Kembalikan Tradisi Kemenangan

Melanjutkan tagar minal aidin wal faizin yang merupakan orientasi umat Islam di bulan Ramadan, yaitu meraih kemenangan dan kembali pada tradisi-tradisi kebaikan yang ditanamkan oleh Rasulullah saw.

Di antara tradisi yang terpelihara dalam sejarah umat Islam adalah tradisi meraih kemenangan. Kemenangan yang membentangkan bagi mudahnya masyarakat untuk menjalankan tuntunan agama Allah dan memudahkan masyarakat mendapatkan sentuhan rahmat Islam.

Al-Hakim meriwayatkan dalam al-mustadraknya bahwa Nabi Isa a.s diselamatkan oleh Allah dari usaha pembunuhan yang dilakukan kaumnya di bulan yang sama dengan bulan diturunkannya al-Quran. Bulan diturunkannya al-Quran adalah bulan Ramadan sebagaimana kita maklum.

Rasulullah saw dan para sahabat meraih kemenangan signifikan dalam peperangan eksistensi yang menegangkan, Badr al-Kubra pada tanggal 17 Ramadan 2 H. Kemudian penaklukan kota Makkah (Fathu Makkah) terjadi pada tanggal 20 Ramadan 8 H. Berikutnya tradisi kemenangan ini juga terpelihara baik. Pada tanggal 15 Ramadan 138 H/20 Februari 756 M Abdurrahman ad-Dakhil mendirikan pemerintahan di Andalusia serta membangun dasar-dasar kemajuan Islam di Eropa.

Pada tanggal 26 Ramadan 583 H (1188 M), Shalahuddin al-Ayyubiy memenangkan Perang Hittin melawan tentara Salib. Pada tanggal 25 Ramadan 658H (1260 M), Saifuddin Qutz mengeliminasi Tentara Mongol dalam Perang Ain Jalut (dikenal sebagai Ending of Mongol Empire) setelah di masa lalu menjadi mimpi buruk umat Islam, karena menghancurkan Dinasti abbasiyah di Baghdad.

Pada tanggal 4 Ramadan 666 (1268 M), kota Anthakiya yang merupakan salah satu kota penting di Syam kembali ke pangkuan Umat Islam setelah selama 170 tahun dikuasai pasukan salib.

Dalam sejarahnya umat Islam meraih kemenangan dan melanjutkan berbagai tradisi kemenangan terutama diraih di bulan Ramadan. Anehnya, setelah berabad-abad berlalu tradisi tersebut sulit dipertahankan. Fakta pahit tersajikan bahwa kini umat Islam terpinggirkan. Sering menjadi korban stagmatisasi berbagai hal buruk, sejak dari keterbelakangan, ketidakberaturan, terorisme, radikalisme, intoleransi dan sebagainya. Lebih buruk lagi, nyawa umat Islam menjadi sedemikian kurang berharga. Dunia menjadi kurang empati dengan ribuan, puluhan ribu bahkan ratusan ribu nyawa umat Islam yang hilang oleh kezhaliman.

Maka, peran kepemimpinan oleh umat Islam semakin tereduksi. Hal tersebut dikarenakan –salah satunya– umat Islam menjauh dari orbit kebangkitannya, yaitu al-Quran.

Dalam sabdanya Rasulullah saw memperingatkan bahwa rumah yang tidak dibacakan ayat-ayat al-Quran bagaikan kuburan. Maka, lihatlah berapa banyak rumah umat Islam menjelma menjadi kuburan. Mereka makan, tidur dan bercengkerama dengan keluarganya bagaikan dilakukan di dalam kuburan. Keesokan harinya, saat mereka keluar dari rumah, maka bagaikan mereka keluar dari kuburan. Seolah Umat Islam menjelma menjadi mayat-mayat berjalan. Mereka membangun peradaban dari dalam kuburan.

Maka, menyikapi kondisi terkini umat Islam, tiada pilihan kecuali kembali kepada al-Quran. Jika umat Islam hendak meraih kembali kepemimpinan peradaban manusia, itulah solusi yang tepat. Malaikat yang bersentuhan dengan al-Quran, Jibril menjadi malaikat terbaik. Manusia yang menerima al-Quran pertama kali, yaitu Nabi Muhammad SAW, menjadi manusia terbaik bahkan nabi terbaik-Nya, malam yang menjadi sarana turunnya al-Quran menjadi malam terbaik yang pernah ada (lailatul qadar). Bulan Ramadan yang di dalamnya diturunkan al-Quran juga menjelma menjadi bulan terbaik di antara bulan-bulan yang ada. Umat Nabi Muhammad saw, menjadi umat terbaik karena memiliki al-Quran yang menjadi aturan menjalani hidup dari Allah swt.

Kembalikan tradisi kemenangan. Mulailah dari menjadikan rumah sebagai pusat peradaban. Yaitu, dengan cara menjadikan rumah tempat tinggal kita bercahaya dengan al-Quran.

Catatan Keberkahan 58

Sydney, 10.06.2017

SAIFUL BAHRI

Iklan

Serial MINAL ‘ÂIDÎN (4) KEMBALIKAN TRADISI KEPAHLAWANAN DAN KEMENANGAN

ISLAMIC (33)

Di #RamadanDay17 mari kita lanjutkan telaah serial minal ‘âidîn yang keempat. Kita akan membicarakan sebuah tradisi kepahlawanan dalam Islam, sebuah tradisi kemenangan yang turun-temurun dirawat para pendahulu kita.

Terlebih, saat nantinya datang bulang Syawal kita sering mengucapkan atau mendengar sebuah tagline “minal ‘âidîn wal fâizîn, mohon maaf lahir batin”. Sekilas kalimat kedua terkesan merupakan terjemahan dari kalimat yang pertama. Padahal, itu adalah sebuah istilah lain dan sangat berbeda. Terjemahan minal ‘âidîn wal fâizîn bukanlah mohon maaf lahir batin. Itu adalah sebuah doa yang mengharapkan diri ini menjadi bagian orang-orang yang “kembali” dan orang-orang “menang”. Kembali dan menang itulah yang menjadi tradisi doa dan harapan para pendahulu kita.

Bulan Ramadan adalah tempaan untuk mengembalikan fitrah seseorang. Seperti halnya air hujan, yang berasal dari bumi merupakan air dari berbagai sumber. Air asin, air keruh, air kotor, air bercampur limbah dan termasuk air yang jernih tentunya. Kemudian setelah diproses di langit, air itu diturunkan kembali oleh Allah ke bumi dalam keadaan suci dan menyucikan, bersih tanpa diketahui dari mana asalnya sebelum jatuh kembali ke bumi.

Kembali seperti inilah yang diharapkan dari madrasah Ramadan.

Dan jika dikaitkan dengan kemenangan. Maka kemanangan pertama adalah ketika seseorang diampuni dan dibersihkan dari segala dosa. Ini sekaligus menjadi tradisi kemenangan-kemenangan berikutnya. Sejarah menuturkan, di bulan Ramadan lah Allah karuniakan kemenangan pertama umat Islam setelah melalui proses ketakutan yang mencekam dalam pertempuran Badar, pada 17 Ramadan 2 H; persis 1435 tahun yang lalu. Nuansa kemenangan lain juga Allah hadirkan dalam Fathu Makkah pada 20 Ramadan 8 H. Kemenangan berkarakter dan bermartabat, kemenangan yang menunjukkan keluasan dan ketinggian akhlak, kemenangan yang tak disertai keangkuhan dan arogansi. Kememangan yang menghadirkan ketenangan dan kenyamanan, dan bukan sebaliknya menebar teror dan penindasan.

Akhlak yang tinggi ditunjukkan Rasulullah shallalLahu ‘alaihi wasallam saat memasuki Makkah. Tak ada balas dendam, tak ada keangkuhan, tak ada arogansi. Beliau bahkan menundukkan wajahnya di atas unta, sehingga digambarkan hampir-hampir merunduk seperti punggung unta. Bibir beliau terus menggumamkan istighfar dan tasbih kepada Allah.

Saat beliau berhadapan dengan para pembesar Quraisy yang ketakutan. Beliau hanya bertanya, “Menurut kalian, apa yang kira-kira akan saya lakukan pada kalian?” Keramahan beliau hadirkan kesejukan dan ketenangan. Mereka menjawab, “Engkau adalah orang mulia, saudara orang mulia, keponakan orang mulia”. Senyum beliau mengiringi sebuah ungkapan fenomenal, “Pergilah… Kalian bebas!” Mereka bebas tanpa hukuman. Bebas tak ada balas dendam.

Menakjubkan… dan itu semua terjadi di bulan Ramadan.

*****

Jiwa-jiwa orang-orang yang beriman telah bertemu terlebih dahulu sebelum mereka bertemu. Maka ketika terjadi pertemuan jasad, pertemuan itu akan lebih terasa bermakna. Dan pertemuan kaum mukminin ini merupakan nikmat Allah yang sangat patut untuk kita syukuri. Karena jiwa mereka menyatu dalam iman. Jika terjadi sebaliknya maka kualitas iman yang tertanam di hati masih perlu ditingkatkan lagi.

Hati merupakan tempat bersemayamnya cinta, disamping tempat berkembangnya iman ataupun berpotensi untuk mengingkarinya ketika ia tertutup oleh hawa nafsu. Dan cinta juga merupakan karunia Allah yang mulia. Karunia Allah ini kadang disalahgunakan oleh sebagian kita untuk memperturutkan hawa nafsu. Nafsu inilah yang menjadi penghalang berkembangnya kreasi. Cinta merupakan stimulan kreasi dan berbagai karya besar. Terutama jika cinta kepada Allah memiliki muatan yang sangat kuat, terbina dalam manhaj Rasulullah shallalLahu ‘alaihi wasallam. Dan karena Allah saja lah yang mampu membolak-balikkan hati seorang manusia.

Kisah bayi kecil Musa ‘alaihissalam merupakan sampel realita quwwatul mahabbah (kekuatan sebuah cinta). Allah menyelamatkan Musa’alaihissalâm melalui cinta yang Allah turunkan di hati Fir`aun, musuh Allah dan juga kelak musuh Musa as. “…Dan Aku telah melimpahkan kepadamu kasih sayang yang datang dari-Ku…”(QS.Thaha: 39)

Sampaipun Fir`aun melihatnya ia mencintai Musa kecil. Dan setiap orang yang melihatnya akan merasa kasih sayang kepadanya.

Musa kecil diselamatkan Allah dengan kekuatan cinta. Musa kecil diasuh dan tumbuh dalam lingkungan musuh Allah dan musuhnya. “…supaya diambil oleh (Fir`aun) musuh-Ku dan musuhnya…”

Kisah di atas mengindikasikan kekuatan dan kekuasaan Allah yang tak terbatas. Allah sanggup menyelamatkan hamba-Nya melalui apapun bahkan tanpa apapun dan dengan cara yang bahkan tidak terduga dan tak terbayang sedikitpun oleh hamba-Nya. Justru Allah menyelamatkan seorang hamba-Nya melalui musuh-Nya. Maka tak ada alasan bagi seorang yang beriman kepada Allah untuk takut menghadapi resiko perjuangan dakwah.

Ibunda Nabi Musa ‘alaihissalâm, dengan ilham dari Allah begitu berani dan percaya menghanyutkan anak lelakinya ke sungai Nil, lenyap di bawa arus menuju istana musuh Allah dan musuhnya. Seorang ibu yang memiliki keyakinan yang kuat akan kemenangan cinta yang suci. Ia sangat memasrahkan proses kemenangan itu kepada putusan dan pilihan Dzat yang menganugerahkan kemenangan. Dan Allah-lah yang sesungguhnya mengasuh calon penghancur kezhaliman ini. “…dan supaya kamu diasuh di bawah pengawasan-Ku…”(QS.Thaha:39). Sang ibu begitu yakin akan janji Tuhannya. Dan karena air sungai yang mengalir juga atas titah Allah karena ia merupakan salah satu pasukan Allah di bumi ini.

Calon nabi ini tumbuh dalam lingkungan yang tak bersahabat, memusuhi Allah. Namun Musa kecil tetap tumbuh sebagai generasi dakwah yang tangguh.

Hubungan kekuatan cinta ini dengan hamba Allah merupakan keterkaitan sebab akibat. Sang hamba mencintai Tuhannya yang kuat, maka iapun menjadi kuat tak takut terhadap siapa dan apapun. Sang hamba mencintai Tuhannya yang mulia, maka iapun menjadi mulia tanpa harus merasa rendah diri atau menghinakan diri di depan apa dan siapapun. “Man khâfallâha khâfa `anhu ghairuh” (Barang siapa yang takut kepada Allah, maka yang selain Allah akan takut terhadapnya). Orang akan segan. Tatkala itu pula ia merasa hanya izzah Allah lah yang membuatnya mulia dan disegani oleh orang lain. Tak perlu lagi baginya untuk merasa kecil dan memandang remeh dirinya di hadapan sesama. Karena ia sama-sama berpeluang untuk menjadi mulia melalui bentuk kepasrahan cinta yang sempurna, yaitu menyembah, mengesakan dan menghambakan dirinya. Ketika itu Allah akan menganugerahkan kekuatan cinta. Tatkala ia mendengar, Allah menjadi pendengarannya. Ketika ia berkarya dan berkreasi, Allah menjadi tangannya. Bila ia bergerak dinamis, Allah menjadi kakinya, pijakan gerakannya sehingga ia menjadi kuat. Tak goyah oleh arus, betapa pun kuat arus itu. Arus hedoniskah atau matrealis, liberaliskah atau sosialis, permisifkah atau anarkis, ekstrimkah atau sebaliknya. Ia akan tegak, kokoh di hadapan apapun yang bermaksud menerjang atau merobohkannya.

Contoh kongkrit dari kemenangan cinta ini adalah kisah sahabat Khabab bin Adi. Beliau begitu gigih menyongsong syahidnya di tiang salib. Betapapun menggiurkan tawaran pemimpin Quraisy saat itu beliau sanggup menggadaikan diri dan jiwanya demi selamatnya Rasulullah. Kedudukan, harta dan wanita cantik, ketiganya bukan tak pernah ditawarkan pada beliau. Namun hal-hal tersebut sangat tidak menarik dan sangat murah dihadapan murninya sebuah cinta. Cinta melindungi jalan dakwah.

“Wahai Khabab, bagaimana jika sekarang engkau pulang dan kami berikan kedudukan, harta dan kenyamanan. Dan sebagai penggantinya Muhammad berada ditiang salib ini?”

Dengan gemerataknya gigi beliaupun menyahut dengan tegas,”Demi Dzat yang jiwaku dalam genggaman-Nya. Aku sekali-kali tak pernah rela jika ada sebuah duri yang menusuknya”. Hanya sebuah duri saja. Lalu bagaimana kalian tawarkan Muhammad menggantikannya di tiang salib tersebut. Sebuah tawaran yang menjadi hina di depan kemuliaan sebuah nilai ketulusan cinta.

Beberapa saat sebelum beliau dieksekusi, beliau ditawarkan meminta sesuatu. Beliau hanya meminta waktu untuk bermunajat dengan Kekasihnya, hanya dua rakaat.Namun penuh kesan dan saat itulah kekuatan cinta mengkristal dalam diri beliau. Tiang salib menjadi begitu indah, bak lambaian bidadari di pintu syurga. Sejarah merekam perkataan beliau yang sangat mengesankan “Kalaulah tak khawatir disangka sebagai seorang pengecut yang takut mati tentulah akan kupanjangkan shalatku. Namun Allah mengetahui apa yang terjadi pada hamba-Nya”.

Kekuatan cinta ini sangat membuahkan hasil yang belum pernah terdetik dihadapan musuh. Dengan segala keputusasaannya Abu Sufyan –yang waktu itu belum Islam– mengatakan “Belum pernah aku melihat seseorang benar-benar mencintai lebih dari ketika sahabat Muhammad mencintainya dengan lebih daripada mereka mencintai diri mereka sendiri”. Kata-kata pengakuan akan kekuatan cinta ini keluar dari musuh-musuh Allah yang lain ketika mereka menyaksikan keteguhan dan kekuatan cinta. Mereka dibuat tak berdaya meski memegang cambuk besi atau paku salib sekalipun. Mereka menjadi lemah meski dengan segala kekuatan materi sekalipun. Mereka menjadi kehabisan akal meski sebelumnya penuh muslihat dan makar-makar licik. Mereka menjadi frustasi dengan fenomena-fenomena yang tak bisa ditangkap oleh akal mereka.

Senyum sahabat Khabab ra ketika menyongsong kematian di tiang salib merupakan senyum kemenangan cinta. Sekaligus pengumuman atas kekalahan sebuah kecongkakan, terbenamnya rasa sombong dan luluhnya kekerasan hati yang bengis. Berganti sebuah takzim dan keseganan meski datangnya dari musuhnya sekalipun.

*****

Kisah sahabat Zaid bin Haritsah juga akan memberikan nuansa cinta dan kasih sayang yang dalam.

Zaid berasal dari kabilah Thayyi’, sebuah kabilah Arab yang terkenal dengan kebangsawanannya, pemuda-pemudanya terkenal tampan dan para pemudinya dikenal berparas cantik menawan. Serta memiliki karakteristik santun dan berperangai halus.

Suatu ketika terjadi pertempuran dan penyerbuan ke kabilah ini sehingga kabilah tersebut menjadi tercerai berai. Banyak diantara mereka yang terbunuh dan tertawan oleh musuh. Sebagian lagi mencari perlindungan ke tempat lain. Sahabat Zaid ketika itu masih kecil. Zaid kecil berpisah dengan keluarganya. Kemudian menjadi seorang budak belian. Suatu ketika Rasululah saw –sebelum menerima wahyu- menjumpai Zaid kecil sedang dipromosikan untuk dijual di Pasar Ukkaz. Karena terkenal keelokan budi zaid Rasul pun tertarik untuk membelinya. Hanya saja beliau saat itu tiada memiliki harta yang cukup.

Sepulang dari Ukkaz, beliau menceritakannya kepada Ibunda Khadijah. Hanya saja Rasul menekankan, beliau tiada memiliki uang yang cukup untuk membelinya. Isyarat ini diterima oleh Khadijah sebagai isyarat perintah Rasul. Beliau segera menawarkan kepada pamannya Waraqah bin Naufal. Jadilah Zaid `budak` Waraqah. Akhlak dan perangainya yang baik, santun serta tutur kata yang sopan membuat setiap orang tertarik padanya.

Rasulullah suatu ketika mengungkapkan rasa takjub kepada istri beliau Khadijah. “Sesungguhnya aku menyukainya, bagaimana jika engkau berikan dia kepadaku?”.

“Aku khawatir, nanti engkau akan menjualnya?”, Khadijah menyela

“Aku akan mengangkatnya sebagai anak, jika engkau tak berkeberatan?” Rasulullah meyakinkan.

Kekhawatiran Khadijah akan kehilangan Zaid, hanya karena khawatir kehilangan kesantunan Zaid. Namun dengan akan diangkatnya ia sebagai anak angkat Rasul, beliau sangat mendukungnya.

Kita tak hendak membicarakan cerita Zaid yang namanya disebut di surat Al Ahzab. Sebagai anak angkat Rasulullah. Atau cerita yang berhubungan dengannya.

Sementara itu Ayahnya, Haritsah , seorang yang kaya raya mengupah seseorang untuk mencari putranya yang hilang. Hingga suatu saat ia menemukan Zaid berada di kebun rumah Rasulullah. Ia segera mencocokkan ciri-ciri Zaid yang diperolehnya dari Ayahnya. Ketika yakin ialah Zaid dari bani Thayyi’. Segera lelaki tersebut menghampiri Zaid.

“Bukankah engkau Zaid bin Haritsah?”, lelaki tersebut menyelidik.

“Bukan!”, Zaid mengelak “Aku adalah Zaid bin Muhammad” sambungnya kemudian.

Setelah berbicara kesana-kemari. Lelaki tersebut kembali menegaskan. “Bukankah engkau dari bani Thayyi’?”.

Kali ini Zaid tak bisa mengelak lagi. Laki-laki tersebut telah memiliki data lengkap tentang dirinya.

Lalu disampaikan olehnya kepada Zaid bahwa ayahnya sedang mengupahnya untuk mencari putranya yang telah lama hilang. Zaidpun menyuruhnya kembali.

Pada suatu kesempatan; Ayahnya, Haritsah bersama keluarganya serta para pembesar kabilah mendatangi Zaid di kediaman Rasulullah.

Tak lama kemudian terjadilah dialog tawar-menawar antara Rasululah dengan ayah Zaid, Haritsah dan keluarganya.

“Wahai Muhammad, kedatangan kami kemari hanya menginginkan kembali anak kami yang telah lama menghilang!”, Haritsah mewakili kabilahnya. Kemudian melanjutkan perkataannya,”Ambillah semua harta ini, atau yang engkau inginkan. Kami hanya meminta kembali anak kami!”.

Permohonan ini dijawab dengan ramah oleh Rasulullah,”Jika kalian menginginkan aku mengambil imbalan sebagai ganti dari Zaid. Ambillah saja harta kalian. Jika kalian berkehendak, masuk sajalah ke agamaku”.

Mereka pun terhenyak mendengar tawaran dari Rasulullah yang mengejutkan. Dan mereka mempertahankan kemuliaan kabilah dengan agama nenek moyang mereka. Seketika mereka membayangkan akan terjadi perdebatan yang menegangkan. Namun bayangan ini ditepis dengan bahasa santun Rasulullah

“Kalau memang demikian, kalian ambil saja kembali harta kalian. Dan bawalah Zaid kepada ayahnya”.

Akhirnya mereka hendak mengambil kembali Zaid. Namun betapa terkejut, ketika mereka mendengar perkataan Zaid,”Aku tak akan menemukan selain Muhammad sebagai penggantinya bagiku di sini”

Orang tua Zaid pun pulang ke kabilahnya dengan tangan hampa. Putranya lebih memilih mencintai orang lain dari padanya. Haritsah terus memikirkan keanehan tersebut. Hingga ia mengakui kuatnya pancaran cinta Rasulullah yang tertanam dalam hati putranya. Ia pun segera kembali ke rumah Rasulullah dan menyatakan keislamannya di saksikan putranya.

“Wahai putraku, Zaid. Aku memeluk Islam sebagai agamaku bukan karena hendak mengambilmu. Namun karena aku begitu memahami betapa engkau sangat mencintai pribadi Muhammad sebagai orang tuamu yang mendidikmu menjadi dewasa”

Kekuatan cinta ini memancarkan sinar hidayah. Zaid dan Rasulullah saw adalah simbol pertautan cinta. Sampai-sampai para tetangganya menyebut Zaid bin Muhammad yang akhirnya ditegur oleh Allah.

Belum pernah putra kabilah Thayyi` meninggalkan kabilahnya karena orang lain. Bahkan dari orang tuanya. Dan ini terjadi pada diri Zaid. Kasih sayang dan ketulusan cinta yang diberikan Rasulullah telah meninggalkan pengaruh pertautan yang sangat kuat. Zaid mencintai Rasul. Rasulpun sangat mencintainya. Bahkan putranya, Usamah, panglima termuda kala itu sampai-sampai dijuluki dengan `Kekasih putra Kekasih`.

Kekuatan cinta bisa menembus keangkuhan, kezhaliman akan dirobohkannya. Kesombongan dan tirani akan diluluhlantakkan dan terlebur oleh ketulusan cinta. Bahkan kelembutan dan kesantunan akan semakin halus dengan kedalaman makna cinta.

Selain Khabab dan Zaid, masih ada kepahlawanan dahsyat yang juga ditunjukkan oleh para perempuan seperti Sumayyah Ummu Yasir, yang juga menemui ajalnya sebagai syahidah pertama karena mempertahankan akidah dan kecintaannya kepada Rasulullâh SAW. Demikian halnya kepahlawanan dan keberanian yang ditunjukkan oleh Nusaibah binti Ka’b yang menjadi tameng dan perisai hidup Rasulullah SAW pada Perang Uhud. Kepahlawanan yang disaksikan oleh Rasulullah SAW dan para sahabatnya.

*****

Lihatlah perumpamaan sederhana antara harimau dan rusa. Rusa memiliki kecepatan lari bisa melebihi 90 km/jam, sementara harimau hanya bisa berlari dalam kisaran 50-60 km/jam. Secara teori kemampuan lari rusa takkan bisa dikejar harimau. Tapi faktanya tak sedikit rusa yang berhasil dimangsa oleh harimau. Jika diamati, ketika berlari rusa lebih sering menengok ke arah belakang. Semakin dekat harimau, rusa semakin gelisah dan itu menurunkan daya kecepatannya secara tidak langsung.

Demikian halnya saat ini, umat Islam lebih sering mendengar kehebatan dan kekuatan islamphobia yang makin membesar. Potensi dan daya besar yang dipunyai sering terlupakan untuk dirawat dan dibesarkan. Fokus menjadi berkurang, sehingga mudah dibodohi, mudah diteror, dijadikan korban, dimarginalkan serta diadu domba.

Semoga dengan madrasah Ramadan, kelak umat ini menjadi umat yang kembali pada tradisi kepahlawanan yang hebat. Kembali pada tradisi kemenangan yang bermartabat. Minal ‘Âidîn wal Fâizîn, kembalikan tradisi kepahlawanan dan kemenangan.

 

#RamadanDay17

Alfaqîr Saiful Bahri

 

*) sebagian tulisan dikutip dari buku penulis, Kemenangan Cinta, Eraintermedia, 2005

MENEMBUS TAKDIR KEMENANGAN

MENEMBUS TAKDIR KEMENANGAN

Saiful Bahri

Dalam sirah Nabi Muhammad –shallalLâhu ‘alaihi wa sallam– ada sebuah periode yang dikenal dengan sebutan “âm al-huzn” (tahun kesedihan). Di tahun tersebut dua penopang dakwah utama beliau meninggal dunia. Khadijah, istri yang setia dan telah memberikan segalanya untuk mendukung dakwahnya dengan penuh totalitas. Paman beliau –yang meskipun tidak beriman pada risalahnya-, Abu Thalib, tetap memberikan dukungan melebihi dari sekedar melindungi seorang keponakan. Demikian halnya saat beliau mencari suaka ke sebuah kabilah yang dikenal ringan membela sang mazhlum dan memerangi kezhaliman, Bani Tsaqif di Tha’if. Nyatanya bukan suaka dan pembelaan yang didapat, melainkan sambitan batu dan kata-kata kasar penuh ejekan dan pelecehan.

Kesedihan Rasulullah –shallalLâhu ‘alaihi wa sallam– terkumpul dalam doa kepasrahannya. Ia keluhkan kepada Dzat yang mengutusnya. Ia sandarkan segala tidakberdayaannya. Ia letakkan segala lemahnya. Kepada Dzat yang Maha Kuat dan selalu tahu cara menolong hamba-Nya.

Kesedihan yang manusiawi, karenanya pada tahun tersebut dikenal sebagai tahun kesedihan. Namun, tak sekalipun sejarah mencatat di tahun tersebut juga di tahun-tahun lainnya ada sebuah periode yang disebut dengan tahun ketakutan “âm al-khauf”. Karena seorang mukmin yang juga manusiawi mungkin sedih terhadap musibah yang dijumpainya, suatu harapan yang tak sesuai dengan realita. Tetapi hal tersebut tak menjadikannya takut. Karena seorang mukmin hanya takut kepada murka Allah. Murka yang tiada seorang pun sanggup menanggungnya dan mampu bertahan di dalamnya.

Maka, untuk menguatkan mental pada saat sedih dan dilanda musibah yang mengguncang jiwa, Allah mengingatkan Nabi Muhammad dan umatnya, “Janganlah kamu bersedih oleh perkataan mereka. Sesungguhnya izzah itu seluruhnya adalah kepunyaan Allah. Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Yunus [10]: 65)

Dicurigai dan diintimidasi, terstigma negatif dengan berbagai hal yang buruk bisa jadi menyebabkan kesedihan yang mengguncang jiwa. Tapi, Allah tak memberi ruang bagi rasa takut dalam diri hamba-Nya yang beriman. Jika seseorang merasa takut karena hal tersebut maka sesungguhnya ia memiliki masalah pada keimanan dan keyakinannya. Lihatlah orang-orang sebelum kita saat mereka diteror, “orang-orang (yang mentaati Allah dan Rasul) yang kepada mereka ada orang-orang yang mengatakan: “Sesungguhnya manusia telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, karena itu takutlah kepada mereka”, maka perkataan itu menambah keimanan mereka dan mereka menjawab: “Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung”.” (QS. Ali Imran [3]: 173).

Peristiwa Isra’ Mi’raj adalah bukti kekuasaan Allah yang merekayasa perpindahan dari sebuah periode kesedihan, kesempitan hidup, kelemahan, ketidakberdayaan, terzhalimi; menuju sebuah periode baru. Kekuatan, kesejahteraan, kemapanan, mengayomi dan membangun peradaban. Maka Allah kuatkan mental Nabi-Nya dengan sebuah perjalanan penuh keberkahan. Dari sebuah orbit keberkahan (Masjid al-Haram) menuju orbit keberkahan lainnya (Masjid al-Aqsha), sebelum menaiki periode baru menerima titah kemenangan dari suatu tempat yang tidak diketahui di atas sidratil muntahâ.

Berikut analisis sederhana dari sebuah perjalanan penting di atas yang terdapat di permulaan surat al-Isra’:

  1. Allah transitkan beliau ke Masjid al-Aqsha, padahal Allah sanggup memperjalankan beliau langsung ke sidratil muntaha.

Penyebutan lafazh Masjid al-Aqsha mengindikasikan perhatian Allah pada masjid ini. Masjid yang dirintis oleh Adam dan kemudian dibangun oleh Ibrahim ini adalah amanah yang harus terus dijaga. Tempat suci tersebut harus dipelihara dari segala bentuk penistaan dan kezhaliman. Amanah yang diberikan kepada beliau untuk diteruskan kepada umatnya.

  1. Allah tegaskan misi menebar keberkahan dari Masjid al-Haram ke Masjid al-Aqsha serta ke berbagai tempat lainnya. Lafazh “الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ” mengindikasikan banyak hal. Pertama, makna keberkahan yang non fisik. Karena kesuburan, buah-buahan dan keberkahan materi juga ditemui di lain tempat. Maka selain keberkahan materi dan fisik berarti ada keberkahan non fisik yang Allah maksudkan. Sebagaimana saat kita memohon doa keberkahan saat sebelum makan, agar supaya suapan yang masuk ke dalam mulut kita tak hanya sekedar dinikmati lidah dan kemudian mengenyangkan perut, tetapi menghasilkan keberkahan yang akan menjadi energi kebaikan bagi seorang mukmin. Kedua, di beberapa ayat lain keberkahan disebut dengan redaksi (الَّتِي بَارَكْنَا فِيهَا) – [QS. Al-A’raf: 137], [QS. Al-Anbiya’: 71, 81], [QS. Saba’: 18] – yang mengindikasikan keberkahan “di dalamnya”. Dalam kisah, Luth, Dawud dan Sulaiman di empat tempat tersebut membawa misi keberkahan saat mereka berkuasa dan memimpin kaumnya memakmurkan negeri tersebut diasaskan pada titah dan risalah tauhid Allah. Maka makna “حَوْلَهُ” yang berarti di sekitarnya, Allah menghendaki Nabi Muhammad –shallalLâhu ‘alaihi wa sallam– untuk mengemban masuknya misi keberkahan di dalamnya. Ini untuk menghibur beliau yang saat itu sedih bahwa tempat ini sebagaimana dulu pernah dipimpin nabi-nabinya dan membawa keberkahan, maka beliau pun punya misi sama dan kelak akan terwujud. Sekaligus sebagai nubuat bagi umatnya yang kelak akan menaklukkan tempat ini. Meski saat itu dikuasasi oleh kekuatan adidaya di zamannya, Romawi dan Persia secara bergantian.
  2. Allah lakukan misi ini pada waktu malam, waktu yang dimuliakan Allah dari waktu-waktu lainnya. Di waktu malam, Allah turunkan al-Quran. Di malam hari, Allah “turun” ke langit di sepertiga malam terakhir untuk mengabulkan setiap permohonan orang-orang yang tak didengar manusia, yang terzhalimi, yang bertaubat dari segala khilaf dan salahnya, yang memerlukan bantuan dan pertolongan serta semua hajat manusia.

Agar di waktu malamlah seharusnya kita menapak jalan kemenangan yang Allah bentangkan. Dengan bermunajat di waktu malam, berarti seorang mukmin mengikuti perjalanan mi’raj Rasulullah –shallalLâhu ‘alaihi wa sallam– menembus langit dan sidratil muntaha, menjemput kemenangan dan kemuliaan. “Dan pada sebahagian malam hari bersembahyang tahajudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu; mudah-mudahan Tuhan-mu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji.” (QS. Al-Isra’ [17]: 79)

Malam yang disebut lebih mengesankan pembekalan internal lebih banyak dari hiruk pikuk pemberitaan. Malam yang hening lebih mengedepankan silent operation, dalam setiap langkah pemenangan. Agar sandaran kepada Allah melebihi segala sandaran materi, manusia dan berbagai hal yang kasat mata yang sering diandalkan oleh musuh-musuh Islam.

Kemenangan yang dihadiahkan Allah di perang Badar dan peperangan-peperangan berikutnya, merupakan proses panjang yang direkayasa Allah dalam takdir-Nya. Agar umat Islam sadar bahwa Allah-lah Sang Penguasa tunggal yang sanggup berbuat apa saja. Agar umat Islam sadar bahwa sebelumnya terdapat periode penuh jihad yang berat selama tiga belas tahun lamanya. Sebagaimana supaya umat Islam pun tak terlena saat mereka mendapatkan kemenangan pada saat Fathu Makkah. Maka di saat ada sedikit disorientasi pada perjuangan dan sedikit salah persepsi tentang makna materi, Allah menegur keras pada perang Hunain yang jumlah umat Islam tiga kali lipat menghadapi Ghatafan dan Tsaqif. Namun, mereka nyaris kalah dan tercerai berai. Allah kembalikan kemenangan untuk mereka setelah kembalinya orientasi dengan benar.

Dengan peringatan Isra’ dan Mi’raj ini umat Islam sudah seharusnya segera bangkit dari tahun-tahun kesedihan dan mengikis semua bentuk ketakutan. Saatnya sesering mungkin mengakrabi malam-malam untuk menembus takdir kemenangan dan meraih kemuliaan yang Allah janjikan. Saatnya menapak jalan mi’raj Nabi Muhammad –shallalLâhu ‘alaihi wa sallam– dengan sesering mungkin menengadahkan harapan ke langit-Nya.

Di saat semua keluh tersendat…

Di saat semua sedih membuat nyeri…

Di saat malam makin pekat…

Di saat kezhaliman makin merajalela…

Di saat orang-orang yang membela dinistakan…

Di saat para pembenci dan pendengki berkumpul…

Ketahuila,h bahwa Allah hanya menghendaki saatnya kita bersimpuh mengetuk segala kebesaran-Nya untuk memurnakan janji-Nya, sirnakan kezhaliman dan turunkan kemenangan untuk umat Nabi-Nya.

Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.

 

Catatan Keberkahan 31

Jakarta, 14.05.2015

Spirit Kemenangan

TRISULA KEMENANGAN:

IKHTIAR, KETAATAN DAN KEKUATAN TAKDIR

Saiful Bahri

Saat Nabi Musa as. tersudut di antara dua problem besar; yaitu diburu rezim zhalim yang hampir menyusulnya dan di saat yang sama dituduh dusta oleh kaumnya karena menjanjikan keselamatan, tapi nyatanya malah membawa mereka ke tepi laut. Ketegangan-ketegangan itu terakumulasi sehingga mereka berteriak, ”Kita akan terkejar” (QS. 26: 61). Dengan tenang Musa menjawab, ”Sekali-kali tidak. Sesungguhnya Rabb menyertaiku, Dia kan beri petunjuk padaku” (QS. 26: 62). Respon positif Musa dengan kemantaapan ma’iyyatullah berbuah manis. Allah menjawabnya langsung dengan memerintahkan padanya untuk mengayunkan tongkatnya. Musa pun tanpa ragu, tanpa tahu apa yang akan ia alami bersama kaumnya. Maka kekuatan takdir Allah pun dipertontonkan. Mengobati kegalauan dan rasa hancur kaum Nabi Musa, sebagian hancur oleh buruk sangka, sebagian luruh dalam keputusasaan, sebagian bermental kerdil hanya karena melihat kekuatan musuh. Musa sama sekali tak mengira, tiada tahu, juga mungkin tak mengharap apa-apa selain menerima takdir Allah sebagai balasan atas iman dan keyakinannya. Dan Allah kirimkan pasukannya berupa air laut yang menggulung kezhaliman Firaun yang melewati batas toleransi saat ia mengklaim dengan segala kesombongan, “Akulah tuhan kalian yang maha tinggi” (QS. 79: 24). Tewaslah symbol kezhaliman itu dalam kehinaan.
Ketika berkumpul segala bentuk kelemahan dan kerapuhan dalam diri Maryam, tampak raut kepasrahan yang dalam pada wajahnya. Pasca melahirkan tanpa didampingi siapa pun, di tempat yang jauh dari kelaikan untuk dijadikan tempat bersalin, tak ada obat, tak ada teman, tak ada bidan dan dokter, tak ada kenyamanan dan pelayanan rumah sakit. Maryam menikmati akumulasi dua rasa sakitnya, sakit fisik perjuangan seorang ibu melahirkan anaknya, dan sakit psikis berupa tuduhan keji yang distigmakan padanya oleh kaumnya. Benarkah Allah biarkan ia tanpa beri pertolongan? Tentu tak terbersit pikiran jahiliyah itu di benak Maryam. Ia hanya berserah diri dengan sebaik-baiknya. Allah kirimkan kemenangan dengan caranya. Dia justru perintahkan Maryam untuk menggoyangkan pohon kurma yang ada didekatnya (QS. 19: 25).
Seorang perempuan yang baru saja melahirkan tanpa bantuan siapa pun, dan masih didera pukulan psikis berupa fitnah keji, secara manusawi tak mungkin melakukan perintah Allah. Tapi Maryam tak menolak perintah Allah. Ia bahkan langsung melakukan perintah itu tanpa keraguan sedikit pun. Allah membalasnya dengan kran-kran kemenangan. Ia tenangkan hati Maryam, hibur dengan mukjizat-mukjizat-Nya. Allah beri rizki berupa makanan dan minuman serta izinkan anaknya yang masih bayi untuk mewakili dirinya, berbicara pada siapa saja yang bertanya kepadanya.
Saat suasana mencekam, umat Islam berada di tengah pusaran konspirasi pasukan musuh “al-Ahzab”. Musim dingin yang menghimpit tulang, rasa lapar yang melilit perut, tenggorokan yang tercekat oleh kehausan yang sangat dan rasa takut yang mengepung. Semua seolah membungkam mulut-mulut para pahlawan untuk menjawab permintaan Rasul saw, ”Siapa yang memberiku berita tentang kaum “Ahzab”?”. Sunyi. Larut dalam tekanan psikis dan fisik yang sangat berat.
Tiba-tiba terdengar kembali suara berat Nabi Muhammad saw, “Berdirilah wahai Hudzaifah!”.
Keterkejutan Hudzaifah hanya terjadi sejenak. Berikutnya ia segera mengayunkan kakinya menjalani dengan penuh totalitas tugas yang diamanahkan oleh Sang Pemimpin padanya. Bahkan saat ia berada di tengah pasukan musuh, ia pun menceritakan seandainya ia tak ingat pesan dan fungsi penugasan dirinya, maka ia akan sangat leluasa bisa membunuh para tokoh-tokoh lawan, menghabisi mereka yang kini ada di depannya. Namun, ia pun menenangkan dirinya untuk tetap menjaga garis tugas dan wewenangnya.
Memang ini bukan menjadi satu-satunya faktor kemenangan Perang Ahzab, masih ada ide “gila” Salman al-Farisy yang akan menjadi pembuka tabir kesungguhan dan kemunafikan para pejuang.
Musa, Maryam dan Hudzaifah adalah segelintir pejuang Allah, yang berperan atas turunnya pertolongan Allah yang berujung pada kemenangan yang dihadiahkan kepada para pejuang-Nya yang diberikan bukan dengan cuma-cuma. Tapi dengan ikhtiar yang didampingi ketaatan dan ketawakkalan menjemput kekuatan takdir-Nya.
Kini giliran kita menjemput kekuatan takdir tersebut dengan mengawinkan ikhtiar, tawakkal dan ketaatan. ”Katakan (Muhammad): Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira” (QS. 10 : 58)

Kegelisahan –selalu– Menanti Kemenangan
Jakarta, 08.09.2012