SPIRIT HIJRAH DI SYDNEY


Ini adalah Ramadan pertama saya ke di Australia. Juga mengulangi menjalani bulan Ramadan di saat musim dingin seperti ketika pertama kali saya belajar di Mesir, di negeri Musa dan para nabi ‘alaihimussalâm.

Adalah CIDE (Centre for Islamic Dakwah and Education) yang bermarkaz di Sydney yang mengundang saya untuk menjalani rangkaian kegiatan ibadah selama bulan Ramadan di Australia, dengan base camp Masjid al-Hijrah yang terletak di Tempe, Sydney, New South Wales, Australia. Masjid al-Hijrah didirikan sebagai sarana silaturahim dan tempat aktivitas komunitas umat Islam Indonesia di Sydney khususnya.

Menilik sejarah, pada tahun 1974, komunitas Muslim Indonesia di Sydney membentuk sebuah organisasi dakwah yang diberi nama LDPAI (Lembaga Dakwah Pendidikan Agama Indonesia), organisasi ini diprakarsai oleh KJRI (Konsulat Jenderal Republik Indonesia) Sydney. Kemudian pada tahun 1985/1986 organisasi ini berganti nama menjadi Central Islamic Dakwah and Education (CIDE). Secara organisatoris lembaga ini tak lagi memiliki hubungan secara langsung dengan KJRI. Pada saat itu organisasi ini belum mempunyai tempat kegiatan sendiri, karena itulah masih menumpang di masjid milik komunitas Malaysia (Masjid Zetland).

Pada tahun 1991 pengurus CIDE mempunyai inisiatif untuk membeli sebuah bangunan untuk dijadikan sebuah masjid sebagai pusat ibadah dan pusat kegiatan, maka pada tahun tersebut dibeli sebuah bangunan bekas sebuah Gereja bernama Jehovah Witness Church yang dijual karena sudah tidak dipergunakan lagi. Bangunan bekas gereja tersebut diubah fungsinya menjadi sebuah masjid, dengan mengubah beberapa bagian dalamnya. Bagian mimbar untuk khotbah Gereja dijadikan kantor (sekretariat), sedangkan mimbar dan tempat shalat Imam dipindah di bagian tengah sebelah barat menghadap arah kiblat shalat. Bangunan masjid ini kemudian diberi nama Masjid al-Hijrah. (https://www.cide.org.au/web2/who-we-are/)

Bertemu dengan para orang tua dan mendengar liku-liku mereka saat datang pertama kali ke Australia, rasanya penamaan masjid ini sangat tepat. Para sesepuh seperti Buya Rizal, Pak Lui Irfandi, Pak Muslimin, Pak Syawal, Pak Aan, juga Pak Lutfi Sungkar dan banyak nama yang tak bisa saya sebut kansatu persatu. Anak-anak muda sudah seharusnya belajar dari kegigihan mereka. Bukan hanya kegigihan survivalitas mereka, tetapi keteguhan dalam memegang prinsip beragama. Sehingga bisa mengubah keadaan dan mempertahankan prinsip akidah yang benar. Secara usia barangkali saat ini yang aktif di masjid adalah generasi kedua yang sebagian besarnya sudah jauh lebih mapan dan lebih baik survivalitasnya jika dibanding para pendahulu. Meskipun demikian, tantangan zaman tetaplah sesuai waktunya. Generasi muda sekarang memiliki tantangan yang tak ringan mempertahankan idealisme dalam beragama dan menjalankan perintah Allah.

Karena itulah mendekatkan diri dan keluarga ke masjid adalah sebuah keniscayaan yang perlu dilakukan secara masif dan bersama-sama. Untuk itulah Masjid al-Hijrah menjadi pertemuan semua keinginan mempertahankan diri, identitas akidah dan berbagai tradisi baik. Perbedaan sebagian kultur yang bertentangan dengan agama perlu wadah untuk menyikapinya. Masjidlah tempat terbaik untuk itu.

Menariknya, ada fenomena menarik sekaligus menggembirakan dengan lahirnya generasi ketiga. Satu sisi sebagian mereka kesulitan untuk berkomunikasi dengan bahasa Indonesia yang lancar dan baik. Namun, sisi baiknya adalah tak sedikit sudah mulai banyak yang menghafal al-Quran dengan variasi. Ada yang sudah hafal satu atau dua juz al-Quran. Ada yang hafal 5 juz, ada pula yang sudah 10 juz, bahkan di antara mereka ada yang sudah menyelesaikan hafalan al-Qurannya secara sempurna yaitu 30 juz.


Secara pribadi saya sangat bahagia bisa kembali ke Sydney untuk kedua kalinya setelah musim spring lalu CIDE melalui Pak Ichsan, presiden CIDE mengundang saya untuk berkunjung dan berbagi ilmu yang diberikan Allah di Masjid al-Hijrah ini.

Ramadan kali ini menjadi semakin special, karena saya juga memiliki tandem dakwah yang luar biasa. Teman sekaligus guru saya, Ust. Dr. H. Agus Setiawan, Lc, M.A.

Itulah nikmat Allah. Meskipun sama-sama tinggal di Jakarta, ternyata untuk bertemu atau mengadakan pertemuan, kami berdua selalu terkendala waktu dan jarak tempuh serta kesibukan yang memiliki perbedaan aktivitas.

Kami berdua diamanahi CIDE untuk memberikan ceramah selama bulan Ramadan 1438 H dengan tema sentral Kemukjizatan al-Quran. Spiritnya adalah agar semua kita tersadarkan akan dahsyatnya kemukjizatan al-Quran dan kemudian mau membaca dan mempelajarinya serta kemudian mengajarkan dan mengamalkannya. Kebaikan lailatul qadar adalah kebaikan yang menginspirasi tumbuhnya kebaikan lainnya. Kebaikan yang sanggup menggerakkan seribu komunitas lainnya.


Dan karena rumah yang di dalamnya tak pernah dibacakan al-Quran maka bagaikan kuburan bagi orang yang menempatinya. Agar umat ini bangkit dan tidak memulai kegiatan dari dalam kuburan, maka diharapkan dengan kajian-kajian ini rumah-rumah kaum muslimin menjadi bercahaya dan menginspirasi untuk bangkit kembali bersama al-Quran.

Secara bergantian kami berdua mengupas dimensi-dimensi kemukjizatan al-Quran. Dari sejak dimensi kebahasaan yang mencakup pilihan kata dan susunan kalimat dalam al-Quran, pengulangan kata, penyebutan lafzah ujian, kemenangan, macam-macam ukhuwah di dalam al-Quran dan sebagainya

Dimensi scientifik dalam penuturan al-Quran juga dibahas. Seperti hikmah dan rahasia penciptaan nyamuk, qalbu (jantung), teori relativitas waktu dan penyebutan jenis-jenis waktu di dalam al-Quran serta relasinya dengan waktu turunnya al-Quran dan sebagainya.

Dimensi ghaib kali ini dikupas tentang iblis, setan dan jin di dalam al-Quran serta beberapa hikmah cerita masa lalu yang bisa diambil hikmahnya seperti istana dan penjara di dalam al-Quran, kisah Nabi Yusuf alaihissalam, Dawud Thalut dan Jalut dan kisah kekuasaan.

Dalam dimensi visualisasi, kali ini telaah al-Quran tentang hoax dan jebakan persepsi adalah bentuk dahsyat penuturan al-Quran bagaimana daya rusak hoax dan berita dusta serta jebakan persepsi pribadi yang mempengaruhi pola pikir. Al-Quran memberikan solusi normatif dan praktisnya di dalam surah al-Hujurat. Selain itu tentunya dalam dimensi visualisasi ini al-Quran menjelaskan perumpamaan serta berbagai kondisi dan kehidupan manusia nantinya di akhirat, baik di surga ataupun –naûdzu billah– di dalam neraka.

Selain kajian ba’da tarawih selama Ramadan, ada juga kajian raqa’iq (tazkiyatunnafs [pembersihan jiwa]) bada subuh yang berdurasi sekitar 15-10 menit setiap harinya. Tema-tema yang diangkat adalah seputar takwa, istiqamah, tawakkal, keutamaan dzikir dan menadabburi lafazah-lafazh dzikir harian, kemudian serial minal ‘âidin wal fâ’izîn.


Secara teknis untuk memperluas wawasan praktis CIDE juga mengadakan workshop dan pelatihan dua kali. Yang pertama pelatihan mengurus jenazah menurut tuntunan Islam, kemudian tentang ilmu mawaris dan terakhir fikih akuntansi zakat.

Di samping itu, Ibu-ibu di Masjid taklim Masjid al-Hijrah juga mengadakan kajian dhuha. Demikian juga komunitas muslimat Iqro Foundation, Komunitas ODOJ (One Day One Juz) dan Majelis Taklim Raudhatul Ilmi. Juga PRIM Ranting Muhammadiyah NSW.

Saya juga berbahagia bisa bersilaturahim dan bertukar pikiran dengan para mahasiswa di University of Wolongong dan sempat tarawih bersama mereka di Islamic Centre di kampus. Juga berkesempatan berbuka puasa dan tarawih bersama masyarakat Western Sydney yang baru mengadakan percobaan tarawih bersama dengan menyewa gedung milik council. Yang mengharukan saat fund rising untuk pengadaan pusat kegiatan dan tempat shalat para jamaah sangat bersemangat. Saya teringat sebuah buku karya ulama ternama di Mesir yang kini tinggal di Qatar di lelang dan sampai terjual di angka 500 dollar. Komitmen-demi komitmen dikumpulkan selain uang cash dan donasi melalui eftpos payments. Jumlahnya, menurut saya sangat luar biasa karena hanya dikumpulkan melalui dua kali fundrising, termasuk di antaranya untuk proyek yang direncanakan oleh CIDE di tahun 2017 dan 2018. Ini belum termasuk donasi untuk pembangunan masjid besar komunitas AIM di Punchbowl. Masyaallah, masyarakat benar-benar berlomba-lomba dalam mendermakan hartanya fi sabilillah.

Dinginnya suasana Sydney ternyata tak berpengaruh buruk apalagi sampai membekukan. Justru komunitas muslim di sini sangat hangat menyambut baik kami. Sambutan berupa respon yang baik selama kajian. Ibu-ibu yang berjihad menyediakan makanan terbaik. Panitia yang selalu stand by. Belum lagi, para jamaah yang selalu menemani di rumah belakang.

Saya sempat berpikir bahwa makan selepas tarawih hanya akan terjadi sesekali saja. Faktanya, kemudian hampir tiap malam selalu saja ada yang mengajak keluar untuk sekedar menikmati suasana malam sambil mencicipi kuliner Sydney. Ajakan favorit yang paling sering tentunya ke Lakemba. Penduduk Sydney bahkan Australia tentu tahu ada apa di Lakemba, terutama di Haldon Street. Festival Ramadan menjadikan jalan utama tersebut menjadi ramai bahkan hingga sahur. Padahal umumnya took-toko pun tutup jam 5 sore atau paling lambat di jam 9 malam.

Tawaran mencicipi camel burger dan juz wortel adalah yang paling sering kami terima. Alhamdulillah, segala puji bagi Allah yang menjadikan Ramadan sebagai festival berbagai kebaikan. Di dalam masjid dan dalam keseharian menjadi ajang perlombaan dan fastabiqul khairat.

Belum lagi undangan buka bersama, dan termasuk memenuhi undangan open house di bulan syawal. Alhamdulillah Allah memberi kesehatan dan kekuatan untuk mengunjungi satu persatu, termasuk ke kediaman Bapak Konjen di Wisma KJRI juga para sesepuh masyarakat di Sydney. Meskipun tak semua undangan bisa didatangi tentunya.

Malam-malam yang mengharukan juga kami nikmati bersama para pemburu lailatul qadar yang beri’tikaf selama 10 hari terakhir di bulan Ramadan. Menjalani bersama shalat tahajud dan menengadahkan tangan bersama mengetuk pintu ampunan dan rahmat Allah melalui doa, munajat dan muhasabah menjelang sahur.

Keindahan yang sempurna. Terlebih saat Allah karuniakan dan kabarkan datangnya kemenangan saat Idul Fitri. Bersama kaum muslimin menjemput kemenangan yang dijanjikan Allah. Kemenangan yang membuat iblis dan setan serta bala tentaranya menangis. Karena, apa yang mereka lakukan dengan jebakan-jebakan selama setahun menjadi sirna bersama ampunan Allah untuk umat Islam serta turunnya rahmat dan sayang-Nya.

Jika Ust Agus Setiawan diamanahi menyampaikan khutbah Idul Fitri di Sydney, maka saya menjalankan amanah untuk terbang ke Canberra. Bersama masyarakat muslim Indonesia saya menyampaikan khutbah Idul Fitri di KBRI Canberra.

Musim sibuk penerbangan kali ini, membuat kepulangan kami tertunda. Rasa rindu dan kangen dengan keluarga harus ditahan sesaat. Alhamdulillah, ada banyak hikmahnya. Kami masih sempat bersilaturahim dengan masyarakat. Selain itu, kami juga sempat menikmati dinginnya salju dan berselancar di Perisher, Blue Valley Mountain.

Kepergian bulan Ramadan memang membuat sedih orang-orang yang mengetahui kemuliaan yang ada di dalamnya. Karena seandainya semua tahu kebaikan yang ada di dalamnya tentu semua orang akan berharap sepanjang tahun adalah seperti bulan Ramadan. Tapi, terbitnya bulan Syawal adalah kebahagiaan bagi umat Islam menerima hadiah rahmat dan pembebasan dari murka dan neraka Allah. Kini kita tinggal merawatnya.

Demikian juga kami, dengan berakhirnya Ramadan berarti akan segera berakhir kebersamaan fisik di Sydney dengan masyarakat muslim yang ramah dan sangat inspiratif ini. Ada suanana haru yang tak bisa digambarkan melalui kata-kata. Akan tetapi, ada kebahagiaan dan optimisme lain, karena kami akan segera bertemu keluarga di Indonesia. Keluarga yang rela berbagi waktu, mengikhlaskan kami melanjutkan tradisi dakwah di mana dan kapan saja. Istri yang gigih memerankan semua terutama menjadi ibu yang baik dan sabar bagi anak-anak. Anak-anak kami yang tentunya terkurangi kebersamaan dengan ayah mereka. Semoga Allah menggantinya dengan pahala serta menjaga mereka dengan dijadikan anak-anak shalih yang akan menuntun kami ke surga.

Siang ini, Jumat 30.06.2017 masih ada agenda terakhir di Masjid Al-Hijrah. Agar spirit kebaikan terjaga insyaallaah khutbah Jumat nanti saya akan mengangkat tema: Memakmurkan Masjid & Melanjutkan Tradisi-Tradisi Kebaikan. Diantara poin-poin pentingnya:

  1. Mempertahankan komunitas yang baik dengan selalu membersamai mereka serta saling menasehati dalam kebaikan
  2. Memakmurkan masjid, dengan memberikan perhatian dan pengorbanan untuk berbagai hal di antaranya: perawatan dan kebersihannya, kenyamanan dalam beribadah (terutama shalat), meramaikannya dengan majelis ilmu dan dzikir serta berbagai kegiatan positif lainnya.
  3. Jadikan masjid ==> sebagai pusat kegiatan dan majelis perencanaan strategis
  4. Jadikan masjid ==> sebagai sanggar-sanggar al-Quran, tempat-tempat tahfizh, mempelajari al-Quran dan menyebarkan spirit kebaikan yang terkandung di dalamnya
  5. Jadikan masjid ==> sebagai basis data masyarakat, terutama komunitas masyarakat di Sydney dan Australia kemudian membuat peta dakwah untuk mengajak semua untuk berbuat dan memberi kemanfaatan
  6. Jadikan masjid ==> sebagai tempat regenerasi anak-anak dan pemuda dengan membiasakan mereka supaya akrab dengan masjid dan bergaul dengan orang-orang yang sering berada di dalamnya
  7. Jadikan masjid ==> sebagai sarana sharing kebahagiaan dan berbagai kepedulian dengan sesama. Dalam al-Quran perintah shalat seringnya disandingkan dengan perintah menunaikan zakat.

Mudah-mudahan rajutan persaudaraan dan pertalian ukhuwah ini dikekalkan Allah hingga hari kiamat dan dipertemukan kembali diakhirat dalam naungan ridho Allah serta dikumpulkan bersama Nabi Muhammad saw dan shalihin shalihat yang menyintai dan dicintai-Nya.

Terima kasih secara khusus saya ucapkan kepada pimpinan CIDE, Pak Ichsan akbar, Gota (Moh Sjam), Uda Riski Patiroi dan Uda Panji Budiman. Panitia Ramadan yang dikomandoi Pak Lukman kemudian Pak Imam yang incharge dengan update jadwal harian. Juga kepada Uda Uli, Muhammad Haikal, Mas Arif, Pak Elvo, Mas Zain, Allen Rahman, Jufri dan para pegiat youth, Pak Adi, Pak Joko, Pak Eko, Mas Teguh Waluyo dan Pak Ahmad. Juga kepada Pak Wawan, Pak Bambang dan Pak Farid. Tak lupa kepada Pak Novianto dan keluarga.

Juga terima kasih kepada Mas Dito, Mas Teguh Suwondo, Pak Aulia juga Pak Presiden CIDE yang meluangkan waktu dari sejak menyiapkan kami untuk berwisata ke Snowy Mountain. Juga Colonel Riva yang menjadi guide sekaligus tuan rumah selama kami di Canberra.

Terima kasih kepada Bapak Dubes di Canberra serta Bapak Konjen di Sydney. Juga Mas Ibrahim serta pak Imam Malik sekeluarga dan Pak Abrar yang menjamu kami selama di Canberra.

Terima kasih kepada masyarakat di Western Sydney, terkhusus pengurus CIDE yang tinggal di sana, juga kelurga Ust Arif Taufik, Bang Haris dan sebagainya.

Juga kepada Iqro Foundatian, Pak Nur, Pak Mico, Pak Yudi, Pak Beri, Pak Narto, Pak Uki dan lainnya

Terima kasih Bang Nazar dan Andre yang juga teman kami selama kami di Universitas al-Azhar Mesir. Pak Maswan dan Pak Sobri atas masakan-masakannya.

Juga tentunya Ibu-ibu yang namanya tidak saya sebutkan satu persatu. Bu Lili dan komunitas ODOJ di NSW, juga ibu-ibu di MTRI.

Selain itu terima kasih khusus kepada asatidz: Dr. Agus Setiawan, Ust. Musyaffa, Ust. Henmaidi, Ust. Ziyad. Imam shalat selama di Masjid al-Hijrah, Ust. Toriq Jamil al-Hafizh, juga Ust. Musa al-Barqy dan Ust. Taqiyuddin.

Mohon maaf bila banyak nama tidak bisa saya sebutkan satu persatu. Namun tidaklah mengurangi rasa cinta dan penghormatan saya. Mohon maaf pula bila selama sebulan lebih berinteraksi terdapat banyak kehilafan dan kesalahan serta keterbatasan.

Kullu ‘âm wa antum bi khoir, Minal ‘âidin wal Fâizin.

 

Sydney, 30.06.2017

Jumat menjelang siang

 

SAIFUL BAHRI

 

Iklan

Safari Dakwah Ramadan 1435 H

DSCN6287

DIE BERLINER SONNE

Bertolak dari Jakarta, menuju Amsterdam merupakan perjalanan yang melelahkan. Apalagi, beberapa hari terakhir sebelumnya sangat padat agenda. Tak heran jika dalam perjalanan yang saya lakukan hanya mengubah posisi duduk, dan tetap dengan mata terpejam. Bangun-bangun hanya untuk makan, ke toilet dan shalat shubuh. Alhamdulillah sesampai di Schiphol Airport Belanda, sempat berkeliling ke beberapa obyek di Amsterdam diiringi udara sejuk pagi menjelang siang. Transit yang efektif dan karena memang schengen visa saya dapatkan dari Belanda, maka saya harus masuk Eropa melalui Belanda. Alhamdulillah, Allah memudahkan prosesnya.

Sore harinya perjalanan sesungguhnya dimulai. Ke Berlin. Di sinilah nantinya saya dijadwalkan mengikuti serangkaian agenda Ramadan 1435 H. Masjid al-Falah Berlin – Lembaga Kemanusiaan PKPU Jakarta – KBRI Berlin, merencanakan serangkaian program Ramadan di Berlin.

Acara dimulai keesokan harinya, Khutbah dan Shalat Jumat, kemudian penyambutan Ramadan yang ditandai dengan shalat tarawih bersama. Didahului sambutan singkat Ketua Masjid al-Falah, Dipl.-Ing. Dimas Abdirama, dilanjutkan dengan prakata sambutan Duta Besar RI di Berlin, Dr. -Ing. Fauzi Bowo. Saya juga sempat menyampaikan beberapa kata perkenalan.

Putaran jarum jam pada waktu itu terasa sangat lambat. Namun, padatnya kegiatan menjadikan seolah waktu demikian cepatnya berlalu. Masjid al-Falah yang merupakan EO utama kegiatan Ramadan ini bermitra dengan Lembaga Kemanusiaan Nasional PKPU di Jakarta dan KBRI Berlin, menjadi magnet bagi masyarakat Indonesia (khususnya) di Berlin untuk turut serta aktif menyemarakkan kegiatan Ramadan tahun ini.

Kegiatan-kegiatan yang cukup variatif. Dimulai dari sahur bersama yang dirangkai dengan shalat shubuh dan kajian Islam Ba’da Shubuh (KIBAS). Semula saya underestimate terhadap kajian ini, karena waktunya sangat “kritis” yaitu setelah shubuh yang saat itu jam 02.30. Tapi -justru- ternyata antusias peserta menjadikan kajian ini hidup dan menjadi inspirasi-inspirasi yang bagus –khususnya bagi saya-. Inilah satu-satunya rangkaian kegiatan yang seluruh pesertanya lengkap tanpa ada yang terlambat mengikutinya. Karena dilakukan langsung setelah dzikir singkat seusai menunaikan shalat shubuh. Alhamdulillah, Ramadan kali ini melalui kajian ini, seluruh surat al-Quran di Juz Amma (juz 30) selesai ditadabburi. Dimulai dari Surahan-Naba’ hingga akhir ayat Surah an-Nâs.

Pagi menjelang siang, pengajian muslimah dilakukan dengan penekanan harmonisasi keluarga, manajemen hati dan perasaan, melengkapi fikih ibadah yang disampaikan pada beberapa sesi. Siang menjelang sore tak ketinggalan pula, setiap Rabu para pemuda mengkhususkan waktu untuk mereka sebagaimana para pemudi mengambil hari Kamis. Kajian kepemudaan atau kepemudian ini ditekankan pada kajian fikih motivasi, mulai dari manajemen diri dan potensi, sampai pada kajian peradaban dan mengrikitisi metodologi liberal sambil menelaah metodologi penafsiran al-Quran. Khusus untuk para pemudi diakhiri dengan kajian fikih perempuan.

Kegiatan harian ini ditutup dengan Kajian Islam Jelang maghrib (KARIB). Dengan tema-tema variatif, sejak menggali lebih dalam esensi Ramadan, Puasa dan Zakat, maupun kisah-kisah al-Quran, serial manajemen resiko, manajemen pengelolaan masjid dan beberapa tema lainnya. Kajian ini menandai usainya puasa dengan buka bersama di Masjid al-Falah setelah menunaikan puasa rata-rata berdurasi 19 jam lamanya. Durasi yang cukup lama untuk menahan lapar dan dahaga dengan tuntutan masih beraktivitas seperti biasa, apalagi beberapa mahasiswa juga mengikuti ujian semester mereka. Yang bekerja juga tetap masuk seperti biasa. Masyaallah, Allah memberikan kekuatan fisik dan mental melakukan ibadah puasa di tengah tantangan iklim dan suasana sosial yang jauh berbeda. Alhamdulillah.

Pada setiap Jumat sore rangkaian kegiatan kajian keislaman, buka puasa bersama dan shalat taraweh berjamaah dilakukan di aula utama KBRI Berlin. Sedangkan buka bersama masyarakat Indonesia selain hari-hari biasa, lebih semarak dan dipadati banyak orang pada hari Sabtu di Masjid al-Falah. Bapak-bapak juga tak mau ketinggalan. Setiap Ahad sore menjelang buka bersama, forum kajian al-Hisab juga melaksanakan pengajian yang didahului dengan tilawah bersama kemudian tadabbur serta diskusi keislaman.

Ada hal menarik dalam pelaksanaan shalat kali ini. Yaitu untuk maghrib dan isya, sesuai rekomendasi Majelis Ulama Eropa yang membolehkan menjamak shalat Maghrib dan Isya dengan jamak takdim. Untuk di Masjid al-Falah, usai berbuka ringan jamaah melakukan shalat maghrib dan isya berjamaah dengan jamak takdim. Setelah itu baru menikmati hidangan makan malam bersama, kira-kira hingga 40-50 menit. Kemudian acara ditutup dengan melakukan shalat sunnah tarawih dan witir berjamaah.

Banyak pertimbangan pembolehan jamak ini. Secara khusus Majelis Ulama Eropa menerbitkan fatwa tentang hal-hal yang berkaitan dengan puasa khususnya, di puncak musim panas. Diantara para anggota Majelis Ulama Eropa (the European Council for Fatwa and Research) adalah:

  1. Dr. Yusuf Al-Qaradawi, President of ECFR (Egypt, Qatar)
  2. Judge Sheikh Faisal Maulawi, Vice-President (Lebanon)
  3. Sheikh Hussein Mohammed Halawa, General Secretary (Ireland)
  4. Sheikh Dr. Ahmad Jaballah (France)
  5. Sheikh Dr. Ahmed Ali Al-Imam (Sudan)
  6. Sheikh Mufti Ismail Kashoulfi (UK)
  7. Ustadh Ahmed Kadhem Al-Rawi (UK)
  8. Sheikh Ounis Qurqah (France)
  9. Sheikh Rashid Al-Ghanouchi (UK)
  10. Sheikh Dr. Abdullah Ibn Bayya (Saudi Arabia)
  11. Sheikh Abdul Raheem Al-Taweel (Spain)
  12. Judge Sheikh Abdullah Ibn Ali Salem (Mauritania)
  13. Sheikh Abdullah Ibn Yusuf Al-Judai, (UK)
  14. Sheikh Abdul Majeed Al-Najjar
  15. Sheikh Abdullah ibn Sulayman Al-Manee’ (Saudi Arabia)
  16. Sheikh Dr. Abdul Sattar Abu Ghudda (Saudi Arabia)
  17. Sheikh Dr. Ajeel Al-Nashmi (Kuwait)
  18. Sheikh Al-Arabi Al-Bichri (France)
  19. Sheikh Dr. Issam Al-Bashir (Sudan)
  20. Sheikh Ali Qaradaghi (Qatar)
  21. Sheikh Dr. Suhaib Hasan Ahmed (UK)
  22. Sheikh Tahir Mahdi (France)
  23. Sheikh Mahboub-ul-Rahman (Norway)
  24. Sheikh Muhammed Taqi Othmani (Pakistan)
  25. Sheikh Muhammed Siddique (Germany)
  26. Sheikh Muhammed Ali Saleh Al-Mansour (UAE)
  27. Sheikh Dr. Muhammed Al-Hawari (Germany)
  28. Sheikh Mahumoud Mujahed (Belguim)
  29. Sheikh Dr. Mustafa Ciric (Bosnia)
  30. Sheikh Nihad Abdul Quddous Ciftci (Germany)
  31. Sheikh Dr. Naser Ibn Abdullah Al-Mayman (Saudi Arabia)
  32. Sheikh Yusuf Ibrahim (Switzerland)

 

Para ulama di atas melakukan beberapa kajian dan menerbitkan beberapa fatwa, diantaranya adalah pembolehan jamak takdim shalat maghrib dan isya dengan beberapa konsideran yang cukup banyak. Diantaranya, masuknya waktu isya yang sulit diperkirakan karena malam hari di puncak musim panas langit tidak benar-benar gelap. Mega merah bertahan cukup lama dikhawatirkan menyerupai datangnya waktu fajar. Waktu isya baru bisa dipastikan benar-benar masuk dengan hilangnya mega merah setelah tengah malam dan memasuki waktu fajar. Disamping itu, waktu malam yang hanya (5) lima jam menjadi tantangan tersendiri untuk umat Islam melakukan rangkaian kegiatan malam di Bulan Ramadan. Sementara keesokan harinya mereka tetap harus beraktivitas seperti biasanya. Sebagian pelajar bahkan sedang menempuh ujian semesternya, sebagian bersiap-siap melakukan interview, sebagian lagi dengan setumpuk pekerjaannya. Dengan pertimbangan tersebut dan berbagai kondisi lainnya, maka untuk shalat maghrib dan isya dilakukan dengan jamak takdim.

Allah telah karuniakan banyak nikmat-Nya. Terkhusus untuk kaum muslimin di Berlin. Satu syawal yang ditunggu-tunggu Allah datangkan dengan kemenangan untuk mereka yang menantinya. Kemenangan mendapatkan pengampunan dan pembebasan-Nya dari neraka dan murka-Nya yang tiada tertandingi. Idul Fitri semakin syahdu dengan iringan rintik-rintik hujan. Tak berapa lama hujan berhenti, seolah member kesempatan untuk kaum muslimin memanfaatkan berjalan-jalan dengan kerabat, family dan teman-temannya. Menikmati nafas baru yang Allah berikan pada mereka. Nafas harapan untuk tetap pertahankan spirit perjuangan mengalahkan diri sendiri. Nafas baru untuk tetap bertahan pada kebaikan yang sudah dibiasakan selama sebulan. Nafas baru yang Allah karuniakan dengan berbagai rekayasa kebaikan yang ditawarkan-Nya selama sebulan penuh. Mudah menjadi ramah dan menebar cinta, hati terasa lembut menyayangi sesame. Ringan memaafkan dan lapang dada. Memburu prestasi dengan perbanyak sedekah dan tilawah serta menghidupkan malam dengan munajat dan shalat malam. Berharap Allah karuniakan kebaikan malam lailatul qadar-Nya. Malam yang diistimewakan-Nya melebihi seribu bulan lainnya. Jika seorang muslim dikaruniai Allah kebaikan seribu malam ini, niscaya ia akan menjadi pribadi yang menandingi –bahkan- melebihi kualitas dan kuantitas seribu komunitas yang ada di bumi-Nya. Semoga Allah benar-benar menjaga nikmat dan karunia mahal-Nya ini untuk kita. Amin. (Baca: Khutbah Idul Fitri 1435 H, Nafas Kemenangan). Umat Islam dan Msyarakat Indonesia di Berlin melakukan rangkian Shalat Idul Fitri di KBRI Berlin.

Segenap pengurus al-Falah, IWKZ. E.V melengkapi suasana liburan Idul Fitri kali ini dengan jalan-jalan santai bersama di Spandau sambil menikmati Gelato dan es krim di tengah hari, sesuatu yang sudah sebulan lebih tak bisa dilakukan di siang hari.

Sekembali di masjid, ada perasaan lain. Ada sesuatu yang beda dengan masjid al-Falah. Yang semula ramai penuh dengan masyarakat, mendadak menjadi sepi. Hening. Saat menjelang shubuh, biasanya ada berbagai aktivitas di sana. Ada yang belajar, ada yang mengerjakan tugas. Ada yang shalat malam, dan ada yang membaca al-Quran. Ada yang berdiskusi dan berkonsultasi. Dan ada yang menyiapkan santap sahur bersama. Kini, mendadak sepi. Hening. Ada sesuatu yang hilang. Sungguh kerinduan itu keluar dari relung hati yang dalam. Untung kondisi “kesepian” ini tidak berlanjut lama. Saya berkesempatan melakukan kunjungan, sekaligus liburan ke Italia. Terimakasih terkhusus kepada Dr. Ir. Hamim, MS.I (Atase Pertanian KBRI di Roma) yang menyambut sekaligusbanyak membantu selama kami berada di Roma. Juga kemudian melanjutkan perjalanan ke kota air di Italia, Venesia.

IMG_8590

Ketika kembali ke Berlin, para remaja dan pengurus masjid sudah sibuk menyiapkan acara Halal Bihalal dan Ramah Idul Fitri 1435 H. Acara ini sekaligus menjadi perpisahan simbolik dari Pengurus IWKZ dan Masyarakat Indonesia di Berlin dengan saya. Menariknya, para pemuda sempat melakukan pertandingan sepakbola dengan saya keesokan harinya. Meskipun sudah sebulan lebih tak berolahraga, Alhamdulillah pertandingan berjalan seru. Bermain di atas lapangan sintetis yang bagus membuat saya bebas mengeksplorasi lapangan. Hanya saja memang faktor usia tak bisa dibohongi. Saya tak lagi selincah dulu. Tapi untuk pertandingan kali ini tak buruk-buruk amat. Sebuah gol dan dua assist buat saya itu sudah cukup lumayan. Alhamdulillah tubuh ini masih bugar. Allah karuniakan kesehatan. Bahkan menariknya lagi, berat badan saya naik nyaris dua kilogram. Dan ternyata puasa 19 jam tidak menyusutkan berat badan saya.

Sepak Bola pasca Ramadan

Dalam kesempatan ini saya juga terharu melihat acara pertemuan khusus dengan adik-adik pelajar/mahasiswa angkatan 2014 yang bersemangat menyongsong masa depannya di Jerman. Doa khusus saya semoga mereka semuanya dikaruniai kesuksesan dan prestasi yang baik. Kelak mereka dapat membangun bangsa Indonesia lebih maju dan bermartabat.

Tiba saatnya saya harus kembali ke Indonesia. Purna sudah safari dakwah Ramadan saya kali ini. Sama halnya saat Ramadan pergi ada dua perasaan yang paradoks menyesaki dada saya. Kebahagiaan menyambut janji kemenangan Allah dan nafas baru optimisme dengan bulan Syawal. Tapi keajaiban dan kebaikan bulan Ramadan berlalu dengan sangat cepat sebelum saya bisa maksimalkan dan optimalkan kesempatan mahal tersebut.

Kali ini dua hal tersebut kembali menyusup ke relung hati saya. Bahagia, karena ini adalah akhir dari perpisahan saya dengan keluarga saya selama sebulan lebih. Saya memvisualisasikan pertemuan yang sangat dinanti-nantikan dengan istri dan anak-anak saya. Karunia istimewa Allah yang lain kepada saya di dunia ini. Di saat yang sama saya harus meninggalkan sejuta kenangan dan harapan. Kesan dan rasa yang tak terekspresikan secara verbal mengenai banyak hal di Bulan Ramadan kali ini. Berlin dengan julukan metropolitan Eropanya, menantang siapa saja untuk mempertahankan prinsip atau larut dengan arus budaya kota besar. Kegigihan masyarakat muslim di sana menjadikan ada sisi sejuk lain di kota Berlin. Di puncak summer yang sangat identik dengan baju minim serba terbuka, masih cukup mudah menemukan para muslimah yang konsiten menutup auratnya. Sejuk berbalut ketakwaan dan ketaatan pada Rabbnya. Kaum muslimin secara umum berjibaku dengan durasi yang lama berpuasa. Disaat-saat rekan kerja atau masyarakat terheran-heran, mengapa perlu menahan lapar dan dahaga sepanjang itu? Andai mereka mengetahui hakikat perintah langit ini. Andai mereka menyelami kenikmatan yang Allah janjikan ini. Andai mereka merasakan nikmatnya nafas-nafas harapan yang Allah berikan kepada kita, dengan persaudaraan. Dengan kebersamaan. Tantangan-tantangan menjadi sangat ringan. Secara umum, mencari makanan halal di Berlin tidaklah sesulit di kota-kota lainnya di Eropa. Karena lebih dari 30% penduduk Berlin adalah umat Islam dari berbagai lapisan masyarakat dan warga negara. Dan yang lebih menarik, makanan di Berlin jauh lebih murah di banding tempat-tempat lainnya. Apalagi untuk ukuran kota metropolitan di Eropa.

Ada banyak kenangan di sana. Menenggelamkan kerinduan pada keluarga dengan berbagai aktivitas dan diselingi berwisata di tempat-tempat bersejarah dan pemandangan alam yang indah. Menjadikan saya banyak bersyukur atas karunia Allah yang selalu melebihi ekspektasi saya. Selalu tak sanggup saya perkirakan. Selalu melebihi dari kemampuan saya menghitungnya. Bahkan melebihi dari apa yang saya pinta setiap harinya.

Doa saya terselip setiap saat semoga matahari yang ditunggu-tunggu setiap musim dingin menjadi biasa di musim panas. Kini matahari itu telah terang benderang hadir di tengah-tengah Eropa. Umat Islam kian berperan dan bisa menunjukkan prestasinya, semoga Allah meninggikan kalimat-Nya di mana saja. Semoga Allah lanjutkan nafas kemenangan ini dengan makin mudahnya umat Islam melaksanakan ajaran agamanya. Di tengah-tengah keterbatasan dan kekurangannya.

Secara khusus saya berterima kasih kepada Pengurus Masjid al-Falah, IWKZ e.V, Lembaga Kemanusiaan Nasional PKPU, Bapak Duta Besar di Berlin & segenap staf KBRI Berlin, Pengajian al-Hisab dan al-Hikmah, Para pemuda and pemuda al-Falah, Forum Pengajian Muslimah al-Falah. Segenap masyarakat Indonesia di Berlin. Juga kepada nama-nama yang tak bisa saya sebut satu persatu, karena terlalu banyaknya. Atas semuanya. Dari sejak penerimaan dan antuasiasnya selama mengikuti kegiatan Ramadan 1435 H di Berlin. Semoga membuahkan spirit dan motivasi positif untuk berkembang lebih baik. Mohon maaf atas segala khilaf, salah dan keterbatasan saya.

 

Amsterdam, 06.08.2014

Saiful Bahri

(memanfaatkan waktu transit di Schipol Airport, Amsterdam)

???????????????????????????????

 

???????????????????????????????

 

BILA DIA YANG KITA CINTAI

Sebuah Bingkisan Ramadan

 Dr. Saiful Bahri, M. A.

Kira-kira apa perasaan Anda, ketika diberitahu bahwa Anda akan kedatangan tamu yang akan menginap di rumah Anda, untuk beberapa saat? Senang ataukah sebaliknya, merasa terganggu atau biasa-biasa saja.

Jawabannya tergantung, siapa tamunya. Jika tamunya biasa-biasa saja, barangkali kita juga akan biasa-biasa saja. –Padahal kita diperintahkan untuk memuliakan tamu– Tapi coba bayangkan. Jika yang akan mendatangi kita adalah orang-orang yang kita cintai dan kita hormati, misal bapak dan ibu, mertua, guru atau temen dekat kita atau orang yang pernah berjasa dalam hidup kita.

Sudah barang tentu kita akan dengan senang hati menyambutnya. Tak perlu ditanya akan berapa lama mereka di rumah kita. Kita pun akan segera menyiapkan sebuah kamar terbagus untuk mereka. Merapikan dan menghiasnya. Kemudian menyediakan jamuan istimewa untuk mereka. Siap memenuhi segala kebutuhan mereka, siap mengantar mereka kemana pun mereka hendak pergi. Dan bila saat-saat perpisahan itu datang, duh rasanya hati ini khawatir apakah service kita mengecewakan tamu tercinta kita. Dan, …

Demikian halnya, kita saat ini. Ketika kita sedang berada di gerbang seribu bulan. Bulan yang dimuliakan Allah. Bulan yang ibadah wajibnya dilipatkan Allah hingga 70 kali lipat dan ibadah sunnahnya disamakan dengan ibadah wajib di bulan lain. Bulan penuh berkah, rahmat dan pengampunan serta pembebasan dari nafsu dan belenggu syeitan. Bulan yang didalamnya terdapat sebuah malam yang nilainya lebih baik dari seribu bulan.

Bulan Suci Ramadhan segera mendatangi kita.

Pertanyaannya sederhana saja: Apakah kita gembira, bahagia dan senang dengan kedatangan bulan ini?

Apakah pertanyaan di atas bukan bid’ah yang diada-adakan. Apakah ada hubungannya kecintaan dan kebahagiaan kita menyambut Ramadhan dengan amalan kita di dalamnya. Kita tak hendak mendiskusikan ini. Karena ada nilai dan pesan normatif yang lebih penting dari itu.

Bila kita menjawabnya:Ya, seneng dan gembira. Maka ilustrasi di atas akan membuka cakrawala bagaimana kita menyambut tamu yang kita hormati sekaligus kita cintai.

Pertanyaan berikutnya: Apa yang telah kita siapkan untuk menyambutnya. Apa yang kita punyai untuk menyambutnya. Seberapa jauh kita siap dan mempersiapkan keluarga kita untuk menyambutnya?

Pertanyaan berikutnya: Salah satu tujuan puasa Ramadhan adalah tercapainya ketakwaaan. Kira-kira kita yang sudah berpuasa selama 10-20 tahunan atau lebih kurang… sejak kapan kita merasa telah mencapai target taqwa tersebut.

Barangkali kita kesulitan untuk merasa, kapan kita mencapai target taqwa. Pertanyaan sederhana berikutnya: Bagaimana dengan Ramadhan tahun kemarin? Bila jawabannya ternyata belum juga, maka kita punya kesempatan untuk merealisasikannya tahun ini. Insya Allah kita mampu, asal ada kekuatan azam dan niat yang kuat. Kesempatan untuk mengukir prestasi.

Dan bila jawabannya sudah. Maka alangkah sedihnya jika pada tahun ini prestasi kita menurun. Sungguh merugi. Sangat merugi.

Ada empat golongan dan tipe manusia serta sikap mereka dalam menyambut Bulan Ramadhan:

  1. Mukmin yang sungguh-sungguh. Mereka adalah orang-orang yang menganggap bulan ini adalah peluang untuk melejitkan prestasi di hadapan Allah. Maka kita selalu menjumpai orang seperti ini senantiasa merasakan detik-detik Ramadhan sangat berharga. Mereka selalu berada dalam ketaatan. Kalau tidak sedang shalat, baca Al-Qur’an, dzikir, saling menolong dan menasehati, memenuhi kebutuhan saudaranya dsb. Tak ada waktu terlewat kecuali untuk sesuatu yang baik dan bermanfaat.
  2. Segolongan orang yang niatnya baik, tapi himmah dan azamnya lemah. Orang ini berniat menargetkan berbuat sesuatu di bulan Ramadhan. Mereka punya tekad berbuat baik. Tapi karena azamnya lemah, maka hanya bertahan pada awal-awal bulan saja. Kemudian mereka tidak merasakan kehadiran tamu ini. Baik hanya di awalnya saja setelah itu ketahuan aslinya.
  3. Orang yang biasa-biasa saja. Artinya kedatangan Ramadhan tidak memberi bekas sama sekali. Kalau ibarat tamu, ia dicuekin. Sedih!
  4. Orang-orang yang tidak menyukai kedatangan Ramadhan. Karena mereka menganggap Ramadhan sebagai penghalang bagi mereka untuk memuaskan nafsu dan segala keinginan. Mereka dengan terpaksa menerima kedatangan tamu ini tapi sesungguhnya mereka membencinya. Lebih parah dari pada ini. Orang yang tidak menghormati sama sekali adanya bulan Ramadhan. Dengan sangat ringan menginjak-injak kesucian dan kehormatannya.

Kembali kita tanya diri kita sendiri. Kita berada di bagian mana dari ke empat tipe di atas. Jangan sampai kita berada dalam suatu keadaan sebagaimana yang disabdakan Rasulullah saw. “Rugi dan merana lah orang yang menjumpai Ramadhan sedang dosanya belum diampuni”. Na’udzu billah.

 Cairo, Mengenang Ramadhan 1426 – 2005