Catatan Keberkahan 13: INNÂLILLÂHI WA INNÂ ILAIHI RÂJI’ÛN

Dr. Saiful Bahri, M.A

“Saya sengaja membawa semua keluarga saya, istri dan anak-anak saya ke Istanbul” itulah kata-kata yang diucapkan almarhum Ahmad al-Barghawi ketika datang Istanbul untuk mengikuti acara Seminar Internasional Baitul Maqdis dan Muntada al-Ummah li Bait al-Maqdis (Forum Umat Islam untuk Bait al-Maqdis) yang merupakan rangkaian acara yang biasa dikenal mukhayyam ta’akhi atau mukhayyam al’usari al-maqdisy (Perkemahan Keluarga ). Beliau datang dua hari sebelum dimulainya acara.

“Sengaja demikian. Dua hari sebelumnya. Agar istri dan anak-anak saya bisa berjalan-jalan menikmati keindahan Istanbul. Selama ini karena banyaknya kewajiban dan tugas-tugas serta pekerjaan saya, mereka jarang sekali menikmati liburan, kebersamaan mereka dengan saya juga sedikit karena banyaknya aktivitas. Saya ingin menghibur mereka kali ini. Semuanya” tambahnya ketika ditanya teman dekatnya yang anggota Parlemen Tunis dari Partai Nahdhah.

Ternyata niatnya yang tulus untuk membahagiakan keluarganya dikabulkan Allah. Tekadnya yang kuat untuk menjadikan semua keluarganya peduli dengan al-Quds dan Palestina juga dikabulkan Allah. Dua keinginan tersebut dipenuhi oleh Allah. Beliau menemui ajalnya di utara Istanbul, tepatnya di sebuah rumah sakit di distrik Riva.

Baru saja sessi kedua akan dimulai, seminar Muntada (Forum Umat Islam Internasional) yang diadakan oleh Taim (Türk Arap İlişkileri Merkezi)- Center for Turkish Arab Relations yang bekerja sama dengan al-I’tilâf al-Âlami li nushrati al-Quds wa Filisthin (Aliansi Internasional untuk Pembelaan al-Quds dan Palestina). Sebagian besar peserta forum yang akan menuju auditorium utama dikejutkan oleh kerumunan masa di pantai yang terlihat berbagai tempat. Karena memang semua view menghadap ke pantai. Dari penginapan peserta, yang selain bertingkat juga berlapis, juga dari auditorium utama acara. Belakangan diketahui ternyata kerumunan orang tersebut sedang memberikan pertolongan pertama kepada seseorang yang tenggelam, sebagian lainnya menyaksikan dan mendoakannya.

Ahmad al-Barghawi, baru saja secara heroik menyelamatkan anak bungsunya, Ahmad Yasin, yang sedang terbawa ombak Laut Hitam yang tiba-tiba tak bersahabat, menguat dan membesar.  Sang anak –alhamdulillah- berhasil diselamatkan oleh kakak-kakaknya juga orang-orang yang berada tak jauh dari tempat itu. Tapi tubuh Syeikh Ahmad menjauh dan baru bisa ditepikan ketika dua anggota tim penyelamat pantai membawanya ke tepi dengan sketboath. Tak begitu lama kemudian sebuah ambulan datang ke hotel. Tapi masih saja tubuh syeikh tak merespon pertolongan yang dilakukan oleh tim resque. Kerumunan baru terlihat bubar ketika denyut jantung syeikh berdenyut kembali dan dipindahkan dari tepi pantai ke dalam ambulan untuk selanjutnya dibawa ke rumah sakit.

Alhamdulillah” orang-orang memanjatkan syukur sebagai pertanda membaiknya kondisi beliau sambil berharap semoga cepat siuman dan sadar kembali serta menjadi sehat seperti semula.

Sessi kedua dimulai dengan membahas hubungan Turki dan Bangsa Arab dalam sorotan. Ketika sessi kedua selesai, para peserta kembali dikejutkan dengan datangnya para polisi dengan beberapa mobil dan membuat police line di pantai. Beberapa orang di antaranya membawa petugas hotel untuk turun ke pantai. Beberapa saat kemudian sessi ketiga diteruskan, meski peserta berkurang jumlah pesertanya. Diskusi yang membahas masalah Suriah dan Mesir  berhenti beberapa menit sebelum adzan maghrib berkumandang. Pertanyaan para peserta pun kembali mengerucut: Ada olah TKP?

Pertanyaan tersebut segera terjawab setelah datang berita duka bahwa Syeikh ahmad al-Barghawi meninggal dunia. Wafat di rumah sakit. Saat perawatan lanjutan, karena air sudah jauh memasuki otak beliau. Innâ lilLâhi wa inna ilaihi râji’un.

Para peserta berduka, terutama delegasi dari Tunisia. Semua segera melakukan shalat Maghrib dan Isya yang ditutup dengan qunut, sebuah doa yang diperuntukkan kepada almarhum. Syeikh yang sudah berumur lebih dari enampuluh tahun itu adalah aktivis pembela Palestina. Hidup dan kegiatannya selalu dikaitkan dengan nafas pembelaan pada Palestina apapun judul dan motifnnya. Ideologis? Ya, karena beliau seorang muslim yang baik, bahkan satu di antara sekian da’i di negeri Tunis. Humanis? Ya, karena beliau tak rela ada manusia-manusia merdeka dinistakan dan direnggut kebebasannya, bahkan dihinakan dan dibunuhi serta dirusak kebersamaannya. Situs-situs Islam yang suci dan bersejarah dijarah dan terancam dihancurkan. Identitas para penghuninya dikaburkan atau diganti.

Beliau selalu berharap untuk gugur sebagai syahid dalam membela Palestina dan berusaha memebaskan Bait al-Maqdis yang sedang dijajah zionis Israel. Allah takdirkan beliau gugur di track yang berdekatan dengan syahid Bait al-Maqdis. Karena selain beliau tenggelam saat menyelamatkan anaknya, beliau juga sedang mengikuti acara besar yang merupakan pertemuan berbagai delegasi negara-negara dari berbagai penjuru dunia untuk berdiskusi dan bertukar pengalaman mencari jalan dan usulan mengakhiri kezhaliman dan ketidakadilan yang terjadi di Palestina serta hal-hal yang berhubungan di sekitarnya. Dan perkembangan terakhir yang sedang terjadi di Mesir dan Suriah.

Sudah tentu dengan kondisi demikian, acara pasti berubah format atau bisa bahkan diselesaikan.

Selesai berdoa untuk almarhum di masjid, para peserta yang sedianya bersantap makan malam, segera diarahkan ke auditorium utama untuk melakukan takziah kepada almarhum dan keluarganya serta delegasi dari Tunisia.

Keluarga almarhum masih di rumah sakit dengan beberapa delegasi Tunisia. Setelah dibacakan beberapa ayat al-Quran acara takziyah diisi dengan penyampaian kata-kata penghormatan dan penghargaan serta sambutan rasa bela sungkawa dan duka kepada almarhum. Dimulai dari perwakilan delegasi Tunis kemudian Jordan, Yaman, Iraq, juga dari Palestina dan beberapa negara lainnya.

Teman-teman dekatnya menyampaikan kalimat-kalimat takziyah dan bela sungkawa. Bahkan para peserta yang tak mengenalnya pun turut berduka, bertakziyah.

Allah memiliki cara untuk menyampaikan pesan penting melalui mushibah yang barangkali hanya biasa-biasa saja jika dilakukan melalui sarana diskusi dan lokakarya sebagaimana dijadwalkan semula. Tapi dengan renungan kematian ini semua menjadi terperangah, terkejut dan mengambil ibrahnya. Bukan pada kejadian sebelum meninggalnya beliau, tapi pada ajal yang menjemputnya saat ia ingin bahagiakan keluarganya, saat ia kerahkan keluarganya untuk warisi perjuangan membela al-Quds dan Palestina. Tak heran jika delegasi Aljazair menyebutnya telah mendapatkan al-husnayayain (dua kebaikan), yaitu bahagiakan keluarga dan wariskan perjuangan membela Palestina.

Delegasi Iraq bahkan mengumpamakannya dengan sebuah cerita. Konon ada seorang raja yang terluka tangannya, salah satu jarinya terputus, terpotong. Seorang penasehatnya mengiburnya seraya berkata, “Di dalam setiap musibah terdapat kebaikan. Demikian juga di balik terpotongnya jari paduka ada berbagai kebaikan”. Tak di sangka perkataan ini membuat sang raja marah dan kemudian menjebloskannya ke dalam penjara. Ia pun bergumam, “Di balik penjara pun pasti ada kebaikan yang diinginkan-Nya” tambahnya.

Suatu hari sang raja berburu. Tapi naas nasibnya, ia ditangkap segerombolan orang dari pedalaman hutan. Kemudian mereka berencana menjadikannya kurban yang disembekih yang adan dipersembahkan darah dan nyawanya kepada arwah leluhur sesembahan mereka. Tapi kepala suku menolak persembahan dikarenakan adanya cacat di tangannya. Salah satu jarinya terpotong. Sang raja pun di bebaskan. Ia pun kemudian memahami maksud perkataan penasehatnya yang ia penjarakan. Ia pun bergegas menemui penasehatnya. “Aku telah menemukan kebaikan di balik terpotonya jari tangan saya. Lalu apa yang Anda temukan dari kebaikan yang ada di balik penjara.” Sang penasehat menyahutnya segera, “Kebaikan yang saya dapatkan adalah, seandainya Paduka tak memenjarakan saya, maka Padukan akan angkat saya bergabung dengan peburuan Paduka. Dan ketika ikut bersama Anda bisa jadi saya tertangkap dan kemudian mati di tangan suku yang menangkap Anda. Itulah kebaikan yang saya dapatkan di penjara ini”

Syeikh Ahmad al-Barghawi telah pergi. Menemui Dzat yang dicintainya. Yang ia beramal untuk meninggikan agama-Nya. Meski ia berharap meninggal seperti para pejuang pembela Palestina di medan peperangan. Allah pilihkan cara untuk menyampaikan pesan kepada para aktivis yang sedang berkumpul bersamanya.

Allah kirimkan banyak kebaikan bersama kepergiannya:

  1. Allah sampaikan nasihat yang membangunkan orang-orang tidur. Menyadarkan orang-orang lalai. Menyengat dan menyemangatkan orang-orang yang mungkin sedikit lupa bahwa ia akan menemui ajalnya dengan cara yang tak diketahuinya. Tempat dan waktunya pun menjadi ghaib bagi siapa saja. Kematian. Sesuatu yang ditakuti para pecinta dunia dan sangat dirindukan oleh orang-orang yang mencintai pemilik segala.
  2. Allah mengirimkan pesan bahwa cita-cita mulia terus dibawa sepanjang usia, bahkan sampai pun jiwa sudah meninggalkan jasadnya. Maka menjadikannya menyebar, meluas, menebarkannya ke berbagai orbit kehidupan menjadi sebuah keniscayaan. Dan dimulai dari sebuah keluarga kecil. Anak dan istri serta keluarga dekat untuk mendengungkan impian mulia. Memperdengarkan berita-berita gembira yang disampaikan para sahabat kepada para penerusnya. Memberikan estafet cita-cita membela al-Quds dan Palestina. Sebagaimana yang almarhum contohkan. Mengerahkan segala yang ada padanya, dari waktu, potensi dan segala yang dikaruniakan padanya. Kemudian beliau salurkan semangat itu kepada orang-orang yang ada disekitarnya.
  3. Membahagiakan keluarga, menjadi keinginan setiap manusia. Tetapi beberapa diantaranya melakukannya dengan cara yang kadang mengeluarkan dari orbit kebahagiaan sesungguhnya. Sebagian membahagiakan keluarga dengan memberikan fasilitas materi dunia. Sebagian membahagiakan dengan menyintainya melebihi segalanya. Sehingga apapaun yang dicarinya selalu bermotif mendahulukan keluarga. Akhirnya menjadikannya buta dari halal dan haram. Allah dan Rasulnya dijauhkan dari nafas hidupnya.

Kepergian Syeikh Ahmad al-Barghawi mengirim pesan pada kita untuk tidak lupa memanusiakan istri dan anak-anak kita. Memberikan beberapa waktu untuk bahagikan mereka yang kadang terhalang karena banyaknya kesibukan kita. Tetapi tetap dalam orbit perjuangan. Tetap berada pada sunnah-Nya.

  1. Kepergian Syeikh al-Barghawi menyalakan semangat para peserta, sekaligus merupakan berita gembira. Kesulitan-kesulitan yang dialami umat Islam di mana-mana: dinistakan dan dibunuhi secara kejam di Suria dan Palestina. Dilemahkan dan dikejar-kejar seperti di Mesir dan Rohingya. Dan mulai diredupkan perannya di Tunis dan Libya. Sebagaimana pendahulu mereka ketika sampai ke jantung pemerintahan di Aljazair pada tahun 1992.
  2. Ditengah perdebatan dunia tentang ancaman serangan Amerika Serikat ke Suriah, kita terus mengingatkan diri dan orang-orang disekitar kita untuk tak lupa bahwa keinginan rakyat Suriah untuk membebaskan diri mereka dari berbagai kezhaliman yang membelenggu mereka puluhan tahun lamanya. Untuk ekspresikan ajaran Islam sebagaimana mestinya.
  3. sKudeta militer yang mulai terlihat hakikatnya dan pendukungnya. Pelan namun pasti Allah buka tabir kemunafikan dan hijab kedengkian yang melahap persahabatan dan persaudaraan yang sanggup menjadi motivasi berbuat kekejian di luar batas. Membunuh, menistakan, memfitnah dan merendahkan kemanusiaan.
  4. Kematiannya, bagaikan ghulam dalam cerita ashâbul uhdûd. Kematiannya menyalakan semangat tauhid. Kematiannya, bagaikan Hamzah dalam cerita Uhud. Yang menyulut semangat para pejuang untuk memenuhi panggilan jihad yang disampaikan Rasulullah untuk melanjutkan angkat senjata ke Hamra’ al-Asad. Kematiannya bagaikan, Zakaria dan Yahya yang nabi-nabi Allah tapi dinistakan kaumnya, kemudian menyalakan semangat bertahan di dada pengikut Isa hingga masa yang ditentukan Allah terlihatnya tanda-tanda kekuasaan-Nya melalui cerita Ashâbul Kahfi.

Innâ lilLâhi wa inna ilaihi râji’un. Semua kita berasal dari Allah, Dialah pemilik semua. Kepemilikan yang sempurna. Maka seharusnya hidup manusia semua diperuntukkan, dipersembahkan, ditujukan untuk memurnikan ibadah kepadanya. Inilah semangat inna lillah. Sehingga saat semua dikembalikan kepada Allah termasuk diri, jiwa atau pun apa saja yang bersama kita. Kita bisa benar-benar kembali kepada-Nya dengan sepenuh ridha-Nya. Kembali pada-Nya mendapatkan apa yang dijanjikannya, cinta dan surga-Nya. Berkumpul bersama orang-orang yang diberi nikmat dan cinta-Nya.

Berharap Allah segera hilangkan berbagai bentuk kezhaliman yang ada di dunia saat ini. Allah angkat derita para pengungsi Palestina, Suriah dan Rohingya. Allah balaskan keangkuhan Fir’aun-Fir’aun baru dengan segera tumbangkan kekuasaan dan kezhalimannya.

HasbunalLâhu wa ni’ma al-wakîl.

Catatan Keberkahan 013

Istanbul, 05.09.2013

Dedicated to: Syeikh Ahmad al-Barghawi, aktivis Palestina anggota delegasi Tunis pada Muntada al-Ummah li Bait al-Maqdis di Istanbul, Penasehat Menteri Urusan Agama Islam di Tunis.

Iklan

PENSIUN DARI KEPENSIUNAN

Dr. Saiful Bahri, M.A

Now I announce that I retire from retirement

Nelson Mandela

Perjuangan menuju kebebasan tiada pernah mengenal kata pensiun. Kerja keras dan ikhtiar cerdas menuju pembebasan dan berdiri bersama orang-orang yang bermental serta berpendirian sama juga tak mengenal kepensiunan. Sebagaimana tak dikenalnya pensiun saat membela hak dan kebenaran melawan berbagai bentuk kezhaliman.

Salah satu kezhaliman di zaman modern adalah kooptasi, pendudukan ilegal, pengusiran, bahkan menyentuh wilayah fisik dan pembunuhan secara personal ataupun masif. Itulah yang dialami oleh bangsa Palestina. Itu belum termasuk perlakuan diskriminatif dalam berbagai hal yang dilakukan Israel, baik otoritas pemerintahan maupun prilaku individu warganya.

Untuk hal di atas, pembenaran terhadap kezhaliman takkan pernah didiamkan oleh nurani masyarakat dunia, yang lintas etnis dan lintas ideologi. Dan atas nama kemanusiaan maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan. Demikian penekanan yang dilakukan Bangsa Indonesia di pembukaan UUD 1945.

Senada dengan hal tersebut, salah seorang yang ikonik dengan perlawanan terhadap perilaku kezhaliman dan diskriminatif, Nelson Mandela dengan lantang teriakkan:

We know too well that our freedom is incomplete without the freedom of the Palestinians

Ketidaklengkapan itu memang sangat terlihat. Di saat para “bangsa” tetangganya berlomba investasikan uang pada urusan matrealistik, bangsa Palestina harus tetap eksis di tengah blokade dan pengucilan internasional karena tak kunjung dapatkan kedaulatannya sebagai bangsa yang merdeka. Merdeka tentukan nasib dan mengatur negaranya sendiri.

Memang benar bahwa kezhaliman tak pernah mengenal rasionalisasi. Sehingga takkan pernah dimaklumi oleh siapapun. Maka lambat atau cepat ia akan tumbang, tak mampu bendung perlawanan kuat dan terus menerus dari si “mazhlum” yang makin luas meraih simpati dan empati.

Kebijakan Firaun membunuhi anak-anak kecil berjenis kelamin laki-laki dari kalangan Bani Israel tidaklah perlukan rasionalisasi. Meskipun para penjilat dan pembisiknya melihat bahwa rasionalisasi dapat dilakukan dengan mendramatisir mimpi sang “majikan” mereka.

Saat kezhaliman dipertontonkan setiap hari, setiap saat dan hanya mendapat respon diam, tak berarti bahwa semua pihak menerimanya. Kezhaliman adalah sekam panas. Kezhaliman adalah bom waktu tanpa pelatuk. Kezhaliman gunung berapi yang tak bisa diprediksi. Kezhaliman adalah sisi lain dari kegelapan yang dibenci siapapun. Dan munculnya kezhaliman bukan karena buta huruf dan ketidaktahuan. Ia muncul karena matinya nurani yang tunduk oleh nafsu berkuasa dan menguasai serta lalai dan terpesona dengan kekuasaan.

Padahal kekuasaan yang disertai atau tanpa keadilan tetap diintai oleh siapa saja yang bisa jadi dimulai dari orang-orang sekitar orbit kekuasaan. Maka kualitas dan efek kekuasaan akan sangat dahsyat. Karenanya kepemimpinan lebih berpengaruh dari sekedar kekuasaan yang cenderung diperebutkan. Sedang kepemimpinan hanya akan singgah pada orang-orang tepat yang memiliki naluri untuk memimpin, meski jauh dari kekuasaan. Meski jika dipadu kepemimpinan dan kekuasaan akan menjadi sangat dahsyat.

Sebagai contohnya, sebut saja Gaza. Setahun terakhir sedikit bernafas lega dengan kebijakan pemerintah Mesir yang muncul dari kemenangan di bilik suara pemilihan. Pemerintah yang terang-terangan mendukung (back up) Bangsa Palestina di saat yang lainnya memiliki kebijakan abu-abu atau bahkan menentangnya. Maka tak heran blokade yang dilakukan oleh Israel sejak 2005 yang didiamkan dunia internasional itu sedikit mulai tak dirasakan karena ada kebijakan “penguasa” yang sekaligus memiliki naluri kemimpinan yang bisa menginspirasi bangsa-bangsa dan pemerintahan lainnya.

Maka saat simbol penguasa dan sekaligus pemimpin Mesir yang terpilih secara demokratis tersebut terguling dengan penuh tanda tanya. Militer mengudetanya dengan inkonsistensi rasionalisasi. Kadang menyebutnya menyuarakan suara rakyat, padahal bilik suara sebelumnya membuktikan sebaliknya. Kadang menyebutnya demi menjaga keamanan, padahal ekses kudeta menjadikan negara ini terbelah menjadi tak aman.

Terlepas dari peristiwa kudeta di Mesir rakyat Gaza merasakan efek yang luar biasa. Terlebih dalam hitungan hari Refah Border (Pintu Perbatasan Refah) ditutup. Kegaduhan politik tersebut diikuti dengan berbagai kekerasan yang diframing media sebagai respon atas tergulingnya Mursi. Pada kenyataannya rezim kudeta yang melakukan kekerasan yang menewaskan nyawa-nyawa dari pendemo yang tak bersenjata. Mereka juga yang menghancurkan puluhan terowongan di Gaza. Yang sebelumnya tak pernah terjadi dalam hitungan tahun atau bulan.

Terowongan yang jumlahnya tak diketahui tersebut adalah bentuk perlawanan lain Bangsa Palestina selain perlawanan senjata dan statemen politis. Sedihnya yang melakukan penghancuran tersebut bukanlah lawan utama mereka, Zionis Israel, tetapi justru dilakukan oleh saudara dan tetangga dekat mereka, Mesir. Di rezim militer penguasa sebelumnya, Mubarak, mereka juga semakin terdesak karena pemerintah Mesir tak pernah memihak dan simpati pada kebutuhan hajat tetangganya. Yang sebenarnya tak terlalu membutuhkan bantuan materi dari mereka. Gaza hanya membutuhkan kemudahan penyaluran bantuan. Dan itu yang didapat setelah runtuhnya rezim Mubarak. Saat serangan militer melalui udara yang dilakukan Israel di akhir 2008 dan di awal 2009, dan diulang beberapa hari di bulan-bulan akhir 2012, terowongan memegang peranan signifikan dalam menjaga eksistensi dan ketahanan Bangsa Palestina ditengah berbagai serangan. Tapi saat pemerintah resmi pasca reformasi digulingkan, terowongan tersebut segera diluluhlantakkan. Itu belum karena penutupan border secara sepihak oleh penguasa Mesir. Maka Gaza kembali menjadi penjara terbesar di dunia dengan jumlah “tawanan” satu juta tujuh ratus ribu (1.7000.000) jiwa.

Sebagai akibatnya, puluhan ribu kegiatan transportasi darat dan laut macet karena berhentinya pasokan bahan bakar, onderdil kendaraan dan bahan-bahan material bangunan juga menjadi langka. Ada lima puluh ribu penduduk Gaza yang bergantung hidupnya dari penangkapan ikan (nelayan). Dengan berhentinya pasokan bensin, maka aktivitas nelayan di perairan Gaza berhenti seketika. Taksi-taksi menjadi sangat sulit beroperasi. Para kuli bangunan menganggur karena berhentinya aktivitas pembangunan fisik. Dan mengalihkan ketergantungan dari Mesir ke Israel adalah hal yang buruk bagi Bangsa Palestina. Karena prinsip pejuang-pejuang perlawanan selalu mengatakan bahwa “Siapa saja yang bisa memenuhi kebutuhan pangannya sendiri ia akan mandiri dalam mengambil keputusan”. Setelah lahan pertanian makin menuai hasil dikarenakan swasembada pangan mereka, maka setidaknya bahan bakar, onderdil kendaraan dan material bangunan tidak bergantung pada pihak yang selama ini mereka lawan, pihak yang selalu menzhaliminya selama hampir tujuh puluh tahun lamanya.

Stabilitas harga pun mulai goyah. Harga semen naik hampir 50%, kebutuhan fisik bangunan sekolah terancam. Sebagai contoh adalah statemen Ketua Aliansi Kontraktor di Gaza, Nabil Abu Mu’ailiq yang menyatakan, bahkan banyak mega proyek dari donator Negara Qatar terhenti karena ketatnya pengamanan dan pemeriksaan pihak otoritas Mesir.

Dari sisi opini justru secara sadis pers-pers Mesir menuduh presiden mereka berkhianat dengan penyaluran-penyaluran (yang sebenarnya legal) ke Gaza. Sementara rezim sebelumnya yang menyalurkan banyak hal serta kebijakan yang berpihak pada Israel –justru- tak pernah dipermasalahkan. Pembangunan opini ini dipertajam dengan menciptakan konflik bersenjata di dataran Sinai seolah-olah gerakan perlawanan Palestina bermain di sana pasca penggulingan Mursi sekaligus sebagai rasionalisasi penghancuran terowongan-terowongan seperti tersebut di atas. Padahal ada pihak lain bermain, militer dan intelijen Zionis “hampir pasti” mengambil peran dengan mengeruhkan konflik bersenjata di Sinai. Agar simpati rakyat Mesir terhadap kudeta militer meluas, ada pembenaran sekaligus untuk menumpas gerakan perlawanan Palestina yang diopinikan merugikan stabilitas Mesir. Berkali-kali pihak Palestina menyangkal terlibat dalam konflik senjata sebelum dan setelah kudeta militer. Tetapi opini ini justru tenggelam. Penembakan, beberapa bom dan serangan terhadap militer Mesir? Pasca kudeta ini hal tersebut mencoba diarahkan bahwa pelakunya adalah yang dirugikan dengan kejadian ini. Dengan kata lain pemicu dan pelaku kekerasan di Sinai secara otomatis hanya dua: pendukung Mursi atau gerakan perlawanan Palestina di Gaza. Padahal kesimpulan tersebut sangat prematur. Mereka melupakan Zionis yang seolah hanya duduk manis menyaksikan pertikaian dua saudara bertetangga ini. Terlalu naif bila opini ini tak dikembangkan.

Melalui kudeta ini, rakyat Palestina terutama yang di Gaza khawatir, permasalahan Palestina akan tereduksi. Karena kepedulian terhadapnya akan kembali mundur bahkan lebih buruk dari sebelumnya. Dari sisi pengamanan militer, sudah pasti akan terjadi peningkatan dan pengerahan masif di wilayah dataran Sinai. Maka pihak Zionis bisa lebih nyaman sekaligus menghemat anggaran karena fungsi pengamanan dibantu oleh militer Mesir. Sedangkan anggaran militer Mesir akan meningkat tajam, terutama untuk menjaga wilayah perbatasan, disamping sibuk meredam efek dari kudeta yang mereka lakukan kepada presiden terpilih yang sah.

Militer Mesir, juga Zionis sangat khawatir jika efek kudeta juga sampai secara masif di Sinai. Efek buruk bisa terjadi jika para penduduk Sinai ikut-ikutan turun ke jalan mendemo kudeta atau terjadi benturan massa antara yang pro militer dan pendukung Mursi. Maka menciptakan suasana mencekam dan tak aman juga merupakan salah satu strategi. Karena penduduk perbatasan paling tahu kondisi yang di alami rakyat Palestina di Gaza.

Pemerintah Zionis membuka Border “Ain Sina”. Sebuah perbatasan Mesir dan Israel yang selama lebih dari sepuluh tahun ditutup rapat. Para pengamat militer mencurigai ada sesuatu di balik pembukaan perbatasan ini. Pembukaan perbatasan (Ain Sina) yang disertai penutupan dan pengawasan berlebihan di perbatasan yang lain (Refah).

Tindakan-tindakan provokatif di atas untuk memancing otoritas Palestina di Gaza agar melakukan respon negatif yang bisa mereduksi simpati rakyat Mesir khususnya dan dunia internasional secara umum. Di saat yang sama media dan militer memerlukan “sedikit” saja statemen dan respon negatif tersebut untuk dijadikan rasionalisasi sekaligus didramatisir secara bombastis.

Kondisi-kondisi di atas belum termasuk pengamatan dan perkembangan di rumah sakit-rumah sakit. Beberapa pasien gagal ginjal semakin menderita dengan ditutupnya perbatasan Refah. Ketersediaan obat dan peralatan medis kembali menjadi kendala serius di klinik-klinik dan rumah sakit Gaza.

Sudah ada puluhan dan ratusan bahkan ribuan penduduk Palestina meninggal karena serangan militer Israel. Puluhan rumah, pemukiman, tempat-tempat umum hancur karena rudal-rudal mereka. Maka sulit dibayangkan ada perkembangan buruk dengan pemadaman-pemadaman ekstrim listrik harus kembali terjadi. Subsidi bahan bakar yang berhenti mengancam puluhan aktivitas mesin yang berdampak pada hajat hidup masyarakat. Mengingat rata-rata pemadaman listrik setiap hari kini meningkat menjadi di atas dua belas jam dari hanya delapan jam sebelumnya.

Maka sudah matikah hati manusia ketika mendengar ada seorang ibu terluka bakar parah karena melindungi keempat anak kecilnya dari kebakaran di rumahnya? Tahukah Anda penyebab kebakaran tersebut?

Itu karena lilin yang mereka gunakan sebagai penerangan menyambar selembar kain yang kemudian membesar hingga sulit dipadamkan. Akibat dari lamanya pemadaman listrik yang sering terjadi.

Dan lautan manusia di Cairo, Aleksandria, Ismailia, Mansoura dan tempat-tempat lainnya yang menolak kudeta sebenarnya mempertahankan amanat demokrasi yang menyuarakan secara simpatik kepada pembelaan Bangsa Palestina. Di samping menjadi urusan internal Mesir, perkembangan kondisi terakhir tetap memberi dampak pada Palestina.

So… masih memihak kudeta militer atas demokrasi atau enggan menamakan kejadian ini sebagai kudeta? Jika bukan demikian, lantas apakah namanya?

Cepat atau lambat, tabir gelap peristiwa tersebut akan tersingkap . Dan karena para pejuang anti-kezhaliman berulang-ulang serukan : PENSIUN DARI KEPENSIUNAN dalam membela dan mengawal keadilan dan amanat masyarakat, singkirkan kezhaliman yang angkuh, kelaliman yang dungu serta kesewang-wenangan yang rapuh.

HasbunalLâhu wa ni’ma al-wakîl.

Catatan Keberkahan 011

Jakarta, 21.07.2013

Terinspirasi oleh: 

Kudeta militer  Presiden Mesir yang terpilih secara demokratis, Dr. Muhammad Mursi oleh Menteri Pertahanan Mesir Jendral Abdul Fattah as-Sisy, 3 Juli 2013 dan Nelson Mandela International Day 18 Juli 2013 – di Menara Thamrin (United Nation Information Center [UNIC] Jakarta dan Kedutaan Besar Afrika Selatan di Jakarta)

MENGAPA BUKAN DI ZAMAN NABI SAW?

Dr. Saiful Bahri, M.A

Masjid al-AqshaUrgensi Masjid al-Aqsha yang dikaitkan dengan Masjid al-Haram sudah tak terbantahkan dan sangat melekat erat di benak setiap umat Islam. Namun, ada satu hal yang agak mengganjal. Sebagian kita mungkin bertanya atau setidaknya menyimpan tanda tanya besar dalam benaknya: Mengapa futuhât kota al-Quds tidak terjadi di zaman Nabi Muhammad SAW, tetapi justru terjadi di era khalifah kedua, amîrul mu’minîn Umar bin al-Khatthab ra?

Bukankah nubu’ât itu terlihat jelas, dimulai dengan dipilihnya Masjid al-Aqsha sebagai tempat transit Nabi SAW sebelum beliau mi’râj ke langit dan sidratil muntaha. Beliau bahkan sempat mendirikan shalat di sana, berjamaah dengan para nabi dan rasul utusan Allah, bertindak sebagai imam mereka. Bukankah Allah juga sanggup memperjalankan beliau secara langsung dari Masjid al-Haram di Mekah ke sidratil muntaha dan menerima titah perjalanan malam tersebut. Mengapa harus ke Masjid al-Aqsha?

Pertama, tentu tempat ini memiliki urgensi dan sejarah penting. Allah ingin tunjukkan hal tersebut.

Kedua, Allah ingin memberitahu keterkaitan semua risalah di bumi-Nya dengan eksistensi bumi yang diberkahi tersebut. Orbit risalah keberkahan itu –di antaranya- berasal dari tempat itu.

Ketiga, Allah hanya akan wariskan bumi yang diberkahi tersebut kepada kaum yang beriman, dari kalangan manapun, tanpa membedakan jenis kelamin dan etnis mereka.

Terbebasnya Al-Aqsha (al-Quds) melalui tangan-tangan pasukan muslimin di era Umar, memberikan nuansa cerita perjuangan yang berkesinambungan. Sekaligus menggambarkan bahwa pembebasan al-Quds tidak bergantung pada figur personal –saja- tetapi lebih kepada keshalihan kolektif.

Lantas… ada pertanyaan selanjutnya.

Tak ada yang meragukan keshalihan personal Nabi Muhammad SAW, sebagaimana tak terjadi perbedaan pendapat tentang keshalihan generasi pertama (para shahabat). Tetapi tentu ada hikmah lain yang dikehendaki Allah, terjadinya pembebasan al-Quds dan dikembalikannya Masjid al-Aqsha ke tangan umat Islam justru terjadi setelah wafatnya Nabi Muhammad SAW.

Di antara hikmah tersebut adalah kesinambungan ruh dan jiwa serta keimanan. Karena, faktanya bahwa Masjid al-Aqsha hanya akan diwariskan kepada orang-orang yang beriman saja. Demikian ditegaskan oleh Allah dari sejak diutusnya para nabi hingga kaum-kaum beriman yang mengikutinya.

Lihatlah Nabi Nuh yang disertai pamannya, Nabi Ibrahim ketika Allah selamatkan dari siksa pedih yang akan ditimpakan kaumnya, hujan batu dan dibalikkannya tanah tempat mereka berada. “Dan Kami seIamatkan Ibrahim dan Luth ke sebuah negeri yang Kami telah memberkahinya untuk sekalian manusia.” (QS. Al-Anbiya [21]: 71). Kata (الذي باركنا حوله/فيه) “sebuah negeri yang Kami berkahi” penggunaan yang senada seperti dalam peristiwa isra’.

Demikian juga janji Allah yang akan diberikan kepada pengikut Nabi Musa yang diselamatkan dari Fir’aun. “Dan Kami wariskan kepada kaum yang telah ditindas itu, negeri-negeri bagian timur bumi dan bagian baratnya yang telah Kami beri berkah padanya. Dan telah sempurnalah perkataan Tuhanmu yang baik (sebagai janji) untuk Bani Israil disebabkan kesabaran mereka. Dan Kami hancurkan apa yang telah dibuat Fir’aun dan kaumnya dan apa yang telah dibangun mereka.” (QS. Al-A’raf [7]: 137) Negeri yang dimaksud dalam ayat ini sebagaimana disebut di QS. Al-Maidah [5]: 21. Yaitu bumi Palestina (Bait al-Maqdis)

Simak dan tadabburi bersama kisah Sulaiman yang diberi mukjizat angin oleh Allah. “Dan (telah Kami tundukkan) untuk Sulaiman angin yang sangat kencang tiupannya yang berhembus dengan perintahnya ke negeri yang kami telah memberkatinya. Dan adalah Kami Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS. Al-Anbiya [21]: 81). Negeri yang dimaksud adalah negeri Syam dan Palestina.

Kisah kaum Saba yang berada di era kejayaannya juga terselip cerita tentang bumi yang diberkahi, “Dan Kami jadikan antara mereka dan antara negeri-negeri yang Kami limpahkan berkat kepadanya, beberapa negeri yang berdekatan dan Kami tetapkan antara negeri-negeri itu (jarak-jarak) perjalanan. Berjalanlah kamu di kota-kota itu pada malam hari dan siang hari dengan dengan aman.” (QS. Saba [34]: 18). Yaitu jarak antara negeri Saba’ dan desa-desa di Syam (Palestina)

Bahkan Nabi Musa AS. meminta untuk diwafatkan di tanah yang diberkahi tersebut, di tanah Bait al-Maqdis.

أخرجه البخاري و مسلم عن أبي هريرة رضي الله عنه ، أنه صلى الله عليه وسلم قال : أرسل ملك الموت إلى موسى عليه السلام ، فلما جاءه صكَّه ففقأ عينه ، فرجع إلى ربه فقال : أرسلتني إلى عبد لا يريد الموت ، قال : فرد الله إليه عينه وقال : ارجع إليه ، فقل له : يضع يده على متن ثور ، فله بما غطت يده بكل شعرة سنة ، قال : أي ربِّ ثم مه ؟ قال : ثم الموت ، قال : فالآن ، فسأل الله أن يدنيه من الأرض المقدسة رمية بحجر ، فقال رسول الله – صلى الله عليه وسلم- فلو كنت ثَمَّ لأريتكم قبره إلى جانب الطريق ، تحت الكثيب الأحمر

Hadis yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah ra, Nabi Muhammad SAW bersabda , “Allah mengutus malaikat maut kepada Nabi Musa as. Ketika sampai kepadanya Musa mencolok matanya. Kemudian ia kembali pada Tuhannya dan mengadu: Engkau mengutusku kepada seorang hamba yang tak menginginkan kematian. Allah kembalikan matanya kemudian perintahkan kembali kepadanya (Musa as). Katakan padanya: letakkan tangannya di atas punggung seekor banteng, maka bagian yang tertutupi tangan setiap helai rambutnya satu tahun. Musa bertanya: kemudian apa Ya Rabb. Allah mengatakan: kemudian kematian. Maka sekarang. Musa memohon agar ia didekatkan dengan tanah suci (Bait al-Maqdis) sedekat lemparan batu. Rasulullah SAW bersabda: Jika aku berada di sana, tentu akan aku tunjukkan kuburannya di sebuah tepian jalan di bawah gundukan tanah merah

Sekilas hadits shahih di atas mengindikasikan bahwa Nabi Musa sangat angkuh dan suka main kekerasan. Padahal ada penjelasan yang sangat argumentatif, seperti yang disampaikan oleh Ibnu Hajar saat mensyarah hadits Bukhari diatas ataupun Imam Nawawi saat member penjelasan hadits Muslim tersebut. Malaikat maut yang dikirim Allah di atas menjelma menjadi manusia biasa (juga sebagaimana Allah kirim kepada nabi-nabi-Nya atau orang-orang shalih dengan menyerupai manusia biasa lihat QS. Maryam [19]: 17). Nabi Musa tak mengetahui hal tersebut, maka ia anggap sang malaikat sebagai manusia biasa (orang asing) yang hendak mengganggu privasinya, memasuki rumahnya. Maka pembelaan diri Nabi Musa sebenarnya juga merupakan anjuran untuk pertahankan harga diri dan martabat. Bahkan sekelas malaikat pun “tak berdaya” menghadapi kekukuhan Nabi Musa atas hak bela dirinya. Maka saat ia kembali dan jelaskan maksud kedatangannya sesuai arahan Allah, Nabi Musa menerima takdirnya. Hanya saja, beliau meminta diberi kesempatan meninggal di tanah suci, bumi yang diberkahi Allah. Tanah Palestina.

Dan Masjid al-Aqsha adalah tempat sujud tertua kedua di dunia setelah Masjid al-Haram. Adamlah manusia pertama yang injakkan kakinya di sana, seorang nabi muslim yang beriman kepada Allah dan esakan-Nya.

Demikian dilanjutkkan keturunan Nuh, Ibrahim, Luth. Bahkan sampai saat keturunan Ya’qub ke tanah suci ini Masjid al-Aqsha dijaga oleh orang-orang yang beriman. Hingga datang saatnya Masjid al-Aqsha dikuasai orang-orang zhalim yang berbuat kerusakan dan menebar kemungkaran yang disebut oleh al-Quran dengan sebutan “qauman jabbârin”. Musa alaihissalâm dititahkan Allah memasukinya dan mengambil alih kendali kepemimpinan dan kemakmuran di tanah suci tersebut. Sayangnya titah tersebut dibantah oleh kaumnya. Dan Allah menghukum mereka. Bahkan mengharamkannya untuk selama-lamanya (menurut sebagian mufassirîn).

Allah juga kirimkan Dawud ‘alaihissalâm pemuda berusia delapan belas tahun yang hanya seorang penggembala kambing yang tergabung dalam pasukan yang dipimpin Panglima Thalut. Seorang pemuda muslim yang beriman ini bahkan tak dikenal siapa-siapa. Ia hanya seorang prajurit biasa sebagaimana yang lainnya. Tetapi kisahnya berubah setelah ditangannya Allah izinkan rezim Jalut berakhir. Ia menjadi pewaris mulia yang kemudian ditahbiskan menjadi seorang raja.

Allah juga kirim Zakariya dan putranya Yahya di tanah suci ini. Sepasang bapak anak yang nabi ini juga keponakannya Isa al-Masîh Allah kirim ke tanah suci. Tapi justru ketiganya diburu dan menjadi target pembunuhan oleh bangsa Yahudi saat itu. Dua yang pertama Allah takdirkan terbunuh sebagai syahid di tangan para durjana, sementara Isa Allah selamatkan dan angkat ke langit-Nya.

Tanah suci Bait al-Maqdis merupakan tanah yang –hanya- diwariskan oleh Allah hanya kepada siapapun dari hamba-Nya yang beriman, dari mana pun asalnya, tanpa diskriminasi kesukuan dan etnis serta jenis kelamin.

Allah hanya ingin menegaskan jika pertanyaan di awal tulisan ini setidaknya bisa dijawab, maka pembelaan al-Quds dan Masjid al-Aqsha. Penjagaan, pemeliharaan, jihad mempertahankan kesuciannya dan seterusnya tidaklah hanya menjadi tanggungjawab nabi-nabi, melainkan menjadi tanggung jawab semua orang beriman yang mengaku mengesakan Allah dan bersaksi bahwa Muhammad SAW sebagai utusan-Nya di mana pun, berasal dari mana pun, berlatar belakang apapun. Maka permasalahan al-Aqsha dan al-Quds tidaklah tereduksi hanya menjadi masalah bangsa Palestina –saja-, tetapi ini menjadi masalah universal seluruh umat Islam, lintas geografi, etnis bahkan lintas generasi, sampai tanah suci tersebut kembali kepada umat Islam. Keesaan Allah benar-benar ditegakkan di sana. Kira-kira sama seperti saat Umar memasukinya dengan kepala tegak meski tak angkuh dan sombong. Justru penuh tawadhu dan kesederhanaan. Mengundang decak kagum dan penghormatan. Sarat dengan kesantunan dan toleransi, penuh penghayatan jiwa kemanusiaan sekaligus menjadi penjaganya dari segala bentuk kezhaliman, apapun namanya, siapapun pelakunya.

Simak apa yang dilakukan Umar saat memasuki kota al-Quds.  Umar bin Khattab minta ditunjukkan oleh Pendeta Sophronius letak Masjid al-Aqsha, tempat yang dijadikan ahlul kitab beribadah. Setelah memasukinya ia bertakbir “Inikah masjid yang diberitahu oleh Rasulullah SAW?”, gumamnya. Waktu itu Masjid al-Aqsha  hanya merupakan pelataran dan tanah lapang yang luas. Sentrumnya berupa sebuah batu mulia yang menjadi pijakan Nabi Muhammad SAW saat hendak mi’raj, yang dijadikan kiblat shalat Nabi Musa dan kaumnya Bani Israil. Umar kemudian bertanya kepada Ka’b al-Ahbar (seorang tabi’in yang sebelumnya penganut yahudi); kira-kira di mana yang tepat untuk dijadikan tempat shalat di wilayah tersebut. Ka’b mengisyaratkan untuk membangunnya di belakang batu mulia tersebut (di bagian sebelah utara) sehingga bersatulah dua kiblat sekaligus; Kiblat Musa dan Kiblat Muhammad, dan batu tersebut berada di depan orang-orang yang shalat. Umar dengan tegas menolak usulan ini, dengan alasan karena mencampur dua kiblat. Yaitu kiblat yang sudah dinasakh (menghadap shakhrah/batu Masjid al-Aqsha) dan kiblat yang berlaku yaitu menghadap Baitullah al-Haram di Mekah. Hal ini justru menginspirasi beliau untuk mengeluarkan ide membangun masjid di depan batu mulia tersebut. Maka dibangunlah sebuah masjid di ujung selatan pelataran Masjid al-Aqsha sebagai tempat shalat tertutup yang didalamnya terdapat mihrab dan mimbar sekaligus. Itulah masjid pertama dalam bentuk fisik bangunan tertutup yang didirikan oleh Umar. Dan karena arahnya paling depan menghadap kiblat maka tempat tersebut dinamai dengan “al-Masjid al-Qibly”. Masjid ini berupa bangunan dari kayu-kayu yang bisa menampung sekitar seribu orang untuk menunaikan shalat. Kondisi ini berlangsung hingga zaman Muawiyah bin Abi Sufyan.

Sebenarnya di kompleks Masjid al-Aqsha yang memiliki panjang di bagian utara 310 m, bagian timur 462 m, bagian selatan 281 m, dan bagian barat 491 m tersebut dibangun beberapa tempat shalat (masjid/mushalla) selain al-Masjid al-Qibly, ada Mushalla al-Marwani yang terletak di sebelah kiri al-Masjid al-Qibly. Yaitu hall tertutup terbesar di kompleks Masjid al-Aqsha sebelah timur seluas 4000 m2. Ada juga al-Masjid al-Qadim, Mushalla an-Nisa’, Masjid Buraq, Masjid Magharibah.

Keenam masjid di atas terletak di depan batu mulia (ash-shakhrah) yang juga kemudian dikenal sebagai Masjid Qubbatu ash-Shakhrah sebagai salah satu seni interior dan eksterior bangunan yang sangat menakjubkan di salah satu era kejayaan Daulah Umawiyah. Masjid yang terakhir ini sering menjadi ikon Masjid al-Aqsha. Sehingga banyak yang mengira bahwa itulah Masjid al-Aqsha.

Kembali kepada kisah Umar. Beliau ingin melanjutkan tradisi sentralisasi masjid. Masjid dijadikan sebagai pusat peradaban. Dari masjid semuanya beliau ingin memulai. Maka di masjid itulah titik temu semua sendi peradaban Islam. Politik, ekonomi, kehidupan sosial, hukum, bahkan militer semua bermula dari tempat sujud. Ruh inilah yang saat ini digugat oleh kaum sekuler liberal yang ingin melunturkan ruh Islam agar jauh dari fisik umat Islam. Tak heran bila mereka mendengungkan agar Islam dan masjid sebagai ikonnya dijauhkan dari berbagai aspek kehidupan manusia. Seolah ingin dikatakan bahwa masjid hanya menjadi tempat shalat dan baca al-Quran saja.

Padahal Umar sebagaimana para pendahulunya, termasuk junjungannya Nabi Muhammad SAW selalu menjadikan masjid sebagai poros. Mus’ab bin Umair yang duta besar pertama dalam Islam, pakar diplomasi adalah jebolan masjid. Khalid bin Walid yang pakar strategi perang adalah alumni masjid, Amru bin Ash si cerdik yang pakar negosiasi adalah binaan masjid, Abdurrahman bin Auf, si tangan emas yang saudagar kaya itu adalah orang yang selalu mengakrabi masjid, si gerbang ilmu Ali bin Abi Thalib juga sang pecinta masjid, Hudzaifah yang musuh para munafiqin itu juga sehari-harinya di masjid, Abu Hurairah sang pakar hadits itu juga bahkan tinggal di teras masjid. Dan sederet panjang nama-nama para pahlawan Islam, semuanya bermula dan berujung dari masjid. Pendidikan dan ruh, binaan masjid; tempat sujud.

Saat Umar memasuki bait al-Maqdis dari al-Jabiyah untuk menandatangi piagam perdamaian dengan penduduk kota, Pendeta Sophronius mempersilakan dan memohon kepada beliau melakukan shalat di Gereja al-Qiyamah. Tetapi Umar menolaknya. Beliau mengatakan , “Jika aku shalat di dalamnya, aku khawatir orang-orang setelahku akan mengatakan ini mushalla Umar, kemudian mereka akan berusaha membangun masjid di tempat ini”. Itulah toleransi yang diajarkan Umar. Toleransi yang didengungkan nihil terjadi oleh kaum sekuler dan para pendengki jika umat Islam berkuasa. Faktanya menunjukkan sebaliknya. Justru sang pendeta yang meminta dan Umar menolaknya dengan halus serta mengemukakan alasan dengan sangat argumentatif, sangat santun.

Kini saat Islam digugat berbagai sektor, maka justru menjadi inspirasi bagi umat Islam untuk memulai kembali membangun kejayaan peradaban dari masjid. Termasuk proyek besar mengembalikan Masjid al-Aqsha secara berdaulat ke tangan umat Islam, tanpa kekhawatiran nihilnya toleransi seperti propaganda-propaganda kebencian yang terdengung setiap hari dengan berbagai cara yang tak bermartabat.

Wahai pemburu kebaikan terimalah keberkahan ini, wahai pelaku dosa dan kemaksiatan kembalilah ke masjid. Bersama bangun peradaban. HasbunalLâhu wa ni’ma al-wakîl.

Catatan Keberkahan 010

Jakarta, 10.07.2013

Bahan Kontemplasi:

  1. Dr. Abdullah Ma’ruf Umar, al-Madkhal ilâ al-Masjid al-Aqshâ al-Mubârak.
  2. Dr. Yusuf al-Qaradhawy, Al-Quds Qadhiyyah Kulli Muslim.
  3. Dr. Syauqi Abu Khalil, Al-Uhdah al-Umariyah: al-Bu’du al-Insâniy fi al-Futuhât al-Islâmiyah.
  4. Ali Ath-Thanthawi, Al-Islâm fi Qafash al-Ittihâm.
  5. Amru Khalid, Al-Aqshâ Kaifa Ya’ûd.
  6. Mukhlish Yahya Barzaq, Hadyu al-Musthafâ fi Gharsi Hubbi al-Aqshâ.

CYBER WAR

Dr. Saiful Bahri, M.A

Selama ini kita mengenal penyerangan fisik yang dilakukan oleh tentara zionis kepada bangsa Palestina. Dimulai sejak 1948 meletusnya perang pertama sebagai respon atas deklarasi Negara Israel beberapa bulan setelah keluarnya Resolusi PBB yang membagi wilayah Palestina menjadi dua, sebagian untuk Israel dan sebagian lagi untuk Palestina. Adapun wilayah al-Quds sebagai daerah netral yang berada di bawah pengawasan PBB. Setelah itu ada pengusiran, pendudukan ilegal agresi militer sampai pembakaran Masjid al-Aqsha. Serangan dan agresi militer yang masif di beberapa tahun terakhir yang terkenal adalah di akhir tahun 2008, kemudian menjelang akhir 2012.

Jika agresi militer lebih berdampak secara fisik, meskipun secara mental memiliki pengaruh meski belum terlalu signifikan. Maka ada serangan lain yang tak kalah berbahaya dengan agresi militer tersebut. Yaitu serangan yang berbasis dunia maya melalui situs internet. Mengingat saat ini sudah lebih dari 250.000 website yang diakses setiap hari dengan berbagai kategori. Di antara ratusan ribu alamat http tersebut ada beberapa ensiklopedia atau tulisan lepas yang menyajikan data, berita dan cerita seputar al-Quds atau Jerussalem atau bahkan Palestina secara umum, maka lebih didominasi oleh tulisan-tulisan yang mendukung kepentingan zionis.

Misalnya data yang dikemukakan oleh situs “wikipedia.org” ensiklopedi terbuka yang didirikan pada tahun 2001 ini diakses dalam berbagai bahasa dunia sekitar 250 bahasa. Untuk keyword Jerussalem akan didapatkan aksesnya dalam 168 bahasa dunia. Di antaranya: Alemannisch, العربية, Azərbaycanca, Česky, Deutsch, Español, فارسی, Français, Bahasa Indonesia, Italiano, Kurdî, Nederlands, Română, Slovenčina, Türkçe, Português dan bahasa-bahasa lainnya. Betapa ketersediaan data tentang kota ini dalam berbagai bahasa menandakan urgensi kota tersebut di mata penduduk dunia. Atau lebih tepatnya urgensi mengetengahkan data tentang kota Jerussalem ke dalam berbagai bahasa. Sayangnya data-data tersebut, terutama dari bahasa primernya “English” kurang berimbang atau lebih tepat berpihak kepada kepentingan zionis. Berbagai informasi sangat detil akan dijumpai dalam bahasa primernya Inggris dan Bahasa Arab. Meski terdapat perbedaan, tetapi dari sisi penyajian selalu mengetengahkan sebuah data Jerussalem Timur dan Barat. Melalui rekayasa tulisan buatan (fiktif dan bukan fakta) yang ingin disampaikan bahwa pembagian Jerussalem atau al-Quds menjadi Timur dan Barat adalah legal. Padahal hal ini baru terjadi pada tahun 1948 dengan pembagian secara paksa, karena Palestina berada di bawah penjajahan Inggris selama 31 tahun (1917-1948 M). Sebelumnya al-Quds termasuk wilayah Palestina yang berada dibawah naungan Daulah Usmaniyah, dan sebelum-sebelumnya sejak di buka oleh Amirul Mukminin, Umar bin Khattab sampai direbut kembali oleh Shalahuddin dari Tentara Salib yang sempat menguasainya beberapa tahun.

Sering disebut, Al-Quds Timur yang mencakup kota lama dan pelataran Masjid al-Aqsha sebagai ibukota Palestina merdeka (jika terealisasi kemerdekaannya). Sementara al-Quds (Jerussalem) Barat sering dilupakan bahwa saat ini berada dibawah kendali pemerintahan Zionis Israel. Al-Quds Barat ini merupakan 85% dari total wilayah kota al-Quds. Pendudukan ilegal Israel ini menjadi strategis karena saat ini kantor Perdana Menteri, Parlemen, Pemerintahan, Mahkamah Tinggi, dan beberapa tempat rekreasi unggulan serta tempat-tempat riset dan olah raga sudah sempurna dibangun dan sebagian besar dipergunakan oleh Israel. Maka sebenarnya pembagian Barat dan Timur ini untuk memperdaya secara ilmiah doktrin tentang kota al-Quds yang sebenarnya. Wilayah kuno yang tinggal 15% itu pun kini tak luput dari intimidasi fisik, situs-situs bersejarah termasuk penduduk muslim di dalamnya terancam eksistensinya. Terlebih Masjid al-Aqsha.

Inilah serangan pertama; pembagian al-Quds menjadi dua: Timur dan Barat adalah bentuk permulaan peperangan untuk menguasai dan menduduki al-Quds secara sempurna termasuk menduduki Masjid al-Aqsha dan atau menggantinya dengan Kuil Sulaiman yang mereka klaim berada di wilayah tersebut.

Yang kedua, definisi kota al-Quds yang dianggap oleh bangsa Palestina sebagai “calon” ibukota Palestina merdeka di masa mendatang sesuai piagam kemerdekaan yang ditandatangani pada 15 Nopember 1988. Yang dianggap Israel sebagai “calon” ibukota Israel raya termasuk wilayah al-Quds Timur paska perang 1967 dan dipertegas pada tahun 1980.

Definisi ini dalam berbagai bahasa ingin mengesankan bahwa: Al-Quds dilokalisir –hanya- menjadi masalah bangsa Palestina, padahal secara ideologis kota tersebut memiliki posisi penting di hati kaum muslimin sedunia, dan secara historis maupun kemanusiaan, kota tersebut perlu dibebaskan dari berbagai bentuk kekerasan yang bertentangan dengan semangat kemanusiaan. Apalagi saat diklaim hanya menjadi miliki Zionis Israel.

Yang Ketiga, Kota al-Quds dianggap sebagai kota suci tiga agama. Dalam bahasa Inggris disebutkan “Jerusalem is also a holy city to the three major Abrahamic religions—Judaism, Christianity and Islam.” Dan dalam Bahasa Arab di sebutkan “تعتبر القدس مدينة مقدسة عند أتباع الديانات السماوية الثلاث: اليهودية، المسيحية، الإسلام”.

Dalam data Bahasa Inggris digunakan framing: “Abrahamic religions” seolah-olah tiga agama yang akan disebutkan berasal dari satu sumber, padahal tidak demikian. Agama yang dalam terminology teologi sering disebut sebagai agama samawi ini diframing lebih doktrinal, yaitu sebagai agama-agama Nabi Ibrahim. Ketiganya jelas berbeda.

Demikian juga dalam Bahasa Arab. Penegasan kata “al-masîhiyah” sebagai representasi untuk pemeluk agama Kristen ada kesan penisbatan pada al-masîh yang merupakan nama lain Nabi Isa as. Dalam agama Islam istilah tersebut tidak dikenal. Al-Quran cenderung menamakannya dengan “an-nashrâniyyah”. Demikian juga kata “al-Yahûdiyah” yang sebenarnya di dalam al-Quran digunakan untuk menyebut Bani Israel setelah mereka ingkar terhadap Allah dan semakin menjauh dari jalan kebenaran. Ingin membuat framing ideologis sekaligus berdasarkan ras yang kemudian muncul istilah baru, yaitu Israel yang diambil dari nama lain Nabi Ya’qub as. Isra yang berarti “hamba” dan “il” yang berarti “tuhan”. Atau Abdullah dalam Bahasa Arab. Al-Quran sendiri menyebut Bani Israel lebih sering. Baik dalam penyebutan secara tidak langsung atau dalam sebutan langsung, panggilan atau seruan; seperti “Yâ Banî Isrâil”. Menurut Mantan Mufti Agung Mesir dan Imam Besar Al-Azhar, Syeikh Prof. Dr. Muhammad Sayyed Thanthawi dalam disertasinya, penyebutan “Bani Isra’il” memiliki banyak rahasia dan kesan, yang paling utama adalah penghormatan dan penghargaan terhadap Ya’qub alaihissalam yang memiliki sebutan nama “Isra’il”. Adapun beliau -tentunya- terbebas dari berbagai tuduhan ataupun kelakuan buruk para keturunannya yang kemudian disebut sebagai “yahudi” oleh al-Quran setelah mereka melakukan perbuatan tercela dan keluar dari jalur kebenaran.

Yang Keempat, pada bahasan periode kuno (Canaan Period) Jerussalem disebut dengan  City of David (Madinah Dawud). Penyebutan ini untuk mengesankan bahwa Jerussalem adalah warisan Dawud yang kemudian menjadi entry point sebagai warisan bangsa yahudi. Lebih parah lagi kota ini diklaim baru dikenal setelah adanya Nabi Dawud alaihissalam. Tentu hal tersebut perlu bukti sejarah yang kuat yang nyatanya tak pernah bisa dihadirkan dalam tulisan manapun.

Beberapa hal di atas sebagian bentuk amunisi serangan udara di forum-forum umum yang bisa jadi akan dirujuk atau dijadikan salah satu bahan pengetahuan para pengguna cyber. Masih ada beberapa hal lainnya dalam situs wikipedia, sebagaimana situs-situs lainnya baik yang free maupun yang berbayar. Melalui mereka amunisi serangan terhadap al-Quds dilancarkan

Yang Kelima, Selain empat hal di atas ada hal lain yang tak kalah penting disebutkan. bahwa dalam bahasan asal kata Palestina yang asal katanya bermacam-macam itu nantinya ditarik sebuah simpul yang ujungnya berbunyi sebagai bangsa yang menjadi lawan Bangsa Israel. Di berbagai situs akan disebutkan demikian setelah mengulas berbagai asal kata Palestina baik yang berasal dari bahasa latin maupun lainnya. Hal ini memberi kesan bahwa Bangsa Palestina adalah pendatang dan Bangsa Israel adalah penduduk asli. Padahal dalam sejarah pun disebut bahwa Bangsa Israel sebenarnya sudah dijanjikan tanah Palestina, namun mereka enggan memasukinya karena berjiwa pengecut dan takut berjihad memasuki kota yang dijanjikan tersebut. Dalam keyakinan Umat Islam maka Palestina kemudian diharamkan bagi mereka.

Selain hal-hal di atas masih banyak konten-konten lainnya yang mereduksi kebenaran sejarah, atau setidaknya mengarahkan pada kepentingan zionis dilakukan secara professional, didukung secara masif dengan kekuatan ilmiah, modal materi yang banyak, networking yang bagus serta tentara-tentara cyber yang menggempur dunia maya secara terus menerus.

Jika hal ini dibiarkan seperti ini maka ke depan konten-konten sejarah Umat Islam akan hilang atau berganti dengan konten-konten yang berpihak untuk kepentingan zionis. Saatnya para ulama muslim internasional bersatu mengerahkan kemampuan ilmiah mereka untuk mengumpulkan amunisi sejarah, fakta dan data. Di lain sisi mesti diimbangi oleh jenis tentara lain. Karena yang sedang dihadapi, selain agresi militer dan kekerasan fisik ada bentuk serangan lain yaitu Cyber War. Maka kita harus mulai memperbanyak menyebarkan informasi dan melawan cyber war ini dengan gigih. Ada beberapa situs yang sudah mulai melakukan hal ini dengan cukup baik. Di antaranya: http://alquds-online.org/, http://www.alzaytouna.net/index.php, http://www.felesteen.ps/, http://safa.ps/, http://www.infopalestina.com/, http://www.aqsaonline.org/ . Maka saatnya untuk melakukan serangan balik dengan baik dan terkoordinir.

Untuk hal tersebutlah Asia Pacific Community for Palestine (Aspac for Palestine) hadir, salah satu misi dukungan terhadap Palestina adalah melalui konten media.

Dan jangan pernah merasa bahwa kekuatan mereka tidak berbatas. Tidak juga perlu merasa kecil dengan keterbatasan materi. Ketersediaan perangkat yang minim. Bahkan teknologi yang cenderung berpihak ke mereka karena memang harus diakui, mereka memiliki kegigihan ilmiah yang lebih untuk hal yang satu ini. Tapi selain usaha yang maksimal, menguatkan kembali barisan dan persatuan ada persoalan mental yang terus dikristalisasi.

Mereka tidak akan memerangi kamu dalam keadaan bersatu padu, kecuali dalam kampung-kampung yang berbenteng atau di balik tembok. Permusuhan antara sesama mereka adalah sangat hebat. Kamu kira mereka itu bersatu, sedang hati mereka berpecah belah. Yang demikian itu karena sesungguhnya mereka adalah kaum yang tidak mengerti.” (QS. Al-Hasyr [59]:14)

Maka karena hal yang demikian sangat penting bagi mereka untuk menguatkan pencitraan yang hebat dan unlimited. Inilah yang disebut dengan Psy War (al-harbu an-nafsy). Jika Allah masih beri kesempatan, kita akan membahasnya pada tulisan-tulisan selanjutnya. WalLâhu al-musta’ân.

Catatan Keberkahan 005

Jakarta, 03.06.2013

TERSEDIA: TUJUH PULUH RIBU TIKET

Di bulan Rajab ini, Umat Islam mengenang sebuah peristiwa penting yang dialami oleh Nabi Muhammad SAW; yaitu peristiwa Isra’ dan Mi’raj. Peristiwa ini dikenal sebagai sebuah perjalanan malam yang dilakukan Nabi Muhammad SAW atas izin dan titah Allah, memenuhi panggilan-Nya ke Sidratil Muntaha untuk selanjutnya menerima perintah mendirikan shalat wajib lima waktu secara langsung, tanpa perantara siapa pun.

Masjid al-Aqsha merupakan salah satu tempat penting yang disinggahi oleh Nabi Muhammad SAW dalam perjalanan ini. Beliau pun menyempatkan shalat di sana. Ada yang mengatakan bersama para nabi pendahulu dan beliau didapuk sebagai imam shalat. Sebagian pendapat mengatakan peristiwa tersebut terjadi di langit setelah meninggalkan Masjid al-Aqsha. Setelah itu beliau diperlihatkan banyak hal dalam perjalanan. Di antara peristiwa  tersebut seperti penuturan para perawi hadits di bawah ini.

قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى الله عَلَيه وسَلَّم: عُرِضَ عَلَيَّ الأَنْبِيَاءُ بِأُمَمِهَا وَأَتْبَاعِهَا مِنْ أُمَمِهَا، فَجَعَلَ النَّبِيُّ يَمُرُّ وَمَعَهُ الثَّلاَثَةُ، وَالنَّبِيُّ يَمُرُّ وَمَعَهُ الْعِصَابَةُ مِنْ أُمَّتِهِ… فَقُلْتُ: يَا رَبِّ، مَنْ هَذَا؟ فَقَالَ: هَذَا أَخُوكَ مُوسَى بْنُ عِمْرَانَ وَمَنْ تَبِعَهُ مِنْ بَنِي إِسْرَائِيلَ، فَقُلْتُ: يَا رَبِّ، فَأَيْنَ أُمَّتِي، قِيلَ: انْظُرْ عَنْ يَمِينِكَ، … قُلْتُ: مَنْ هَؤُلاَءِ؟ قِيلَ: هَؤُلاَءِ أُمَّتُكَ، هَلْ رَضِيتَ؟ قُلْتُ: نَعَمْ قَدْ رَضِيتُ، قِيلَ: انْظُرْ عَنْ يَسَارِكَ، … فَقُلْتُ: يَا رَبِّ، مَنْ هَؤُلاَءِ؟ قِيلَ: هَؤُلاَءِ أُمَّتُكَ، قُلْتُ: نَعَمْ يَا رَبِّ، رَضِيتُ، قِيلَ: فَإِنَّ مَعَ هَؤُلاَءِ سَبْعِينَ أَلْفًا يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ بِغَيْرِ حِسَابٍ فَأَنْشَأَ عُكَّاشَةُ بْنُ مِحْصَنَ أَخُو بَنِي أَسَدٍ، فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللهِ، ادْعُ اللَّهَ أَنْ يَجْعَلَنِي مِنْهُمْ، فَقَالَ: اللَّهُمَّ اجْعَلْهُ مِنْهُمْ فَأَنْشَأَ رَجُلٌ آخَرُ، فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللهِ، ادْعُ اللَّهَ أَنْ يَجْعَلَنِي مِنْهُمْ، فَقَالَ: سَبَقَكَ بِهَا عُكَّاشَةُ بْنُ مِحْصَنْ قَالَ: وَذَكَرَ لَنَا رَسُولُ اللهِ صَلَّى الله عَلَيه وسَلَّم فَقَالَ: فِدَاكُمْ أَبِي وَأُمِّي إِنِ اسْتَطَعْتُمْ أَنْ تَكُونُوا مِنَ السَّبْعِينَ فَكُونُوا

Artinya:

Nabi Muhammad SAW bersabda: Diperlihatkan kepadaku para Nabi beserta umat dan pengikut mereka. Ada yang bersama tiga orang –saja-. Ada seorang nabi bersama sekelompok kaumnya yang banyak… Aku bertanya: Ya Tuhanku, siapa ini?, Dia berkata: Ini saudaramu, Musa bin Imron dan pengikutnya dari Bani Israil. Aku berkata: Ya Tuhanku, dimanakah umatku. Maka dijawab: lihat sebelah kananmu… Aku bertanya: Siapa mereka? Dijawab: Mereka adalah umatmu. Aku menjawab: Ya, Wahai Tuhanku, aku ridha. Kemudian dikatakan: Lihatlah sebelah kirimu, … Aku bertanya: Ya Tuhanku, siapakah mereka? Dijawab: Mereka adalah kamumu. Aku berkata: Ya, Wahai Tuhanku, aku ridha. Dikatakan: sesungguhnya di antara mereka terdapat tujuh puluh ribu orang yang memasuki surga tanpa hisab. Maka tiba-tiba Ukasyah bin Mihshan berdiri dan mengatakan: Wahai Rasulullah berdoalah kepada Allah supaya aku termasuk di antara mereka. Maka Rasul berdoa: Ya Allah jadikanlah ia termasuk di antara mereka. Maka berdirilah laki-laki lain dan berkata: Wahai Rasulallah berdoalah kepada Allah agar aku termasuk di antara mereka. Rasul menjawab: Ukasyah bin Mihshan telah mendahauluimu. Kemudian Rasulullah SAW bersabda: Demi Allah, jika kalian mampu untuk menjadi di antara tujuh puluh ribu tersebut, lakukanlah!” (Imam Bukhari, Muslim, Tirmidzi, Nasa’i dan al-Baihaqi meriwayatkan dari sahabat Ibnu Abbas ra.), sedangkan (Imam Ahmad, Ibnu Hibban, al-Hakim, Abu Ibnu Abi Syaibah, Al-Hakim, Abu Dawud ath-Thayalisy meriwayatkan dari Ibnu Mas’ud ra.)*

Yang menarik untuk dianalisis dari hadits di atas adalah bahwa Nabi Muhammad SAW diberitahu oleh Allah, ada segolongan umat beliau yang akan memasuki surga-Nya tanpa didahului dengan hisab (penghitungan amal dan pengadilan). Yaitu sejumlah tujuh puluh ribu orang.

Yang kedua, inisiatif sahabat Ukasyah yang bergegas memesan “tiket” tersebut dengan mengajukan permohonan supaya Nabi Muhammad SAW berkenan mendoakannya.

Di dalam riwayat Imam Bukhari bahkan disebutkan ciri-ciri umat Nabi Muhammad SAW yang memenangi “tiket” langsung ke surga, yaitu (هم الذين لا يسترقون ولا يتطيرون ولا يكتوون وعلى ربهم يتوكلون) artinya: “mereka yang tidak meminta orang lain menyembuhkan penyakitnya dengan mantra-mantra sesat, mereka juga tidak meyakini ramalan-ramalan (dukun), tidak juga melakukan penyembuhan dengan api”. Tetapi mereka memiliki karakter keyakinan yang kuat dan berfondasi kokoh. Dan hanya kepada Allah mereka bertawakkal dan menyerahkan urusannya. Meskipun hal tersebut tidak berarti menghentikannya mengeluarkan usaha maksimal dalam setiap perbuatan.

Sedikit atau Banyak?

Pertama, jumlah tujuh puluh ribu untuk umat nabi akhir zaman secara keseluruhan sangatlah sedikit. Jika kita bandingkan saja jumlah tokoh sahabat dengan jumlah keseluruhan umat Islam pada saat Nabi Muhammad SAW meninggal maka perbandingannya juga tidak terlalu besar. Menurut perkiraan seorang pakar hadits, Abu Zur’ah ar-Razy, jumlah sahabat Nabi Muhammad SAW secara keseluruhan, laki-laki dan perempuan diperkirakan mencapai angka seratus empat belas ribu (114,000) orang. Di antaranya terdapat tokoh-tokoh sahabat. Ukuran pastinya yang memiliki riwayat hadits, yaitu berjumlah sembilan ribu empat ratus tujuh puluh delapan (9,478) orang, menurut Ibnu Hajar al-Asqalany dalam bukunya al-Ishâbah fî Tamyîz ash-Shahâbah atau sebesar 8,3 % dari keseluruhan sahabat. Kualitas tokoh sahabat ditentukan dari dua pokok penilaian pakar hadits. Yaitu moralitas dan ke-beragama-an (‘adâlah) dan kecerdasan (dhabth). Dua padu tersebut akan mengantarkan pada sebuah kekuatan dan kejayaan umat Islam di era awal. Dan seperti itulah terbukti kualitas sahabat Nabi Muhammad SAW yang memiliki obsesi berdakwah lintas teritorial dan tak hanya diukur dengan usia mereka. Maka jumlah tujuh puluh ribu tersebut secara konten juga senada dengan permasalahan Palestina. Bila dilakukan dengan pendekatan ideologis, dari satu milyar lebih umat Islam jika dipersentasekan 8,3 % maka seharusnya minimal ada delapan puluh tiga juta (83,000,000) orang menarik gerbong pembebasan Palestina. Dari angka tersebut sepertinya jumlah yang tidak terlalu banyak. Tapi dari kenyataan di lapangan, orang-orang yang tahu permasalahan Palestina juga tidak bisa dikatakan sangat banyak. Dari jumlah orang yang tahu, maka persentase yang peduli dan empati juga semakin kecil. Dari jumlah ini akan semakin mengecil bila dikaitkan lagi dengan langkah-langkah dan aksi nyata yang dilakukan untuk memerdekakan atau mendukung kemerdekaan Palestina sebagai sebuah negara yang berdaulat. Dan akan semakin menyusut bila dihubungkan dengan efektifitas aksi serta pengaruh yang ditimbulkan.

Belum lagi jika kita menggunakan pendekatan humanis. Maka diperkirakan saat ini jumlah penduduk dunia sudah melampaui angka tujuh milyar jiwa. Pada bulan Agustus 2011 lalu Biro Sensus Amerika, International Data Base (IDB) merilis update jumlah penduduk dunia; yaitu 6,952,939,682 (enam miliar sembilan ratus lima puluh dua juta sembilan ratus tiga puluh sembilan ribu enam ratus delapan puluh dua) jiwa. Maka, diperlukan setidaknya angka 581,000,000 (lima ratus juta delapan puluh satu ribu) jiwa. Atau kalau untuk ukuran negara dari 192 negara anggota PBB atau 194 negara versi USA maka setidaknya diperlukan enam belas negara kuat untuk mengawal sekaligus memperjuangkan kemerdekaan Palestina. Dan untuk Indonesia yang berpenduduk 237,556,363 (masih menurut sumber yang sama) maka setidaknya diperlukan 19,717,178 (sembilan belas juta tujuh ratus tujuh belas ribu seratus tujuh puluh delapan), dengan pendekatan seperti di atas.

Pribadi Inisiatif dan Inspiratif

Kedua, Inisiatif Ukasyah yang segera berdiri meminta doa Rasul SAW agar termasuk satu di antara tujuh puluh ribu orang di atas merupakan inisiatif cerdas, cepat, dan tepat. Dengan sendirinya hal ini menandai kecerdasan dan kecekatan beliau sekaligus menegaskan posisi beliau di hadapan para sahabat yang lainnya. Bahkan sikapnya ini menginspirasi orang lain untuk melakukan hal yang serupa, meskipun dalam konteks ini (di majelis tersebut) hanya Ukasyah yang mendapatkannya. Tetapi tidak dipungkiri kecekatan respon Ukasyah membuka cakrawala berpikir orang lain. Inilah yang diperlukan saat ini untuk membebaskan (kembali) Masjid al-Aqsha dan Palestina.

Dengan atau tanpa kita, cepat atau lambat Masjid al-Aqsha dan Palestina akan terbebaskan. Maka menjadi jalan pembebasan al-Aqsha adalah pilihan. Kesungguhan, kegigihan, keuletan dan disertai dengan kepiawaian diplomasi, hubungan internasional serta sebab-sebab lainnya yang membedakan antara seorang pejuang atau pecundang. Sang pejuang tak lekang dengan tantangan atau ancaman. Semencara sang pecundang memilih hidup damai dan tenang, mencukupkan diri hanya dengan mengamankan kepentingan pribadi dan golongan tanpa kepedulian terhadap orang-orang terzhalimi dan berada di dalam jeruji kelaliman.

Menguji Keyakinan dan Kesungguhan Tawakkal

Ketiga, dalam hadits riwayat Bukhari ditegaskan karakteristik orang-orang yang meraih “tiket” langsung masuk surga adalah keutuhan dan kebulatan akidah mereka. Yaitu terletak pada pemaknaan dan implementasi “tawakkal” kepada Allah. Orang yang yakin pada janji Allah akan menjadikannya sebuah doktrin yang lekat dengan diri, kepribadian dan karakter hidupnya. Bahkan ia sanggup menyalurkan kekuatan energi tawakkal tersebut pada seluas-luas masyarakat di sekelilingnya serta generasi sesudahnya. Ia tak berpikir egois karena ia tahu hidupnya berbatas ajal dan usia, namun cita-cita dan obsesinya mampu bertahan hidup setelah jasadnya dikubur dalam tanah.

Jika menggabungkan dengan tiga catatan di atas maka akan menghasilkan kesimpulan bahwa jumlah yang sedikit tetapi memiliki inisiatif, kecerdasan dan kecekatan serta dilengkapi dengan “bulatnya” tawakkal dan keyakinan pada Allah maka pembebasan Al-Quds dan Palestina tidaklah terlalu jauh berjarak dengan kita yang mau berusaha meraih karakter-karakter di atas. Apalagi dari orang-orang yang memiliki kejernihan nurani serta anti kezhaliman. Bukankah ending kezhaliman selalu dituturkan zaman dan sejarah merekamnya dengan baik? Bahkan sebagian besar merupakan kejutan-kejutan unpredictable. Namrudz di Babilonia yang iconic dengan kezhaliman dan kesombongan, hidupnya berakhir “hanya” karena nyamuk yang dititahkan memasuki hidungnya. Fir’aun, Sang Durjana Pengaku Tuhan, lunglai tenggelam di laut merah tanpa daya. Abu Jahal, si mulut besar yang angkuh ajalnya berakhir di tangan dua orang anak kecil, Muadz dan Muawidz, ia tak tewas di tangan jagoan seperti Hamzah, misalnya. Bahkan Allah mengirim Musa kecil yang tak berdaya di tengah episentrum kekuasaan yang kejam. Di saat Firaun menyebar kezhaliman, kenebar kekejian, ia bahkan lupa memproteksi dirinya dari dalam. Allah lah yang merekayasanya demikian. Semuanya tampak rapuh di depan ke-maha-annya yang unlimited.

Bersegeralah meraih tiket langsung tersebut. Bersegeralah menjadi yang terdepan berinisiatif kebaikan. Bersegeralah menjadi inspirasi bagi orang lain. Bersegeralah karena waktu kita terbatas dan tak banyak. Bersegeralah karena Allah selalu menyeru demikian.  “Dan bersegeralah kamu…” (QS. Ali Imran: 133), “Maka berlomba-lombalah…” (QS. Al-Baqarah: 148, QS. Al-Mâ`idah: 48), “Berlomba-lombalah kamu…” (QS. Al-Hadîd: 21), “Maka berlarilah…” (QS. Adz-Dzâriyât: 50) “…dan untuk yang demikian itu hendaknya orang berlomba-lomba.” (QS. Al-Muthaffifîn: 26)

 SAIFUL BAHRI

Catatan Keberkahan 003

Jakarta, 13.05.2013

*) Hadits di atas dengan berbagai riwayatnya adalah shahih. Hanya saja riwayat yang menjelaskan secara khusus peristiwa tersebut terjadi di malam Isra’, sebagaian ahli hadits menilainya dhaif (lemah) karena figur ‘Abtsar bin al-Qasim. Tetapi Tirmidzi menegaskan di akhir periwayatannya -seperti biasa- dengan mengatakan: “Ini hadits hasan shahîh”.

lihat juga: http://www.aspacpalestine.com/id/item/427-tersedia-tujuh-puluh-ribu-tiket

ORBIT KEBERKAHAN

Al-Aqsha

Keberkahan yang dikukuhkan Allah dalam ayat-Nya, “Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al-Masjidil Haram ke Al-Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami.” (Al-Isra’: 01)

Ibnu Jarir ath-Thabary menafsirkan keberkahan di atas dengan “negeri yang dikelilingi keberkahan bagi penduduknya, dalam aktifitas kehidupan, makanan serta tanaman-tanaman mereka”. Sementara Ibnu Katsir setelah menjelaskan letak Al-Masjid Al-Aqsha, beliau menafsirkan keberkahan meliputi buah-buahan dan tanam-tanaman yang ada di dalamnya.

Hadits dan Astar keberkahan negeri sekitar Masjidil Aqsha ini cukup banyak, di antaranya yang diriwayatkan oleh Abu al-Hasan ar-Rab’iy dalam Buku “Fadha’il Asy-Syam wa Dimasyqa” [h. 37] mengabadikan perkataan Abu Sallam al-Habsyi, “Sampai kepadaku [kabar] bahwa keberkahan di dalamnya dilipatgandakan”. Rasulullah Saw pernah berdo’a untuk negeri Syam, “Ya Allah berkahilah negeri Syam, berkalihah negeri Yaman” (HR. Bukhari, Tirmidzi dan Ibnu ‘Asakir). Nabi juga menerima isyarat lewat mimpinya bahwa negeri ini akan ditimpa fitnah sebagaimana fitnah tersebar di mana-mana tetapi iman akan tetap bercokol di dalamnya (lihat hadits riwayat Abdullah bin Amr bin Ash. HR Hakim dalam Mustadrak, Abu Nu’aim dalam al-Hilyah, juga Ibnu Asakir, al-Baihaqi dan Thabrani)*.

Secara fisik, keberuntungan yang disebut al-Quran serta beberapa hadits dan atsar di atas serta masih banyak lagi sebagai “keberkahan” yang diturunkan Allah di sekitar Masjid al-Aqsha tentu sulit dicapai. Salah satu caranya adalah dengan menjadi penduduk Syam, tinggal di sana atau beraktivitas di sana atau setidaknya berkunjung ke sana.

Namun, bisa jadi keberadaan fisik ini malah menimbulkan sesuatu yang kontra, karena tak sedikit orang-orang yang ada di sana, justru menjadi sumber berkurangnya keberkahan fisik. Karena perlakuan-perlakuan zhalim, sikap-sikap yang berlawanan dengan keterangan Allah dan Rasul-Nya. Terjadi penindasan, perlakuan dehumanisasi para penduduknya, kekerasan yang ditimbulkan dan sebagainya membuktikan bahwa keberkahan yang diturunkan Allah di sekitar masjid ini tak bisa dinikmati –bahkan- oleh orang yang berada secara fisik di dekatnya. Karena tafsiran “alladzî baraknâ haulahû” ternyata tidak serta merta berbentuk fisik yang berarti batas teritorial tertentu.

Para ulama dan pakar sejarah dari kalangan umat Islam telah banyak yang memformulasikan dan mendefinisikan secara geografis makna wilayah keberkahan di atas dengan Negeri Syam dengan sandaran-sandaran dalil hadits dan atsar. Pembicaraan tentang itu mungkin tidak dibahas dalam tulisan kali ini.

Penulis mencoba membuka makna keberkahan non geografis yang mungkin bisa dicapai oleh orang-orang yang berada jauh secara fisik dari Masjid al-Aqsha. Oleh beberapa ulama, terutama al-Maqdisiyyin (yang bermukim di kota al-Quds) menafsirkannya dengan berbagai upaya dan usaha untuk menjaga Masjid al-Aqsha sebagai bentuk usaha mencapai keberkahan Allah.

Artinya, pikiran, tulisan, aktivitas, harta benda dan segala yang ada; jika diarahkan untuk menjaga Masjid al-Aqsha, bukan tidak mungkin justru keberkahan Allah yang menghampiri kita. Apalagi saat ini Masjid al-Aqsha terancam secara fisik. Masjid ketiga yang disarankan Nabi Muhammad SAW untuk dikunjungi ini rawan dihancurkan, wilayah fisiknya didistorsis dengan penyelewengan fakta sejarah, penduduk-penduduk aslinya diusir dan dipenjara, pelan namun pasti tanah-tanah yang ada di sekitarnya diduduki dengan paksa dan ilegal, sementara dunia Internasional menutup mata. Jika pun ada simpati baru sekedar melalui pernyataan dan kecaman saja. Padahal secara sah, wilayah al-Quds merupakan wilayah netral yang tidak diberikan kepada pihal Israel maupun otoritas Palestina. Namun, pada kenyataannya wilayah yang hanya 0,5 % dari keseluruhan wilayah Palestina ini dikooptasi oleh Israel.

Jika demikian keterpanggilan kita pada permasalahan Masjid al-Aqsha akan menarik kita dalam orbit keberkahan. Jika dua puluh dua negara yang berada dalam wilayah Asia Pasifik pada sensus 2011 berpenduduk 2,199,850,085, kira-kira berapa persen dari umat Islam yang terpanggil oleh orbit keberkahan di atas. Jika menggunakan pendekatan yang lebih humanis maka pemutarbalikan fakta dan penghancuran situs yang dilindungi dan disucikan termasuk di dalamnya pembersihan etnis, adalah musuh kemanusiaan. Maka menjadi kewajiban setiap kita untuk mengkampanyekan pembebasan Palestina. Jika dengan pendekatan ideologis, maka sangat wajar pusaran orbit keberkahan bisa dijadikan salah satu bahan persuasif. Jika melalui pendekatan kemanusiaan, maka tindakan kekerasan, pengusiran termasuk ancaman langsung terhadap al-Quds dan penduduknya bisa dijadikan alat pemersatu untuk mengakhiri penjajahan dan pendudukan.

Nada sumbang yang disosialisasikan adalah kekhawatiran pihak “non muslim” jika Umat Islam kembali ke Palestina. Padahal sejarah menuturkan bahwa masyarakat heterogen pernah dan selalu hidup berdampingan di sekitar Bait al-Maqdis secara damai dan bersahabat di bawah pemerintahan Umar bin al-Khattab dan Shalahuddin al-Ayyubi. Meski pula sejarah mencatat selalu ada pertempuran sengit antara kebenaran dan kebatilan, nafsu serakah dan kejernihan, kezhaliman dan ketertindasan,

Jika Israel mengerahkan para pakar Yahudi di berbagai negara dengan berbagai latar belakang bahasa dan kepakaran untuk mencapai ambisinya menjadikan al-Quds (Jerussalem) sebagai ibukota Israel Raya, maka seharusnya Umat Islam mampu menjadikan Bait al-Maqdis sebagai magnet yang menarik seluruh bangsa dan kaum Muslim untuk berada dalam orbit keberkahan, melindungi Masjid al-Aqsha. Sekaligus lebih lantang lagi menyedot perhatian dan pembelaan masyarakat internasional bahwa tindakan ilegal pendudukan, pengusiran, penawanan dan berbagai aktivitas brutal lainnya terutama untuk wilayah al-Quds dan penduduknya, harus segera dihentikan dan para pelakunya dihukum dengan setimpal.

Hadirkan orbit-orbit keberkahan di rumah-rumah kita, kantor-kantor kita, kampus-kampus kita, sekolah-sekolah kita, surau-surau dan masjid kita, majelis-majelis taklim kita, sosial media kita, media masa elektronik dan cetak. Bahkan anggota badan kita, mata, telinga, mulut dan indera-indera lainnya memungkingkan untuk mendapatkan sentuhan keberkahan tersebut. Maka, dalam munajat dan alunan-alunan doa sudah semestinya tak terlewatkan untuk permohonan pembebasan Masjid al-Aqsha, orbit keberkahan yang dinantikan oleh banyak orang.

Dr. Saiful Bahri, M.A

(Ketua Asia Pacific Community for Palestine)

Catatan Keberkahan 002

Jakarta, 06.05.2013

*) Keterangan-keterangan di atas dapat dijumpai dalam Mausu’ah Bait al-Maqdis wa Bilad asy-Syam al-Haditsiyah, (Ensiklopedi Baitul Maqdis dan Negeri Syam Modern) terbitan Markaz Bait al-Maqdis li ad-Dirasat at-Tautsiqiyah di Nicosia, Cyprus, Cet. 1, 1434 H – 2013 M

Lihat >> http://www.aspacpalestine.com/id/item/403-orbit-keberkahan

SIMPUL DARAH, IDEOLOGIS DAN KEMANUSIAAN

Daulah Usmaniyah memang memiliki obsesi menyebarkan dakwah Islam dengan futuhat dan menaklukan Konstantinopel sekaligus, mengingat secara geografis kota yang menjadi simbol peradaban negara adidaya, Romawi waktu itu berada tak jauh dari pusat pemerintahan Khilafah Usmaniyah. Cita-cita besar ini belum lagi terwujud, namun penguasa Usmaniyah saat itu, Sultan Muhammad I (1394-1421 M) memilih melakukan manuver lain. Beliau mengirim surat kepada beberapa pejabat provinsi di Afrika Utara dan Timur Tengah untuk mengirim para pakar dengan latar belakang berbagai disiplin di samping keahlian utama sebagai pakar ilmu-ilmu agama.

Dari seleksi tim ini terkumpullah sembilan nama yang memiliki berbagai keahlian di bidang yang bermacam-macam, selain memiliki dasar ilmu agama yang kuat. Sultan Muhammad I kemudian memberangkatkan mereka ke pulau Jawa pada tahun 1404 M (808 H). Mereka inilah nantinya yang dikenal sebagai Tim Sembilan (Juru Dakwah) atau yang lebih popular dengan istilah Walisongo. Yaitu  tim dakwah yang berjumlah sembilan di setiap periodenya, menurut beberapa sumber manuskrip kuno di Museum Istana Turki (Istanbul), dan Koprah Ferrara (yang dikoleksi oleh seorang penulis di Ferrara, Italia. Kini tersimpan di Museum Nasional Leiden) .

Periode walisongo dimulai sejak 1404 M hingga berakhir pada tahun 1569 M, sebelum akhirnya tim sembilan ini disibukkan dengan perlawanan terhadap penjajahan Portugis. Mereka terbagi menjadi enam periode. Delegasi dakwah periode pertama ini dipimpin oleh seorang alim Turki bernama Maulana Malik Ibrahim (Wafat di Gresik tahun 1419 M) yang pakar irigasi dan administrasi negara. Delapan orang lainnya adalah: Maulana Ishaq, berasal dari Samarkand, Rusia Selatan -pakar pengobatan (medis), Maulana Ahmad Jumadil Kubro, dari Mesir -pakar Ilmu Tafsir, Maulana Muhammad Al Maghrobi, dari Maroko -meninggal di Jatinom, Klaten, Maulana Malik Isro’il, dari Turki -pakar administrasi negara, Maulana Muhammad Ali Akbar -seorang dokter dari Persia, Maulana Hasanudin dan Maulana Aliyudin, keduanya dari Palestina, serta Syekh Subakir, dari Iran, yang pakar astronomi.

Dakwah Islamiyah di Nusantara ini melibatkan orang-orang dari berbagai etnis dan kewarganegaraan. Menariknya, beberapa anggota tim dakwah tersebut berasal dari Palestina. Masih menurut Koprah Ferrara setidaknya ada empat orang dari tim Walisongo yang berasal dari Palestina:

  1. Maulana Hasanuddin (Walisongo periode I: 1404 – 1435 M)
  2. Maulana Aliyuddin (Walisongo periode I: 1404 – 1435 M)
  3. Syeikh Ja’far Shodiq, Sunan Kudus (Walisongo periode II: 1435 – 1463 M)
  4. Syafif Hidayatullah, Sunan Gunung Jati (Walisongo periode II: 1435 – 1463 M)

Keempatnya kemudian hidup dan berketurunan di Indonesia. Bahkan secara khusus Syeikh Ja’far Shadiq menamakan tempat dakwahnya dengan nama Kota Kudus terinspirasi dari kota suci al-Quds di Palestina. Beliau juga mendirikan sebuah masjid agung yang dinamakan dengan al-Masjid al-Aqsha tapi lebih dikenal dengan Masjid Menara Kudus.

Itulah sepenggal kisah enam abad yang lalu. Keterkaitan historis Palestina dengan negeri-negeri tujuan dakwah sangat erat, termasuk di antaranya Indonesia. Para da’i dari Palestina pun memiliki andil besar dalam peran penyebaran dan pengukuhan agama Islam di Indonesia.

Maka, secara historis, Indonesia memiliki simpul kuat yang mengikat kedua pihak. Pertama: Simpul sejarah perjuangan dan penyebaran Islam di Indonesia di era Walisongo. Kedua: Palestina menjadi entitas (bangsa) pertama yang mendorong dan mengakui kemerdekaan Indonesia, 17 Agustus 1945, di samping Mesir yang menjadi negara pertama yang mengakuinya. Selain hal tersebut, sebagian penduduk Indonesia bahkan memiliki simpul yang lebih erat. Karena para da’i di atas memiliki keturunan di Indonesia.

Pada tanggal 29 Nopember 1947 Majelis Umum PBB mengeluarkan resolusi nomer 181 yang membagi wilayah Palestina menjadi dua: 54,7% untuk Israel (14.400 km2) dan 44,8% untuk Palestina (11.780 km2) dan 0,5 % Jerussalem/Al-Quds wilayah internasional di bawah pengawasan PBB. Namun, pembagian yang tak adil ini pun semakin menjadi sarang kezhaliman Zionisme. Lihat saja peta wilayah terkini: Wilayah Palestina seluas 26.990  km2, hanya 23 % (=6.220 km2) yang berada di bawah otoritas Bangsa Palestina: (Gaza : 360 kmdan Tepi Barat : 5.860 km2) sementara Israel menduduki 77 % wilayah tersebut atau seluas (20.770 km2). Di lain pihak kita bisa memperhatikan perkembangan populasi orang Yahudi di Palestina dari tahun ke tahun (termasuk diantaranya yang paling besar melalui migrasi)

–      1799 M :       5.000 orang

–      1876 M :     13.920 orang

–      1914 M :     80.000 orang

–      1918 M :      55.000 orang

–      1948 M :    650.000 orang

–      2000 M : 4.947.000 orang (38% dari populasi Yahudi di dunia)

Permasalahan yang dihadapi Bangsa Palestina, tidaklah sekedar masalah pendudukan tanah atau perebutan sejengkal wilayah. Bagi umat Islam ini sangat ideologis, terlebih situs-situs peninggalan Islam yang terancam terdistorsis dan punah. Bagi kalangan non muslim sekalipun ini adalah masalah kemanusiaan. Pendudukan wilayah yang dikenal saat ini sejatinya adalah penjajahan, perampasan dan kemudian berjudul penindasan di berbagai aspek.

Pembunuhan-pembunuhan kecil melalui berbagai bentuk bisa jadi “terpaksa” dilakukan untuk meredam perlawanan terhadap mainstream pendudukan yang direkayasa sejak dari dideklarasikannya negara zionis ini. Sampai yang terpopuler adalah prahara kemanusiaan yang menimpa Gaza di tahun 2008-2009 serta serangan Israel terakhir 2012, merupakan bukti nyata bahwa ada rasa kemanusiaan yang dikoyak dan dihilangkan.

Jika sebagai manusia Indonesia yang tersimpul dengan darah, ikatan ideologis sebagian besar penduduknya kemudian masih memiliki rasa kemanusiaan yang terdokumentasikan dalam pembukaan UUD 1945 “Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu, maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan”, maka tak ada alasan untuk tidak membela bangsa Palestina. Membela yang berarti mengembalikan hak kembali para pengungsi di pengasingan ke tanah air mereka. Membela berarti memperjuangkan kemerdekaannya. Membela berarti mendukung mereka mengatur nasibnya sendiri. Membela berarti melindungi aset-aset sejarahnya. Itulah semangat keberkahan yang terkandung dalam pesan Allah “Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami” (QS. Al-Isra’: 01)

 

Dr. Saiful Bahri, M.A

(Ketua ASPAC for Palestine)

Catatan Keberkahan 001

Jakarta, 29.04.2013