Benteng di Hari Akhir


Rasulullah SAW bersabda:

Benteng kaum muslimin di saat perang dahsyat (al-malhamah) adalah Ghouta,
di sebelah kota yang dikenal dengan Damaskus

(HR. Abu Dawud, Ahmad dan Ibnu Asakir dari sahabat Abu Darda’ ra)

Peristiwa hancurnya dunia yang sering disebut hari akhir atau kiamat adalah misteri yang tak bisa diungkap oleh siapapun. Nabi Saw tidak pernah secara eksplisit memberitahu kapan peristiwa dahsyat tersebut terjadi. Tak sedikit yang merinci ciri-ciri hari akhir yang disabdakan oleh beliau dalam banyak kesempatan. Sebagian pihak ada yang menyusunnya menjadi sebuah lini masa menuju akhir kehidupan dunia. Tapi, susunan lini masa tersebut tak bisa dipastikan kebenarannya, karena sabda Nabi Saw ibarat puzzle yang  tak tersusun, perlu penelitian yang super cermat untuk menyusunnya. Namun, pada akhirnya akan mentok pada sebuah tabir besar bernama misteri. Tak ada yang mengetahui kepastiannya.

Di antara ciri-ciri hari akhir adalah terjadinya perang dahsyat di Bumi Syam (malhamah kubrâ). Hadis di atas, menyebut Ghouta yang nanti menjadi salah satu benteng di hari akhir bagi umat Islam. Namun, sayangnya tragedi kemanusiaan yang memilukan sedang terjadi di sana. Nyawa manusia sangat tak dihargai oleh sebuah tindakan tak berperikemanusiaan dan kezhaliman kembali dipertontonkan. Dunia tak sanggup berbuat apa-apa. Sebagian masih ada yang berteriak. Yang lainnya diam membisu tak peduli. Gencatan senjata yang diputuskan oleh lembaga otoritatif dunia, PBB pun tak diindahkan.

Itu lah Ghouta modern, melengkapi daftar lara umat Islam saat ini. Tak sedikit yang mengaitkan kota tersebut dengan hadis Nabi yang disebut di awal tulisan ini. Bisa jadi hal tersebut tidak salah, namun, bisa jadi sebenarnya Ghouta adalah wilayah yang lebih luas.

Ghouta adalah istilah untuk menyebut beberapa provinsi. Ia merupakan kawasan bio-geographis, suatu kawasan cincin hijau agrikultur yang mengelilingi Damaskus, dari bagian timur laut hingga barat daya. Dikenal sebagai kawasan subur. Banyak hasil pertanian berasal dari daerah ini: gandum, cherry, plum, aprikot, dan buah-buahan lokal. Ghouta dibagi menjadi Ghouta Timur dan Barat. Di dalamnya terdiri dari beberapa kota kecil.

Derita kaum muslimin di Syam, khususnya di Suriah yang dalam tujuh tahun terakhir menjadi tragedi kemanusiaan terbesar yang mengakibatkan hilangnya nyawa manusia tak terhitung, dan jutaan lainnya terusir. Belum lagi jika ditambah poros masalah di jantung kota Syam, Baitul Maqdis dan Palestina, tentu akan semakin membuat umat semakin merasa terpuruk.

Sabda Nabi Saw di atas justru menggambarkan kondisi sebaliknya. Kata benteng, adalah refleksi kekokohan dan mengisyaratkan kemenangan serta penaklukan. Dalam riwayat lain yang berasal dari Auf bin Malik, digambarkan tentang kemenangan yang akan diraih kaum muslimin.

Di lain sisi, benteng bisa mengindikasikan pusat ekspansi dan perencanaan strategis. Dengan arus migrasi (pengungsian) yang besar, memang bisa menjadi masalah kemanusiaan yang besar, khususnya di Eropa. Namun, di lain pihak mereka sekaligus menjadi salah satu penambah daya sebar Islam ke Eropa makin meningkat. Masalah kemanusiaan yang ditimbulkan tak sedikit, namun bukan berarti tidak mendatangkan kebaikan.

Meski -bisa jadi- tak ada hubungan langsung dengan kasus di atas, tak ada salahnya dihubungkan sebagai sebuah berita dan kabar baik dan pemupuk optimisme. Simaklah, cerita tentang Premiere League di Inggris. Kasta tertinggi sepak bola di negeri Ratu Elizabeth tersebut mempertemukan sejumlah pertandingan antar 20 klub sepak bola. Di dalamnya terdapat banyak pemain muslim yang ikut berlaga. Sebanyak 18 klub dari total 20 klub selalu terdapat setidaknya satu atau dua pemain muslim dalam satu klub. Bahkan Arsenal, menjadi klub penampung pemain muslim terbanyak, terdapat setidaknya lima orang di sana.

Karenanya, saat pagi menyingsing terdengar sumpah Allah, “dan demi subuh ketika bernafas (mulai menyingsing)” (QS. at-Takwir: 18). Itu adalah nafas-nafas baru yang Allah berikan kepada setiap kita. Untuk memupuk optimisme mempertahankan idealisme kebaikan dan menyebarkan nilai serta spiritnya, sekaligus peluang untuk mengakhiri segala kezhaliman dan keburukan dengan taubat. Termasuk mencegah dan melawan setiap kezhaliman yang nampak di bumi Allah. WalLâhu al-Musta’ân.

 

Catatan Keberkahan 91

Jakarta, 01.03.2018

SAIFUL BAHRI

 

Note: Hadis Riwayat Abu Dawud, Ahmad dan Ibnu Asakir di awal tulisan ini dishahihkan oleh al-Hakim dan disepakati oleh Adz-Dzahabi. Sebagian ulama mendhaifkan hadis ini, seperti tertera dalam tautan berikut: http://www.islamsyria.com/portal/consult/show/585

Relativitas Waktu

Karunia waktu adalah salah satu nikmat yang sering dilalaikan manusia. Padahal Allah tak sedikit bersumpah dengan nama dan satuan waktu, juga menyebutnya dalam al-Quran. Waktu-waktu yang disebut seperti malam, siang, pagi dan petang adalah pertanda keniscayaan manusia dibatasi oleh waktu. Sementara satuan waktu, seperti tujuh hari atau malam, sepuluh hari, tiga puluh atau empat puluh hari, bilangan bulan, tahun dan seterusnya adalah pertanda Allah memperhatikan nominal-nominal tersebut, namun tak berarti mengkultuskan. Karena hakikat waktu bukanlah pada bilangan atau angka, namun pada apa yang terjadi atau diperbuat manusia.

Nilai manusia tak selalu diukur dari usia. Seseorang berusia 40 tahun belum tentu lebih baik dari yang berusia 30 tahun. Jika ukurannya angka, maka umat Nabi Muhammad SAW kalah kualitas dengan umat Nabi Nuh ‘alaihissalam. Demikian halnya kuantitas amal, tidak pula menjadi barometer nilai manusia. Karena yang dinilai Allah adalah kualitasnya.

Sebaliknya, jika yang menjadi patokan adalah standar modern bisa jadi Nabi Nuh dinilai sebagai nabi yang gagal karena dengan waktu panjang hanya sedikit saja pengikutnya. (baca: Angka-Angka dan Batas Kemampuan)

Mari belajar dari kemuliaan yang Allah sematkan lailatul qadar. Malam itu nominalnya satu, tapi nilainya mengalahkan seribu bulan. Tingkat kelebihan dan keistimewaannya juga limitless (tanpa batas). Hanya Allah saja yang mengetahui kelebihan kuailtas tersebut.

Di zaman sekarang diperlukan pengetahuan yang baik tentang efektivitas waktu dan kegiatan. Banjir informasi di era digital menjadikan internet menjadi kebutuhan primer manusia modern. Berinteraksi dengan mesin menjadi keniscayaan. Jika tak punya modal pemahaman baik tentang literasi media, maka ia akan ditenggelamkan oleh teknologi modern.

Sebagian orang waktunya habis untuk mengumpulkan materi demi menghidupi diri dan keluarganya. Sebagian muda habis waktu di depan gadgetnya. Sebagian lagi dihabiskan dengan permainan-permainan yang melenakan. Sebagian yang memahami, bahwa pertempuran zaman modern berbentuk proxy (jarak jauh) dan menggunakan media, menjadikannya meladeni semua isi media; terutama media sosial. Sehingga ia kehabisan waktu dan tidak fokus.

Orang-orang yang cerdas adalah yang mampu fokus. Nabi Muhammad SAW mengajarkan melatih kecerdasan sebagai “al-kayyis” yaitu yang mengetahui dan menyiapkan kehidupan setelah mati. Hanya sedikit orang yang membayangkan dan menyiapkan kehidupan setelah matinya. Sebagian besar manusia berkhayal tentang kehidupan dunianya dan melupakan kehidupan setelahnya. Andai semua khayalannya bisa terwujud, maka kebanyakan manusia hanya berkhayal hidup di dunia saja. Itulah jebakan hidup matrealisme dan hedonisme.

Jika dzikir istighfar ada waktu-waktu istimewa, dan membaca al-Quran juga demikian, maka perlu menyusun strategi agar usia kita yang tak banyak ini lebih bermanfaat. Agar waktu satu hari kita bisa bernilai lebih baik dari puluhan, ratusan atau ribuan hari manusia lainnya, maka kitalah yang perlu fokus dan menyusun prioritasnya. Kita perlu mempartisi waktu kita. Namun, membagi bukan untuk memisah-misahkan satu dengan lainnya. Karena pada hakikatnya, hidup dan mati seseorang bisa dipersembahkan semuanya untuk beribadah kepadaAllah SWT. Demikian halnya saat kita menyaksikan kezhaliman terjadi di mana-mana. Maka perlu mulai dan fokus dari sumbernya. Dari kezhaliman global, tapi aksinya dimulai dari individu dan keluarga dekat.

Keterbatasan waktu kita ini juga sebaiknya tak membuat diri ini terpancing untuk banyak berkomentar dan terlalu memikirkan komentar orang di sekitar kita. Berbuatlah, maka Allah akan menyaksikannya. Berbuatlah kebaikan, dan jangan remehkan sekecil apapun. Jadikan waktu ini penuh berkah, dengan senyuman dan tebarkan optimisme. Bisa jadi, hal tersebutlah yang akan meruntuhkan kezhaliman yang makin merajalela dan ditakuti oleh orang yang lemah imannya. WalLâhu al-Musta’ân.

 

Catatan Keberkahan 83

Jakarta, 08.01.2018

SAIFUL BAHRI