Takdir Persaudaraan dan Indahnya Hijrah

A Note of the Spiritual Journey in Muktamar IMSA-MISG 2019

Manusia punya rencana, namun Allah memiliki keputusan yang berlaku. Jumat malam, 20 Desember waktu Indonesia panitia Muktamar IMSA (Indonesian Muslim Society in America) menghubungi saya. Meminta kehadiran saya pada Muktamar 2019 yang diadakan di Chicago pada Selasa-Sabtu, 24-28 Desember 2019. Karena salah satu pembicara utama pada muktamar kali ini berhalangan datang, disebabkan kendala visa. Sekilas nampak hal yang mudah untuk mengambil keputusan, karena secara teknis ini adalah tanggal-tanggal liburan sekolah. Namun, menjadi berat karena bersamaan dengan PHL (perkiraan hari lahir) kehamilan keempat istri saya.

Mengiyakan berarti meninggalkan istri dalam kondisi yang sangat perlu support saya. Jika sebaliknya, berarti menghilangkan kesempatan menolong orang lain yang dalam kesulitan di saat diri ini memungkinkan melakukannya. Meskipun tentu panitia memiliki plan C, namun waktu yang sangat mepet tidaklah mudah prakteknya.

Setelah bermusyawarah dengan orang tua dan keluarga, bismillah, saya putuskan menerima undangan ini. Sabtu siang di sela-sela mengajar, keputusan saya tersebut saya sampaikan kepada panitia melalui sebuah pesan singkat. Saya hanya berharap Allah memudahkan proses persalinan istri. Saya ingin mendampingi istri di saat-saat keberadaan saya menjadi support baginya yang sedang mempertaruhkan nyawa.

Pekan yang berat, aktivitas yang sulit ditinggalkan. Bahkan keberadaan ibu bapak di Jakarta pun kurang bisa saya manfaatkan untuk birrul walidain secara maksimal. Mereka justru lebih banyak waktu bersama istri dan anak-anak.

Sabtu pulang petang, Ahad pagi hingga siang masih juga banyak kegiatan. Alhamdulillah, keluarga besar sedang berkumpul. Saya berusaha mengejar pertemuan keluarga di waktu makan siang. Keluarga besan dari Sukabumi juga sedang bergabung. Meski terlambat, alhamdulillah bisa membersamai momen langka tersebut. Keluarga besar langka dengan anak mantu dan cucu-cucu berkumpul.

Siang itu adalah kesempatan terakhir bersama Ibu Bapak karena besok Senin 23 Des akan kembali ke Kudus. Maka saya gunakan untuk mengajak beliau bersama istri dan anak berkeliling Jakarta. Meski pun cuaca sangat mendung.

Senin, 23 Desember adalah hari terakhir untuk pergi ke imigrasi menuntaskan kekurangan administratif karena nama di paspor baru tidak mencantumkan nama ayah, sedangkan di visa US di paspor lama mencantumkan nama ayah. Namun, menurut informasi yang valid, menambah nama tidak bisa dilakukan satu hari. Di samping kondisi liburan panjang akhir tahun, cuti bersama jelang natal dan berbagai kondisi lainnya. Maka, tawakkal dan pasrah adalah yang terbaik.

Sejak sampai rumah menjelang maghrib istri sakit perut dengan intensitas yang cukup sering. Pukul 21.00 saya putuskan untuk membawanya ke klinik bersalin yang terdekat dari rumah. Malam itu saya berharap persalinan istri mudah. Namun, hingga pagi Seninnya kemajuan tidak signifikan. Maka, dengan masukan dokter diambillah tindakan medis untuk membantu memudahkan proses persalinan. Alhamdulillah pembukaan demi pembukaan berjalan baik. Meski konsekuensinya, rasa sakit yang dahsyat dirasakan istri saya. Saya hanya bisa berdoa sambil meminta doa orang-orang baik di dekat saya.

Alhamdulillah, kelahiran putri keempat saya lancar, dengan inayah dan riayah Allah. Ibu dan anak sehat dan baik-baik saja. Alhamdulillah, Allah mengabulkan permintaan saya yang ingin memperdengarkan kalimat adzan dan iqomah di telinga anak saya.

Alhamdulillah istri dan anak bisa saya bawa pulang ke rumah, sekalipun dianjurkan untuk menambah mengingap semalam lagi.

Beberapa jam lagi saya harus ke bandara. Karena hari akan segera berubah menjadi Selasa, 24 Desember. Saya sudah memutuskan untuk berangkat sesuai komitmen awal. Alhamdulillah, istri saya kuat. Istri yang hebat dan anak-anak yang memaklumi kondisi ayahnya.

Bismillah… Allah menerbangkan saya ke Amerika melalui Tokyo. Sejak saya naik pesawat, saya tak lagi bisa menahan mata yang sudah sangat beratnya. Setelah berdoa safar saya tak kuasa menahan lelah dan kantuk yang luar biasa. Perjalanan panjang Jakarta-Tokyo nyaris saya gunakan semua untuk tidur. Demikian halnya Tokyo-Chicago, juga relatif panjang saya gunakan sebagian besarnya untuk tidur.

Alhamdulillah, sampai di Chicago masih di hari yang sama. 24 Desember 2019. Tadinya agak heran melihat waktu penerbangan. Bagaimana mungkin take off jam 17.00 dan sampai jam 14.00 di hari yang sama? Karena perbedaan waktu. Subhanallah… saya merasakan teori relativitas waktu secara langsung. Betapa waktu yang membatasi manusia pun sangat relatif. Perjalanan panjang terasa singkat, waktu seolah berhenti. Satu karena sebagian besar saya gunakan tidur. Kedua, US terlambat waktunya sekitar 13-14 jam dari Jepang. Alhamdulillah, imigrasi lancar, perjalanan ke tempat acara juga lancar.

Hilton Oak Brook Chicago menjadi tempat perhelatan akbar Muktamar IMSA-MISG 2019.

Panitia menyambut dengan hangat dan sangat ramah. Demikian halnya para peserta muktamar yang juga berdatangan dari berbagai penjuru state di Amerika Serikat. Saya segera naik ke kamar hotel yang sudah tersedia untuk bersiap-siap pada Welcoming Session.

Panggung utama muktamar kali ini dibukan dengan Welcoming Session dengan dua nara sumber; saya dan Ibu Rosmawati Zainal, seorang pegiat konseling remaja di Malaysia.

Alhamdulillah, Allah memudahkan segalanya. Persalinan, perjalanan, presentasi materi dan membersamai panitia dan peserta muktamar yang luar biasa.

Ada nuansa haru menyeruak dalam dada saya. Menyaksikan dan membersamai secara langsung acara yang sangat luar biasa. 1200 peserta berkumpul dalam satu tempat. Hampir semua ruangan dipakai rangkaian kegiatan muktamar kali ini. Bahkan, panitia menyediakan publikasi yang sangat bagus melalui website dan sosial media. Sehingga bisa diikuti oleh para alumni muktamar sebelumnya dan oleh siapa saja di berbagai belahan dunia.

Opening Ceremony dilakukan pada pagi hari 25 Desember 2019. Ternyata bukan hanya saya yang merasakan dahsyatnya acara ini. Dalam sambutannya berbagai tokoh yang diundang ke panggung menyampaikan apresiasinya. Sejak dari Presiden IMSA, Pak Syafrin dan Presiden MISG, hingga Wakil Duta Besar RI di Washington, juga Dr. Mazlee Malik Menteri Pendidikan Malaysia yang berkesempatan datang pada acara ini.

Acara muktamar IMSA ini merupakan kombinasi acara family gathering dan acara konferensi atau seminar internasional. Mewadahi semua usia dan menjadi sarana pertemuan dan persaudaraan umat Islam, khususnya masyarakat muslim Indonesia di Amerika dan Canada, para student dari Malaysia berkumpul dan berkenalan, di samping menjadi arena pertemuan ulang beberapa keluarga yang lama tak bersua.

Anak-anak kecil ada kelas khusus pada acara muktamar ini. Madrasah namanya. Terbagi dalam dua kelas besar. Kelas 4-8 tahun dan kelas 8-12 tahun. Remaja (youth) pun memiliki kegiatan yang tersusun rapi untuk mereka. Selain materi inti yang dipresentasikan di ruang utama ballroom hotel, para peserta memiliki kesempatan mengikuti sesi lainnya yang berlangsung pararel dengan narasumber yang sangat beragam dalam dua bahasa. Bahasa Indonesia/Malaysia, dan Bahasa Inggris tentunya. Termasuk sesi istimewa di hari terakhir, Yaumun Nisa. Ruang utama “dikuasai” ibu-ibu, karena hari itu adalah hari mereka. Hanya saya lelaki satu-satunya di ruang besar itu selain camera man yang meliput acara.

Setiap harinya, diadakan shalat malam yang dilanjutkan dengan Shalat Shubuh berjamaah serta mengikuti tausiyah singkat dan dzikir pagi. Disediakan pula fasilitas untuk olahraga di pagi hari untuk laki-laki dan perempuan secara terpisah. Kegiatan tahsin tilawah al-Quran juga dipandu dengan baik.

Tema utama yang diambil sebagai tajuk besar muktamar ini adalah Hijrah: Transforming Oneself in Challenging Time. Tema yang sangat relevan menghadapi kondisi terkini yang dirasakan hampir oleh semua umat Islam di berbagai belahan dunia.

Sebagai salah satu narasumber, saya diamanahkan menyampaikan berbagai sesi dengan tema turunannya. Alhamdulillah, amanah ini, satu persatu bisa ditunaikan dengan segala keterbatasan. Pastinya, panitia akan memakluminya karena posisi saya hanya menggantikan narasumber yang sudah siap sebelumnya.

Saya tak berharap muluk-muluk kecuali berkontribusi dalam memotivasi diri dan peserta muktamar untuk sama-sama berhijrah, meningkatkan kualitas diri dan kelompok dalam berislam dan memberikan kemanfaatan bagi seluas-luas lingkungan. Sebagai bentuk refleksi keimanan kepada Allah dan hari akhir.

Saya memiliki kesan yang sangat luar biasa. Tak berlebihan, jika saya katakan pengalaman yang lengkap. Tempat acara yang termasuk “wah”, konsumsi yang bagus, narasumber yang komplit karena menghadirkan para akademisi, aktivis kemanusiaan, pegiat muallaf center, praktisi kesehatan, para dai imam, dan ustadz serta ustadzah, sampai para pejabat pemerintah RI dan Malaysia.

Di muktamar ini saya berjumpa dengan para senior saya. Ustadz Muhammad Joban, alumni al-Azhar Mesir, Imam besar yang tinggal di Seatle. Ustadz Fahmi Zuber, juga alumni al-Azhar yang menjadi Imam di lembaga IMAAM di Washington DC, ustadz Muhammad Ihsan, alumni al-Azhar yang menjadi Imam di Masjid al-Hikmah di Ney York. Di samping para tokoh terkemuka lainnya. Seperti ustadz Syamsi Ali, dai kondang yang sangat dikenal di Amerika yang kini memimpin pesantren di Amerika.

Di muktamar ini saya menemukan sikap low profile seorang pejabat tinggi sekelas menteri, DR. Mazlee Malik, Menteri Pendidikan Malaysia yang turut bermalam di hotel bersama keluarganya.

Kegiatan yang sangat padat namun sarat dengan makna kekuatan spiritual dan intelektual serta menggambarkan eratnya persaudaraan.

Bagaimana tidak, acara ini sudah dimulai sejak sejam lebih sebelum adzan subuh dikumandangkan. Shalat malam yang dipimpin para hafizh muda dari berbagai state, membuat para orang tua optimis menyambut masa depan para pemuda dan Islam di Amerika. Ruangan yang diperkirakan hanya berkapasitas 400-500an orang itu tak mampu menampung peserta yang berlomba menjemput kenikmatan shalat malam bersama. Terhanyut bersama kalam Allah, menyelami indahnya kata-kata dahsyat, menikmati irama bacaan yang bervariasi. Dari suara anak-anak muda yang menumbuhkan semangat dan optimisme. Syahdu. Haru. Kenikmatannya hanya bisa dirasakan oleh orang yang ada di tempat itu.

Satu hal lagi yang membuat saya salut adalah, IMSA mampu memberdayakan potensi-potensi dari peserta pengajian di berbagai lokaliti-lokaliti yang ada di berbagai state Amerika. Terutama tuan rumah, Chicago. Satu untuk sesepuhnya Pak Iskandar, salut untuk pejabat konsulat jendralnya, terutama Pak Fajar yang sangat dekat membersamai. Selain panitia lokal di Chicago, perlu dicatat bahwa dapur hotel Hilton “dikuasai” 100%. Di sini uniknya, peserta muktamar diberikan pilihan untuk menjadi volunteer pada kegiatan ini. Mereka dipersilakan memilih di bidang apa mereka akan membantu. Bisa dibayangkan kesibukan dapur. Makan tiga kali sehari, dengan jumlah tak kurang dari 1200 orang yang harus dilayani plus para pembicara dan tamu undangan.

Tak heran jika kemudian para peserta juga sangat kooperatif ketika diajak bekerjasama menjaga ketertiban dan terutama kebersihan tempat acara. Masing-masing bertanggungjawab atas “bekas” makanan dan minumannya. Subhanallah… mahasuci Allah yang menggerakkan hati-hati orang-orang baik sebanyak itu. Semua antusias luar biasa.

Saya menahan diri dari perasaan yang campur aduk dalam diri. Haru. Salut. Dan termotivasi.

Perjalanan panjang Chicago ke Tokyo saya kali ini seperti sebelumnya juga terasa pendek. Hanya saja, sebelumnya saya gunakan untuk tidur. Kali ini saya gunakan memutas memori, menuliskannya dengan sepenuh hati, menjiwai rasa dan sanubari. Tak terasa beberapa kali saya menyeka air mata yang sesekali menyembul dan melewati pipi.

Terima kasih saya ucapkan kepada para panitia dan IMSA yang memberi kesempatan kepada saya untuk berkontribusi seklaigus menikmati dahsyatnya berhijrah.

Bu Dewi Yulia yang menjadi penghubung tersambungnya saya dengan acara muktamar ini. Pak Syafrin, Presiden IMSA yang low profile dan mengayomi. Mas Aria, ketua panitia yang berjibaku demi terlaksananya muktamar kali ini. Pak Herman yang selalu mendampingi saya sejak menjemput di bandara di Ohare International Airport. Ustadz Muhamad Joban yang selalu menginspirasi, Ustadz Fahmi dan Ust Ihsan, Ustadz Adi dari Los Angels, Mas Rofiq sekeluarga dari Arizona, Pak Arif, Pak Budiman, Pak Ridho, Pak Yusuf, Pak Krisna, Pak Iwan MC yang selalu menghidupkan suasana, Pak Joko dan Pak Fajar. Pak Kurniawan Alfiza, meskipun mertua beliau sedang dirawat beliau masih aktif membersamai, Segenap kru Radio IMSA, Kang Soni, Pak Ibrahim, Pak Marwan dari Canada dan Mas Ilham. Dan terutama para pegiat IMSA Sister yang luar biasa, dari Bu Nani, Bu Dewi dan Bu Vanda serta yang lainnya yang saya lupa mengingat nama-nama mereka. Ingin rasanya saya mengunjungi mereka-mereka semua di berbagai state di Amerika, namun karena keterbatasan kali ini saya berharap bisa kembali bersua.

Ada banyak nama dan wajah yang tak bisa saya sebutkan namun cukup memberi pelajaran berharga makna persaudaraan dan kegigihan yang luar biasa. Terima kasih. Kunjungan pertama ke Amerika yang sangat berkesan. Detil-detil tentang Muktamar IMSA-MISG bisa diikuti melalui website: https://muktamar.us/, atau social media Facebook, atau di Instragram.

Kini saya berjarak beberapa jam dengan Jakarta. Saatnya saya membawa motivasi dan inspirasi kebaikan ini kepada anak dan istri saya.

Saatnya membersamai Nusaibah, Fatma, Umar dan Humaira serta ibunya.

Chicago-Tokyo, 28 Desember 2019

 

Note:

  • Jakarta-Chicago: irit satu hari. Berangkat dan tiba masih di hari yang sama
  • Chicago-Jakarta: kehilangan satu hari. Berangkat 28 Desember, tiba di rumah sudah 30 Desember 2019
  • Menanti boarding dari Bandara Narita, Tokyo

Galeri Muktamar IMSA:

Biidznillah gambar lainnya menyusul…

SPIRIT HIJRAH DI SYDNEY


Ini adalah Ramadan pertama saya ke di Australia. Juga mengulangi menjalani bulan Ramadan di saat musim dingin seperti ketika pertama kali saya belajar di Mesir, di negeri Musa dan para nabi ‘alaihimussalâm.

Adalah CIDE (Centre for Islamic Dakwah and Education) yang bermarkaz di Sydney yang mengundang saya untuk menjalani rangkaian kegiatan ibadah selama bulan Ramadan di Australia, dengan base camp Masjid al-Hijrah yang terletak di Tempe, Sydney, New South Wales, Australia. Masjid al-Hijrah didirikan sebagai sarana silaturahim dan tempat aktivitas komunitas umat Islam Indonesia di Sydney khususnya.

Menilik sejarah, pada tahun 1974, komunitas Muslim Indonesia di Sydney membentuk sebuah organisasi dakwah yang diberi nama LDPAI (Lembaga Dakwah Pendidikan Agama Indonesia), organisasi ini diprakarsai oleh KJRI (Konsulat Jenderal Republik Indonesia) Sydney. Kemudian pada tahun 1985/1986 organisasi ini berganti nama menjadi Central Islamic Dakwah and Education (CIDE). Secara organisatoris lembaga ini tak lagi memiliki hubungan secara langsung dengan KJRI. Pada saat itu organisasi ini belum mempunyai tempat kegiatan sendiri, karena itulah masih menumpang di masjid milik komunitas Malaysia (Masjid Zetland).

Pada tahun 1991 pengurus CIDE mempunyai inisiatif untuk membeli sebuah bangunan untuk dijadikan sebuah masjid sebagai pusat ibadah dan pusat kegiatan, maka pada tahun tersebut dibeli sebuah bangunan bekas sebuah Gereja bernama Jehovah Witness Church yang dijual karena sudah tidak dipergunakan lagi. Bangunan bekas gereja tersebut diubah fungsinya menjadi sebuah masjid, dengan mengubah beberapa bagian dalamnya. Bagian mimbar untuk khotbah Gereja dijadikan kantor (sekretariat), sedangkan mimbar dan tempat shalat Imam dipindah di bagian tengah sebelah barat menghadap arah kiblat shalat. Bangunan masjid ini kemudian diberi nama Masjid al-Hijrah. (https://www.cide.org.au/web2/who-we-are/)

Bertemu dengan para orang tua dan mendengar liku-liku mereka saat datang pertama kali ke Australia, rasanya penamaan masjid ini sangat tepat. Para sesepuh seperti Buya Rizal, Pak Lui Irfandi, Pak Muslimin, Pak Syawal, Pak Aan, juga Pak Lutfi Sungkar dan banyak nama yang tak bisa saya sebut kansatu persatu. Anak-anak muda sudah seharusnya belajar dari kegigihan mereka. Bukan hanya kegigihan survivalitas mereka, tetapi keteguhan dalam memegang prinsip beragama. Sehingga bisa mengubah keadaan dan mempertahankan prinsip akidah yang benar. Secara usia barangkali saat ini yang aktif di masjid adalah generasi kedua yang sebagian besarnya sudah jauh lebih mapan dan lebih baik survivalitasnya jika dibanding para pendahulu. Meskipun demikian, tantangan zaman tetaplah sesuai waktunya. Generasi muda sekarang memiliki tantangan yang tak ringan mempertahankan idealisme dalam beragama dan menjalankan perintah Allah.

Karena itulah mendekatkan diri dan keluarga ke masjid adalah sebuah keniscayaan yang perlu dilakukan secara masif dan bersama-sama. Untuk itulah Masjid al-Hijrah menjadi pertemuan semua keinginan mempertahankan diri, identitas akidah dan berbagai tradisi baik. Perbedaan sebagian kultur yang bertentangan dengan agama perlu wadah untuk menyikapinya. Masjidlah tempat terbaik untuk itu.

Menariknya, ada fenomena menarik sekaligus menggembirakan dengan lahirnya generasi ketiga. Satu sisi sebagian mereka kesulitan untuk berkomunikasi dengan bahasa Indonesia yang lancar dan baik. Namun, sisi baiknya adalah tak sedikit sudah mulai banyak yang menghafal al-Quran dengan variasi. Ada yang sudah hafal satu atau dua juz al-Quran. Ada yang hafal 5 juz, ada pula yang sudah 10 juz, bahkan di antara mereka ada yang sudah menyelesaikan hafalan al-Qurannya secara sempurna yaitu 30 juz.


Secara pribadi saya sangat bahagia bisa kembali ke Sydney untuk kedua kalinya setelah musim spring lalu CIDE melalui Pak Ichsan, presiden CIDE mengundang saya untuk berkunjung dan berbagi ilmu yang diberikan Allah di Masjid al-Hijrah ini.

Ramadan kali ini menjadi semakin special, karena saya juga memiliki tandem dakwah yang luar biasa. Teman sekaligus guru saya, Ust. Dr. H. Agus Setiawan, Lc, M.A.

Itulah nikmat Allah. Meskipun sama-sama tinggal di Jakarta, ternyata untuk bertemu atau mengadakan pertemuan, kami berdua selalu terkendala waktu dan jarak tempuh serta kesibukan yang memiliki perbedaan aktivitas.

Kami berdua diamanahi CIDE untuk memberikan ceramah selama bulan Ramadan 1438 H dengan tema sentral Kemukjizatan al-Quran. Spiritnya adalah agar semua kita tersadarkan akan dahsyatnya kemukjizatan al-Quran dan kemudian mau membaca dan mempelajarinya serta kemudian mengajarkan dan mengamalkannya. Kebaikan lailatul qadar adalah kebaikan yang menginspirasi tumbuhnya kebaikan lainnya. Kebaikan yang sanggup menggerakkan seribu komunitas lainnya.


Dan karena rumah yang di dalamnya tak pernah dibacakan al-Quran maka bagaikan kuburan bagi orang yang menempatinya. Agar umat ini bangkit dan tidak memulai kegiatan dari dalam kuburan, maka diharapkan dengan kajian-kajian ini rumah-rumah kaum muslimin menjadi bercahaya dan menginspirasi untuk bangkit kembali bersama al-Quran.

Secara bergantian kami berdua mengupas dimensi-dimensi kemukjizatan al-Quran. Dari sejak dimensi kebahasaan yang mencakup pilihan kata dan susunan kalimat dalam al-Quran, pengulangan kata, penyebutan lafzah ujian, kemenangan, macam-macam ukhuwah di dalam al-Quran dan sebagainya

Dimensi scientifik dalam penuturan al-Quran juga dibahas. Seperti hikmah dan rahasia penciptaan nyamuk, qalbu (jantung), teori relativitas waktu dan penyebutan jenis-jenis waktu di dalam al-Quran serta relasinya dengan waktu turunnya al-Quran dan sebagainya.

Dimensi ghaib kali ini dikupas tentang iblis, setan dan jin di dalam al-Quran serta beberapa hikmah cerita masa lalu yang bisa diambil hikmahnya seperti istana dan penjara di dalam al-Quran, kisah Nabi Yusuf alaihissalam, Dawud Thalut dan Jalut dan kisah kekuasaan.

Dalam dimensi visualisasi, kali ini telaah al-Quran tentang hoax dan jebakan persepsi adalah bentuk dahsyat penuturan al-Quran bagaimana daya rusak hoax dan berita dusta serta jebakan persepsi pribadi yang mempengaruhi pola pikir. Al-Quran memberikan solusi normatif dan praktisnya di dalam surah al-Hujurat. Selain itu tentunya dalam dimensi visualisasi ini al-Quran menjelaskan perumpamaan serta berbagai kondisi dan kehidupan manusia nantinya di akhirat, baik di surga ataupun –naûdzu billah– di dalam neraka.

Selain kajian ba’da tarawih selama Ramadan, ada juga kajian raqa’iq (tazkiyatunnafs [pembersihan jiwa]) bada subuh yang berdurasi sekitar 15-10 menit setiap harinya. Tema-tema yang diangkat adalah seputar takwa, istiqamah, tawakkal, keutamaan dzikir dan menadabburi lafazah-lafazh dzikir harian, kemudian serial minal ‘âidin wal fâ’izîn.


Secara teknis untuk memperluas wawasan praktis CIDE juga mengadakan workshop dan pelatihan dua kali. Yang pertama pelatihan mengurus jenazah menurut tuntunan Islam, kemudian tentang ilmu mawaris dan terakhir fikih akuntansi zakat.

Di samping itu, Ibu-ibu di Masjid taklim Masjid al-Hijrah juga mengadakan kajian dhuha. Demikian juga komunitas muslimat Iqro Foundation, Komunitas ODOJ (One Day One Juz) dan Majelis Taklim Raudhatul Ilmi. Juga PRIM Ranting Muhammadiyah NSW.

Saya juga berbahagia bisa bersilaturahim dan bertukar pikiran dengan para mahasiswa di University of Wolongong dan sempat tarawih bersama mereka di Islamic Centre di kampus. Juga berkesempatan berbuka puasa dan tarawih bersama masyarakat Western Sydney yang baru mengadakan percobaan tarawih bersama dengan menyewa gedung milik council. Yang mengharukan saat fund rising untuk pengadaan pusat kegiatan dan tempat shalat para jamaah sangat bersemangat. Saya teringat sebuah buku karya ulama ternama di Mesir yang kini tinggal di Qatar di lelang dan sampai terjual di angka 500 dollar. Komitmen-demi komitmen dikumpulkan selain uang cash dan donasi melalui eftpos payments. Jumlahnya, menurut saya sangat luar biasa karena hanya dikumpulkan melalui dua kali fundrising, termasuk di antaranya untuk proyek yang direncanakan oleh CIDE di tahun 2017 dan 2018. Ini belum termasuk donasi untuk pembangunan masjid besar komunitas AIM di Punchbowl. Masyaallah, masyarakat benar-benar berlomba-lomba dalam mendermakan hartanya fi sabilillah.

Dinginnya suasana Sydney ternyata tak berpengaruh buruk apalagi sampai membekukan. Justru komunitas muslim di sini sangat hangat menyambut baik kami. Sambutan berupa respon yang baik selama kajian. Ibu-ibu yang berjihad menyediakan makanan terbaik. Panitia yang selalu stand by. Belum lagi, para jamaah yang selalu menemani di rumah belakang.

Saya sempat berpikir bahwa makan selepas tarawih hanya akan terjadi sesekali saja. Faktanya, kemudian hampir tiap malam selalu saja ada yang mengajak keluar untuk sekedar menikmati suasana malam sambil mencicipi kuliner Sydney. Ajakan favorit yang paling sering tentunya ke Lakemba. Penduduk Sydney bahkan Australia tentu tahu ada apa di Lakemba, terutama di Haldon Street. Festival Ramadan menjadikan jalan utama tersebut menjadi ramai bahkan hingga sahur. Padahal umumnya took-toko pun tutup jam 5 sore atau paling lambat di jam 9 malam.

Tawaran mencicipi camel burger dan juz wortel adalah yang paling sering kami terima. Alhamdulillah, segala puji bagi Allah yang menjadikan Ramadan sebagai festival berbagai kebaikan. Di dalam masjid dan dalam keseharian menjadi ajang perlombaan dan fastabiqul khairat.

Belum lagi undangan buka bersama, dan termasuk memenuhi undangan open house di bulan syawal. Alhamdulillah Allah memberi kesehatan dan kekuatan untuk mengunjungi satu persatu, termasuk ke kediaman Bapak Konjen di Wisma KJRI juga para sesepuh masyarakat di Sydney. Meskipun tak semua undangan bisa didatangi tentunya.

Malam-malam yang mengharukan juga kami nikmati bersama para pemburu lailatul qadar yang beri’tikaf selama 10 hari terakhir di bulan Ramadan. Menjalani bersama shalat tahajud dan menengadahkan tangan bersama mengetuk pintu ampunan dan rahmat Allah melalui doa, munajat dan muhasabah menjelang sahur.

Keindahan yang sempurna. Terlebih saat Allah karuniakan dan kabarkan datangnya kemenangan saat Idul Fitri. Bersama kaum muslimin menjemput kemenangan yang dijanjikan Allah. Kemenangan yang membuat iblis dan setan serta bala tentaranya menangis. Karena, apa yang mereka lakukan dengan jebakan-jebakan selama setahun menjadi sirna bersama ampunan Allah untuk umat Islam serta turunnya rahmat dan sayang-Nya.

Jika Ust Agus Setiawan diamanahi menyampaikan khutbah Idul Fitri di Sydney, maka saya menjalankan amanah untuk terbang ke Canberra. Bersama masyarakat muslim Indonesia saya menyampaikan khutbah Idul Fitri di KBRI Canberra.

Musim sibuk penerbangan kali ini, membuat kepulangan kami tertunda. Rasa rindu dan kangen dengan keluarga harus ditahan sesaat. Alhamdulillah, ada banyak hikmahnya. Kami masih sempat bersilaturahim dengan masyarakat. Selain itu, kami juga sempat menikmati dinginnya salju dan berselancar di Perisher, Blue Valley Mountain.

Kepergian bulan Ramadan memang membuat sedih orang-orang yang mengetahui kemuliaan yang ada di dalamnya. Karena seandainya semua tahu kebaikan yang ada di dalamnya tentu semua orang akan berharap sepanjang tahun adalah seperti bulan Ramadan. Tapi, terbitnya bulan Syawal adalah kebahagiaan bagi umat Islam menerima hadiah rahmat dan pembebasan dari murka dan neraka Allah. Kini kita tinggal merawatnya.

Demikian juga kami, dengan berakhirnya Ramadan berarti akan segera berakhir kebersamaan fisik di Sydney dengan masyarakat muslim yang ramah dan sangat inspiratif ini. Ada suanana haru yang tak bisa digambarkan melalui kata-kata. Akan tetapi, ada kebahagiaan dan optimisme lain, karena kami akan segera bertemu keluarga di Indonesia. Keluarga yang rela berbagi waktu, mengikhlaskan kami melanjutkan tradisi dakwah di mana dan kapan saja. Istri yang gigih memerankan semua terutama menjadi ibu yang baik dan sabar bagi anak-anak. Anak-anak kami yang tentunya terkurangi kebersamaan dengan ayah mereka. Semoga Allah menggantinya dengan pahala serta menjaga mereka dengan dijadikan anak-anak shalih yang akan menuntun kami ke surga.

Siang ini, Jumat 30.06.2017 masih ada agenda terakhir di Masjid Al-Hijrah. Agar spirit kebaikan terjaga insyaallaah khutbah Jumat nanti saya akan mengangkat tema: Memakmurkan Masjid & Melanjutkan Tradisi-Tradisi Kebaikan. Diantara poin-poin pentingnya:

  1. Mempertahankan komunitas yang baik dengan selalu membersamai mereka serta saling menasehati dalam kebaikan
  2. Memakmurkan masjid, dengan memberikan perhatian dan pengorbanan untuk berbagai hal di antaranya: perawatan dan kebersihannya, kenyamanan dalam beribadah (terutama shalat), meramaikannya dengan majelis ilmu dan dzikir serta berbagai kegiatan positif lainnya.
  3. Jadikan masjid ==> sebagai pusat kegiatan dan majelis perencanaan strategis
  4. Jadikan masjid ==> sebagai sanggar-sanggar al-Quran, tempat-tempat tahfizh, mempelajari al-Quran dan menyebarkan spirit kebaikan yang terkandung di dalamnya
  5. Jadikan masjid ==> sebagai basis data masyarakat, terutama komunitas masyarakat di Sydney dan Australia kemudian membuat peta dakwah untuk mengajak semua untuk berbuat dan memberi kemanfaatan
  6. Jadikan masjid ==> sebagai tempat regenerasi anak-anak dan pemuda dengan membiasakan mereka supaya akrab dengan masjid dan bergaul dengan orang-orang yang sering berada di dalamnya
  7. Jadikan masjid ==> sebagai sarana sharing kebahagiaan dan berbagai kepedulian dengan sesama. Dalam al-Quran perintah shalat seringnya disandingkan dengan perintah menunaikan zakat.

Mudah-mudahan rajutan persaudaraan dan pertalian ukhuwah ini dikekalkan Allah hingga hari kiamat dan dipertemukan kembali diakhirat dalam naungan ridho Allah serta dikumpulkan bersama Nabi Muhammad saw dan shalihin shalihat yang menyintai dan dicintai-Nya.

Terima kasih secara khusus saya ucapkan kepada pimpinan CIDE, Pak Ichsan akbar, Gota (Moh Sjam), Uda Riski Patiroi dan Uda Panji Budiman. Panitia Ramadan yang dikomandoi Pak Lukman kemudian Pak Imam yang incharge dengan update jadwal harian. Juga kepada Uda Uli, Muhammad Haikal, Mas Arif, Pak Elvo, Mas Zain, Allen Rahman, Jufri dan para pegiat youth, Pak Adi, Pak Joko, Pak Eko, Mas Teguh Waluyo dan Pak Ahmad. Juga kepada Pak Wawan, Pak Bambang dan Pak Farid. Tak lupa kepada Pak Novianto dan keluarga.

Juga terima kasih kepada Mas Dito, Mas Teguh Suwondo, Pak Aulia juga Pak Presiden CIDE yang meluangkan waktu dari sejak menyiapkan kami untuk berwisata ke Snowy Mountain. Juga Colonel Riva yang menjadi guide sekaligus tuan rumah selama kami di Canberra.

Terima kasih kepada Bapak Dubes di Canberra serta Bapak Konjen di Sydney. Juga Mas Ibrahim serta pak Imam Malik sekeluarga dan Pak Abrar yang menjamu kami selama di Canberra.

Terima kasih kepada masyarakat di Western Sydney, terkhusus pengurus CIDE yang tinggal di sana, juga kelurga Ust Arif Taufik, Bang Haris dan sebagainya.

Juga kepada Iqro Foundatian, Pak Nur, Pak Mico, Pak Yudi, Pak Beri, Pak Narto, Pak Uki dan lainnya

Terima kasih Bang Nazar dan Andre yang juga teman kami selama kami di Universitas al-Azhar Mesir. Pak Maswan dan Pak Sobri atas masakan-masakannya.

Juga tentunya Ibu-ibu yang namanya tidak saya sebutkan satu persatu. Bu Lili dan komunitas ODOJ di NSW, juga ibu-ibu di MTRI.

Selain itu terima kasih khusus kepada asatidz: Dr. Agus Setiawan, Ust. Musyaffa, Ust. Henmaidi, Ust. Ziyad. Imam shalat selama di Masjid al-Hijrah, Ust. Toriq Jamil al-Hafizh, juga Ust. Musa al-Barqy dan Ust. Taqiyuddin.

Mohon maaf bila banyak nama tidak bisa saya sebutkan satu persatu. Namun tidaklah mengurangi rasa cinta dan penghormatan saya. Mohon maaf pula bila selama sebulan lebih berinteraksi terdapat banyak kehilafan dan kesalahan serta keterbatasan.

Kullu ‘âm wa antum bi khoir, Minal ‘âidin wal Fâizin.

 

Sydney, 30.06.2017

Jumat menjelang siang

 

SAIFUL BAHRI

 

Guru, Ustadz, Motivator dan Orang Tua

KH. ROSYIDI ASYROFI, LC

Ruh & Motivator Penuntut Ilmu bagi Murid-Muridnya

ustadz_rosyidi

Dua puluh dua tahun yang lalu, saya mendengar kalimat-kalimat motivasi yang aneh tapi luar biasa. “Jika kalian ingin melanjutkan sekolah di Al-Azhar, Mesir. Mulailah sekarang dengan menabung. Belilah seekor anak sapi. Rawatlah dan nanti menjelang Anda lulus, juallah untuk bekal Anda sekolah di sana” tutur beliau menyemangati murid-muridnya di MAPK Surakarta.

Bagi pelajar dari keluarga seperti saya mana mungkin akan mampu membeli seekor sapi saat itu, membeli seekor kambing pun belum tentu mampu. Tetapi analog motivasi beliau luar biasa. Hal tersebut semakin saya ketahui di saat perjuampaan-perjumpaan dengan beliau berikutnya. Apalagi deskripsi beliau tentang musim panas yang luar biasa. Debu-debu kota Cairo nampak dengan jelas di depan mata menguji para penuntut ilmu di perguruan al-Azhar. Menariknya yang selalu menjadi penyejuk adalah visualisasi nikmatnya juz mangga. Luar biasa! Beliau bahkan menggambarkan bagi yang meminumnya seusai kuliah di musim panas akan membuat telinga berdiri. Menyegarkan tenggorokan. Kata-kata itulah yang kemudian menjadi nyata. Pada tahun 1995 dua puluh dua dari empat puluh siswa beliau mendaftarkan diri ke IAIN Walisongo Semarang untuk mengikuti seleksi beasiswa sebagai calon mahasiswa di Universitas al-Azhar di Mesir. Sayangnya tak satupun dari siswa-siswa beliau yang lulus pada seleksi beasiswa tersebut. Namun, siapa menyangka dari jumlah tersebut kemudian terdapat tiga belas siswanya yang menghadap beliau membulatkan tekad untuk berangkat ke Mesir. Meski tanpa beasiswa. Sebagian di antaranya bermodalkan tekad yang kuat dengan persiapan seadanya bahkan dengan segala keterbatasan dan kekurangan.

Yang membuat beliau dan keluarga beliau menjadi sangat spesial adalah karena teman-teman saya kebanyakan di antar keluarganya hingga Bandara Internasional Soekarno Hatta, Cengkareng. Sedangkan saya di antar bapak dan ibu ke rumah beliau di Solo. Bapak ibu saya menyerahkan saya kepada Ustadz Rosyidi Asyrofi untuk selanjutnya bersama ustadz ke Jakarta dan kemudian ke Mesir. Detik dan saat itulah yang saya takkan lupakan seumur hidup saya. Saat di sisi saya tak ada orang tua. Saya selalu menganggap beliau ayah saya. Saat dari kaca bandara teman-teman saya melambaikan tangan pada keluarganya. Saat-saat mereka berpisah dengan ayah ibu mereka, ada peluk haru dan isak tangis mengiringi kafilah penuntut ilmu. Tapi tidak dengan saya. Saya tak punya air mata. Karena saya tak melihat bapak ibu saya di bandara. Tak juga ada peluk haru dengan mereka karena mereka mengirim peluk haru dari kejauhan. Bahkan sekedar suara saja saya pun tak mampu mendengarnya. Waktu itu belum ada telpon seluler seperti sekarang. Saya hanya memeluk cinta. Saya memeluk harapan dan tekad untuk nanti kembali membawa ilmu yang bermanfaat sebagai bentuk bakti orang tua. Saya hadirkan ayah dan ibu sekaligus dalam diri ustadz Rosyidi. Beliau saya peluk erat. Meski tanpa air mata. Saya ingin menjadi tegar. Karena ayah, ibu dan adik-adik saya juga orang-orang yang menyintai saya ingin saya sukses dan kembali mengabdi di tanah air.

Kemudian…

Berlalu 5151 hari di Mesir. Strata satu, dua dan tiga –bi’idznilLâh awwalan wa akhîran– selesai di Universitas al-Azhar. Saya kembali ke Jakarta dan menetap di sana bersama keluarga kecil saya. Sebagai orang baru di tanah air saya pasang gigi satu untuk persiapan take off, berkhidmah di masyarakat sekaligus berkarir di ibukota yang sering divisualisasikan dengan kehidupan keras dan penuh persaingan kompetitif. Saya beri kabar kepulangan saya. Bahagia mendengar keceriaan di balik telepon di sana di Solo. Orang tua saya yang satu ini merasakan kebahagiaan yang luar biasa. Beberapa saat kemudian saya mendengar berita pernikahan putrinya. Momen kebahagiaan ini pun saya belum bisa menjumpai beliau secara fisik. Menghadiri walimah tersebut.

Hingga saat beliau sakit dan semakin parah sakitnya, maka saya terus berdoa kepada Allah supaya beliau diberi kesembuhan dan saya bisa bertemu langsung. Saya ingin mencium kening dan kedua tangan mulianya. Sentuhan ikhlasnya berbuah banyak. Saya adalah salah satu hasil sentuhan tersebut. Sentuhan keberkahan yang Allah kirimkan melalui beliau dalam hidup saya.

Akhirnya Allah berikan kesempatan itu, saya bersama pasukan lengkap (Nusaibah, Fatma dan Umar serta ibu mereka, Nurbaiti) berazam menjumpai beliau. Apapun yang terjadi saya harus bertemu beliau. Menggunakan jalan darat via jalur selatan saya mengemudikan mobil berpenumpang keluarga kecil saya. Bertolak ke Magelang sesuai informasi awal bahwa beliau ada di Muntilan. Ternyata beliau sudah tak di sana kurang lebih sejak dua bulan. Keluarga beliau di sana memberitahu. Kondisi ini diperparah karena saat ganti telpon, ada sebagian nomer yang tidak terselamatkan dan belum sempat terlacak. Alhamdulillah, pada akhirnya saya menjumpai beliau terbaring tiada daya di rumah beliau di Surakarta. Tepatnya pada hari Kamis, 22 Mei 2014 saat adzan Maghrib berkumandang. Shalat Maghrib di rumah beliau menjadi pengalaman lain penuh makna bersama anak-anak dan istri saya. Bercerita meski tak bisa lama dengan ibu yang demikian tegar menerima putusan Allah atas kondisi ustadz yang belum ada perkembangan.

Hingga akhirnya, tadi malam saya menerima beberapa sms bertanya kondisi ustadz. Sebagian status bbm dan media sosial teman-teman dan adik-adik kelas saya menyebut beliau sudah kembali kepada Allah. Saya konfirmasi berita tersebut dan benar adanya. Ustadz KH. Rosyidi Asyrofi meninggal dunia petang Rabu kemarin dan akan dikebumikan hari ini sesuai wasiatnya di tempat asalnya di Muntilan, Magelang.

Allahummaghfir lahû warhamhu wa’âfihî wa’fu ‘anhu. Ya Rabb karuniakan rahmat-Mu kepadanya di alam penantian. Balaslah dengan cinta-Mu segala jasa-jasa dan amal baiknya. Ampunilah segala khilaf dan salahnya dan kumpulkanlah beliau bersama orang-orang yang Engkau cintai.

Jakarta, 05.06.2014

SAIFUL BAHRI

TUNISIANA

???????????????????????????????

Saiful Bahri

Memulai perjalanan dengan jeda transit yang panjang setelah terbang selama 12 jam sungguh sangat melelahkan. Tetapi, mengingat acara yang akan saya hadiri menjadikan kondisi-kondisi demikian menjadi dinamika yang unik. Transit di Istanbul selama 13 jam saya pergunakan untuk keluar bandara sambil melihat-lihat suasana Istanbul di musim dingin. Selama ini jika ada kunjungan atau singgah di Istanbul seringnya di musim panas atau musim gugur atau semi.

Saat sudah di pesawat pun kembali diuji dengan delay selama satu jam, padahal posisi sudah siap landing. Selidik punya selidik ternyata ada “pertengkaran” antara seorang penumpang yang dari tutur bahasanya serta penampilannya adalah seorang gadis aristokrat. Ia sudah lama transit di Beirut kemudian di Istanbul dan merasa ditipu oleh Maskapai Tunisia. Singkat cerita respon maskapai sangat keras. Gadis tersebut beserta ibunya diminta untuk turun dari pesawat. Lebih tepatnya diusir, sebagai punishment. Karena sudah dianggap merendahkan maskapai dengan menyinggung masalah krusial, safety flight dan kenyamanan. Proses turun inilah yang sangat panjang. Di antara penumpang ada yang membela sang gadis dan ini dimediasi oleh banyak pihak agar pihak maskapai mencabut keputusannya. Sebagian kecil mendukung keputusan maskapai. Perdebatan panjang terjadi hingga akhirnya kedua penumpang tersebut harus “rela” diturunkan.

Tiba di tunis jam dua dini hari. Sepi. Karena memang sudah sangat larut. Menunggu proses imigrasi yang cukup lama. Lebih dari setengah jam. Alhamdulillah senyum panitia yang mengundang kami di luar mencairkan kebekuan. Menghangatkan cuaca yang cukup dingin.

Panitia “al-Markaz al-Magharibi Li at-Tanmiyah al-Maqdisiyah” (Pusat Pengembangan dan Riset Masalah al-Quds di Negara Arab Barat) menyambut kami dan menghantarkan ke hotel al-Mouradi di salah satu kota penyangga Tunis, Ibukota Tunisia yaitu Gammarth.

Saya mewakili Asia Pacific Community for Palestine sebuah konsorsium LSM Palestina regional di wilayah Asia Pasifik, dijadwalkan mengikuti sesi-sesi pra seminar dan merumuskan beberapa hal yang berkaitan dengan konsep dan tatanan organisasi serupa di wilayah Arab bagian Barat. Alhamdulillah beberapa presentasi berjalan lancer bahkan sangat padat karena banyaknya delegasi dan tamu undangan serta pakar dari berbagai negara di undang.

Dalam salah satu presentasi, saya katakan di antara cara membantu bangsa Palestina selain yang sudah dilakukan perlu juga dengan pendekatan sejarah dan riset selain kemanusian dan pendekatan emosional. Karena itulah, Aspac for Palestine tahun ini menerbitkan dua buku sekaligus. Ensiklopedi Mini Masjid al-Aqsha dan Buku Kontemplasi Sejarah “The Forbidden Country”.

“Beberapa hal yang saya katakan tadi saya tulis dalam buku ini” saya angkat buku saya “The Forbidden Country”.

Melihat judulnya yang berbahasa Inggris, kontan saja membuat beberapa peserta request buku. Saya tersenyum sambil menjawab, “Buku yang saya pegang ini saya tulis dengan Bahasa Indonesia”.

“Ada yang diterbitkan edisi Bahasa Inggris atau Bahasa Arab?”

“Ada Bahasa Inggrisnya. Tapi belum dicetak dan diterbitkan seperti ini” saya menunjukkan print out terjemah The Forbidden Country dalam Bahasa Inggris yang sudah dijilid.

Dalam sesi break seorang Doktor Mikrobiologi dari London menyarankan saya menerbitkan buku ini di Afrika Selatan. Jika akan diterbitkan di London biayanya sangat mahal dan persaingan bukunya lumayan berat, tutur beliau. Delegasi Malaysia bahkan meminta naskah berbahasa Inggris untuk diterjemahkan ke dalam Bahasa Melayu.

Pelaksanaan seminar ini sempat terganggu dengan adanya demonstrasi kecil di depan hotel yang meneriakkan yel-yel anti Ikhwanul Muslimin. Saya bertanya-tanya, mereka mendemo siapa? Untuk apa? Kenapa di sini?

Saat melihat koran-koran lokal dan beberapa media online saya baru sadar ternyata. Acara seminar internasional yang diadakan oleh al-Markaz al-Maghariby ini disinyalir dan dianggap sebagai pertemuan kader-kader IM internasional untuk merespon referendum undang-undang di Mesir.

Saat silaturrahmi dengan Duta Besar RI di Tunis saya sempat menduskusikan sekaligus mengonfirmasi hal ini . Menurut beberapa mahasiswa juga para staf KBRI memang sedang terjadi manuver-manuver politik terhadap partai pemerintah. Mengingat sebelumnya secara pribadi Syeikh Rasyid Ghanusi pimpinan spiritual Nahdha mengatakan siap menampung suaka politik dari Mesir. Beliau sendiri dua puluh tahun lebih hidup di London dengan suaka politik dan baru kembali bersama puluhan bahkan ratusan ulama setelah runtuhnya rezim Ben Ali. Ruwaq-ruwaq pengajian di Zaituna bahkan baru dibuka setelah puluhan tahun digembok oleh rezim sekuler Habib Borgiba dan Ben Ali.

Suasana tegang tersebut diperparah ketika panitia memberikan warning kepada kami untuk tidak keluar hotel tanpa sepengetahuan mereka. Padahal saya belum ke mana-mana.

Alhamdulillah, saya bisa berkomunikasi dengan sahabat saya Dede Permana Nugraha mahasiswa program S3 di Universitas Zaituna, juga Pak Yazid Staf KBRI Tunis Bidang Politik suasana tersebut cair. Sehingga Tunis yang eksotik bisa saya nikmati. Sejak menelusuri jalan protokol Habib Borgeba yang menjadi pusat revolusi pelengseran Ben Ali. Napak tilas sejarawan muslim Ibnu Khaldun. Belanja buku. Menikmati pantai yang indah, kampung Andalus yang sangat-sangat cantik dengan nuansa serba putih dan biru. Sayangnya keindahan tersebut tak bisa lama-lama dinikmati baik secara langsung maupun di balik kamera. Anginnya sangat kencang dan yang kedua ada musibah: kacamata saya patah!

Sebelumnya kami sempat mengantarkan Bu Maryam Rahmayani (Ketua Adara Relief International yang juga Bendahara Asia Pacific Community for Palestine) untuk meneruskan perjalanan beliau ke Amsterdam.

Pak Heri Efendi (Anggota Dewan Penasehat KNRP – Komite Nasional untuk Rakyat Palestina, yang juga salah satu pendiri Aspac for Palestine) dan saya saatnya meninggalkan Tunisia. Dan kini terdampar di Istanbul selama tiga belas jam. Menanti penerbangan ke Jakarta.

Istanbul, 21.01.2014

???????????????????????????????

Tadabbur QS. Al-Mulk

BILIK-BILIK PRESTASI*

Dr. Saiful Bahri, M.A**

 

Mukaddimah: Keniscayaan Sebuah Ujian

Surat al-Mulk diturunkan Allah di Makkah

Maha Suci Allah Yang di tangan-Nyalah segala kerajaan, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun”. (QS. 67:1-2)

Melalui ujian tersebut Allah tahu siapa yang terbaik di antara para hamba-Nya. Terbaik dalam mengisi lembar ujian. Karena sepanjang hidup manusia selalu diuji oleh Allah. Jika –nantinya- hasil tersebut baik, maka kemanfaatan tersebut kembali pada diri masing-masing. Allah sama sekali tidak memerlukan itu. Jika ternyata belum sesuai harapan; toh pintu maaf-Nya tak pernah tertutup.

Sebagaimana siswa/mahasiswa menempuh ujian. Selalu ada materi yang diujikan atau diajarkan sebelumnya. Selalu ada yang mengingatkannya. Selalu ada yang mengajaknya bersiap-siap menempuhnya. Selalu ada yang menemani mereka.

Demikianlah kehidupan ini. Kehidupan yang dilapangkan oleh Dzat pencipta tujuh lapis langit, yang menghiasinya dengan bintang-bintang sekaligus sebagai pelempar para syetan; sang penyontek dan pengganggu ujian para manusia.

Orang yang gagal dalam ujian tersebut adalah orang yang merugi. Sekali lagi; merugi. Karena ia bukan sekadar gagal. Tapi akan menerima siksaan yang tak terperikan; pedih yang sangat. Ini bukan sebuah sistem yang kejam. Tapi sebuah hari pembalasan. Hari pengumuman. Yang pada hari itu semua manusia menampakkan penyesalan. Bagi yang berbuat baik ia menyesal mengapa tidak menambahnya. Bagi yang berbuat buruk, akan semakin tampak guratan sesal itu. Karena ia tahu kesudahan masalahnya. Hari itu takkan ada kebohongan sedikit pun. Karena yang menjadi saksi adalah anggota-anggota tubuh. Dengan titah Sang Pemilik segala kerajaan.

Ketika orang-orang yang gagal tersebut dilempar ke neraka sa’îr, para penjaga neraka itu menanyai mereka. Apakah tak pernah ada, orang yang memberi peringatan selama mereka di dunia? Mereka pun tak punya pilihan kecuali hanya mengiyakan. Guratan sesal sangat nampak. Karena mereka melecehkan para pembawa peringatan tersebut. Bahkan sebagian ada yang ditindas dan disakiti.

Sejenak kita simak pengakuan jujur mereka. “…. Sekiranya kami mendengarkan atau memikirkan (peringatan itu) niscaya tidaklah kami termasuk penghuni neraka yang menyala-nyala”. (QS. 67:10)

Mereka adalah orang-orang yang tak mau menggunakan karunia mahal yang diberikan Allah kepada hamba-Nya. Untuk menempuh ujian kehidupan. Untuk menjadi orang-orang pilihan. Untuk menjadi yang terbaik.

Sesungguhnya dalam penciptaan langit langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal”. (QS. 3:190)

Dan akal adalah perangkat kesungguhan manusia dalam menempuh ujian. Karena hanya orang yang bersungguh-sungguh saja yang akan lulus sebagai orang-orang pilihan yang berprestasi.

Derivasi kata “a qa la” diulang dalam al-Qur’an sebanyak 49 kali. Semuanya berbentuk fi`il mudhâri’ (present/countinuous tense) kecuali satu berbentuk fi`il mâdhî (past tense). “Ta’qilûn” 24 kali, “ya’qilûn” 22 kali. ‘Aqala, na’qilu dan ya’qilu; masing-masing sekali. Ini belum kata-kata derifatif dari “fakara” yang juga diulang sebanyak 18 kali. Keduanya berarti berpikir. Menariknya adalah ketika Allah mengulang-ulang “afalâ ta’qilûn” (Tidakkah kalian berpikir) sebanyak 13 kali. Ini mengindikasikan bahwa agama bukan merupakan sebuah doktrin yang tak bisa diterima akal. Bahwa aturan-aturan yang diturunkan dari langit sebagai bahan ujian manusia di bumi tidaklah sulit untuk dipahami. Dalam setiap masa, Allah mengutus para rasul-Nya untuk menjelaskannya. Hingga datang penutup para rasul itu, Muhammad Saw.

Setelah itu tugas pemberi peringatan itu diteruskan oleh orang-orang setelahnya, pewaris para nabi. Mereka sebagai pemberi peringatan. Sekaligus sebagai peserta ujian. Karena mereka pun tak luput dari hari penghitungan. Agar kelak diketahui, siapa diantara mereka yang hanya berkata tapi tak mengamalkan. Menyeru tapi menyelisihi apa yang dikatakannya kepada manusia.

Hai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu perbuat. Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tiada kamu kerjakan”. (QS. 61: 2-3)

Kelengkapan manusia dengan dibekali akal tidaklah hanya kebetulan. Allah menjadikannya sebagai perangkat menuntut ilmu. Dengan ilmu Allah memerintahkan malaikat dan jin bersujud pada Adam as. Dan jin dilaknat karena enggan melakukan titah itu.

Dengan akal itu Allah menjadikan manusia sebagai khlifah-Nya di bumi. Untuk memakmurkan isinya. Agar bermuara pada ketundukan pada-Nya. Sebuah amanah yang bumi dan langit serta gunung pun menolaknya. Hanya manusia yang lemah yang berani memikulnya.

Allah mencela mereka yang tak menggunakan akalnya. Karena sama saja tidak menyukuri karunia-Nya.

Kembali ke permasalahan ujian. Bahwa proses penghargaan untuk yang menjadi terbaik adalah kedua sisi penciptaan Allah. Hidup dan mati. Semasa hidup manusia mengukir prestasi untuk dinikmatinya setelah ia mati. Jika hanya kehidupan, maka hasil ujian takkan pernah diumumkan. Sebaliknya, jika hanya ada kematian, maka takkan pernah ada ujian; apalagi penghitungan dari ujian itu.

Standar kelulusan ujian ini adalah; yang terbaik (ahsanu ‘amalâ). Bukan mereka yang banyak bicara. Bukan mereka yang banyak berbuat. Tapi mereka yang bagus dan benar amalnya. Dimensi –paling- bagus ini mencakup berbagai lini kehidupan. Dari aspek spirit, berupa kejernihan dan kebeningan hati. Dari aspek lainnya, kualitas dan profesional. Keberhasilan aspek pertama, akan membantu –sedikit banyak- keberhasilan aspek kedua.

Dalam usaha membuahkan kerja produktif dan profesional yang jujur –jika boleh dibahasakan demikian- maka akal manusia berperan untuk mewujudkan prestasi ini.

Karenanya sangat pantas jika kemudian akal ini dijadikan salah satu sarana pembantu kekhilafahan manusia di bumi.

Namun, ada hal lain yang kadang membuat manusia yang lemah lagi bodoh ini untuk mendewakan akal. Ia dijadikan satu-satunya sandaran yang dikultuskan. Bahwa akal adalah segala-galanya. Padahal akal ini juga sebagaimana hati, digunakan sebagai sarana kekhilafahan yang dibimbing dan dipedomani dengan ajaran yang dibawa seorang rasul Allah. Akal tidak untuk didewakan dan dikultuskan, sebagaimana hati dan perasaan tidak pula untuk diperturutkan secara emosional.

Maka al-Quran tak pernah memuat secara langsung kata “al-aqlu” (akal); ini dimaksudkan –walLâhu a’lam”– agar kita juga tidak terlalu mendewakan akal. Yang dipuji Allah adalah proses menggunakan akal. Dianjurkan dan dijadikan sarat meraih prestasi dan posisi yang tinggi di sisi-Nya sebagai orang yang beriman dan berilmu.

Pengkultusan akal ini suatu saat bisa mengakibatkan pengkultusan diri. Pada saat kekuasaan dan harta digenggam. Pada saat tak ada orang yang berani mengatakan tidak untuk melawan keputusaannya. Pada saat semua orang terdiam, bungkam oleh keterpaksaan. Saat itulah firaun-firaun Musa menjelma menjadi dzat yang merasa besar. Congkak namun dungu “…(Seraya) berkata: “Akulah Tuhanmu yang paling tinggi”. (QS. 79:24)

Orang-orang yang gagal itu akan enggan bila diajak berpikir. Siapa yang mendatangkan badai atau hujan batu? Apakah kalian merasa tenang-tenang saja dari ditimpa hal-hal seperti itu di bawah langit? Langit siapakah itu?

Ketika Allah menjadikan bumi ini sebagai tempat tinggal manusia, ia seolah tidak pernah merasa bahwa bumi ini berputar dengan cepatnya. Di samping itu bumi dan beberapa planet di sekelilingnya juga berputar lebih cepat mengelilingi matahari sebagai pusat peredaran planet-planet. Pernahkah ia berpikir? Pernahkah manusia membayangkan, air laut yang sangat banyak itu mengapa tidak tumpah? Dan semua penghuni bumi juga tidak terlempar dengan kecepatan perputaran tersebut. Siapakah yang menjadikan hal tersebut?

Lihatlah burung ketika terbang. Saat mengembangkan dan menahan sayapnya. Siapa yang menahannya berada di udara di atas kita.

Siapa yang memberi rizki? Menjodohkan dan mengabulkan berbagai permohonan?

Siapa yang menghidupkan dan mematikan. Mencipta kehidupan sekaligus mencabutnya dan menjelmakan sebuah kematian sebagai gantinya?

Siapa yang menjadikan bumi ini laik untuk dihuni para khalifah Allah. Yang sekaligus ditugaskan memakmurkannya serta menikmati segala fasilitasnya.

Katakanlah: “Dia-lah yang menciptakan kamu dan menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati”. (Tetapi) amat sedikit kamu bersyukur. (QS. 67:23).

Benar; sungguh sedikit yang mau mengerti dan paham serta menyukuri segala fasilitas ini.

Bukankah dengan ini manusia sudah cukup diajak berdialog dengan sangat demokratis. Sebelum jatuh vonis kelak di hari yang tak ada perbantahan di sana. Karena hanya ada sebuah kesaksian yang jauh dari rekayasa. Kesaksian yang berbicara dengan titah kejujuran.

Sangat adil. Dia mengaruniai manusia pendengaran, penglihatan serta hati untuk membalance akal. Sekaligus menyempurnakan perangkat dan peralatan menempuh ujian. Adapun sarana dan perangkat lain; manusia dianjurkan untuk berinovasi serta kreatif menemukan dan menggunakannya.

Setelah itu, dengan keterbukaan akal dan wawasan; kita tahu bahwa lahan prestasi dalam hidup ini sangatlah luas. Berbuat apa saja bisa dijadikan sebagai lahan peningkatan poin dalam buku prestasi amal. Bahkan tidur dan makan pun sebagai pemenuhan di antara insting manusia bisa diframe dalam bingkai prestasi. Dengan niat yang baik. Secara vertikal kepada Sang Pemilik hidup dan mati, kita tahu berinteraksi. Kepada diri kita, kita juga tahu dan paham. Serta kepada apa dan siapa saja di sekeliling kita, semua ada cara interaksinya.

Semua bisa dibingkai untuk meningkatkan raihan prestasi kita. Dengan kesungguhan. Dan dengan kecerdasan akal kita. Serta dengan kekuatan bashirah. Setelah itu, laluilah. Jalanilah kehidupan ini apa adanya. Kelak kita hanya tinggal menuai hasilnya.

Bersegeralah isi bilik-bilik prestasi itu. Sebelum semuanya menjadi terlambat. Dan tiada guna lagi sesal saat itu.

“Katakanlah:”Terangkanlah kepadaku jika sumber air kamu menjadi kering; maka siapakah yang akan mendatangkan air yang mengalir bagimu?”. (QS. 67:30)

Sedang para hamba-Nya yang berprestasi hari itu, akan diberi nilai bermacam-macam dan berbeda sesuai dengan amalnya. Pada hari itu mereka dihargai dengan derajat yang bertingkat-tingkat. Siapakah yang beruntung saat penyematan prestasi itu dilakukan di depan Allah, para malaikat; penghuni langit. Jin dan manusia, serta para penduduk dunia dari berbagai penjuru dan dari setiap masa. Akankah kita termasuk salah satu dari mereka? WalLâhu al musta’ân.

 

 

 

Disampaikan dalam pengajian pagi Tadabbur al-Qur’an

Ainal Yaqin, Kalibata, Jakarta Selatan

Selasa, 3 Pebruari 2009


* Sebuah tadabur surat al-Mulk.

**  Alumni Program S3 Jurusan tafsir dan Ilmu al-Quran, Universitas Al-Azhar, Cairo – Mesir

Islam di Negeri Sakura

Sebelumnya tak terbayang bahwa aktivitas Safari Dakwah Ramadan kali ini akan sepadat ini. Saat tiba di bandara Haneda, Tokyo saya sudah merasakan aura kesibukan orang-orang Jepang. Akan sesibuk itukah nantinya saya selama di Jepang? Seolah tak saling kenal, semuanya berjalan dengan teratur rapi dan cepat. Karena adayang mereka kejar. WAKTU…

Setelah semalam di Tokyo, saya langsung berkeliling ke berbagai wilayah dan kota di Jepang. Di mulai dari Tokushima yang sangat jauh dari Tokyo bahkan sudah berbeda pulau. Kemudian ke Okayama, Yamaguchi, Mihara, Kure, Hiroshima, Saga, Fukuoka, Kita Kyushu (Wakamatsu), Kariya-Nagoya, Gifu, Kyoto, Kobe, Osaka, Kosai, Shizuoka, Hamamatsu, Toyohashi, Fukui dan Ishikawa (Kanazawa). Dan berakhir dengan shalat Idul Fitri di Sambohall, Kobe. Kemudian ke Tokyo lagi untuk menuntaskan agenda yang belum terlaksana, selain untuk berbelanja membeli sedikit oleh-oleh. Sekitar 21 kota saya kunjungi dengan berbagai kondisi yang berbeda-beda, meskipun audiens yang saya jumpai agak mirip.

Uniknya, di semua tempat-tempat tersebut, terutama yang ada masjid dan Islamic centernya, jumlah komunitas muslim Indonesia selalu menjadi angka terbesar. Konon, jumlah komunitas Indonesia di Jepang melebihi angka dua puluh ribu. Sebagian besar di antaranya adalah para trainee, pekerja di berbagai bidang, seperti otomotif, mesin dan peralatan berat, perkapalan dan perikanan, pertanian, tekstil serta keperawatan dan sector lainnya. Rata-rata dengan durasi kontrak kerja jangka pendek sekitar tiga tahun. Hanya sedikit yang diperpanjang atau berubah status menjadi resident. Sebagian lainnya adalah mahasiswa. Dan sebagian besar mahasiswa Indonesia yang tersebar di berbagai wilayah di Jepang, hampir semuanya menempuh program post graduate, magister dan doctoral. Sebagian lainnya bekerja sebagai asisten professor dan di program post doctoral.

Perjalanan yang semula berat, karena memang secara fisik terlihat cukup berat. Dengan satu koper tanggung tas ransel berisi laptop serta sebuah benner sponsor harus berpindah dari kota ke kota yang jika dihitung total perjalanan angkanya sangat fantastis. Alhamdulillah, Allah memudahkan perjalanan tersebut. Dengan berbagai pernik-pernik yang unik dan kadang menggelikan untuk diingat-ingat. Pengalaman tertidur hingga lewat satu stasiun, pengalaman saling menunggu karena hanya satu menit terlambat kereta harus jenuh menunggu lima puluh menit berikutnya. Pengalaman menghadapi hujan badai yang mengakibatkan kereta harus berhenti hampir empat jam, hingga merasakan sedikit goncangan gempa.

Amazing… lebih tepat dikatakan banyak kenangan yang unexplainable. Tak cukup kata-kata untuk mewakili rasa dan suasana hati.

Hari-hari pertama sangat kaget dan sangat melelahkan, karena harus berpindah-pindah kota dengan jarak bukan sekedar puluhan kilometer, tapi sudah mencapai ratusan kilometer. Alhamdulillah, public transport di Jepang sangat baik. Dengan berbekal kartu sakti paket untuk turis JR Pass, sebuah paket tiket seharga ¥ 28.300 bisa mengkaver perjalanan selama sepekan untuk berbagai jenis angkutan umum pemerintah (Japan Railway). Dari sejak kereta cahaya yang super cepat Shinkansen yang kecepatan larinya melebihi 200 km/jam, sampai yang dibawahnya Shirasagi atau Thunder Bird, atau kereta ekspress maupun local. Mengingat kereta api merupakan sarana transportasi utama. Maka mengetahui jadwal transportasi sangat penting, karena keterlambatan di sini sangatlah aib, kecuali ada halangan alam seperti badai atau gempa. Biasanya saya terlebih dahulu mengecek atau dicekkan jadwal transportasi melalui situs http://www.hyperdia.com/. Dengan jadwal yang sangat disiplin tersebut bepergian ke mana-mana menjadi terukur dan semestinya tidak ada alas an lagi untuk terlambat. Kecuali jika tertidur dalam kereta atau salah turun stasiun, maka sudah pasti tak terelakkan akan ada jadwal lain.

Selain public transport yang nyaman, keteraturan dalam antri patut diacungi jempol dan dicontoh. Pertama-tama datang yang paling unik untuk diperhatikan adalah melihat orang-orang turun dari kereta dengan rapi, setelah selesai baru kemudian sisi lain satu persatu giliran memasuki kereta. Sama rapinya ketika berada di sebuah perempatan. Mobil yang akan belok kanan harus menunggu sampai mobil yang datang dari arah berlawanan benar-benar habis.

Untuk transport, sepeda masih sangat banyak dijumpai. Yang aneh, sepeda motor buatan Jepang bermerk seperti Yamaha, Honda atau Suzuki hampir tidak ada. Kalaupun ada sepeda motor kecil untuk servis delivery atau sekalian yang besar untuk berboncengan. Maka, selain mobil sepeda adalah sarana transportasi pribadi utama.

Cerita menarik lainnya adalah cerita KEJUJURAN yang hampir hilang di negeri Indonesia. Salah seorang teman yang menjadi host sebuah acara buka bersama untuk family tadinya berencana i’tikaf dengan saya. Beliau terlebih dahulu membereskan rumahnya. Kemudian beliau membatalkan rencana tersebut karena lama mencari dompet istrinya yang berisi banyak dokumen penting dan beberapa uang tentunya. Singkat cerita malam itu dompet tersebut sudah dianggap hilang. Tapi luar biasanya, pagi hari dompet tersebut sudah diantarkan oleh tukang sampah. Rasanya hal tersebut hampir tidak mungkin terjadi di Indonesia. Sama uniknya dengan suasana aman yang luar biasa. Di beberapa tempat bahkan rumah hanya ditutup saja tanpa dikunci tapi tak pernah dimasuki orang lain. Saat saya menaiki kereta apapun, dengan aman saya meletakkan bawaan saya di atas kabin kereta. Berbeda kondisinya saat dulu saya naik kereta dari Jakarta ke Solo. Belum sampai saya nyantai setengah jam, sepatu saya lepas kaki di rilekkan sebentar, eh pas mau makai lagi sepatu ternyata sudah lenyap. Padahal tidak ada rem mendadak atau sejenisnya yang mengakibatkan bergesernya sepatu…

Satu hal positif lagi yang bias saya ambil dari Jepang adalah pemilahan sampah dari sejak di rumah. Dibedakan antara sampah bakar dan sampah daur ulang. Bahkan di setiap stasiun kereta ada empat kotak sampah. Sampah botol, sampah majalah/surat kabar, sampah kering dan sampah bakar. Saat di Saga sempat menyaksikan langsung tempat pengolahan sampah yang dari luar terlihat seperti mall dan shopping center. Dan memang benar, di lantai dasar bias dijumpai banyak kerajinan hasil daur ulang sampah. Sedangkan dari lantai tiga kita bias melihat pembakaran sampah dan hasil-hasil out putnya seperti batako/batu bata dan sejenisnya.

Untuk menjaga kebersihan tempat-tempat public yang di sewakan atau di sekolah bahkan, tidak disediakan petugas kebersihan. Maka dengan otomatis setiap pengguna/penyewa gedung wajib meninggalkan tempat seperti sedia kala.

Pelajaran selanjutnya yang menarik adalah simpelnya tata letak rata-rata rumah di Jepang. Berbanding paradox dengan harganya yang sangat mahal, karena untuk urusan property di Jepang nilainya sangat melangit. Rata-rata rumah tak menyediakan ruang tamu. Karena secara umum rumah sangat privat bagi orang Jepang. Biasanya hanya bias diterima di rumah khusus kerabat atau hubungan yang sudah sangat dekat. Untuk bertemu biasa dilakukan di tempat-tempat meeting atau restoran atau public area.

Dengan toilet di depan, sebagian bahkan tak ada tempat mandi (kecuali struktur yang modern). Karena kamar mandi menjadi barang mewah. Biasanya di sekitar rumah terdapat pemandian umum. Tak heran jika di dalam rumah antara tempat mandi dan toilet di bedakan, karena bias jadi membangunnya pun menyusul setelah ada dana tambahan. Kamar yang simpel dengan kasur lipat, selimut dan bantal yang dikenal dengan “futong”. Saat pagi datang kasur lipat tersebut dimasukkan ke lemari yang tersedia di “dinding-dinding” rumah yang serba kayu. Ya, memang serba kayu meski terkesan ringkih tapi fondasi rumahnya sangat kuat serta struktur dasar rumah yang memiliki “bola-bola” kecil yang memungkinkan bergerak saat terjadi gempat. Selain itu, dalam kondisi gawat yang mengakibatkan bangunan roboh maka tidak terlalu menjadi beban yang membahayakan orang yang tertimpa olehnya.

Untuk pendidikan dasar tak ada sekolah unggulan atau sekolah terpadu, semua sekolah dasar (sampai SMP) terfasilitasi dengan sama. Dan siswa yang sekolah harus berdomisili di dekat sekolahnya, tak ada lintas wilayah atau sekolah jarak jauh. Dan siswa yang sekolah pun harus ada jarak tempuh jalan kaki. Tak diperbolehkan didrop dengan kendaraan. Di sana pelajaran kejujuran, kerapian, kebersihan dan kemandirian dididik dan dilatih. Bahkan dalam momentum sekali dalam sebulan, orang tua diharuskan menyaksikan langsung kegiatan belajar siswa di sekolah untuk mengetahui progress anaknya. Dan guru sangatlah dihormati dan terjunjung tinggi martabatnya.

Tak heran jika saat Hiroshima dan Nagasaki dihancurkan sekutu dengan bom atom, boleh jadi public internasional mengira Jepang sudah habis. Tapi Kaisar Jepang saat itu memerintahkan anak buahnya untuk menghitung jumlah guru yang masih ada serta berusaha untuk menggenjot angka guru. Maka, tak heran jika Jepang melesat setelah itu. Meskipun, saat ini relatif stagnan. Bahkan sedang tertimpa krisis ekonomi yang cukup akut.

Pelajaran lain, perhatian pemerintah dan siapapun pemegang kebijakan di Jepang baik negeri maupun swasta sangat memperhatikan kondisi tuna netra atau orang cacat fisik secara umum. Maka akan dijumpai di setiap ruang public ada jalur khusus untuk mereka, terlihat jelas jika kita berada di stasiun-stasiun, tempat parker, bahkan lampu penyeberangan diperempatan akan berbunyi saat berwarna hijau dengan bunyi yang berbeda di empat jalur perempatan tersebut.

Ramah, memberikan pelayanan terbaik, menjawab dengan sungguh-sungguh ketika ditanya serta menjelaskan secara gambling ketika dimintai keterangan. Bahkan untuk beberapa kasus diantarkan sampai benar-benar sesuai dengan keinginan dan maksud.

Dari sekian perjalanan, ada yang sangat unik. Saat berkunjung ke Ishikawa, bertemu dengan Dr. Eng. Khairul Anwar, seorang asisten professor dari Indonesia yang masih sangat muda di JAIST (Japan Advanced Institute of Science and Technology). Kampus dan tempat komplek asrama dosen dan mahasiswa terletak di perbukitan dan kawasan hutan. Ada waktu-waktu tertentu beruang akan lewat di tempat ini. Maka, ada warning khusus tentang ini serta trik-trik ketika berhadapan dengan beruang. Seperti memberikan apa saja yang dipegang termasuk tas, membuka dan menutup paying. Dan untuk anak-anak, memiliki krincingan yang digantungkan di tas adalah wajib.

Selain itu masyarakat Jepang sedang mengalami krisis populasi produktif. Karena orang-orang yang berusia lanjut kian meningkat yang tidak diimbangi angka kelahiran yang cukup. Sehingga terjadi piramida terbalik yang bias mengancam eksistensi bangsa Jepang. Tingginya persaingan dan pola hidup matrealistik menjadikan hidup di Jepang tidaklah mudah meski dengan fasilitas yang tadi saya sebutkan.

Dengan itu rasanya saya harus banyak bersyukur, karena rumah-rumah di Indonesia rata-rata berukuran dua atau tiga kali lipatnya di Jepang, meski dengan fasilitas yang berbeda.

Umat Islam di Jepang juga tak ringan menghadapi tantangan. Meskipun kiblatnya Amerika, secara khusus sikap Islamphobia tidak terlalu nampak jelas. Meski tetap ada beberapa kasus yang kurang menyenangkan. Kendala klasik, makanan halal, melaksanakan Shalat Jumat dan menunaikan puasa secara benar adalah rutinitas yang pemecahannya belum ideal. Beriring waktu penduduk pribumi pun mulai bersentuhan dengan Islam. Memang angkanya tak sebanyak di Eropa dan Amerika, tapi saya yakin masa depan Islam di Jepang sangat baik. Karena pada dasarnya, bangsa Jepang hanya tinggal disyahadatkan karena sudah banyak nilai-nilai Islam dipraktekkan di sini.

Masih banyak hal yang semestinya bisa saya tulis dari rangkuman catatan harian saya dalam safari dakwah kali ini. Banyak hal positif lainnya sebagaimana tak sedikit juga kebiasaan dan hal-hal yang kurang baik yang saya jumpai. Namun, rasanya kurang bijak jika catatan negatif tersebut saya publish di tempat umum. Selain karena terbatasnya waktu. Rencanya, pagi-pagi benar, besok  insyaallah bergerak menuju Bandara Narita untuk melanjutkan perjalananke Jakarta via Hongkong.

Terima kasih kepada IPTIJ (Ikatan Persaudaraan Trainee Indonesia Jepang), KMII (Komunitas Masyarakat Islam Indonesia), PPI (Persatuan Pelajar Indonesia), FAHIMA (Forum Silaturrahmi Muslimah) Jepang, KJRI Osaka dan terutama sponsor safari dakwah Lembaga Kemanusiaan PKPU Jakarta. Serta pihak-pihak lainnya.

Pak Rully, Pak Bondan, Pak Radon, Mas Tugiman dan Mas Mugi, Mas Bagus, Mas Yanto, Pak Syahid dan Pak Junaidi, Pak Khairul dan Bu Yayuk, Pak Ali, Pak Rusman, Pak Purwo, Mas Rigen, Mas Hendri, Mas Dhuha, Mas Yanto, Pak Fuzi, Mas Aditiya, Pak Anton, Pak Dedi, Pak Heri, Bu Silvy, Bu Shinta, Bu Riska, Bu Ina, Pak Jarwanto, Mas Anjar, Mas Fakhri, Bagus, Pak Heri, Pak Didik, Pak Hafidh, Pak Arif, Mas Obie, Pak Herdi, Pak Alwis, Pak Devi, Pak Zaenal dan Konjen Osaka Bapak Ibnu, serta masih banyak lagi yang tak bisa disebutkan satu-satu.

Terima kasih semuanya atas jamuan, penerimaan dan pelayanannya. Mohon maaf jika ada yang kurang berkenan. Selamat berjuang. Selamat dan sukses. Semoga Allah menjaga keistiqomahan kita semua.

Pojok Tokyo, menjelang dini hari, 21 Agustus 2012

80 kali 40

80 kali 40

Tak terlalu lama aku berdiri di Halte Gami’, bis hijau bernomer 80 coret segera menghampiriku juga orang-orang yang berada di halte. Beberapa pasang kaki segera berlari memburunya. Entah mengapa tiba-tiba kakiku ikut bergerak. Dan akhirnya aku menjadi penumpang sebelum terakhir. Alhamdulillah, aku berhasil memasukkan setengah badanku dengan topangan tangan kiri yang sempat memegang tiang di samping pintu belakang. Entahlah. Biasanya jika ke kuliah aku lebih suka naik apa saja yang menghantarkanku ke Nadi Sikkah, atau ke Duwaiqoh. Kemudian aku sambung dengan mikro bis atau dengan naik taksi omprengan. Tapi rasanya sudah lamaaaaa sekali aku tak menikmati ”perjuangan” menaiki bis 80 coret yang selalu pasti berjejalan penumpang saat-saat aktif jam kuliah. Apalagi dengan adanya kelas sore seperti sekarang.

Pagi tadi, aku bersemangat. Karena promotorku saja yang tinggal di Thanta -ibukota propinsi Gharbea- punya komitmen untuk datang ke kampus sebelum jam 09.30. rasanya malu jika aku terlambat dan keduluan. Maka jam 8 pagi lebih sedikit aku sudah setia menunggu ”jemputan” ke kampus. Dan nampaknya aku berjodoh dengan 80 coret yang menyambangiku sudah dengan penumpang yang berjejalan. Karena jalan sedikit macet aku berani menggerakkan kakiku meski hanya setengah badanku saja yang bisa masuk bis. Setelah melewati dua halte aku baru bisa menggeser badanku. Aku bersyukur dikaruniai badan yang tidak terlalu besar. Sehingga tak harus menunggu lama aku bisa menyelinap di balik pintu belakang. Bahkan –alhamdulillah– tak begitu lama aku pun bisa mendapatkan temnpat duduk. Sambil merenung, berapa jumlah penumpang yang saat ini berada di atas bis bersamaku. Setidaknya kursi yang tersedia ada 32. Penumpang yang berdiri minimalnya 1 ½ kali lipat dari yang berdiri, karena formasi bis yang kunaiki adalah 2 – 1, sehingga bagian tengahnya agak lebar dan bisa menampung 2 atau tiga orang yang berdiri di setiap barisnya. 75% lebih penumpangnya punya jurusan sama. Kuliah di al-Azhar. Beberapa orang terlihat sedikit bisa bernafas ketika bis berhenti di depan halte Fakultas Kedokteran al-Azhar. Beberapa mahasiswa turun di sana. Penumpang bis juga mulai berkurang ketika bis berhenti di depan asrama pelajar asing. Dan saat itulah aku melihat kondisi bis jauh lebih baik. Meski masih lumayan banyak yang berdiri tapi badan mereka sudah bisa berdiri tegak. Aku melihat sepatuku. Yang kanan sudah banyak cap sepati/kaki di sana. Yang kiri juga demikian. Bajuku yang tadi lumayan rapi, tadi juga sempat jadi pegangan orang. Sehingga mulai kusut.

Aku hanya ingat saat berjuang memasuki bis aku meletakkan telapak tanganku melindungi saku celana kananku, tempat aku meletakkan Hp di sana. Sesekali aku melindungi kacamataku agar tidak jatuh atau tersangkut oleh tangan atau badan orang-orang di depan atau belakangku yang secara fisik jauh lebih besar dariku.

Saat aku turun di depan Rumah Sakit Hussein, sejenak kupandangi bis yang setia mengantarku itu. Sudah berapa kali ia mengantarku kuliah sejak dari 10 tahun yang lalu bahkan lebih. Ah, aku bahkan tak pernah menghitungnya. Sebagian kondekturnya bahkan belum berganti. Ia masih saja setia duduk manis di belakang pintu sambil mengomandoi penumpang untuk maju terus ke depan. Suaranya keras, tapi maksudnya baik; agar penumpang yang bergelantungan di pintu bisa memasuki bis. Tapi ketika mereka masuk, penumpang yang lain menyusul.

Aku pun merenung. Perjuangan yang tak ringan ini jika tidak disertai keikhlasan akan percuma dan sia-sia. Apalagi jika tidak ditambah sedikit sabar. Itu semua karena ”ilmu”. Dikejar dan diburu mati-matian. Karenanya kemudian aku paham, pantas saja Allah kemudian memuliakan orang-orang berilmu. Lihatlah, Ibu Imam Syafii dan Ibu Imam Ahmad bin Hambal. Mereka berdua adalah janda muda yang ditinggal mati suaminya masih dalam usia yang tidak terlalu tua. Oleh ibunya, Imam Syafii dibawa ke Makkah dan Madinah untuk menuntut ilmu. Oleh ibunya, Imam Ahmad dinafkahi harta warisan keluarganya. Hanya untuk ilmu. Bahkan ibu mereka berdua pun memilih tidak menikah lagi. Hanya untuk ilmu anak-anaknya.

Barangkali pagi tadi aku memang sedang mencari semangat. Tepatnya menambah semangat. Saat berdebar-debar menunggu kelahiran anak keduaku. Minggu-minggu ini adalah perjuangan berat istriku. Saat ribuan mil, daratan dan lautan memisahkanku dengannya dan anak pertamaku. Semoga mereka selalu baik-baik saja. Allah Sang Penjaga. Sebaik-baiknya penjaga.

Aku baru memahami… kenapa tadi pagi kakiku sangat ringan melayang dan melompat. Tangan kiriku juga sigap mencengkram tiang pintu belakang. Ada sejuta makna kudapat. Ada berjuta kaset kenangan terputar. Ada sejuta asa dan perjuangan menyetrum nadiku. Ada berjuta semangat kudapati dari orang-orang yang berada di dekatku. Berlari, berjuang. Dan saling menolong, meluangkan tempat bagi sesama. Menarik dan memegang agar semua terlindungi meski oleh fasilitas yang seadanya. Meski ada tantangan tangan-tangan jahil di sana. Tapi dalam kondisi yang sangat padat seperti tadi ia pun akan kesulitan beraksi.

Aku baru memahami… rasanya memang sekali-kali aku perlu mencoba kembali untuk menaiki 80 coretku. Meski memang ada banyak alternatif menuju kampus al-Azhar di Husein. Mungkin aku tak begitu terasa, karena tidak setiap hari aku pergi ke sana. Lalu bagaimana dengan adik-adikku yang harus kuliah setiap hari. Lalu bagaimana dengan mereka yang budget transportnya terbatas.

80 x 40 = semangat yang luar biasa.

Jika hari ini aku menaikinya selama 40 menit. Lalu berapa menit jumlah total waktu yang kuhabiskan untuk menaiki bis 80 coret. He he he… itu belum dipotong waktu menunggunya. Saat masih S1 aku sangat setia menunggunya. Tapi sejak sudah banyak alternatif transportasi, aku sudah tak terlalu sabar menunggunya.

Aku segera bergegas memburu kantor jurusan tafsir. Ketika dosen pembimbingku datang, setelah bersalaman aku berusaha mencium telapak tangan kanannya. Tapi seperti biasa, beliau segera menariknya. ”Tunggu 10 menit ya” ujarnya melularkan semangat menuntut ilmu. Ku lihat senyum ramah,di ujung bibirnya.

Rasa penatku hilang begitu aku bisa duduk di samping beliau. Mendengarkan koreksi dan masukan beberapa bagian tulisan di Bab 2 yang kuserahkan pekan lalu.

Jam tanganku hampir menunjukkan jam 11 siang. Sebentar lagi temanku akan menjemputku, untuk kemudian meneruskan perjalanan ke Bank Faysal di Attaba. Untuk menyetor tabungan uang organisasi yang kupimpin.

Jeda waktu tunggu kugunakan melihat-lihat buku di depan auditorium Grand Syeikh Abdul Halim Mahmud. Hasrat membeli bukuku segera padam begitu aku tersadar aku lupa membawa dompetku. Alhamdulillah, aku ingat bahwa aku lupa membawa dompet dan bukan dijaili oleh tangan-tangan nakal seperti yang terjadi beberapa tahun yang lalu.

Jika sedang luang dan bepergian di atas mobil yang lebih nyaman. Aku segera ingat bahwa masih banyak orang berjuang di atas kendaraan umum. Saat aku berganti-ganti transportasi ke kampus. Lebih nyaman dan praktis. Akupun segera ingat… bahwa perjuanganku pagi ini tak hanya menjadi kisahku saja. Ada banyak orang sepertiku. Bahkan mungkin ada sebagian yang kehilangan nyali untuk datang ke kampus. Hanya dengan alasan 80 coret. Mungkin juga ada yang sekedar mendengar berbagai mitos 80 coret, karena ia belum pernah menaikinya.

Ketika aku berjalan kaki. Berapa banyak orang yang tertatih-tatih berjalan. Aku bersyukur dikaruniai kesehatan hari ini.

80 coret kali 40 menit = benar-benar menginspirasiku.

Karena aku ”cukup” setia memanfaatkan jasanya. 15 piester, kemudian 25 piester, hingga sekarang 50 piester. Mungkin tak sepadan dengan jasanya mengantarkanku menjemput jutaan mutiara ilmu dan motivasi pembelajaran. Tapi, tak semua orang mampu menganggarkan budget seperti di atas karena keterbatasan atau karena suatu hal. Bahkan untuk sekedar berterima kasih dan tidak mencercanya… saya yakin masih banyak yang berat melakukannya.

Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?” (QS. 55: 13)

 

Ahad Petang, Rumah Cinta, Kampung Sepuluh,

Cairo, 11.10.2009

Saiful Bahri

Ketika Cinta Bertasbih

sungai-nil

KETIKA CINTA BERTASBIH

 

 

Tanpa terasa kebersamaan 35 hari telah usai. Kalimat perpisahan pun mengganti ucapan selamat datang yang diucapkan sebulan yang lalu. Dua hari yang lalu Sinemart yang menggarap film Ketika Cinta Bertasbih, bersama sutradara, penulis novel, aktor dan aktris dan kru resmi berpamitan pada malam tasyakuran yang diadakan di lapangan Wisma Duta, KBRI Cairo di Garden City.

Saya memang tak selalu mendampingi mereka dalam setiap shooting, baik di beberapa tempat di Cairo maupun di kota Alexandria. Sesekali saja, saat diperlukan, karena –hanya- sekedar membantu para aktor/aktris ketika ada adegan berbahasa arab dan atau dengan lawan main orang-orang setempat.

Meski demikian saya bisa merasakan suasana keakraban, kekeluargaan dan kebersamaan yang sangat dalam antara mereka dan teman-teman yang membantu mereka selama di sini. Sesekali saya menjumpai mereka menitikkan air mata, tak sedikit ternyata. Saat sebagian di antara mereka mengabadikan gambar kebersamaan, detik-detik menjelang kepergian sang sahabat kembali ke tanah air. Saya ikut terharu.

Memang saat Sinemart memberanikan diri untuk shooting di lokasi asli sebagaimana di novel, merupakan sebuah keajaiban tersendiri. Keberaniaan yang laik diapresiasi. Apalagi ketika mengangkat sebuah film relijius yang berbasic novel laris karya seorang Habiburrahman, sarjana hadits dari Universitas Al-Azhar. Penggarapannya pun tidak main-main. Keseriusan ini sangat nampak dari sejak audisi mencari lima pemeran utama, sampai mengadakan sebuah karantina pemondokan terakhir bagi para pemain demi menjaga lingkungan dan penjiwaan terhadap film.

Pembuatan skenario film juga berkali-kali mengalami revisi. Belum lagi, murajaah lughawiyah (pengecekan bahasa arab) yang juga beberapa kali direvisi, hunting lokasi shooting, menentukan partner kerja PH dari Mesir, menjadwal shooting, dan lain sebagainya.

Sebagai sebuah lembaga profesional, tentunya nuansa bisnis dalam pembuatan film ini pasti tak dinafikan. Tapi nuansa dakwah dan perwajahan lain bagi perfilman Indonesia juga terselip di sana. Saya berharap film relijius yang mencerahkan dan menyejukkan seperti ini bisa digarap secara profesional sehingga nantinya memberi warna baru bagi dunia perfilman Indonesia. Sebuah genre baru yang sangat mencerahkan dan menampilkan hiburan yang mendidik. Ke depan medan dakwah sekaligus perbaikan sosial masyarakat di antaranya bisa ditempuh melalui jalur ini.

Sehingga produser-produser yang mengejar untung dan berbisnis ansich akan segera tersadar. Film-film yang membodohi masyarakat dengan sendirinya akan tersingkir. Sehingga nantinya, tak ada lagi film-film yang terlalu mengekspos dunia mistik, mengumbar aurat dan nafsu serta kehidupan yang hedonis. Dan hiburan memang tak selalu identik dengan hura-hura. Karena sambil menimati hiburan pun kita masih bisa mendewasakan diri. Sehingga bukan hanya kepuasan otak kita dapat, hati kita pun akan tetap stabil.

Selamat jalan kami ucapkan kepada segenap kru dan pemain. Kami hanya bisa membantu dengan doa. Segala keterbatasan selama kami membantu proses pengambilan gambar dan adegan semoga bisa tertutupi dengan keakraban dan beberapa masukan konstruktif.

Sebagaimana, khususnya saya mendapatkan banyak pelajaran dari proses ini. Pelajaran prfesionalisme, kesungguhan, kedisiplinan selain pelajaran dari isi cerita film dan novel KCB ini sendiri.

Kini semua telah kembali seperti semula. Saya sempat berpesan kepada sebagian teman-teman yang tergabung dalam Rafii Travel Groups -yang menjadi partner Sinemart- untuk kembali menekuni fungsi semula sebagai thalibul ilmi. Sebagaimana tuntutan profesionalisme di masyarakat, saatnya dibuktikan dengan kesungguhan dalam menuntut ilmu. Dari pengalaman selama sebulan ini ambillah sebanyak-banyaknya hal-hal yang bermanfaat dan segera tinggalkan bekas-bekas dan kenangan yang mengganggu. Baik mengganggu hati maupun cita-cita. Sekaligus bisa dijadikan sebuah momentum untuk sebuah permulaan. Memperbarui semangat belajar. Menjadi pembelajar sejati. Bagi yang berada di S1 sebulan lagi akan segera menghadapi ujian musim dingin, semester ganjil.

Kelak al-Azhar akan kembali menjadi kiblat intelektual Islam dan dunia. Para alumninya fasih dan mumpuni dalam berbahasa arab, berwawasan keagamaan dan umum yang luas, argumentatif dalam berdialog serta metodologis dalam menyampaikan suatu gagasan, mudah dipahami audiens sekaligus terlihat kualitas dan mutu ide yang brilian. Kita tak lantas sekedar bangga memakai jubah kebesaran namanya. Karena jika itu terjadi, bagaikan orang yang kedodoran, kecil badannya dan pakaian yang dikenakan terlalu besar untuk ukurannya. Jangan sampai kita menjadi bahan tertawaan masyarakat yang sudah –terlanjur- berekspektasi terlalu tinggi terhadap kita.

Kita tak akan mengecewakan mereka. Buktikan dengan kesungguhan kita menuntut ilmu dan kejernihan niat kita untuk kembali berbuat dan memberi kontribusi dan kemanfaatan buat mereka.

Meski kita tak sedang memerankan Fahri dalam Ayat-Ayat Cinta atau sebagai Azam dalam Ketika Cinta Bertasbih. Cukup kita menjadi diri kita yang sebenarnya.

Saat itulah cinta benar-benar bertasbih. Sebagaimana tasbihnya matahari dan bulan, bintang dan pepohonan, bahkan burung-burung yang mengepakkan sayapnya. Cinta yang akan memudarkan ruwetnya jiwa-jiwa yang dipenuhi dengki dan permusuhan. Terutama umat Islam yang dibelenggu oleh berbagai skat bernama baju primordial, kelompok, organisasi atau golongan. Hingga kelak kita bisa memajukan negeri yang tak henti-hentinya dirundung bencana dan krisis. Menjadi negeri baru berwajah teduh, berkarakter dan bermartabat serta berprestasi.

 

 

Serambi Cinta, Kampung Sepuluh,

Rabu malam – Cairo, 26.11.2008

Ekstrimisme VS Islamisme

EKSTRIMISME VS ISLAMISME

Di permulaan Januari 2002 lalu saya bersama Prof. Bill Liddle dan Gunawan Muhammad, diundang menjadi pembicara dalam sebuah panel diskusi di Asia Society New York dan menampilkan Prof John Bresnan dari Columbia university selaku moderator. Tema diskusi adalah: “Islam in Indonesia”.

Dalam presentasi saya tegaskan, sesungguhnya Islam sebagai “keyakinan” dan sistim hidup tidak memiliki perbedaan berdasarkan letak geografis dan zona alam. Islam memiliki sumber abdi, yaitu Al Qur’an dan Sunnah RasulNya. Kedua sumber ini kapan dan di mana saja, akan tetap terpakai dan difahami oleh kaum Muslim. Yang berbeda kemudian adalah pemahaman terhadap kedua sumber tersebut, mengikut pada konteks kehidupan masing-masing. Dengan demikian, sesungguhnya yang berbeda bukan Islam tapi pemahaman terhadap Islam itu sendiri.

Sehingga ketika seseorang cenderung memahami Islam Indonesia berbeda dari Islam Timur Tengah misalnya, dapat dicurigai sebagai pengelabuan terhadap universalitas Islam itu sendiri. Artinya, pemahaman seperti ini belum bisa membedakan antara pemahaman manusia dan Islam sebagai agama itu sendiri. Tentu pemahaman keliru seperti ini timbul karena pendekatan yang dipakai adalah pendekatan yang non Islamic, di mana pada agama lain dapat terjadi perbedaan fundamental karena letak georafis pemeluknya.

Yang menarik dari dIskusi tersebut adalah banyaknya “ocehan” atau “pengaduan” akan tingginya tingkat ekstrimisme atau radikalisme di Indonesia. Walaupun dengan sangat hati-hati, bahkan ada yang seolah menyimpulkan bahwa tingkat terorisme di Indonesia tumbuh dengan sangat menakutkan. Bagi saya pribadi, tentu cukup terkejut dengan kesimpulan ini. Sebab yang saya kenal, Islam dengan ajarannya yang damai, santun, logic serta mengedepankan nilai-nilai rasio, telah mendapatkan lahan suburnya pada bangsa Indonesia, yang sebelum Islam pun memiliki “nature” seperti itu. Sehingga kedatangan Islam di Indonesia begitu mulus tanpa ada aral sedikitpun. Bahkan tidak memutuhkan waktu yang lama, akhirnya menjadi agama super mayoritas bangsa Indonesia.

Ada dua alasan yang paling menonjol untuk menjustifikasi akan tingginya tingkat radikalisme di Indonesia:

Pertama: Semakin tingginya tingkat partisipasi Muslim dalam proses pengambilan kebijakan nasional, khususnya dalam upaya “islamisasi” kehidupan bernegara dan berbangsa. Semaraknya partai-partai yang berasaskan Islam, gerakan non politis yang berbasis Islam semakin agresif, serta tingginya kesadaran mengekspresikan kehidupan Islami seperti jilbab, bank-bank syari’ah, asuransi Islam (takaaful), dll. Kekhawatiran terbesar adalah adanya upaya-upaya dari kalangan apa yang mereka sebut sebagai Muslim radikal untuk menjadikan Indonesia sebagi negara Islam.

Kedua: Tingginya tingkat resistensi terhadap berbagai kebijakan Amerika, khususnya yang berkenaan dengan dunia Islam dan Timur Tengah. Bagi kebanyakan mereka, menentang kebijakan Amerika adalah symbol radikalisme, ekstremisme dan tidak jarang mengarah kepada tuduhan terorisme. Maraknya demonstrasi dari kalangan aktifis Muslim dalam mengekspresikan resistensi tersebut, dianggap sebagai bentuk “kekerasan” yang tidak bisa ditolerir.

Kedua alasan di atas perlu dicermati, sehingga tidak menimbulkan sebuah kesimpulan yang keliru. Betulkah bahwa semakin tingginya tingkat partisipasi Muslim dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, termasuk tumbuhnya berbagai partai yang berasaskan Islam, dapat dijadikan barometer radikalisme atau ekstremisme? Betulkah bahwa semaraknya “islamisasi” kehidupan baik pada tataran pribadi maupun pada tataran sosialnya seperti semaraknya pemakaian jilbab, semaraknya majelis ta’lim, semakin ramainya masjid dengan kegiatan-kegiatan pemuda, bank-bank syari’ah atau takaful islami, dll., dapat dijadikan barometer radikalisme dan ekstremisme? Betulkah bahwa adanya keinginan dari kalangan umat untuk menjadikan Indonesia sebagai negara Islam dianggap sebagai gerakan radikal dan ekstrim? Betulkah bahwa maraknya demonstrasi menentang berbagai kebijakan Amerika dapat dianggap sebagai gerakan radikal atau ekstrim?

Sungguh sangat keliru jika semaraknya umat Islam kembali menjalankan agamanya lalu dituduh radikal atau ekstrim. Atau kalau memang yang demikian adalah barometer radikalisme dan ekstrimisme, maka ekstrimisme dan radikalisme dapat disamakan dengan islamisme. Yaitu semangat kaum Muslim untuk kembali melaksanakan ajaran agamanya secara kinsisten dan jujur. Maraknya pemakaian jilbab, pengajian, tingginya tingkat partisipasi jama’ah di masjid-masjid, dll., adalah indikasi kesadaran beragama. Untuk itu, jangan sampai fenomena tersebut dijadikan barometer untuk mengukur tingkat radikalisme dan ekstrimisme suatu bangsa. Di negara-negara ketiga non Muslim, seperti di Amerika Latin dan Tengah, tingkat partisipasi keagamaan masyarakat masih cukup tinggi. Gereja-geraja masih ramai dan orang tua masih ketat mengajarkan nilai-nilai agamanya kepada anak-anak mereka. Tapi pernahkan kita dengar, bahwa mereka menjadi sebuah ancaman? Bahkan jika anda menginjakkan kaki di airport Nikaragua, salah satu negara Amerika Tengah, anda dengan mudah melihat motto negara tersebut: “Jesus is Lord of the country”.

Keinginan masyarakat Muslim untuk bangkit menjalankan ajaran agamanya, sesungguhnya suatu kesadaran baru yang perlu disyukuri. Di Amerika Serikat, justeru salah dilemma peradabannya adalah karena agama dari masa ke masa semakin sakarat. Tuhan bagi kebanyakan di negeri tersebut tak lebih dari sebuah sosok yang tak berdaya di rumah-rumah ibadah, dan perlu dijenguk sehari sepekan. Bahkan akibat merosotnya kepercayaan masyarakat terhadap agama (baca kristiani), di tengah gencarnya berbagai upaya untuk merintangi laju perkembangan Islam di Amerika, kaum Muslim justeru giat mengumpulkan dana untuk membeli bebera gereja yang akan dijual. Dalam pandangan Islam, semakin agama ini diimani dan dipraktekkan akan semakin meciptakan ketentraman hidup, baik pada tataran individu maupun pada tataran sosialnya. Sehingga semaraknya kehidupan beragama di Indonesia tidak dianggap sebagai “threat” (ancaman), melainkan sebuah kesadaran (conscience).

Adapun keinginan sebagian masyarakat Muslim untuk menjadikan Islam sebagai asas bernegara, sesungguhnya adalah fenomena biasa yang dapat terjadi di mana saja. Manusia adalah makhluk yang secara fitrah memiliki kecenderungan ideologis. Ideologi yang diyakininya akan dimenangkannya dalam berbagai fora kehidupannya, termasuk dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Dalam pandangan demokratis, kecenderungan ini sesungguhnya bukanlah suatu kesalahan apalagi ancaman. Melainkan sebuah proses demokrasi yang terjadi. Untuk itu, keinginan sebagian masyarakat Muslim untuk menjadikan Islam sebagai asas berbangsa dan bernegara adalah keinginan dan cita-cita yang sah-sah saja dalam pandangan demokrasi, selama ditempuh dengan cara-cara elegen pula. Dan saya yakin, partisipasi umat Muslim dalam proses kehidupan berbangsa adalah cara pendekatan yang paling elegan untuk mencapai cita-cita tersebut.

Lalu dari sudut mana sehingga keinginan dan cita-cita tersebut dianggap radikalisme atau ekstrimisme? Saya justeru menilai, penentangan kepada keinginan tersebut secara tidak demokratis, misalnya dengan manipulasi informasi dan ketidak jujuran dalam melemparkan tuduhan, adalah bentuk radikalisme dan ektrimisme pada sisi yang lain. Sehingga pelemparan tuduhan radikalisme dan ekstrimisme justeru merupakan justifikasi terhadap radikalisme dan ekstrimisme sekaligus. Peperangan terhadap radikalisme dan ekstrimisme justeru dilakukan dengan cara-cara eksrtim dan radikal.

Adapun tingginya tingkat resistensi kepada Amerika, sesungguhnya perlu dilihat dari berbagai sudut. Penglihatan ini pula perlu diikuti dengan sebuah kesadaran, bahwa cara-cara yang mereka lakukan merupakan cara-cara umum yang dilakukan hampir di mana saja di dunia ini. Ketika kita melihat demonstarsi di Jakarta dengan tema menentang kebijakan luar negeri Amerika di Timur Tengah, khususnya dalam masalah konflik Palestina-Israel, maka perlu disadari bahwa hal tersebut adalah reaksi dari sebuah kenyataan yang ada. Kesalahan tidak berada pada aksi atau reaksi itu sendiri, tapi ada pada kenyataan yang menjadikan timbulnya reaksi tersebut. Setiap kejadian ada konteks dan latar belakangnya. Maka seharusnya rekasi-reaksi seperti ini juga dilihat pada konteks dan hal yang melatar belakanginya.

Jadi bukan karena radikalisme atau ekstrimisme sehingga terjadi resistensi dalam bentuk demonstrasi, melainkan karena adanya ketidak puasan terhadap berbagai kebijakan luar negeri Amerika yang bersentuhan langsung dengan perasaan umat. Sehingga untuk merespon terhadap fenomena tersebut diperlukan keinginan untuk merespon konteks dan latar belakangnya. Apalagi, reaksi semacam ini juga sering terjadi di berbagai negara Eropa dan bahkan di Amerika sendiri. Perbedaannya, belum kita dengar bahwa demonstrasi seperti ini di Eropa atau yang di Amerika adalah bentuk radikalisme dan ekstrimisme yang mengancam. Tiga minggu silam, tidak kurang dari 100.000 warga Amerika, Muslim dan non Muslim berkumpul di ibu kota Amerika, Washington DC, melakukan rally menentang kebijakan luar negeri Amerika yang sangat mendukung penjajahan Israel di Palestina. Tapi belum kita dengarkan bahwa rally tersebut adalah indikasi tingginya tingkat pertumbuhan radikalisme dan ekstrimisme di Amerika Serikat.

Untuk itu, ada baiknya barangkali, jika kita kembali merenungkan apa sesungguhnya di balik dari berbagai fenomena yang terjadi di Indonesia. Tuduhan radikalisme atau ekstrimisme terhadap kelompok-kelompok Islam di tanah air, apakah betul telah mengenai sasaran atau justeru tuduhan tersebut menyulut sesuatu yang tidak pernah ada. Selain itu, akankah lebih dihargai jika berbagai terminology yang dilemparkan dapat diperhatikan konsekwensi akhirnya. Jangan-jangan “islamisme” atau kesadaran suatu bangsa untuk kembali kepada kehidupan beragama justeru dituduh sebagai radikalisme atau ekstrimisme yang mengancam. Kalau ini terjadi, maka tuduhan tersebut dapat dicurigai sebagai upaya untuk mematikan peranan agama dalam kehidupan manusia. Dan ini berarti, tanpa disadari semangat atheism kembali dihidupkan justeru oleh mereka yang anti atheism.

Syamsi Ali

16 Mei 2002

Kenangan (1)

Maaf, Boleh Saya Membantu?

Kemarin malam saya bertemu dengan salah seorang staf Kedutaan Besar Republik Indonesia di Cairo. Beliau merupakan salah seorang yang terlibat dalam penanganan bantuan untuk korban tsunami. Selain sebagai senior mahasiswa di Mesir. Mantan aktivis dan sering menjadi rujukan serta gudang curhat para yunior, juga masyarakat Indonesia di Mesir.

Banyak hal yang kami bicarakan. Namun, ada satu hal yang membuat saya tercenung dan kemudian membuat saya termenung dalam perjalanan.

Beliau mengisahkan, beberapa hari yang lalu ada seorang laki-laki. Sebut saja, Fulan. Dia datang dari salah satu daerah di propinsi Giza. Jauh-jauh ia mendatangi KBRI. Ternyata ia bertujuan hendak membantu korban tsunami yang terjadi di Indonesia.

“Saya mendengar berita dari radio yang menceritakan kengerian tsunami itu. Saya belum pernah menyaksikannya. Tapi saya tahu itu bencana hebat” tuturnya, “Sejak saat itu saya berusaha mengumpulkan uang untuk membantu saudara saya yang tertimpa bencana tersebut.”

Dengan semangat lelaki itu menyampaikan hasratnya untuk membantu. Dan, oleh Kedutaan direspon cukup baik, sebagai penghargaan atas jerih payahnya.

Tahukah Anda berapa jumlah uang yang ia sumbangkan.

(Hanya) Lima Pound Mesir.

Ajaib, bukan? Bukan jumlah yang banyak. Bahkan bisa dikatakan sedikit. Untuk sampai nilai tukar US$ 1 saja masih harus ditambah sekitar 80-an piaster. Artinya, uang tersebut belum cukup untuk membeli US$ 1 (satu dollar Amerika Serikat)

Mengapa kemudian ada keharuan menyeruak dalam rongga-rongga nafas saya. Ya, saya terharu. Karena, saya merasa belum banyak berbuat. Sedangkan (mungkin) kemampuan saya lebih baik dari lelaki tersebut.

Masih menurut penuturan staf KBRI yang saya temui, “Dari penampilannya, mungkin ia seorang tukang sapu. Atau setidaknya mata pencahariannya tidak jauh berbeda dengan pemasukan seorang tukang sapu. Tapi yang kita hargai bukan nominalnya. Namun, semangat dan jiwa solidaritasnya. Ia pun menanyakan. Apakah ini sudah isa membantu mereka. Saya ingin membantu mereka. Ungkapnya bersemangat.”

Bahkan Anda kemudian bisa saja berimajinasi atau bertanya-tanya. Perjalanannya dari Giza? Apakah ia naik mobil pribadi? Tentu Anda akan sepakat dengan saya; tidak mungkin. Paling banter dia akan naik bus merah putih punya pemerintah, hai’atunnaql al-‘am bil qahirah (Dinas Transportasi Umum Cairo) yang tiketnya sebesar 50 piaster atau bernilai sekitar 750 rupiah.

Sekedar tahu saja. Bahwa sejak mendengar bencana tsunami yang terjadi di negeri Serambi Mekah, para dermawan Mesir terketuk hatinya untuk mengulurkan bantuan. Baik secara kelembagaan maupun secara individu. Saya kembali teringat awal-awal krisis tahun 1998 dulu, sampai-sampai takmir masjid menyediakan kotak amal untuk membantu mahasiswa Indonesia. Dan himbauannya disampaikan melalui koran-koran serta khutbah jum’at. Gerakan sosial mereka luar bisa. Meskipun mungkin respon pemerintah sini ke Indonesia bisa dibilang agak terlambat, bahkan dokter utusan mereka pun (agak) mengecewakan. Kalau tidak diperbaiki citranya oleh utusan parlemen dan delegasi dokter dari Persatuan Dokter Mesir (niqabah al-athibba’) yang datang berikutnya.

Dengan berbondong-bondong para dermawan itu mengunjungi Wisma Nusantara, tempat mangkalnya PPMI (Persatuan Pelajar dan Mahasiswa Indonesia) Mesir, juga posko-posko lainnya. Bahkan ada yang ke Kedutaan. Umumnya para dermawan itu mau menyalurkan bantuannya langsung kepada para korban. Dalam hal ini para mahasiwa/i di sini yang kehilangan familinya. “Saya mau mengkafil 10 orang”. Yang lain juga mengatakan yang serupa.

Sebagian ingin mengetahui langsung bahwa bantuan mereka sampai kepada yang berhak. Untuk mengelola ini tidaklah mudah. Imej kepercayaan publik kepada pemerintah yang mulai runtuh, menuntut kita bijak menyikapi tuntutan para dermawan tadi. Para dermawan tersebut “menteror” terus dengan pertanyaan yang sama, “Uang saya sudah dibagikan kepada mereka? Sudah apa belum?”

Ah… rasanya saya akan banyak bercerita tentang kepedihan ini. Tentang betapa proses perbaikan ini perlu kesabaran dan kejujuran serta usaha keras dan sangat panjang waktunya. Jangan sampai kepedihan ini melahirkan kesedihan dan luka di atas duka yang menghilangkan cinta.

Saya hanya ingin menyampaikan apa yang saya rasakan. Saya benar-benar terharu ketika ada seorang lelaki yang lemah mengatakan, “Maaf, Boleh Saya Membantu?”

Bisa saja kemudian orang mencibirnya. Karena uang 5 poundnya belum bisa menyelesaikan masalah. Tapi ia tak pernah pesimis untuk ikut membantu. Bahkan ia sangat percaya bahwa usahanya takkan pernah sia-sia. Berbeda pada umumnya orang ketika dengan segala keterbatasannya ia akan berapologi dengan mengatakan sebaliknya, “Maaf, saya belum bisa membantu!”

Ah… betapa saya ingin meniru perkataan lelaki tua itu, “Maaf, boleh saya membantu?”

dedicated to

seorang lelaki tua yang mengajari arti cinta pada saya.

Cairo, 23 Februari 2005

Saiful Bahri

SAAT BERTEMU DIA

 

Jam di tanganku menunjukkan pukul empat sore. Aku berdiri gelisah di halte Nasr, Rab’ah. Sudah 10 menit aku menunggu, bus atau mikro bus jurusan Hay ‘Asyir tak datang juga. Maklum, mencari kendaraan umum di Cairo pada sore hari bulan Ramadhan sangatlah sulit. Semua mengejar buka puasa.

 

Alhamdulillah

, bus hijau model baru bernomor 178 segera tiba. Aku bermaksud ke rumah temanku. Selain sudah lama tak bertemu, aku ada sedikit keperluan dengan teman serumahnya. Alhamdulillah, hari ini aku sudah bersilaturrahmi dan akan kugenapi minimal ke rumah salah satu teman dekatku. Aku berharap ia baik-baik saja. Ah, ternyata dengan alasan kesibukan, cukup lama tak kudengar kabarnya. Bahkan sekedar telpon dan sms pun tak sempat.

 

 

Aku turun di depan Masjid as-Salam. Salah satu masjid besar yang ramai dipadati jamaah tarawih yang menyimak khusyuk bacaan Syeikh Yasir Salamah. Tak ada yang aneh dengan masjid besar di awal distrik Hay ‘Asyir ini. Namun, yang menarik perhatianku adalah seorang perempuan. Ya, seorang perempuan berkacamata dan berjilbab coklat susu. Menurutku ia berusia di atas 50 tahun. Entah mengapa, kemudian aku memutar memoriku tentangnya. Sepertinya aku mengenalnya sudah cukup lama.

Kurang pasti kapan pertama kali aku mengenalnya. Yang jelas sudah cukup lama. Saat itu aku hanya tahu ia berdiri mematung dan sesekali duduk di pintu keluar masjid. Ia menunggu uluran tangan para dermawan yang peduli terhadapnya. Entah 25 piester atau 50 piester atau mungkin lebih dari itu, ia terima dengan lapang dada. Wajahnya juga terlihat biasa. Tidak diset terlalu berlebihan atau tampang belas kasihan. Biasa.

Mungkin hal itu biasa-biasa saja. Tapi bagi yang sering memperhatikannya, ada yang unik. Karena beberapa saat berikutnya perempuan itu muncul dengan penampilan lain. Dia menjual beberapa bungkus tisyu yang ditawarkan pada setiap orang saat keluar masjid.

Aku bersyukur. Ibu itu ada peningkatan. Meski hanya beberapa bungkus tisyu, tapi ia sudah berusaha. Usaha yang sangat perlu untuk di dukung.

Beberapa saat kemudian perempuan itu sudah punya sebuah tempat kecil berisikan tisyu dan minyak wangi. Tak banyak memang. Namun, dengan setia dan sabar ia menunggui dagangannya dari tengah hari hingga tutupnya masjid setelah selesai jamaah shalat ‘Isya.

Kini entah mengapa aku pun ingin mengenalnya lebih dekat setelah cukup lama aku tak mengetahui perkembangan perempuan itu. Sesudah menyelesaikan keperluanku aku segera mengejar waktu berbuka. Hari pertama Ramadhan ini aku berbuka tidak dirumah. Ah, tak mengapa. Toh aku masih bisa berbuka. Allah menyediakannya untuk para hamba-Nya yang berpuasa. Bahkan rizki-Nya selalu terbuka untuk siapa saja. Untuk semua makhluk-Nya.

Aku berniat pulang setelah tarawih di as-Salam. Aku ingin ikut menyimak bacaan Syeikh Yasir Salamah. Sekaligus ingin melihat lagi sang ibu yang sabar itu. Aku sungguh ingin bertemu dengannya.

Perempuan itu kini banyak perkembangan. Ia tak hanya menjual tisyu dan minyak wangi. Namun, ada juga gunting kuku, mushaf kecil, sisir dan beberapa benda lain. Meski masih sederhana tapi telah banyak perkembangan dari sebelumnya. Meski sekarang ia tak sendiri. Ada bebepapa pedagang kaki lima menemaninya. Ada yang menjual kaos kaki untuk persiapan musim dingin. Ada yang menawarkan peci dan tutup kepala dan sebagainya.

Sebelum datang Ramadhan ia seorang diri. Kini ia banyak teman. Dan ia tak pernah menganggap mereka sebagai saingan. Mereka semua senasib dengannya. Ah, mengapa tiba-tiba ada sesuatu menyeruak, menyusup dalam hatiku. Ada kuncup-kuncup keharuan menyedak. Apalagi Imam Masjid as-Salam mengakhiri tarawih hari ini dengan ayat-ayat sadaqah (akhir Surat Baqarah). Rasanya aku belum berbuat banyak. Kalau pun sudah, aku merasa ada saja keikhlasan yang terganggu.

Aku bahkan malu. Aku yang tergolong masih muda ternyata mudah menyerah dan menjadi apatis menghadapi problematika hidup yang berganti-ganti atau kesibukan yang tak kunjung reda. Aku tak sekokoh perempuan itu.

Sebelum menaiki bus yang membawaku pulang, aku masih sempat melihatnya sibuk melayani beberapa orang yang mampir di depan dagangannya. Mataku masih terus menerawang.

Satu yang kuingat, ternyata sang ibu bukanlah penduduk Hay ‘Asyir. Temanku pernah melihatnya menaiki bus setelah selesai menutup dagangannya. Entah di mana ia tinggal, aku tak tahu.

Betapa gigihnya ia berjuang mencari nafkah. Semoga Allah memberkahi rizkinya. Semoga Allah melindunginya. Selalu.

Tiba-tiba saja aku teringat ibuku. Perempuan yang kuhormati dan kusayangi itu kutinggal merantau sejak 12 tahun yang lalu, setelah aku menamatkan pendidikan menengah pertamaku di kota kelahiranku. Semoga aku tak kehilangan kesempatan untuk berbakti pada orang tuaku. Semoga.

 

 

 

 Saiful Bahri

Cairo, 1 Ramadhan 1425

Maaf, Boleh Saya Membantu?

Maaf, Boleh Saya Membantu?

 

 

Kemarin malam saya bertemu dengan salah seorang staf Kedutaan Besar Republik Indonesia di Cairo. Beliau merupakan salah seorang yang terlibat dalam penanganan bantuan untuk korban tsunami. Selain sebagai senior mahasiswa di Mesir. Mantan aktivis dan sering menjadi rujukan serta gudang curhat para yunior, juga masyarakat Indonesia di Mesir.

Banyak hal yang kami bicarakan. Namun, ada satu hal yang membuat saya tercenung dan kemudian membuat saya termenung dalam perjalanan.

Beliau mengisahkan, beberapa hari yang lalu ada seorang laki-laki. Sebut saja, Fulan. Dia datang dari salah satu daerah di propinsi Giza. Jauh-jauh ia mendatangi KBRI. Ternyata ia bertujuan hendak membantu korban tsunami yang terjadi di Indonesia.

“Saya mendengar berita dari radio yang menceritakan kengerian tsunami itu. Saya belum pernah menyaksikannya. Tapi saya tahu itu bencana hebat” tuturnya, “Sejak saat itu saya berusaha mengumpulkan uang untuk membantu saudara saya yang tertimpa bencana tersebut.”

Dengan semangat lelaki itu menyampaikan hasratnya untuk membantu. Dan, oleh Kedutaan direspon cukup baik, sebagai penghargaan atas jerih payahnya.

Tahukah Anda berapa jumlah uang yang ia sumbangkan.

(Hanya) Lima Pound Mesir.

 

Ajaib, bukan? Bukan jumlah yang banyak. Bahkan bisa dikatakan sedikit. Untuk sampai nilai tukar US$ 1 saja masih harus ditambah sekitar 80-an piaster. Artinya, uang tersebut belum cukup untuk membeli US$ 1 (satu dollar Amerika Serikat)

Mengapa kemudian ada keharuan menyeruak dalam rongga-rongga nafas saya. Ya, saya terharu. Karena, saya merasa belum banyak berbuat. Sedangkan (mungkin) kemampuan saya lebih baik dari lelaki tersebut.

Masih menurut penuturan staf KBRI yang saya temui, “Dari penampilannya, mungkin ia seorang tukang sapu. Atau setidaknya mata pencahariannya tidak jauh berbeda dengan pemasukan seorang tukang sapu. Tapi yang kita hargai bukan nominalnya. Namun, semangat dan jiwa solidaritasnya. Ia pun menanyakan. Apakah ini sudah isa membantu mereka. Saya ingin membantu mereka. Ungkapnya bersemangat.”

Bahkan Anda kemudian bisa saja berimajinasi atau bertanya-tanya. Perjalanannya dari Giza? Apakah ia naik mobil pribadi? Tentu Anda akan sepakat dengan saya; tidak mungkin. Paling banter dia akan naik bus merah putih punya pemerintah, hai’atunnaql al-‘am bil qahirah (Dinas Transportasi Umum Cairo) yang tiketnya sebesar 50 piaster atau bernilai sekitar 750 rupiah.

Sekedar tahu saja. Bahwa sejak mendengar bencana tsunami yang terjadi di negeri Serambi Mekah, para dermawan Mesir terketuk hatinya untuk mengulurkan bantuan. Baik secara kelembagaan maupun secara individu. Saya kembali teringat awal-awal krisis tahun 1998 dulu, sampai-sampai takmir masjid menyediakan kotak amal untuk membantu mahasiswa Indonesia. Dan himbauannya disampaikan melalui koran-koran serta khutbah jum’at. Gerakan sosial mereka luar bisa. Meskipun mungkin respon pemerintah sini ke Indonesia bisa dibilang agak terlambat, bahkan dokter utusan mereka pun (agak) mengecewakan. Kalau tidak diperbaiki citranya oleh utusan parlemen dan delegasi dokter dari Persatuan Dokter Mesir (niqabah al-athibba’) yang datang berikutnya.

Dengan berbondong-bondong para dermawan itu mengunjungi Wisma Nusantara, tempat mangkalnya PPMI (Persatuan Pelajar dan Mahasiswa Indonesia) Mesir, juga posko-posko lainnya. Bahkan ada yang ke Kedutaan. Umumnya para dermawan itu mau menyalurkan bantuannya langsung kepada para korban. Dalam hal ini para mahasiwa/i di sini yang kehilangan familinya. “Saya mau mengkafil 10 orang”. Yang lain juga mengatakan yang serupa.

Sebagian ingin mengetahui langsung bahwa bantuan mereka sampai kepada yang berhak. Untuk mengelola ini tidaklah mudah. Imej kepercayaan publik kepada pemerintah yang mulai runtuh, menuntut kita bijak menyikapi tuntutan para dermawan tadi. Para dermawan tersebut “menteror” terus dengan pertanyaan yang sama, “Uang saya sudah dibagikan kepada mereka? Sudah apa belum?”

Ah… rasanya saya akan banyak bercerita tentang kepedihan ini. Tentang betapa proses perbaikan ini perlu kesabaran dan kejujuran serta usaha keras dan sangat panjang waktunya. Jangan sampai kepedihan ini melahirkan kesedihan dan luka di atas duka yang menghilangkan cinta.

Saya hanya ingin menyampaikan apa yang saya rasakan. Saya benar-benar terharu ketika ada seorang lelaki yang lemah mengatakan, “Maaf, Boleh Saya Membantu?”

Bisa saja kemudian orang mencibirnya. Karena uang 5 poundnya belum bisa menyelesaikan masalah. Tapi ia tak pernah pesimis untuk ikut membantu. Bahkan ia sangat percaya bahwa usahanya takkan pernah sia-sia. Berbeda pada umumnya orang ketika dengan segala keterbatasannya ia akan berapologi dengan mengatakan sebaliknya, “Maaf, saya belum bisa membantu!”

Ah… betapa saya ingin meniru perkataan lelaki tua itu, “Maaf, boleh saya membantu?”

dedicated to

seorang lelaki tua yang mengajari arti cinta pada saya.

Cairo, 23 Februari 2005

Saiful Bahri