CLOSING STATEMENT INTERNATIONAL PUBLIC FOUNDATION TO AID GAZA

Prof. Dr. Yassin Aktay

Prof. Dr. Yassin Aktay

Jika sesi terakhir di hari pertama tema yang diangkat cukup hangat, yaitu tentang advokasi tawanan Palestina dan tema hukum serta kejahatan perang. Maka di hari kedua konferensi International Public Foundation to Aid Gaza, kembali membicarakan beberapa hal yang berkenaan dengan pembangunan kembali Gaza pasca agresi militer Israel. Kali ini lebih kepada infrastuktur di Gaza dan didahului beberapa presentasi tentang blokade di Gaza juga disampaikan progress aktivitas dari beberapa persatuan dokter (regional negara Arab, Eropa dan internasional).

Pada kesempatan kali ini, penasehat Presiden Turki Recep Tayyip Erdoğan, Prof. Dr. Yassin Aktay yang juga Deputi Presiden AK Party menyampaikan sambutannya. Menariknya beliau berbicara dengan Bahasa Arab.

“Kepedulian terhadap Gaza adalah panggilan nurani kemanusiaan. Seruan untuk kita semua, kaum muslimin dan  seluruh umat manusia.” tutur Aktay “Berbuat zhalim adalah hal yang biasa dilakukan oleh Israel, tapi bukan suatu hal yang wajar jika umat Islam kemudian berpangku tangan menyaksikan kezhaliman ini terus berlangsung dan tak berbuat apa-apa. Seandainya umat Islam dan seluruh manusia berdiam diri dan membiarkan kezhaliman ini terjadi, maka Turki dengan segenap pimpinan dan rakyatnya takkan pernah diam dan berpangku tangan Gaza diperlakukan dengan semena-mena.” Orasi ini disambut dengan tepuk tangan yang meriah.

Setelah coffee break, sesi terakhir konferensi ini adalah pembangunan infrastruktur di Gaza. Ada tiga pemateri yang menyampaikan proposalnya. Yang pertama, Ir. Hasyim Syawa selaku wakil presiden direktur Palestine Real Estate Investment Co. Kemudian pemaparan dari Ir. Ibrahim Abu Tsarayya dari Jerman yang merupakan representasi dari Palestinian Engineers Union di Eropa. Pada kesempatan ini Dr. Riyadh Ahmad dari Inggris sebagai perwakilan Asosiasi Dokter Palestina di Eropa juga menyampaikan presentasinya.

Grafik data korban

Tiba saatnya rangkaian konferensi International Public Foundation to Aid Gaza sampai di akhir acara. Closing ceremony dipimpin langsung oleh ketua panitia, Dr. Wael Saqqa.

Beliau membuka prakata pengantarnya dengan berterima kasih kepada seluruh peserta yang bersedia memenuhi undangan panitia untuk mendatangi tempat ini serta bergabung dengan kegiatan ini.

“Dengan nama-nama Anda, kita kukuhkan bersama International Public Foundation to Aid Gaza” kata-kata Dr. Wael penuh semangat. “Saya mohon Anda mendoakannya semoga Allah memberkahinya. Dan melalui forum ini mari kita kukuhkan Dr. Isham Yusuf sebagai ketua International Public Foundation to Aid Gaza. Dan mari kita minta beliau menyebutkan nama-nama orang yang akan membantu kerja-kerja networking beliau”

Kemudian Dr. Ishom Yusuf menyebutkan beberapa nama. Beliau memulainya, “Semoga Allah menolong kita semua dan menjadikan kegiatan ini sebagai amal yang ikhlas dan diterima Allah” kemudian beliau melanjutkan “Setelah berdiskusi dengan tim kecil, mendengar masukan-masukan dari berbagai negara, maka saya meminta nama-nama berikut ini mendampingi kami menunaikan amanah yang tak ringan ini”

  1. Syeikh Ibrahim Zeinal (Qatar)
  2. Hisyam Syathir (Bahrain)
  3. Ahmad Ibrahim (Aljazair)
  4. Riyadh Ahmad (representasi Eropa)
  5. Wael Saqqa (Yordania)

“Saya sebagai panitia berterima kasih kepada media masa dan segenap panitia atas kerja kerasnya. Kemudian kepada yayasan-yayasan Turki yang berjuang keras membantu Palestina. Khususnya memfasilitasi pengobatan para korban perang” tutur Dr. Wael Saqqa, kemudian beliau mempersilakan representasi Qatar Charity.

Dalam sambutannya, Ibrahim Zeinal yang mewakili Qatar Charity berdoa semoga Allah selalu menguatkan para aktivis untuk terus mendukung perjuangan rakyat Gaza dan semoga pertemuan ini menjadi pendahuluan yang baik untuk memperkokoh dan memperkuat jaringan organisasi kemanusiaan.

Selanjutnya, Dr. Wael Saqqa membacakan Closing Statement, Konferensi International Public Foundation to Aid Gaza. Sebagai berikut:

Closing Statement International Public Foundation to Aid Gaza di Istanbul

“Serangan brutal Israel dengan agresi senjatanya telah menggugurkan lebih dari dua ribu jiwa manusia, serta melukai ribuan orang lainnya. Kekejaman juga berkelanjutan dengan menghancurkan bangunan-bangunan, seperti masjid-masjid, gedung sekolah, rumah sakit, yayasan-yayasan kemanusiaan, fasilitas-fasilitas umum, tempat layanan sipil dan tempat-tempat lain yang tak ada hubungannya dengan kemiliteran. Inilah bentuk penindasan yang nyata dan kejam. Tapi penduduk Gaza tak pernah menyerah. Kuat. Gigih. Berani. Tunjukkan kepahlawanan mereka. Maka dengan berbekal panggilan dan amanah kemanusiaan, moralitas dan agama; NGO-NGO dari berbagai penjuru dunia berkomitmen untuk membangun kembali Gaza. Ada ratusan ribu orang terusir dari rumahnya, ada orang-orang yang hidup jauh di bawah standar kemanusiaan. Korban kezhaliman yang disengaja.

Maka selama dua hari ini, kita berkumpul. Peserta yang mencapai 250 orang dari 35 negara dan 70 NGO dengan sponsor utama Qatar Charity, merasa bertanggungjawab untuk turut serta merumuskan pembangunan kembali Gaza. Memulihkan berbagai kondisi pasca agresi militer selama 51 hari.

Maka, kami berkomitmen dan menyatakan:

  1. Berterima kasih kepada Turki, terkhusus kepada Presiden Recep Tayyip Erdoğan yang bersedia menjadi tuan rumah acara konferensi internasional ini. Keseriusan Presiden Erdogan terlihat dengan mengutus penasehatnya untuk datang memenuhi undangan kami. Demikian juga Presiden Tunis Mohamed Moncef Marzouki, yang mengirimkan utusannya, anggota watimpres Tunis.
  2. Para peserta mengukuhkan International Public Foundation to Aid Gaza sebagai konsorsium organisasi kemanusiaan untuk membangun Gaza.
  3. Para delegasi NGO dari berbagai negara telah berkomitmen membantu pembangunan Gaza dengan donasi minimal satu juta US dollar sebagai kontribusi dalam berbagai program kemanusiaan, pembangunan infrastruktur, layanan sosial, pendidikan, kesehatan dan sebagainya.
  4. Mengajak kepada seluruh masyarakat dunia untuk mempercepat berakhirnya blokade yang mengurung penduduk Gaza bertahun-tahun lamanya. Mengajak para praktisi hukum untuk merumuskan cara dan bergerak menyeret para penjahat perang dari zionis Israel yang terlibat pembantaian dan penyerangan di Gaza. Semoga tahun 2014 ini adalah akhir dari blokade tak berperikemanusiaan.
  5. Menyeru kepada pemerintah koalisi Palestina untuk bersatu dan bekerja keras dalam memperjuangkan berakhirnya blokade terhadap Gaza.
  6. Menyeru kepada pemerintah Mesir untuk membuka perbatasan Refah yang menjadi pintu masuk ke Gaza untuk penyaluran bantuan kemanusiaan dan obat-obatan, juga sebagai pintu keluar para korban perang yang terluka sekaligus memberi kesempatan mereka terjangkau oleh pertolongan medis.
  7. Berterima kasih kepada seluruh warga internasional dari berbagai penjuru dunia yang terus memberikan dukungan terhadap penduduk Gaza. Terkhusus, dua negara saudara Qatar dan Turki yang diketahui bersama dukungannya, pemerintah dan rakyatnya.

Istanbul, 31.08.2014

Tertanda

International Public Foundation to Aid Gaza”

IPFAG

Setelah pembacaan closing statement, berakhirlah rangkaian acara konferensi International Public Foundation to Aid Gaza yang berlangsung selama dua hari di Istanbul. Di penghujung acara semua peserta kembali menerima informasi update donasi yang terkumpul, baik dari lembaga maupun dari perorangan. Takbir kemenangan kembali menggema, Dr. Isham Yusuf memimpin takbir selayaknya takbir Idul Fitri dan Idul Adha. Setelah itu acara dilanjutkan dengan sesi foto bersama dan makan siang.

hari kedua

Iklan

INTERNATIONAL PUBLIC FOUNDATION TO AID GAZA

delegasi Indonesia

Asia Pacific Community for Palestine (ASPAC) bersama beberapa NGO Indonesia; KNRP (Komite Nasional untuk Rakyat Palestina), RZ (Rumah Zakat), Lembaga Kemanusiaan Nasional PKPU, BSMI (Bulan Sabit Merah Indonesia), WAFAA International dan PAHAM (Pusat Advokasi Hukum dan Hak Asasi Manusia) bertolak menuju Istanbul untuk bergabung bersama NGO-NGO internasional untuk bersama membangun Gaza. Acara yang diprakarsai oleh para aktivis Miles to Smile ini mendeklarasikan komitmen bersama membangun kembali Gaza. Acara yang bertajuk Seminar 1, International Public Foundation to Aid Gaza ini berlangsung selama dua hari, 30-31 Agustus 2014. Bertempat di Ballroom, Gorrion Hotel Istanbul, dengan sponsor utama Qatar Charity.

Pada opening ceremony, acara ini dibuka dengan bacaan ayat suci al-Quran yang dilantunkan oleh Syeikh Ibrahim Jibril, seorang ulama dari Afrika Selatan, beliau mewakili Majelis Hakim Muslimin Internasional.

Sambutan pertama disampaikan oleh panitia seminar, Ir. Wael Saqqa, Jordania (Direktur arab Public Foundation to Aid Gaza). Dalam sambutannya beliau menekankan pentingnya networking berbagai pihak terkait yang memiliki komitmen dalam membangun kembali Gaza pasca serangan brutal zionis Israel. Melalui forum seperti ini, diharapkan lebih efektif dalam tukar menukar pengalaman dan mendengarkan langsung berita terkini dari sumbernya untuk kemudian ditindaklanjuti dengan bantuan riil terhadap bangsa Palestina, khususnya di Gaza. Karena berbagai kondisi kemanusiaan maka bantuan kemanusiaan tersebut diharapkan bisa segera disalurkan.

Secara khusus, mewakili panitia dan peserta menyampaikan terima kasih kepada Qatar Charity yang menjadi sponsor utama terselenggaranya acara ini.

Keynote speech disampaikan oleh penggagas acara ini, Dr. Isham Yusuf, aktivis Miles to Smile yang lahir di Palestina pada tahun 1955 dan terusir dari tanah kelahirannya pada tahun 1967. Pidato singkatnya cukup menggugah, meski diawali dengan sedikit isakan suara yang tercekat. Dalam kesempatan tersebut, beliau menyampaikan ucapan terima kasih dan memberikan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada penduduk Gaza, setelah bersyukur kepada Allah.

Penghargaan atas kegigihan dan kesabaran penduduk Gaza. Kukuhnya mereka mempertahankan kehormatan umat Islam.

Setelah itu beliau memimpin para peserta mengalunkan takbir, layaknya takbir Idul Fitri. Takbir kemenangan. Menyambut kemenangan bangsa Palestina. Kemudian beliau secara khusus menyampaikan terima kasih kepada Turki khususnya melalui pimpinannya, Erdogan yang mendukung penuh perjuangan bangsa Palestina. Tak lupa beliau sampaikan terima kasih kepada Qatar Charity yang mendonasikan dana sekitar 70.000 USD untuk keperluan acara seminar ini.

“Tema utama pertemuan kita kali ini adalah bagaimana secara efektif mengakhiri blokade di Gaza dengan menyertakan sebanyak mungkin pihak dan bangsa. Kemudian melawan penjajahan yang juga sangat identik dengan pendudukan, pemukiman ilegal dan blokade Palestina dari berbagai sisi.” lanjut Dr. Isham Yusuf. “Meskipun upaya perdamaian telah dilakukan beberapa pihak. Namun, tak bisa mengakhiri blokade dan menghentikan penjajahan”

“Hari ini, amanah bersama kita adalah membangun kembali Gaza Baru” kata-kata Dr. Isham Yusuf menusuk hati para aktivis kemanusiaan, “Kerusakan parah terjadi akibat serangan brutal Israel. Sehingga lebih dari 300.000 orang tak bisa menghuni rumah mereka. Dan jumlah masjid yang dihancurkan sangat banyak. Ini sebuah kesengajaan menantang Allah”

“Maka, jika kita biarkan saudara kita di Gaza dengan berat hati harus meminta tolong kepada kita untuk membantu mereka, maka itu adalah kejahatan kemanusiaan yang berikutnya. Jangan kita lakukan hal itu. Jangan sampai mereka berat menyampaikan permintaan tolong. Jangan kita tambahkan penderitaan mereka dengan membiarkan mereka meminta tolong kepada kita. Hormati dan berterima kasihlah kepada mereka dengan bersama-sama membangun kembali Gaza.” Dr. Isham melanjutkan dengan semangat dan mengakhiri sambutannya dengan ungkapan heroic, “Setelah itu kita bebaskan al-Quds bersama-sama”

Dalam pertemuan ini, delegasi Aljazair, Dr. Muhammad ad-Duwaiby juga turut menyampaikan sambutannya, demikian juga kepala Kantor Kepresidenan dan Juru Bicara Presiden Tunis, Dr. Adnan Manshar. Keduanya menyampaikan dukungan penuh Aljazair dan Tunis, baik rakyat maupun pemerintah terhadap perjuangan bangsa Palestina. Terkhusus rakyat Gaza yang sudah bertahun-tahun hidup dalam blokade yang tak berperikemanusiaan.

Berikutnya sambutan disampaikan oleh Yasyar Shad Oglu dari Turki mewakili persatuan NGO Islam yang tergabung di dalam IHH (İnsan Hak ve Hürriyetleri) Humanitarian Relief Foundation yang beranggotakan NGO-NGO di 100 negara.

Kerjasama yang perlu segera direalisasikan saat ini adalah dibidang kemanusiaan dan bantuan sosial terhadap Gaza yang dikenal sebagai simbol kegigihan dan kekukuhan terhadap berbagai penderitaan, penjajahan, blokade yang mereka alami. Beliau juga menambahkan bahwa IHH juga melakukan beberapa seminar keislaman untuk mengcounter isu Islamophobia yang berkembang di beberapa kalangan yang sering mengaku sebagai gerakan modernisasi.

Opening ceremony ini diakhiri dengan sambutan sponsor utama, Qatar Charity yang disampaikan oleh Dr. Ibrahim Zeinal Musa.

Acara ditutup sementara dengan sesi coffee break. Sesi ini digunakan delegasi Indonesia untuk memburu beberapa tokoh penting yang hadir dalam acara tersebut. Delegasi Indonesia menyempatkan diri untuk berfoto bersama di depan panggung utama.

Dalam sesi break ini Dr. Saiful Bahri, M.A sempat berbincang-bincang dengan Dr. Thahir Abdurrahman, salah seorang pendiri Aspac dari Malaysia untuk merumuskan acara seminar regional Asia Pasifik untuk mendukung Gaza.

Acara kembali dilanjutkan dengan penyampaian current issue di Gaza pasca agresi militer Israel. Dalam sesi kedua ini dilaksanakan juga telekonferens secara live dengan perwakilan kementrian sosial di Gaza melalui jaringan Skype.

“Apa yang diinginkan Gaza dari Anda sekarang? Milyaran bahkan lebih dari itu”. Untuk kesehatan, pendidikan, sosial, ekonomi, pembangunan dan kemanusiaan. Tapi bantuan yang sangat urgen, mendesak dan lebih diprioritaskan adalah bantuan kemanusiaan untuk kelayakan hidup para pengungsi. Ada 18.000 bangunan hancur. Ratusan ribu anak-anak dan orang tua yang terpaksa menggelandang karena tak memiliki apa-apa. Tak ada uang, pakaian, makanan dan standar kelayakan hidup sebagai manusia. Mereka tersebar di mana-mana. Di sekolah-sekolah dan pengungsian sementara, juga di rumah sakit-rumah sakit.

“Kami tahu, bahwa penting maknanya membangun kembali gedung-gedung, rumah sakit, sekolah, masjid dan rumah. Namun untuk saat ini, lebih mendesaj adalah membantu mereka yang tak punya apa-apa. Membantu mereka untuk hidup sebagai manusia. Meski dengan bantuan minimal. Ada lebih dari 6000 kegiatan ekonomi terhenti. Dan itu berarti ada banyak orang yang tak berpenghasilan, selain rumah mereka yang sudah hilang dan hancur.”

Syeikh Musthafa Abu Khalil, mewakili International Public Foundation to Aid Gaza menyampaiakn angka-angka terbaru terkait korban agresi Israel di Gaza. Ada 58.080 bangunan hancur dan rusak. 2.080 di antaranya hancur total dan 8.000 bangunan rusak berat serta tidak mungkin dipergunakan. Ada 38.000 bangunan dengan kerusakan yang perlu perbaikan, meski masih bisa dipakai. Sebanyak 461.643 orang tak memiliki tempat tinggal. Sebagian ke rumah saudaranya, sebagian mengungsi di sekolah-sekolah, sebagian berpindah-pindah tak menentu. Ada 121 masjid rusak akibat serangan ini. 71 di antaranya hancur dan rusak berat.

Korban jiwa selama lebih dari 50 hari agresi Israel di Gaza mencapai 2140 jiwa yang gugur. Ada 11.161 orang luka-luka. 2.088 di antaranya perempuan dan 3.374 dari anak-anak. Termasuk yang cacat permanen dan luka-luka berat.

Gaza saat ini tak ada listrik, minim makanan, obat-obatan, pakaian, dan air. Nyaris tak ada kehidupan. Dari mana mereka mendapatkan air minum? Bagaimana mereka melakukan kegiatan bersih-bersih (MCK), bagaimana mencuci baju yang juga terbatas?

Maka perkiraan sementara, satu keluarga rata-rata memerlukan bantuan minimal senilai 3000 USD untuk bertahan selama empat bulan ke depan.

Bersamaan dengan program bantuan kemanusiaan ini, maka pembangunan kembali Gaza menjadi tanggung jawab bersama. Pembangunan di berbagai sektor; kesehatan, pendidikan, sarana umum, ekonomi dan sosial.

Sesi kedua ini diakhir dengan penyampaian komitmen bantuan yang dipimpin langsung oleh Dr. Isham Yusuf selaku ketua International Public Foundation to Aid Gaza. Satu persatu perwakilan delegasi dan NGO menyampaikan komitmen yang diawali dengan nominal minimal satu juta USD. Qatar, Aljazair, Saudi, Bahrain, Rusia, Afrika Selatan, Perancis, Jordania, Malaysia dan sebagainya dengan jumlah yang bervariasi. Hingga akhirnya delegasi Indonesia menyepakati angka satu juta USD untuk bantuan program kesehatan, anak-anak dan pendidikan. Dalam sambutan mewakili delegasi Indonesia Dr. Saiful Bahri, M.A mendahului dengan ikatan sejarah yang kuat antara Palestina dan Indonesia, serta kedekatan rakyat dan bangsa Indonesia dengan Palestina meski jauh secara geografis. “Setelah beberapa kali gelombang bantuan ke Gaza tahun ini serta bantuan ambulan dan alat kesehatan”. “Dan sekarang…?” Dr. Isham memotong. “Insyaallah kami berkomitmen membantu satu juta US dollar” Dr. Saiful Bahri, M.A mengakhiri sambutannya.

komitmen 1

Dari Gaza, kita tak melihat sifat kekanak-kanakan dari anak-anak kecil yang dewasa secara cepat. Dari Gaza tak terlihat penuaan pada orang-orang tua dan manula. Tak juga kita temukan wajah sedih dan kelemahan pada wajah para perempuan Gaza.

Gaza simbol kegigihan dan kehormatan… melawan kezhaliman dan kebrutalan penjajahan.

Istanbul, 30.08.2014

Komitmen 5

Catatan Keberkahan 28: THE UNTOUCHABLE WARRIORS (2)

THE UNTOUCHABLE WARRIORS (2)

Dr. Saiful Bahri, M.A

Meminjam istilah al-Quran “Lam yakun syai’an madzkûran”, maka setiap manusia akan melewati suatu fase, yaitu di saat ia tak bernama. Tak ada yang sanggup memanggilnya secara definitif. Ketika ia belum ada dan belum hadir di dunia. Bahkan saat ia terlahir dan keluar dari rahim ibunya, ia pun tak langsung tiba-tiba dipanggil dengan namanya. Meskipun orang tuanya telah menyiapkan sebuah nama untuknya, sejak dari jauh hari sebelum kelahirannya. Ia tak dikenal. Tak ada yang menyebutnya, kecuali ketika orang tuanya mengurus akte kelahirannya. Secara administratif, ia harus diberi nama. Dan Baginda Rasulullah saw. menyunnahkan untuk memberi nama kehidupan baru tersebut pada hari ke tujuh sekaligus disembelihkan satu atau dua ekor kambing yang dikenal dengan aqiqah, selain juga dianjurkan bersedekah untuknya seharga emas dengan berat rambut yang dicukur dari kepalanya.

Pelan namun pasti manusia mendefinisikan dirinya. Ia pun perlahan dikenal oleh lingkungannya. Baik lingkungan terdekat yang mencintainya, ataupun bahkan lingkungan jauh yang memusuhinya. Kadang ia didefinisikan sebagai kebaikan yang bermanfaat dan dicintai, namun kadang pula ia dikenal sebagai simbol kezhaliman dan kerusakan yang mesti dimusuhi dan dijauhi.

Identitas seseorang minimal ditandai dengan nama pribadi dan keluarganya. Kemudian menyusul pekerjaannya, pendidikannya, keahliannya, tempat tinggal dan lain sebagainya. Keperluan identifikasi tersebut sudah menjadi keniscayaan di era pergaulan modern sekarang, bahkan dari sejak adanya manusia ketika berkelompok dan hadirnya kelompok atau individu lain. Tujuannya sederhana, untuk memproteksi keamanan internal atau sebaliknya, sebagai salah satu bentuk eksternalisasi, marketing ide dan sebagainya kepada pihak lain.

Dalam suasana perang modern, identifikasi identitas menjadi lebih penting. Apalagi jika tidak digunakan untuk pengamanan internal ataupun penyerangan terhadap pihak musuh. Ingin memperjelas status seseorang, apakah ia sebagai teman ataupun sebaliknya.

Lihat konteks peperangan yang terjadi di Palestina saat ini. Lebih tepat sebenarnya disebut penyerangan, bukan peperangan apalagi disebut konflik. Karena kasus ini terjadi pada dua pihak yang tidak seimbang. Pihak terzhalimi yang ditindas oleh penjajah. Kekuatan besar kezhaliman yang merekayasa informasi untuk berpihak padanya -zionis Israel- dengan tema besar MEMBELA DIRI. Sementara pihak terzhalimi yang mempertahankan hak dan kedaulatan sering diverbalkan sebagai ancaman TERORISME dan KEBRUTALAN.

Serangan udara zionis Israel ke Gaza di bulan Ramadan lalu sedikitnya telah mengakibatkan gugurnya korban jiwa 1980 orang. Menurut data yang dipaparkan oleh Departemen Kesehatan Palestina, melalui juru bicaranya Asyraf Qudrah pada hari Sabtu (16/8/2014). Sementara korban lukan-luka mencapai angka 10.196 orang.

Biro PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan di Tanah Palestina (OCHA) mengatakan dalam laporan yang diterbitkan hari Sabtu (16/08/2014), jumlah orang-orang yang terlantar akibat agresi Zionis ke Jalur Gaza mencapai lebih dari 218 ribu warga. Mereka tersebar di 87 sekolah milik Badan Bantuan dan Pemberdayaan PBB untuk Pengungsi Palestina (UNRWA) di berbagai penjuru Jalur Gaza.

Laporan tersebut menyatakan, lebih dari 100 ribu warga Palestina membutuhkan tempat tinggal alternatif setelah pasukan Zionis menghancurkan rumah-rumah mereka secata total atau rusak berat sebagiannya.

Kerugian materi yang besar tersebut dialami oleh Palestina. Secara sepihak biasanya mereka disebut-sebut sebagai pihak yang kalah perang. Padahal ini bukan peperangan. Tetapi sebuah pembunuhan masal. Sebuah genosida modern. Pembantaian masif yang dilakukan secara sistematis oleh penjajah Zionis Israel terhadap Bangsa Palestina.

Tapi sesungguhnya mereka para kaum tertindas, bangsa Palestina adalah pemenangnya. Serangan zionis Israel yang membabi-buta adalah indikasinya. Mereka menarget faksi perlawanan (HAMAS) namun nyatanya tak sedikit pun sasaran mereka memenuhi target. Justru yang terjadi adalah serangan brutal kepada pihak sipil. Dan korban sipil terbesar tersebut adalah anak-anak dan kaum wanita.

Sementara itu para pejuang perlawanan (HAMAS) masuk dari satu terowongan dan keluar dari terowongan lainnya. Inilah yang membuat mereka nyaris “tak tersentuh”. Sebaliknya para serdadu zionis masuk perangkap dengan nyali yang tidak stabil meski mereka sesumbar dengan mulut besar di berbagai media masa. Sebut saja satuen elit Brigade Golani yang menangis di pusara Sersan Shachar Tase, di desa Pardesiya, di Israel, Selasa, 22 Juli 2014. Shachtar salah satu dari 13 tentara penjajah tewas dalam beberapa insiden terpisah di Syuja`iyah. Mereka menyulut api di Syuja`iyah dan menciptakan neraka untuk diri mereka sendiri.

Bukan tak mustahil, pejuang-pejuang tak tersentuh tersebut juga dibantu oleh jenis pasukan lain yang tak bisa diukur, disadari atau disentuh oleh standar manusia biasa. Apalagi di bulan Ramadhan mentalitas dan spiritual umat Islam sedang berada pada tingkatan tertingginya. Inilah yang dilupakan oleh para pemegang kebijakan pasukan zionis.

The untouchable warriors ini tak pernah berhenti atau bahkan surut nyalinya untuk memperjuangkan satu hal penting dalam hidup mereka. Bahkan jika harus melawan arus media seluruh dunia yang memojokkan, yang memberikan stigma negatif kepada mereka. Bahkan di saat bantuan materi pun sulit untuk sampai kepada mereka karena kepungan blokade yang tak kunjung dibuka dan diselesaikan. Bahkan ketika bantuan moril tetangga-tetangga mereka lebih terkesan formalitas dan basa-basi belaka. Para pejuang itu dengan lantang menyampaikan pesan, bahwa ketika sedikit kepedulian atau bahkan nihil kepedulian di dunia. Mereka dikepung dengan berbagai tuduhan keji dan konspirasi yang tak kunjung usai.

Para pejuang tersebut bukan hanya tak diketahui identitas mayoritas anggotanya, tapi mereka juga tak diketahui di mana keberadaannya. Di mana pusat-pusat persenjataan mereka. Seperti apa persediaan persenjataan mereka. Tak juga diketahui strategi perlawanan mereka. Dan satu hal yang bisa dipastikan adalah bahwa korban jiwa yang gugur adalah dari sipil, yaitu anak-anak dan para perempuan. Tak satu pun terdengar komentar miring dari keluarga korban yang menyalahkan para pejuang tersebut. Semua rakyat Gaza kompak mendukung HAMAS. Semua bahkan seolah memperbarui “pembaiatan” mereka pada perlawanan penuh untuk mengusir kezhaliman dan penjajahan dari bumi dan kedaulatan mereka. Para pejuang itu tak bisa disentuh oleh senjata-senjata terbarukan dari sistem persenjataan modern sekalipun. Tak juga mereka bisa disentuh oleh strategi perang secanggih apapun. Tak juga bisa disentuh oleh maker atau tipu daya yang keji sekalipun. Tapi, para pejuang yang tak nampak tersebut telah mampu –dengan izin Allah- menyentuh hati rakyat Palestina untuk tidak menyerah terhadap gempuran kezhaliman Zionis Israel. Bahkan sentuhan hati ini terdengung ke seluruh penjuru dunia. Tak hanya di kalangan umat Islam. Tapi di hati mereka yang masih memiliki rasa kemanusiaan. Karena perlakuan Zionis Israel sudah sangat melewati batas untuk dinamakan sebagai perilaku manusia. Apalagi manusia modern yang sering mengaku beradab dan bermartabat.

Jika malam semakin kelam, maka fajar akan segera menyingsing

Kemenangan bermartabat sudah semakin dekat. WalLâhu al-Musta’ân.

 

Catatan Keberkahan 28

Jakarta, 18.08.2014

*) Selamat HUT RI ke 69 semoga semakin mendorong terwujudnya bangsa dan negara yang maju dan bermartabat dan memakmurkan rakyatnya. Serta tak hentikan dukungan untuk bangsa Palestina untuk menentukan nasibnya sendiri, dari penjajahan dan kezhaliman yang masih mereka alami.

**) Sambungan tulisan > http://www.aspacpalestine.com/id/item/870-the-untouchable-warriors