Kemenangan Cinta

KEMENANGAN CINTA

Saiful Bahri

Jiwa-jiwa orang-orang yang beriman telah bertemu terlebih dahulu sebelum mereka bertemu. Maka ketika terjadi pertemuan jasad, pertemuan itu akan lebih terasa bermakna. Dan pertemuan kaum mukminin ini merupakan nikmat Allah yang sangat patut untuk kita syukuri. Karena jiwa mereka menyatu dalam iman. Jika terjadi sebaliknya maka kualitas iman yang tertanam di hati masih perlu ditingkatkan lagi.

Hati merupakan tempat bersemayamnya cinta, disamping tempat berkembangnya iman ataupun berpotensi untuk mengingkarinya ketika ia tertutup oleh hawa nafsu. Dan cinta juga merupakan karunia Allah yang mulia. Karunia Allah ini kadang disalahgunakan oleh sebagian kita untuk memperturutkan hawa nafsu. Nafsu inilah yang menjadi penghalang berkembangnya kreasi. Cinta merupakan stimulan kreasi dan berbagai karya besar. Terutama jika cinta kepada Allah memiliki muatan yang sangat kuat, terbina dalam manhaj Rasulullah saw. Dan karena Allah saja lah yang mampu membolak-balikkan hati seorang manusia.

Kisah bayi kecil Musa as merupakan sampel realita quwwatul mahabbah (kekuatan sebuah cinta). Allah menyelamatkan Musa as melalui cinta yang Allah turunkan di hati Fir`aun, musuh Allah dan juga kelak musuh Musa as. “…Dan Aku telah melimpahkan kepadamu kasih sayang yang datang dari-Ku…”(QS.Thaha: 39)

Sampaipun Fir`aun melihatnya ia mencintai Musa kecil. Dan setiap orang yang melihatnya akan merasa kasih sayang kepadanya. Musa kecil diselamatkan Allah dengan kekuatan cinta. Musa kecil diasuh dan tumbuh dalam lingkungan musuh Allah dan musuhnya. “…supaya diambil oleh (Fir`aun) musuh-Ku dan musuhnya…

Kisah di atas mengindikasikan kekuatan dan kekuasaan Allah yang tak terbatas. Allah sanggup menyelamatkan hamba-Nya melalui apapun bahkan tanpa apapun dan dengan cara yang bahkan tidak terduga dan tak terbayang sedikitpun oleh hamba-Nya. Justru Allah menyelamatkan seorang hamba-Nya melalui musuh-Nya. Maka tak ada alasan bagi seorang yang beriman kepada Allah untuk takut menghadapi resiko perjuangan dakwah.

Ibunda Nabi Musa as, dengan ilham dari Allah begitu berani dan percaya menghanyutkan anak lelakinya ke sungai Nil, lenyap di bawa arus menuju istana musuh Allah dan musuhnya. Seorang ibu yang memiliki keyakinan yang kuat akan kemenangan cinta yang suci. Ia sangat memasrahkan proses kemenangan itu ke `tangan` Dzat yang menganugerahkan sebuah kemenangan. Dan Allah-lah yang sesungguhnya mengasuh calon penghancur kezhaliman ini. “…dan supaya kamu diasuh di bawah pengawasan-Ku…”(QS.Thaha:39). Sang ibu begitu yakin akan janji Tuhannya. Dan karena air sungai yang mengalir juga atas titah Allah karena ia merupakan salah satu pasukan Allah di bumi ini.

….. Selengkapnya di Buku Kemenangan Cinta (Solo: Era Intermedia, 2005)

Syeikh Mujahid

Buku Laskar Syuhada

Buku Laskar Syuhada

SYEIKH AHMAD YASIN

Lumpuh Namun Kukuh, Ringkih Tapi Gigih

Saiful Bahri

Jika saya dibebaskan dengan syarat saya harus makan sepotong semangka,

pasti saya tidak mau menerimanya

Prolog: Bukan Sebuah Canda

Kata-kata di atas bukan gurauan. Ini sebuah kesungguhan dari seorang lelaki renta yang tak bisa menggerakkan badan kecuali hanya kepalanya saja.

Buah semangka adalah salah satu buah favorit Syeikh Mujahid sejak kecil. Meski demikian jika beliau tahu bahwa pembebasannya tersebut bersyarat -apapun namanya- tentu beliau menolaknya. Meski syarat itu beliau sukai sekali pun. Demikian sebagaimana tutur Maryam Ummu Hammam salah satu putri asy-syahid. Beliau sebelumnya tidak tahu-menahu soal pembebasannya pada awal Oktober 1997.

Pagi itu -seperti biasa- sumpah serapah menjadi sarapan rutin di antara jeruji-jeruji kezhaliman. Tidaklah Syeikh mendengar apa yang sedang ramai dibicarakan pers di luar tentang detik-detik pembebebasannya. Setelah diminta berkemas, seperti biasa dibantu oleh orang lain karena kondisi fisik beliau yang tak memungkinkan, kemudian beliau diminta keluar. Barangkali di benaknya terbayang akan dipindah sel atau ke penjara lain. Setiba di luar beliau sangat terkejut, menjumpai banyak tokoh di sana. Raja Husein, pemimpin Yordania menyebelahi beliau dan menyalami sambil mengucapkan selamat. Syeikh kembali menghirup udara kebebasan meski tanah airnya belum meraihnya sedikit pun.

Jika beliau tahu bahwa pembebasan ini ditukar dengan dua orang mata-mata Israel yang ditangkap HAMAS sejak 1992 tentulah beliau menolaknya. Namun, ini sebuah siasat dan kebijakan. Beliau pun tak sanggup menolaknya.

….. selengkapnya baca di Laskar Syuhada (Lingkar Pena Publishing House: 2008), juga kisah-kisah para pahlawan dan mujahid Islam.

JEMBATAN DUA CINTA

JEMBATAN DUA CINTA

Ponsel Ummi berdering beberapa kali. Setiap diangkat dan ditanya tak ada jawaban dari seberang. Hanya diam membisu.

Hingga dering yang keempat.

“Efendim… Kim?”

Suara Ummi mengulang kalimat sebelumnya.

“Aku ingin bicara dengan Mahmud!”

Pemilik nomor yang menghubungi Ummi dari tadi, akhirnya bersuara.

“Mu..Murat?”

Suara Ummi bergumam pelan. Tapi aku cukup jelas mendengarnya. Abi? Ada apa dia menghubungi Ummi. Dari mana ia tahu nomor telpon Ummi?

Ummi

terlihat seperti ketakutan. Dan ia menyerahkan ponselnya kepadaku.

“Ya Alo!”

“Mahmud?”

“Kau masih percaya Abi?”

“Kau tak berhak menanyaiku seperti itu!”

Aku geram. Kukeraskan suaraku. Namun, aku mencoba menahan gejolak emosiku.

“Engkau berhak menilaiku sesukamu, anakku. Tapi memang benar, aku telah menyakiti kalian.”

Abi, katakan saja apa maksud Abi menelpon Ummi?”

“Baiklah. Aku hanya ingin berbicara padamu.”

“Maksud Abi?”

“Jika engkau masih mempercayaiku. Temui aku malam ini, di Galata Lokanta. Jam 7 tepat. Tapi aku ingin berbicara padamu seorang.”

Abi.. ee Mahmud…”

Nut. Nut. Nut

Sudah tak terdengar lagi suara dari sana. Aku menoleh ke arah Ummi.

“Dia ingin menemuimu?”

Suara Ummi memecah kudengar masih cemas. Aku mengangguk pelan.

“Dia ingin menemuiku dan berbicara padaku, malam ini. Tapi mengapa hanya aku?”

Aku pandangi mata Ummi dalam-dalam kemudian aku meyakinkannya, “Bagaimana menurut Ummi?”

“Berangkatlah, anakku. Temui Abimu. Mungkin dia hanya mempercayaimu.”

Suara Ummi seperti menggantung. Aku menengok jam. Saat kaç? ditanganku menunjukkan pukul 4 sore. Berarti 3 jam lagi aku akan menemui laki-laki itu. Aku tak tahu, kali ini aku harus mempercayainya atau tidak. Ummi memberikan izinnya.

… selengkapnya di Novel Saiful Bahri, JEMBATAN DUA CINTA (Depok, Lingkar Pena Publishing House, 2004)

KETIKA GUNUNG ES MENCAIR

“Rasa-rasanya aku baru nemuin cowok cool banget seperti ini!” Sani menghempaskan tubuhnya di atas tempat tidurnya, sambil melemparkan tas kecilnya disamping. Kelakuan anehnya, kontan mengundang keheranan Nina, teman sekamarnya.

“Ada apa sih, Non. Pulang dari kampus kok malah uring-uringan. Diganggu lagi ama si Joe,” Nina tambah memberondong, sambil membuka kulkas kecil. Tak lama kemudian ia menyodorkan segelas minuman.

Tak ayal akhirnya Sani terpaksa bangkit. Tergoda juga dengan segelas jus jeruk dingin itu.

“Kamu kenapa, San?” Nina kali ini duduk menyebelahinya.

“Si Arya. Sombong banget. Norak, pokoknya norak!” Sani masih emosi.

“Idih. Lagian, siapa yang suruh naksir cowok cool itu. Semua juga tahu Nona cantik!”

Arya, cowok cool yang barusan dibicarakan Sani dan Nina adalah tipikal cowok ideal di mata seorang cewek. Ganteng, berkulit bersih, tambah manis dengan kacamata minusnya. Seorang aktivis kampus yang super sibuk tapi tetap saja mampu meraih prestasi akademis yang mencengangkan. Banyak fansnya. Kekurangannya hanya satu, beku. Sedingin es. Sudah beberapa kali mahasiswi di kampusnya mendekatinya. Tapi, pelan namun pasti mereka mundur teratur karena batu es itu sangat sulit dicairkan. Tidak juga oleh Sani. Si Bunga jurusan akuntansi yang sangat mengaguminya. Salah satu peserta ekstrakulikurer kaligrafi di kelas putri. Cowok cool tersebut, salah satu pembimbing dan tutor utamanya. Sebenarnya Sani tak sungguh mempunyai hobbi dengan kaligrafi. Tulisan arabnya bahkan sangat kriting. Tapi sarana paling rasional untuk sering berinteraksi dengan Arya, pujaannya, hanya bisa melalui kegiatan ekstra itu. So… Sani mesti berjuang mati-matian untuk suka kaligrafi.

Namun, benarkah cowok cool tersebut betul-betul menutup diri dari menaksir lawan jenisnya?

Sore itu, seperti biasanya kelas kaligrafi putri sangat padat. Baik oleh peserta lama, maupun para peminat baru. Lebih tepatnya fans-fans si cowok cool. Namun, ada kejanggalan kecil yang mungkin kurang diperhatikan orang banyak. Sejak kapan cowok itu grogi. Apalagi jika Anti bertanya atau ketika matanya secara tak sengaja beradu pandang dengan gadis itu.

Peserta baru itu sangat berbakat. Aku melihat potensi yang OK pada gadis itu

. Arya berdialog dengan dirinya. Salahnya, ia berdialog di depan para peserta ekstra kaligrafi tersebut. Sehingga lama-kelamaan sikap anehnya terbaca.

“Maaf, Kak!Bisa ngoreksi sebentar tulisan lafdzul jalalah bikinan Sani.”

Seperti biasa Sani mencoba mencari perhatiannya. Apalagi ia merasa tersaingi oleh kehadiran Anti. Dan tulisannya sangat jauh kualitasnya. Tulisan Anti sangat bagus. Ia lebih berbakat dari Sani.

…. Selengkapnya ada dalam Kumpulan Cerpen Saiful Bahri,  BULAN, MATAHARI DAN SEBELAS BINTANG (Jakarta: Cakrawala, 2004)