Relativitas Waktu

Karunia waktu adalah salah satu nikmat yang sering dilalaikan manusia. Padahal Allah tak sedikit bersumpah dengan nama dan satuan waktu, juga menyebutnya dalam al-Quran. Waktu-waktu yang disebut seperti malam, siang, pagi dan petang adalah pertanda keniscayaan manusia dibatasi oleh waktu. Sementara satuan waktu, seperti tujuh hari atau malam, sepuluh hari, tiga puluh atau empat puluh hari, bilangan bulan, tahun dan seterusnya adalah pertanda Allah memperhatikan nominal-nominal tersebut, namun tak berarti mengkultuskan. Karena hakikat waktu bukanlah pada bilangan atau angka, namun pada apa yang terjadi atau diperbuat manusia.

Nilai manusia tak selalu diukur dari usia. Seseorang berusia 40 tahun belum tentu lebih baik dari yang berusia 30 tahun. Jika ukurannya angka, maka umat Nabi Muhammad SAW kalah kualitas dengan umat Nabi Nuh ‘alaihissalam. Demikian halnya kuantitas amal, tidak pula menjadi barometer nilai manusia. Karena yang dinilai Allah adalah kualitasnya.

Sebaliknya, jika yang menjadi patokan adalah standar modern bisa jadi Nabi Nuh dinilai sebagai nabi yang gagal karena dengan waktu panjang hanya sedikit saja pengikutnya. (baca: Angka-Angka dan Batas Kemampuan)

Mari belajar dari kemuliaan yang Allah sematkan lailatul qadar. Malam itu nominalnya satu, tapi nilainya mengalahkan seribu bulan. Tingkat kelebihan dan keistimewaannya juga limitless (tanpa batas). Hanya Allah saja yang mengetahui kelebihan kuailtas tersebut.

Di zaman sekarang diperlukan pengetahuan yang baik tentang efektivitas waktu dan kegiatan. Banjir informasi di era digital menjadikan internet menjadi kebutuhan primer manusia modern. Berinteraksi dengan mesin menjadi keniscayaan. Jika tak punya modal pemahaman baik tentang literasi media, maka ia akan ditenggelamkan oleh teknologi modern.

Sebagian orang waktunya habis untuk mengumpulkan materi demi menghidupi diri dan keluarganya. Sebagian muda habis waktu di depan gadgetnya. Sebagian lagi dihabiskan dengan permainan-permainan yang melenakan. Sebagian yang memahami, bahwa pertempuran zaman modern berbentuk proxy (jarak jauh) dan menggunakan media, menjadikannya meladeni semua isi media; terutama media sosial. Sehingga ia kehabisan waktu dan tidak fokus.

Orang-orang yang cerdas adalah yang mampu fokus. Nabi Muhammad SAW mengajarkan melatih kecerdasan sebagai “al-kayyis” yaitu yang mengetahui dan menyiapkan kehidupan setelah mati. Hanya sedikit orang yang membayangkan dan menyiapkan kehidupan setelah matinya. Sebagian besar manusia berkhayal tentang kehidupan dunianya dan melupakan kehidupan setelahnya. Andai semua khayalannya bisa terwujud, maka kebanyakan manusia hanya berkhayal hidup di dunia saja. Itulah jebakan hidup matrealisme dan hedonisme.

Jika dzikir istighfar ada waktu-waktu istimewa, dan membaca al-Quran juga demikian, maka perlu menyusun strategi agar usia kita yang tak banyak ini lebih bermanfaat. Agar waktu satu hari kita bisa bernilai lebih baik dari puluhan, ratusan atau ribuan hari manusia lainnya, maka kitalah yang perlu fokus dan menyusun prioritasnya. Kita perlu mempartisi waktu kita. Namun, membagi bukan untuk memisah-misahkan satu dengan lainnya. Karena pada hakikatnya, hidup dan mati seseorang bisa dipersembahkan semuanya untuk beribadah kepadaAllah SWT. Demikian halnya saat kita menyaksikan kezhaliman terjadi di mana-mana. Maka perlu mulai dan fokus dari sumbernya. Dari kezhaliman global, tapi aksinya dimulai dari individu dan keluarga dekat.

Keterbatasan waktu kita ini juga sebaiknya tak membuat diri ini terpancing untuk banyak berkomentar dan terlalu memikirkan komentar orang di sekitar kita. Berbuatlah, maka Allah akan menyaksikannya. Berbuatlah kebaikan, dan jangan remehkan sekecil apapun. Jadikan waktu ini penuh berkah, dengan senyuman dan tebarkan optimisme. Bisa jadi, hal tersebutlah yang akan meruntuhkan kezhaliman yang makin merajalela dan ditakuti oleh orang yang lemah imannya. WalLâhu al-Musta’ân.

 

Catatan Keberkahan 83

Jakarta, 08.01.2018

SAIFUL BAHRI

Iklan

Persepsi Kemenangan

Sebagian orang mempersepsikan kemenangan dengan kekuasaan yang absolut. Sebagian lagi mempersepsikan kemenangan dengan hegemoni berupa keinginan yang bisa dipaksakan kepada pihak lain. Sebagian lagi mempersepsikan kemenangan dengan mengalahkan, menghinakan serta menindas orang lain. Sebagian lain mempersepsikan kemenangan dengan kekayaan tanpa batas, sehingga –menurutnya– ia sanggup melakukan apa saja dengan kekayaannya.

Sedangkan al-Quran mempersepsikan kemenangan yang diterjemahkan secara literal sebagai “al-fauz” dengan beberapa hal. Ada kalanya kata al-fauz diberi keterangan dengan “al-mubîn” yang berarti kemenangan yang jelas dan nyata. Di lain kesempatan disebutkan dengan keterangan “al-kabîr” yang bermakna kemenangan yang besar. Adapun sifat yang paling banyak disebut di dalam al-Quran adalah kata “al-azhim” yang berarti kemenangan yang agung, menandakan sebuah karunia yang luar biasa.

  1. Kata al-fauz al-mubîn disebut di dalam di dua tempat yaitu di QS. al An’âm: 16 dan al-Jâtsiyah: 30. Dalam dua kesempatan tersebut Allah menjelaskan kemenangan yang nyata dan jelas adalah ketika seseorang diselamatkan dari siksa dan adzab Allah, dan kemudian dimasukkan ke dalam golongan hamba yang diberi rahmat oleh-Nya.
  2. Kata al-fauz al-kabîr disebut hanya sekali yaitu di surah al-Burûj: 11 yang menjelaskan rahmat kemenangan Allah yaitu ketika seseorang diberikan surga Allah yang mengalir di bawahnya berbagai jenis sungai yang jernih dan indah.
  3. Penyebutan sifat terbanyak tentang al-fauz terdapat di beberapa tempat, di antaranya: QS. An-Nisâ’: 12, QS. Al-Mâ’idah: 119, QS. At-Taubah: 72, 89 dan 100, QS. Al-Hadid: 12 dan QS. At-Taghabun: 9). Bahwa seseorang akan benar-benar dikaruniai kemenangan yang hakiki dan kekal adalah pada saat ia berada di dalam surga Allah dan tinggal di sana selama-lamanya, meraih keabadian dalam kebahagiaan. Biasanya al-Quran menggambarkannya dengan kata “khâlidîna fîhâ

Demikianlah, sekilas tentang persepsi kemenangan di dalam al-Quran. Sangat sederhana dan lugas serta ringkas. Hanya saja, untuk meraihnya diperlukan upaya yang tak ringan, serta tak bisa dikerjakan sendirian. Karena harus terlebih dulu menyingkirkan kezhaliman terbesar, yaitu syirik serta aliansi kezhaliman lainnya. Pendustaan terhadap ayat-ayat Allah, kesombongan dan keangkuhan. Termasuk di antaranya kezhaliman yang dilakukan di antara sesama manusia. Karena kezhaliman bukan sekedar menjadi musuh kemanusiaan, tetapi sudah diproklamirkan sebagai musuh Allah. Dalam salah satu hadits qudsi-Nya, Allah berfirman, “Sesungguhnya Aku telah mengharamkan kezhaliman atas diri-Ku…” (al-Hadis).

Maka, jika kita menemukan kezhaliman di bumi Allah, selaiknya kita berusaha menyingkirkannya. Jika tak bisa melakukan perlawanan, maka setidaknya tidak memberikan dukungan kepadanya untuk berkembang, hingga kemudian menindas kemanusiaan. Jika pun ini tak bisa dilakukan, maka menjauhlah dari sumber kezhaliman. Itulah yang akan menyelamatkan dari hancurnya peradaban manusia.

Salah satu bentuk kezhaliman yang nyata di zaman modern adalah penjajahan terhadap kedaulatan suatu bangsa, seperti yang dialami oleh Bangsa Palestina. Maka, mengembalikan kemerdekaan mereka, menjadi tugas kemanusiaan. Jika kita adalah bangsa Indonesia, maka itu adalah menjadi amanah konstitusi. Bila, kita adalah umat Islam, maka itu menjadi amanah menjaga Masjid Suci al-Aqsha. Dan menjadi apapun, semua akan bermuara satu: akhiri kezhaliman yang terjadi di Palestina, terutama di al-Quds dan Jalur Gaza. Sebagai apa dan siapapun, maka penjajahan dan kezhaliman di atas dunia ini harus dilenyapkan, karena bertentangan dengan nasionalisme dan jiwa kebangsaan, bertentangan dengan kemanusiaan, serta nilai-nilai ketuhanan. WalLâhu al-Musta’ân.

 

Catatan Keberkahan 82

Jakarta,23.12.2017

SAIFUL BAHRI

Kartu Biru atau Kartu Merah

Sepanjang tahun 1967-1994 Pemerintah Israel telah mencabut 12 ribu lebih kartu identitas penduduk kota al-Quds (Jerusalem). Akhir tahun 2012, terdapat setidaknya 20 ribu anak-anak di kota ini yang tidak bisa dimasukkan ke dalam Kartu Keluarga orang tuanya.

Terdapat dua jenis kartu bagi penduduk kota al-Quds. Kartu berwarna biru menjelaskan identitas kependudukan asli yang dikeluarkan oleh Departemen Dalam Negeri Israel. Belakangan kartu manual mulai diarahkan untuk diganti dengan e-ktp yang berbasis biometrik. Dalam beberapa rilis berita dikabarkan bahwa kartu tersebut bukanlah kartu identitas permanen, tetapi hanya merupakan kartu izin tinggal selama sepuluh tahun dan harus diperpanjang setelahnya setelah mendapatkan izin dari kementerian. Saat ini hanya terdapat 35 ribu saja penduduk Palestina di al-Quds yang memiliki jenis kartu seperti ini. Satu lagi jenis kartu berwarna hijau, yang dikeluarkan oleh otoritas Palestina. Inibelum beberapa jenis kartu lainnya yang mengatur secara khusus dan detil bagi penduduk kota al-Quds secara ketat. Saat ini terdapat sekitar 315 ribu penduduk al-Quds yang memiliki kartu hijau ini.

Lalu, apa makna klaim sepihak 6 Desember lalu dari Gedung Putih yang mendeklarasikan Jerusalem sebagai Ibukota bagi Israel?

  1. Resolusi internasional yang dikeluarkan PBB terkait situs-situs suci bagi Umat Islam dan kaum Nasrani di Jerusalem menjadi tidak berlaku, karena Israel mempunyai kendali penuh terhadap ibukotanya dan bisa melakukan apa saja.
  2. Israel akan membangun pangkalan militernya di “ibukota” rampasannya. Selain itu kantor kementerian dan kemudian gedung-gedung pemerintahan serta pusat-pusat strategis negara. Kemudian akan memaksa -sedikit demi sedikit- pemindahan kedutaan negara-negara yang memiliki hubungan diplomatik dengan Israel. Tentu hal ini memerlukan wilayah fisik yang luas.
  3. Pemerintah Israel akan semakin leluasa membangun pemukiman dan bangunan-bangunan fisik lainnya di dalam kota al-Quds.
  4. Membatasi kunjungan umat Islam atau siapa saja yang hendak berkunjung ke al-Quds, bahkan bisa melarang siapa saja tanpa alasan yang definitif.
  5. Lebih dari 315 ribu penduduk asli Palestina di kota al-Quds terancam pengusiran dan aset-aset mereka bisa diambil alih kapan saja, dikarenakan mereka memiliki kartu hijau, bukan kartu identitas yang dikeluarkan pemerintah Israel.
  6. Sekitar 35 ribu penduduk Palestina di kota al-Quds hanya memiliki kartu identitas (biru) yang berarti maksimal memiliki izin tinggal hanya sepuluh tahun. Setelahnya, mereka belum tentu diizinkan tinggal kembali di kota al-Quds.
  7. Ribuan anak kecil Palestina yang namanya tidak tercantum di kartu keluarga terancam diusir. Dan tidak mungkin mereka akan keluar dari kota al-Quds sendiri. Setidaknya, salah satu dari keluarganya akan menyertainya jika suatu saat terjadi razia kependudukan.
  8. Situs utama umat Islam, Masjid al-Aqsha terancam dipunahkan dan dirampas identitasnya, secara bertahap. Jika selama ini sudah berhasil membatasi akses masuk bagi orang-orang yang hendak shalat, maka saat ini menjadi sempurna berkuasa penuh mengendalikannya. Dan jika nanti terlihat hanya sedikit saja yang shalat, dikarenakan sulitnya akses memasuki masjid,maka alasan penutupan masjid akan dibuat. Umat Islam terancam kehilangan amanah Allah untuk menjaga masjid suci ini.

Jika saat ini terjadi kemarahan global yang diakibatkan pernyataan sepihak seperti diatas. Maka sangat wajar. Karena kediktatoran sedang dipertontonkan. Sebuah kezhaliman didukung secara terbuka, tanpa rasa malu dan segan. Negara-negara muslim pun tak berkutik. Rekomendasi normatif KTT OKI –tanpa bermaksud mengecilkan- rasanya takkan mampu menghentikan penjajahan terang-terangan yang didukung oleh pihak-pihak yang selama ini mengagungkan hak asasi manusia. Orang-orang yang menganggap suci kebebasan dan kemerdekaan, telah merampas kedaulatan dan kebebasan orang-orang tak berdosa.

Jika, ada marah yang dibolehkan, inilah saatnya marah. Marah yang bermartabat. Kemarahan yang penuh maruah. Sebagaimana, Aisyah meriwayatkan sebuah hadis.

عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ مَا ضَرَبَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ شَيْئًا قَطُّ بِيَدِهِ وَلَا امْرَأَةً وَلَا خَادِمًا إِلَّا أَنْ يُجَاهِدَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَمَا نِيلَ مِنْهُ شَيْءٌ قَطُّ فَيَنْتَقِمَ مِنْ صَاحِبِهِ إِلَّا أَنْ يُنْتَهَكَ شَيْءٌ مِنْ مَحَارِمِ اللَّهِ فَيَنْتَقِمَ لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ

“Rasulullah SAW tak pernah sama sekali memukul sesuatu dengan tangannya, juga tidak pernah memukul wanita (istri), dan juga pembantu(nya). Kecuali saat berjihad di jalan Allah. Dan tidaklah beliau disakiti dengan sesuatu, lalu beliau membalas pelakunya, kecuali jika ada sesuatu di antara hal-hal yang diharamkan Allah dilanggar, maka beliau akan membalas dengan hukuman karena Allah”(HR Muslim no. 2328, Abu Dawud no. 4786, dan Ibnu Majah no. 1984).

Apa yang lebih buruk dari penjajahan, pengusiran, penistaan terhadap masjid suci al-Aqsha?

Sebelum mereka mengeluarkan kartu biru atau menahannya, mengusir pemegang kartu hijau dari al-Quds. Angkatlah dan berilah mereka kartu merah. WalLâhu al-Musta’ân.


Catatan Keberkahan 81

Jakarta, 16.12.2017

SAIFUL BAHRI

Batas Merah dan Fathu Makkah


Setiap peraturan ada batas-batasnya. Lampu lalu lintas di setiap perempatan, jika berwarna merah maka tak boleh ada kendaraan yang melaju. Setiap wilayah terdapat pagar-pagar yang tak bisa dilanggar dan dilalui. Demikian, senada dengan hadis Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh an-Nu’man bin Basyir ra, “… sesungguhnya setiap raja memiliki pagar-pagar, dan pagar-pagar Allah adalah hal-hal yang diharamkan-Nya…” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dalam potongan hadis tersebut terdapat kejelasan hal yang halal dan kejelasan yang haram, kemudian terdapat wilayah abu-abu yang menjadi syubhat. Orang-orang yang menjaga dirinya dari wilayah syubuhât, maka ia menjaga agama dan kehormatannya. Jika ia sanggup maka ia akan semakin menjauh dari wilayah merah, wilayah larangan.

Demikian halnya, saat Presiden Amerika, Trump tanggal 6 Desember 2017 di tengah hari, ia mendeklarasikan secara eksplisit pemindahan kedutaan AS untuk Israel ke Kota al-Quds ia telah menembus batas merah tersebut.

Coba lihat respon dunia. Meledak. Apalagi umat Islam, menjadi pihak yang paling tersakiti. Secara khusus lagi adalah Bangsa Palestina yang selama ini terampas kedaulatannya oleh Zionis Israel. Sebenarnya hal tersebut tidak mengherankan jika dilihat dari sejarah sikap Amerika secara politis terhadap Israel yang terus menjadi support dan pelindung bagi mereka. Berapa resolusi PBB yang terdowngrade? Berapa kesepakatan internasional yang diveto Amerika untuk melindungi kejahatan kemanusiaan Israel? Siapa lagi yang bisa menghentikan pembangunan pemukiman ilegal Israel di wilayah-wilayah Palestina? Sebagian terkaget-kaget, meski sebelumnya bisa diprediksi. Sebagian tersadar dan tak mampu berbuat apa-apa, selain mengecam. Setidaknya ini lebih baik dari pada tidak bersikap sama sekali. Padahal, penistaan dan penjajahan ini perlu respon keras terutama dalam percaturan negara-negara secara internasional.

Penjajahan, pencaplokan, perampasan, tindakan-tindakan tak manusiawi Zionis Israel terhadap Palestina selama ini sebenarnya juga tak bisa ditolelir. Namun, dunia internasional seolah tak berdaya dan tak mampu merespon keras terhadap ketidakadilan dan kezhaliman serta penjajahan Israel tersebut. Setidaknya, umat Islam masih bisa menahan diri dan lebih banyak mengalah serta masih menempuh jalan-jalan damai dalam menyikapi kejahatan-kejahatan tersebut. Respon-respon perlawanan fisik pun terjadi sesekali saja, ada letupan-letupan kecil atau setidaknya tak besar.

Namun, saat deklarasi pemindahan kedutaan AS ini ke Al-Quds, maka Amerika dan Israel sudah masuk batas-batas merah yang menjadi zona larangan keras. Pihak-pihak yang selama ini menyuarakan perdamaian, justru mereka lah yang menghancurkannya. Menariknya, pihak yang menjadi pendukung utama Trump adalah aktivis-aktivis Kristen Avangelis. Yahudi Ortodoks sendiri sebenarnya menentang kebijakan Trump. Hal ini menegaskan bahwa Zionisme tak lagi membasiskan kekuatan pada pemeluk agama Yahudi saja, tapi mereka akan mengerahkan semua ideologi untuk mencapai keinginan kembali ke bukit zion, ke tanah suci al-Quds di Palestina.

Secara historis, sirah Nabi Muhammad SAW menuturkan keajaiban. Pada saat Kuffar Quraisy membuat perjanjian yang merugikan umat Islam, yang dikenal dengan Perjanjian Hudaibiyah. Sekutu pihak Quraisy lah yang memulai melanggar perjanjian, mengkhianati kesepakatan. Inilah yang kemudian justru menjadi pembuka kemenangan umat Islam dengan peristiwa Fathu Makkah.

Dengan semangat tersebut, saat ini umat Islam perlu bangkit menyusun strategi kemenangan. Dukungan internasional yang bukan hanya berbasis ideologi ini sudah semestinya dikapitalisasi dan dioptimalkan. Jika ada persekutuan yang berbasis pengkhianatan, maka seharusnya persekutuan yang meneguhkan kemanusiaan, memuliakan martabat kedaulatan suatu bangsa harus diperkuat.

Jika lampu merah sudah menyala itu pertanda lampu hijau segera menggantikannya, saat semua kendaraan memacu gasnya.

Jika batas-batas merah sudah diterjang, bersiaplah akan ada konsekuensi berat dan resiko yang harus ditanggung pelanggarnya.

Islam tak pernah mengajarkan membenci agama dan pemeluknya, termasuk Yahudi atau Kristen sekalipun atau keyakinan manapun. Yang saat ini harus dijadikan musuh bersama adalah sebuah ideologi yang merusak keharmonisan bernama Zionisme. Lawan, sebagaimana rakyat Palestina pernah meletuskan kemarahannya melalui batu-batu di bulan ini tiga puluh tahun yang lalu. Intifadhah, saatnya meletus kembali dan menjemput kemenangannya. WalLâhu al-Musta’ân.

 

Catatan Keberkahan 80

Jakarta, 07.12.2017

SAIFUL BAHRI

Angka-Angka dan Batas Kemampuan

Manusia hidup dibatasi ruang dan waktu. Namun, batas-batas waktu dan ruang, hakikatnya Allah yang memilikinya. Dia bisa ciptakan jarak yang jauh untuk seseorang dan sebaliknya Dia mampu mendekatkan jarak untuk yang lainnya. Dia bisa mempersingkat waktu untuk seseorang dan bisa pula memanjangkan sesuai kehendaknya.

Lihatlah, waktu yang sangat singkat menurut ashâbul kahfi yang berada di dalam gua, ternyata setara dengan 300 atau 309 tahun lamanya. Demikian pula jarak yang sangat jauh menjadi sangat dekat bila Sulaiman yang menempuh perjalanannya, karena ia dikaruniai kendaraan berupa angin yang super cepat. Demikian halnya Nabi Muhammad SAW saat bermi’raj menghadap Allah, melalui langit-langit dan kemudian sidratul muntaha, lalu penuh misteri di mana pertemuannya dengan Allah terjadi. Waktu dan tempat tak berlaku di hadapan Allah, karena Dialah penciptanya. Nabi Muhammad pun menempuh jarak unlimited dengan waktu yang sangat singkat.

Waktu juga menjadi ukuran manusia modern sesuai dengan kepentingannya. Bagi kaum matrealis waktu adalah aset materi. Bagi pemuja modal atau kaum kapitalis, waktu harus diuangkan. Waktu adalah kesempatan untuk apa saja.

Tak heran jika Al-Quran memuat jenis-jenis waktu di dalamnya. Malam, adalah waktu yang paling banyak disebut secara frekuensi. Sedangkan pagi adalah jenis waktu yang paling banyak variannya. Keistimewaan waktu malam sangat banyak. Di antaranya, Allah memilih malam sebagai waktu turunnya al-Quran. Secara eksplisit keterangan tentang turunnya al-Quran di malam hari bisa diketahui dari awal Surah ad-Dukhan dan Surah al-Qadar. Maka, Allah pun memerintah nabi-Nya juga umat beliau untuk membaca al-Quran, terkhusus di malam hari, bahkan perintah ini terulang dua kali dengan redaksi yang sama di dalam satu ayat, yaitu di akhir Surah al-Muzammil (ayat ke 20).

Menariknya, Allah juga bersumpah atas nama kumpulan waktu melalui awal Surah al-Ashr. “Wal ‘ashr” (Demi Masa), menunjukkan bahwa hampir rata-rata manusia terjebak dalam kerugian. Karena al-Ashr yang dimaksud adalah perasan waktu, produktivitas waktu yang tidak sekedar menilik pada angka-angka. Baik angka waktu yang dilalui atau bahkan angka hasilnya. Ini membuktikan bahwa belum tentu seseorang yang berusia lima puluh tahun akan lebih baik dari orang yang baru berusia dua puluh tahun. Demikian juga patokan angka materi. Seseorang yang mendapatkan take home pay bulanan sebesar milyaran, belum tentu lebih baik dari orang yang hanya mendapatkannya sejumlah beberapa juta saja.

Di antara contoh yang memperjelas relatifitas angka-angka tadi adalah usia muda para sahabat semisal Aisyah binti Abi Bakar, Mu’adz bin Jabal, Abdullah bin Abbas dan sahabat lainnya sering menjadi rujukan bagi para sahabat senior (kibâr ash-shahâbah). Imam an-Nawawy ad-Dimasyqi yang berusia empat puluh lima tahun, namun memiliki karya-karya monumental dan jumlahnya sangat banyak.

Nabi Nuh ‘alaihissalâm, diutus Allah kepada kaumnya, “…maka ia tinggal di antara mereka seribu tahun kurang lima puluh tahun. Maka mereka ditimpa banjir besar, dan mereka adalah orang-orang yang zalim.” (QS. Al-Ankabût: 14)

Jika menggunakan standar ukuran modern maka Nabi Nuh bisa dikategorikan sebagai nabi yang gagal. Karena kesempatan yang diberikan sangat banyak, namun hasilnya tidak sesuai harapan. Faktanya justru sebaliknya, Nabi Nuh merupakan satu dari lima nabi istimewa yang digelari dengan ulul azmi. Beliau menjadi sangat ikonik dengan kesabaran. Berbicara kesabaran dan keteguhan takkan bisa dilewatkan tanpa bersentuhan dengan kisahnya.

Maka, simpulan sederhana tulisan ini adalah bahwa angka-angka itu hanya membantu manusia mengukur suatu capaian dan memudahkan evaluasi. Namun, nilai dan kualitasnya hanya Allah lah yang menentukan. Hanya itulah batas kemampuan manusia. Ia dibatasi ruang dan waktu. Maka, jika ia mampu melompatinya dengan kualitas, ia akan lolos dari jerat kerugian sebagaimana Allah tegaskan dalam surah al-Ashr. Itulah yang disebut kualitas kehidupan (keberkahan). Allah memberkahi waktu seseorang juga tempat ia berada. Mendekatlah dengan orbit keberkahan tersebut.

Di antara orbit keberkahan yang Allah ciptakan di bumi ini adalah al-Masjid al-Aqsha. Dalam bahasa al-Quran, Allah memberkahi sekelilingnya (lihat Surah al-Isra’: 1). Namun, makna “haul” di sini belum tentu menunjukkan batasan ruang dan waktu. Itulah makna yang menggerakkan Seorang Maimunah meraih keberkahan Baitul Maqdis (baca Catatan Keberkahan 75: Pelita-Pelita Baitul Maqdis)

Dengan waktu yang terbatas juga ruang yang pasti juga terbatas, berbuatlah “apa saja” yang dianggap baik oleh Allah, karena Dial ah penentu kualitas perbuatan yang menjadi pembobot kualitas kebaikan. Adapun setiap gerak-gerik perbuatan kita, pasti akan mendatangkan resiko atau komentar dari orang lain. Dengan atau tanpa komentar, Allah lah yang menilai. Maka, berbuatlah! Apa saja. Biar Allah yang melihat dan menilainya. WalLâhu al-Musta’ân.

Catatan Keberkahan 79

Jakarta, 04.12.2017

SAIFUL BAHRI

Persepsi Rasa Malu

Sahabat Uqbah bin Amr meriwayatkan sebuah hadis dari Rasulullah SAW, beliau bersabda, “Sesungguhnya di antara yang diketahui manusia dari perkataan kenabian pertama adalah “Jika Engkau tidak malu, maka berbuatlah sesukamu!” (HR. Al-Bukhâri)

Dalam kesempatan lain rasa malu dipersepsikan sebagai salah satu indikator keimanan seseorang. Malu yang dimaksud adalah rasa malu pada Allah. Malu, ketika diberi Allah banyak karunia tetapi tak mampu bersyukur. Malu, karena banyak melakukan kesalahan yang tidak perlu. Malu, karena membalas kebaikan Allah dengan kemaksiatan. Itulah hakikat malu. Sama seperti ungkapan Allah tentang keburukan atau kejahatan yang pelakunya disebut al-Quran dengan “al-mujrimûn”. Yaitu, tak sekedar dilihat dari pelaku atau perilaku buruknya, namun lebih dilihat kepada siapa yang ia durhaka, mengapa ia durhakai Dzat yang maha memberi segala, yang mengasihi tanpa pilih, yang menyayangi tanpa membedakan.

Seriring dengan perkembangan persepsi kebaikan dan kemuliaan manusia yang dikepung dengan pola hidup matrealistik dan hedonisme maka pemahaman tentang malu juga bergeser. Maka persepsi malu ini kemudian dialamatkan kepada sesama manusia. Seseorang akan malu kalau keburukannya terungkap dan diketahui orang lain. Sehingga ia akan berusaha menyembunyikan, ini pun sebenarnya masih lumayan ketika ia sadar dan kemudian bertaubat.

Kemudian, rasa malu ini makin bergeser, menjadi kepada sebagian orang dan kemudian hanya kepada sedikit orang, hingga akhirnya menghilang sama sekali. Itulah yang disebutkan di dalam hadis di atas. Karena jika rasa malu hilang dari seseorang maka dikhawatirkan ia akan kehilangan iman dan bahkan ruh dan spirit kehidupannya.

Ibnu al-Qayyim al-Jauziyah menyebut asal kata rasa malu (al-hayâ’) adalah kehidupan (al-hayâh). Hidup dan matinya hati seseorang sangat mempengaruhi sifat malu orang tersebut. Begitu pula dengan hilangnya rasa malu, dipengaruhi oleh kadar kematian qalbu dan ruh seseorang. Sehingga setiap kali qalbunya hidup, pada saat itu pula rasa malu menjadi lebih sempurna. Kesempurnaan ini akan mengantarkannya menjadi sempurna. Dan orang yang paling pemalu adalah para nabi. Abu Said al-Khudry menyebutkan bahwa Rasulullah SAW memiliki rasa malu melebihi rasa malunya seorang gadis pingitan. (HR.Al-Bukhâri, no. 6119).

Dengarkan kalam Allah yang menjelaskan rasa malu beliau, “…tetapi jika kamu diundang Maka masuklah dan bila kamu selesai makan, keluarlah kamu tanpa asyik memperpanjang percakapan. Sesungguhnya yang demikian itu akan mengganggu Nabi lalu Nabi malu kepadamu (untuk menyuruh kamu keluar), dan Allah tidak malu (menerangkan) yang benar”. (QS. al-Ahzâb [33]:53)

Allah mencintai orang yang pemalu, malaikatkan pun memiliki rasa malu. Karena itulah rasa malu ini adalah warisan kenabian, bahkan terwasuk di antara yang pertama diwariskan. Rasulullah SAW membahasakannya dengan “min kalâmi an-nubuwwah al-‘ûla” (Diantara perkataan dari kenabian yang pertama). Para ulama memaknai hadis di atas dengan tiga hal:

  1. Ancaman, agar seseorang terus memiliki rasa malu yang benar. Artinya berbuatlah sesukamu ini redaksi yang keras dalam melarang dan bukan menyuruh demikian. Senada dengan firman Allah “Perbuatlah apa yang kamu kehendaki; Sesungguhnya Dia Maha melihat apa yang kamu kerjakan”. (QS. Fushilat [41]:40)
  2. Menjelaskan konsekuensi. Artinya jika seseorang tidak memiliki atau kehilangan rasa malu maka ia akan melakukan apa saja, termasuk keburukan dan kekejian yang besar sekali pun.
  3. Sebagai syarat pembolehan. Artinya ketika seseorang hendak melakukan sesuatu, standarnya adalah malu kepada Allah terlebih dahulu kemudian manusia. Jika yang dilakukan tidak memalukan Allah dan manusia, maka lakukanlah, karena yang demikian adalah kebaikan yang diterima Allah dan manusia.

Ketiga makna di atas memungkinkan untuk digabungkan, meskipun pendapat jumhur ulama secara mainstream lebih condong kepada makna yang pertama.

Rasa malu selalu datangkan kebaikan, namun penempatannya juga mesti sesuai dengan anjuran Rasulullah. Yaitu menempatkannya sebagai rem dan kontrol diri untuk mencegah perbuatan yang buruk dan dimurkai Allah terlebih dahulu, dan kemudian di mata manusia.

Tetapi beliau melarang menempatkan rasa malu dalam menanyakan hal-hal yang berkaitan dengan ilmu, perempuan-perempuan Anshar pernah Aisyah puji karena “berani” bertanya beberapa hal yang terkesan tabu dan aib, padahal hal tersebut sesungguhnya adalah pengetahuan yang harus diketahui banyak perempuan. Sebaik-baik wanita adalah wanita Anshâr. Rasa malu tidak menghalangi mereka untuk memperdalam ilmu Agama. Imam Mujahid pernah menyebutkan, “Orang yang malu dan orang yang sombong tidak akan mendapatkan ilmu”. (Ditururkan Al-Bukhâriy dalam Shahîhnya, kitab al-‘Ilmu Bab al-Hayâ’ fil ‘Ilmi)

Malu adalah motivasi kebaikan dan rem keburukan. Jika ia hilang maka hilanglah keselamatan seseorang. Ia tak malu lagi jika tak melakukan kebaikan (yang wajib, sunnah atau anjuran biasa), dan ia tak malu lagi dalam melakukan keburukan. Jika keburukan sudah dipertontonkan dan dilakukan dengan terang-terangan itu maknanya terjadi kematian sosial dan qalbu masyarakatnya.

Ada saudara-saudara kita yang perlu dukungan kemerdekaan dari penjajahan, bangsa Palestina yang berusaha meraih kedaulatan negerinya. Rasa malu lah yang menyebabkan seseorang akan memberikan dukungannya. Jika ia tak malu, mungkin sama sekali ia pun takkan mendukungnya. Jika ia melihat kemungkaran, ia pun akan malu jika mendiamkannya.

Sebaiknya, keburukan akan datang bila orang tak malu lagi ketika hal-hal baik ditinggalkan dan hal-hal buruk dipertontonkan. WalLâhu al-Musta’ân.


Catatan Keberkahan 78

Jakarta, 18.11.2017

SAIFUL BAHRI

LONDON TO MANCHESTER: Inspirasi al-Quran dan Rekayasa Kebaikan Sosial

Ini adalah kedatangan saya kali pertama di United Kingdom. Adalah Keluarga Islam Indonesia di Britania Raya (KIBAR) yang mengundang saya sebagai narasumber dalam KIBAR Autumn Ghathering 2017 di kota Sheffield. Datang di Heathrow Airport yang dikenal sebagai salah satu bandara tersibuk di dunia tak membuat saya merasa asing, karena perlakuan friendly petugas imigrasi dan seorang police officer yang sebenarnya juga menginterogasi saya, tapi dengan cara yang sangat elegan. Berbincang bagaikan seorang sahabat dekat menanyakan background studi saya, beberapa acara saya di beberapa negara yang tercantum di dalam lembaran paspor, serta tentunya rangkaian acara saya selama di UK.

Pak Eko, salah seorang profesional Indonesia yang bekerja di salah satu provider telekomunikasi di Inggris, menjemput saya dan kemudian mengantarkan ke Wisma Merdeka. Mas Ceri sekeluarga sudah menunggu di sana. Sangat homing rasanya, berasa di rumah sendiri karena sambutan yang hangat di Wisma. Kebetulan juga ada beberapa orang yang sedang menginap di Wisma, Mas Bayu dan Mbak Hasnul yang ternyata adalah istri dari senior saya di Universitas al-Azhar di Cairo, Mas Willy.

Setelah Shalat Jumat, saya benar-benar merasakan jetlag berat. Alhamdulillah setelah badan segar, Pak Eko kembali menjemput saya untuk berangkat ke KBRI. Kembali bereuni dengan Pak Thomas dan Bu Leni serta bisa bersilaturahim dengan sebagian warga Indonesia di London. Kajian keislaman yang dipandu oleh Mas Maulana dimulai setelah shalat Isya bersama dan dinner. Usai pengajian di KBRI, ditemani Pak Eko, Mas Bayu dan Mbak Hasnul kami sempat mengabadikan gambar di Tower Bridge dan Istana Buckingham, juga menyusuri Sungai Thames dengan view indah London Eye yang memantulkan warna-warni cahayanya. Gedung Parlemen dan Big Ben yang terkenal itu juga alhamdulillah sempat terabadikan dalam gambar. Sebuah kunjungan singkat di London yang penuh suasana keakraban.

Sabtu pagi, saya meneruskan perjalanan ke kota Birmingham. Merupakan kehormatan bagi saya diantar ke stasion untuk melanjutkan perjalanan, oleh seorang seperti Mas Ahmad Ataka  yang low profile, beliau adalah Ketua PCI NU di UK.

Di Birmingham, Mas Abdurrauf dan Mas Erdu menyambut dengan penuh kehangatan. Suasana hujan berlanjut tidak menyurutkan para mahasiswa dan warga Indonesia untuk berdiskusi dan melaksanakan kajian bulanan di University of Birmingham. Dari Birmingham saya melanjutkan perjalanan ke Newcastle. Pak Saiful dan Pak Abram sudah menunggu di stasion sebelum kedatangan saya. Sebagaimana di tempat sebelumnya, di kota ini saya juga menyempatkan diri merekam sebuah tausiyah video pendek bertajuk Puzzle Kesalihan. Pak Indra merekamnya secara profesional dan bak sutradara sebuah film pendek.

Cuaca cukup drop hingga mencapai minus satu. Saat kami keluar ke masjid untuk melaksanakan shalat shubuh, terlihat mobil-mobil diselimuti es. Bagaikan berada di dalam freezer kulkas. Judulnya autumn, namun suasananya sudah sangat layak untuk disebut winter, musim dingin.

Usai Newcastle, perjalanan saya berlanjut ke Scotland, tepatnya di kota Edinburgh. Kota yang sangat eksotik dengan banyak pilihan view untuk diabadikan di dalam gambar. Begitu keluar dari Waverley Station, kecantikan alam terpampang sepanjang mata memandang. Sangat wajar jika sahabat saya, Kang Abik sangat terinspirasi “menjerumuskan” tokohnya Fakhri dalam Ayat-Ayat Cinta 2 untuk mengajar di kampus tua University of Edinburgh. Alhamdulillah, meski sudah lewat castingnya, saya pun merasakan “pura-pura” mengajar di salah satu ruang perkuliahan Departemen Biologi di kampus University of Edinburgh. Sebenarnya jika dihitung jarak, sudah sangat jauh berjalan kaki sejak kedatangan di pertengahan hari dari Newcastle. Pemandangan yang indah dan diguide oleh Mas Relly yang sangat detil menjelaskan, menjadikan suasana sangat menyenangkan.

Dari Edinburgh, saya menuju ke Nottingham. Di sebuah stasiun kecil, Beeston Mas Fauzi sudah menunggu. Saya langsung di bawa ke kampus utama University of Nottingham. Mas Taufik menyambut dengan penuh keramahan setelah shalat Zhuhur, kami mencicipi makanan khas Pakistan di salah satu kantin kampus yang menyediakan makanan halal. Usai makan, kami bergerak ke Wollaton Park. Di sana terdapat rumah tua yang tampak kokoh namun tak lagi berpenghuni seperti istana yang sangat eksotik, terlebih dengan pencahayaan petang dan suasana temaram senja. Terdapat museum di sekitar rumah dan taman tersebut, sayangnya waktu sudah terlalu petang, hingga kami belum sempat memasuki museum tersebut. Sedikit berhujan-hujan, kami bertiga juga menyempatkan merekam sebuah video pendek serial Rekayasa Kebaikan Sosial. Kali ini tema yang diangkat adalah tentang Perusak-Perusak Ukhuwah dan Cinta.

Kami bertiga kembali ke kampus, menuju Fakultas Hukum dan Ilmu Politik. Rasanya pemilihan tempat yang cocok, karena diskusi yang diangkat cukup berat dan menarik antusiasme para mahasiswa yang kebanyakan sedang menempuh program S3. Kajian tematik ayat-ayat jihad di dalam al-Quran, itulah tema diskusi kajiannya. Tema yang berat, namun suasana kekeluargaan dan dialogis menjadikan tema tersebut mengalir didiskusikan dengan banyak perspektif.

Dari Nottingham, saya melanjutkan perjalanan safari dakwah ke Durham. Sebuah kota kecil yang separuh lebih penghuninya adalah para mahasiswa dan akademisi. Mas Momo dan Pak Hassan Alatas serta Irfan menyambut saya seolah seperti saudara. Ditemani dengan suguhan cappucino hangat kami bertukar wawasan dan berkenalan lebih detil. Pak Hassan dan Mas Irfan memisahkan diri sambil membawakan koper saya. Mas Momo dan saya menyusuri River Wear dan jalanan-jalanan sepanjang kampus Durham University. Di dekat sebuah katedral tua, kami mengabadian sebuah tausiyah pendek bertajuk Peradaban Ilmu. Hampir semua mahasiswa Indonesia di Durham belajar Islamic Finance. Durham University menjadi referensi dan rujukan internasional di bidang Ilmu Ekonomi Syariah? Itulah sisi lain yang sangat menarik di kota ini.

Dari Durham saya menuju Leeds. Pak Agung dan Pak Farid menyambut saya di stasiun Leeds. Kami melaksanakan shalat zhuhur di sebuah mushola yang terletak di salah satu shopping and leisure centre, Trinity yang dibuka di akhir Maret 2013.

Paduan layout bangunan tua dan modern kampus University of Leeds membuat saya terkagum-kagum. Di kampus yang sudah ada sejak 1831 ini, dengan dipandu Mas Bekti, kami mendiskusikan tentang alam dan manusia yang sama-sama serba berpasangan. Allah menjadikan manusia sebagai imam bagi alam untuk bertasbih kepada-Nya. Alam belajar dari kehidupan berpasangan manusia . Maka malaikat dan jin diperintahkan Allah bersujud pada Adam, serta gunung dan burung-burung serta alam diminta Allah untuk bertasbih mengikuti Dawud as. Beristirahat di Leeds, saya menginap di rumah Mas Zain Maulana, Ketua PCI Muhammadiyah UK.

Seperti biasanya, pagi hari saya segera bergerak untuk berpindah kota. Saya meneruskan perjalanan ke York. Salah satu kota tua di Inggris, sangat wajar bila kemudian saya bertanya-tanya tentang hubungan kota York dengan kota New York di Amerika Serikat. Ternyata sangat berhubungan dan memiliki inspirasi terbangunnya sebuah kota York yang baru di sana. Ketua KIBAR, Mas Dick Maryopi menyambut saya di stasiun York.

Setelah itu bersama Mas Ismu, dan putranya Adam kami menuju University of York untuk mengikuti pelaksanaan shalat Jumat. Khatib Jumat menjelaskan urgensi belajar Bahasa Arab. Uraian detilnya mengenai berbagai vocabulary dan struktur bahasa, bisa jadi menyulitkan sebagian orang yang mendengarkan khutbahnya. Namun, cara memotivasi jamaah untuk belajar Bahasa Arab sangat luar biasa.

Suasana kajian keislaman di kota York sangat kekeluargaan. Dilaksanakan langsung di kediaman Ketua KIBAR, Mas Yopi kami membahas tentang Rumah Laba-Laba, Rumah Tanpa Cinta.

Setelah beristirahat cukup, Sabtu pagi bersama keluarga Mas Ismu saya menaiki kereta menuju Sheffield untuk menghadiri acara utama KIBAR Autumn Gathering 2017. Sebuah acara yang dijadikan momen untuk berkumpul oleh mahasiswa dan warga Indonesia muslim khususnya yang ada Inggris. Acara yang berada di Madina Mosque ini dimulai dengan bacaan al-Quran Mas Ataka yang diteruskan Sambutan Ketua KIBAR, Mas Yopi. Bapak Dubes RI untuk Kerajaan Inggris Raya dan Irlandia, Dr. Rizal Sukma juga berkesempatan memberikan sambutan sekaligus membuka acara KIBAR Autumn Gathering 2017.

Acara ini dibagi menjadi tiga sesi. Sesi pertama yang bertemakan Memahami dan Menadabburi al-Quran, saya di damping oleh Pak Bernardi, akademisi dan dosen di salah satu universitas ternama di kota Sheffield.

Sesi kedua yang dimoderatori Pak Daru salah seorang sesepuh warga Indonesia di Leeds, membahas tema tentang berbagai dimensi kemukjizatan Al-Quran dan pada sesi ketiga tema tentang Motivasi al-Quran saya sampaikan dengan didampingi Bapak Muhammat Tafsir, salah seorang Profesional yang bekerja di Airbus, Bristol.

Di sela-sela acara ini juga diselingi presentasi dari Indonesian Islamic Centre di London, dan sponsor acara Lembaga Kemanusiaan PKPU dan Human Aid Initiative.

Acara-acara seperti ini menjadi sangat spesial, karena mempertemukan banyak orang di dalamnya. Anak-anak pun bahkan ada yang menunggu-nunggu momen bertemu temannya yang hanya terjadi selama dua kali dalam setahun. Demikian pula seperti Pak Junaedi dari Bristol, salah seorang alumni IPTN yang sekarang bekerja di Airbus, menjadikan momen ini untuk mengumpulkan anak-anaknya yang tersebar di berbagai tempat di Inggris. Beliau menyewa tempat untuk bereuni dengan semua anggota keluarganya selama dua hari weekend kali ini. Subhânallâh.

Usai acara kami bergerak menuju kota Manchester. Dengan menaiki kendaraan mobil, salah seorang senior warga Indonesia Pak Iwan langsung yang membawanya. Mengantarkan kami melewati bukit-bukit. Karena memang kota Sheffield dikelilingi tujuh perbukitan dengan pemandangan yang indah. Tepat jam 00.20 kami tiba di kediaman Pak Iwan di Manchester.

Satu hal yang menarik bahwa penyebaran Islam di UK ini cukup merata di banyak kota, demikian halnya pelajar dan mahasiswa Indonesia yang mungkin jumlahnya bisa jadi lebih sedikit dari yang berada di Mesir atau Australia, tapi mereka menyebar ke pelosok-pelosok Negeri Inggris di wilayah selatan hingga ke Skotlandia, terutama para mahasiswa yang muslim mereka masih mempertahankan identitas dan ukhuwahnya dengan baik di tengah suasana heterogen yang penuh nuansa toleran dan cenderung akomodatif terhadap umat Islam dan berbagai aktivitasnya. Kasus-kasus teror di London dan Manchester misalnya, hanyak menjadi bagian riak-riak kecil dalam dinamika kehidupan sosial. Terkadang, media memiliki peran dalam menghadirkan ketakutan, atau menumbuhkan optimisme dalam melawan teror dan menyampaikan fakta secara proporsional. Islam agama yang ramah, baik di saat menjadi kuantitas minoritas ataupun ketika mereka menjadi mayoritas. Alhamdulillah, keluarga muslim Indonesia di UK yang tergabung di KIBAR bisa membuktikannya. Para mahasiswanya berprestasi dan memiliki survivalitas serta produktivitas karya, para profesionalnya juga memberi bukti kemanfaatan meski bukan sebagai warga negara Inggris. Cerita sulitnya mencari makanan halal, sepertinya tak lagi pernah menjadi tema perbincangan. Masjid dan pusat-pusat kajian keislaman, sangat mudah dijumpai di mana-mana. Bahkan, perkuliahan internasional tentang Islamic Finance berada di negeri ini. Rasanya, tak berlebihan berharap dan berdoa bahwa Islam akan terintegrasi dengan sendirinya di Inggris dan dataran Benua Eropa. Suka atau tidak, penyebaran Islam akan semakin merata dan bertambah populasinya. Tinggal mengemasnya dengan kemanfaatan yang lebih besar bagi masyarakat, saatnya membangun kepemimpinan dengan peradaban ilmu, akhlak dan kehidmah kemanusiaan.

Satu hal menarik yang saya belajar dari Inggris adalah caramenyajikan (packaging). Pendidikan yang dikemas sangat baik menjadi sebuah industri yang mahal. Namun, meskipun mahal hal tersebut justru menjadi daya tarik yang menyedot ribuan mahasiswa untuk dimanjakan di kampus dengan berbagai fasilitas, baik sarana fisik, administrasi, kesitimewaan hingga SDM dosen dan pengajar yang kapabel di bidangnya. Tak kalah menariknya adalah ketersediaan prayer room khusus untuk muslim student yang tersedia dengan baik di berbagai kampus di Inggris. Mereka tahu bahwa umat Islam juga pasar, terutama orang-orang Arab dari teluk yang kaya raya. Selain, memang karena banyaknya umat Islam dari Pakistan dan Bangladesh atau India. Maka, secara umum fasilitas keislaman sangat mapan dan baik di negeri ini. Jurusan-jurusan keislaman bukannya tidak ada yang baik di negeri-negeri Arab, tapi Inggris mencoba bersaing di kelasnya. Sebut saja, Durham yang tergolong baru, menjadi salah satu kota tujuan para pengkaji dan student yang menekuni Islamic finance.

Demikian halnya sebuah permainan sepak bola yang sekilas hanya mainan, disulap menjadi sebuah industri raksasa yang menyedot peminat sepakbola, dari sejak investor, para pemain hingga media dan berbagai hal yang terkait dengan sepak bola.

 

Saatnya saya harus kembali ke tanah air, untuk melanjutkan aktivitas. Meneruskan semangat dan inspirasi al-Quran agar tetap selalu hidup di tengah keluarga dan kemudian sebanyak mungkin masyarakat yang ada.

Secara khusus saya ucapkan terima kasih kepada KIBAR, terutama ketua dan pengurusnya juga para sesepuhnya yang memberikan kesempatan saya untuk bersilaturahim di Britania Raya, meski belum sempat berkunjung ke beberapa wilayah karena keterbatasan waktu. Demikian juga kepada PKPU dan Human Aid Initiative serta KBRI. Tak lupa kepada lokaliti-lokaliti, majelis pengajian di London, Brimingham, Newcastle, Edinburgh, Nottingham, Durham, Leeds, York, Sheffield dan Manchester. Juga keluarga muslim di Bristol, mohon maaf belum bisa berkunjung ke sana. Juga beberapa lokaliti lainnya yang belum berkesempatan berjumpa. Bahagia rasanya bisa berbagi sedikit ilmu yang Allah berikan, ditukar dengan hangatnya ukhuwah dan cinta serta pengalaman yang sangat dahsyat para mahasiswa dan warga Indonesia di Inggris.

 

Jelang Take Off, Manchester International Airport

Manchester, 12.11.2017

Saiful Bahri