DAHSYATNYA MOTIVASI LAFAZH INSYAALLAH DALAM AL-QURAN

DR. Saiful Bahri, M.A

Lafazh (إن شاء الله) [dibaca: in syâAllâh] sangat akrab di telingat para pembaca al-Quran. Al-Quran secara eksplisit menyebutkan lafazh _in syâAllâh_ sebanyak enam kali (Surah Al-Baqarah: 70, Yusuf: 99, al-Kahfi: 69, al-Qashash: 27, ash-Shafat: 102, al-Fath: 27). Esensi lafazh _in syâAllâh_ adalah persoalan etika kepada Allah dengan mengembalikan hak prerogatif sebagai penentu keputusan terhadap apa yang berlaku bagi siapa saja dan apa saja di berbagai alam ciptaan-Nya. Secara ideologis merupakan salah satu indikator keimanan seseorang yang bertawakkal kepada Allah. Artinya, sebagai manusia seseorang sudah mengerahkan segenap daya dan usahanya sebagai ikhtiar, kemudian ia menyusuri ruang takdir yang menjadi ranah ilahiyah berharap segala sesuatu sama seperti harapannya tau lebih baik lagi.

Adapun Al-Quran menyebut lafazh _in syâAllâh_ dalam berbagai tema sebagai berikut:

  1. Diucapkan oleh Bani Israil sebagai alasan untuk menghindari _taklif_ atau perintah Allah untuk menyembelih seekor sapi. (berkonotasi negatif)

قَالُوا ادْعُ لَنَا رَبَّكَ يُبَيِّن لَّنَا مَا هِيَ إِنَّ الْبَقَرَ تَشَابَهَ عَلَيْنَا وَإِنَّا إِن شَاءَ اللَّهُ لَمُهْتَدُونَ

Mereka berkata: “Mohonkanlah kepada Tuhanmu untuk kami agar Dia menerangkan kepada kami bagaimana hakikat sapi betina itu, karena sesungguhnya sapi itu (masih) samar bagi kami dan sesungguhnya kami insya Allah akan mendapat petunjuk (untuk memperoleh sapi itu)“. (Surah al-Baraqah: 70)

Maka sudah seharusnya saat kita berkomitmen untuk menepati suatu janji dengan seseorang maka sudah tepat menyebut lafazh ini. Namun, jika kemudian dijadikan tameng dan alasan untuk tidak datang secara sengaja maka hal tersebut seperti sindiran Allah kepada Bani Israil.

  1. Motivasi Yusuf dalam menenangkan keluarganya yang baru memasuki negeri Mesir

فَلَمَّا دَخَلُوا عَلَىٰ يُوسُفَ آوَىٰ إِلَيْهِ أَبَوَيْهِ وَقَالَ ادْخُلُوا مِصْرَ إِن شَاءَ اللَّهُ آمِنِينَ

Maka tatkala mereka masuk ke (tempat) Yusuf: Yusuf merangkul ibu bapanya dan dia berkata: “Masuklah kamu ke negeri Mesir, insya Allah dalam keadaan aman“. (Surah Yusuf: 99).

Hal ini patut untuk dicontoh dalam memberikan rasa optimis dan motivasi yang baik bagi orang yang berada dalam kondisi atau suasana baru. Jika ia pemegang kebijakan –setidaknya– merupakan jaminan darinya sebagai pimpinan kepada rakyat dan orang yang ditanggungnya. Ucapan ini menjadi gambaran kuatnya keyakinan dan iman Nabi Yusuf kepada Allah.

  1. Optimisme Nabi Musa dalam menuntut ilmu ketika berguru pada Khidr

قَالَ سَتَجِدُنِي إِن شَاءَ اللَّهُ صَابِرًا وَلَا أَعْصِي لَكَ أَمْرًا

Musa berkata: “Insya Allah kamu akan mendapati aku sebagai orang yang sabar, dan aku tidak akan menentangmu dalam sesuatu urusanpun”. (Surah Al-Kahfi: 69).

Perkataan Nabi Musa bertemakan optimisme dan keinginan kuat sebagai penuntut ilmu untuk mengikuti arahan dan kesepakatan dengan gurunya. Ini sekaligus menunjukan etika dan moralitas yang tinggi yang dibarengi dengan kepercayaan yang kuat kepada Allah.

  1. Motivasi Syu’aib (seorang nabi atau orang shalih) yang memberi solusi terhadap masalah Nabi Musa

قَالَ إِنِّي أُرِيدُ أَنْ أُنكِحَكَ إِحْدَى ابْنَتَيَّ هَاتَيْنِ عَلَىٰ أَن تَأْجُرَنِي ثَمَانِيَ حِجَجٍ ۖ فَإِنْ أَتْمَمْتَ عَشْرًا فَمِنْ عِندِكَ ۖ وَمَا أُرِيدُ أَنْ أَشُقَّ عَلَيْكَ ۚ سَتَجِدُنِي إِن شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّالِحِينَ

Berkatalah dia (Syu’aib): “Sesungguhnya aku bermaksud menikahkan kamu dengan salah seorang dari kedua anakku ini, atas dasar bahwa kamu bekerja denganku delapan tahun dan jika kamu cukupkan sepuluh tahun maka itu adalah (suatu kebaikan) dari kamu, maka aku tidak hendak memberati kamu. Dan kamu Insya Allah akan mendapatiku termasuk orang-orang yang baik”. (Surah Al-Qashash: 27).

Ungkapan ini merupakan motivasi diri untuk tetap selalu menjadi orang baik dalam kondisi apapun. Orang baik yang berarti selalu siap membantu dan menjadi jalan keluar bagi masalah yang dihadapi oleh siapapun. Ia menawarkan solusi dan berusaha mengurai kesulitan. Ia menjadi orang tua yang mengayomi. Iniah yang selayaknya dicontoh oleh para pemimpin dan juga rakyatnya untuk terus selalu menjadi solusi dan bersimpati kepada masalah yang dihadapi orang lain. Lafazh ini juga sekaligus doa dan harapan penguatan dari Allah agar terus menjadikan pengucapnya orang yang terus menjadi baik, tak bosan menjadi orang baik dan membersamai orang-orang yang terlilit kesulitan, terjebak kesulitan atau terkurung kelemahan dan ketidakberdayaan.

  1. Ismail memotivasi diri untuk menjadi orang sabar dalam menerima takdir Allah, dikatakan kepada ayahnya, Ibrahim

فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَىٰ فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانظُرْ مَاذَا تَرَىٰ ۚ قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ ۖ سَتَجِدُنِي إِن شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ

Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!” Ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”. (Surah Ash-Shafat: 102).

Lafazh ini merupakan penguatan diri sekaligus penegasan dan permohonan agar dikuatkan oleh Allah. Siapapun orangnya datangnya cobaan dan musibah tak bisa diterka dan ditebak. Saat itu terjadi ia tak berharap bantuan dan penguatan siapapun dari manusia, ia berharap Allah yang pertama. Jika ada manusia yang menguatkan maka itu adalah bonus tambahan.

  1. Motivasi dan kabar gembira akan datangnya kemenangan dari Allah, Fathu Makkah

لَّقَدْ صَدَقَ اللَّهُ رَسُولَهُ الرُّؤْيَا بِالْحَقِّ ۖ لَتَدْخُلُنَّ الْمَسْجِدَ الْحَرَامَ إِن شَاءَ اللَّهُ آمِنِينَ مُحَلِّقِينَ رُءُوسَكُمْ وَمُقَصِّرِينَ لَا تَخَافُونَ ۖ فَعَلِمَ مَا لَمْ تَعْلَمُوا فَجَعَلَ مِن دُونِ ذَٰلِكَ فَتْحًا قَرِيبًا

Sesungguhnya Allah akan membuktikan kepada Rasul-Nya, tentang kebenaran mimpinya dengan sebenarnya (yaitu) bahwa sesungguhnya kamu pasti akan memasuki Masjidil Haram, insya Allah dalam keadaan aman, dengan mencukur rambut kepala dan mengguntingnya, sedang kamu tidak merasa takut. Maka Allah mengetahui apa yang tiada kamu ketahui dan Dia memberikan sebelum itu kemenangan yang dekat. (Surah Al-Fath: 27).

Adapun ungkapan _in syâAllâh_ yang terakhir merupakan kabar gembira yang Allahlah semata menginginkannya terjadi untuk hamba-Nya yang beriman kepada-Nya. Berita kemenangan yang dijanjikan-Nya, yang dinanti-nanti oleh hamba-Nya yang terus tak henti berdoa. Manusia berusaha menebar kebaikan dan melawan kezhaliman. Namun, Allah lah yang karuniakan kemenangan dengan cara dan kuasa-Nya.

 

Al-Quran juga menyebut makna _in syâAllâh_ secara implisit yang terkandung di dua tempat dengan maksud teguran (Al-Kahfi: 23-24) dan celaan atau sindiran buruk (Al-Qalam: 17-18)

Pertama:

Dan jangan sekali-kali kamu mengatakan tentang sesuatu: “Sesungguhnya aku akan mengerjakan ini besok pagi, kecuali (dengan menyebut): “Insya Allah”. Dan ingatlah kepada Tuhanmu jika kamu lupa dan katakanlah: “Mudah-mudahan Tuhanku akan memberiku petunjuk kepada yang lebih dekat kebenarannya dari pada ini”. (Al-Kahfi: 23-24)

Ayat ini merupakan teguran Allah kepada Nabi Muhammad SAW ketika ditanya oleh kuffar Quraisy tentang: Ashabul Kahfi, Raja Dzulkarnain dan ruh. Tiga hal tersebut sesungguhnya adalah ejekan kaumnya yang mendapatkan ide dari ahli kitab yang dijumpai mereka, sekaligus tantangan kepada Nabi Muhammad SAW. Beliau dengan tegas akan menjawab “besok”. Namun, berhari-hari jawaban tak datang dan Jibril tak turun menemui beliau. Allah menegur beliau untuk mengajarkan kepada umatnya bahwa Allah lah yang serba maha, punya kuasa dan memutuskan segala.

Kedua:

Sesungguhnya Kami telah mencobai mereka (musyrikin Mekah) sebagaimana Kami telah mencobai pemilik-pemilik kebun, ketika mereka bersumpah bahwa mereka sungguh-sungguh akanmemetik (hasil)nya di pagi hari, dan mereka tidak mengatakan ‘in syâAllâh’ (al-Qalam: 17-18)

[terjemah di atas adalah penafsiran versi Mujahid yang dinukil al-Qurthubi, disebut juga oleh al-Baghawiy, sedangkan ath-Thabari menyebut pendapat Ikrimah yang mengartikan “mereka tak menyisihkan (hak fakir miskin)”]

Ayat ini menjelaskan adzab dan cobaan yang Allah berikan kepada pemilik kebun di Yaman ketika mereka memastikan panen kebun namun mereka enggan memikirkan nasib orang-orang miskin di sekitar mereka, mereka juga tidak mengucapkan insyaallah. Mereka sombong dan angkuh merencanakan banyak hal dan bersembunyi dari orang-orang lemah dan miskin. Sombong dan kehilangan simpati sosial. Maka Allah turunkan siksa kebun mereka habis dan musnah seketika. Rencana mereka buyar. Keangkuhan mereka remuk berkeping-keping

Dengan kajian ini semoga kita mendapatkan motivasi dan kandungan inspirasi kebaikan dari dahsyatnya pesan dari lafazh _in syâAllâh_ di dalam al-Quran.

 

Jakarta, 29.01.2019

 

🗒🗒🗒🗒 🗒🗒🗒🗒

📷 IG: drsaifulbahri

🐤 Twitter: @L_saba

👤 Fanpage: Halaqah Tadabbur Al-Quran

📹 Youtube: Halaqah Tadabbur Al-Quran

🌐 www.saifulelsaba.wordpress.com

 

Malam Seribu Bulan


Tadabbur Surah al-Qadar

Saiful Bahri

Mukaddimah

Menurut para ulama Surat Al-Qadar merupakan surat makkiyah yang diturunkan setelah surat Abasa([1]). Kebanyakan mushaf yang beredar saat ini, juga dalam buku-buku tafsir, hadits dan buku-buku keislaman lainnya menggunakan al-Qadar sebagai nama surat ini, dikarenakan seringnya disebut dan diulang dalam surat ini; yaitu sebanyak tiga kali dalam lima ayatnya. “lailatulqadr” artinya “’azhamatu al-qadr wa asy-syaraf” (malam yang agung kedudukan dan kemuliaannya), seperti dituturkan oleh para ulama([2]).

Adapun tema besar surat ini adalah pembicaraan turunnya al-Qur’an dari al-lauh al-mahfuzh ke langit dunia pada suatu malam yang sangat dimuliakan Allah. Dia perintahkan para malaikat-Nya untuk membagi-bagi keberkahan kepada hamba-hamba-Nya di bumi sampai terbitnya fajar. Itulah sebuah malam yang nilainya melebihi seribu bulan yang tidak bersentuhan dengan al-Qur’an([3]). Dan konten al-Qur’an yang pertama kali diturunkan kepada Nabi Muhammad saw telah dibicarakan sebelumnya dalam surat al-‘Alaq.

Malam Kemuliaan, Malam Keberkahan

Allah menurunkan al-Qur’an ke bumi pada suatu malam yang dimuliakan-Nya. Sebagaimana termaktub dalam pembukaan surat ini,

إِنَّا أَنزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ

Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Quran) pada malam kemuliaan” (QS. Al-Qadar [97]: 01)

Lailatul qadar yang artinya bermacam-macam, diantaranya sebagaimana disebut di atas yaitu malam yang memiliki kedudukan dan kemuliaan. Maka dari itu perbuatan baik yang dilakukan dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah saat itu, maka akan sangat dimuliakan Allah.

Malam yang nilainya melebihi kebaikan seribu bulan, yang artinya melebihi tiga puluh ribu (30.000) malam lainnya, atau melebihi usia delapan puluh empat (84) tahun lamanya.

Karenanya malam tersebut dimuliakan. Apalagi hamba-hamba-Nya yang memuliakan malam itu dan mengisinya dengan berbagai amal salih, tentu akan dimuliakan melebihi tiga puluh ribu orang biasa yang tak menganggap, lalai dengan malam tersebut atau mengabaikannya.

وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ – لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِّنْ أَلْفِ شَهْرٍ

Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan”(QS. Al-Qadar [97]: 02-03)

Di malam itu Allah jadikan sebuah malam sebagai fasilitas waktu diturunkan-Nya kalam-Nya yang suci diperuntukkan kepada umat manusia melalui kekasih-Nya, Muhammad SAW. Al-Quran yang mulia itu menularkan keberkahan bagi sebuah malam yang akan terus dimuliakan sepanjang masa. Kebaikan yang hanya bisa ditakar oleh Sang Pemiliknya. Melebihi kebaikan seribu bulan atau tiga puluh ribu malam lainnya.

Maka diantara cara terbaik untuk meraih kebaikan dan keberkahan ini adalah dengan berlomba-lomba tingkatkan kualitas interaksi dengan Al-Quran. Dimulai dari menggiatkan bacaannya selama Bulan Ramadan.

Mengapa Allah begitu mengistimewakan malam itu. Malam yang hanya sebagian saja dari waktunya dijadikan Allah sebagai fasilitator turunnya Kalam-kalam suci itu dari lauh mahfuzh-Nya. Bulan yang di dalamnya terdapat satu malam tersebut juga kemudian dimuliakan oleh Allah melebihi bulan-bulan lainnya. Di bulan ini, Allah wajibkan puasa yang menjadi ibadah special antara Dia dan hamba-Nya. Karena hanya Dia saja yang sanggup memberikan balasan dan karena puasa tidak bisa dikalkulasikan dengan angka-angka.

Menariknya, adalah Allah tidak mengatakan bahwa malam lailatul qadar ini lebih baik dari “seribu bulan”. Kalimat seribu bulan memiliki kedalaman makna. Mengapa Allah tak menggantikannya dengan tiga puluh ribu malam yang juga senilai seribu bulan? Atau dengan delapan puluh empat tahun yang juga setara dengan seribu bulan?

Pertama, membandingkan malam lailatul qadar yang personal dengan seribu bulan yang komunal memiliki tujuan khusus untuk meninggikan nilai keistimewaan malam ini secara komunal.

Kedua, malam lailatul qadar yang dirahasiakan tersebut memiliki arti bahwa untuk mengejar kebaikan di malam tersebut tidaklah bisa ditempuh dengan cara-cara instan. Karena kebaikan tidaklah datang dengan tiba-tiba, namun perlu pembiasaan dan bertahap dalam melakukan dan menebarkannya. Dan seandainya hijab dibuka maka kemungkinan besar malam-malam lainnya akan ditinggalkan oleh orang-orang yang malas.

Ketiga, jika menilik dari susunan redaksi al-Quran secara zhahir, seolah-olah malam ini hanya terjadi sekali saja, yaitu ketika Allah menurunkan al-Quran. Baik bagi pendapat yang mengatakan itu terjadi di baitul izzah ataupun yang berpendapat mulai diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW. Namun, menurut jumhur ulama malam lailatul qadar ini terjadi setiap tahun. Mengingat Rasulullah SAW menyuruh umat Islam untuk berburu kebaikan lailatul qadar di bulan Ramadan. Terkhusus di malam-malam terakhir di bulan Ramadan.

Ibunda Aisyah binti Abi Bakar Ash Shiddiq ra. meriwayatkan sabda Rasulullah, ”Carilah lailatul qadr pada hari-hari ganjil di sepuluh hari terakhir pada bulan Ramadhan” (HR. Bukhari Muslim)

Pada sepuluh hari terakhir, Rasulullah Saw. meningkatkan ibadahnya melebihi 20 hari yang telah lewat. Ali bin Abi Thalib ra. meriwayatkan, “Rasulullah Saw. ketika telah memasuki sepuluh hari terakhir mengencangkan sarung dan membangunkan keluarganya” (HR.Ahmad)

Hal-hal di atas mengindikasikan bahwa Allah akan senantiasa menyediakan malam kemuliaan tersebut setiap tahunnya. Dan Allah akan memberikannya kepada hamba-hamba yang dipilih oleh-Nya. Rasulullah SAW yang merupakan manusia pilihan Allah pun berusaha keras untuk meraih malam kemuliaan tersebut. Maka sungguh merugi orang yang telah disediakan kemuliaan tetapi dirinya enggan meraihnya.

Kegigihan Rasulullah Saw. hendak memberi contoh kepada kita betapa siapapun dia, jika tak menggunakan peluang ini akan sangat merugi dan menyesal di kemudian hari. Apakah dia telah memiliki tabungan yang banyak sehingga ia malas menggunakan peluang yang sulit terulang lagi. Karena tak ada jaminan hal ini akan didapatinya di tahun depan. Semuanya serba ghaib. Atau bagi mereka yang hari-hari sebelumnya penuh dengan kekhilafan dan dosa serta kelalaian. Saat inilah kebangkitan hakiki itu meraih kemuliaan yang dibentangkan Allah.

Generasi Terbaik

Abu Musa al Asy’ari meriwayatkan sabda Rasulullah Saw. “Perumpamaan seorang mukmin yang membaca Al Qur’an seperti buah Utrujjah, baunya harum dan rasanya enak. Sedang orang mukmin yang tak suka membaca Al Qur’an bagaikan buah Tamr, tak ada baunya dan rasanya manis….” (HR. Bukhari Muslim)

Perumpaan yang indah. Mukmin yang mencintai al-Quran harumnya sangat wangi dan rasanya sangat enak. Maka sangat wajar malam lailatul qadar sangat mulia. Nilainya secara personal mengalahkan seribu bulan yang komunal yang terdiri dari puluhan ribu malam lainnya. Sebuah perbandingan yang sangat jelas menuntun kita untuk makin dekat dengan al-Quran

Generasi-generasi pertama yang dekat dengan al-Quran memiliki kualitas yang terbukti mengalahkan puluhan ribu orang, berbagai kaum di berbagai dunia dengan penaklukan-penaklukan yang dilakukan pada masa sahabat. Jiwa-jiwa yang terpatri al-Quran tak gentar berhadapan dengan apapun, tak takut melampaui berbagai rintangan apapun, tak menyerah di depan tantangan apapun, memiliki cita-cita yang tak terukur oleh usia mereka. Kekal terukir dalam tinta emas sejarah. Generasi-generasi al-Quran tersebut mampu memberikan sumbangan riil kepada peradaban manusia dan kemudian dikenang oleh orang yang datang setelahnya.

تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِم مِّن كُلِّ أَمْرٍ – سَلَامٌ هِيَ حَتَّىٰ مَطْلَعِ الْفَجْرِ

Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar.” (QS. Al-Qadar [97]: 04-05)

Keistimewaan lainnya malam al-qadar adalah bahwa di malam tersebut para malaikat Allah turun mengawal kalam-Nya yang suci yang diturunkan untuk mengatur segala urusan makhluk-Nya. Malaikat-malaikat tersebut jumlahnya sangat banyak. Menjejali semesta dengan keramaiannya, memenuhi langit dan menutupinya. Serempak turun ke bumi dipimpin oleh Jibril alaihissalam kekasih Allah, pimpinan para malaikat. Mereka membawa kedamaian ke bumi hingga fajar menyingsing. Kedamaian yang hanya Allah saja yang ketahui hakikatnya. Kedamaian yang sanggup meredam segala keburukan malam itu. Kedamaian yang dititahkan untuk mengiringi kemuliaan malam tersebut. Malam yang bersentuhan dengan kalam yang dimuliakan dari Sang Maha Mulia. Fajar baru menyingsing memberkan harapan kebaikan bagi para makhluk-Nya. Khususnya mereka yang memburu kemuliaan di malam tersebut dengan memuliakan al-Quran.

Semua yang bersentuhan dengan al-Quran menjadi yang terbaik. Malaikat pembawanya adalah malaikat terbaik, Jibril alaihissalam. Nabi yang menerimanya, Nabi Muhammad SAW menjadi nabi yang terbaik. Malam yang menjadi sarana waktu turunnya, menjadi malam yang terbaik. Maka, umat yang menerima dan kemudian mengamalkannya, membaca dan mengajarkannya, akan menjadi umat dan manusia terbaik.

 

——————————————————

* Tadabbur surat Al-Qadar (Kemuliaan): [96]

([1]) lihat: Jalaluddin as-Suyuthi, al-Itqân fi ‘Ulûmi al-Qur’ân, hlm.22; Badruddin az-Zarkasyi, al-Burhân fi ‘Ulûmi al-Qur’ân, hlm. 249. Prof. Dr. Jum’ah Ali Abd. Qadir, Ma’âlim Suar al-Qur’ân, Vol.2, hlm.829

([2]) Tesis penulis: Kitab Lawami’ al Burhan wa Qawathi’ al-Bayan fi Ma’ani al-Qur’an Karya Imam al-Ma’iny: Dirasah wa Tahqiq, Vol.2, hlm. 890.

([3]) Muhammad Ali Ash-Shabuni, Ijazu al-Bayan fi Suar al-Qur’an, hlm. 306

Janji Al-Quran dan Janji Balfour


Deklarasi Balfour (2/11/1917) adalah janji pemukiman untuk Bangsa Yahudi di kawasan yang diberi nama Palestina. Menteri Luar Negeri Britania Raya Arthur Balfour menjanjikan kepada Lord Walter Rothschild, seorang taipan dan pemimpin komunitas Yahudi di Eropa. Teks deklarasi tersebut diterbitkan di media sepekan kemudian.

Deklarasi ini terdiri dari 119 kata, disusun oleh 25 pakar Yahudi Zionis dari berbagai negara. Chaim Weismann -Yahudi terkemuka, salah satu inisiator fanatik Zionisme- sampai turun tangan dengan 17 kali menyebrangi Samudera Atlantik.

Deklarasi atau janji Balfour tidaklah muncul tiba-tiba. Sejak perang berkecamuk pada 1914 lobi Yahudi di Eropa yang terwakili oleh Rothschild telah mengondisikan masa depan Palestina, yang nanti menjadi wilayah mandatori Inggris (saat itu Inggris tidak memilikinya, juga bukan wilayah jajahannya). Palestina, peta dengan nama khusus seperti saat ini tidaklah dikenal ketika masih berada di wilayah Ottoman. Karena saat itu terintegrasi ke wilayah yang dikenal dengan sebutan Syam. Lobi Yahudi menembus Kabinet Inggris pada Februari 1917 melalui negosiasi tingkat tinggi, melibatkan orang penting dan pemegang kebijakan di kabinet Inggris dan tokoh-tokoh Zionis. Kemudian pada 19/6 Rothschild dan Weismann, mewakili tokoh zionis mengajukan kerangka detil deklarasi publik.

Balfour menandatangi draft final deklarasi tersebut pada 29/10. Maka, sidang kabinet Britaniya 31/10 menjadi formalitas untuk menjadikannya resmi sebagai sikap negara yang diwakili Departemen Luar negeri dua hari kemudian.

Departemen Luar Negeri 2 November 1917

Tuan Rothschild yang terhormat

Saya sangat senang dalam menyampaikan kepada Anda, atas nama Pemerintahan Sri Baginda, pernyataan simpati terhadap aspirasi Zionis Yahudi yang telah diajukan kepada dan disetujui oleh Kabinet.

“Pemerintahan Sri Baginda memandang positif pendirian di Palestina, tanah air untuk orang Yahudi, dan akan menggunakan usaha terbaik untuk memudahkan tercapainya tujuan ini, karena jelas dipahami bahwa tidak ada suatupun yang boleh dilakukan dan dapat merugikan hak-hak penduduk dan keagamaan dari komunitas-komunitas non-Yahudi yang ada di Palestina, ataupun hak-hak dan status politis yang dimiliki orang Yahudi di negara-negara lainnya”.

Saya sangat berterima kasih jika Anda dapat menyampaikan deklarasi ini untuk diketahui oleh Federasi Zionis.

Salam, Arthur James Balfour

Deklarasi ini hanya berjarak hari dengan meletusnya Revolusi Bolshevik (Revolusi Oktober) yang dilakukan oleh pihak komunis Rusia yang dipimpin Lenin. Setelah merebut kekuasaan di Petrograd, ibukota Rusia kala itu, mereka menggulingkan pemerintahan nasionalis di bawah pimpinan Alexander Kerensky yang memerintah sejak Februari 2017. Pemerintahan ini diangkat setelah Tsar Nikolas II dari Rusia turun takhta karena dianggap tidak kompeten.

Rangkaian revolusi di Rusia ini merupakan dendam diaspora Yahudi di Rusia karena tindakan diskriminatif terhadap mereka sebelumnya. Para aktivis Hibbat Zionlah yang berada di belakangnya.

Itulah sepenggal janji Balfour yang dipegang orang-orang Yahudi Zionis.

******

Sementara al-Quran memberikan janji kemenangan dan tamkin (eksistensi kepemimpinan) kepada umat Islam di berbagai tempat. Kali ini, kita coba belajar dari surah al-Isra’. Menariknya, di dalam surah ini kata al-Quran diulang sebanyak delapan kali, atau terbanyak dalam satu surah di antara pengulangan total sebanyak 50 kali di dalam al-Quran. Yaitu pada ayat-ayat (9, 41, 45, 46, 60, 82, 88, dan 89).

Al-Quran adalah petunjuk, pengingat, pembatas dan obat. Al-Quran juga kekuatan yaitu mukjizat yang tak tertandingi. Sekilas itulah tema-tema pengulangan al-Quran di surah al-Isra’.

Maka, jika umat ini menjadikan al-Quran sebagai solusi untuk mengakhiri kezhaliman yang terjadi di Baitul Maqdis, maka itu menjadi pendekatan yang dahsyat. Kembali menekuri al-Quran. Memasifkan pembelajaran dan pengajarannya. Mempopulerkan tadabburnya. Memotivasi putra-putri umat ini menjadi ulama al-Quran.

Surat al-Isra’ mewakili pesan Allah kepada umat ini untuk menyelesaikan masalah mereka. Kembali kepada al-Quran. Jadikanlah al-Quran benar-benar kekuatan tak tertandingi (mukjizat). Sehingga tak ada lagi perpecahan dan ketidakpedulian.

Setelah ini kita takkan membandingkan kekuatan janji Balfour dan janji al-Quran. Karena keduanya memang sangat berbeda. WalLâhu al-Musta’ân.

 

Catatan Keberkahan 76

London, 03.11.2017

SAIFUL BAHRI

Kembalikan Tradisi Kemenangan

Melanjutkan tagar minal aidin wal faizin yang merupakan orientasi umat Islam di bulan Ramadan, yaitu meraih kemenangan dan kembali pada tradisi-tradisi kebaikan yang ditanamkan oleh Rasulullah saw.

Di antara tradisi yang terpelihara dalam sejarah umat Islam adalah tradisi meraih kemenangan. Kemenangan yang membentangkan bagi mudahnya masyarakat untuk menjalankan tuntunan agama Allah dan memudahkan masyarakat mendapatkan sentuhan rahmat Islam.

Al-Hakim meriwayatkan dalam al-mustadraknya bahwa Nabi Isa a.s diselamatkan oleh Allah dari usaha pembunuhan yang dilakukan kaumnya di bulan yang sama dengan bulan diturunkannya al-Quran. Bulan diturunkannya al-Quran adalah bulan Ramadan sebagaimana kita maklum.

Rasulullah saw dan para sahabat meraih kemenangan signifikan dalam peperangan eksistensi yang menegangkan, Badr al-Kubra pada tanggal 17 Ramadan 2 H. Kemudian penaklukan kota Makkah (Fathu Makkah) terjadi pada tanggal 20 Ramadan 8 H. Berikutnya tradisi kemenangan ini juga terpelihara baik. Pada tanggal 15 Ramadan 138 H/20 Februari 756 M Abdurrahman ad-Dakhil mendirikan pemerintahan di Andalusia serta membangun dasar-dasar kemajuan Islam di Eropa.

Pada tanggal 26 Ramadan 583 H (1188 M), Shalahuddin al-Ayyubiy memenangkan Perang Hittin melawan tentara Salib. Pada tanggal 25 Ramadan 658H (1260 M), Saifuddin Qutz mengeliminasi Tentara Mongol dalam Perang Ain Jalut (dikenal sebagai Ending of Mongol Empire) setelah di masa lalu menjadi mimpi buruk umat Islam, karena menghancurkan Dinasti abbasiyah di Baghdad.

Pada tanggal 4 Ramadan 666 (1268 M), kota Anthakiya yang merupakan salah satu kota penting di Syam kembali ke pangkuan Umat Islam setelah selama 170 tahun dikuasai pasukan salib.

Dalam sejarahnya umat Islam meraih kemenangan dan melanjutkan berbagai tradisi kemenangan terutama diraih di bulan Ramadan. Anehnya, setelah berabad-abad berlalu tradisi tersebut sulit dipertahankan. Fakta pahit tersajikan bahwa kini umat Islam terpinggirkan. Sering menjadi korban stagmatisasi berbagai hal buruk, sejak dari keterbelakangan, ketidakberaturan, terorisme, radikalisme, intoleransi dan sebagainya. Lebih buruk lagi, nyawa umat Islam menjadi sedemikian kurang berharga. Dunia menjadi kurang empati dengan ribuan, puluhan ribu bahkan ratusan ribu nyawa umat Islam yang hilang oleh kezhaliman.

Maka, peran kepemimpinan oleh umat Islam semakin tereduksi. Hal tersebut dikarenakan –salah satunya– umat Islam menjauh dari orbit kebangkitannya, yaitu al-Quran.

Dalam sabdanya Rasulullah saw memperingatkan bahwa rumah yang tidak dibacakan ayat-ayat al-Quran bagaikan kuburan. Maka, lihatlah berapa banyak rumah umat Islam menjelma menjadi kuburan. Mereka makan, tidur dan bercengkerama dengan keluarganya bagaikan dilakukan di dalam kuburan. Keesokan harinya, saat mereka keluar dari rumah, maka bagaikan mereka keluar dari kuburan. Seolah Umat Islam menjelma menjadi mayat-mayat berjalan. Mereka membangun peradaban dari dalam kuburan.

Maka, menyikapi kondisi terkini umat Islam, tiada pilihan kecuali kembali kepada al-Quran. Jika umat Islam hendak meraih kembali kepemimpinan peradaban manusia, itulah solusi yang tepat. Malaikat yang bersentuhan dengan al-Quran, Jibril menjadi malaikat terbaik. Manusia yang menerima al-Quran pertama kali, yaitu Nabi Muhammad SAW, menjadi manusia terbaik bahkan nabi terbaik-Nya, malam yang menjadi sarana turunnya al-Quran menjadi malam terbaik yang pernah ada (lailatul qadar). Bulan Ramadan yang di dalamnya diturunkan al-Quran juga menjelma menjadi bulan terbaik di antara bulan-bulan yang ada. Umat Nabi Muhammad saw, menjadi umat terbaik karena memiliki al-Quran yang menjadi aturan menjalani hidup dari Allah swt.

Kembalikan tradisi kemenangan. Mulailah dari menjadikan rumah sebagai pusat peradaban. Yaitu, dengan cara menjadikan rumah tempat tinggal kita bercahaya dengan al-Quran.

Catatan Keberkahan 58

Sydney, 10.06.2017

SAIFUL BAHRI

Seri I’jaz al-Quran: Dahsyatnya Mukjizat Al-Quran

Al-Quran sebagai mukjizat kerasulan Nabi Muhammad SAW yang abadi. Disaksikan orang-orang sezaman beliau dan terus dibuktikan oleh orang-orang setelahnya sampai hari kiamat. Apa makna dahsyatnya mukjizat Allah ini, apa saja dimensi-dimensi yang memungkinkan bisa dilihat serta beberapa contoh tadabbur ayatnya?

Lebih lanjut silakan baca dan download di >>> Seri I’jaz Al-Quran

مصحف