Ketika Cinta Bertasbih

sungai-nil

KETIKA CINTA BERTASBIH

 

 

Tanpa terasa kebersamaan 35 hari telah usai. Kalimat perpisahan pun mengganti ucapan selamat datang yang diucapkan sebulan yang lalu. Dua hari yang lalu Sinemart yang menggarap film Ketika Cinta Bertasbih, bersama sutradara, penulis novel, aktor dan aktris dan kru resmi berpamitan pada malam tasyakuran yang diadakan di lapangan Wisma Duta, KBRI Cairo di Garden City.

Saya memang tak selalu mendampingi mereka dalam setiap shooting, baik di beberapa tempat di Cairo maupun di kota Alexandria. Sesekali saja, saat diperlukan, karena –hanya- sekedar membantu para aktor/aktris ketika ada adegan berbahasa arab dan atau dengan lawan main orang-orang setempat.

Meski demikian saya bisa merasakan suasana keakraban, kekeluargaan dan kebersamaan yang sangat dalam antara mereka dan teman-teman yang membantu mereka selama di sini. Sesekali saya menjumpai mereka menitikkan air mata, tak sedikit ternyata. Saat sebagian di antara mereka mengabadikan gambar kebersamaan, detik-detik menjelang kepergian sang sahabat kembali ke tanah air. Saya ikut terharu.

Memang saat Sinemart memberanikan diri untuk shooting di lokasi asli sebagaimana di novel, merupakan sebuah keajaiban tersendiri. Keberaniaan yang laik diapresiasi. Apalagi ketika mengangkat sebuah film relijius yang berbasic novel laris karya seorang Habiburrahman, sarjana hadits dari Universitas Al-Azhar. Penggarapannya pun tidak main-main. Keseriusan ini sangat nampak dari sejak audisi mencari lima pemeran utama, sampai mengadakan sebuah karantina pemondokan terakhir bagi para pemain demi menjaga lingkungan dan penjiwaan terhadap film.

Pembuatan skenario film juga berkali-kali mengalami revisi. Belum lagi, murajaah lughawiyah (pengecekan bahasa arab) yang juga beberapa kali direvisi, hunting lokasi shooting, menentukan partner kerja PH dari Mesir, menjadwal shooting, dan lain sebagainya.

Sebagai sebuah lembaga profesional, tentunya nuansa bisnis dalam pembuatan film ini pasti tak dinafikan. Tapi nuansa dakwah dan perwajahan lain bagi perfilman Indonesia juga terselip di sana. Saya berharap film relijius yang mencerahkan dan menyejukkan seperti ini bisa digarap secara profesional sehingga nantinya memberi warna baru bagi dunia perfilman Indonesia. Sebuah genre baru yang sangat mencerahkan dan menampilkan hiburan yang mendidik. Ke depan medan dakwah sekaligus perbaikan sosial masyarakat di antaranya bisa ditempuh melalui jalur ini.

Sehingga produser-produser yang mengejar untung dan berbisnis ansich akan segera tersadar. Film-film yang membodohi masyarakat dengan sendirinya akan tersingkir. Sehingga nantinya, tak ada lagi film-film yang terlalu mengekspos dunia mistik, mengumbar aurat dan nafsu serta kehidupan yang hedonis. Dan hiburan memang tak selalu identik dengan hura-hura. Karena sambil menimati hiburan pun kita masih bisa mendewasakan diri. Sehingga bukan hanya kepuasan otak kita dapat, hati kita pun akan tetap stabil.

Selamat jalan kami ucapkan kepada segenap kru dan pemain. Kami hanya bisa membantu dengan doa. Segala keterbatasan selama kami membantu proses pengambilan gambar dan adegan semoga bisa tertutupi dengan keakraban dan beberapa masukan konstruktif.

Sebagaimana, khususnya saya mendapatkan banyak pelajaran dari proses ini. Pelajaran prfesionalisme, kesungguhan, kedisiplinan selain pelajaran dari isi cerita film dan novel KCB ini sendiri.

Kini semua telah kembali seperti semula. Saya sempat berpesan kepada sebagian teman-teman yang tergabung dalam Rafii Travel Groups -yang menjadi partner Sinemart- untuk kembali menekuni fungsi semula sebagai thalibul ilmi. Sebagaimana tuntutan profesionalisme di masyarakat, saatnya dibuktikan dengan kesungguhan dalam menuntut ilmu. Dari pengalaman selama sebulan ini ambillah sebanyak-banyaknya hal-hal yang bermanfaat dan segera tinggalkan bekas-bekas dan kenangan yang mengganggu. Baik mengganggu hati maupun cita-cita. Sekaligus bisa dijadikan sebuah momentum untuk sebuah permulaan. Memperbarui semangat belajar. Menjadi pembelajar sejati. Bagi yang berada di S1 sebulan lagi akan segera menghadapi ujian musim dingin, semester ganjil.

Kelak al-Azhar akan kembali menjadi kiblat intelektual Islam dan dunia. Para alumninya fasih dan mumpuni dalam berbahasa arab, berwawasan keagamaan dan umum yang luas, argumentatif dalam berdialog serta metodologis dalam menyampaikan suatu gagasan, mudah dipahami audiens sekaligus terlihat kualitas dan mutu ide yang brilian. Kita tak lantas sekedar bangga memakai jubah kebesaran namanya. Karena jika itu terjadi, bagaikan orang yang kedodoran, kecil badannya dan pakaian yang dikenakan terlalu besar untuk ukurannya. Jangan sampai kita menjadi bahan tertawaan masyarakat yang sudah –terlanjur- berekspektasi terlalu tinggi terhadap kita.

Kita tak akan mengecewakan mereka. Buktikan dengan kesungguhan kita menuntut ilmu dan kejernihan niat kita untuk kembali berbuat dan memberi kontribusi dan kemanfaatan buat mereka.

Meski kita tak sedang memerankan Fahri dalam Ayat-Ayat Cinta atau sebagai Azam dalam Ketika Cinta Bertasbih. Cukup kita menjadi diri kita yang sebenarnya.

Saat itulah cinta benar-benar bertasbih. Sebagaimana tasbihnya matahari dan bulan, bintang dan pepohonan, bahkan burung-burung yang mengepakkan sayapnya. Cinta yang akan memudarkan ruwetnya jiwa-jiwa yang dipenuhi dengki dan permusuhan. Terutama umat Islam yang dibelenggu oleh berbagai skat bernama baju primordial, kelompok, organisasi atau golongan. Hingga kelak kita bisa memajukan negeri yang tak henti-hentinya dirundung bencana dan krisis. Menjadi negeri baru berwajah teduh, berkarakter dan bermartabat serta berprestasi.

 

 

Serambi Cinta, Kampung Sepuluh,

Rabu malam – Cairo, 26.11.2008

Iklan