Safari Dakwah Ramadan 1435 H

DSCN6287

DIE BERLINER SONNE

Bertolak dari Jakarta, menuju Amsterdam merupakan perjalanan yang melelahkan. Apalagi, beberapa hari terakhir sebelumnya sangat padat agenda. Tak heran jika dalam perjalanan yang saya lakukan hanya mengubah posisi duduk, dan tetap dengan mata terpejam. Bangun-bangun hanya untuk makan, ke toilet dan shalat shubuh. Alhamdulillah sesampai di Schiphol Airport Belanda, sempat berkeliling ke beberapa obyek di Amsterdam diiringi udara sejuk pagi menjelang siang. Transit yang efektif dan karena memang schengen visa saya dapatkan dari Belanda, maka saya harus masuk Eropa melalui Belanda. Alhamdulillah, Allah memudahkan prosesnya.

Sore harinya perjalanan sesungguhnya dimulai. Ke Berlin. Di sinilah nantinya saya dijadwalkan mengikuti serangkaian agenda Ramadan 1435 H. Masjid al-Falah Berlin – Lembaga Kemanusiaan PKPU Jakarta – KBRI Berlin, merencanakan serangkaian program Ramadan di Berlin.

Acara dimulai keesokan harinya, Khutbah dan Shalat Jumat, kemudian penyambutan Ramadan yang ditandai dengan shalat tarawih bersama. Didahului sambutan singkat Ketua Masjid al-Falah, Dipl.-Ing. Dimas Abdirama, dilanjutkan dengan prakata sambutan Duta Besar RI di Berlin, Dr. -Ing. Fauzi Bowo. Saya juga sempat menyampaikan beberapa kata perkenalan.

Putaran jarum jam pada waktu itu terasa sangat lambat. Namun, padatnya kegiatan menjadikan seolah waktu demikian cepatnya berlalu. Masjid al-Falah yang merupakan EO utama kegiatan Ramadan ini bermitra dengan Lembaga Kemanusiaan Nasional PKPU di Jakarta dan KBRI Berlin, menjadi magnet bagi masyarakat Indonesia (khususnya) di Berlin untuk turut serta aktif menyemarakkan kegiatan Ramadan tahun ini.

Kegiatan-kegiatan yang cukup variatif. Dimulai dari sahur bersama yang dirangkai dengan shalat shubuh dan kajian Islam Ba’da Shubuh (KIBAS). Semula saya underestimate terhadap kajian ini, karena waktunya sangat “kritis” yaitu setelah shubuh yang saat itu jam 02.30. Tapi -justru- ternyata antusias peserta menjadikan kajian ini hidup dan menjadi inspirasi-inspirasi yang bagus –khususnya bagi saya-. Inilah satu-satunya rangkaian kegiatan yang seluruh pesertanya lengkap tanpa ada yang terlambat mengikutinya. Karena dilakukan langsung setelah dzikir singkat seusai menunaikan shalat shubuh. Alhamdulillah, Ramadan kali ini melalui kajian ini, seluruh surat al-Quran di Juz Amma (juz 30) selesai ditadabburi. Dimulai dari Surahan-Naba’ hingga akhir ayat Surah an-Nâs.

Pagi menjelang siang, pengajian muslimah dilakukan dengan penekanan harmonisasi keluarga, manajemen hati dan perasaan, melengkapi fikih ibadah yang disampaikan pada beberapa sesi. Siang menjelang sore tak ketinggalan pula, setiap Rabu para pemuda mengkhususkan waktu untuk mereka sebagaimana para pemudi mengambil hari Kamis. Kajian kepemudaan atau kepemudian ini ditekankan pada kajian fikih motivasi, mulai dari manajemen diri dan potensi, sampai pada kajian peradaban dan mengrikitisi metodologi liberal sambil menelaah metodologi penafsiran al-Quran. Khusus untuk para pemudi diakhiri dengan kajian fikih perempuan.

Kegiatan harian ini ditutup dengan Kajian Islam Jelang maghrib (KARIB). Dengan tema-tema variatif, sejak menggali lebih dalam esensi Ramadan, Puasa dan Zakat, maupun kisah-kisah al-Quran, serial manajemen resiko, manajemen pengelolaan masjid dan beberapa tema lainnya. Kajian ini menandai usainya puasa dengan buka bersama di Masjid al-Falah setelah menunaikan puasa rata-rata berdurasi 19 jam lamanya. Durasi yang cukup lama untuk menahan lapar dan dahaga dengan tuntutan masih beraktivitas seperti biasa, apalagi beberapa mahasiswa juga mengikuti ujian semester mereka. Yang bekerja juga tetap masuk seperti biasa. Masyaallah, Allah memberikan kekuatan fisik dan mental melakukan ibadah puasa di tengah tantangan iklim dan suasana sosial yang jauh berbeda. Alhamdulillah.

Pada setiap Jumat sore rangkaian kegiatan kajian keislaman, buka puasa bersama dan shalat taraweh berjamaah dilakukan di aula utama KBRI Berlin. Sedangkan buka bersama masyarakat Indonesia selain hari-hari biasa, lebih semarak dan dipadati banyak orang pada hari Sabtu di Masjid al-Falah. Bapak-bapak juga tak mau ketinggalan. Setiap Ahad sore menjelang buka bersama, forum kajian al-Hisab juga melaksanakan pengajian yang didahului dengan tilawah bersama kemudian tadabbur serta diskusi keislaman.

Ada hal menarik dalam pelaksanaan shalat kali ini. Yaitu untuk maghrib dan isya, sesuai rekomendasi Majelis Ulama Eropa yang membolehkan menjamak shalat Maghrib dan Isya dengan jamak takdim. Untuk di Masjid al-Falah, usai berbuka ringan jamaah melakukan shalat maghrib dan isya berjamaah dengan jamak takdim. Setelah itu baru menikmati hidangan makan malam bersama, kira-kira hingga 40-50 menit. Kemudian acara ditutup dengan melakukan shalat sunnah tarawih dan witir berjamaah.

Banyak pertimbangan pembolehan jamak ini. Secara khusus Majelis Ulama Eropa menerbitkan fatwa tentang hal-hal yang berkaitan dengan puasa khususnya, di puncak musim panas. Diantara para anggota Majelis Ulama Eropa (the European Council for Fatwa and Research) adalah:

  1. Dr. Yusuf Al-Qaradawi, President of ECFR (Egypt, Qatar)
  2. Judge Sheikh Faisal Maulawi, Vice-President (Lebanon)
  3. Sheikh Hussein Mohammed Halawa, General Secretary (Ireland)
  4. Sheikh Dr. Ahmad Jaballah (France)
  5. Sheikh Dr. Ahmed Ali Al-Imam (Sudan)
  6. Sheikh Mufti Ismail Kashoulfi (UK)
  7. Ustadh Ahmed Kadhem Al-Rawi (UK)
  8. Sheikh Ounis Qurqah (France)
  9. Sheikh Rashid Al-Ghanouchi (UK)
  10. Sheikh Dr. Abdullah Ibn Bayya (Saudi Arabia)
  11. Sheikh Abdul Raheem Al-Taweel (Spain)
  12. Judge Sheikh Abdullah Ibn Ali Salem (Mauritania)
  13. Sheikh Abdullah Ibn Yusuf Al-Judai, (UK)
  14. Sheikh Abdul Majeed Al-Najjar
  15. Sheikh Abdullah ibn Sulayman Al-Manee’ (Saudi Arabia)
  16. Sheikh Dr. Abdul Sattar Abu Ghudda (Saudi Arabia)
  17. Sheikh Dr. Ajeel Al-Nashmi (Kuwait)
  18. Sheikh Al-Arabi Al-Bichri (France)
  19. Sheikh Dr. Issam Al-Bashir (Sudan)
  20. Sheikh Ali Qaradaghi (Qatar)
  21. Sheikh Dr. Suhaib Hasan Ahmed (UK)
  22. Sheikh Tahir Mahdi (France)
  23. Sheikh Mahboub-ul-Rahman (Norway)
  24. Sheikh Muhammed Taqi Othmani (Pakistan)
  25. Sheikh Muhammed Siddique (Germany)
  26. Sheikh Muhammed Ali Saleh Al-Mansour (UAE)
  27. Sheikh Dr. Muhammed Al-Hawari (Germany)
  28. Sheikh Mahumoud Mujahed (Belguim)
  29. Sheikh Dr. Mustafa Ciric (Bosnia)
  30. Sheikh Nihad Abdul Quddous Ciftci (Germany)
  31. Sheikh Dr. Naser Ibn Abdullah Al-Mayman (Saudi Arabia)
  32. Sheikh Yusuf Ibrahim (Switzerland)

 

Para ulama di atas melakukan beberapa kajian dan menerbitkan beberapa fatwa, diantaranya adalah pembolehan jamak takdim shalat maghrib dan isya dengan beberapa konsideran yang cukup banyak. Diantaranya, masuknya waktu isya yang sulit diperkirakan karena malam hari di puncak musim panas langit tidak benar-benar gelap. Mega merah bertahan cukup lama dikhawatirkan menyerupai datangnya waktu fajar. Waktu isya baru bisa dipastikan benar-benar masuk dengan hilangnya mega merah setelah tengah malam dan memasuki waktu fajar. Disamping itu, waktu malam yang hanya (5) lima jam menjadi tantangan tersendiri untuk umat Islam melakukan rangkaian kegiatan malam di Bulan Ramadan. Sementara keesokan harinya mereka tetap harus beraktivitas seperti biasanya. Sebagian pelajar bahkan sedang menempuh ujian semesternya, sebagian bersiap-siap melakukan interview, sebagian lagi dengan setumpuk pekerjaannya. Dengan pertimbangan tersebut dan berbagai kondisi lainnya, maka untuk shalat maghrib dan isya dilakukan dengan jamak takdim.

Allah telah karuniakan banyak nikmat-Nya. Terkhusus untuk kaum muslimin di Berlin. Satu syawal yang ditunggu-tunggu Allah datangkan dengan kemenangan untuk mereka yang menantinya. Kemenangan mendapatkan pengampunan dan pembebasan-Nya dari neraka dan murka-Nya yang tiada tertandingi. Idul Fitri semakin syahdu dengan iringan rintik-rintik hujan. Tak berapa lama hujan berhenti, seolah member kesempatan untuk kaum muslimin memanfaatkan berjalan-jalan dengan kerabat, family dan teman-temannya. Menikmati nafas baru yang Allah berikan pada mereka. Nafas harapan untuk tetap pertahankan spirit perjuangan mengalahkan diri sendiri. Nafas baru untuk tetap bertahan pada kebaikan yang sudah dibiasakan selama sebulan. Nafas baru yang Allah karuniakan dengan berbagai rekayasa kebaikan yang ditawarkan-Nya selama sebulan penuh. Mudah menjadi ramah dan menebar cinta, hati terasa lembut menyayangi sesame. Ringan memaafkan dan lapang dada. Memburu prestasi dengan perbanyak sedekah dan tilawah serta menghidupkan malam dengan munajat dan shalat malam. Berharap Allah karuniakan kebaikan malam lailatul qadar-Nya. Malam yang diistimewakan-Nya melebihi seribu bulan lainnya. Jika seorang muslim dikaruniai Allah kebaikan seribu malam ini, niscaya ia akan menjadi pribadi yang menandingi –bahkan- melebihi kualitas dan kuantitas seribu komunitas yang ada di bumi-Nya. Semoga Allah benar-benar menjaga nikmat dan karunia mahal-Nya ini untuk kita. Amin. (Baca: Khutbah Idul Fitri 1435 H, Nafas Kemenangan). Umat Islam dan Msyarakat Indonesia di Berlin melakukan rangkian Shalat Idul Fitri di KBRI Berlin.

Segenap pengurus al-Falah, IWKZ. E.V melengkapi suasana liburan Idul Fitri kali ini dengan jalan-jalan santai bersama di Spandau sambil menikmati Gelato dan es krim di tengah hari, sesuatu yang sudah sebulan lebih tak bisa dilakukan di siang hari.

Sekembali di masjid, ada perasaan lain. Ada sesuatu yang beda dengan masjid al-Falah. Yang semula ramai penuh dengan masyarakat, mendadak menjadi sepi. Hening. Saat menjelang shubuh, biasanya ada berbagai aktivitas di sana. Ada yang belajar, ada yang mengerjakan tugas. Ada yang shalat malam, dan ada yang membaca al-Quran. Ada yang berdiskusi dan berkonsultasi. Dan ada yang menyiapkan santap sahur bersama. Kini, mendadak sepi. Hening. Ada sesuatu yang hilang. Sungguh kerinduan itu keluar dari relung hati yang dalam. Untung kondisi “kesepian” ini tidak berlanjut lama. Saya berkesempatan melakukan kunjungan, sekaligus liburan ke Italia. Terimakasih terkhusus kepada Dr. Ir. Hamim, MS.I (Atase Pertanian KBRI di Roma) yang menyambut sekaligusbanyak membantu selama kami berada di Roma. Juga kemudian melanjutkan perjalanan ke kota air di Italia, Venesia.

IMG_8590

Ketika kembali ke Berlin, para remaja dan pengurus masjid sudah sibuk menyiapkan acara Halal Bihalal dan Ramah Idul Fitri 1435 H. Acara ini sekaligus menjadi perpisahan simbolik dari Pengurus IWKZ dan Masyarakat Indonesia di Berlin dengan saya. Menariknya, para pemuda sempat melakukan pertandingan sepakbola dengan saya keesokan harinya. Meskipun sudah sebulan lebih tak berolahraga, Alhamdulillah pertandingan berjalan seru. Bermain di atas lapangan sintetis yang bagus membuat saya bebas mengeksplorasi lapangan. Hanya saja memang faktor usia tak bisa dibohongi. Saya tak lagi selincah dulu. Tapi untuk pertandingan kali ini tak buruk-buruk amat. Sebuah gol dan dua assist buat saya itu sudah cukup lumayan. Alhamdulillah tubuh ini masih bugar. Allah karuniakan kesehatan. Bahkan menariknya lagi, berat badan saya naik nyaris dua kilogram. Dan ternyata puasa 19 jam tidak menyusutkan berat badan saya.

Sepak Bola pasca Ramadan

Dalam kesempatan ini saya juga terharu melihat acara pertemuan khusus dengan adik-adik pelajar/mahasiswa angkatan 2014 yang bersemangat menyongsong masa depannya di Jerman. Doa khusus saya semoga mereka semuanya dikaruniai kesuksesan dan prestasi yang baik. Kelak mereka dapat membangun bangsa Indonesia lebih maju dan bermartabat.

Tiba saatnya saya harus kembali ke Indonesia. Purna sudah safari dakwah Ramadan saya kali ini. Sama halnya saat Ramadan pergi ada dua perasaan yang paradoks menyesaki dada saya. Kebahagiaan menyambut janji kemenangan Allah dan nafas baru optimisme dengan bulan Syawal. Tapi keajaiban dan kebaikan bulan Ramadan berlalu dengan sangat cepat sebelum saya bisa maksimalkan dan optimalkan kesempatan mahal tersebut.

Kali ini dua hal tersebut kembali menyusup ke relung hati saya. Bahagia, karena ini adalah akhir dari perpisahan saya dengan keluarga saya selama sebulan lebih. Saya memvisualisasikan pertemuan yang sangat dinanti-nantikan dengan istri dan anak-anak saya. Karunia istimewa Allah yang lain kepada saya di dunia ini. Di saat yang sama saya harus meninggalkan sejuta kenangan dan harapan. Kesan dan rasa yang tak terekspresikan secara verbal mengenai banyak hal di Bulan Ramadan kali ini. Berlin dengan julukan metropolitan Eropanya, menantang siapa saja untuk mempertahankan prinsip atau larut dengan arus budaya kota besar. Kegigihan masyarakat muslim di sana menjadikan ada sisi sejuk lain di kota Berlin. Di puncak summer yang sangat identik dengan baju minim serba terbuka, masih cukup mudah menemukan para muslimah yang konsiten menutup auratnya. Sejuk berbalut ketakwaan dan ketaatan pada Rabbnya. Kaum muslimin secara umum berjibaku dengan durasi yang lama berpuasa. Disaat-saat rekan kerja atau masyarakat terheran-heran, mengapa perlu menahan lapar dan dahaga sepanjang itu? Andai mereka mengetahui hakikat perintah langit ini. Andai mereka menyelami kenikmatan yang Allah janjikan ini. Andai mereka merasakan nikmatnya nafas-nafas harapan yang Allah berikan kepada kita, dengan persaudaraan. Dengan kebersamaan. Tantangan-tantangan menjadi sangat ringan. Secara umum, mencari makanan halal di Berlin tidaklah sesulit di kota-kota lainnya di Eropa. Karena lebih dari 30% penduduk Berlin adalah umat Islam dari berbagai lapisan masyarakat dan warga negara. Dan yang lebih menarik, makanan di Berlin jauh lebih murah di banding tempat-tempat lainnya. Apalagi untuk ukuran kota metropolitan di Eropa.

Ada banyak kenangan di sana. Menenggelamkan kerinduan pada keluarga dengan berbagai aktivitas dan diselingi berwisata di tempat-tempat bersejarah dan pemandangan alam yang indah. Menjadikan saya banyak bersyukur atas karunia Allah yang selalu melebihi ekspektasi saya. Selalu tak sanggup saya perkirakan. Selalu melebihi dari kemampuan saya menghitungnya. Bahkan melebihi dari apa yang saya pinta setiap harinya.

Doa saya terselip setiap saat semoga matahari yang ditunggu-tunggu setiap musim dingin menjadi biasa di musim panas. Kini matahari itu telah terang benderang hadir di tengah-tengah Eropa. Umat Islam kian berperan dan bisa menunjukkan prestasinya, semoga Allah meninggikan kalimat-Nya di mana saja. Semoga Allah lanjutkan nafas kemenangan ini dengan makin mudahnya umat Islam melaksanakan ajaran agamanya. Di tengah-tengah keterbatasan dan kekurangannya.

Secara khusus saya berterima kasih kepada Pengurus Masjid al-Falah, IWKZ e.V, Lembaga Kemanusiaan Nasional PKPU, Bapak Duta Besar di Berlin & segenap staf KBRI Berlin, Pengajian al-Hisab dan al-Hikmah, Para pemuda and pemuda al-Falah, Forum Pengajian Muslimah al-Falah. Segenap masyarakat Indonesia di Berlin. Juga kepada nama-nama yang tak bisa saya sebut satu persatu, karena terlalu banyaknya. Atas semuanya. Dari sejak penerimaan dan antuasiasnya selama mengikuti kegiatan Ramadan 1435 H di Berlin. Semoga membuahkan spirit dan motivasi positif untuk berkembang lebih baik. Mohon maaf atas segala khilaf, salah dan keterbatasan saya.

 

Amsterdam, 06.08.2014

Saiful Bahri

(memanfaatkan waktu transit di Schipol Airport, Amsterdam)

???????????????????????????????

 

???????????????????????????????

 

Iklan

Khutbah Idul Fitri 1435 H : NAFAS KEMENANGAN

Idul Fitri 1435 H

NAFAS KEMENANGAN

Dr. Saiful Bahri, M.A.

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

الله أكبر (9) . الله أكبر كبيراً والحمد لله كثيراً. وسبحان الله بكرةً وأصيلاً. لا إله إلاّ الله والله أكبر، الله أكبر ولله الحمد. الحمد لله الذي فرض علينا الصيام وبعث لنا خير الأنام. أشهد أن لا إله إلاّ الله وحده، صَدَقَ وعْدَه ونصَر عبْدَه وأعزّ جُنْدَه وهزَم اْلأحْزَابَ وحدَه، وأشهد أنّ محمداً عبده ورسوله لا نبي بعده، فصلوات الله وسلامُه على هذا النبي الكريم وعلى آله وذريته وأصحابه أجمعين. أمّا بعد، فيا عباد الله أوصي نفسي وإياكم بتقوى الله، إنه من يتق ويصبر فإن الله لا يضيع أجر المحسنين. يقول المولى عز وجل: )وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنِ افْتَرَىٰ عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ وَهُوَ يُدْعَىٰ إِلَى الْإِسْلَامِ ۚ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ( (الصف: 7). طِبْتُمْ وطابَ ممْشَاكُمْ وتَبَوّأتمْ مِن الجنّة منزلاً .

 Allahu Akbar x 3, walillahil hamd

Ma’asyiral muslimin wal muslimat rahimakumullah.

Segala puji dan syukur kita kumandangkan di tempat ini. Menandai kemenangan yang dikaruniakan Allah Swt. Sebuah kemenangan yang diraih melalui sebuah proses. Melalui sebuah rekayasa sosial yang Allah mudahkan realisasinya. Lewat aliran rahmat, maghfirah dan kelembutan Sang Maha Cinta. Bersama, membingkai kasih sayang. Meredam iri dan dengki serta mengusir permusuhan. Menjadi sebuah satu. Satu pembebasan dari murka dan kemarahan-Nya, berharap cinta yang akan mengangkat kita ke derajat orang-orang dekat-Nya, derajat orang bertakwa yang dijanjikan-Nya.

Simaklah panggilan lembut-Nya tatkala mewajibkan puasa kepada kita. Dia menggunakan panggilan khusus yang bahkan sebelumnya tak pernah dikenal oleh Bangsa Arab. (يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا) “wahai orang-orang yang beriman”. Secara eksplisit panggilan seperti ini hanya dipakai pada surat atau ayat-ayat yang turun di Madinah; yaitu diulang sebanyak delapan puluh sembilan (89) kali. Mengindikasikan banyak hal; di antaranya:

  1. Panggilan tersebut adalah panggilan sayang dan cinta karena menonjolkan pemenuhan perintah untuk mengimani Allah, Rasul dan seterusnya. Sekaligus berfungsi sebagai pujian.
  2. Panggilan tersebut selalu digunakan dalam bentuk plural (jama’). Menandakan bahwa dalam kondisi bersama dan berkelompok lebih mudah dan memungkinkan untuk meng-apresiasikan keimanan dan perilaku keagamaan. Sekaligus perintah untuk merekayasa kebaikan secara sosial. Seperti pendidikan Ramadan, tatkala banyak orang berpuasa (wajib), kemudian membiasakan baca al-Quran, qiyâmullail (tarawih dan tahajud), berdoa, bersedekah, silaturahmi dan sebagainya. Maka secara tak sadar kita lebih mudah melakukan hal-hal tersebut. Saat itu orang yang terbaik di antara kita adalah benar-benar orang berkualitas sebagai cerminan doa ibâdurrahmân (وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا) “jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang bertakwa”. Itu adalah permohonan menjadi yang terbaik di antara orang-orang baik. Juara di antara para juara.

Bulan Ramadan adalah nafas baru. Nafas kehidupan yang tawarkan optimisme untuk mengalahkan diri sendiri sebelum mengalahkan bisikan setan dari kalangan jin dan manusia. Nafas kemenangan itu terdengar menggema saat Allah bersumpah, (والصّبح إذا تنفّس) “dan demi subuh apabila fajarnya mulai menyingsing” (QS. At-Takwîr [81]:18).

Setiap pagi menyingsing datang maka pada hakikatnya Allah berikan kesempatan kita dengan nafas baru optimisme untuk raih kemenangan. Dan Ramadan Allah datangkan dengan ribuan kebaikan yang dijanjikan-Nya sebagaimana Dia lebihkan lailatul qadar dari malam-malam lain, bahkan lebih baik dari seribu bulan.

(يا باغي الخير أقبل ●  ويا باغي الشر أقصر)

Wahai pemburu kebaikan terimalah●  wahai pelaku keburukan berhentilah

Allahu Akbar x 3, walillahil hamd

Ma’asyiral muslimin wal muslimat rahimakumullah

Hari kemenangan ini pula menandakan dahsyatnya kekuatan cinta dan kebaikan. Hari kemenangan yang dirayakan dan disunnahkan untuk siapa saja; tua muda, besar kecil, lelaki dan perempuan. Semua disarankan berpartisipasi di dalamnya. Di tempat ini, menampung segala bentuk kebahagian yang dibingkai dengan ketaatan dan ketundukan pada Allah. Bukti kesanggupan menerima titah-Nya selama sebulan penuh serta tekad melanjutkan spiritnya selama sebelas bulan sisanya. Mempertahankan prestasi kebaikan dan capaian peningkatan iman yang luar biasa.

Hari ini, kita juga menyingkirkan segala representasi kezhaliman. Sombong, angkuh, dengki, iri, permusuhan, saling curiga, menindas dan sebagainya. Karena tak ada lagi tempat bagi kezhaliman untuk bersemayam dalam diri kita, apalagi kita biarkan tersebar ke tengah-tengah masyarakat.

Kezhaliman yang selama ini ikonik dengan simbol Firaun selalu diulang-ulang pembahasannya di dalam al-Quran. Supaya kita ambil pelajaran agar tidak terjebak di dalamnya, ikut mempraktek-kan ataupun melakukan pembiaran terhadap terjadinya kezhaliman.

Kisah epik tokoh protagonis yang sekaligus nabi utusan Allah untuk tokoh antagonis yang zhalim ini, keduanya pernah disatukan dalam satu atap kebersamaan. Allah yang merekayasa demikian. Lelaki bengis itu Allah “paksa” dan “tundukkan” untuk membesarkan calon musuhnya kelak jika ia tak mengakhiri kezhalimannya. Di saat yang bersamaan Allah didik Musa untuk tegar secara psikis dan kuat fisik untuk melawan biang kezhaliman yang juga adalah ayah angkatnya.

Dalam darah Musa mengalir ilham ibunya tatkala percaya dan yakin janji Tuhannya, jika ia tunduk, Musa akan dikembalikan-Nya. Bahkan bukan sekedar kembali, Musa menjelma menjadi orang mulia. Sang Ibu pun didatangi putranya, Musa kecil yang berstatus anak raja. Ia menyusui anak kandungnya dengan dibiayai penuh oleh kerajaan. Itulah nikmat Allah yang lipatgandakan untuknya. Pun demikian, tatkala Firaun berusaha mengungkit budi jasa baiknya kepada Musa, tak lantas membuat nyali Musa ciut dan surut. Justru ia makin teguh sampaikan kebenaran meski sangat pahit. Berhadapan dengan orang yang pernah berjasa dalam hidupnya. Akhir yang tragis bagi dua tokoh yang pernah bersama dalam satu atap istana. Firaun harus tenggelam, menjemput kehinaan yang Allah ancamkan untuknya. Dan Musa, harus bersabar berpindah mengurusi kezhaliman-kezhaliman internal yang bersarang ke dada-dada kaumnya Bani Israil yang menolak titah Allah memasuki bumi suci yang dijanjikan serta berbagai permintaan lain yang melampaui batas.

Ramadan adalah bulan rahmat dan kelembutan. Allah menjanjikan sayang yang membentang untuk siapa saja. Sebuah pertanyaan sederhana: Sudahkah benar-benar kita menjadi seorang yang penyayang? Menyayangi fuqara, anak yatim, janda-janda miskin dan orang-orang lemah serta tertindas juga mereka yang tertimpa musibah. Sudahkah bibir kita terbiasa menyampaikan pesan kasih sayang melalui senyum dan perkataan yang baik. Sudahkan tangan kita ringan mengulurkan bantuan dan shadaqah sebelum lidah mereka mengirimkan pesan pertolongan.

Benarkah setelah sebulan kita dilatih untuk sabar dalam menahan diri. Rasa kasih sayang dan pemaaf kita bisa kemudian mengkristal dalam diri kita. Mari kita belajar menjadi pemaaf yang baik dari Yusuf Ash-shiddiq as. Saat saudara-saudaranya yang dulu membu-angnya ke dalam sumur. Sebelumnya sempat berniat untuk membu-nuhnya, kini berada di hadapannya. Ketika beliau sedang berada dalam kemuliaan yang diberikan Allah. Di hadapan Bapak dan Bibinya serta saudara-saudaranya ia pun menyenandungkan syukur.

(وَقَالَ يَا أَبَتِ هَـذَا تَأْوِيلُ رُؤْيَايَ مِن قَبْلُ قَدْ جَعَلَهَا رَبِّي حَقًّا وَقَدْ أَحْسَنَ بَي إِذْ أَخْرَجَنِي مِنَ السِّجْنِ وَجَاء بِكُم مِّنَ الْبَدْوِ مِن بَعْدِ أَن نَّزغَ الشَّيْطَانُ بَيْنِي وَبَيْنَ إِخْوَتِي (وسف: 100

Wahai ayahku, inilah ta’bir mimpiku yang dulu. Sesungguhnya Tuhan telah menjadikannya kenyataan. Dan sesunggunya Tuhan telah berbuat baik padaku, ketika Dia membebaskanku dari penjara dan ketika membawa kalian dari gurun pasir setelah setan merusak hubungan antara aku dan saudara-saudaraku

Sungguh lembut hati dan perasaannya. Beliau tak mengatakan “idz akhrajani minal jubb” (ketika mengeluarkanku dari sumur) tapi yang beliau sebutkan adalah idz akhrajani minassijn (ketika membebaskanku dari penjara). Padahal kesalahan saudaranya sangatlah besar, tapi beliau tak sedikitpun menyimpan dendam, bahkan untuk sekedar menyebut perbuatan jahat itu sekali-kali beliau sangat menghindarinya.

Itulah sang pemenang. Inilah hari kemenangan para pemaaf. Yang bisa bebaskan dirinya dari dendam dan permusuhan.

Pesan ini seharusnya terus kita perdengarkan. Karena kata penutup shalat kita adalah “as-salâm” (kedamaian), “ar-rahmah” (kasih sayang) serta “al-barakah” (keberkahan). Maka seorang mukmin yang beranjak dari sujudnya setelah bermunajat mesra dengan Tuhannya ia menjelma masjid berjalan. Ia menjelma juru damai yang mengelilingi masyarakat. Menjelma pribadi penyayang serta tebarkan keberkahan dan optimisme kepada siapa saja.

Meski faktanya, dunia selalu hingar-bingar dengan pertikaian. Masih saja terus dipertontonkan kezhaliman yang dahsyat. Lihatlah apa yang terjadi di Palestina, khususnya di Jalur Gaza. Seolah nyawa manusia tak dihargai oleh sesama manusia. Anak-anak dan perempuan tak berdosa harus terbunuh dan ternistakan. Kehancuran menjemput mereka. Pertikaian dan berbalas saling tuduh juga terjadi di Ukraina. Perilaku sadis lainnya masih saja belum berhenti di bumi Syam, Suriah yang sudah menelan korban yang tiada bisa lagi dihitung jumlahnya.

Padahal hancurnya dunia lebih ringan bagi Allah dibanding hilangnya satu nyawa seorang mukmin. Dan karena “barangsiapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan di muka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya.” (QS. Al-Maidah: 32)

Dan selalu ada saja mereka yang mendukung kezhaliman untuk terus bertahan dan membiarkannya memakan korban. Akan selalu ada solidaritas dan rasionalisasi untuk sebuah kezhaliman.

Tapi yang pasti, kezhaliman akan menemui endingnya yang hina. Firaun menjemput kematiannya dengan tenggelam. Sebagaimana Namrud, ikon kezhaliman sebelumnya yang mati “hanya” melalui seekor nyamuk yang masuk di dalam hidungnya. Jalut si angkuh lain-nya, tewas di tangan remaja Dawud tanpa peralatan tarung sesung-guhnya. Abu Jahal, sang zhalim yang lain juga menemui ajalnya di tangan dua orang anak kecil (Muadz dan Mu’awidz), bukan di tangan petarung dan jagoan. Itulah cara kematian yang terhina.

Allahu Akbar x 3, walillahil hamd

Ma’asyiral muslimin wal muslimat rahimakumullah

Ramadan boleh sudah pergi. Tapi spirit rekayasa kebaikannya harus terus bertahan dalam diri kita. Spirit disiplinnya mesti tertancap kuat. Mental tak menyerahnya harus selalu hadir di tengah arus hedonism. Mental kejujuran juga mesti terus menyertai kita. Semangat futuristik yang harus terus tertanam, mengkristalkan pesan Nabi Ibrahim dalam doanya:

(وَاجْعَل لِّي لِسَانَ صِدْقٍ فِي الْآخِرِينَ)

Dan jadikanlah aku buah tutur yang baik bagi orang-orang (yang datang) kemudian.” (QS. Asy-Syu’arâ: 84)

Agar cita-cita kebaikan kita tak hanya bertahan seusia hidup kita di dunia, tetapi terus abadi sampai hari yang ditentukan Allah. Lihatlah Nabi Ibrahim yang dikabulkan doanya, semua umat Islam selalu mendoakannya di setiap tahiyyat akhir sebelum ucapkan salam. Ibrahim telah meninggalkan jejak-jejak peradaban kebaikan. Ia wakafkan anak keturunannya untuk menjadi juru dakwah dan teladan kebaikan bagi kaumnya. Ia wakafkan dirinya untuk mengalir bersama kebaikan. Alirkan nafas-nafas baru kepada siapa saja. Untuk melawan setiap kezhaliman dan apa saja yang menghalangi tersembah-Nya Allah di bumi-Nya.

Berbuatlah sesuatu yang akan langgeng dikenang orang setelah kita yang menjadi sarana mereka mendoakan dan mengirim harapan kebaikan kepada semua orang. Kebaikan yang menginspirasi lahirnya kebaikan-kebaikan lainnya.

Ingat sabda Nabi SAW:  (الكيس من دان نفسه وعمل لما بعد الموت)

Orang yang cerdas adalah orang yang mampu menundukkan hawa nafsunya dan berbuat untuk setelah matinya” (HR. At-Turmudzi) Meski hadis ini dilemahkan oleh sebagian muhadis tapi maknanya shahih dan dibenarkan oleh banyak ulama.

Mudah-mudahan Allah pelihara kita untuk tetap berada dalam pusaran-pusaran kebaikan, sehingga kita selalu mudah melakukan kebaikan dan memiliki kepuasan melaksanakan dan menebarkan-nya kepada sebanyak mungkin makhluk-Nya. Serta dijauhkan dari orbit-orbit kezhaliman, mempraktekkannya ataupun mendiamkan-nya atau bahkan mendukungnya secara membabi buta dikarenakan silau dengan materi dunia dan gila jabatan serta popularitas.

Pada momentum bulan solidaritas ini kita juga berdoa, semoga saudara-saudara kita yang tertimpa musibah -apa saja jenisnya- segera diberikan jalan keluar dan solusi yang terbaik, keluarga-keluarga mereka Allah limpahkan keteguhan hidup dan keberkahan yang hanya Dia saja yang sanggup memberikannya. Semoga Allah persatukan umat Islam yang sudah mulai bosan dengan perpecahan, namun tak tahu bagaimana mengakhirinya. Semoga Allah bimbing dengan sepenuh cinta. Hadirkan rahmat-Nya untuk memperkokoh persaudaraan, sebangsa, setanah air, seakidah dan memimpin segenap umat manusia menuju masyarakat yang berkeadilan, bermartabat, mulia, aman dan sejahtera. Amin Ya Rabbal ‘âlamîn.

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا. اللهم صل علي سيدنا محمد وعلى آله وصحبه وسلم .اللهمّ اغفر لجميع المسلمين والمسلمات الأحياء منهم والأموات إنك سميع قريب مجيب الدعوات. اللهم تقبل صلاتنا وقيامنا وصيامنا وركوعنا وسجودنا وتلاوتنا وصدقاتنا وأعمالنا، وتمّم تقصيرنا يا رب العالمين. اللهمّ إنك عفو تحبّ العفو فاعف عنا يا كريم. اللهمّ توفنا مسلمين وألحقنا بالصالحين . اللهمّ انصر إخواننا المستضعفين في فلسطين وفي سوريا وسائر بلاد المسلمين. رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا. ربنا آتنا في الدنيا حسنة وفي الآخرة حسنة وقنا عذاب النار. والحمد لله رب العالمين

تقبل الله منا ومنكم وكل عام وأنتم بخير وإلى الله أقرب وعلى طاعته أدوم

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

 

Berlin, 01 Syawal 1435 H

               28 Juli 2014M

KBRI Berlin – Jerman