Episode Kezhaliman pun Bersambung

%d8%b8%d9%84%d9%85

SAIFUL BAHRI

Namruz, Firaun, Jalut, Nebukadnezar, Abu Jahal, Hitler, Musolini adalah beberapa episode tentang kisah dan lembaran hitam sejarah. Kisah tentang kezhaliman. Kisah yang tetap dan terus akan berlanjut sampai hari kiamat. Tokoh antagonis yang akan selalu ada, menindas dan lalim. Meski tentunya akan ada kebalikannya, tokoh-tokoh protagonis yang menumbangkan mereka. Adalah Ibrahim, Musa, Dawud dan Nabi Muhammad SAW, bagian dari sejarah putih yang dikirim Allah untuk menuntaskan dan membuktikan kekuasaan-Nya yang mutlak. Sejatinya, kezhaliman memang takkan pernah memiliki ruang di bumi ini. Sesungguhnya bahwa keangkuhan akan sirna seperti debu. Pastinya, kesombongan para durjana akan hilang ditelan waktu.

Kisah tentang kezhaliman ini di dalam al-Quran sangatlah banyak. Ia menjadi tema utama yang disebut menjadi penghalang misi manusia dalam beribadah dan menyembah Allah. Syirik sendiri dibahasakan al-Quran dengan (zhulmun ‘azhîm, [lihat QS. Luqman; 13]), serta berbagai turunan kezhaliman yang bermuara pada nihilnya keimanan dan tipisnya kepercayaan kepada Allah.

Semua orang-orang zhalim takkan pernah diback up oleh Allah. Pun Dia tak menitahkan makhluk-Nya untuk membelanya. Bahkan jelas-jelas al-Quran menyebut (وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنصَارٍ) “dan orang-orang zhalim tiada penolong bagi mereka”; di dalam al-Quran diulang tiga kali (Al-Baqarah: 270, ali Imran: 192, Al-Maidah: 72). Anshar artinya adalah penolong dan plural. Mengapa Allah mengatakan mereka tak memiliki penolong? Padahal faktanya biasanya banyak orang yang membelanya, bersembunyi di belakangnya, menjilatnya memujanya dan sebagainya. Sesungguhnya semuanya semu. Saat keruntuhan terjadi mereka akan ditinggal sendiri. Karena pemujanya adalah para penakut. Karena pembelanya adalah hipokrit. Karena penyembahnya adalah manusia-manusia yang bermental benalu, mengambil manfaat yang menguntungkan saja. Atau jika ini divisualisaiskan di hari kiamat, maka sebanyak apapun penolong dan pembela mereka takkan ada pengaruhnya bagi Allah. Sang zhalim dan penolong-penolongnya semuanya akan berhadapan dengan keadilan Allah.

Sedangkan lafazh (وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِن نَّصِيرٍ) diulang dua kali (Al-Hajj: 71, Fathir: 37). Kali ini penolong disebut secara single. Artinya orang-orang zhalim takkan punya penolong satu orang pun. Arti pertolongan tersebut adalah pertolongan yang benar-benar bermanfaat. Terutama nantinya dalam menyelamatkan mereka dari siksa dan murka Allah di akhirat.

Kezhaliman Firaun biasanya dipaketkan dengan keangkuhan dan kesombongan Haman. Haman merupakan perangkat pendukung kezhaliman. Tapi dosanya tidaklah lebih kecil dari Firaun. Karena ia adalah perangkat yang dimanfaatkan dan memanfaatkan kezhaliman untuk kepentingan dirinya. Memperkaya diri, menahbiskan diri, mengukuhkan eksistensi dan sebagainya. Meski pun di sana tidak mustahil, ada orang yang “terpaksa” bersedia menjadi perangkat kezhaliman karena merasa terancam atau karena takut. Semuanya tetap akan mengambil porsi dari kezhaliman yang sebenarnya dilakukan secara kolektif. Karena mendiamkan kezhaliman apalagi menikmatinya, adalah seperti pelaku kezhaliman.

Hari ini, kisah tentang kezhaliman tak mungkin tiada yang mengetahuinya. Merasakannya. Menjumpainya. Menyaksikannya langsung. Sebagian kita memilih diam karena berbagai hal; ada yang takut, ada yang ingin aman, ada yang cuek, ada yang merasa tidak menjadi urusannya atau bahkan sebaliknya ia sangat menikmatinya.

Tapi bahwa kezhaliman takkan pernah berakhir baik sepertinya banyak dilupakan banyak orang. Penuturan sejarah tentang ending dari kisah kezhaliman barangkali mulai dilupakan. Namrudz yang tersungkur dengan seekor nyamuk kecil, Firaun yang tenggelam setelah merasa tiada yang bisa menandinginya, Jalut yang tewas di tangan remaja dengan sebuah batu, Abu Jahal yang mati ditangan dua anak kecil yang belum dewasa. Itulah sejarah. Sebagian hanya ingin mengambilnya sebagai hiburan, sebagian menjadikannya bahan candaan. Namun, yang berakal akan menjadikannya pelajaran penting.

Bagi penantang kezhaliman, ia akan semakin yakin ending baik untuknya. Menapaki jalan Ibrahim, Dawud, Yahya, Isa dan Nabi Muhammad SAW.

Yang pasti orang-orang zhalim tidak diistimewakan Allah dengan dua nyawa. Mereka akan mati bila ajalnya tiba. Dan kabar buruknya, malaikat yang keras dan kasar (an-nâzi’ât) lah yang akan menjemputnya di akhir hayatnya di dunia. Mengantarnya menempuh jalan sulit dan kesengsaraan yang abadi.

Para penanggung jawab yang merampas tanah di Palestina, para perampok kedaulatan yang membangun pemukiman-pemukiman ilegal di Tepi Barat. Mereka takkan pernah merasakan ketentraman meski selalu akan dikawal dengan pengamanan yang ketat. Dan pada waktunya akan  berakhir.

Orang-orang yang bermain-main dengan kehormatan dan nyawa para penduduk Suriah yang dikorbankan tanpa dosa, kelak juga akan berakhir denga takdir yang menakutkan dan menggemparkan.

Para pelaku kezhaliman di mana pun, tanpa terkecuali di negeri kita. Jika ia pelaku, maka saksikanlah, bacalah kisah kezhaliman sebelum dia. Jika ia menjadi pembela dan pemuja, bacalah dan telusurilah akhir buruk kisah para pembela kezhaliman yang tak jauh beda. Kaum Ad, Tsamud, Madyan, Ashâburrass, Haman, Qarun semuanya cukup menjadi pelajaran berharga.

Selagi ada waktu. Bertaubatlah, akhiri kezhaliman dalam diri sebelum Allah kirimkan makhluk yang akan mengakhiri segalanya. Wan-nâzi’ati gharqâ. Maha Benar Allah dalam segala firman-Nya.

 

Catatan Keberkahan 43

Jakarta, 23.02.2017