata. Bahkan seandainya satu matanya ditutup pun ia masih akan tetap bisa melihat nikmat Allah swt. Lantas apa yang membuatnya buta dan tak mampu melihat karunia Allah yang sangat tak terbatas ini. Lidah dan bibirnya pun tak digunakan dalam koridor syukur terhadap Allah. Justu ia menggunakan untuk melawan Allah. Mobilisasi massa untuk melawan ajaran Allah.

            Bukan hanya itu, Allah juga telah menyediakan dua jalan; yaitu jalan kebaikan dan jalan kegelapan. Masing-masing jalan dengan gamblang dijelaskan Allah ujung serta konsekuensi yang akan diterima bagi setiap penempuh jalan tersebut. Jalan kebenaran dan kebaikan akan dipilih oleh orang-orang yang cerdas yang tahu prioritas amal dan kerja. Sebaliknya, yang mengamblil jalan pintas karena hati mereka tertutup

Dua Jalan, Dua Konsekuensi

Tetapi dia tiada menempuh jalan yang mendaki lagi sukar. Tahukah kamu apakah jalan yang mendaki lagi sukar itu?” (QS. 90: 11-12)

Jalan kebaikan tidaklah mudah. Karena itu ia sukar dan sulit ditempuh dan menanjak. Hanya orang-orang sabar saja yang mampu dan mau melakukannya. Jalan-jalan sulit berikut ini tak lain merupakan jawaban sekaligus pelurusan misspersepsi tentang harta:

  1. (yaitu) melepaskan budak dari perbudakan”(QS. 90: 13)

Karena Allah hanya menginginkan penghambaan yang sempurna kepada Dzat-Nya saja. Bukan perbudakan sesama manusia. Karena itulah salah satu misi utama agama Islam adalah menghapus dan menghilangkan perbudakan.

  1. Atau memberi makan pada hari kelaparan”(QS. 90: 14)

Memberi pertolongan pada saat dibutuhkan adalah sesuatu yang mulia. Dan hal tersebut tidaklah mudah. Apalagi jika tidak didahului oleh permintaan tolong dari pihak yang memerlukan bantuan, sungguh hal tersebut menjadi berat. Hanya orang tertentu saja yang memiliki kepekaan hati dan diringankan untuk membantu.

Pemilihan kata yang sangat teliti ini menandakan bahwa pada hari itu kelaparan dijumpai di mana-mana. “hari yang memiliki orang-orang lapar di mana-mana”. Ini adalah hari paceklik dan kelaparan yang menimpa banyak orang([12]).

    1. (kepada) anak yatim yang ada hubungan kerabat” (QS. 90: 15)

Memuliakan dan menolong anak yatim adalah salah satu amal yang utama. Apalagi jika sang yatim tersebut masih ada hubungan kekerabat-an, tentu akan menambah nilai plus. Membantu dan sekaligus menjaga tali kekerabatan (silaturrahmi).

    1. Atau kepada orang miskin yang sangat fakir” (QS. 90: 16)

Orang-orang yang miskin dan tertekan kemiskinannya adalah orang yang berada diprioritas pertama untuk dibantu. Jiwa mereka tertekan karena lidah mereka tak lagi sanggup mengungkapkan permintaan tolong. Hati mereka juga sakit menanggung malu. Mereka juga miris melihat nasib orang-orang yang berada dalam tanggungannya. Tapi mereka memiliki iman yang menahan dari menghalalkan segala cara. Orang yang seperti inilah yang sangat perlu diutamakan untuk ditolong. Abu Ubaidah mengungkapkan rahasia pemilihan kata “dzâ matrabah” yang berarti terlempar di atas tanah atau pasir([13]). Ini menandakan ia benar-benar hanya memiliki badan yang lemah hingga membuatnya tersungkur di atas pasir. Tak ada yang menahan badannya karena sangat lapar dan lemah.

  1. Dan dia termasuk orang-orang yang beriman dan saling berpesan untuk bersabar dan saling berpesan untuk berkasih sayang”(QS. 90: 17)

Orang-orang yang mampu bersabar dan sanggup menempuh jalan yang sukar seperti di atas adalah orang-orang pilihan yang dirahmati Allah selalu. “Mereka adalah golongan kanan”. (QS. 90: 18)

            Ini adalah sebuah pilihan yang memiliki konsekuensi tanggung jawab. Namun, hal tersebut tidaklah sia-sia, karena Allah telah menyediakan balasan dan ganjaran yang melebihi bayangan seseorang, bahkan dengan sesuatu yang belum terbayang-kan sebelumnya. Sebaliknya pilihan jalan yang salah akan membuahkan konsekuensi yang tidak sesuai harapan pula. Sebagaimana tak ada paksaan dalam memilih jalan, mereka juga tak bisa memaksa Allah untuk memberikan balasan sesuai keinginan mereka. Orang-orang yang berbaris di golongan kiri tersebut akan digiring ke neraka Allah yang tak ada celah bagi siapapun untuk lari dan menghindar darinya.

            “Dan orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat kami, mereka itu adalah golo-ngan kiri. Mereka berada dalam neraka yang ditutup rapat” (QS. 90: 19-20)

Penutup: Pilihan Orang Cerdas dan Tenang

Jika dalam surat sebelumnya Allah memanggil jiwa-jiwa yang tenang untuk bergabung dalam kafilah orang-orang sukses yang beruntung dan berbahagia, itu karena mereka tepat dalam memilih jalan yang disediakan Allah di dunia. Tanpa paksaan. Rela dan ridha, maka kelak mereka juga diridhai.

Hanya orang-orang yang cerdas saja yang mau dan sanggup menyiapkan dirinya dengan bekal-bekal berharga untuk sebuah perjalanan yang jauh. Semoga Allah terus menjaga kita sehingga kita bisa tsabat dan istiqamah dalam berbuat baik dan membekali diri untuk menghadap Allah dalam keadaan yang ridha dan diridhai. Amin.

Pengajian Shubuh, Ainal Yaqin, Kalibata-Jaksel

Selasa, 02 Pebruari 2010


* Tadabbur surat Al-Balad (Negeri): [90], Juz Amma (30)

** Mahasiswa Program S3 Jurusan Tafsir dan Ilmu al-Qur’an Universitas al-Azhar, Cairo

([1]) lihat: Jalaluddin as-Suyuthi, al-Itqân fi ‘Ulûmi al-Qur’ân, Beirut: Darul Kutub al-Ilmiah, Cet.I, 2004 M/1425 H, hlm. 20-22; Badruddin az-Zarkasyi, al-Burhân fi ‘Ulûmi al-Qur’ân, Beirut: Darul Fikr, Cet.I, 1988 M/1408 H, Vol.1, hlm. 249. Prof. Dr. Jum’ah Ali Abd. Qadir, Ma’âlim Suar al-Qur’ân, Cairo: Universitas al-Azhar, cet.I, 2004 M/1424 H, vol.2, hlm.801

([2]) Muhammad Ali Ash-Shabuni, Ijazu al-Bayan fi Suar al-Qur’an, Cairo: Dar Ali Shabuni, 1986 M-1406 H, hlm. 297.

([3]) Ibid.

([4]) Ibnu Jarir ath-Thabary, Jami’ al-Bayan fi Ta’wil Ay al-Qur’an, tahqiq: Mahmud Syakir, Beirut: Dar Ihya at-Turats al-Araby, Cet.I, 2001 M-1421 H, Vol. 30, hlm. 234-235

([5]) Abu al-Fida Ibnu Katsir, Tafsir al-Qur’an al-Azhim, Tahqiq: Thaha Abd. Rauf, Mansoura: Maktabah al-Iman, Cet.I, 1996 M-1417 H, Vol.VIII, hlm. 230

([6]) Abul Qasim Jarullah Az-Zamakhsyari, al-Kasyaf an Haqa`iq at-Tanzil wa ‘Uyun al-Aqawil fi Wujuh at-Ta`wil, Cairo: Maktabah Mustafa Muhammad, Cet.I, 1354 H, Vol.IV, hlm. 212, Muhammad bin Yusuf Abu Hayyan, al-Bahr al-Muhith, Beirut: Darul Kutub Ilmiah, Cet.I, 2001 M-1422 H, VolVIII, hlm. 469, al-Qurthuby, al-Jami’ li Ahkami al-Qur’an, Cairo: Darul Hadits, 2002 M-1423 H, Vol.X, hlm. 309.

([7]) Abdul MAlik bin Hisyam (Inu Hisyam), As-Sirah An-Nabawiyah, Cairo: Dar al-Fajr li at-Turats, Cet.II, 2004 M-1425 H, Vol.IV, hlm. 33

([8]) Ibid.

([9]) Syihabuddin al-Alusy, Ruh al- Ma’any, Beirut; Darul Fikr, 1997 M – 1417 H, Vol.XXX, hlm. 241

([10]) Ibid.

([11]) Ali bin Ahmad Al-Wahidy, Al-Wasith fi Tafsir al-Qur’an al-Majid, Beirut: Darul Kutub al-Ilmiah, Cet.I, 1994 M-1415 H, Vol.Iv, hlm. 490.

([12]) Lihat tesis penulis: Kitab Lawami’ al Burhan wa Qawathi’ al-Bayan fi Ma’ani al-Qur’an Karya Imam al-Ma’iny, Cairo: Universitas al-Azhar Jurusan Tafsir, 2006, Vol.2, hlm. 851

([13]) Abu Ubaidah Muammar bin al-Mutsanna, Majaz al-Qur’an, tahqiq: Muhammad Fuad, Cairo: Maktabah al-Khanji, tt. Vol.II, hlm. 299

Tadabbur QS. Ath-Thariq (86)

DATANG PADA MALAM HARI*

Dr. H. Saiful Bahri, M.A**

Mukaddimah: Pengetuk Pada Malam Hari 

Para ahli tafsir sepakat berpendapat bahwa bahwa surat ath-Thâriq diturunkan pada periode Makkah. Yaitu setelah surat al-Balad([1]). Surat ini dinamakan dengan ath-Thâriq sebagai-mana tertera dalam mushaf al-Imam (usmany) serta di berbagai buku tafsir.

Secara etimologi “ath-Thâriq” berarti mengetuk dengan suara yang terdengar keras. Bisa juga dipakai untuk menyebut orang yang berjalan dengan kaki. Dan secara khusus digunakan pada waktu malam, karena umumnya pada malam hari pintu-pintu rumah kebanyakan ditutup. Kemudian makna ini diperluas menjadi apa saja yang terlihat pada waktu malam. Adapun yang dimaksud dalam surat ini sebagian besar pakar tafsir mengartikannya dengan bintang yang muncul di malam hari([2]).

Tema surat ini masih berkisar tentang hari akhirat. Adapun poros utama pembicaraan adalah tentang manusia, rahasia penciptaan serta tahapan-tahapannya kemudian memuat tanda-tanda kekuasaan Allah yang tiada batasnya. Dan pembenaran terhadap al-Qur’an sebagai wahyu dan kitab Allah yang menjadi pembeda antara kebenaran dan kebatilan. Muatan surat ini ditutup dengan hiburan kepada Nabi Muhammad supaya tidak terlalu menanggapi tekanan dari kaum kafir Quraisy. Agar beliau terus bekerja dan berdakwah tanpa memikirkan resiko. Karena Allah yang akan menangani dan mengurusi mereka.

Yang Muncul di Malam Hari

Demi langit dan yang datang pada malam hari. Tahukah kamu apakah yang datang pada malam hari itu? (yaitu) bintang yang cahayanya menembus” (QS. 86: 1-3)

Allah kembali bersumpah dengan langit yang bertingkat-tingkat yang diciptakan-Nya tinggi menjulang tanpa ada tiang penyangganya. Luas dan dihuni oleh malaikat-malaikat-Nya yang mulia dan dimuliakan.

Menariknya Allah menggandengkan sumpah dengan langit dengan sesuatu yang datang di malam hari yang oleh sebagian besar pakar tafsir dianggap sebagai bintang terang yang muncul di malam hari. Ini diperkuat dengan ayat ketiga yang menjelaskannya; yaitu bintang yang cahayanya menembus kegelapan malam.

Jika saja benda mati seperti bintang itu mampu menembus kegelapan malam sehingga sampai cahayanya di bumi, tentu malaikat-malaikat Allah mampu menembus apapun dengan titah-Nya. Karena … “Tidak ada suatu jiwa pun (diri) melainkan ada penjaganya” (QS. 86: 4).

Siapakah penjaga tersebut? Yaitu para penjaga yang selalu mempunyai akses langsung terhadap setiap jiwa manusia. Sebagian ahli tafsir ada yang mengatakan bahwa ini demi menjaga manusia dari godaan setan. Secara umum, yang dimaksud di sini adalah pencatat amal manusia. Karena ia selalu menyertainya dengan berbagai tindakan dan amal yang dikerjakannya. Tindakan yang dikerjakan manusia tersebut dijaga dan tak akan dilewatkan sedetikpun. Semua direkam dengan teliti dan detil([3]).

Rahasia Penciptaan Manusia

Untuk kepentingan apakah hal di atas perlu diingatkan kepada para manusia? Hal ini bisa diketahui dengan perintah Allah pada ayat selanjutnya. Yaitu perintah kepada setiap manusia yang disebut secara langsung di sini untuk memperhatikan penciptaannya. Dari apa ia diciptakan? Bagimana ia berubah menjadi seperti sekarang? Hingga kemudian ia akan mati dan dikembalikan kepada asalnya.

Maka hendaklah manusia memperhatikan dari apakah dia diciptakan? Dia diciptakan dari air yang dipancarkan. Yang keluar dari antara tulang sulbi laki-laki dan tulang dada perempuan” (QS. 86: 5-7)

Manusia diciptakan dari air yang memancar. Yang secara kasat mata seolah tiada kehidupan di sana. Dari air yang kelihatannya tak ada kehidupan itulah manusia diciptakan. Kemudian dimatikan dan kelak dihidupkan lagi.

Siapakah yang membuat air tersebut memancar. Siapakah yang menurunkan syariat supaya kedua air itu bertemu. Dengan sah dan halal. Pertemuan kedua air itu bukanlah sekedar untuk melepas syahwat antara laki-laki dan perempuan. Pertemuan kedua air itu juga bukan sesuatu yang sepele. Bukan sesuatu yang kebetulan. Tapi itu adalah ibadah yang mengemban misi penampakan ayat-ayat dan tanda kekuasaan Allah. Dan Maha Besar Allah yang memberikan tugas berat tersebut dengan diberikan sebuah kenikmatan dalam menjalaninya.

Siapakah yang mempertemukan kedua air tersebut. Dan dari air itu kemudian diubah menjadi sebuah kehidupan dengan ritme yang teratur dan tahapan yang sangat luar biasa. Siapakah yang sanggup melakukan hal itu?

Air yang dipancarkan dan dicampurkan di atas diproduksi dari tulang punggung (belakang) laki-laki dan dari tulang dada perempuan. Air yang sangat cair dan sangat lunak tersebut diproduksi di dalam benda yang sangat keras. Yaitu tulang. Satu diciptakan dari arah belakang dan satu lagi di ciptakan dari arah depan. Inilah sebenarnya kodrat manusia. Laki-laki dan perempuan.

Bahwa manusia secara fitrah adalah berpasangan dan saling melengkapi. Laki-laki dan perempuan. Ada depan dan belakang. Karena memang seharusnya demikian. Misi kekhilafahan manusia hanya bisa dikerjakan bersama oleh laki-laki dan perempuan, sebagaimana ada bulan dan matahari, ada malam dan siang.

Sesungguhnya Allah benar-benar kuasa untuk mengembalikannya (hidup sesudah mati).  Pada hari dinampakkan segala rahasia. Maka sekali-kali tidak ada bagi manusia itu suatu kekuatan pun dan tidak (pula) seorang penolong” (QS. 86: 8-10)

Dzat yang mencipta manusia dari bahan dan proses seperti yang dijelaskan di atas, sudah tentu sanggup dan kuasa untuk mematikan sekaligus menghidupkan manusia setelah kematiannya.

Dan sebagaimana penciptaan manusia, kebangkitannya juga tidaklah merupakan hal yang kebetulan saja. Pada hari kebangkitan manusia akan diadili dan kemudian ditentukan balasan amalannya ketika berada di dunia. Hari itu tak satu pun makhluk-Nya yang sanggup merahasiakan sekecil apapun dari-Nya. Hari itu semua rahasia terbongkar. Baik yang bersifat bagus ataupun rahasia-rahasia dan konspirasi kejahatan dan keburukan.

s

Tanda Kekuasaan Allah

            “Demi langit yang mengandung hujan. Dan bumi yang mempunyai tumbuh-tumbuhan” (QS. 86: 11-12)

            Kemudian Allah kembali bersumpah dengan langit. Jika di awal surat ini langit dihubungkan dengan kegelapan dan bintang yang menerangi dan menghiasnya, maka pada ayat ini Allah menggandengkan langit dengan bumi. Menggandengkan langit dengan hujan serta bumi dengan tumbuh-tumbuhan.

            Dikatakan raj’i sebagai hujan karena air hujan pada dasarnya berasal dari bumi dan akan dikembalikan ke bumi ke tempat asalnya untuk mengairi tumbuhan yang bermacam-macam.

            Siapakah yang sanggup mengembalikan air ke bumi dengan bentuk yang tidak menyakit-kan bagi manusia. Air itu dijatuhkan ke bumi dan dikemballikan setelah berproses dengan bentuk tetesan-tetesan air yang kecil yang datang dalam jumlah yang berbeda sesuai kadarnya. Ada kalanya sedikit dan hanya menjadi gerimis ada kalanya banyak dan deras menjelma menjadi air yang melimpah.

            Hasan al-Bashry mengatakan bahwa hujan di sebut raj’i karena kembali dari langit dengan membawa rizki, padahal tadinya berasal dari bumi berupa air saja. Adapun Ibnu Zaid menafsirkan raj’i dengan bulan, matahari dan bintang-bintang yang memiliki orbit tempat kembali mereka([4]).

            Dan dari air yang sama itu kemudian ketika sampai di bumi berubah menjadi tumbuhan yang bermacam-macam. Di namakan ash-shad’u karena aslinya terbelah. Biji-bijian dan benih yang tadinya di dalam tanah kemudian muncul dengan membelah tanah di atasnya, meskipun tak semua tumbuhan berasal dari dalam tanah([5]).

            Tanda-tanda kekuasaan Allah tersebut, langit dan bumi serta sebagian fenomena yang diungkap dalam ayat ini digunakan Allah bersumpah. Semata untuk meneguhkan hakikat al-Qur’an yang didustakan oleh orang-orang kafir saat diturunkan kepada Nabi Muhammad Saw.

            “Sesungguhnya al-Quran itu benar-benar firman yang memisahkan antara yang hak dan yang bathil. Dan sekali-kali bukanlah dia senda gurau”. (QS. 86: 13-14)

Al-Qur’an tidaklah seperti yang mereka tuduhkan. Bukan gurauan atau mitos sebagaimana klaim mereka. Al-Qur’an adalah kalam suci yang diturunkan sebagai pembeda antara kebenaran dan kebatilan. Di dalamnya termuat kaidah dan risalah serta ajaran yang mengajak kepada kebenaran serta konsekuensinya. Juga memuat rambu-rambu dan batas-batas yang menyelamatkan manusia dari kerugian abadi dan kesengsaraan.

Namun, sayang orang-orang kadir tersebut “… merencanakan tipu daya yang jahat dengan sebenar-benarnya” (QS. 86: 15). Tidak tahukah mereka bahwa Allah pun “… membuat rencana (pula) dengan sebenar-benarnya” (QS. 86: 16).

Dan makar serta rencana yang disiapkan Allah tentu jauh lebih sempurna. Baik untuk membalas kesabaran dan keteguhan kaum beriman ataupun untuk membalas kezhaliman orang-orang kafir tersebut, termasuk menghalangi kemudharatan dan menahan kemanfaatan bagi suatu kaum.

Maka, kemudian Allah mewahyukan kepada Nabi Muhammad Saw untuk bersabar. “Karena itu beri tangguhlah orang-orang kafir itu yaitu beri tangguhlah mereka itu barang sebentar” (QS. 86: 17). Janganlah kau sibukkan diri dengan membalas dendam kelakuan mereka atau memikirkan terlalu dalam ejekan dan hinaan mereka. Tangguhkan sebentar. Biarlah Allah yang mengurusi mereka. Allah yang serba maha lebih tahu bagaimana memperlakukan mereka, baik di dunia maupun menyediakan tempat yang sangat menyeramkan untuk mereka di akhirat, kelak.

Kata ruwaida (sebentar) mengindikasikan bahwa seberapa lama seseorang hidup di dunia tidaklah memakan waktu yang lama karena kehidupan dunia tidaklah bisa dibandingkan dengan masa yang sangat panjang dengan kehidupan di akhirat yang hanya diketahui oleh Allah saja. Asal kata ruwaidan, diambil dari angin yang bertiup dengan tiupan yang lemah([6]).

Penutup

            Semoga setiap malam kita bisa mengingatkan diri kita bahwa kegelapan malam itu yang menjadikannya adalah Allah. Dan seseorang mungkin akan diselimuti kegelapan di alam kuburnya bila tak ada cahaya yang diberikan Allah. Semoga hati-hati kita menjadi terketuk setiap malam sehingga bisa mempersiapkan dengan baik hari perjumpaan dengan ajal kita. Dengan harapan hidup yang sebentar ini berakhir dengan sempurna, meraih kemenangan hakiki. Yaitu dengan mendapat jaminan keamanan dari Allah Yang Perkasa. Amin.

Pengajian Shubuh, Ainal Yaqin, Kalibata-Jaksel
Selasa, 5 Januari 2010


* Tadabbur surat Ath-Thâriq (Yang Datang di Waktu Malam): [86], Juz Amma (30)

** Alumni Program S3 Jurusan Tafsir dan Ilmu al-Qur’an Universitas al-Azhar, Cairo

([1]) lihat: Jalaluddin as-Suyuthi, al-Itqân fi ‘Ulûmi al-Qur’ân, Beirut: Darul Kutub al-Ilmiah, Cet.I, 2004 M/1425 H, hlm. 20-22; Badruddin az-Zarkasyi, al-Burhân fi ‘Ulûmi al-Qur’ân, Beirut: Darul Fikr, Cet.I, 1988 M/1408 H, Vol.1, hlm. 249. Prof. Dr. Jum’ah Ali Abd. Qadir, Ma’âlim Suar al-Qur’ân, Cairo: Universitas al-Azhar, cet.I, 2004 M/1424 H, vol.2, hlm.783

([2]) Prof. Dr. Jum’ah Ali Abd. Qadir, Ibid.

([3]) lihat: al-Baghawy, Ma’alim at-Tanzil, Beirut: Darul Kutub al-Ilmiah, Cet.I, 2004 M-1424 H, Vol.IV, hlm.  443.

([4]) Syihabuddin al-Alusy, Ruhul Maany, Beirut: Darul Fikr, 1997 M/1417 H, Vol. XXX. hlm. 178

([5]) Ibid, hlm. 179

([6]) Ibnu Faris, Mu’jam Maqayis al-Lughah, tahqiq: Abdussalam Harun, Beirut: Darul Jeil, 1999 M-1420 H, Vol.II, hlm. 457.

Tadabbur QS. Al-Buruj (85)

PARA PENGGALI PARIT*

Dr. H. Saiful Bahri, M.A**

Mukaddimah: Gugusan-Gugusan Bintang

Para ahli tafsir sepakat berpendapat bahwa bahwa surat al-Burûj diturunkan di Makkah setelah surat asy-Syams([1]). Surat ini masih membahas dan menekankan masalah akidah dan penguatan keyakinan tentang hari akhir. Di samping itu tambahan yang ada dalam surat ini selain pembahasan tersebut adalah tentang kisah ashabul ukhdud (para penggali parit) yaitu sebuah cerita tentang pengorbanan dan tebusan jiwa dalam membertahankan akidah dan iman([2]). Dalam surat ini Allah kembali bersumpah dengan langit ciptaan-Nya yang memiliki gugusan-gugusan bintang, tempat bintang-bintang berpusat dan beredar, serta demi hari yang telah dijanjikan-Nya yaitu hari kiamat, sekaligus menyampaikan kedahsyatan kekuasaan Allah yang tiada batas([3]).

Kesaksian-Kesaksian

            “Demi langit yang mempunyai gugusan bintang. Dan hari yang dijanjikan. Dan yang menyaksikan dan yang disaksikan”. (QS. 85: 1-3)

Allah bersumpah dengan empat hal dalam surat ini.

Pertama, demi langit yang mempunyai gugusan-gugusan bintang. Langit yang luasnya hanya diketahui oleh-Nya itu memiliki gugusan, tempat semayam bintang-bintang yang menjadi penghias alam semesta sekaligus sebagai pelempar untuk setan-setan([4]). Hal ini agar manusia berpikir bahwa tanda-tanda kekuasaan Allah itu jelas, bisa dilihat dan dirasakan, kemudian bisa ditadabburi dan pada akhirnya diperintah untuk mengambil kesimpulan. Memang sampai saat ini tak ada yang bisa mencapai langit, bahkan melihatnya pun tidak sanggup. Namun, manusia bisa melihat dan memperhatikan bintang-bintang yang dijadikan Allah sebagai penghias langit dunia.

Kedua, Allah bersumpah dengan hari yang dijanjikan. Para ahli tafsir sepakat bahwa hari yang dimaksud dalam ayat ini adalah hari kiamat. Ketiga dan keempat, Allah bersumpah dengan syâhid (yang menyaksikan) dan masyhûd (yang disaksikan). Ibnu Abbas, Hasan al-Bashry dan Said bin Jubair menafsirkan syâhid yaitu Allah dan masyhûd adalah yang selainnya([5]).Sedangkan Mujahid dan Ikrimah berpendapat bahwa syâhid adalah manusia dan masyhûd adalah yang bisa dilihatnya([6]). Dan Sahal bin Abdullah mengatakan bahwa syâhid adalah malaikat dan masyhûd adalah manusia dan amalnya ([7]). Hal tersebut juga sekaligus mengingatkan manusia akan adanya pengawasan dan pengadilan agung.

Sumpah-sumpah di atas terjawab dengan ayat keempat, “Binasa dan terlaknatlah orang-orang yang membuat parit. Yang berapi (dinyalakan dengan) kayu bakar.  Ketika mereka duduk di sekitarnya. Sedang mereka menyaksikan apa yang mereka perbuat terhadap orang-orang yang beriman” (QS. 85: 4-7)

Ayat ini berkisah tentang ashâbul ukhdûd (penggali parit) sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Muslim([8]) dan at-Tirmizi([9]) dari riwayat sahabat Shuhaib ar-Rumy ra. Rasululullah bercerita tentang ashâbul ukhdûd, “Dahulu ada seorang raja([10]) yang memiliki penasehat seorang ahli sihir yang ternama. Usianya sudah sangat lanjut. Penyihir tersebut hendak mencari penerus dan pewaris ilmunya yang kelak akan menggantikan posisinya sebagai penasehat raja. Hingga didapatlah seorang anak laki-laki yang cerdas. Sayangnya sang anak tersebut  (ghulam) sering berbeda pendapat dan perangai dengan sang penyihir tersebut. Di tengah jalan antara rumahnya dan istana, terdapat sebuah gua yang dihuni oleh seorang rahib. Setiap ghulam lewat tempat tersebut ia selalu bertanya beberapa hal kepada sang rahib. Hingga sang rahib mengaku bahwa dia menyembah Allah dan mengesakannya. Lambat laun Ghulam lebih suka berlama-lama di tempat rahib untuk belajar dan selalu terlambat datang ke tempat tukang sihir. Hingga suatu saat kerajaan memerintahkan menjemput ke rumah karena hampir saja ia tidak hadir pada suatu hari. Ghulam memberitahu perihal ini kepada rahib. Sang rahib menjawab mencarikan rasionalisasi: Jika penyihir itu bertanya di mana engkau, jawab saja aku ada di rumahku. Jika keluargamu menanyakan keberadaanmu maka beritahu mereka bahwa engkau berada di tempat penyihir. Suatu hari, ketika Ghulam sedang di jalan ia menjumpai sekelompok orang terhenti jalannya karena ada binatang buas (singa) yang menghalangi mereka. Ghulam segera mengambil batu dan berkata: Ya Allah jika yang dikatakan sang rahib benar maka izinkan aku membunuh binatang ini. Jika apa yang dikatakan sang penyihir yang benar maka aku meminta supaya engkau menggagalkanku membunuh binatang ini. Kemudian ia lempar batu tersebut dan binatang itu mati seketika. Orang-orang pun terperanjat setelah tahu bahwa anak kecil itu yang membunuhnya. Mereka berkata: anak itu tahu suatu ilmu yang tidak diketahui oleh orang lain. Hingga didengarlah oleh seorang pejabat kerajaan yang buta. Ia mendatangi ghulam dan berkata: Jika engkau kembalikan penglihatanku maka akan aku beri hadiah ini dan itu. Ghulam menjawab: Aku tak memerlukan itu dari Anda. Jika aku bisa mengembalikan penglihatanmu apakah engkau beriman kepada Dzat yang mengembalikan penglihatanmu? Dia menjawab: ya. Maka sang buta tersebut dapat melihat dan beriman pada ghulam. Berita ini tersiar sampai ke kerajaan. Hingga sang raja marah besar dan membunuhi siapa saja yang mengikuti ajaran sang ghulam. Hingga ditangkaplah sang rahib dan sang buta yang telah melihat. Mereka berdua dibunuh dengan sadis, yaitu dibelah badannya dengan gergaji. Ghulam yang ditangkap akhirnya dibawa ke atas gunung bersama beberapa tentara kerajaan untuk dilempar dari atas gunung. Namun, tak ada yang selamat dari atas gunung kecuali ghulam dan ia pun kembali. Sang raja memerintahkan untuk membawa ghulam ke tengah laut untuk dibuang di sana. Badai pun menyerang mereka. Tak ada yang selamat kecuali ghulam. Ia pun kembali lagi. Setiap makar yang dibuat untuk membunuhnya selalu gagal. Akhirnya ghulam berkata kepada sang raja: Engkau takkan bisa membunuhku kecuali dengan menyalibku di depan rakyatmu kemudian memanahku sambil berkata “bismillah rabbil ghulam” [dengan nama Allah Tuhan anak kecil ini]. Setelah disalib dan sang raja mengucapkan kata-kata tersebut dengan keras, panah yang meluncur dari busur sang raja itupun menancap di tubuh ghulam dan menewaskannya sebagai seorang syahid. Orang-orang di sekitarnya berkata: ghulam tahu ilmu yang tidak diketahui orang lain, kita harus beriman kepada Tuhannya. Sang raja murka dan memerintahkan untuk menggali parit dan menyalakan api. Barang siapa yang tak mau meninggalkan agamanya (agama ghulam) maka akan dilempar ke dalam parit yang menyala-nyala tersebut. Hingga ada seorang ibu yang menyusui anaknya sedang ragu-ragu. Sang bayi yang ada dalam buaiannya pun berkata meyakinkannya: Ibu, sabarlah. Sesungguhnya engkau berada dalam pihak yang benar ([11]).

Dalam peristiwa pembakaran dan pembunuhan kaum mukminin ini gugur sebagai syuhada ribuan orang-orang yang beriman kepada Allah([12]). Raja Najran tersebut mengerahkan segala tentaranya untuk membunuh kaum beriman dengan cara membakar mereka hidup-hidup di dalam parit besar yang mereka sediakan. Mereka saling menyaksikan dan dengan bodohnya mereka melakukan kezhaliman. Hati nurani mereka yang jernih telah terkeruhkan oleh angkara dan nafsu kekuasaan.

Semena-Mena terhadap Kaum Beriman

Dan mereka tidak menyiksa orang-orang mukmin itu melainkan karena orang-orang mukmin itu beriman kepada Allah yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji. Yang mempunyai kerajaan langit dan bumi; dan Allah Maha menyaksikan segala sesuatu” (QS. 85: 8-9)

Apa yang dilakukan oleh ashabul ukhdûd bukanlah sesuatu hal baru. Bani Israil bahkan membunuh dan mengejar-ngejar nabi-nabi dan rasul yang diutus Allah kepada mereka. Hal seperti ini akan terulang terus sepanjang waktu. Karena dalam realita akan selalu ada tokoh antagonis yang memusuhi risalah yang dibawa oleh utusan Allah dan diimani oleh orang-orang mukminin. Orang-orang kafir yang dengki dan iri tersebut tidaklah berbuat keji dan menyiksa kaum mukminin kecuali hanya karena keyakinan yang mereka pegang dengan sepenuh jiwa. Kaum mukminin tersebut disiksa hanya karena beriman pada Dzat Yang Esa, pemilik kerajaan langit dan bumi.

Hal ini juga dirasakan oleh para sahabat Nabi saw. as-sâbiqûn al-awwalûn pada periode Makkah. Bahkan Nabi Muhammad saw sendiri tak luput dari intimidasi ini. Terlebih sepeninggal Khadijah ra. dan paman beliau Abu Thalib. Bani Tsaqif yang tadinya diharapkan mau melindungi beliau ternyata memusuhinya. Tua, muda, laki-laki, perempuan dari segala umur dikerahkan untuk melempari beliau. Hingga beliau terusir dari Thaif dengan tubuh berdarah-darah. Semoga Allah merahmati beliau –shallalLâhu ‘alaihi wa sallam– orang mulia yang tak pernah menyimpan dendam. Bahkan kepada mereka yang dengan tega memperlakukannya seperti di atas.

Sesungguhnya orang-orang yang mendatangkan cobaan kepada orang-orang yang mukmin laki-laki dan perempuan kemudian mereka tidak bertaubat, maka bagi mereka azab Jahanam dan bagi mereka azab (neraka) yang membakar”. (QS. 85: 10)

Orang-orang yang berlaku kejam dan aniaya terhadap orang-orang beriman seperti di atas kelak akan dibalas Allah dengan neraka yang lebih panas daya bakar dan apinya. Padahal Allah membuka pintu taubat. Dengan syarat taubat tersebut dilakukan sebelum diturunkannya adzab dan sebelum nyawa mereka dicabut oleh malaikat pencabut nyawa([13]).

Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal yang saleh bagi mereka surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; Itulah keberuntungan yang besar”. (QS. 85: 11)

Sementara itu orang-orang yang bersabar dan mampu tsabat dalam mempertahankan akidahnya di tengah himpitan dan aniaya orang-orang jahat tersebut, bagi mereka balasan Allah yang tiada bandingannya. Orang-orang beriman itu akan dihadiahi Allah kebun-kebun yang sangat luas, yang di bawahnya mengalir sungai-sungai yang jernih airnya. Itulah sebenar-benar kemenangan yang besar dan hakiki.

Kesempurnaan Sifat dan Kekuasaan-Nya

            Dzat yang bisa dqan mampu berlaku apa saja terhadap orang-orang zhalim serta pasti memberikan balasan yang baik bagi hamba-Nya yang bersabar di atas adalah Dzat Yang Maha Sempurna yang tak memiliki kekurangan sedikitpun. Di dalam ayat ini di sebutkan beberapa karakteristik yang sesuai dengan maqam cerita ashabul ukhdud serta setting umat Islam pada periode Makkah yang sangat tertindas.

  1. Sifat Pertama, “Sesungguhnya azab Tuhanmu benar-benar keras”. (QS. 85: 12)

Penempatan sifat ini mungkin dimaksudkan sebagai peringatan keras bagi orang-orang zhalim. Sebagai ancaman sekaligus teguran, juga membuka peluang bagi mereka untuk bertaubat.  Karena Dia sanggup menangguhkan adzab-Nya sekaligus membalas kekeja-man orang-orang zhalim tersebut dengan balasan yang sangat pedih dan setimpal pula.

  1. Sifat Kedua, “Sesungguhnya Dia-lah yang menciptakan (makhluk) dari permulaan dan menghidupkannya (kembali)”. (QS. 85: 13)

Adapun penguasa hari kebangkitan sekaligus sang pencipta yang tak tertandingi ini adalah Dzat yang sanggup menciptakan apapun dari permulaannya. Apalagi sekedar mengembalikan dari yang pernah ada tentunya hal tersebut sangat mudah. Dan setelah dihidupkan lagi mereka semua menerima konsekuensinya. Yang baik akan dibalas dengan kebaikan dan yang buruk akan menerima pembalasan yang setimpal

  1. Sifat Ketiga, “Dia-lah yang Maha Pengampun lagi Maha Pengasih”. (QS. 85: 14)

Luar biasa karunia dan kasih sayang-Nya. Betapapun ulah zhalim dan melampaui batas dari hamba-hamba-Nya, tapi Allah tak pernah sekalipun menutup pintu taubat-Nya. Allah selalu memanggil hamba-hamba-Nya. Setiap saat. Setiap hari di sepertiga malam terakhir. Siapa yang mendatangi-Nya dengan segala tadharru’ meski ia ber-gelimang dosa, Allah akan mengampuninya. Allah bahkan mengasihi semua makhluk-Nya. Tak memperdulikan keadaan mereka yang taat dan yang bejat, semuanya dibagi dan diberi rizki yang sesuai. Subsidi kenikmatan-Nya tak pernah sedetik pun berhenti kepada para makhluk-Nya.

  1. Sifat Keempat, “Yang mempunyai ‘Arsy, lagi Maha Mulia”. (QS. 85: 15)

Kelak sebagaimana janji-Nya kita akan bertemu dengan puncak kemuliaan, saat menjumpai-Nya di “singgasana”-Nya, di Arys-Nya. Kita –allhumma amin– insyaallah akan diizinkan melihat dan berjumpa dengan Dzat Yang Maha Mulia ini. Yang kemuliaan dan sifat pendermanya tiada batas. Raja, penguasa yang ada di dunia ini mungkin bisa jadi sangat membanggakan istana dan singgasananya. Namun, hal itu tiada sebanding dengan Arsy-Nya yang luas dan dimuliakan seluruh penduduk langit.

  1. Sifat Kelima, “Maha Kuasa berbuat apa yang dikehendaki-Nya”. (QS. 85: 16)

Sangat laik -memang- jika Allah lah yang menyandang sifat ini. Dia yang maha berkehendak dan berkuasa berbuat apapun sesuai titah-Nya. Takkan ada yang sanggup mencegah keinginan-Nya.

Belajar dari Sejarah Masa Lalu

Sudahkah datang kepadamu berita kaum-kaum penentang (yaitu kaum) Fir’aun dan (kaum) Tsamud?”.(QS. 85: 17-18)

Siapa yang tak mengenal Fir’aun ini. Penguasa yang sangat lalim dan keji serta menghalalkan apa saja untuk mempertahankan kekuasaannya. Meskipun ia berhasil membangun peradaban bangsanya sehingga dikenal oleh dunia sepanjang masa. Namun, kemegahan dan kejayaan yang dibangun di atas puing-puing derita dan kezhaliman takkan pernah membahagiakan pemiliknya. Allah akan binasakan orang-orang zhalim dan pongah seperti ini. Hingga saat ini, kita –seharusnya- bisa belajar dari kisah sejarah keangkuhan dan kesombongan ini. Megahnya peradaban Mesir kuno, tak banyak membawa manfaat bila para pelakunya zhalim dan mendurhakai Allah. Mereka tak kuasa melawan takdir Allah saat digulung air laut yang menelan mereka, Fir’aun dengan semua tentaranya dan segala keangkuhannya.

Juga Kaum Tsamud, kaum yang tak kalah cerdik dan pandainya. Kaum yang sangat kuat dan berperadaban paling maju di zamannya.

… kamu dirikan istana-istana di tanah-tanahnya yang datar dan kamu pahat gunung-gunungnya untuk dijadikan rumah”(QS. 7: 74)

Para pemahat gunung, seniman agung dan pemilik gedung-gedung raksasa dari bahan serba batu itu pun tak kuasa membendung kekuasaan Allah. Tidak dengan kepandaian mereka. Juga tidak dengan kekuatan fisik mereka yang melebihi orang-orang modern. Jika saat adzab tiba, saat pintu taubat telah tertutup mereka benar-benar menjumpai kebinasaannya. “Adapun kaum Tsamud, Maka mereka telah dibinasakan dengan kejadian yang luar biasa (sambaran petir dan suara yang memekakkan telinga)”. (QS. 69: 5)

Seharusnya dengan dua peristiwa tersebut membuat kita lebih bisa merenung dan berpikir bahwa ketika Allah masih memberi peluang kita mesti gunakan sengan sebaik-baiknya. Supaya kelak kita tidak terlalu menyesal karena kelalaian dan sifat yang suka menunda-nunda.

Sesungguhnya orang-orang kafir selalu mendustakan.  Padahal Allah mengepung mereka dari belakang mereka”. (QS. 85: 19-20)

Sayangnya orang-orang kafir selalu ada. Orang-orang lalai dan terlena dengan dunia selalu saja memiliki pengikut dan pembela. Dan mereka selalu melecehkan ajakan berbuat baik dan bahkan membaliknya dengan tuduhan keji dan hina. Mereka dengan sangat congkak mendustakan risalah kebenaran yang dibawa Rasul-Nya. Salah satu yang paling mereka dustakan adalah hari kiamat dan pembalasan.

Tidakkah mereka tahu bahwa Allah Maha Melihat dan Mendengar. Dzat yang serba maha tersebut tidak pernah lalai sedetikpun untuk memperhatikan semua gerak-gerik hamba-Nya. Bahkan sampai sesuatu yang terdetik dalam hati mereka Dia selalu mengetahuinya secara detil.

Imam al-Alusy mempunyai penakwilan yang menarik tentang ayat di atas. Kata “min wara’ihim” yang berarti dari belakang mereka, seolah menggambarkan sedemikian zhalimnya orang-orang yang mendustakan ajaran Allah di atas. Mereka membelakangi Allah, meletakkan ajaran Allah di belakang mereka dan selalu mengedepankan hawa nafsu dan dunia yang sangat mereka cintai melebihi segala-galanya ([14]).

Keberanian yang Melampaui Batas

Orang-orang yang digambarkan di atas sungguh berbuat apa saja dalam hidup mereka. Mereka bahkan sangat yakin bahwa hari akhir adalah sebuah mitos belaka. Karena itu mereka mendustakan hari akhir dan segala hal yang menjadi keniscayaannya, hari kehancuran, hari kebangkitan, hari penghitungan amal dan hisab serta kemudian hari pembalasan dan kesudahan dari segalanya. Dan… “bahkan yang didustakan mereka itu ialah Al-Quran yang mulia, yang (tersimpan) dalam Lauh Mahfuzh” (QS. 85: 21-22)

Jika yang mereka dustakan dan mereka anggap mitos adalah al-Qur’an, berarti sama saja dengan menuduh bahwa Allah adalah pembohong besar. Dan inilah petaka yang sangat besar karena mendatangkan kemurkaan Allah. Menuduh Allah dengan tuduhan keji dan sembarangan serta tanpa bukti sedikitpun. Dan mereka meremehkan perbuatan tersebut. Padahal kelak Allah akan mintai pertanggungjawaban dari semua tuduhan jahat tersebut.

Tahukah mereka bahwa yang mereka dustakan adalah kalam suci yang tersimpan di lauh mahfuzh. Menurut Ibnu Abbas luasnya melebihi luas langit dan bumi. Warnanya putih cemerlang, lembarannya terbuat dari permata yaqut merah yang mengkilat penanya adalah cahaya. Allah menengoknya dalam sehari 300 kali. Dia mencipta dan memberi rizki. Dia menghidupkan dan mematikan. Dia memuliakan seseorang dan merendahkan yang lainnya. Dia melakukan semuanya sesuka-Nya, sesuai kehendak-Nya, tanpa ada yang menghalangi([15]).

Semoga takdir kita yang termaktub dalam lauh mahfuzh sebagai hamba-hamba-Nya yang shalih dan dirahmati selalu oleh Allah, baik di dunia maupun kelak di akhirat. Amin.

Pengajian Shubuh, Ainal Yaqin, Kalibata-Jaksel
Selasa, 29 Desember 2009


* Tadabbur surat Al-Burûj (Gugusan Bintang): [85], Juz Amma (30)

** Alumni Program S3 Jurusan Tafsir dan Ilmu al-Qur’an Universitas al-Azhar, Cairo

([1]) lihat: Jalaluddin as-Suyuthi, al-Itqân fi ‘Ulûmi al-Qur’ân, Beirut: Darul Kutub al-Ilmiah, Cet.I, 2004 M/1425 H, hlm. 20-22; Badruddin az-Zarkasyi, al-Burhân fi ‘Ulûmi al-Qur’ân, Beirut: Darul Fikr, Cet.I, 1988 M/1408 H, Vol.1, hlm. 249. Prof. Dr. Jum’ah Ali Abd. Qadir, Ma’âlim Suar al-Qur’ân, Cairo: Universitas al-Azhar, cet.I, 2004 M/1424 H, vol.2, hlm.778

([2]) akan dikisahkan lebih lanjut ketika menadabburi ayat ke 4-7 dalam surat ini.

([3]) Muhammad Ali ash-Shabuny, Ijâzu al-Bayân fi Suar al-Qur’an, tt: Dar Ali Ash-Shabuny, 1986 M-1406 H, hlm. 289-290

([4]) sebagaimana dalam QS. Al-Mulk: 5

([5]) al-Baghawy, Ma’alim at-Tanzil, Beirut: Darul Kutub al-Ilmiah, Cet.I, 2004 M-1424 H, Vol.IV, hlm. 436. Lihat juga: Muhammad bin Ahmad al-Qurthuby, al-Jami’ li Ahkami al-Qur’an, Cairo: Darul Hadits, 2002 M-1423 H, Vol.X, hlm. 236

([6]) Ibnu Jarir ath-Thabary, Jami’ al-Bayan fi Ta’wil Ayy al-Qur’an, ta’liq: Muhammad Syakir, Beirut: Dar Ihya’ at-Turats al-Araby, Cet.I, 2001 M-1421 H, Vol.XXX, hlm.160)

([7]) Sahal bin Abdullah at-Tustary, Tafsir at-Tustary, ta’liq: Muhammad Basil, Beirut: Darul Kutub al-Ilmiah, Cet.I, 2002 M-1423 H, hlm. 191, dinukil oleh Abu Abdirrahman As-Sulamy dalam tafsirnya Haqa’iq at-Tafsir, tahqiq: Sayyed Imran, Beirut: Darul Kutub al-Ilmiah, Cet.I, 2001 M-1421 H, Vol.II, hlm. 385.

([8]) Diriwayatkan Imam Muslim dalam Kitab az-Zuhd wa ar-Raqaiq, Bab Qishah Ashabul Ukhdud, nomer hadits: 3005 (Muhyiddin bin Syarah an-Nawawy, Shahih Muslim bi Syarhi an-Nawawy, Cairo: Darul Hadits, Cet.I, 1994 M-1415 H, Vol.IX, hlm. 357-359)

([9]) Juga diriwayatkan oleh Imam at-Tirmizi dalam Kitab Tafsir al-Qur’an, Bab wa min Surah al-Buruj, hadits nomer 3340. Beliau berkata: ini hadits hasan gharib. (Sunan at-Tirmizi, Beirut: Darul Kutub al-Ilmiah, Cet.I, 2003 M-1424 H, hlm. 771)

([10]) Raja dari Najran, di Negeri Yaman, sebagian pendapat ada yang mengatakan peritiwa ini terjadi di Habsyah (Ethiopia), pendapat pertama lebih kuat.

([11]) dinukil oleh Syihabuddin al-Alusy, Ruhul Maany, Beirut: Darul Fikr, 1997 M/1417 H, Vol. XXX. hlm. 157-158. Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Musnadnya dan Imam Nasa’i dalam Sunannya, sebagaimana dinukil Ibnu Katsir, Tafsir al-Qur’an al-Azhim, Cairo: al-Maktab Ats-Tsaqafi, Cet.I, 2001, Vol.IV, hlm. 496-497

([12]) Ada yang mengatakan 12 ribu, apa pendapat yang menyatakan 70 ribu. Tapi tak satu pun riwayat yang menyebutkan jumlah di atas shahih. (Ruhul Ma’any, Op.Cit, hlm. 161)

([13]) Dr. Manal Abu Hasan, Meniti Jalan Taubat, penerjemah M. Hikam, dkk, Jakarta: Cakrawala Publishing, 2008, hlm. 142

([14]) Ruhul Ma’any, Op.Cit, hlm. 167

([15]) Tafsir Ibnu Katsir, Op.Cit, hlm. 500

Tadabbur QS. Al-Insyiqaq (84)

LANGIT, BUMI DAN MANUSIA*

Dr. H. Saiful Bahri, M.A**

Mukaddimah: Tanda Kekuasaan Allah

Para ahli tafsir sepakat bahwa surat al-insyiqaq diturunkan di Makkah setelah surat al-infithar ([1]). Tema pokok surat ini masih berkisar tentang hari kiamat dan hari pembalasan. Dan tentunya merupakan kelanjutan dari surat-surat sebelumnya. Jika dalam surat al-Infithar dibicarakan tentang para pencatat amal, kemudian dalam surat al-Muthaffifin dibicarakan tentang tempat penyimpanan buku-buku catatan amal manusia; maka dalam surat ini dibahas tentang pembagian buku catatan amal manusia sekaligus menggambarkan keadaan yang akan menimpa atau dialami orang yang menerimanya([2]).

Kali ini langit dan bumi kembali menjadi tanda kekuasaan Allah sekaligus membuktikan ke-tundukan mereka kepada titah Allah Yang Maha Kuasa. Kemegahan dan keindahan kedua makhluk Allah tersebut kelak menjadi fana, saat hari kehancuran yang ditentukan benar-benar terjadi.

 Wahai Manusia Lihatlah Langit dan Bumi

            “Apabila langit terbelah, dan patuh kepada Tuhannya, dan sudah semestinya langit itu patuh. Dan apabila bumi diratakan, dan dilemparkan apa yang ada di dalamnya dan menjadi kosong, dan patuh kepada Tuhannya, dan sudah semestinya bumi itu patuh, (pada waktu itu manusia akan mengetahui akibat perbuatannya)” (QS. 84: 1-5)

            Kali ini Allah menggambarkan saat terjadinya hari kiamat. Tiupan yang dahsyat dari terompet kehancuran malaikat Israfil mengakibatkan langit terbelah. Langitpun tunduk pada titah Allah. Dan memang sudah semestinya demikian. Sementara itu bumi juga menjadi rata. Ia mengeluarkan semua isi perutnya. Baik berupa manusia atau benda-benda yang lain hingga menjadi benar-benar kosong. Hal itu semata memenuhi titah Allah. Dan memang sudah semestinya demikian. Karena memang hanya Allah saja lah  yang berhak untuk ditaati dalam keadaan apapun.

            “Hai manusia, sesungguhnya kamu telah bekerja dengan sungguh-sungguh menuju Tuhanmu, maka pasti kamu akan menemui-Nya” (QS. 84: 6)

            Ketika di dunia manusia telah berusaha bekerja keras untuk memenuhi segala keperluan hidupnya. Sebagian di antara mereka bahkan berlebihan hingga melupakan hak jasadnya untuk beristirahat. Sebagian lagi bahkan melupakan Allah, Dzat yang membuatnya berkecukupan dalam kehidupannya.   Sebagian manusia menyadari kekeliruannya, sehingga ia pun semakin bekerja dan berusaha keras untuk memenuhi hak-haknya, keluarganya, masyarakat sekelilingnya, dan tentunya Allah.

            Siapapun mereka, baik yang terus bekerja atau bermalas-malasan dan lupa akan perjumpaan dengan hari pembalasan, atau mereka yang bekerja dan beramal karena yakin akan bertemu Allah; maka pertemuan dengan Allah adalah suatu kepastian. Pertemuan dengan hari pembalasan adalah sebuah keniscayaan. Hal inilah yang sering dan banyak dilupakan oleh manusia yang dalam ayat ini punya karakteristik “كادح” yang berarti berusaha dan bekerja keras.

            Jika kaum mukminin bekerja keras menahan himpitan hidup di tengah permusuhan orang-orang yang memusuhi Rasulullah saw, maka orang-orang kuffar quraisy juga berpikir dan bekerja keras untuk menghentikan dakwah Rasul saw dan terus mengintimidasi para pengikutnya. Kedua kondisi yang kontradiktif ini sama-sama bermuara pada perjumpaan dengan janji Allah. Yaitu pembalasan-Nya melalui hari perhitungan.

Pembagian Buku Amal: Sebuah Tanda Bagi Penerimanya

            Setelah dibangkitkan dari kematian, manusia mau tak mau pasti menerima kenyataan melihat catatan amal mereka. Mereka juga menerimanya apa adanya. Menariknya, dalam surat ini digambarkan cara menerima amal kebaikan. Jika ia menerimanya dengan tangan kanan maka itu merupakan sebuah pertanda kemudahan yang akan ia jumpai dalam perhitungan berikutnya. Namun, jika ia menerimanya dari arah belakang atau dengan tangan kirinya, maka itu pertanda buruk baginya. Simaklah penuturan Allah swt, “Adapun orang yang diberikan kitabnya dari sebelah kanannya. Maka dia akan diperiksa dengan pemeriksaan yang mudah. Dan dia akan kembali kepada kaumnya (yang sama-sama beriman) dengan gembira” (QS. 84: 7-9)

            Kegembiraan dan kebahagiaanlah bagi orang-orang yang menerima catatan dengan tangan kanannya. Menerima sebuah buku kemuliaan yang tadinya di simpan di illiyyin, yang ditulis oleh malaikat pencatat yang mulia dan dimuliakan Allah serta penduduk langit-Nya.

            Perhitungan yang mudah pun bermacam-macam penafsiran. Ada sebagian yang menafsirkannya dengan sedikitnya pertanyaan yang dilontarkan kepadanya atau bahkan tidak ditanya sama sekali([3]). Dalam sebuah riwayat hadits Rasulullah saw bersabda, “Barangsiapa yang ditanya-tanya pada hari perhitungan maka celakalah ([4]). Karena itu bagi mereka yang dilewatkan dari pertanyaan-pertanyaan yang menyulitkan sangatlah beruntung.

            Para penerima buku kebaikan ini bahkan membanggakan diri dan tidaklah aib yang demikian. Mereka menunjukkannya kepada keluarga mereka yang beriman. Sebagian ahli tafsir ada yang mengatakan bahwa mereka menunjukkannya kepada para bidadari yang mendampingi mereka([5]) serta membanggakan usaha dan amalnya di dunia. Dalam ayat lain juga disebutkan, “Adapun orang-orang yang diberikan kepadanya kitabnya dari sebelah kanannya, Maka dia berkata: “Ambillah, bacalah kitabku (ini)” (QS. Al-Haqqah: 19).

            “Adapun orang-orang yang diberikan kitabnya dari belakang. Maka dia akan berteriak: “Celakalah aku”. Dan dia akan masuk ke dalam api yang menyala-nyala (neraka)” (QS. 84: 10-12)

            Keadaan sebaliknya menimpa orang-orang yang menerima buku amalnya dengan cara dilempar dari arah belakang. Seketika mereka pun sadar bahwa hal yang kurang menyenangkan tersebut sebagai tanda akan berbagai kesulitan yang segera akan menimpanya. Maka ia pun berkata: “celakalah aku”. Kata yang dipakai di sini adalah “tsubur “ yang berarti kumpulan dari berbagai hal yang tidak menyenangkan serta teramat menyusahkan keadaannya([6]).

            Tak berapa lama setelah ia berpikiran negatif, sebuah kenyataan yang pedih segera dijumpainya. Ia segera dimasukkan ke dalam api yang sudah menyala-nyala sekian lama. Adzab yang pedih di tengah api yang membara dan menyala. Sebuah gambaran yang sangat mengerikan. Padahal sebelumnya, tak sedikitpun ia membayangkannya demikian. “Sesungguh-nya dia dahulu (di dunia) bergembira di tengah keluarganya. Sesungguhnya dia menyangka bahwa dia sekali-kali tidak akan kembali (kepada Tuhannya)” (QS. 84: 13-14)

            Saat di dunia ia sangat berbahagia, bergembira. Bahkan sampai melampaui batas. Ia tidak berpikir sama sekali tentang hari-hari buruk yang akan dijumpainya, sebagai ganjaran atas amal dan perbuatan yang dilakukannya. Kata “masrur” di sini gembira yang berarti sombong, melampaui batas dan lupa terhadap Tuhan yang memberikan karunia kepadanya. Sedangkan “yahur” berarti pulang untuk selamanya, atau kembali kepada asalnya, sebagaimana yang ditafsirkan oleh al-Farra’([7]).

            Dugaan mereka tidaklah benar. Karena Allah Dzat yang tak pernah lengah senantiasa mengawasi mereka dan kelak akan membalas semua yang mereka kerjakan ketika ada di dunia. “(bukan demikian), yang benar, sesungguhnya Tuhannya selalu melihatnya” (QS. 84: 15)

            Allah yang Maha Sibuk itu tak pernah sekalipun terlewat untuk melihat dan mendengar gerak-gerik manusia, bahkan apa yang terdetik dalam hati mereka yang belum mereka katakana atau ubah menjadi sebuah perbuatan. Dialah Dzat yang Maha Tahu yang zhahir dan yang batin.

Al-Qur’an yang Didustakan

            Dalam surat ini Allah bersumpah dengan menggunakan berbagai petunjuk waktu. Yaitu waktu maghrib dan isya kemudian saat bulan benar-benar mencapai bentuk sempurnanya di malam purnama. “Maka sesungguhnya Aku bersumpah dengan cahaya merah di waktu senja, dan dengan malam dan apa yang diselubunginya, dan dengan bulan apabila jadi purnama” (QS. 84: 16-18). Para pakar banyak menafsirkan perihal bulan ini dengan kesempurnaan bentuk di saat purnama([8]), yaitu tanggal 13, 14 dan 15 setiap bulannya([9]). Dan kita disunnahkan berpuasa pada hari-hari tersebut.

            Tiga hal tersebut: permulaan malam, kemudian sepanjang waktu malam, serta cahaya bulan yang penuh di saat purnama, semuanya adalah karunia Allah yang diberikan untuk manusia. Dan sebagaimana malam berproses dan mengalami perubahan maka manusia juga akan melalui waktu yang sama. Dari kegelapan ketiadaan diterangkan dengan dikeluarkan di bumi Allah. Kemudian setelah mati ia kembali ke perut bumi (sebagai bahan dasar penciptaan manusia). Dan setelah itu ia dibangkitkan kembali oleh Allah. Sesungguhnya pada kegelapan dan kejadian di malam hari banyak tanda-tanda yang memberi sinyal dan berita tentang kekuasaan Allah yang tak terbatas, serta kehendak-Nya yang tak tertandingi oleh siapapun. Maka Dzat yang demikian tentu sangat mudah jika menginginkan sebuah hari kebangkitan dan pertanggungjawaban dari manusia dan jin terhadap apa yang mereka lakukan selama hidup di dunia.

            “Sesungguhnya kamu melalui tingkat demi tingkat (dalam kehidupan)” (QS. 84: 19). Karena manusia selalu berproses. Ia diciptakan dari setetes air mani yang kemudian sel sperma yang ada di dalamnya membuahi ovum sampai kemudian menjadi janin yang bernyawa, kemudian terlahir ke dunia, menjadi anak-anak, remaja hingga dewasa dan kemudian kembali tua dan tidak berdaya sampai kemudian ia menemui ajalnya. Sebagian ahli tafsir ada yang mengartikan tingkatan di sini adalah tingkatan amal dan perbuatan manusia yang berbeda-beda. Seperti halnya kesusahan-kesusahan yang diterima Rasul saw. ketika di Makkah. Sebagian lagi menafsirkan kesulitan-kesulitan yang akan diterima kaum kuffar juga bertingkat-tingkat, kelak di akhirat([10]). Tapi pendapat pertama lebih banyak dipakai dan digunakan.

            “Mengapa mereka tidak mau beriman?” (QS. 84: 20). Alangkah bodohnya mereka yang diberikan tanda-tanda kekuasaan-Nya bahkan dikirim-Nya para utusan untuk memahamkan manusia, setelah itu manusia mendustakan mereka dan ayat-ayat yang dibawa dari Allah.

            “Dan apabila al-Quran dibacakan kepada mereka, mereka tidak bersujud. Bahkan orang-orang kafir itu mendustakan(nya)” (QS. 84: 21-22)

            Saat di dunia orang-orang masih mampu bersujud, namun kesempatan tersebut dilewatkan begitu saja. Nantinya di akhirat saat mereka diperintah bersujud, mereka tak bisa melakukannya karena kaki-kaki mereka terasa terkunci.

            Ayat ke 21 dalam surat ini dijadikan dalil oleh para ulama tentang disyariatkannya sujud tilawah. Juga sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim, “Ibnu Umar berkata: Rasulullah saw suatu ketika membaca suatu surat dan membaca (pada ayat yang ada) tanda sujudnya, beliau bersujud dan kamipun bersujud bersamanya, sampai-sampai seseorang di antara kami hampir tak menemukan tempat untuk keningnya”. Dalam riwayat Muslim ditambah, “dalam keadaan di luar shalat ([11]). Menurut Abu Hanifah hukumnya wajib karena ada celaan bagi yang meninggalkan sujud dalam ayat ini. Namun menurut jumhur ulama, sujud tilawah hukumnya sunnah (hanya anjuran saja). Ini berlaku bagi yang membacanya juga mendengarkannya dengan sengaja. Ataupun tidak sengaja (menurut sebagian ahli fikih, diantaranya ulama Syafi’iyah. Adapun perempuan yang haidh, nifas dan orang-orang yang junub tidak dianjurkan bahkan dilarang untuk bersujud ketika mendengarkan ayat-ayat sajdah ini. Sujud ini hanya dilakukan sekali saja, dan jika di luar shalat tanpa di dahului takbiratul ihram juga tidak diakhiri dengan salam, tapi cukup dengan membaca takbir untuk sujud saja.

            Doa yang dibaca dalam sujud sebagaimana diriwayatkan Ibnu Abbas ra:

“سجد وجهي للذي خلقه وشق سمعه وبصره بحوله وقوّته، فتبارك الله أحسن الخالقين ([12])

Ada juga riwayat lain yang diriwayatkan Imam at-Tirmizi, ” اللهم اكتب لي بها عندك أجراً واجعلها لي عندك ذخرا وضع عني بها وزراً واقبلها مني كما قبلنها من عبدك داود” ([13]). Jika tidak hafal maka ia disunnahkan membaca sebagaimana bacaan sujud dalam shalatnya atau apa saja yang menunjukkan tasbih dan penyucian terhadap Allah.

            Di dalam al-Qur’an ada 15 tempat dalam 14 surat yang disunnahkan untuk bersujud saat kita membacanya atau mendengarkannya; yaitu: surat al-A’raf (206), ar-Ra’d (15), (An-Nahl (49), al-Isra (107), Maryam (58), al-Hajj (18, 77), al-Furqan (60), an-Naml (25), as-Sajdah (15), Shad (24), Fushilat (38), an-Najm (62), al-Insyiqaq (21), Iqra’ al-Alaq (19) ([14]).

Hari yang Sulit

Orang-orang yang hatinya keras memang takkan mau tunduk dan bersujud kepada Allah. Mereka justru berpura-pura menjadi orang baik dan memelihara kemuniafikan dengan suka menampakkan kebaikan lahiriyah mereka di depan manusia, “Padahal Allah mengetahui apa yang mereka sembunyikan (dalam hati mereka)” (QS. 84: 23) Yaitu kebusukan hati mereka yang keras dan congkak serta sombong. Maka orang-orang seperti ini akan menjumpai hari-hari yang menyulitkan kelak. “Maka berilah kabar mereka dengan azab yang pedih” (QS. 84: 24)

Sedangkan orang-orang yang beriman dan ringan bersujud kepada Allah di dunia, akan dimuliakan Allah dengan pahala dan kebaikan-kebaikan yang tak terkira yang belum pernah mereka bayangkan sebelumnya, serta nikmat yang tak pernah terputus selamanya. “Tetapi orang-orang yang beriman dan beramal saleh, bagi mereka pahala yang tidak putus-putusnya” (QS. 84: 25). Itulah keberuntungan yang hakiki dan sebenar-benarnya.

Semoga kita termasuk ke dalam golongan yang terakhir ini yaitu orang-orang yang dimuliakan Allah, serta diselamatkan dari kepedihan adzab akhirat dan murka-Nya yang tak sanggup dibendung oleh siapapun. Amin.

Pengajian Shubuh, Ainal Yaqin, Kalibata-Jaksel

Selasa, 22 Desember 2009


* Tadabbur surat Al-Insyiqâq (Terbelah): [84], Juz Amma (30)

** Alumni Program S3 Jurusan Tafsir dan Ilmu al-Qur’an Universitas al-Azhar, Cairo

([1]) lihat: Jalaluddin as-Suyuthi, al-Itqân fi ‘Ulûmi al-Qur’ân, Beirut: Darul Kutub al-Ilmiah, Cet.I, 2004 M/1425 H, hlm. 20-22; Badruddin az-Zarkasyi, al-Burhân fi ‘Ulûmi al-Qur’ân, Beirut: Darul Fikr, Cet.I, 1988 M/1408 H, Vol.1, hlm. 250. Prof. Dr. Jum’ah Ali Abd. Qadir, Ma’âlim Suar al-Qur’ân, Cairo: Universitas al-Azhar, cet.I, 2004 M/1424 H, vol.2, hlm.773

([2]) Prof. Dr. Jum’ah Ali Abd. Qadir, Ma’âlim Suar al-Qur’ân, Ibid. Juga lihat: Syihabuddin al-Alusy, Ruhul Maany, Beirut: Darul Fikr, 1997 M/1417 H, Vol 30. hlm. 139

([3]) lihat: Ruhul Maany, Ibid, Vol 30. hlm. 143

([4]) dengan redaksi yang berdekatan hadits tersebut diriwayatkan oleh Imam Bukhary, Muslim, Tirmizi, an-Nasa’i, Abu Dawud dan Imam Ibnu Jarir ath-Thabary (lihat: Ibnu Katsir, Tafsir al-Qur’an al-Azhim, Cairo: al-Maktab ats-Tsaqafi, 2001 M, vol.IV, hlm. 491)

([5]) sebuah atsar yang diriwayatkan oleh Ibnu al-Mundzir dari Mujahid (Ruhul Maany, Op.Cit, Vol 30. hlm. 143)

([6]) Ibid. hlm. 144

([7]) Abu Zakaria al-Farra’, Ma’any al-Qur’an, Beirut: Darul Kutub al-Ilmiyah, 2002 M-1423 H, Vol. II, hlm. 138

([8]) Abu Ubaidah, Majaz al-Qur’an, Cairo: Maktabah al-Khanji, tt., Vol.II, hlm. 291

([9]) lihat: Az-Zajjâj, Ma’ani al-Qur’an wa I’rabuhu, Cairo: Darul Hadits, 2004 M/1424 H, Vol.5, hlm. 236.

([10]) lihat tesis penulis: Kitab Lawami’ al Burhan wa Qawathi’ al-Bayan fi Ma’ani al-Qur’an Karya Imam al-Ma’iny, Cairo: Universitas al-Azhar Jurusan Tafsir, 2006, Vol.2, hlm. 816

([11]) Dr. Wahbah az-Zuhaily, al-Fiqh al-Islamy wa Adillatuhu, Damaskus: Darul Fikr, Cet.IV, 2002 M-1422 H, Vol.II, hlm.1126

([12]) Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Ibnu Majah (Ibid. hlm. 1136)

([13]) Imam Tirmizi mengatakan : “Ini hadits gharib. Maksudnya hasan” (Ibid. hlm. 1136)

([14]) yang disepakati Jumhur ulama ada 10 tempat saja. Menurut Ulama Malikiyah ada 11, sedang Ulama Hanafiyah, Hanabilah dan Syafi’iyah ada 14 tempat. Malikiyah dan Hanafiyah dalam surat al-Hajj hanya membaca sekali yaitu di ayat 18 saja. Sedangkan Ulama Hanabilah dan Syafiiyah mengatakan tak ada sujud tilawah (dalam shalat) di surat Shad. Jika pendapat-pendapat tersebut digabungkan maka totalnya ada 15 tempat. (lihat. al-Fiqh al-Islamy wa Adillatuhu, Ibid. hlm. 1137-1138)

Tadabbur QS. al-Jin

KETIKA JIN MENYIMAK AL-QUR’AN*

Dr. Saiful Bahri, M.A**

Mukaddimah: Duka yang Terobati

Saat Ummul Mu`minin Ibunda Khadijah ra. wafat, demikian juga Abu Thalib meninggal; Rasulullah saw. sangat bersedih. Orang-orang yang selama ini mendukungnya, membela dakwahnya kini sudah tak lagi di sisinya. Istrinya yang setia. Pamannya yang rela berkorban untuknya, meski akhirnya menghembuskan nafas terakhir masih dalam kondisi tak mengimani risalahnya. Mungkin inilah yang semakin membuatnya bersedih. Pengikut dakwahnya pun tak bertambah secara signifikan. Dan Rasul saw akhirnya berpikir untuk mencari suaka, dukungan dakwah ke kabilah Bani Tsaqif yang mendiami kota Tha`if.

Rasul pun kemudian membidik para pemuka kaum. Beliau mendakwahi tiga pemuka Bani Tsaqif yang bersaudara; yaitu: Yalil bin Amru, Mas’ud bin Amru dan Hubaib bin Amru. Sebagaimana yang dikisahkan Ibnu Ishaq.

Namun, respon yang diterima Rasul saw. sangat tidak terduga, tak seperti yang diharapkannya. Mereka bertiga tertawa terbahak-bahak seraya mengejek dan mengolok-olok Rasulullah. Yalil mengatakan, ”Jika engkau benar utusan Allah, aku akan segera sobek kiswah pintu ka’bah”. Saudaranya Mas’ud tak kalah pedasnya, ”Apa tak ada orang selain kamu yang diutus Tuhan untuk manusia”. Bahkan Hubaib menolak berbicara lagi dengan Nabi Muhammad saw. Ketiganya tak hanya mendustakannya, tapi mereka mengerahkan seluruh Bani Tsaqif. Anak kecil, laki-laki dan perempuan, tua dan muda untuk keluar melempari dan mengusir Rasulullas saw. Rasul pun meninggalkan Thaif dalam kondisi terluka. Baik fisik, apalagi psikisnya; sangat tercabik-cabik. Dalam kondisi demikian tawaran malaikat untuk menimpakan gunung kepada orang-orang yang menyakitinya dengan arif dan bijak ditolaknya. Karena beliau masih berharap kelak keturunan mereka mau percaya dan mengimani risalahnya.

Kemudian, beliau meneruskan perjalanan. Sehingga sampai di sebuah lembah beliau shalat dan berdoa. ”Tuhanku, aku keluhkan kepada-Mu kelemahan diriku, kekuranganku dalam menyelesaikan masalah-masalahku, dan ketidakberdayaanku di depan makar-makar manusia, wahai Dzat Yang Maha Penyayang. Engkau Tuhan orang-orang tertindas. Wahai Tuhanku, kepada siapa lagi aku menyandarkan urusanku. Apakah kepada orang yang tak peduli padaku, ataukah kepada orang yang aku tak bisa serahkan urusanku padanya …”([1]).

Rasul pun meneruskan munajatnya. Beliau membaca ayat-ayat al-Qur’an dalam shalatnya. Hingga ada jin yang sedang lewat di lembah itu mendengarnya dengan seksama. Kemudian semakin banyak jin-jin yang mendengarnya. Atas izin Allah, Rasul pun bisa mendengar dan melihat mereka. Dan peristiwa ini kemudian diabadikan oleh Allah dalam sebuah surat yang kemudian diturunkan kepada beliau. Surat al-Jin.

Surat al-Jin ini diturunkan Allah di Makkah setelah Surat al-A’râf ([2]) . Dinamakan dengan surat al-Jin karena memuat dan menyebutkan beberapa kondisi jin, sikap mereka, perbincangan sesama mereka serta hubungan mereka dengan manusia, sampai menjelaskan pencurian yang dilakukan sebagian mereka terhadap berita-berita ghaib di langit ([3]).

Jin-jin pun Mendengarkan al-Qur’an dan Takjub Padanya

Mari kita dengar pengakuan mereka, ”Katakanlah (hai Muhammad): telah diwahyukan kepadamu bahwasanya: telah mendengarkan sekumpulan jin (akan al-Qur’an), lalu mereka berkata: Sesungguhnya kami telah mendengarkan al-Quran yang menakjubkan”. (QS. 72: 1)

Jika saja para jin pun mengakui dan takjub ketika mendengar al-Qur’an maka bagaimana manusia memungkiri dan mendustakan al-Qur’an. Padahal al-Qur’an disampaikan dengan bijak. Dijelaskan dan bahkan ketika diturunkan, mereka –kaum Quraisy- ada di sekeliling Nabi Muhammad saw. Karena al-Qur’an merupakan mukjizat Allah yang diberikan kepada Rasul saw. Karena al-Qur’an bukan perkataan manusia juga bukan pula perkataan jin. Tapi wahyu dari Allah yang memuat berbagai aturan dan pedoman hidup.

Dengan sepenuh fitrah jin-jin yang mendengar al-Qur’an pun mengimaninya. Yaitu al-Qur’an, ”(yang) memberi petunjuk kapada jalan yang benar, lalu kami beriman kepadanya. dan kami sekali-kali tidak akan mempersekutukan seseorangpun dengan Tuhan kami. Dan bahwasanya Maha Tinggi kebesaran Tuhan kami, dia tidak beristeri dan tidak (pula) beranak” (QS. 72: 2-3) Dan Nabi Muhammad tak perlu bersedih. Jika di Makkah beliau dimusuhi. Tatkala ke Thaif pun beliau bahkan disakiti dan dilukai. Maka Allah tunjukkan kekuasaan dan kemahaannya. Jin-jin pun tunduk dan khusyuk mendengarkan bacaan al-Qur’an beliau. Mendengarkan dakwah beliau dan kemudian mengimaninya. Bahkan sebagian dari mereka melanjutkan dakwah ini ke kaumnya sesama jin, menjadi penyambung lidah Rasul saw. Setidaknya dengan pemberitahuan ini Rasul pun semakin mantap meneruskan dakwahnya. Dan karena memang kehidupan ini adalah perjuangan yang tak pernah lepas dari rintangan ([4]). Maka bukan saatnya bersedih, apalagi menyerah di depan rintangan hidup.

Mereka pun sadar akan kekafiran sebagian dari mereka yang mendurhakai Allah. Bahkan dengan tuduhan-tuduhan yang melampaui batas. ”Dan bahwasanya: orang yang kurang akal daripada kami selalu mengatakan (perkataan) yang melampaui batas terhadap Allah”. (QS. 72: 4). Sebagaimana manusia, sebagian jin juga tidak mau beriman bahkan kafir. Mereka mengatakan Allah sama seperti mereka memiliki istri dan anak serta keturunan.

Betapa terkejutnya jin-jin yang baik yang telah tersentuh dakwah Rasulullah saw itu. Sebelumnya mereka mengira bahwa kaum mereka bisa dengan mudah menerima dakwah ini. Dan yang terjadi justru sebaliknya, sebagaimana yang dialami oleh Rasulullah saw. Dengarlah penuturan mereka, ”Dan sesungguhnya kami mengira, bahwa manusia dan jin sekali-kali tidak akan mengatakan perkataan yang dusta terhadap Allah”. (QS. 72: 5) Bahwa realitanya, baik jin ataupun manusia selalu saja di antara mereka para pembangkang dan pendusta nabi dan risalah Allah yang di utus untuk mereka. Sebagaimana karakter makhluk-makhluk Allah yang memang selalu ada yang memusuhi utusannya baik dari kalangan jin maupun dari jenis manusia ([5]).

Pengakuan-pengakuan

Derajat yang tinggi yang diberikan Allah pada manusia –kadang- tak membuatnya berpikir dan bersyukur. Sebagian dari manusia justru tak menggunakan akalnya, di samping memang karena enggan untuk bersyukur atas pengangkatan derajat ini. Derajat yang melebihi semua makhluk-Nya. Di langit dan di bumi; jin dan manusia.

Itulah keheranan jin. Mengapa ada di antara manusia yang rela menghambakan dirinya kepada jin. Sedang tak semua jin itu baik, sebagimana pengakuan mereka, ”Dan sesungguhnya di antara kami ada orang-orang yang saleh dan di antara kami ada (pula) yang tidak demikian halnya. Dan kami menempuh jalan yang berbeda-beda”. (QS. 72 : 11).

Dalam prakteknya, tak sedikit di antara manusia yang meminta-minta kepada jin. Ada untuk keperluan kesembuhan dari penyakit, jodoh, mencari peruntungan dalam berbisnis, mencari barang hilang dan sebagainya.

Dan bahwasanya ada beberapa orang laki-laki di antara manusia meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki di antara jin, maka jin-jin itu menambah bagi mereka dosa dan kesalahan”. (QS. 72: 6). Apa yang diharapkan manusa tatkala ia melintasi sebuah lembah, bukit atau hutan yang terkesan angker? Sehingga ia perlu untuk berlindung diri pada ”penunggu” tempat itu? Sebagaimana adat orang-orang Arab jahiliyah, seperti tutur Ibnu Abbas juga diriwayatkan muridnya Qatadah dan Hasan al Bashry serta Ibrahim an-Nakha’iy ([6]).

Bukankah semua tempat di bumi ini milik Allah? Mengapa tidak meminta perlindungan kepada Dzat yang perlindungannya takkan mamp ditembus oleh siapapun yang memusuhi-Nya atau mendurhakai-Nya. Maka hanya kesesatanlah yang didapati manusia yang melakukan hal itu.

Barang siapa yang mendatangi peramal kemudian ia percaya terhadap apa yang dikatakannya maka shalatnya tidak diterima selama 40 hari” (HR. Imam Muslim) ([7]).

Jelas-jelas Nabi melaknat dan meyabdakan tercelanya orang yang pergi ke dukun atau peramal dan kemudian mempercayai ramalannya. Shalatnya tidak diterima Allah dan Allah berpaling darinya setidaknya selama 40-hari. Padahal jin-jin yang berkelakuan buruk itu hanya sesekali saja mencuri kabar dari langit, karena para penjaga langit melempari mereka sehingga mereka tak mampu mendekat lebih lagi.

Dan sesungguhnya kami telah mencoba mengetahui (rahasia) langit, Maka kami mendapatinya penuh dengan penjagaan yang kuat dan panah-panah api. Dan sesungguhnya kami dahulu dapat menduduki beberapa tempat di langit itu untuk mendengar-dengarkan (berita-beritanya). Tetapi sekarang barangsiapa yang (mencoba) mendengar-dengarkan (seperti itu) tentu akan menjumpai panah api yang mengintai (untuk membakarnya)”. (QS. 72: 8-9)

Para peramal itu sebanarnya juga tak banyak tahu. Karena jin sebagai referensinya pun sebenarnya hanya samar-samar mendengar, bahkan lebih tepatnya tidak tahu.

Dan sesungguhnya kami tidak mengetahui (dengan adanya penjagaan itu) apakah keburukan yang dikehendaki bagi orang yang di bumi ataukah Tuhan mereka menghendaki kebaikan bagi mereka”. (QS. 72: 10)

Tak ada yang mengetahui batas kekuasaan Allah. Karena kekuasaan-Nya memang tanpa batas. Dan siapa pun dari makhluk-Nya takkan mampu melepaskan diri dari kekuasaannya. Jika Dia menyintainya takkan ada yang bisa menghalangi cinta tersebut. Jika Dia memurkainya, takkan lagi ada tempat sembunyi dan menghindar dari-Nya. ”Dan sesungguhnya kami mengetahui bahwa kami sekali-kali tidak akan dapat melepaskan diri (dari kekuasaan) Allah di muka bumi dan sekali-kali tidak (pula) dapat melepaskan diri (dari)-Nya dengan lari”. (QS. 72:12)

 

Jin-Jin pun Mengimani al-Qur’an

Setelah mendengar al-Qur’an ang dibaca dengan penuh penghayatan, jin-jin yang mendengarnya pun beriman. Mereka juga sekaligus menjadi penyambung lidah Rasul saw. Berdakwah kepada kaum mereka yang sebagian masih saja tersesat. Bahkan menyesatkan bukan hanya bangsa jin saja tapi manusia juga. Karena keadaan jin dan manusia hampir sama. Ada di antara mereka yang mengingkari dan mendurhakai Allah .

Dan sesungguhnya tatkala kami mendengar petunjuk (Al-Qur’an), kami beriman kepadanya. barangsiapa beriman kepada Tuhannya, maka ia tidak takut akan pengurangan pahala dan tidak (takut pula) akan penambahan dosa dan kesalahan. Dan sesungguhnya di antara kami ada orang-orang yang taat dan ada (pula) orang-orang yang menyimpang dari kebenaran. barangsiapa yang yang taat, maka mereka itu benar-benar telah memilih jalan yang lurus”. (QS. 72: 13-14)

Mereka mau beriman karena fitrah dan karena al-Qur’an adalah kalam suci yang berasal dari Allah. Lafazh dan maknanya murni dari Allah, jauh dari sentuhan penyelewengan atau penggantian ([8]). Penuh dengan hikmah dan petunjuk dari Allah untuk manusia khususnya juga jin termasuk menerima pesan ini. Sebagaimana firman-Nya, ”Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku”. (QS. 51: 56).

Dan yang berhati jernih akan mudah dimasuki cahaya al-Qur’an. Allah pun mengabadikan kejernihan hati mereka saat tersentuh al-Qur’an. ”Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal”. (QS. 8: 2). Bahkan orang-orang Nashrany yang terbuka hatinya pun dengan berlinang air mata mereka kemudian mengimani al-Qur’an. Seperti tutur Allah dalam firman-Nya, ”Dan apabila mereka mendengarkan apa yang diturunkan kepada Rasul (Muhammad), kamu lihat mata mereka mencucurkan air mata disebabkan kebenaran (al-Qur’an) yang telah mereka ketahui (dari kitab-kitab mereka sendiri); seraya berkata: Ya Tuhan kami, kami telah beriman, maka catatlah kami bersama orang-orang yang menjadi saksi (atas kebenaran al-Quran dan kenabian Muhammad saw)”. (QS. 5:83)

Demikian pula jin-jin di atas yang ”terlanjur” merasakan kenikmatan mendengar al-Qur’an. Bahkan dalam kesempatan ini Allah mengisahkan bagaimana mereka kemudian berbondong-bondong berebut ingin mendengar bacaan Nabi Muhammad saw.

Dan bahwasanya tatkala hamba Allah (Muhammad) berdiri menyembah-Nya (mengerjakan shalat dan membaca al-Qur’an), hampir saja jin-jin itu desak mendesak mengerumuninya”. (QS. 72: 19)

Ibnu Abbas dan adh-Dhahhâk mengatakan, ”Mereka saling berebut untuk mendengarkan al-Qur’an yang dibaca Nabi Muhammad saw. Sampai-sampai terlihat saling tindih di antara mereka ([9]).

Nabi Muhammad yang hanya di temani oleh Zaid bin Haritsah pun sebelum surat ini diturunkan tak tahu menahu tentang kisah jin yang mendengarkan bacaan al-Qur’an dalam shalatnya. Imam al-Bukhary meriwayatkan asbâb an-nuzûl surat ini,yang didahului berkumpulnya jin sedikit demi sedikit dan mereka saling mengajak kaumnya untuk bersama mendengarkan bacaan Nabi Muhammad. Seperti dikisahkan juga dalam surat al-Ahqaf, ”Dan (ingatlah) ketika kami hadapkan serombongan jin kepadamu yang mendengarkan al-Qur’an, maka tatkala mereka menghadiri pembacaan (nya) lalu mereka berkata: “Diamlah kamu (untuk mendengarkannya)”. Ketika pembacaan telah selesai mereka kembali kepada kaumnya (untuk) memberi peringatan.”. (QS. 46 :29). Hingga akhirnya keluar sebuah pengakuan yang benar-benar tulus dari mereka seperti digambarkan di awal surat tadi, ”Sesungguhnya kami telah mendengarkan al-Quran yang menakjubkan ([10]).

Wahyu dan Risalah Allah yang Terpelihara

Setelah mengisahkan berbagai kondisi jin yang mendengar dan mengimani al-Qur’an. Yang juga diharapkan mampu menjadi pelipur lara bagi Rasul saw yang terus menerus disakiti kaumnya serta kabilah Thaif, tempat beliau mencari suaka. Ternyata jin-jin yang selama ini tak pernah terpikir sama sekali oleh beliau kemudian berbndong-bondong beriman kepada risalah yang dibawanya. Allah kemudian memerintahkan Nabi saw kembali menyampaikan risalah-Nya. Meneguhkan kembali hatinya agar tetap kokoh dan kuat, apapun yang dihadapinya.

Inilah risalah yang dibawa beliau yang diperuntukkan kepada jin juga kepada manusia. ”Katakanlah: “Sesungguhnya aku hanya menyembah Tuhanku dan aku tidak mempersekutukan sesuatupun dengan-Nya”. Katakanlah: “Sesungguhnya aku tidak kuasa mendatangkan sesuatu kemudharatan pun kepadamu dan tidak (pula) suatu kemanfaatan“. Katakanlah: “Sesungguhnya sekali-kali tiada seorangpun dapat melindungiku dari (azab) Allah dan sekali-kali aku tiada akan memperoleh tempat berlindung selain daripada-Nya”. Akan tetapi (aku hanya) menyampaikan (peringatan) dari Allah dan risalah-Nya. Dan barangsiapa yang mendurhakai Allah dan rasul-Nya Maka sesungguhnya baginyalah neraka Jahannam, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Sehingga apabila mereka melihat azab yang diancamkan kepada mereka, maka mereka akan mengetahui siapakah yang lebih lemah penolongnya dan lebih sedikit bilangannya.  Katakanlah: “Aku tidak mengetahui, apakah azab yang diancamkan kepadamu itu dekat ataukah Tuhanku menjadikan bagi (kedatangan) azab itu masa yang panjang?”. (Dia adalah Tuhan) yang mengetahui yang ghaib, maka dia tidak memperlihatkan kepada seorangpun tentang yang ghaib itu”. (QS. 72: 20-26)

Allah lah kelak yang akan menjadi saksi bahwa beliau telah menyampaikan risalah-Nya dengan amanah. Umatnya juga kelak akan bersaksi. Dan kemudian tak ada yang tahu apa yang akan terjadi setelah itu. Karena hanya Dia-lah yang mengetahui alam dan kejadian yang belum terjadi serta sesuatu yang ghaib bagi manusia.

Mudah-mudahan dengan tadabbur ini semakin menguatkan iman kita, serta menjauhkan diri kita dari berbagai penyakit-penyakit hati. Terutama beberapa syubhat tentang jin yang selama ini kadang mengganggu hati kita. Manusia adalah makhluk Allah yang paling mulia. Lebih mulia dari malaikat-Nya, apalagi dari jin dan makhuk-makhluk lainnya. Dengan iman yang ada dalam dadanya ia semakin dekat dengan Allah serta makin tinggi derajatnya di sisi-Nya. WalLâhu al-Musta’ân.

—————————————————————————–

Disampaikan dalam Pengajian Shubuh Tadabbur al-Qur’an

Ainal Yaqin, Kalibata Selatan – Jaksel

Jum’at, 6 Maret 2009


* Sebuah tadabur surat Al-Jin: 72, Juz 29.

** Alumni Program S3 Jurusan Tafsir dan Ilmu-ilmu al-Qur’an, Universitas Al-Azhar, Cairo.

([1])  Syeikh Mubarakfuri, Ar-Rahîq al-Makhtûm, Cairo: Maktabah Taufiqiyah

([2]) Imam Badruddin az-Zarkasyi, al-Burhan fi Ulumi al-Qur’an, Beirut: Darul Fikr, Cet. I, 1988 M/1408 H, Vol. I, hal. 249. Juga lihat: Imam Jalaluddin as-Suyuthi, al-Itqân fi ‘Ulumi al-Qur’an, Beirut: Darul Kutub al-Ilmiah, cet.I, 2004 M/1425 H, hal. 22, Prof. Dr. Jum’ah Ali Abd Qader, Ma’alim Suar al-Qur’an, Cairo: Universitas Al-Azhar, Cet.I, 2004M/1424H, Vol. 2, hal. 708

([3]) Prof. Dr. Jum’ah Ali Abd Qader, Ma’alim Suar al-Qur’an, Ibid, hal. 714.

([4]) Prof. Dr. Yusuf al-Qaradhawy, al-Imân wa al-Hayâh, Cairo: Maktabah Wahbah, Cet. 16, 2007 M/1428 H, hal 171

([5]) Seperti dalam firman Allah, surat al-An’am ayat 112, ”Dan demikianlah kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu syaitan-syaitan (dari jenis) manusia dan (dan jenis) jin, sebahagian mereka membisikkan kepada sebahagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia). Jikalau Tuhanmu menghendaki, niscaya mereka tidak mengerjakannya, maka tinggalkanlah mereka dan apa yang mereka ada-adakan

([6]) Imam Ibnu Jarir at-Thabary, Jâmi’ al-Bayân, Beirut: Dar Ihya Turats a-Araby, Cet.I, 2001 M/1421 H, Vol. 29, hal. 129

([7]) Prof. Dr. Yusuf al-Qaradhawy, al-Halal wa al-Haram fi al-Islam, Cairo: Maktabah Wahbah, Cet. 22, 1997 M/1418 H, hal. 210

([8]) Prof. Dr. Yusuf al-Qaradhawy, Kaifa Nata’âmal ma’a al-Qur’ân, Beirut: Darusysyuruq, Cet.I, 1999 M/1419 H, hal. 19

([9]) Seperti dinukil oleh beberapa ahli tafsir, seperti Imam ath-Thabary (Jami’ al-Bayan, Op.Cit, Vol. XXIX, hal. 140), Imam al-Baghawy dalam bukunya Ma’alim at-Tanzil, Beirut: Darul Kutub Ilmiah, Cet.I, 2004 M/1424 H, Vol. IV, hal. 373. Lihat Tafsir adh-Dhahhak, Cairo: Darussalam, Cet.I, 1999 M/1419 H, Vol. II, hal. 904 dan Tesis penulis, Kitab Lawami’ al-Burhan wa Qawathi’ al-Bayan fi-Ma’any al-Qur’an li al-Ma’iny, Dirasah wa Tahqiq, Cairo: Universitas Al-Azhar, 2006 M, Vol. II, hal. 725

([10]) HR. al-Bukhary dalam hadits no. 4921, Kitab at-Tafsir, Bab Surah Qul Ûhiya Ilayya (lihat: Ibnu Hajar al-’Asqalany, Fathul Bâri bi Syarhi Shahih al-Bukhary, Cairo: Darul Hadits, Cet.I, 1998 M/1419 H, Vol.III, hal. 824)

Tadabbur QS. Nuh

TELADAN KESABARAN*

Dr. Saiful Bahri, M.A**

Mukaddimah: Orang-Orang Pilihan

Menjadi orang-orang pilihan yang dihargai karena prestasi adalah merupakan sebuah kebahagiaan. Sebuah kepuasan psikis. Sangat manusiawi. Lantas, bagaimana jika orang-orang pilihan tersebut dipilih dan dinobatkan langsung oleh Allah serta diabadikan dalam kalam sucinya dan dibaca oleh jutaan bahkan milyaran manusia.

Sesungguhnya Allah telah memilih Adam, Nuh, keluarga Ibrahim dan keluarga Imran melebihi segala umat (di masa mereka masing-masing)” (QS. 3:33)

Rahasia apakah yang membuat mereka terangkat dalam lembaran sejarah sebagai orang-orang pilihan. Adam dan Nuh mewakili dua teladan individu secara personal. Dan keluarga Ibrahim serta keluarga Imran menjadi sebuah prototipe keluarga yang layak untuk diikuti jejaknya.

Dalam kesempatan kali ini kita akan menelsuri jejak-jejak dakwah Nabi Nuh as. Sebagai salah satu individu yang difigurkan serta layak untuk diteladani. Khususnya kisah beliau yang terangkum dalam Surat Nûh yang diturunkan Allah di Makkah setelah Surat an-Nahl ([1]) . Seorang dai dan nabi yang menyeru kepada kalimat Allah hampir sepuluh abad lamanya, namun hanya segelintir orang saja pengikutnya. Bahkan istri dan anaknya termasuk orang-orang yang menghalangi, memusuhi dan melawan dakwahnya. Namun, hal tersebut tak membuat beliau surut berdakwah.

Sesungguhnya kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya (dengan memerintahkan): ”Berilah kaummu peringatan sebelum datang adzab yang pedih”. (QS. 71: 1))

Dan tugas utama seorang nabi dan utusan Allah adalah menyampaikan risalah-Nya. Risalah pengesaan dan totalitas penghambaan kepada Allah. ”Nuh berkata: Hai kaumku, sesungguhnya aku adalah pemberi peringatan yang menjelaskan kepada kamu, (yaitu) sembahlah Allah, bertakwalah kepada-Nya dan taatlah kepadaku. Niscaya Allah akan mengampuni sebagian dosa-dosamu dan menangguhkan kamu sampai waktu yang ditentukan. Sesungguhnya ketetapan Allah apabila telah datang tidak dapat ditangguhkan, kalau kamu mengetahui”. (QS. 71: 2-4)

Keangkuhan dan Gengsi Sosial

Bukan bunga yang ditaburkan, bukan pula pujian yang diterima, dan tidak pula orang-orang berbondong-bondong mendengarkan dakwah Nabi Nuh as. Yang terjadi justru sebaliknya. Dengarlah saat dengan penuh kepasrahan beliau mengadu kepada Allah, ”Ya Tuhanku sesungguhnya aku telah menyeru kaumku malam dan siang. Maka seruanku itu hanyalah menambah mereka lari (dari kebenaran). Dan sesungguhnya setiap kali aku menyeru mereka (kepada iman) agar Engkau mengampuni mereka, mereka masukkan anak jari mereka ke dalam telinganya dan menutupkan bajunya (ke wajah) dan mereka tetap (mengingkari) dan menyombongkan diri dengan sangat. Kemudian sesungguhnya aku telah menyeru mereka (kepada iman) dengan cara terang-terangan. Kemudian sesungguhnya aku (menyeru) mereka (lagi) dengan terang-terangan dan dengan diam-diam”. (QS. 71: 5-9)

Nabi Nuh. As menyeru kaumnya siang dan malam. Dilakukan dengan cara diam-diam dan terang-terangan. Justru respon mereka sangat menyakitkan hati. Mereka menyumpal telinga dengan jari-jari. Jika Nabi Nuh meneruskan dakwahnya mereka pun mengangkat kain untuk menutupi wajah mereka. Agar mereka tidak melihat beliau menyampaikan dakwahnya, tidak juga mendengar apa yang dikatakannya ([2]).

Namun, Nabi Nuh as. tetap melanjutkan dakwahnya sampai kemudian datang ketentuan Allah. ”Dan diwahyukan kepada Nuh, bahwasanya sekali-kali tidak akan beriman di antara kaummu, kecuali orang yang telah beriman (saja), karena itu janganlah kamu bersedih hati tentang apa yang selalu mereka kerjakan.”(QS. 11: 36) Nabi Nuh pun mematuhi titah-Nya yang kemudian memerintahkan kepada-nya membuat perahu di tengah padang pasir. Sebuah perintah yang kemudian dilecehkan kaum-kaumnya. Mereka menertawakannya, menganggapnya gila bahkan berusaha merusaknya.

Icon Kesabaran yang Luar Biasa

Tak salah bila Nabi Nuh as dijadikan Allah icon kesabaran. Setelah berdakwah selama 950 tahun pengikut dakwahnya tak banyak. Meskipun para ahli tafsir berbeda pendapat mengenai jumlah pasti-nya, namun semua sepakat bahwa jumlah mereka tak banyak. Bukan hanya itu, anak([3]) dan istrinya([4]) pun bahkan menjadi orang yang justru melawan dan membangkang serta tidak menaatinya.

Kaumnya mendustakan dan melecehkan bahkan mengolok-oloknya. Anak dan istrinya justru menjadi penghalang dakwahnya bahkan mendurhakainya. Dan Nabi Nuh tak menghentikan dakwahnya. Meski sangat jelas bagaimana tersayatnya hati beliau saat melihat dengan mata kepala sendiri anaknya ditelan air, ”Hai bumi telanlah airmu, dan Hai langit (hujan) berhentilah, dan airpun disurutkan, perintahpun diselesaikan dan bahtera itupun berlabuh di atas bukit Judiy, dan dikatakan: “Binasalah orang-orang yang zalim”. Dan Nuh berseru kepada Tuhannya sambil berkata: Ya Tuhanku, Sesungguhnya anakku termasuk keluargaku, dan Sesungguhnya janji Engkau itulah yang benar. dan Engkau adalah hakim yang seadil-adilnya.” (QS. 11: 44-45)

Padahal, sebelum itu Nabi Nuh tak henti-hentinya memberikan kabar gembira berupa ampunan Allah dan rizki yang melimpah jika mereka mau mendengarkan dan mengikuti dakwahnya. ”Maka Aku katakan kepada mereka: Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya dia adalah Maha Pengampun. Niscaya dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat. Dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan menyediakan untukmu kebun-kebun serta menyediakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai”. (QS. 71: 10-12)

Berkenaan dengan istighfar ini, Rasulullah saw bersabda: ”Barang siapa senantiasa beristighfar Allah akan menjadikan setiap kesempitannya ada jalan keluar, dan setiap kesulitannya menjadi lapang serta diberi rizki di luar perkiraannya ([5]).

Dengan Dialog dan Bukan Dengan Doktrin

Nabi Nuh as dalam berdakwah tidaklah pernah memaksa, tidak juga menggunakan doktrin yang tidak masuk akal. Beliau berdakwah dengan penuh hikmah. Bahkan kaumnya diajak berdialog dengan membaca ayat-ayat kauniah Allah.

Mengapa kamu tidak percaya akan kebesaran Allah? Padahal dia sesungguhnya telah menciptakanmu dalam beberapa tingkatan kejadian. Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah menciptakan tujuh langit bertingkat-tingkat?Dan Allah menciptakan bulan sebagai cahaya dan menjadikan matahari sebagai pelita?Dan Allah menumbuhkan kamu dari tanah dengan sebaik-baiknya. Kemudian dia mengambalikan kamu ke dalam tanah dan mengeluarkanmu (ke hari kiamat) dengan sebenar-benarnya. Dan Allah menjadikan bumi untukmu sebagai hamparan. Supaya kamu menjalani jalan-jalan yang luas di bumi itu”. (QS. 71: 13-20)

Pertama, Nabi Nuh mengajak kaumnya untuk mengenal penciptaan manusia yang bertingkat-tingkat. Siapakah yang menjadikan hal tersebut. Dari setetes air mani yang mengandung sperma yang membuahi ovum kemudian berubah melalui berbagai fase hingga kemudian membentuk janin yang sempurna sampai kemudian keluar dari rahim ibunya. Siapa yang mampu menciptakan hal seperti itu.

Kedua, Alam sekeliling manusia. Langit, bintang dan jagad raya yang ada terhampar begitu luas. Tak ada yang tahu seberapa luasnya. Di mana batas-batasnya. Siapakah yang menciptakannya. Dan siapakah yang menjadikan bumi menghampar sebagai tempat hidup manusia yang bisa berjalan ke mana saja untuk menjemput rizki dan karunia Allah.

Tapi, nihil. Hati kaum Nabi Nuh benar-benar tertutup. Lebih keras dari batu. Maka Nabi Nuh pun mengeluhkan pada Allah, ”Nuh berdoa: Ya Tuhanku, tolonglah aku, karena mereka mendustakan aku” (QS. 23: 26)

Dalam surat ini Nabi Nuh lebih jelas berdoa, ”Nuh berkata: Ya Tuhanku, sesungguhnya mereka telah mendurhakaiku dan telah mengikuti orang-orang yang harta dan anak-anaknya tidak menambah kepadanya melainkan kerugian belaka., dan melakukan tipu-daya yang amat besar.” (QS. 71: 21-22)

Kukuh Dalam Kesalahan

Lihatlah bagaimana mereka bersikukuh pada ego mereka. Para pemuka kaum menyeru tak henti-henti pada semua orang. Anehnya perkataan mereka lebih didengar daripada perkataan Nabi Nuh as. Padahal mereka jelas-jelas menjerumuskan kepada kesesatan.

Dan mereka berkata: Jangan sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) tuhan-tuhan kamu dan jangan pula sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) wadd, dan jangan pula suwwa’, yaghuts, ya’uq dan nasr”. (QS. 71: 23)

Wadd, suwwa’, yaghuts, ya’uq dan nasr adalah nama-nama berhala yang mereka sembah. Imam Bukhary meriwayatkan perkataan sahabat Ibnu Abbas ra.,”Tuhan-tuhan mereka ini kemudian disembah orang-orang di semenanjung Arab . Wadd disembah kabilah al-Kalb yang bertempat di Daumah al-Jandal, Suwwa’ disembah oleh Hudzail, Yaghuts oleh Murad dan Bani Ghutaif, Ya’uq disembah Kabilah Hamdan serta Nasr disembah Kabilah Hamir di Yaman … ([6]). Dulunya mereka adalah orang-orang shalih yang baik yang kemudian dikultuskan secara berlebihan oleh orang-orang yang datang setelah mereka. Syaitan pun bermain di sana untuk menyesatkan manusia.

Dan sesudahnya mereka menyesatkan kebanyakan (manusia); dan janganlah Engkau tambahkan bagi orang-orang yang zalim itu selain kesesatan. Disebabkan kesalahan-kesalahan mereka, mereka ditenggelamkan lalu dimasukkan ke neraka. Maka mereka tidak mendapat penolong-penolong bagi mereka selain dari Allah”. (QS. 71: 24-25)

Karena itu, sebagai pamungkas Nabi Nuh memohon yang terbaik. Menyerahkan ketentuan kepada Allah. Supaya Allah menghukum mereka. ” Ya Tuhanku, janganlah Engkau biarkan seorangpun di antara orang-orang kafir itu tinggal di atas bumi. Sesungguhnya jika Engkau biarkan mereka tinggal, niscaya mereka akan menyesatkan hamba-hamba-Mu, dan mereka tidak akan melahirkan selain anak yang berbuat maksiat lagi sangat kafir.” (QS. 71: 26-27) Dan sebagaimana kita tahu, air pun melimpah dari segala arah. ”Maka kami bukakan pintu-pintu langit dengan (menurunkan) air yang tercurah. Dan kami jadikan bumi memancarkan mata air-mata air, maka bertemulah air-air itu untuk suatu urusan yang sungguh telah ditetapkan”. (QS. 54: 11-12)

Keluarga yang Dibanggakan

Namun, Nabi Nuh bersyukur karena beliau masih mendapati kedua orang tuanya mengimani risalahnya. Setidaknya ini menjadi obat kesedihan karena kehilangan istri dan anak kesayangannya. Sebagai gantinya kebahagiaan menyusupi relung hati beliau

Ya Tuhanku, ampunilah aku, ibu bapakku, orang yang masuk ke rumahku dalam keadaan beriman dan semua orang yang beriman laki-laki dan perempuan dan janganlah Engkau tambahkan bagi orang-orang yang zalim itu selain kebinasaan”. (QS. 71: 28)

Mungkin inilah keberkahan itu. Bahwa keberkahan usia manusia tidaklah semata dilihat dari panjangnya usia. Tidak juga diukur dengan standar manusia. Tak banyak yang memuji Nabi Nuh. Bahkan kebanyakan dari kaumnya mendurhakai dan mendustakannya. Karena itulah, tak heran bila Allah menyematkan penghargaan khusus kepadanya. Sebagai salah satu orang pilihan-Nya. Sebagai salah satu dari lima nabi-Nya yang diberi gelar ulul ’azmi minarrusul.

Senada dengan keberkahan usia ini, Ibnu Atha`illah as-Sakandary berpesan dalam kata-kata hikmahnya, ”Siapa yang diberkahi umurnya, maka dalam waktu singkat ia dapat meraih berbagai karunia Allah. Sebuah karunia yang sulit diungkapkan melalui kata-kata, dan tidak terjangkau lewat isyarat”kemudian beliau menyambungnya dengan penekanan keberkahan umur, ”Kadang umur seseorang panjang masanya tapi sedkit manfaatnya. Dan ada pula umur yang pendek masanya, namun penuh dengan manfaat ([7]).

Disamping itu Ibnu Katsir menyebut keberkahan dari sisi lain. Beliau sitir sebuah hadits Nabi saw. yang diriwayatkan dari Abu Sa’id al-Khudry, ”Jangan bersahabat kecuali dengan orang beriman, jangan kau biarkan seseorang memakan makananmu kecuali orang bertakwa” (HR. At-Turmudzi). Namun, Imam Turmudzi mengatakan hadits ini termasuk hadits gharib (aneh)([8]). Akan tetapi setidaknya hal ini menunjukkan bahwa dalam memilih sahabat dan teman dekat lebih diutamakan orang-orang yang bertakwa. Supaya kita bisa menjaga agama kita dan selalu ada yang mengingatkan.

Dan saat kita dikaruniai sebuah keluarga, marilah sama-sama kita mengajak mereka untuk lebih dekat kepada Allah. Karena Allah secara eksplisit memerintahkan kita untuk menjaga diri dari api neraka, juga keluarga dan famili kita. Hal itu berarti perintah untuk membimbing mereka. Untuk lebih dekat pula dengan al-Qur’an.  Niscaya dengan mengikuti petunjuknya keberkahan dan rahmat Allah akan diturunkan ([9]), ”Dan Al-Quran itu adalah Kitab yang kami turunkan yang diberkahi, Maka ikutilah dia dan bertakwalah agar kamu diberi rahmat”. (QS. 6:155)

Dengan tidak melupakan berkiprah sosial dan berdakwah di tengah masyarakat, keberkahan di tengah keluarga semoga Allah karuniakan juga. Ni’mal maula wa ni’mannashir.

—————————————————————————–

Disampaikan dalam Pengajian Shubuh Tadabbur al-Qur’an

Ainal Yaqin, Kalibata Selatan – Jaksel

Selasa, 3 Maret 2009


* Sebuah tadabur surat Nûh alaihissalâm: 71, Juz 29.

** Alumni Program S3 Jurusan Tafsir dan Ilmu-ilmu al-Qur’an, Universitas Al-Azhar, Cairo.

([1]) Imam Badruddin az-Zarkasyi, al-Burhan fi Ulumi al-Qur’an, Beirut: Darul Fikr, Cet. I, 1988 M/1408 H, Vol. I, hal. 249. Juga lihat: Prof. Dr. Jum’ah Ali Abd Qader, Ma’alim Suar al-Qur’an, Cairo: Universitas Al-Azhar, Cet.I, 2004M/1424H, Vol. 2, hal. 710

([2]) Ma’âny al-Qur’an karangan az-Zajjâj, Cairo: Dar al-Hadits, 2004 M/1424 H, Vol. V, hal. 178. lihat juga: tesis penulis, Kitab Lawami’ al-Burhan wa Qawathi’ al-Bayan fi-Ma’any al-Qur’an li al-Ma’iny, Dirasah wa Tahqiq, Cairo: Universitas Al-Azhar, 2006 M, Vol. II, hal. 712.

([3]) Anaknya bahkan dengan congkaknya tidak mau tunduk pada Nabi Nuh di detik-detik menjelang air menggulungnya. Seperti dikisahkan Allah dalam surat Hud ayat 42-43

([4]) Adapun istrinya dijadikan perumpamaan bagi orang-orang kafir (lihat surat at-Tahrim: 10)

([5]) Hadits dari Ibnu Abbas ra ini diriwayatkan oleh Abu Dawud, hadits nomer 1518 (Sunan Abu Dawud, Beirut: Darul Kutub al-Ilmiah, 2003 M/1424 H, hal. 247), juga oleh Ibnu Majah, hadits nomer 2819 (Sunan Ibnu Majah, Beirut: Darul Kutub al-Ilmiah, Cet. I, 2002 M/1423 H, hal 612)

([6]) Ibnu hajar al-Asqalany, Fathul Bâri bi Syarhi Shahih al-Bukhary, Cairo: Darul Hadits, Cet.I, 1998 M/1419 H, Vol.III, hal. 821. Juga Ibnu Katsir, Tasfir al-Qur’an al-’Azhim, Cairo: al-Maktabah al-Qayyimah, Vol. IV, hal. 552.

([7]) Ibnu Atha`illah as-Sakandary, Kitab Al-Hikam, (terj. Dr. Ismail Ba’adillah), Jakarta: Khatulistiwa Press. Cet.II, 2008, hal. 290, hikmah ke 221.

([8]) Ibnu Katsir, Tafsir al-Qur’an al-Azhim, Op.Cit, hal. 554.

([9]) Prof. Dr. Yusuf al-Qaradhawy, Kaifa Nata’amal ma’a al-Qur’an, Beirut: Darusysyuruq, Cet. I, 1999 M/1419 H, hal.13

Tadabbur QS. Al-Ma’arij

KEAGUNGAN TANPA BATAS*

Dr. Saiful Bahri, M.A**

Mukaddimah: Batas-Batas Ciptaan Allah

Surat Al-Ma’ârij diturunkan Allah setelah Surat Al-Hâqqah, juga seperti urutannya dalam mushaf usmany. Penamaan surat al-Ma’ârij diambil dari ayat ketiga yang memuat kata tersebut. Yaitu bentuk plural (jama’) dari al-mi’raj yang berarti tempat naik ([1]).

Allah pernah menidurkan Nabi Uzeir as. selama seratus tahun, tapi menurut perkiraan beliau hanya sehari atau beberapa hari ([2]). Demikian juga Ashabul Kahfi, pemuda-pemuda beriman yang tangguh di zaman kejayaan Romawi itu ditidurkan Allah selama 300 tahun penanggalan matahari atau sama dengan 309 tahun penanggalan bulan ([3]). Sebelumnya, mereka mengira bahwa mereka tertidur dalam gua selama setengah hari, sehari atau sehari semalam. Tapi di luar gua terjadi jutaan peristiwa. Lebih dari 40 Kaisar Romawi berganti memegang kekuasaan. Yang di dalam gua tiada mengetahui apa yang terjadi di luar gua. Yang di luar gua tiada sedikit pun tahu apa yang terjadi di dalam gua. Sehari bagi mereka sama dengan tiga ratus tahun bagi manusia di luar gua.

Allahlah yang menyetandarkan batasan waktu tersebut. Bahkan menghilangkan limit antara waktu dan peristiwa. Karena waktu merupakan salah satu makhluk ciptaan-Nya.

Ketika seorang kafir meminta diturunkan adzab yang bila datang ia tak kuasa menahannya. Allah yang akan menurunkannya. Lidah para rasul-Nya hanya sebagai penyambung risalah dari Tuhan mereka. Dialah yang mempunyai tempat naik (al-mi`raj). Malaikat-malaikat-Nya perlu waktu satu hari untuk sampai di sana yang kadarnya sama dengan limapuluh ribu tahun bagi manusia ([4]). Atau seribu tahun minimalnya bila kita hitung-hitung dengan perhitungan kita sebagai manusia ([5]).

Jarak antara Masjidil Haram (Makkah) dan Masjidil Aqsha (Al-Quds) berbilang bulan bila ditempuh dengan kendaraan unta. Hamba Allah, Muhammad bin Abdullah hanya dengan setengah malam menempuhnya atas titah-Nya. Itu belum dengan perjalanan lengkap ke tujuh langit dan sidratul muntaha yang juga memakan waktu setengah malam saja. Kemudian kembali ke tempat semula sebelum sang fajar menyingsing.

Saat itu, ribuan manusia terlelap dalam mimpi malam, tiada tahu apa yang terjadi. Kepergian anak yatim dari kaum mereka dalam perjalanan panjang yang singkat setelah dirundung duka dengan kepergian dua kekasihnya; Paman dan Istri tercinta. Allah karuniakan ketenangan kepadanya, sebagai pelipur lara. Sitar yang menjadi pembatas antara hakikat dan kehidupan manusia yang bernama waktu malam itu tak berlaku, telah dihilangkan penciptanya. Sehingga setengah malam saja sudah cukup untuk menempuh jarak yang setidaknya menurut perhitungan manusia, jutaan bahkan milyaran mil, bahkan jutaan tahun cahaya menurut takaran para ilmuwan.

Satu hari sama dengan 100 tahun. Satu hari sama dengan 300 tahun. Satu hari sama dengan 1000 tahun. Satu hari sama dengan 5000 tahun. Pembatas itu  hanya Allah saja yang mengetahui.

 

Kesabaran yang Baik

Pada ayat selanjutnya Allah memerintahkan “Maka bersabarlah kamu dengan sabar yang baik”. (QS. Al-Ma`arij: 5) Petuah ini tidaklah mengada-ada karena kesabaran manusia yang yakin akan kekuasaan Tuhannya merupakan penangkal kebiasaan dan sifat-sifat buruk berkeluh kesah lagi amat kikir (sebagaimana dijelaskan lebih lanjut pada ayat 19-21). Dan secara khusus, terutama bagi Nabi Muhammad dan para pengikutnya yang tak henti-henti menerima tekanan dan teror fisik dan psikis dari kaum kuffar Quraisy. Itulah bedanya, beda sudut pandang antara orang yang beriman dan kaum pembangkang. Yaitu anggapan tentang jeda waktu yang diberikan pada manusia. Tentang azab bagi mereka yang memintanya sendiri. Atau tentang kemenangan dan janji Allah untuk orang-orang yang mau mengimaninya.

“Sesungguhnya mereka memandang siksaan itu jauh (mustahil). Sedangkan Kami memandangnya dekat (pasti terjadi)”.(QS. Al-Ma`arij:6-7)

Karena Allah sajalah yang membuat limit waktu tersebut bahkan menghilangkannya. Sedang manusia dengan segala keterbatasannya terikat oleh limit kehidupan bernama waktu.

Hari yang pasti itu tergambar jelas di mata orang-orang bertakwa. Bahkan ketakutan mereka melebihi orang-orang yang seharusnya lebih takut akan hari kebinasaan itu.

Pada hari ketika langit menjadi seperti luluhan perak. Dan gunung-gunung menjadi seperti bulu (berterbangan). Dan tak ada seorang teman akrabpun menanyakan temannya. Sedang mereka saling memandang. Orang kafir ingin kalau sekiranya dia dapat menebus (dirinya) dari azab hari itu dengan anak-anaknya. Dan isterinya serta saudaranya, juga familinya yang melindunginya (di dunia). Dan orang-orang di atas bumi seluruhnya kemudian (mengharapkan) tebusan itu dapat menyelamatkannya”. (QS. Al-Ma’ârij:8-14)

Guratan sesal yang nyata. Bagi orang-orang yang mendustakannya, bahkan menganjurkan orang-orang untuk tidak mempercayainya.

Nantinya, setelah semuanya dihisab dan ditentukan tempat akhirnya, mereka masih terus berharap ada tebusan yang bisa menghindarkan mereka dari kemurkaan Allah. Atau setidaknya dapat mengurangi siksaan yang akan mereka dapatkan sebagai pembalasan perbuatan buruk mereka.

Sekali-kali tidak dapat, Sesungguhnya neraka itu adalah api yang bergolak. Yang mengelupas kulit kepala. Yang memanggil orang yang membelakangi dan yang berpaling (dari agama). Serta mengumpulkan (harta benda) lalu menyimpannya”. (QS. Al-Ma’ârij: 15-18)

Mengobati Sifat-Sifat Buruk Manusia

Manusia, sebagai makhluk yang dipercaya Allah untuk mengelola bumi-Nya, selain dibekali keistimewaan ia pun memiliki kekurangan yang tidak sedikit. Kekurangan-kekurangan ini dimaksudkan supaya manusia tak merasa sombong dan takabbur. Dan lebih penting dari itu, ia akan senantiasa merasa perlu kepada Allah sehingga bisa merasakan kebesaran dan kasih sayang-Nya serta pengampunan-Nya yang maha luas.

Dalam surat ini dua sifat yang disoroti Allah; kikir ([6]) dan suka berkeluh kesah.

Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir. Apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah. Dan apabila ia mendapat kebaikan ia amat kikir”. (QS. Al-Ma’ârij: 19-21)

Penyakit yang secara spesifik ini diterjemahkan melalui sabda Rasul saw yang diriwayatkan Abu Hurairah ra, ”Kejelekan yang ada dalam diri seseorang: kikir yang mencekik dan jiwa pengecut” (HR. Abu Dawud) ([7]). Meskipun sebenarnya kecintaan terhadap harta adalah fitrah. Tapi jika berlebihan akan menjelma menjadi egoisme yang berlebihan dan ia akan cenderung berpikir bagaimana memperkaya diri sendiri, kemudian menjadi tidak peka terhadap lingkungannya ([8]).

Tapi Allah Maha Asih dan Sayang. Pada ayat selanjutnya, penyakit kronis di atas bisa diobati dengan terapi praktis. Setidaknya ada enam cara untuk mengobati dua penyakit kejiwaan yang sering menimpa kita selama ini.

Pertama, menjaga konsistensi dalam melaksanakan ibadah shalat

Kecuali orang-orang yang mengerjakan shalat. Yang mereka itu tetap mengerjakan shalatnya”. (QS. Al-Ma’arij: 22-23).

Shalat merupakan mi’raj orang beriman, seperti tutur Nabi Muhammad dalam salah satu sabdanya. Karena itu saat Usman bin Affan ra. terkepung, menjelang syahidnya terbunuh oleh para pemberontak, dengan tenang beliau pun melaksanakan shalat dengan penuh kepasrahan. Imam al-Bukhary merekam perkataan beliau seperti yang diriwayatkan Ubaidillah bin ’Adiy,”Shalat adalah sesuatu yang terbaik yang dikerjakan manusia. Jika mereka berbuat baik padamu maka berbuat baiklah pada mereka. Jika mereka memperlakukanmu dengan buruk, maka jauhkanlah dirimu untuk menyakiti mereka ([9]). Dengan menjaga konsistensinya akan membuat hati ini menjadi stabil, mendidik disiplin dan teratur serta detil dalam merencanakan sesuatu.

Khusus masalah shalat ini Allah mengulanginya lagi dalam surat ini dalam ayat ke-34. Ini menandakan pentingnya posisi shalat. Dan jika dilakukan dengan benar akan membuat hidup seseorang menjadi baik, bahkan ia akan mampu meraih kebahagiaan dan kesuksesan. Seperti disitir Allah di permulaan surat al-Mu`minûn. ”Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyu’ dalam shalatnya”. (QS. Al-Mu`minûn: 1-2)

Imam Muhammad bin Husein al-Ma’iny ([10]) memiliki penafsiran bahwa orang yang mampu menjaga shalatnya sepanjang waktu, melaksanakan rukun-rukunnya dengan khusyu’ dan disertai dengan pengharapan yang tinggi pada Allah ([11]), orang yang demikian akan mudah melepaskan dirinya dari sifat kikir dan suka mengeluh.

Kedua, suka dan rela mendermakan harta untuk orang-orang yang membutuhkan

Baik mereka meminta atau orang fakir yang iffah, yang tak mau meminta-minta meskipun mereka sangat membutuhkan pertolongan.

Dan orang-orang yang dalam hartanya tersedia bagian tertentu. Bagi orang (miskin) yang meminta dan orang yang tidak mempunyai apa-apa (yang tidak mau meminta)”. (QS. Al-Ma’ârij: 24-25)

Sebelumnya Allah juga menyebut ”as-sâ`il wa al-mahrûm” dalam ayat 19, surat adz-Dzâriyât. Orang-orang yang dermawan, menyediakan dan meluangkan waktunya serta harta yang diberikan Allah padanya berbagi dengan kaum dhu’afa. Jika mereka meminta dan kita tahu dia sangat membutuhkan bantuan, maka selayaknya kita membantunya. Sahabat Husein bin Ali ra meriwayatka hadits Rasulullah saw,”Bagi seorang peminta hak (untuk ditolong) meskipun dia datang dengan mengendarai kuda” (HR. Abu Dawud dari Sufyan Ats-Tsaury) ([12]). Apalagi orang-orang fakir yang kita tahu ia sangat perlu bantuan, meskipun lidahnya tak mengucapkan satu kata pun. Kita sangat perlu dan wajib mengulurkan bantuan padanya.

Ketiga, mempercayai dan meyakini adanya hari pembalasan

Dan orang-orang yang mempercayai hari pembalasan”. (QS. Al-Ma’ârij: 26)

Dengan meyakini adanya hari pembalasan seseorang akan mudah mengikis penyakit kikirnya, juga dia akan berusaha meninggalkan keluh kesah setiap ditimpa sesuatu yang kurang mengenakkan jiwanya. Dia yakin itu adaalah cobaan dari Allah, maka lebih baik ia bersabar dan mendapatkan ganjaran yang tak terhitung. Minimalnya hatinya takkan lelah terbebani.

Keempat, menjaga kehormatan

Dan orang-orang yang memelihara kemaluannya. Kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak-budak yang mereka miliki, maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela”. (QS. Al-Ma’ârij: 26)

Karena kelak setiap manusia akan mempertanggungjawabkannya di hadapan Allah. Dan karena di balik perintah ini ada banyak hikmah. Di antaranya, menjaga nasab dan keturunan supaya tidak tercampur. Sehingga kehidupan sosial manusia akan baik, seimbang dan tertata bagus.

Kelima, menjaga amanat

Dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat (yang dipikulnya) dan janjinya”. (QS. Al-Ma’ârij: 26)

Betapa sulit saat ini menemukan orang yang mau menjaga amanah. Justru, yang terjadi kebanyakan orang berlomba mencari kekuasaan, tanpa menyadari hal itu merupakan amanah yang harus dipertanggungjawabkan, kelak. Maka yang terjadi mereka kemudian mengkhianati amanah tersebut. Cenderung menggunakannya sebagai jalan untuk memperkaya diri dan memuaskan syahwat kekuasaan serta popularitas. Selain itu, semakin sulit baginya untuk menepati janji dan komitmennya pada orang lain, masyarakat yang mempercayainya.

Keenam, menyampaikan persaksian yang benar

Dan orang-orang yang memberikan kesaksiannya”.(QS. Al-Ma’ârij: 33)

Memberikan persaksian palsu merupakan salah satu dosa besar yang dibenci dan murkai Allah. Sayangnya, hal ini seolah menjadi sesuatu yang lumrah bila kita perhatikan dalam banyak kasus persidangan yang ada di negeri kita. Terutama dalam kasus-kasus penyuapan dan korupsi serta segala sesuatu yang berhubungan dan berada dalam lingkaran harta dan kekuasaan.

Ejekan-Ejekan Kebodohan

Saat Nabi Muhammad saw memberikan taushiyah tentang syurga dan menjanjikannya untuk orang-orang yang mau beriman dan bersabar menghadapi teror orang-orang kafir Makkah. Justru kuffar Makkah mengejek dan mengolok-olok dengan mengatakan, merekalah yang akan merasakan syurga terlebih dahulu. Di dunia saja –seperti anggapan mereka- harta mereka melimpah dan hidup mereka serba tercukupi secara berlebihan . Maka Allah pun menurunkan jawaban dari ejekan tersebut ([13]).

Adakah setiap orang dari orang-orang kafir itu ingin masuk ke syurga yang penuh kenikmatan? Sekali-kali tidak! Sesungguhnya kami ciptakan mereka dari apa yang mereka ketahui (air mani)”. (QS. Al-Ma’ârij: 38-39)

Kebodohan yang mereka lakukan itu  tak lain karena hati mereka telah tersumbat oleh kedengkian dan kesombongan yang berlebihan, serta gengsi sosial yang mereka pertahankan. Meskipun sebenarnya hati nurani mereka mengakui kebenaran yang dibawa Nabi Muhammad saw.

 

Saatnya Kembali Mengenali Diri Sendiri

Kembali ke dua penyakit dasar manusia, kikir dan suka mengeluh.  Dua penangkal pertama merupakan terapi canggih, selain empat hal yang melengkapinya setelah itu.

Shalat yang dikerjakan secara tetap diiringi kualitas yang tinggi (kepasrahan dan khusyu’). Kemudian sadaqah yang dihiasi kualitas keikhlasan dan kesadaran serta rasa tawadhu`. Keduanya berada dalam bingkai `kebutuhan` bukan kebiasaan. Karena kebiasaan manusia kadang mengalami perubahan bersama pembatas hidup yang bernama waktu. Namun, kebutuhan bila ditinggalkan akan berakibat ketimpangan. Setidaknya keseimbangan dan kontrol kehidupan manusia menjadi terganggu.

Seseorang bila menganggap shalat atau shadaqah merupakan sebuah kebiasaan lambat-laun ia akan kehilangan rasa `nikmat`nya. Hanya sekedar rutinitas saja. Bila ditinggalkannya, ia takkan merasakan kecuali hanya mengurangi sebuah kebiasaan. Namun, bila keduanya dijadikan sebuah kebutuhan, maka bila ia meninggalkannya merupakan sebuah bencana yang akan berpengaruh bagi keseimbangan hidupnya. Dan karena ia telah sangat merasakan kenikmatan mi`raj bersama Tuhannya. Kenikmatan menjadi distributor rizki Ar-Razzaq bagi hamba-hamba-Nya yang lemah, sebagai refleksi rasa syukur yang dalam. Karena itu ia memiliki empati yang tinggi.

Setelah itu, akankah ia masih berkeluh kesah? Dari apa? Ia telah menemukan segalanya. Barang siapa menemukan Allah akan menemukan segalanya. Barang siapa kehilangan Allah akan kehilangan segalanya termasuk dirinya sendiri dan akan senantiasa berkeluh kesah.

Ibnu Atha`illah as-Sakandary ([14]) berkata, ”Jangan engkau merasa heran atas terjadinya kesulitan selama engkau berada di dunia, sebab memang begitulah yang patut terjadi dan menadi karakter asli dunia ([15]). Maka, seorang mukmin akan menyikapinya dengan bersabar. Senada dengan pesan Umar bin Khattab, ”Bila engkau bersabar, maka hukum Allah tetap berlaku dan engkau mendapatkan pahala atasnya. Namun, bila engkau tak bersabar, maka ketentuan Allah tetap berlaku dan engkau berdosa karenanya”.

Setelah itu akankah ia masih teramat kikir? Demi dan untuk apa? Ia telah merasakan tenangnya kehidupan di bawah naungan ridho-Nya. Ia sangat menyayangi kaum lemah dan miskin. Ia sangat cemas bila tiada lagi seseorang yang mau menerima shadaqahnya. Syukurnya dibalas Allah dengan berlipat kebahagiaan yang tak terhitung nominal materi. Satu juta, seratus juta, satu milyar, jutaan milyar; ketenangan dari langit itu tak ada yang menjualnya. Karunia kebahagiaan tersebut merupakan balasan cuma-cuma  bagi mereka yang ikhlas dalam syukurnya.

Terlebih kemudian ia lengkapi dengan keyakinan hari pembalasan. Cara pandang dekatnya `hari pasti` tersebut dapat menyadarkan manusia akan kedatangannya sewaktu-waktu bahkan sampai ia sendiri tidak –sama sekali- memperkirakannya. Sedang bagi mereka yang menganggapnya jauh akan cenderung santai dan berbuat semaunya. Padahal Allah telah mengatakan “Aku takkan mengumpulkan dua ketakutan dan dua ketenangan dalam diri hamba-Ku. Jika ia takut kepada-Ku di dunia maka ia akan tenang kelak di akhirat. Dan jika ia merasa tenang di dunia maka kelak ia akan ketakutan di akhirat” (al-hadits al-qudsy). WalLâhu al-Musta’ân.

—————————————————————————–

Disampaikan dalam Pengajian Shubuh Tadabbur al-Qur’an

Ainal Yaqin, Kalibata Selatan Jaksel

Selasa, 24 Pebruari 2009


* Sebuah tadabur surat al-Ma’ârij (Tempat-Tempat Naik: 70), Juz 29.

** Alumni Program S3 Jurusan Tafsir dan Ilmu-ilmu al-Qur’an, Universitas Al-Azhar, Cairo.

([1]) Prof. Dr. Jum’ah Ali Abd Qader, Ma’alim Suar al-Qur’an, Cairo: Universitas Al-Azhar, Cet.I, 2004M/1424H, Vol. 2, hal. 697

([2]) seperti dikisahkan Allah dalam surat al-Baqarah ayat 259

([3]) lihat (QS. al-Kahfi: 25)

([4]) lihat (QS. Al-Ma’arij: 04)

([5]) lihat (QS. As-Sajdah: 05)

([6]) kikir bisa diartikan terlambat menyukuri nikmat atau tidak mau menyukurinya sama sekali. Biasanya karena takut kehilangan nikmat atau tak ingin orang lain mengetahuinya. Hal ini karena ia merasa memilikinya. (akar katanya bisa dilihat dalam Kamus Lisanul Arab, karya Ibnu Manzhur, Cairo: Darul Hadits, Cet.I, 2003 M/1423 H, Vol. VIII, hal. 528)

([7]) Imam Ibnu Katsir, Tasfir al-Qur’an al-’Azhim, Cairo: al-Maktabah al-Qayyimah, Vol. IV, hal. 546

([8]) Prof. Dr. Yusuf al-Qaradhawy, al-`Imân wa al-Hayâh, Cairo: Maktabah Wahbah, 2007 M/1428 H, hal. 234. Selain itu bisa dilihat dalam surat al-Isrâ` ayat 100 dan surat an-Nisâ` ayat 128.

([9]) Ibnu Hajar al-’Asqalany, Fathul Bâri bi Syarhi Shahih al-Bukhary, Cairo: Darul Hadits, Cet.I, 1998 M/1419 H, Vol.II, hal. 232

([10]) Seorang shufi, pakar bahasa dan ahli fikih dari Naisaburi (Asia Tengah) yang wafat pada tahun 537 H.

([11]) Tesis penulis, Kitab Lawami’ al-Burhan wa Qawathi’ al-Bayan fi-Ma’any al-Qur’an, Cairo: Universitas Al-Azhar, 2006 M, Vol.II, hal. 707

([12]) Imam Ibnu Katsir, Tasfir al-Qur’an al-’Azhim, Op.Cit, Vol. IV, hal. 300

([13]) Al-Qur’an dan Terjemahnya, Madinah: Majma’ Malik al-Fahd li Thiba’ati al-Mushaf asy-Syarif, 1415 H, hal 975, catatan kaki 1515.

([14]) Seorang alim dari Mesir, kelahiran Alexandria tahun 1250 M/ 648 H. Beliau menulis buku lebih dari 20 karya. Dan Kitab al-Hikam adalah pesan-pesan penuh hikmah yang menjadi magnum opusnya, sebuah karya monumental yang dibaca dan diterjemahkan ke dalam banyak bahasa.

([15]) Ibnu Atha`illah as-Sakandary, Kitab Al-Hikam, (terj. Dr. Ismail Ba’adillah), Jakarta: Khatulistiwa Press. Cet.II, 2008, hal. 36

Tadabbur QS. al-Haqqah

KEPASTIAN UNTUK PARA PENDUSTA*

Dr. Saiful Bahri, M.A**

Mukaddimah: Benar-Benar Akan Terjadi

Surat Al-Hâqqah termasuk surat makkiyah yang diturunkan di Makkah, tak lama setelah Surat al-Mulk. Al-Hâqqah ([1]) salah satu nama hari kiamat yang artinya hari yang benar-benar pasti terjadi. Merupakan bentuk subyek dari kata ”haqqa ([2]). Ada beberapa nama hari kiamat yang lain, di antaranya:  Al-Waqi’ah (yang pasti terjadi), as-Sâ’ah (yang sudah ditentukan), al-Qâri’ah (yang menggetarkan hati), al-Qiyâmah dan al-Ba’ts (hari kebangkitan), at-Taghâbun (ditampakkan amal-amal manusia) dan lain-lain.

Tema utama surat ini adalah menguatkan keimanan terhadap hari kiamat dan adanya hari pembalasan serta pengukuhan al-Qur’an sebagai wahyu dari Allah, bukan karangan Nabi Muhammad saw. Sekaligus difungsikan sebagai pedoman hidup bagi manusia yang mau mengikuti petunjuk-Nya ([3]).

Dalam surat ini nama Al-Hâqqah, al-Qâri’ah dan al-Wâqi’ah disebut secara berurutan. Penyebutan Al-Hâqqah dan al-Wâqi’ah yang artinya berdekatan untuk merasakan suasana hari kiamat. Yang pertama disebut dua kali untuk menimbulkan rasa ingin tahu. Dan dalam pengisahan orang-orang terdahulu disebut al-Qari’ah untuk menimbulkan efek psikis yang dikiaskan secara bertingkat. Mereka yang mendustakan para utusan Allah dibinasakan di dunia dengan adzab yang mengerikan. Tapi itu tak seberapa bila dibandingkan dengan ngeri dan dahsyatnya hari kiamat. Maka konteks hal tersebut sangat menggetarkan hati([4]). Kalau Ath-Thariq (bukan nama surat) asal katanya ­tharaqa  secara bahasa berarti mengetuk (dengan ketukan kecil), tapi al-Qâri’ah asal katanya qara’a (artinya mengetuk atau melubangi). Dalam bahasa keseharian lebih sering digunakan tharaqa. Karena qara’a bisa juga diartikan ketukan yang menakutkan, mengejutkan atau membuat cemas.

Hari kiamat. Apakah hari kiamat itu? Dan tahukah kamu apakah hari kiamat itu?” (QS. 69: 1-3)

Cara pengambaran seperti ini sering digunakan sebagai mukaddimah sebuah pemberitahuan Allah untuk hal-hal yang ghaib yang akan dikabarkan Allah pada Nabi Muhammad saw, juga kaum mukminin secara umum.

Bila kita lihat struktur surat al-Hâqqah, mugkin kita berpikiran seharusnya ayat ke-13 diletakkan langsung setelah tiga ayat pertama sebagai jawabannya. Namun, justru Allah memilih mengisahkan terlebih dahulu nasib dan kesudahan yang dialami kaum terdahulu yang mendustakan para utusannya. Juga mendustakan adanya hari kiamat, hari kebangkitan dan pembalasan. Pelajaran apa yang bisa kita petik dari penceritaan Allah tersebut.

Kaum Ad, Tsamud, Fir’aun dan tentaranya, serta para pendusta sebelum mereka seperti kaum Nabi Nuh as. Allah meminta kita membayangkan sejenak bagaimana adzab dunia yang mereka terima.

Adapun kaum Tsamud, Maka mereka telah dibinasakan dengan kejadian yang luar biasa”. (QS. 69: 5). At-Thaghiyah adalah sesuatu yang luar biasa, di luar yang dibayangkan manusia. Asal katanya thaghâ (melampaui batas normal). Allah menghukum kaum Nabi Shalih as. ini dengan petir yang menyambar dan suara yang sangat memekakkan telinga dan menghancurkan apa saja.

Adapun kaum ‘Ad Maka mereka telah dibinasakan dengan angin yang sangat dingin lagi amat kencang.  Yang Allah menimpakan angin itu kepada mereka selama tujuh malam dan delapan hari terus menerus; Maka kamu lihat kaum ‘Ad pada waktu itu mati bergelimpangan seakan-akan mereka tunggul pohon kurma yang telah kosong (lapuk). Maka kamu tidak melihat seorang pun yang tinggal di antara mereka”. (QS. 69: 6-8)

Allah pun menyebutkan akhir yang naas bagi Fir’aun dan kaum-kaum sebelumnya yang mendustakan utusan-Nya.

Dan telah datang Fir’aun dan orang-orang yang sebelumnya dan (penduduk) negeri-negeri yang dijungkirbalikkan karena kesalahan yang besar” (QS. 69:9). Ibnu katsir mengartikannya secara umum: kaum-kaum terdahulu yang dimusnahkan Allah karena pendustaan yang mereka lakukan ([5]). Tapi beberapa mufassirin mengartikannya secara spesifik; yaitu kaumnya Nabi Luth ([6]). Kata yang dipilih Allah juga berbeda. ”al-khâti`ah” yaitu kesalahan fatal, yang dilakukan dengan sengaja tanpa ada niat untuk memperbaiki. Subjek (pelakunya) disebut dengan ”khâti`ûn([7]). Berbeda dengan kesalahan secara umum ”khata`” yang subjeknya ”mukhti`un” adalah orang yang berbuat salah tanpa unsur kesengajaan, atau dengan sengaja tapi karena lalai, atau kemudian disertai keinginan untuk memperbaiki/bertaubat. Maka kepada mereka ditimpakan hukuman dan adzab yang sangat dahsyat dan bermacam-macam.

Sangkakala Kehancuran

Maka tatkala sangkakala ditiup oleh malaikat. Mulailah hari kehancuran itu. Hari itu lebih dahsyat dari hari-hari buruk yang menimpa kaum ‘Ad, Tsamud, kaum Nabi Nuh dan Luth, Kaum Madyan, Fir’aun. Hari kiamat yang lebih mengerikan.

Maka apabila sangkakala ditiup sekali tiup. Dan diangkatlah bumi dan gunung-gunung, lalu dibenturkan keduanya sekali bentur”. (QS. 69: 13-14) Sekali bentur saja sudah membuat bumi ini berkeping-keping. Dan langit yang selama ini menjadi atap terbelah, kemudian runtuh. Dan hari kehancuran itu membuat orang-orang hamil langsung melahirkan. Orang-orang lari mencari perlindungan, namun mereka takkan mampu mencari tempat persembunyian. Masing-masing memikirkan keselamatan dirinya. Sehingga tak ada lagi saling kenal, bahkan ibu dan anaknya, juga diantara sesama saudara dan famili.

Pada hari itu kamu dihadapkan (kepada Tuhanmu), tiada sesuatupun dari keadaanmu yang tersembunyi (bagi Allah)”. (QS. 69: 18)

Mau bersembunyi di mana? Apa yang mereka sembunyikan. Setelah hari kehancuran itu, kemudian Allah membangkitkan semua manusia untuk mempertanggungjawabkan tingkah lakunya selama di dunia.

Adapun orang-orang yang diberikan kepadanya kitabnya dari sebelah kanannya, maka dia berkata: “Ambillah, Bacalah kitabku (ini)”. Sesungguhnya aku yakin, bahwa sesungguhnya aku akan menemui hisab terhadap diriku.  Maka orang itu berada dalam kehidupan yang diridhai. Dalam syurga yang tinggi, buah-buahannya dekat. (kepada mereka dikatakan): “Makan dan minumlah dengan sedap disebabkan amal yang telah kamu kerjakan pada hari-hari yang telah lalu””. (QS. 69: 19-24)

Balasan yang baik untuk pelaku kebaikan. Hari itu muka mereka berseri-seri, bahagia dan bangga. Karenanya mereka bangga dengan catatan amal dan prestasi mereka. Karena Allah menyematkan penghargaan tersebut di depan banyak manusia dan disaksikan para malaikatnya.

Ketika para malaikat juga orang-orang menanyai mereka mereka pun tak segan membuka rahasia keberhasilan ini. ”Sesungguhnya aku yakin, bahwa sesungguhnya aku akan menemui hisab terhadap diriku”. Keyakinan inilah yang kemudian membawa mereka konsisten sepanjang hidup untuk memelihara stabilitas dan kualitas keimanan serta ketakwaan mereka.

Sebaliknya, ”adapun orang yang diberikan kepadanya kitabnya dari sebelah kirinya, maka dia berkata: “Wahai alangkah baiknya kiranya tidak diberikan kepadaku kitabku (ini). Dan aku tidak mengetahui apa hisab terhadap diriku. Wahai kiranya kematian itulah yang menyelesaikan segala sesuatu. Hartaku sekali-kali tidak memberi manfaat kepadaku. telah hilang kekuasaanku daripadaku.” (QS. 69: 25-29)

Sebuah prediksi yang salah. Jika pada saat mereka di dunia, harta dan kekuasaan sangat mereka banggakan. Tapi keduanya tak lagi mendatangkan manfaat saat hari penghitungan amal dilakukan. Akibatnya mereka pun menanggung malu yang luar biasa saat buku catatan amal dibagikan. Apalagi mereka menerimanya dengan tangan kiri, atau bahkan dilempar. Keduanya merupakan pertanda yang tidak baik. Bahkan buruk kesudahannya. Bahkan mereka berharap cepat mati dan takkan dibangkitkan lagi ([8]). Kata al-qâdhiyah adalah kematian atau kemusnahan yang tidak ada kehidupan lagi sesudahnya. Padahal ketika di dunia mereka berharap untuk hidup selamanya dan sangat takut dengan kematian.

Peganglah dia lalu belenggulah tangannya ke lehernya. Kemudian masukkanlah dia ke dalam api neraka yang menyala-nyala. Kemudian belitlah dia dengan rantai yang panjangnya tujuh puluh hasta”. (QS. 69: 29-32)

Khusus penyebutan kata ”70 hasta”, Ibnu Abbas memiliki penakwilan. Bagi orang arab ketika mengambarkan jumlah yang banyak dengan bilangan 70. Sedangkan Abu Hayyan mengatakan, bilangan tersebut bisa saja benar seperti itu, atau hasta malaikat atau hanya sekedar untuk mubalaghah seperti yang dikatakan Ibnu Abbas ([9]).

Selama di dunia mereka telah melakukan dua buah jenis ”khati`ah”. Satu kesalahan terhadap Allah dengan mendustakan-Nya. Dan satu lagi kesalahan terhadap sesamanya. Bakhil dan menyebarkan kebakhilan.

Sesungguhnya dia dahulu tidak beriman kepada Allah yang Maha Besar. Dan juga dia tidak mendorong (orang lain) untuk memberi makan orang miskin”. (QS. 69: 33-34)

Orang yang tak beriman pada Allah segala amal kebaikannya yang lain pun akan menjadi sia-sia. Demikian sebaliknya, orang yang mengaku beriman pada Allah tapi perilaku sosialnya sangat buruk, seperti menyakiti dan tidak menolong kaum fakir miskin, maka sama saja seperti orang munafik yang mendustai keyakinannya dengan berpura-pura.

Maka orang yang ideal adalah orang yang menggabungkan kedua unsur kebaikan di atas, yaitu kebaikan vertikal ( hablum minalLâh), dan kebaikan horizontal (hablum minannâs).

Al- Qur’an Sebagai Wahyu dan Pedoman Hidup

Untuk sebuah pengukuhan, tidak tanggung-tanggung Allah bersumpah dengan segala ciptaan-Nya yang ada. Baik yang bisa dilihat manusia ataupun yang tidak nampak oleh kasad mata.

Maka Aku bersumpah dengan apa yang kamu lihat, dan dengan apa yang tidak kamu lihat. Sesungguhnya Al Quran itu adalah benar-benar wahyu (Allah yang diturunkan kepada) Rasul yang mulia”. (QS. 69: 38-39)

Imam Ahmad bin Hanbal meriwayatkan kisah Umar bin Khattab ketika sedang mengintai Nabi Muhammad yang sedang shalat di depan ka’bah ([10]). Saat beliau membaca al-Qur’an Umar membatin ini adalah perkataan seorang penyair. Nabi Muhammad membaca ayat ke-41.

Dan Al Quran itu bukanlah perkataan seorang penyair. sedikit sekali kamu beriman kepadanya”.

Umar tersentak. Kemudian dia berpikir Muhammad adalah tukang tenung yang tahu pikiran manusia. Nabi Muhammad melanjutkan ayat berikutnya.

Dan bukan pula perkataan tukang tenung. sedikit sekali kamu mengambil pelajaran daripadanya”.

Umar terdiam. Benih-benih hidayah mulai bersemai dalam hatinya. Dan akhirnya kita mengetahui kisah keislamannya setelah sebelumnya menggerebek kediaman adiknya, Fatimah yang sedang belajar al-Qur’an dan Umar kemudian menangis setelah Fatimah membacakan surat Thâha.

Karena memang, ”Ia adalah wahyu yang diturunkan dari Tuhan semesta alam”. (QS. 69: 43) dan wahyu tersebut merupakan pedoman bagi para manusia. Bahkan, Allah pun memberi ancaman jika Nabi Muhammad mengada-ada dan mengatakan apa yang bukan diwahyukan Allah sebagai wahyu-Nya. ”Seandainya dia (Muhammad) mengadakan sebagian perkataan atas (nama) kami. Niscaya benar-benar kami pegang dia pada tangan kanannya. Kemudian benar-benar kami potong urat tali jantungnya”. (QS. 69: 44-46)

Dan hanya orang yang mendapat hidayah saja yang mampu menjadikan al-Qur’an sebagai pedoman hidupnya. ”Dan Sesungguhnya Al Quran itu benar-benar suatu pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa”. (QS.69: 48). Allah juga Maha Tahu bahwa pasti selalu ada di antara makhluk-Nya yang mendustakan risalah-Nya. Tapi kelak semua itu berujung penyesalan yang tak tergambarkan. ”Dan Sesungguhnya kami benar-benar mengetahui bahwa di antara kamu ada orang yang mendustakan(nya). Dan Sesungguhnya Al Quran itu benar-benar menjadi penyesalan bagi orang-orang kafir (di akhirat)”. (QS. 69: 49-50)

Penutup: Bertasbihlah; Raihlah Prestasi

Kembali Allah mengingatkan kita untuk bertasbih kepada-Nya di akhir surat ini. ”Maka bertasbihlah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Maha besar”. (QS. 69: 52). Karena tasbih sebagai bentuk pengakuan terhadap kebesaran Allah yang menurunkan Al-Qur’an sekaligus sebagai penyucian diri dari kealpaan, kelalaian dan akan semakin menjadikan Allah bersimpati dan menyayangi kita.

Semoga kita dapat menjadikan al-Qur’an sebagai pedoman dan pelajaran sehingga hidup kita makin terarah mendekat kepada ridho dan cinta-Nya. Amin.

—————————————————————————-

Disampaikan dalam Pengajian Shubuh Tadabbur al-Qur’an

Ainal Yaqin, Kalibata Selatan – Jaksel

Selasa, 17 Pebruari 2009


* Sebuah tadabur surat al-Hâqqah (Hari Kiamat: 69), Juz 29.

** Alumni Program S3 Jurusan Tafsir dan Ilmu-ilmu al-Qur’an, Universitas Al-Azhar, Cairo.

([1]) kata al-Hâqqah hanya disebut tiga kali dalam surat ini saja (lihat: Prof. Dr. Jum’ah Ali Abd Qader, Ma’alim Suar al-Qur”an, Cairo: Universitas Al-Azhar, Cet.I, 2004M/1424H, Vol. 2, hal. 695)

([2]) Sebagaimana disebutkan Imam Ibnu Jarir ath-Thabary dalam tafsirnya Jâmi’u al-Bayân, Beirut: Dar Ihya Turats al-Araby, Vol. XXIV, hal. 58. Juga disebut oleh Imam al-Qurthuby (al-Jami’ li Ahkami al-Qur’an, Cairo: Darul Hadits, Vol. IX, hal.468)

([3]) Syiekh Muhammad Ali ash-Shabuny, Ijazu al-Bayan fi Suar al-Qur’an, Cairo: Dar Ali ash-Shabuny, 1986 M/1406 H, hal 257-258

([4]) sebagaimana pendapat Ibnu Abbas, dan muridnya Qatadah (lihat: Imam al-Baghawy, Ma’alim at-Tanzil, Cairo: Dar al-Kutub al-Ilmiah, Cet.I, 2004 M/1424 H, Vil. IV, hal.355)

([5]) Imam Ibnu Katsir, Tasfir al-Qur’an al-’Azhim, Cairo: al-Maktabah al-Qayyimah, Vol.IV, hal. 535

([6]) Seperti pendapat Imam Ath-Thabary, al-Wahidy, al-Baghawy, al-Qurthuby, dan al-Alusy (lihat: tesis penulis, Kitab Lawami’ al-Burhan wa Qawathi’ al-Bayan fi-Ma’any al-Qur’an, Cairo: Universitas Al-Azhar, Vol. II, hal. 695)

([7]) Lihat ayat 37 (Surat al-Hâqqah)

([8]) lihatlah harapan mereka yang direkam Allah dalam ayat 27.

([9]) Abu Hayyan Muhammad bin Yusuf, Tasfir al-Bahr al-Muhith, Beirut: Darul Kutub al-Ilmiyah, Cet.I, 2001 M/1422 H, Vol.VIII, 320

([10]) Imam Ibnu Katsir, Op.Cit, Vol. IV, hal 540-541

Tadabbur QS. Al-Qalam

KISAH PEMILIK KEBUN*

Dr. Saiful Bahri, M.A**

Mukaddimah: Sebuah Dukungan Rabbani

Surat al-Qalam termasuk surat yang pertama-tama diturunkan Allah di Makkah; menurut sebagian ahli tafsir diturunkan setelah surat al-’Alaq.

Saat Nabi Muhammad saw berdakwah, respon yang beliau terima dari kaumnya sangat mengecewakan. Bahkan lebih merupakan terror-teror psikis dan tak jarang juga terror fisik beliau terima, juga orang-orang yang mengikuti dakwah beliau.

Salah satu teror psikis yang beliau terima adalah stempel ”gila” yang diberikan kepada beliau. Padahal sebelum itu kaumnya sendiri yang menyematkan julukan ”al-Amin (yang terpercaya)” kepada beliau. Kini semua berbalik. Beliau dicap sebagai orang yang gila harta dan jabatan. Bahkan sebagian benar-benar menuduh gila dalam artian yang sebenarnya.

Dan Allah lah yang kemudian menjawab segala tuduhan di atas. “Dan sesunguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung”.(QS. 68: 4)

Dukungan spiritual ini diberikan saat kaumnya menganggapnya gila ketika beliau menyampaikan risalah-Nya. Bahwa Allah juga tak henti-hentinya memberikan dukungan serta menjanjikan pahala yang tak putus-putus atas kesabaran yang ekstra dalam menghadapi kaumnya.

Sejenak kita tilik gaya bahasa yang dipakai al-Qur’an. ”la‘alâ khuluqin ’azhîm” pada ayat keempat, digunakan kata ”’alâ” (di atas) bukan dengan kata ”fî” (dalam).

Hal ini mengindikasikan bahwa Nabi Muhammad saw memang berada di atas standar akhlak dan budi pekerti manusia pada umumnya. Ketika beliau mendakwahi para pemuka kaumnya, Quraisy; saat itu Abdullah bin Ummi Maktum ra. -yang buta- masuk ke tempat tersebut. Seketika raut muka Rasulullah berubah sedikit muram, berubah masam. Beliau tak mengatakan apa-apa, memarahi, menghardik atau menegurnya. Hanya saja air wajah beliau menunjukkan agak terganggu dengan kehadiran Abdullah tersebut. Seketika Allah menegur beliau “Dia (Muhammad) bermuka masam dan berpaling, karena telah datang seorang buta kepadanya. Tahukah kamu, barangkali ia ingin membersihkan dirinya (dari dosa). Atau dia (ingin) mendapatkan pengajaran, lalu pengajaran itu memberi manfaat kepadanya?”. (QS. `Abasa: 1-4)

Barangkali bagi orang biasa, hanya bermuka masam seperti di atas mungkin belum terlalu dianggap kurang baik. Namun, kebersihan diri beliau serta pengawasan Allah lah yang menjadikan standar akhlak beliau memang benar-benar mulia. Di atas standar akhlak manusia biasa. Di atas akhlak orang yang paling mulia sekalipun, yang pada waktu itu ada dalam suku Quraisy atau suku-suku lain yang ada disekitarnya. Bahkan paling mulia di antara sekian makhluk Allah yang pernah ada dan yang akan ada.

Karena itu, tak ada alasan bagi Nabi Muhammad saw untuk larut dalam kesedihan memikirkan cemoohan dan berbagai teror dari kaumnya. Dan yang terbaik adalah meneruskan dakwah ini kepada kaumnya. ”Maka kelak kamu akan melihat dan mereka (orang-orang kafir) pun akan melihat. Siapa di antara kamu yang gila. Sesungguhnya Tuhanmu, Dia-lah yang paling mengetahui siapa yang sesat dari jalan-Nya; dan Dia-lah yang paling mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk”. (QS. 68: 5-7). Karena terkadang orang gila tak merasa bahwa dirinya adalah orang gila. Dan ketika mereka sadar, keterlambatan itu sudah tiada berguna lagi untuk menghindarkan mereka dari siksaan Allah yang Maha Pedih.

Para Pendusta dan Pencela Nabi Muhammad saw

”Maka janganlah kamu ikuti orang-orang yang mendustakan (ayat-ayat Allah). Maka mereka menginginkan supaya kamu bersikap lunak lalu mereka bersikap lunak (pula kepadamu). Dan janganlah kamu ikuti setiap orang yang banyak bersumpah lagi hina. Yang banyak mencela, yang kian ke mari menghambur fitnah.  Yang banyak menghalangi perbuatan baik, yang melampaui batas lagi banyak dosa.  Yang kaku kasar, selain dari itu, yang terkenal kejahatannya. Karena dia mempunyai (banyak) harta dan anak. Apabila dibacakan kepadanya ayat-ayat Kam, ia berkata: “(Ini adalah) dongeng-dongengan orang-orang terdahulu”. Kelak akan kami beri tanda dia di belalai(nya)”. (QS. 68: 8-16)

Ada perbedaan ahli tafsir, siapa yang dimaksud Allah dalam ayat ini. Karena ayat 10-16 diturunkan untuk menyindir seseorang. Ibnu Hajar al-Asqalani menyebutkan beberapa riwayat ([1]). Sebagian mufassirin berpendapat ayat-ayat ini diturunkan Allah untuk menyindir al-Walid bin Mughiroh ([2]), sebagian lagi berpendapat: al-Akhnas bin Syuraiq, atau al-Aswad bin Abdi Yaghuts.

Allah melarang mengikuti mereka (orang-orang kafir Quraisy). Orang-orang kafir dan mereka yang mencaci Rasulullah saw. Larangan ini semula diperuntukkan kepada Nabi Muhammad saw, namun ditujukan pula kepada kita, sebagai umat yang mengikuti ajaran yang beliau bawa.

Sifat pertama yang ditunjukkan Allah dalam ayat ini adalah “mendustakan”.  Mendustakan ayat-ayat-Nya, para utusannya, meskipun sebelumnya mereka dikenal kaumnya sebagai orang terpercaya lagi baik budinya. Ciri-ciri inilah yang memasukkan kaum Ad dan Tsamud serta Ashabu Madyan, dan Rass ke dalam kategori orang-orang yang kafir. Pembangkang serta memusuhi kekasih Allah. Dan pada gilirannya Allah menghancurkan mereka dengan tentara-tentara Allah. Angin topan yang menggulung kesombongan mereka. Menghabiskan kedustaan yang mereka lakukan kepada Allah dan para Rasul-nya

Mereka ingin dihargai sementara mereka tiada mau menghargai orang lain. Ingin diperlakukan dengan lunak dan lemah lembut, sementara mereka tidaklah demikian.

Diantara sifat al-Walid yang menonjol adalah banyak bersumpah. Namun sering ia langgar sendiri. Sungguh hina orang-orang yang mempermainkan sumpahnya. Selain itu suka mencela dan mencaci, menebar fitnah, menjadi provokator dan menghalangi kebaikan. Kasar dan sudah terlanjur dikenal keculasan dan kejahatannya. Padahal ia memiliki banyak anak dan harta. Tapi sekali-kali ia tak pernah insyaf dan bertaubat kepada Allah.

Di akhir peringatan ini Allah memberitahukan lagi salah satu ciri mereka. Yaitu mereka akan mengatakan kepada setiap orang yang mengajak mereka kepada kebaikan. “Itu hanyalah merupakan cerita-cerita orang terdahulu”. Mungkin kalau bahasa kita, setelah kita memperingatkan atau mengajak pada sesuatu yang ma`ruf. Mereka akan mengangganya ”lagu lama” yang disamakan dengan dongeng-dongeng serta cerita rakyat yang penuh mitos.

Mereka sudah terlebih dahulu mengklaim sesuatu yang disampaikan oleh Rasulullah. Padahal mereka tak mengetahui apa pun tentangnya. Bagaimana mungkin mereka akan menerimanya.

Allah akan menghinakannya juga kuffar Quraisy itu dengan memberi tanda khusus di hidung mereka ([3]). Sebagai tanda kebohongan dan kedustaan mereka. Menghinakan mereka sebagaimana mereka menghinakan ayat-ayat Allah dan para Rasul-Nya.

Al-Qur`an menggambarkannya dengan kata-kata “belalai”. Kata-belalai sebagaimana lazimnya tak dipakai kecuali untuk binatang. Bukan untuk manusia. Tentunya hal tersebut dimaksudkan untuk semakin menghinakan serta menurunkan derajatnya sebagai manusia. Mereka sama dengan binatang. Bahkan lebih rendah darinya. Karena mereka mempunyai akal. Namun tak mereka gunakan untuk menerima dan memikirkan ayat-ayat Allah.

Kisah Para Pemilik Kebun

Dalam surat ini ada kandungan kisah tentang para pemilik kebun. Allah menurunkan adzab kepada mereka, dalam rangka memberi mukaddimah ancaman kepada para pencela dan pengejek Rasulullah saw. Jika mereka mengetahui atau setidaknya merasakan penyesalan dan kepedihan serta keputusasaan dalam kisah ini tentu mereka akan takut ditimpa dengan adzab yang lebih pedih dari itu, adzab akhirat.

Siapakah para pemilik kebun yang dimaksud dalam ayat-ayat ini ([4]).

Dikabarkan, mereka telah membagi-bagi dan mengkaplingkan hasil kebun mereka yang akan akan mereka tuai esoknya. Mereka memastikannya, bahkan telah bersumpah. Hasilnya untuk keperluan ini dan untuk keperluan itu.. Mereka sama sekali tak menyisakan bagian untuk kaum dhu`afa dan fakir miskin. Mereka juga sombong. Seolah merekalah yang memutuskan segalanya. Yang menjamin kelangsungan hidup hari esok. Sehingga mereka melupakan Allah. Tiada mensyukuri nikmat-Nya. Tak menyebutnya sama sekali. Bahkan mereka tak mau untuk sekedar mengatakan: “Insya Allah”.

Adapun penafsiran ayat ke 18 memang berbeda-beda. Jika konteksnya berhubungan dengan kepercayaan pada Allah dan pemastian pembagian hasil kebun. Maka lebih pas untuk diartikan dengan “tidak mengatakan Insya Allah”. Namun, jika konteksnya adalah amal kemanusiaan yang berhubungan dengan hak fakir miskin. Maka bisa diartikan,”Mereka tak memberikan bagian dari hasil tersebut serta menyisakannya untuk fakir miskin”. Padahal para pendahulu mereka, kakek dan bapak mereka mendermakan sebagian harta hasil dari perkebunan tersebut kepada fakir miskin. Sementara mereka mempunyai karakter yang sebaliknya, bakhil. Sangat memusuhi hati nurani kemanusiaan.

Penggambaran kebakhilan mereka terlihat dari ayat 24. Dimulai ketika mereka bangun dari tidur di waktu shubuh, mereka bergegas saling membangunkan, serta saling memanggil dan mengingatkan. Kemudian bertolak ke kebun mereka dengan diam-diam dan mengendap-endap dengan tujuan agar fakir miskin yang ada di kampung mereka tak mengetahuinya. Kemudian dikhawatirkan mereka meminta bagian dari hasil kebun tersebut.

Mereka tak mengetahui keadaan sesungguhnya. Mereka tak menyadari apa yang sebenarnya telah terjadi pada kebun-kebun mereka. Mereka tak mengetahui apa yang Allah perbuat terhadap kebun mereka ketika mereka terlelap dalam tidur ketamakan semalaman. Ketika mereka mendekat, melihat dengan kedua mata mereka sendiri. Keadaan kebun-kebun mereka sungguh jauh di luar dugaan dan penggambaran mereka. Kebun-kebun mereka menghitam pekat. Sehitam hati mereka yang tetutupi hawa nafsu, cinta dunia dan kebakhilan sehingga menghalangi rasa kemanusiaan mereka.

Lenyaplah ribuan angan mereka. Hilanglah pembagian penghasilan yang mereka rancang sebelumnya. Terbanglah bayangan-banyangan kesenangan dunia.

Apakah mereka tak merasakan kesengsaraan serta penderitaan fakir miskin yang tak mendapat uluran kasih sayang dan bantuan dari mereka? Mereka telah menghalangi fakir miskin dari mendapatkan haknya dari harta mereka, padahal mereka mampu dan sanggup melakukannya.

Kemudian, ada seseorang yang masih mempunyai pemikiran baik diantara mereka mengingatkan. Bukankah aku telah mengatakan, sebaiknya kalian bertasbih kepada Tuhan kalian.

Peringatan, ajakan bertasbih ini. Tentulah sangat baik. Akan tetapi mereka mengucapkannya dengan bibir-bibir kering. Dengan keputusasaan. Dengan tertutupnya hati. Merekapun bertasbih. Namun, tak mengetahui hakikat makna dan kandungan tasbih tersebut. Hal ini terbukti dan terlihat dari fenomena permusuhan di antara mereka setelah itu. Mereka saling mencela. Saling menyalahkan di antara sesama mereka. Tiada menerima yang Allah cobakan kepada mereka

Penyesalan. Ribuan penyesalan. Bahkan tiada terhitung penyesalan yang mereka keluhkan. Mereka mengakui kelemahan dan kezhaliman mereka. Namun, penyesalan ini tidaklah sanggup mengembalikan kebun mereka kembali menghijau seketika itu. Kembali menjanjikan hasil dunia yang menggiurkan dan melenakan mereka.

Jika mereka benar-benar menyesalinya. Dan penyesalan seperti ini ketika masih ada kesempatan memperbaikinya. Tentul Allah akan menerimanya. Menerima taubat yang sungguh-sungguh dari hamba-hambaNya.

Namun, bukan penyesalan mereka. Penyesalan orang-orang kafir, para pencela Rasulullah. Penyesalan yang kelak baru mereka rasakan ketika adzab akhirat melucuti tubuh dan perasaan mereka. Jika mereka mengetahui dan menyelami kisah pemilik-pemilik kebun tersebut. Sungguh mereka akan cepat-cepat bertaubat dan memperbaiki diri. Dan barang siapa yang tidak mengetahuinya, ketahuilah bahwa adzab akhirat sangatlah pedih. Melebihi pedihnya adzab dan cobaan dunia. Tak terbayangkan oleh siapapun yang ada di dunia ini. Hanya Allah saja yang mengetahui kedahsyatannya.

Lihatlah akhir hidup Abu Jahal, seorang penjahat kelas kakap yang terbunuh dalam Perang Badar di tangan dua orang anak kecil, Muadz dan Muawidz ([5]). Lihat pula al-Walid bin Mughiroh. Justru anaknya Khalid bin Walid menjadi panglima besar Islam  juga saudara-saudaranya, membela dakwah Rasulullah. Maka yang demikian itu sangat menghinakan mereka.

Kabar Gembira

Dan sebaliknya Allah memberikan kabar gembira untuk orang-orang yang mau mengikuti risalah Rasulullah saw. ”Sesungguhnya bagi orang-orang yang bertakwa (disediakan) syurga-syurga yang penuh kenikmatan di sisi Tuhannya. Maka apakah patut kami menjadikan orang-orang Islam itu sama dengan orang-orang yang berdosa (orang kafir)?” (QS. 68: 34-35)

Tentu saja Allah tak menyamakan kedua golongan yang sangat jauh perbedaannya. Masing-masing telah Dia sediakan balasan yang setimpal sesuai dengan amal dan perbuatannya. Masing-masing dari menusia telah diberi kebebasan meilih jalan masing-masing. Hanya saja ia mesti mempertanggungjawabkan pilihannya kelak. Maka jika demikian halnya. Orang-orang yang bertakwa mengikuti jejak para Nabi Allah. Jejak yang jelas ujungnya, meski banyak duri serta cobaan berada disepanjang jalan pilihan tersebut.

Tunggulah sampai datang hari yang dijanjikan itu. ”Pada hari betis disingkapkan dan mereka dipanggil untuk bersujud; maka mereka tidak kuasa”. (QS. 68: 42)

Pada waktu itu orang-orang yang sombong tersebut dipanggil satu persatu. Mereka diinstruksikan untuk bersujud di hadapan Allah. Mereka pun tak kuasa melakukannya. Karena mereka tak pernah melakukannya di dunia. Atau jika melakukannya, hanya karena mereka terjangkit split personality. Hipokrit dan munafik, untuk meraup keuntungan dunia semata. Hari itu keadaan sesungguhnya menjadi nyata. Pamrih sesungguhnya dari apa yang ia lakukan menjadi jelas terlihat. Karena hati mereka tertutup oleh dunia dan segala kesenangannya.

Sujud merupakan suatu pekerjaan yang berat bagi hati yang tak khusyuk. Bagi hati yang keras. Hati yang dipenuhi oleh gengsi kedudukan dan status sosial. Sujud akan mudah dilakukan oleh hati yang lembut. Hati yang tunduk, khusyuk dengan penuh pengakuan di depan kebesaran yang Maha Hidup dan Mencipta kehidupan. Sehingga sujud merupakan wirid harian yang menjadi obat kegundahan dan kegelisahan menghadapi berbagai permasalahan dunia.

Hari itu mereka benar-benar ingin melakukannya. Namun mereka tak sanggup melakukannya. Sementara ketika mereka berada dalam kelapangan dan dalam keadaan yang sejahtera, mereka menolak ketika diseru untuk bersujud. Namun mereka cepat mengambil keputusan untuk menolak ajakan tersebut dan memutuskan sekali lagi untuk tidak akan melakukannya. Maka orang-orang yang berkelakuan demikian –kata Allah- serahkan saja segala urusannya kepada-Nya. Hanya Allah yang mampu memperlakukan mereka sesuai perbuatan yang mereka lakukan.

Wasiat Sakti

Tetaplah bersabar. Demikian Allah mewasiatkan kepada Nabi-Nya yang mulia Muhammad saw. Sebuah wasiat yang menjadi senjata pamungkas dalam menghadapi kelakuan orang-orang yang memusuhi dakwahnya.

Sabar dengan ketetapan Allah. Sabar untuk terus mendakwahkan kebenaran yang telah diyakini sebagai jalan benar. Sebagai pilihan yang tepat. Dan akan dipertanggungjawabkan. Serta janji Allah berupa balasan kemuliaan.

Allah menceritakan kisah pendahulu Nabi Muhammad ketika menghadapi kaumnya. Dikisahkan, Yunus bin Matta as diutus Allah ke daerah bernama Naynawa. Beliau mengajak kaumnya untuk menyembah Allah. Akan tetapi kaumnya membangkang dan bersikeras untuk tetap menjauhi ajakan Nabi Yunus as. Mereka memilih jalan kekafiran sebagai respon negatif terhadap dakwah Nabi Yunus. Yunus pun marah dan bermaksud meninggalkna kaumnya. Setelah beliau mengancam dengan turunnya adzab Allah kepada mereka. Sepeninggal Nabi Yunus dari kaumnya. Tanda-tanda ancaman siksa dari Allah terlihat oleh mereka. Mereka pun sadar dan meyakini kebenaran ajakan Nabi Yunus. Bertaubatlah mereka. Keluarlah mereka berbondong-bondong ke sebuah tanah lapang di padang pasir yang luas. Anak-anak mereka, Istri-istri mereka, yang tua dan yang muda serta dengan binatang peliharaan mereka. Semuanya bermunajat dengan khusyuk kepada Allah memohon ampunan dan agar adzab tersebut tak diturunkan kepada mereka. Sedangkan Yunus, telah pergi jauh meninggalkan kaumnya dalam keadaan marah. Allah memuat cerita Yunus lebih terperinci dalam surat Ash Shaffât dari ayat 139 – 148.

Kesalahan yang dilakukan Nabi Yunus as adalah meninggalkan kaumnya. Meninggalkan tanggungjawabnya. Padahal kaumnya telah bertaubat dan hidup dalam keadaan mengimani dakwah yang ia serukan selama ini. Hanya saja beliau agak terburu-buru. Meninggalkan kaumnya dengan ancaman siksa Allah. Namun, Allah mengampuni mereka setelah semua bermunajat dengan sungguh-sungguh kepada-Nya.

Pelajaran kesabaran lah yang dimaksudkan di sini. Untuk menghadapi tingkah laku kaum yang tidak mengindahkan seruan dakwah. Bahkan melecehkannya. Hanya bersabar. Sampai datang keputusan dari Allah.

Ketika dalam perut ikan –menurut riwayat Auf al-A’raby sebagaimana dinukil Ibnu Katsir dalam tafsir Al Anbiya’ ayat 87-88- Yunus mengira bahwa dirinya telah mati. Kemudian ia menggerak-gerakkan kakinya. Kemudian bersujud seraya membisikkan dengan lemah “Ya Allah aku menjadikan tempat ini sebagai tempat sujud yang belum pernah dicapai seorang pun”. Dan beliau pun bertasbih kepada Tuhannya.

Tasbih yang diucapkan dan dimunajatkan oleh Yunus adalah tasbih khusyuk dan penuh tadharru’. Penuh ketenangan dan pengakuan akan kelemahan dan kezhaliman diri. Sehingga rintihan lemah ini di dengar oleh para malaikat-Nya. Sehingga Allah pun menitahkan pada ikan yang menelannya untuk memuntahkan kembali Yunus. Yunus pun selamat dan kembali ke kaumnya setelah bertaubat.

Berbeda dengan tasbih para pemilik kebun ketika salah seorang terbaik mereka menyeru untuk bertasbih. Mereka pun segera bertasbih. Namun, hanya menjadi hiasan bibir belaka. Ketidakikhlasan mereka terlihat, ketika masih ada kedengkian diantara mereka. Mereka saling mencaci sesamanya.

Tasbih sendiri mempunyai makna yang dalam, sehingga mempunyai pengaruh bila seseorang mengucapkannya dengan penuh penghayatan. “Maha Suci Engkau Wahai Allah, sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang zhalim”.

Bagian pertama tasbih ini, mensucikan Allah dari segala kekurangan dan hal-hal yang tak layak bagi Tuhan dengan segala kebesaran-Nya. Kemudian bagian kedua menegaskan kelemahan diri dan kesalahan yang dilakukan dengan mengakui kezhaliman yang telah diperbuat.

Dua komponen ini merupakan bentuk penyesalan yang sempurna. Penyesalan yang diikuti keinginan untuk memperbaiki diri. Dan untuk memperbaiki diri tersebut kita memerlukan bantuan dari Allah. Minimalnya, bantuan netralisir kesalahan. Dengan menurunkan ampunan-Nya kepada kita atas segala kesalahan yang telah kita lakukan.

Inilah yang dilakukan kekasihnya dalam kegelapan lapis tiga. Dan sanggup menerobos sampai kelangit berlapis tujuh. Didengar oleh semua penduduk langit. Meski dengan suara yang sangat lemah dan pelan. Namun, terdengar sangat jelas. Jelas, karena mengakui kemahasucian Allah. Dan Allah memasukkan Yunus kedalam golongan hamba-hambaNya yang salih.

Ikhtitam: Berbahagialah yang Berani Mengambil Jalan Rasulullah

Ketika Nabi Muhammad saw. menyampaikan ayat-ayat Allah, orang-orang kafir mencibir dan melecehkannya. Bahkan, menganggap Muhammad telah benar-benar gila. Karena mereka tak mau menggunakan hati nurani untuk menerima ayat-ayat Allah.

Ketahuilah bahwa Al-Qur’an tak lain hanya merupakan peringatan bagi semua umat yang ada. Dan tugas Nabi Muhammad, juga tugas para penerusnya, para da’i hanya sekedar mengingatkan kaumnya. Mengingatkan umat yang diserunya untuk mengikuti dan memahami ayat-ayat tersebut. Hanya menyampaikan peringatan ini.

Jika mereka mencibirnya. Maka bersabarlah. Ketahuilah bahwa para pendahulu kita juga mendapat perlakuan yang tak jauh beda dari keumnya ketika mereka menyampaikan ayat-ayat yang mereka bawa dari Tuhan mereka.

Hanya menyampaikan dan telah kita sampaikan. Maka Allahlah yang menentukan. Memberi hidayah kepada mereka atau membiarkan mereka dalam kesesatan karena mereka telah memilihnya demikian. WalLâhu a’lam.

—————————————————————————-

Disampaikan dalam Pengajian Shubuh Tadabbur al-Qur’an

Ainal Yaqin, Kalibata Selatan – Jaksel

Selasa 10 Pebruari 2009


* Sebuah tadabur surat al-Qalam (Pena: 68), Juz 29.

** Alumni Program S3 Jurusan Tafsir dan Ilmu-ilmu al-Qur’an, Universitas Al-Azhar, Cairo.

([1]) Ibnu Hajar al-Asqalaniy, Fathul Bârî bi syarhi Shahih al-Bukhari, Cairo: Darul Hadits, Cet. I, 1998 M-1419 H Vol. VIII, hal. 815.

([2]) Ini pendapat jumhur ulama, seperti dikuatkan oleh Imam al-Qurthuby dalam tafsirnya al-Jami’ li Ahkami al-Qur’an, Cairo: Darul Hadits, Cet. 2002 M – 1423 H, Vol. IX, hal. 451. Juga dalam tesis Magister penulis, Kitab Lawami’ al-Burhan wa Qawathi’u al-Bayan fi Ma’ani al-Qur’an li al-Ma’iny, Cairo: Universitas Al-Azhar-Jurusan Tafsir, 2006 M – 1427 H, Vol.II, hal. 685

([3]) lihat dalam ayat 16.

([4]) menurut riwayat Imam Ibnu Jarir at-Thabary dan Ibnu Mundzir mereka adalah sekelompok orang di negeri Yaman. Ini yang dirajihkan Imam Ibnu Katsir dalam Qashashul Qur’annya juga dipakai oleh jumhur mufassirin. Ada sebagian ahli tafsir yang meriwayatkan mereka berasal dari Habasyah (Etiophia)

([5]) Sebenarnya Abdullah bin Mas’ud lah yang berniat membunuh Abu Jahal. Tapi dua anak kecil tersebut mendahuluinya. Seperti yang diriwayatkan Imam Bukhori dalam Jami’ Shahihnya hadits ke-3962 (lihat Ibnu Hajar al-Asqalani, Fathul Bârî, Ibid. Vol.VII, hal. 361).