Khutbah Jumat Isra Mi’raj: Misi Menghadirkan Keberkahan dan Menumpas Kezhaliman

Dr. H. Saiful Bahri, M.A

الحمد لله القائل «سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَىٰ بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ»، أشهد أن لا إله إلا الله، وأشهد أنّ محمّدا رسول الله، اللهم صل وسلم عليه وعلى آله وأصحابه. فيا عباد الله أوصي نفسي وإياكم بتقوى الله فقد فاز المتقون. أما بعد

_Kaum Muslimin, jama’ah shalat jumuah rahimakumullah_

Marilah kita syukuri nikmat Allah SWT yang sangat melimpah. Diberikan kepada kita, baik diminta ataupun tidak, disadari atau tidak, bahkan disyukuri atau tidak. Dalam berbagai kondisi makhluk-Nya, Allah senantiasa anugerahkan nikmat-Nya tanpa memilah-milih. Hanya rasa syukur yang membedakan posisi seorang hamba di sisi-Nya. Namun, hanya sedikit yang mampu melakukannya. Semoga kita termasuk hamba-Nya yang bersyukur. Hamba yang dibersamai Allah dalam segala kondisi. Suka maupun duka. Sedih dan gembira, dalam keadaan sendiri ataupun bersama.

Salah satu karunia dan nikmat Allah yang besar yang dikaruniakan kepada Nabi Muhammad SAW adalah perjalanan Isra dan Mi’raj. Seperti yang kabarkan Allah pada awal surah al-Isra’.

Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al-Masjidil Haram ke Al-Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami.” (Al-Isra’: 01)

Ayat di atas menjelaskan keterkaitan antara Masjid al-Haram dan Masjid al-Aqsha. Dua masjid penting umat Islam. Allah transitkan Nabi Muhammad saw di Masjid al-Aqsha sebelum mi’raj ke langit dan sidratul muntaha, padahal Dia mampu memberangkatkan beliau langsung tanpa transit. Terdapat isyarat penting tentang Masjid al-Aqsha.

Pertama, Allah ingin tunjukkan posisi penting kedua masjid yang disebut dalam ayat ini.

Kedua, Allah mengabarkan keterkaitan semua risalah di bumi-Nya dengan eksistensi bumi yang diberkahi tersebut. Orbit risalah keberkahan itu –di antaranya– berasal dari tempat itu.

Ketiga, Allah hanya akan wariskan bumi yang diberkahi tersebut kepada kaum yang beriman, dari kalangan mana pun, tanpa membedakan jenis kelamin dan etnis mereka.

Penaklukan (futuhât) Masjid Al-Aqsha di era amirul mukminin Umar ra, memberikan nuansa cerita perjuangan yang berkesinambungan. Sekaligus menggambarkan bahwa pembebasan Masjid al-Aqsha dan al-Quds tidak bergantung pada figur personal –saja– tetapi lebih kepada keshalihan kolektif.

_Kaum Muslimin, jama’ah shalat jumuah rahimakumullah_ …

Tak ada sedikit pun yang meragukan keshalihan personal Nabi Muhammad SAW, sebagaimana tak terjadi perbedaan pendapat tentang keshalihan generasi pertama (para shahabat). Tetapi, tentu ada hikmah lain yang dikehendaki Allah, terjadinya pembebasan al-Quds dan dikembalikannya Masjid al-Aqsha ke tangan umat Islam justru terjadi setelah wafatnya Nabi Muhammad SAW.

Di antara hikmah tersebut adalah kesinambungan ruh dan jiwa serta keimanan. Karena, faktanya bahwa Masjid al-Aqsha hanya akan diwariskan kepada orang-orang yang beriman saja. Demikian ditegaskan oleh Allah dari sejak diutusnya para nabi hingga kaum-kaum beriman yang mengikutinya.

Lihatlah Nabi Luth yang disertai pamannya, Nabi Ibrahim ketika Allah selamatkan dari siksa pedih yang akan ditimpakan kaumnya, hujan batu dan dibalikkannya tanah tempat mereka berada.

(وَنَجَّيْنَاهُ وَلُوطًا إِلَى الْأَرْضِ الَّتِي بَارَكْنَا فِيهَا لِلْعَالَمِينَ ﴾ (الأنبياء: 71)

Kata (الذي باركنا فيها) “sebuah negeri yang Kami berkahi” penggunaan yang senada seperti dalam peristiwa isra’. Ini juga disebutkan saat Allah akan menyelamatkan Nabi Musa dari kejaran Firaun dan tentaranya (Surah al-A’raf: 137), atau disebut sebagai tanah suci “al-ardhu al-muqaddasah”(Surah al-Maidah: 21), yaitu Baitul Maqdis atau Palestina saat ini.

Dalam kisah Nabi Sulaiman yang diberi mukjizat angin oleh Allah, juga pernah berkunjung ke negeri yang diberkahi tersebut seperti dituturkan dalam Surah al-Anbiya’ ayat 81.

_Kaum Muslimin, jama’ah shalat jumuah rahimakumullah_

Masjid al-Aqsha adalah tempat sujud tertua kedua di dunia setelah Masjid al-Haram. Adamlah manusia pertama yang injakkan kakinya di sana, seorang nabi muslim yang beriman kepada Allah dan esakan-Nya.

Demikian dilanjutkkan keturunan Nuh, Ibrahim, Luth. Bahkan sampai saat keturunan Ya’qub ke tanah suci ini Masjid al-Aqsha dijaga oleh orang-orang yang beriman. Hingga datang saatnya Masjid al-Aqsha dikuasai orang-orang zhalim yang berbuat kerusakan dan menebar kemungkaran yang disebut oleh al-Quran dengan sebutan “qauman jabbârin”. Musa alaihissalâm dititahkan Allah memasukinya dan mengambil alih kendali kepemimpinan dan kemakmuran di tanah suci tersebut. Sayangnya titah tersebut dibantah oleh kaumnya. Dan Allah menghukum mereka. Bahkan mengharamkannya untuk selama-lamanya (menurut sebagian mufassirîn).

Allah juga kirimkan Dawud ‘alaihissalâm pemuda berusia belasan tahun yang hanya seorang penggembala kambing yang tergabung dalam pasukan yang dipimpin Thalut. Seorang pemuda muslim yang beriman ini bahkan tak dikenal siapa-siapa. Ia hanya seorang prajurit biasa sebagaimana yang lainnya. Tetapi kisahnya berubah setelah Allah mengakhiri rezim Jalut melalui dirinya. Ia menjadi pewaris mulia yang kemudian ditahbiskan menjadi seorang raja.

Allah juga kirim Zakariya dan putranya Yahya di tanah suci ini. Sepasang bapak anak yang nabi ini juga keponakannya Isa al-Masîh Allah kirim ke tanah suci. Tapi justru ketiganya diburu dan menjadi target pembunuhan oleh bangsa Yahudi saat itu. Dua yang pertama Allah takdirkan terbunuh sebagai syahid di tangan para durjana, sementara Isa Allah selamatkan dan angkat ke langit-Nya.

Tanah suci Bait al-Maqdis merupakan tanah yang –hanya– diwariskan oleh Allah hanya kepada siapapun dari hamba-Nya yang beriman, dari mana pun asalnya, tanpa diskriminasi kesukuan dan etnis serta jenis kelamin.

_Kaum Muslimin, jama’ah shalat jumuah rahimakumullah_

Penjagaan, pemeliharaan, jihad mempertahankan kesuciannya dan seterusnya tidaklah hanya menjadi tanggungjawab nabi-nabi, melainkan menjadi tanggung jawab semua orang beriman yang mengesakan Allah dan bersaksi bahwa Muhammad SAW sebagai utusan-Nya di mana pun, berasal dari mana pun, berlatar belakang apapun. Maka permasalahan al-Aqsha dan al-Quds tidaklah tereduksi hanya menjadi masalah bangsa Palestina, tetapi ini menjadi masalah universal seluruh umat Islam, lintas geografi, etnis bahkan lintas generasi, sampai tanah suci tersebut kembali kepada umat Islam. Keesaan Allah benar-benar ditegakkan di sana.

Unjuk rasa yang terjadi akhir-akhir ini di Palestina sejak 30 Maret 2018 yang sudah memakan korban jiwa tak sedikit, bukan sekedar memperjuangkan hak kembali ke tanah air mereka. Bukan sekedar permasalahan tanah. Namun, ini adalah misi menumpas kezhaliman dan mengakhiri penjajahan yang secara terang benderang dipertontonkan, tapi dunia seolah tak berdaya menghadapinya. Kita harus mendukung Bangsa Palestina memperoleh hak kemerdekaannya sekaligus menjaga Masjid Suci umat Islam. Menghadirkan kembali cinta dan kasih sayang di bumi yang diberkahi, jauh dari penindasan dan kezhaliman yang semena-mena.

Kita harus belajar inspirasi kemenangan dari Khalifah Umar bin Khattab saat memasuki kota suci dengan kepala tegak, namun tanpa keangkuhan. Penuh tawadhu dan kesederhanaan. Mengundang decak kagum dan penghormatan. Sarat dengan kesantunan dan toleransi, penuh penghayatan jiwa kemanusiaan sekaligus menjadi penjaganya dari segala bentuk kezhaliman, apapun namanya, siapapun pelakunya .

Simaklah apa yang dilakukan Umar saat memasuki kota al-Quds.  Umar bin Khattab minta ditunjukkan oleh Pendeta Sophronius letak Masjid al-Aqsha, tempat yang dijadikan ahlul kitab beribadah. Setelah memasukinya ia bertakbir “Inikah masjid yang diberitahu oleh Rasulullah SAW?”, gumamnya. Waktu itu Masjid al-Aqsha  hanya merupakan pelataran dan tanah lapang yang luas. Sentrumnya berupa sebuah batu mulia yang menjadi pijakan Nabi Muhammad SAW saat hendak mi’raj, yang dijadikan kiblat shalat Nabi Musa dan kaumnya Bani Israil.

Beliau ingin melanjutkan tradisi sentralisasi masjid. Masjid dijadikan sebagai pusat peradaban. Dari masjid semuanya beliau ingin memulai. Maka di masjid itulah titik temu semua sendi peradaban Islam. Politik, ekonomi, kehidupan sosial, hukum, bahkan militer semua bermula dari tempat sujud. Ruh inilah yang saat ini digugat oleh kaum sekuler liberal yang ingin melunturkan ruh Islam agar jauh dari fisik umat Islam. Tak heran bila mereka mendengungkan agar Islam dan masjid sebagai ikonnya dijauhkan dari berbagai aspek kehidupan manusia. Seolah ingin dikatakan bahwa masjid hanya menjadi tempat shalat dan membaca al-Quran saja.

Saat Umar memasuki bait al-Maqdis dari al-Jabiyah untuk menandatangi piagam perdamaian dengan penduduk kota, Pendeta Sophronius mempersilakan dan memohon kepada beliau melakukan shalat di Gereja al-Qiyamah. Tetapi Umar menolaknya. Beliau mengatakan , “Jika aku shalat di dalamnya, aku khawatir orang-orang setelahku akan mengatakan ini mushalla Umar, kemudian mereka akan berusaha membangun masjid di tempat ini”. Itulah toleransi sesungguhnya yang diajarkan Umar. Santun dan argumentatif.

جعلنا الله وإيّاكم الذين يستمعون القول فيتبعون أحسنه. بارك الله لكم في القرآن الكريم ونفعنا وإياكم من الآيات والذكر الحكيم. استغفر الله العظيم لي ولكم ولسائر المؤمنين. استغفروه إنه هو الغفور الرحيم

Menyambut Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad saw.
Jakarta, 11.04.2018

Iklan

Persepsi Kemenangan

Sebagian orang mempersepsikan kemenangan dengan kekuasaan yang absolut. Sebagian lagi mempersepsikan kemenangan dengan hegemoni berupa keinginan yang bisa dipaksakan kepada pihak lain. Sebagian lagi mempersepsikan kemenangan dengan mengalahkan, menghinakan serta menindas orang lain. Sebagian lain mempersepsikan kemenangan dengan kekayaan tanpa batas, sehingga –menurutnya– ia sanggup melakukan apa saja dengan kekayaannya.

Sedangkan al-Quran mempersepsikan kemenangan yang diterjemahkan secara literal sebagai “al-fauz” dengan beberapa hal. Ada kalanya kata al-fauz diberi keterangan dengan “al-mubîn” yang berarti kemenangan yang jelas dan nyata. Di lain kesempatan disebutkan dengan keterangan “al-kabîr” yang bermakna kemenangan yang besar. Adapun sifat yang paling banyak disebut di dalam al-Quran adalah kata “al-azhim” yang berarti kemenangan yang agung, menandakan sebuah karunia yang luar biasa.

  1. Kata al-fauz al-mubîn disebut di dalam di dua tempat yaitu di QS. al An’âm: 16 dan al-Jâtsiyah: 30. Dalam dua kesempatan tersebut Allah menjelaskan kemenangan yang nyata dan jelas adalah ketika seseorang diselamatkan dari siksa dan adzab Allah, dan kemudian dimasukkan ke dalam golongan hamba yang diberi rahmat oleh-Nya.
  2. Kata al-fauz al-kabîr disebut hanya sekali yaitu di surah al-Burûj: 11 yang menjelaskan rahmat kemenangan Allah yaitu ketika seseorang diberikan surga Allah yang mengalir di bawahnya berbagai jenis sungai yang jernih dan indah.
  3. Penyebutan sifat terbanyak tentang al-fauz terdapat di beberapa tempat, di antaranya: QS. An-Nisâ’: 12, QS. Al-Mâ’idah: 119, QS. At-Taubah: 72, 89 dan 100, QS. Al-Hadid: 12 dan QS. At-Taghabun: 9). Bahwa seseorang akan benar-benar dikaruniai kemenangan yang hakiki dan kekal adalah pada saat ia berada di dalam surga Allah dan tinggal di sana selama-lamanya, meraih keabadian dalam kebahagiaan. Biasanya al-Quran menggambarkannya dengan kata “khâlidîna fîhâ

Demikianlah, sekilas tentang persepsi kemenangan di dalam al-Quran. Sangat sederhana dan lugas serta ringkas. Hanya saja, untuk meraihnya diperlukan upaya yang tak ringan, serta tak bisa dikerjakan sendirian. Karena harus terlebih dulu menyingkirkan kezhaliman terbesar, yaitu syirik serta aliansi kezhaliman lainnya. Pendustaan terhadap ayat-ayat Allah, kesombongan dan keangkuhan. Termasuk di antaranya kezhaliman yang dilakukan di antara sesama manusia. Karena kezhaliman bukan sekedar menjadi musuh kemanusiaan, tetapi sudah diproklamirkan sebagai musuh Allah. Dalam salah satu hadits qudsi-Nya, Allah berfirman, “Sesungguhnya Aku telah mengharamkan kezhaliman atas diri-Ku…” (al-Hadis).

Maka, jika kita menemukan kezhaliman di bumi Allah, selaiknya kita berusaha menyingkirkannya. Jika tak bisa melakukan perlawanan, maka setidaknya tidak memberikan dukungan kepadanya untuk berkembang, hingga kemudian menindas kemanusiaan. Jika pun ini tak bisa dilakukan, maka menjauhlah dari sumber kezhaliman. Itulah yang akan menyelamatkan dari hancurnya peradaban manusia.

Salah satu bentuk kezhaliman yang nyata di zaman modern adalah penjajahan terhadap kedaulatan suatu bangsa, seperti yang dialami oleh Bangsa Palestina. Maka, mengembalikan kemerdekaan mereka, menjadi tugas kemanusiaan. Jika kita adalah bangsa Indonesia, maka itu adalah menjadi amanah konstitusi. Bila, kita adalah umat Islam, maka itu menjadi amanah menjaga Masjid Suci al-Aqsha. Dan menjadi apapun, semua akan bermuara satu: akhiri kezhaliman yang terjadi di Palestina, terutama di al-Quds dan Jalur Gaza. Sebagai apa dan siapapun, maka penjajahan dan kezhaliman di atas dunia ini harus dilenyapkan, karena bertentangan dengan nasionalisme dan jiwa kebangsaan, bertentangan dengan kemanusiaan, serta nilai-nilai ketuhanan. WalLâhu al-Musta’ân.

 

Catatan Keberkahan 82

Jakarta,23.12.2017

SAIFUL BAHRI

TANPA NEGARA, TANPA TENTARA

الأقصىTANPA NEGARA, TANPA TENTARA

Saiful Bahri

Nabi Muhammad SAW menjadi orang pertama di zamannya yang shalat di Masjid al-Aqsha. Mewakili umatnya yang masih sangat sedikit jumlahnya. Di saat beliau dirundung duka. Âmul Huzni, sejarah menamakannya demikian.

Su’ud Abu Mahfuzh, Wakil Ketua Umum Aliansi Internasional Pembelaan Al-Quds dan Palestina memulai ceramah subuhnya pagi ini.

Nabi Muhammad SAW diperjalankan Allah, meninggalkan tahun kesedihannya. Ia ke Bait al-Maqdis tanpa pengawalan tentara, karena ia tak memiliki tentara. Bahkan ia adalah seorang pejuang tanpa negara. Tapi Allah berikan nikmat kepadanya untuk menginjakkan kaki di bumi-Nya, menyentuhkan keningnya di tanah suci-Nya. Mengimami para utusan-Nya.

Dan orang pertama yang melakukan shalat shubuh di Masjid al-Aqsha dari kaum dan umatnya adalah Umar bin Khattab. Sebelumnya, proses negosiasi penaklukan Jerusalem berjalan alot. Karena Pendeta Sophronius menolak menyerahkan kunci gerbang kota Jerusalem kepada Panglima tertinggi umat Islam, Abu Ubaidah bin Jarrah. Kedatangan Umar lah yang ditunggu sang pendeta yang juga pemegang kebijakan tertingi di Jerusalem.

Dan Bilal adalah orang pertama yang mengumandangkan adzan di Masjid al-Aqsha. Sebelumnya, ia memilih pensiun menjadi muadzin, sepeninggal Nabi Muhammad SAW. Bahkan beliau juga terhalang mengikuti penaklukan-penaklukan dan peperangan di zaman Abu Bakar . Namun, khalifah Umar mengizinkannya ikut ke Bait al-Maqdis bersama kafilah muslimin sebelumnya yang dipimpin Abu Ubaidah dan panglima sebelumnya, Khalid bin Walid.

Jika Nabi Muhammad SAW adalah representasi kelemahan dan ketidakberdayaan yang didukung kekuatan yang serba maha, diizinkan Allah untuk melakukan shalat di Masjid al-Aqsha. Dan Umar adalah representasi izzah, yang mendapatkan cahaya hidayah Allah dari hasil kerja dakwah Sang Nabi mulia, dengan kekuatan akhlak dan kepribadiannya menjadi penentu dan kunci penyerahan kunci kota. Padahal sebelumnya bala tentaranya dengan telak mengalahkan segala kekuatan militer dan melakukan pengepungan berhari-hari lamanya.

Dan Bilal adalah representasi kerinduan dan dahaga bersujud bersama junjungannya, panutannya yang ingin mendengarkan suara merdunya mengumandangkan panggilan Allah tun menunaikan shalat. Kerinduan yang menyeruak bersama para mujahidin yang rela mengorbankan apa saja.

Maka, kelemahan dan ketidakberdayaan anak-anak dan orang tua di Palestina dan khususnya al-Quds berbalik menjadi kekuatan yang ditakuti tentara Israel. Nyatanya anak-anak tanpa negara dan tentara tersebut berani melakukan perlawanan. Jika dulu bersenjatakan batu, kini bersenjatakan pisau dapur. Orang-orang tua yang terlihat renta dan ringkih menjadi kuat dan tak takut berhadapan dengan siapa saja. Bagi mereka, usia adalah bonus pemberian Allah untuk berjuang di akhir hidupnya. Mereka lupa bahwa pejuang Libiya yang melawan dan melakukan perlawanan terhadap penjajahan Italia adalah seorang Umar yang sudah renta.

Maka, saksikanlah pagi ini. Fajar yang bertutur mengumpulkan keinginan kita yang satu. Shalat bersama di Masjid al-Aqsha. Membebaskan Masjid al-Aqsha dari segala bentuk kezhaliman dan penjajahan.

Lihatlah para delegasi dan peserta konferensi ini. Di berbagai pertemuan sebelumnya negara Irak mengirimkan delegasi besar namun berikutnya mereka mendapatkan cobaan sehingga tak mampu lagi mengirimkan delegasi kecuali sedikit. Demikian halnya negara Mesir dan lainnya. Jumlah yang silih berganti. Delegasi yang berbeda-beda. Namun, yang menyatukan mereka. Sebuah keinginan yang tak mengenal bahasa. Tak membedakan latar belakang dan berbagai perbedaan lainnya. Keinginan membebaskan al-Aqsha dari kezhaliman penjajahan dan pendudukan.

Masjid Al-Aqsha adalah jantung kehidupan dan denyut nadi umat Islam. Jika dokter memeriksa pasien yang sakit parah atau sedang koma atau sedang dalam kondisi sekarat. Dokter memeriksa jantungnya. Jika terdengar denyut jantungnya, masih ada pertanda kehidupan dari jantung, maka masih ada harapan melakukan pertolongan lainnya. Tapi jika tak lagi ada denyut jantung itu pertanda kehidupannya telah berakhir.

Jika Libya, Suriah, Iraq, Yaman hari-hari ini sangat terluka. Itu adalah badan besar umat Islam. Tapi perhatikan jika yang terluka adalah Al-Quds dan Masjid al-Aqsha maka denyut nadi dan jantung kehidupan umat Islam berada dalam bahaya.

Maka Anda yang berkumpul di tempat ini sebarkan dan sampaikan terus dan jangan pernah berhenti kepada siapa saja bahwa Masjid al-Aqsha menunggu pembelaan Anda semua. Jika umat Islam masih mau memikirkan dan menghidupkan harapan pembebasan maka luka-luka besar di sekitarnya akan bisa disembuhkan biiidznillah. Tapi jika umat Islam mulai melupakannya maka selakipun tak terjadi apa-apa di sekitar Masjid al-Aqsha maka sesungguhnya Umat Islam telah mati dan kehilangan jantungnya.

Zionisme hanya menjadikan Negara Israel sebuah sarana saja. Tanpa Jerusalem, seandainya mereka menguasai 90% wilayah Palestina maka itu menjadi hampa tanpa makna. Dan Jerusalem tanpa Masjdi al-Aqsha juga tanpa makna. Karena kliam dan mitos Solomon Temple lah yang sesungguhnya mereka jadikan jantung pembenaran segala tindakan kezhaliman mereka. Gerakan internasional zionisme telah mengumpulkan orang-orang terbaik mereka dari 112 negara untuk mengawal back up ideologis ini.

Serangan udara Rusia kemarin ke Suriah yang diklaim untuk menargetkan IS*S tetapi faktanya menyasar sebuah desa. Puluhan korban jiwa dan luka-luka semuanya dari kalangan sipil, anak-anak dan wanita. Satu-satunya rumah sakit di sebuah desa di pinggiran selatan Aleppo hancur berantakan tak berfungsi. Bersamaan dengan pergerakan darat pasukan loyalis rezim Asad. Di saat yang bersamaan, serangan udara pasukan multinasioal ke utara Baghdad yang juga konon menyasar IS*S ternyata korban penyerangan ini adalah rakyat sipil yang tak tahu apa-apa.

Tak ada permintaan maaf dan kerendahan hati dari para pemegang kebijakan penyerangan tersebut. Tak ada kecaman dan pernyataan pedas para pejuang HAM. Diam, membiarkan darah dan nyawa yang menjadi korban.

Tapi semangat perlawanan intifadhah al-Quds menjadi darah segar yang mengembalikan semangat dari suasana kelesuan serta berita-berita duka tersebut. Memasuki pekan ketiga yang terus memanas dan banyak korban jiwa berjatuhan. Perlawanan yang diberitakan negatif, dicitrakan sebagai kebrutalan dan tindakan nekat. Menutup kebrutalan yang sesungguhnya. Menghalangi tindakan tak manusiawi yang sebenarnya yang berlangsung bertahun-tahun lamanya, dengan pembiaran dan tanpa dukungan yang berani. Dunia internasional tak berkutik menghentikannya.

Jika Nabi Muhammad SAW, Umar dan Bilal adalah bagian sejarah masjid mulia ini, maka jadikanlah diri Anda bagian sejarah yang akan membela pembebasannya kembali. Sekalipun –mungkin- cita-cita dan keinginan shalat bersama di sana akan tertunda sampai suatu masa yang hanya Allah saja yang mengetahui.

 

Oleh-oleh kuliah shubuh, Kaya Ramada Hotel,

Istanbul, 17.10.2015

TITIK NOL

TITIK NOL

Saiful Bahri

Pagi ini, Jumat 16 Oktober 2015 sepertinya terlihat biasa sebagaimana pagi hari lainnya. Namun, tidak bagi para peserta Forum Internasional ke-7 bagi para aktivis dari berbagai kalangan dan profesi dari berbagai penjuru dunia yang dipertemukan oleh sebuah visi mendukung perjuangan bangsa Palestina meraih kedaulatannya.

Pagi itu di sebuah ruangan yang tak terlalu besar di samping Ballroom Kaya Ramada Hotel, Istanbul, yang oleh panitia disulap menjadi masjid, dipenuhi sesak oleh para peserta dari berbagai negara. Sebagian bahkan memadati ruangan luar karena tempat utama tak cukup menampung para jamaah shalat shubuh yang sangat membludak.

Usai Shalat Shubuh, Ceramah singkat disampaikan oleh Dr. Jamal Amr, seorang peneliti Baitul Maqdis yang juga dosen Universitas Berzeth dan tinggal di Jerusalem.

Beliau memulai dari sebuah perenungan sederhana. Dari sebuah suasana emosional yang dirasakannya saat melaksanakan secara berjamaah shalat shubuh pada pagi hari ini. Jamaah shalat yang saling merapatkan shaff demi member ruang para saudaranya untuk turut serta dalam shalat ini.

Beliau juga mengingatkan bahwa suasana seperti ini juga bisa didapatkan di berbagai tempat di dunia. Semua umat Islam di berbagai tempat mendapatkan kesempatan untuk bisa melakukan shalat berjamaah dan setelah itu berkumpul bersama, kecuali di Masjid al-Aqsha. Berapa banyak dari kaum muslimin hanya bisa melaksanakan shalat di lorong-lorong pintu masuk area Masjid al-Aqsha. Mereka dihadang oleh penjagaan ketat tentara Israel yang menutup pintu masuk di sebagian besar pintu-pintu kompleks Masjid al-Aqsha. “Kita saling merapatkan shaff pagi ini, bagaikan mereka yang berdesakan rapi di pintu Asbath. Sebagian pemuda kukuh bertahan shalat di depan pintu Ghawanimah. Sebagian lagi memadati lorong depan pintu Silsilah dan harus berurusan dengan tongkat-tongkat pentungan tentara Israel dan dibawah todongan senjata-senjata mutakhir mereka.

Para peserta Forum Aktivis Pembela Palestina ini diberikan nikmat Allah yang belum dirasakan bahkan oleh mereka yang berasal dan bermukim di kota Jerusalem. Sebagian besar bahkan hanya bisa menyaksikan tempat transit Isra’ Rasul SAW tersebut di balik pagar-pagar manusia menyeramkan yang kejam dan zhalim. Siapa yang lebih zhalim dari orang yang menghalangi umat ini untuk melaksanakan shalat di masjid-masjid Allah.

Pagi ini usai adzan shubuh ada jeda waktu yang lumayan sebelum dikumandangkan iqamah. Meski demikian masih ada beberapa jamaah yang masbûq. Jika diundur sedikit lagi maka shaff shalat pun akan bertambah banyak. Demikian halnya, -mungkin- tertundanya pembebasan Masjid al-Aqsha adalah takdir Allah untuk memperbanyak lagi shaff-shaff yang akan bergabung dalam kafilah perjuangan ini. Saat gendering perlawanan ditabuh bagaikan seruang perjuangan untuk membebaskan al-Quds dan Masjid al-Aqsha maka takkan ada lagi yang sanggup menahan gelombangnya yang sangat besar dan kuat.

Bagaimana tidak. Mereka dan perjuangan ini terisnpirasi oleh para pejuang yang tangguh. Pejuang yang memulai segala perjuangannya dari titik-titik nol. Dari sebuah titik ketidakberdayaan.

Para pejuang itu adalah para perempuan, tua atau muda yang tak lagi takut melawan tentara Israel yang bersenjara lengkap. Di saat para perempuan umumnya memanjakan perawatan fisiknya.

Anak-anak kecil yang terlihat seolah tak berdaya, mereka gagah berani melawan tentara itu meski hanya dengan batu-batu kecil yang sepertinya tak berpengaruh banyak tapi ternyata menciutkan nyali para tentara yang menghalangi mereka.

Para pejuang yang pernah terjebak berhari-hari di bawah tanah tanpa makan dan minum kecuali beberapa butir kurma dan air yang sangat terbatas.

Bangsa Palestina yang tertekan dengan segudang masalah kezhaliman. Tapi mereka tegar dan terus melawan. Perlawanan dari titik nol yang justru menjadi kekuatan. Titik nol yang berarti meniadakan keberdayaan mereka. Titik nol yang berarti tak punya harapan apa-apa pada manusia. Titik nol berarti seolah kehilangan dunia normalnya. Titik nol berarti sangat nadir dan bukan seperti manusia umumnya. Saat titik nol tersebut justru menjadi kuat karena mereka kemudian melesat naik ke langit mengharap pertolongan dari Sang Maha Kuat, Dzat yang memiliki segala. Dzat yang serba maha yang sanggup mengembalikan kebahagiaan dan kepuasan shalat bersama di pelataran Masjid al-Aqsha.

Dan semua ini adalah masalah waktu. Menunggu saat yang tepat saja. Karena janji Allah tak pernah meleset dan tak pernah dusta. Jamaah shalat shubuh ini lah buktinya. Yang duduk dan shalat adalah mereka dari berbagai penjuru dunia. Masing-masing memiliki benderanya tapi semuanya disatukan dengan sebuah bendera dan keinginan untuk membebaskan Masjid al-Aqsha. Menyertai keberkahan yang diraih Rasulullah di bumi Isra’ Bait al-Maqdis.

Istanbul, 16.10.2015

30 menit menjelang dilaksanakannya opening ceremony Forum Aktivis Pembela al-Quds dan Palestina ke-7 di Istanbul. Sebelumnya sudah dilaksanakan pertemuan para anggota parlemen dunia Islam untuk mendeklarasikan dukungan pembelaan Al-Quds dan Palestina yang dihadiri oleh mantan Sekjen OKI Ekmeleddin İhsanoğlu dan Ketua Aliansi Internasional Pembelaan al-Quds dan Palestina, Su’ud Abu Mahfuzh.