Ekstrimisme VS Islamisme

EKSTRIMISME VS ISLAMISME

Di permulaan Januari 2002 lalu saya bersama Prof. Bill Liddle dan Gunawan Muhammad, diundang menjadi pembicara dalam sebuah panel diskusi di Asia Society New York dan menampilkan Prof John Bresnan dari Columbia university selaku moderator. Tema diskusi adalah: “Islam in Indonesia”.

Dalam presentasi saya tegaskan, sesungguhnya Islam sebagai “keyakinan” dan sistim hidup tidak memiliki perbedaan berdasarkan letak geografis dan zona alam. Islam memiliki sumber abdi, yaitu Al Qur’an dan Sunnah RasulNya. Kedua sumber ini kapan dan di mana saja, akan tetap terpakai dan difahami oleh kaum Muslim. Yang berbeda kemudian adalah pemahaman terhadap kedua sumber tersebut, mengikut pada konteks kehidupan masing-masing. Dengan demikian, sesungguhnya yang berbeda bukan Islam tapi pemahaman terhadap Islam itu sendiri.

Sehingga ketika seseorang cenderung memahami Islam Indonesia berbeda dari Islam Timur Tengah misalnya, dapat dicurigai sebagai pengelabuan terhadap universalitas Islam itu sendiri. Artinya, pemahaman seperti ini belum bisa membedakan antara pemahaman manusia dan Islam sebagai agama itu sendiri. Tentu pemahaman keliru seperti ini timbul karena pendekatan yang dipakai adalah pendekatan yang non Islamic, di mana pada agama lain dapat terjadi perbedaan fundamental karena letak georafis pemeluknya.

Yang menarik dari dIskusi tersebut adalah banyaknya “ocehan” atau “pengaduan” akan tingginya tingkat ekstrimisme atau radikalisme di Indonesia. Walaupun dengan sangat hati-hati, bahkan ada yang seolah menyimpulkan bahwa tingkat terorisme di Indonesia tumbuh dengan sangat menakutkan. Bagi saya pribadi, tentu cukup terkejut dengan kesimpulan ini. Sebab yang saya kenal, Islam dengan ajarannya yang damai, santun, logic serta mengedepankan nilai-nilai rasio, telah mendapatkan lahan suburnya pada bangsa Indonesia, yang sebelum Islam pun memiliki “nature” seperti itu. Sehingga kedatangan Islam di Indonesia begitu mulus tanpa ada aral sedikitpun. Bahkan tidak memutuhkan waktu yang lama, akhirnya menjadi agama super mayoritas bangsa Indonesia.

Ada dua alasan yang paling menonjol untuk menjustifikasi akan tingginya tingkat radikalisme di Indonesia:

Pertama: Semakin tingginya tingkat partisipasi Muslim dalam proses pengambilan kebijakan nasional, khususnya dalam upaya “islamisasi” kehidupan bernegara dan berbangsa. Semaraknya partai-partai yang berasaskan Islam, gerakan non politis yang berbasis Islam semakin agresif, serta tingginya kesadaran mengekspresikan kehidupan Islami seperti jilbab, bank-bank syari’ah, asuransi Islam (takaaful), dll. Kekhawatiran terbesar adalah adanya upaya-upaya dari kalangan apa yang mereka sebut sebagai Muslim radikal untuk menjadikan Indonesia sebagi negara Islam.

Kedua: Tingginya tingkat resistensi terhadap berbagai kebijakan Amerika, khususnya yang berkenaan dengan dunia Islam dan Timur Tengah. Bagi kebanyakan mereka, menentang kebijakan Amerika adalah symbol radikalisme, ekstremisme dan tidak jarang mengarah kepada tuduhan terorisme. Maraknya demonstrasi dari kalangan aktifis Muslim dalam mengekspresikan resistensi tersebut, dianggap sebagai bentuk “kekerasan” yang tidak bisa ditolerir.

Kedua alasan di atas perlu dicermati, sehingga tidak menimbulkan sebuah kesimpulan yang keliru. Betulkah bahwa semakin tingginya tingkat partisipasi Muslim dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, termasuk tumbuhnya berbagai partai yang berasaskan Islam, dapat dijadikan barometer radikalisme atau ekstremisme? Betulkah bahwa semaraknya “islamisasi” kehidupan baik pada tataran pribadi maupun pada tataran sosialnya seperti semaraknya pemakaian jilbab, semaraknya majelis ta’lim, semakin ramainya masjid dengan kegiatan-kegiatan pemuda, bank-bank syari’ah atau takaful islami, dll., dapat dijadikan barometer radikalisme dan ekstremisme? Betulkah bahwa adanya keinginan dari kalangan umat untuk menjadikan Indonesia sebagai negara Islam dianggap sebagai gerakan radikal dan ekstrim? Betulkah bahwa maraknya demonstrasi menentang berbagai kebijakan Amerika dapat dianggap sebagai gerakan radikal atau ekstrim?

Sungguh sangat keliru jika semaraknya umat Islam kembali menjalankan agamanya lalu dituduh radikal atau ekstrim. Atau kalau memang yang demikian adalah barometer radikalisme dan ekstrimisme, maka ekstrimisme dan radikalisme dapat disamakan dengan islamisme. Yaitu semangat kaum Muslim untuk kembali melaksanakan ajaran agamanya secara kinsisten dan jujur. Maraknya pemakaian jilbab, pengajian, tingginya tingkat partisipasi jama’ah di masjid-masjid, dll., adalah indikasi kesadaran beragama. Untuk itu, jangan sampai fenomena tersebut dijadikan barometer untuk mengukur tingkat radikalisme dan ekstrimisme suatu bangsa. Di negara-negara ketiga non Muslim, seperti di Amerika Latin dan Tengah, tingkat partisipasi keagamaan masyarakat masih cukup tinggi. Gereja-geraja masih ramai dan orang tua masih ketat mengajarkan nilai-nilai agamanya kepada anak-anak mereka. Tapi pernahkan kita dengar, bahwa mereka menjadi sebuah ancaman? Bahkan jika anda menginjakkan kaki di airport Nikaragua, salah satu negara Amerika Tengah, anda dengan mudah melihat motto negara tersebut: “Jesus is Lord of the country”.

Keinginan masyarakat Muslim untuk bangkit menjalankan ajaran agamanya, sesungguhnya suatu kesadaran baru yang perlu disyukuri. Di Amerika Serikat, justeru salah dilemma peradabannya adalah karena agama dari masa ke masa semakin sakarat. Tuhan bagi kebanyakan di negeri tersebut tak lebih dari sebuah sosok yang tak berdaya di rumah-rumah ibadah, dan perlu dijenguk sehari sepekan. Bahkan akibat merosotnya kepercayaan masyarakat terhadap agama (baca kristiani), di tengah gencarnya berbagai upaya untuk merintangi laju perkembangan Islam di Amerika, kaum Muslim justeru giat mengumpulkan dana untuk membeli bebera gereja yang akan dijual. Dalam pandangan Islam, semakin agama ini diimani dan dipraktekkan akan semakin meciptakan ketentraman hidup, baik pada tataran individu maupun pada tataran sosialnya. Sehingga semaraknya kehidupan beragama di Indonesia tidak dianggap sebagai “threat” (ancaman), melainkan sebuah kesadaran (conscience).

Adapun keinginan sebagian masyarakat Muslim untuk menjadikan Islam sebagai asas bernegara, sesungguhnya adalah fenomena biasa yang dapat terjadi di mana saja. Manusia adalah makhluk yang secara fitrah memiliki kecenderungan ideologis. Ideologi yang diyakininya akan dimenangkannya dalam berbagai fora kehidupannya, termasuk dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Dalam pandangan demokratis, kecenderungan ini sesungguhnya bukanlah suatu kesalahan apalagi ancaman. Melainkan sebuah proses demokrasi yang terjadi. Untuk itu, keinginan sebagian masyarakat Muslim untuk menjadikan Islam sebagai asas berbangsa dan bernegara adalah keinginan dan cita-cita yang sah-sah saja dalam pandangan demokrasi, selama ditempuh dengan cara-cara elegen pula. Dan saya yakin, partisipasi umat Muslim dalam proses kehidupan berbangsa adalah cara pendekatan yang paling elegan untuk mencapai cita-cita tersebut.

Lalu dari sudut mana sehingga keinginan dan cita-cita tersebut dianggap radikalisme atau ekstrimisme? Saya justeru menilai, penentangan kepada keinginan tersebut secara tidak demokratis, misalnya dengan manipulasi informasi dan ketidak jujuran dalam melemparkan tuduhan, adalah bentuk radikalisme dan ektrimisme pada sisi yang lain. Sehingga pelemparan tuduhan radikalisme dan ekstrimisme justeru merupakan justifikasi terhadap radikalisme dan ekstrimisme sekaligus. Peperangan terhadap radikalisme dan ekstrimisme justeru dilakukan dengan cara-cara eksrtim dan radikal.

Adapun tingginya tingkat resistensi kepada Amerika, sesungguhnya perlu dilihat dari berbagai sudut. Penglihatan ini pula perlu diikuti dengan sebuah kesadaran, bahwa cara-cara yang mereka lakukan merupakan cara-cara umum yang dilakukan hampir di mana saja di dunia ini. Ketika kita melihat demonstarsi di Jakarta dengan tema menentang kebijakan luar negeri Amerika di Timur Tengah, khususnya dalam masalah konflik Palestina-Israel, maka perlu disadari bahwa hal tersebut adalah reaksi dari sebuah kenyataan yang ada. Kesalahan tidak berada pada aksi atau reaksi itu sendiri, tapi ada pada kenyataan yang menjadikan timbulnya reaksi tersebut. Setiap kejadian ada konteks dan latar belakangnya. Maka seharusnya rekasi-reaksi seperti ini juga dilihat pada konteks dan hal yang melatar belakanginya.

Jadi bukan karena radikalisme atau ekstrimisme sehingga terjadi resistensi dalam bentuk demonstrasi, melainkan karena adanya ketidak puasan terhadap berbagai kebijakan luar negeri Amerika yang bersentuhan langsung dengan perasaan umat. Sehingga untuk merespon terhadap fenomena tersebut diperlukan keinginan untuk merespon konteks dan latar belakangnya. Apalagi, reaksi semacam ini juga sering terjadi di berbagai negara Eropa dan bahkan di Amerika sendiri. Perbedaannya, belum kita dengar bahwa demonstrasi seperti ini di Eropa atau yang di Amerika adalah bentuk radikalisme dan ekstrimisme yang mengancam. Tiga minggu silam, tidak kurang dari 100.000 warga Amerika, Muslim dan non Muslim berkumpul di ibu kota Amerika, Washington DC, melakukan rally menentang kebijakan luar negeri Amerika yang sangat mendukung penjajahan Israel di Palestina. Tapi belum kita dengarkan bahwa rally tersebut adalah indikasi tingginya tingkat pertumbuhan radikalisme dan ekstrimisme di Amerika Serikat.

Untuk itu, ada baiknya barangkali, jika kita kembali merenungkan apa sesungguhnya di balik dari berbagai fenomena yang terjadi di Indonesia. Tuduhan radikalisme atau ekstrimisme terhadap kelompok-kelompok Islam di tanah air, apakah betul telah mengenai sasaran atau justeru tuduhan tersebut menyulut sesuatu yang tidak pernah ada. Selain itu, akankah lebih dihargai jika berbagai terminology yang dilemparkan dapat diperhatikan konsekwensi akhirnya. Jangan-jangan “islamisme” atau kesadaran suatu bangsa untuk kembali kepada kehidupan beragama justeru dituduh sebagai radikalisme atau ekstrimisme yang mengancam. Kalau ini terjadi, maka tuduhan tersebut dapat dicurigai sebagai upaya untuk mematikan peranan agama dalam kehidupan manusia. Dan ini berarti, tanpa disadari semangat atheism kembali dihidupkan justeru oleh mereka yang anti atheism.

Syamsi Ali

16 Mei 2002

Iklan

Kenangan (1)

Maaf, Boleh Saya Membantu?

Kemarin malam saya bertemu dengan salah seorang staf Kedutaan Besar Republik Indonesia di Cairo. Beliau merupakan salah seorang yang terlibat dalam penanganan bantuan untuk korban tsunami. Selain sebagai senior mahasiswa di Mesir. Mantan aktivis dan sering menjadi rujukan serta gudang curhat para yunior, juga masyarakat Indonesia di Mesir.

Banyak hal yang kami bicarakan. Namun, ada satu hal yang membuat saya tercenung dan kemudian membuat saya termenung dalam perjalanan.

Beliau mengisahkan, beberapa hari yang lalu ada seorang laki-laki. Sebut saja, Fulan. Dia datang dari salah satu daerah di propinsi Giza. Jauh-jauh ia mendatangi KBRI. Ternyata ia bertujuan hendak membantu korban tsunami yang terjadi di Indonesia.

“Saya mendengar berita dari radio yang menceritakan kengerian tsunami itu. Saya belum pernah menyaksikannya. Tapi saya tahu itu bencana hebat” tuturnya, “Sejak saat itu saya berusaha mengumpulkan uang untuk membantu saudara saya yang tertimpa bencana tersebut.”

Dengan semangat lelaki itu menyampaikan hasratnya untuk membantu. Dan, oleh Kedutaan direspon cukup baik, sebagai penghargaan atas jerih payahnya.

Tahukah Anda berapa jumlah uang yang ia sumbangkan.

(Hanya) Lima Pound Mesir.

Ajaib, bukan? Bukan jumlah yang banyak. Bahkan bisa dikatakan sedikit. Untuk sampai nilai tukar US$ 1 saja masih harus ditambah sekitar 80-an piaster. Artinya, uang tersebut belum cukup untuk membeli US$ 1 (satu dollar Amerika Serikat)

Mengapa kemudian ada keharuan menyeruak dalam rongga-rongga nafas saya. Ya, saya terharu. Karena, saya merasa belum banyak berbuat. Sedangkan (mungkin) kemampuan saya lebih baik dari lelaki tersebut.

Masih menurut penuturan staf KBRI yang saya temui, “Dari penampilannya, mungkin ia seorang tukang sapu. Atau setidaknya mata pencahariannya tidak jauh berbeda dengan pemasukan seorang tukang sapu. Tapi yang kita hargai bukan nominalnya. Namun, semangat dan jiwa solidaritasnya. Ia pun menanyakan. Apakah ini sudah isa membantu mereka. Saya ingin membantu mereka. Ungkapnya bersemangat.”

Bahkan Anda kemudian bisa saja berimajinasi atau bertanya-tanya. Perjalanannya dari Giza? Apakah ia naik mobil pribadi? Tentu Anda akan sepakat dengan saya; tidak mungkin. Paling banter dia akan naik bus merah putih punya pemerintah, hai’atunnaql al-‘am bil qahirah (Dinas Transportasi Umum Cairo) yang tiketnya sebesar 50 piaster atau bernilai sekitar 750 rupiah.

Sekedar tahu saja. Bahwa sejak mendengar bencana tsunami yang terjadi di negeri Serambi Mekah, para dermawan Mesir terketuk hatinya untuk mengulurkan bantuan. Baik secara kelembagaan maupun secara individu. Saya kembali teringat awal-awal krisis tahun 1998 dulu, sampai-sampai takmir masjid menyediakan kotak amal untuk membantu mahasiswa Indonesia. Dan himbauannya disampaikan melalui koran-koran serta khutbah jum’at. Gerakan sosial mereka luar bisa. Meskipun mungkin respon pemerintah sini ke Indonesia bisa dibilang agak terlambat, bahkan dokter utusan mereka pun (agak) mengecewakan. Kalau tidak diperbaiki citranya oleh utusan parlemen dan delegasi dokter dari Persatuan Dokter Mesir (niqabah al-athibba’) yang datang berikutnya.

Dengan berbondong-bondong para dermawan itu mengunjungi Wisma Nusantara, tempat mangkalnya PPMI (Persatuan Pelajar dan Mahasiswa Indonesia) Mesir, juga posko-posko lainnya. Bahkan ada yang ke Kedutaan. Umumnya para dermawan itu mau menyalurkan bantuannya langsung kepada para korban. Dalam hal ini para mahasiwa/i di sini yang kehilangan familinya. “Saya mau mengkafil 10 orang”. Yang lain juga mengatakan yang serupa.

Sebagian ingin mengetahui langsung bahwa bantuan mereka sampai kepada yang berhak. Untuk mengelola ini tidaklah mudah. Imej kepercayaan publik kepada pemerintah yang mulai runtuh, menuntut kita bijak menyikapi tuntutan para dermawan tadi. Para dermawan tersebut “menteror” terus dengan pertanyaan yang sama, “Uang saya sudah dibagikan kepada mereka? Sudah apa belum?”

Ah… rasanya saya akan banyak bercerita tentang kepedihan ini. Tentang betapa proses perbaikan ini perlu kesabaran dan kejujuran serta usaha keras dan sangat panjang waktunya. Jangan sampai kepedihan ini melahirkan kesedihan dan luka di atas duka yang menghilangkan cinta.

Saya hanya ingin menyampaikan apa yang saya rasakan. Saya benar-benar terharu ketika ada seorang lelaki yang lemah mengatakan, “Maaf, Boleh Saya Membantu?”

Bisa saja kemudian orang mencibirnya. Karena uang 5 poundnya belum bisa menyelesaikan masalah. Tapi ia tak pernah pesimis untuk ikut membantu. Bahkan ia sangat percaya bahwa usahanya takkan pernah sia-sia. Berbeda pada umumnya orang ketika dengan segala keterbatasannya ia akan berapologi dengan mengatakan sebaliknya, “Maaf, saya belum bisa membantu!”

Ah… betapa saya ingin meniru perkataan lelaki tua itu, “Maaf, boleh saya membantu?”

dedicated to

seorang lelaki tua yang mengajari arti cinta pada saya.

Cairo, 23 Februari 2005

Saiful Bahri

SAAT BERTEMU DIA

 

Jam di tanganku menunjukkan pukul empat sore. Aku berdiri gelisah di halte Nasr, Rab’ah. Sudah 10 menit aku menunggu, bus atau mikro bus jurusan Hay ‘Asyir tak datang juga. Maklum, mencari kendaraan umum di Cairo pada sore hari bulan Ramadhan sangatlah sulit. Semua mengejar buka puasa.

 

Alhamdulillah

, bus hijau model baru bernomor 178 segera tiba. Aku bermaksud ke rumah temanku. Selain sudah lama tak bertemu, aku ada sedikit keperluan dengan teman serumahnya. Alhamdulillah, hari ini aku sudah bersilaturrahmi dan akan kugenapi minimal ke rumah salah satu teman dekatku. Aku berharap ia baik-baik saja. Ah, ternyata dengan alasan kesibukan, cukup lama tak kudengar kabarnya. Bahkan sekedar telpon dan sms pun tak sempat.

 

 

Aku turun di depan Masjid as-Salam. Salah satu masjid besar yang ramai dipadati jamaah tarawih yang menyimak khusyuk bacaan Syeikh Yasir Salamah. Tak ada yang aneh dengan masjid besar di awal distrik Hay ‘Asyir ini. Namun, yang menarik perhatianku adalah seorang perempuan. Ya, seorang perempuan berkacamata dan berjilbab coklat susu. Menurutku ia berusia di atas 50 tahun. Entah mengapa, kemudian aku memutar memoriku tentangnya. Sepertinya aku mengenalnya sudah cukup lama.

Kurang pasti kapan pertama kali aku mengenalnya. Yang jelas sudah cukup lama. Saat itu aku hanya tahu ia berdiri mematung dan sesekali duduk di pintu keluar masjid. Ia menunggu uluran tangan para dermawan yang peduli terhadapnya. Entah 25 piester atau 50 piester atau mungkin lebih dari itu, ia terima dengan lapang dada. Wajahnya juga terlihat biasa. Tidak diset terlalu berlebihan atau tampang belas kasihan. Biasa.

Mungkin hal itu biasa-biasa saja. Tapi bagi yang sering memperhatikannya, ada yang unik. Karena beberapa saat berikutnya perempuan itu muncul dengan penampilan lain. Dia menjual beberapa bungkus tisyu yang ditawarkan pada setiap orang saat keluar masjid.

Aku bersyukur. Ibu itu ada peningkatan. Meski hanya beberapa bungkus tisyu, tapi ia sudah berusaha. Usaha yang sangat perlu untuk di dukung.

Beberapa saat kemudian perempuan itu sudah punya sebuah tempat kecil berisikan tisyu dan minyak wangi. Tak banyak memang. Namun, dengan setia dan sabar ia menunggui dagangannya dari tengah hari hingga tutupnya masjid setelah selesai jamaah shalat ‘Isya.

Kini entah mengapa aku pun ingin mengenalnya lebih dekat setelah cukup lama aku tak mengetahui perkembangan perempuan itu. Sesudah menyelesaikan keperluanku aku segera mengejar waktu berbuka. Hari pertama Ramadhan ini aku berbuka tidak dirumah. Ah, tak mengapa. Toh aku masih bisa berbuka. Allah menyediakannya untuk para hamba-Nya yang berpuasa. Bahkan rizki-Nya selalu terbuka untuk siapa saja. Untuk semua makhluk-Nya.

Aku berniat pulang setelah tarawih di as-Salam. Aku ingin ikut menyimak bacaan Syeikh Yasir Salamah. Sekaligus ingin melihat lagi sang ibu yang sabar itu. Aku sungguh ingin bertemu dengannya.

Perempuan itu kini banyak perkembangan. Ia tak hanya menjual tisyu dan minyak wangi. Namun, ada juga gunting kuku, mushaf kecil, sisir dan beberapa benda lain. Meski masih sederhana tapi telah banyak perkembangan dari sebelumnya. Meski sekarang ia tak sendiri. Ada bebepapa pedagang kaki lima menemaninya. Ada yang menjual kaos kaki untuk persiapan musim dingin. Ada yang menawarkan peci dan tutup kepala dan sebagainya.

Sebelum datang Ramadhan ia seorang diri. Kini ia banyak teman. Dan ia tak pernah menganggap mereka sebagai saingan. Mereka semua senasib dengannya. Ah, mengapa tiba-tiba ada sesuatu menyeruak, menyusup dalam hatiku. Ada kuncup-kuncup keharuan menyedak. Apalagi Imam Masjid as-Salam mengakhiri tarawih hari ini dengan ayat-ayat sadaqah (akhir Surat Baqarah). Rasanya aku belum berbuat banyak. Kalau pun sudah, aku merasa ada saja keikhlasan yang terganggu.

Aku bahkan malu. Aku yang tergolong masih muda ternyata mudah menyerah dan menjadi apatis menghadapi problematika hidup yang berganti-ganti atau kesibukan yang tak kunjung reda. Aku tak sekokoh perempuan itu.

Sebelum menaiki bus yang membawaku pulang, aku masih sempat melihatnya sibuk melayani beberapa orang yang mampir di depan dagangannya. Mataku masih terus menerawang.

Satu yang kuingat, ternyata sang ibu bukanlah penduduk Hay ‘Asyir. Temanku pernah melihatnya menaiki bus setelah selesai menutup dagangannya. Entah di mana ia tinggal, aku tak tahu.

Betapa gigihnya ia berjuang mencari nafkah. Semoga Allah memberkahi rizkinya. Semoga Allah melindunginya. Selalu.

Tiba-tiba saja aku teringat ibuku. Perempuan yang kuhormati dan kusayangi itu kutinggal merantau sejak 12 tahun yang lalu, setelah aku menamatkan pendidikan menengah pertamaku di kota kelahiranku. Semoga aku tak kehilangan kesempatan untuk berbakti pada orang tuaku. Semoga.

 

 

 

 Saiful Bahri

Cairo, 1 Ramadhan 1425

Maaf, Boleh Saya Membantu?

Maaf, Boleh Saya Membantu?

 

 

Kemarin malam saya bertemu dengan salah seorang staf Kedutaan Besar Republik Indonesia di Cairo. Beliau merupakan salah seorang yang terlibat dalam penanganan bantuan untuk korban tsunami. Selain sebagai senior mahasiswa di Mesir. Mantan aktivis dan sering menjadi rujukan serta gudang curhat para yunior, juga masyarakat Indonesia di Mesir.

Banyak hal yang kami bicarakan. Namun, ada satu hal yang membuat saya tercenung dan kemudian membuat saya termenung dalam perjalanan.

Beliau mengisahkan, beberapa hari yang lalu ada seorang laki-laki. Sebut saja, Fulan. Dia datang dari salah satu daerah di propinsi Giza. Jauh-jauh ia mendatangi KBRI. Ternyata ia bertujuan hendak membantu korban tsunami yang terjadi di Indonesia.

“Saya mendengar berita dari radio yang menceritakan kengerian tsunami itu. Saya belum pernah menyaksikannya. Tapi saya tahu itu bencana hebat” tuturnya, “Sejak saat itu saya berusaha mengumpulkan uang untuk membantu saudara saya yang tertimpa bencana tersebut.”

Dengan semangat lelaki itu menyampaikan hasratnya untuk membantu. Dan, oleh Kedutaan direspon cukup baik, sebagai penghargaan atas jerih payahnya.

Tahukah Anda berapa jumlah uang yang ia sumbangkan.

(Hanya) Lima Pound Mesir.

 

Ajaib, bukan? Bukan jumlah yang banyak. Bahkan bisa dikatakan sedikit. Untuk sampai nilai tukar US$ 1 saja masih harus ditambah sekitar 80-an piaster. Artinya, uang tersebut belum cukup untuk membeli US$ 1 (satu dollar Amerika Serikat)

Mengapa kemudian ada keharuan menyeruak dalam rongga-rongga nafas saya. Ya, saya terharu. Karena, saya merasa belum banyak berbuat. Sedangkan (mungkin) kemampuan saya lebih baik dari lelaki tersebut.

Masih menurut penuturan staf KBRI yang saya temui, “Dari penampilannya, mungkin ia seorang tukang sapu. Atau setidaknya mata pencahariannya tidak jauh berbeda dengan pemasukan seorang tukang sapu. Tapi yang kita hargai bukan nominalnya. Namun, semangat dan jiwa solidaritasnya. Ia pun menanyakan. Apakah ini sudah isa membantu mereka. Saya ingin membantu mereka. Ungkapnya bersemangat.”

Bahkan Anda kemudian bisa saja berimajinasi atau bertanya-tanya. Perjalanannya dari Giza? Apakah ia naik mobil pribadi? Tentu Anda akan sepakat dengan saya; tidak mungkin. Paling banter dia akan naik bus merah putih punya pemerintah, hai’atunnaql al-‘am bil qahirah (Dinas Transportasi Umum Cairo) yang tiketnya sebesar 50 piaster atau bernilai sekitar 750 rupiah.

Sekedar tahu saja. Bahwa sejak mendengar bencana tsunami yang terjadi di negeri Serambi Mekah, para dermawan Mesir terketuk hatinya untuk mengulurkan bantuan. Baik secara kelembagaan maupun secara individu. Saya kembali teringat awal-awal krisis tahun 1998 dulu, sampai-sampai takmir masjid menyediakan kotak amal untuk membantu mahasiswa Indonesia. Dan himbauannya disampaikan melalui koran-koran serta khutbah jum’at. Gerakan sosial mereka luar bisa. Meskipun mungkin respon pemerintah sini ke Indonesia bisa dibilang agak terlambat, bahkan dokter utusan mereka pun (agak) mengecewakan. Kalau tidak diperbaiki citranya oleh utusan parlemen dan delegasi dokter dari Persatuan Dokter Mesir (niqabah al-athibba’) yang datang berikutnya.

Dengan berbondong-bondong para dermawan itu mengunjungi Wisma Nusantara, tempat mangkalnya PPMI (Persatuan Pelajar dan Mahasiswa Indonesia) Mesir, juga posko-posko lainnya. Bahkan ada yang ke Kedutaan. Umumnya para dermawan itu mau menyalurkan bantuannya langsung kepada para korban. Dalam hal ini para mahasiwa/i di sini yang kehilangan familinya. “Saya mau mengkafil 10 orang”. Yang lain juga mengatakan yang serupa.

Sebagian ingin mengetahui langsung bahwa bantuan mereka sampai kepada yang berhak. Untuk mengelola ini tidaklah mudah. Imej kepercayaan publik kepada pemerintah yang mulai runtuh, menuntut kita bijak menyikapi tuntutan para dermawan tadi. Para dermawan tersebut “menteror” terus dengan pertanyaan yang sama, “Uang saya sudah dibagikan kepada mereka? Sudah apa belum?”

Ah… rasanya saya akan banyak bercerita tentang kepedihan ini. Tentang betapa proses perbaikan ini perlu kesabaran dan kejujuran serta usaha keras dan sangat panjang waktunya. Jangan sampai kepedihan ini melahirkan kesedihan dan luka di atas duka yang menghilangkan cinta.

Saya hanya ingin menyampaikan apa yang saya rasakan. Saya benar-benar terharu ketika ada seorang lelaki yang lemah mengatakan, “Maaf, Boleh Saya Membantu?”

Bisa saja kemudian orang mencibirnya. Karena uang 5 poundnya belum bisa menyelesaikan masalah. Tapi ia tak pernah pesimis untuk ikut membantu. Bahkan ia sangat percaya bahwa usahanya takkan pernah sia-sia. Berbeda pada umumnya orang ketika dengan segala keterbatasannya ia akan berapologi dengan mengatakan sebaliknya, “Maaf, saya belum bisa membantu!”

Ah… betapa saya ingin meniru perkataan lelaki tua itu, “Maaf, boleh saya membantu?”

dedicated to

seorang lelaki tua yang mengajari arti cinta pada saya.

Cairo, 23 Februari 2005

Saiful Bahri