Tadabbur Surat Al-Ghasyiah [88]

TERTUNDUK MALU ATAU BERSERI-SERI

(Dua Penghuni Keabadian)*

Dr. H. Saiful Bahri, MA**.

Mukaddimah: Hari Yang Menggemparkan

Surat Al-Ghasyiah diturunkan Allah di Makkah setelah Adz-Dzariyat([1]). Dinamakan demikian karena dibuka dengan berita hari pembalasan (Al-Ghasyiah) yang merupakan satu rangkaian kejadian di hari kiamat. Menurut arti bahasa, al-Ghasyiah berarti sesuatu yang dahsyat yang bisa menggoncangkan hati manusia([2]).

Tema utama surat ini masih seperti pembahasan surat-surat makkiyah sebelumnya, yaitu menekankan pada aspek keimanan pada hari kiamat. Dan pada kesempatan ini lebih ditekankan pada fase pembalasan amal yang sangat diperinci dengan menggambarkan dua kondisi yang berbeda yang akan dialami oleh orang-orang baik dan orang-orang yang buruk perilakunya. Di samping itu dalam surat ini juga disebut dalil dan tanda-tanda kekuasaan dan keesaan Allah([3]). Adapun yang disebut kali ini adalah penciptaan unta, kemudian langit, gunung dan bumi. Secara terperinci insyâ`allâh akan kita tadabburi satu persatu.

Adapun fadhilah atau keutamaan surat ini sebagian sudah disinggung dalam tadabbur surat terdahulu, yaitu surat al-A’la. Di antaranya; sebuah hadits masyhur yang shahih yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, Ibnu Abi Syaibah, Imam Ahmad, Abu Dawud, at-Tirmidzi, an-Nasa’i, dan Ibnu Majah. Semua riwayat tersebut berasal dari sahabat Nu’man bin Basyir ra. yang menyebutkan bahwa dalam Shalat dua Id dan Shalat Jum’ah pada rakaat pertama Rasulullah saw sering membaca surat al-A’la kemudian pada rakaat kedua membaca al-Ghasyiah([4]).

Kisah Penghuni Neraka

Sudah datangkah kepadamu berita hari pembalasan?” (QS. 88: 1)

Dalam ayat ini secara zhahir menggunakan kalimat Tanya, demikian pendapat sebagian besar pakar bahasa, sebagaimana ditegaskan Imam al-Alusy dalam tafsirnya([5]). Meskipun sebagian pakar Bahasa Arab seperti Quthrub mengatakan bahwa justru ayat ini menggunakan kalimat penguat dengan bentuk yang zhahirnya adalah istifhâm (pertanyaan).

Banyak muka hari itu tunduk terhina. Bekerja keras lagi kepayahan” (QS. 88: 2-3)

Penggunaan kata “khasyi’ah” di sini sebenarnya memberi isyarat tidak tepatnya penyesalan. Hari itu tak lagi diperlukan kekhusyu`an, karena hari itu bukan hari beramal namun hari pembalasan. Maka muka mereka tertunduk sebenarnya bukan karena khusyu’ namun lebih karena merasa terhina dan dihinakan. Karena mereka sangat sadar posisi dan seperti apa balasan yang akan mereka terima.

            Seberapa keras mereka melakukan kepayahan dan kekhusyuan tak akan memberi manfaat untuk menyelamatkan mereka dari murka Allah swt. Ibnu Abbas menafsirkannya dengan amal yang mereka lakukan di dunia memang banyak tapi justru akan mendatangkan kepayahan dan memberatkan mereka ketika berada di akhirat([6]).Pada ayat berikutnya Allah menjelaskan kepayahan yang akan mereka terima. Setidaknya ada tiga hal yang disebut di sini:

  1. Memasuki api yang sangat panas” (QS. 88: 4) Sebagai balasan dari perbuatan yang mendatangkan murka Allah. Api yang sangat panas mengelilingi mereka dalam kekekalan kesengsaraan dan sebenar-benarnya celaka yang menistakan.
  2. Diberi minum (dengan air) dari sumber yang sangat panas”. (QS. 88: 5)

Dalam kondisi yang demikian panas. Tak sedikit pun ada persediaan air dingin yang bisa menyejukkan tenggorokan. Yang ada justru sumber air yang sangat pas yang menambah penderitaan mereka bertambah dna bertingkat-tingkat. Tak sedikit dalam ayat lain bahkan dijelaskan bahwa minuman yang disediakan adalah darah dan nanah. Baik air panas maupun nanah tidaklah bisa menghilangkan dahaga dan mengusir haus. Dan itulah penderitaan dan kepayahan yang kesekian kalinya yang diterima orang-orang kafir.

Dalam ayat lain disebut dengan redaksi “ghislin” seperti dalam surat al-haqqah ayat 36. “Dan tiada (pula) makanan sedikitpun (baginya) kecuali dari darah dan nanah.

  1. Mereka tiada memperoleh makanan selain dari pohon yang berduri. Yang tidak menggemukkan dan tidak pula menghilangkan lapar” (QS. 88: 6-7)

Jika mereka lapar tak sedikit pun ada persediaan makanan yang membuat mereka kenyang. Yang disediakan adalah pohon berduri yang hewan saja enggan memakannya, apalagi manusia. Sebagian mufassir menyebut bahwa pohon tersebut beracun dan mematikan, setidaknya menyakitkan([7]). Dalam ayat 43-44 surat Ad-Dukhan disebutkan jenis pohon yang ada di neraka, yaitu pohon Zaqqum. “Sesungguhnya pohon zaqqum itu. Makanan orang yang banyak berdosa”. Bagaimana mungkin pohon seperti ini bisa membuat gemuk atau mengenyangkan dan mengusir rasa lapar. Yang terjadi adalah membuat rasa lapar hilang karena sakit yang teramat sangat menggantikannya. “Dhari’” ini dikenal oleh orang Arab bisa membuat unta gemuk, tapi gemuknya penuh dengan racun karena mematikan([8]).

Penduduk Surga Bergelimang Karunia dan Ketentraman

            Setelah penuturan yang mengerikan tentang kabar dan berita orang-orang yang dimurkai Allah maka dalam 9 ayat berikutnya Allah mengabarkan kondisi yang sebaliknya. Yaitu kebahagiaan dan ketentraman yang dijanjikan Allah yang kelak akan diterima hamba-hamba-Nya yang bertakwa. Nikmat dan karunia Allah tersebut berupa:

  1. Banyak muka pada hari itu berseri-seri. Merasa senang karena usahanya” (QS.88: 8-9)

Orang-orang baik hari itu laik untuk berseri-seri dan berbahagia menerima kabar gembira. Atas usaha yang telah mereka lakukan di dunia. Menahan nafsu dan mengikuti ajaran dan petunjuk Allah. Kata “na’imah” menunjukkan bekas nikmat yang Allah akan berikan terhadap mereka. Padahal mereka belumlah mendapatkannya baru sekedar kabar gembira dan muka mereka seketika cerah, lantas bagaimana jika mereka benar-benar telah menikmati kebaikan di atas kebaikan yang telah Allah sediakan untuk mereka. Mereka tentu akan semakin puas dan senang bahwa usaha mereka tidak sia-sia. Kesyukuran ini bertambah ketika mereka merasa bahwa perbandingan yang jauh lebih buruk dari bayangan mereka diterima oleh orang-orang yang berkelakuan jelek. Yang dalam surat ini berita mereka di dahulukan. Padahal lazimnya sebuah berita kelulusan biasanya yang ditampakkan adalah yang berhasil. Sedang dalam surat ini sebaliknya, didahulukan berita kegagalan dan kesengsaraan. Tujuan-nya adalah menyelaraskan tema besar surat ini, yaitu memberikan peringatan yang menggetarkan jiwa([9]). Sesuai dengan namanya “al-ghasyiah

  1. Dalam surga yang tinggi” (QS.88: 10)

Mulailah mereka menikmati karunia yang benar-benar tak terlukiskan kenikmatan-nya sebelumnya. Yaitu surga yang tinggi. Kata tinggi ini dimaksudkan menjunjung kedudukan mereka dan untuk menghormatinya. Abu Hayyan menggabungkan dua makna sekaligus. Bahwa yang dimaksud dalam ayat ini adalah tempat yang memang secara fisik tinggi dan ditambah dimuliakan oleh Allah.

  1. Tidak kamu dengar di dalamnya perkataan yang tidak berguna”. (QS.88: 11)

Tidak ada perkataan yang sia-sia terdengar. Semuanya adalah ungkapan syukur dan kebahagiaan. Mereka tenggelam dalam kenikmatan dan kemuliaan yang diberikan Allah. Kata-kata yang didengar dan diperdengarkan di antara mereka hanya ungkapan yang baik yang menunjukkan bahwa mereka benar-benar merasakan kebahagiaan. Mereka pun ridha dengan keadaan demikian dan Allah juga meridhai mereka.

  1. Di dalamnya ada mata air yang mengalir”. (QS.88: 12)

Di saat penghuni neraka kepanasan dan berada dalam kondisi antara mati dan hidup menahan siksaan, dahaga dan lapar, penduduk surga diberikan mata air yang bermacam-macam. Melimpah. Dan kata “jâriyah” mengisyaratkan bahwa mata air tersebut terus mengalirkan air tiada terputus sedikit pun.

  1. Di dalamnya ada takhta-takhta yang ditinggikan”. (QS.88: 13)

Mereka menduduki singgasana dan tahta yang tinggi dan ditinggikan. Mereka lebih mulia dari raja yang paling mulia di dunia ini. Semua yang berada dalam rumah dan tamannya tunduk dan patuh terhadap titahnya. Semuanya menuruti dan melayani keinginannya.

  1. Dan gelas-gelas yang terletak (di dekatnya)”. (QS.88: 14)

Mata air yang mengalir tersebut di atas bukan hanya menghias mata mereka. Namun, jika mereka menginginkan untuk meminumnya maka sudah tersedia gelas-gelas yang segera penuh air dan siap untuk dihidangkan dan dinikmati. Seketika berada di tangan mereka begitu mereka menginginkan untuk meminumnya dan menikmatinya.

  1. Dan bantal-bantal sandaran yang tersusun”. (QS.88: 15)

Jika mereka ingin membaringkan tubuhnya sambil melihat dan menikmati indahnya taman dan surga Allah maka telah tersedia sandaran empuk dan bantal-bantal dan membuat nyaman. Semua tersusun rapi.

  1. Dan permadani-permadani yang terhampar”. (QS.88: 16)

Jika di dunia orang-orang berlomba-lomba mengeluarkan uang yang banyak demi berbangga-bangga atas permadani yang mereka miliki dengan kualitas yang sangat bagus. Halus. Mewah dan berkelas serta membuat mata sejuk memandangnya. Maka Allah menyediakannya. Luas, terbentang dan ia bisa memilikinya sesukanya. Semua diperuntukkan Allah sebagai balasan amalnya. Sesuka dia tanpa dibatasi oleh harga.

Empat Tanda Kekuasaan Allah

Setelah Allah menjelaskan kondisi penghuni neraka dan penduduk surga Allah me-maparkan empat tanda kekuasaannya. Yaitu penciptaan unta, langit, gunung dan bumi.

Maka apakah mereka tidak memperhatikan unta bagaimana dia diciptakan. Dan langit, bagaimana ia ditinggikan? Dan gunung-gunung bagaimana ia ditegakkan? Dan bumi bagaimana ia dihamparkan?” (QS.88: 17-20)

Apa rahasia Allah menyebut empat hal ini?

Orang-orang Arab jika bepergian jauh kendaraan yang mereka andalkan adalah unta. Bahkan ketika berperang mereka juga membawa unta. Selain digunakan sebagai kendaraan unta juga mampu menampung air, dagingnya juga bisa mengenyangkan banyak orang. Dalam peperangan badar Rasulullah saw memperkirakan jumlah tentara quraisy dengan menghitung unta yang mereka bawa. Maka selaiknya mereka berpikir bagaimana Allah menciptakan unta.

Saat mereka di atas punggung unta mereka juga bisa memandang langit lepas. Bukankah itu ciptaan Allah yang sangat dahsyat. Tinggi menjulang tanpa tiang penyangga. Bahkan tiada seorang pun mampu mencapainya dengan ketinggian dan kecanggihan teknologi mutakhir sekali pun.

Di atas unta mereka juga bisa memperhatikan gunung-gunung yang kokoh. Siapa yang menjadikannya juga menjulang.

Di atas punggung unta mereka juga menapaki tanah. Bumi yang mereka pijak, siapakah yang menghamparkannya.

            Keempat hal di atas jika digabungkan –seharusnya- sudah cukup membuat manusia kemudian sadar dan bersegera taubat, kemudian memperbaiki keadaannya dengan amal baik, sebelum semuanya terlambat.

Kontinyuitas Tugas Dakwah

Maka berilah peringatan, karena sesungguhnya kamu hanyalah orang yang memberi peringatan” (QS. 88: 21)

Nabi Muhammad saw tak dibebankan untuk membuat mereka sadar dan kembali kepada fitrah. Namun Allah menugaskan Nabi Muhammad untuk terus dan tak henti untuk mengingatkan kaumnya. Karena pada dasarnya ia sudah dikenal baik dan dipercaya. Hanya ketika ia membawa ajaran Allah kaumnya berbalik mencibir dan menuduhnya berdusta. Mereka memungkiri hati nurani dan realita. Tapi Allah tak meminta beliau untuk membuat mereka berubah. Yang diinginkan Allah adalah kontinyuitas dalam berdakwah.

Kamu bukanlah orang yang berkuasa atas mereka. Tetapi orang yang berpaling dan kafir” (QS. 88: 22-23)

Memang benar. Bahwa Nabi Muhammad tidaklah sanggup menguasai jiwa mereka. Beliau takkan pernah bisa memberi petunjuk. Apalagi terhadap orang-orang yang berpaling dan sentiment serta berlaku melampaui batas. “Maka Allah akan mengazabnya dengan azab yang besar”. (QS. 88: 24)

Abu Bakar al-Wasithy mengatakan, “Nabi Muhammad diutus sebagai da’i (yang mengajak) dan bukan sebagai hâdi (yang memberi petunjuk)” demikian sebagaimana disitir oleh As-Sulamy([10]).

Sesungguhnya kepada Kami-lah kembali mereka. Kemudian Sesungguhnya kewajiban Kami-lah menghisab mereka”. (QS. 88: 25-26)

Allah telah mengutus sebaik-baik orang bahkan yang terbaik yang pernah dan akan ada, yaitu Nabi Muhammad saw. Juga Allah turunkan sebaik-baik peringatan dan kitab, yaitu al-Qur’an. Allah juga memberikan tanda-tanda kekuasaan-Nya yang bisa langsung dirasakan dan dilihat oleh mata. Jika mereka tetap saja lalai maka tetaplah Allah adalah tempat kembali mereka. Dan Allah sudah menyiapkan hisap dan hitungan amal mereka untuk mendapatkan balasan yang setimpal. Dengan perhitungan ini, sedikit pun Allah tidak menzhalimi mereka. Tapi diri mereka sendiri yang men-zhaliminya.

Penutup

            Sebaik-baik hamba Allah adalah yang bisa mengambil i’tibar dan pelajaran. Allah telah mengisahkan dua nasibyang berbeda yang akan dialami oleh orang baik dan orang buruk. Allah menjelaskan akhir mereka sebagai penghuni neraka atau penduduk surga. Selain itu Allah telah menyebut tanda-tanda kekuasaan-Nya agar manusia bisa berpikir. Sekarang keputusan untuk berbuat ada di tangan kita. Ingin menjadi penduduk surga atau penghuni neraka? Berbuatlah. Setelah itu bertawakkal dan berdoa.

Jakarta, Selasa, 19 Januari 2010


* Tadabbur surat Al-Ghasyiah (Hari Pembalasan): [88], Juz Amma (30)

** Mahasiswa Program S3 Jurusan Tafsir dan Ilmu al-Qur’an Universitas al-Azhar, Cairo

([1]) lihat: Jalaluddin as-Suyuthi, al-Itqân fi ‘Ulûmi al-Qur’ân, Beirut: Darul Kutub al-Ilmiah, Cet.I, 2004 M/1425 H, hlm. 20-22; Badruddin az-Zarkasyi, al-Burhân fi ‘Ulûmi al-Qur’ân, Beirut: Darul Fikr, Cet.I, 1988 M/1408 H, Vol.1, hlm. 249. Prof. Dr. Jum’ah Ali Abd. Qadir, Ma’âlim Suar al-Qur’ân, Cairo: Universitas al-Azhar, cet.I, 2004 M/1424 H, vol.2, hlm.793 

([2]) seperti dituturkan Adh-Dhahhak (dalam tafsirnya, Tafsir adh-Dhahhak, 2/957) juga disepakati penafsirannya oleh Jumhur Ulama. Seperti yang ada dalam firman Allah Surat Ibrahim ayat 50. “Pakaian mereka adalah dari pelangki dan muka mereka ditutup oleh api neraka”.

([3])Muhammad Ali Ash-Shabuni, Ijazu al-Bayan fi Suar al-Qur’an, Cairo: Dar Ali Shabuni, 1986 M-1406 H, hlm. 295.

([4]) Syihabuddin al-Alusy, Ruhul Maani, Beirut: Dar al-Fikr,  1997 M-1417 H, Vol. 30, hlm.183. Lihat juga (Shahih Muslim Syarh Nawawi, Kitab Jum’ah Bab Ma Yuqra`u fi Shalati al-Jum’ah, Cairo: Darul Hadits, Cet.1, 1994 M-1415 H, Vol.III, hlm. 432)

([5]) Syihabuddin al-Alusy, Ruh al-Ma’any, Op.Cit, Vol.30, hlm. 200.

([6]) Al-Baghawy, Ma’alim at-Tanzil, Beirut: Darul Kutub al-Ilmiah, Cet.I, 2004 M-1424 H, Vol.IV, hlm. 447

([7]) Ruh al-Ma’any, Op.Cit, Vol.30, hlm, 203-204

([8]) Ibid.hlm, 204. Lihat Juga Az-Zajjaz, Ma’ami al-Qur’an wa I’rabuhu, Cairo: Darul Hadits, 2004 M/1424 H, Vol.V, hlm. 243

([9]) Ruh al-Ma’any, Op.Cit, Vol.30, hlm, 205

([10]) As-Sulamy, Haqa`iq at-Tafsir, Tahqiq Sayyed Imran, Beirut: Darul Kutub al-Ilmiah, Cet.I, 2001 M- 1421 H, Vol. II, hlm. 393