Merajut Kebersamaan

MERAJUT KEBERSAMAAN:

SEBUAH PELAJARAN DARI FIKIH SAFAR

 

Saiful Bahri

Salah satu yang sering jadi perhatian saya dalam even internasional, atau kegiatan berkelompok atau dalam perjalanan adalah masalah shalat. Apalagi kegiatan tersebut melibatkan berbagai orang dari berbagai negara, dengan perbedaan madzhab fikih tentunya. Tapi, yang menarik bahwa penganut madzhab-madzhab fikih tersebut bisa saling memahami dan saling toleran. Jika yang ditunjuk sebagai imam shalat adalah seorang penganut madzhab mâliki yang tidak membolehkan jamak, maka makmum yang mayoritas bermadzhab syâfi’i dan hanafi –misalnya- bisa melanjutkan sendiri atau (lebih baik) secara berjamaah dengan menunjuk imam baru untuk meneruskan shalat selanjutnya -bahkan- dengan diqashar (disingkat) menjadi dua rakaat. Semuanya dilakukan secara berkelompok dan rapi. Dan tentu menyesuaikan dengan kondisi dan kebiasaan setempat. Seperti misalnya penganut madzhab hanafi yang menta’khirkan (melambatkan) pelaksanaan shalat ashar dan shalat shubuh. Untuk shalat ashar barangkali tak terlalu berpengaruh, karena sebagian besar para musafir biasanya sudah menjamaknya dengan shalat zhuhur, tapi untuk shubuh mungkin belum terbiasa. Tapi dengan perilaku ibadah shalat yang macam-macam ini menjadi sangat menginspirasi. Pengalaman dan pelajaran yang sama juga bisa diambil oleh para jamaah haji yang saat ini mulai berdatangan ke BaitulLâh di Mekah. Semuanya sangat indah bila dibingkai dalam sebuah kebersamaan dan sikap toleransi, siapapun yang memimpin shalat tak menjadi soal. Apakah ia bermadzhab syâfi’I atau mâliki, bermadzhab hanafi atau hanbali.

Saya kembali terngiang-ngiang dengan banyak hal yang berkaitan dengan shalat di Indonesia, dari sejak pelaksanaannya sampai kebiasaan-kebiasaannya yang juga terdapat beberapa perbedaan di berbagai daerah, meskipun tak terlalu terlihat secara eksplisit. Bahkan kebiasaan dan tatacara berpenampilan serta berzikir, umumnya dijadikan sebagai tanda mengetahui identitas seseorang untuk selanjutnya dijadikan salah satu patokan untuk mengambil sikap dalam berinteraksi, apakah akan mengakrabi atau menjaga jarak dengannya. Memang ini tak bisa digeneralisir, tetapi kondisi sosial ini terlihat di beberapa tempat. Terutama untuk mengidentifikasi seseorang apakah termasuk “orang kita” atau “orang lain

Kondisi yang lainnya, ketika saya melakukan perjalanan antar kota -dengan kendaraan umum- di Indonesia. Apa yang terjadi di terminal-terminal, di pemberhentian dan rest area. Rata-rata ketika saya hendak melakukan shalat, terutama ketika waktu shalat sudah melewati dari awal waktu, maka akan saya temukan banyak orang shalat sendiri-sendiri dan tersebar di berbagai sudut mushola/tempat shalat. Untuk memulai atau mengajak shalat secara berjamaah cukup sulit terjadi. Faktor utamanya tentu karena tempat yang juga tak seberapa luas tersebut sudah dipenuhi orang-orang yang melakukan shalat secara sendiri-sendiri.

Dulu hal yang sama juga terjadi di berbagai pusat perbelanjaan. Namun, Alhamdulillah, lambat laun secara umum di pusat-pusat perbelanjaan (shopping center) tersebut, mall-mall atau supermarket besar fasilitas tempat shalat (musholla) semakin membaik. Bahkan diantaranya memiliki imam tetap yang memimpin shalat maktubah di setiap awal waktu. Jamaah shalat yang masbûq pun kini mulai melakukan shalat secara berjamaah. Saya memimpikan hal tersebut segera terjadi di semua tempat shalat di Indonesia, terutama di tempat-tempat pemberhentian umum dan rest area. Jiwa kebersamaan lah yang diharapkan dari pelaksanaan shalat jamaah ini. Sehingga latihan ini terjadi secara kontinyu dan di mana pun kita berada. Tatkala berada di waktu dan kondisi normal, maka akan ada latihan koordinasi dan berjamaah sebanyak lima kali. Adapun dalam perjalanan ke mana pun tetap dilatih melakukannya sebanyak tiga kali. Dan tiga adalah bilangan minimal untuk membiasakan merajut kebersamaan dengan koordinasi yang rapi. Rapatnya barisan dalam shalat, ada komando imam yang tak boleh didahului gerakannya oleh siapapun di belakangnya. Juga posisi sosial seseorang yang cenderung tak berpengaruh saat ia menghadap Allah. Apakah ia seorang ilmuwan yang handal, selebriti, olahragawan, pejabat, rakyat biasa atau bahkan ulama sekalipun. Semua mengambil tempat sesuai dengan ketepatan hadir saat imam memulaui komando shalatnya dengan takbiratul ihram, mengagungkan Allah sekaligus mengusir segala bentuk kesombongan, kebesaran dan kebanggaan lainnya. Serta banyak hikmah lainnya dari pembelajaran untuk merajut kebersamaan melalui shalat jamaah.

Kelak mimpi kita di negeri tercinta akan terealisasi, saat tak lagi ada masalah perbedaan awal Ramadhan atau ketika menentukan satu Syawal setiap tahunnya. Saat kewibawaan umat kembali dirasakan dengan benar-benar. Maka tak lagi ada yang mengadu domba dengan ide kontroversi sertifikasi ulama atau pernyataan profokatif yang sangat tendesius dengan mengatakan bahwa kajian-kajian keislaman di sekolah-sekolah yang dikenal dengan rohis sebagai sarang pembinaan teroris. Termasuk gampangnya orang menistakan simbol-simbol wibawa agama kita, melalui karya-karya seni mereka dengan mengatasnamakan kebebasan berekspresi atau hak mengemukakan pendapat.

Saat umat Islam disegani, ketika wibawa kaum muslimin terjaga melalui sikap dan perilaku hariannya. Dan tatkala Islam benar-benar berada dalam diri seorang muslim. Akan segera datang. Percayalah. Cepat atau lambat.

Dengungkan selalu janji Allah yang satu ini dalam diri kita, “Dan Kami selalu berkewajiban menolong orang-orang yang beriman” (QS. 30: 47)

Turkiye Tengah Hari, 19.09.2012