Kebaikan yang Mengendap

Ketika seseorang hendak menikmati secangkir teh manis, ia akan menyiapkan air mendidih. Kemudian ia menyeduh teh sesuai selera. Dan terakhir, dia akan mengambil sendok untuk menuangkan gula ke dalam gelas. Mungkin satu atau dua sendok, satu atau dua blok gula batu.

Cobalah rasakan, apakah air panas yang bercampur teh tersebut terasa manis? Rasanya tawar atau bahkan mungkin pahit. Padahal sudah ada gula di dalamnya. Hal tersebut karena gula yang berada di dalam gelas tersebut mengendap dan belum diaduk serta digerakkan hingga larut dalam air dan kemudian mengubah rasa menjadi manis sesuai keinginan orang yang membuatnya.

Analog di atas adalah realitas kehidupan sehari-hari. Setiap muslim dan juga manusia pasti memiliki potensi kebaikan yang terpendam. Lalu mengapa saat ini kejahatan, keburukan, dan kezhaliman terjadi di mana-mana? Hal tersebut bukan karena jumlah keburukan lebih banyak. Namun, lebih karena orang-orang baik yang diam. Kebaikan menjadi mengendap di dasar-dasar peradaban. Sementara yang muncul ke permukaan adalah keburukan, kejahatan, penindasan, kezhaliman, ketimpangan sosial.

Agar kebaikan seperti gula yang mengubah rasa, ia harus digerakkan. Ketika sudah mewarnai, wujudnya pun tak terlihat. Karena ia menyatu bersama air. Kekuatan mengubah ini mustahil terjadi tanpa adanya gerakan. Orang-orang baik yang jumlahnya sangat banyak tidaklah berarti jika diam di saat kezhaliman dan keburukan nampak di mana-mana.

Sepekan ini dunia dipertontonkan sebuah penistaan terhadap Masjid al-Aqsha. Rezim Zionis Israel menutup akses masuk ke masjid selama beberapa hari. Dan kemudian 16/7 memasang electronic gate di beberapa akses pintu masuk.

Jika dianalogikan, kita memiliki rumah sendiri, kemudian datang orang asing. Tiba-tiba ia memasang electronic gate di depan rumah kita. Alasan keamanan atau reasoning apapun menjadi sangat tak relevan. Ini adalah bentuk penistaan dan penjajahan yang sesungguhnya. Sudah sepekan berjalan, pemerintah zionis menulikan telinga dan menutup mata terhadap aksi protes yang didengungkan dari berbagai penjuru dunia. Bahkan, Jumat kedua pasca penutupan dan pembatasan akses ini terjadi bentrokan dan menelan korban jiwa.

Masalah yang sesungguhnya bukanlah pada diperbolehkan shalat di dalam Masjid al-Aqsha dengan pembatasan sepihak dari Israel, namun, pemasangan electronic gate adalah bentuk penistaan yang tak bisa dibenarkan.

Beberapa waktu lalu, negeri ini sempat dihebohkan oleh rencana pemblokiran salah satu media sosial yang populer. Protes dan kritikan tajam terdengar di mana-mana. Saat ini, Masjid al-Aqsha sudah benar-benar diblokir, diblokade dan dipersulit akses masuknya bagi umat Islam. Di mana suara para pejuang HAM? Suara para pembela kebenaran? Para aktivis kebebasan dan kemanusiaan?

Masjid al-Aqsha adalah amanah Allah. Karenanya, Allah transitkan Rasulullah saw ke Masjid al-Aqsha sebelum beliau ke sidratul muntaha dan kemudian menemui Allah untuk menerima titah dari-Nya. Amanah yang beliau teruskan kepada umatnya.

Mari bergerak, bagaikan air yang mengalir. Meskipun kecil, ia suci dan menyucikan. Tapi lihatlah air yang menggenang di suatu tempat. Ia kemudian bisa berubah menjadi air yang mutanajjis. Air tersebut menjadi najis bukan karena najisnya banyak, namun karena airnya tidak bergerak. Jika umat ini hendak mewarnai peradaban dan memimpin kembali, maka saatnya bergerak secara dinamis. Bergeraklah, dan kejahatan akan menyingkir, keburukan akan sirna, serta kezhaliman akan binasa. Karena bukan kita yang menghilangkannya. Tugas kita bergerak menjemput takdir. Dan Allah telah menyiapkan takdir kemenangan yang mulia. Dzat yang menewaskan Namrud dengan seekor nyamuk adalah Dzat yang juga menenggelamkan Fir’aun, membinasakan Jalut dengan ayunan batu kecil, juga menghinakan Abu Jahal dengan kematian di tangan dua bocah kecil. Ibrahim, Musa, Dawud, Mu’adz dan Muawidz hanyalah hamba-Nya yang membawa takdir kemenangan.

Catatan Keberkahan 61

Jakarta, 22.07.2017

SAIFUL BAHRI

Seminar Aqsa 2 Malaysia

BEBASKANLAH DENGAN CINTA

DSC01998

Dr. Saiful Bahri, M.A, Ketua Asia Pacific Community for Palestine kembali mendapat undangan untuk mengisi seminar tematik tentang Masjid al-Aqsha. Kali ini negeri jiran Malaysia yang berhajat mengadakan seminar tersebut. PACE (Palestine Centre of Excellence) bekerja sama dengan Aqsa Syarif dan Sahabat Aqsa Universiti Kebangsaan Malaysia menggelar acara tersebut dengan tajuk besar SEMINAR AQSA 2, Ke Arah Pembebasan Baitul Maqdis.

Acara ini diadakan di Universitas Kebangsaan Malaysia, Selangor pada hari Sabtu, 27 September 2014. Dimulai pada pukul 09.30 pagi dengan keynote speech oleh Dr. Aminurrasyid Yatiban, dosen pada Institute for Excellence for Islamicjerussalem Studies (IEIJS) di Universiti Utara Malaysia. Pemaparan yang lugas dan detil dari alumni Ph.D Aberdeen Univetrsity, UK ini mengundang decak kagum para peserta karena luasnya wawasan keilmuwan tentang Baitul Makdis yang menjadi spesialisasinya sejak mengambil program magister di Inggris. Beliau meneruskan inisiatif para pendahulunya di Inggris yang mempopulerkan terminologi Islamicjerussalem untuk menerjemahkan kata Baitul Makdis dalam berbagai artikel di berbagai jurnal internasional yang terbit di Inggris juga dalam riset-riset yang teruji secara ilmiah dan mendapatkan respon yang cukup bagus dari para akademisi. Meskipun terminologi ini pun masih debatable karena akan mengundang munculnya cristianjerussalem atau jewsjerussalem. Baitul Makdis sendiri adalah istilah yang dipakai dalam hadits yang berkaitan dengan Syam. Kemudian beliau mengurai penamaan istilah West Bank (Tepi Barat) padahal posisi dan letak geografisnya ada di sebelah timur Palestina. Lalu apa kaitannya dengan East Bank di Jordania. Apa national interest Jordania terhadap Tepi Barat.

Tampil sebagai Pembicara Utama Pertama, Dr. Saiful Bahri, M.A yang juga Wakil Ketua KSB-MUI Pusat mengurai sedikit tentang landmark dan sejarah Masjid al-Aqsha sebagai entry point menjelaskan bahaya penistaan zionisme internasional yang teringkas dalam sebelas poin. Dari penggalian terowongan, perampasan lahan dan pengusiran warga, perlakuan tidak manusiawi kepada jamaah shalat di masjid al-Aqsha berupa kekerasan fisik dan pelarangan bagi para pemuda, program wisata, tingginya pungutan pajak, perusakan fisik masjid, intervensi pengelolaan, dan yang utama adalah rasionalisasi semua yang mereka lakukan dari sebuah mitos Solomon Temple yang masih debatable.

Poin penting lainnya yang dipaparkan adalah bahwa Gaza dengan rangkaian agresi militer, kemudian blokade selama delapan tahun dan berbagai tindakan tidak manusiawi lainnya adalah korban kezhaliman dan bola panas untuk dua kepentingan Israel. Secara internal, sebagai salah satu percobaan dan jualan politik para elit Israel. Dan secara eksternal, memecah suara Palestina terutama antara faksi perlawanan di Gaza dan faksi politik di Tepi Barat. Diharapkan dengan serangan yang bertubi-tubi ini, kecaman datang mengalir, bantuan kemanusiaan dan solidaritas internasional tergalang. Tapi di waktu yang sama, proyek utama zionis tetap berlangsung. Pemukiman ilegal dan proyek penguasaan Jerussalem (Al-Quds) secara total. Dan khususnya adalah kompleks Masjid al-Aqsha. Israel tanpa Jerussalem menjadi tak bermakna, Israel Raya tanpa membuktikan mitos Solomon Temple adalah mimpi yang tak nyata.

Perbincangan hangat berlanjut, ketika sesi break dilakukan. Sambil menikmati santapan ringan, para pembicara melanjutkan diskusi tentang terminology Islamicjerussalem dan beberapa isu terkini di Timur Tengah sampai pada pembicaraan referendum Skotlandia.

Sesi berikutnya adalah giliran Palestine Centre for Excellence (PACE) yang mewakili pihak penyelenggara, Hussaini Abu Khalid salah satu peneliti pada PACE memaparkan makalahnya tentang gerakan perlawanan Palestina yang diprakarsai oleh HAMAS.

Setelah istirahat pendek untuk makan siang dan melaksanakan shalat zhuhur, acara seminar sehari ini berlanjut ke pararel session. Pada sesi ini menghadirkan para panelis.

Prof Madya Dr. Mohd Afandi Saleh, wakil dekan Fakultas Hukum di Universiti Sultan Zainal Abidin , Prof Madya Dr. Hafidzi Mohd Noor, dosen di Universiti Putra Malaysia dan kembali menghadirkan Dr. Saiful Bahri, M.A dosen pascasarjana di Universitas Muhammadiyah Jakarta. Diskusi Panel ini dimoderatori oleh Mohd Taufik Hussin Mantan Ketua ISN (Ikram Siswa Nasional) Magister Islamic Banking yang bekerja sebagai Auditor Syariahpada CIMB.

Diskusi panel yang berlangsung dalam dua putaran ini membicarakan berbagai tema, dari sejak mitos-mitos penaklukan Baitul Maqdis sampai pada perpolitikan modern Timur Tengah.

Dr. Saiful yang ditanya pertama kali tentang proses dan cerita penaklukan Baitul Makdis menjelaskan dengan singkat strategi Umar dan perjanjian damai di Al-Quds. Pemaparan ini sekaligus mementahkan pertanyaan yang dilontarkan oleh moderator.

“Kita tak perlu memiliki Superman atau Spiderman untuk membebaskan Baitul Maqdis dari penjajahan dan penistaan. Kita memiliki Umar dan Shalahuddin. Mereka bukan mitos, tapi berwujud nyata sebagai manusia seperti kita” tegasnya, “Kita hanya perlu menelusuri faktor dan rahasia kesuksesan mereka. Tiru, lakukan dengan sidikit modifikasi sesuai zamannya”

Sedangkan Dr. Hafidzi yang juga ketua umum Aqsa Syarif menjawab pertanyaan tentang peta perlawanan Palestina dan apakah ini merupakan reaksi terhadap kondisi terkini. Dan Dr. Afandi sebagai dosen hukum dan hubungan internasional berbicara tentang Jordania dan hubungan bilateral dengan Israel.

Pada putaran kedua diskusi semakin seru setelah mendapat respon dari audiens yang menyorot peta politik kawasan Asia Tenggara utamanya serta Timur Tengah dan respon yang berbeda terhadap masalah Palestina.

Pada putaran kedua ini diskusi menghangat ketika para panelis berbeda pandangan terhadap beberapa masalah.

Dr. Hafidzi mengemukakan perlunya belajar sejarah perang atau setidaknya bisa mengambil pelajaran dari filem peperangan modern. Amerika Serikat yang kalah di Afganistan menyelamatkan airmuka dengan menggunakan exit strategy, padahal mereka kalah dan ingin keluar dengan kepala tegak. Hal yang sama dilakukan ketika di Vietnam. Maka strategi dan penguatan para pejuang perlawanan ini perlu dikristalisasi dengan banyak belajar sejarah perang. “Saya tak suka membaca novel-novel cinta” tegasnya.

Dr. Saiful menimpali justru dalam setiap episode perang selalu menghadirkan kisah cinta yang dahsyat. Sebut saja Shafiyah binti Huyay yang kehilangan dua orang penting terdekatnya, suaminya Kinanah bin Rabi’ pimpinan Yahudi Khaibar dan ayahnya Huyay bin Akhthab tokoh penting Yahudi Madinah. Keduanya terbunuh dalam peperangan melawan tentara muslim. Tapi cahaya Allah menjadi dominan dalam dada Shafiyah, ia menerima Islam dan sekaligus kemudian menjadi istri Rasulullah SAW. Kecurigaan umat Islam bahwa ia merencanakan balas dendam tak terbukti dan bahkan sebaliknya, ia membela Islam dengan pembelaan yang luar biasa.

Kisah heroik Shalahuddin al-Ayyubi tak bisa dilepaskan dari seorang perempuan Ismah Khotun yang merupakan Janda mendiang Sultan Nuruddin Zanky. Ia menerima pinangan Shalahuddin dan bersedia menjadi istrinya, untuk menyambung mimpi sang sultan membebaskan Masjid al-Aqsha.

Dalam peperangan modern selalu ada proxy war dan psy war yang sebenarnya juga pernah dilakukan oleh para sahabat dalam berbagai ekspedisi dan futuhat Islamiyah.

“Bebaskan Masjid al-Aqsha dengan cinta. Perangi manusia dengan cinta” tutup Saiful mengakhiri diskusinya.

Pada acara seminar ini terdapat pameran buku dan pernik-pernik Palestina. Buku The Forbidden Country karya Dr. Saiful Bahri, M.A habis terjual. Buku tebal Ensiklopedia Mini Masjid al-Aqsa karya bersama tim kajian Asia Pacific Community for Palestina pun laris dan diburu para peserta. Dai akhir sesi, para peserta asyik berfoto bersama setelah meminta tanda tangan dari Dr. Saiful Bahri.

Selangor, 28.09.2014

DSC02076