Cinta dan Pengkhianatan

Persiapan Rasulullah SAW untuk menaklukkan kota Mekah (Fathu Makkah) dilakukan secara rahasia dan diam-diam. Sahabat beliau, Abu Bakar bahkan sampai tak diberitahu. Hanya pasukan khusus dari kaum muslimin yang mengetahui rencana ini. Di antara orang tersebut adalah Hatib bin abi Balta’ah. Namun, sayangnya Hatib justru bermaksud membocorkan rencana Rasulullah SAW kepada kaum Quraisy.

Hatib bin Abi Balta’ah berkirim surat untuk memberitahu mereka tentang hal itu. Surat tersebut dikirim melalui seorang wanita yang menuju Mekah.

Allah SWT turunkan wahyu kepada Rasulullah SAW perihal bocornya rencana tersebut. Beliau segera memanggil Ali, Zubair dan Miqdad dan memerintahkan untuk menyusul perempuan yang dimaksud.

Setelah mereka menjumpainya, Ali segera menginterogasinya. “Keluarlanlah surat itu!”

Ia menjawab “Surat apa, saya tidak membawa surat apapun”

Mereka bertiga lebih tegas mengatakan, “Betul kamu tidak membawa surat apap pun! Kamu mau berikan surat itu atau kami akan tanggalkan pakaianmu!”.

Akhirnya perempuan itu  pun mengeluarkan surat dari sanggulnya.

Di depan Rasulullah SAW surat dari Hatib dibacakan. Rasulullah SAW, dengan suara berat mengatakan, “Wahai Hatib! Apa yang telah kamu lakukan?”

Hatib menjawab ,“Wahai Rasulullah! Janganlah Engkau tergesa-gesa menuduh. Sesungguhnya aku seorang yang sangat dekat hubungannya dengan Quraisy dan aku bukankah orang yang terbaik di antara mereka, dan di antara orang yang bersamamu dari Muhâjirîn. Mereka mempunyai kaum kerabat dan mereka ingin menjaga keluarga serta harta mereka. Maka aku adalah seorang yang ingin memelihara kerabatku. Aku tidak melakukan hal ini karena memusuhimu, atau karena kafir dan murtad dari Islam.”

Umar pun bermaksud membunuh Hatib karena pengkhianatannya, tapi Rasulullah SAW memaafkannya. Allah pun menurunkan Surat al-Mumtahanah untuk memperingatkan kaum muslimin.

*****

Allah berfirman, “Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu,
sedang kamu mengetahui.
” (QS. Al-Anfâl: 27)

Allah melarang kaum beriman untuk terjebak dalam pengkhianatan kepada Allah dan Rasul-Nya, sebagaimana dilarang untuk mengkhianati setiap amanah yang diberikan kepada mereka. Jika targetnya adalah menghindari pengkhianatan terbesar kepada Allah dan Rasul-Nya. Maka, Allah membimbing umat ini untuk mengetahui potensi sekaligus menjadi salah satu sebab terjadinya pengkhianatan. Ayat selanjutnya menyebutkan, “Dan ketahuilah, bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan dan sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar.

Penyebutan, harta (amwâl) dan anak-anak (aulâd) setelah warning di atas, tentu memiliki maksud. Agar umat ini berhati-hati dalam berinteraksi dengan keduanya. Keduanya merupakan perhiasan hidup manusia di dunia. Mencintai harta dan anak-anak adalah sesuatu yang sangat natural dan normal. Namun, keduanya berpotensi menjadi hal yang membahayakan jika tidak dididik dan dibiasakan dalam kebaikan. Maka, di saat harta dan anak-anak menjauhkan dari Allah dan Rasul-Nya itulah yang disebut pengkhianatan.

Kisah Hatib di atas, mengisyaratkan bahwa seseorang bisa saja terjebak pengkhianatan secara tak sadar. Kadarnya pun bisa meningkat hingga paling berbahaya, seperti peringatan Allah dalam surah al-Anfâl.

Maka, diperlukan seni mencintai harta dan anak-anak agar tidak menjebak pada pengkhianatan. Anak-anak perlu dididik bahwa harta adalah amanah sekaligus sarana. Keduanya harus berujung dan berpangkal baik. Didapatkan dari cara halal, kemudian dikelola dan disalurkan dengan baik. Anak-anak mesti diyakinkan bahwa yang memberi rizki adalah Allah, sedangkan orang tuanya hanya berusaha menyalurkan kepada anak-anak. Kikir dan sombong perlu dikikis sedemikian rupa, dengan meringankan tangan untuk menyalurkannya ke berbagai proyek-proyek kebaikan. Itulah solusi yang Allah berikan setelah memberikan warning di QS. at-Thaghabun ayat 14-15. Pada ayat ke 16, Allah memberikan solusinya, “Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu dan dengarlah serta taatlah dan berinfaklah yang baik untuk dirimu. Dan barangsiapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung.

Baik dalam surah al-Anfal maupun at-Taghabun Allah memberi solusi pencegahan dalam mencintai anak dan harta, yaitu ketakwaan dan berinfak. Saatnya di rumah-rumah kita ada tabung-tabung solidaritas, khususnya bagi Palestina, kemudian ada tabung infak kemanusiaan lainnya, selain tabungan yang kita biasakan untuk anak-anak belajar berhemat. WalLâhu al-Musta’ân.

 

Catatan Keberkahan 90

Jakarta, 23.02.2018

SAIFUL BAHRI

Iklan

BERTEMUNYA CINTA DAN KEPAHLAWANAN

salahuddin

Ada berbagai alasan seseorang untuk menikah. Bagi seorang muslim, utamanya ia sedang menjalankan sunnah Rasulullah SAW yang diikuti para sahabat dan tabi’in setelahnya. Motivasi ideologis sangat laik untuk dijadikan alasan utama. Tapi, jika alasan tersebut menjadi satu-satunya motivasi, menurut penulis tentunya tidak selamanya demikian. Tujuan dan alasan pernikahan, meskipun bermuara satu, cabangnya bisa banyak. Belum lagi, jika terjadi disorientasi dalam membangun sebuah pernikahan.

Sebagian menikah karena kegelisahan dan desakan syahwat yang manusiawi, tentu tidak aib jika dibangun persepsi positif dan pijakan moral yang dikedepankan.

Sebagian menikah karena menindaklanjuti sebuah rasa yang sulit untuk dideskripsikan. Orang banyak menamakannya cinta, sebuah rasa yang orang banyak merasakannya karena manusiawi. Tetapi, banyak orang salah mempersepsikannya. Cinta itu memiliki dan mengatur perilaku, kata sebagian orang. Faktanya, cinta adalah anugerah Allah. Musa pun Allah jadikan seorang anak yang sejuk dipandang mata, cinta tumbuh berkembang di sekitarnya.

Dan Aku telah melimpahkan kepadamu cinta (kasih sayang) yang datang dari-Ku; dan supaya kamu diasuh di bawah pengawasan-Ku” (QS. Thaha: 39)

Maka perilaku sebagian orang yang mengultuskan dan mendewakan cinta untuk membangun sebuah pernikahan adalah tindakan yang kurang bijak. Allah lah yang menjanjikan menurunkan cinta dan kasih sayang secara bersamaan dan menumbuhkannya melalui pernikahan yang juga menjadi tanda kekuasaan-Nya. Ada pertemuan dan penyatuan dua makhluk yang serba berbeda.

Sebagian orang menikah karena sudut pandang matrealistik. Baik materi yang melekat pada fisik orang, kecantikan fisik, atau materi yang menempel belakangan seperti kekayaan harta.

Sebagian lagi menikahi seseorang karena jabatan dan posisi sosial atau kehormatan dan prestise sosial. Serta sekian cerita yang mengatasnamakan cinta dan misteri rasa yang berada dalam dada dua makhluk Allah yang berbeda; laki-laki dan perempuan

Simaklah, sebuah kisah menarik. Sebuah sudut pandang tentang cinta yang menjadi energi positif. Cinta yang menumbuhkan keberanian. Cinta yang menemukan pelabuhan kegundahan seorang laki-laki akan kondisi masyarakat, dan seorang perempuan yang juga merasakan hal yang tak jauh berbeda. Takdir mempertemukan mereka berdua. Mereka, menjemputnya dengan berbagai ikhtiar dan usaha.

Dikisahkan seorang penguasa Tikrit (Irak), bernama Ayyub bin Syadzi; yang lebih dikenal dengan sebutan Sultan Najmuddin Ayyub ingin mencari pasangan hidupnya. Ia belum menikah dalam waktu yang cukup lama. Sampai-sampai saudara kandungnya, Asaduddin Syerkuh sering keheranan dan mengulangi pertanyaannya, siapa yang ia cari dan mengapa ia tak segera menikah. JAwaban singkat Najmuddin Ayyub selalu sama, “Aku belum mendapatkan calon istri yang pas.”

Asaduddin pun bermaksud mencarikan calon yang cocok untuk kakaknya. IA memberikan pilihan kepada Ayyub. “Bagaimana dengan puteri Malik Syah—anak Sultan Muhammad bin Malik Syah—Raja Bani Saljuk atau putri Nizhamul Mulk—menteri besar yang terkenal di zaman Abbasiyah.”

Namun, Ayyub pun menjawab ringan. “Tak ada yang cocok untukku!”

Asaduddin bingung dan heran, ia pun mendesak kakaknya, siapa yang sebenarnya dicarinya. Akhirnya ia menemukan jawaban dari misteri yang dipendam sang kakak. Ia mencari seorang perempuan yang bersedia melahirkan seorang pemberani dan pahlawan yang mampu menaklukkan kembali Baitul Maqdis dari tangan tentara salib dan mengembalikannya ke tangan umat Islam.

Tikrit tidaklah jauh dari Baitul Maqdis. Itulah, rupanya kegundahan seorang Gubernur Tikrit. Gubernur lajang yang sedang berikhtiar mencari jodohnya.

Maka, pada suatu hari, Najmuddin duduk bersama seorang lelaki tua di sebuah masjid di Tikrit. Mereka membincangkan banyak hal. Tiba-tiba ada seorang gadis yang memanggil lelaki tua tersebut dari balik tirai. Ia pun bergegas menemui sang gadis, setelah meminta izin kepada Najmuddin Ayyub.

Rupanya, lelaki tua itu adalah ayahnya. Ia berbicara dengan putrinya. Menanyakan mengapa ia menolak lelaki yang melamarnya. Sebenarnya apa yang diinginkannya. Sang gadis menjawab dengan sedikit emosional. Ada isakan kecil mengiringinya. “Aku inginkan seorang pemuda yang menggandeng tanganku ke surga. Aku ingin melahirkan darinya seorang pemberani yang bersedia dan mampu mengembalikan Baitul Maqdis kepada kaum muslimin.”

Deg. Ayyub mendengar kata-kata gadis itu dengan jelas, meski sang gadis lirih mengatakannya kepada ayahnya.

“Dia cocok untukku!” Ayyub membatin dalam-dalam.

Inilah rekayasa dan skenario Allah. Najmuddin yang kaya dan berkuasa. Sementara gadis itu adalah seorang yang biasa, dari kalangan rakyat jelata. Namun, sang gubernur tak memedulikannya.

“Aku ingin menikahinya dan titik.” Demikian ia mengikrarkan niatnya.

Ayyub memanggil lelaki tua tersebut. Lelaki tua itu terkaget dan terkejut keheranan.

“Tapi, ia seorang gadis yang miskin dan biasa. Ayahnya, adalah seorang yang seperti Anda lihat”

Najmuddin Ayyub berkata tegas, “Ini yang aku inginkan. Aku ingin menikahi seorang perempuan yang dengannya aku berharap meraih surga. Aku ingin dia mau melahirkan dariku anak lelaki yang pemberani yang akan menaklukkan kembali Baitul Maqdis. Merealisasikan mimpi dan cita-citaku!”

Itulah pertemuan cinta dan kepahlawanan dari dua kasta sosial yang berbeda. Allah yang menyatukan dua cinta. Cinta kembalinya Baitul Maqdis ke tangan yang berhak mengurusnya. Kepahlawanan yang muncul menyingkirkan gengsi materi dan jabatan sosial serta mata dan perkataan orang yang mungkin akan mempertanyakan pertemuan dua cinta ini.

Dari mereka berdua, lahirlah seorang lelaki pemberani yang namanya menggetarkan siapa saja yang mengetahuinya. Lahirlah dengan izin dan karunia Sang Maha Cinta, dari pernikahan cinta dan kepahlawanan ini. Yusuf namanya. Yusuf bin Ayyub. Dan kita lebih mengenalnya dengan SHALAHUDDIN AL-AYYUBI.

 

Catatan Keberkahan 41

Puncak, 19.01.2017

SAIFUL BAHRI

Serial MINAL ‘ÂIDÎN (2) KEMBALIKAN TRADISI CINTA DAN PERSAUDARAAN

ISLAMIC (13)

Di #RamadanDay14 mari kita lanjutkan telaah minal ‘âidîn yang kedua. Kali ini kita akan berbicara tentang cinta dan persaudaraan. Tentang sebuah kisah nyata dari negeri cinta.

Alkisah, sahabat Ali bin Abi Thalib ra hendak sarapan. Ia bertanya kepada istrinya, pagi itu hidangan apa yang akan mereka santap. Fatimah menjawab sedih, bahwa mereka tak memiliki apa-apa. Makanan terakhir mereka sudah dimakan oleh anak-anak mereka semalam. Pagi itu tiada sarapan untuk Ali dan anak istrinya.

Ali bergegas bangkit. Kondisi lapar dan keadaannya keluarganya tak menjadikannya lesu dan lemah. Justru sebaliknya, ia bersemangat segera keluar rumah untuk mencari rizki Allah menafkahi keluarganya. Hari yang sulit, dilaluinya dengan penuh semangat. Terik matahari yang membakar tak membuat nyalinya menyusut.

Siang yang panas itu dengan jelas menggambar mukanya yang berpeluh. Ia telah menggenggam beberapa keping dirham. Penuh syukur, wajahnya berseri menyiratkan tanda gembira. Ia bersiap untuk segera pulang. Bahagiakan anak istrinya.

Di perjalanan, ia bersua dengan sahabat karibnya. Al-Miqdad saudara seimannya. Wajahnya pucat, badannya basah oleh keringat. Tergurat keletihan yang sangat dalam dirinya. Ia bertanya kabar. Al-Miqdad membalas dengan senyuman yang tertahan. Ali membaca dengan samar tumpukan duka di wajahnya.

“Demi Tuhan yang jiwaku berada dalam genggaman-Nya, aku takkan menggerakkan kedua tepalak kakiku sebelum engkau bicara jujur kepadaku apa masalahmu saudaraku?” Ali mengguncangkan badan al-Miqdad. Lirih, ia menjawab bahwa telah dua hari lewat ia tak sanggup memberi makan istri dan anak-anaknya.

Ali tertegun sejenak kemudian mencengkeram bahu sahabatnya. Ia mengangkatnya seraya berdiri.

“Saudaraku, terimalah ini. Meski tak banyak, terimalah. Bergegaslah pulang. Beri makan keluargamu!” Ali meraih tangan kanan saudaranya, al-Miqdad ia berikan beberapa dirham yang didapatkannya hari itu.

Miqdad merangkulnya bahagia. Ia berterima kasih dan segera melaksanakan apa yang dikatakan saudaranya, Ali.

Ali menatap tubuh al-Miqdad menjauh dan kemudian menghilang.

Sejenak kemudian, ia kebingungan. Apa yang akan dibawanya pulang. Kegundahan yang kemudian menghantarkannya untuk menuju Masjid Nabawi menjelang sore. Di masjid itu Ali berjumpa dengan mertuanya, Nabi Muhammad SAW. Wajah tegarnya membuatnya kembali tersengat semangat. Senyum ramahnya membuatnya sesaat dukanya sirna. Tatapan wibawanya, membuatnya takzhim dan membalasnya.

“Bagaimana keadaanmu Ali?” Sang mertua bertanya kepada menantunya, Ali.

“Alhamdulillah baik, wahai Rasulallah” Ali menjawab santun.

Kalimat-kalimat selanjutnya lah yang kemudian membuat Ali benar-benar tertegun. Rasulullah SAW menyatakan bahwa mala mini beliau berhasrat ingin makan malam di rumah Ali!

Deg. Jantung Ali serasa berhenti sejenak. Ali mengiyakan apa yang dikatakan oleh mertuanya, Nabi Muhammad SAW. Malamnya dengan langkah ragu Ali mengiringi manusia agung itu bertamu ke rumahnya. Keringat dinginnya terus keluar sambil berpikir apa yang akan dihidangkan untuknya.

Setiba dirumahnya, wajah ceria Fatimah menyambut dengan suka cita. Ali keheranan. Karena saat melepasnya pagi tadi wajahnya pucat dan lesu. Keheranannya bertambah ketika istrinya mempersilakan mereka untuk bersiap menyantap hidangan makan malam.

“Wahai suamiku, wahai ayahku. Aku telah menyiapkan hidangan makan malam untuk kalian”

Terbengong Ali menatap istrinya. Fatimah merasa tatapan aneh suaminya membawa curiga, ia pun segera berkata, “Maaf suamiku. Sore tadi ada seseorang membawa pesan dari sahabatmu, fulan. Ia berkirim makanan untukmu dan keluargamu”

Rasulullah SAW tersenyum, menambahkan. “Ali, menjelang sore tadi Jibril mendatangiku. Ia menyuruhku untuk makan malam di rumahmu”

Wajah Ali berseri-seri. Tiada henti ia bertahmid memuji Dzat yang Maha Pemurah dan Penyayang.

Itulah sepenggal kisah persaudaraan yang nyata. Bukan sebuah dongeng. Ada puluhan bahkan ratusan kisah serupa. Menjelang Muhajirin hijrah ke Madinah, sahabat Anshar menerima mereka yang bukan siapa-siapa bagi mereka. Kisah cinta dan persaudaraan yang diabadikan sejarah. Yang menjelma menjadi kekuatan dahsyat, saat umat Islam menjalani episode cinta dan persaudaraan dengan baik, maka umat ini benar-benar berwibawa dan bermartabat.

Saatnya kita kembalikan tradisi cinta dan persaudaraan ini. Semoga madrasah Ramadan ini menjadikan diri kita kembali sebagai pribadi-pribadi yang saling mencintai sesame muslim. Sehingga tak ada ruang dalam hati kita bernama dengki dan iri. Cerita saling mengkafirkan hanya menjadi bagian kelam masa lalu yang terkubur dalam-dalam. Orang-orang yang menyulut fitnah, membenci, mencaci dan membenci sahabat Nabi SAW juga tak mendapatkan kesempatan berada di tengah-tengah kisah cinta ini. Takkan ada lagi celah untuk mengadu domba. Takkan ada lagi godaan saling menyalahkan dan memojokkan saudaranya. Yang ada adalah saling topang dan menyintai.

Musuh-musuh takkan berani lagi mengusik umat ini, karena mereka memahami dahsyatnya kekuatan cinta dan persaudaraan.

 

#RamadanDay14

Alfaqîr Saiful Bahri

@L_saba

Negeri Tanpa #cinta

cinta

NEGERI TANPA #CINTA

Saiful Bahri – @L_saba

  1. Ya Rahman, lama hamba rasakan hilangnya cinta di negeri ini. Dekaplah kami dg cinta-Mu. Karuniakan sayang-Mu. Agar kami tak lgi saling musuhi
  2. #cinta itu anugerah Allah yang mahal. Kenapa belakangan ini orang justeru berlomba-lomba untuk membuangnya? Mengganti dengan ketidakpastian.
  3. #cinta yg identik dg kelembutan, tergantikan oleh fitnah, pembunuhan karakter, teror-teror berencana, kebrutalan & kemarahan tak terkendali.
  4. #cinta yang identik dengan romantisme tergadaikan oleh sikap saling menjatuhkan dan mencari aib yang sudah pasti ada pada semua orang.
  5. #cinta yang mulia itu tak terawat lagi. Terbuang. Teronggok demi kepentingan sesaat. Para durjana & setan-setan kan tertawa terbahak-bahak.
  6. #cinta yang sejatinya diburu banyak orang dengan pertaruhan jiwa, kini bahkan mereka berlomba-lomba membuangnya dengan pertaruhkan apa saja.
  7. #cinta yang menginspirasi kesantunan dan rasa malu, kini hilang bersama; karena terusir oleh rekayasa kemungkaran yang masif & serentak.
  8. #cinta yang menyejukkan berganti dgn panasnya api permusuhan yg dinyalakan terus menerus, setiap saat dengan berbagai cara & sarana.
  9. #cinta yg memberi energi positif dan optimisme, kini tenggelam dengan ambisi-ambisi kotor yang tebar ketakutan di mana-mana tanpa terkecuali
  10. #cinta yang sanggup memaafkan kesalahan tersingkir oleh dusta, celaan, caci maki keji dan penyakit hati yg tiba-tiba menular dengan cepat.
  11. #cinta yang bisa membangun reruntuhan justeru kini runtuh. Berantakan. Hancur berkeping-keping dihantam adu domba, kesinisan & buruk sangka.
  12. #cinta yang bisa redam rasa sakit, kini tersakiti dan tertindas karena hampir tak ada lagi yg membelanya, mempertahankannya agar tak pergi
  13. #cinta yg bisa menguatkan yg lemah & ringkih, kini pudar & nyaris tak ada wujudnya, berganti dgn kebringasan yg tak kenal rasa iba.
  14. #cinta yg tularkan semangat merangkul & bersahabat, tiba-tiba dihardik oleh setan-setan yang sibuk tebar rasa dengki merusak apa saja.
  15. #cinta … bertahun-tahun memahamimu, mencarimu, merajutmu, menyebarkanmu dg usaha yg tak mudah, kini diambang pergi karena tak lagi percaya
  16. Tak terbayangkan negeriku yang tanpa #cinta. Toleransi & perdamaian yang digembor-gemborkan hanya tinggal cerita dan utopia, tak nyata.
  17. Tak terbayangkan negeriku yang tanpa #cinta. Ketenangan dan kenyamanan yang didamba mustahil hadir di tengah-tengah keluarga.
  18. Tak terbayangkan negeriku yang tanpa #cinta. Kemakmuran & kesejahteraan adalah mimpi si buta yang ingin saksikan keindahan alam di depannya.
  19. Ah… sudahlah tak berani bayangkan negeriku yang tanpa #cinta. Benar-benar takut & gundah meski di tengah-tengah bulan penuh #cinta.
  20. Kini aku hanya bersandar pada Sang Pemilik #cinta, supaya Dia pertahankan #cinta terus bersemayam pd mereka yg mengharap kebaikan negeri ini

Berlin, Jumat 04.07.2014

Serial Kultwit #Cinta

Kultwit Serial #Cinta1

Saiful Bahri

1. Cinta adl salah 1 karunia termahal dr Allah.Banyak yg mencari,tapi tak semua menemukannya. Anugerah Sang Rahman utk yg dipilih-Nya #cinta

2.Salah satunya,Ibrahim as;yg tak ingin cinta-Nya tergerus atau bahkan berpaling.Maka,ujian cinta dlm bentuk apapun ia lulus istimewa #cinta

3. Dan cinta adalah pengorbanan. Cinta bukan klaim tanpa bukti. Ada ruh & pengakuan, ada simbol dan bukti verbal.Cinta bukan memiliki #cinta

4. Cinta itu merasakan & bukan sekedar “merasa” (GR).Cinta membuktikan bukan hanya terpendam.Cinta itu memberi & bukan hanya menuntut #cinta

5. Kadang cinta bisa seperti bulan purnama.Terlihat utuh, bulat dan terang.Sempurna.Tapi kadang seperti bulan sabit.Saat baru memulai#cinta

6. Atau ketika nyaris kehabisan. Tapi ia tak pernah padam. Karena akan kembali membulat. Bertahanlah pada bulatan sinar purnama#cinta

7. Bulatan yg makin diterangkan para kekasih-Nya.Bahkan yg paling dicintai-Nya. Kanjeng Nabi Muhammad SAW, anak yatim yg pimpin dunia #cinta

8. Mencintai si miskin dan lemah,sayangi yatim dan orang tua,bahkan mereka yg memusuhinya. Tak sekalipun dibalas dendam dan kebencian #cinta

9. Tentang istri-istri-Nya jangan tanya.Meski difitnah perturutkan nafsu,tp yg terjadi sebaliknya.Istri pertama yg paling dicintainya#cinta

10. Adalah janda yang umurnya 15 tahun diatasnya,istri keduanya sudah renta.istri ketiganya baru beranjak remaja…tak ada birahi#cinta

11.Zainab binti Jahsy adl mantan istri anak angkatnya.Bukti lain ketundukan pada cinta yg lebih besar.Cinta yg perintahkannya dmikian #cinta

12.Meski nabi & kekasih pilihan-Nya, tak berarti tiada prahara cinta.Sang Pipi Merah (humaira) bahkan pernah dituduh berselingkuh #cinta

13.Tapi biduk cinta tetap berlayar.Karena ada cinta yg lebih kuat.Kekuatan cinta lain yg melindunginya,serta kesucian mereka berdua #cinta

14.Takutkah kita akan ada prahara cinta.Bisa jd kita mencemaskannya.Tapi selama sumber & asupan cinta dari Sang Serba maha masih ada #cinta

15.Tak perlu terlalu gundah gulana.Semua akan berlabuh dg damai.Bahkan akan menjadi kenangan dan bumbu kehidupan.Kita bukan Muhammad #cinta

16.Tautan cinta kita jg bukan Aisyah,Khadijah,atau Zainab.Tapi mereka perlu dicontoh.Dlm hadapi prahara cinta dg cinta yg lebih besar #cinta

17.Karena cinta adl anugerah yg mahal.Banyak yg mencari tp tak menemukan.Jagalah,karena Allah beri utk dirawat, ditebar & ditumbuhkan #cinta

18.Telaga cinta,siapa yg meminumnya atas seizin-Nya, (la tadhma’u ba’daha abadan) takkan pernah haus setelahnya. #cinta

19.Telaga itu bernama Kautsar, telaga yg jadi kebanggaan Kanjeng Nabi Muhammad SAW.Makin banyak yg meminumnya,syaitan makin sengsara #cinta

20.Karena prestasi terbesarnya adl memisahkan seseorang dari pasangan cintanya supaya saling membenci.Maka misinya jd gagal#cinta

21.”Ya Rahman, karuniakan kami cinta-Mu, cinta orang-orang yg mencintai-Mu dan segala hal yg menghantarkan cinta pada-Mu”.#cinta

Kultwit Serial #Cinta2

Saiful Bahri

1. “Tidaklah kalian memperoleh kebaikan sampai kalian infaqkan sesuatu yang kalian cintai” (QS. 3: 92) #cinta

2. “Tak (sempurna) iman kalian smp kalian menyukai sesuatu utk saudaranya sebagaimana ia menyukai utk dirinya sendiri” (HR. Muslim) #cinta

3. Cinta memang tidak perfeksionis, tapi cinta adalah memberi dan mengarahkan pada kesempurnaan memberi #cinta

4. Cinta adalah rasa dan rekayasa, teori cinta hanya jembatan untuk dilalui realita yg kadang jauh dari mimpi & angan #cinta

5. Tapi relitas tanpa mempelajari cinta mungkin sedikit menyulitkan sampai pada rasa yg didamba dan diimpikan #cinta

6. Karena semua orang memburu cinta, berusaha kekalkan dalam diri, bahkan tak jarang ingin memonopoli #cinta

7. Ibrahim yg “hendak” menyembelih Ismail adalah cinta bernalar, berdasarkan prioritas Sang Pemiliki Cinta, di atas segala #cinta

8. Zulaikha yang mengoyak “baju” belakang Yusuf adalah cinta bernafsu, yang menutup kesantuanan dan rasa malu, menghinakan diri #cinta

9. Cinta Shofiyyah binti Huyay pada Nabi Muhamad SAW adalah cinta bercahaya kala hijab Allah terbuka bagi hati yg jernih & bernurani#cinta

10. Butanya Ya’qub karena hilangnya Yusuf adalah cinta yang mencemaskan hilangnya fitrah kebenaran orang yg dikasihinya#cinta

11. Cinta Sang Ibu pada Imam Syafi’i adalah cinta yang menginspirasi, tak menyerah pada keterbatasan fisik dan ekonomi#cinta

12. Cinta Imam Bukhori pd Nabi SAW adalah cinta yg melindungi, mengusir kepalsuan dan dusta yg mengotori sabda-sabda Nabi#cinta

13. Cinta Nawawi pada ilmu adalah kebutaan yg menerangi, siang malam sibukkan diri tebarkan mutiara ilmu sampai lupa cari istri#cinta

14. Cinta Khabab pada Nabi SAW adalah cinta yg membuat frustasi para musuhnya, karena cintanya yang tak tergantikan pada Nabi#cinta

15. Bahkan kata-kata hikman Hasan al-Banna terus didengungkan banyak orang, terutama para pengikutnya, “Perangilah manusia dengan #cinta

16. Sangat banyak kisah cinta yg diabadikan sejarah… tak satupun menyiratkan lumpuh dan rapuhnya #cinta

‎17. Karena #cinta melahirkan kekuatan, memupus ketakutan, menyirnakan kekhawatiran, menghadirkan keberanian, mengalahkan kebencian dan iri.