Hidangan Allah (8) – [at-Tahrim]

BILA TAK SEMUA BUNGA WANGI

Saiful Bahri, MA

Kehidupan rumah tangga merupakan sebuah biduk yang penuh pernik-pernik. Bahkan, sekalipun itu adalah sebuah keluarga Nabi. Surat at-Tahrim, yang sedang kita tadabburi bersama ini menjelaskan salah satu pernik keluarga yang dilalui oleh Rasulullah. Sekaligus menunjukkan bahwa Rasulullah sebagai tauladan semua manusia, khususnya umat Islam. Beliau adalah seorang manusia, bukan malaikat. Hal tersebut dimaksudkan agar siapapun bisa meniru sifat-sifat terpuji beliau yang telah diabadikan dalam al-Qur’an, “Dan Sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung.” (QS. Al-Qalam: 4)

Surat yang turun di Madinah ini menggambarkan sedikit masalah yang terjadi antara Rasulullah saw dan isteri-isterinya. Sebagian riwayat menyebutkan bahwa Rasulullah membawa Maria al-Qibthiyah ke rumah Hafshah, dan beristirahat di sana ketika Hafshah sedang tidak berada di rumahnya. Kemudian Hafshah menjumpai Rasulullah berada dalam rumahnya dengan Maria. Hafshah pun cemburu. Maka seketika itu pula Rasul pun mengharamkan Maria untuk diri beliau. Namun, riwayat ini lemah karena beberapa periwayatnya yaitu Abdullah bin Syabib seorang yang kurang kuat hafalannya. Dan Abu Said ar-Rib’iy seorang yang pandai tapi mudah lupa dan terlalu banyak bicara dan bercerita sehingga tercampur-campur riwayatnya. Sebagaimana ditegaskan Abu Ahmad al-Hakim dalam bukunya Mîzân al-`I’tidâl fi Naqdi ar-Rijâl (lihat vol. 4/118).

Adapun sebab turun ayat ini yang shahih sebagaimana diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dan Muslim juga Abu Dawud, Rasulullah dijumpai oleh Aisyah dan Hafshah sepulang dari rumah Zainab binti Jahsy dan mereka berdua menemukan tanda-tanda Rasulullah telah meminum madu dan jamuan yang istimewa di rumah Zaenab, mereka berdua pun cemburu. Untuk menyenangkan isteri-isterinya Rasul pun mengharamkan madu. Maka turunlah teguran Allah, “Hai Nabi, Mengapa kamu mengharamkan apa yang Allah halalkan bagimu; kamu mencari kesenangan hati isteri-isterimu? Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (At-Tahrim: 1)

Kemudian tatkala beliau menjelaskan sebuah rahasia tertentu kepada Hafshah. Lalu Hafshah memberitahukannya kepada Aisyah dan mereka berdua sibuk membicarakannya. Turunlah teguran Allah berikutnya, “Dan ingatlah ketika nabi membicarakan secara rahasia kepada salah seorang isterinya (Hafsah) suatu peristiwa. Maka tatkala (Hafsah) menceritakan peristiwa itu (kepada Aisyah) dan Allah memberitahukan hal itu (pembicaraan Hafsah dan Aisyah) kepada Muhammad lalu Muhammad memberitahukan sebagian (yang diberitakan Allah kepadanya) dan menyembunyikan sebagian yang lain (kepada Hafsah). Maka tatkala (Muhammad) memberitahukan pembicaraan (antara Hafsah dan Aisyah) lalu (Hafsah) bertanya: “Siapakah yang Telah memberitahukan hal Ini kepadamu?” nabi menjawab: “Telah diberitahukan kepadaku oleh Allah yang Maha mengetahui lagi Maha Mengenal. Jika kamu berdua bertaubat kepada Allah, Maka Sesungguhnya hati kamu berdua Telah condong (untuk menerima kebaikan); dan jika kamu berdua bantu-membantu menyusahkan nabi, Maka Sesungguhnya Allah adalah Pelindungnya dan (begitu pula) Jibril dan orang-orang mukmin yang baik; dan selain dari itu malaikat-malaikat adalah penolongnya pula. Jika nabi menceraikan kamu, boleh jadi Tuhannya akan memberi ganti kepadanya dengan isteri yang lebih baik daripada kamu, yang patuh, yang beriman, yang taat, yang bertaubat, yang mengerjakan ibadat, yang berpuasa, yang janda dan yang perawan.” (At-Tahrim: 3-5)

Adalah sebuah keistimewaan dan kebanggaan berada di dekat Rasulullah, berada di tengah-tengah kehidupan Rasulullah. Apalagi dengan setatus sebagai ahli baitnya. Menjadi orang pertama yang dekat dengan sumber turunnya hukum dari Allah. Namun, keistimewaan ini tak lantas membuat ahli bait Rasulullah kebal hukum dan bebas melakukan apa saja. Karena agama Islam, risalah yang dibawa Rasulullah tak mengenal kasta. Siapapun yang baik dihargai kebaikannya dan yang salah harus di hukum atau setidaknya ditegur.

Teguran pertama yang diperuntukkan Rasulullah adalah sebuah teguran yang tegas. Apakah demi menyenangkan para isteri, beliau bisa mengharamkan apa yang telah dihalalkan oleh Allah. Sekaligus sebagai contoh untuk para umatnya, terutama dalam mengarungi kehidupan keluarga. Tak jarang demi menyenangkan hati isteri seorang suami melakukan sesuatu yang dibenci oleh Allah. Dalam ayat ini, Rasul tidaklah melakukan maksiat atau melanggar larangannya, tapi beliau menahan dari sesuatu yang dibolehkan. Itu saja sudah mendapat teguran. Apalagi jika seandainya yang dilakukan adalah maksiat. Maka yang perlu diambil pelajaran adalah penyikapan terhadap perilaku isteri yang kadang memiliki kecemburuan yang berlebihan, bahkan tak jarang sangat tidak beralasan. Penyelesaian yang baik bukanlah asal isteri senang. Namun, perlu diperhatikan apakah melanggar norma agama selain tentunya dicari akar permasalahan yang sesungguhnya. Dan kemudian dibicarakan dengan baik-baik dan kepala dingin. Bahwa permasalahan cemburu juga tak jauh berbeda dengan permasalahan salah paham antara pasangan suami istri dalam berkomunikasi. Kecuali jika memang benar suami telah benar-benar melanggar hak-hak istri. Bukan sekedar praduga atau prasangka, karena kita diminta untuk menjauhi keduanya.

Cerita dan pernik ini sebenarnya hanya sebuah mukaddimah dari sebuah pesan inti yang sangat penting yang akan disampaikan Allah pada ayat berikutnya, ” Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (At-Tahrim: 6). Setiap kita diminta untuk menjaga diri dari terjerumus pada perbuatan yang bisa menyeret kita kepada neraka Allah yang penuh dengan adzab yang mengerikan. Tanggung jawab ini yang paling perta-ma ditujukan kepada setiap kepala rumah tangga. Seorang laki-laki sejak mengucapkan ijab qabul maka tanggung jawab terhadap perempuan yang dinikahinya tak lagi berada di bawah bapaknya. Namun, pindah kepada dirinya selaku suaminya. Dan kelak jika punya anak laki-laki sampai mereka mencapai usia baligh dan perempuan sampai kelak mendapatkan pasangan hidupnya.

Ibnu Abbas menafsirkan ayat ini dengan mendidik orang-orang yang berada dalam tanggung jawab kita. Mendidik dengan mengenalkan mereka pada ajaran agama yang benar. Hal ini memang tidak ringan. Apalagi tanggung jawab dan kewajiban mencari nafkah juga dibebankan kepada laki-laki. Namun hal ini masih lebih baik baginya sebelum kelak ia menyesal sebagaimana orang-orang kafir menyesal di akhirat karena berbagai alasan mereka takkan pernah terampuni. Penyesalan yang demikian nantinya tidaklah berguna, “Hai orang-orang kafir, janganlah kamu mengemukakan uzur pada hari ini. Sesungguhnya kamu Hanya diberi balasan menurut apa yang kamu kerjakan.” (at-Tahrim: 7)

Namun, kemuliaan Allah sangat luas. Kasih sayangnya selalu terbentang bagi hamba-hamba-Nya. Karena di setiap usaha manusia senantiasa ada kekhilafan dan kesalahan. Karena itulah Dia menyuruh para hamba-Nya untuk mengetuk pintu taubat-Nya yang selalu terbuka kapan saja. “Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubatan nasuhaa (taubat yang semurni-murninya). Mudah-mudahan Rabbmu akan menutupi kesalahan-kesalahanmu dan memasukkanmu ke dalam syurga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, pada hari ketika Allah tidak menghinakan nabi dan orang-orang mukmin yang bersama Dia; sedang cahaya mereka memancar di hadapan dan di sebelah kanan mereka, sambil mereka mengatakan: “Ya Rabb kami, sempurnakanlah bagi kami cahaya kami dan ampunilah Kami; Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu”.” (At-Tahrim: 8)

Surat yang cukup pendek ini ditutup dengan penuturan dua buah perumpamaan yang bertolak belakang. Yaitu perumpamaan perempuan yang buruk akhlaknya serta tak tau bersyukur pada Allah dan suaminya. Mereka yang mendurhakai suaminya serta memusuhuhinya.

Dan perumpamaan perempuan yang mulia serta sabar danberpegang teguh terhadap ajaran agama Allah meskipun badai fitnah menerpa mereka, bahkan sampai siksaan fisik.

Allah memulainya dengan menuturkan kisah isteri Nabi Nuh dan isteri Nabi Luth, “Allah membuat isteri Nuh dan isteri Luth sebagai perumpamaan bagi orang-orang kafir. keduanya berada di bawah pengawasan dua orang hamba yang saleh di antara hamba-hamba Kami; lalu kedua isteri itu berkhianat kepada suaminya (masing-masing), Maka suaminya itu tiada dapat membantu mereka sedikitpun dari (siksa) Allah; dan dikatakan (kepada keduanya): “Masuklah ke dalam Jahannam bersama orang-orang yang masuk (jahannam)”.”(At-Tahrim: 10)

Tak ada jaminan berada di tengah-tengah orang baik untuk menjadi baik, bila tak disertai keinginan baik dan kesungguhan memelihara kebiasaan baik. Isteri Nabi Nuh dan Nabi Luth lah contohnya. Keberadaan mereka di tengah Nabi Allah tak menjadikan mereka berdua bersyukur dengan keadaan serta keistimewaan itu. Justru sebaliknya, mendustakan, mendurhakai bahkan memusuhi dakwah suami. Sekalipun suami mereka nabi takkan ada jaminan mereka bisa terbebas dan terlindungi dari siksa Allah yang maha pedih dan dahsyat.

Hal ini berbanding terbalik dengan kondisi Asiah istri Fir’aun yang hhidup di tengah kebengisan suaminya. Di tengah perilaku jahiliah kaumnya. Di tengah berbagai kebiasaan buruk suasana istana yang juga tempatnya berada. Namun, hal tersebut tak menjadikannya menyerah untuk mempertahankan iman. Bahkan menjadi sebuah motivasi yang kuat untuk membantu dakwah Nabi Musa as. Meskipun akhirnya harus berhadapan dengan kekejaman suaminya sendiri, Fir’aun; simbol dan icon thaghut yang terabadikan sepanjang masa. Beliau pun menemui Allah dalam keadaan syahid setelah disiksa Fir’aun. “Dan Allah membuat isteri Fir’aun perumpamaan bagi orang-orang yang beriman, ketika ia berkata: “Ya Rabbku, bangunkanlah untukku sebuah rumah di sisi-Mu dalam firdaus, dan selamatkanlah Aku dari Fir’aun dan perbuatannya, dan selamatkanlah Aku dari kaum yang zhalim.” (at-Tahrim: 11). Sekalipun ia bersuamikan seorang yang sangat durhaka pada Allah, hal tersebut tak membuatnya kehilangan kesempatan untuk mendapatkan syurga Allah.

Selanjutnya surat ini ditutup dengan sebuah perumpaan yang ideal bagi kaum beriman. Seorang perempuan yang lahir, hidup dan dewasa di tengah keluarga yang menjaga norma-norma agama, di tengah masyarakat yang sudah acuh dengan aturan dari Allah. Sehingga pada saat beliau menginjak dewasa siap dengan berbagai resiko berpegang teguh dengan ajaran Allah. Bahkan tatkala harus siap menghadapi cobaan yang berat menjadi seorang ibu tanpa seorang suami pun. Seorang ibu bagi orang yang ditunggu umatnya. Ibu bagi Isa al-Masih, utusan Allah untuk Bani Israel. Maryam yang suci dan senantiasa memelihara kesuciannya. Sepatutnyalah hal tersebut dicontoh dan ditiru oleh para perempuan sekarang. Juga bagi para ibu dan bapak dalam mendidik anak-anaknya terutama anak perempuan. Allah pun menegaskannya, “Dan (Ingatlah) Maryam binti Imran yang memelihara kehormatannya, Maka kami tiupkan ke dalam rahimnya sebagian dari ruh (ciptaan) kami, dan dia membenarkan kalimat Rabbnya dan Kitab-KitabNya, dan dia adalah termasuk orang-orang yang taat.“(At-Tahrim: 12). Keteguhan menjalankan ajaran, kesabaran dalam memikul cobaan Allah, menerima cercaan dan fitnah kaumnya serta kelembutannya membesarkan dan mengasuh anak satu-satunya sekaligus memotivasinya untuk berdakwah. Hal tersebut membuat nama Maryam tersemat sebagai salah satu wanita pilihan terbaik. Allah menegaskanya, “Dan (Ingatlah) ketika malaikat (Jibril) berkata: “Hai Maryam, Sesungguhnya Allah Telah memilih kamu, mensucikan kamu dan melebihkan kamu atas segala wanita di dunia (yang semasa dengan kamu).“(QS. Ali Imran: 42)

Setelah keluarga ayahnya disejajarkan dengan deretan nama nabi-nabi-Nya, “Sesungguhnya Allah Telah memilih Adam, Nuh, keluarga Ibrahim dan keluarga ‘Imran melebihi segala umat (di masa mereka masing-masing).” (QS. Ali Imran: 33)

Berbahagialah orang-orang pilihan itu. Berbahagialah keluarga-keluarga pilihan yang dijadikan sampel dan teladan bagi umat-umat yang datang setelahnya.

Setelah nasihat yang Allah berikan ini semoga kita semua bisa mengambil ibroh dan pelajaran dengan baik. Sehingga hari-hari kita ke depan semakin penuh dengan kebaikan dan kemanfaatan. Amin.


Kampung sepuluh, siang menjelang sore

Cairo, 22 januari 2007

———————————

*) Tadabbur surat at-Tahrim

Iklan

Hidangan Allah (7) -[al-Hujurat]

MUARA KEMULIAAN

Saiful Bahri, MA

Menjadi mulia adalah impian setiap manusia. Apalagi bila kemuliaan tersebut bermuara pada kebahagiaan. Bagi sebagian orang, kemuliaan adalah jabatan prestisius atau status sosial di tengah masyarakat. Bagi sebagian orang, kemuliaan berarti mengejar popularitas. Sebagian yang lain menganggapnya bisa diraih dengan kemapanan duniawi, istri cantik, suami yang mapan, anak-anak yang dibanggakan atau serangkaian kekayaan materi lainnya.

Namun, Allah menegaskan hakikat kemuliaan yang laik dikejar dan diraih oleh seorang mukmin. Status mulia bagi Allah adalah dengan ketinggian derajat takwa seseorang. Dan Allah Maha Mengetahui dengan detail apa dan bagaimana ketakwaan seorang hamba-Nya.

Ketakwaan Bilal ra menjadikannya mulia meski ada yang menghinanya karena kulitnya yang hitam legam. Sebagian sahabat Nabi saw pernah menertawakan betis Abdullah bin Mas’ud yang kecil ketika tersingkap. Tapi Rasul menimpali bahwa kedua kaki terebut lebih berharga dan lebih mulia dari dua gunung emas.

Di dalam surat ini (surat al-Hujurât) Allah memberikan perangkat-perangkat untuk meraih ketakwaan. Diantaranya ada dalam ayat-ayat yang sedang kita tadabburi bersama.

Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan sekumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan sekumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik. dan janganlah suka mencela dirimu sendiri dan jangan memanggil dengan gelar yang mengandung ejekan. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barangsiapa yang tidak bertobat, Maka mereka itulah orang-orang yang zalim. Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka (kecurigaan), Karena sebagian dari prasangka itu adalah dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.” [QS al-Hujurât: 11-12]

Pertama,

Allah melarang orang-orang beriman untuk saling membanggakan diri. Karena hal tersebut akan memancing pada tindakan untuk merendahkan orang lain. Secara jelas di sini kita temukan larangan tersebut. Baik dilakukan oleh laki-laki dalam sebuah komunitas masyakarat ataupun oleh kaum perempuan. Tidak banyak tempat dalam al-Qur’an Allah memerinci dengan kata-kata yang lugas seperti ini.

Hal tersebut bisa jadi karena kebanyakan laki-laki terutama para pemuka kaum kadang membanggakan status sosial dan jabatan serta popularitasnya. Hal-hal itu bisa memicu permusuhan karena adanya sikap saling meremehkan dan merendahkan terhadap orang lain. Hal-hal ini juga bisa dilakukan oleh sesama kaum perempuan yang biasanya membanggakan nasab, keturunan, suami dan anak-anaknya atau juga status sosial mereka.

Bisa jadi orang-orang yang sering diolok-olok dan ditertawakan lebih baik derajatnya dibanding orang yang memperolok dan menertawakan. Karena manusia hanya menilai dari perawakan zhahir saja serta tiada mengetahui batin dan hati seseorang.

Kedua,

Allah juga melarang orang mukmin mencela sesama mereka. Dalam ayat ini Allah membahasakannya dengan ”jangan mencela dirimu sendiri”. Karena mencela orang lain ibarat memukul air dalam tempayan di depan kita. Percikannya akan kembali pada diri kita sendiri.

Penegasan kekerabatan dan persaudaraan sesama muslim di sini diperjelas karena pada hakikatnya kaum muslimin ibarat satu badan. Jika ada yang sakit maka bagian yang lainnya akan merasakannya. Namun, ini bukan berarti Allah membolehkan kaum muslimin untuk mencela dan merendahkan orang-orang non muslim. Dan janganlah kamu memaki sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah, Karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan. Demikianlah kami jadikan setiap umat menganggap baik pekerjaan mereka. Kemudian kepada Tuhan merekalah kembali mereka, lalu dia memberitakan kepada mereka apa yang dahulu mereka kerjakan.” [QS al-`An’âm: 108]

Bila seseorang memaki ayah atau ibu orang lain maka secara tak langsung ia memaki ayah atau ibunya sendiri, karena orang yang dimaki akan membalasnya; bahkan bisa jadi dengan makian yang lebih pedas.

Ketiga,

Allah melarang orang-orang mukmin untuk mempermainkan saudaranya dengan julukan-julukan atau gelar yang buruk. Memberi julukan atau gelar pada seseorang adalah perbuatan latah yang sering dilakukan oleh masyarakat. Jika julukan atau gelar seperti ”si cantik”, atau ”si kacamata”, atau ”si jenius” mungkin tak jadi soal. Dan hal itu sah-sah saja bila menjadi sebuah julukan yang terkenal dan baik. Masalahnya kadang ada kecenderungan untuk memberi gelar dan julukan sebagai olok-olok seperti dengan menyebutnya ”si pincang”, ”si pandir”, ”si dungu”, ”si otak udang”. Islam melarang hal tersebut. Ini sangat tidak disukai oleh orang yang menerima julukan tersebut. Sangat wajar. Karena setiap kita memiliki nama yang kita banggakan. Dan setiap orang tua berkewajiban memberi nama yang baik sehingga sang anak kelak tidak rendah diri dan merasa minder dengan sebutan tersebut.Dan… ”Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman”. Seperti memanggil orang yang sudah bertobat dengan ”si pelacur”, ”si pencuri”, ”si kafir” atau ”si fasiq”. Barang siapa yang melakukan hal tersebut. Itulah salah satu bentuk kezhaliman yang dicela Allah.

Kempat,

Allah juga melarang orang beriman untuk memperturutkan praduga dan prasangka yang tidak-tidak. Karena praduga tersebut belumlah menjadi sebuah berita yang jelas. Apalagi biasanya prasangka tersebut seputar aib seseorang yang seharusnya ditutupi.

Kelima

Allah melarang memata-matai (tajassus). Bila prasangka diperturutkan, maka kadang tanpa terasa sering ditindaklanjuti dengan memata-matai dan menelusuri kebenaran isu dan desas-desus yang sebelumnya hanya sekedar praduga. Hal inilah yang bisa merusak suasana keakraban dan ukhuwah. Tak jarang terjerumus pada perbuatan mencari-cari celah kesalahan. Mengada-adakan sesuatu yang sebetulnya tidak ada serta meniup-niupkan isu dan membesar-besarkan masalah kecil.

Keenam

Allah melarang menggunjing sesama (ghibah). Karena ghibah merupakan mata rantai lanjutan dari prasangka dan mencari-cari kesalahan. Tak heran bila Allah memberikan perumpamaan yang buruk bagi perbuatan ghibah. Bagaikan memakan daging saudara sendiri, bahkan lebih dari itu; bangkai sesama manusia. Dan ghibah lebih buruk dari memakan bangkai sesama saudara. Bila kita sangat jijik dan risih untuk sekedar membayangkan memakan bangkai manusia. Bagaimana mungkin kita memulai hari-hari kita dengan sarapan bangkai manusia? Memakan daging saudara kita? Dengan mempergunjingkan isu yang kadang belum jelas arahnya. Kalau pun itu benar, maka sudah semestinya aib tersebut tidak diumbar ke mana-mana.

Rasul saw suatu ketika bertanya kepada para sahabatnya: ”Tahukah kalian apa itu ghibah?” Para sahabat menjawab: ”Allah dan Rasul-Nya lebih tahu”. Beliau bersabda: ”Menyebut saudaramu dengan sesuatu yang dibencinya.” Ada yang bertanya: ”Bagaimana bila yang dikatakan ada pada saudaraku?” Beliau menjawab: ”Jika seperti apa yang kau sebut (yang dibencinya) engkau telah mengghibahnya. Dan jika tidak ada padanya, maka engkau telah memfitnahnya.” (HR.Muslim, Abu Dawud, Tirmizi dan Nasa’i).

Itulah lidah. Sebuah perangkat lunak yang diberikan Allah pada manusia sekaligus salah satu ujian yang cukup berat. Dengan kata-kata (ijab-qabul)sesuatu yang diharamkan antara laki-laki dan perempuan menjadi halal, bahkan bernilai ibadah. Dengan kata-kata (syahadat) seseorang meninggalkan kekufuran dan mengikrarkan keislamannya. Dengan kata-kata pula (adu domba) persaudaraan dan kekerabatan menjadi retak. Dengan kata-kata (fitnah) orang baik-baik menjadi terdakwa. Dan dengan kata-kata (sumpah palsu) orang bejat dan durjana menjadi pahlawan dan terpandang di tengah masyarakat.

Karena itu Allah memerintahkan untuk bertakwa dan bertaubat dari itu semua. Sebab tak jarang kita terjerumus dalam ghibah dan mempergunjingkan orang lain. Bahkan menikmatinya. Bisa jadi kita yang memulai pembicaraan dan pergunjingan tersebut. Na’ûdzubilLâh.

Keenam hal di atas merupakan perangkat ketakwaan untuk meraih kemuliaan hakiki sebagaimana yang dijelaskan Allah di ayat berikutnya. Dilengkapi dengan resep ketujuh yaitu: saling mengenal dan mempererat persudaraan.

Hai manusia, sesungguhnya kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa – bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal.” [QS al-Hujurât: 13]

Dalam ayat ini Allah mengingatkan kebhinekaan dan keberagaman dalam masyarakat. Kadang Allah mengingatkan kita akan asal usul kita dari sebuah air yang hina. Dan kali ini Allah menekankan asal ita dari dua yang berbeda. Laki-laki dan perempuan. Dari perbedaan yang jauh segala aspek itulah kita ada. Ayah dan ibu kita sebelum menikah adalah dua sosok yang sangat berbeda. Baik lingkungan, asal-usul, bahkan kebiasaan dan adat. Juga mungkin status sosial. Namun yang jelas mereka adalah dua orang yang berbeda. Satu laki-laki dan satu perempuan.

Kemudian manusia menyebar ke berbagai penjuru dunia dengan kebiasaan dan adat yang berbeda. Bersuku-suku dan berbangsa-bangsa. Berbeda bahasa dan budaya. Tujuan dari perbedaan ini adalah untuk memperkaya wawasan dan persaudaraan dengan saling mengenal. Bukan untuk saling membanggakan atau mengolok-olok kaum yang lain. Rasa superioritas yang tinggi akan menimbulkan keinginan untuk menaklukan orang lain atau setidaknya merasa lebih tinggi dari orang lain. Tak jarang dari pola pikir seperti ini bermula sebuah pertempuran sengit antar bangsa. Boleh jadi dibungkus dengan bisikan jahiliah mempertahankan prestise dan harga disi suku atau bangsa.

Budaya saling mengenal dan memperkenalkan ini akan mendewasakan dan memperkaya ilmu seseorang. Itulah salah satu bentuk silaturrahmi. Sunnah Rasul saw. yang bila ditinggalkan akan semakin membuat dunia kehilangan cinta dan dipenuhi oleh kedengkian dan permusuhan.

Rasa iri yang tinggi dan kedengkian yang membara akan mematikan semangat berprestasi seseorang dan mengurangi produktifitas. Karena dirinya akan disibukkan oleh hal-hal yang tak seharusnya mengganggunya.

Alkisah ada dua ekor elang yang sedang berlomba untuk saling mengejar dan terbang tinggi di udara. Seekor elang dengan lincahnya meluncur dan terbang tinggi di angkasa. Elang yang lainnya hanya terbakar iri dan dengki. Ia sibuk memikirkan bagaimana menjegal temannya agar tidak dapat terbang tinggi. Maka ia berusaha mendekati temannya dan memperpendek jarak. Kemudian ia mencabut sehelai bulunya. Ia melempar ke arah temannya. Bila sasaran tepat maka temannya akan terjatuh dan dialah yang keluar sebagai pemenang. Lemparan pertama luput. Ia melanjutkan dengan lemparan kedua, ketiga dan seterusnya. Sampai bulu-bulunya hampir habis. Sampai ia kehabisan tenaga dan ia pun tersungkur. Ia kalah dengan menelan kedengkian yang dalam. Sementara temannya terbang tinggi menjulang.

Setelah ini setiap kita diharapkan mampu menyimpulkan makna kemuliaan yang sebenarnya. Kemuliaan yang sesungguhnya adalah ketakwaan yang diraih seseorang melalui kedekatan hubungan dengan Allah serta baiknya interaksi sosial dengan sesamanya.

Kaya atau miskin, cantik atau tampan, strata pendidikan yang tinggi, popularitas, kemapanan sosial serta berbagai topeng dunia lainnya tidaklah berarti di hadapan Allah bila tidak disertai dengan kualitas ketakwaan yang baik. Karena sesungguhnya derajat kemuliaan yang sebenarnya di hadapan Allah hanya bisa diraih dengan ketakwaan tersebut. Dan Allah Maha Mengetahui dengan sedetail-detailnya kualitas ketakwaan seseorang.

Maukah kita bergegas meraih ketakwaan tersebut? Bersegeralah! Sebelum semua menjadi terlambat. WalLâhu al-Musta’ân.

Kampung Sepuluh, Cairo.

Ahad Malam, 30 Juli 2006

Hidangan Allah (5) – [Ali Imron]

Orang-orang Pilihan

Saiful Bahri, M.A.

Menjadi orang-orang pilihan yang dihargai karena prestasi adalah merupakan sebuah kebahagiaan. Sebuah kepuasan psikis. Manusiawi. Lantas, bagaimana jika orang-orang pilihan tersebut dipilih dan dinobatkan oleh Allah.

Sesungguhnya Allah telah memilih Adam, Nuh, keluarga Ibrahim dan keluarga Imran melebihi segala umat (di masa mereka masing-masing)” (QS. 3:33)

Rahasia apakah yang membuat mereka terangkat dalam lembaran sejarah sebagai orang-orang pilihan. Adam dan Nuh mewakili dua individu secara personal. Dan Keluarga Ibrahim serta keluarga Imran menjadi sebuah prototipe keluarga teladan.

Pertama; Nabi Adam adalah manusia pertama yang dipilih Allah untuk mengemban misi kekhilafahan (memakmurkan bumi Allah). Misi tersebut pernah ditawarkan kepada makhluk-makhluk Allah yang lain, langit, bumi dan gunung-gunung. Akan tetapi mereka menyatakan tak sanggup memikul amanah yang berat. Maka amanah tersebut dibebankan kepada manusia (lihat QS. 33:72). Misi ini pun mendapat tanggapan dan konfirmasi dari beberapa pihak. Malaikat menengarai mereka akan membuat bencana di atas bumi. Dan apa yang diprediksikan malaikat tersebut benar. Akan tetapi tidak semua manusia seperti itu. Dan bukan manusia seperti mereka yang mengemban amanah dari Allah. Mereka yang laik tersebut tidaklah banyak, karena tanggungan memanggul amanah tidaklah mudah dibebankan kepada siapa saja.

Adam yang dibelaki Allah dengan ilmu dan akal diangkat derajatnya. Bahkan para penduduk langit diwajibkan sujud kepadanya. Sujud takzhim atas titah-Nya, bukan penyembahan atau penghambaan kepada makhluk-Nya. Iblis yang menolak perintah tersebut pun dilaknat Allah. Dimurkai. Dan –bahkan- diusir dari langit.

Kemudian, makar iblis pun dirancang untuk menggelincirkan Adam. Ia menabuh genderang permusuhan abadi terhadap Adam dan kelak anak-cucunya. Karena Adam lah yang menjadi sebab terusirnya Iblis dari langit.

Sebagai buahnya, Adam memang melakukan pelanggaran akibat kelalaian dari bujukan iblis. Tapi kelalaian tersebut dibayar dengan keinsyafan dan penyesalan yang dalam. “Keduanya berkata: “Ya Tuhan kami, kami Telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi.“ (QS. 7:23) Dan kesadaran, keinsyafan dan ketundukan yang khusyu’ sebagai refleksi perbaikan diri dijadikan Allah sebagai salah satu ciri-ciri orang bertaqwa. “Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui.”(QS. 3:135). Orang berprestasi bukanlah mereka yang tidak melakukan kesalahan. Namun mereka yang mampu menimpali kesalahan tersebut dengan kebaikan-kebaikan serta usaha perbaikan diri dan tidak putus asa pada rahmat Allah.

Kedua; Adapun Nabi Nuh as. yang sering dijadikan ikon dan simbol keteguhan dan kesabaran. Bagaimana tidak? Beliau berdakwah selama 950 tahun, namun pengikutnya tak lebih dari 50 orang. Bahkan yang lebih menyakitkan, istri dan anak lelakinya justeru menjadi bagian dari mereka yang menghalangi bahkan memusuhi dakwahnya. Mundurkah Nabi Nuh dari tugas risalah yang dibebankan Tuhannya? Sejarah merekamnya tidak demikian. Nuh as. tetap mantap melangkah menyampai-kan dakwahnya siang malam, dengan sembunyi-sembunyi dan terang-terangan, dengan berbagai sarana dan usaha. Namun, balasan kaumnya justeru menyakitkan. Ancaman fisik, teror mental dan psikis menjadi bagian yang tak terelakkan dari kehidupan Nabi Nuh. Terlebih ketika turun wahyu pembuatan kapal penyelamat. Nabi Nuh membuatnya di tengah padang pasir. Mereka menertawakan, mengejek dan mengolok-olok bahkan melempari dengan kotoran. Kisah-kisah kesabaran ini ada di berbagai surat dalam al-Qur’an. Namun secara spesifik ada dalam sebuah surat yang dinamakan Surat Nuh. Kisah kegigihan dakwah beliau bisa dilihat dalam surat ini. Pun pada saat banjir bandang melanda seluruh permukaan bumi dengan air mata berlinang beliau memanggil anaknya untuk bergabung dengannya. Namun ia menolaknya sehingga tenggelam ditelan air. Hal ini menunjukkan betapa beliau sangat mengharap dakwahnya diterima keluarganya. Namun Allah menguji beliau dengan perhelatan psikis yang dahsyat. Lihatlah rekaman dialog beliau dengan anaknya serta perhelatan psikis ini dalam surat Hud ayat 42-46. Nuh yang teguh dan tidak putus asa pada akhirnya diselamatkan Allah bersama sedikit dari kaumnya dan beberapa pasang binatang yang berada dalam kapalnya. Kesabaran seperti inilah yang dibutuhkan saat ini. Saat kita berniat baik namun respon sosial justeru sebaliknya; mencurigai, memusuhi bahkan meneror. Selaiknya Nabi Nuh kita contoh. Tak ada kata mundur. Tak ada kata menyerah. Beliau hanya mengerahkan segenap usaha kemanusiaan. Dan Allah mengganjarnya, sebagai salah satu nabi pilihannya yang istimewa yang dikenal dengan ulul azmi.

Ketiga; Bila sebelum ini dua individu dipilih Allah sebagai contoh dan teladan manusia. Berikutnya Allah menyertakan Ibrahim dan keluarganya sebagai prototipe keluarga ideal. Yang sukses mengorganisir potensi internal anggota keluarga yang kemudian digunakan untuk berdakwah dan bersosial di tengah-tengah masyarakat.

Lihatlah Ibrahim muda yang cerdas ketika berdebat dengan rezim yang zhalim. Lihatlah keberanian Ibrahim muda meluluhlantakkan khurafat dan simbol kejahiliahan kaumnya. Lihat pula kegigihan dan keteguhan beliau berpegang pada prinsip meski dipanggang di tengah api yang juga sebagai makhluk Allah. Dengan titah-Nya pula hal ini menjadi pintu mukjizat bagi beliau. “Kami berfirman: Hai api menjadi dinginlah, dan menjadi keselamatanlah bagi Ibrahim. (QS. 21:69).

Pun pada saat beliau berkeluarga. Kesabaran menanti keturunan juga patut dijadikan contoh. Demikian halnya pengajaran dan pendidikan akidah yang mantap dan matang pada keluarganya.

Lihatlah kisah mengharukan yang diabadikan al-Quran ketika beliau meninggalkan anak dan istrinya di sebuah lembah yang tak ada kehidupan sedikitpun di sana (lihat QS. 14:37) Demikian halnya pendidikan kepasarahan dan ketundukan pada Allah ditanamkan pada anak-anaknya. Sebagai contoh kedewasaan Ismail pada usia yang belia saat turun perintah penyembelihan. Sebagai balasan ujian ini Allah menggantinya dengan kemuliaan di atas kemuliaan. Beliau yang dijuluki sebagai abul anbiyâ’ (bapaknya para nabi) ini adalah khalîlurrahmân, kekasih Allah. Anak dan bapak ini lah dengan titah Allah membangun ka’bah yang kelak menjadi kiblat seluruh kaum muslimin. Yang juga menjadi salah satu poros dalam ibadah haji. Bahkan kisah-kisah heroik Ibunda Hajar diabadikan menjadi salah satu manasik haji. Sa’i (berlari-lari kecil) akan mengingatkan kita bagaimana beliau panik mencari air untuk anak semata wayangnya yang kehausan. Dan dari hentakan kaki Ismail kecil Allah memancarkan zamzam, sebuah mata air yang hingga kini terus memancar. Bahkan sarat dengan berbagai kelebihan melebihi air manapun di permukaan bumi.

Ketika melempar jamarat pun kita mengingat bagaimana Nabi Ibrahim menyambit syetan yang terus mengganggunya dan menggodanya. Sebenarnya ini sekedar simbol. Karena permusuhan abadi syetan ada pada diri manusia. Karena syetan mengalir dalam darah manusia.

Keluarga sukses seperti yang dibina Nabi Ibrahim as laik dicontoh untuk membentuk keluarga ideal. Penanaman akidah sejak dini pada anak, mendidik istri sehingga matang dan mantap dengan jalan dakwah suaminya. Pada akhirnya semua bermuara menjadi pendukung bahkan penopang dakwah yang diembannya. Dan akan terasa semakin ringan. Meski terror kezhaliman tak pernah sepi. Tapi Ibrahim semakin kokoh dan kuat. Bahkan sampai keturunannya pun menjadi penerus estafet dakwahnya. Ismail, Ishaq, Ya’qub, Yusuf dan berakhir pada Nabi Muhammad yang menjadi pamungkasnya.

Keempat; Bila tiga sampel sebelumnya Allah memilihnya dari kalangan Nabi dan Rasul-Nya. Maka orang pilihan keempat pada ayat yang kita tadabburi jatuh pada keluarga Imron. Keluarga biasa dari kalangan Bani Israil yang bukan nabi juga bukan dari kalangan rasul. Bahkan figur Imron sama sekali tak pernah disinggung. Namun, biasnya terlihat pada istri dan anak perempuannya, Maryam. Bahkan namannya tersemat menjadi salah satu nama surat dalam al-Qur’an.

Kegiatan dan kondisi keluarga Imran misalnya; tergambar sebuah kesalihan kolektif yang diwakili oleh istri Imran yang hendak mendermakan seluruh hidupnya demi sebuah pengabdian pada Tuhannya. Sehingga ia bernadzar hendak mengabdikan anaknya kelak untuk berkhidmat di Baitul Maqdis. Namun, ia terkejut ketika bayi perempuannya lahir. Semula ia menyangka nadzarnya akan kandas. Ia tetap memohon penerimaan ketulusan niatnya. Allah pun menerimanya. Bahkan mendidiknya dengan segala inayah dengan naungan berbagai kelebihan. Sehingga kematangan Maryam kecil memang seolah dipersiapkan untuk mengemban tugas berat. Kelak. Sebagai ibu seorang nabi yang terlahir dari rahimnya yang suci. Dengan titah Allah. Dengan kalimat Allah. Tanpa perantara seorang bapak. Dan Maryam ini pulalah yang mengajarkan sebuah makna tauhid dan kemahakuasaan Allah kepada Nabi Zakaria as. ketika beliau bertanya padanya. “Hai Maryam dari mana kamu memperoleh (makanan) ini?” Maryam menjawab, “Makanan itu dari sisi Allah”. Sesungguhnya Allah memberi rizki kepada siapa yang dikehendaki-Nya tanpa hisab. (QS. 3:37) Sebuah kesalihan yang terbina sejak kecil, dari anak yatim tersebut. Kesalihan yang memantul dari pribadi ibunya yang salihah. Dari sejak sebelum melahirkannya.

Anehnya, justru kisah pribadi Imran tak kita jumpai di sini. Atau di bagian lain dari al-Qur’an. Seorang lelaki salih yang tak sempat menyaksikan kelahiran putrinya. Karena Allah memang menginginkannya demikian. Supaya hanya Dia yang merawat dan mendidik anaknya. Tidak disebutkannya kisah Imran ini –walLâhu a’lam-merupakan jawaban atas tuduhan diskriminasi gender dalam al-Qur’an. Bahwa perempuan dan laki-laki memiliki peluang yang sama untuk menjadi orang-orang pilihan Allah. Perkataan istri Imran, “dan anak laki-laki tidaklah seperti anak perempuan”. (QS. 3:36) bukanlah ungkapan diskriminatif. Sebuah keterkejutan yang wajar bila ternyata bayinya seorang perempuan. Lantas bagaimana ia merealisasikan nadzarnya? Dan Allah pun menerimanya dengan penerimaan yang baik. (QS. 3:37)

Kesalihan kolektif ini tidaklah mungkin hanya diraih individu-individu yang ada di dalamnya tanpa sebuah kesalihan pemimpinnya. Imran yang salih menjadi pantulan kedewasaan, kematangan, ketabahan, ketulusan, kesediaan untuk berkorban dan beberapa determinan kesalihan kolektif tersebut. Berbahagialah Imran yang berhasil memimpin keluarganya. Bukankah demikian, impian orang-orang salih sebelum kita. Yang senantiasa menggumamkan doa, “Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertaqwa”. (QS. 25:74) Dan Imran meraih predikat itu. Beliau dan keluarganya laik menjadi teladan bagi umatnya.

Kematangan Maryam pula yang-seolah-menyadarkan kembali Nabi Zakaria akan berbagai keajaiban yang mungkin terjadi dengan ketidakterbatasan kuasa Allah. Dan beliau yakin bahwa keajaiban tersebut hanya bisa diraih dengan kedekatan pada yang pemilik berbagai keajaiban. Karenanya, dengan keyakinan penuh beliau bermunajat. Dan Allah mengabulkan keinginannya. Dengan karunia penyambung keturunan sekaligus estafet dakwahnya.

Orang-orang pilihan yang diangkat dalam ayat ini mempunyai karakteristik yang sama; rabbani. Dan di antara mereka memiliki kesinambungan perjuangan dan estafet dakwah. Anda ingin menjadi orang pilihan? Ikuti jejak mereka. Lanjutkan tongkat estafet dakwah mereka. WalLâhu a’lam. [à]

Kampung Sepuluh, Pagi Menjelang Siang

Nasr City – Cairo, 17 Juni 2007

Hidangan Allah (4) [al-Mulk]

BILIK-BILIK PRESTASI*

Saiful Bahri, M.A

Maha Suci Allah Yang di tangan-Nyalah segala kerajaan, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun”. (QS. 67:1-2)

Melalui ujian tersebut Allah tahu siapa yang terbaik di antara para hamba-Nya. Terbaik dalam mengisi lembar ujian. Karena sepanjang hidup Allah selalu menguji manusia. Jika –nantinya- hasil tersebut baik, maka kemanfaatan tersebut kembali pada diri masing-masing. Allah sama sekali tidak memerlukan itu. Jika ternyata belum sesuai harapan; toh pintu maaf-Nya tak pernah tertutup.

Sebagaimana siswa/mahasiswa menempuh ujian. Selalu ada materi yang diujikan atau diajarkan sebelumnya. Selalu ada yang mengingatkannya. Selalu ada yang mengajaknya bersiap-siap menempuhnya. Selalu ada yang menemani mereka.

Demikianlah kehidupan ini. Kehidupan yang dilapangkan oleh Dzat pencipta tujuh lapis langit, yang menghiasinya dengan bintang-bintang sekaligus sebagai pelempar para syetan; sang penyontek dan pengganggu ujian para manusia.

Orang yang gagal dalam ujian tersebut adalah orang yang merugi. Sekali lagi; merugi. Karena ia bukan sekadar gagal. Tapi akan menerima siksaan yang tak terperikan; pedih yang sangat. Ini bukan sebuah sistem yang kejam. Tapi sebuah hari pembalasan. Hari pengumuman. Yang pada hari itu semua manusia menampakkan penyesalan. Bagi yang berbuat baik ia menyesal mengapa tidak menambahnya. Bagi yang berbuat buruk, akan semakin tampak guratan sesal itu. Karena ia tahu kesudahan masalahnya. Hari itu takkan ada kebohongan sedikit pun. Karena yang menjadi saksi adalah anggota-anggota tubuh. Dengan titah Sang Pemilik segala kerajaan.

Ketika orang-orang yang gagal tersebut dilempar ke neraka sa’îr, para penjaga neraka itu menanyai mereka. Apakah tak pernah ada, orang yang memberi peringatan selama mereka di dunia? Mereka pun tak punya pilihan kecuali hanya mengiyakan. Guratan sesal sangat nampak. Karena mereka melecehkan para pembawa peringatan tersebut. Bahkan sebagian ada yang ditindas dan disakiti.

Sejenak kita simak pengakuan jujur mereka. “…. Sekiranya kami mendengarkan atau memikirkan (peringatan itu) niscaya tidaklah kami termasuk penghuni neraka yang menyala-nyala”. (QS. 67:10)

Mereka adalah orang-orang yang tak mau menggunakan karunia mahal yang diberikan Allah kepada hamba-Nya. Untuk menempuh ujian kehidupan. Untuk menjadi orang-orang pilihan. Untuk menjadi yang terbaik.

Sesungguhnya dalam penciptaan langit langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal”. (QS. 3:190)

Dan akal adalah perangkat kesungguhan manusia dalam menempuh ujian. Karena hanya orang yang bersungguh-sungguh saja yang akan lulus sebagai orang-orang pilihan yang berprestasi.

Derivasi kata “a qa la” diulang dalam al-Qur’an sebanyak 49 kali. Semuanya berbentuk fi`il mudhâri’ (present/countinuous tense) kecuali satu berbentuk fi`il mâdhî (past tense). “Ta’qilûn” 24 kali, “ya’qilûn” 22 kali. ‘Aqala, na’qilu dan ya’qilu; masing-masing sekali. Ini belum kata-kata derifatif dari “fakara” yang juga diulang sebanyak 18 kali. Keduanya berarti berpikir. Menariknya adalah ketika Allah mengulang-ulang “afalâ ta’qilûn” (Tidakkah kalian berpikir) sebanyak 13 kali. Ini mengindikasikan bahwa agama bukan merupakan sebuah doktrin yang tak bisa diterima akal. Bahwa aturan-aturan yang diturunkan dari langit sebagai bahan ujian manusia di bumi tidaklah sulit untuk dipahami. Dalam setiap masa, Allah mengutus para rasul-Nya untuk menjelaskannya. Hingga datang penutup para rasul itu, Muhammad Saw.

Setelah itu tugas pemberi peringatan itu diteruskan oleh orang-orang setelahnya, pewaris para nabi. Mereka sebagai pemberi peringatan. Sekaligus sebagai peserta ujian. Karena mereka pun tak luput dari hari penghitungan. Agar kelak diketahui, siapa diantara mereka yang hanya bekata tapi tak mengamalkan. Menyeru tapi menyelisihi apa yang dikatakannya kepada manusia.

Hai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu perbuat. Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tiada kamu kerjakan”. (QS. 61: 2-3)

Kelengkapan manusia dengan dibekali akal tidaklah hanya kebetulan. Allah menjadikannya sebagai perangkat menuntut ilmu. Dengan ilmu Allah memerintahkan malaikat dan jin bersujud pada Adam as. Dan jin dilaknat karena enggan melakukan titah itu.

Dengan akal itu Allah menjadikan manusia sebagai khlifah-Nya di bumi. Untuk memakmurkan isinya. Agar bermuara pada ketundukan pada-Nya. Sebuah amanah yang bumi dan langit serta gunung pun menolaknya. Hanya manusia yang lemah yang berani memikulnya.

Allah mencela mereka yang tak menggunakan akalnya. Karena sama saja tidak menyukuri karunia-Nya.

Kembali ke permasalahan ujian. Bahwa proses penghargaan untuk yang menjadi terbaik adalah kedua sisi penciptaan Allah. Hidup dan mati. Semasa hidup manusia mengukir prestasi untuk dinikmatinya setelah ia mati. Jika hanya kehidupan, maka hasil ujian takkan pernah diumumkan. Sebaliknya, jika hanya ada kematian, maka takkan pernah ada ujian; apalagi penghitungan dari ujian itu.

Standar kelulusan ujian ini adalah; yang terbaik (ahsanu ‘amalâ). Bukan mereka yang banyak bicara. Bukan mereka yang banyak berbuat. Tapi mereka yang bagus dan benar amalnya. Dimensi –paling- bagus ini mencakup berbagai lini kehidupan. Dari aspek spirit, berupa kejernihan dan kebeningan hati. Dari aspek lainnya, kualitas dan profesional. Keberhasilan aspek pertama, akan membantu –sedikit banyak- keberhasilan aspek kedua.

Dalam nembuahkan kerja produktif dan profesional yang jujur –jika boleh dibahasakan demikian- maka akal manusia berperan untuk mewujudkan prestasi ini.

Karenanya sangat pantas jika kemudian akal ini dijadikan salah satu sarana pembantu kekhilafahan manusia di bumi.

Namun, ada hal lain yang kadang membuat manusia yang lemah lagi bodoh ini untuk mendewakan akal. Ia dijadikan satu-satunya sandaran yang dikultuskan. Bahwa akal adalah segala-galanya. Padahal akal ini juga sebagaimana hati, digunakan sebagai sarana kekhilafahan yang dibimbing dan dipedomani dengan ajaran yang dibawa seorang rasul Allah. Akal tidak untuk didewakan dan dikultuskan, sebagaimana hati dan perasaan tidak pula untuk diperturutkan secara emosional.

Maka al-Quran tak pernah memuat secara langsung kata “al-aqlu” (akal); ini dimaksudkan –walLâhu a’lam”– agar kita juga tidak terlalu mendewakan akal. Yang dipuji Allah adalah proses menggunakan akal. Dianjurkan dan dijadikan sarat meraih prestasi dan posisi yang tinggi di sisi-Nya sebagai orang yang beriman dan berilmu.

Pengkultusan akal ini suatu saat bisa mengakibatkan pengkultusan diri. Pada saat kekuasaan dan harta digenggam. Pada saat tak ada orang yang berani mengatakan tidak untuk melawan keputusaannya. Pada saat semua orang terdiam, bungkam oleh keterpaksaan. Saat itulah firaun-firaun Musa menjelma menjadi dzat yang merasa besar. Congkak namun dungu “…(Seraya) berkata: “Akulah Tuhanmu yang paling tinggi”. (QS. 79:24)

Orang-orang yang gagal itu akan enggan bila diajak berpikir. Siapa yang mendatangkan badai atau hujan batu? Apakah kalian merasa tenang-tenang saja dari ditimpa hal-hal seperti itu di bawah langit? Langit siapakah itu?

Lihatlah burung ketika terbang. Saat mengembangkan dan menahan sayapnya. Siapa yang menahannya berada di udara di atas kita.

Siapa yang memberi rizki? Menjodohkan dan mengabulkan berbagai permohonan?

Siapa yang menghidupkan dan mematikan. Mencipta kehidupan sekaligus mencabutnya dan menjelmakan sebuah kematian sebagai gantinya?

Siapa yang menjadikan bumi ini laik untuk dihuni para khalifah Allah. Yang sekaligus ditugaskan memakmurkannya serta menikmati segala fasilitasnya.

Katakanlah: “Dia-lah yang menciptakan kamu dan menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati”. (Tetapi) amat sedikit kamu bersyukur. (QS. 67:23).

Benar; sungguh sedikit yang mau mengerti dan paham serta menyukuri segala fasilitas ini.

Bukankah dengan ini manusia sudah cukup diajak berdialog dengan sangat demokratis. Sebelum jatuh vonis kelak di hari yang tak ada perbantahan di sana. Karena hanya ada sebuah kesaksian yang jauh dari rekayasa. Kesaksian yang berbicara dengan titah kejujuran.

Sangat adil. Dia mengaruniai manusia pendengaran, penglihatan serta hati untuk membalance akal. Sekaligus menyempurnakan perangkat dan peralatan menempuh ujian. Adapun sarana dan perangkat lain; manusia dianjurkan untuk berinovasi serta kreatif menemukan dan menggunakannya.

Setelah itu, dengan keterbukaan akal dan wawasan; kita tahu bahwa lahan prestasi dalam hidup ini sangatlah luas. Berbuat apa saja bisa dijadikan sebagai lahan peningkatan poin dalam buku prestasi amal. Bahkan tidur dan makan pun sebagai pemenuhan di antara insting manusia bisa diframe dalam bingkai prestasi. Dengan niat yang baik. Secara vertikal kepada Sang Pemilik hidup dan mati, kita tahu berinteraksi. Kepada diri kita, kita juga tahu dan paham. Serta kepada apa dan siapa saja di sekeliling kita, semua ada cara interaksinya.

Semua bisa dibingkai untuk meningkatkan raihan prestasi kita. Dengan kesungguhan. Dan dengan kecerdasan akal kita. Serta dengan kekuatan bashirah. Setelah itu, laluilah. Jalanilah kehidupan ini apa adanya. Kelak kita hanya tinggal menuai hasilnya.

Bersegeralah isi bilik-bilik prestasi itu. Sebelum semuanya menjadi terlambat. Dan tiada guna lagi sesal saat itu.

“Katakanlah:”Terangkanlah kepadaku jika sumber air kamu menjadi kering; maka siapakah yang akan mendatangkan air yang mengalir bagimu?”. (QS. 67:30)

Sedang para hamba-Nya yang berprestasi hari itu, akan diberi nilai bermacam-macam dan berbeda sesuai dengan amalnya. Pada hari itu mereka dihargai dengan derajat yang bertingkat-tingkat. Siapakah yang beruntung saat penyematan prestasi itu dilakukan di depan Allah, para malaikat; penghuni langit. Jin dan manusia, serta para penduduk dunia dari berbagai penjuru dan dari setiap masa. Akankah kita termasuk salah satu dari mereka? WalLâhu al musta’ân.

Cairo, Musim Panas 2003


* Sebuah tadabur surat al-Mulk.

Hidangan Allah (3) – [Annur]

Cahaya di atas Cahaya*

Saiful Bahri, MA**

Dalam menapaki hidupnya manusia memerlukan petunjuk. Petunjuk ini ibarat secercah cahaya di tengah kegelapan yang pekat. Luasnya kehidupan yang diarungi oleh manusia yang berada di tengah berbagai nafas dan kepentingan duniawi. Tak jarang dalam kondisi seperti ini manusia melupakan asalnya. Dia berasal dari Allah dan akan kembali kepada-Nya. Kehidupan yang diberikan kepadanya adalah sebuah ujian. Kelak ia akan mempertanggung-jawabkan semua apa yang dilakukannya di dunia.

Dalam interaksi sosial, manusia memerlukan panduan sebagai pijakan. Apalagi bagi seorang muslim, ia lebih memerlukannya. Dalam Surat Annur yang sedang kita tadabburi kali ini, Allah menurunkan berbagai aturan sebagai cermin sosial seorang muslim dalam berinteraksi. Erat kaitannya dengan interaksi antara laki-laki dan perempuan, adab-adab rumah tangga serta berbagai sikap terhadap penyelewengan sosial. Dan sebagai contoh riil sejarah, Allah menurunkan beberapa ayat untuk menyikapi fitnah besar berita bohong (ifky) yaitu tuduhan keji orang-orang munafik terhadap Ibunda Aisyah r.a dan Sahabat Shafwan bin Mu’atthal ra.

Ini (adalah) satu surat yang kami turunkan dan kami wajibkan (menjalankan hukum yang ada di dalam)nya. Dan kami turunkan di dalamnya ayat ayat yang jelas, agar kamu selalu mengingatinya..” (QS. Annur : 1)

Sebagai salah satu surat yang diturunkan di Madinah, memiliki ciri khusus berupa hukum-hukum dan peraturan. Secara global dapat kita klasifikasikan dalam beberapa permasalahan pokok sebagai berikut.

Pertama, pada ayat kedua Allah menjelaskan hukuman bagi pezina baik laki-laki maupun perempuan yaitu didera (dicambuk) 100 kali. Hukuman ini dikhususkan bagi mereka yang belum pernah menikah. Dan sebagian besar ahli fikih menambahkannya dengan diasingkan selama satu tahun. Berdasarkan hadits yang diriwayatkan Ubadah bin Shamit ra. Sedangkan untuk laki-laki dan perempuan yang sudah (pernah) menikah maka dihukum rajam. Dalam istilah fikih disebut dengan ”muhshan”. Berdasarkan hadits Nabi saw dan perintah beliau untuk merajam pezina yang muhshan serta berdasarkan apa yang beliau lakukan beberapa kali, juga disepakati oleh para shahabat beliau. ”… dan janganlah belas kasihan kepada keduanya mencegah kamu untuk (menjalankan) agama Allah, jika kamu beriman kepada Allah, dan hari akhirat… ” (QS. Annur: 2). Yang dimaksudkan bukan melaksanakan hukuman dengan kejam atau sampai melewati batas. Namun tetap menjaga sisi kemanusiaan. Hanya saja kadang kita malah berbelas kasihan terhadap orang-orang yang berbuat salah tersebut sehingga meninggalkan penerapan hukuman seperti ini. Seperti kasus pembunuhan. Kadang kita berdebat tentang nasib si pembunuh, namun sering terlupakan bagaimana ia membunuh korbannya. Tentunya bila sudah sama-sama jelas mana saja pihak yang bersalah. Dalam masalah perzinaan ini tidaklah sepele, karena untuk menetapkannya perlu persaksian empat orang laki-laki yang melihat secara langsung. Atau dengan pengakuan pihak yang bersangkutan.

Selain itu Allah memerintahkan pelaksanaan hukuman ini dengan disaksikan oleh orang banyak. Hal ini dimaksudkan agar orang-orang bisa mengambil ibrah dan pelajaran dari peristiwa tersebut, serta menjauhi perbuatan buruk dan keji ini. Dan Allah menyediakan jalan keluar yang halal, yaitu dengan pernikahan.

Penegasan Allah tentang keburukan perbuatan ini tertera pada ayat berikutnya : ”Laki-laki yang berzina tidak mengawini melainkan perempuan yang berzina, atau perempuan yang musyrik; dan perempuan yang berzina tidak dikawini melainkan oleh laki-laki yang berzina atau laki-laki musyrik, dan yang demikian itu diharamkan atas oran-orang yang mukmin”. (QS. Annur: 3) Ini bukan sebuah perintah, namun sebuah kaidah sosial yang umum. Artinya tidak selaiknya orang baik-baik menikahi orang-orang yang berzina, baik laki-laki maupun perempuan. Kecuali mereka yang benar-benar bertobat dari perbuatannya. Konon ayat ini turun ketika ada beberapa orang sahabat Nabi yang terlilit kemiskinan dan kehidupan Madinah sangat perlu biaya yang tidak sedikit. Di pasar dan tempat-tempat umum terlihat ada pintu-pintu yang diberi tanda khusus bahwa penghuninya adalah para perempuan pezina. Mereka berandai-andai kalau bisa menikahi mereka sampai mencukupi kebutuhan hidup di Madinah. Mereka lalu bertanya pada Rasulullah dan turunlah ayat ini. (HR. Ibnu Abi Hatim) Menurut sebagian pakar hadits, hadits ini lemah karena perawinya terputus sampai tabiin saja, dalam istilah ilmu hadits disebut mursal.

Ringkasnya hukuman berzina ada dua, yaitu secara hukum dan peraturan yang diterapkan (hudûd) dan hukuman sosial (dengan diperlihatkan prosesi pelaksanaan hukuman dan diharamkan menikahi mereka bagi orang baik-baik)

Kedua, pada ayat berikutnya Allah memerinci lebih detai lagi. ”Dan orang-orang yang menuduh wanita-wanita yang baik-baik (berbuat zina) dan mereka tidak mendatangkan empat orang saksi, Maka deralah mereka (yang menuduh itu) delapan puluh kali dera, dan janganlah kamu terima kesaksian mereka buat selama-lamanya. dan mereka itulah orang-orang yang fasik. Kecuali orang-orang yang bertaubat sesudah itu dan memperbaiki (dirinya), Maka Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Annur : 4-5) Sebuah bentuk proteksi sosial dari Allah. Bahwa tidak selaiknya orang-orang ringan lidah mengatakan sebuah tuduhan tanpa didasari dengan bukti dan persaksian yang cukup seperti yang disebutkan dalam ayat ini, yaitu dengan 4 orang saksi. Ini juga berlaku untuk perempuan yang menuduh laki-laki atau laki-laki dan perempuan yang menuduh sesamanya berbuat zina. Yang demikian agar orang-orang lebih menjaga lisan dan perkataannya.

Secara ringkas hukuman orang yang menuduh zina orang baik-baik tanpa bukti yang lengkap ada dua macam: secara hukum (didera 80 kali) dan hukuman sosial dengan tidak diterimanya persaksian mereka.

Ketiga, pada ayat 6 sampai 10 Allah lebih memerinci lagi. Bila kasus tersebut terjadi dalam rumah tangga. Bila prahara keji ini terjadi dan dilakukan oleh orang yang paling dekat dalam hidup. Orang-orang sekarang lebih menyederhanakan istilahnya dengan sebutan ”selingkuh”. Dalam istilah fikih penyelesaian kasus seperti ini disebut dengan Li’an. Karena suami yang menuduh istrinya berzina tidak memiliki saksi selain dirinya sendiri. Jika ia pergi mencari 4 saksi maka istrinya yang berzina akan lari dan menyudahi hajatnya. Bila ia menyimpannya maka ia pendam bara kebencian yang bergejolak dalam dadanya.

Peristiwa ini pernah dialami oleh sahabat Rasul, Hilal bin Umayah sebagaimana yang diceritakan oleh Sa’ad bin Ubadah. Rasul pun akhirnya mencambuknya 80 kali dan dibatalkan persaksiannya dalam hal apapun. Sampai Allah menurunkan ayat ini. Kemudian keduanya (Hilal dan istrinya) dipanggil Rasulullah dan dimintai sumpahnya seperti yang tertera pada surat Annur ayat 6-9.

Keempat, Pada ayat selanjutnya (ayat 11-26) Allah menceritakan sebuah fitnah besar yang menyerbu kehidupan sosial masyarakat Madinah saat itu. Sebuah prahara yang menimpa keluarga Rasulullah Saw. Yaitu tuduhan kaum munafik terhadap Ibunda Aisyah ra dan sahabat Shafwan bin Muaththal ra. Para ilmuwan dan para sejarahwan merekam kejadian ini. Seperti apa yang diriwayatkan Imam Bukhari dari cerita Urwah bin Zubeir terhadap apa yang menimpa bibinya (Aisyah). Fitnah ini terjadi pasca perang Bani Musthaliq pada bulan Sya’ban tahun 5 H. Rasulullah menyertakan Aisyah ra untuk menemani beliau berdasarkan undian yang diadakan antara istri-istri beliau. Dalam perjalanan kembali ke Madinah para pasukan beristirahat. Aisyah keluar dari sekedup untanya untuk sebuah keperluan, kemudian kembali lagi. Namun, tiba-tiba beliau merasa kehilangan kalungnya. Maka segera beliau turun kembali dan mencari kalung tersebut. Semantara para pasukan bersiap-siap untuk melanjutkan perjalanan. Mereka mengira Aisyah sudah berada di dalam sekedupnya. Maka mereka berjalan. Ketika Aisyah kembali ia telah ditinggal rombongan. Beliau berharap pasukan mengetahui bahwa sekedup itu kosong dan kembali menjemputnya. Aisyah pun menunggu hingga tertidur. Kebetulah ada seorang sahabat, Shofwan bin Muaththal lewat. Beliau heran melihat dari jauh ada seseorang tertidur sendirian. Alangkah terkejutnya setelah beliau tahu bahwa orang tersebut adalah Aisyah, istri Rasulullah saw. Reflek Shofwan beristirja’ (mengatakan: `innâ lilLâhi wa innâ `ilaihi râji’ûn). Aisyah terbangun juga karena terkejut. Dan mereka sama sekali tidak keluar kata-kata kecuali hanya ucapan Shafwan tersebut. Kemudian Shafwan mempersilakan Aisyah mengendarai untanya, dan Shafwan pun menuntunnya hingga mereka tiba di Madinah. Orang-orang yang melihat mereka memasuki Madinah dengan penafsiran masing-masing, hingga terdengar desas-desus yang kurang mengenakkan keluarga Rasulullah. Kemudian kaum munafik menyulut fitnah ini dan menjadi besar kemudian mengerucut tuduhan selingkuh kepada Aisyah ra. Sehingga menimbulkan prahara fitnah di tengah kaum muslimin. Rasul pun gundah. Dan Aisyah kembali ke rumah orang tuanya untuk meredakan fitnah ini. Urwah menuturkan perkataan bibinya yang dirundung kesedihan yang sangat hingga kehabisan air mata. Aisyah terus menerus berdoa agar Allah membebaskannya. Sebagian kaum muslimin ada yang termakan oleh fitnah ini. Hingga turunlah ayat-ayat pembebasan terhadap ibunda Aisyah yang suci dari tuduhan keji kaum munafik.

Orang-orang itu menganggap desas-desus ini sesuatu yang remeh, namun Allah menganggapnya sebuah dosa yang besar. Apalagi mereka tidak pernah mendatangkan empat orang saksi. Maka mereka, para penuduh itu bagi Allah adalah sebesar-besar pendusta. Allah mengancam orang-orang yang menyulut fitnah ini dengan hukuman yang pedih dan di akhirat. Serta membebaskan keguncangan sosial ini.

Rasulpun memerintahkan hukuman cambuk kepada sebagian sahabatnya yang terpancing dengan tuduhan ini. Mereka kembali diterima persaksiannya setelah mereka bertobat. Kecuali orang-orang munafik yang bersembunyi dari hukum Allah. Kelak Allah akan membuka tabir kebusukan mereka.

Bahkan sampai-sampai Abu Bakar geram dengan salah seorang keluarganya yang miskin yang dikafilnya ikut terlibat dan termakan fitnah tersebut, yaitu Masthah bin Utsatsah. Beliau bersumpah untuk tidak mengafilnya lagi namun Allah menegurnya, ”Dan janganlah orang-orang yang mempunyai kelebihan dan kelapangan di antara kamu bersumpah bahwa mereka (tidak) akan memberi (bantuan) kepada kaum kerabat(nya), orang-orang yang miskin dan orang-orang yang berhijrah pada jalan Allah, dan hendaklah mereka mema’afkan dan berlapang dada. apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu? dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”(QS. Annur: 22)

Dan kalam Allah benar-benar tegas meneguhkan kesucian orang-orang yang benar-benar dikenal baik dan sama sekali tak terpikir sama sekali untuk melakukan perbuatan keji. ”Sesungguhnya orang-orang yang menuduh wanita yang baik-baik, yang lengah (dari berpikir untuk berbuat zina), lagi beriman, mereka terkena laknat di dunia dan akhirat, dan bagi mereka azab yang besar.” (QS. Annur : 23). Terlebih bila kita mau menadabburi ayat Allah dengan pemaknaan yang dalam pada ayat 26, ”Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah untuk wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki- laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula). Mereka (yang dituduh) itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh mereka (yang menuduh itu). Bagi mereka ampunan dan rezki yang mulia (surga).

Kelima, kemudian Allah menjelaskan adab-abad bertamu dan memasuki rumah orang lain (pada ayat 27-29). Yaitu dengan meminta izin sebelum masuk dan memberi salam. Serta tidak bertamu pada saat tuan rumah kurang berkenan. Dan bila dikatakan untuk kembali (saja) maka sebaiknya mengurungkan niatnya bertamu dan segera kembali. Hal ini untuk menjaga kebersihan hati. Secara implisit juga dianjurkan untuk menjaga pandangan ketika bertamu, dengan tidak melihat-lihat secara liar terhadap kondisi rumah yang dikunjungi.

Keenam, pada ayat (30-31), Allah menjelaskan aturan dan pedoman interaksi antara laki-laki dan perempuan. ”Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih Suci bagi mereka, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang mereka perbuat.” (QS. Annur: 30) Bukan hanya laki-laki saja yang dituntut demikian, namun perempuan juga. Bahkan mereka juga mesti menjaga adab berpakaian lebih dari laki-laki. Yaitu dengan melonggarkan pakaiannya dan mengenakan jilbab. ”Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan menjaga kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita islam, atau budak- budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinyua agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, Hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.” (QS. Annur: 31)

Hal ini dimaksudkan untuk menjaga kebersihan sosial masyarakat dari bahaya kekejian besar sebagaimana yang dijelaskan di awal-awal surat, yaitu perbuatan zina. Untuk menjaga potensi anak-anak muda agar bisa lebih produktif dan kreatif. Serta untuk memelihara keutuhan rumah tangga dan melanggengkan keharmonisan yang dinamis penuh rahmah dan mawaddah. Tentunya hal ini perlu kerja sama antara kedua pihak yang ada di tengah komunitas masyarakat; laki-laki dan perempuan. Jangan pernah ada saling menuduh antara perempuan dan laki-laki, karena keduanya bertanggung jawab atas masing-masing dan bekerja sama untuk menumbuhkan kondisi masyarakat yang lebih jernih dan bersih.

Laki-laki diperintahkan untuk menjaga pandangannya juga kehormatannya. Demikian juga perempuan, juga masing-masing menjaga penampilan dengan adab-adab berpakaian yang memenuhi standar norma yang diatur agama. Bukan dengan membiarkan bagian-bagian tubuh yang dapat mengundang fitnah terbuka, atau berpakaian ketat yang mencetak bentuk tubuh, atau juga mengenakan pakaian transparan yang tipis yang juga akan menimbulkan fitnah dan mempersulit untuk menjaga pandangan.

Dan tentunya proses penyadaran ini terus menerus dilakukan oleh siapapun. Terutama yang memahami aturan ini. Proses penyadaran terhadap masyarakat ini juga tidak berjalan sebentar, namun perlu proses panjang dan kesabaran. Agar masyarakat tidak berubah menjadi anti dan kemudian membenci aturan-aturan Allah. Di sinilah dai yang bijak bisa menempatkan diri dengan hikmah dan bijaksana dalam berdakwah di tengah masyarakatnya. Tidak menyerah dalam kondisi apapun, bahkan sampai seburuk apapun kondisi sosialnya. Juga tidak dengan pemaksaan yang berlebihan.

Adapun perhiasan yang dimaksud di sini adalah sesuatu bila terbuka dan terlihat oleh laki-laki maka bisa menimbulkan fitnah. Maka urutan pengecualian (boleh) melihatnya pun berbeda-beda. Dimulai dari suami. Karena suami istri dibebaskan, dihalalkan melihat apa saja diantara mereka berdua. Kemudian setelahnya ayah kandung, ayah mertua dan seterusnya. Secara eksplisit memang kita tak menjumpai bagaimana tata cara perempuan berpakaian di depan saudara perempuan mereka dan ibu mereka. Tapi ini adalah standar umum kesopanan mereka berpakaian di rumah. Juga penegasan ”wanita yang islam” adalah demi menjaga aurat. Karena dikhawatirkan bila mereka memberikan penggambaran fisik seorang muslimah dikarenakan tidak paham atau dikarenakan kebencian atau sebab-sebab yang lain. Karena sebagaimana melihat, mendeskripsikan fisik perempuan dalam Islam adalah suatu yang dihindari. Sayangnya justru modernisasi yang dipahami oleh sebagian orang adalah dengan memperlihatkan fisik di depan umum. Dengan dalih membebaskan, sebagian berdalih seni. Dan sebagian lain berdalih konsumtif dan keinginan pasar. Bila seperti ini maka perempuan hanya dinilai dari fisiknya saja. Padalah Allah memuliakannya. Dan karena perempuan sebagaimana laki-laki, tidak dinilai dari penampilan fisiknya. Siapa-siapa saja yang berhak melihat ”perhiasan” tersebut telah diatur dalam agama. WalLâhu a’lam.

Ketujuh, Bila Allah mencela perbuatan zina, maka Allah memberikan jalan keluarnya yang arif dan lebih bersih. Yaitu dengan pernikahan. Karena secara fitrah manusia yang normal baik laki-laki maupun perempuan dikaruniai hasrat biologis yang memerlukan penyaluran yang sehat dan terhormat. Satu-satunya jalan halal itu adalah dengan pernikahan. ”Dan kawinkanlah orang-orang yang sedirian diantara kamu, dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan kurnia-Nya. dan Allah Maha luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (QS. Annur 32) Ini adalah anjuran untuk memudahkan pernikahan dan tidak mempersulit. Allah menganjurkan untuk membantu mereka yang bertekad untuk menikah.

Adapun bagi mereka yang belum mampu hendaklah menjaga diri dan kehormatannya sebagaimana yang Allah firmankan pada ayat selanjutnya, ”Dan orang-orang yang tidak mampu kawin hendaklah menjaga kesucian (diri)nya, sehingga Allah memampukan mereka dengan karunia-Nya. dan budak-budak yang kamu miliki yang memginginkan perjanjian, hendaklah kamu buat perjanjian dengan mereka, jika kamu mengetahui ada kebaikan pada mereka, dan berikanlah kepada mereka sebahagian dari harta Allah yang dikaruniakan-Nya kepadamu. dan janganlah kamu paksa budak-budak wanitamu untuk melakukan pelacuran, sedang mereka sendiri menginginkan kesucian, larena kamu hendak mencari keuntungan duniawi. dan barangsiapa yang memaksa mereka, Maka Sesungguhnya Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang (kepada mereka) sesudah mereka dipaksa itu” (QS. Annur: 33) Di sini Allah juga mencela mereka yang memaksa budak-budak wanita untuk melacur dan kemudian diambil keuntungannya.

Kedelapan, dalam surat ini Allah juga menurunkan aturan interaksi di dalam rumah tangga. ”Hai orang-orang yang beriman, hendaklah budak-budak (lelaki dan wanita) yang kamu miliki, dan orang-orang yang belum balig di antara kamu, meminta izin kepada kamu tiga kali (dalam satu hari) yaitu: sebelum shalat subuh, ketika kamu menanggalkan pakaian (luar)mu di tengah hari dan sesudah shalat Isya’. (Itulah) tiga ’aurat bagi kamu. Tidak ada dosa atasmu dan tidak (pula) atas mereka selain dari (tiga waktu) itu. Mereka melayani kamu, sebahagian kamu (ada keperluan) kepada sebahagian (yang lain). Demikianlah Allah menjelaskan ayat-ayat bagi kamu. dan Allah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana. Dan apabila anak-anakmu telah sampai umur balig, Maka hendaklah mereka meminta izin, seperti orang-orang yang sebelum mereka meminta izin. Demikianlah Allah menjelaskan ayat-ayat-Nya. dan Allah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana. Dan perempuan-perempuan tua yang telah terhenti (dari haid dan mengandung) yang tiada ingin kawin (lagi), tiadalah atas mereka dosa menanggalkan pakaian mereka dengan tidak (bermaksud) menampakkan perhiasan, dan berlaku sopan adalah lebih baik bagi mereka. dan Allah Maha mendengar lagi Maha Bijaksana. Tidak ada halangan bagi orang buta, tidak (pula) bagi orang pincang, tidak (pula) bagi orang sakit, dan tidak (pula) bagi dirimu sendiri, makan (bersama-sama mereka) di rumah kamu sendiri atau dirumah bapak-bapakmu, di rumah ibu-ibumu, di rumah saudara-saudaramu yang laki-laki, di rumah saudaramu yang perempuan, di rumah saudara bapakmu yang laki-laki, di rumah saudara bapakmu yang perempuan, di rumah saudara ibumu yang laki-laki, di rumah saudara ibumu yang perempuan, di rumah yang kamu miliki kuncinya atau di rumah kawan-kawanmu. Tidak ada halangan bagi kamu makan bersama-sama mereka atau sendirian. Maka apabila kamu memasuki (suatu rumah dari) rumah-rumah (ini) hendaklah kamu memberi salam kepada (penghuninya yang berarti memberi salam) kepada dirimu sendiri, salam yang ditetapkan dari sisi Allah, yang diberi berkah lagi baik. Demikianlah Allah menjelaskan ayat-ayatnya(Nya) bagimu, agar kamu memahaminya.” (QS. Annur : 58-61)

Dari ayat-ayat di atas bisa kita pelajari bagaimana mendidik etika kepada anak-anak yang belum baligh, juga kepada orang-orang yang berada di dalam rumah kita. Bahkan ketika seorang perempuan memasuki masa tua yang tak lagi punya keinginan menikah meski dibolehkan untuk tidak berpakaian seperti perempuan muda, namun Allah tetap menganjurkan untuk tetap menutupnya.

Kesembilan, Allah juga menurunkan etika interaksi kaum mukminin dengan Rasulullah saw. pada ayat (62-63), yaitu:

a. Bila mereka berada dalam satu majlis dengan Rasulullah saw. mereka tidak meninggalkan Rasulullah kecuali setelah mereka meminta izin kepada beliau.

b. Tidak memanggil Rasulullah Saw dengan panggilan seperti mereka memanggil di antara mereka. Tapi, memanggilnya dengan sebutan yang laik bagi seorang Nabi dan Rasul Allah.

Hal ini pun masih dan tetap berlaku bagi umat Islam, meskipun saat ini Rasulullah sudah tiada. Yaitu dengan mengagungkan majlis-majlis yang mempelajari hadits-haditsnya. Juga tidak menyebut langsung nama beliau sebagai penghormatan etis kita kepada beliau. Meskipun sebagian orang mengatakan bahwa Muhammad adalah manusia sebagaimana manusia yang lain. Namun, bagi seorang mukmin beliau adalah manusia pilihan Allah yang dijadikan Nabi dan Rasul. Sebaik-baik manusia yang pernah dan akan ada di muka bumi ini.

Itulah aturan-aturan Allah. Aturan ini bagaikan cahaya. Dan merugilah orang-orang yang tidak memerdulikan cahaya penerang hidayah ini. ”Allah (Pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi. Perumpamaan cahaya Allah, adalah seperti sebuah lubang yang tak tembus (misykat), yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam kaca (dan) kaca itu seakan-akan bintang (yang bercahaya) seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang berkah, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur (sesuatu) dan tidak pula di sebelah barat(nya), yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang dia kehendaki, dan Allah memperbuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah Maha mengetahui segala sesuatu.(QS Annur : 35)

Dalam surat ini Allah juga memberikan perumpamaan dan menjelaskan sikap orang-orang beriman yang menerima aturan dan hukum Allah serta tidak lalai melaksanakan hak-hak Allah. Tidak tergiur oleh gemerlapnya kehidupan dunia dan berbagai kenikmatannya yang tidak langgeng. Juga sikap dan sifat orang-orang munafik dan kafir yang menyepelekan dan tak mengindahkan aturan Allah. Allah tunjukkan kekuasan-Nya kepada mereka semua. Penciptaan langit bumi dan seisinya. Ketundukan alam semesta dan burung-burung kepada-Nya. Pergantian siang dan malam serta penciptaan Allah atas segala makhluk hidup yang bermacam-macam.

Allah menjanjikan bagi hamba-hamba-Nya yang beriman dan berbuat kebaikan dengan kemenangan dan dikokohkan kedudukannya di bumi-Nya. ”Dan Allah Telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal salih bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman. Mereka tetap menyembahku-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barang-siapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.” (Qs. Annur: 55)

Demikianlah secara singkat kandungan surat Annur. Semoga Allah menjadikan kita orang-orang ”..yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya. mereka Itulah orang-orang yang Telah diberi Allah petunjuk dan mereka Itulah orang-orang yang mempunyai akal.” (QS. Azzumar: 18)

Kampung Sepuluh, Jum’at pagi menjelang siang

Cairo, 18 Agustus 2006


* Tadabbur Surat Annur

** Mahasiswa Program S3 Jurusan Tafsir dan Ilmu-ilmu al-Qur’an Universitas Al Azhar Cairo

Hidangan Allah (2) – [al-Kahfi]

PEMUDA-PEMUDA OBSESIF*

(Sebuah Refleksi Ashâbul Kahfi)

Saiful Bahri, MA.**

Iftitah

Bila kita hendak mengetahui betapa pentingnya masa muda kita bisa menilik pada sejarah. Para nabi utusan Allah hampir semua menerima wahyu pada usia muda. Karena pada kaum muda terdapat berbagai potensi dan kekuatan yang tidak dimiliki anak-anak dan orang yang sudah lanjut usia. Maka bila tidak terarahkan secara baik dikhawatirkan akan beralih menjadi potensi kejahatan dan kejelekan yang akan merusak. Bukan hanya bagi dirinya, tapi bisa berakibat pada lingkungan sekitarnya.

Perhatian al-Qur’an terhadap pemuda tertuang secara simbolik melalui kisah ashâbul kahfi. Kisah heroik beberapa orang kaum muda yang konsisten berpegang pada ajaran Allah meski berhadapan dengan penguasa diktator yang gencar mengintimidasi dengan teror-teror fisik dan psikis. Kepada siapapun yang enggan menyembah sesembahan dan tunduk pada agama mereka.

Konsisten dan Sabar

Kunci kisah heroik ashâbul kahfi sebenarnya terletak pada konsistensi mereka mempertahankan semangat dakwah mereka serta kesabaran mereka. Terlihat jelas dari kejelian mereka mengatur strategi berdakwah. Menyembunyikan keimanan mereka dan kemudian berani lantang menyuarakan kebenaran pada saat yang tepat. Meski pada akhirnya Allah lah yang mengatur strategi lebih jitu dan memiliki rencana. Di atas semua rencana hamba-hamba-Nya.

Di antara sebab-sebab diturunkannya Surat al-Kahfi –sebagaimana yang ditulis oleh as-Suyuthi dalam Lubâb an-Nuqûl, demikian juga ath-Thabari dan Ibnu Katsir dalam tafsirnya- Ibnu Abbas ra meriwayatkan, saat itu Nadhar bin Harits dan Uqbah bin Abi Mu’ith pergi ke pendeta-pendeta Yahudi. Singkat cerita mereka menyuruh Nadhar dan Uqbah untuk bertanya tiga hal pada Nabi Muhammad saw. : tentang ashâbul kahfi, Raja Zulkarnaen dan tentang ruh. Jika bisa terjawab maka Muhammad benar-benar seorang Nabi utusan Allah. Maka mereka pun bergegas menguji Nabi Muhammad saw. Nabi Muhammad seketika menjawab,”Akan aku jawab besok.” Ternyata sampai lima belas malam belum juga turun wahyu. Nabi pun bersedih dan khawatir umatnya semakin berani mengolok-olokkan dan mendustakannya. Allah pun menurunkan wahyu-Nya. Beliau ditegur karena memastikan sesuatu, tidak mengatakan ”insya Allah”. ”Dan jangan sekali-kali kamu mengatakan tentang sesuatu: Sesungguhnya Aku akan mengerjakan Ini besok pagi. Kecuali (dengan menyebut): “Insya Allah”. Dan ingatlah kepada Tuhanmu jika kamu lupa dan Katakanlah: Mudah-mudahan Tuhanku akan memberiku petunjuk kepada yang lebih dekat kebenarannya dari pada ini.” (QS. 18 : 23-24)

Tanda-tanda Kekuasaan Allah

Pada ayat sembilan Allah berfirman,” Atau kamu mengira bahwa orang-orang yang mendiami gua dan (yang mempunyai) raqim itu, mereka termasuk tanda-tanda kekuasaan kami yang mengherankan?” (QS. 18 :9). Karena terkadang kita terjebak pada hal-hal yang seperti ini. Cenderung mengultuskan orang-orang yang diberi karomah oleh Allah. Padahal sebenarnya Allah ingin menyampaikan pesan kekuasaan-Nya melalui mereka. Sebagaimana memberi para rasul dan nabi-Nya dengan berbagai mukjizat.

Siapakah Ashâbul Kahfi

Ashâbul kahfi hidup membawa ajaran Nabi Isa as. Hanya saja al-Qur’an tidak menjelaskan dengan detail kapan mereka hidup. Al-Qur’an hanya menyebutkan berapa lama mereka ditidurkan Allah dalam gua. ”Dan mereka tinggal dalam gua mereka tiga ratus tahun dan ditambah sembilan tahun” (QS. 18: 25) Yaitu selama 300 tahun (Kalender Masehi) atau sama dengan 309 tahun (Kalender Hijriyah). Karena itu Allah menyebutkannya dengan ”wazdâdû tis’an”.

Mereka adalah sekelompok pemuda yang jumlahnya diperselisihkan[1]. Ada yang mengatakan jumlah mereka tujuh orang ditambah satu anjing penjaga. Bahkan di antara mereka menjadi orang kepercayaan Gubernur Romawi saat itu -menurut Ibnu Katsir bernama Diqyanus. Sekaligus menepis rumor bahwa agama Islam hanya dianut oleh orang-orang miskin dan lemah. Justru sebaliknya agama ini mampu menembus dinding-dinding istana meski dikawal ketat oleh para algojo kezhaliman. Sebagaimana dakwah Nabi Musa as. yang masuk istana dengan tenang meski Fir’aun secara membabi buta telah membunuh ratusan, bahkan mungkin ribuan bayi.

Kekuatan Obesi dan Manajemen Harapan

Kami kisahkan kepadamu (Muhammad) cerita Ini dengan benar. Sesungguhnya mereka adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka, dan kami tambah pula untuk mereka petunjuk” (QS. 18: 13). Disampin konsisten memegang teguh iman kepada Allah para pemuda itu teguh memegang prinsip dan mempertahankan harapan dengan penuh keyakinan bahwa suatu saat nanti Allah akan menurunkan pertolongan-Nya pada hamba-hamba-nya yang tertindas serta memuliakan agama-Nya dan para penganutnya yang taat. Allah-pun meneguskan mereka dan semakin menambahkan petunjuk-Nya kepada mereka.

Inilah yang dalam ilmu manajemen modern disebut dengan ”manajemen harapan”. Yaitu bagaimana seseorang mampu mempertahankan mimpi, angan dan cita-citanya agar tidak luntur meskipun berhadapan dengan berbagai halangan dan rintangan yang sangat dahsyat dan datang bertubi-tubi. Bahkan mampu menularkannya pada orang lain sehingga tujuan mulia ini terus dimiliki dan ditularkan dari generasi ke generasi.

Itulah kekuatan berkata benar di depan penguasa yang lalim dan zhalim. Allah meneguhkan mereka saat diperlukan sebuah keterusterangan. Dengan lantang mereka berani berkata: ”Tuhan kami adalah Tuhan pencipta langit dan bumi. Kami sekali-kali tidak menuhankan siapapun selain-Nya” (lihatlah ayat 14). Hal ini dikatakan di depan para pemuka kerajaan bahkan sebagian riwayat ada yang menyebutkan di depan upacara resmi yang dihadiri oleh Kaisar Agung Romawi. Dan tentunya disaksikan oleh ratusan bahkan ribuan pasang mata. Tentunya merupakan pukulan telak bagi penguasa saat itu. Karenanya Allah meneguhkan mereka. Sehingga mereka berani berkata benar dengan lantang tanpa ketakutan sedikit pun. Apapun konsekuensinya. Mereka pun memberikan argument kuat dan berani. Hal ini bisa kita lihat di ayat selanjutnya (15), ”Kaum kami ini telah menjadikan selain dia sebagai tuhan-tuhan (untuk disembah). Mengapa mereka tidak mengemukakan alasan yang terang (tentang kepercayaan mereka)? Siapakah yang lebih zalim daripada orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah?” Bahwa tak ada yang laik untuk dituhankan kecuali Dzat yang serba Maha. Siapakah Kaisar Romawi yang mengaku sebagai titisan Dewa. Apa kelebihan berhala-berhala yang tak bernyawa yang mereka sembah? Atau ruh-ruh leluhur mereka yang tidak ketahuan bagaimana nasib mereka di alam kubur?

Konsekuensi

Berdakwah menyampaikan kebenaran bukanlah jalan mudah yang penuh pujian dan untaian penghargaan. Dari sejak Nabi Nuh, Hud, Shaleh, Luth, Ibrahim, Musa, Isa, semua dibalas dengan cemoohan dan terror-teror psikis serta tak jarang mengarah pada terror dan ancaman fisik. Padahal mereka adalah orang-orang terbaik di zamannya. Hal ini sepenuhnya dipahami oleh para pemuda kahfi. Mereka pun kemudian menjadi buronan. Namun, Allah memberi ilham pada mereka untuk lari dan berlindung ke dalam sebuah gua. Satu hal yang perlu kita pahami bahwa lari dalam situasi seperti ini dibolehkan. Bukan lari dari tanggung jawab. Namun, lebih merupakan sebuah strategi. Mengingat kekuatan musuh yang jauh lebih besar. Sedangkan lari dari medan peperangan yang dilaknat Allah adalah sikap pengecut yang takut dari kematian. Kemudian mereka pun ditidurkan Allah selama 300 tahun.

Disinilah Allah memberikan pancaran rahmat dan kekuasaannya pada mereka. Meski tidur Allah memberikan sinar matahari serta membolak-balikkan mereka, supaya tetap bertahan dan tidak dimakan binatang dan bumi. ”Dan kamu akan melihat matahari ketika terbit, condong dari gua mereka ke sebelah kanan, dan bila matahari terbenam menjauhi mereka ke sebelah kiri sedang mereka berada dalam tempat yang luas dalam gua itu. Itu adalah sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Allah. Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah, Maka dialah yang mendapat petunjuk; dan barangsiapa yang disesatkan-Nya, Maka kamu tidak akan mendapatkan seorang pemimpinpun yang dapat memberi petunjuk kepadanya..” (QS. 18: 17)

Selain itu Allah juga menjaga mereka dari tangan-tangan jahil yang berusaha menyakiti mereka. ”Dan kamu mengira mereka itu bangun, padahal mereka tidur; dan kami balik-balikkan mereka ke kanan dan ke kiri, sedang anjing mereka mengunjurkan kedua lengannya di muka pintu gua. dan jika kamu menyaksikan mereka tentulah kamu akan berpaling dari mereka dengan melarikan diri dan tentulah (hati) kamu akan dipenuhi oleh ketakutan terhadap mereka.” (QS. 18: 18). Sehingga sampai bertahan sekian tahun mereka pun tak ada yang bisa menyentuh.

Pembuktian Janji Allah

Datanglah hari pembuktian janji Allah pada mereka. Mereka dibangunkan Allah. Sebagian bertanya-tanya kira-kira berapa lama tidur. Ada yang menjawab setengah hari dan ada yang menjawab satu hari. Lihatlah pembicaraan mereka,” Dan demikianlah kami bangunkan mereka agar mereka saling bertanya di antara mereka sendiri. Berkatalah salah seorang di antara mereka: sudah berapa lamakah kamu berada (disini?)”. Mereka menjawab: “Kita berada (disini) sehari atau setengah hari”. Berkata (yang lain lagi): “Tuhan kamu lebih mengetahui berapa lamanya kamu berada (di sini). Maka suruhlah salah seorang di antara kamu untuk pergi ke kota dengan membawa uang perakmu ini, dan hendaklah dia lihat manakah makanan yang lebih baik, Maka hendaklah ia membawa makanan itu untukmu, dan hendaklah ia berlaku lemah-lembut dan janganlah sekali-kali menceritakan halmu kepada seorangpunز Sesungguhnya jika mereka dapat mengetahui tempatmu, niscaya mereka akan melempar kamu dengan batu, atau memaksamu kembali kepada agama mereka, dan jika demikian niscaya kamu tidak akan beruntung selama lamanya.” (QS. 18: 19-20)

Saat salah satu dari mereka turun ke kota, semuanya telah berubah. Orang-orang dengan mudah dan tenang menyebut nama Allah. Tak ada rasa ketakutan sedikit pun. Semua telah berubah. Hal ini berlanjut ketika ia hendak membeli makanan sebagaimana yang dipesankan oleh teman-temannya untuk mengganjal perut yang lapar. Uang yang dibawanya sudah tak laku. Karena sudah berlalu tiga abad. Bahkan kemudian ia di bawa menghadap raja untuk ditanyai banyak hal. Singkat cerita terungkap bahwa dia adalah salah seorang dari para pemuda yang lari ke gua untuk menghindar dari teror Diqyanus yang zhalim. Sebagaimana dimaklumi penguasa saat itu telah memeluk agama Nabi Isa.

Kemudian semua ashâbul kahfi pun dibawa dan dikumpulkan di kota. Sekaligus untuk menjawab keraguan akan hari kebangkitan. Inilah buktinya bahwa Allah mampu membangunkan orang mati. Sehingga keraguan tentang hari kebangkitan bisa disirnakan dengan kisah nyata dan dengan saksi hidup seperti ini.

Allah pun mengabulkan doa-doa mereka ketika bermunajat memohon pertolongan dan sandaran pada-Nya. Mereka khusyu’ dan terus mempertahankan harapan ini. Para dai di luar gua pun makin gigih mendakwahkan agama yang terus diteror oleh penguasa.

Karena rentang waktu yang jauh dengan gaya hidup dan masa yang berbeda, Allah pun kembali menyabut nyawa mereka. Supaya mereka lebih tenang dan yakin ketika menghadap Allah. Dan karena hidup dengan suasana seperti itu sungguh sangat tidak nyaman. Mungkin juga dikhawatirkan mereka akan dikultuskan, dituhankan dan disembah oleh kaum mereka.

Pelajaran Berharga

  1. Kaum muda itu tidak identik dengan hura-hura, tidak bisa diatur, tidak serius. Namun kaum muda adalah sekelompok orang yang penuh potensi kebaikan dan kekuatan yang bisa dimenej bisa dioptimalkan untuk berbagai kemaslahatan umat. Karena bila tidak digunakan untuk hal-hal yang baik akan mengarah pada hal-hal negatif yang merugikan banyak orang,
  2. Orang tua perlu memberi kesempatan kaum muda untuk berbuat dan berkarya dengan arahan dan bimbingan. Bukan sebaliknya disisihkan atau bahkan dijadikan saingan,
  3. Konsisten dan teguh dalam memegang prinsip selama itu merupakan sebuah kebenaran. Meski berhadapan dengan kezhaliman dan terror-teror fisik atau psikis,
  4. Memiliki manajemen harapan yang kuat dengan terus menenamkan rasa tawakkal pada Allah yang dibarengi usaha yang maksimal serta menularkannya kepada generasi setelah kita,
  5. Tidak berputus asa dalam berdakwah bagaimanapun kondisinya serta berani menanggung resiko apapun,
  6. Mempunyai strategi yang tepat dalam berdakwah serta mampu membangun jaringan (network) yang baik,
  7. Segala sesuatu itu berproses dan tidak terjadi seketika. Kemenangan agama Allah dan pembuktian janji Allah pun dengan sunnatullah. Bahkan dalam kisah ini memerlukan waktu tiga abad,
  8. Berdakwah tidak menunggu tua atau banyak ilmu. Tapi sampaikan dakwah itu sesuai pengetahuan kita,
  9. Menuai hasil dan buah usaha tidak selamanya bisa disaksikan langsung saat kita hidup. Namun bisa jadi bermanfaat untuk generasi setelah kita. Dengan ini justru akan semakin membuat amal kita bernilai tinggi dengan segenap keikhlasan dan ketulusan serta sepenuh kepasrahan pada Allah.

Ikhtitam

Semoga sedikit yang kita tadabburi ini semakin mendekatkan kita dengan al-Qur’an serta semakin membangun ketakwaan kita pada Allah. Demi menggapai kemuliaan di sisi Allah. WalLâhu a’lam.

Ahad pagi menjelang siang, 23 Desember 2007

Kampung Sepuluh, Nasr City, Cairo


* Sebuah tadabbur kisah ashâbul kahfi (Surat al-Kahfi: 9-26). Disampaikan pada kajian reguler Pengajian al-Muttaqîn, Ahad 23 Desember 2007 di Masjid Indonesia Cairo, Dokki

** Peserta program S3, Jurusan Tafsir, Universitas al-Azhar.

[1] Pada ayat 22 bahkan Allah jelas-jelas mengatakan nanti akan terjadi perbedaan mengenai jumlah mereka. ”Nanti (ada orang yang akan) mengatakan (jumlah mereka) adalah tiga orang yang keempat adalah anjingnya, dan (yang lain) mengatakan: “(jumlah mereka) adalah lima orang yang keenam adalah anjing nya”, sebagai terkaan terhadap barang yang gaib; dan (yang lain lagi) mengatakan: “(jumlah mereka) tujuh orang, yang ke delapan adalah anjingnya”. Katakanlah: “Tuhanku lebih mengetahui jumlah mereka; tidak ada orang yang mengetahui (bilangan) mereka kecuali sedikit”. Karena itu janganlah kamu (Muhammad) bertengkar tentang hal mereka, kecuali pertengkaran lahir saja dan jangan kamu menanyakan tentang mereka (pemuda-pemuda itu) kepada seorang pun di antara mereka.” (QS. 18: 22)

Hidangan Allah (1)

KARUNIA YANG MAHA*

Saiful Bahri, MA**

Dzat Yang Pemurah dan Penyayang

Salah satu refleksi kasih sayang (rahmah) Allah yang terlihat adalah dengan pertautan hati manusia dan hamba-hamba-Nya dalam rahmah-Nya. Ia turunkan setiap malam di sepertiga waktu akhir. Ia turunkan pada sepertiga pertama di bulan Ramadhan. Ia jadikan salam pembuka persuaan dua sahabat “Assalâmu’alaikum warahmatullâh wabarakâtuh”. Ia jadikan sebab kelembutan Rasulullah Saw. dalam berdakwah, ”Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu ma’afkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka…”. (QS.3:159). Ia turunkan dalam al Qur’an-Nya dengan salah satu al‘asmâ’ alhusnâ, surat Arrahmân. Satu-satunya surat dalam al-Qur’an yang menggunakan nama dari al-‘asmâ’ al-husnâ. Ia jadikan salah satu tujuan pernikahan,”Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang.Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.”(QS. 30:21)

Arrahmân. Demikian bunyi awal surat ini. Sebuah pemberitahuan kepada jin dan manusia. Pemberitaan umum kepada yang ada di jagad-Nya. Bahwa yang sedang berbicara adalah Dzat yang serba maha. Maha Pemurah, Pengasih dan Penyayang.

Tema sentral surat ini adalah mengingatkan jin dan (terutama) manusia akan karunia ArRahmân (Sang Maha Pemurah) dari sejak karunia al-Qur’an, penciptaan, pengajaran berbicara, nikmat matahari dan bulan, bintang-bintang dan tumbuhan, langit, bumi dan isinya berupa tumbuhan, buah-buahan serta biji-bijian, dan luasnya lautan beserta mutiara-mutiara yang ada di dalamnya. Manusia dan jin termasuk nikmat-nikmat itu semua adalah fana. Akan lenyap. Sirna dari peredaran jagad-Nya. Karena kekekalan hanya milik-Nya.

Kemudian Allah membuka tabir ghaib kehidupan setelah kefanaan. Dengan tujuan memperingatkan orang-orang zhalim dan durhaka serta para pendusta. Sekaligus motivasi yang sangat persuasif kepada hamba-hamba-Nya. Dengan menggambarkan kehidupan yang nan indah serta nikmat keabadian dan karunia yang maha di surga-Nya. Taman-taman, bidadari-bidadari yang jelita yang pemalu dan bening mata serta kulitnya bak permata. Permadani dari sutra dan berbagai macam buah-buahan yang sangat mudah didapat.

Di sela-sela itu semua, ada sebuah tantangan kepada jin dan manusia sebanyak 31 kali. Dengan mengulang-ulang “Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?” Laikkah setelah itu semua Dzat Yang Maha Pemurah itu untuk didustakan? SubhânalLâh. Maha Agung Tuhan yang mempunyai kebesaran dan berbagai karunia.

Nikmat al-Qur’an dan Penciptaan

Karunia ArRahmân pertama yang besar adalah dengan menurunkan al-Qur’an ke bumi. Terutama untuk manusia, sebagai pedoman langit untuk bumi. Karena manusialah pengemban amanah khilafah-Nya. Karena langit, bumi dan gunung-gunung telah menolak amanah ini. Lebih spesifik lagi adalah bagi pengemban risalah-Nya, Rasulullah saw. Yang kemudian diwarisi oleh para penerus dakwahnya. Dengan pengajaran ini diharapkan para pengemban amanah ini mampu survive dalam menempuh hidupnya. Dalam keadaan apapun. Bahagia, sedih, marah, ditimpa bencana dan musibah, tertindas, berkuasa, ketika berada dalam kemenangan dan kegembiraan, berdinamika, bermasyarakat, sepanjang zaman, lintas generasi dan di berbagai tempat di penjuru-penjuru bumi-Nya. Karena itulah nikmat ini laik untuk disebut pertama kali.

Setelah itu “Dia menciptakan manusia.”(QS. 55: 3) Adakah yang mengatakan bahwa penciptaan manusia sangatlah sederhana? Manusia pertama diciptakan-Nya dari tanah. Kemudian pasangannya diciptakan dari rusuk kirinya. Dan para keturunan mereka dari “setetes air”. Manusia yang berasal dari satu sel ini kemudian mengendap di rahim perempuan. Dari kecil tak berbentuk berubah menjadi ribuan bahkan jutaan sel. Ada segumpal daging, darah, otot, tulang, syaraf, kulit. Dan saat keluar dari rahim ibunya ia mulai belajar mendengar, kemudian melihat, dan kemudian merasa. Saat ia tumbuh besar, ia pun belajar berjalan. Dan berbicara! Dia juga yang “… mengajarnya pandai berbicara.”(QS. 55:4)

Adapun proses berbicara, ada yang mengatakan mengalami proses yang cukup panjang serta melibatkan berbagai organ manusia. Sel dan syaraf otak, mulut, lidah, bibir, tenggorokan, langit-langit mulut, dan gigi.

Kemudian huruf-huruf itu terangkai dalam kalimat yang bisa dipahami sesama manusia. Namun, bagaimana dari huruf-huruf itu berkembang menjadi ribuan bahkan jutaan ragam bahasa? Keberagaman bahasa ini telah dituturkan-Nya sebagai salah satu tanda kebesaran-Nya. “Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah menciptakan langit dan bumi dan berlain-lainan bahasamu dan warna kulitmu. ” (QS. 30: 22)

Matahari, Bulan, Bintang, Langit dan Bumi Seisinya

Matahari dan bulan. Simbol karunia Allah yang berpasangan untuk para manusia. Darinya manusia belajar membagi peran antar laki-laki dan perempuan. Adanya permisalan kerjasama dan bukan rivalitas antara keduanya. Keteduhan cahaya bulan tak pernah diremehkan. Sengatan terik sinar matahari sangat dibutuhkan manusia. Semuanya beredar dengan titah Sang Rahman. Besar ukuran masing-masing serta perputarannya, semuanya sesuai perhitungan.

Andai Allah mencipta bulan lebih besar dari matahari? Andai Allah mendekatkan sedikit saja jarak antara matahari dan bumi? Andai Allah menambah persentasi sengatan matahari ke bumi? Atau Allah menjauhkan beberapa jarak saja matahari dari bumi? Tahukah kita bahwa di sana ada jutaan bintang yang lebih panas dari matahari? Tahukah kita setelah ini seberapa luaskah jagad raya-Nya.

Dan bintang serta pohon-pohonan, kedua-duanya tunduk kepada-Nya.“(QS. 55: 6) Bagaimana lantas manusia berani untuk melawan ketundukan itu? Atas dasar apa manusia tinggi hati dan merasa sombong?

Sang Rahman pun menciptakan bumi, sebagai planet yang laik untuk dihuni manusia. Di dalamnya ada buah-buahan, biji-bijian serta bunga-bunga. Sebagai penghias kehidupan, sekaligus demi kemanfaatan manusia.

Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?” (QS. 55: 13)

Apakah lantas manusia yang tercipta dari tanah kering seperti tembikar serta jin yang tercipta dari nyala api, mendustakan nikmat-nikmat itu? Mendustakan Dzat yang serba Maha. Sang penjaga dan pemelihara dua tempat terbit dan tenggelamnya matahari serta bulan. Dzat yang membentangkan lautan dan mengalirkan airnya. Membuatnya tenang untuk berlayarnya bahtera-bahtera. Dia sanggup menjadikannya menggelegak, menerjang daratan dan meluluhlantakkannya. Dari laut itu manusia mendapatkan berbagai mutiara nan indah. Berbagai macam ragamnya. Dijadikan sebagai perhiasan hidupnya.

Kefanaan

Semua yang ada di bumi itu akan binasa.” (QS. 55: 26) Nikmat dan karunia di atas termasuk jin dan manusia akan fana. Semua yang hidup akan mati. Semua yang ada di jagad-Nya akan sirna. Musnah. Karena kekekalan hanyalah milik Dzat yang memiliki semuanya. Dzat yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan.

Sebagian di antara jin dan manusia itu lalai. Tenggelam dalam kenikmatan dunia. Lupa memberi hak syukur kepada pencipta mereka. Sebagian lagi tak sadar bahwa karunia yang mereka nikmati saat ini akan habis dan sirna. Bahwa kehidupan di dunia ini akan berakhir. Dan tak sedikit di antara mereka yang tak merasa akan terbalas perbuatannya. Kelak sesudah nafasnya terhenti. Kelak setelah ruhnya terpisah dari jasadnya.

Dzat yang Selalu Sibuk

Dialah satu-satunya yang tak binasa. Yang memiliki segala kekekalan. “Semua yang ada di langit dan bumi selalu meminta kepada-Nya. Setiap waktu dia dalam kesibukan.” (QS. 55: 29) Dia selalu sibuk mencipta, menghidupkan dan mematikan. Memberi rizki dan melayani segala permintaan hamba-hamba-Nya. Ada yang memohon dipanjangkan umur, meminta pekerjaan, jabatan, rumah-rumah dan istana. Ada yang memohon diterimanya amal, disembuhkan dari penyakit, dibebaskan dari penderitaan dan penindasan. Ada yang meminta dimudahkan jodohnya, dikaruniai keturunan, tidak dimusuhi orang, dimudahkan perjalanan dari berbagai kesulitan. Ada yang memohon ilmu yang bermanfaat serta kelulusan di sekolah. Bahkan ada yang mengajukan permohonan yang keluar dari lamunan dan khayalannya.

Ar-Rahmân pun melayani dan mendengarkan segala permohonan itu. Semua yang di langit dan di bumi selalu meminta kepada-Nya. Namun, kesibukan itu tak sedikit pun mengganggu-Nya. Ia tetaplah Dzat yang Mahatahu atas segala yang bergerak dan berhenti. Jatuhnya dedaunan kering, biji hitam yang kecil di kegelapan malam, bulu-bulu yang ada pada badan binatang, semua atas sepengetahuan-Nya. Jutaan macam ikan di laut-Nya, ulat-ulat dan binatang melata lainnya, binatang buas di belantara, hewan-hewan yang dipelihara manusia, burung-burung yang melayang di udara yang meninggalkan anak-anaknya, telur-telur yang ada disarangnya; semua berada dalam tanggungan-Nya.

Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?” (QS. 55: 30)

Ancaman Untuk Orang-orang Durhaka

Adapun jin dan manusia yang senantiasa diperhatikan oleh Allah. Kebesaran dan keagungan-Nya tak membuat sebagian mereka sadar. Untuk segera menundukkan segala keegoan yang bodoh. Sombong yang diperturutkan. Takabbur yang membuat mereka lupa diri. Dan orang-orang seperti ini laik untuk mendapatkan ancaman-Nya. “Kepada kamu, (jin dan manusia) dilepaskan nyala api dan cairan tembaga maka kamu tidak dapat menyelamatkan diri (dari padanya).” (QS. 55: 35) Tak ada yang sanggup menolong mereka. Tak ada yang mampu menyelamatkan mereka. Ketika “… langit telah terbelah dan menjadi merah mawar seperti (kilapan) minyak.” (QS.55 : 27), sesal pun tiada guna saat itu. Karena keinsafan seperti itu sangatlah terlambat. Ketika semua jagad-Nya menemui batas waktu yang ditentukan-Nya. Bintang-bintang, bulan dan matahari, gunung, dan lautan semua hancur berkeping.

Hari setelah kebinasaan tersebut adalah waktu persidangan agung yang tiada terbantahkan. Karena persaksian yang ada bertutur atas titah kejujuran. Anggota-anggota tubuh mereka sendiri.

Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?” (QS. 55: 45)

Karunia dan Kenikmatan Untuk Orang-orang Baik

Sedangkan hamba-hamba-Nya yang bertakwa. Yang senantiasa takut akan kemurkaan-Nya. Yang senantiasa sabar dalam penghambaan kepada-Nya. Mereka akan mendapat “dua surga.” Yang di dalamnya ada buah-buahan dan pohon-pohon yang rindang. Mengalir di bawahnya sungai yang jernih. Mereka menikmatinya dengan bersantai di atas permadani yang halus. Yang bagian dalamnya terbuat dari sutra yang kelembutannya tiada tertandingi. Disertai oleh bidadari-bidadari yang pemalu dan jelita, yang berkulit bersih bak permata. Yang “… tidak pernah disentuh oleh manusia sebelum mereka (penghuni-penghuni surga yang menjadi suami mereka), dan tidak pula oleh jin.” (Qs. 55: 56)

Setiap mereka akan mendapat balasan yang berlipat-lipat. Bertingkat-tingkat sesuai dengan amalan dan kebaikan mereka. Satu dan yang lainnya akan saling bersilaturrahmi.

Penghuni di tingkatan pertama dikaruniai dua surga dengan segala isinya. Setelah itu dua surga lagi diperuntukkan kepada mereka yang berada satu tingkat di bawahnya, dan seterusnya. Di dalamnya ada dua sumber mata air yang memancar, sebagai pelepas dahaga.

Tidak ada balasan kebaikan kecuali kebaikan (pula).” (QS. 55: 60)

Kasih Sayang yang Tiada Pernah Berbilang

Betapa besar nilai sebuah rahmat dan kasih sayang. Siapa yang sanggup menghitung dan mengeja karunia di atas. Dari sejak kefanaan sebelum manusia ada, hingga menikmati segala fasilitas yang diperuntukkan kepadanya. Sampai kemudian jaminan kebaikan sebagai balasan atas kebaikan. Siapa yang bisa menghitungnya?

Bila ruh dan nilai kasih sayang itu menyusup ke relung hati setiap kita, sudah seharusnya kita pun memiliki rasa kasih sayang. Meski tidak menandingi kasih sayang-Nya. Sudahkah kita menjadi penyayang bagi yang lemah. Pengasih bagi yang fakir. Lembut terhadap orang lain. Pemaaf atas segala khilaf saudara kita. Menolong yang tertindas. Mencintai orang-orang yang mencintai kita. Memberikan cinta kepada Allah dan Rasul-Nya, kepada orang-orang yang mencintai-Nya serta segala sesuatu yang menghantarkan kita pada cinta-Nya. Menebar cinta pada mereka yang membenci. Menyambung tautan persaudaraan kepada mereka yang memutusnya, karena ketidaktahuan atau sebuah kesalahpahaman yang dibesar-besarkan.

Sudahkah kita mencintai sesama manusia. Menyayangi makhluk hidup di sekeliling kita. Makhluk Allah, sekalipun ia seekor burung atau ikan di akuarium atau kucing yang berada di dalam rumah kita. Atau tanam-tanaman yang menghias halaman rumah.

Adakah pantulan kasih sayang-Nya pada sikap dan perilaku harian kita? Kita hanya perlu kejernihan jiwa dan kebeningan hati untuk menjawabnya. Setelah itu kita baru bisa merangkai permohonan dalam sebuah tanya, laikkah setelah itu kita mengharap kasih sayang-Nya? Siapa yang tak mengasihi tiada pernah disayang dan dikasihi.

Adakah karena kesibukan kita melalaikan hak-hak orang di sekeliling kita? Mendoakan kedua orang? Memenuhi hak-hak bersaudara sesama muslim? Menunaikan hak-hak kemanusiaan sesama manusia? Menghargai hak semua makhluk-Nya untuk dipelihara dan dimakmurkan? Hanya karena kesibukan. Sesibuk apakah kegiatan kita sehingga hati menjadi keras? Lantas kita enggan menyemai kelembutan dan kasih sayang. Tak lagi merasa perlu memohon kasih sayang-Nya.

Jika seluruh manusia dan jin yang pernah dan akan ada, semua tunduk dalam kepasrahan kepada-Nya; maka tidaklah yang demikian itu menambah kemanfaatan bagi-Nya. Bila seluruh manusia dan jin yang pernah dan akan ada, semua menentang-Nya. Maka tidaklah hal itu mengurangi kebesaran-Nya. Dan bila seluruh manusia dan jin yang pernah dan akan ada, semua memohon kepada-Nya. Dan semua permohonan itu dikabulkan-Nya, tidaklah hal itu mengurangi kekuasaan dan kebesaran kerajaan-Nya. Kecuali seperti sehelai benang yang dicelupkan ke dalam bentangan samudera.

Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?” (QS. 55: 77)

Tanpa ada yang meminta pun, Dia tetaplah Dzat yang Penyayang, Pengasih dan Pemurah. Maha suci Allah, “…Dzat yang mempunyai kebesaran dan karunia.” (QS. 55: 78)

Berlin, 19 September 2008


* Tadabbur surat Ar-Rahmân. Bingkisan Ramadan dalam acara buka bersama di KBRI Berlin, Jum’at, 19 September 2008

** Mahasiswa Program S3 Jurusan Tafsir, Universitas al-Azhar, Cairo. Penulis esai kontemplatif Kemenangan Cinta (Solo: Era Intermedia, Februari 2005)