Memanusiakan dan Memerdekakan Manusia


Setiap bulan Agustus, Bangsa Indonesia memperingati hari kemerdekaannya. Kemerdekaan yang berdaulat yang sudah seharusnya diraih oleh sebuah bangsa, bahkan oleh setiap manusia yang terlahir di bumi ini. Manusia terlahir dengan fitrah kemanusiaan dan kemerdekaannya.

Sebagai manusia, seseorang adalah pengemban amanah Tuhannya untuk memakmurkan bumi-Nya sesuai aturan dan ajaran-Nya. Sebagai orang merdeka, ia terbebaskan dari belenggu apapun dan siapapun. Karena ia hanya boleh menghamba kepada satu Dzat saja, yaitu Dzat yang Maha Kuasa yang maha mengaruniai segala kemerdekaan yang dinikmatinya.

Manusia terlahir secara equal, ia diberi mandat yang sama oleh Allah sebagai khalifah di bumi. Ia berpotensi menjadi manusia terbaik, sekaligus berpotensi gagal meraih peluang kebaikan tersebut. Ia lah yang memutuskan untuk memilih jalan kebaikan yang dibentangkan Allah setiap saat kepada semua manusia yang terlahir.

Karena terlahir merdeka, maka misi Islam pun adalah memerdekakan manusia, agar tetap merdeka dan terbebas dari perbudakan apa saja dan terhindarkan dari diperbudak oleh siapa saja. Karena itu hal-hal yang menyebabkan terbelenggunya kebebasan dan menghalangi kemerdekaan ini sering dibahasakan al-Quran dengan kegelapan, kesesatan, penghalang yang disebut dalam bentuk plural dengan bahasa “azh-zhulumât” sedangkan hal protektif (pencegahan) ataupun yang bersifat menyelesaikan (solutif) disebut secara single yaitu “an-nûr”. Susunan (مِّنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ), dengan bentuk susunan seperti ini disebut tujuh kali. (QS. Al-Baqarah: 257, Al-Maidah: 16, Ibrahim: 1 dan 5, Al-Ahzab: 43, Al-Hadid: 9 dan At-Talaq: 11)

Siapapun umat Islam ia memiliki utama membebaskan dan memerdekakan dirinya dari berbagai macam perbudakan seperti materi, popularitas, harta, wanita, kekuasaan dan sebagainya. Demikian halnya ia pun harus bisa merdeka dalam bersikap dan tidak dibawah pengaruh serta menyembah siapapun dari selain Allah; baik yang ada dan terlihat kasat mata maupun  yang tak terlihat dan ghaib. Ini esensi nilai tauhid seorang muslim yang mendeklarasikan keesaan Allah, menuhankan-Nya semata serta bersedia mengikuti ajaran-ajaran yang dibawa oleh utusan-Nya, Nabi Muhammad saw.

Di samping itu ia pun berkewajiban memerdekakan sesamanya dari perbudakan sesama manusia ataupun yang lainnya. Ia bawa dengan baik agar mengenal Tuhannya dengan benar sehingga jauh dari kesyirikan materi dan non materi.

Misi memanusiakan dan memerdekaan manusia inilah yang menjadi starting poin untuk meraih prestasi, baik di dunia maupun di kehidupan masa datang di akhirat, berupa keabadiaan dalam kebahagiaan.

Seorang manusia yang benar-benar merdeka sebagai manusia, adalah orang yang bebas menentukan pilihannya, yaitu mengerahkan segala potensi dirinya untuk menjemput berbagai peluang kebaikan yang Allah tunjukkan. Ia terbebas dari diperbudak nafsunya, manusia ataupun makhluk lainnya yang adalah ciptaan Allah di dunia ini. Ia juga sebagai manusia, yang takkan luput dari kesalahan dan kekhilafan. Namun, tiada kesalahan dan kekhilafan yang tak bisa diperbaiki. Nabi Adam alaihissalam adalah contoh terbaik bagaimana bangkit meraih prestasi dan tak terpuruk dengan kesalahan.

Dan salah satu upaya terbaik mewujudkan kemanusiaan dan kemerdekaan manusia adalah dengan membantu manusia lain atau bangsa lain dalam meraih kemerdekaan yang sesungguhnya dengan makna yang tersebut di atas. Termasuk, menolong bangsa yang sedang terbelenggu oleh kezhaliman dan penjajahan. Membantu merealisasikan kemerdekaan dan kedaulatan bangsa Palestina dan terbebas dari belenggu dan cengkraman penjajahan Zionis Israel.

Berharap, pada Dzat yang selalu memerdekakan hamba-Nya, agar tiada lagi penjajahan dan perbudakan di atas bumi ini. WalLâhu al-Musta’ân.

Catatan Keberkahan 65

Jakarta, 20.08.2017

SAIFUL BAHRI   

*) sebuah bingkisan kemerdekaan RI dan harapan optimis untuk kemerdekaan Palestina

Kebaikan yang Mengendap

Ketika seseorang hendak menikmati secangkir teh manis, ia akan menyiapkan air mendidih. Kemudian ia menyeduh teh sesuai selera. Dan terakhir, dia akan mengambil sendok untuk menuangkan gula ke dalam gelas. Mungkin satu atau dua sendok, satu atau dua blok gula batu.

Cobalah rasakan, apakah air panas yang bercampur teh tersebut terasa manis? Rasanya tawar atau bahkan mungkin pahit. Padahal sudah ada gula di dalamnya. Hal tersebut karena gula yang berada di dalam gelas tersebut mengendap dan belum diaduk serta digerakkan hingga larut dalam air dan kemudian mengubah rasa menjadi manis sesuai keinginan orang yang membuatnya.

Analog di atas adalah realitas kehidupan sehari-hari. Setiap muslim dan juga manusia pasti memiliki potensi kebaikan yang terpendam. Lalu mengapa saat ini kejahatan, keburukan, dan kezhaliman terjadi di mana-mana? Hal tersebut bukan karena jumlah keburukan lebih banyak. Namun, lebih karena orang-orang baik yang diam. Kebaikan menjadi mengendap di dasar-dasar peradaban. Sementara yang muncul ke permukaan adalah keburukan, kejahatan, penindasan, kezhaliman, ketimpangan sosial.

Agar kebaikan seperti gula yang mengubah rasa, ia harus digerakkan. Ketika sudah mewarnai, wujudnya pun tak terlihat. Karena ia menyatu bersama air. Kekuatan mengubah ini mustahil terjadi tanpa adanya gerakan. Orang-orang baik yang jumlahnya sangat banyak tidaklah berarti jika diam di saat kezhaliman dan keburukan nampak di mana-mana.

Sepekan ini dunia dipertontonkan sebuah penistaan terhadap Masjid al-Aqsha. Rezim Zionis Israel menutup akses masuk ke masjid selama beberapa hari. Dan kemudian 16/7 memasang electronic gate di beberapa akses pintu masuk.

Jika dianalogikan, kita memiliki rumah sendiri, kemudian datang orang asing. Tiba-tiba ia memasang electronic gate di depan rumah kita. Alasan keamanan atau reasoning apapun menjadi sangat tak relevan. Ini adalah bentuk penistaan dan penjajahan yang sesungguhnya. Sudah sepekan berjalan, pemerintah zionis menulikan telinga dan menutup mata terhadap aksi protes yang didengungkan dari berbagai penjuru dunia. Bahkan, Jumat kedua pasca penutupan dan pembatasan akses ini terjadi bentrokan dan menelan korban jiwa.

Masalah yang sesungguhnya bukanlah pada diperbolehkan shalat di dalam Masjid al-Aqsha dengan pembatasan sepihak dari Israel, namun, pemasangan electronic gate adalah bentuk penistaan yang tak bisa dibenarkan.

Beberapa waktu lalu, negeri ini sempat dihebohkan oleh rencana pemblokiran salah satu media sosial yang populer. Protes dan kritikan tajam terdengar di mana-mana. Saat ini, Masjid al-Aqsha sudah benar-benar diblokir, diblokade dan dipersulit akses masuknya bagi umat Islam. Di mana suara para pejuang HAM? Suara para pembela kebenaran? Para aktivis kebebasan dan kemanusiaan?

Masjid al-Aqsha adalah amanah Allah. Karenanya, Allah transitkan Rasulullah saw ke Masjid al-Aqsha sebelum beliau ke sidratul muntaha dan kemudian menemui Allah untuk menerima titah dari-Nya. Amanah yang beliau teruskan kepada umatnya.

Mari bergerak, bagaikan air yang mengalir. Meskipun kecil, ia suci dan menyucikan. Tapi lihatlah air yang menggenang di suatu tempat. Ia kemudian bisa berubah menjadi air yang mutanajjis. Air tersebut menjadi najis bukan karena najisnya banyak, namun karena airnya tidak bergerak. Jika umat ini hendak mewarnai peradaban dan memimpin kembali, maka saatnya bergerak secara dinamis. Bergeraklah, dan kejahatan akan menyingkir, keburukan akan sirna, serta kezhaliman akan binasa. Karena bukan kita yang menghilangkannya. Tugas kita bergerak menjemput takdir. Dan Allah telah menyiapkan takdir kemenangan yang mulia. Dzat yang menewaskan Namrud dengan seekor nyamuk adalah Dzat yang juga menenggelamkan Fir’aun, membinasakan Jalut dengan ayunan batu kecil, juga menghinakan Abu Jahal dengan kematian di tangan dua bocah kecil. Ibrahim, Musa, Dawud, Mu’adz dan Muawidz hanyalah hamba-Nya yang membawa takdir kemenangan.

Catatan Keberkahan 61

Jakarta, 22.07.2017

SAIFUL BAHRI

Kembalikan Tradisi Kemenangan

Melanjutkan tagar minal aidin wal faizin yang merupakan orientasi umat Islam di bulan Ramadan, yaitu meraih kemenangan dan kembali pada tradisi-tradisi kebaikan yang ditanamkan oleh Rasulullah saw.

Di antara tradisi yang terpelihara dalam sejarah umat Islam adalah tradisi meraih kemenangan. Kemenangan yang membentangkan bagi mudahnya masyarakat untuk menjalankan tuntunan agama Allah dan memudahkan masyarakat mendapatkan sentuhan rahmat Islam.

Al-Hakim meriwayatkan dalam al-mustadraknya bahwa Nabi Isa a.s diselamatkan oleh Allah dari usaha pembunuhan yang dilakukan kaumnya di bulan yang sama dengan bulan diturunkannya al-Quran. Bulan diturunkannya al-Quran adalah bulan Ramadan sebagaimana kita maklum.

Rasulullah saw dan para sahabat meraih kemenangan signifikan dalam peperangan eksistensi yang menegangkan, Badr al-Kubra pada tanggal 17 Ramadan 2 H. Kemudian penaklukan kota Makkah (Fathu Makkah) terjadi pada tanggal 20 Ramadan 8 H. Berikutnya tradisi kemenangan ini juga terpelihara baik. Pada tanggal 15 Ramadan 138 H/20 Februari 756 M Abdurrahman ad-Dakhil mendirikan pemerintahan di Andalusia serta membangun dasar-dasar kemajuan Islam di Eropa.

Pada tanggal 26 Ramadan 583 H (1188 M), Shalahuddin al-Ayyubiy memenangkan Perang Hittin melawan tentara Salib. Pada tanggal 25 Ramadan 658H (1260 M), Saifuddin Qutz mengeliminasi Tentara Mongol dalam Perang Ain Jalut (dikenal sebagai Ending of Mongol Empire) setelah di masa lalu menjadi mimpi buruk umat Islam, karena menghancurkan Dinasti abbasiyah di Baghdad.

Pada tanggal 4 Ramadan 666 (1268 M), kota Anthakiya yang merupakan salah satu kota penting di Syam kembali ke pangkuan Umat Islam setelah selama 170 tahun dikuasai pasukan salib.

Dalam sejarahnya umat Islam meraih kemenangan dan melanjutkan berbagai tradisi kemenangan terutama diraih di bulan Ramadan. Anehnya, setelah berabad-abad berlalu tradisi tersebut sulit dipertahankan. Fakta pahit tersajikan bahwa kini umat Islam terpinggirkan. Sering menjadi korban stagmatisasi berbagai hal buruk, sejak dari keterbelakangan, ketidakberaturan, terorisme, radikalisme, intoleransi dan sebagainya. Lebih buruk lagi, nyawa umat Islam menjadi sedemikian kurang berharga. Dunia menjadi kurang empati dengan ribuan, puluhan ribu bahkan ratusan ribu nyawa umat Islam yang hilang oleh kezhaliman.

Maka, peran kepemimpinan oleh umat Islam semakin tereduksi. Hal tersebut dikarenakan –salah satunya– umat Islam menjauh dari orbit kebangkitannya, yaitu al-Quran.

Dalam sabdanya Rasulullah saw memperingatkan bahwa rumah yang tidak dibacakan ayat-ayat al-Quran bagaikan kuburan. Maka, lihatlah berapa banyak rumah umat Islam menjelma menjadi kuburan. Mereka makan, tidur dan bercengkerama dengan keluarganya bagaikan dilakukan di dalam kuburan. Keesokan harinya, saat mereka keluar dari rumah, maka bagaikan mereka keluar dari kuburan. Seolah Umat Islam menjelma menjadi mayat-mayat berjalan. Mereka membangun peradaban dari dalam kuburan.

Maka, menyikapi kondisi terkini umat Islam, tiada pilihan kecuali kembali kepada al-Quran. Jika umat Islam hendak meraih kembali kepemimpinan peradaban manusia, itulah solusi yang tepat. Malaikat yang bersentuhan dengan al-Quran, Jibril menjadi malaikat terbaik. Manusia yang menerima al-Quran pertama kali, yaitu Nabi Muhammad SAW, menjadi manusia terbaik bahkan nabi terbaik-Nya, malam yang menjadi sarana turunnya al-Quran menjadi malam terbaik yang pernah ada (lailatul qadar). Bulan Ramadan yang di dalamnya diturunkan al-Quran juga menjelma menjadi bulan terbaik di antara bulan-bulan yang ada. Umat Nabi Muhammad saw, menjadi umat terbaik karena memiliki al-Quran yang menjadi aturan menjalani hidup dari Allah swt.

Kembalikan tradisi kemenangan. Mulailah dari menjadikan rumah sebagai pusat peradaban. Yaitu, dengan cara menjadikan rumah tempat tinggal kita bercahaya dengan al-Quran.

Catatan Keberkahan 58

Sydney, 10.06.2017

SAIFUL BAHRI

Bumi Allah Luas

الأقصى

Jika mendengar istilah bahwa bumi Allah itu luas, langsung terlintas di benak kita firman Allah di Surah an-Nisâ’: 97 yang menegaskan kecaman Allah terhadap orang-orang yang enggan berhijrah ke Madinah. Demikian pula firman Allah di Surah al-Ankabût: 56 dan Surah az-Zumar: 10, adalah anjuran Allah jika seandainya beribadah di suatu tempat menjadi demikian sulit dan berat, maka terdapat bumi Allah lain yang luas yang bisa menjadi tempat beribadah.

Secara tekstual, ayat-ayat di atas mengisyaratkan anjuran hijrah yang bermakna fisik. Padahal hijrah bukan –HANYA– dimaknai perpindahan fisik. Jika menilik peristiwa hijrah nabawiyah ke kota Madinah merupakan perpindahan level beribadah dari skup individu menuju level yang lebih luas yaitu komunal dengan menciptakan grup value atau pada level negara. Di samping itu terdapat sekian makna hijrah yang berarti non fisik.

Tak heran jika nantinya akan ada saja pihak-pihak yang menyuarakan solusi bagi tragedi kemanusiaan yang terjadi di Palestina, penjajahan, pendudukan ilegal, perampasan tanah sampai berbagai jenis kejahatan yang terjadi, yaitu berupa solusi hijrah fisik. Artinya jika bangsa Palestina mau pindah dari tanah mereka saat ini maka –seolah– masalah kemanusiaan yang mereka hadapi akan selesai. Padahal masalah yang sesungguhnya adalah sangat krusial dan berdimensi sangat ideologis. Maka justru, kepindahan fisik umat Islam di Palestina keluar dari Palestina, khususnya dari Masjid al-Aqsha menjadi sangat tak dianjurkan. Mereka wajib untuk menjaga agar amanah Masjid al-Aqsha bisa terus dijaga dari pendudukan dan perampasan tempat-tempat suci oleh rezim Zionis Israel.

Akhir Maret 1976 adalah sebuah nestapa kelabu bagi rakyat Palestina, khususnya para petani. Pemerintah Zionis Israel merampas sekitar 21 hektar tanah Palestina di Desa Arraba, Sakhnin, Dir Hana, Thar’ân, Thamra dan Kabul serta beberapa wilayah lainnya. Pada tanggal 29 Maret 1976 diberlakukan darurat sipil yang melarang siapapun keluar rumah dari mulai pukul lima petang hingga pukul lima pagi di hari berikutnya. Sehari kemudian, 30 Maret 1976 para petani Palestina melakukan demonstrasi besar-besaran sebagai bentuk perlawanan dan melakukan mogok massal. Militer Zionis dengan keras merespon demonstrasi tersebut. Banyak korban jiwa berjatuhan. Sejak saat itu setiap tanggal 30 Maret sering disebut sebagai “Hari Tanah”, mengenang kekejaman dan kezhaliman rezim zionis yang melakukan perampasan tanah milik individu dan publik di berbagai wilayah Palestina.

Maka, logika mengenai hijrah untuk kasus Palestina harusnya dibalik. Jika bumi Allah itu luas, seharusnya tak ada perampasan tanah. Tak ada pengusiran yang semena-mena. Tak ada pembangungan pemukiman-pemukiman ilegal di atas tanah-tanah Palestina.

Jika bumi Allah itu luas, mengapa para imigran ilegal zionis yang dimobilisasi dari berbagai negara tersebut tidak mencari tanah-tanah yang tidak berpenghuni. Seharusnya mereka bisa menempati tanah-tanah kosong tak berpenghuni yang tersebar di berbagai tempat.

Jika bumi Allah itu luas, mengapa para penduduk asli Palestina harus terusir keluar dari tanah mereka sehingga berdiaspora ke berbagai belahan bumi. Sebagian besar terkatung-katung dan berstatus sebagai pengungsi atau sebagai pencari suaka di berbagai negara-negara sekitarnya.

Itulah sebuah ironi kemanusiaan di zaman modern, ketika masih ada sebuah bangsa yang harusnya memiliki negara yang berdaulat, kini hidup sebagai bangsa terjajah. Terjadi pembiaran terhadap penjajahan dan perampasan semena-mena ini. Dunia internasional tak berdaya menghentikan pembangunan pemukiman-pemukiman ilegal di Palestina. Masyarakat internasional tak berkutik menyaksikan berbagai penistaan terhadap Masjid al-Aqsha. Hal-hal buruk ini terjadi saat seruan toleransi didenungkan di mana-mana dan hak asasi manusia menjadi standar kehidupan internasional.
Catatan Keberkahan 48

Jakarta, 31.03.2017

 

SAIFUL BAHRI

Superhero

heroeslgcgogo.jpg

Kalau diperhatikan saat ini produksi film-film hollywood kembali sering memunculkan tokoh dan karakter superhero. Lihat saja deretan filmnya sangat banyak. Publikasi yang jor-joran. Mengapa, sampai ada eksplorasi yang berlebihan tentang tokoh-tokoh superhero tersebut? Bisa jadi karena ruang hampa yang muncul terlalu banyak. Hampa harapan karena para pemegang kebijakan dunia ini semakin tidak bersinergi. Benturan-benturan politis semakin mengemuka. Tragedi kemanusiaan semakin banyak dan melebar. Pembiaran yang terjadi terhadap pembunuhan, penjajahan, pengusiran semena-mena adalah bentuk-bentuk tindakan tidak manusiwai.

Krisis Suriah yang tak kunjung jelas ujungnya. Penjajahan Zionis terhadap Palestina yang semakin brutal meski dikecam oleh banyak bangsa. Serta berbagai krisis kemanusiaan lainnya, seperti kelaparan di Somalia. Hal-hal tersebut adalah potret peradaban modern kita.

Maka, sebenarnya wajar jika manusia mulai merindukan sosok superhero. Khayalan mereka mulai berfantasi menunggu datangnya manusia yang bukan manusia biasa. Agar masalah-masalah yang terjadi saat ini terselesaikan dengan segera dan tidak bertele-tele. Padahal persepsi mereka tentang superhero ini terlalu utopis. Bahkan hanya ilusi belaka.

Yang kita perlukan saat ini bukan superhero seperti yang digambarkan oleh para sineas hollywood. Yang kita perlukan saat ini adalah orang-orang yang tak menyerah dengan keterbatasan dan keadaan. Yang tak menyerah meski kezhaliman dipertontonkan di mana-mana. Yang tak menyerah meskipun kemungkaran bergelombang datang menyerbu dan menyerang. Yang tetap kokoh meskipun dikepung berbagai konspirasi.

Yang kita perlukan dengan urgen dan segera adalah persatuan. Persatuan umat ini akan menjadikan misi kepemimpinan umat Islam sebagai rahmat bagi alam semesta. Umat yang bersatu akan mengembalikan peran vital dalam memimpin peradaban manusia, pasca kepemimpinan Nabi Muhammad SAW dan para sahabatnya dan diteruskan oleh para generasi berikutnya.

Peran umat Islam dan perkhidmatannya terhadap peradaban manusia memnag tak bisa hanya diukur melalui politik dan kekuasaan. Sehingga pasca runtuhnya Khilafah Usmaniyyah 1924 M tak bisa langsung dikatakan bahwa umat Islam tak lagi berperan dalam membangun peradaban. Jika dikatakan berkurang mungkin ada benarnya, namun hal tersebut tak berarti nihil sama sekali.

Umat Islam dan manusia pada umumnya saat ini menanti hadirnya para pejuang dan pahlawan yang benar-benar memiliki tekad baja dan tanpa pamrih keduniaan dan materi. Mereka itu bukanlah manusia super yang bisa terbang atau tak tembus peluru atau berkulit baja. Mereka manusia yang normal seperti kebanyakan manusia. Tapi manusia yang nilainya melebihi seribu komunitas manusia lainnya. Bagaikan malam lailatul qadar yang melebihi seribu bulan. Karena kedekatannya dengan kalam dan wahyu Allah yang mulia.

Kembalilah kepada al-Quran, manusia super akan segera hadir membawa umat Islam memimpin peradaban manusia. Al-Quran yang menjelma dalam dirinya sehingga perkataan-perkataannya searah dengan al-Quran. Perbuatan-perbuatannya sejalan dengan panduan-panduan langit. Tingkah lakunya tak menyelisihi apa yang menjadi rambu-rambu dari Allah dan Rasul-Nya. Menjelma kembali seperti abu Bakar, Umar, Usman dan Ali serta generasi terbaik umat ini. Takkan sulit diwujudkan jika umat ini segera sadar dan kembali bersatu dengan panduan kitab-Nya. Wallaahu al-Musta’ân.

 

Catatan Keberkahan 47

Jakarta, 24.03.2017

SAIFUL BAHRI

Satu Jantung Satu Kiblat

Jantung-652x373

Jantung adalah pusat kehidupan manusia, baik kehidupan yang berarti fisiologis ataupun non-fisiologis. Al-Quran memiliki perhatian terhadap pembahasan jantung yang disebut dengan lafazh qalbu. Kata qalbu yang single (beserta derivasinya) diulang dalam al-Quran di 53 ayat. Sedangkan kata qulûb diulang dalam 104 ayat. Qalbun bisa berarti organ fisik manusia; jantung dan juga bisa diartikan non-fisik sebagai alat perasa, memahami, tempat iman, cinta, kufur dan benci serta berbagai rasa yang lainnya. Kadang bisa berarti dua-duanya sekaligus. Adapun jika al-Quran menyebutnya dengan fu’âd yang pluralnya af’idah diartikan dengan makna non fisik yaitu alat memahami dan merasakan.

Kedua kata di atas lazimnya diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan kata “HATI” yang berarti tidak fisiologis. Namun, jika tidak dijelaskan secara rinci bisa dipahami secara salah. Karena tidak definitif dan bahkan jika diarahkan ke organ tubuh hati (lever) maka tidak tepat.

Selama ini banyak kalangan menganggap bahwa jantung hanya berfungsi sebagai mesin pompa darah. Tapi, mulai abad 21 dan ketika terjadi perkembangan pesat di bidang pencangkokan jantung dan pembedahan jantung, para peneliti mulai menyadari adanya fenomena aneh dan tidak wajar yang terjadi secara psikologis pada pasien setelah dilakukan operasi pencangkokan jantung. Hal ini menandakan bahwa jantung itu tak bisa hanya dilihat secara fisiknya saja.

“mereka mempunyai qalbu, tetapi tidak dipergunakan untuk memahami”. (Sûrah Al-A’râf:179) ayat senada di surah al-Hajj: 46. Qalbu disebut sebagai alat untuk memahami.

Rasulullah SAW juga bersabda bahwa jantung merupakan organ penting. Baik secara fisik maupun non fisik. Jika ia baik maka keseluruhan anggota badan manusia akan baik, demikian juga yang berarti non fisik, jika ia baik maka secara umum ia akan menjadi manusia yang baik.

Jantung sehat secara fisik, akan mempengaruhi kesehatan dan kebugaran fisik. Jantung sehat secara non fisik (memahami, beriman, bersyukur), maka akan memacu manusia menjadi pribadi baik. Menjaga kesehatan jantung (qalbun) bisa dilakukan melalui dzikrullah (Ar-Ra‘d [13]:28), (Al-Anfâl [8]:2), (Âl-Imrân [3]:191), juga dengan tilawah al-Quran, karena Allah senantiasa memerintahkan untuk membaca al-Quran dalam kondisi apapun meskipun hanya sedikit dan sebentar (lihat Surah al-Muzammil: 20).

Jika qalbun manusia sehat, maka kondisi sosial akan sehat dan baik. Qalbun juga memancarkan gelombang elektromagnetik yang bisa saling mempengaruhi, menguatkan dan memotivasi. Jika demikian terjadi, gelombang kebaikan benar-benar bisa dibesarkan. Maka takkan ada kesenjangan sosial terlihat.

Bagaimana saat ini kita saksikan? Yang hidup di belahan bumi Eropa, orang bermain-main bola bergaji miliaran rupiah perpekannya, sementara ada ribuan/jutaan nyawa hilang karena bencana kekeringan dan kelaparan di Somalia. Di belahan bumi tertentu, daging makanan untuk hewan peliharaan lebih tinggi dan mahal dari daging yang dimakan oleh manusia di negara berkembang. Bahkan di beberapa tempat, jangankan daging, makanan pun langka didapatkan.

Di tempat-tempat tertentu orang dimanjakan dengan fasilitas properti dan gedung-gedung pencakar langit, sementara di Tepi Barat dan khususnya al-Quds rumah-rumah milik mereka sendiri digusur dengan semena-mena, di Jalur Gaza banyak sekolah tetap harus berfungsi meski gedung-gedungnya berupa reruntuhan, dan berbagai fasilitas publik lainnya karena lambannya proses recovery yang terhalang kendala suplay bahan di perbatasan atau terbatasnya dana pembangunan.

Sebagai umat Islam, selayaknya lebih memikirkan dulu saudara-saudara kita yang tertindas oleh kezhaliman dan terjebak oleh musibah kelaparan. Satu jantung dan satu kiblat. Selanjutnya memimpin peradaban memakmurkan bumi Allah dan bermanfaat untuk seluruh umat manusia.

 

Catatan Keberkahan 46

Jakarta, 17 Maret 2017

SAIFUL BAHRI

NAFAS-NAFAS BARU

air-dan-kupu2

SAIFUL BAHRI

Perubahan atau pergantian waktu adalah sebuah karunia dan salah satu nikmat Allah. Di samping itu hal tersebut menjadi tanda-tanda kekuasaan Allah yang mengubah segalanya. Perubahan adalah ciri utama makhluk-Nya. Jika waktu ini dijadikan malam selamanya oleh Allah, maka siapa tuhan selain-Nya yang sanggup mendatangkan cahaya seterang siang? Sebaliknya, jika waktu ini dijadikan siang selamanya oleh Allah, maka siapakah yang sanggup membuat malam sebagai waktu normal untuk beristirahat para manusia? Itulah yang disampaikan Allah dalam firman-Nya di QS. Al-Qashash: 71-72.

Momentum pergantian tahun yang baru saja berlalu beberapa waktu, bagi sebagian orang dijadikan titik tolak perubahan. Dalam lingkup mikro saja tak jarang kalender baru tersebut dijadikan patokan untuk membuat perencanaan keuangan, membuat perencanaan kegiatan dan sebagainya.

Sebenarnya tak ada yang salah dengan siang atau malam. Demikian juga matahari dan bulan yang Allah yang salah satu kegunaannya adalah menjadi ukuran waktu. Dengan patokan matahari, umat Islam menentukan waktu shalat seperti yang diperintahkan oleh Rasulullah SAW untuk meniru dan menyontoh shalatnya. Dengan patokan bulan, umat Islam ini juga menggunakan penanggalan untuk melaksanakan puasa Ramadan, menunaikan zakatnya juga melaksanakan manasik haji.

Berbagai peristiwa sudah terjadi sepanjang tahun 2016. Ada yang membuat mata-mata ini sembab menyaksikan berbagai berita yang memilukan dan menyakiti rasa kemanusiaan kita. Ada yang membuat bibir-bibir ini tersenyum menghayati berbagai suka cita. Ada nada kemarahan menyaksikan kezhaliman dipertontonkan di mana-mana. Ada kekecewaan karena berbagai harapan yang terhalangi atau bahkan tersingkirkan. Ada rasa optimisme membuncah menyaksikan kebangkitan umat di tengah berbagai himpitan makar dan konspirasi. Berbagai rasa bercampur. Mengaduk emosi dan perasaan kita. Namun, yang paling menonjol sepanjang tahun kemarin adalah berbagai berita yang memburukkan citra umat Islam. Baik masifnya media massa yang mewartakan berbagai pengeboman dan aksi-aksi terorisme yang diklaim ISIS ada di belakangnya, atau pun suasana pilu yang menimpa Libya, Iraq, dan Suriah di samping permasalahan utama di Timur Tengah pemukiman ilegal Israel yang terus dibangun meskipun ditengah kecaman dunia internasional. Penistaan-penistaan yang dilakukan terhadap Masjid al-Aqsha.

Di balik nestapa kemanusiaan yang sama-sama dialami oleh Palestina dan Suriah, simaklah berbagai keajaiban dan kisah-kisah heroik anak-anak kecil di berbagai pengungsian Palestina.

Ketika bencana kemanusiaan semakin memburuk di Suriah, khususnya di Aleppo, para anak-anak kecil di Gaza juga berbagai tempat pengungsian Palestina di Jordania dan Libanon, juga yang ada di Turki semua menggalang dana kemanusiaan untuk para anak-anak dan pengungsi Suriah. Padahal sebagaimana kita tahu, kondisi mereka, para pengungsi Palestina sangat memerlukan bantuan kemanusiaan. Terkhusus mereka yang berada di Gaza yang belum terecovery dengan baik pasca serangan Israel di tahun 2014 yang lalu.

Perihal bantuan kemanusiaan ini, tidaklah selalu sejalan secara empirik dengan kemampuan materi seseorang atau kecerdasan intelektualnya. Karena yang menjadi sumbunya adalah kepekaan spiritual yang melengkapi kepekaan intelektual (pengetahuan dan informasi), kepekaan emosional (sedih dan pilu) dan kepekaan sosial (sebagai bentuk rasa solidaritas kemanusiaan). Kepekaan spiritual adalah bentuk nyata dari hasil ibadah seseorang yang menghubungkannya dengan Allah secara vertikal.

Bantuan kemanusiaan yang diberikan mereka, yang juga sedang terbelit kesulitan berangkat dari spirit kebesaran Allah yang dideklarasikannya setiap shalat dan dalam setiap perpindahan gerakan di dalamnya. Spirit ingin lebih disayangi Allah dan menebar kasih sayang. Agar segala bentuk permusuhan dan keserakahan manusia segera sirna dan tersingkirkan.

Spirit ini barangkali keinginan para pengungsi itu untuk menghadirkan surga dalam bentuk lain di dunia. Surga yang tidak hanya berbentuk kemakmuran dan gelimang materi serta kekayaan yang kasad mata terlihat. Surga dalam bentuk solidaritas sesama, kepedulian terhadap mereka yang mengalami kesulitan. Itulah spirit yang disampaikan oleh Rasulullah SAW, bahwa bisa jadi sedekah satu dirham mengalahkan sedekah seribu dirham. Karena si pemiliki satu dirham menyumbangkan setengah hartanya yang “hanya” dua dirham, si penyumbang seribu dirham ia memiliki ribuan atau ratusan ribu lainnya. Karena tak selamanya diukur dengan parameter angka.

Spirit perubahan bergantinya waktu adalah ruh optimis yang selalu Allah berikan kepada para makhluknya. Setiap pagi kita seolah mendengarkan lantunan optimisme dari firman-Nya, “Dan demi waktu shubuh ketika bernafas” (QS. At-Takwir: 18)

Itulah nafas-nafas baru yang Allah karuniakan untuk setiap makhluknya. Jika seorang hamba-Nya di hari kemarin berbuat maksiat, nafas baru ini adalah kesempatannya untuk kembali dan bertaubat. Jika hari yang lalu ia telah lewati dengan prestasi, maka nafas baru adalah menciptakan peluang prestasi berikutnya, atau setidaknya mempertahankan atau menebar kebaikannya. Semuanya diberikan Allah peluang dan pintu-pintu kebaikan setiap paginya.

Maka, ketika kalender berganti, jika manusia yang ada hanya sekedar mengganti kalender yang lama dengan yang baru, maka ia belum menghayati makna perubahan dan sunnah pergantian yang sedang Allah perjalankan untuknya.

Saatnya umat ini bertansformasi, mengubah dirinya bersama nafas baru yang Allah kirimkan setiap pagi. Peristiwa apapun yang dilalui umat ini di tahun lalu, kini saatnya mengubah diri sendiri untuk mengisi peluang dan memasuki pintu-pintu kebaikan yang telah Allah buka.

Bersama nafas baru, jangan beri peluang para durjana merenggut optimism. Raih kemenangan. Kemerdekaan. Bebaskan dari segala belenggu yang menghalangi sampai di jalan Allah, Sang Pemberi nafas-nafas baru di setiap pagi. HasbunalLâhu wani’mal wakîl.

 

Catatan Keberkahan 40

Jakarta, 09.01.2017