Siapa Perempuan

SIAPA PEREMPUAN

Adapun laki-laki, apa yang ia ketahui tentang makhluk bernama perempuan?

Apakah ia adalah setan yang selalu menggodanya.

Ataukah ia adalah berhala yang selalu dipuja-puja.

Ataukah ia kelemahan yang harus dilindungi.

Ataukah ia kesempurnaan yang harus dibela dan ditinggikan.

Ataukah ia kemuliaan yang harus diraih dengan kemuliaan.

Ataukah ia bidadari yang hanya bisa diangankan.

Ataukah ia pembawa sial yang harus dijauhi dan dibuang.

Ataukah ia adalah musuh baginya yang harus diperangi

Ataukah ia selalu menjijikkan dan harus diterlantarkan.

Ataukah ia manusia seperti dirinya yang memiliki kekurangan sebagaimana kelebihan yang ada padanya.

Ataukah bahkan ia tak mengenalnya sehingga tak perlu menghadirkan dalam hidupnya.

Ataukah ia adalah kerusakan yang sedang mencari kerusakan.

Ataukah ia adalah kebaikan yang sedang menunggu kebaikan.

Ataukah ia kelembutan dan ketentraman yang diperlukan dalam hidupnya.

Ataukah ia yang membuatnya selalu mengangankan masa depan.

Ataukah ia yang sanggup membuatnya berani dan menjadi kuat.

Atau bahkan ia tak bisa mengatakan: siapa perempuan baginya?

Apapun jawabannya, laki-laki takkan bisa tidak menemukan perempuan dalam hidupnya. Ia bisa saja menulikan telinga atau membutakan mata, namun tidak dengan hati.

Seorang laki-laki tak bisa dilepaskan dari perempuan. Ibu yang mengandung dan melahirkannya adalah seorang perempuan. Dari sinilah ia mulai mengenal dan memahami perempuan. Ia mendapatkan ketentraman dan cinta serta kasih sayang untuk pertama kalinya adalah dari ibunya. Tentunya, semua karunia cinta ini tak lepas dari tanda kekuasaan-Nya.

Ia juga mengenal perempuan dari saudara kandungnya, adik atau kakaknya. Kemudian ia akan menemukan perempuan yang lain dengan berbagai watak di lingkungan sekitarnya. Bisa sebagai orang lain yang berjasa selain ibunya, sebagai guru atau teman bermainnya. Namun ia juga akan menemukan perempuan lain yang tak disukainya, entah sebagai kejelekan yang sama sekali jauh dari fitrah perempuan atau sebagai kejahatan yang diketahuinya.

Kelak ia pun kan dengan sendiri memahami dan mencari tahu siapa sebenarnya perempuan. Dan apa pengaruhnya dalam hidup seorang laki-laki.

Bila ia hendak mengasari perempuan sepatutnya ia mengenang ibunya. Sanggupkah ia mengasarinya sebagai balasan kasih sayang dan kelembutan yang dengan ikhlas diberikan. Kasih sayang yang tumbuh bersama kesusahan diatas kesusahan. Dari sejak mengandung sembilan bulan sampai perjuangan hidup mati ketika melahirkannya. Kemudian menyusui dan membelainya dengan sepenuh cinta.

Suatu saat seorang laki-laki mendatangi Rasulullah saw. Ia meminta izin untuk berzina. Seketika para sahabat yang berada disekeliling Rasul pun marah dan geram. Hendak menghardik dan mengusirnya. Namun, dengan tenang Rasulullah menyambanginya dan mengajaknya berdialog. Tidak dengan hujatan atau dengan ancaman atau dengan mengeluarkan dalil larangan berzina.

Beliau mendekati laki-laki itu, kemudian bertanya dengan halus, “Apakah Engkau rela jika hal itu terjadi pada ibumu?”

Lelaki itu menjawab, ”Tidak, wahai Rasulullah!”

Kemudian beliau bertanya lagi, “Apakah engkau rela jika hal itu juga terjadi pada saudara perempuanmu

Lelaki itu menjawabnya, “Tidak, wahai Rasulullah!”

Beliau bertanya lagi, “Apakah engkau rela jika hal demikian juga terjadi pada saudara perempuan ayahmu

Laki-laki itu pun dengan tegas mengatakan, “Tidak wahai Rasulullah!”

Kemudian Rasul pun tersenyum dan menutup pertanyaannya, “Masihkah engkau berhasrat untuk berzina?

Laki-laki itu menggeleng sambil mengatakan, “Tidak. Sekali-kali tidak wahai Rasulullah!”

Gambaran di atas menunjukkan bahwa laki-laki sangat dekat dengan perempuan. Ia sangat mengenal perempuan, entah itu ibunya, saudara kandungnya atau bibinya.

Dengan membawa set ulang pengenalan awal tentang perempuan, seorang laki-laki akan mampu menghormati perempuan. Menghormati, bukan memuja. Mencintai, bukan menjadikannya berhala yang disembah. Membutuhkan dan memerlukan, namun tidak dengan mengemis atau merendahkan diri. Ia menyadari bahwa dirinya dan perempuan adalah sesama makhluk dan manusia yang sejajar. Perbedaannya adalah ia laki-laki dan perempuan adalah perempuan. Beda tabiat dan struktur fisiknya. Juga fitrah dan tugasnya. Namun, semua saling memerlukan. Semua bisa bekerja sama. Kualitas dan posisi masing-masing disisi Allah dan juga manusia ditentukan dengan kualitas takwa. Takwa yang berdimensi vertikal dengan sepenuh ketundukan. Dan takwa yang berdimensi horizontal dengan kebaikan sosial.

Pada usia tertentu dalam hidupnya ia merasakan suatu perasaan yang belum pernah dirasakan dalam hidupnya. Ia menjadi mengangankan seorang perempuan. Ia merasa ingin selalu dekat dengannya. Ia ingin mendapatkan kelembutan dan ketentraman sebagaimana yang ia peroleh dari ibunya. Ia mengharap ada tempat melabuhkan kegundahan dan kegelisahannya. Ia hendak menceritakan seluruh pengalaman dan kejadian serta ingin mendapat respon yang hangat. Dan ia merasa perlu untuk melindungi seseorang. Ia ingin menjadi pahlawan bagi kelembutan.

Perasaan ini semakin bersemi bersama usia. Namun, dimensi persemian ini berkembang sesuai dengan pemahaman dan kedewasaan bersikap. Tidak lantas hanya dengan romantisme psikis yang ingin didapatkannya. Sebagai laki-laki yang paham, ia akan berusaha membina dirinya. Karena ia sedang mencari kebaikan. Bukan selalu mencari yang terbaik. Yang pertama akan membuatnya tenang. Yang kedua akan membuatnya semakin gelisah. Karena ia akan terus membandingkan dan terus mencari dengan selektifitas yang tinggi. Ia menjadi sangat ketakutan. Padahal tak ada yang perlu ditakuti atau ditakutkan dari seorang perempuan bagi laki-laki. Kecuali untuk merasa cemas akan muslihat perempuan yang akan menggelincirkan dari cinta Allah menjuju kemurkaan-Nya.

Lalu, kebaikan akan mencari kebaikan. Karena kebaikan juga sedang menunggu kebaikan.

Jangan pernah mencari ketenangan setenang Khadijah, karena Anda bukan Muhammad.

Jangan pernah mencari kecerdasan secerdas Aisyah, karena Anda bukan Muhammad.

Carilah kebaikan sebagaimana kita memahami kebaikan yang ada dalam diri kita. Kebaikan yang telah kita usahakan bersemi dan berkembang dalam diri kita. Kebaikan yang kita yakini akan cocok dengan kebaikan yang sedang kita cari. Kebaikan yang akan memberi ketentraman dan kedamaian serta menyuburkan cinta dan kasih sayang.

Bukankah keteduhan akan memerlukan payung untuk berteduh?

Saiful Bahri

Cairo, Medio April 2004

Bagian Kedua

Iklan

Siapa Laki-Laki

SIAPA LAKI-LAKI

Sebenarnya apa yang dibayangkan perempuan ketika ia berhadapan dengan makhluk yang bernama laki-laki. Menjumpainya di jalan, di tempat-tempat umum, dalam media cetak atau audio visual. Atau hanya mendengarnya saja. Ketika laki-laki disebut atau yang berkaitan dengan laki-laki tiba-tiba ia mendengar atau mengetahuinya.

Bagaimana perempuan mempersepsikan laki-laki.

Hal ini tak bisa dijauhkan dari latar belakang seorang perempuan. Ia mengenal laki-laki dan dunianya melalui keluarganya atau lingkungan tempat ia berada sejak kecil.

Dalam keluarga ia menemukan ayahnya juga saudara-saudaranya atau hanya mendengarnya dari kisah dan cerita ibunya. Lingkungan sekitarnya secara tak langsung membangun set psikis tertentu tentang laki-laki.

Hal-hal ini terus berkembang sampai ia menjadi dewasa dan bisa mencari tahu dengan sendiri siapa laki-laki. Sebelum akhirnya ia bisa jujur dengan dirinya, apa yang dirasakan ketika ia berhadapan dengan laki-laki? Apa yang ia harapkan dari makhluk yang bernama laki-laki?

Kita sering membicarakan bagaimana buruknya lingkungan jahiliyah yang memenjarakan dan menghinakan perempuan. Tapi, dalam waktu yang sama kita lupa mengoreksi; sudahkah kita memuliakan perempuan dan memenuhi hak-hak didiknya. Kita, sebagai laki-laki. Sebagai ayah bagi anak perempuannya. Sebagai suami bagi istrinya. Dan sebagai saudaranya. Setidaknya sebagai mitra dan penolong. “Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebagian mereka (adalah) menjadi penolong sebagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka ta’at kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”(QS. At-Taubah:71).

Kita lupa bahwa pola hidup modern sering kelewat memuja perempuan. Eksploitasi hedonisme malah cenderung dijadikan barometer modernitas. Moral tak lagi suatu hal yang dianggap penting dalam dinamika berinteraksi. Sebagian perempuan menikmati eksploitasi ini sebagai hobi, profesi yang ditekuni dan disukai. Sebagian lain mengumbar sisi-sisi fisik yang sama sekali menafikan keberadaan spiritual seorang perempuan.

Sebagian laki-laki memanfaatkan ini sebagai pendulang nafsu dan pemuas hawa. Dan sebagian perempuan tak merasa bahwa ia diperdaya. Sebagian laki-laki seolah memujanya sedang ia tak sadar bahwa sesungguhnya mereka menertawakan kebodohan perempuan. Sebagian laki-laki melakukan yang demikian dengan mengatasnamakan kebebasan, seni dan sastra. Namun, mereka, para perempuan itu tak menyadarinya bahwa mereka dibohongi belaka. Itu adalah bahasa nafsu dan hawa.

Sebagian perempuan menyadari bahwa mereka ditipu oleh laki-laki. Kemudian menjadikan hidupnya adalah permusuhan terhadap laki-laki. Makhluk bernama laki-laki sungguh tak laik untuk hidup berdampingan. Mereka, laki-laki harus dimusnahkan. Perempuan ini hendak membalas kecongkakan laki-laki. Mereka harus direndahkan.

Namun, tak semua perempuan seperti itu.

Sebagian perempuan yang lain dengan jujur mengatakan bahwa mereka memerlukan laki-laki. Karena mereka juga berpendapat bahwa laki-laki bisa bersikap jujur. Laki-laki juga membutuhkan kehadiran perempuan di sisinya. Laki-laki perlu ketenangan dan ketentraman berada disisi perempuan. Perempuan perlu perlindungan dan perhatian dari laki-laki.

Saat demikian, perempuan yang cerdas berpendapat bahwa laki-laki tak selaiknya dimusuhi. Bahwa laki-laki tak selaiknya direndahkan. Sebagaimana laki-laki juga tak selaiknya dipuja berlebihan dengan histeris. Seperti halnya ketika seorang bintang sedang live show di depan para penggemarnya yang juga para perempuan.

Dari mana para perempuan mendapatkan pemahaman tentang laki-laki secara utuh? Dari lingkungan keluarga dan sekelilingnya.

Siapa laki-laki yang paling berpengaruh dalam hidupnya? Ayahnya.

Maka menjadi kewajiban ayahnya untuk mendidik dengan kesempurnaan pendidikan yang laik untuknya. Salah mendidiknya akan berakibat fatal. Tak heran bila sang ayah berkaitan erat denan perwalian seorang perempuan ketika ia menikah dengan seorang laki-laki. Dan saat itu kewajibannya berpindah ke pundak suaminya. Saat itu perempuan akan mengenal laki-laki dalam bentuk suami. Yang bukan ayahnya juga bukan saudaranya. Kelak ia akan mengenal laki-laki sebagai anaknya yang bukan suami atau ayahnya.

Kesalehan individu seorang perempuan yang terbina sejak kecil ditumbuhkan oleh lingkungan keluarga yang harmonis dan dekat dengan nuansa ketuhanan. Kental dengan warna normatif dan kesopanan. Ramai dengan dinamika pergaulan yang cair. Tidak beku karena kedua orang tuanya mengajarkan cinta. Mengajarkan bahwa antara laki-laki dan perempuan saling memerlukan sebagaimana ayah dan ibunya saling memerlukan dan saling bekerja sama dalam membina keluarga.

Fondasi awal inilah yang kelak akan mengembangkan wawasan berpikirnya menjadi cerdas juga sangat proporsional dalam memandang laki-laki.

Saat ia mulai memahami laki-laki lewat sekolah dan pendidikan di luar keluarganya. Menjumpainya di jalan atau di lingkungan luar rumahnya. Saat ia mengenal teman-temannya. Bahkan sampai ia sendiri yang mengkajinya. Hingga dalam benaknya telah ada bayangan dan obsesi tentang laki-laki tertentu dalam hidupnya. Ia yakin suatu saat akan menemukannya.

Saat itulah ia mulai membina diri dan terus memperbaiki dengan menghiasi diri dengan sesuatu yang berharga baginya dan bagi laki-laki yang mencarinya. Ketakwaan. Kebaikan. Dengan berbagai dimensinya.

… dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula)”(QS. An-Nur: 26).

Setelah itu tak ada yang salah dengan laki-laki kecuali mereka sebagai manusia yang bisa saja sewaktu-waktu melakukan kesalahan. Namun, kesalahan itu bukan berarti tidak termaafkan, bukan? Dan justru laki-laki yang manusia itulah yang ia perlukan sebagai pelindungnya. Bagaimana pun kondisinya. Jika ia seorang laki-laki bertakwa maka ia akan aman disisinya. Bila laki-laki itu mencintainya, ia akan dimuliakan. Bila laki-laki itu belum mencintainya, ia akan berusaha dicintainya. Bila laki-laki itu tak mencintainya, ia takkan teraniaya. Dan yang baik akan menemukan kebaikan dalam yang baik. Kebaikan yang akan bertemu bila masing-masing merasa ia telah membina kebaikan dalam dirinya. Masih ada keraguan? Masih adakah permusuhan setelah ini?

Saiful Bahri

Cairo, Medio April 2004

Bagian Pertama

Ketegaran Seorang Ibu

KETEGARAN SEORANG IBU

Ketika istana Fir`aun digemparkan oleh sebuah mimpi aneh, bahwa kebesarannya akan dihancurkan seorang laki-laki dari Bani Israil. Kondisi bani israil tambah tertindas. Kebencian Fir`aun terhadap mereka semakin memuncak. Dipanggilnya para pakar tenung dan sihir untuk mentakwil mimpinya. Mereka mengatakan,”Akan lahirseorang bayi laki-laki dari Bani Israil yang akan merampas kerajaan Baginda, mengalahkan Baginda dan mengusir Baginda serta para pengikut Baginda dari bumi ini. Mengganti agama leluhur kita…”.

Mimpi tersebut bukan sekedar bunga tidur. Tak ada keinsafan bahwa ini adalah sebuah peringatan. Yang ada adalah keangkuhan yang ditunggangi hawa nafsu. Ubun-ubun Fir`aun telah panas oleh emosinya yang meledak-ledak. Diturunkanlah sebuah instruksi untuk menyembelih semua bayi laki-laki yang lahir.

Naluri kemanusiaan seorang  ibu mengkhawatirkan keselamatan bayi lelakinya. Karenanya, kelahiran Musa kecil pun dirahasiakannya. Kecemasannya kian memuncak ketika mendengar para algojo tersebut telah sampai di daerahnya. Turunlah ilham dari Allah. “Dan Kami ilhamkan kepada ibu Musa; “Susuilah dia, dan apabila kamu khawatir terhadapnya, maka jatuhkanlah dia ke sungai (Nil). Dan janganlah kamu khawatir dan janganlah (pula) bersedih hati, karena sesungguhnya Kami akan mengembalikannya kepadamu, dan menjadikannya (salah seorang) dari para rasul”.(QS Al Qashash: 7)

Keraguan seorang ibu adalah sangat wajar. Terlebih bila buah hatinya berada dalam bahaya. Akankah ia menyaksikan dengan mata kepala sendiri, anaknya dieksekusi para algojo kezhaliman itu? Akan disembunyikan di manakah buah hatinya? Tak ada tempat yang aman, karena para algojo tersebut akan memporakporandakan apa yang mereka curigai.

Ia pasrahkan pada Allah. Allah lah yang mengatur segalanya. Musa kecil yang dibalut selimut kecil diletakkan diatas keranjang tertutup dan arus sungai Nil membawanya menghilang dari pandangan ibunya yang mematung dalam kedukaan yang sangat. Sudut-sudut mata yang berair tak hentinya memohon perlindungan Tuhannya atas keselamatan sang anak. Dan para algojo pun tak menemukan apa-apa dalam rumahnya selain sang Ibu dan saudara perempuan Musa, Maryam.

Tak ada yang sanggup membayangkan antara dua pilihan sulit baginya. Ia pun memilih–atas bimbingan Allah-menghanyutkan putranya di atas arus sungai yang kencang. Kedua mata yang telah basah itu terus terpaku pada tabut tempat si kecilnya berada hingga benar-benar telah hilang dari pandangannya.

Sadarkah sang ibu. Buah hatinya selamat dari pedang kezhaliman Fir`aun. Namun dari buaya dan ikan-ikan buas? Hanya Allah yang tahu kesudahannya. “Dan kosonglah hati ibu Musa. Sesungguhnya hampir saja ia menyatakan rahasia tentang Musa, seandainya tidak Kami teguhkan hatinya, supaya ia termasuk orang-orang yang percaya (kepada janji Allah)”.(QS. Al Qashash: 10)

Terdamparlah musa kecil-dibawa `tentara Allah` arus kencang sungai Nil-di taman istana Fir`aun. Para pengawal permaisuri menemukan peti tertutup. Diserahkan kepada Asiyah istri Fir`aun. Begitu terbuka, tersembullah senyum anak kecil dan kedua mata yang indah berbinar memikatnya. Asiyah yang merindukan kehadiran seorang bayi, akhirnya hendak memilikinya dan mengasuhnya.

Melihat Asiyah menggendong bayi laki-laki, para algojo memintanya untuk disembelih. Dengan tegas Asiyah mengatakan,”Serahkan perkara ini padaku, aku akan menghadap Baginda. Jika beliau tertarik terhadap anak ini maka ini keputusannya. Jika beliau memerintahkan kalian untuk menyembelihnya, aku tak akan mencela kalian

Asiyah menghadap Fir`aun,”Ia adalah penyejuk mata hati bagiku dan bagimu. Jangan kau membunuhnya, mudah-mudahan ia bermanfaat kepada kita atau kita ambil dia sebagai anak”.(QS. Al Qashash: 9)

Fir`aun menjawab,”Buah hati bagimu, sedangkan aku tak punya kepentingan apapun padanya

Dan tawar menawar itupun akhirnya berakhir dengan kemenangan Asiyah. Hati Fir`aun yang bengis dikirim oleh Allah sebuah cinta terhadap Musa kecil. Luluhlah ia.

*****

Sementara jauh di sebuah perkampungan terpencil. Kedukaan sang ibu yang kehilangan anaknya hanya dikisahkan kepada kakak perempuan Musa kecil. Sang ibu yang telah berumur ini hanya mampu mengharap. Tentunya keajaiban dari Tuhannya. Dan sang kakak perempuan itu menyusuri bibir sungai tak kenal lelah, ingin menemukan adik lelakinya. Buah hati ibunya yang terkasih.

Sampailah ujung perjalanannya di sebuah taman istana yang megah. Didengarnya sebuah kisah bahwa permaisuri kerajaan mengadopsi seorang anak laki-laki. Tentu saja berita ini semakin membuatnya tertarik mengikutinya. Ia berbicara pada dirinya, semoga bayi itu adalah adiknya. Sehingga datanglah salah seorang dayang Fir`aun mencarikan seseorang yang menyusui anak asuhnya.

Dengan segala keberaniannya gadis kecil ini menghadap–menahan gejolak hatinya-untuk mengetahui keadaan sesungguhnya. Dengan bimbingan Allah ia pun mengatakan, “Maukah kalian aku tunjukkan kepada kalian keluarga yang akan memeliharanya untuk kalian dan mereka dapat berlaku baik kepadanya”.(QS. Al Qashash: 12)

Para dayang tersebut heran dan sempat curiga. “Kami melihat engkau menyembunyikan sesuatu”.

Jawabnya dengan tegas,”Aku hanya menganjurkan yang demikian

Mereka kembali bertanya,”Apa engkau mengetahui keluarganya? Sehingga mereka mengutusmu?

Ia gelengkan kepala, agak kaget mendengarnya,”Aku mengenal seseorang yang mempunyai kasih sayang yang dalam, mau menyusui dan mengasuh bayi sebagai bukti patuh pada rajanya

Dengan sangat antusias mereka memburu,”Di manakah tempatnya?

Tanpa menunggu lebih lama lagi. Ia segera menunjukkan tempat Ibu Musa kecil itu. Dan Asiyah pun mengikutinya menggendong buah hati kesayangannya, yang tak pernah mau menyusu setiap dicarikan perempuan yang menyusuinya.

Terkejutlah sang Ibu melihat dan bertemu kembali dengan putranya. Kalaulah tidak karena berada di depan para pengawal Fir`aun dan istrinya tentulah isaknya akan terdengar sangat jelas. Ia memendamnya dalam dekapan kasih di dadanya, meluapkan kerinduan pada buah hatinya.

Semuanya memandang penuh keheranan. Betapa selama ini sang bayi menolak disusui semua perempuan yang datang melamar menyusui putra asuh Fir`aun. Kini begitu menemukan perempuan setengah baya tersebut langsung lahap menyusu dan tampak begitu dekat.

Dengan aga sedikit cemburu, Asiyah mengatakan,”Jika engkau bersedia datanglah ke istana suamiku dan  menyusui buah hatiku?”

Sang ibu menjawab,”Sungguh jika tak keberatan, biarlah ia bersama kami. Saya tak sanggup meninggalkan anak-anak saya!

Terkejut Asiyah mendegar penuturannya. Ia heran bila perempuan-perempuan berambisi dan berlomba untuk tinggal di istana. Kini didepannya sang perempuan memilih anak dan rumah sederhananya. Hanya saja ia ingat bahwa semua perempuan ditolak susunya oleh Musa kecil. Dan perempuan inilah yang dipilihnya. Sehingga ia pun tahu, bahwa perempuan ini bukan perempuan biasa.

Sang ibu pun sangat haru. Haru akan kebenaran janji Allah yang akan menyelamatkan putranya sekaligus akan mengembalikan padanya. Dan betapa iman kepada Tuhannya semakin kuat bahwa Allah sanggup berbuat segalanya. Tak ada yang menghalanginya, kekuatan apapun namanya.

Istri Fir`aun pun tak ada pilihan kecuali menuruti keterpautan buah hatinya dengan perempuan tersebut. Puanglah ia ke istana. Demi kelangsungan hidup buah hatinya. Seringlah ia mendatangi rumah sederhana yang penuh berkah tersebut.

Janji Allah terbukti, bahkan dikembalikan dengan melebihi apa yang dipikirkan ibunya. Seorang perempuan menyusui anak kandungnya, dan diberi gaji oleh pihak istana. Tanpa harus ia mendatangi istana. Dan kelak ia akan diangkat menjadi nabi dan utusan Allah.

*****

Kisah di atas bukanlah sebuah cerita fiksi. Adalah al-Qur`an melukiskan keteguhan seorang ibu. Demi menyelamatkan anaknya. Anaknya yang kelak menjadi pilar dakwah agama Islam. Anaknya yang kelak akan menghancurkan mitos keangkuhan Fir`aun. Anaknya yang kelak membimbing kaumnya menemukan jalan kebenaran, jalan kedamaian abadi bersama Allah.

Sebagai seorang anak saya bangga terhadap Ibu Nabi Musa. Bangga karena keyakinannya dan kepercayaannya kepada janji Tuhannya, Yang Maha Perkasa. Yang Kuasa berbuat atas segalanya.

Karenanya, saya pun bangga terhadap ibu saya, berterima kasih atas bimbingannya. Mengenal Allah dengan segala kekuasan-Nya. “Terima kasih Ibu, terima kasih Ibu, terima kasih ibu. Dan terima kasih Bapak”.

“Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidikku waktu kecil”.(QS Al Isra`: 24)

Saiful Bahri

Cairo, 13 Maret 2002

Dua Perempuan Langka

DUA PEREMPUAN LANGKA

Sebelumnya, beliau sibuk dengan urusan perdagangan dan perputaran uang. Kegesitannya, ulet serta amanah membuatnya menjadi seorang pedagang yang sukses. Lain dari pada itu, beliau menjadi sosok yang mengetahui jiwa dan kepribadian manusia, laki-laki dan perempuan. Karena interaksi perdagangan merupakan salah satu sarana mengenal karakter, watak, jiwa dan kepribadian seseorang.

Khadijah binti Khuwaelid, adalah perempuan terpandang di kaumnya. Aktivitas, serta keberadaan keluarga dan keturunannya benar-benar diperhitungkan oleh kabilahnya. Posisi yang demikian kuat juga membantunya bergerak dengan cukup leluasa serta aman. Dengan pengalaman ini beliau menjadi semakin matang, tumbuh sebagai tokoh yang berwawasan luas, dewasa cara pandangnya serta matang dalam perhitungan.

Lewat interaksi perdagangan beliau mengenal seorang pemuda yang kepribadiannya sangat tak asing lagi bagi orang Arab, Muhammad saw. Perangai dan akhlaknya menjadi tempat keteduhan cinta kaumnya. Menjadikannya sebagai pemuda yang dewasa dalam usia mudanya. Interaksi dagang dan urusan yang sensitif tersebut semakin mengokohkan karakteristik akhlak mulia yang dimilikinya. Al-‘Amîn, julukan yang memang tepat untuknya. Diberikan oleh kaumnya dari kalbu yang terdalam, tulus selama bergaul dengannya semenjak kecil hingga dewasa.

Ketertarikan Khadijah terhadap Muhammad, berlanjut menjadi keseriusan untuk membina sebuah tatanan sosial terkecil, keluarga. Bersatulah kedewasaan dengan kedalaman cara pandang, kejujuran dan amanah, kesungguhan dan matangnya perhitungan.

Bahkan, Khadijah ra–setelah menikah-semakin bertambah matang dan berpengalaman. Semakin dewasa dan luas cakrawala berpikirnya. Jauh pertimbangannya. Benar-benar menjadi berlabuhnya ketenangan dan keteduhan cinta. Ketika suaminya menerima wahyu pertama kali, tatkala kecemasan dan kegelisahan menyergapnya. Ketika ia kisahkan peristiwa Gua Hira`. Dengan sebuah keyakinan yang kuat, dengan sebuah kedewasaan yang matang beliau menghibur,”Demi Allah, Dia takkan menyia-nyiakan engkau selamanya. Engkau sungguh selalu berkata benar, menyambung silaturrahim kekerabatan, menanggung segala beban, giat berusaha, menghormati tamu, selalu menolong pada pihak kebenaran dan melaksanakan amanah

Islam adalah agama yang sangat umum, terbuka bagi siapa saja, tak mengenal kasta. Laki-laki dan perempuan, tua dan muda, pemuka kaum dan rakyat jelata, bagi budak dan orang-orang yang merdeka, kaya atau miskin. Namun, Khadijah adalah perempuan pertama yang masuk Islam, membelanya dan berdiri di belakang suaminya, Nabinya serta junjungannya, Muhammad saw.

Harta, jiwa, kedewasaan, pengalaman, serta berbagai karakteristiknya yang lain kini telah disumbangkan untuk membela dakwah suaminya.

Berbahagialah seorang lelaki yang memiliki istri berkarakteristik demikian.

*****

Benar-benar tak ada kasta, namun merupakan persaudaraan umum yang menyentuh segala lapisan dan strata manusia. Jika Ibunda Khadijah adalah orang pertama yang beriman dari golongan bangsawan dan keluarga terpandang serta mempunyai kedudukan dalam kaumnya. Maka orang yang pertama kali menemui syahidnya adalah perempuan yang tertindas, sampel dari keluarga sederhana yang senantiasa dalam suasana terjepit, ekonomi pas-pasan bahkan bisa dikatakan kurang, serta strata sosial yang lain dari Khadijah. Sumayyah, ibu sahabat Ammar bin Yasir.

Ujian Allah untuk hambanya sangat berseni dan variatif. Dia menguji hamba-Nya dengan popularitas dan kesulitan hidup, kekayaan dan kemiskinan, kesehatan dan sebaliknya. Namun semuanya kembalinya satu. Ke akhirat, tempat yang telah dijanjikan-Nya untuk hamba-hamba-Nya yang diuji-Nya tersebut.

Usman bin Affan ra-beliau termasuk salah satu pemuka Quraisy yang terpandang-meriwayatkan,”Ketika aku berjalan-jalan bersama Rasulullah saw, aku melihat Ammar bersama ibu dan bapaknya disiksa diatas teriknya matahari agar mereka murtad dari agama baru mereka, Islam. Abu Ammar berkata: Wahai Rasulullah, beginikah waktu?? Beliau menjawab: Sabarlah keluarga Yasir, Ya Allah ampunilah keluarga Yasir…”.

Ketika itu datanglah Abu Jahal, pemimpin jahiliyyah yang tak mengenal kemanusiaan. Ia datang kemudian menyiksa Sumayyah. Berkali-kali dicambuknya perempuan tersebut. Agaknya keteguhan dan kesabarannya membuat Abu Jahal gusar dan marah. Diangkatnya potongan besi, dipukulkannya keperut perempuan mulia ini. Kemudian ditusukkan kebawah perutnya. Rahimnya robek, membuatnya berpisah dengan kefanaan ini. Perempuan tegar ini bertemu dengan Tuhannya. Menjadi syahidah pertama dalam perjuangan dakwah. Yang gugur pertama kali dalam Islam.

Panjangnya waktu tak dirasa Fir`aun kecil ini untuk memperbaiki kesalahan atau bertaubat. Hingga datang hukuman Allah. Perang Badar Kubra. Keangkuhan, segala kesombongan dan takabbur terkapar, terjungkal dan bungkam di tangan dua orang anak kecil yang belum genap berusia sepuluh tahun, Mu`adz dan Mu`awwidz. Abu Jahal meninggalkan kefanaan sedang siksa dan kehinaan yang menantinya.

Ibnu Mas`ud mengisahkan bagaimana pahlawan-pahlawan kecil tersebut bersemangat mencari penjahat bernama Abu Jahal. “Mu`adz mendekatiku memegangi pergelangan tanganku. Kemudian ia mengguncang-guncangnya berkali-kali sambil menanyakan,” Mana di antara lelaki itu yang bernama Abu Jahal?”. Ia terus menanyakannya. Kemudian aku menunjukkan kepadanya. Ia pun segera melesat seperti anak panah. Dengan sebuah pedang terhunus. Beberapa saat kemudian. Mu`awwidz datang mendekatiku. Ia melakukan hal yang sama seperti Mu`adz. Mengajukan pertanyaan yang sama juga. Aku mengatakan padanya,” Mu`adz telah mendahuluimu mencarinya!”. Dan setelah kutunjukkan padanya tentang keberadaan Abu Jahal, ia pun melesat dengan sangat cepat. Hingga ketika keduanya mendekati Abu Jahal. Kami tak mengetahui pedang manakah diantara mereka berdua yang terlebih dahulu menusuk Abu Jahal”.

Sungguh, ketakjuban yang tak berlebihan bagi perempuan pertama yang memeluk agama ini. Berkorban demi segalanya.

Sungguh, saya merasakan ketegaran dan keharuan. Perempuan pertama yang mempertahankan akidahnya. Rela melepaskan ruhnya asalkan iman tak berpisah dari dadanya. Tubuhnya boleh dicacah dan tercabik-cabik oleh kezhaliman dan keangkuhan, namun imannya kepada Dzat yang Maha Kuat tetap utuh tak berkeping. Ia serahkan pada Allah yang membalas segala kekejian dan kezhaliman.

Ibunda Khadijah ra, ibu kaum muslimin. Dari rahimnya terlahir keturunan-keturunan mulia yang mengesakan Allah dan memegang amanah suaminya, sebagai dai, nabi pembawa risalah Tuhannya. Tak heran akan julukan tersebut baginya. Orang pertama yang memeluk Islam sebagai agamanya. Dan Muhammad sebagai Rasul-Nya.

Ibunda Sumayyah ra. Ibunda sahabat Ammar, syahidah pertama yang mempertahankan akidahnya. Tegar dan memiliki kemuliaan. Izzah di depan kekafiran dan keangkuhan. Ia kalahkan segala kecongkakan dengan kesabaran. Kesombongan dengan keteguhan berpegang iman. Tak heran akan julukan tersebut baginya. Orang pertama yang gugur dijalan dakwah Islam.

Kedua-duanya adalah perempuan yang semestinya di kenal seluruh kaum  muslimin dari era Fajrul Islam hingga hari yang dijanjikan Allah. Sejarah telah mengukirkan tinta emasnya.

Kiprah dan peranannya telah dikenal semenjak pertama kali wahyu Allah ini diturunkan ke bumi melalui malaikat-Nya di Gua Hira`. Ketegaran yang telah dikenal semenjak kecongkakan Abu Jahal mengoyak kemuliaannya.

 

Saiful Bahri

Cairo, 10 Maret 2002

Matahari dan Bulan

MATAHARI DAN BULAN

Juha, seorang tokoh jenaka dalam dongeng Arab pernah ditanya seseorang,”Wahai Juha, manakah yang lebih penting dan dibutuhkan manusia, matahari atau bulan?”.

Dengan enteng Juha menjawab,”Bulan”.

Sang penanya itu sangat heran kemudian kembali melontarkan pertanyaan berikutnya,”Mengapa demikian?

Dengan santainya Juha mengatakan,”Karena pada waktu siang sudah demikian terang sehingga matahari tidak terlalu diperlukan. Sementara malam sangatlah gelap, maka kehadiran bulan sangatlah ditunggu-tunggu manusia”.

Sang penanya tak lagi mampu menahan senyum sementara orang-orang disekelilingnya sudah terbahak-bahak.

Kita tidak akan mendiskusikan jawaban Juha, membenarkan atau bahkan menyanggahnya. Namun kita akan mengambil substansi pertanyaan diatas. Matahari dan Bulan.

Matahari dan bulan sebagaimana bumi dan langit merupakan salah satu ayat (tanda-tanda) kekuasaaan Allah. Salah satu tanda bahwa Allah menciptakan segala sesuatu serba berpasang-pasangan.

Di dalam al-Qur`an dan Hadits kata ganti bulan menggunakan dhamir laki-laki (mudzakar) sedang kata ganti matahari adalah dengan dhamir perempuan (mu`annats). Kaedah ini juga dipakai oleh Bahasa Arab standar (baku). Padahal matahari sering diidentikkan sebagai lambang keperkasaan yang merupakan sifat maskulin. Sementara bulan lebih sering diidentikkan dengan kelembutan sebagai hiasan sifat feminin.

Apakah kemudian ketika al-Qur`an menggunakan kata ganti perempuan untuk matahari akan mengurangi kegentelan matahari. Demikian pula ketika bulan memiliki kata ganti laki-laki berarti akan kehilangan sifat femininnya.

Dalam wacana feminisme, yang sering diperdebatkan adalah masalah kesamaan antara laki-laki dan perempuan, setidaknya tuntutan untuk menyamakan keduanya. Lantas dari sudut pandang mana mereka–para penganut feminisme liberal-menarik perbedaan.

Dengan perbedaan antara laki-laki dan perempuan. Seseorang tak akan menganggap aib bila seorang perempuan memiliki sifat pemberani. Nusaibah binti Ka`b menjadikan dirinya perisai hidup bagi Rasulullah saw ketika perang Uhud. Sebaliknya seseorang takkan memandang aib ketika seorang laki-laki memiliki sifat kelembutan dan pemalu. Usman bin Affan ra, malaikat pun malu dengan beliau karena beliau memiliki sifat sangat pemalu. Sa`id bin Musayyib seorang tabi`in setiap malam menangis dalam sujud panjang.

Allah menjadikan bulan sebagai ayat-Nya. Karenanya kita berpuasa menggunakan bulan (penanggalam qamariyah bukan dengan penanggalan syamsiyah). Mataharipun demikian, kita diperintahkan shalat dengan patokan matahari.

Lebih dari itu matahari dan bulan tidaklah dapat medatangkan manfaat dan madharat bagi manusia. Mereka berdua hanya makhluk yang menjalankan titah penciptanya.

Ketika putra Rasulullah saw, Ibrahim wafat, terjadi gerhana matahari. Beliau mengkhawatirkan jangan-jangan orang-orang akan meyakini gerhana yang terjadi merupakan simbol kesedihan alam atas wafatnya putra Nabi. Kemudian beliau mengatakan bahwa baik matahari ataupun bulan hanyalah makhluk Allah. Karenanya kita disunnahkan untuk shalat ketika terjadi gerhana, baik matahari ataupun bulan. Sebagai pengingat bahwa keduanya merupakan nikmat bagi manusia. Bagaimana kelangsungan hidup manusia tanpa matahari atau bulan. Allah hendak menyadarkan kelalaian manusia tersebut akan nikmat yang agung ini.

Dari fenomena diatas tak seorangpun kemudian menganggap bahwa bulan adalah saingan matahari. Dengan dalih bahwa keduanya tak pernah bertemu dan berkumpul. Hal ini dinafikan oleh agama kita. Fenomena alam yang serba berpasangan, matahari dan bulan, malam dan siang, langit dan bumi, besar dan kecil, semuanya mempunyai spesifik masing-masing dan memiliki tugas sesuai kodrat penciptaannya. Hendakkah kita menyamaratakan?.

Adapun manusia, laki-laki dan perempuan. Bila dianggap sebagai saingan dan rifal, tak akan optimal peran hidupnya. Laki-laki dan perempuan merupakan mitra. “Annisa` syaqâ`iqu ar rijâl” (perempuan merupakan mitra lelaki).

Perbedaan maupun persamaan ini masing-masing telah diatur kaedahnya oleh agama. Miniatur fisik masing-masing disiapkan untuk menghadapi tugas sesuai kodratnya. Dengan perbedaan ini tidaklah menafikan persamaan. Semuanya berhak menuntut ilmu, menerima pahala dari amal yang diperbuatnya serta meraih tingginya derajat firdaus al-a`lâ. Ketika matahari kembali ke peraduannya di ufuk barat, bulanpun menggantikan perannya di kegelapan malam. Tanpa rasa saling membanggakan diantara satu sama lain kecuali bangga memikul tanggung jawab membantu kepentingan anak manusia.

Demikian halnya manusia. Bila perempuan dan laki-laki berlomba-lomba membanggakan diri diatas yang lain akan memicu persaingan (yang tak sehat). Berikutnya cenderung susah untuk bekerja sama. Pernahkah bulan merebut peran matahari, atau enggan menjalankan perannya di malam hari. Kecuali bila tiba saat sangkakala hari akhir berbunyi.

“Apakah hukum jahiliyah yang mereka kehendaki, dan hukum siapakah yang lebih baik daripada hukum Allah bagi orang-orang yang yakin?” (QS. Al Ma`idah:50). Mahabenar Allah dalam segala firman-Nya.

 

Saiful Bahri

Cairo,  02 Agustus 2001