Siapa Laki-Laki

SIAPA LAKI-LAKI

Sebenarnya apa yang dibayangkan perempuan ketika ia berhadapan dengan makhluk yang bernama laki-laki. Menjumpainya di jalan, di tempat-tempat umum, dalam media cetak atau audio visual. Atau hanya mendengarnya saja. Ketika laki-laki disebut atau yang berkaitan dengan laki-laki tiba-tiba ia mendengar atau mengetahuinya.

Bagaimana perempuan mempersepsikan laki-laki.

Hal ini tak bisa dijauhkan dari latar belakang seorang perempuan. Ia mengenal laki-laki dan dunianya melalui keluarganya atau lingkungan tempat ia berada sejak kecil.

Dalam keluarga ia menemukan ayahnya juga saudara-saudaranya atau hanya mendengarnya dari kisah dan cerita ibunya. Lingkungan sekitarnya secara tak langsung membangun set psikis tertentu tentang laki-laki.

Hal-hal ini terus berkembang sampai ia menjadi dewasa dan bisa mencari tahu dengan sendiri siapa laki-laki. Sebelum akhirnya ia bisa jujur dengan dirinya, apa yang dirasakan ketika ia berhadapan dengan laki-laki? Apa yang ia harapkan dari makhluk yang bernama laki-laki?

Kita sering membicarakan bagaimana buruknya lingkungan jahiliyah yang memenjarakan dan menghinakan perempuan. Tapi, dalam waktu yang sama kita lupa mengoreksi; sudahkah kita memuliakan perempuan dan memenuhi hak-hak didiknya. Kita, sebagai laki-laki. Sebagai ayah bagi anak perempuannya. Sebagai suami bagi istrinya. Dan sebagai saudaranya. Setidaknya sebagai mitra dan penolong. “Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebagian mereka (adalah) menjadi penolong sebagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka ta’at kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”(QS. At-Taubah:71).

Kita lupa bahwa pola hidup modern sering kelewat memuja perempuan. Eksploitasi hedonisme malah cenderung dijadikan barometer modernitas. Moral tak lagi suatu hal yang dianggap penting dalam dinamika berinteraksi. Sebagian perempuan menikmati eksploitasi ini sebagai hobi, profesi yang ditekuni dan disukai. Sebagian lain mengumbar sisi-sisi fisik yang sama sekali menafikan keberadaan spiritual seorang perempuan.

Sebagian laki-laki memanfaatkan ini sebagai pendulang nafsu dan pemuas hawa. Dan sebagian perempuan tak merasa bahwa ia diperdaya. Sebagian laki-laki seolah memujanya sedang ia tak sadar bahwa sesungguhnya mereka menertawakan kebodohan perempuan. Sebagian laki-laki melakukan yang demikian dengan mengatasnamakan kebebasan, seni dan sastra. Namun, mereka, para perempuan itu tak menyadarinya bahwa mereka dibohongi belaka. Itu adalah bahasa nafsu dan hawa.

Sebagian perempuan menyadari bahwa mereka ditipu oleh laki-laki. Kemudian menjadikan hidupnya adalah permusuhan terhadap laki-laki. Makhluk bernama laki-laki sungguh tak laik untuk hidup berdampingan. Mereka, laki-laki harus dimusnahkan. Perempuan ini hendak membalas kecongkakan laki-laki. Mereka harus direndahkan.

Namun, tak semua perempuan seperti itu.

Sebagian perempuan yang lain dengan jujur mengatakan bahwa mereka memerlukan laki-laki. Karena mereka juga berpendapat bahwa laki-laki bisa bersikap jujur. Laki-laki juga membutuhkan kehadiran perempuan di sisinya. Laki-laki perlu ketenangan dan ketentraman berada disisi perempuan. Perempuan perlu perlindungan dan perhatian dari laki-laki.

Saat demikian, perempuan yang cerdas berpendapat bahwa laki-laki tak selaiknya dimusuhi. Bahwa laki-laki tak selaiknya direndahkan. Sebagaimana laki-laki juga tak selaiknya dipuja berlebihan dengan histeris. Seperti halnya ketika seorang bintang sedang live show di depan para penggemarnya yang juga para perempuan.

Dari mana para perempuan mendapatkan pemahaman tentang laki-laki secara utuh? Dari lingkungan keluarga dan sekelilingnya.

Siapa laki-laki yang paling berpengaruh dalam hidupnya? Ayahnya.

Maka menjadi kewajiban ayahnya untuk mendidik dengan kesempurnaan pendidikan yang laik untuknya. Salah mendidiknya akan berakibat fatal. Tak heran bila sang ayah berkaitan erat denan perwalian seorang perempuan ketika ia menikah dengan seorang laki-laki. Dan saat itu kewajibannya berpindah ke pundak suaminya. Saat itu perempuan akan mengenal laki-laki dalam bentuk suami. Yang bukan ayahnya juga bukan saudaranya. Kelak ia akan mengenal laki-laki sebagai anaknya yang bukan suami atau ayahnya.

Kesalehan individu seorang perempuan yang terbina sejak kecil ditumbuhkan oleh lingkungan keluarga yang harmonis dan dekat dengan nuansa ketuhanan. Kental dengan warna normatif dan kesopanan. Ramai dengan dinamika pergaulan yang cair. Tidak beku karena kedua orang tuanya mengajarkan cinta. Mengajarkan bahwa antara laki-laki dan perempuan saling memerlukan sebagaimana ayah dan ibunya saling memerlukan dan saling bekerja sama dalam membina keluarga.

Fondasi awal inilah yang kelak akan mengembangkan wawasan berpikirnya menjadi cerdas juga sangat proporsional dalam memandang laki-laki.

Saat ia mulai memahami laki-laki lewat sekolah dan pendidikan di luar keluarganya. Menjumpainya di jalan atau di lingkungan luar rumahnya. Saat ia mengenal teman-temannya. Bahkan sampai ia sendiri yang mengkajinya. Hingga dalam benaknya telah ada bayangan dan obsesi tentang laki-laki tertentu dalam hidupnya. Ia yakin suatu saat akan menemukannya.

Saat itulah ia mulai membina diri dan terus memperbaiki dengan menghiasi diri dengan sesuatu yang berharga baginya dan bagi laki-laki yang mencarinya. Ketakwaan. Kebaikan. Dengan berbagai dimensinya.

… dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula)”(QS. An-Nur: 26).

Setelah itu tak ada yang salah dengan laki-laki kecuali mereka sebagai manusia yang bisa saja sewaktu-waktu melakukan kesalahan. Namun, kesalahan itu bukan berarti tidak termaafkan, bukan? Dan justru laki-laki yang manusia itulah yang ia perlukan sebagai pelindungnya. Bagaimana pun kondisinya. Jika ia seorang laki-laki bertakwa maka ia akan aman disisinya. Bila laki-laki itu mencintainya, ia akan dimuliakan. Bila laki-laki itu belum mencintainya, ia akan berusaha dicintainya. Bila laki-laki itu tak mencintainya, ia takkan teraniaya. Dan yang baik akan menemukan kebaikan dalam yang baik. Kebaikan yang akan bertemu bila masing-masing merasa ia telah membina kebaikan dalam dirinya. Masih ada keraguan? Masih adakah permusuhan setelah ini?

Saiful Bahri

Cairo, Medio April 2004

Bagian Pertama

Iklan