Kembalikan Tradisi Kemenangan

Melanjutkan tagar minal aidin wal faizin yang merupakan orientasi umat Islam di bulan Ramadan, yaitu meraih kemenangan dan kembali pada tradisi-tradisi kebaikan yang ditanamkan oleh Rasulullah saw.

Di antara tradisi yang terpelihara dalam sejarah umat Islam adalah tradisi meraih kemenangan. Kemenangan yang membentangkan bagi mudahnya masyarakat untuk menjalankan tuntunan agama Allah dan memudahkan masyarakat mendapatkan sentuhan rahmat Islam.

Al-Hakim meriwayatkan dalam al-mustadraknya bahwa Nabi Isa a.s diselamatkan oleh Allah dari usaha pembunuhan yang dilakukan kaumnya di bulan yang sama dengan bulan diturunkannya al-Quran. Bulan diturunkannya al-Quran adalah bulan Ramadan sebagaimana kita maklum.

Rasulullah saw dan para sahabat meraih kemenangan signifikan dalam peperangan eksistensi yang menegangkan, Badr al-Kubra pada tanggal 17 Ramadan 2 H. Kemudian penaklukan kota Makkah (Fathu Makkah) terjadi pada tanggal 20 Ramadan 8 H. Berikutnya tradisi kemenangan ini juga terpelihara baik. Pada tanggal 15 Ramadan 138 H/20 Februari 756 M Abdurrahman ad-Dakhil mendirikan pemerintahan di Andalusia serta membangun dasar-dasar kemajuan Islam di Eropa.

Pada tanggal 26 Ramadan 583 H (1188 M), Shalahuddin al-Ayyubiy memenangkan Perang Hittin melawan tentara Salib. Pada tanggal 25 Ramadan 658H (1260 M), Saifuddin Qutz mengeliminasi Tentara Mongol dalam Perang Ain Jalut (dikenal sebagai Ending of Mongol Empire) setelah di masa lalu menjadi mimpi buruk umat Islam, karena menghancurkan Dinasti abbasiyah di Baghdad.

Pada tanggal 4 Ramadan 666 (1268 M), kota Anthakiya yang merupakan salah satu kota penting di Syam kembali ke pangkuan Umat Islam setelah selama 170 tahun dikuasai pasukan salib.

Dalam sejarahnya umat Islam meraih kemenangan dan melanjutkan berbagai tradisi kemenangan terutama diraih di bulan Ramadan. Anehnya, setelah berabad-abad berlalu tradisi tersebut sulit dipertahankan. Fakta pahit tersajikan bahwa kini umat Islam terpinggirkan. Sering menjadi korban stagmatisasi berbagai hal buruk, sejak dari keterbelakangan, ketidakberaturan, terorisme, radikalisme, intoleransi dan sebagainya. Lebih buruk lagi, nyawa umat Islam menjadi sedemikian kurang berharga. Dunia menjadi kurang empati dengan ribuan, puluhan ribu bahkan ratusan ribu nyawa umat Islam yang hilang oleh kezhaliman.

Maka, peran kepemimpinan oleh umat Islam semakin tereduksi. Hal tersebut dikarenakan –salah satunya– umat Islam menjauh dari orbit kebangkitannya, yaitu al-Quran.

Dalam sabdanya Rasulullah saw memperingatkan bahwa rumah yang tidak dibacakan ayat-ayat al-Quran bagaikan kuburan. Maka, lihatlah berapa banyak rumah umat Islam menjelma menjadi kuburan. Mereka makan, tidur dan bercengkerama dengan keluarganya bagaikan dilakukan di dalam kuburan. Keesokan harinya, saat mereka keluar dari rumah, maka bagaikan mereka keluar dari kuburan. Seolah Umat Islam menjelma menjadi mayat-mayat berjalan. Mereka membangun peradaban dari dalam kuburan.

Maka, menyikapi kondisi terkini umat Islam, tiada pilihan kecuali kembali kepada al-Quran. Jika umat Islam hendak meraih kembali kepemimpinan peradaban manusia, itulah solusi yang tepat. Malaikat yang bersentuhan dengan al-Quran, Jibril menjadi malaikat terbaik. Manusia yang menerima al-Quran pertama kali, yaitu Nabi Muhammad SAW, menjadi manusia terbaik bahkan nabi terbaik-Nya, malam yang menjadi sarana turunnya al-Quran menjadi malam terbaik yang pernah ada (lailatul qadar). Bulan Ramadan yang di dalamnya diturunkan al-Quran juga menjelma menjadi bulan terbaik di antara bulan-bulan yang ada. Umat Nabi Muhammad saw, menjadi umat terbaik karena memiliki al-Quran yang menjadi aturan menjalani hidup dari Allah swt.

Kembalikan tradisi kemenangan. Mulailah dari menjadikan rumah sebagai pusat peradaban. Yaitu, dengan cara menjadikan rumah tempat tinggal kita bercahaya dengan al-Quran.

Catatan Keberkahan 58

Sydney, 10.06.2017

SAIFUL BAHRI

Bumi Allah Luas

الأقصى

Jika mendengar istilah bahwa bumi Allah itu luas, langsung terlintas di benak kita firman Allah di Surah an-Nisâ’: 97 yang menegaskan kecaman Allah terhadap orang-orang yang enggan berhijrah ke Madinah. Demikian pula firman Allah di Surah al-Ankabût: 56 dan Surah az-Zumar: 10, adalah anjuran Allah jika seandainya beribadah di suatu tempat menjadi demikian sulit dan berat, maka terdapat bumi Allah lain yang luas yang bisa menjadi tempat beribadah.

Secara tekstual, ayat-ayat di atas mengisyaratkan anjuran hijrah yang bermakna fisik. Padahal hijrah bukan –HANYA– dimaknai perpindahan fisik. Jika menilik peristiwa hijrah nabawiyah ke kota Madinah merupakan perpindahan level beribadah dari skup individu menuju level yang lebih luas yaitu komunal dengan menciptakan grup value atau pada level negara. Di samping itu terdapat sekian makna hijrah yang berarti non fisik.

Tak heran jika nantinya akan ada saja pihak-pihak yang menyuarakan solusi bagi tragedi kemanusiaan yang terjadi di Palestina, penjajahan, pendudukan ilegal, perampasan tanah sampai berbagai jenis kejahatan yang terjadi, yaitu berupa solusi hijrah fisik. Artinya jika bangsa Palestina mau pindah dari tanah mereka saat ini maka –seolah– masalah kemanusiaan yang mereka hadapi akan selesai. Padahal masalah yang sesungguhnya adalah sangat krusial dan berdimensi sangat ideologis. Maka justru, kepindahan fisik umat Islam di Palestina keluar dari Palestina, khususnya dari Masjid al-Aqsha menjadi sangat tak dianjurkan. Mereka wajib untuk menjaga agar amanah Masjid al-Aqsha bisa terus dijaga dari pendudukan dan perampasan tempat-tempat suci oleh rezim Zionis Israel.

Akhir Maret 1976 adalah sebuah nestapa kelabu bagi rakyat Palestina, khususnya para petani. Pemerintah Zionis Israel merampas sekitar 21 hektar tanah Palestina di Desa Arraba, Sakhnin, Dir Hana, Thar’ân, Thamra dan Kabul serta beberapa wilayah lainnya. Pada tanggal 29 Maret 1976 diberlakukan darurat sipil yang melarang siapapun keluar rumah dari mulai pukul lima petang hingga pukul lima pagi di hari berikutnya. Sehari kemudian, 30 Maret 1976 para petani Palestina melakukan demonstrasi besar-besaran sebagai bentuk perlawanan dan melakukan mogok massal. Militer Zionis dengan keras merespon demonstrasi tersebut. Banyak korban jiwa berjatuhan. Sejak saat itu setiap tanggal 30 Maret sering disebut sebagai “Hari Tanah”, mengenang kekejaman dan kezhaliman rezim zionis yang melakukan perampasan tanah milik individu dan publik di berbagai wilayah Palestina.

Maka, logika mengenai hijrah untuk kasus Palestina harusnya dibalik. Jika bumi Allah itu luas, seharusnya tak ada perampasan tanah. Tak ada pengusiran yang semena-mena. Tak ada pembangungan pemukiman-pemukiman ilegal di atas tanah-tanah Palestina.

Jika bumi Allah itu luas, mengapa para imigran ilegal zionis yang dimobilisasi dari berbagai negara tersebut tidak mencari tanah-tanah yang tidak berpenghuni. Seharusnya mereka bisa menempati tanah-tanah kosong tak berpenghuni yang tersebar di berbagai tempat.

Jika bumi Allah itu luas, mengapa para penduduk asli Palestina harus terusir keluar dari tanah mereka sehingga berdiaspora ke berbagai belahan bumi. Sebagian besar terkatung-katung dan berstatus sebagai pengungsi atau sebagai pencari suaka di berbagai negara-negara sekitarnya.

Itulah sebuah ironi kemanusiaan di zaman modern, ketika masih ada sebuah bangsa yang harusnya memiliki negara yang berdaulat, kini hidup sebagai bangsa terjajah. Terjadi pembiaran terhadap penjajahan dan perampasan semena-mena ini. Dunia internasional tak berdaya menghentikan pembangunan pemukiman-pemukiman ilegal di Palestina. Masyarakat internasional tak berkutik menyaksikan berbagai penistaan terhadap Masjid al-Aqsha. Hal-hal buruk ini terjadi saat seruan toleransi didenungkan di mana-mana dan hak asasi manusia menjadi standar kehidupan internasional.
Catatan Keberkahan 48

Jakarta, 31.03.2017

 

SAIFUL BAHRI

Superhero

heroeslgcgogo.jpg

Kalau diperhatikan saat ini produksi film-film hollywood kembali sering memunculkan tokoh dan karakter superhero. Lihat saja deretan filmnya sangat banyak. Publikasi yang jor-joran. Mengapa, sampai ada eksplorasi yang berlebihan tentang tokoh-tokoh superhero tersebut? Bisa jadi karena ruang hampa yang muncul terlalu banyak. Hampa harapan karena para pemegang kebijakan dunia ini semakin tidak bersinergi. Benturan-benturan politis semakin mengemuka. Tragedi kemanusiaan semakin banyak dan melebar. Pembiaran yang terjadi terhadap pembunuhan, penjajahan, pengusiran semena-mena adalah bentuk-bentuk tindakan tidak manusiwai.

Krisis Suriah yang tak kunjung jelas ujungnya. Penjajahan Zionis terhadap Palestina yang semakin brutal meski dikecam oleh banyak bangsa. Serta berbagai krisis kemanusiaan lainnya, seperti kelaparan di Somalia. Hal-hal tersebut adalah potret peradaban modern kita.

Maka, sebenarnya wajar jika manusia mulai merindukan sosok superhero. Khayalan mereka mulai berfantasi menunggu datangnya manusia yang bukan manusia biasa. Agar masalah-masalah yang terjadi saat ini terselesaikan dengan segera dan tidak bertele-tele. Padahal persepsi mereka tentang superhero ini terlalu utopis. Bahkan hanya ilusi belaka.

Yang kita perlukan saat ini bukan superhero seperti yang digambarkan oleh para sineas hollywood. Yang kita perlukan saat ini adalah orang-orang yang tak menyerah dengan keterbatasan dan keadaan. Yang tak menyerah meski kezhaliman dipertontonkan di mana-mana. Yang tak menyerah meskipun kemungkaran bergelombang datang menyerbu dan menyerang. Yang tetap kokoh meskipun dikepung berbagai konspirasi.

Yang kita perlukan dengan urgen dan segera adalah persatuan. Persatuan umat ini akan menjadikan misi kepemimpinan umat Islam sebagai rahmat bagi alam semesta. Umat yang bersatu akan mengembalikan peran vital dalam memimpin peradaban manusia, pasca kepemimpinan Nabi Muhammad SAW dan para sahabatnya dan diteruskan oleh para generasi berikutnya.

Peran umat Islam dan perkhidmatannya terhadap peradaban manusia memnag tak bisa hanya diukur melalui politik dan kekuasaan. Sehingga pasca runtuhnya Khilafah Usmaniyyah 1924 M tak bisa langsung dikatakan bahwa umat Islam tak lagi berperan dalam membangun peradaban. Jika dikatakan berkurang mungkin ada benarnya, namun hal tersebut tak berarti nihil sama sekali.

Umat Islam dan manusia pada umumnya saat ini menanti hadirnya para pejuang dan pahlawan yang benar-benar memiliki tekad baja dan tanpa pamrih keduniaan dan materi. Mereka itu bukanlah manusia super yang bisa terbang atau tak tembus peluru atau berkulit baja. Mereka manusia yang normal seperti kebanyakan manusia. Tapi manusia yang nilainya melebihi seribu komunitas manusia lainnya. Bagaikan malam lailatul qadar yang melebihi seribu bulan. Karena kedekatannya dengan kalam dan wahyu Allah yang mulia.

Kembalilah kepada al-Quran, manusia super akan segera hadir membawa umat Islam memimpin peradaban manusia. Al-Quran yang menjelma dalam dirinya sehingga perkataan-perkataannya searah dengan al-Quran. Perbuatan-perbuatannya sejalan dengan panduan-panduan langit. Tingkah lakunya tak menyelisihi apa yang menjadi rambu-rambu dari Allah dan Rasul-Nya. Menjelma kembali seperti abu Bakar, Umar, Usman dan Ali serta generasi terbaik umat ini. Takkan sulit diwujudkan jika umat ini segera sadar dan kembali bersatu dengan panduan kitab-Nya. Wallaahu al-Musta’ân.

 

Catatan Keberkahan 47

Jakarta, 24.03.2017

SAIFUL BAHRI

Satu Jantung Satu Kiblat

Jantung-652x373

Jantung adalah pusat kehidupan manusia, baik kehidupan yang berarti fisiologis ataupun non-fisiologis. Al-Quran memiliki perhatian terhadap pembahasan jantung yang disebut dengan lafazh qalbu. Kata qalbu yang single (beserta derivasinya) diulang dalam al-Quran di 53 ayat. Sedangkan kata qulûb diulang dalam 104 ayat. Qalbun bisa berarti organ fisik manusia; jantung dan juga bisa diartikan non-fisik sebagai alat perasa, memahami, tempat iman, cinta, kufur dan benci serta berbagai rasa yang lainnya. Kadang bisa berarti dua-duanya sekaligus. Adapun jika al-Quran menyebutnya dengan fu’âd yang pluralnya af’idah diartikan dengan makna non fisik yaitu alat memahami dan merasakan.

Kedua kata di atas lazimnya diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan kata “HATI” yang berarti tidak fisiologis. Namun, jika tidak dijelaskan secara rinci bisa dipahami secara salah. Karena tidak definitif dan bahkan jika diarahkan ke organ tubuh hati (lever) maka tidak tepat.

Selama ini banyak kalangan menganggap bahwa jantung hanya berfungsi sebagai mesin pompa darah. Tapi, mulai abad 21 dan ketika terjadi perkembangan pesat di bidang pencangkokan jantung dan pembedahan jantung, para peneliti mulai menyadari adanya fenomena aneh dan tidak wajar yang terjadi secara psikologis pada pasien setelah dilakukan operasi pencangkokan jantung. Hal ini menandakan bahwa jantung itu tak bisa hanya dilihat secara fisiknya saja.

“mereka mempunyai qalbu, tetapi tidak dipergunakan untuk memahami”. (Sûrah Al-A’râf:179) ayat senada di surah al-Hajj: 46. Qalbu disebut sebagai alat untuk memahami.

Rasulullah SAW juga bersabda bahwa jantung merupakan organ penting. Baik secara fisik maupun non fisik. Jika ia baik maka keseluruhan anggota badan manusia akan baik, demikian juga yang berarti non fisik, jika ia baik maka secara umum ia akan menjadi manusia yang baik.

Jantung sehat secara fisik, akan mempengaruhi kesehatan dan kebugaran fisik. Jantung sehat secara non fisik (memahami, beriman, bersyukur), maka akan memacu manusia menjadi pribadi baik. Menjaga kesehatan jantung (qalbun) bisa dilakukan melalui dzikrullah (Ar-Ra‘d [13]:28), (Al-Anfâl [8]:2), (Âl-Imrân [3]:191), juga dengan tilawah al-Quran, karena Allah senantiasa memerintahkan untuk membaca al-Quran dalam kondisi apapun meskipun hanya sedikit dan sebentar (lihat Surah al-Muzammil: 20).

Jika qalbun manusia sehat, maka kondisi sosial akan sehat dan baik. Qalbun juga memancarkan gelombang elektromagnetik yang bisa saling mempengaruhi, menguatkan dan memotivasi. Jika demikian terjadi, gelombang kebaikan benar-benar bisa dibesarkan. Maka takkan ada kesenjangan sosial terlihat.

Bagaimana saat ini kita saksikan? Yang hidup di belahan bumi Eropa, orang bermain-main bola bergaji miliaran rupiah perpekannya, sementara ada ribuan/jutaan nyawa hilang karena bencana kekeringan dan kelaparan di Somalia. Di belahan bumi tertentu, daging makanan untuk hewan peliharaan lebih tinggi dan mahal dari daging yang dimakan oleh manusia di negara berkembang. Bahkan di beberapa tempat, jangankan daging, makanan pun langka didapatkan.

Di tempat-tempat tertentu orang dimanjakan dengan fasilitas properti dan gedung-gedung pencakar langit, sementara di Tepi Barat dan khususnya al-Quds rumah-rumah milik mereka sendiri digusur dengan semena-mena, di Jalur Gaza banyak sekolah tetap harus berfungsi meski gedung-gedungnya berupa reruntuhan, dan berbagai fasilitas publik lainnya karena lambannya proses recovery yang terhalang kendala suplay bahan di perbatasan atau terbatasnya dana pembangunan.

Sebagai umat Islam, selayaknya lebih memikirkan dulu saudara-saudara kita yang tertindas oleh kezhaliman dan terjebak oleh musibah kelaparan. Satu jantung dan satu kiblat. Selanjutnya memimpin peradaban memakmurkan bumi Allah dan bermanfaat untuk seluruh umat manusia.

 

Catatan Keberkahan 46

Jakarta, 17 Maret 2017

SAIFUL BAHRI

NAFAS-NAFAS BARU

air-dan-kupu2

SAIFUL BAHRI

Perubahan atau pergantian waktu adalah sebuah karunia dan salah satu nikmat Allah. Di samping itu hal tersebut menjadi tanda-tanda kekuasaan Allah yang mengubah segalanya. Perubahan adalah ciri utama makhluk-Nya. Jika waktu ini dijadikan malam selamanya oleh Allah, maka siapa tuhan selain-Nya yang sanggup mendatangkan cahaya seterang siang? Sebaliknya, jika waktu ini dijadikan siang selamanya oleh Allah, maka siapakah yang sanggup membuat malam sebagai waktu normal untuk beristirahat para manusia? Itulah yang disampaikan Allah dalam firman-Nya di QS. Al-Qashash: 71-72.

Momentum pergantian tahun yang baru saja berlalu beberapa waktu, bagi sebagian orang dijadikan titik tolak perubahan. Dalam lingkup mikro saja tak jarang kalender baru tersebut dijadikan patokan untuk membuat perencanaan keuangan, membuat perencanaan kegiatan dan sebagainya.

Sebenarnya tak ada yang salah dengan siang atau malam. Demikian juga matahari dan bulan yang Allah yang salah satu kegunaannya adalah menjadi ukuran waktu. Dengan patokan matahari, umat Islam menentukan waktu shalat seperti yang diperintahkan oleh Rasulullah SAW untuk meniru dan menyontoh shalatnya. Dengan patokan bulan, umat Islam ini juga menggunakan penanggalan untuk melaksanakan puasa Ramadan, menunaikan zakatnya juga melaksanakan manasik haji.

Berbagai peristiwa sudah terjadi sepanjang tahun 2016. Ada yang membuat mata-mata ini sembab menyaksikan berbagai berita yang memilukan dan menyakiti rasa kemanusiaan kita. Ada yang membuat bibir-bibir ini tersenyum menghayati berbagai suka cita. Ada nada kemarahan menyaksikan kezhaliman dipertontonkan di mana-mana. Ada kekecewaan karena berbagai harapan yang terhalangi atau bahkan tersingkirkan. Ada rasa optimisme membuncah menyaksikan kebangkitan umat di tengah berbagai himpitan makar dan konspirasi. Berbagai rasa bercampur. Mengaduk emosi dan perasaan kita. Namun, yang paling menonjol sepanjang tahun kemarin adalah berbagai berita yang memburukkan citra umat Islam. Baik masifnya media massa yang mewartakan berbagai pengeboman dan aksi-aksi terorisme yang diklaim ISIS ada di belakangnya, atau pun suasana pilu yang menimpa Libya, Iraq, dan Suriah di samping permasalahan utama di Timur Tengah pemukiman ilegal Israel yang terus dibangun meskipun ditengah kecaman dunia internasional. Penistaan-penistaan yang dilakukan terhadap Masjid al-Aqsha.

Di balik nestapa kemanusiaan yang sama-sama dialami oleh Palestina dan Suriah, simaklah berbagai keajaiban dan kisah-kisah heroik anak-anak kecil di berbagai pengungsian Palestina.

Ketika bencana kemanusiaan semakin memburuk di Suriah, khususnya di Aleppo, para anak-anak kecil di Gaza juga berbagai tempat pengungsian Palestina di Jordania dan Libanon, juga yang ada di Turki semua menggalang dana kemanusiaan untuk para anak-anak dan pengungsi Suriah. Padahal sebagaimana kita tahu, kondisi mereka, para pengungsi Palestina sangat memerlukan bantuan kemanusiaan. Terkhusus mereka yang berada di Gaza yang belum terecovery dengan baik pasca serangan Israel di tahun 2014 yang lalu.

Perihal bantuan kemanusiaan ini, tidaklah selalu sejalan secara empirik dengan kemampuan materi seseorang atau kecerdasan intelektualnya. Karena yang menjadi sumbunya adalah kepekaan spiritual yang melengkapi kepekaan intelektual (pengetahuan dan informasi), kepekaan emosional (sedih dan pilu) dan kepekaan sosial (sebagai bentuk rasa solidaritas kemanusiaan). Kepekaan spiritual adalah bentuk nyata dari hasil ibadah seseorang yang menghubungkannya dengan Allah secara vertikal.

Bantuan kemanusiaan yang diberikan mereka, yang juga sedang terbelit kesulitan berangkat dari spirit kebesaran Allah yang dideklarasikannya setiap shalat dan dalam setiap perpindahan gerakan di dalamnya. Spirit ingin lebih disayangi Allah dan menebar kasih sayang. Agar segala bentuk permusuhan dan keserakahan manusia segera sirna dan tersingkirkan.

Spirit ini barangkali keinginan para pengungsi itu untuk menghadirkan surga dalam bentuk lain di dunia. Surga yang tidak hanya berbentuk kemakmuran dan gelimang materi serta kekayaan yang kasad mata terlihat. Surga dalam bentuk solidaritas sesama, kepedulian terhadap mereka yang mengalami kesulitan. Itulah spirit yang disampaikan oleh Rasulullah SAW, bahwa bisa jadi sedekah satu dirham mengalahkan sedekah seribu dirham. Karena si pemiliki satu dirham menyumbangkan setengah hartanya yang “hanya” dua dirham, si penyumbang seribu dirham ia memiliki ribuan atau ratusan ribu lainnya. Karena tak selamanya diukur dengan parameter angka.

Spirit perubahan bergantinya waktu adalah ruh optimis yang selalu Allah berikan kepada para makhluknya. Setiap pagi kita seolah mendengarkan lantunan optimisme dari firman-Nya, “Dan demi waktu shubuh ketika bernafas” (QS. At-Takwir: 18)

Itulah nafas-nafas baru yang Allah karuniakan untuk setiap makhluknya. Jika seorang hamba-Nya di hari kemarin berbuat maksiat, nafas baru ini adalah kesempatannya untuk kembali dan bertaubat. Jika hari yang lalu ia telah lewati dengan prestasi, maka nafas baru adalah menciptakan peluang prestasi berikutnya, atau setidaknya mempertahankan atau menebar kebaikannya. Semuanya diberikan Allah peluang dan pintu-pintu kebaikan setiap paginya.

Maka, ketika kalender berganti, jika manusia yang ada hanya sekedar mengganti kalender yang lama dengan yang baru, maka ia belum menghayati makna perubahan dan sunnah pergantian yang sedang Allah perjalankan untuknya.

Saatnya umat ini bertansformasi, mengubah dirinya bersama nafas baru yang Allah kirimkan setiap pagi. Peristiwa apapun yang dilalui umat ini di tahun lalu, kini saatnya mengubah diri sendiri untuk mengisi peluang dan memasuki pintu-pintu kebaikan yang telah Allah buka.

Bersama nafas baru, jangan beri peluang para durjana merenggut optimism. Raih kemenangan. Kemerdekaan. Bebaskan dari segala belenggu yang menghalangi sampai di jalan Allah, Sang Pemberi nafas-nafas baru di setiap pagi. HasbunalLâhu wani’mal wakîl.

 

Catatan Keberkahan 40

Jakarta, 09.01.2017

 

GELOMBANG HATI

Gelombang Hati

Perawakannya biasa, bahkan bisa dikatakan sederhana. Dari postur tubuhnya bisa ditaksir, beliau berusia cukup tua. Berdiri disampingnya seolah membersamai ayah. Entah mengapa, petang ini beliau lah orang spesial yang Allah kirim menyebelahi saya.

Saat imam Shalat Maghrib membaca akhir ayat surah an-Naba’, tiba-tiba beliau terisak. Bahunya terguncang. Tanpa terasa, air mata ini ikut meleleh. Tanpa direncanakan dan diprediksi sebelumnya. Tiba-tiba saja, ada rasa yang tak terkatakan. Ada suasana yang tak terlukiskan. Ada beribu kesan yang tak bisa digambarkan. Kesyahduan yang agak cukup lama berkurang dan hampir hilang. Tertindih berbagai kesibukan, oleh rapat-rapat dan penugasan. Amanah yang bertubi-tubi. Maraton menyiapkan berbagai tulisan dan materi presentasi. Membuat laporan dan tentunya sekaligus sebagai kepala rumah tangga yang memiliki tanggung jawab.

Saya bersyukur Allah kirimkan gelombang yang menarik senar-senar hati agar kembali peka. Kepekaan dalam shalat yang menjadi energi semangat. Tetesan air yang tak banyak itu sudah cukup menjadi getaran yang ditulari oleh gelombang yang berasal dari si bapak tua di samping saya.

Saya semakin meyakini, inilah mengapa shalat berjamaah sangat dianjurkan. Selain menjadi sarana merekayasa kekhusyukan dan semangat kebaikan, ia menjadi media penangkap gelombang kesyahduan yang bisa jadi Allah kirimkan melalui siapa saja yang ada saat itu. Bisa melalui bacaan imam yang tiba-tiba menyentuh sanubari terdalam. Bisa melalui isak kecil seseorang di samping kita. Atau bahkan tiba-tiba melalui sesuatu yang ada dalam diri ini.

Terima kasih Ya Rabb, engkau kirimkan sebuah gelombang kehidupan di dalam hati yang terdalam.

******

Sinyal-sinyal dan gelombang ini sebenarnya juga dialami oleh banyak orang dalam hidupnya. Contohnya, saat menguap biasanya akan bergelombang menularkan kepada beberapa orang di sekelilingnya. Semangat atau kondisi sebaliknya juga menular dan menjalar kepada orang-orang di sekeliling kita. Itulah makna urgendi komunitas dan sebuah rekayasa kebaikan.

Dalam surah al-Ashr, Allah memvonis dengan kemahatahuan-Nya bahwa manusia itu berada dalam kerugian. Kata “al-Insân” yang single lebih menekankan setiap individu atau person yang diperhatikan. Tetapi pengecualian dan solusi terhindar dari kerugian disebut oleh Allah dalam bentuk plural.

“… kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.” (QS. al-‘Ashr: 3)

Perhatikanlah kata “âmanû”, “wa ‘amilû” dan “wa tawâshaw” semuanya disebut dalam bentuk plural. Hal ini menekankan pentingnya berkelompok membentuk group value. Mengadakan dan membuat komunitas yang merekayasa bergelombangnya kebaikan secara natural. Sekilas sepertinya bertentangan. Rekayasa dan natural. Padahal keduanya sangat berhubungan. Rekayasa adalah untuk sebuah prakondisi. Dan mempertahankan kondisi natural artinya tak ada pemaksaan.

Bersyukur dipertemukan dengan tak sedikit orang-orang yang bersemangat. Membersamai para dai dan pejuang. Tak jarang berada di tengah-tengah ulama dan shalihîn. Itu semua adalah kesyukuran dari nikmat dan karunia Allah yang tak pernah terhitung banyaknya.

Maka, kemudian jika gelombang-gelombang kebaikan yang dilakukan oleh berbagai orang di dunia ini kemudian sampai melalui berbagai media adalah Allah yang mengirimnya. Sekaligus membuka hati ini untuk siap menerima kiriman sinyalnya.

Berbagai kisah kezhaliman dari Bumi Syam, khususnya di Palestina, masih selalu hadir meski tersekat oleh jarak geografis. Itu karena Allah yang mengirim gelombangnya. Di saat mungkin beberapa pihak sangat terbiasa mendengar berita pengeboman di Iraq. Atau serangan udara yang menewaskan sekian orang di Suriah. Atau baku tembak yang menghasilkan korban nyawa sangat banyak. Seolah menjadi berita biasa. Saking biasanya media memberitakannya. Dingin seolah tanpa getaran.

Maka bersyukurlah, jika Allah mengirimkannya kepada kita. Jika kemudian hati ini menerima sinyal gelombang yang Allah kirimkan. Itu pertanda Allah menyayangi kita, Allah member nikmat lain kepada kita. Dan sekaligus memberikan amanah-Nya kepada kita untuk melaksanakan risalah peradaban yang ditaklifkan kepada manusia. Manusia, tetapi tidak semua manusia. Berharap, diri ini dapat dan mampu tunaikan amanah dan risalah membangun peradaban sebagaimana para nabi memulainya kemudian ditutup oleh risalah kekal Sang Nabi akhir zaman. Lalu, dilanjutkan oleh para sahabat dan tabi’in setelahnya. Maka, meneruskannya adalah sebuah anugerah sekaligus amanah yang kelak akan dimintai pertanggungjawabannya.

Bersama rapatkan barisan. Kokohkan komunitas yang baik. Rekayasa, besarkan gelombang-gelombang kebaikan. Agar semakin menyentuh senar-senar kepekaan di hati setiap hamba-Nya. Allâhu al-Musta’ân.

 

Catatan Keberkahan 39

Jakarta, 20.09.2016

DR. SAIFUL BAHRI, M.A

Serial MINAL ‘ÂIDÎN (5) KEMBALIKAN TRADISI SALING MEMAAFKAN

ISLAMIC (97)

Di #RamadanDay21 mari kita lanjutkan telaah serial minal ‘âidîn yang kelima.

Memohon maaf ketika salah adalah akhlak, budi pekerti yang tinggi. Rasulullah shallalLâhu ‘alaihi wasallam mengajarkan demikian kepada para sahabatnya. Berikut adalah kisah permohonan maaf yang dahsyat di antara mereka.

Dalam sebuah majelis, para sahabat berkumpul. Rasulullah shallalLâhu ‘alaihi wasallam tidak berada di tengah-tengah mereka. Ada Khalid bin Walid, Abdurrahman bin Auf, Bilal bin Rabah, Abu Dzar dan beberapa sahabat lainnya. Mereka mendiskusikan sebuah masalah. Abu Dzar al-Ghifari mengusulkan sesuatu, “Saya memiliki usulan, jika dalam tentara kita begini… begitu… dan seterusnya…”. Belum selesai perkataan Abu Dzar, tiba-tiba Bilal berkata, “Usulan seperti ini tidak benar!”.

Abu Dzar kecewa dan marah, kemudian ia berkata, “Sampai engkapun berani menyalahkanku, wahai anak orang hitam!”

Dengan marah pula Bilal berdiri, ia tersinggung dan berkata, “Demi Allah, aku akan melaporkan kepada Rasulullah”. Kemudian ia pun segera bergegas menghadap Rasulullah shallalLâhu ‘alaihi wasallam. Setiba di sana Bilal menyeru, “Wahai Rasulullah, apakah engkau tahu apa yang dikatakan Abu Dzar tentang diriku?”

Rasulullah shallalLâhu ‘alaihi wasallam menjawab, “Apa yang ia katakana tentangmu?”

Bilalpun menjelaskan, “Ia mengatakan ini dan itu…”

Wajah Rasulullah shallalLâhu ‘alaihi wasallam berubah. Dipanggilnya Abu Dzar dan dimarahi dengan dahsyat, “Wahai Abu Dzar, apakah engkau juga mengina ibunya? Sungguh di dalam dirimu masih terdapat sifat jahiliyah!”

Abu Dzar tersentak. Ia tak mengira Rasulullah shallalLâhu ‘alaihi wasallam akan marah sedemikian dahsyatnya. Ia pun menangis dan segera mendekati Rasulullah.

“Ya Rasulallah, mohonkan ampunan untukku. Mintalah kepada Allah ampunan untukku” kemudian ia pun keluar masjid sambil terus menangis. Ia kemudian menjumpai Bilal. Tiba-tiba ia meletakkan pipi kanannya di tanah dekat kaki Bilal. Bilal terkejut dan berkata, “apa yang kamu lakukan Abu Dzar?”

“Demi Allah, aku takkan mengangkat wajahku, sebelum engkau injakkan kakimu di atasnya” pinta Abu Dzar kepada Bilal, “Engkaulah yang lebih mulia, sedangkan aku yang hina!”

Air mata Bilal tak terbendung. Ia angkat wajah saudaranya Abu Dzar, ia bersihkan pipinya dari debu dan diciuminya. Ia peluk erat dan berkata, “Demi Allah, Aku takkan pernah menginjak wajah yang bersujud pada Allah sekali saja. Bagaimana mungkin kulakukan di wajah yang ku saksikan setiap hari bersujud kepada-Nya?”

Begitulah akhlak keduanya. Mencontohkan kepada kita bahwa para sahabat pun manusia yang bisa saja berlaku salah atau menyakiti perkataannya. Namun, luar biasa saat mereka meminta maaf. Saat mereka member maaf. Itu lah akhlak yang kita rindukan saat ini.

Bukan sekali, mungkin puluhan atau lebih, ada kata-kata kita yang menyakiti saudara kita tapi bibir kita berat untuk mengatakan, “Afwan akhi, maaf kan saya”

Sebagian kita melukai perasaannya, dengan melabeli pada hal-hal yang tak disukai dan membuatnya sedih atau marah. Bibir kita juga berat meminta maaf.

Sebagian juga mungkin berani menelanjangi kehormatan saudaranya tapi ia enggan untuk sekedar mengatakan, “MAAF”

Permintaan maaf adalah sebuah tradisi kebaikan dan akhlak serta perilaku peradaban yang tinggi.

Allah, menggambarkan seburuk-buruk dan serapuh-rapuh rumah adalah rumah laba-laba. Padahal menurut sains jaring laba-laba sangatlah kuat. Kekuatannya bahkan bisa dikatakan melebihi baja buatan manusia. Para saintis menyebutnya dengan “biobaja”. Lantas mengapa Allah menyebutnya sebagai rumah yang sangat rapuh.

Pertama, fungsi rumah laba-laba tidaklah melindungi para penghuninya. Ia berfungsi menjebak mangsa.

Kedua, rapuhnya rumah itu bukan pada jaring atau bangunannya yang kokoh secara ilmiah. Tetapi kerapuhannya terletak pada para penghuninya, laba-laba itu sendiri. Jika sudah memiliki anak, maka laba-laba betina membunuh suaminya. Anak-anak mereka pun saling memakan dan membunuh saudaranya. Laba-laba, hidup dalam sebuah rumah yang tak mengenal cinta dan kasih sayang.

Janganlah kita tiru perilaku buruk laba-laba tersebut. Memiliki rumah kokoh tetapi tak ada cinta dan kasih sayang di dalamnya.

Di hari yang istimewa ini mari renungkan dan tadabburi dengan kuat doa yang diajarkan Rasulullah shallalLâhu ‘alaihi wasallam, “اللهم انك عفو كريم تحب العفو فَاعْفُوا عنا”

Dengan ini, saya juga memohon maaf kepada Anda. Dan kepada siapapun juga. Terutama kepada kaum muslimin dan muslimat. Para guru dan sahabat. Teman dan tetangga. Keluarga dekat dan jauh. Semua orang yang pernah berinteraksi dengan saya.

Sudah pasti ada kata dan perilaku yang menyinggung, disengaja atau tidak, disadari atau tidak dan saya belum sempat mengucapkan kata maaf.

“MOHON MAAF LAHIR BATIN”

 

#RamadanDay21

Alfaqîr Saiful Bahri