LONDON TO MANCHESTER: Inspirasi al-Quran dan Rekayasa Kebaikan Sosial

Ini adalah kedatangan saya kali pertama di United Kingdom. Adalah Keluarga Islam Indonesia di Britania Raya (KIBAR) yang mengundang saya sebagai narasumber dalam KIBAR Autumn Ghathering 2017 di kota Sheffield. Datang di Heathrow Airport yang dikenal sebagai salah satu bandara tersibuk di dunia tak membuat saya merasa asing, karena perlakuan friendly petugas imigrasi dan seorang police officer yang sebenarnya juga menginterogasi saya, tapi dengan cara yang sangat elegan. Berbincang bagaikan seorang sahabat dekat menanyakan background studi saya, beberapa acara saya di beberapa negara yang tercantum di dalam lembaran paspor, serta tentunya rangkaian acara saya selama di UK.

Pak Eko, salah seorang profesional Indonesia yang bekerja di salah satu provider telekomunikasi di Inggris, menjemput saya dan kemudian mengantarkan ke Wisma Merdeka. Mas Ceri sekeluarga sudah menunggu di sana. Sangat homing rasanya, berasa di rumah sendiri karena sambutan yang hangat di Wisma. Kebetulan juga ada beberapa orang yang sedang menginap di Wisma, Mas Bayu dan Mbak Hasnul yang ternyata adalah istri dari senior saya di Universitas al-Azhar di Cairo, Mas Willy.

Setelah Shalat Jumat, saya benar-benar merasakan jetlag berat. Alhamdulillah setelah badan segar, Pak Eko kembali menjemput saya untuk berangkat ke KBRI. Kembali bereuni dengan Pak Thomas dan Bu Leni serta bisa bersilaturahim dengan sebagian warga Indonesia di London. Kajian keislaman yang dipandu oleh Mas Maulana dimulai setelah shalat Isya bersama dan dinner. Usai pengajian di KBRI, ditemani Pak Eko, Mas Bayu dan Mbak Hasnul kami sempat mengabadikan gambar di Tower Bridge dan Istana Buckingham, juga menyusuri Sungai Thames dengan view indah London Eye yang memantulkan warna-warni cahayanya. Gedung Parlemen dan Big Ben yang terkenal itu juga alhamdulillah sempat terabadikan dalam gambar. Sebuah kunjungan singkat di London yang penuh suasana keakraban.

Sabtu pagi, saya meneruskan perjalanan ke kota Birmingham. Merupakan kehormatan bagi saya diantar ke stasion untuk melanjutkan perjalanan, oleh seorang seperti Mas Ahmad Ataka  yang low profile, beliau adalah Ketua PCI NU di UK.

Di Birmingham, Mas Abdurrauf dan Mas Erdu menyambut dengan penuh kehangatan. Suasana hujan berlanjut tidak menyurutkan para mahasiswa dan warga Indonesia untuk berdiskusi dan melaksanakan kajian bulanan di University of Birmingham. Dari Birmingham saya melanjutkan perjalanan ke Newcastle. Pak Saiful dan Pak Abram sudah menunggu di stasion sebelum kedatangan saya. Sebagaimana di tempat sebelumnya, di kota ini saya juga menyempatkan diri merekam sebuah tausiyah video pendek bertajuk Puzzle Kesalihan. Pak Indra merekamnya secara profesional dan bak sutradara sebuah film pendek.

Cuaca cukup drop hingga mencapai minus satu. Saat kami keluar ke masjid untuk melaksanakan shalat shubuh, terlihat mobil-mobil diselimuti es. Bagaikan berada di dalam freezer kulkas. Judulnya autumn, namun suasananya sudah sangat layak untuk disebut winter, musim dingin.

Usai Newcastle, perjalanan saya berlanjut ke Scotland, tepatnya di kota Edinburgh. Kota yang sangat eksotik dengan banyak pilihan view untuk diabadikan di dalam gambar. Begitu keluar dari Waverley Station, kecantikan alam terpampang sepanjang mata memandang. Sangat wajar jika sahabat saya, Kang Abik sangat terinspirasi “menjerumuskan” tokohnya Fakhri dalam Ayat-Ayat Cinta 2 untuk mengajar di kampus tua University of Edinburgh. Alhamdulillah, meski sudah lewat castingnya, saya pun merasakan “pura-pura” mengajar di salah satu ruang perkuliahan Departemen Biologi di kampus University of Edinburgh. Sebenarnya jika dihitung jarak, sudah sangat jauh berjalan kaki sejak kedatangan di pertengahan hari dari Newcastle. Pemandangan yang indah dan diguide oleh Mas Relly yang sangat detil menjelaskan, menjadikan suasana sangat menyenangkan.

Dari Edinburgh, saya menuju ke Nottingham. Di sebuah stasiun kecil, Beeston Mas Fauzi sudah menunggu. Saya langsung di bawa ke kampus utama University of Nottingham. Mas Taufik menyambut dengan penuh keramahan setelah shalat Zhuhur, kami mencicipi makanan khas Pakistan di salah satu kantin kampus yang menyediakan makanan halal. Usai makan, kami bergerak ke Wollaton Park. Di sana terdapat rumah tua yang tampak kokoh namun tak lagi berpenghuni seperti istana yang sangat eksotik, terlebih dengan pencahayaan petang dan suasana temaram senja. Terdapat museum di sekitar rumah dan taman tersebut, sayangnya waktu sudah terlalu petang, hingga kami belum sempat memasuki museum tersebut. Sedikit berhujan-hujan, kami bertiga juga menyempatkan merekam sebuah video pendek serial Rekayasa Kebaikan Sosial. Kali ini tema yang diangkat adalah tentang Perusak-Perusak Ukhuwah dan Cinta.

Kami bertiga kembali ke kampus, menuju Fakultas Hukum dan Ilmu Politik. Rasanya pemilihan tempat yang cocok, karena diskusi yang diangkat cukup berat dan menarik antusiasme para mahasiswa yang kebanyakan sedang menempuh program S3. Kajian tematik ayat-ayat jihad di dalam al-Quran, itulah tema diskusi kajiannya. Tema yang berat, namun suasana kekeluargaan dan dialogis menjadikan tema tersebut mengalir didiskusikan dengan banyak perspektif.

Dari Nottingham, saya melanjutkan perjalanan safari dakwah ke Durham. Sebuah kota kecil yang separuh lebih penghuninya adalah para mahasiswa dan akademisi. Mas Momo dan Pak Hassan Alatas serta Irfan menyambut saya seolah seperti saudara. Ditemani dengan suguhan cappucino hangat kami bertukar wawasan dan berkenalan lebih detil. Pak Hassan dan Mas Irfan memisahkan diri sambil membawakan koper saya. Mas Momo dan saya menyusuri River Wear dan jalanan-jalanan sepanjang kampus Durham University. Di dekat sebuah katedral tua, kami mengabadian sebuah tausiyah pendek bertajuk Peradaban Ilmu. Hampir semua mahasiswa Indonesia di Durham belajar Islamic Finance. Durham University menjadi referensi dan rujukan internasional di bidang Ilmu Ekonomi Syariah? Itulah sisi lain yang sangat menarik di kota ini.

Dari Durham saya menuju Leeds. Pak Agung dan Pak Farid menyambut saya di stasiun Leeds. Kami melaksanakan shalat zhuhur di sebuah mushola yang terletak di salah satu shopping and leisure centre, Trinity yang dibuka di akhir Maret 2013.

Paduan layout bangunan tua dan modern kampus University of Leeds membuat saya terkagum-kagum. Di kampus yang sudah ada sejak 1831 ini, dengan dipandu Mas Bekti, kami mendiskusikan tentang alam dan manusia yang sama-sama serba berpasangan. Allah menjadikan manusia sebagai imam bagi alam untuk bertasbih kepada-Nya. Alam belajar dari kehidupan berpasangan manusia . Maka malaikat dan jin diperintahkan Allah bersujud pada Adam, serta gunung dan burung-burung serta alam diminta Allah untuk bertasbih mengikuti Dawud as. Beristirahat di Leeds, saya menginap di rumah Mas Zain Maulana, Ketua PCI Muhammadiyah UK.

Seperti biasanya, pagi hari saya segera bergerak untuk berpindah kota. Saya meneruskan perjalanan ke York. Salah satu kota tua di Inggris, sangat wajar bila kemudian saya bertanya-tanya tentang hubungan kota York dengan kota New York di Amerika Serikat. Ternyata sangat berhubungan dan memiliki inspirasi terbangunnya sebuah kota York yang baru di sana. Ketua KIBAR, Mas Dick Maryopi menyambut saya di stasiun York.

Setelah itu bersama Mas Ismu, dan putranya Adam kami menuju University of York untuk mengikuti pelaksanaan shalat Jumat. Khatib Jumat menjelaskan urgensi belajar Bahasa Arab. Uraian detilnya mengenai berbagai vocabulary dan struktur bahasa, bisa jadi menyulitkan sebagian orang yang mendengarkan khutbahnya. Namun, cara memotivasi jamaah untuk belajar Bahasa Arab sangat luar biasa.

Suasana kajian keislaman di kota York sangat kekeluargaan. Dilaksanakan langsung di kediaman Ketua KIBAR, Mas Yopi kami membahas tentang Rumah Laba-Laba, Rumah Tanpa Cinta.

Setelah beristirahat cukup, Sabtu pagi bersama keluarga Mas Ismu saya menaiki kereta menuju Sheffield untuk menghadiri acara utama KIBAR Autumn Gathering 2017. Sebuah acara yang dijadikan momen untuk berkumpul oleh mahasiswa dan warga Indonesia muslim khususnya yang ada Inggris. Acara yang berada di Madina Mosque ini dimulai dengan bacaan al-Quran Mas Ataka yang diteruskan Sambutan Ketua KIBAR, Mas Yopi. Bapak Dubes RI untuk Kerajaan Inggris Raya dan Irlandia, Dr. Rizal Sukma juga berkesempatan memberikan sambutan sekaligus membuka acara KIBAR Autumn Gathering 2017.

Acara ini dibagi menjadi tiga sesi. Sesi pertama yang bertemakan Memahami dan Menadabburi al-Quran, saya di damping oleh Pak Bernardi, akademisi dan dosen di salah satu universitas ternama di kota Sheffield.

Sesi kedua yang dimoderatori Pak Daru salah seorang sesepuh warga Indonesia di Leeds, membahas tema tentang berbagai dimensi kemukjizatan Al-Quran dan pada sesi ketiga tema tentang Motivasi al-Quran saya sampaikan dengan didampingi Bapak Muhammat Tafsir, salah seorang Profesional yang bekerja di Airbus, Bristol.

Di sela-sela acara ini juga diselingi presentasi dari Indonesian Islamic Centre di London, dan sponsor acara Lembaga Kemanusiaan PKPU dan Human Aid Initiative.

Acara-acara seperti ini menjadi sangat spesial, karena mempertemukan banyak orang di dalamnya. Anak-anak pun bahkan ada yang menunggu-nunggu momen bertemu temannya yang hanya terjadi selama dua kali dalam setahun. Demikian pula seperti Pak Junaedi dari Bristol, salah seorang alumni IPTN yang sekarang bekerja di Airbus, menjadikan momen ini untuk mengumpulkan anak-anaknya yang tersebar di berbagai tempat di Inggris. Beliau menyewa tempat untuk bereuni dengan semua anggota keluarganya selama dua hari weekend kali ini. Subhânallâh.

Usai acara kami bergerak menuju kota Manchester. Dengan menaiki kendaraan mobil, salah seorang senior warga Indonesia Pak Iwan langsung yang membawanya. Mengantarkan kami melewati bukit-bukit. Karena memang kota Sheffield dikelilingi tujuh perbukitan dengan pemandangan yang indah. Tepat jam 00.20 kami tiba di kediaman Pak Iwan di Manchester.

Satu hal yang menarik bahwa penyebaran Islam di UK ini cukup merata di banyak kota, demikian halnya pelajar dan mahasiswa Indonesia yang mungkin jumlahnya bisa jadi lebih sedikit dari yang berada di Mesir atau Australia, tapi mereka menyebar ke pelosok-pelosok Negeri Inggris di wilayah selatan hingga ke Skotlandia, terutama para mahasiswa yang muslim mereka masih mempertahankan identitas dan ukhuwahnya dengan baik di tengah suasana heterogen yang penuh nuansa toleran dan cenderung akomodatif terhadap umat Islam dan berbagai aktivitasnya. Kasus-kasus teror di London dan Manchester misalnya, hanyak menjadi bagian riak-riak kecil dalam dinamika kehidupan sosial. Terkadang, media memiliki peran dalam menghadirkan ketakutan, atau menumbuhkan optimisme dalam melawan teror dan menyampaikan fakta secara proporsional. Islam agama yang ramah, baik di saat menjadi kuantitas minoritas ataupun ketika mereka menjadi mayoritas. Alhamdulillah, keluarga muslim Indonesia di UK yang tergabung di KIBAR bisa membuktikannya. Para mahasiswanya berprestasi dan memiliki survivalitas serta produktivitas karya, para profesionalnya juga memberi bukti kemanfaatan meski bukan sebagai warga negara Inggris. Cerita sulitnya mencari makanan halal, sepertinya tak lagi pernah menjadi tema perbincangan. Masjid dan pusat-pusat kajian keislaman, sangat mudah dijumpai di mana-mana. Bahkan, perkuliahan internasional tentang Islamic Finance berada di negeri ini. Rasanya, tak berlebihan berharap dan berdoa bahwa Islam akan terintegrasi dengan sendirinya di Inggris dan dataran Benua Eropa. Suka atau tidak, penyebaran Islam akan semakin merata dan bertambah populasinya. Tinggal mengemasnya dengan kemanfaatan yang lebih besar bagi masyarakat, saatnya membangun kepemimpinan dengan peradaban ilmu, akhlak dan kehidmah kemanusiaan.

Satu hal menarik yang saya belajar dari Inggris adalah caramenyajikan (packaging). Pendidikan yang dikemas sangat baik menjadi sebuah industri yang mahal. Namun, meskipun mahal hal tersebut justru menjadi daya tarik yang menyedot ribuan mahasiswa untuk dimanjakan di kampus dengan berbagai fasilitas, baik sarana fisik, administrasi, kesitimewaan hingga SDM dosen dan pengajar yang kapabel di bidangnya. Tak kalah menariknya adalah ketersediaan prayer room khusus untuk muslim student yang tersedia dengan baik di berbagai kampus di Inggris. Mereka tahu bahwa umat Islam juga pasar, terutama orang-orang Arab dari teluk yang kaya raya. Selain, memang karena banyaknya umat Islam dari Pakistan dan Bangladesh atau India. Maka, secara umum fasilitas keislaman sangat mapan dan baik di negeri ini. Jurusan-jurusan keislaman bukannya tidak ada yang baik di negeri-negeri Arab, tapi Inggris mencoba bersaing di kelasnya. Sebut saja, Durham yang tergolong baru, menjadi salah satu kota tujuan para pengkaji dan student yang menekuni Islamic finance.

Demikian halnya sebuah permainan sepak bola yang sekilas hanya mainan, disulap menjadi sebuah industri raksasa yang menyedot peminat sepakbola, dari sejak investor, para pemain hingga media dan berbagai hal yang terkait dengan sepak bola.

 

Saatnya saya harus kembali ke tanah air, untuk melanjutkan aktivitas. Meneruskan semangat dan inspirasi al-Quran agar tetap selalu hidup di tengah keluarga dan kemudian sebanyak mungkin masyarakat yang ada.

Secara khusus saya ucapkan terima kasih kepada KIBAR, terutama ketua dan pengurusnya juga para sesepuhnya yang memberikan kesempatan saya untuk bersilaturahim di Britania Raya, meski belum sempat berkunjung ke beberapa wilayah karena keterbatasan waktu. Demikian juga kepada PKPU dan Human Aid Initiative serta KBRI. Tak lupa kepada lokaliti-lokaliti, majelis pengajian di London, Brimingham, Newcastle, Edinburgh, Nottingham, Durham, Leeds, York, Sheffield dan Manchester. Juga keluarga muslim di Bristol, mohon maaf belum bisa berkunjung ke sana. Juga beberapa lokaliti lainnya yang belum berkesempatan berjumpa. Bahagia rasanya bisa berbagi sedikit ilmu yang Allah berikan, ditukar dengan hangatnya ukhuwah dan cinta serta pengalaman yang sangat dahsyat para mahasiswa dan warga Indonesia di Inggris.

 

Jelang Take Off, Manchester International Airport

Manchester, 12.11.2017

Saiful Bahri

Iklan

SPIRIT HIJRAH DI SYDNEY


Ini adalah Ramadan pertama saya ke di Australia. Juga mengulangi menjalani bulan Ramadan di saat musim dingin seperti ketika pertama kali saya belajar di Mesir, di negeri Musa dan para nabi ‘alaihimussalâm.

Adalah CIDE (Centre for Islamic Dakwah and Education) yang bermarkaz di Sydney yang mengundang saya untuk menjalani rangkaian kegiatan ibadah selama bulan Ramadan di Australia, dengan base camp Masjid al-Hijrah yang terletak di Tempe, Sydney, New South Wales, Australia. Masjid al-Hijrah didirikan sebagai sarana silaturahim dan tempat aktivitas komunitas umat Islam Indonesia di Sydney khususnya.

Menilik sejarah, pada tahun 1974, komunitas Muslim Indonesia di Sydney membentuk sebuah organisasi dakwah yang diberi nama LDPAI (Lembaga Dakwah Pendidikan Agama Indonesia), organisasi ini diprakarsai oleh KJRI (Konsulat Jenderal Republik Indonesia) Sydney. Kemudian pada tahun 1985/1986 organisasi ini berganti nama menjadi Central Islamic Dakwah and Education (CIDE). Secara organisatoris lembaga ini tak lagi memiliki hubungan secara langsung dengan KJRI. Pada saat itu organisasi ini belum mempunyai tempat kegiatan sendiri, karena itulah masih menumpang di masjid milik komunitas Malaysia (Masjid Zetland).

Pada tahun 1991 pengurus CIDE mempunyai inisiatif untuk membeli sebuah bangunan untuk dijadikan sebuah masjid sebagai pusat ibadah dan pusat kegiatan, maka pada tahun tersebut dibeli sebuah bangunan bekas sebuah Gereja bernama Jehovah Witness Church yang dijual karena sudah tidak dipergunakan lagi. Bangunan bekas gereja tersebut diubah fungsinya menjadi sebuah masjid, dengan mengubah beberapa bagian dalamnya. Bagian mimbar untuk khotbah Gereja dijadikan kantor (sekretariat), sedangkan mimbar dan tempat shalat Imam dipindah di bagian tengah sebelah barat menghadap arah kiblat shalat. Bangunan masjid ini kemudian diberi nama Masjid al-Hijrah. (https://www.cide.org.au/web2/who-we-are/)

Bertemu dengan para orang tua dan mendengar liku-liku mereka saat datang pertama kali ke Australia, rasanya penamaan masjid ini sangat tepat. Para sesepuh seperti Buya Rizal, Pak Lui Irfandi, Pak Muslimin, Pak Syawal, Pak Aan, juga Pak Lutfi Sungkar dan banyak nama yang tak bisa saya sebut kansatu persatu. Anak-anak muda sudah seharusnya belajar dari kegigihan mereka. Bukan hanya kegigihan survivalitas mereka, tetapi keteguhan dalam memegang prinsip beragama. Sehingga bisa mengubah keadaan dan mempertahankan prinsip akidah yang benar. Secara usia barangkali saat ini yang aktif di masjid adalah generasi kedua yang sebagian besarnya sudah jauh lebih mapan dan lebih baik survivalitasnya jika dibanding para pendahulu. Meskipun demikian, tantangan zaman tetaplah sesuai waktunya. Generasi muda sekarang memiliki tantangan yang tak ringan mempertahankan idealisme dalam beragama dan menjalankan perintah Allah.

Karena itulah mendekatkan diri dan keluarga ke masjid adalah sebuah keniscayaan yang perlu dilakukan secara masif dan bersama-sama. Untuk itulah Masjid al-Hijrah menjadi pertemuan semua keinginan mempertahankan diri, identitas akidah dan berbagai tradisi baik. Perbedaan sebagian kultur yang bertentangan dengan agama perlu wadah untuk menyikapinya. Masjidlah tempat terbaik untuk itu.

Menariknya, ada fenomena menarik sekaligus menggembirakan dengan lahirnya generasi ketiga. Satu sisi sebagian mereka kesulitan untuk berkomunikasi dengan bahasa Indonesia yang lancar dan baik. Namun, sisi baiknya adalah tak sedikit sudah mulai banyak yang menghafal al-Quran dengan variasi. Ada yang sudah hafal satu atau dua juz al-Quran. Ada yang hafal 5 juz, ada pula yang sudah 10 juz, bahkan di antara mereka ada yang sudah menyelesaikan hafalan al-Qurannya secara sempurna yaitu 30 juz.


Secara pribadi saya sangat bahagia bisa kembali ke Sydney untuk kedua kalinya setelah musim spring lalu CIDE melalui Pak Ichsan, presiden CIDE mengundang saya untuk berkunjung dan berbagi ilmu yang diberikan Allah di Masjid al-Hijrah ini.

Ramadan kali ini menjadi semakin special, karena saya juga memiliki tandem dakwah yang luar biasa. Teman sekaligus guru saya, Ust. Dr. H. Agus Setiawan, Lc, M.A.

Itulah nikmat Allah. Meskipun sama-sama tinggal di Jakarta, ternyata untuk bertemu atau mengadakan pertemuan, kami berdua selalu terkendala waktu dan jarak tempuh serta kesibukan yang memiliki perbedaan aktivitas.

Kami berdua diamanahi CIDE untuk memberikan ceramah selama bulan Ramadan 1438 H dengan tema sentral Kemukjizatan al-Quran. Spiritnya adalah agar semua kita tersadarkan akan dahsyatnya kemukjizatan al-Quran dan kemudian mau membaca dan mempelajarinya serta kemudian mengajarkan dan mengamalkannya. Kebaikan lailatul qadar adalah kebaikan yang menginspirasi tumbuhnya kebaikan lainnya. Kebaikan yang sanggup menggerakkan seribu komunitas lainnya.


Dan karena rumah yang di dalamnya tak pernah dibacakan al-Quran maka bagaikan kuburan bagi orang yang menempatinya. Agar umat ini bangkit dan tidak memulai kegiatan dari dalam kuburan, maka diharapkan dengan kajian-kajian ini rumah-rumah kaum muslimin menjadi bercahaya dan menginspirasi untuk bangkit kembali bersama al-Quran.

Secara bergantian kami berdua mengupas dimensi-dimensi kemukjizatan al-Quran. Dari sejak dimensi kebahasaan yang mencakup pilihan kata dan susunan kalimat dalam al-Quran, pengulangan kata, penyebutan lafzah ujian, kemenangan, macam-macam ukhuwah di dalam al-Quran dan sebagainya

Dimensi scientifik dalam penuturan al-Quran juga dibahas. Seperti hikmah dan rahasia penciptaan nyamuk, qalbu (jantung), teori relativitas waktu dan penyebutan jenis-jenis waktu di dalam al-Quran serta relasinya dengan waktu turunnya al-Quran dan sebagainya.

Dimensi ghaib kali ini dikupas tentang iblis, setan dan jin di dalam al-Quran serta beberapa hikmah cerita masa lalu yang bisa diambil hikmahnya seperti istana dan penjara di dalam al-Quran, kisah Nabi Yusuf alaihissalam, Dawud Thalut dan Jalut dan kisah kekuasaan.

Dalam dimensi visualisasi, kali ini telaah al-Quran tentang hoax dan jebakan persepsi adalah bentuk dahsyat penuturan al-Quran bagaimana daya rusak hoax dan berita dusta serta jebakan persepsi pribadi yang mempengaruhi pola pikir. Al-Quran memberikan solusi normatif dan praktisnya di dalam surah al-Hujurat. Selain itu tentunya dalam dimensi visualisasi ini al-Quran menjelaskan perumpamaan serta berbagai kondisi dan kehidupan manusia nantinya di akhirat, baik di surga ataupun –naûdzu billah– di dalam neraka.

Selain kajian ba’da tarawih selama Ramadan, ada juga kajian raqa’iq (tazkiyatunnafs [pembersihan jiwa]) bada subuh yang berdurasi sekitar 15-10 menit setiap harinya. Tema-tema yang diangkat adalah seputar takwa, istiqamah, tawakkal, keutamaan dzikir dan menadabburi lafazah-lafazh dzikir harian, kemudian serial minal ‘âidin wal fâ’izîn.


Secara teknis untuk memperluas wawasan praktis CIDE juga mengadakan workshop dan pelatihan dua kali. Yang pertama pelatihan mengurus jenazah menurut tuntunan Islam, kemudian tentang ilmu mawaris dan terakhir fikih akuntansi zakat.

Di samping itu, Ibu-ibu di Masjid taklim Masjid al-Hijrah juga mengadakan kajian dhuha. Demikian juga komunitas muslimat Iqro Foundation, Komunitas ODOJ (One Day One Juz) dan Majelis Taklim Raudhatul Ilmi. Juga PRIM Ranting Muhammadiyah NSW.

Saya juga berbahagia bisa bersilaturahim dan bertukar pikiran dengan para mahasiswa di University of Wolongong dan sempat tarawih bersama mereka di Islamic Centre di kampus. Juga berkesempatan berbuka puasa dan tarawih bersama masyarakat Western Sydney yang baru mengadakan percobaan tarawih bersama dengan menyewa gedung milik council. Yang mengharukan saat fund rising untuk pengadaan pusat kegiatan dan tempat shalat para jamaah sangat bersemangat. Saya teringat sebuah buku karya ulama ternama di Mesir yang kini tinggal di Qatar di lelang dan sampai terjual di angka 500 dollar. Komitmen-demi komitmen dikumpulkan selain uang cash dan donasi melalui eftpos payments. Jumlahnya, menurut saya sangat luar biasa karena hanya dikumpulkan melalui dua kali fundrising, termasuk di antaranya untuk proyek yang direncanakan oleh CIDE di tahun 2017 dan 2018. Ini belum termasuk donasi untuk pembangunan masjid besar komunitas AIM di Punchbowl. Masyaallah, masyarakat benar-benar berlomba-lomba dalam mendermakan hartanya fi sabilillah.

Dinginnya suasana Sydney ternyata tak berpengaruh buruk apalagi sampai membekukan. Justru komunitas muslim di sini sangat hangat menyambut baik kami. Sambutan berupa respon yang baik selama kajian. Ibu-ibu yang berjihad menyediakan makanan terbaik. Panitia yang selalu stand by. Belum lagi, para jamaah yang selalu menemani di rumah belakang.

Saya sempat berpikir bahwa makan selepas tarawih hanya akan terjadi sesekali saja. Faktanya, kemudian hampir tiap malam selalu saja ada yang mengajak keluar untuk sekedar menikmati suasana malam sambil mencicipi kuliner Sydney. Ajakan favorit yang paling sering tentunya ke Lakemba. Penduduk Sydney bahkan Australia tentu tahu ada apa di Lakemba, terutama di Haldon Street. Festival Ramadan menjadikan jalan utama tersebut menjadi ramai bahkan hingga sahur. Padahal umumnya took-toko pun tutup jam 5 sore atau paling lambat di jam 9 malam.

Tawaran mencicipi camel burger dan juz wortel adalah yang paling sering kami terima. Alhamdulillah, segala puji bagi Allah yang menjadikan Ramadan sebagai festival berbagai kebaikan. Di dalam masjid dan dalam keseharian menjadi ajang perlombaan dan fastabiqul khairat.

Belum lagi undangan buka bersama, dan termasuk memenuhi undangan open house di bulan syawal. Alhamdulillah Allah memberi kesehatan dan kekuatan untuk mengunjungi satu persatu, termasuk ke kediaman Bapak Konjen di Wisma KJRI juga para sesepuh masyarakat di Sydney. Meskipun tak semua undangan bisa didatangi tentunya.

Malam-malam yang mengharukan juga kami nikmati bersama para pemburu lailatul qadar yang beri’tikaf selama 10 hari terakhir di bulan Ramadan. Menjalani bersama shalat tahajud dan menengadahkan tangan bersama mengetuk pintu ampunan dan rahmat Allah melalui doa, munajat dan muhasabah menjelang sahur.

Keindahan yang sempurna. Terlebih saat Allah karuniakan dan kabarkan datangnya kemenangan saat Idul Fitri. Bersama kaum muslimin menjemput kemenangan yang dijanjikan Allah. Kemenangan yang membuat iblis dan setan serta bala tentaranya menangis. Karena, apa yang mereka lakukan dengan jebakan-jebakan selama setahun menjadi sirna bersama ampunan Allah untuk umat Islam serta turunnya rahmat dan sayang-Nya.

Jika Ust Agus Setiawan diamanahi menyampaikan khutbah Idul Fitri di Sydney, maka saya menjalankan amanah untuk terbang ke Canberra. Bersama masyarakat muslim Indonesia saya menyampaikan khutbah Idul Fitri di KBRI Canberra.

Musim sibuk penerbangan kali ini, membuat kepulangan kami tertunda. Rasa rindu dan kangen dengan keluarga harus ditahan sesaat. Alhamdulillah, ada banyak hikmahnya. Kami masih sempat bersilaturahim dengan masyarakat. Selain itu, kami juga sempat menikmati dinginnya salju dan berselancar di Perisher, Blue Valley Mountain.

Kepergian bulan Ramadan memang membuat sedih orang-orang yang mengetahui kemuliaan yang ada di dalamnya. Karena seandainya semua tahu kebaikan yang ada di dalamnya tentu semua orang akan berharap sepanjang tahun adalah seperti bulan Ramadan. Tapi, terbitnya bulan Syawal adalah kebahagiaan bagi umat Islam menerima hadiah rahmat dan pembebasan dari murka dan neraka Allah. Kini kita tinggal merawatnya.

Demikian juga kami, dengan berakhirnya Ramadan berarti akan segera berakhir kebersamaan fisik di Sydney dengan masyarakat muslim yang ramah dan sangat inspiratif ini. Ada suanana haru yang tak bisa digambarkan melalui kata-kata. Akan tetapi, ada kebahagiaan dan optimisme lain, karena kami akan segera bertemu keluarga di Indonesia. Keluarga yang rela berbagi waktu, mengikhlaskan kami melanjutkan tradisi dakwah di mana dan kapan saja. Istri yang gigih memerankan semua terutama menjadi ibu yang baik dan sabar bagi anak-anak. Anak-anak kami yang tentunya terkurangi kebersamaan dengan ayah mereka. Semoga Allah menggantinya dengan pahala serta menjaga mereka dengan dijadikan anak-anak shalih yang akan menuntun kami ke surga.

Siang ini, Jumat 30.06.2017 masih ada agenda terakhir di Masjid Al-Hijrah. Agar spirit kebaikan terjaga insyaallaah khutbah Jumat nanti saya akan mengangkat tema: Memakmurkan Masjid & Melanjutkan Tradisi-Tradisi Kebaikan. Diantara poin-poin pentingnya:

  1. Mempertahankan komunitas yang baik dengan selalu membersamai mereka serta saling menasehati dalam kebaikan
  2. Memakmurkan masjid, dengan memberikan perhatian dan pengorbanan untuk berbagai hal di antaranya: perawatan dan kebersihannya, kenyamanan dalam beribadah (terutama shalat), meramaikannya dengan majelis ilmu dan dzikir serta berbagai kegiatan positif lainnya.
  3. Jadikan masjid ==> sebagai pusat kegiatan dan majelis perencanaan strategis
  4. Jadikan masjid ==> sebagai sanggar-sanggar al-Quran, tempat-tempat tahfizh, mempelajari al-Quran dan menyebarkan spirit kebaikan yang terkandung di dalamnya
  5. Jadikan masjid ==> sebagai basis data masyarakat, terutama komunitas masyarakat di Sydney dan Australia kemudian membuat peta dakwah untuk mengajak semua untuk berbuat dan memberi kemanfaatan
  6. Jadikan masjid ==> sebagai tempat regenerasi anak-anak dan pemuda dengan membiasakan mereka supaya akrab dengan masjid dan bergaul dengan orang-orang yang sering berada di dalamnya
  7. Jadikan masjid ==> sebagai sarana sharing kebahagiaan dan berbagai kepedulian dengan sesama. Dalam al-Quran perintah shalat seringnya disandingkan dengan perintah menunaikan zakat.

Mudah-mudahan rajutan persaudaraan dan pertalian ukhuwah ini dikekalkan Allah hingga hari kiamat dan dipertemukan kembali diakhirat dalam naungan ridho Allah serta dikumpulkan bersama Nabi Muhammad saw dan shalihin shalihat yang menyintai dan dicintai-Nya.

Terima kasih secara khusus saya ucapkan kepada pimpinan CIDE, Pak Ichsan akbar, Gota (Moh Sjam), Uda Riski Patiroi dan Uda Panji Budiman. Panitia Ramadan yang dikomandoi Pak Lukman kemudian Pak Imam yang incharge dengan update jadwal harian. Juga kepada Uda Uli, Muhammad Haikal, Mas Arif, Pak Elvo, Mas Zain, Allen Rahman, Jufri dan para pegiat youth, Pak Adi, Pak Joko, Pak Eko, Mas Teguh Waluyo dan Pak Ahmad. Juga kepada Pak Wawan, Pak Bambang dan Pak Farid. Tak lupa kepada Pak Novianto dan keluarga.

Juga terima kasih kepada Mas Dito, Mas Teguh Suwondo, Pak Aulia juga Pak Presiden CIDE yang meluangkan waktu dari sejak menyiapkan kami untuk berwisata ke Snowy Mountain. Juga Colonel Riva yang menjadi guide sekaligus tuan rumah selama kami di Canberra.

Terima kasih kepada Bapak Dubes di Canberra serta Bapak Konjen di Sydney. Juga Mas Ibrahim serta pak Imam Malik sekeluarga dan Pak Abrar yang menjamu kami selama di Canberra.

Terima kasih kepada masyarakat di Western Sydney, terkhusus pengurus CIDE yang tinggal di sana, juga kelurga Ust Arif Taufik, Bang Haris dan sebagainya.

Juga kepada Iqro Foundatian, Pak Nur, Pak Mico, Pak Yudi, Pak Beri, Pak Narto, Pak Uki dan lainnya

Terima kasih Bang Nazar dan Andre yang juga teman kami selama kami di Universitas al-Azhar Mesir. Pak Maswan dan Pak Sobri atas masakan-masakannya.

Juga tentunya Ibu-ibu yang namanya tidak saya sebutkan satu persatu. Bu Lili dan komunitas ODOJ di NSW, juga ibu-ibu di MTRI.

Selain itu terima kasih khusus kepada asatidz: Dr. Agus Setiawan, Ust. Musyaffa, Ust. Henmaidi, Ust. Ziyad. Imam shalat selama di Masjid al-Hijrah, Ust. Toriq Jamil al-Hafizh, juga Ust. Musa al-Barqy dan Ust. Taqiyuddin.

Mohon maaf bila banyak nama tidak bisa saya sebutkan satu persatu. Namun tidaklah mengurangi rasa cinta dan penghormatan saya. Mohon maaf pula bila selama sebulan lebih berinteraksi terdapat banyak kehilafan dan kesalahan serta keterbatasan.

Kullu ‘âm wa antum bi khoir, Minal ‘âidin wal Fâizin.

 

Sydney, 30.06.2017

Jumat menjelang siang

 

SAIFUL BAHRI

 

Undangan VIP

salman-king

SAIFUL BAHRI

Semenjak kedatangan Raja Salman, Raja Kerajaan Saudi Arabia ke Indonesia, gegap gempita media terdengar di mana-mana. Bahkan sebelum sang raja datang. Tulisan ini tidaklah hendak menganalisis hal-hal yang berkaitan dengan kedatangan beliau. Tapi, sekedar menuliskan sebuah refleksi salah satu dari agenda kunjungan beliau di Indonesia yang berkaitan dengan undangan.

Dalam beberapa acara beliau, baik yang di gedung parlemen, di masjid Istiqlal atau pertemuan dengan para ulama dan tokoh masyarakat, tentu mengundang beberapa tamu khusus. Sudah tentu, tamu yang diundang bersifat istimewa. Sebagian merasakan beruntung bisa hadir bertemu langsung dengan Sang Raja. Euforia dan kebanggaan tersebut sebenarnya sangat wajar, manusiawi dan natural. Terlebih jika menilik posisi negara yang dipimpin dengan negara yang dikunjungi memiliki kaitan historis yang lumayan kuat, di samping secara emosional dan ideologis memiliki kedekatan, yaitu sebagai bangsa muslim yang memungkinkan membuat poros baru dunia.

Bagi sebagian orang bahkan sampai membuat meme dan gambar-gambar lelucon yang menyatakan bahwa ia diundang atau ditelpon oleh Raja Salman. Bahkan beberapa di antaranya berlebihan, sampai membuat anekdot ia telah dikirim sejumlah uang.

Terlepas dari berbagai analisis para pakar dan tokoh terkait kunjungan Raja Salman, tak bisa dipungkiri bahwa sosoknya melekat di hati sebagian besar rakyat Indonesia. Baik yang pro atau yang kontra dengan kebijakannya, termasuk yang memiliki kepentingan dengannya secara langsung atau mereka yang memangku jabatan dan pemegang keputusan di negara ini.

Jika saja seseorang akan bangga ketika ia menerima undangan bertemu dengan Yang Mulia Raja Salman, lantas kebahagiaan seperti apa yang kelak dirasakan seorang mukmin di surga. Ketika ia dimasukkan surga dengan segala fasilitas mewah yang belum pernah dijumpainya di dunia, kemudian bertemu langsung tanpa perantara dan bisa melihat serta berbicara dengan Sang Raja manusia, Allah, pemilik segala kerajaan alam semesta, langit dan bumi serta dunia-akhirat. Siapapun di antara kita berpeluang menerima undangan VIP tersebut. Bertemu langsung dari Sang Maha Raja dari segala manusia, termasuk para raja dari manusia di dunia.

Untuk mendapatkan undangan VIP tersebut, manusia sudah dilatih –setiap hari- terlebih dahulu memenuhi undangan dan seruan dari-Nya. Yaitu undangan untuk mendatangi rumah-Nya (Baitullah) setiap hari lima kali. Sayangnya, kebanyakan manusia mengabaikan undangan tersebut. Harusnya ia berbahagia, karena yang mengundang sebenarnya adalah Sang Raja Manusia, melalui corong-corong pengeras masjid dan mushalla yang meneruskan suara para muadzin dengan berbagai macam iramanya. Lima kali dalam sehari. Dan terus berlangsung sejak zaman Nabi SAW hingga saat ini di berbagai belahan bumi.

Jika kita mudah melangkahkan kaki memenuhi undangan VIP menghadap-Nya setiap hari. Maka undangan-undangan VIP berikutnya akan mudah dipenuhi. Undangan membantu saudara-saudara kita yang terlunta-lunta di pengungsian semenjak terusir dari tanah mereka di Palestina. Undangan untuk peduli membantu recovery para korban perang di Gaza. Membantu menyelamatkan rumah Allah, al-Masjid al-Aqsha yang terus dinista dan berada dalam bahaya dintimidasi oleh penjajahan yang sudah tulis dari mendengar kecaman dunia. Menyelematkan Palestina dari ekspansi pendudukan-pendudukan serta pemukiman ilegal yang terus berlangsung. Dan ada banyak undangan VIP lainnya. Termasuk melawan setiap kezhaliman, di mana pun adanya. Allâhu al-Musta’ân.

 

Catatan Keberkahan 44

Jakarta, 02.03.2017

Episode Kezhaliman pun Bersambung

%d8%b8%d9%84%d9%85

SAIFUL BAHRI

Namruz, Firaun, Jalut, Nebukadnezar, Abu Jahal, Hitler, Musolini adalah beberapa episode tentang kisah dan lembaran hitam sejarah. Kisah tentang kezhaliman. Kisah yang tetap dan terus akan berlanjut sampai hari kiamat. Tokoh antagonis yang akan selalu ada, menindas dan lalim. Meski tentunya akan ada kebalikannya, tokoh-tokoh protagonis yang menumbangkan mereka. Adalah Ibrahim, Musa, Dawud dan Nabi Muhammad SAW, bagian dari sejarah putih yang dikirim Allah untuk menuntaskan dan membuktikan kekuasaan-Nya yang mutlak. Sejatinya, kezhaliman memang takkan pernah memiliki ruang di bumi ini. Sesungguhnya bahwa keangkuhan akan sirna seperti debu. Pastinya, kesombongan para durjana akan hilang ditelan waktu.

Kisah tentang kezhaliman ini di dalam al-Quran sangatlah banyak. Ia menjadi tema utama yang disebut menjadi penghalang misi manusia dalam beribadah dan menyembah Allah. Syirik sendiri dibahasakan al-Quran dengan (zhulmun ‘azhîm, [lihat QS. Luqman; 13]), serta berbagai turunan kezhaliman yang bermuara pada nihilnya keimanan dan tipisnya kepercayaan kepada Allah.

Semua orang-orang zhalim takkan pernah diback up oleh Allah. Pun Dia tak menitahkan makhluk-Nya untuk membelanya. Bahkan jelas-jelas al-Quran menyebut (وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنصَارٍ) “dan orang-orang zhalim tiada penolong bagi mereka”; di dalam al-Quran diulang tiga kali (Al-Baqarah: 270, ali Imran: 192, Al-Maidah: 72). Anshar artinya adalah penolong dan plural. Mengapa Allah mengatakan mereka tak memiliki penolong? Padahal faktanya biasanya banyak orang yang membelanya, bersembunyi di belakangnya, menjilatnya memujanya dan sebagainya. Sesungguhnya semuanya semu. Saat keruntuhan terjadi mereka akan ditinggal sendiri. Karena pemujanya adalah para penakut. Karena pembelanya adalah hipokrit. Karena penyembahnya adalah manusia-manusia yang bermental benalu, mengambil manfaat yang menguntungkan saja. Atau jika ini divisualisaiskan di hari kiamat, maka sebanyak apapun penolong dan pembela mereka takkan ada pengaruhnya bagi Allah. Sang zhalim dan penolong-penolongnya semuanya akan berhadapan dengan keadilan Allah.

Sedangkan lafazh (وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِن نَّصِيرٍ) diulang dua kali (Al-Hajj: 71, Fathir: 37). Kali ini penolong disebut secara single. Artinya orang-orang zhalim takkan punya penolong satu orang pun. Arti pertolongan tersebut adalah pertolongan yang benar-benar bermanfaat. Terutama nantinya dalam menyelamatkan mereka dari siksa dan murka Allah di akhirat.

Kezhaliman Firaun biasanya dipaketkan dengan keangkuhan dan kesombongan Haman. Haman merupakan perangkat pendukung kezhaliman. Tapi dosanya tidaklah lebih kecil dari Firaun. Karena ia adalah perangkat yang dimanfaatkan dan memanfaatkan kezhaliman untuk kepentingan dirinya. Memperkaya diri, menahbiskan diri, mengukuhkan eksistensi dan sebagainya. Meski pun di sana tidak mustahil, ada orang yang “terpaksa” bersedia menjadi perangkat kezhaliman karena merasa terancam atau karena takut. Semuanya tetap akan mengambil porsi dari kezhaliman yang sebenarnya dilakukan secara kolektif. Karena mendiamkan kezhaliman apalagi menikmatinya, adalah seperti pelaku kezhaliman.

Hari ini, kisah tentang kezhaliman tak mungkin tiada yang mengetahuinya. Merasakannya. Menjumpainya. Menyaksikannya langsung. Sebagian kita memilih diam karena berbagai hal; ada yang takut, ada yang ingin aman, ada yang cuek, ada yang merasa tidak menjadi urusannya atau bahkan sebaliknya ia sangat menikmatinya.

Tapi bahwa kezhaliman takkan pernah berakhir baik sepertinya banyak dilupakan banyak orang. Penuturan sejarah tentang ending dari kisah kezhaliman barangkali mulai dilupakan. Namrudz yang tersungkur dengan seekor nyamuk kecil, Firaun yang tenggelam setelah merasa tiada yang bisa menandinginya, Jalut yang tewas di tangan remaja dengan sebuah batu, Abu Jahal yang mati ditangan dua anak kecil yang belum dewasa. Itulah sejarah. Sebagian hanya ingin mengambilnya sebagai hiburan, sebagian menjadikannya bahan candaan. Namun, yang berakal akan menjadikannya pelajaran penting.

Bagi penantang kezhaliman, ia akan semakin yakin ending baik untuknya. Menapaki jalan Ibrahim, Dawud, Yahya, Isa dan Nabi Muhammad SAW.

Yang pasti orang-orang zhalim tidak diistimewakan Allah dengan dua nyawa. Mereka akan mati bila ajalnya tiba. Dan kabar buruknya, malaikat yang keras dan kasar (an-nâzi’ât) lah yang akan menjemputnya di akhir hayatnya di dunia. Mengantarnya menempuh jalan sulit dan kesengsaraan yang abadi.

Para penanggung jawab yang merampas tanah di Palestina, para perampok kedaulatan yang membangun pemukiman-pemukiman ilegal di Tepi Barat. Mereka takkan pernah merasakan ketentraman meski selalu akan dikawal dengan pengamanan yang ketat. Dan pada waktunya akan  berakhir.

Orang-orang yang bermain-main dengan kehormatan dan nyawa para penduduk Suriah yang dikorbankan tanpa dosa, kelak juga akan berakhir denga takdir yang menakutkan dan menggemparkan.

Para pelaku kezhaliman di mana pun, tanpa terkecuali di negeri kita. Jika ia pelaku, maka saksikanlah, bacalah kisah kezhaliman sebelum dia. Jika ia menjadi pembela dan pemuja, bacalah dan telusurilah akhir buruk kisah para pembela kezhaliman yang tak jauh beda. Kaum Ad, Tsamud, Madyan, Ashâburrass, Haman, Qarun semuanya cukup menjadi pelajaran berharga.

Selagi ada waktu. Bertaubatlah, akhiri kezhaliman dalam diri sebelum Allah kirimkan makhluk yang akan mengakhiri segalanya. Wan-nâzi’ati gharqâ. Maha Benar Allah dalam segala firman-Nya.

 

Catatan Keberkahan 43

Jakarta, 23.02.2017

 

MIMPI-MIMPI SEDERHANA

Saiful Bahri

bahagia-itu-sederhana

Barangsiapa yang di pagi hari ia aman dan nyaman jiwanya, sehat badannya, ia memiliki sarapan (makanan) di harinya, maka seolah-olah ia telah diberikan dunia beserta seluruh isinya

(HR. Bukhariy dalam al-Adab al-Mufradnya, dan At-Tirmidzi dalam Sunan-nya, sahabat Ubaidillah bin Mihshan meriwayatkan hadis dari Nabi Muhammad SAW.)

«من أصبح آمناً في سربه معافا في بدنه عنده قوت يومه فكأنما حيزت له الدنيا بحذافيرها»

Bahagia itu sederhana. Semuanya orang berpeluang untuk berbahagia. Meskipun, kesederhanaan ini pada akhirnya menjadi lebih rumit karena prespektif orang tentang kebahagiaan kemudian menjadi lebih rumit dan sulit. Terutama ketika standar matrealistik dan gaya hidup hedonis yang dianut oleh tidak sedikit masyarakat modern.

Menilik dari hadis di atas, ternyata titik utama dan kunci mencapai kebahagian di setiap pagi adalah sikap hidup manusia. Kesyukuran adalah modal utama meraihnya.

Dalam kehidupan harian, tak jarang kita menyaksikan seorang lelaki yang berpakaian lusuh, lumpur-lumpur kering menempel di badannya. Nampak, ia baru saja melakukan pekerjaan penggalian. Ia tidur dengan terlelap di atas rerumputan, sengatan sinar matahari tak mengusiknya sama sekali.

Pemandangan serupa bisa ditemukan di pematang sawah, saat beberapa orang membuka rantang berisi makanan sederhana yang dikirimkan oleh keluarga. Berteduh menikmati makan siang, dengan lahapnya.

Nelayan yang mempertaruhkan nyawanya di tengah ganasnya lautan, nampak berseri-seri ketika jerih payahnya berbuah manis. Ikan hasil tangkapannya terjual habis, ia bisa membawa oleh-oleh sederhana untuk keluarganya.

Ada banyak kisah yang akan kita jumpai memberikan gambaran sederhana tentang makna kebahagiaan. Al-Quds Channel memiliki program rutin tahunan mengisahkan kisah-kisah inspiratif tentang makna kebahagiaan yang sangat sederhana.

Program acara di al-Quds Channel bernama Ahlâm Basîthah (Mimpi-mimpi Sederhana), yang kini akan memasuki serial ke-9 adalah sebuah program acara yang menampilkan dan sekaligus membuktikan bahwa untuk membahagiakan seseorang itu tidak sulit. Sangat mudah.

Dalam acara tersebut dijelaskan bahwa bantuan kemanusiaan dari berbagai lembaga kemanusiaan disalurkan kepada keluarga korban perang di Gaza.

Ada seorang lelaki tua penjual sayur-sayuran yang karena perang ia kehilangan kendaraan yang biasa ia gunakan untuk menjual sayur. Suatu ketika seorang lelaki, host acara Ahlâm Basîthah menawarkan jasa pengangkutan sayur kepadanya, ia diminta menyetir sebuah kendaraan sederhana seperti bajai untuk di antar ke sebuah kios. Kemudian ia ditanya, minta upah berapa. Keluar sebuah nominal yang sangat kecil. Itu sudah cukup membuatnya bahagia. Lelaki tersebut memberikan kejutan kepadanya. Ia memberi upah lebih kemudian ia menghadiahkan bajai tersebut kepadanya, ditambah sebuah kios kecil yang sudah disewa selama satu tahun.

Ada beberapa butir air mata bening keluar dari pojok-pojok mata lelaki tua tersebut. Pipinya yang keriput dibasahi air mata bahagia. Ia bersujud syukur, memuji Allah yang memberinya segala hal yang diimpikannya. Bukankah sederhana meraih kebahagiaan itu? Sesederhana membahagiakan orang yang memiliki persepsi kebahagiaan sederhana.

Ada seorang perempuan tua yang rumahnya hancur karena serangan Israel beberapa waktu lalu. Ia dan suaminya serta beberapa anaknya menghuni sebuah rumah yang tak pernah utuh tersebut. Sang ibu tak pernah berharap atau bermimpi rumahnya kembali utuh. Karena ada banyak keluarga yang mengalami nasib serupa. Yang ia impikan adalah hadirnya sebuha mesin cuci yang meringankan tumpukan cuciannya yang banyak. Tim dari al-Quds channel memberikan mesin cuci. Raut bahagia terpancatr dari wajah perempuan paruh baya tersebut. Rumah mereka pun dibedah dan diperbaiki. Mereka bisa berbahagia dengan sebuah aksi sederhana.

Cerita lain mengisahkan tentang seorang pemuda yang menjadi tumpuan keluarganya sepeninggal ayahnya. Pemuda ini hanya menjual beberapa teko teh panas yang dijualnya di sepanjang pantai di Gaza. Kebahagiaannya adalah ketika ia kembali dengan beberapa uang yang bisa diberikan kepada ibunya. Host acara Ahlâm Basîthah datang dengan sebuah kendaraan kecil dengan kompor gas kecil dan perlengkapan masak sederhana. Pemuda tersebut selain menjual minuman hangat bisa menjual burger daging dan makanan-makanan ringan. Senyumnya melebar. Iya tak sampai bermimpi seperti itu. Tapi Allah memberinya lebih banyak dari yang dibayangkannya.

Ternyata kebahagiaan itu sederhana. Membahagiakan orang juga bukan sesuatu yang sulit. Bahkan tersenyum adalah salah satu sedekah termudah.

Tebarkan optimisme kemenangan dan kemerdekaan kepada bangsa Palestina yang terampas kebebasannya. Kembalikan senyum-senyum keceriaan. Allah akan membahagiakan orang yang senantiasa berusaha membahagiakan orang. Allâhu al-Musta’ân.

 

Catatan Keberkahan 42

Jakarta, 09.02.2017

BERTEMUNYA CINTA DAN KEPAHLAWANAN

salahuddin

Ada berbagai alasan seseorang untuk menikah. Bagi seorang muslim, utamanya ia sedang menjalankan sunnah Rasulullah SAW yang diikuti para sahabat dan tabi’in setelahnya. Motivasi ideologis sangat laik untuk dijadikan alasan utama. Tapi, jika alasan tersebut menjadi satu-satunya motivasi, menurut penulis tentunya tidak selamanya demikian. Tujuan dan alasan pernikahan, meskipun bermuara satu, cabangnya bisa banyak. Belum lagi, jika terjadi disorientasi dalam membangun sebuah pernikahan.

Sebagian menikah karena kegelisahan dan desakan syahwat yang manusiawi, tentu tidak aib jika dibangun persepsi positif dan pijakan moral yang dikedepankan.

Sebagian menikah karena menindaklanjuti sebuah rasa yang sulit untuk dideskripsikan. Orang banyak menamakannya cinta, sebuah rasa yang orang banyak merasakannya karena manusiawi. Tetapi, banyak orang salah mempersepsikannya. Cinta itu memiliki dan mengatur perilaku, kata sebagian orang. Faktanya, cinta adalah anugerah Allah. Musa pun Allah jadikan seorang anak yang sejuk dipandang mata, cinta tumbuh berkembang di sekitarnya.

Dan Aku telah melimpahkan kepadamu cinta (kasih sayang) yang datang dari-Ku; dan supaya kamu diasuh di bawah pengawasan-Ku” (QS. Thaha: 39)

Maka perilaku sebagian orang yang mengultuskan dan mendewakan cinta untuk membangun sebuah pernikahan adalah tindakan yang kurang bijak. Allah lah yang menjanjikan menurunkan cinta dan kasih sayang secara bersamaan dan menumbuhkannya melalui pernikahan yang juga menjadi tanda kekuasaan-Nya. Ada pertemuan dan penyatuan dua makhluk yang serba berbeda.

Sebagian orang menikah karena sudut pandang matrealistik. Baik materi yang melekat pada fisik orang, kecantikan fisik, atau materi yang menempel belakangan seperti kekayaan harta.

Sebagian lagi menikahi seseorang karena jabatan dan posisi sosial atau kehormatan dan prestise sosial. Serta sekian cerita yang mengatasnamakan cinta dan misteri rasa yang berada dalam dada dua makhluk Allah yang berbeda; laki-laki dan perempuan

Simaklah, sebuah kisah menarik. Sebuah sudut pandang tentang cinta yang menjadi energi positif. Cinta yang menumbuhkan keberanian. Cinta yang menemukan pelabuhan kegundahan seorang laki-laki akan kondisi masyarakat, dan seorang perempuan yang juga merasakan hal yang tak jauh berbeda. Takdir mempertemukan mereka berdua. Mereka, menjemputnya dengan berbagai ikhtiar dan usaha.

Dikisahkan seorang penguasa Tikrit (Irak), bernama Ayyub bin Syadzi; yang lebih dikenal dengan sebutan Sultan Najmuddin Ayyub ingin mencari pasangan hidupnya. Ia belum menikah dalam waktu yang cukup lama. Sampai-sampai saudara kandungnya, Asaduddin Syerkuh sering keheranan dan mengulangi pertanyaannya, siapa yang ia cari dan mengapa ia tak segera menikah. JAwaban singkat Najmuddin Ayyub selalu sama, “Aku belum mendapatkan calon istri yang pas.”

Asaduddin pun bermaksud mencarikan calon yang cocok untuk kakaknya. IA memberikan pilihan kepada Ayyub. “Bagaimana dengan puteri Malik Syah—anak Sultan Muhammad bin Malik Syah—Raja Bani Saljuk atau putri Nizhamul Mulk—menteri besar yang terkenal di zaman Abbasiyah.”

Namun, Ayyub pun menjawab ringan. “Tak ada yang cocok untukku!”

Asaduddin bingung dan heran, ia pun mendesak kakaknya, siapa yang sebenarnya dicarinya. Akhirnya ia menemukan jawaban dari misteri yang dipendam sang kakak. Ia mencari seorang perempuan yang bersedia melahirkan seorang pemberani dan pahlawan yang mampu menaklukkan kembali Baitul Maqdis dari tangan tentara salib dan mengembalikannya ke tangan umat Islam.

Tikrit tidaklah jauh dari Baitul Maqdis. Itulah, rupanya kegundahan seorang Gubernur Tikrit. Gubernur lajang yang sedang berikhtiar mencari jodohnya.

Maka, pada suatu hari, Najmuddin duduk bersama seorang lelaki tua di sebuah masjid di Tikrit. Mereka membincangkan banyak hal. Tiba-tiba ada seorang gadis yang memanggil lelaki tua tersebut dari balik tirai. Ia pun bergegas menemui sang gadis, setelah meminta izin kepada Najmuddin Ayyub.

Rupanya, lelaki tua itu adalah ayahnya. Ia berbicara dengan putrinya. Menanyakan mengapa ia menolak lelaki yang melamarnya. Sebenarnya apa yang diinginkannya. Sang gadis menjawab dengan sedikit emosional. Ada isakan kecil mengiringinya. “Aku inginkan seorang pemuda yang menggandeng tanganku ke surga. Aku ingin melahirkan darinya seorang pemberani yang bersedia dan mampu mengembalikan Baitul Maqdis kepada kaum muslimin.”

Deg. Ayyub mendengar kata-kata gadis itu dengan jelas, meski sang gadis lirih mengatakannya kepada ayahnya.

“Dia cocok untukku!” Ayyub membatin dalam-dalam.

Inilah rekayasa dan skenario Allah. Najmuddin yang kaya dan berkuasa. Sementara gadis itu adalah seorang yang biasa, dari kalangan rakyat jelata. Namun, sang gubernur tak memedulikannya.

“Aku ingin menikahinya dan titik.” Demikian ia mengikrarkan niatnya.

Ayyub memanggil lelaki tua tersebut. Lelaki tua itu terkaget dan terkejut keheranan.

“Tapi, ia seorang gadis yang miskin dan biasa. Ayahnya, adalah seorang yang seperti Anda lihat”

Najmuddin Ayyub berkata tegas, “Ini yang aku inginkan. Aku ingin menikahi seorang perempuan yang dengannya aku berharap meraih surga. Aku ingin dia mau melahirkan dariku anak lelaki yang pemberani yang akan menaklukkan kembali Baitul Maqdis. Merealisasikan mimpi dan cita-citaku!”

Itulah pertemuan cinta dan kepahlawanan dari dua kasta sosial yang berbeda. Allah yang menyatukan dua cinta. Cinta kembalinya Baitul Maqdis ke tangan yang berhak mengurusnya. Kepahlawanan yang muncul menyingkirkan gengsi materi dan jabatan sosial serta mata dan perkataan orang yang mungkin akan mempertanyakan pertemuan dua cinta ini.

Dari mereka berdua, lahirlah seorang lelaki pemberani yang namanya menggetarkan siapa saja yang mengetahuinya. Lahirlah dengan izin dan karunia Sang Maha Cinta, dari pernikahan cinta dan kepahlawanan ini. Yusuf namanya. Yusuf bin Ayyub. Dan kita lebih mengenalnya dengan SHALAHUDDIN AL-AYYUBI.

 

Catatan Keberkahan 41

Puncak, 19.01.2017

SAIFUL BAHRI

JADILAH DA’I

ISLAMIC (9)

JADILAH DAI…

1. Seorang dai adalah seorang pejuang. Ia tak boleh menyerah sekalipun kepada kelelahan ataupun sakit. Kekurangan materi atau ketidaknyamanan.

2. Jika dai merasa lelah, ia pun menikmatinya karena ia tahu dg siapa ia bertransaksi & apa imbalannya. Megatransaksi dengan Dzat yg serbamaha.

3. Jika dai sakit atau terbaring fisiknya tanpa daya. Itu bagaikan luka di tengah peperangan. Fisiknya boleh terkurung. Tapi spiritnya tidak.

4. Jika ia kekurangan pendukung dan pembela, ia akan malu menyerah. Karena Nuh mengajarkan kegigihan melebihi baja. Tak pernah berhitung waktu.

5. Jika sang dai merasa tua dan terlambat, ia akan malu kepada Zakaria yang memahami makna tiada kemustahilan di hadapan kuasa Dzat yg Mahaperkasa.

6. Jika sang dai merasa sulit bicara, ia akan malu jika menyerah. Musa berterus terang minta dukungan Tuhannya agar dibantu saudaranya Harun.

7. Bahkan Yusuf pun tak menunggu sampai keluar dari penjara utk berdakwah. Karena berdakwah di mulai dari mana, di mana saja & oleh siapa saja.

8. Jika sang dai kehabisan materi, ia pun akan teladani Ayyub yg teguh memohon dukungan Allah, kehilangan segalanya tidaklah berat selama Allah ada.

9. Jika sang dai merasa terlalu muda untuk berbuat, ia akan termotivasi oleh Yahya dan Dawud. Orang yg sebelumnya tak diperhitungkan & biasa2 saja.

10. Jika ia sibuk karena jabatan, kekuasaan & kekayaan. Siapa yg lebih kaya & berkuasa dari Nabi Sulaiman. Tapi ia adalah raja & pembawa risalah.

11. Jadilah seorang dai pewaris nabi, siapapun kita, apapun profesi yg digeluti, dlm kondisi apapun, berhadapan dg siapapun. Allah yg menyuruhnya.

Jakarta, 23.08.2016
Saiful Bahri
twitter @L_saba