Kartu Biru atau Kartu Merah

Sepanjang tahun 1967-1994 Pemerintah Israel telah mencabut 12 ribu lebih kartu identitas penduduk kota al-Quds (Jerusalem). Akhir tahun 2012, terdapat setidaknya 20 ribu anak-anak di kota ini yang tidak bisa dimasukkan ke dalam Kartu Keluarga orang tuanya.

Terdapat dua jenis kartu bagi penduduk kota al-Quds. Kartu berwarna biru menjelaskan identitas kependudukan asli yang dikeluarkan oleh Departemen Dalam Negeri Israel. Belakangan kartu manual mulai diarahkan untuk diganti dengan e-ktp yang berbasis biometrik. Dalam beberapa rilis berita dikabarkan bahwa kartu tersebut bukanlah kartu identitas permanen, tetapi hanya merupakan kartu izin tinggal selama sepuluh tahun dan harus diperpanjang setelahnya setelah mendapatkan izin dari kementerian. Saat ini hanya terdapat 35 ribu saja penduduk Palestina di al-Quds yang memiliki jenis kartu seperti ini. Satu lagi jenis kartu berwarna hijau, yang dikeluarkan oleh otoritas Palestina. Inibelum beberapa jenis kartu lainnya yang mengatur secara khusus dan detil bagi penduduk kota al-Quds secara ketat. Saat ini terdapat sekitar 315 ribu penduduk al-Quds yang memiliki kartu hijau ini.

Lalu, apa makna klaim sepihak 6 Desember lalu dari Gedung Putih yang mendeklarasikan Jerusalem sebagai Ibukota bagi Israel?

  1. Resolusi internasional yang dikeluarkan PBB terkait situs-situs suci bagi Umat Islam dan kaum Nasrani di Jerusalem menjadi tidak berlaku, karena Israel mempunyai kendali penuh terhadap ibukotanya dan bisa melakukan apa saja.
  2. Israel akan membangun pangkalan militernya di “ibukota” rampasannya. Selain itu kantor kementerian dan kemudian gedung-gedung pemerintahan serta pusat-pusat strategis negara. Kemudian akan memaksa -sedikit demi sedikit- pemindahan kedutaan negara-negara yang memiliki hubungan diplomatik dengan Israel. Tentu hal ini memerlukan wilayah fisik yang luas.
  3. Pemerintah Israel akan semakin leluasa membangun pemukiman dan bangunan-bangunan fisik lainnya di dalam kota al-Quds.
  4. Membatasi kunjungan umat Islam atau siapa saja yang hendak berkunjung ke al-Quds, bahkan bisa melarang siapa saja tanpa alasan yang definitif.
  5. Lebih dari 315 ribu penduduk asli Palestina di kota al-Quds terancam pengusiran dan aset-aset mereka bisa diambil alih kapan saja, dikarenakan mereka memiliki kartu hijau, bukan kartu identitas yang dikeluarkan pemerintah Israel.
  6. Sekitar 35 ribu penduduk Palestina di kota al-Quds hanya memiliki kartu identitas (biru) yang berarti maksimal memiliki izin tinggal hanya sepuluh tahun. Setelahnya, mereka belum tentu diizinkan tinggal kembali di kota al-Quds.
  7. Ribuan anak kecil Palestina yang namanya tidak tercantum di kartu keluarga terancam diusir. Dan tidak mungkin mereka akan keluar dari kota al-Quds sendiri. Setidaknya, salah satu dari keluarganya akan menyertainya jika suatu saat terjadi razia kependudukan.
  8. Situs utama umat Islam, Masjid al-Aqsha terancam dipunahkan dan dirampas identitasnya, secara bertahap. Jika selama ini sudah berhasil membatasi akses masuk bagi orang-orang yang hendak shalat, maka saat ini menjadi sempurna berkuasa penuh mengendalikannya. Dan jika nanti terlihat hanya sedikit saja yang shalat, dikarenakan sulitnya akses memasuki masjid,maka alasan penutupan masjid akan dibuat. Umat Islam terancam kehilangan amanah Allah untuk menjaga masjid suci ini.

Jika saat ini terjadi kemarahan global yang diakibatkan pernyataan sepihak seperti diatas. Maka sangat wajar. Karena kediktatoran sedang dipertontonkan. Sebuah kezhaliman didukung secara terbuka, tanpa rasa malu dan segan. Negara-negara muslim pun tak berkutik. Rekomendasi normatif KTT OKI –tanpa bermaksud mengecilkan- rasanya takkan mampu menghentikan penjajahan terang-terangan yang didukung oleh pihak-pihak yang selama ini mengagungkan hak asasi manusia. Orang-orang yang menganggap suci kebebasan dan kemerdekaan, telah merampas kedaulatan dan kebebasan orang-orang tak berdosa.

Jika, ada marah yang dibolehkan, inilah saatnya marah. Marah yang bermartabat. Kemarahan yang penuh maruah. Sebagaimana, Aisyah meriwayatkan sebuah hadis.

عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ مَا ضَرَبَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ شَيْئًا قَطُّ بِيَدِهِ وَلَا امْرَأَةً وَلَا خَادِمًا إِلَّا أَنْ يُجَاهِدَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَمَا نِيلَ مِنْهُ شَيْءٌ قَطُّ فَيَنْتَقِمَ مِنْ صَاحِبِهِ إِلَّا أَنْ يُنْتَهَكَ شَيْءٌ مِنْ مَحَارِمِ اللَّهِ فَيَنْتَقِمَ لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ

“Rasulullah SAW tak pernah sama sekali memukul sesuatu dengan tangannya, juga tidak pernah memukul wanita (istri), dan juga pembantu(nya). Kecuali saat berjihad di jalan Allah. Dan tidaklah beliau disakiti dengan sesuatu, lalu beliau membalas pelakunya, kecuali jika ada sesuatu di antara hal-hal yang diharamkan Allah dilanggar, maka beliau akan membalas dengan hukuman karena Allah”(HR Muslim no. 2328, Abu Dawud no. 4786, dan Ibnu Majah no. 1984).

Apa yang lebih buruk dari penjajahan, pengusiran, penistaan terhadap masjid suci al-Aqsha?

Sebelum mereka mengeluarkan kartu biru atau menahannya, mengusir pemegang kartu hijau dari al-Quds. Angkatlah dan berilah mereka kartu merah. WalLâhu al-Musta’ân.


Catatan Keberkahan 81

Jakarta, 16.12.2017

SAIFUL BAHRI

Iklan

Batas Merah dan Fathu Makkah


Setiap peraturan ada batas-batasnya. Lampu lalu lintas di setiap perempatan, jika berwarna merah maka tak boleh ada kendaraan yang melaju. Setiap wilayah terdapat pagar-pagar yang tak bisa dilanggar dan dilalui. Demikian, senada dengan hadis Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh an-Nu’man bin Basyir ra, “… sesungguhnya setiap raja memiliki pagar-pagar, dan pagar-pagar Allah adalah hal-hal yang diharamkan-Nya…” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dalam potongan hadis tersebut terdapat kejelasan hal yang halal dan kejelasan yang haram, kemudian terdapat wilayah abu-abu yang menjadi syubhat. Orang-orang yang menjaga dirinya dari wilayah syubuhât, maka ia menjaga agama dan kehormatannya. Jika ia sanggup maka ia akan semakin menjauh dari wilayah merah, wilayah larangan.

Demikian halnya, saat Presiden Amerika, Trump tanggal 6 Desember 2017 di tengah hari, ia mendeklarasikan secara eksplisit pemindahan kedutaan AS untuk Israel ke Kota al-Quds ia telah menembus batas merah tersebut.

Coba lihat respon dunia. Meledak. Apalagi umat Islam, menjadi pihak yang paling tersakiti. Secara khusus lagi adalah Bangsa Palestina yang selama ini terampas kedaulatannya oleh Zionis Israel. Sebenarnya hal tersebut tidak mengherankan jika dilihat dari sejarah sikap Amerika secara politis terhadap Israel yang terus menjadi support dan pelindung bagi mereka. Berapa resolusi PBB yang terdowngrade? Berapa kesepakatan internasional yang diveto Amerika untuk melindungi kejahatan kemanusiaan Israel? Siapa lagi yang bisa menghentikan pembangunan pemukiman ilegal Israel di wilayah-wilayah Palestina? Sebagian terkaget-kaget, meski sebelumnya bisa diprediksi. Sebagian tersadar dan tak mampu berbuat apa-apa, selain mengecam. Setidaknya ini lebih baik dari pada tidak bersikap sama sekali. Padahal, penistaan dan penjajahan ini perlu respon keras terutama dalam percaturan negara-negara secara internasional.

Penjajahan, pencaplokan, perampasan, tindakan-tindakan tak manusiawi Zionis Israel terhadap Palestina selama ini sebenarnya juga tak bisa ditolelir. Namun, dunia internasional seolah tak berdaya dan tak mampu merespon keras terhadap ketidakadilan dan kezhaliman serta penjajahan Israel tersebut. Setidaknya, umat Islam masih bisa menahan diri dan lebih banyak mengalah serta masih menempuh jalan-jalan damai dalam menyikapi kejahatan-kejahatan tersebut. Respon-respon perlawanan fisik pun terjadi sesekali saja, ada letupan-letupan kecil atau setidaknya tak besar.

Namun, saat deklarasi pemindahan kedutaan AS ini ke Al-Quds, maka Amerika dan Israel sudah masuk batas-batas merah yang menjadi zona larangan keras. Pihak-pihak yang selama ini menyuarakan perdamaian, justru mereka lah yang menghancurkannya. Menariknya, pihak yang menjadi pendukung utama Trump adalah aktivis-aktivis Kristen Avangelis. Yahudi Ortodoks sendiri sebenarnya menentang kebijakan Trump. Hal ini menegaskan bahwa Zionisme tak lagi membasiskan kekuatan pada pemeluk agama Yahudi saja, tapi mereka akan mengerahkan semua ideologi untuk mencapai keinginan kembali ke bukit zion, ke tanah suci al-Quds di Palestina.

Secara historis, sirah Nabi Muhammad SAW menuturkan keajaiban. Pada saat Kuffar Quraisy membuat perjanjian yang merugikan umat Islam, yang dikenal dengan Perjanjian Hudaibiyah. Sekutu pihak Quraisy lah yang memulai melanggar perjanjian, mengkhianati kesepakatan. Inilah yang kemudian justru menjadi pembuka kemenangan umat Islam dengan peristiwa Fathu Makkah.

Dengan semangat tersebut, saat ini umat Islam perlu bangkit menyusun strategi kemenangan. Dukungan internasional yang bukan hanya berbasis ideologi ini sudah semestinya dikapitalisasi dan dioptimalkan. Jika ada persekutuan yang berbasis pengkhianatan, maka seharusnya persekutuan yang meneguhkan kemanusiaan, memuliakan martabat kedaulatan suatu bangsa harus diperkuat.

Jika lampu merah sudah menyala itu pertanda lampu hijau segera menggantikannya, saat semua kendaraan memacu gasnya.

Jika batas-batas merah sudah diterjang, bersiaplah akan ada konsekuensi berat dan resiko yang harus ditanggung pelanggarnya.

Islam tak pernah mengajarkan membenci agama dan pemeluknya, termasuk Yahudi atau Kristen sekalipun atau keyakinan manapun. Yang saat ini harus dijadikan musuh bersama adalah sebuah ideologi yang merusak keharmonisan bernama Zionisme. Lawan, sebagaimana rakyat Palestina pernah meletuskan kemarahannya melalui batu-batu di bulan ini tiga puluh tahun yang lalu. Intifadhah, saatnya meletus kembali dan menjemput kemenangannya. WalLâhu al-Musta’ân.

 

Catatan Keberkahan 80

Jakarta, 07.12.2017

SAIFUL BAHRI

Angka-Angka dan Batas Kemampuan

Manusia hidup dibatasi ruang dan waktu. Namun, batas-batas waktu dan ruang, hakikatnya Allah yang memilikinya. Dia bisa ciptakan jarak yang jauh untuk seseorang dan sebaliknya Dia mampu mendekatkan jarak untuk yang lainnya. Dia bisa mempersingkat waktu untuk seseorang dan bisa pula memanjangkan sesuai kehendaknya.

Lihatlah, waktu yang sangat singkat menurut ashâbul kahfi yang berada di dalam gua, ternyata setara dengan 300 atau 309 tahun lamanya. Demikian pula jarak yang sangat jauh menjadi sangat dekat bila Sulaiman yang menempuh perjalanannya, karena ia dikaruniai kendaraan berupa angin yang super cepat. Demikian halnya Nabi Muhammad SAW saat bermi’raj menghadap Allah, melalui langit-langit dan kemudian sidratul muntaha, lalu penuh misteri di mana pertemuannya dengan Allah terjadi. Waktu dan tempat tak berlaku di hadapan Allah, karena Dialah penciptanya. Nabi Muhammad pun menempuh jarak unlimited dengan waktu yang sangat singkat.

Waktu juga menjadi ukuran manusia modern sesuai dengan kepentingannya. Bagi kaum matrealis waktu adalah aset materi. Bagi pemuja modal atau kaum kapitalis, waktu harus diuangkan. Waktu adalah kesempatan untuk apa saja.

Tak heran jika Al-Quran memuat jenis-jenis waktu di dalamnya. Malam, adalah waktu yang paling banyak disebut secara frekuensi. Sedangkan pagi adalah jenis waktu yang paling banyak variannya. Keistimewaan waktu malam sangat banyak. Di antaranya, Allah memilih malam sebagai waktu turunnya al-Quran. Secara eksplisit keterangan tentang turunnya al-Quran di malam hari bisa diketahui dari awal Surah ad-Dukhan dan Surah al-Qadar. Maka, Allah pun memerintah nabi-Nya juga umat beliau untuk membaca al-Quran, terkhusus di malam hari, bahkan perintah ini terulang dua kali dengan redaksi yang sama di dalam satu ayat, yaitu di akhir Surah al-Muzammil (ayat ke 20).

Menariknya, Allah juga bersumpah atas nama kumpulan waktu melalui awal Surah al-Ashr. “Wal ‘ashr” (Demi Masa), menunjukkan bahwa hampir rata-rata manusia terjebak dalam kerugian. Karena al-Ashr yang dimaksud adalah perasan waktu, produktivitas waktu yang tidak sekedar menilik pada angka-angka. Baik angka waktu yang dilalui atau bahkan angka hasilnya. Ini membuktikan bahwa belum tentu seseorang yang berusia lima puluh tahun akan lebih baik dari orang yang baru berusia dua puluh tahun. Demikian juga patokan angka materi. Seseorang yang mendapatkan take home pay bulanan sebesar milyaran, belum tentu lebih baik dari orang yang hanya mendapatkannya sejumlah beberapa juta saja.

Di antara contoh yang memperjelas relatifitas angka-angka tadi adalah usia muda para sahabat semisal Aisyah binti Abi Bakar, Mu’adz bin Jabal, Abdullah bin Abbas dan sahabat lainnya sering menjadi rujukan bagi para sahabat senior (kibâr ash-shahâbah). Imam an-Nawawy ad-Dimasyqi yang berusia empat puluh lima tahun, namun memiliki karya-karya monumental dan jumlahnya sangat banyak.

Nabi Nuh ‘alaihissalâm, diutus Allah kepada kaumnya, “…maka ia tinggal di antara mereka seribu tahun kurang lima puluh tahun. Maka mereka ditimpa banjir besar, dan mereka adalah orang-orang yang zalim.” (QS. Al-Ankabût: 14)

Jika menggunakan standar ukuran modern maka Nabi Nuh bisa dikategorikan sebagai nabi yang gagal. Karena kesempatan yang diberikan sangat banyak, namun hasilnya tidak sesuai harapan. Faktanya justru sebaliknya, Nabi Nuh merupakan satu dari lima nabi istimewa yang digelari dengan ulul azmi. Beliau menjadi sangat ikonik dengan kesabaran. Berbicara kesabaran dan keteguhan takkan bisa dilewatkan tanpa bersentuhan dengan kisahnya.

Maka, simpulan sederhana tulisan ini adalah bahwa angka-angka itu hanya membantu manusia mengukur suatu capaian dan memudahkan evaluasi. Namun, nilai dan kualitasnya hanya Allah lah yang menentukan. Hanya itulah batas kemampuan manusia. Ia dibatasi ruang dan waktu. Maka, jika ia mampu melompatinya dengan kualitas, ia akan lolos dari jerat kerugian sebagaimana Allah tegaskan dalam surah al-Ashr. Itulah yang disebut kualitas kehidupan (keberkahan). Allah memberkahi waktu seseorang juga tempat ia berada. Mendekatlah dengan orbit keberkahan tersebut.

Di antara orbit keberkahan yang Allah ciptakan di bumi ini adalah al-Masjid al-Aqsha. Dalam bahasa al-Quran, Allah memberkahi sekelilingnya (lihat Surah al-Isra’: 1). Namun, makna “haul” di sini belum tentu menunjukkan batasan ruang dan waktu. Itulah makna yang menggerakkan Seorang Maimunah meraih keberkahan Baitul Maqdis (baca Catatan Keberkahan 75: Pelita-Pelita Baitul Maqdis)

Dengan waktu yang terbatas juga ruang yang pasti juga terbatas, berbuatlah “apa saja” yang dianggap baik oleh Allah, karena Dial ah penentu kualitas perbuatan yang menjadi pembobot kualitas kebaikan. Adapun setiap gerak-gerik perbuatan kita, pasti akan mendatangkan resiko atau komentar dari orang lain. Dengan atau tanpa komentar, Allah lah yang menilai. Maka, berbuatlah! Apa saja. Biar Allah yang melihat dan menilainya. WalLâhu al-Musta’ân.

Catatan Keberkahan 79

Jakarta, 04.12.2017

SAIFUL BAHRI

Persepsi Rasa Malu

Sahabat Uqbah bin Amr meriwayatkan sebuah hadis dari Rasulullah SAW, beliau bersabda, “Sesungguhnya di antara yang diketahui manusia dari perkataan kenabian pertama adalah “Jika Engkau tidak malu, maka berbuatlah sesukamu!” (HR. Al-Bukhâri)

Dalam kesempatan lain rasa malu dipersepsikan sebagai salah satu indikator keimanan seseorang. Malu yang dimaksud adalah rasa malu pada Allah. Malu, ketika diberi Allah banyak karunia tetapi tak mampu bersyukur. Malu, karena banyak melakukan kesalahan yang tidak perlu. Malu, karena membalas kebaikan Allah dengan kemaksiatan. Itulah hakikat malu. Sama seperti ungkapan Allah tentang keburukan atau kejahatan yang pelakunya disebut al-Quran dengan “al-mujrimûn”. Yaitu, tak sekedar dilihat dari pelaku atau perilaku buruknya, namun lebih dilihat kepada siapa yang ia durhaka, mengapa ia durhakai Dzat yang maha memberi segala, yang mengasihi tanpa pilih, yang menyayangi tanpa membedakan.

Seriring dengan perkembangan persepsi kebaikan dan kemuliaan manusia yang dikepung dengan pola hidup matrealistik dan hedonisme maka pemahaman tentang malu juga bergeser. Maka persepsi malu ini kemudian dialamatkan kepada sesama manusia. Seseorang akan malu kalau keburukannya terungkap dan diketahui orang lain. Sehingga ia akan berusaha menyembunyikan, ini pun sebenarnya masih lumayan ketika ia sadar dan kemudian bertaubat.

Kemudian, rasa malu ini makin bergeser, menjadi kepada sebagian orang dan kemudian hanya kepada sedikit orang, hingga akhirnya menghilang sama sekali. Itulah yang disebutkan di dalam hadis di atas. Karena jika rasa malu hilang dari seseorang maka dikhawatirkan ia akan kehilangan iman dan bahkan ruh dan spirit kehidupannya.

Ibnu al-Qayyim al-Jauziyah menyebut asal kata rasa malu (al-hayâ’) adalah kehidupan (al-hayâh). Hidup dan matinya hati seseorang sangat mempengaruhi sifat malu orang tersebut. Begitu pula dengan hilangnya rasa malu, dipengaruhi oleh kadar kematian qalbu dan ruh seseorang. Sehingga setiap kali qalbunya hidup, pada saat itu pula rasa malu menjadi lebih sempurna. Kesempurnaan ini akan mengantarkannya menjadi sempurna. Dan orang yang paling pemalu adalah para nabi. Abu Said al-Khudry menyebutkan bahwa Rasulullah SAW memiliki rasa malu melebihi rasa malunya seorang gadis pingitan. (HR.Al-Bukhâri, no. 6119).

Dengarkan kalam Allah yang menjelaskan rasa malu beliau, “…tetapi jika kamu diundang Maka masuklah dan bila kamu selesai makan, keluarlah kamu tanpa asyik memperpanjang percakapan. Sesungguhnya yang demikian itu akan mengganggu Nabi lalu Nabi malu kepadamu (untuk menyuruh kamu keluar), dan Allah tidak malu (menerangkan) yang benar”. (QS. al-Ahzâb [33]:53)

Allah mencintai orang yang pemalu, malaikatkan pun memiliki rasa malu. Karena itulah rasa malu ini adalah warisan kenabian, bahkan terwasuk di antara yang pertama diwariskan. Rasulullah SAW membahasakannya dengan “min kalâmi an-nubuwwah al-‘ûla” (Diantara perkataan dari kenabian yang pertama). Para ulama memaknai hadis di atas dengan tiga hal:

  1. Ancaman, agar seseorang terus memiliki rasa malu yang benar. Artinya berbuatlah sesukamu ini redaksi yang keras dalam melarang dan bukan menyuruh demikian. Senada dengan firman Allah “Perbuatlah apa yang kamu kehendaki; Sesungguhnya Dia Maha melihat apa yang kamu kerjakan”. (QS. Fushilat [41]:40)
  2. Menjelaskan konsekuensi. Artinya jika seseorang tidak memiliki atau kehilangan rasa malu maka ia akan melakukan apa saja, termasuk keburukan dan kekejian yang besar sekali pun.
  3. Sebagai syarat pembolehan. Artinya ketika seseorang hendak melakukan sesuatu, standarnya adalah malu kepada Allah terlebih dahulu kemudian manusia. Jika yang dilakukan tidak memalukan Allah dan manusia, maka lakukanlah, karena yang demikian adalah kebaikan yang diterima Allah dan manusia.

Ketiga makna di atas memungkinkan untuk digabungkan, meskipun pendapat jumhur ulama secara mainstream lebih condong kepada makna yang pertama.

Rasa malu selalu datangkan kebaikan, namun penempatannya juga mesti sesuai dengan anjuran Rasulullah. Yaitu menempatkannya sebagai rem dan kontrol diri untuk mencegah perbuatan yang buruk dan dimurkai Allah terlebih dahulu, dan kemudian di mata manusia.

Tetapi beliau melarang menempatkan rasa malu dalam menanyakan hal-hal yang berkaitan dengan ilmu, perempuan-perempuan Anshar pernah Aisyah puji karena “berani” bertanya beberapa hal yang terkesan tabu dan aib, padahal hal tersebut sesungguhnya adalah pengetahuan yang harus diketahui banyak perempuan. Sebaik-baik wanita adalah wanita Anshâr. Rasa malu tidak menghalangi mereka untuk memperdalam ilmu Agama. Imam Mujahid pernah menyebutkan, “Orang yang malu dan orang yang sombong tidak akan mendapatkan ilmu”. (Ditururkan Al-Bukhâriy dalam Shahîhnya, kitab al-‘Ilmu Bab al-Hayâ’ fil ‘Ilmi)

Malu adalah motivasi kebaikan dan rem keburukan. Jika ia hilang maka hilanglah keselamatan seseorang. Ia tak malu lagi jika tak melakukan kebaikan (yang wajib, sunnah atau anjuran biasa), dan ia tak malu lagi dalam melakukan keburukan. Jika keburukan sudah dipertontonkan dan dilakukan dengan terang-terangan itu maknanya terjadi kematian sosial dan qalbu masyarakatnya.

Ada saudara-saudara kita yang perlu dukungan kemerdekaan dari penjajahan, bangsa Palestina yang berusaha meraih kedaulatan negerinya. Rasa malu lah yang menyebabkan seseorang akan memberikan dukungannya. Jika ia tak malu, mungkin sama sekali ia pun takkan mendukungnya. Jika ia melihat kemungkaran, ia pun akan malu jika mendiamkannya.

Sebaiknya, keburukan akan datang bila orang tak malu lagi ketika hal-hal baik ditinggalkan dan hal-hal buruk dipertontonkan. WalLâhu al-Musta’ân.


Catatan Keberkahan 78

Jakarta, 18.11.2017

SAIFUL BAHRI

Pahlawan dan Pejuang

Suatu ketika Amirul Mukminin, Umar bin Khattab berkumpul dengan para sahabat Nabi Muhammad SAW. Mereka diminta untuk mengungkapkan khayalan dan angan masing-masing. Di antara mereka, ada yang memimpikan seandainya ruangan yang mereka tempati dipenuhi emas dan perak, agar bisa disumbangkan untuk perjuangan di jalan Allah. Yang lain membayangkan jika ruangan tersebut penuh berlian yang digunakan untuk menyantuni fakir miskin. Yang lainnya memiliki harapan jika ruangan tersebut dipenuhi bla bla bla. Tibalah saatnya para sahabat menunggu-nunggu, apakah kiranya yang diangankan oleh Umar bin Khattab?

“Sedangkan aku,” kata Umar, “Kubayangkan ruangan ini dipenuhi oleh orang-orang seperti Abu Ubaidah Ibnu al-Jarrah, Hudzaifah ibnu al-Yaman, Bilal bin Rabah…”

Itulah sebuah mimpi dan khayalan yang dahsyat. Beliau memimpikan kehadiran tokoh. Karena manusia adalah pelaku peradaban. Aktor penting yang diperlukan dalam berperan membangun. Sumber daya alam yang melimpah, sarana kehidupan yang serba modern takkan berpengaruh tanpa kehadiran tokoh yang tepat.

Karena itulah al-Quran selalu menghadirkan muttaqîn setiap membahas konsep taqwa, selalu menyertakan muhsinin ketika membicarakan tentang ihsan. Demikian halnya saat mengurai tentang kezhaliman, al-Quran juga menyebutkan ending kaum zhâlimîn, atau saat membicarakan kefasikan pasti akan ada fâsiqîn. Konsep dan tokoh menjadi dua unsur yang selalu beriringan di dalam al-Quran. Kemudian, biasanya Allah akan mengetengahkan profil nyata tentang keduanya. Kisah tentang taqwa dan muttaqîn, kesalihan dan shâlihîn misalnya dijelaskan lebih detil melalui beberapa profil nabi atau orang-orang shalih. Cerita tentang kezhaliman dan kaum zhâlimîn, atau kekufuran dan kaum kâfirîn, dideskripsikan lebih rinci melalui cerita tentang musuh-musuh para nabi, yaitu setan baik dari kalangan manusia ataupun jin yang akan terus berestafet dan bermetamorfosa sepanjang masa. Namrud, Firaun, Jalut adalah di antara profil yang disebut mewakili sisi kegelapan sebuah peradaban di saat pandangan materi menyebut mereka sampai pada puncak kejayaan.

Dengan demikian kehadiran tokoh sangat penting pada saat perjuangan melawan penjajah. Maka, hari ini kemudian secara simbolik di negara kita dikenal sebagai hari pahlawan. Para pahlawan itu hanya mengenal perjuangan membebaskan negerinya dari cengkraman para penjajah. Mereka ingin persembahkan yang terbaik untuk negerinya yang terbelenggu keserakahan dan kezhaliman.

Akan segera muncul nama-nama tak terhitung yang dianggap berjasa terhadap negeri ini. Tahukah kita, bahwa sebagian mereka dulunya adalah profil yang dibenci penjajah, dianggap pecundang dan penjahat yang mengancam eksistensi kekuasaan dan kezhaliman? Sebagian memang dikenal sebagai orang baik-baik saja, sebagian lainnya bahkan baru dikenal ketika mereka sudah tiada. Dan penulis yakin, sebagian besarnya adalah nama-nama yang tidak dikenal dan tak disebut oleh banyak orang yang hidup setelah mereka. Para pahlawan itu adalah manusia biasa yang tak ingin menyerah dengan keadaan yang dihadapinya. Mereka adalah orang biasa yang tak menerima kondisi yang sedang tidak ideal. Mereka adalah orang-orang biasa yang ingin menyukuri nikmat kemerdekaan. Karenanya, mereka melakukan hal yang sebenarnya biasa, untuk cita-cita luar biasa, karena tak sedikit manusia di zamannya yang menyerah dengan keadaan yang timpang. (baca Catatan Keberkahan 47: Superhero)

Maka, sebagaimana jalan terjal kemerdekaan Indonesia, Bangsa Palestina pun tentu mengharapkan kemerdekaan yang berdaulat. Pahlawan mereka pun melakukan apa saja untuk meraihnya dengan penuh kehormatan. Membebaskan harga diri dan martabat kedaulatan yang terenggut oleh penjajahan dan kezhaliman.

Pahlawan itu orang biasa yang punya mimpi berjuang, tak menyerah terhadap realita. Kita, harus menjadi pahlawan yang menjaga negeri dan membangun peradaban. WalLâhu al-Musta’ân.

 

Catatan Keberkahan 77

Leeds, 10.11.2017

SAIFUL BAHRI

Janji Al-Quran dan Janji Balfour


Deklarasi Balfour (2/11/1917) adalah janji pemukiman untuk Bangsa Yahudi di kawasan yang diberi nama Palestina. Menteri Luar Negeri Britania Raya Arthur Balfour menjanjikan kepada Lord Walter Rothschild, seorang taipan dan pemimpin komunitas Yahudi di Eropa. Teks deklarasi tersebut diterbitkan di media sepekan kemudian.

Deklarasi ini terdiri dari 119 kata, disusun oleh 25 pakar Yahudi Zionis dari berbagai negara. Chaim Weismann -Yahudi terkemuka, salah satu inisiator fanatik Zionisme- sampai turun tangan dengan 17 kali menyebrangi Samudera Atlantik.

Deklarasi atau janji Balfour tidaklah muncul tiba-tiba. Sejak perang berkecamuk pada 1914 lobi Yahudi di Eropa yang terwakili oleh Rothschild telah mengondisikan masa depan Palestina, yang nanti menjadi wilayah mandatori Inggris (saat itu Inggris tidak memilikinya, juga bukan wilayah jajahannya). Palestina, peta dengan nama khusus seperti saat ini tidaklah dikenal ketika masih berada di wilayah Ottoman. Karena saat itu terintegrasi ke wilayah yang dikenal dengan sebutan Syam. Lobi Yahudi menembus Kabinet Inggris pada Februari 1917 melalui negosiasi tingkat tinggi, melibatkan orang penting dan pemegang kebijakan di kabinet Inggris dan tokoh-tokoh Zionis. Kemudian pada 19/6 Rothschild dan Weismann, mewakili tokoh zionis mengajukan kerangka detil deklarasi publik.

Balfour menandatangi draft final deklarasi tersebut pada 29/10. Maka, sidang kabinet Britaniya 31/10 menjadi formalitas untuk menjadikannya resmi sebagai sikap negara yang diwakili Departemen Luar negeri dua hari kemudian.

Departemen Luar Negeri 2 November 1917

Tuan Rothschild yang terhormat

Saya sangat senang dalam menyampaikan kepada Anda, atas nama Pemerintahan Sri Baginda, pernyataan simpati terhadap aspirasi Zionis Yahudi yang telah diajukan kepada dan disetujui oleh Kabinet.

“Pemerintahan Sri Baginda memandang positif pendirian di Palestina, tanah air untuk orang Yahudi, dan akan menggunakan usaha terbaik untuk memudahkan tercapainya tujuan ini, karena jelas dipahami bahwa tidak ada suatupun yang boleh dilakukan dan dapat merugikan hak-hak penduduk dan keagamaan dari komunitas-komunitas non-Yahudi yang ada di Palestina, ataupun hak-hak dan status politis yang dimiliki orang Yahudi di negara-negara lainnya”.

Saya sangat berterima kasih jika Anda dapat menyampaikan deklarasi ini untuk diketahui oleh Federasi Zionis.

Salam, Arthur James Balfour

Deklarasi ini hanya berjarak hari dengan meletusnya Revolusi Bolshevik (Revolusi Oktober) yang dilakukan oleh pihak komunis Rusia yang dipimpin Lenin. Setelah merebut kekuasaan di Petrograd, ibukota Rusia kala itu, mereka menggulingkan pemerintahan nasionalis di bawah pimpinan Alexander Kerensky yang memerintah sejak Februari 2017. Pemerintahan ini diangkat setelah Tsar Nikolas II dari Rusia turun takhta karena dianggap tidak kompeten.

Rangkaian revolusi di Rusia ini merupakan dendam diaspora Yahudi di Rusia karena tindakan diskriminatif terhadap mereka sebelumnya. Para aktivis Hibbat Zionlah yang berada di belakangnya.

Itulah sepenggal janji Balfour yang dipegang orang-orang Yahudi Zionis.

******

Sementara al-Quran memberikan janji kemenangan dan tamkin (eksistensi kepemimpinan) kepada umat Islam di berbagai tempat. Kali ini, kita coba belajar dari surah al-Isra’. Menariknya, di dalam surah ini kata al-Quran diulang sebanyak delapan kali, atau terbanyak dalam satu surah di antara pengulangan total sebanyak 50 kali di dalam al-Quran. Yaitu pada ayat-ayat (9, 41, 45, 46, 60, 82, 88, dan 89).

Al-Quran adalah petunjuk, pengingat, pembatas dan obat. Al-Quran juga kekuatan yaitu mukjizat yang tak tertandingi. Sekilas itulah tema-tema pengulangan al-Quran di surah al-Isra’.

Maka, jika umat ini menjadikan al-Quran sebagai solusi untuk mengakhiri kezhaliman yang terjadi di Baitul Maqdis, maka itu menjadi pendekatan yang dahsyat. Kembali menekuri al-Quran. Memasifkan pembelajaran dan pengajarannya. Mempopulerkan tadabburnya. Memotivasi putra-putri umat ini menjadi ulama al-Quran.

Surat al-Isra’ mewakili pesan Allah kepada umat ini untuk menyelesaikan masalah mereka. Kembali kepada al-Quran. Jadikanlah al-Quran benar-benar kekuatan tak tertandingi (mukjizat). Sehingga tak ada lagi perpecahan dan ketidakpedulian.

Setelah ini kita takkan membandingkan kekuatan janji Balfour dan janji al-Quran. Karena keduanya memang sangat berbeda. WalLâhu al-Musta’ân.

 

Catatan Keberkahan 76

London, 03.11.2017

SAIFUL BAHRI

Pelita-Pelita Baitul Maqdis

Maimunah pernah bertanya dan meminta fatwa tentang Baitul Maqdis kepada Rasulullah SAW. Kemudian beliau menjawab, “Tempat kebangkitan dan perkumpulan (manusia). Datanglah ke sana dan shalatlah di dalamnya, sesungguhnya shalat di sana setara dengan seribu shalat  di tempat lainnya”. Maimunah bertanya, “Bagaimana jika saya tak bisa ke sana?”. Rasulullah bersabda, “Hadirkanlah minyak zaitun untuk meneranginya, siapa yang mengerjakannya seperti halnya datang di sana” (HR. Ahmad, Abu Dawud, Ibnu Majah dan Ath-Thabrany).

Kegigihan Maimunah menarik untuk ditadabburi dan diteladani. Setelah Rasul SAW menjelaskan keutamaan Baitul Maqdis, Maimunah mencari tahu opsi lain untuk meraihnya, ketika ia terjebak dalam keterbatasan. Dan beliau memberi solusi lain untuk meraih keutamaan tersebut. Setelah itu, tidak dijelaskan apa yang dilakukan Maimunah. Orang cerdas sanggup membaca kelanjutan kisah di atas. Pertanyaan dari seorang budak lemah yang dijawab dengan penuh hikmah.

Demikian halnya saat Rasulullah SAW mengajarkan Islam kepada Shuhaib ar-Rumiy, Bilal bin Rabah dan beberapa budak, datang para pembesar dan bangsawan Quraisy kepada beliau. Dengan muka berseri beliau menyambut semua tamu, tanpa membedakannya. Mempraktekkan sunnahnya, memuliakan dan menghormati tamu. Namun, ketika para bangsawan tersebut menolak duduk sejajar dengan para budak, mereka merasa lebih mulia dari budak-budak itu, kemudian mereka meminta agar para budak itu disuruh pulang. Rasulullah SAW salah tingkah dan berubah mimik wajahnya. Allahlah yang kemudian menjawabnya dengan keras, “Dan janganlah kamu mengusir orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan petang hari, sedang mereka menghendaki keridhaan-Nya. Kamu tidak memikul tanggung jawab sedikit pun terhadap perbuatan mereka dan merekapun tidak memikul tanggung jawab sedikit pun terhadap perbuatanmu, yang menyebabkan kamu (berhak) mengusir mereka, (sehingga kamu termasuk orang-orang yang zalim).” (QS. Al-An’âm: 52)

Apa yang menyebabkan para bangsawan tersebut merasa lebih baik dari Bilal dan Shuhaib? Atau bahkan seorang budak perempuan seperti Maimunah? Harusnya mereka malu, demikian juga kita. Karena mereka memiliki tekad kuat untuk meraih kemuliaan, meskipun itu sekedar menyalakan pelita di Baitul Maqdis. Keterbatasan kondisi Maimunah tak membuatnya menyerah untuk meraih kemuliaan Baitul Maqdis. Demikian halnya Shuhaib dan Bilal, meraih posisi penting di sisi Rasulullah SAW. Bahkan Bilal, sang muadzin Rasulullah SAW disabdakan bahwa beliau mendengar terompah Bilal di surga.

Kehidupan modern dan suasana metropolitan kota-kota besar, serta hilangnya daya tarik spiritual membentuk karakter manusia menjadi tamak dan memandang sesamanya dengan ukuran materi. Kemuliaan mereka distandarkan dengan sudut pandang matrealistik. Padahal kekayaan adalah ujian berat Allah untuk manusia, “…Tidakkah Allah lebih mengetahui tentang orang-orang yang bersyukur (kepada-Nya)?” (QS. Al-An’am: 53)

Saatnya setiap kita berpikir meraih kemuliaan dengan perencanaan yang disesuaikan dengan kondisi masing-masing. Bahkan, sekalipun ada ukuran materi maka materi tersebut sekedar menjadi simbol kemuliaan. Mari, tadabburi pesan Allah di ayat selanjutnya, “Apabila orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami itu datang kepadamu, maka katakanlah: “Salâmun ‘alaikum. Tuhanmu telah menetapkan atas diri-Nya kasih sayang…” (QS. Al-An’âm: 54)

Saat diri kita berada dalam komunitas kaum beriman pun, ukuran kebaikannya adalah yang pertama mendoakan dan membacakan salam, salâmun alaikum! Ini menandakan bahwa pacuan kebaikan itu terjadi di mana saja dan kapan saja dengan ukuran yang berbeda-beda. Belajarlah dari Abu bakar (baca: Mengerahkan Segalanya) yang selalu ingin memberi yang terbaik.

Shuhaib, Bilal dan Maimunah telah memiliki rencana mereka meraih kemuliaan dengan kondisi mereka. Apa perencanaan kita? Masih mengeluh dengan keterbatasan? WalLâhu al-Musta’ân.

 

Catatan Keberkahan 75

Jakarta, 27.10.2017

SAIFUL BAHRI