Pertanyaan “Siapa Anda?”

Ketika seseorang mendapat pertanyaan “Siapa Anda”, tentu akan merespon secara berbeda sesuai konteks dan intonasi. Pertanyaan ini bisa merupakan murni pertanyaan yang artinya keperluan untuk mendapatkan informasi, atau sebagai pembuka untuk mengungkap identitas lawan bicara. Biasanya pertanyaan seperti ini dilontarkan dengan datar, tak jarang disertai tambahan kata maaf dan nama, sehingga redaksinya kira-kira, “Maaf, siapa nama Anda?” atau “Maaf, dengan siapa?” atau jika lebih menghormati bisa ditambah kata bapak atau ibu.

Namun, pertanyaan di atas bisa juga merupakan tantangan. Biasanya, difungsikan untuk pembuktian kualitas dan identitas yang diinginkan oleh si penanya. Intonasinya sedikit naik, dan biasanya tak diperlukan basa-basi dalam menjawab sebagaimana pertanyaan yang disampaikan juga tanpa basa-basi.

Pertanyaan di atas bisa merupakan penghinaan atau mengingkari keberadaan orang yang sedang ditanya. Biasanya diiringi intonasi yang sedikit naik atau bahkan dengan suara yang sangat tinggi. Kemudian, gestur tubuh penanya juga tidak sedikit pun menunjukkan penghormatan terhadap lawan bicaranya. Pertanyaan jenis ini tidak selamanya berkonotasi negatif. Al-Quran di beberapa kesempatan menggunakan pertanyaan seperti ini (dikenal dengan istifhâm inkâriy) yang ditujukan kepada para pendusta risalah nabi Muhammad SAW, para pelaku kezhaliman dan para durjana. Meskipun, tentunya tak boleh disamakan dengan perkataan manusia.

Sebaliknya, orang-orang angkuh dan sombong juga akan mengalamatkan pertanyaan tersebut kepada orang yang direndahkan, dianggap tidak kredibel, maka ia dihinakan secara berlebihan.

Bagaimana jika pertanyaan tersebut dilontarkan kepada seseorang yang sedang mengerjakan kewajibannya, menunaikan tugas dengan sebaik-baiknya atau melaksanakan amanah yang dibebankan kepadanya. Mungkin, ia akan luruh atau drop mentalnya karena merasa tak dihargai. Mungkin ia akan tertantang untuk membuktikan bahwa ia bisa berbuat lebih baik. Atau ia akan membuktikan bahwa ia memiliki nama yang layak untuk disebut dan tidak dipertanyakan keberadaannya.

Tiga fungsi pertanyaan di atas bisa sekaligus berlaku untuk manusia yang masih memiliki hati nurani ketika melihat kezhaliman dan penindasan yang terjadi di negeri Syam dan khususnya di Palestina dan Suriah.

Pertanyaan siapa Anda pertama, untuk mengungkap identitas, berlaku menumbuhkan solidaritas orang yang dizhalimi dan tertindas. Baik sebagai muslim atau bahkan “sekedar” sebagai manusia, pasti akan tercabik-cabik hatinya, bila ia hanya diam menyaksikan kondisi yang tidak manusiawi yang sedang terjadi di sana.

Pertanyaan siapa Anda kedua, untuk menyampaikan tantangan juga berlaku. Jika, sudah menjawab sebagai muslim atau manusia, maka harusnya dibuktikan sanggup berbuat sesuatu yang bermakna untuk menolong sesamanya.

Pertanyaan siapa Anda ketiga, untuk menunjukkan pengingkaran dan penghinaan ketika ada orang yang mengaku sebagai manusia atau muslim, namun masih bisa dengan santainya tidak peduli dengan kasus-kasus kemanusiaan yang menimpa saudaranya sesama manusia atau sesama muslim.

Kecuali jika seseorang memang benar-benar tak mengetahui kondisi yang sedang terjadi, maka kembali ke pertanyaan pertama. Jika ia tak tahu, maka diperlukan edukasi yang baik sehingga mampu memahami permasalahan dengan baik. Jika informasi yang tersampaikan cukup baik maka seseorang akan tertantang untuk berbuat.

Saat ini, drama kezhaliman dan aksi kelaliman sedang dipertontonkan dengan semena-mena dan terang-terangan. Dunia seisinya menyaksikan dengan terang benderang, namun tak mampu merespon dengan baik.

Di saat di berbagai belahan dunia sibuk menyambut kemajuan industri dan teknologi serta menikmati kemakmuran, ternyata terdapat banyak anak manusia yang terzhalimi. Mereka bertahun-tahun hidup di pengasingan, terusir dari kampung halaman. Saat mereka berkali-kali berusaha untuk kembali, mereka dinistakan dan dibunuhi, bahkan dijuluki melakukan anarkisme dan terorisme. Dunia terbalik, karena sang penjajah dipuja dan dibela. Sang penista dan durjana diterima dengan tangan terbuka dan senyum basa-basi yang penuh ekspresi kepalsuan. Sementara orang-orang terzhalimi terus terkepung dengan ketidakberdayaan. Mereka terjebak oleh kemiskinan dan kelaparan. Carut marut, angka pengangguran, infrastrukur fisik yang buruk, dan segudang kekurangan tampak menganga menambah luka.

Maka jawablah: Siapa Anda?

 

Catatan Keberkahan 97

Jakarta, 18.04.2018

SAIFUL BAHRI

Iklan

Hari Bumi untuk Siapa?

Masyarakat dunia mengenal hari bumi pada bulan April, karena pada bulan diperingati sebagai hari bumi sedunia. Sejarah mencatat, peringatan Hari Bumi (Earth Day) diselenggarakan pertama kali pada 22 April 1970 di Amerika Serikat. Penggagasnya adalah Gaylord Nelson, seorang senator Amerika Serikat dari Wisconsin yang juga pengajar lingkungan hidup.

Saat itu jutaan orang turun ke jalan, berdemonstrasi dan memadati Fifth Avenue di New York untuk mengecam perusakan terhadap bumi. Majalah Time memperkirakan bahwa jumlah massa yang turun ke jalan pada demonstrasi tersebut mencapai sekitar 20 juta. Momen ini lalu dijadikan sebagai peringatan hari bumi sedunia. Hari Bumi kemudian menjadi sebuah gerakan global yang mendunia. Pelaksanaannya di seluruh dunia dikordinasi oleh Earth Day Network’s, sebuah organisasi nirlaba beranggotakan berbagai LSM di seluruh dunia.

PBB sendiri memilih tanggal 20 Maret, ketika matahari tepat diatas khatulistiwa sebagai peringatan Hari Bumi. Ini mengacu pada ide “hari bagi orang-orang Bumi” yang dicetuskan aktivis perdamaian John McConnell. Hari yang lebih dikenal sebagai “Hari Bumi Equinoks” ini diperingati PBB setiap tahunnya sejak 21 Maret 1971. Namun PBB juga mengakui tanggal 22 April sebagai hari bumi yang dilaksanakan secara global. PBB secara resmi merayakannya 22 April sebagai “International Mother Earth Day“.

*****

Baik PBB maupun para aktivis lingkungan yang menggagas hari bumi di atas, dengan tanggal yang berbeda, tentunya tak sama dengan hari bumi di Palestina. Sejak terjadi perampasan aset dan tanah Palestina pada tahun 1948, tak sedikit penduduk asli Palestina kehilangan tempat tinggalnya. Hal tersebut terjadi secara sistematis dan terprogram oleh para penjajah Bangsa Palestina yang menduduki tanah suci tersebut secara ilegal. Tercatat sejak tahun 1948 hingga 1972 ada 1 juta hektar tanah milik rakyat Palestina yang berhasil dirampas Israel. Kondisi buruk ini terus meningkat di setiap tahunnya, Israel tanpa henti memperluasan wilayah tanah jajahan mereka.

Akumulasi dari segala kezhaliman dan perampasan tanah (land grab) tersebut terjadi di tahun 1976, yang mencapai klimaksnya pada hari Sabtu, 30 Maret 1976. Rakyat Palestina bersatu padu melakukan perlawanan. Mereka menuntut dikembalikannya tanah mereka yang dirampas. Beragam aksi dilakukan, seperti aksi mogok massal dan demonstrasi turun ke jalan.

Aksi massa ini direspon secara brutal oleh Israel. Pasukan bersenjata Israel memmuntahkan timah panas kea rah para demonstran. Sedikitnya 6 orang gugur dalam peristiwa itu, dan puluhan lainnya terluka, serta lebih dari 300 orang ditangkap.

Pada Jumat 30 Maret 2018kemarin, ribuan rakyat Palestina mulai anak-anak, wanita hingga dewasa, berunjuk rasa di sepanjang perbatasan Gaza. Ini dilakukan dalam rangka memperingati Hari Bumi Palestina dengan mengangkat tema “Great March Return”. Para pengunjuk rasa memiliki dua tuntutan utama yaitu hak kembali ke kampung halaman bagi rakyat Palestina yang terusir sejak 1948 dan mengakhiri blokade terhadap Jalur Gaza.

Sebagaimana 42 tahun silam, kali ini respon Israel pun tak kalah brutal. Bom gas air mata dan timah-timah panas dimuntahkan ke arah para pengunjuk rasa yang sering terstigma negatif sebagai teroris dan melakukan tindakan melawan hukum. Otoritas Kesehatan Palestina menyebutkan, sebagaimana diberitakan oleh Ma’an News Agency (https://www.maannews.com/), 17 orang meninggal dunia dan 1416 lainnya terluka akibat serangan zionis tersebut.Dunia internasional kali ini kembali bungkam, sesekali terdengar kecaman yang tidak berdampak besar. Demikian juga PBB tetap saja tak mampu berbuat apa-apa menyaksikan kebrutalan tak manusiawi dan kezhaliman yang nampak jelas yang disaksikan milyaran manusia di planet ini.

Jika para pecinta lingkungan menyuarakan hari bumi sebagai perlawanan mereka terhadap kerusakan lingkungan yang terjadi secara global, maka seharusnya penduduk dunia lebih bersuara ketika land grab (perampasan tanah) dilakukan oleh sebuah negara secara terstruktur dan penuh kezhaliman. Berikan bangsa Palestina hak kembali (right to return) dan segera akhiri blokade terhadap mereka.

Wahai para pecinta bumi, mana suaramu di Hari Bumi? Akhiri kezhaliman, sekarang juga. WalLâhu al-Musta’ân.

 

Catatan Keberkahan 95

Jakarta, 31.03.2018

SAIFUL BAHRI

Cinta dan Pengkhianatan

Persiapan Rasulullah SAW untuk menaklukkan kota Mekah (Fathu Makkah) dilakukan secara rahasia dan diam-diam. Sahabat beliau, Abu Bakar bahkan sampai tak diberitahu. Hanya pasukan khusus dari kaum muslimin yang mengetahui rencana ini. Di antara orang tersebut adalah Hatib bin abi Balta’ah. Namun, sayangnya Hatib justru bermaksud membocorkan rencana Rasulullah SAW kepada kaum Quraisy.

Hatib bin Abi Balta’ah berkirim surat untuk memberitahu mereka tentang hal itu. Surat tersebut dikirim melalui seorang wanita yang menuju Mekah.

Allah SWT turunkan wahyu kepada Rasulullah SAW perihal bocornya rencana tersebut. Beliau segera memanggil Ali, Zubair dan Miqdad dan memerintahkan untuk menyusul perempuan yang dimaksud.

Setelah mereka menjumpainya, Ali segera menginterogasinya. “Keluarlanlah surat itu!”

Ia menjawab “Surat apa, saya tidak membawa surat apapun”

Mereka bertiga lebih tegas mengatakan, “Betul kamu tidak membawa surat apap pun! Kamu mau berikan surat itu atau kami akan tanggalkan pakaianmu!”.

Akhirnya perempuan itu  pun mengeluarkan surat dari sanggulnya.

Di depan Rasulullah SAW surat dari Hatib dibacakan. Rasulullah SAW, dengan suara berat mengatakan, “Wahai Hatib! Apa yang telah kamu lakukan?”

Hatib menjawab ,“Wahai Rasulullah! Janganlah Engkau tergesa-gesa menuduh. Sesungguhnya aku seorang yang sangat dekat hubungannya dengan Quraisy dan aku bukankah orang yang terbaik di antara mereka, dan di antara orang yang bersamamu dari Muhâjirîn. Mereka mempunyai kaum kerabat dan mereka ingin menjaga keluarga serta harta mereka. Maka aku adalah seorang yang ingin memelihara kerabatku. Aku tidak melakukan hal ini karena memusuhimu, atau karena kafir dan murtad dari Islam.”

Umar pun bermaksud membunuh Hatib karena pengkhianatannya, tapi Rasulullah SAW memaafkannya. Allah pun menurunkan Surat al-Mumtahanah untuk memperingatkan kaum muslimin.

*****

Allah berfirman, “Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu,
sedang kamu mengetahui.
” (QS. Al-Anfâl: 27)

Allah melarang kaum beriman untuk terjebak dalam pengkhianatan kepada Allah dan Rasul-Nya, sebagaimana dilarang untuk mengkhianati setiap amanah yang diberikan kepada mereka. Jika targetnya adalah menghindari pengkhianatan terbesar kepada Allah dan Rasul-Nya. Maka, Allah membimbing umat ini untuk mengetahui potensi sekaligus menjadi salah satu sebab terjadinya pengkhianatan. Ayat selanjutnya menyebutkan, “Dan ketahuilah, bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan dan sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar.

Penyebutan, harta (amwâl) dan anak-anak (aulâd) setelah warning di atas, tentu memiliki maksud. Agar umat ini berhati-hati dalam berinteraksi dengan keduanya. Keduanya merupakan perhiasan hidup manusia di dunia. Mencintai harta dan anak-anak adalah sesuatu yang sangat natural dan normal. Namun, keduanya berpotensi menjadi hal yang membahayakan jika tidak dididik dan dibiasakan dalam kebaikan. Maka, di saat harta dan anak-anak menjauhkan dari Allah dan Rasul-Nya itulah yang disebut pengkhianatan.

Kisah Hatib di atas, mengisyaratkan bahwa seseorang bisa saja terjebak pengkhianatan secara tak sadar. Kadarnya pun bisa meningkat hingga paling berbahaya, seperti peringatan Allah dalam surah al-Anfâl.

Maka, diperlukan seni mencintai harta dan anak-anak agar tidak menjebak pada pengkhianatan. Anak-anak perlu dididik bahwa harta adalah amanah sekaligus sarana. Keduanya harus berujung dan berpangkal baik. Didapatkan dari cara halal, kemudian dikelola dan disalurkan dengan baik. Anak-anak mesti diyakinkan bahwa yang memberi rizki adalah Allah, sedangkan orang tuanya hanya berusaha menyalurkan kepada anak-anak. Kikir dan sombong perlu dikikis sedemikian rupa, dengan meringankan tangan untuk menyalurkannya ke berbagai proyek-proyek kebaikan. Itulah solusi yang Allah berikan setelah memberikan warning di QS. at-Thaghabun ayat 14-15. Pada ayat ke 16, Allah memberikan solusinya, “Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu dan dengarlah serta taatlah dan berinfaklah yang baik untuk dirimu. Dan barangsiapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung.

Baik dalam surah al-Anfal maupun at-Taghabun Allah memberi solusi pencegahan dalam mencintai anak dan harta, yaitu ketakwaan dan berinfak. Saatnya di rumah-rumah kita ada tabung-tabung solidaritas, khususnya bagi Palestina, kemudian ada tabung infak kemanusiaan lainnya, selain tabungan yang kita biasakan untuk anak-anak belajar berhemat. WalLâhu al-Musta’ân.

 

Catatan Keberkahan 90

Jakarta, 23.02.2018

SAIFUL BAHRI

Anak-Anak Yatim Hebat

Kata “yatim” dalam bentuk single disebut di dalam al-Quran sebanyak 9 kali. Sedangkan kata “yatâmâ” yang berarti plural anak-anak yatim disebut sebanyak 13 kali. Posisi anak yatim sangat dimuliakan dalam al-Quran. Tak sedikit orang-orang hebat yang disebut al-Quran adalah anak-anak yatim. Pemimpin para pecinta anak yatim adalah Nabi Muhammad SAW, yang dulunya merupakan anak yatim, karena beliau tak pernah bertatap muka dengan ayah kandungnya. Tak heran, beliau sangat mencintai anak yatim. Para pengkafil yatim beliau janjikan akan selalu dekat dengannya nanti di surga Allah. Dan siapa yang menghardik dan memusuhi atau berbuat zhalim kepada anak yatim sama saja bermusuhan dengannya juga termasuk satu dari sekian karakter para pendusta agama Allah.

Nabi Isa as. juga anak yatim, karena memang beliau tak pernah memiliki ayah secara biologis. Beliau menjadi tanda kekuasaan penciptaan Allah. Sama halnya Adam as, yang juga tak pernah memiliki orang tua, karena dia diciptakan Allah sebagai manusia pertama yang tak berhubungan dengan ciptaan Allah lainnya. Adam diciptakan dari ketidakadaan.

Maryam, ibu Isa, juga terlahir sebagai anak yatim. Ia disiapkan Allah menjadi pembuka munculnya ayat-ayat dan tanda kekuasaan Allah di masa yang akan datang.

Sedangkan Yusuf as. meski ia memiliki orang tua, tapi masa kecil, remaja hingga dewasanya menjadi yatim. Karena beliau dijauhkan dari ayahnya juga keluarganya.

Nabi Ismail as. putra Nabi Ibrahim, juga menjadi yatim sejak kecilnya, karena dihijrahkan ke tempat yang jauh dari ayahnya. Ia juga hanya beberapa kali saja berjumpa dengan ayahnya.

Anak yatim mungkin sebuah istilah yang seringnya diperuntukkan menggambarkan kondisi seorang anak yang kehilangan ayahnya. Sebenarnya kehilangan ayah tidaklah hanya kehilangan permanen, bisa juga karena banyak hal anak-anak kehilangan ayahnya. Kehadiran fisiknya tak ada, kabarnya tak diketahui, tidak jelas rimbanya. Hal itu lebih menyedihkan jika sang ayah sebenarnya masih berstatus sebagai orang yang ada atau masih hidup.

Di bumi keberkahan Baitul Maqdis, mungkin saat ini bila dipersentasikan jumlah anak-anak yatim sangat banyak. Keyatiman yang terjadi bila diakibatkan sebab-sebab natural, barangkali kondisi seperti ini bisa diantisipasi, baik oleh perorangan atau kelembagaan melalui lembaga-lembaga kemanusiaan. Tapi, seandainya anak-anak yatim itu hadir dan muncul akibat sebuah peristiwa kerusakan atau keburukan yang disebabkan oleh kezhaliman, maka itulah yang harus segera diselesaikan oleh semua manusia yang masih memiliki nurani.

Anak-anak kecil di Gaza dan sebagian besar wilayah Palestina yang tinggal menyisakan beberapa persen saja dari wilayah aslinya, adalah gambaran suram bentuk keyatiman yang memprihatinkan. Mereka bahkan bukan kehilangan ayah tapi juga kakak-kakaknya. Sang ayah dan kakak, sebagian meninggal sebagai korban perang, atau di dalam penjara Zionis Israel tanpa bisa dilacak keberadaannya. Sebagian lagi, diketahui berada di dalam penjara, namun tak bisa ditemui dengan tanpa alasan yang jelas. Sebagian lain, menghilang tanpa kabar. Sebagian berada jauh di suatu tempat, sebagian lagi tidak menentu di tempat-tempat pengungsian, beranak-pinak di pengungsian tanpa memiliki tanah air dan tak pernah bisa kembali untuk menjenguk anak-anaknya yang dulu.

Jika, saja al-Quran menganjurkan umat Islam untuk memperhatikan anak-anak yatim secara umum. Lalu, anak-anak yatim yang sangat menderita akibat kezhaliman di Palestina, sudah semestinya harus diakhiri penderitaan mereka. Belumlagi, anak-anak yatim yang juga berada di balik jeruji besi kezhaliman Israel. Meskipun, faktanya para pejuang yang hebat selalu terlahir sebagai anak-anak kecil. Fakta mencengangkan terjadi justru angka kelahiran tumbuh berkembang di Palestina, dalam keadaan yang sangat sulit.

Wahai orang-orang yang ingin bertetangga dengan Rasulullah SAW, berbuatlah sesuatu untuk anak-anak yatim Baitul Maqdis. Wallahu al-Musta’ân.

 

Catatan Keberkahan 87

Jakarta, 01.02.2018

SAIFUL BAHRI

Persepsi Kemenangan

Sebagian orang mempersepsikan kemenangan dengan kekuasaan yang absolut. Sebagian lagi mempersepsikan kemenangan dengan hegemoni berupa keinginan yang bisa dipaksakan kepada pihak lain. Sebagian lagi mempersepsikan kemenangan dengan mengalahkan, menghinakan serta menindas orang lain. Sebagian lain mempersepsikan kemenangan dengan kekayaan tanpa batas, sehingga –menurutnya– ia sanggup melakukan apa saja dengan kekayaannya.

Sedangkan al-Quran mempersepsikan kemenangan yang diterjemahkan secara literal sebagai “al-fauz” dengan beberapa hal. Ada kalanya kata al-fauz diberi keterangan dengan “al-mubîn” yang berarti kemenangan yang jelas dan nyata. Di lain kesempatan disebutkan dengan keterangan “al-kabîr” yang bermakna kemenangan yang besar. Adapun sifat yang paling banyak disebut di dalam al-Quran adalah kata “al-azhim” yang berarti kemenangan yang agung, menandakan sebuah karunia yang luar biasa.

  1. Kata al-fauz al-mubîn disebut di dalam di dua tempat yaitu di QS. al An’âm: 16 dan al-Jâtsiyah: 30. Dalam dua kesempatan tersebut Allah menjelaskan kemenangan yang nyata dan jelas adalah ketika seseorang diselamatkan dari siksa dan adzab Allah, dan kemudian dimasukkan ke dalam golongan hamba yang diberi rahmat oleh-Nya.
  2. Kata al-fauz al-kabîr disebut hanya sekali yaitu di surah al-Burûj: 11 yang menjelaskan rahmat kemenangan Allah yaitu ketika seseorang diberikan surga Allah yang mengalir di bawahnya berbagai jenis sungai yang jernih dan indah.
  3. Penyebutan sifat terbanyak tentang al-fauz terdapat di beberapa tempat, di antaranya: QS. An-Nisâ’: 12, QS. Al-Mâ’idah: 119, QS. At-Taubah: 72, 89 dan 100, QS. Al-Hadid: 12 dan QS. At-Taghabun: 9). Bahwa seseorang akan benar-benar dikaruniai kemenangan yang hakiki dan kekal adalah pada saat ia berada di dalam surga Allah dan tinggal di sana selama-lamanya, meraih keabadian dalam kebahagiaan. Biasanya al-Quran menggambarkannya dengan kata “khâlidîna fîhâ

Demikianlah, sekilas tentang persepsi kemenangan di dalam al-Quran. Sangat sederhana dan lugas serta ringkas. Hanya saja, untuk meraihnya diperlukan upaya yang tak ringan, serta tak bisa dikerjakan sendirian. Karena harus terlebih dulu menyingkirkan kezhaliman terbesar, yaitu syirik serta aliansi kezhaliman lainnya. Pendustaan terhadap ayat-ayat Allah, kesombongan dan keangkuhan. Termasuk di antaranya kezhaliman yang dilakukan di antara sesama manusia. Karena kezhaliman bukan sekedar menjadi musuh kemanusiaan, tetapi sudah diproklamirkan sebagai musuh Allah. Dalam salah satu hadits qudsi-Nya, Allah berfirman, “Sesungguhnya Aku telah mengharamkan kezhaliman atas diri-Ku…” (al-Hadis).

Maka, jika kita menemukan kezhaliman di bumi Allah, selaiknya kita berusaha menyingkirkannya. Jika tak bisa melakukan perlawanan, maka setidaknya tidak memberikan dukungan kepadanya untuk berkembang, hingga kemudian menindas kemanusiaan. Jika pun ini tak bisa dilakukan, maka menjauhlah dari sumber kezhaliman. Itulah yang akan menyelamatkan dari hancurnya peradaban manusia.

Salah satu bentuk kezhaliman yang nyata di zaman modern adalah penjajahan terhadap kedaulatan suatu bangsa, seperti yang dialami oleh Bangsa Palestina. Maka, mengembalikan kemerdekaan mereka, menjadi tugas kemanusiaan. Jika kita adalah bangsa Indonesia, maka itu adalah menjadi amanah konstitusi. Bila, kita adalah umat Islam, maka itu menjadi amanah menjaga Masjid Suci al-Aqsha. Dan menjadi apapun, semua akan bermuara satu: akhiri kezhaliman yang terjadi di Palestina, terutama di al-Quds dan Jalur Gaza. Sebagai apa dan siapapun, maka penjajahan dan kezhaliman di atas dunia ini harus dilenyapkan, karena bertentangan dengan nasionalisme dan jiwa kebangsaan, bertentangan dengan kemanusiaan, serta nilai-nilai ketuhanan. WalLâhu al-Musta’ân.

 

Catatan Keberkahan 82

Jakarta,23.12.2017

SAIFUL BAHRI

Kartu Biru atau Kartu Merah

Sepanjang tahun 1967-1994 Pemerintah Israel telah mencabut 12 ribu lebih kartu identitas penduduk kota al-Quds (Jerusalem). Akhir tahun 2012, terdapat setidaknya 20 ribu anak-anak di kota ini yang tidak bisa dimasukkan ke dalam Kartu Keluarga orang tuanya.

Terdapat dua jenis kartu bagi penduduk kota al-Quds. Kartu berwarna biru menjelaskan identitas kependudukan asli yang dikeluarkan oleh Departemen Dalam Negeri Israel. Belakangan kartu manual mulai diarahkan untuk diganti dengan e-ktp yang berbasis biometrik. Dalam beberapa rilis berita dikabarkan bahwa kartu tersebut bukanlah kartu identitas permanen, tetapi hanya merupakan kartu izin tinggal selama sepuluh tahun dan harus diperpanjang setelahnya setelah mendapatkan izin dari kementerian. Saat ini hanya terdapat 35 ribu saja penduduk Palestina di al-Quds yang memiliki jenis kartu seperti ini. Satu lagi jenis kartu berwarna hijau, yang dikeluarkan oleh otoritas Palestina. Inibelum beberapa jenis kartu lainnya yang mengatur secara khusus dan detil bagi penduduk kota al-Quds secara ketat. Saat ini terdapat sekitar 315 ribu penduduk al-Quds yang memiliki kartu hijau ini.

Lalu, apa makna klaim sepihak 6 Desember lalu dari Gedung Putih yang mendeklarasikan Jerusalem sebagai Ibukota bagi Israel?

  1. Resolusi internasional yang dikeluarkan PBB terkait situs-situs suci bagi Umat Islam dan kaum Nasrani di Jerusalem menjadi tidak berlaku, karena Israel mempunyai kendali penuh terhadap ibukotanya dan bisa melakukan apa saja.
  2. Israel akan membangun pangkalan militernya di “ibukota” rampasannya. Selain itu kantor kementerian dan kemudian gedung-gedung pemerintahan serta pusat-pusat strategis negara. Kemudian akan memaksa -sedikit demi sedikit- pemindahan kedutaan negara-negara yang memiliki hubungan diplomatik dengan Israel. Tentu hal ini memerlukan wilayah fisik yang luas.
  3. Pemerintah Israel akan semakin leluasa membangun pemukiman dan bangunan-bangunan fisik lainnya di dalam kota al-Quds.
  4. Membatasi kunjungan umat Islam atau siapa saja yang hendak berkunjung ke al-Quds, bahkan bisa melarang siapa saja tanpa alasan yang definitif.
  5. Lebih dari 315 ribu penduduk asli Palestina di kota al-Quds terancam pengusiran dan aset-aset mereka bisa diambil alih kapan saja, dikarenakan mereka memiliki kartu hijau, bukan kartu identitas yang dikeluarkan pemerintah Israel.
  6. Sekitar 35 ribu penduduk Palestina di kota al-Quds hanya memiliki kartu identitas (biru) yang berarti maksimal memiliki izin tinggal hanya sepuluh tahun. Setelahnya, mereka belum tentu diizinkan tinggal kembali di kota al-Quds.
  7. Ribuan anak kecil Palestina yang namanya tidak tercantum di kartu keluarga terancam diusir. Dan tidak mungkin mereka akan keluar dari kota al-Quds sendiri. Setidaknya, salah satu dari keluarganya akan menyertainya jika suatu saat terjadi razia kependudukan.
  8. Situs utama umat Islam, Masjid al-Aqsha terancam dipunahkan dan dirampas identitasnya, secara bertahap. Jika selama ini sudah berhasil membatasi akses masuk bagi orang-orang yang hendak shalat, maka saat ini menjadi sempurna berkuasa penuh mengendalikannya. Dan jika nanti terlihat hanya sedikit saja yang shalat, dikarenakan sulitnya akses memasuki masjid,maka alasan penutupan masjid akan dibuat. Umat Islam terancam kehilangan amanah Allah untuk menjaga masjid suci ini.

Jika saat ini terjadi kemarahan global yang diakibatkan pernyataan sepihak seperti diatas. Maka sangat wajar. Karena kediktatoran sedang dipertontonkan. Sebuah kezhaliman didukung secara terbuka, tanpa rasa malu dan segan. Negara-negara muslim pun tak berkutik. Rekomendasi normatif KTT OKI –tanpa bermaksud mengecilkan- rasanya takkan mampu menghentikan penjajahan terang-terangan yang didukung oleh pihak-pihak yang selama ini mengagungkan hak asasi manusia. Orang-orang yang menganggap suci kebebasan dan kemerdekaan, telah merampas kedaulatan dan kebebasan orang-orang tak berdosa.

Jika, ada marah yang dibolehkan, inilah saatnya marah. Marah yang bermartabat. Kemarahan yang penuh maruah. Sebagaimana, Aisyah meriwayatkan sebuah hadis.

عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ مَا ضَرَبَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ شَيْئًا قَطُّ بِيَدِهِ وَلَا امْرَأَةً وَلَا خَادِمًا إِلَّا أَنْ يُجَاهِدَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَمَا نِيلَ مِنْهُ شَيْءٌ قَطُّ فَيَنْتَقِمَ مِنْ صَاحِبِهِ إِلَّا أَنْ يُنْتَهَكَ شَيْءٌ مِنْ مَحَارِمِ اللَّهِ فَيَنْتَقِمَ لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ

“Rasulullah SAW tak pernah sama sekali memukul sesuatu dengan tangannya, juga tidak pernah memukul wanita (istri), dan juga pembantu(nya). Kecuali saat berjihad di jalan Allah. Dan tidaklah beliau disakiti dengan sesuatu, lalu beliau membalas pelakunya, kecuali jika ada sesuatu di antara hal-hal yang diharamkan Allah dilanggar, maka beliau akan membalas dengan hukuman karena Allah”(HR Muslim no. 2328, Abu Dawud no. 4786, dan Ibnu Majah no. 1984).

Apa yang lebih buruk dari penjajahan, pengusiran, penistaan terhadap masjid suci al-Aqsha?

Sebelum mereka mengeluarkan kartu biru atau menahannya, mengusir pemegang kartu hijau dari al-Quds. Angkatlah dan berilah mereka kartu merah. WalLâhu al-Musta’ân.


Catatan Keberkahan 81

Jakarta, 16.12.2017

SAIFUL BAHRI

Afrika

Dalam Mu’jam al-Buldân disebutkan; kata Afrika diambil dari sebuah nama penguasa negeri Saba’ di Yaman, Ifriqis bin Shaifiy, yang dikalahkan oleh rakyat Ethiopia. Dikejar-kejar dan terlunta-lunta hingga ke Libya, melewati padang pasir dan bertemu dengan kabilah Barbar yang mendiami tanah-tanah subur dan hijau. Nama Afrika mula-mula populer di timur benua ini. Sebagian sejarawan dan penulis Arab, mengambil derivasi nama Afrika dari kata “fu-ri-qa” yang berarti terpisah atau terbagi. Karena secara geografis, tanah Afrika terpisah dari Eropa dan Asia. Afrika terpisah oleh Laut Mediterania yang memisahkannya dengan Eropa serta Laut Merah yang membatasinya dengan Asia. Sebagian kecil -di ujung Mesir- kemudian dibelah sepanjang 160 kilometer dan dinamakan dengan Terusan Suez.

Jika Mesir adalah gerbang Islam di Afrika, maka kabilah Barbar adalah gerbang Islam ke Eropa. Tak mengherankan, jika di sepanjang pesisir utara Afrika dan sebagian wilayah timur, Islam sangat dominan, padahal sebelumnya tak terlihat. Pelahan namun pasti, peradaban Mesir kuno yang identik dengan kemajuan peradaban batu, namun secara ideologis menjadi negeri penyembah banyak dewa dan banyak sebutan untuk Tuhan mereka. Mesir berubah warna. Demikian juga negeri-negeri pesisir utara, Libya, Maroko, Tunisia, Aljazair, Moritania; bahkan kemudian disebut sebagai negara Arab. Penyebutan ini tidaklah didasarkan secara etnologis maupun geografis. Penamaan ini lebih bernuansa ideologis. Islam melekat sebagai identitas, menyatu dengan istilah Arab yang menjadi ciri komunikasi masyarakat muslim saat itu. Warna Islam ini pun tak hanya terjadi di utara dan timur, tapi menyebar hingga ke barat, tengah, sampai ke selatan, meskipun populasi dan persentasi kuantitas yang tak sama.

Negeri yang subur itu, pernah menjadi sasaran penjajahan. Pasca revolusi industri Eropa, negara-negara maju Eropa melakukan aneksasi terhadap negeri-negeri Afrika dan Asia. Mereka menjajah untuk mengeksploitasi sumber daya alam dan memperbudak orang-orangnya. Meski secara fisik penjajahan tersebut sesuai target, namun secara ideologis tak banyak berpengaruh. Pesisir utara Afrika, warna Islam tetap dominan dan Bahasa Arab menjadi bahasa resmi dan komunikasi rakyatnya.

Jika penjajahan fisik pernah dilakukan di masa lalu, maka di era revolusi telekomunikasi dan pasca gelombang ketiga –meminjam istilah third wave-nya Alvin Tofler- penjajahan fisik dilakukan sebagai finishing penjajahan mental. Sebagian negara-negara Afrika kini lebih banyak menjadi proxy dari kepentingan negara-negara besar. Sebagaimana hal yang sama terjadi di Asia, termasuk di Indonesia.

Tak heran, jika Zionis Israel membidik Afrika. Mereka hendak menancapkan pengaruh. Dimulai dari tengah, karena merasa sudah menggenggam jalur masuk Afrika, Mesir sebagai salah satu pintunya. Dengan jargon normalisasi Israel-Afrika, mereka hendak melaksanakan KTT di Togo Oktober ini. Afrika, masih memiliki nurani dan solidaritas kepada Palestina. Arus normalisasi ini terblok dan batal dilaksanakan. Headline media masa dunia memberitakan pengunduran waktu yang belum definitif. Tentunya, warga Afrika tetap berharap normalisasi ini tak dideklarasikan. Rakyat Afrika tahu, bahwa penjajahan Israel terhadap Palestina tidak bisa dibenarkan. Mereka tahu, sebagian pejabat atau pengusaha dan orang-orang kaya di benua ini bermain belakang dan mengambil keuntungan dari normalisasi ini. Mereka yang sudah menjalin hubungan tentu ingin pengesahan terhadap apa yang dilakukan. Alhamdulillah, nurani mayoritas rakyatnya menolaknya. Karena, memang penjajahan tidaklah bisa dibenarkan secara kemanusiaan. Apalagi jika manusia tersebut adalah muslim, maka setidaknya ada dua simpul yang menjadikannya menolak penjajahan Israel, yaitu simpul kemanusiaan dan simpul ideologis. Semoga rakyat Afrika dan pemerintah negeri-negerinya konsisten menolak berhubungan dengan penjajah Israel. WalLâhu al-Musta’ân.


Catatan Keberkahan
69

Jakarta, 18.09.2017

SAIFUL BAHRI