Tadabbur Surat An-Nazi’at [79]

SANG DURJANA DAN SANG PENCABUT NYAWA*

Dr. H. Saiful Bahri, MA**.

Mukaddimah: Tentara-Tentara Allah

Surat An-Nâzi’ât (Malaikat Pencabut Nyawa) diturunkan di Makkah([1]), setelah surat An-Naba’ sebagaimana susunannya dalam mushaf([2]) yang beredar di tengah-tengah umat Islam. Tema utamanya sebagaimana surat-surat Makkiyah lainnya, yaitu penekanan keimanan terhadap akhir akhir yang merupakan lanjutan dari sebelum-sebelumnya.

Demi (malaikat-malaikat) yang mencabut (nyawa) dengan keras. Dan (malaikat-malaikat) yang mencabut (nyawa) dengan lemah-lembut. Dan (malaikat-malaikat) yang turun dari langit dengan cepat. Dan (malaikat-malaikat) yang mendahului dengan kencang. Dan (malaikat-malaikat) yang mengatur urusan (dunia)”. (QS. 79: 1-5)

Sebagian besar ulama dan ahli tafsir berpendapat bahwa yang dimaksud dalam lima ayat pertama di atas yang dipakai Allah untuk bersumpah adalah para malaikat dengan berbagai spesifikasi tugasnya. Ibnu Abbas, Ibnu Mas’ud, Mujahid, Muqatil, Masruq, Said bin Jubair, Abu Shalih dan Suddy mengatakannya demikian([3]), meski ada juga pendapat yang mengurainya satu persatu serta membedakannya satu dengan lainnya; sebagian ditafsirkan sebagai malaikat dan yang lainnya adalah bintang-bintang, jiwa orang beriman atau yang lainnya.

Semua yang disebut di atas adalah tentara Allah yang akan bertugas sesuai titah-Nya. Setidaknya ada 4 uraian tugas yang disebut dalam pembuka surat ini; mencabut nyawa, bergerak dengan cepat, mendahului apa saja dengan cepat dan mengatur urusan dunia. Bahkan untuk urusan pencabutan nyawa Allah membedakannya, ada yang bertugas mencabut nyawa dengan keras dan kasar dan ada yang mencabutnya dengan lemah lembut. Ini membuka pikiran yang mendengarnya, mengapa ada perbedaan. Tentulah Allah juga akan membedakan orang-orang baik dan buruk, bahkan pada saat ajalnya datang pun pasti berbeda-beda. Ada menjalani sakaratul mautnya dengan sangat mengerikan. Sebagian lagi melewatinya dengan ketenangan. Meski kematian tetaplah menyakitkan. Nabi saw pun menggambarkannya lebih dahsyat dari tiga ratus kali bacokan pedang. Hanya orang berpikirlah yang sanggup menerima pesan Tuhan seperti ini.

Sangkakala Kehancuran dan Kebangkitan: Ketakutan yang Nyata

Siapapun orangnya, seberapa pun ia memiliki harta dan kekuasaan, takkan bisa terhindar dan terjaga dari kehancuran dan kebinasaan. Saatnya nanti, ia pun takkan mampu menyembunyikan ketakutannya. Di mana kedigdayaannya saat ia menjadi angkuh dengan harta dan pengaruhnya. Atau congkak dengan memamerkan kepandaian ilmunya yang tak seberapa. Di manakah sang durjana yang mengaku-aku menjadi Tuhan yang perkasa. Tak malukah ia, saat itu nyalinya benar-benar akan menciut. ”(Sesungguhnya kamu akan dibangkitkan) pada hari ketika tiupan pertama menggoncang alam. Tiupan pertama itu diiringi oleh tiupan kedua. Hati manusia pada waktu itu sangat takut. Pandangannya tunduk”. (QS. 79: 6-9)

Satu tiupan saja dan semua yang ada menjadi sirna. Kemudian disusul satu tiupan saja semua dibangkitkan oleh Dzat yang serba maha. Yang melindungi para kaum tertindas serta berkuasa dan mampu berbuat apa saja terhadap para durjana.

Pikiran orang-orang baik sekalipun –hari itu- menjadi berat. Ia tak tahu bagaimana kesudahan nasibnya di hari pengadilan ini. Bagaimana ia akan menerima vonis sebentar lagi. Lantas ketakutan seperti apa yang dialami para durjana dan pendusta itu? Padahal seolah dulunya mereka tak mengenal rasa takut sedikit pun. Dengan sombongnya –bahkan- mereka memusuhi dan menyakiti para kekasih-Nya; nabi-nabi dan para rasul yang diutus kepada mereka. Masih ingatkah mereka akan olok-olokan yang dulu senantiasa mereka ucapkan dengan nyinyir.

(orang-orang kafir) berkata: “Apakah sesungguhnya kami benar-benar dikembalikan kepada kehidupan semula? Apakah (akan dibangkitkan juga) apabila kami telah menjadi tulang belulang yang hancur lumat?” (QS. 79: 10-11). Itulah cibiran mereka ketika menghina Rasulullah saw dan para sahabatnya, ketika ihwal hari kebangkitan dan pembalasan disampaikan. Seolah-olah mereka sangat tahu bahwa takkan ada suatu ketakutanpun yang akan hinggap di hati mereka. Sebuah anggapan yang tidak benar. Mereka tertipu oleh kebodohan dan kekerdilan jiwa mereka sendiri.

Nantinya mereka pun segera tahu siapa sesungguhnya di antara mereka yang merugi. ”Mereka berkata: “Kalau demikian, itu adalah suatu pengembalian yang merugikan“. (QS. 79: 12). Sungguh, sebuah kerugian yang sangat besar. Karena mereka kembali kepada Allah dengan tangan hampa, bahkan bergelimang dosa. Tak ada tabungan yang bisa mereka andalkan dalam menjalani hari-hari sulit tatkala menyambut pengadilan yang Maha Adil.

Karena bagi Allah hanya dengan sekali tiupan semua ritme kehidupan akan benar-benar menemui kehancurannya. Satu tiupan pula yang akan membangkitkan makhluk-Nya yang telah binasa([4]). Tiupan kebangkitan ini, diistilahkan oleh Imam Hasan al-Bashry dan Ibrahim at-Taimy sebagai tiupan kemarahan pada orang-orang yang mendurhakai-Nya([5]) di dunia.

Belajar dari Kisah Terdahulu

Sejenak, Allah mengalihkan pembicaraan tentang hari kebangkitan yang merupakan salah satu silsilah yaumul akhir. Allah kembali mengisahkan perhelatan abadi antara rezim kezhaliman dan risalah kebenaran. Kali ini kisah dakwah Nabi Musa as kepada Firaun yang diketengahkan. Supaya kaum Nabi Muhammad bisa belajar dari kisah ini. Yaitu, ”Tatkala Tuhannya memanggilnya di lembah suci Thuwa” (QS. 79: 16)

Musa pun menerima risalah kebenaran yang akan merobohkan kezhaliman dan menggantinya dengan keadilan. Mandat kenabian pun diterima Musa yang telah tertempa kedewasaan sebelumnya. Ia telah terusir dari kampungnya kemudian merantau di tempat yang jauh selama lebih dari sepuluh tahun([6]). Kemudian ia pun harus kembali untuk mengemban misi dan risalah Allah. Dan Allah pun memerintahkannya, ”Pergilah kamu kepada Fir’aun, sesungguhnya dia telah melampaui batas. Dan katakanlah (kepada Fir’aun): “Adakah keinginan bagimu untuk membersihkan diri (dari kesesatan). Dan kamu akan kupimpin ke jalan Tuhanmu supaya kamu takut kepada-Nya?” (QS. 79:17-20)

Musa pun dibekali dengan mukjizat yang agung dari Allah. Namun, hal tersebut tak membuat hati Sang Durjana yang membatu menjadi lunak. Respon Firaun pun tak sesuai dengan harapan Nabi Musa as. Firaun yang angkuh itu mendustakan dan mendurhakai Musa as. “Kemudian dia berpaling seraya berusaha menantang (Musa). Maka dia mengumpulkan (pembesar-pembesarnya) lalu berseru memanggil kaumnya. (seraya) berkata:”Akulah Tuhanmu yang paling tinggi“. (QS. 79: 22-24)

Itulah klimaks kezhaliman, ketika seseorang mengaku-aku Tuhan padahal tak sedikit pun ia laik dengan siifat-sifat ketuhanan. ”Maka Allah mengazabnya dengan azab di akhirat dan azab di dunia.” (QS. 79: 25)

Allah menghukumnya dengan menenggelamkannya beserta segala kesombongannya. Setelah itu Allah kekalkan jasadnya agar bisa dilihat oleh orang-orang setelahnya. “Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat pelajaran bagi orang yang takut (kepada Tuhannya)”. (QS. 79: 26)

Dan hanya orang-orang yang takut Allah saja yang mampu mengambil pelajaran dari akhir cerita kezhaliman yang naas seperti yang dialami oleh Firaun tersebut. Hal ini merupakan salah satu fungsi kisah-kisah al-Qur’an yang memerankan pembaruan suasana untuk menyegarkan ingatan terhadap sebuah peristiwa yang telah terjadi di masa lampau([7]).

Tanda Kekuasaan yang Bisa Dilihat dan Dirasakan

            Terkadang manusia lupa dan sering merasa bahwa dirinya demikian hebat. Atau menyombongkan penciptaan dirinya, atau setidaknya berbangga karena menyandang makhluk mulia, sementara tak juga ia melaksanakan misi penciptaannya. Karena itu ia tak layak menyombongkan diri.

            Manakah yang lebih sulit dan rumit, penciptaan manusia atau langit yang tanpa atap. Allah telah benar-benar membangunnya bahkan berlapis tujuh dan, ”meninggikan bangunannya lalu menyempurnakannya”. (QS. 79: 28) Dan sepanjang mata telanjang memandang kita tak sanggup mencari permulaannya saja, bagaimana mungkin kita sanggup menemukan ujungnya. Dan langit telah benar-benar ada. Allahlah penciptanya. Bahkan menciptakannya dengan kesempurnaan, kecantikan dan kemegahannya.

            Dia juga yang, ”menjadikan malamnya gelap gulita, dan menjadikan siangnya terang benderang. Dan bumi sesudah itu dihamparkan-Nya. Ia memancarkan daripadanya mata airnya, dan (menumbuhkan) tumbuh-tumbuhannya. Dan gunung-gunung dipancangkan-Nya dengan teguh”. (QS. 79: 29-32)

            Gelap dan terang adalah rekayasa Allah dan pengaturan-Nya, semuanya demi kemaslahatan manusia. Lalu hamparan bumi yang terbentang nan luas. Juga untuk manusia. Mata air yang memancar, tumbuh-tumbuhan yang bermacam-macam. Juga gunung-gunung yang kokoh berdiri melawan terpaan angin yang kencang. Allah lah yang mengaturnya. ”(semua itu) untuk kesenanganmu”.(QS. 79: 33) bahkan diteruskan kemanfaatan itu juga untuk ”hewan-hewan ternakmu”. Dan kita tahu bahwa hewan ternak itu nantinya juga dimanfaatkan untuk kepentingan dan kesenangan serta kemaslahatan manusia. Sebagian disembelih dan dimakan, sebagian digunakan untuk melakukan perjalanan panjang. Yang lain digunakan untuk berlomba, berburu dan berperang. Bahkan ada yang digunakan sekadar untuk kebanggaan dan kemewahan serta bermegah-megahan.

            Allah yang sangat kasih sayang terhadap manusia terkadang dilupakan begitu saja. Apalagi saat-saat mendapatkan karunia dari-Nya. Memang manusia sering lupa. Saat senggang dan bahagia mereka melupakan Tuhannya. Tatkala terjepit dalam kesempitan mereka kadang baru mengingatnya. Kealpaan dan kelalaian ini kelak akan membawa kerugian dan penyesalan.

Malapetaka dan Karunia

            Berapa lama manusia sanggup menikmati hidupnya. Jika dia terlahir ke dunia ini pada usia nol, ia baru bisa berjalan setelah 1-2 tahun kemudian, kemudian ia akan pada usia belasan tahun ia baru mencari eksistensinya. Pada usia duapuluhan ia bahkan belum mampu eksis kecuali sebagian kecil. Mungkin pada usia 30 atau 40 ia baru menikmati hidupnya. Ia bahkan hanya bisa menimkati hidupnya sedikit saja. Sisanya ia pakai untuk bekerja keras. Hartanya ia relakan untuk keluarganya. Sebagian digunakan untuk memenuhi tuntutan prestise dan posisi sosial di tengah masyarakat. Hanya sedikit saja yang benar-benar bisa ia nikmati. Itupun nantinya tak ia bawa ke liang lahatnya.

            Maka, pada saat datang hari yang dijanjikan Allah. ”Maka apabila malapetaka yang sangat besar (hari kiamat) telah datang. Pada hari (ketika) manusia teringat akan apa yang telah dikerjakannya, Dan diperlihatkan neraka dengan jelas kepada setiap orang yang melihat”. (QS. 79: 34-36)

            Saat itu semua manusia bisa merasakan betapa beratnya hari yang dijalaninya sekarang. Ia mulai berhitung apa yang diperbuatnya untuk menghadapi hari ini.

Ketakutan yang demikian dahsyatnya akan menimpa siapa saja. Karena tak satupun yang tahu kasudahan nasibnya. Terlebih bagi orang yang angkuh dan sangat zhalim serta melampaui batas ketika hidup di dunia. ”Adapun orang yang melampaui batas. Dan lebih mengutamakan kehidupan dunia. Maka sesungguhnya nerakalah tempat (nya)”. (QS. 79: 37-39). Itulah seburuk-buruk akhir cerita.

            ”Sedangkan orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya. Maka sesungguhnya syurgalah tempat tinggal(nya)”. (QS. 79: 40-41).

            Berbahagialah orang-orang yang mampu menahan diri dari yang dimurkai Allah. Fudhail bin Iyadh mengatakan, “sebaik-baik amal adalah menyelisihi hawa nafsu([8]). Demikian pula orang-orang yang bersabar menjalankan apa yang dikehendaki-Nya yang menjadi misi penciptaannya di muka bumi sebagai khalifah Allah untuk memakmurkan bumi dan isinya. Bukan untuk merusak dan saling bertikai. Bukan pula untuk saling membunuh dan menghancurkan.

Peringatan Hanya Ada di Dunia Saja

            Saat orang-orang kafir tersebut melecehkan peringatan Nabi saw. “(orang-orang kafir) bertanya kepadamu (Muhammad) tentang hari kebangkitan, kapankah terjadinya?” (QS. 79: 42)

            Takkan pernah ada yang tahu, tidak juga ada yang mengetahuinya sebelum kejadian yang sesungguhnya. Bahkan sampai Nabi Muhammad saw pun tidak juga mendapatkan berita waktu kepastiannya. “Siapakah kamu (maka) dapat menyebutkan (waktunya)?” (QS. 79: 43). Beliau hanya penyambung lidah, sang pembawa amanah dan , ”hanyalah pemberi peringatan bagi siapa yang takut kepadanya (hari kebangkitan)” (QS. 79: 45).

            Saat nanti semua manusia dibangkitkan, semuanya bersiap diri menyongsong pengadilan dan vonis untuk menerima pembalasan yang setimpal dari semua yang dilakukannya ketika berad di dunia ini. Saat itu semua merasa betapa pendeknya umur mereka di dunia yang tak seberapa. Apalagi bagi mereka yang durhaka dan pendusta. Hari-hari menyulitkan itu terasa demikian panjang dan melelahkan. Padahal mereka belum lagi menerima vonis. Ketakutan dan kengerian sudah mereka rasakan. Kenikmatan dan kemakmuran yang mereka rasa di dunia menjadi tiada berarti. “Pada hari mereka melihat hari berbangkit itu, mereka merasa seakan-akan tidak tinggal (di dunia) melainkan (sebentar saja) di waktu sore atau pagi hari”. (QS. 79: 46)

            Perbandingan yang tak seimbang. Karena kehidupan fana di dunia menjadi tiada artinya. Bagaikan satu detik dalam hidup kita. Diumpamakan di sini bagaikan waktu pagi atau petang. Ini perumpamaan singkatnya waktu yang dilalui manusia setiap harinya, seperti tutur ath-Thayyiby([9]). Pagi hari manusia sibuk mempersiapkan hari urusan itu dari mencari nafkah dan sebagainya. Semuanya terasa singkat. Sedang sore harinya ia gunakan untuk kembali ke rumah bertemu dengan keluarganya. Maka ia juga merasakan betapa cepatnya waktu sore berlalu.

            Sebenarnya manusia pun tahu bahwa setelah kehidupan dunia ini ada kehidupan lagi. Setelah jasadnya ditinggal ruh dan nyawa ada kehidupan lain yang dialaminya. Karena saat di dunia ia pun merasakan, ketika bekerja keras ia mendapatkan hasil yang sesuai dengan harapannya. Ia pun berharap jerih payahnya dihargai sesuai usahanya. Ada juga orang-orang tertindas yang belum mendapatkan keadilan bahkan sebagian terbunuh dengan ternista atau terinjak-injak harga dirinya. Di mana mereka akan mendapatkan keadilan, jika tidak di hari akhir([10]) yang hanya Allah saja berkuasa atas segalanya. Karena bila seorang hamba telah mampu mematri keimanan terhadap hari akhir ini, ia akan berhati-hati menjalani sisa hidupnya dan memenuhinya dengan kemanfaatan bagi seluas-luas makhluk-Nya. Senada dengan ungkapan Ibnu Atha’illah as-Sakandary, ”Seandainya cahaya keyakinan menerangimu, niscaya engka dapat melihat akhirat itu lebih dekat padamu daripada engkau berjalan ke arahnya. Dan engkau punmelihat keindahan dunia telah tertutupi oleh gerhana kefanaan yang gulita ([11]).

لو أشرق لك نور اليقين لرأيت الآخرة أقرب إليك من أن ترحل إليها ولرأيت محاسن الدنيا قد ظهرت كسفة الفناء عليها

Penutup: Hari Berbekal dan Menabung

            Jika kita telah menyadari dan mengimaninya dengan sepenuh hati, kita juga akan menganggapnya sangat dekat. ”Sedangkan kami memandangnya dekat” (QS. Al-Ma’ârij: 7) Sehingga kita tidak pernah menganggap diri kita teramankan dari murka dan azab Allah sekalipun. Maka yang terbaik dilakukan saat ini adalah berbenah diri dengan menabung amal sebanyak-banyaknya dengan kualitas yang sebaik-baiknya untuk menghadapi hari pacekik yang dahsyat yang dikatakan sebagai ath-Thammah al-Kubra (malapetaka yang besar). Saat itu yang bisa diandalkan adalah amal yang telah kita kerjakan. Meskipun seandainya kemudian Allah mengampuni semua kekhilafan dan doa kita serta menerima amal kebaikan kita itu semata karena keluasan rahmat dan kasih sayang-Nya. Semoga kelak kita benar-benar mendapatkannya. Amin.

Jakarta, Selasa, 17 November 2009


* Tadabbur surat An-Nâzi’ât (Malaikat Pencabut Nyawa): [79], Juz Amma (30)

** Mahasiswa Program S3 Jurusan Tafsir dan Ilmu al-Qur’an Universitas al-Azhar, Cairo

([1]) lihat: Ibnu Jarir ath-Thabary, Jâmi’ al-Bayân, Beirut: Dar Ihya Turats al-Araby, Cet.I, 2001 M/1421 H, vol.30, hlm.36, Imam al-Baghawy, Ma’âlimu at-Tanzîl, Beirut: Darul Kutub al-Ilmiah, Cet.I, 2004 M/1425 H, vol.4, hlm.410, Ibnu Katsir, Tafsir al-Qur’an al-Azhim, Mansoura: Maktabah al-Iman, Cet.I, 1996 M/1417 H, Vol.8, hlm.178, Syihabuddin al-Alusy, Rûhul Ma’âny, Beirut: Darul Fikr, Cet.I, 1997 M/1417 H, Vol. 30, hlm. 39-40. 

([2]) lihat: Jalaluddin as-Suyuthi, al-Itqân fi ‘Ulûmi al-Qur’ân, Beirut: Darul Kutub al-Ilmiah, Cet.I, 2004 M/1425 H, hlm. 22; Badruddin az-Zarkasyi, al-Burhân fi ‘Ulûmi al-Qur’ân, Beirut: Darul Fikr, Cet.I, 1988 M/1408 H, Vol.1, hlm. 250. Prof. Dr. Jum’ah Ali Abd. Qadir, Ma’âlim Suar al-Qur’ân, Cairo: Universitas al-Azhar, cet.I, 2004 M/1424 H, vol.2, hlm.743

([3]) lihat: Jalaluddin as-Suyuthi, Ad-Durr al-Mantsûr fi at-Tafsir bi al-Ma’tsur, Beirut: Darul Fikr, Cet.1, 1987 M/1403 H, Vol.1, hlm.403.

([4]) seperti yang difirmankan dalam ayat ke 13 dalam surat ini. Proses pengembalian itu suatu hal yang sangat mudah bagi Allah. Hanya dibutuhkan satu tiupan saja, dan secara tiba-tiba semua yang telah mati terhimpun di padang mahsyar, padang kebangkitan (lihat Tafsir al-Muntakhab, al-Azhar-Kementrian Wakaf Mesir, Cairo, 2001 M/1422 H, hlm.1201)

([5]) seperti disitir Ibnu Katsir dalam Tafsirnya, Tafsir al-Qur’an al-Azhim, 4/470

([6]) yaitu ketika merada di negeri Madyan. Bahkan ia menikah dan berkeluarga di sana, kemudian bersama mereka ia kembali ke Mesir untuk melanjutkan misi reformasinya, berdakwah melengserkan kezhaliman.

([7]) seperti ungkap Dr. Abdurrahman an-Nahlawy, At-Tarbiyah Bil Qishshah, Damaskus: Darul Fikr, Cet.1, 2006 M/1427 H hlm. 16

([8]) disitir al-Alusy dalam tafsirnya, Ruhul Ma’any, Op. Cit, Vol.30, hlm. 63

([9]) Ibid, Vol.30, hlm. 66

([10]) lihat: Dr. Yusuf al-Qaradhawy, Al-Iman wa al-Hayah, Cairo: Maktabah Wahbah, Cet. XVI, 2007 M/1428 H, hlm. 36.

([11]) sebagaimana termujat dalam kitab al-Hikam karya Ibnu Athaillah as-Sakandary, terj. Dr. Ismail Baadillah, Jakarta: Khatulistiwa Press, Cet.II, 2008 M/1429 H, Hikmah ke 124. hlm. 168