SPIRIT HIJRAH DI SYDNEY


Ini adalah Ramadan pertama saya ke di Australia. Juga mengulangi menjalani bulan Ramadan di saat musim dingin seperti ketika pertama kali saya belajar di Mesir, di negeri Musa dan para nabi ‘alaihimussalâm.

Adalah CIDE (Centre for Islamic Dakwah and Education) yang bermarkaz di Sydney yang mengundang saya untuk menjalani rangkaian kegiatan ibadah selama bulan Ramadan di Australia, dengan base camp Masjid al-Hijrah yang terletak di Tempe, Sydney, New South Wales, Australia. Masjid al-Hijrah didirikan sebagai sarana silaturahim dan tempat aktivitas komunitas umat Islam Indonesia di Sydney khususnya.

Menilik sejarah, pada tahun 1974, komunitas Muslim Indonesia di Sydney membentuk sebuah organisasi dakwah yang diberi nama LDPAI (Lembaga Dakwah Pendidikan Agama Indonesia), organisasi ini diprakarsai oleh KJRI (Konsulat Jenderal Republik Indonesia) Sydney. Kemudian pada tahun 1985/1986 organisasi ini berganti nama menjadi Central Islamic Dakwah and Education (CIDE). Secara organisatoris lembaga ini tak lagi memiliki hubungan secara langsung dengan KJRI. Pada saat itu organisasi ini belum mempunyai tempat kegiatan sendiri, karena itulah masih menumpang di masjid milik komunitas Malaysia (Masjid Zetland).

Pada tahun 1991 pengurus CIDE mempunyai inisiatif untuk membeli sebuah bangunan untuk dijadikan sebuah masjid sebagai pusat ibadah dan pusat kegiatan, maka pada tahun tersebut dibeli sebuah bangunan bekas sebuah Gereja bernama Jehovah Witness Church yang dijual karena sudah tidak dipergunakan lagi. Bangunan bekas gereja tersebut diubah fungsinya menjadi sebuah masjid, dengan mengubah beberapa bagian dalamnya. Bagian mimbar untuk khotbah Gereja dijadikan kantor (sekretariat), sedangkan mimbar dan tempat shalat Imam dipindah di bagian tengah sebelah barat menghadap arah kiblat shalat. Bangunan masjid ini kemudian diberi nama Masjid al-Hijrah. (https://www.cide.org.au/web2/who-we-are/)

Bertemu dengan para orang tua dan mendengar liku-liku mereka saat datang pertama kali ke Australia, rasanya penamaan masjid ini sangat tepat. Para sesepuh seperti Buya Rizal, Pak Lui Irfandi, Pak Muslimin, Pak Syawal, Pak Aan, juga Pak Lutfi Sungkar dan banyak nama yang tak bisa saya sebut kansatu persatu. Anak-anak muda sudah seharusnya belajar dari kegigihan mereka. Bukan hanya kegigihan survivalitas mereka, tetapi keteguhan dalam memegang prinsip beragama. Sehingga bisa mengubah keadaan dan mempertahankan prinsip akidah yang benar. Secara usia barangkali saat ini yang aktif di masjid adalah generasi kedua yang sebagian besarnya sudah jauh lebih mapan dan lebih baik survivalitasnya jika dibanding para pendahulu. Meskipun demikian, tantangan zaman tetaplah sesuai waktunya. Generasi muda sekarang memiliki tantangan yang tak ringan mempertahankan idealisme dalam beragama dan menjalankan perintah Allah.

Karena itulah mendekatkan diri dan keluarga ke masjid adalah sebuah keniscayaan yang perlu dilakukan secara masif dan bersama-sama. Untuk itulah Masjid al-Hijrah menjadi pertemuan semua keinginan mempertahankan diri, identitas akidah dan berbagai tradisi baik. Perbedaan sebagian kultur yang bertentangan dengan agama perlu wadah untuk menyikapinya. Masjidlah tempat terbaik untuk itu.

Menariknya, ada fenomena menarik sekaligus menggembirakan dengan lahirnya generasi ketiga. Satu sisi sebagian mereka kesulitan untuk berkomunikasi dengan bahasa Indonesia yang lancar dan baik. Namun, sisi baiknya adalah tak sedikit sudah mulai banyak yang menghafal al-Quran dengan variasi. Ada yang sudah hafal satu atau dua juz al-Quran. Ada yang hafal 5 juz, ada pula yang sudah 10 juz, bahkan di antara mereka ada yang sudah menyelesaikan hafalan al-Qurannya secara sempurna yaitu 30 juz.


Secara pribadi saya sangat bahagia bisa kembali ke Sydney untuk kedua kalinya setelah musim spring lalu CIDE melalui Pak Ichsan, presiden CIDE mengundang saya untuk berkunjung dan berbagi ilmu yang diberikan Allah di Masjid al-Hijrah ini.

Ramadan kali ini menjadi semakin special, karena saya juga memiliki tandem dakwah yang luar biasa. Teman sekaligus guru saya, Ust. Dr. H. Agus Setiawan, Lc, M.A.

Itulah nikmat Allah. Meskipun sama-sama tinggal di Jakarta, ternyata untuk bertemu atau mengadakan pertemuan, kami berdua selalu terkendala waktu dan jarak tempuh serta kesibukan yang memiliki perbedaan aktivitas.

Kami berdua diamanahi CIDE untuk memberikan ceramah selama bulan Ramadan 1438 H dengan tema sentral Kemukjizatan al-Quran. Spiritnya adalah agar semua kita tersadarkan akan dahsyatnya kemukjizatan al-Quran dan kemudian mau membaca dan mempelajarinya serta kemudian mengajarkan dan mengamalkannya. Kebaikan lailatul qadar adalah kebaikan yang menginspirasi tumbuhnya kebaikan lainnya. Kebaikan yang sanggup menggerakkan seribu komunitas lainnya.


Dan karena rumah yang di dalamnya tak pernah dibacakan al-Quran maka bagaikan kuburan bagi orang yang menempatinya. Agar umat ini bangkit dan tidak memulai kegiatan dari dalam kuburan, maka diharapkan dengan kajian-kajian ini rumah-rumah kaum muslimin menjadi bercahaya dan menginspirasi untuk bangkit kembali bersama al-Quran.

Secara bergantian kami berdua mengupas dimensi-dimensi kemukjizatan al-Quran. Dari sejak dimensi kebahasaan yang mencakup pilihan kata dan susunan kalimat dalam al-Quran, pengulangan kata, penyebutan lafzah ujian, kemenangan, macam-macam ukhuwah di dalam al-Quran dan sebagainya

Dimensi scientifik dalam penuturan al-Quran juga dibahas. Seperti hikmah dan rahasia penciptaan nyamuk, qalbu (jantung), teori relativitas waktu dan penyebutan jenis-jenis waktu di dalam al-Quran serta relasinya dengan waktu turunnya al-Quran dan sebagainya.

Dimensi ghaib kali ini dikupas tentang iblis, setan dan jin di dalam al-Quran serta beberapa hikmah cerita masa lalu yang bisa diambil hikmahnya seperti istana dan penjara di dalam al-Quran, kisah Nabi Yusuf alaihissalam, Dawud Thalut dan Jalut dan kisah kekuasaan.

Dalam dimensi visualisasi, kali ini telaah al-Quran tentang hoax dan jebakan persepsi adalah bentuk dahsyat penuturan al-Quran bagaimana daya rusak hoax dan berita dusta serta jebakan persepsi pribadi yang mempengaruhi pola pikir. Al-Quran memberikan solusi normatif dan praktisnya di dalam surah al-Hujurat. Selain itu tentunya dalam dimensi visualisasi ini al-Quran menjelaskan perumpamaan serta berbagai kondisi dan kehidupan manusia nantinya di akhirat, baik di surga ataupun –naûdzu billah– di dalam neraka.

Selain kajian ba’da tarawih selama Ramadan, ada juga kajian raqa’iq (tazkiyatunnafs [pembersihan jiwa]) bada subuh yang berdurasi sekitar 15-10 menit setiap harinya. Tema-tema yang diangkat adalah seputar takwa, istiqamah, tawakkal, keutamaan dzikir dan menadabburi lafazah-lafazh dzikir harian, kemudian serial minal ‘âidin wal fâ’izîn.


Secara teknis untuk memperluas wawasan praktis CIDE juga mengadakan workshop dan pelatihan dua kali. Yang pertama pelatihan mengurus jenazah menurut tuntunan Islam, kemudian tentang ilmu mawaris dan terakhir fikih akuntansi zakat.

Di samping itu, Ibu-ibu di Masjid taklim Masjid al-Hijrah juga mengadakan kajian dhuha. Demikian juga komunitas muslimat Iqro Foundation, Komunitas ODOJ (One Day One Juz) dan Majelis Taklim Raudhatul Ilmi. Juga PRIM Ranting Muhammadiyah NSW.

Saya juga berbahagia bisa bersilaturahim dan bertukar pikiran dengan para mahasiswa di University of Wolongong dan sempat tarawih bersama mereka di Islamic Centre di kampus. Juga berkesempatan berbuka puasa dan tarawih bersama masyarakat Western Sydney yang baru mengadakan percobaan tarawih bersama dengan menyewa gedung milik council. Yang mengharukan saat fund rising untuk pengadaan pusat kegiatan dan tempat shalat para jamaah sangat bersemangat. Saya teringat sebuah buku karya ulama ternama di Mesir yang kini tinggal di Qatar di lelang dan sampai terjual di angka 500 dollar. Komitmen-demi komitmen dikumpulkan selain uang cash dan donasi melalui eftpos payments. Jumlahnya, menurut saya sangat luar biasa karena hanya dikumpulkan melalui dua kali fundrising, termasuk di antaranya untuk proyek yang direncanakan oleh CIDE di tahun 2017 dan 2018. Ini belum termasuk donasi untuk pembangunan masjid besar komunitas AIM di Punchbowl. Masyaallah, masyarakat benar-benar berlomba-lomba dalam mendermakan hartanya fi sabilillah.

Dinginnya suasana Sydney ternyata tak berpengaruh buruk apalagi sampai membekukan. Justru komunitas muslim di sini sangat hangat menyambut baik kami. Sambutan berupa respon yang baik selama kajian. Ibu-ibu yang berjihad menyediakan makanan terbaik. Panitia yang selalu stand by. Belum lagi, para jamaah yang selalu menemani di rumah belakang.

Saya sempat berpikir bahwa makan selepas tarawih hanya akan terjadi sesekali saja. Faktanya, kemudian hampir tiap malam selalu saja ada yang mengajak keluar untuk sekedar menikmati suasana malam sambil mencicipi kuliner Sydney. Ajakan favorit yang paling sering tentunya ke Lakemba. Penduduk Sydney bahkan Australia tentu tahu ada apa di Lakemba, terutama di Haldon Street. Festival Ramadan menjadikan jalan utama tersebut menjadi ramai bahkan hingga sahur. Padahal umumnya took-toko pun tutup jam 5 sore atau paling lambat di jam 9 malam.

Tawaran mencicipi camel burger dan juz wortel adalah yang paling sering kami terima. Alhamdulillah, segala puji bagi Allah yang menjadikan Ramadan sebagai festival berbagai kebaikan. Di dalam masjid dan dalam keseharian menjadi ajang perlombaan dan fastabiqul khairat.

Belum lagi undangan buka bersama, dan termasuk memenuhi undangan open house di bulan syawal. Alhamdulillah Allah memberi kesehatan dan kekuatan untuk mengunjungi satu persatu, termasuk ke kediaman Bapak Konjen di Wisma KJRI juga para sesepuh masyarakat di Sydney. Meskipun tak semua undangan bisa didatangi tentunya.

Malam-malam yang mengharukan juga kami nikmati bersama para pemburu lailatul qadar yang beri’tikaf selama 10 hari terakhir di bulan Ramadan. Menjalani bersama shalat tahajud dan menengadahkan tangan bersama mengetuk pintu ampunan dan rahmat Allah melalui doa, munajat dan muhasabah menjelang sahur.

Keindahan yang sempurna. Terlebih saat Allah karuniakan dan kabarkan datangnya kemenangan saat Idul Fitri. Bersama kaum muslimin menjemput kemenangan yang dijanjikan Allah. Kemenangan yang membuat iblis dan setan serta bala tentaranya menangis. Karena, apa yang mereka lakukan dengan jebakan-jebakan selama setahun menjadi sirna bersama ampunan Allah untuk umat Islam serta turunnya rahmat dan sayang-Nya.

Jika Ust Agus Setiawan diamanahi menyampaikan khutbah Idul Fitri di Sydney, maka saya menjalankan amanah untuk terbang ke Canberra. Bersama masyarakat muslim Indonesia saya menyampaikan khutbah Idul Fitri di KBRI Canberra.

Musim sibuk penerbangan kali ini, membuat kepulangan kami tertunda. Rasa rindu dan kangen dengan keluarga harus ditahan sesaat. Alhamdulillah, ada banyak hikmahnya. Kami masih sempat bersilaturahim dengan masyarakat. Selain itu, kami juga sempat menikmati dinginnya salju dan berselancar di Perisher, Blue Valley Mountain.

Kepergian bulan Ramadan memang membuat sedih orang-orang yang mengetahui kemuliaan yang ada di dalamnya. Karena seandainya semua tahu kebaikan yang ada di dalamnya tentu semua orang akan berharap sepanjang tahun adalah seperti bulan Ramadan. Tapi, terbitnya bulan Syawal adalah kebahagiaan bagi umat Islam menerima hadiah rahmat dan pembebasan dari murka dan neraka Allah. Kini kita tinggal merawatnya.

Demikian juga kami, dengan berakhirnya Ramadan berarti akan segera berakhir kebersamaan fisik di Sydney dengan masyarakat muslim yang ramah dan sangat inspiratif ini. Ada suanana haru yang tak bisa digambarkan melalui kata-kata. Akan tetapi, ada kebahagiaan dan optimisme lain, karena kami akan segera bertemu keluarga di Indonesia. Keluarga yang rela berbagi waktu, mengikhlaskan kami melanjutkan tradisi dakwah di mana dan kapan saja. Istri yang gigih memerankan semua terutama menjadi ibu yang baik dan sabar bagi anak-anak. Anak-anak kami yang tentunya terkurangi kebersamaan dengan ayah mereka. Semoga Allah menggantinya dengan pahala serta menjaga mereka dengan dijadikan anak-anak shalih yang akan menuntun kami ke surga.

Siang ini, Jumat 30.06.2017 masih ada agenda terakhir di Masjid Al-Hijrah. Agar spirit kebaikan terjaga insyaallaah khutbah Jumat nanti saya akan mengangkat tema: Memakmurkan Masjid & Melanjutkan Tradisi-Tradisi Kebaikan. Diantara poin-poin pentingnya:

  1. Mempertahankan komunitas yang baik dengan selalu membersamai mereka serta saling menasehati dalam kebaikan
  2. Memakmurkan masjid, dengan memberikan perhatian dan pengorbanan untuk berbagai hal di antaranya: perawatan dan kebersihannya, kenyamanan dalam beribadah (terutama shalat), meramaikannya dengan majelis ilmu dan dzikir serta berbagai kegiatan positif lainnya.
  3. Jadikan masjid ==> sebagai pusat kegiatan dan majelis perencanaan strategis
  4. Jadikan masjid ==> sebagai sanggar-sanggar al-Quran, tempat-tempat tahfizh, mempelajari al-Quran dan menyebarkan spirit kebaikan yang terkandung di dalamnya
  5. Jadikan masjid ==> sebagai basis data masyarakat, terutama komunitas masyarakat di Sydney dan Australia kemudian membuat peta dakwah untuk mengajak semua untuk berbuat dan memberi kemanfaatan
  6. Jadikan masjid ==> sebagai tempat regenerasi anak-anak dan pemuda dengan membiasakan mereka supaya akrab dengan masjid dan bergaul dengan orang-orang yang sering berada di dalamnya
  7. Jadikan masjid ==> sebagai sarana sharing kebahagiaan dan berbagai kepedulian dengan sesama. Dalam al-Quran perintah shalat seringnya disandingkan dengan perintah menunaikan zakat.

Mudah-mudahan rajutan persaudaraan dan pertalian ukhuwah ini dikekalkan Allah hingga hari kiamat dan dipertemukan kembali diakhirat dalam naungan ridho Allah serta dikumpulkan bersama Nabi Muhammad saw dan shalihin shalihat yang menyintai dan dicintai-Nya.

Terima kasih secara khusus saya ucapkan kepada pimpinan CIDE, Pak Ichsan akbar, Gota (Moh Sjam), Uda Riski Patiroi dan Uda Panji Budiman. Panitia Ramadan yang dikomandoi Pak Lukman kemudian Pak Imam yang incharge dengan update jadwal harian. Juga kepada Uda Uli, Muhammad Haikal, Mas Arif, Pak Elvo, Mas Zain, Allen Rahman, Jufri dan para pegiat youth, Pak Adi, Pak Joko, Pak Eko, Mas Teguh Waluyo dan Pak Ahmad. Juga kepada Pak Wawan, Pak Bambang dan Pak Farid. Tak lupa kepada Pak Novianto dan keluarga.

Juga terima kasih kepada Mas Dito, Mas Teguh Suwondo, Pak Aulia juga Pak Presiden CIDE yang meluangkan waktu dari sejak menyiapkan kami untuk berwisata ke Snowy Mountain. Juga Colonel Riva yang menjadi guide sekaligus tuan rumah selama kami di Canberra.

Terima kasih kepada Bapak Dubes di Canberra serta Bapak Konjen di Sydney. Juga Mas Ibrahim serta pak Imam Malik sekeluarga dan Pak Abrar yang menjamu kami selama di Canberra.

Terima kasih kepada masyarakat di Western Sydney, terkhusus pengurus CIDE yang tinggal di sana, juga kelurga Ust Arif Taufik, Bang Haris dan sebagainya.

Juga kepada Iqro Foundatian, Pak Nur, Pak Mico, Pak Yudi, Pak Beri, Pak Narto, Pak Uki dan lainnya

Terima kasih Bang Nazar dan Andre yang juga teman kami selama kami di Universitas al-Azhar Mesir. Pak Maswan dan Pak Sobri atas masakan-masakannya.

Juga tentunya Ibu-ibu yang namanya tidak saya sebutkan satu persatu. Bu Lili dan komunitas ODOJ di NSW, juga ibu-ibu di MTRI.

Selain itu terima kasih khusus kepada asatidz: Dr. Agus Setiawan, Ust. Musyaffa, Ust. Henmaidi, Ust. Ziyad. Imam shalat selama di Masjid al-Hijrah, Ust. Toriq Jamil al-Hafizh, juga Ust. Musa al-Barqy dan Ust. Taqiyuddin.

Mohon maaf bila banyak nama tidak bisa saya sebutkan satu persatu. Namun tidaklah mengurangi rasa cinta dan penghormatan saya. Mohon maaf pula bila selama sebulan lebih berinteraksi terdapat banyak kehilafan dan kesalahan serta keterbatasan.

Kullu ‘âm wa antum bi khoir, Minal ‘âidin wal Fâizin.

 

Sydney, 30.06.2017

Jumat menjelang siang

 

SAIFUL BAHRI

 

Khutbah Idul Fitri 1435 H : NAFAS KEMENANGAN

Idul Fitri 1435 H

NAFAS KEMENANGAN

Dr. Saiful Bahri, M.A.

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

الله أكبر (9) . الله أكبر كبيراً والحمد لله كثيراً. وسبحان الله بكرةً وأصيلاً. لا إله إلاّ الله والله أكبر، الله أكبر ولله الحمد. الحمد لله الذي فرض علينا الصيام وبعث لنا خير الأنام. أشهد أن لا إله إلاّ الله وحده، صَدَقَ وعْدَه ونصَر عبْدَه وأعزّ جُنْدَه وهزَم اْلأحْزَابَ وحدَه، وأشهد أنّ محمداً عبده ورسوله لا نبي بعده، فصلوات الله وسلامُه على هذا النبي الكريم وعلى آله وذريته وأصحابه أجمعين. أمّا بعد، فيا عباد الله أوصي نفسي وإياكم بتقوى الله، إنه من يتق ويصبر فإن الله لا يضيع أجر المحسنين. يقول المولى عز وجل: )وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنِ افْتَرَىٰ عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ وَهُوَ يُدْعَىٰ إِلَى الْإِسْلَامِ ۚ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ( (الصف: 7). طِبْتُمْ وطابَ ممْشَاكُمْ وتَبَوّأتمْ مِن الجنّة منزلاً .

 Allahu Akbar x 3, walillahil hamd

Ma’asyiral muslimin wal muslimat rahimakumullah.

Segala puji dan syukur kita kumandangkan di tempat ini. Menandai kemenangan yang dikaruniakan Allah Swt. Sebuah kemenangan yang diraih melalui sebuah proses. Melalui sebuah rekayasa sosial yang Allah mudahkan realisasinya. Lewat aliran rahmat, maghfirah dan kelembutan Sang Maha Cinta. Bersama, membingkai kasih sayang. Meredam iri dan dengki serta mengusir permusuhan. Menjadi sebuah satu. Satu pembebasan dari murka dan kemarahan-Nya, berharap cinta yang akan mengangkat kita ke derajat orang-orang dekat-Nya, derajat orang bertakwa yang dijanjikan-Nya.

Simaklah panggilan lembut-Nya tatkala mewajibkan puasa kepada kita. Dia menggunakan panggilan khusus yang bahkan sebelumnya tak pernah dikenal oleh Bangsa Arab. (يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا) “wahai orang-orang yang beriman”. Secara eksplisit panggilan seperti ini hanya dipakai pada surat atau ayat-ayat yang turun di Madinah; yaitu diulang sebanyak delapan puluh sembilan (89) kali. Mengindikasikan banyak hal; di antaranya:

  1. Panggilan tersebut adalah panggilan sayang dan cinta karena menonjolkan pemenuhan perintah untuk mengimani Allah, Rasul dan seterusnya. Sekaligus berfungsi sebagai pujian.
  2. Panggilan tersebut selalu digunakan dalam bentuk plural (jama’). Menandakan bahwa dalam kondisi bersama dan berkelompok lebih mudah dan memungkinkan untuk meng-apresiasikan keimanan dan perilaku keagamaan. Sekaligus perintah untuk merekayasa kebaikan secara sosial. Seperti pendidikan Ramadan, tatkala banyak orang berpuasa (wajib), kemudian membiasakan baca al-Quran, qiyâmullail (tarawih dan tahajud), berdoa, bersedekah, silaturahmi dan sebagainya. Maka secara tak sadar kita lebih mudah melakukan hal-hal tersebut. Saat itu orang yang terbaik di antara kita adalah benar-benar orang berkualitas sebagai cerminan doa ibâdurrahmân (وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا) “jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang bertakwa”. Itu adalah permohonan menjadi yang terbaik di antara orang-orang baik. Juara di antara para juara.

Bulan Ramadan adalah nafas baru. Nafas kehidupan yang tawarkan optimisme untuk mengalahkan diri sendiri sebelum mengalahkan bisikan setan dari kalangan jin dan manusia. Nafas kemenangan itu terdengar menggema saat Allah bersumpah, (والصّبح إذا تنفّس) “dan demi subuh apabila fajarnya mulai menyingsing” (QS. At-Takwîr [81]:18).

Setiap pagi menyingsing datang maka pada hakikatnya Allah berikan kesempatan kita dengan nafas baru optimisme untuk raih kemenangan. Dan Ramadan Allah datangkan dengan ribuan kebaikan yang dijanjikan-Nya sebagaimana Dia lebihkan lailatul qadar dari malam-malam lain, bahkan lebih baik dari seribu bulan.

(يا باغي الخير أقبل ●  ويا باغي الشر أقصر)

Wahai pemburu kebaikan terimalah●  wahai pelaku keburukan berhentilah

Allahu Akbar x 3, walillahil hamd

Ma’asyiral muslimin wal muslimat rahimakumullah

Hari kemenangan ini pula menandakan dahsyatnya kekuatan cinta dan kebaikan. Hari kemenangan yang dirayakan dan disunnahkan untuk siapa saja; tua muda, besar kecil, lelaki dan perempuan. Semua disarankan berpartisipasi di dalamnya. Di tempat ini, menampung segala bentuk kebahagian yang dibingkai dengan ketaatan dan ketundukan pada Allah. Bukti kesanggupan menerima titah-Nya selama sebulan penuh serta tekad melanjutkan spiritnya selama sebelas bulan sisanya. Mempertahankan prestasi kebaikan dan capaian peningkatan iman yang luar biasa.

Hari ini, kita juga menyingkirkan segala representasi kezhaliman. Sombong, angkuh, dengki, iri, permusuhan, saling curiga, menindas dan sebagainya. Karena tak ada lagi tempat bagi kezhaliman untuk bersemayam dalam diri kita, apalagi kita biarkan tersebar ke tengah-tengah masyarakat.

Kezhaliman yang selama ini ikonik dengan simbol Firaun selalu diulang-ulang pembahasannya di dalam al-Quran. Supaya kita ambil pelajaran agar tidak terjebak di dalamnya, ikut mempraktek-kan ataupun melakukan pembiaran terhadap terjadinya kezhaliman.

Kisah epik tokoh protagonis yang sekaligus nabi utusan Allah untuk tokoh antagonis yang zhalim ini, keduanya pernah disatukan dalam satu atap kebersamaan. Allah yang merekayasa demikian. Lelaki bengis itu Allah “paksa” dan “tundukkan” untuk membesarkan calon musuhnya kelak jika ia tak mengakhiri kezhalimannya. Di saat yang bersamaan Allah didik Musa untuk tegar secara psikis dan kuat fisik untuk melawan biang kezhaliman yang juga adalah ayah angkatnya.

Dalam darah Musa mengalir ilham ibunya tatkala percaya dan yakin janji Tuhannya, jika ia tunduk, Musa akan dikembalikan-Nya. Bahkan bukan sekedar kembali, Musa menjelma menjadi orang mulia. Sang Ibu pun didatangi putranya, Musa kecil yang berstatus anak raja. Ia menyusui anak kandungnya dengan dibiayai penuh oleh kerajaan. Itulah nikmat Allah yang lipatgandakan untuknya. Pun demikian, tatkala Firaun berusaha mengungkit budi jasa baiknya kepada Musa, tak lantas membuat nyali Musa ciut dan surut. Justru ia makin teguh sampaikan kebenaran meski sangat pahit. Berhadapan dengan orang yang pernah berjasa dalam hidupnya. Akhir yang tragis bagi dua tokoh yang pernah bersama dalam satu atap istana. Firaun harus tenggelam, menjemput kehinaan yang Allah ancamkan untuknya. Dan Musa, harus bersabar berpindah mengurusi kezhaliman-kezhaliman internal yang bersarang ke dada-dada kaumnya Bani Israil yang menolak titah Allah memasuki bumi suci yang dijanjikan serta berbagai permintaan lain yang melampaui batas.

Ramadan adalah bulan rahmat dan kelembutan. Allah menjanjikan sayang yang membentang untuk siapa saja. Sebuah pertanyaan sederhana: Sudahkah benar-benar kita menjadi seorang yang penyayang? Menyayangi fuqara, anak yatim, janda-janda miskin dan orang-orang lemah serta tertindas juga mereka yang tertimpa musibah. Sudahkah bibir kita terbiasa menyampaikan pesan kasih sayang melalui senyum dan perkataan yang baik. Sudahkan tangan kita ringan mengulurkan bantuan dan shadaqah sebelum lidah mereka mengirimkan pesan pertolongan.

Benarkah setelah sebulan kita dilatih untuk sabar dalam menahan diri. Rasa kasih sayang dan pemaaf kita bisa kemudian mengkristal dalam diri kita. Mari kita belajar menjadi pemaaf yang baik dari Yusuf Ash-shiddiq as. Saat saudara-saudaranya yang dulu membu-angnya ke dalam sumur. Sebelumnya sempat berniat untuk membu-nuhnya, kini berada di hadapannya. Ketika beliau sedang berada dalam kemuliaan yang diberikan Allah. Di hadapan Bapak dan Bibinya serta saudara-saudaranya ia pun menyenandungkan syukur.

(وَقَالَ يَا أَبَتِ هَـذَا تَأْوِيلُ رُؤْيَايَ مِن قَبْلُ قَدْ جَعَلَهَا رَبِّي حَقًّا وَقَدْ أَحْسَنَ بَي إِذْ أَخْرَجَنِي مِنَ السِّجْنِ وَجَاء بِكُم مِّنَ الْبَدْوِ مِن بَعْدِ أَن نَّزغَ الشَّيْطَانُ بَيْنِي وَبَيْنَ إِخْوَتِي (وسف: 100

Wahai ayahku, inilah ta’bir mimpiku yang dulu. Sesungguhnya Tuhan telah menjadikannya kenyataan. Dan sesunggunya Tuhan telah berbuat baik padaku, ketika Dia membebaskanku dari penjara dan ketika membawa kalian dari gurun pasir setelah setan merusak hubungan antara aku dan saudara-saudaraku

Sungguh lembut hati dan perasaannya. Beliau tak mengatakan “idz akhrajani minal jubb” (ketika mengeluarkanku dari sumur) tapi yang beliau sebutkan adalah idz akhrajani minassijn (ketika membebaskanku dari penjara). Padahal kesalahan saudaranya sangatlah besar, tapi beliau tak sedikitpun menyimpan dendam, bahkan untuk sekedar menyebut perbuatan jahat itu sekali-kali beliau sangat menghindarinya.

Itulah sang pemenang. Inilah hari kemenangan para pemaaf. Yang bisa bebaskan dirinya dari dendam dan permusuhan.

Pesan ini seharusnya terus kita perdengarkan. Karena kata penutup shalat kita adalah “as-salâm” (kedamaian), “ar-rahmah” (kasih sayang) serta “al-barakah” (keberkahan). Maka seorang mukmin yang beranjak dari sujudnya setelah bermunajat mesra dengan Tuhannya ia menjelma masjid berjalan. Ia menjelma juru damai yang mengelilingi masyarakat. Menjelma pribadi penyayang serta tebarkan keberkahan dan optimisme kepada siapa saja.

Meski faktanya, dunia selalu hingar-bingar dengan pertikaian. Masih saja terus dipertontonkan kezhaliman yang dahsyat. Lihatlah apa yang terjadi di Palestina, khususnya di Jalur Gaza. Seolah nyawa manusia tak dihargai oleh sesama manusia. Anak-anak dan perempuan tak berdosa harus terbunuh dan ternistakan. Kehancuran menjemput mereka. Pertikaian dan berbalas saling tuduh juga terjadi di Ukraina. Perilaku sadis lainnya masih saja belum berhenti di bumi Syam, Suriah yang sudah menelan korban yang tiada bisa lagi dihitung jumlahnya.

Padahal hancurnya dunia lebih ringan bagi Allah dibanding hilangnya satu nyawa seorang mukmin. Dan karena “barangsiapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan di muka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya.” (QS. Al-Maidah: 32)

Dan selalu ada saja mereka yang mendukung kezhaliman untuk terus bertahan dan membiarkannya memakan korban. Akan selalu ada solidaritas dan rasionalisasi untuk sebuah kezhaliman.

Tapi yang pasti, kezhaliman akan menemui endingnya yang hina. Firaun menjemput kematiannya dengan tenggelam. Sebagaimana Namrud, ikon kezhaliman sebelumnya yang mati “hanya” melalui seekor nyamuk yang masuk di dalam hidungnya. Jalut si angkuh lain-nya, tewas di tangan remaja Dawud tanpa peralatan tarung sesung-guhnya. Abu Jahal, sang zhalim yang lain juga menemui ajalnya di tangan dua orang anak kecil (Muadz dan Mu’awidz), bukan di tangan petarung dan jagoan. Itulah cara kematian yang terhina.

Allahu Akbar x 3, walillahil hamd

Ma’asyiral muslimin wal muslimat rahimakumullah

Ramadan boleh sudah pergi. Tapi spirit rekayasa kebaikannya harus terus bertahan dalam diri kita. Spirit disiplinnya mesti tertancap kuat. Mental tak menyerahnya harus selalu hadir di tengah arus hedonism. Mental kejujuran juga mesti terus menyertai kita. Semangat futuristik yang harus terus tertanam, mengkristalkan pesan Nabi Ibrahim dalam doanya:

(وَاجْعَل لِّي لِسَانَ صِدْقٍ فِي الْآخِرِينَ)

Dan jadikanlah aku buah tutur yang baik bagi orang-orang (yang datang) kemudian.” (QS. Asy-Syu’arâ: 84)

Agar cita-cita kebaikan kita tak hanya bertahan seusia hidup kita di dunia, tetapi terus abadi sampai hari yang ditentukan Allah. Lihatlah Nabi Ibrahim yang dikabulkan doanya, semua umat Islam selalu mendoakannya di setiap tahiyyat akhir sebelum ucapkan salam. Ibrahim telah meninggalkan jejak-jejak peradaban kebaikan. Ia wakafkan anak keturunannya untuk menjadi juru dakwah dan teladan kebaikan bagi kaumnya. Ia wakafkan dirinya untuk mengalir bersama kebaikan. Alirkan nafas-nafas baru kepada siapa saja. Untuk melawan setiap kezhaliman dan apa saja yang menghalangi tersembah-Nya Allah di bumi-Nya.

Berbuatlah sesuatu yang akan langgeng dikenang orang setelah kita yang menjadi sarana mereka mendoakan dan mengirim harapan kebaikan kepada semua orang. Kebaikan yang menginspirasi lahirnya kebaikan-kebaikan lainnya.

Ingat sabda Nabi SAW:  (الكيس من دان نفسه وعمل لما بعد الموت)

Orang yang cerdas adalah orang yang mampu menundukkan hawa nafsunya dan berbuat untuk setelah matinya” (HR. At-Turmudzi) Meski hadis ini dilemahkan oleh sebagian muhadis tapi maknanya shahih dan dibenarkan oleh banyak ulama.

Mudah-mudahan Allah pelihara kita untuk tetap berada dalam pusaran-pusaran kebaikan, sehingga kita selalu mudah melakukan kebaikan dan memiliki kepuasan melaksanakan dan menebarkan-nya kepada sebanyak mungkin makhluk-Nya. Serta dijauhkan dari orbit-orbit kezhaliman, mempraktekkannya ataupun mendiamkan-nya atau bahkan mendukungnya secara membabi buta dikarenakan silau dengan materi dunia dan gila jabatan serta popularitas.

Pada momentum bulan solidaritas ini kita juga berdoa, semoga saudara-saudara kita yang tertimpa musibah -apa saja jenisnya- segera diberikan jalan keluar dan solusi yang terbaik, keluarga-keluarga mereka Allah limpahkan keteguhan hidup dan keberkahan yang hanya Dia saja yang sanggup memberikannya. Semoga Allah persatukan umat Islam yang sudah mulai bosan dengan perpecahan, namun tak tahu bagaimana mengakhirinya. Semoga Allah bimbing dengan sepenuh cinta. Hadirkan rahmat-Nya untuk memperkokoh persaudaraan, sebangsa, setanah air, seakidah dan memimpin segenap umat manusia menuju masyarakat yang berkeadilan, bermartabat, mulia, aman dan sejahtera. Amin Ya Rabbal ‘âlamîn.

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا. اللهم صل علي سيدنا محمد وعلى آله وصحبه وسلم .اللهمّ اغفر لجميع المسلمين والمسلمات الأحياء منهم والأموات إنك سميع قريب مجيب الدعوات. اللهم تقبل صلاتنا وقيامنا وصيامنا وركوعنا وسجودنا وتلاوتنا وصدقاتنا وأعمالنا، وتمّم تقصيرنا يا رب العالمين. اللهمّ إنك عفو تحبّ العفو فاعف عنا يا كريم. اللهمّ توفنا مسلمين وألحقنا بالصالحين . اللهمّ انصر إخواننا المستضعفين في فلسطين وفي سوريا وسائر بلاد المسلمين. رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا. ربنا آتنا في الدنيا حسنة وفي الآخرة حسنة وقنا عذاب النار. والحمد لله رب العالمين

تقبل الله منا ومنكم وكل عام وأنتم بخير وإلى الله أقرب وعلى طاعته أدوم

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

 

Berlin, 01 Syawal 1435 H

               28 Juli 2014M

KBRI Berlin – Jerman

Khutbah Idul Fitri 1434 H

PUSARAN-PUSARAN KEBAIKAN DAN ENDING KEZHALIMAN

Dr. H. Saiful Bahri, M.A

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

الله أكبر (9  مرات) . الله أكبر كبيراً والحمد لله كثيراً. وسبحان الله بكرةً وأصيلاً. لا إله إلاّ الله والله أكبر، الله أكبر ولله الحمد. الحمد لله الذي فرض علينا الصيام وبعث لنا خير الأنام. أشهد أن لا إله إلاّ الله وحده، صَدَقَ وعْدَه ونصَر عبْدَه وأعزّ جُنْدَه وهزَم اْلأحْزَابَ وحدَه، وأشهد أنّ محمداً عبده ورسوله لا نبي بعد، فصلوات الله وسلامُه على هذا النبي الكريم وعلى آله وذريته وأصحابه أجمعين. أمّا بعد، فيا عباد الله أوصي نفسي وإياكم بتقوى الله، إنه من يتق ويصبر فإن الله لا يضيع أجر المحسنين. يقول المولى عز وجل: ﴿ وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنِ افْتَرَىٰ عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ وَهُوَ يُدْعَىٰ إِلَى الْإِسْلَامِ ۚ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ﴾ (الصف: 7). طِبْتُمْ وطابَ ممْشَاكُمْ وتَبَوّأتمْ مِن الجنّة منزلاً .

Allahu Akbar x 3, walillahil hamd

Ma’asyiral muslimin wal muslimat rahimakumullah.

Segala puji dan syukur kita kumandangkan di tempat ini. Menandai kemenangan yang dikaruniakan Allah Swt. Sebuah kemenangan yang diraih melalui sebuah proses. Melalui sebuah pengondisian. Melalui kucuran rahmat, maghfirah dan kelembutan Allah. Melalui kebersamaan. Membingkai kasih sayang. Meredam iri dan dengki serta permusuhan. Menjadi sebuah satu. Satu pembebasan dari murka dan kemarahan Allah, berharap ganti ridho dan cinta-Nya yang akan angkat kita ke derajat orang-orang dekat-Nya, derajat orang bertakwa.

Simaklah panggilan lembut-Nya tatkala mewajibkan puasa terhadap kita. Dia menggunakan panggilan khusus yang bahkan sebelumnya tak pernah dikenal oleh Bangsa Arab. (يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا) “wahai orang-orang yang beriman”. Secara eksplisit panggilan seperti ini hanya dipakai pada surat atau ayat-ayat yang turun di Madinah; yaitu diulang sebanyak delapan puluh sembilan (89) kali. Mengindikasikan banyak hal; di antaranya:

  1. Panggilan tersebut adalah panggilan sayang dan cinta karena menonjolkan pemenuhan perintah untuk mengimani Allah, Rasul dan seterusnya. Sekaligus berfungsi sebagai pujian.
  2. Panggilan tersebut selalu digunakan dalam bentuk plural. Menandakan bahwa dalam kondisi bersama dan berkelompok lebih mudah dan memungkinkan untuk mengapresiasikan keimanan dan perilaku keagamaan. Sekaligus perintah untuk merekayasa kebaikan secara sosial. Seperti pendidikan Ramadan, tatkala banyak orang berpuasa (wajib), kemudian membiasakan baca al-Quran, qiyamullail (tarawih dan tahajud), berdoa, bersedekah, silaturahmi dan sebagainya. Maka secara tak sadar kita lebih mudah melakukan hal-hal tersebut. Saat itu orang yang terbaik di antara kita adalah benar-benar orang berkualitas sebagai cerminan doa ibâdurrahmân (وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا) “jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang bertakwa”. Itu adalah permohonan menjadi yang terbaik di antara orang-orang baik.

ALLAH telah turunkan di bulan Ramadan beberapa pusaran kebaikan. Membahas taklif ini kita perlu sisir semua ayat yang berkaitan dengan puasa. Minimal ayat-ayat 183-187 dari QS. Al-Baqarah. Setidaknya ada beberapa poin pusaran kebaikan tersebut:

  1. Puasa yang diwajibkan menjadi kebiasaan sebulan penuh, padahal ibadah ini di luar bulan Ramadan menjadi luar biasa dan hanya dilakukan oleh orang khusus saja (QS. 2: 183) bertemakan pengendalian diri dari yang diperbolehkan, self control, kejujuran, kepekaan sosial sekaligus totalitas ketaatan.
  2. Allah sempurnakan setelahnya dengan menyebut bulan Ramadan sebagai waktu yang di dalamnya diturunkan al-Quran (QS. 2: 184). Ini menandakan di bulan ini kita diminta Allah untuk tingkatkan interaksi dengan al-Quran (membaca, menadabburi, mengajarkan, menebar kebaikan dan hikmahnya disamping tentunya mengamalkan isinya). Bahkan Allah turunkan sebuah surat khusus yang membahas kemuliaan sebuah malam yang dijadikan fasilitas turunnya al-Quran, yaitu malam lailatul qadar. Yang nilainya melebihi seribu bulan. Bukan sama dengan, tetapi lebih baik dari. Dan derajat kebaikan tersebut hanya Allah saja yang mengetahuinya. Allah juga tak katakan, malam tersebut lebih baik dari seribu malam. Barangkali ini memberi support bagi para pecinta al-Quran agar ia semakin bersentuhan dengan al-Quran untuk raih kemuliaan yang melebihi seribu komunitas, atau jauh di atas 30.000 orang lainnya. Karena bulan adalah kumpulan/komunitas malam-malam biasa. Dan hanya satu yang diistimewakan-Nya, malam lailatul qadar.
  3. Diayat selanjutnya Allah beritakan bahwa Dia sangatlah dekat dengan hamba-Nya (QS. 2: 186). Barangkali inilah kedekatan tanpa sekat, yang menandakan Dia berikan perlakuan khusus bagi siapa saja yang berdzikir dan memohonnya melalui doa. (أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ). Maka berdoa menjadi ibadah yang dianjurkan di bulan ini. Allah angkat derajat dan nilai doa di bulan ini melebihi di bulan lainnya.
  4. Allah memerintahkan kita untuk mengakhirkan sahur, merupakan kebaikan yang luar biasa (QS. 2: 187). (وَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّىٰ يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الْأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الْأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ) Hal tersebut dimaksudkan supaya kita kemudian ringan langkahkan kaki untuk tunaikan shalat shubuh di masjid atau musholla. Allah mudahkan shalat shubuh bagi kita, shalat yang sangat berat bagi orang-orang munafik. Ini pertanda sayang Allah, jauhkan kita dari sifat tersebut.
  5. Pemenuhan hak-hak keluarga. Lihatlah betapa lembutnya Allah sindir kita untuk tetap penuhi hak-hak keluarga kita di malam-malam bulan Ramadan, di saat Dia melarangnya di siang hari (QS. 2: 187). (أُحِلَّ لَكُمْ لَيْلَةَ الصِّيَامِ الرَّفَثُ إِلَىٰ نِسَائِكُمْ ۚ هُنَّ لِبَاسٌ لَّكُمْ وَأَنتُمْ لِبَاسٌ لَّهُنَّ) karena ibadah tidaklah identik dengan mengesampingkan fitrah manusiawi, tidak identik dengan terlantarkan hak keluarga untuk disayangi dan diperhatikan. Ini sekaligus sebagai mukaddimah nantinya saat Allah sunnahkan i’tikaf akan lebih mudah mengkondisikan keluarga dan meninggalkan sementara kedekatan dengan mereka (وَلَا تُبَاشِرُوهُنَّ وَأَنتُمْ عَاكِفُونَ فِي الْمَسَاجِدِ).
  6. Di bulan ini Allah juga didik kita untuk senantiasa hidupkan malam-malamnya dengan shalat, berdzikir dan mengakrabi al-Quran. Baginda Nabi Muhammad SAW bersabda: (من قام رمضان إيمانا واحتسابا، غفر له ما تقدم من ذنبه) [HR. Bukhari Muslim dari Abu Hurairah ra.] secara labih khusus beliau juga menyarankan kita untuk perbanyak qiyamullail sebagai sarana raih lailatul qadar (من قام ليلة القدر إيمانا واحتسابا، غفر له ما تقدم من ذنبه)
  7. Selain hal-hal di atas Allah juga kondisikan umat Islam untuk gemar bersedekah dan tunaikan zakatnya, gemar silaturrahmi dan menyemai kelembutan serta perbanyak maaf demi raih maghfirah dan ampunan Allah. Dengan banyak memaafkan, tak berlebihan jika seseorang kemudian mengharap maaf dari Sang Maha Pengampun. Ada banyak pusaran-pusaran kebaikan lainnya yang Allah kondisikan dan permudah untuk dihadiahkan kepada hamba-Nya yang tekun mencari.

(يا باغي الخير أقبل ●  ويا باغي الشر أقصر)

Wahai pemburu kebaikan terimalah●  wahai pelaku keburukan berhentilah

 

Allahu Akbar x 3, walillahil hamd

Ma’asyiral muslimin wal muslimat rahimakumullah

Hari kemenangan ini pula menandakan dahsyatnya kekuatan cinta dan kebaikan. Hari kemenangan yang dirayakan dan disunnahkan untuk siapa saja; tua muda, besar kecil, lelaki dan perempuan. Semua disarankan berpartisipasi di dalamnya. Di sebuah tanah lapang dan tempat terbuka, menampung segala bentuk kebahagian yang diframe dengan ketaatan dan ketundukan pada Allah. Bukti kesanggupan menerima titah-Nya selama sebulan penuh serta tekad melanjutkan spiritnya selama sebelas bulan sisanya.

Hari ini, kita juga menyingkirkan segala representasi kezhaliman. Sombong, angkuh, dengki, iri, permusuhan, saling curiga, menindas dan sebagainya. Karena tak ada lagi tempat bagi kezhaliman untuk bersemayam dalam diri kita, apalagi kita biarkan tersebar ke tengah-tengah masyarakat.

Kezhaliman yang selama ini ikonik dengan simbol Firaun selalu diulang-ulang pembahasannya di dalam al-Quran. Supaya kita ambil ibroh dan pelajaran agar kita tak terjebak di dalamnya, ikut mempraktekkan ataupun melakukan pembiaran terhadap terjadinya kezhaliman.

Mari renungi tabiat-tabiat kezhaliman Firaun:

  1. Merasa menjadi yang tertinggi dan tak tertandingi, menahbiskan dirinya sebagai tuhan (أَنَا رَبُّكُمُ الْأَعْلَىٰ) “Akulah tuhanmu yang paling tinggi” (QS. An-Nâzi’ât [79]: 24), dewa yang disembah dan dielu-elukan. Tak terbantahkan titahnya, dikelilingi puji-pujian yang sebenarnya hanya keluar dari para penjilat di sekelilingnya.
  2. Merasionalisasikan kezhalimannya dengan merakayasa dukungan rakyatnya melalui berbagai media padahal sang zhalim tak perlu izin dan rasionalisasi untuk melakukan kezhaliman. (وَقَالَ فِرْعَوْنُ ذَرُونِي أَقْتُلْ مُوسَىٰ وَلْيَدْعُ رَبَّهُ ۖ) “Dan berkata Fir’aun (kepada pembesar-pembesarnya): “Biarkanlah aku membunuh Musa dan hendaklah ia memohon kepada Tuhannya…” (QS. Ghafir [40]: 26). Dan karena sebelumnya pun ia tak perlu alasan untuk membunuhi bayi-bayi lelaki Bani Israel, hanya karena mimpi dan selalu terhalusinasi serta terobsesi oleh bunga tidur yang sangat menakutinya.
  3. Melakukan tekanan psikis (psy war). (قَالَ أَلَمْ نُرَبِّكَ فِينَا وَلِيدًا وَلَبِثْتَ فِينَا مِنْ عُمُرِكَ سِنِينَ) (QS. Asy-Syu’arâ [26]: 18). Firaun ungkit budi baiknya pada Musa agar ia jatuh mentalnya serta urungkan untuk mendakwahinya dan hentikan kezhaliman yang dilakukannya.
  4. Pemutarbalikan fakta (إِنِّي أَخَافُ أَن يُبَدِّلَ دِينَكُمْ أَوْ أَن يُظْهِرَ فِي الْأَرْضِ الْفَسَادَ) “karena sesungguhnya aku khawatir dia akan menukar agamamu atau menimbulkan kerusakan di muka bumi” (QS. Ghafir [40]: 26) Siapa sesungguhnya yang berbuat kerusakan dan takut posisinya tergeser oleh Musa?

Dan nampaknya kisah kezhaliman ini tak berhenti, meski sangat ikonik dengan simbol zhalim, tokohnya akan terus berganti. Firaun memang terbujur kaku di museum Tahrir, Cairo di Mesir. Tetapi menitis pada setiap kezhaliman yang terjadi setelahnya.

Simaklah kisah pembantaian umat Islam di Suriah. Dan kini parade kezhaliman sedang dipertontonkan kepada dunia, melalui kudeta militer terhadap pemimpin negeri Mesir yang terpilih secara demokratis. Padahal dalam sejarah negeri itu, para aktivis Islam ketika kalah dalam pemilihan, mereka tetap menerima hasilnya, meski prosesnya penuh kecurangan. Namun, tampaknya kezhaliman tak perlu demokrasi dan harus menunggu empat atau lima tahun lagi. Maka kezhaliman padu dengan ketergesa-gesaan dan kecerobohan. Nyawa-nyawa yang melayang pun seolah tak berharga, dengan mengatasnamakan rakyat mereka tulikan telinga untuk dengar aspirasi rakyat yang lainnya yang sebelumnya telah memenangkan pemilu.

Padahal hancurnya dunia lebih ringan bagi Allah dibanding hilangnya satu nyawa seorang mukmin. Dan karena “barangsiapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan di muka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya.” (QS. Al-Maidah: 32)

Para pejuang HAM pun mendadak diam, enggan sampaikan dukungan atau sekedar ungkap dan tuliskan fakta. Media pun tersetting untuk memback up kezhaliman ini, atau setidaknya mendiamkannya.

Tapi yang pasti kezhaliman akan menemui endingnya yang hina. Firaun menjemput kematiannya dengan tenggelam. Sebagaimana Namrud, ikon kezhaliman sebelumnya yang mati “hanya” melalui seekor nyamuk yang masuk di dalam hidungnya. Abu Jahal, sang zhalim yang lain juga menemui ajalnya di tangan dua orang anak kecil (Muadz dan Mu’awidz), bukan di tangan petarung dan jagoan. Itulah cara kematian yang terhina.

Mudah-mudahan Allah pelihara kita untuk tetap berada dalam pusaran-pusaran kebaikan, sehingga kita selalu mudah melakukan kebaikan dan memiliki kepuasan melaksanakan dan menebarkannya kepada sebanyak mungkin makhluk-Nya. Serta dijauhkan dari orbit-orbit kezhaliman, mempraktekkannya ataupun mendiamkannya atau bahkan mendukungnya secara membabi buta dikarenakan silau dengan materi dunia dan gila jabatan serta popularitas.

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا. اللهم صل علي سيدنا محمد وعلى آله وصحبه وسلم .اللهمّ اغفر لجميع المسلمين والمسلمات الأحياء منهم والأموات إنك سميع قريب مجيب الدعوات. اللهم تقبل صلاتنا وقيامنا وصيامنا وركوعنا وسجودنا وتلاوتنا وصدقاتنا وأعمالنا، وتمّم تقصيرنا يا رب العالمين. اللهمّ إنك عفو تحبّ العفو فاعف عنا يا كريم. اللهمّ توفنا مسلمين وألحقنا بالصالحين . اللهمّ انصر إخواننا المستضعفين في فلسطين وفي سوريا وفي مصر وسائر بلاد المسلمين. رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا. ربنا آتنا في الدنيا حسنة وفي الآخرة حسنة وقنا عذاب النار. والحمد لله رب العالمين

تقبل الله منا ومنكم وكل عام وأنتم بخير وإلى الله أقرب وعلى طاعته أدوم

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Jakarta, 01 Syawal 1434 H

          08 Agustus 2013M

Kampus Universitas Pancasila – Jakarta Selatan

*) Shalat dan Khutbah Idul Fitri mengikuti jadwal dan penetapan dalam sidang istbat Pemerintah RI, melalui Kementrian Agama RI yang mengundang pihak-pihak terkait dalam sidangnya.

**) Khutbah kedua menyesuaikan.

Khutbah Idul Fitri 1430 H

Kemenangan Para Pemaaf

Dr. H. Saiful Bahri, MA.

 السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

الله أكبر (9  مرات) . الله أكبر كبيراً والحمد لله كثيراً. وسبحان الله بكرةً وأصيلاً. لا إله إلاّ الله والله أكبر، الله أكبر ولله الحمد. حمداً لله الذي أمدّنا بأنواع النعم وفضلنا على سائر خلقه بتعليم العلم والبيان، والحمد لله الذي حبّب إلينا الإيمان وزينه في قلوبنا وكره إلينا الفسوق والعصيان واجعلنا اللهمّ من الراشدين. أشهد أن لا إله إلاّ الله وحده، صَدَقَ وعْدَه ونصَر عبْدَه وأعزّ جُنْدَه وهزَم اْلأحْزَابَ وحدَه، وأشهد أنّ محمدا عبده ورسوله لا نبي بعد، فصلوات الله وسلامُه على هذا النبي الكريم وعلى آله وأصحابه أجمعين. أمّا بعد، فيا عباد الله أوصي نفسي وإياكم بتقوى الله، إنه من يتق ويصبر فإن الله لا يضيع أجر المحسنين. يقول المولى عز وجل: « إِن تُبْدُواْ خَيْرًا أَوْ تُخْفُوهُ أَوْ تَعْفُواْ عَن سُوْءٍ فَإِنَّ اللّهَ كَانَ عَفُوًّا قَدِيرًا» (النساء: 149). طِبْتُمْ وطابَ ممْشَاكُمْ وتَبَوّأتمْ مِن الجنّة منزلاً .

 Allahu Akbar x 3, walillahil hamd

Ma’asyiral muslimin wal muslimat rahimakumullah.

Pada pagi hari ini, sebagian besar umat islam merayakan kemenangan. Mereka memang layak untuk berbahagia. Dan Rasulullah saw pun memerintahkan semua orang untuk berkumpul merayakan kemenangan ini. Orang-orang tua, muda, remaja, anak-anak, laki-laki maupun perempuan, bahkan mereka yang berhalangan syar’i pun dianjurkan untuk datang. Karena pada hari inilah kita meraih kemenangan sesungguhnya. Kala cinta mengalahkan iri dan dengki. Ketika dendam dan permusuhan terkikis oleh kasih sayang. Saat kesabaran dan kejujuran menyingkirkan ego dan dusta. Saatnya kita meraih kemenangan cinta dari Sang Pemilik cinta.  Inilah realisasi doa yang sering dibaca oleh Nabi Daud as

اللهم إني أسألك حبك وحب من يحبك وحب عمل يقربني إلى حبك

Ya Allah karuniailah hamba cinta-Mu dan cinta orang-orang yang mencintai-Mu serta segala sesuatu yang mendekatkanku pada cinta-Mu” HR Tirmidzi dari Abu Darda’ ra.

Selama Ramadhan kita benar-benar menyelami dan merasakan apa sesungguhnya arti cinta dan kasih sayang. Apa makna Rahmah yang sebenarnya. Rahmah Allah diturunkan setiap harinya di sepertiga malam terakhir, saat para pelantun istighfar memohon ampunan-Nya. Rahmah, sebagai tanda pembuka bulan Ramadhan yaitu sepertiga pertamanya. Kasih sayang ini pula yang menjadi tujuan pernikahan antara pasangan laki-laki dan perempuan, selain menjadi tanda-tanda kebesaran-Nya. Dan Rahmah inilah yang kita ucapkan sebagai salam pembuka ketika bersua dengan sesama saudara. Dalam al-Qur’an pun surat Ar-Rahman menjadi satu-satunya surat yang diambil dari nama Allah (asmaul husna) yang maha penyayang.

Jika kita ingin tahu bagaimana Allah menyayangi kita dengarkan penuturan Rasulullah saw dalam hadits qudsi berikut:

 عن أبي هُرَيْرَةَ قال قال رسول اللَّهِ صلى الله عليه وسلم إِنَّ اللَّهَ قال من عَادَى لي وَلِيًّا فَقَدْ آذَنْتُهُ بِالْحَرْبِ وما تَقَرَّبَ إليّ عَبْدِي بِشَيْءٍ أَحَبَّ إلي مِمَّا افْتَرَضْتُ عليه وما يَزَالُ عَبْدِي يَتَقَرَّبُ إليّ بِالنَّوَافِلِ حتى أُحِبَّهُ فإذا أَحْبَبْتُهُ كنت سَمْعَهُ الذي يَسْمَعُ بِهِ وَبَصَرَهُ الذي يُبْصِرُ بِهِ وَيَدَهُ التي يَبْطِشُ بها وَرِجْلَهُ التي يَمْشِي بها وَإِنْ سَأَلَنِي لأعْطِيَنَّهُ وَلَئِنْ اسْتَعَاذَنِي لأعِيذَنَّهُ وما تَرَدَّدْتُ عن شَيْءٍ أنا فَاعِلُهُ تَرَدُّدِي في قبض نفس عبدي الْمُؤْمِنِ يَكْرَهُ الْمَوْتَ وأنا أَكْرَهُ مَسَاءَتَهُ ولا بد له منه (أخرجه البخاري في كتاب الرقاق باب التواضع)

Allah berfirman: Siapa yang memusuhi waliku maka aku kumandangkan perang terhadapnya. Tidaklah seorang hamba mendekatiku dengan sesuatu yang aku cintai dari perbuatan yang aku wajibkan padanya dan ia masih terus mendekatiku dengan perbuatan-perbuatan sunnah hingga aku mencintainya. Ketika aku mencintainya, aku menjadi telinganya dengannya ia mendengar; aku jadi matanya dengannya ia melihat; aku jadi tangannya dengannya ia memegang dgn keras; aku jadi kakinya dengannya ia berjalan. Tidaklah Aku ragu-ragu melakukan sesuatu seperti keraguanku ketika hendak merenggut jiwa hambaku yang beriman, dia membenci kematian sedang aku tak suka menyakitinya padahal itu sebuah keharusan” (HR. Bukhori)

Sebuah pertanyaan sederhana: Sudahkah benar-benar kita menjadi seorang yang penyayang? Menyayangi fuqara, anak yatim, janda-janda miskin dan orang-orang lemah serta tertindas juga mereka yang tertimpa mushibah. Sudahkah bibir kita terbiasa menyampaikan pesan kasih sayang melalui senyum dan perkataan yang baik. Sudahkan tangan kita ringan mengulurkan bantuan dan shadaqah sebelum lidah mereka mengirimkan pesan pertolongan.

Benarkah setelah sebulan kita dilatih untuk sabar dalam menahan diri. Rasa kasih sayang dan pemaaf kita bisa kemudian mengkristal dalam diri kita. Mari kita belajar menjadi pemaaf yang baik dari Yusuf Ash-shiddiq as. Saat saudara-saudaranya yang dulu membuangnya ke dalam sumur setelah sebelumnya sempat berniat untuk membunuhnya, kini berada di hadapannya. Ketika beliau sedang berada dalam kemuliaan yang diberikan Allah. Di hadapan Bapak dan Bibinya serta saudara-saudaranya ia pun menyenandungkan syukur.

« وَقَالَ يَا أَبَتِ هَـذَا تَأْوِيلُ رُؤْيَايَ مِن قَبْلُ قَدْ جَعَلَهَا رَبِّي حَقًّا وَقَدْ أَحْسَنَ بَي إِذْ أَخْرَجَنِي مِنَ السِّجْنِ وَجَاء بِكُم مِّنَ الْبَدْوِ مِن بَعْدِ أَن نَّزغَ الشَّيْطَانُ بَيْنِي وَبَيْنَ إِخْوَتِي » (يوسف: 100)

Wahai ayahku, inilah ta’bir mimpiku yang dulu. Sesungguhnya Tuhan telah menjadikannya kenyataan. Dan sesunggunya Tuhan telah berbuat baik padaku, ketika Dia membebaskanku dari penjara dan ketika membawa kalian dari gurun pasir setelah setan merusak hubungan antara aku dan saudara-saudaraku

Sungguh lembut hati dan perasaannya. Beliau tak mengatakan “idz akhrajani minal jubb” (ketika mengeluarkanku dari sumur) tapi yang beliau sebutkan adalah idz akhrajani minassijn (ketika membebaskanku dari penjara). Padahal kesalahan saudaranya sangatlah besar, tapi beliau tak sedikitpun menyimpan dendam, bahkan untuk sekedar menyebut perbuatan jahat itu sekali-kali beliau sangat menghindarinya.

Mampukah kita menjadi seorang pemaaf yang ikhlas & sanggup menjadikan masa lalu seperti debu yang dihembus angin maaf dan komitmen persaudaraan.

إِن تُبْدُواْ خَيْرًا أَوْ تُخْفُوهُ أَوْ تَعْفُواْ عَن سُوْءٍ فَإِنَّ اللّهَ كَانَ عَفُوًّا قَدِيرًا (النساء : 149)

Di akhir ayat ini disebut ”Afuwwan Qadiran”. Ini sangat menarik sekali (kata maaf disandingkan dengan kekuasaan). Imam al-Alusy menyimpulkan pendapat al-Kalby. Allah yang maha pemaaf dan kuasa memaafkan kesalahan kita padahal Dia sanggup berbuat apa saja terhadap orang yang menzhalimi kita demikian terhadap kita.

 Allahu Akbar x 3, walillahil hamd

Ma’asyiral muslimin wal muslimat rahimakumullah

Di hari kemenangan cinta ini selayaknya kita senandungkan tahmid, tasbih dan takbir kepada Dzat yang serba maha, dari lubuk hati kita yang terdalam dan diikuti oleh amal perbuatan. (i’malu ala dzawuda syukro) Surat Saba’: 13.

Selesainya bulan Ramadhan bukan berarti misi meraih ketakwaan telah berakhir. Karena justru mempertahankan kualitas ketakwaan ini sangatlah berat. Apalagi jika kita mampu meningkatkannya, tentu merupakan prestasi yang luar biasa. Di bulan Ramadhan sesuatu yang bernilai lebih menjadi patokan dan nilai standar. Lihatlah: puasa, tilawah al-Qur’an, qiyam, menahan diri, mengendalikan nafsu. Ini menjadi standar. Untuk meraih nilai lebih masing-masing kita meningkatkannya dengan kualitasnya. Karena dari segi kuantitas mungkin bedanya tipis. Semua kita diwajibkan berpuasa sebulan penuh. Tapi tak semua kita mampu meraih kualitas yang sama. Demikian pula qiyam (baik tarawih ataupun shalat tahajud). Coba lihatlah masjid dari sejak shubuh sampai shubuh lagi. Jumlah pengunjungnya berlipat dari hari biasa. Demikian juga al-Qur’an, masing-masing berusaha minimalnya mengkhatamkan sekali, ada yang dua, tiga dan seterusnya. Bahkan ada yang baru mulai menghafal atau menambah hafalan. Ada yang menjadikannya momentum untuk belajar membaca al-Qur’an. Di antara 29/30 malam di bulan ini Allah melebihkan nilai satu malam dari nilai 1000 bulan (83 tahu, 4 bulan/30.000 malam). Yaitu malam yang bersentuhan dengan kemuliaan dan keberkahan al-Qur’an.

Tentu orang-orang beriman berlomba-lomba untuk menjadi seorang personal yang prestatif. Lebih baik nilainya dari 1000 komunitas atau melebihi kualitas 30.000 orang yang tak pernah bersentuhan dengan al-Qur’an.

Alangkah indahnya jika nilai standar masyarakat seperti ini. Jujur, sabar, pandai menahan diri dan mengendalikan nafsu, disiplin, dermawan. Maka menjadi orang-orang pilihan dalam masyarakat seperti ini sangatlah luar biasa. Inilah puncak peradaban umat yang digambarkan al-Qur’an, tokoh-tokohnya adalah Ibadurrahman (Hamba-hamba Sang Maha Penyayang) yang sangat mendambakan kondisi ideal tersebut, melalui doa dan pengharapan mereka:

«وَالَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا»

Dan orang-orang yang berkata: wahai Tuhan kami anugerahkanlah kepada kami istri-istri dan keturunan kami sebagai penenang hati dan jadikan kami pemimpin orang-orang bertakwa” (al-Furqon:74). Menjadi pemimpin orang-orang bertaqwa adalah impian setiap kita.

Allahu Akbar x 3, walillahil hamd

Ma’asyiral muslimin wal muslimat rahimakumullah 

Karena itu pengorbanan kita di bulan Ramadhan jangan pernah kita sia-siakan. Mata kita, kita biarkan menahan kantuk untuk melakukan shalat malam. Perut kita, tenggorokan, mulut, bahkan nafsu dan syahwat kita. Semua kita tahan dengan baik. Apakah setelah ini kita mencoba untuk melepaskannya kembali?

Tidak sayangkah kita dengan anyaman kesabaran yang kita selama sebulan.  Menahan lapar dan dahaga di musim panas yang cukup melelahkan. Bukankah ini sebuah pengorbanan. Siapa yang tahu kalau kita pura-pura berpuasa padahal bisa saja kita minum di tempat tersembunyi untuk menghilangkan dahaga dan haus kita? Tak salah jika bulan ini disebut dengan bulan Ramadhan. Ibnu Mandhur dalam magnum opusnya ”Lisanul Arab” mengatakan bahwa bulan ini dinamakan Ramadhan sebab tenggorokan orang yang berpuasa terasa kering dan panas karena menahan haus dan dahaga. Akar katanya berasal dari ”ramadha” yang berarti sangat panas. Saat ini kita berpuasa di bulan Ramadhan yang sesungguhnya, meski di penghujung musim panas.

Selama itu pula, di bulan ini kita menganyam kejujuran, kedisiplinan, kepekaan dan solidaritas sosial. Lantas alasan apakah yang membuat kita hendak mengurai anyaman yang mulai menguat? Orang yang melakukan hal ini seperti halnya seorang perempuan bodoh yang mengurai anyamannya.

وَلاَ تَكُونُواْ كَالَّتِي نَقَضَتْ غَزْلَهَا مِن بَعْدِ قُوَّةٍ أنكاثا …

Janganlah kalian seperti seorang perempuan yang menguraikan benang yang sudah dipintalnya dengan kuat, menjadi cerai berai kembali…” (Surat Annahl: 92)

Lihatlah, para sahabat Nabi saw selama enam bulan pasca Ramadhan selalu berdoa supaya amal yang mereka kerjakan di bulan Ramadhan diterima oleh Allah karena mereka mengetahui kualitas pahala dari Allah serta keberkahan bulan mulia ini. Enam bulan setelahnya mereka pun berdoa dan berharap supaya dipertemukan kembali dengan bulan Ramadhan berikutnya.

Mengapa persiapan tersebut perlu sejauh itu? Pernahkah kita berpikir atau setidaknya terlintas dalam benak kita. Vanus-nanus (lampu-lampu khas Ramadhan) kapan dibuat? Sebagian buatan China? Kapan mereka mengirimnya ke Mesir. Belum lagi sinetron dan film-film yang diputar sepanjang bulan Ramadhan. Kapan dibuat dan kapan disiapkan?

Jika para pedagang, bisnisman dan insan perfilman mempersiapkan dari jauh-jauh hari sebelum Ramadhan, laikkah kita sebagai pelajar/mahasiswa yang mendalami ilmu agama atau pegawai atau pedagang atau siapa saja yang berada di negeri muslim ini bahkan mungkin terlambat menyadari kedatangan bulan suci Ramadhan.

 Allahu Akbar x 3, walillahil hamd

Ma’asyiral muslimin wal muslimat rahimakumullah

Bulan Ramadhan adalah benar-benar bulan kemenangan. Perang eksistensi, Perang Badar Kubra terjadi di bulan ini. Demikian juga Bangsa kita memproklamirkan kemerdekaan di bulan Ramadhan. Hal ini menunjukkan bahwa bulan Ramadhan bukanlah waktu untuk bermalas-malasan. Kita juga harus menyadari dahsyatnya konspirasi terhadap Islam. Isu terorisme yang dihembuskan bisa jadi akan berimbas marginalisasi kembali umat Islam yang pelahan mulai bangkit. Stigma negatif ini diharapkan mampu menggertak umat Islam supaya mempersempit makna keberagamaan mereka. Bahwa beragama yang baik berada di dalam masjid saja. Di luar itu agama tak perlu dibawa-bawa. Syubhat dan serangan pemikiran seperti ini akan mengebiri potensi kekayaan alam negeri kita yang sangat luar biasa. Tapi karena para pengelolanya kurang professional dan tidak jujur maka bangsa kita beberapa kali mengalami kebangkrutan. Demikian juga orang-orang pandai dan pintar di negeri kita tidaklah sedikit. Tapi sebagian diantara mereka terserang penyakit pragmatisme yang hanya mau tau diri sendiri dan memikirkan kepentingan pribadi. Dengan tambahan serangan stigma terorisme maka lengkaplah marginalisasi tersebut.

Namun kita tak perlu reaksioner menanggapi hal ini. Yang kita lakukan adalah dengan terus mendalami sekaligus menampilkan Islam sebagai rahmatan lil’alamin. Karena Islam –demikian jug agama yang lain- sangat memerangi kekerasan dan penindasan. Kisah Musa dan Fir’aun yang paling sering diulang dalam al-Qur’an menjadi bukti bahwa Islam sangat anti dengan kezhaliman dan rezim kesewenang-wenangan.

 Allahu Akbar x 3, walillahil hamd

Ma’asyiral muslimin wal muslimat rahimakumullah

Di bulan ini kita belajar berbagi. Antara si kaya dan si miskin. Di bulan ini kita dilatih untuk bersatu. Semuanya disuruh untuk membatalkan puasa begitu matahari tenggelam. Dan semuanya diharamkan untuk makan dan minum begitu adzan shubuh dikumandangkan. Maka saatnya kita cari titik-titik yang bisa menyatukan kita dan kita toleran dalam hal-hal yang mengharuskan kita berbeda. Di bulan ini kita kita dididik untuk mi’raj ke langit setelah selama sebelas bulan badan kita lebih menyukai berbaring di atas bumi. Di bulan ini kita perbanyak menengadah dengan penuh kekhusukan. Kepala kita, simbol kemuliaan; dibulan ini kita perbanyak untuk didekatkan ke bumi, bersujud pada Sang Maha Perkasa. Tak lain hanyalah untuk mengingatkan bahwa kelak di hari kiamat tak ada yang bisa kita andalkan selain tabungan amal kita.

Coba kita ambil pelajaran dari kisah Nabi Yusuf ketika menakwil mimpi Raja Mesir, datang 7 tahun kemakmuran yang diikuti 7 tahun paceklik yang akan menimpa negeri Mesir dan sekitarnya. Apa yang diandalkan orang-orang Mesir pada musim paceklik? Tentunya sikap dan pola hidup di 7 tahun yang penuh kemakmuran sangat membantu di masa-masa sulit yang akan datang berikutnya.

Seandainya Allah memberi kita kesempatan untuk hidup 60-70 tahun sanggupkah kita menyiapkan diri untuk menempuh keabadian nasib kita yang tidak kita ketahui di hari pembalasan kelak. Orang yang cerdas akan pandai merencanakan dengan baik dan tidak mudah tergoda oleh hal-hal yang menjauhkannya dari tujuannya yang sesungguhnya.

Untuk memahami singkatnya hidup kita bisa kita lihat dari apa yang kita alami atau kita lihat fenomena di sekeliling kita. Saat sang bayi dilahirkan orang tuanya mengumandangkan adzan dan iqomah di telinga kanan dan kirinya. Saat kemudian ia mati ia dishalatkan orang-orang tanpa didahaului dengan adzan dan iqamah. Jadi ia mengarungi hidup, bagaikan orang yang akan shalat setelah iqamah dan menunggu imam bertakbiratul ikhram. Sungguh sangat singkat.

Dan nanti di hari kiamat tak lagi didengar alas an dan udzur ataupun rasionalisasi kesalahan dan dosa orang-orang zhalim. Karena pintu taubat dan amal telah benar-benar tertutup. Dan saatnya pembalasan akan segera dimulai setelah pengadilan benar-benar ditegakkan dengan transparan.

Maka hari-hari kita di dunia mestilah istimewa dan selalu lebih baik dari hari sebelumnya. Imam Hasan bin Ali mengatakan : من كان يومه كأمسه فهو مغبون

Barangsiapa yang (kualitas) harinya sama dengan kemarin maka ia tertipu

Senada dengan apa yang dikatakan oleh Anthony Robbins “I challenge you to make your life a masterpiece. I challenge you to join the ranks of those people who live what they teach, who walk their talk.” Saat benar-benar kita realisasikan kita akan menjadi manusia yang bermanfaat buat sesama seperti sabdanya ”Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi sesamanya

Allahu Akbar x 3, walillahil hamd

Ma’asyiral muslimin wal muslimat rahimakumullah

Hari ini Bulan Syawal menyambangi kita, artinya bulan Ramadhan telah pergi. Ada banyak materi short course yang kita dapatkan selama sebulan. Jujur, disiplin, sabar, toleran, bersyukur, bersedekah, tekun dan lain sebagainya. Dan satu hal yang menjadi tema pokok kita pagi ini, yaitu belajar memaafkan.

Sebelum khatib akhiri khutbah, sejenak kita simak kisah dua orang sahabat yang sedang bermain dan bercengkrama di tepian sebuah danau. Dalam suatu kesempatan terjadi perselisihan yang berakibat salah seorang diantara mereka menampar sahabatnya. Sang sahabat terkejut, ia kemudian berlari ke arah danau. Kemudian ia menuliskan sesuatu di atas pasir ”hari ini sahabatku menamparku”. Kemudian keduanya asyik dengan diri sendiri. Orang yang menampar segera menjauh, ia mengambil kail dan melemparkan ujung senar ke dalam danau. Pikirannya berkelana ke mana-mana, mungkin ia menyesali perbuatannya. Sementara sahabatnya lebih memilih mendinginkan badan dengan berendam dan berenang di danau. Mendadak kakinya kram, sementara ia semakin ke tengah. Ia hamper tenggelam. Segera ia berteriak minta tolong dengan keras. Tanpa pikir panjang sang sahabat melempar kailnya dan segera meluncur menyelamatkan sahabatnya. Setelah siuman, sang sahabat segera mencari batu yang cukup besar, kemudian ia menuliskan sesuatu di atasnya ”hari ini sahabatku telah menyelamatkanku”. Sambil keheranan ia bertanya pada sahabatnya. Kenapa tadi engkau menulis di atas pasir dan sekarang menulis di atas batu. Sambil tersenyum sahabatnya membalas, ”Tadi, bukan hanya fisikku yang sakit, hatiku juga sangat sedih. Tapi aku ingin segera melupakan mengusir perasaan ini dan melupakannya maka aku tulis di atas pasir. Kuharap bersamaan ombak yang menghapusnya kesedihanku pun sirna. Sementara saat engkau menyelamatku saat aku akan karam aku sangat bahagia dan berterimakasih. Aku ingin mengingatnya sepanjang masa, aku menulisnya di atas batu agar tak hilang”.

Inilah pelajaran berharga yang bisa kita ambil. Sudahkah kita mampu memaafkan dengan baik. InnalLâh kâna afuwwan qadîran.

Karena kemenangan yang hakiki yaitu tatkala kita bisa mengalahkan nafsu dan ego kita. Kemenangan hakiki terjadi ketika kezhaliman tak mendapat ruang di negeri kita. Ketika negeri kita benar-benar terbebas dari segala bentuk penjajahan. Kita songsong kemenangan dengan terus memperbaiki diri dan berkorban.

إِنَّ اللَّهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا. اللهمّ صلّ على سيّدنا محمّد وعلى آله وصحبه وسَلِّمْ . اللهمّ إنّا نسألُك بأسمائِك الحسنى وصفاتِك العلى ، نسألُك بكلِّ اسْمٍ هُوَ لَكَ سمّيْتَ به نفسَك، أو أنزَلته في كتابك، أو علّمته أحداً مِنْ خلقِك، أو اسْتأثرْتَ بِه في علم اْلغيب عندَك أن تجعل القرآن العظيم ربيع قلوبنا وجلاء همومنا. أللهمّ انصر المسلمين وفرّجْ كربَهم واقضِ حاجاتِهم. اللهمّ اغفر لنا ذنوبنا ولوالدَيْنا ولجميع المسلمين والمسلمات. اللهمّ إنّا نسألك فعلَ الخيرات وتركَ المنكرات وحبَّ المساكين. اللهمّ إنك عفو تحب العفو فاعف عنا. اللهمّ آت نفوسنا تقواها وزكها أنت خير من زكاها أنت وليها ومولاها. اللهمّ يا سامع الصوت وياسابق الفوت ويا كاسيَ العظام لحماً بعد الموت، ارحمنا برحمتك إذا صِرنا إلى ما صار الأموات إليه تحت الجَنَادر والتراب وحدنا. اللهّم تقبل منا الصيام والقيام وقراءة القرآن. اللهمّ اعتق رقابنا من النار يا عزيز يا غفار.

Ya Allah, sejukkan dan lembutkan hati kami. Gantikan kesedihan saudara-saudara kami yang tertimpa musibah gempa, banjir, perang serta bencana lainnya. Gantilah  dengan ketenangan. Jadikan pagi ini sebagai kebahagiaan mereka. Sirnakan rasa takut di hati mereka. Dinginkan panasnya kalbu dengan salju keyakinan dan keimanan pada-Mu.

Wahai yang maha agung yang maha mendengar engkau. Engkau yang maha tahu yang apa yang kami perbuat. Ampuni jika selama ini kami tidak mengenal-Mu ya Allah. Ampuni jika kelebihan yang Engkau titipkan membuat kami takabbur. Ampuni jika yang Engkau karuniakan membuat kami riya dan sombong. Bukakan hati kami ya Allah agar kami lebih dapat mengenal-Mu.

Karuniakan kami taubat dan kesungguhan memperbaiki diri. Jadikan kami hamba yang bermanfaat bagi sebanyak-banyaknya makhluk-Mu. Pilihlah kami jadi jalan kecukupan bagi hamba-Mu yang fakir. Tunjuklah kami jadi cahaya bagi hamba-Mu yang kegelapan. Pilihlah kami menjadi jalan kebahagiaan bagi hamba-hamba-Mu yang nestapa. Tunjuklah kami menjadi jalan perlindungan-Mu bagi hamba yang teraniaya. Kami berharap hidup yang sekali-kalinya ini dapat mempersembahkan yang terbaik, semata-mata karena Engkau, bukan karena ingin pujian atau kedudukan di sisi makhluk-Mu. Jangan biarkan kami menipu diri sendiri dengan menshalih-shalihkan diri di hadapan makhluk-Mu. Jangan kau murkai kami karena kelalaian menunaikan hak-hak-Mu

Ya Allah, sirnakan dari kami rasa sedih dan duka, usirlah kegundahan dari jiwa kami.Ya Allah, lindungilah kami dari konspirasi, makar dan tipu daya musuh-musuh-Mu. Tukjukkanlah kekuasaan-Mu dihadapan mereka. Hindarkan-lah kami dari perselisihan, dengki, iri, dan saling menjatuhkan di antara kami. Satukan hati kami, tautkan kalbu kami.

Kami berlindung kepadamu dari setiap rasa takut yang mendera, hanya kepada-Mu kami bersandar dan bertawakkal.

Tuhan yg mendengar jangan Kau biarkan kami terfitnah. Engkau yang meng-genggam diri kami. Selamatkan negeri kami. Pilihlah para pemimpin negeri kami yang menjadi tauladan bagi kami. Para pemimpin yang penuh kasih sayang, tulus dan bening hatinya. Engkau Maha Tahu. Berkahilah pertemuan ini catatlah mereka yang hadir menjadi hamba yang sangat Kau sayangi. Maafkan dosa-dosa kami. Ampunkan kebodohan kami yang tak jemu mendurhakai-Mu. Yang tak jera berbuat dosa.

ربنا آتنا في الدنيا حسنة وفي الآخرة حسنة وقنا عذاب النار. والحمد لله رب العالمين

تقبل الله منا ومنكم وكل عام وأنتم بخير وإلى الله أقرب وعلى طاعته أدوم

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

 Cairo, 1 Syawal 1430 H

          20 September 2005 M

KBRI Cairo – Masjid Assalam, Distrik 10, Nasr City-Cairo