Memanusiakan dan Memerdekakan Manusia


Setiap bulan Agustus, Bangsa Indonesia memperingati hari kemerdekaannya. Kemerdekaan yang berdaulat yang sudah seharusnya diraih oleh sebuah bangsa, bahkan oleh setiap manusia yang terlahir di bumi ini. Manusia terlahir dengan fitrah kemanusiaan dan kemerdekaannya.

Sebagai manusia, seseorang adalah pengemban amanah Tuhannya untuk memakmurkan bumi-Nya sesuai aturan dan ajaran-Nya. Sebagai orang merdeka, ia terbebaskan dari belenggu apapun dan siapapun. Karena ia hanya boleh menghamba kepada satu Dzat saja, yaitu Dzat yang Maha Kuasa yang maha mengaruniai segala kemerdekaan yang dinikmatinya.

Manusia terlahir secara equal, ia diberi mandat yang sama oleh Allah sebagai khalifah di bumi. Ia berpotensi menjadi manusia terbaik, sekaligus berpotensi gagal meraih peluang kebaikan tersebut. Ia lah yang memutuskan untuk memilih jalan kebaikan yang dibentangkan Allah setiap saat kepada semua manusia yang terlahir.

Karena terlahir merdeka, maka misi Islam pun adalah memerdekakan manusia, agar tetap merdeka dan terbebas dari perbudakan apa saja dan terhindarkan dari diperbudak oleh siapa saja. Karena itu hal-hal yang menyebabkan terbelenggunya kebebasan dan menghalangi kemerdekaan ini sering dibahasakan al-Quran dengan kegelapan, kesesatan, penghalang yang disebut dalam bentuk plural dengan bahasa “azh-zhulumât” sedangkan hal protektif (pencegahan) ataupun yang bersifat menyelesaikan (solutif) disebut secara single yaitu “an-nûr”. Susunan (مِّنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ), dengan bentuk susunan seperti ini disebut tujuh kali. (QS. Al-Baqarah: 257, Al-Maidah: 16, Ibrahim: 1 dan 5, Al-Ahzab: 43, Al-Hadid: 9 dan At-Talaq: 11)

Siapapun umat Islam ia memiliki utama membebaskan dan memerdekakan dirinya dari berbagai macam perbudakan seperti materi, popularitas, harta, wanita, kekuasaan dan sebagainya. Demikian halnya ia pun harus bisa merdeka dalam bersikap dan tidak dibawah pengaruh serta menyembah siapapun dari selain Allah; baik yang ada dan terlihat kasat mata maupun  yang tak terlihat dan ghaib. Ini esensi nilai tauhid seorang muslim yang mendeklarasikan keesaan Allah, menuhankan-Nya semata serta bersedia mengikuti ajaran-ajaran yang dibawa oleh utusan-Nya, Nabi Muhammad saw.

Di samping itu ia pun berkewajiban memerdekakan sesamanya dari perbudakan sesama manusia ataupun yang lainnya. Ia bawa dengan baik agar mengenal Tuhannya dengan benar sehingga jauh dari kesyirikan materi dan non materi.

Misi memanusiakan dan memerdekaan manusia inilah yang menjadi starting poin untuk meraih prestasi, baik di dunia maupun di kehidupan masa datang di akhirat, berupa keabadiaan dalam kebahagiaan.

Seorang manusia yang benar-benar merdeka sebagai manusia, adalah orang yang bebas menentukan pilihannya, yaitu mengerahkan segala potensi dirinya untuk menjemput berbagai peluang kebaikan yang Allah tunjukkan. Ia terbebas dari diperbudak nafsunya, manusia ataupun makhluk lainnya yang adalah ciptaan Allah di dunia ini. Ia juga sebagai manusia, yang takkan luput dari kesalahan dan kekhilafan. Namun, tiada kesalahan dan kekhilafan yang tak bisa diperbaiki. Nabi Adam alaihissalam adalah contoh terbaik bagaimana bangkit meraih prestasi dan tak terpuruk dengan kesalahan.

Dan salah satu upaya terbaik mewujudkan kemanusiaan dan kemerdekaan manusia adalah dengan membantu manusia lain atau bangsa lain dalam meraih kemerdekaan yang sesungguhnya dengan makna yang tersebut di atas. Termasuk, menolong bangsa yang sedang terbelenggu oleh kezhaliman dan penjajahan. Membantu merealisasikan kemerdekaan dan kedaulatan bangsa Palestina dan terbebas dari belenggu dan cengkraman penjajahan Zionis Israel.

Berharap, pada Dzat yang selalu memerdekakan hamba-Nya, agar tiada lagi penjajahan dan perbudakan di atas bumi ini. WalLâhu al-Musta’ân.

Catatan Keberkahan 65

Jakarta, 20.08.2017

SAIFUL BAHRI   

*) sebuah bingkisan kemerdekaan RI dan harapan optimis untuk kemerdekaan Palestina

Iklan

MIMPI-MIMPI SEDERHANA

Saiful Bahri

bahagia-itu-sederhana

Barangsiapa yang di pagi hari ia aman dan nyaman jiwanya, sehat badannya, ia memiliki sarapan (makanan) di harinya, maka seolah-olah ia telah diberikan dunia beserta seluruh isinya

(HR. Bukhariy dalam al-Adab al-Mufradnya, dan At-Tirmidzi dalam Sunan-nya, sahabat Ubaidillah bin Mihshan meriwayatkan hadis dari Nabi Muhammad SAW.)

«من أصبح آمناً في سربه معافا في بدنه عنده قوت يومه فكأنما حيزت له الدنيا بحذافيرها»

Bahagia itu sederhana. Semuanya orang berpeluang untuk berbahagia. Meskipun, kesederhanaan ini pada akhirnya menjadi lebih rumit karena prespektif orang tentang kebahagiaan kemudian menjadi lebih rumit dan sulit. Terutama ketika standar matrealistik dan gaya hidup hedonis yang dianut oleh tidak sedikit masyarakat modern.

Menilik dari hadis di atas, ternyata titik utama dan kunci mencapai kebahagian di setiap pagi adalah sikap hidup manusia. Kesyukuran adalah modal utama meraihnya.

Dalam kehidupan harian, tak jarang kita menyaksikan seorang lelaki yang berpakaian lusuh, lumpur-lumpur kering menempel di badannya. Nampak, ia baru saja melakukan pekerjaan penggalian. Ia tidur dengan terlelap di atas rerumputan, sengatan sinar matahari tak mengusiknya sama sekali.

Pemandangan serupa bisa ditemukan di pematang sawah, saat beberapa orang membuka rantang berisi makanan sederhana yang dikirimkan oleh keluarga. Berteduh menikmati makan siang, dengan lahapnya.

Nelayan yang mempertaruhkan nyawanya di tengah ganasnya lautan, nampak berseri-seri ketika jerih payahnya berbuah manis. Ikan hasil tangkapannya terjual habis, ia bisa membawa oleh-oleh sederhana untuk keluarganya.

Ada banyak kisah yang akan kita jumpai memberikan gambaran sederhana tentang makna kebahagiaan. Al-Quds Channel memiliki program rutin tahunan mengisahkan kisah-kisah inspiratif tentang makna kebahagiaan yang sangat sederhana.

Program acara di al-Quds Channel bernama Ahlâm Basîthah (Mimpi-mimpi Sederhana), yang kini akan memasuki serial ke-9 adalah sebuah program acara yang menampilkan dan sekaligus membuktikan bahwa untuk membahagiakan seseorang itu tidak sulit. Sangat mudah.

Dalam acara tersebut dijelaskan bahwa bantuan kemanusiaan dari berbagai lembaga kemanusiaan disalurkan kepada keluarga korban perang di Gaza.

Ada seorang lelaki tua penjual sayur-sayuran yang karena perang ia kehilangan kendaraan yang biasa ia gunakan untuk menjual sayur. Suatu ketika seorang lelaki, host acara Ahlâm Basîthah menawarkan jasa pengangkutan sayur kepadanya, ia diminta menyetir sebuah kendaraan sederhana seperti bajai untuk di antar ke sebuah kios. Kemudian ia ditanya, minta upah berapa. Keluar sebuah nominal yang sangat kecil. Itu sudah cukup membuatnya bahagia. Lelaki tersebut memberikan kejutan kepadanya. Ia memberi upah lebih kemudian ia menghadiahkan bajai tersebut kepadanya, ditambah sebuah kios kecil yang sudah disewa selama satu tahun.

Ada beberapa butir air mata bening keluar dari pojok-pojok mata lelaki tua tersebut. Pipinya yang keriput dibasahi air mata bahagia. Ia bersujud syukur, memuji Allah yang memberinya segala hal yang diimpikannya. Bukankah sederhana meraih kebahagiaan itu? Sesederhana membahagiakan orang yang memiliki persepsi kebahagiaan sederhana.

Ada seorang perempuan tua yang rumahnya hancur karena serangan Israel beberapa waktu lalu. Ia dan suaminya serta beberapa anaknya menghuni sebuah rumah yang tak pernah utuh tersebut. Sang ibu tak pernah berharap atau bermimpi rumahnya kembali utuh. Karena ada banyak keluarga yang mengalami nasib serupa. Yang ia impikan adalah hadirnya sebuha mesin cuci yang meringankan tumpukan cuciannya yang banyak. Tim dari al-Quds channel memberikan mesin cuci. Raut bahagia terpancatr dari wajah perempuan paruh baya tersebut. Rumah mereka pun dibedah dan diperbaiki. Mereka bisa berbahagia dengan sebuah aksi sederhana.

Cerita lain mengisahkan tentang seorang pemuda yang menjadi tumpuan keluarganya sepeninggal ayahnya. Pemuda ini hanya menjual beberapa teko teh panas yang dijualnya di sepanjang pantai di Gaza. Kebahagiaannya adalah ketika ia kembali dengan beberapa uang yang bisa diberikan kepada ibunya. Host acara Ahlâm Basîthah datang dengan sebuah kendaraan kecil dengan kompor gas kecil dan perlengkapan masak sederhana. Pemuda tersebut selain menjual minuman hangat bisa menjual burger daging dan makanan-makanan ringan. Senyumnya melebar. Iya tak sampai bermimpi seperti itu. Tapi Allah memberinya lebih banyak dari yang dibayangkannya.

Ternyata kebahagiaan itu sederhana. Membahagiakan orang juga bukan sesuatu yang sulit. Bahkan tersenyum adalah salah satu sedekah termudah.

Tebarkan optimisme kemenangan dan kemerdekaan kepada bangsa Palestina yang terampas kebebasannya. Kembalikan senyum-senyum keceriaan. Allah akan membahagiakan orang yang senantiasa berusaha membahagiakan orang. Allâhu al-Musta’ân.

 

Catatan Keberkahan 42

Jakarta, 09.02.2017