Sinyal-Sinyal Kekuasaan Allah di Hari Lahir Nabi SAW

Saiful Bahri

Dalam al-Bidayah wa an-Nihayah, Ibnu Katsir menuturkan beberapa kisah ajaib yang membersamai kelahiran manusia agung, Muhammad SAW. Di antaranya, padamnya api abadi Kaum Majusi di Persia. Istana Kisra Persia tergoncang sehingga beberapa balkon -yang dituliskan Ibnu Katsir sebanyak 14- di antaranya rusak, sebagiannya terjatuh dan roboh. Peristiwa-peristiwa tersebut bagi sebagian orang adalah kejadian biasa, terutama para penganut madzhab matrealisme dan nihilisme, sebagaimana bencana alam atau musibah, akan dianggap sebagai peristiwa alam yang lumrah dan sangat biasa. Namun, sebagai kaum beriman tak ada peristiwa alam yang tak direncanakan oleh Allah. Semuanya berjalan sesuai dengan kehendak-Nya. Tak sedikit dari para alim mengaitkan beberapa peristiwa tersebut dengan istimewanya kelahiran sang calon nabi terakhir ini. Menurut mereka, itu adalah sinyal-sinyal kekuasaan Allah yang dikirimkan bagi manusia supaya segera menyudahi kezhaliman dan kejahilan mereka.

Adapun al-Quran memberikan nuansa lebih sejuk dan dahsyat. Firman Allah SWT, “…Sesungguhnya telah datang kepadamu cahaya dari Allah, dan Kitab yang menerangkan.” (Surah al-Mâ’idah: 15)

Yang dimaksud lafazh “nûr” ini menurut para mufassir adalah Rasulullah SAW. Beliau adalah cahaya yang dikirim Allah untuk mengeluarkan manusia dari kegelapan (zhulumât) menuju terangnya cahaya (nûr) petunjuk Allah. Kegelapan yang dimaksud adalah perilaku menyimpang manusia, persekutuannya dengan para musuh Allah, penghambaan kepada materi dan benda, kezhaliman yang mereka lakukan.

Isyarat-isyarat kemahakuasaan Allah juga tergambar jelas saat beliau ikut turun langsung menggali parit saat menghadapi konspirasi aliansi kuffar pada perang Ahzab. Beliau memberi kabar optimisme dengan tiga percikan yang mengisyaratkan futuhat Islamiyah di masa mendatang, ke Yaman, Persia dan Romawi.

Maka, sebagai manusia yang memiliki akal seharusnya peristiwa alam yang Allah hadirkan di hadapannya menjadikannya lebih arif dan bijak menyikapinya. Terutama dengan penyikapan yang berbasis iman. Maka, carut marutnya dunia saat ini bagi orang beriman bukanlah sebagai berita buruk semata, namun hal tersebut akan semakin merapatkannya kepada Allah. Kisah-kisah kezhaliman yang terjadi semakin merajalela pun tak menyurutkan nyali untuk tetap melawannya dan menumbangkannya.

Kisah penyerangan pasukan Zionis Israel yang terakhir ke Gaza, adalah sinyal kuat dahsyatnya kekuasaan Allah. Rakyat lemah yang diembargo dan diblokade lebih dari sepuluh tahun itu sudah tentu akan dianggap ringkih dan underestimate. Nyatanya, mereka sanggup membalas roket dengan roket, serangan dengan serangan yang membuat mereka menyerah di luar perkiraan siapapun. Sekalipun sebagian besar roket tersebut hanya selongsong saja, tetaplah hal tersebut merupakan sinyal bahwa perlawanan terhadap penjajahan takkan pernah berhenti.

Ketika isu-isu terorisme dan radikalisme yang dikaitkan dengan Islam menjadi “dagangan” kampanye pemilu di berbagai belahan dunia, justru hal tersebut menjadi promosi gratis yang bombastis. Lihatlah perkembangan Islam di Eropa dan sikap para pemegang kebijakan serta tak sedikit dari para politisi di benua biru yang mulai jengah dengan Islamphobia.

Kelahiran nabi agung nan mulia ini bagi umat Islam adalah cahaya penuntun perjuangan untuk menumbangkan kezhaliman dan mengusir penjajahan. Agar tak ada lagi penindasan di muka bumi dan tak lagi ada darah manusia yang ditumpahkan tanpa dosa.

Terus Mengagungkan Allah


Jamaah haji dari berbagai penjuru dunia pelahan-lahan mulai meninggalkan tanah suci untuk kembali ke tempat asalnya. Karena ibadah haji adalah latihan, penempaan dan pembekalan spiritual. Maka, saatnya mereka mengintegrasikan hal itu dalam kehidupan nyata. Salah satu sarana dan cara untuk melanggengkan spirit kebaikan yang didapat selama menjalani rangkaian ibadah haji adalah dengan terus berdzikir kepada Allah.

Apabila kamu telah menyelesaikan ibadah hajimu, maka berdzikirlah dengan menyebut Allah, sebagaimana kamu menyebut-nyebut (membangga-banggakan) nenek moyangmu, atau (bahkan) berdzikirlah lebih banyak dari itu…” (QS. Al-Baqarah: 200)

Maka, siapapun dari jamaah haji tersebut ketika ia kembali dan menempati perannya masing-masing, maka bagaikan ia meneruskan manasik hajinya dalam hidup kesehariannya. Ia akan berbuat adil, menyayangi sesamanya, bersyukur atas karunia-karunia Allah dan berbagai peran positif lainnya. Selain itu, ia akan menahan diri dari jebakan-jebakan nasfu dan bisikan setan yang terus mengepungnya. Jika ia melakukan hal tersebut, harapannya menjadi tanda bahwa hajinya mabrur, manasik ibadahnya diterima Allah dan menuai hasil baik, bermanfaat untuk sesamanya.

Hal yang serupa juga terjadi pada saat setiap mukmin mendirikan shalat. Maka, spirit kebaikan yang ada di dalam shalat pun seharusnya menginspirasinya untuk terus mengagungkan Allah. Dzat yang ia agungkan dengan takbir belasan atau bahkan puluhan kali dalam shalatnya. Saat ia bertasbih dalam shalat, ia akan senantiasa menyucikan Allah dalam kehidupannya. Saat ia membaca al-Fatihah yang selalu diulang di setiap awal rakaat, ini pertanda totalitas penghambaan yang seharusnya. Ketika ia tutup shalat dengan salam, ini pertanda bahwa ia pun akan segera menjadi duta perdamaian, kedamaian, ketentraman dan kesejahteraan bagi seisi alam. Karena memang demikianlah peran manusia sesungguhnya. Karena Allah mencipta manusia untuk menjadi khalifah Allah di bumi-Nya. Memakmurkan dan menjaga karunia Allah dan berbagai ciptaan-Nya.

Maka apabila kamu telah menyelesaikan shalat(mu), ingatlah Allah di waktu berdiri, di waktu duduk dan di waktu berbaring…” (QS. an-Nisa’: 103)

Usai shalat, seorang mukmin yang sudah menunaikannya pun berdzikir. Ia luangkan waktu sejenak untuk meneruskan munajatnya di luar shalat. Kemudian ia bangkit, menjemput karunia Allah dan sekaligus memproyeksikannya untuk banyak hal yang bermanfaat, sambil terus ia mengagungkan dan mengingat, berdzikir dengan asma Allah.

Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung.” (QS. Al-Jumu’ah: 10)

Maka, jika takbir ini terus dilakukan dengan benar di dalam dan di luar ibadah shalat dan ibadah haji, dan bibir-bibir umat Islam terus basah dengan dzikir kepada Allah, maka kondisi umat Islam akan segera membaik.

Mengapa, perintah dzikir di dalam al-Quran senantiasa diikuti dengan frekuensi yang banyak. Karena jika dzikir itu hanya sedikit, maka berpotensi penyimpangan. Baik penyimpangan awal sebagai bentuk rutinitas yang tak terjiwai, atau penyimpangan karakter munculnya kemunafikan ketika dzikir tak lagi membekas dan menginspirasi kebaikan.

Dengan dzikir yang banyak, dengan senantiasa mengagungkan asma Allah dengan takbir yang benar, maka umat ini –biidznillah- akan kembali besar. Orang yang membesarkan Allah maka ia akan memiliki kebesaran dan kemuliaan yang Allah berikan untuk memimpin peradaban ini. Dan sebaliknya, bila ia mengerdilkan atau mengecilkan Allah, maka Allah akan benar-benar hilang dan kemudian ia menjadi orang yang terlupakan. Allah, mengabaikannya, dunia pun takkan pernah mengapresiasinya.

Pilihan ada di tangan kita untuk terus mengagungkan Allah dan mendengungkan janji-janji kemenangan dari-Nya. Agar spirit dan inspirasi kebaikan terus berdengung dalam diri kita. WalLâhu al-Musta’ân.

Catatan Keberkahan 68

Jakarta, 07.09.2017

SAIFUL BAHRI