MANUSIA DAN SEJARAH MASA DEPAN

Saiful Bahri

Hari seperti biasanya, ketika pagi senyum anak-anak merekah menyambut. Mereka telah menyiapkan ucapan selamat ulang tahun dengan kreasi khas anak-anak. Tak lama, karena ada beberapa kesibukan masing-masing.

Kemarin adalah hari yang spesial, sekalipun kegiatan yang memberatkan dan tugas-tugas serta serasa seperti air bah yang mengguyur tanpa pernah tahu kapan berhentinya. Ada dua buku yang menjadi hadiah special hari itu. Keduanya karya seorang Guru Besar sejarah dunia yang relatif masih muda tapi produktif, sebut saja Yuval Noah Harari. Buku pertama berjudul Sapiens, a Brief History of Humankind yang sudah diterjemah lebih dari 20 bahasa. Buku kedua berjudul Homo Deus, a Brief History of Tomorrow. Juga sudah dicetak lebih dari 4 juta eksemplar.

Istri saya membawakannya sebagai hadiah spesial hari itu. Kami berdua berbagi, ia membaca buku pertama dan saya membaca buku kedua. Di beberapa kesempatan kami saling mendiskusikan isinya. Malam sudah larut, saya juga masih harus membuka-buka sebuah draft disertasi yang harus diujikan pagi ini secara tertutup, prodi memberi amanah untuk menjadi bagian dari anggota tim penguji. Tapi rasa penasaran yang tinggi membuat buku tersebut sulit dilepas begitu saja.

Alhamdulillah, hari ini semuanya bisa dilalui dengan lancar dengan bimbingan Allah. Buku Homo Deus pun selesai terbaca.

Kenapa saya penasaran dengan kedua buku tersebut, khususnya buku kedua?

Buku tersebut menerbangkan saya pada linimasa sejarah peradaban umat Islam di salah satu periode emasnya. Mengingatkan saya pada sosok Muhammad bin Ismail al-Bukhori (W. 256 H) seorang pakar hadis yang juga pakar sejarah. Beliau menulis at-Târîkh al-Kabîr, sebuah kompilasi sejarah manusia, yaitu para manusia perawi hadis Nabi Muhammad SAW. Tak lama setelah itu datang Abu Ja’far ath-Thabariy (W. 310), seorang pakar tafsir dan ilmu al-Quran menulis karya berisi sebuah sejarah manusia yang lebih lengkap. Ensiklopedi monumentalnya tersebut berjudul Târîkh ar-Rusul wa al-Mulûk yang membahas sejarah manusia sejak penciptaan hingga berbagai peristiwa yang terjadi di tahun 302 H, atau kira-kira 8 tahun menjelang wafatnya beliau.

Setelah itu ada Ibnu Katsir (W. 774 H) yang memiliki kemiripan dengan ath-Thabary. Pakar tafsir yang juga pakar sejarah tersebut menuliskan sejarah yang lebih lengkap dan tebal dari pendahulunya, magnum opusnya tersebut diberi judul Al-Bidâyah wa an-Nihâyah yang selesai ditulis pada tahun 768 H. Menariknya, Ibnu Katsir ternyata juga menuliskan sejarah masa depan (history of tomorrow), hanya saja perspektifnya sangat jauh mencakup berbagai alam (multiverse) menjangkau alam yang tidak diketahui seperti apa jauhnya. Dalam dua atau tiga jilid terakhirnya beliau menjelaskan sejarah berakhirnya dunia dan hari kebangkitan, berdasarkan sumber teks yang bisa dijangkaunya, ayat atau hadis atau atsar-atsar.

Itulah barangkali yang memantik penasaran saya, untuk segera menuntaskan Homo Deus, a Brief History of Tomorrow.

Harari yang setahun lebih tua dari saya itu, ternyata memiliki kepakaran sejarah yang sangat mumpuni. Data-data, analisis filosofis dan retorisnya sangat memukau sehingga secara tak sadar pembaca mungkin akan terbius dengan bangunan teori evolusinya yang sebagian pernah disampaikan oleh Darwin. Tak banyak yang saya ketahui dari buku Sapiens karena saya belum membaca buku tersebut, hanya tahu dari hasil diskusi beberapa bagiannya dari istri saya.

Dalam Homo Deus, Harari meneropong masa depan manusia dengan data-data kredibel. Ada perbandingan data kelaparan dan data obesitas yang memungkinkan untuk diperkirakan terjadi di tahun 2030. Dengan fasih ia juga mengupas sejarah Firaun dan pembangunan megabendungan danau buatan di Fayoum, saya seolah mengikuti kuliah Egyptology. Tak ketinggalan sejarah perang di masa lalu, termasuk perang salib dan perang-perang yang dianggap sebagai bencana kemanusiaan yang memilukan. Analisis-analisis berbagai revolusi di Rumania sampai di Mesir. Ia juga mengenang masa-masa mengenal internet dan mengoperasikan komputer di masa lalu, kemudian membandingkan dengan kondisi kekinian.

Saya juga membayangkan bagaimana aplikasi GPS Waze mendistribusikan informasi jalanan yang macet dan yang tidak kepada para penggunanya. Karena jalan alternatif yang tak macet bisa jadi akan berubah macet jika semua pengguna Waze diberikan informasi yang sama. Analisis yang smart.

Ia juga berbicara perkembangan pesat kecerdasan buatan dan robot cerdas. Undang-undang dan regulasi tentang binatang serta paradoksal tikus-tikus laboratorium. Analog-analog yang dibangun membuat pembaca (mungkin) akan berkerut untuk kemudian mengangguk-anggukan kepala membenarkan. Teori manusia dan agama misalnya, statemennya yang mengatakan bahwa agama menjadi faktor penting bagi manusia modern, mengalahkan kepercayaan manusia modern pada revolusi industri dan robot-robot yang sudah teruji secara nyata. Membandingkan kerja robot yang tak jarang dipaksa sampai energy terakhirnya, seperti produk industri, computer laptop dan sebagainya.

Harari menyebut, penganut agama-agama termasuk agama Islam, dulunya kreatif, namun kini menjadi reaktif. Saya mengernyutkan dahi sejenak dan melakukan pendekatan introspektif. Tidak salah. Itu memang terjadi. Bangunan opininya tentang radikalisme bisa jadi juga benar, tapi ada unsur lain yang luput dan tak disebutkan, seperti ketidakadilan dan kesewenangan misalnya.

Karena itu, kemudian saya berkesimpulan bahwa sekalipun ia berusaha obyektif, namun subyektifitasnya tetap saja tak bisa ditutupi. Apalagi tentang sejarah. Karena, memang sejarah yang dituliskan dan diwariskan selalu terikat dengan subyektifitas.

Jika ingin tahu subyektivitas yang saya maksud diantaranya, bukan sekedar tentang teori evolusi atau agama yang ditulisnya sebagai ranah netral dan menjadi kebebasan manusia untuk memilih sebebas-bebasnya. Namun, lihatlah tulisannya yang sebenarnya tak banyak, tapi cukup bisa dianggap membangun opini keberpihakan pada pembicaraan Jerusalem, terlepas siapa dia dan buku ini berbahasa asli apa, tapi sejujurnya saya tak tahu apakah ia seorang penganut zionisme atau bukan.

Saya mulai berpikir, apakah ketika saya mencoba memihak kepada Bangsa Palestina yang terjajah, tertindas oleh kesewenangan dengan data-data yang bisa diakses siapa saja berarti saya tak lagi obytektif?

Apakah ketika saya terbatas membantu atau bahkan tak bisa membantu saudara-saudara saya yang terdampak bencana di Lombok, Palu, Donggala, Banten, Lampung dan sebagainya saya juga kehilangan kepakaran saya?

Tetangga-tetangga saya yang sedang sakit atau saudara, teman dan kerabat yang memerlukan bantuan, saya juga masih terbatas mengulurkan tangan menebar optimisme dan kebaikan.

Hiruk pikuk pilpres dan pileg yang tak lama lagi membuat fanatisme brutal saya temui di mana-mana. Etika, kebesaran jiwa, kesantunan bahasa menjadi hilang seketika.

Apakah saya yang juga mendukung salah satu capres dan partai tertentu juga kehilangan kepakaran dan obyektifitas? Saya mencoba menjawab sendiri pertanyaan saya dengan membaca The Death of Expertise nya Tom Nichols. Justru bangunan keilmuan dan kepakaran pada akhirnya akan melahirkan keberpihakan. Jika suatu saat diposisikan untuk menengahi maka, keberpihakan tersebut tidak dinampakkan untuk suatu alasan atau tidak ditonjolkan untuk menjaga perasaan orang atau pihak yang dihadapinya.

Namun, kepakaran dan keilmuan akan mati bila digunakan secara brutal dan fanatik buta. Keduanya juga akan mati, bila dipupuk dengan keangkuhan, kesombongan dan ketamakan.

Ya Rabb, ampuni hamba yang terbatas memaksimalkan anugerah ilmu dan nikmat yang Kau berikan untuk memihak pada orang-orang dan siapapun yang harus dibela dan ditolong.

Ya Rabb, ampuni hamba yang menjadikan kesibukan sebagai tameng untuk berkarya dan menutupi ketidakberdayaan di tengah kehidupan yang makin dicengkram hedonistic

Ya Rabb, tolonglah orang-orang lemah dan terzhalimi di manapun mereka berada.

 

Jakarta, 17.01.2019

Bertambah usia, berkurang umur

 

Siklus Peradaban Manusia

 “Hari-hari sulit akan melahirkan para pahlawan. Para pahlawan membuat perubahan dan menghasilkan kemakmuran. Kemakmuran dan kemewahan melahirkan orang-orang manja. Orang-orang manja membuat hari-hari menjadi sulit

(Abdurrahman Ibnu Khaldun, w. 19.03.1406 M)

Hari-hari ini adalah hari yang sulit bagi umat Islam. Hampir setiap hari terbaca dan terdengar berita tak mengenakkan di berbagai media mainstream tentang umat Islam. Dari sejak stigma negatif, ketertinggalan di berbagai sektor kehidupan, hingga carut marutnya politik dan ekonomi. Terlebih jika dikaitkan dengan momen dan menilik lini masa sejarah masa lalu.

Di bulan ini, ada sejarah pilu umat Islam untuk dikenang. Tepatnya, 3 Maret 1924 M ketika lonceng pupus dan runtuhnya Turki Usmaniy, yaitu ketika secara resmi jabatan khalifah sebagai pimpinan tertinggi umat Islam dihapuskan. Berakhirlah kisah tentang Daulah Usmaniyyah setelah berdiri mengayomi jutaan kaum muslimin dan berkhidmah serta memberikan kontribusi membangun peradaban manusia lebih dari enam abad lamanya. Ada banyak kisah di baliknya. Selain ada berbagai faktor internal yang melatari keruntuhan ini, terdapat konspirasi global yang menjatuhkannya. Dimulai dari permintaan Zionis Internasional yang meminta fasilitas tanah Palestina untuk mewujudkan mimpi mereka, berdirinya Negara Yahudi. Permintaan kepada Sultan Abdulhamid ini ditolak mentah-mentah. Maka, waktu bertutur mundur, menghitung satu demi satu rencana busuk terhadap sultan dan kekhilafahan ini.

Terdapat rincian yang detail tentang kejadian pahit tersebut. Sebaiknya, lebih bijak sekedar dijadikan spion untuk sedikit menengok masa lalu. Bersiaplah membangun masa depan yang serba misteri bagi siapa saja.

Tokoh yang wafat di bulan ini pun, bisa kita highlight pernyataannya tentang siklus peradaban. Hari-hari sulit yang dihadapi umat saat ini –biidznillah– akan segera melahirkan para pahlawan.

****

Hari-hari sulit di masa lalu bagi bangsa Mesir di tengah pacekliknya, memunculkan Yusuf dengan perubahan signifikan. Swadaya dan swasembada pangan kemudian menjadikan mereka supplier dan penolong bagi negara-negara tetangganya. Yusuf datang tidak tiba-tiba, ia sudah lebih dulu ditempa dengan berbagai kesulitan sebelum bangsa Mesir mengalaminya bersama-sama. Yusuf pun bermodalkan benda-benda, istana, orang-orang yang sama. Bahkan di antara mereka terdapat nara pidana yang diabaikan dan tak dianggap masyarakat. Dengan keimanan dan kecerdasan manajemennya, krisis berubah menjadi kejayaan

****

Hari-hari sulit Bani Israel, di tengah kebijakan zhalim Fir’aun yang mengeksekusi ribuan bayi lelaki, Allah munculkan Musa. Lalu, ia dikirim ke pusat kezhaliman, diistana Fir’aun. Rasa berhutang budi serta kesalahan yang pernah dibuatnya tak membuatnya bisa dibungkam. Bani Israilpun diselamatkan Allah dengan kemenangan.

Hari-hari sulit Bani Israil berlanjut, Jalut yang menakutkan dengan bala tentaranya yang sama-sama kejam. Bani Israil enggan memenuhi ajakan Raja Thalut untuk membangun pasukan kuat melawan Jalut. Maka mereka dibuat malu, Allah mengirimkan seorang Dawud kecil untuk menunjukkan tanda-tanda kekuasaan Allah. Jalut tewas di tangan Dawud kecil, dengan sebuah batu kecil saja. Lalu, Dawud pun mewarisi kerajaan Thalut, membangun kejayaan dan kemakmuran untuk rakyatnya.

****

Krisis kemanusiaan, pertikaian antara Aus dan Khazraj di kota Yatsrib yang berkepanjangan dan menahun tak kunjung usai. Allah kirimkan Nabi Muhammad SAW yang dengan singkat mengakhiri peperangan dan perseteruan yang tak perlu tersebut. Mereka digabung dan dipersaudarakan bersama kaum muhajirin. Negara baru dengan ruh baru, disegani oleh berbagai kekuatan yang sudah eksis terlebih dahulu. Pelan dan pasti, kekuatan-kekuatan besar seperti Persia dan Romawi bahkan akhirnya tunduk dan takluk kepada pengikutnya.

Karena, setelah gelap gulita dan pekatnya malam, fajar akan segera menyingsing. Sinar mentari mengikuti putaran waktu menghadirkan semangat bagi para manusia yang bersyukur. Bersama alam, hadirkan kesyukuran datangnya nafas baru. Bernafaslah bersama sumpah Allah, “Demi waktu subuh ketika bernafas” (QS. At-Takwir: 18). WalLâhu al-Musta’ân.

 

Catatan Keberkahan 92

Jakarta, 08.03.2018

SAIFUL BAHRI