Raising The Standard of Giving

Naskah Khutbah Idul Fitri 1440 H

Dr. Saiful Bahri, M.A.

Al-Hijrah CIDE (Center for Islamic Dakwah and Education)

Croatian Club Punchbowl, Sydney, NSW

 

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

الله أكبر (9) . الله أكبر كبيراً والحمد لله كثيراً. وسبحان الله بكرةً وأصيلاً. لا إله إلاّ الله والله أكبر، الله أكبر ولله الحمد. الحمد لله الذي فرض علينا الصيام وبعث لنا خير الأنام. أشهد أن لا إله إلاّ الله وحده، صَدَقَ وعْدَه ونصَر عبْدَه وأعزّ جُنْدَه وهزَم اْلأحْزَابَ وحدَه، وأشهد أنّ محمداً عبده ورسوله لا نبي بعده، فصلوات الله وسلامُه على هذا النبي الكريم وعلى آله وذريته وأصحابه أجمعين. أمّا بعد، فيا عباد الله أوصي نفسي وإياكم بتقوى الله، إنه من يتق ويصبر فإن الله لا يضيع أجر المحسنين. يقول المولى عز وجل: (حَتَّىٰ إِذَا أَتَوْا عَلَىٰ وَادِ النَّمْلِ قَالَتْ نَمْلَةٌ يَا أَيُّهَا النَّمْلُ ادْخُلُوا مَسَاكِنَكُمْ لَا يَحْطِمَنَّكُمْ سُلَيْمَانُ وَجُنُودُهُ وَهُمْ لَا يَشْعُرُونَ) (النمل :18). طِبْتُمْ وطابَ ممْشَاكُمْ وتَبَوّأتمْ مِن الجنّة منزلاً .

Allahu Akbar x 3, walillahil hamd

Ma’asyiral muslimin wal muslimat rahimakumullah.

Segala puji dan syukur kita kumandangkan. Menandai kemenangan yang dikaruniakan Allah Swt. Sebuah kemenangan yang diraih melalui sebuah proses pendidikan dan pembiasaan dari Allah yang Maha Agung.

Allah anugerahkan berbagai kebaikan di bulan mulia ini. Kemuliaan sebagaimana Ia muliakan Jibril pembawa wahyu-Nya, menjelma malaikat terbaik-Nya. Ia muliakan Muhammad SAW, penerima kalam suci-Nya, menjadi manusia termulia. Ia muliakan malam yang menjadi sarana turunnya al-Quran. Malam kemuliaan (lailatul qadar) dan malam keberkahan (lailatun mubarakah) Ia menamakannya. Malam yang kadar kualitasnya melebihi seribu bulan.

Allah yang Maha Lembut itu mewajibkan mewajibkan puasa kepada kita. Dia menggunakan panggilan khusus yang bahkan sebelumnya tak pernah dikenal oleh Bangsa Arab. (يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا) “wahai orang-orang yang beriman”. Secara eksplisit panggilan seperti ini hanya dipakai pada surat atau ayat-ayat yang turun di Madinah; yaitu diulang sebanyak delapan puluh sembilan (89) kali. Mengindikasikan banyak hal; di antaranya:

Panggilan tersebut adalah panggilan sayang dan cinta karena menonjolkan pemenuhan perintah untuk mengimani Allah, Rasul dan seterusnya. Sekaligus berfungsi sebagai pujian.

Panggilan tersebut selalu digunakan dalam bentuk plural (jama’). Menandakan bahwa dalam kondisi bersama dan berkelompok lebih mudah dan memungkinkan untuk mengekspresikan keimanan dan perilaku keagamaan. Sekaligus perintah untuk merekayasa kebaikan secara sosial. Seperti pendidikan Ramadan, tatkala banyak orang berpuasa (wajib), kemudian membiasakan baca al-Quran, qiyâmullail (tarawih dan tahajud), berdoa, bersedekah, silaturahmi dan sebagainya. Maka secara tak sadar kita lebih mudah melakukan hal-hal tersebut. Saat itu orang yang terbaik di antara kita adalah benar-benar orang berkualitas sebagai cerminan doa ibâdurrahmân (وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا) “jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang bertakwa”. Itu adalah permohonan menjadi yang terbaik di antara orang-orang baik. Juara di antara para juara.

Bulan Ramadan adalah nafas baru. Nafas kehidupan yang tawarkan optimisme untuk mengalahkan diri sendiri sebelum mengalahkan bisikan setan dari kalangan jin dan manusia. Nafas kemenangan itu terdengar menggema saat Allah bersumpah, (والصّبح إذا تنفّس) “dan demi subuh apabila fajarnya mulai menyingsing” (QS. At-Takwîr [81]:18).

Setiap pagi menyingsing datang maka pada hakikatnya Allah berikan kesempatan kita dengan nafas baru optimisme untuk raih kemenangan. Dan Ramadan Allah datangkan dengan ribuan kebaikan yang dijanjikan-Nya sebagaimana Dia lebihkan lailatul qadar dari malam-malam lain, bahkan lebih baik dari seribu bulan.

(يا باغي الخير أقبل ●  ويا باغي الشر أقصر)

Wahai pemburu kebaikan terimalah (peluang kebaikan) ●  wahai pelaku keburukan berhentilah (bermaksiat)

 

Allahu Akbar x 3, walillahil hamd

Ma’asyiral muslimin wal muslimat rahimakumullah

Allah yang Maha Pengasih dan Penyayang telah menganugerahkan nikmat yang tak terhitung dan tak berbilang. Baik kenikmatan berbentuk materi maupun non materi. Allah memberi akal untuk berpikir dan sarana mencari ilmu. Allah berikan rizki berupa harta dan kesehatan. Allah memberikan keluarga dan teman serta komunitas pergaulan. Allah memberikan ketenangan hidup dan kebahagiaan. Sesekali memang Allah memberikan ujian kepada kita, namun secara umum nikmatnya lebih mendominasi hidup kita.

Nikmat-nikmat yang sangat banyak tersebut bahkan sebagian besar kita tidak memintanya, Allah memberinya setiap saat, apapun kondisi kita. Semua manusia bahkan makhluk-Nya mendapatkannya. Baik ia taat atau pun bermaksiat, baik ia sadar atau pun lalai kepada-Nya, semua dianugerahkan kepada orang baik dan para durjana.

Yang akan dinilai dari Allah adalah respon hamba-Nya. Apakah ia bersyukur atau mengingkarinya? Apakah karunia tersebut dipergunakan sebagaimana mestinya dengan baik dan bermanfaat atau digunakan untuk memuaskan hawa nafsurnya?

Maka, pada saat Allah anugerahkan bulan Ramadan adalah nikmat yang sangat luar biasa. Allah turunkan al-Quran di dalamnya untuk membimbing manusia menjalani hidup yang bermartabat, bermanfaat dan mulia di dunia. Menjalankan fungsi kepemimpinan terhadap semua manusia dan makhluk Allah di bumi-Nya.

Di bulan yang berkah ini kita dimudahkan melakukan banyak kebaikan, dan terasa ringan. Puasa, shalat berjamaah, membaca al-Quran, shalat malam, bersedekah dan berbuat ihsan semua terasa ringan karena Allah menjadikannya demikian. Setan dan keburukan dibelenggu. Pintu neraka ditutup rapat. Surga dan pengampunannya di buka lebar-lebar. Allah ingin hamba-hamba-Nya tak berputus asa mengejar rahmat-Nya.

Saat kita diberikan kecukupan ilmu, rizki berbentuk materi, keluarga dan banyak hal lain, yang kita naikkan bukanlah standar hidup kita. Bukan pula gengsi dan prestise social di hadapan manusia. Namun, saat kita berkecukupan itulah waktu yang tepat untuk mensyukurinya dengan menaikkan standar memberi dan berbagi, raising standard of giving and sharing.

Saatnya kita evaluasi agar kita lebih menaikkan standar pemberian kita kepada dhuafa dan kaum miskin

Saatnya kita evaluasi memberi waktu terbaik kepada anak-anak serta keluarga kita, memberikan nafkah terbaik yang halal dan thayyib kepada mereka untuk menghadirkan keberkahan dalam kehidupan kita.

Saatnya kita memberi yang terbaik untuk merawat cinta agar terus tumbuh kembang kepada pasangan hidup kita, istri atau suami kita.

Saatnya kita berikan waktu terbaik untuk tekun belajar al-Quran, rajin membacanya, mencontohkannya kepada anak-anak dan orang yang kita cintai.

Saatnya kita berikan yang terbaik untuk Rasulullah SAW, dengan perbanyak shalawat dan mengamalkan sunnah-sunnahnya serta mengenalkan sirah beliau kepada sebanyak mungkin manusia

Saatnya kita berikan waktu terbaik untuk menghadap Allah dengan sepenuh jiwa, berdoa dan berzikir mendekatkan diri padanya, lebih dekat lagi agar kita meraih kemenangan dengan cinta dan maghfirah-Nya

Saatnya memberi yang terbaik, karena Allah janjikan kebaikan yang terbaik dari sebuah malam yang bernilai lebih baik dari seribu bulan.

Allahu Akbar x 3, walillahil hamd

Ma’asyiral muslimin wal muslimat rahimakumullah

Rasulullah SAW sangat dermawan, dan ketika di bulan Ramadan kedermawanan beliau melebihi angina yang bertiup sebagaimana dijelaskan dalam hadis al-Bukhari

عن عبد الله بن عباس رضي الله عنهما قال: “كان رسول الله صلى الله عليه وسلم أجود الناس، وكان أجود ما يكون في رمضان حين يلقاه جبريل، وكان يلقاه في كل ليلة من رمضان فيُدارسه القرآن، فالرسول الله صلى الله عليه وسلم أجودُ بالخير من الريح المرسَلة”

Mari belajar dari Sahabat Rasulullah SAW ketika mencontohkan keteladanan memberi pada saat kesulitan. Adalah Ali bin Abi Thalib tokoh protagonis tersebut. Ketika ia hendak sarapan tak lagi menjumpai makanan di rumahnya. Ia pun keluar rumah untuk menjemput rizki dan mencari makanan untuk istri dan anaknya. Fatimah melepasnya dengan ridho dan sepenuh jiwa mendoakan suaminya.

Siang hari beliau mendapatkan uang yang cukup membeli makanan untuk keluarganya. Di tengah perjalanan ia menjumpai al-Miqdad yang terlihat pucat dan keletihan. Ali memaksanya untuk berterus terang. Ternyata al-Miqdad sudah dua hari belum memberi makan keluarganya. Maka, Ali pun menarik tangan kanan al-Miqdad. Ia pun mengepalkan uang yang didapatkannya ke telapak tangan al-Miqdad.

“Pulanglah… berilah makan keluargamu!”

Al-Miqdad berkaca-kaca, sangat berterima kasih kepada Ali. Ia pergi setelah memeluknya dan mendoakan dengan sepenuh cinta.

Ali lega bisa menolong sahabatnya, meskipun ia kebingungan bagaimana akan memberi makan keluarganya. Ia pun ke Masjid Nabawi. Sore hari Rasulullah SAW, mertuanya menjumpainya, setelah bertanya kabar, kata-kata Rasulullah SAW benar-benar terdengar bagai petir menyambar.

“Ali, malam ini aku ingin makan di rumahmu!”

“Bagaimana aku akan menjamu, sedangkan tiada apa-apa di rumah?” Ali tertegun sejenak. Namun, segera ia mengiyakan dengan penuh keyakinan, “Labbaik ya Rasulullah!”

Malam harinya Ali pun menghantarkan Rasulullah SAW ke rumahnya untuk makan malam. Hati Ali berkecamuk. Namun, ia terheran ketika Fatimah berseri-seri menyambutnya. Terlebih saat Fatimah mengatakan, “Ayahku… suamiku… bersegeralah masuk. Aku telah menyiapkan makanan untuk kalian”

Sejenak Ali tercengang. Namun, keheranannya terjawab ketika Fatimah berujar, “Suamiku, sore tadi ada seseorang mengantarkan makanan untuk kita”. Dada Ali seketika bergemuruh. Ia penuhi rasa syukur tak terkira. Ia bertahmid memuji Allah.

Rasulullah SAW pun tersenyum seraya bersabda, “Ali, sore tadi Jibril menemuiku, ia diperintahkan untuk menyampaikan pesan kepadaku untuk makan malam di rumahmu”

Subhanallaah… sebuah kisah persaudaraan dan itsar yang luar biasa.

Rasulullah SAW pun sangat menyayangi pada dhuafa dan kaum lemah. Suatu ketika beliau sedang mengajarkan Islam kepada para budak dan orang-orang miskin. Kemudian beberapa bangsawan Quraisy hendak menemui beliau. Rasulullah SAW adalah orang yang sangat ramah, ia pun menyambut para tetamu pembesar tersebut dengan senyum lebar. Mendadak wajah beliau berubah, salah tingkah, karena para pembesar itu berkata dengan penuh keangkuhan, “Suruh pulang mereka Muhammad, kami tak bias duduk Bersama mereka”.

Rasulullah SAW terdiam. Beliau tak tahu harus menjawab apa. Namun, tak lama Allah turunkan ayat untuk mempertegas posisi beliau.

وَلَا تَطْرُدِ الَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُم بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ يُرِيدُونَ وَجْهَهُ ۖ مَا عَلَيْكَ مِنْ حِسَابِهِم مِّن شَيْءٍ وَمَا مِنْ حِسَابِكَ عَلَيْهِم مِّن شَيْءٍ فَتَطْرُدَهُمْ فَتَكُونَ مِنَ الظَّالِمِينَ

Dan janganlah kamu mengusir orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan petang hari, sedang mereka menghendaki keridhaan-Nya. Kamu tidak memikul tanggung jawab sedikitpun terhadap perbuatan mereka dan merekapun tidak memikul tanggung jawab sedikitpun terhadap perbuatanmu, yang menyebabkan kamu (berhak) mengusir mereka, (sehingga kamu termasuk orang-orang yang zalim). (Surah al-An’am: 52)

Rasulullah SAW adalah orang yang sangat peduli dengan orang-orang lemah, tertindas dan miskin.

Allahu Akbar x 3, walillahil hamd

Ma’asyiral muslimin wal muslimat rahimakumullah

Waktu yang Allah berikan kepada kita sangat terbatas, sebagaimana kebaikan yang Allah mudahkan kita di bulan Ramadan. Karena itu Allah berfirman, “أياماً معدودات” dan kini hari-hari indah itu telah berlalu. Namun, kita mendapat pelajaran berharga supaya pandai memanfaatkan peluang kebaikan sekecil apapun. Karena Rasul SAW pun berpesan agar kita tak meremehkan kebaikan sekecil apapun sekalipun hanya tersenyum.

Allah mengajarkan kepada kita sebuah kebaikan kecil yang kekal. Kebaikan seekor semut yang direkam al-Quran di dalam surah an-Naml. Bahkan dijadikan sebuah nama surah. Simaklah kisah tersebut.

حَتَّىٰ إِذَا أَتَوْا عَلَىٰ وَادِ النَّمْلِ قَالَتْ نَمْلَةٌ يَا أَيُّهَا النَّمْلُ ادْخُلُوا مَسَاكِنَكُمْ لَا يَحْطِمَنَّكُمْ سُلَيْمَانُ وَجُنُودُهُ وَهُمْ لَا يَشْعُرُونَ

Hingga apabila mereka sampai di lembah semut berkatalah seekor semut: Hai semut-semut, masuklah ke dalam sarang-sarangmu, agar kamu tidak diinjak oleh Sulaiman dan tentaranya, sedangkan mereka tidak menyadari” (Surah an-Naml: 18)

Suatu hari bisa jadi nama kita akan dilupakan orang. Karena itu investasikan apa yang Allah karuniakan ini untuk memberi dan berbagi. Bisa jadi amal yang kita lakukan sepele dan seolah tak berarti, namun bisa jadi pula Allah kekalkan sebagaimana kebaikan seekor semut di atas. Mengekalkan nama kita dalam doa-doa kebaikan di bibir-bibir orang shalih. Amal ibnu adam yang terputus, bisa disambung dengan ilmu yang bermanfaat, amal jariyah dan anak-anak shalih yang tak hanya kita batasi dari anak-anak kandung kita saja.

Spirit memberi ini kita dapatkan dari doa yang diajarkan Nabi Muhammad SAW kepada Aisyah untuk mencari kebaikan lailatul qadar, “Ya Allah Engkau adalah Maha Pemaaf, menyukai memaafkan, maka ampunilah aku”

اللهم إنك عفو تحب العفو فاعف عني

Al-Afwu berarti kelebihan, kemaafan dan kemampuan. Allah juga menuturkannya di dalam surah al-Baqarah 219

وَيَسْأَلُونَكَ مَاذَا يُنفِقُونَ قُلِ الْعَفْوَ

“Dan mereka bertanya kepadamu apa yang mereka nafkahkan. Katakanlah: “Yang lebih dari keperluan”.

Maka yang bias memberi adalah yang memiliki kelebihan. Tepatnya orang-orang yang menaklukan ketidakberdayaannya. Ia memberi harta ketika menaklukan kekikiran dan kemiskinan serta kecintaan berlebih terhadap dunia. Ia memberi maaf ketika memiliki kelebihan dan kelapangan hati dan jiwa. Ia beribadah dengan sepenuh cinta karena memiliki kelebihan kekuatan dan ketetapan hati beriman kepada Allah. Memberikan waktu yang lebih dari biasanya, dari kebanyakan manusia.

Gunakanlah waktu yang Allah berikan dengan sebaik-baiknya. Semoga semua amal kebaikan kita di bulan Ramadan ini. Aamiin

*****

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا. اللهم صل علي سيدنا محمد وعلى آله وصحبه وسلم .اللهمّ اغفر لجميع المسلمين والمسلمات الأحياء منهم والأموات إنك سميع قريب مجيب الدعوات. اللهم تقبل صلاتنا وقيامنا وصيامنا وركوعنا وسجودنا وتلاوتنا وصدقاتنا وأعمالنا، وتمّم تقصيرنا يا رب العالمين. اللهمّ إنك عفو تحبّ العفو فاعف عنا يا كريم. اللهمّ توفنا مسلمين وألحقنا بالصالحين .

Ya Allah, Dzat yang Maha Memuliakan dan Menghinakan, muliakanlah kedua orang tua kami dan guru-guru kami. Wahai Dzat yang memiliki segala kekuatan, berikan kekuatan kepada kami untuk menjaga kebaikan yang Engkau biasakan kepada kami di bulan Ramadan. Anugerahkan kami kelebihan iman dan daya untuk membendung daya rusak hawa nafsu kami.

Ya Rahman, jadikanlah kami jalan kemudahan bagi saudara kami yang kesulitan. Jadikanlah kami jalan petunjuk bagi orang-orang yang mungkin masih tersesat. Jadikanlah kami jalan kebahagiaan bagi saudara kami yang tertimpa sengsara dan derita atau musibah. Jadikanlah kami jalan ketenangan bagi saudara kami yang dilanda gundah gulana. Jadikanlah kami jalan kesejukan di tengah panasnya pertikaian dan perseteruan para manusia. Jadikanlah kami jalan solusi bagi berbagai masalah yang menimpa.

Dzat yang Maha Adil, jadikanlah kami jalan keadilan bagi saudara-saudara kami yang tertindas dan terzhalimi.

Dzat yang Memiliki Cinta, kekalkanlah cinta-Mu di rumah-rumah kami. Teduhkanlah rumah kami dengan mawaddah dan rahmah-Mu. Hadirkanlah sakinah-Mu kepada kami, anak istri, suami kami. Jadikanlah keturunan kami para pelayan al-Quran, para penghafal al-Quran, para pengajar al-Quran, para ahlul Quran yang Engkau muliakan.

Ya Rahman, ampuni tangan-tangan kami masih belum maksimal ulurkan keteduhan untuk anak-anak yatim di sekitar kami

Ya Rahman ampuni mata-mata kami yang belum maksimal kami gunakan untuk menekuri dan rajin membaca ayat-ayat-Mu. Maafkan jika kami masih memandang remeh dan rendah saudara-saudara kami.

Maafkan mulut dan lisan kami yang masih jarang terbimbing berdzikir mengagungkan nama-Mu dan menyucikan Dzat-Mu. Mulut kami kasih kotor dengan gunjingan aib-aib saudara kami. Jari-jari kami masih ringan menuliskan hal-hal yang kurang bermanfaat.

Ampunilah dosa dan khianat mata kami, dosa mulut dan lisan kami, dosa telinga, tangan, kaki serta anggota tubuh kami.

Ampunilah dan maafkan keterbatasan kami dalam berbakti dan berbuat ihsan kepada kedua orang tua kami, guru-guru kami. Ampunilah keterbatasan kami dalam mendidik anak-anak kami. Ampunilah kami yang masih sering menyakiti tetangga dan sahabat-sahabat kami.

Ya Qawiyyu ya Aziz, karuniakan kepada kami para pemimpin yang bertaqwa dan takut kepada-Mu. Bimbinglah agar para ulama kami terlindungi dari fitnah harta dan kekuasaan, kuatkan mereka dalam membimbing kami agar semakin Engkau cintai. Jadikanlah negeri kami, negeri yang aman, makmur dan Engkau ridhai. Tempatkanlah para pahlawan dan pejuang negeri kami bersama para syuhada dan nabi-nabi-Mu. Ya Allah jangan Engkau adzab kami karena perbuatan maksiat dan zhalim orang-orang yang tak menyayangi kami dan orang yang tak mengenal takut kepada-Mu. Berikanlah kami kesempatan untuk bertaubat dan memperbaiki diri.

Ya Allah tautkan selalu kebaikan di hati kami, lekatkan kecintaan pada iman dan jalan-jalan hidayah-Mu. Jauhkanlah dari kefasikan dan jalan-jalan kerusakan yang memudarkan cahaya iman di hati kami. Engkau Maha Tahu bahwa kami berkumpul untuk mencintai-Mua. Kami bersimpuh untuk bersujud pada-Mu. Kami menghiba untuk memohon kepada-Mu. Kami tengadahkan tangan menanti maghfirah-Mu. Kami mengeluhkan ketidakberdayaan kami. Bimbinglah. Teguhkanlah. Kuatkanlah agar kami tak mudah diadudomba oleh setan yang bersekongkol dengan musuh-musuh-Mu.

 

اللهمّ انصر إخواننا المستضعفين في فلسطين وفي سوريا وسائر بلاد المسلمين. رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا. ربنا آتنا في الدنيا حسنة وفي الآخرة حسنة وقنا عذاب النار. والحمد لله رب العالمين

تقبل الله منا ومنكم وكل عام وأنتم بخير وإلى الله أقرب وعلى طاعته أدوم

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Sydney, 01 Syawal 1440 H

               05 Juni 2019M

MANUSIA DAN SEJARAH MASA DEPAN

Saiful Bahri

Hari seperti biasanya, ketika pagi senyum anak-anak merekah menyambut. Mereka telah menyiapkan ucapan selamat ulang tahun dengan kreasi khas anak-anak. Tak lama, karena ada beberapa kesibukan masing-masing.

Kemarin adalah hari yang spesial, sekalipun kegiatan yang memberatkan dan tugas-tugas serta serasa seperti air bah yang mengguyur tanpa pernah tahu kapan berhentinya. Ada dua buku yang menjadi hadiah special hari itu. Keduanya karya seorang Guru Besar sejarah dunia yang relatif masih muda tapi produktif, sebut saja Yuval Noah Harari. Buku pertama berjudul Sapiens, a Brief History of Humankind yang sudah diterjemah lebih dari 20 bahasa. Buku kedua berjudul Homo Deus, a Brief History of Tomorrow. Juga sudah dicetak lebih dari 4 juta eksemplar.

Istri saya membawakannya sebagai hadiah spesial hari itu. Kami berdua berbagi, ia membaca buku pertama dan saya membaca buku kedua. Di beberapa kesempatan kami saling mendiskusikan isinya. Malam sudah larut, saya juga masih harus membuka-buka sebuah draft disertasi yang harus diujikan pagi ini secara tertutup, prodi memberi amanah untuk menjadi bagian dari anggota tim penguji. Tapi rasa penasaran yang tinggi membuat buku tersebut sulit dilepas begitu saja.

Alhamdulillah, hari ini semuanya bisa dilalui dengan lancar dengan bimbingan Allah. Buku Homo Deus pun selesai terbaca.

Kenapa saya penasaran dengan kedua buku tersebut, khususnya buku kedua?

Buku tersebut menerbangkan saya pada linimasa sejarah peradaban umat Islam di salah satu periode emasnya. Mengingatkan saya pada sosok Muhammad bin Ismail al-Bukhori (W. 256 H) seorang pakar hadis yang juga pakar sejarah. Beliau menulis at-Târîkh al-Kabîr, sebuah kompilasi sejarah manusia, yaitu para manusia perawi hadis Nabi Muhammad SAW. Tak lama setelah itu datang Abu Ja’far ath-Thabariy (W. 310), seorang pakar tafsir dan ilmu al-Quran menulis karya berisi sebuah sejarah manusia yang lebih lengkap. Ensiklopedi monumentalnya tersebut berjudul Târîkh ar-Rusul wa al-Mulûk yang membahas sejarah manusia sejak penciptaan hingga berbagai peristiwa yang terjadi di tahun 302 H, atau kira-kira 8 tahun menjelang wafatnya beliau.

Setelah itu ada Ibnu Katsir (W. 774 H) yang memiliki kemiripan dengan ath-Thabary. Pakar tafsir yang juga pakar sejarah tersebut menuliskan sejarah yang lebih lengkap dan tebal dari pendahulunya, magnum opusnya tersebut diberi judul Al-Bidâyah wa an-Nihâyah yang selesai ditulis pada tahun 768 H. Menariknya, Ibnu Katsir ternyata juga menuliskan sejarah masa depan (history of tomorrow), hanya saja perspektifnya sangat jauh mencakup berbagai alam (multiverse) menjangkau alam yang tidak diketahui seperti apa jauhnya. Dalam dua atau tiga jilid terakhirnya beliau menjelaskan sejarah berakhirnya dunia dan hari kebangkitan, berdasarkan sumber teks yang bisa dijangkaunya, ayat atau hadis atau atsar-atsar.

Itulah barangkali yang memantik penasaran saya, untuk segera menuntaskan Homo Deus, a Brief History of Tomorrow.

Harari yang setahun lebih tua dari saya itu, ternyata memiliki kepakaran sejarah yang sangat mumpuni. Data-data, analisis filosofis dan retorisnya sangat memukau sehingga secara tak sadar pembaca mungkin akan terbius dengan bangunan teori evolusinya yang sebagian pernah disampaikan oleh Darwin. Tak banyak yang saya ketahui dari buku Sapiens karena saya belum membaca buku tersebut, hanya tahu dari hasil diskusi beberapa bagiannya dari istri saya.

Dalam Homo Deus, Harari meneropong masa depan manusia dengan data-data kredibel. Ada perbandingan data kelaparan dan data obesitas yang memungkinkan untuk diperkirakan terjadi di tahun 2030. Dengan fasih ia juga mengupas sejarah Firaun dan pembangunan megabendungan danau buatan di Fayoum, saya seolah mengikuti kuliah Egyptology. Tak ketinggalan sejarah perang di masa lalu, termasuk perang salib dan perang-perang yang dianggap sebagai bencana kemanusiaan yang memilukan. Analisis-analisis berbagai revolusi di Rumania sampai di Mesir. Ia juga mengenang masa-masa mengenal internet dan mengoperasikan komputer di masa lalu, kemudian membandingkan dengan kondisi kekinian.

Saya juga membayangkan bagaimana aplikasi GPS Waze mendistribusikan informasi jalanan yang macet dan yang tidak kepada para penggunanya. Karena jalan alternatif yang tak macet bisa jadi akan berubah macet jika semua pengguna Waze diberikan informasi yang sama. Analisis yang smart.

Ia juga berbicara perkembangan pesat kecerdasan buatan dan robot cerdas. Undang-undang dan regulasi tentang binatang serta paradoksal tikus-tikus laboratorium. Analog-analog yang dibangun membuat pembaca (mungkin) akan berkerut untuk kemudian mengangguk-anggukan kepala membenarkan. Teori manusia dan agama misalnya, statemennya yang mengatakan bahwa agama menjadi faktor penting bagi manusia modern, mengalahkan kepercayaan manusia modern pada revolusi industri dan robot-robot yang sudah teruji secara nyata. Membandingkan kerja robot yang tak jarang dipaksa sampai energy terakhirnya, seperti produk industri, computer laptop dan sebagainya.

Harari menyebut, penganut agama-agama termasuk agama Islam, dulunya kreatif, namun kini menjadi reaktif. Saya mengernyutkan dahi sejenak dan melakukan pendekatan introspektif. Tidak salah. Itu memang terjadi. Bangunan opininya tentang radikalisme bisa jadi juga benar, tapi ada unsur lain yang luput dan tak disebutkan, seperti ketidakadilan dan kesewenangan misalnya.

Karena itu, kemudian saya berkesimpulan bahwa sekalipun ia berusaha obyektif, namun subyektifitasnya tetap saja tak bisa ditutupi. Apalagi tentang sejarah. Karena, memang sejarah yang dituliskan dan diwariskan selalu terikat dengan subyektifitas.

Jika ingin tahu subyektivitas yang saya maksud diantaranya, bukan sekedar tentang teori evolusi atau agama yang ditulisnya sebagai ranah netral dan menjadi kebebasan manusia untuk memilih sebebas-bebasnya. Namun, lihatlah tulisannya yang sebenarnya tak banyak, tapi cukup bisa dianggap membangun opini keberpihakan pada pembicaraan Jerusalem, terlepas siapa dia dan buku ini berbahasa asli apa, tapi sejujurnya saya tak tahu apakah ia seorang penganut zionisme atau bukan.

Saya mulai berpikir, apakah ketika saya mencoba memihak kepada Bangsa Palestina yang terjajah, tertindas oleh kesewenangan dengan data-data yang bisa diakses siapa saja berarti saya tak lagi obytektif?

Apakah ketika saya terbatas membantu atau bahkan tak bisa membantu saudara-saudara saya yang terdampak bencana di Lombok, Palu, Donggala, Banten, Lampung dan sebagainya saya juga kehilangan kepakaran saya?

Tetangga-tetangga saya yang sedang sakit atau saudara, teman dan kerabat yang memerlukan bantuan, saya juga masih terbatas mengulurkan tangan menebar optimisme dan kebaikan.

Hiruk pikuk pilpres dan pileg yang tak lama lagi membuat fanatisme brutal saya temui di mana-mana. Etika, kebesaran jiwa, kesantunan bahasa menjadi hilang seketika.

Apakah saya yang juga mendukung salah satu capres dan partai tertentu juga kehilangan kepakaran dan obyektifitas? Saya mencoba menjawab sendiri pertanyaan saya dengan membaca The Death of Expertise nya Tom Nichols. Justru bangunan keilmuan dan kepakaran pada akhirnya akan melahirkan keberpihakan. Jika suatu saat diposisikan untuk menengahi maka, keberpihakan tersebut tidak dinampakkan untuk suatu alasan atau tidak ditonjolkan untuk menjaga perasaan orang atau pihak yang dihadapinya.

Namun, kepakaran dan keilmuan akan mati bila digunakan secara brutal dan fanatik buta. Keduanya juga akan mati, bila dipupuk dengan keangkuhan, kesombongan dan ketamakan.

Ya Rabb, ampuni hamba yang terbatas memaksimalkan anugerah ilmu dan nikmat yang Kau berikan untuk memihak pada orang-orang dan siapapun yang harus dibela dan ditolong.

Ya Rabb, ampuni hamba yang menjadikan kesibukan sebagai tameng untuk berkarya dan menutupi ketidakberdayaan di tengah kehidupan yang makin dicengkram hedonistic

Ya Rabb, tolonglah orang-orang lemah dan terzhalimi di manapun mereka berada.

 

Jakarta, 17.01.2019

Bertambah usia, berkurang umur

 

Sinyal-Sinyal Kekuasaan Allah di Hari Lahir Nabi SAW

Saiful Bahri

Dalam al-Bidayah wa an-Nihayah, Ibnu Katsir menuturkan beberapa kisah ajaib yang membersamai kelahiran manusia agung, Muhammad SAW. Di antaranya, padamnya api abadi Kaum Majusi di Persia. Istana Kisra Persia tergoncang sehingga beberapa balkon -yang dituliskan Ibnu Katsir sebanyak 14- di antaranya rusak, sebagiannya terjatuh dan roboh. Peristiwa-peristiwa tersebut bagi sebagian orang adalah kejadian biasa, terutama para penganut madzhab matrealisme dan nihilisme, sebagaimana bencana alam atau musibah, akan dianggap sebagai peristiwa alam yang lumrah dan sangat biasa. Namun, sebagai kaum beriman tak ada peristiwa alam yang tak direncanakan oleh Allah. Semuanya berjalan sesuai dengan kehendak-Nya. Tak sedikit dari para alim mengaitkan beberapa peristiwa tersebut dengan istimewanya kelahiran sang calon nabi terakhir ini. Menurut mereka, itu adalah sinyal-sinyal kekuasaan Allah yang dikirimkan bagi manusia supaya segera menyudahi kezhaliman dan kejahilan mereka.

Adapun al-Quran memberikan nuansa lebih sejuk dan dahsyat. Firman Allah SWT, “…Sesungguhnya telah datang kepadamu cahaya dari Allah, dan Kitab yang menerangkan.” (Surah al-Mâ’idah: 15)

Yang dimaksud lafazh “nûr” ini menurut para mufassir adalah Rasulullah SAW. Beliau adalah cahaya yang dikirim Allah untuk mengeluarkan manusia dari kegelapan (zhulumât) menuju terangnya cahaya (nûr) petunjuk Allah. Kegelapan yang dimaksud adalah perilaku menyimpang manusia, persekutuannya dengan para musuh Allah, penghambaan kepada materi dan benda, kezhaliman yang mereka lakukan.

Isyarat-isyarat kemahakuasaan Allah juga tergambar jelas saat beliau ikut turun langsung menggali parit saat menghadapi konspirasi aliansi kuffar pada perang Ahzab. Beliau memberi kabar optimisme dengan tiga percikan yang mengisyaratkan futuhat Islamiyah di masa mendatang, ke Yaman, Persia dan Romawi.

Maka, sebagai manusia yang memiliki akal seharusnya peristiwa alam yang Allah hadirkan di hadapannya menjadikannya lebih arif dan bijak menyikapinya. Terutama dengan penyikapan yang berbasis iman. Maka, carut marutnya dunia saat ini bagi orang beriman bukanlah sebagai berita buruk semata, namun hal tersebut akan semakin merapatkannya kepada Allah. Kisah-kisah kezhaliman yang terjadi semakin merajalela pun tak menyurutkan nyali untuk tetap melawannya dan menumbangkannya.

Kisah penyerangan pasukan Zionis Israel yang terakhir ke Gaza, adalah sinyal kuat dahsyatnya kekuasaan Allah. Rakyat lemah yang diembargo dan diblokade lebih dari sepuluh tahun itu sudah tentu akan dianggap ringkih dan underestimate. Nyatanya, mereka sanggup membalas roket dengan roket, serangan dengan serangan yang membuat mereka menyerah di luar perkiraan siapapun. Sekalipun sebagian besar roket tersebut hanya selongsong saja, tetaplah hal tersebut merupakan sinyal bahwa perlawanan terhadap penjajahan takkan pernah berhenti.

Ketika isu-isu terorisme dan radikalisme yang dikaitkan dengan Islam menjadi “dagangan” kampanye pemilu di berbagai belahan dunia, justru hal tersebut menjadi promosi gratis yang bombastis. Lihatlah perkembangan Islam di Eropa dan sikap para pemegang kebijakan serta tak sedikit dari para politisi di benua biru yang mulai jengah dengan Islamphobia.

Kelahiran nabi agung nan mulia ini bagi umat Islam adalah cahaya penuntun perjuangan untuk menumbangkan kezhaliman dan mengusir penjajahan. Agar tak ada lagi penindasan di muka bumi dan tak lagi ada darah manusia yang ditumpahkan tanpa dosa.

Khutbah Jumat Isra Mi’raj: Misi Menghadirkan Keberkahan dan Menumpas Kezhaliman

Dr. H. Saiful Bahri, M.A

الحمد لله القائل «سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَىٰ بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ»، أشهد أن لا إله إلا الله، وأشهد أنّ محمّدا رسول الله، اللهم صل وسلم عليه وعلى آله وأصحابه. فيا عباد الله أوصي نفسي وإياكم بتقوى الله فقد فاز المتقون. أما بعد

_Kaum Muslimin, jama’ah shalat jumuah rahimakumullah_

Marilah kita syukuri nikmat Allah SWT yang sangat melimpah. Diberikan kepada kita, baik diminta ataupun tidak, disadari atau tidak, bahkan disyukuri atau tidak. Dalam berbagai kondisi makhluk-Nya, Allah senantiasa anugerahkan nikmat-Nya tanpa memilah-milih. Hanya rasa syukur yang membedakan posisi seorang hamba di sisi-Nya. Namun, hanya sedikit yang mampu melakukannya. Semoga kita termasuk hamba-Nya yang bersyukur. Hamba yang dibersamai Allah dalam segala kondisi. Suka maupun duka. Sedih dan gembira, dalam keadaan sendiri ataupun bersama.

Salah satu karunia dan nikmat Allah yang besar yang dikaruniakan kepada Nabi Muhammad SAW adalah perjalanan Isra dan Mi’raj. Seperti yang kabarkan Allah pada awal surah al-Isra’.

Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al-Masjidil Haram ke Al-Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami.” (Al-Isra’: 01)

Ayat di atas menjelaskan keterkaitan antara Masjid al-Haram dan Masjid al-Aqsha. Dua masjid penting umat Islam. Allah transitkan Nabi Muhammad saw di Masjid al-Aqsha sebelum mi’raj ke langit dan sidratul muntaha, padahal Dia mampu memberangkatkan beliau langsung tanpa transit. Terdapat isyarat penting tentang Masjid al-Aqsha.

Pertama, Allah ingin tunjukkan posisi penting kedua masjid yang disebut dalam ayat ini.

Kedua, Allah mengabarkan keterkaitan semua risalah di bumi-Nya dengan eksistensi bumi yang diberkahi tersebut. Orbit risalah keberkahan itu –di antaranya– berasal dari tempat itu.

Ketiga, Allah hanya akan wariskan bumi yang diberkahi tersebut kepada kaum yang beriman, dari kalangan mana pun, tanpa membedakan jenis kelamin dan etnis mereka.

Penaklukan (futuhât) Masjid Al-Aqsha di era amirul mukminin Umar ra, memberikan nuansa cerita perjuangan yang berkesinambungan. Sekaligus menggambarkan bahwa pembebasan Masjid al-Aqsha dan al-Quds tidak bergantung pada figur personal –saja– tetapi lebih kepada keshalihan kolektif.

_Kaum Muslimin, jama’ah shalat jumuah rahimakumullah_ …

Tak ada sedikit pun yang meragukan keshalihan personal Nabi Muhammad SAW, sebagaimana tak terjadi perbedaan pendapat tentang keshalihan generasi pertama (para shahabat). Tetapi, tentu ada hikmah lain yang dikehendaki Allah, terjadinya pembebasan al-Quds dan dikembalikannya Masjid al-Aqsha ke tangan umat Islam justru terjadi setelah wafatnya Nabi Muhammad SAW.

Di antara hikmah tersebut adalah kesinambungan ruh dan jiwa serta keimanan. Karena, faktanya bahwa Masjid al-Aqsha hanya akan diwariskan kepada orang-orang yang beriman saja. Demikian ditegaskan oleh Allah dari sejak diutusnya para nabi hingga kaum-kaum beriman yang mengikutinya.

Lihatlah Nabi Luth yang disertai pamannya, Nabi Ibrahim ketika Allah selamatkan dari siksa pedih yang akan ditimpakan kaumnya, hujan batu dan dibalikkannya tanah tempat mereka berada.

(وَنَجَّيْنَاهُ وَلُوطًا إِلَى الْأَرْضِ الَّتِي بَارَكْنَا فِيهَا لِلْعَالَمِينَ ﴾ (الأنبياء: 71)

Kata (الذي باركنا فيها) “sebuah negeri yang Kami berkahi” penggunaan yang senada seperti dalam peristiwa isra’. Ini juga disebutkan saat Allah akan menyelamatkan Nabi Musa dari kejaran Firaun dan tentaranya (Surah al-A’raf: 137), atau disebut sebagai tanah suci “al-ardhu al-muqaddasah”(Surah al-Maidah: 21), yaitu Baitul Maqdis atau Palestina saat ini.

Dalam kisah Nabi Sulaiman yang diberi mukjizat angin oleh Allah, juga pernah berkunjung ke negeri yang diberkahi tersebut seperti dituturkan dalam Surah al-Anbiya’ ayat 81.

_Kaum Muslimin, jama’ah shalat jumuah rahimakumullah_

Masjid al-Aqsha adalah tempat sujud tertua kedua di dunia setelah Masjid al-Haram. Adamlah manusia pertama yang injakkan kakinya di sana, seorang nabi muslim yang beriman kepada Allah dan esakan-Nya.

Demikian dilanjutkkan keturunan Nuh, Ibrahim, Luth. Bahkan sampai saat keturunan Ya’qub ke tanah suci ini Masjid al-Aqsha dijaga oleh orang-orang yang beriman. Hingga datang saatnya Masjid al-Aqsha dikuasai orang-orang zhalim yang berbuat kerusakan dan menebar kemungkaran yang disebut oleh al-Quran dengan sebutan “qauman jabbârin”. Musa alaihissalâm dititahkan Allah memasukinya dan mengambil alih kendali kepemimpinan dan kemakmuran di tanah suci tersebut. Sayangnya titah tersebut dibantah oleh kaumnya. Dan Allah menghukum mereka. Bahkan mengharamkannya untuk selama-lamanya (menurut sebagian mufassirîn).

Allah juga kirimkan Dawud ‘alaihissalâm pemuda berusia belasan tahun yang hanya seorang penggembala kambing yang tergabung dalam pasukan yang dipimpin Thalut. Seorang pemuda muslim yang beriman ini bahkan tak dikenal siapa-siapa. Ia hanya seorang prajurit biasa sebagaimana yang lainnya. Tetapi kisahnya berubah setelah Allah mengakhiri rezim Jalut melalui dirinya. Ia menjadi pewaris mulia yang kemudian ditahbiskan menjadi seorang raja.

Allah juga kirim Zakariya dan putranya Yahya di tanah suci ini. Sepasang bapak anak yang nabi ini juga keponakannya Isa al-Masîh Allah kirim ke tanah suci. Tapi justru ketiganya diburu dan menjadi target pembunuhan oleh bangsa Yahudi saat itu. Dua yang pertama Allah takdirkan terbunuh sebagai syahid di tangan para durjana, sementara Isa Allah selamatkan dan angkat ke langit-Nya.

Tanah suci Bait al-Maqdis merupakan tanah yang –hanya– diwariskan oleh Allah hanya kepada siapapun dari hamba-Nya yang beriman, dari mana pun asalnya, tanpa diskriminasi kesukuan dan etnis serta jenis kelamin.

_Kaum Muslimin, jama’ah shalat jumuah rahimakumullah_

Penjagaan, pemeliharaan, jihad mempertahankan kesuciannya dan seterusnya tidaklah hanya menjadi tanggungjawab nabi-nabi, melainkan menjadi tanggung jawab semua orang beriman yang mengesakan Allah dan bersaksi bahwa Muhammad SAW sebagai utusan-Nya di mana pun, berasal dari mana pun, berlatar belakang apapun. Maka permasalahan al-Aqsha dan al-Quds tidaklah tereduksi hanya menjadi masalah bangsa Palestina, tetapi ini menjadi masalah universal seluruh umat Islam, lintas geografi, etnis bahkan lintas generasi, sampai tanah suci tersebut kembali kepada umat Islam. Keesaan Allah benar-benar ditegakkan di sana.

Unjuk rasa yang terjadi akhir-akhir ini di Palestina sejak 30 Maret 2018 yang sudah memakan korban jiwa tak sedikit, bukan sekedar memperjuangkan hak kembali ke tanah air mereka. Bukan sekedar permasalahan tanah. Namun, ini adalah misi menumpas kezhaliman dan mengakhiri penjajahan yang secara terang benderang dipertontonkan, tapi dunia seolah tak berdaya menghadapinya. Kita harus mendukung Bangsa Palestina memperoleh hak kemerdekaannya sekaligus menjaga Masjid Suci umat Islam. Menghadirkan kembali cinta dan kasih sayang di bumi yang diberkahi, jauh dari penindasan dan kezhaliman yang semena-mena.

Kita harus belajar inspirasi kemenangan dari Khalifah Umar bin Khattab saat memasuki kota suci dengan kepala tegak, namun tanpa keangkuhan. Penuh tawadhu dan kesederhanaan. Mengundang decak kagum dan penghormatan. Sarat dengan kesantunan dan toleransi, penuh penghayatan jiwa kemanusiaan sekaligus menjadi penjaganya dari segala bentuk kezhaliman, apapun namanya, siapapun pelakunya .

Simaklah apa yang dilakukan Umar saat memasuki kota al-Quds.  Umar bin Khattab minta ditunjukkan oleh Pendeta Sophronius letak Masjid al-Aqsha, tempat yang dijadikan ahlul kitab beribadah. Setelah memasukinya ia bertakbir “Inikah masjid yang diberitahu oleh Rasulullah SAW?”, gumamnya. Waktu itu Masjid al-Aqsha  hanya merupakan pelataran dan tanah lapang yang luas. Sentrumnya berupa sebuah batu mulia yang menjadi pijakan Nabi Muhammad SAW saat hendak mi’raj, yang dijadikan kiblat shalat Nabi Musa dan kaumnya Bani Israil.

Beliau ingin melanjutkan tradisi sentralisasi masjid. Masjid dijadikan sebagai pusat peradaban. Dari masjid semuanya beliau ingin memulai. Maka di masjid itulah titik temu semua sendi peradaban Islam. Politik, ekonomi, kehidupan sosial, hukum, bahkan militer semua bermula dari tempat sujud. Ruh inilah yang saat ini digugat oleh kaum sekuler liberal yang ingin melunturkan ruh Islam agar jauh dari fisik umat Islam. Tak heran bila mereka mendengungkan agar Islam dan masjid sebagai ikonnya dijauhkan dari berbagai aspek kehidupan manusia. Seolah ingin dikatakan bahwa masjid hanya menjadi tempat shalat dan membaca al-Quran saja.

Saat Umar memasuki bait al-Maqdis dari al-Jabiyah untuk menandatangi piagam perdamaian dengan penduduk kota, Pendeta Sophronius mempersilakan dan memohon kepada beliau melakukan shalat di Gereja al-Qiyamah. Tetapi Umar menolaknya. Beliau mengatakan , “Jika aku shalat di dalamnya, aku khawatir orang-orang setelahku akan mengatakan ini mushalla Umar, kemudian mereka akan berusaha membangun masjid di tempat ini”. Itulah toleransi sesungguhnya yang diajarkan Umar. Santun dan argumentatif.

جعلنا الله وإيّاكم الذين يستمعون القول فيتبعون أحسنه. بارك الله لكم في القرآن الكريم ونفعنا وإياكم من الآيات والذكر الحكيم. استغفر الله العظيم لي ولكم ولسائر المؤمنين. استغفروه إنه هو الغفور الرحيم

Menyambut Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad saw.
Jakarta, 11.04.2018

LONDON TO MANCHESTER: Inspirasi al-Quran dan Rekayasa Kebaikan Sosial

Ini adalah kedatangan saya kali pertama di United Kingdom. Adalah Keluarga Islam Indonesia di Britania Raya (KIBAR) yang mengundang saya sebagai narasumber dalam KIBAR Autumn Ghathering 2017 di kota Sheffield. Datang di Heathrow Airport yang dikenal sebagai salah satu bandara tersibuk di dunia tak membuat saya merasa asing, karena perlakuan friendly petugas imigrasi dan seorang police officer yang sebenarnya juga menginterogasi saya, tapi dengan cara yang sangat elegan. Berbincang bagaikan seorang sahabat dekat menanyakan background studi saya, beberapa acara saya di beberapa negara yang tercantum di dalam lembaran paspor, serta tentunya rangkaian acara saya selama di UK.

Pak Eko, salah seorang profesional Indonesia yang bekerja di salah satu provider telekomunikasi di Inggris, menjemput saya dan kemudian mengantarkan ke Wisma Merdeka. Mas Ceri sekeluarga sudah menunggu di sana. Sangat homing rasanya, berasa di rumah sendiri karena sambutan yang hangat di Wisma. Kebetulan juga ada beberapa orang yang sedang menginap di Wisma, Mas Bayu dan Mbak Hasnul yang ternyata adalah istri dari senior saya di Universitas al-Azhar di Cairo, Mas Willy.

Setelah Shalat Jumat, saya benar-benar merasakan jetlag berat. Alhamdulillah setelah badan segar, Pak Eko kembali menjemput saya untuk berangkat ke KBRI. Kembali bereuni dengan Pak Thomas dan Bu Leni serta bisa bersilaturahim dengan sebagian warga Indonesia di London. Kajian keislaman yang dipandu oleh Mas Maulana dimulai setelah shalat Isya bersama dan dinner. Usai pengajian di KBRI, ditemani Pak Eko, Mas Bayu dan Mbak Hasnul kami sempat mengabadikan gambar di Tower Bridge dan Istana Buckingham, juga menyusuri Sungai Thames dengan view indah London Eye yang memantulkan warna-warni cahayanya. Gedung Parlemen dan Big Ben yang terkenal itu juga alhamdulillah sempat terabadikan dalam gambar. Sebuah kunjungan singkat di London yang penuh suasana keakraban.

Sabtu pagi, saya meneruskan perjalanan ke kota Birmingham. Merupakan kehormatan bagi saya diantar ke stasion untuk melanjutkan perjalanan, oleh seorang seperti Mas Ahmad Ataka  yang low profile, beliau adalah Ketua PCI NU di UK.

Di Birmingham, Mas Abdurrauf dan Mas Erdu menyambut dengan penuh kehangatan. Suasana hujan berlanjut tidak menyurutkan para mahasiswa dan warga Indonesia untuk berdiskusi dan melaksanakan kajian bulanan di University of Birmingham. Dari Birmingham saya melanjutkan perjalanan ke Newcastle. Pak Saiful dan Pak Abram sudah menunggu di stasion sebelum kedatangan saya. Sebagaimana di tempat sebelumnya, di kota ini saya juga menyempatkan diri merekam sebuah tausiyah video pendek bertajuk Puzzle Kesalihan. Pak Indra merekamnya secara profesional dan bak sutradara sebuah film pendek.

Cuaca cukup drop hingga mencapai minus satu. Saat kami keluar ke masjid untuk melaksanakan shalat shubuh, terlihat mobil-mobil diselimuti es. Bagaikan berada di dalam freezer kulkas. Judulnya autumn, namun suasananya sudah sangat layak untuk disebut winter, musim dingin.

Usai Newcastle, perjalanan saya berlanjut ke Scotland, tepatnya di kota Edinburgh. Kota yang sangat eksotik dengan banyak pilihan view untuk diabadikan di dalam gambar. Begitu keluar dari Waverley Station, kecantikan alam terpampang sepanjang mata memandang. Sangat wajar jika sahabat saya, Kang Abik sangat terinspirasi “menjerumuskan” tokohnya Fakhri dalam Ayat-Ayat Cinta 2 untuk mengajar di kampus tua University of Edinburgh. Alhamdulillah, meski sudah lewat castingnya, saya pun merasakan “pura-pura” mengajar di salah satu ruang perkuliahan Departemen Biologi di kampus University of Edinburgh. Sebenarnya jika dihitung jarak, sudah sangat jauh berjalan kaki sejak kedatangan di pertengahan hari dari Newcastle. Pemandangan yang indah dan diguide oleh Mas Relly yang sangat detil menjelaskan, menjadikan suasana sangat menyenangkan.

Dari Edinburgh, saya menuju ke Nottingham. Di sebuah stasiun kecil, Beeston Mas Fauzi sudah menunggu. Saya langsung di bawa ke kampus utama University of Nottingham. Mas Taufik menyambut dengan penuh keramahan setelah shalat Zhuhur, kami mencicipi makanan khas Pakistan di salah satu kantin kampus yang menyediakan makanan halal. Usai makan, kami bergerak ke Wollaton Park. Di sana terdapat rumah tua yang tampak kokoh namun tak lagi berpenghuni seperti istana yang sangat eksotik, terlebih dengan pencahayaan petang dan suasana temaram senja. Terdapat museum di sekitar rumah dan taman tersebut, sayangnya waktu sudah terlalu petang, hingga kami belum sempat memasuki museum tersebut. Sedikit berhujan-hujan, kami bertiga juga menyempatkan merekam sebuah video pendek serial Rekayasa Kebaikan Sosial. Kali ini tema yang diangkat adalah tentang Perusak-Perusak Ukhuwah dan Cinta.

Kami bertiga kembali ke kampus, menuju Fakultas Hukum dan Ilmu Politik. Rasanya pemilihan tempat yang cocok, karena diskusi yang diangkat cukup berat dan menarik antusiasme para mahasiswa yang kebanyakan sedang menempuh program S3. Kajian tematik ayat-ayat jihad di dalam al-Quran, itulah tema diskusi kajiannya. Tema yang berat, namun suasana kekeluargaan dan dialogis menjadikan tema tersebut mengalir didiskusikan dengan banyak perspektif.

Dari Nottingham, saya melanjutkan perjalanan safari dakwah ke Durham. Sebuah kota kecil yang separuh lebih penghuninya adalah para mahasiswa dan akademisi. Mas Momo dan Pak Hassan Alatas serta Irfan menyambut saya seolah seperti saudara. Ditemani dengan suguhan cappucino hangat kami bertukar wawasan dan berkenalan lebih detil. Pak Hassan dan Mas Irfan memisahkan diri sambil membawakan koper saya. Mas Momo dan saya menyusuri River Wear dan jalanan-jalanan sepanjang kampus Durham University. Di dekat sebuah katedral tua, kami mengabadian sebuah tausiyah pendek bertajuk Peradaban Ilmu. Hampir semua mahasiswa Indonesia di Durham belajar Islamic Finance. Durham University menjadi referensi dan rujukan internasional di bidang Ilmu Ekonomi Syariah? Itulah sisi lain yang sangat menarik di kota ini.

Dari Durham saya menuju Leeds. Pak Agung dan Pak Farid menyambut saya di stasiun Leeds. Kami melaksanakan shalat zhuhur di sebuah mushola yang terletak di salah satu shopping and leisure centre, Trinity yang dibuka di akhir Maret 2013.

Paduan layout bangunan tua dan modern kampus University of Leeds membuat saya terkagum-kagum. Di kampus yang sudah ada sejak 1831 ini, dengan dipandu Mas Bekti, kami mendiskusikan tentang alam dan manusia yang sama-sama serba berpasangan. Allah menjadikan manusia sebagai imam bagi alam untuk bertasbih kepada-Nya. Alam belajar dari kehidupan berpasangan manusia . Maka malaikat dan jin diperintahkan Allah bersujud pada Adam, serta gunung dan burung-burung serta alam diminta Allah untuk bertasbih mengikuti Dawud as. Beristirahat di Leeds, saya menginap di rumah Mas Zain Maulana, Ketua PCI Muhammadiyah UK.

Seperti biasanya, pagi hari saya segera bergerak untuk berpindah kota. Saya meneruskan perjalanan ke York. Salah satu kota tua di Inggris, sangat wajar bila kemudian saya bertanya-tanya tentang hubungan kota York dengan kota New York di Amerika Serikat. Ternyata sangat berhubungan dan memiliki inspirasi terbangunnya sebuah kota York yang baru di sana. Ketua KIBAR, Mas Dick Maryopi menyambut saya di stasiun York.

Setelah itu bersama Mas Ismu, dan putranya Adam kami menuju University of York untuk mengikuti pelaksanaan shalat Jumat. Khatib Jumat menjelaskan urgensi belajar Bahasa Arab. Uraian detilnya mengenai berbagai vocabulary dan struktur bahasa, bisa jadi menyulitkan sebagian orang yang mendengarkan khutbahnya. Namun, cara memotivasi jamaah untuk belajar Bahasa Arab sangat luar biasa.

Suasana kajian keislaman di kota York sangat kekeluargaan. Dilaksanakan langsung di kediaman Ketua KIBAR, Mas Yopi kami membahas tentang Rumah Laba-Laba, Rumah Tanpa Cinta.

Setelah beristirahat cukup, Sabtu pagi bersama keluarga Mas Ismu saya menaiki kereta menuju Sheffield untuk menghadiri acara utama KIBAR Autumn Gathering 2017. Sebuah acara yang dijadikan momen untuk berkumpul oleh mahasiswa dan warga Indonesia muslim khususnya yang ada Inggris. Acara yang berada di Madina Mosque ini dimulai dengan bacaan al-Quran Mas Ataka yang diteruskan Sambutan Ketua KIBAR, Mas Yopi. Bapak Dubes RI untuk Kerajaan Inggris Raya dan Irlandia, Dr. Rizal Sukma juga berkesempatan memberikan sambutan sekaligus membuka acara KIBAR Autumn Gathering 2017.

Acara ini dibagi menjadi tiga sesi. Sesi pertama yang bertemakan Memahami dan Menadabburi al-Quran, saya di damping oleh Pak Bernardi, akademisi dan dosen di salah satu universitas ternama di kota Sheffield.

Sesi kedua yang dimoderatori Pak Daru salah seorang sesepuh warga Indonesia di Leeds, membahas tema tentang berbagai dimensi kemukjizatan Al-Quran dan pada sesi ketiga tema tentang Motivasi al-Quran saya sampaikan dengan didampingi Bapak Muhammat Tafsir, salah seorang Profesional yang bekerja di Airbus, Bristol.

Di sela-sela acara ini juga diselingi presentasi dari Indonesian Islamic Centre di London, dan sponsor acara Lembaga Kemanusiaan PKPU dan Human Aid Initiative.

Acara-acara seperti ini menjadi sangat spesial, karena mempertemukan banyak orang di dalamnya. Anak-anak pun bahkan ada yang menunggu-nunggu momen bertemu temannya yang hanya terjadi selama dua kali dalam setahun. Demikian pula seperti Pak Junaedi dari Bristol, salah seorang alumni IPTN yang sekarang bekerja di Airbus, menjadikan momen ini untuk mengumpulkan anak-anaknya yang tersebar di berbagai tempat di Inggris. Beliau menyewa tempat untuk bereuni dengan semua anggota keluarganya selama dua hari weekend kali ini. Subhânallâh.

Usai acara kami bergerak menuju kota Manchester. Dengan menaiki kendaraan mobil, salah seorang senior warga Indonesia Pak Iwan langsung yang membawanya. Mengantarkan kami melewati bukit-bukit. Karena memang kota Sheffield dikelilingi tujuh perbukitan dengan pemandangan yang indah. Tepat jam 00.20 kami tiba di kediaman Pak Iwan di Manchester.

Satu hal yang menarik bahwa penyebaran Islam di UK ini cukup merata di banyak kota, demikian halnya pelajar dan mahasiswa Indonesia yang mungkin jumlahnya bisa jadi lebih sedikit dari yang berada di Mesir atau Australia, tapi mereka menyebar ke pelosok-pelosok Negeri Inggris di wilayah selatan hingga ke Skotlandia, terutama para mahasiswa yang muslim mereka masih mempertahankan identitas dan ukhuwahnya dengan baik di tengah suasana heterogen yang penuh nuansa toleran dan cenderung akomodatif terhadap umat Islam dan berbagai aktivitasnya. Kasus-kasus teror di London dan Manchester misalnya, hanyak menjadi bagian riak-riak kecil dalam dinamika kehidupan sosial. Terkadang, media memiliki peran dalam menghadirkan ketakutan, atau menumbuhkan optimisme dalam melawan teror dan menyampaikan fakta secara proporsional. Islam agama yang ramah, baik di saat menjadi kuantitas minoritas ataupun ketika mereka menjadi mayoritas. Alhamdulillah, keluarga muslim Indonesia di UK yang tergabung di KIBAR bisa membuktikannya. Para mahasiswanya berprestasi dan memiliki survivalitas serta produktivitas karya, para profesionalnya juga memberi bukti kemanfaatan meski bukan sebagai warga negara Inggris. Cerita sulitnya mencari makanan halal, sepertinya tak lagi pernah menjadi tema perbincangan. Masjid dan pusat-pusat kajian keislaman, sangat mudah dijumpai di mana-mana. Bahkan, perkuliahan internasional tentang Islamic Finance berada di negeri ini. Rasanya, tak berlebihan berharap dan berdoa bahwa Islam akan terintegrasi dengan sendirinya di Inggris dan dataran Benua Eropa. Suka atau tidak, penyebaran Islam akan semakin merata dan bertambah populasinya. Tinggal mengemasnya dengan kemanfaatan yang lebih besar bagi masyarakat, saatnya membangun kepemimpinan dengan peradaban ilmu, akhlak dan kehidmah kemanusiaan.

Satu hal menarik yang saya belajar dari Inggris adalah caramenyajikan (packaging). Pendidikan yang dikemas sangat baik menjadi sebuah industri yang mahal. Namun, meskipun mahal hal tersebut justru menjadi daya tarik yang menyedot ribuan mahasiswa untuk dimanjakan di kampus dengan berbagai fasilitas, baik sarana fisik, administrasi, kesitimewaan hingga SDM dosen dan pengajar yang kapabel di bidangnya. Tak kalah menariknya adalah ketersediaan prayer room khusus untuk muslim student yang tersedia dengan baik di berbagai kampus di Inggris. Mereka tahu bahwa umat Islam juga pasar, terutama orang-orang Arab dari teluk yang kaya raya. Selain, memang karena banyaknya umat Islam dari Pakistan dan Bangladesh atau India. Maka, secara umum fasilitas keislaman sangat mapan dan baik di negeri ini. Jurusan-jurusan keislaman bukannya tidak ada yang baik di negeri-negeri Arab, tapi Inggris mencoba bersaing di kelasnya. Sebut saja, Durham yang tergolong baru, menjadi salah satu kota tujuan para pengkaji dan student yang menekuni Islamic finance.

Demikian halnya sebuah permainan sepak bola yang sekilas hanya mainan, disulap menjadi sebuah industri raksasa yang menyedot peminat sepakbola, dari sejak investor, para pemain hingga media dan berbagai hal yang terkait dengan sepak bola.

 

Saatnya saya harus kembali ke tanah air, untuk melanjutkan aktivitas. Meneruskan semangat dan inspirasi al-Quran agar tetap selalu hidup di tengah keluarga dan kemudian sebanyak mungkin masyarakat yang ada.

Secara khusus saya ucapkan terima kasih kepada KIBAR, terutama ketua dan pengurusnya juga para sesepuhnya yang memberikan kesempatan saya untuk bersilaturahim di Britania Raya, meski belum sempat berkunjung ke beberapa wilayah karena keterbatasan waktu. Demikian juga kepada PKPU dan Human Aid Initiative serta KBRI. Tak lupa kepada lokaliti-lokaliti, majelis pengajian di London, Brimingham, Newcastle, Edinburgh, Nottingham, Durham, Leeds, York, Sheffield dan Manchester. Juga keluarga muslim di Bristol, mohon maaf belum bisa berkunjung ke sana. Juga beberapa lokaliti lainnya yang belum berkesempatan berjumpa. Bahagia rasanya bisa berbagi sedikit ilmu yang Allah berikan, ditukar dengan hangatnya ukhuwah dan cinta serta pengalaman yang sangat dahsyat para mahasiswa dan warga Indonesia di Inggris.

 

Jelang Take Off, Manchester International Airport

Manchester, 12.11.2017

Saiful Bahri

SPIRIT HIJRAH DI SYDNEY


Ini adalah Ramadan pertama saya ke di Australia. Juga mengulangi menjalani bulan Ramadan di saat musim dingin seperti ketika pertama kali saya belajar di Mesir, di negeri Musa dan para nabi ‘alaihimussalâm.

Adalah CIDE (Centre for Islamic Dakwah and Education) yang bermarkaz di Sydney yang mengundang saya untuk menjalani rangkaian kegiatan ibadah selama bulan Ramadan di Australia, dengan base camp Masjid al-Hijrah yang terletak di Tempe, Sydney, New South Wales, Australia. Masjid al-Hijrah didirikan sebagai sarana silaturahim dan tempat aktivitas komunitas umat Islam Indonesia di Sydney khususnya.

Menilik sejarah, pada tahun 1974, komunitas Muslim Indonesia di Sydney membentuk sebuah organisasi dakwah yang diberi nama LDPAI (Lembaga Dakwah Pendidikan Agama Indonesia), organisasi ini diprakarsai oleh KJRI (Konsulat Jenderal Republik Indonesia) Sydney. Kemudian pada tahun 1985/1986 organisasi ini berganti nama menjadi Central Islamic Dakwah and Education (CIDE). Secara organisatoris lembaga ini tak lagi memiliki hubungan secara langsung dengan KJRI. Pada saat itu organisasi ini belum mempunyai tempat kegiatan sendiri, karena itulah masih menumpang di masjid milik komunitas Malaysia (Masjid Zetland).

Pada tahun 1991 pengurus CIDE mempunyai inisiatif untuk membeli sebuah bangunan untuk dijadikan sebuah masjid sebagai pusat ibadah dan pusat kegiatan, maka pada tahun tersebut dibeli sebuah bangunan bekas sebuah Gereja bernama Jehovah Witness Church yang dijual karena sudah tidak dipergunakan lagi. Bangunan bekas gereja tersebut diubah fungsinya menjadi sebuah masjid, dengan mengubah beberapa bagian dalamnya. Bagian mimbar untuk khotbah Gereja dijadikan kantor (sekretariat), sedangkan mimbar dan tempat shalat Imam dipindah di bagian tengah sebelah barat menghadap arah kiblat shalat. Bangunan masjid ini kemudian diberi nama Masjid al-Hijrah. (https://www.cide.org.au/web2/who-we-are/)

Bertemu dengan para orang tua dan mendengar liku-liku mereka saat datang pertama kali ke Australia, rasanya penamaan masjid ini sangat tepat. Para sesepuh seperti Buya Rizal, Pak Lui Irfandi, Pak Muslimin, Pak Syawal, Pak Aan, juga Pak Lutfi Sungkar dan banyak nama yang tak bisa saya sebut kansatu persatu. Anak-anak muda sudah seharusnya belajar dari kegigihan mereka. Bukan hanya kegigihan survivalitas mereka, tetapi keteguhan dalam memegang prinsip beragama. Sehingga bisa mengubah keadaan dan mempertahankan prinsip akidah yang benar. Secara usia barangkali saat ini yang aktif di masjid adalah generasi kedua yang sebagian besarnya sudah jauh lebih mapan dan lebih baik survivalitasnya jika dibanding para pendahulu. Meskipun demikian, tantangan zaman tetaplah sesuai waktunya. Generasi muda sekarang memiliki tantangan yang tak ringan mempertahankan idealisme dalam beragama dan menjalankan perintah Allah.

Karena itulah mendekatkan diri dan keluarga ke masjid adalah sebuah keniscayaan yang perlu dilakukan secara masif dan bersama-sama. Untuk itulah Masjid al-Hijrah menjadi pertemuan semua keinginan mempertahankan diri, identitas akidah dan berbagai tradisi baik. Perbedaan sebagian kultur yang bertentangan dengan agama perlu wadah untuk menyikapinya. Masjidlah tempat terbaik untuk itu.

Menariknya, ada fenomena menarik sekaligus menggembirakan dengan lahirnya generasi ketiga. Satu sisi sebagian mereka kesulitan untuk berkomunikasi dengan bahasa Indonesia yang lancar dan baik. Namun, sisi baiknya adalah tak sedikit sudah mulai banyak yang menghafal al-Quran dengan variasi. Ada yang sudah hafal satu atau dua juz al-Quran. Ada yang hafal 5 juz, ada pula yang sudah 10 juz, bahkan di antara mereka ada yang sudah menyelesaikan hafalan al-Qurannya secara sempurna yaitu 30 juz.


Secara pribadi saya sangat bahagia bisa kembali ke Sydney untuk kedua kalinya setelah musim spring lalu CIDE melalui Pak Ichsan, presiden CIDE mengundang saya untuk berkunjung dan berbagi ilmu yang diberikan Allah di Masjid al-Hijrah ini.

Ramadan kali ini menjadi semakin special, karena saya juga memiliki tandem dakwah yang luar biasa. Teman sekaligus guru saya, Ust. Dr. H. Agus Setiawan, Lc, M.A.

Itulah nikmat Allah. Meskipun sama-sama tinggal di Jakarta, ternyata untuk bertemu atau mengadakan pertemuan, kami berdua selalu terkendala waktu dan jarak tempuh serta kesibukan yang memiliki perbedaan aktivitas.

Kami berdua diamanahi CIDE untuk memberikan ceramah selama bulan Ramadan 1438 H dengan tema sentral Kemukjizatan al-Quran. Spiritnya adalah agar semua kita tersadarkan akan dahsyatnya kemukjizatan al-Quran dan kemudian mau membaca dan mempelajarinya serta kemudian mengajarkan dan mengamalkannya. Kebaikan lailatul qadar adalah kebaikan yang menginspirasi tumbuhnya kebaikan lainnya. Kebaikan yang sanggup menggerakkan seribu komunitas lainnya.


Dan karena rumah yang di dalamnya tak pernah dibacakan al-Quran maka bagaikan kuburan bagi orang yang menempatinya. Agar umat ini bangkit dan tidak memulai kegiatan dari dalam kuburan, maka diharapkan dengan kajian-kajian ini rumah-rumah kaum muslimin menjadi bercahaya dan menginspirasi untuk bangkit kembali bersama al-Quran.

Secara bergantian kami berdua mengupas dimensi-dimensi kemukjizatan al-Quran. Dari sejak dimensi kebahasaan yang mencakup pilihan kata dan susunan kalimat dalam al-Quran, pengulangan kata, penyebutan lafzah ujian, kemenangan, macam-macam ukhuwah di dalam al-Quran dan sebagainya

Dimensi scientifik dalam penuturan al-Quran juga dibahas. Seperti hikmah dan rahasia penciptaan nyamuk, qalbu (jantung), teori relativitas waktu dan penyebutan jenis-jenis waktu di dalam al-Quran serta relasinya dengan waktu turunnya al-Quran dan sebagainya.

Dimensi ghaib kali ini dikupas tentang iblis, setan dan jin di dalam al-Quran serta beberapa hikmah cerita masa lalu yang bisa diambil hikmahnya seperti istana dan penjara di dalam al-Quran, kisah Nabi Yusuf alaihissalam, Dawud Thalut dan Jalut dan kisah kekuasaan.

Dalam dimensi visualisasi, kali ini telaah al-Quran tentang hoax dan jebakan persepsi adalah bentuk dahsyat penuturan al-Quran bagaimana daya rusak hoax dan berita dusta serta jebakan persepsi pribadi yang mempengaruhi pola pikir. Al-Quran memberikan solusi normatif dan praktisnya di dalam surah al-Hujurat. Selain itu tentunya dalam dimensi visualisasi ini al-Quran menjelaskan perumpamaan serta berbagai kondisi dan kehidupan manusia nantinya di akhirat, baik di surga ataupun –naûdzu billah– di dalam neraka.

Selain kajian ba’da tarawih selama Ramadan, ada juga kajian raqa’iq (tazkiyatunnafs [pembersihan jiwa]) bada subuh yang berdurasi sekitar 15-10 menit setiap harinya. Tema-tema yang diangkat adalah seputar takwa, istiqamah, tawakkal, keutamaan dzikir dan menadabburi lafazah-lafazh dzikir harian, kemudian serial minal ‘âidin wal fâ’izîn.


Secara teknis untuk memperluas wawasan praktis CIDE juga mengadakan workshop dan pelatihan dua kali. Yang pertama pelatihan mengurus jenazah menurut tuntunan Islam, kemudian tentang ilmu mawaris dan terakhir fikih akuntansi zakat.

Di samping itu, Ibu-ibu di Masjid taklim Masjid al-Hijrah juga mengadakan kajian dhuha. Demikian juga komunitas muslimat Iqro Foundation, Komunitas ODOJ (One Day One Juz) dan Majelis Taklim Raudhatul Ilmi. Juga PRIM Ranting Muhammadiyah NSW.

Saya juga berbahagia bisa bersilaturahim dan bertukar pikiran dengan para mahasiswa di University of Wolongong dan sempat tarawih bersama mereka di Islamic Centre di kampus. Juga berkesempatan berbuka puasa dan tarawih bersama masyarakat Western Sydney yang baru mengadakan percobaan tarawih bersama dengan menyewa gedung milik council. Yang mengharukan saat fund rising untuk pengadaan pusat kegiatan dan tempat shalat para jamaah sangat bersemangat. Saya teringat sebuah buku karya ulama ternama di Mesir yang kini tinggal di Qatar di lelang dan sampai terjual di angka 500 dollar. Komitmen-demi komitmen dikumpulkan selain uang cash dan donasi melalui eftpos payments. Jumlahnya, menurut saya sangat luar biasa karena hanya dikumpulkan melalui dua kali fundrising, termasuk di antaranya untuk proyek yang direncanakan oleh CIDE di tahun 2017 dan 2018. Ini belum termasuk donasi untuk pembangunan masjid besar komunitas AIM di Punchbowl. Masyaallah, masyarakat benar-benar berlomba-lomba dalam mendermakan hartanya fi sabilillah.

Dinginnya suasana Sydney ternyata tak berpengaruh buruk apalagi sampai membekukan. Justru komunitas muslim di sini sangat hangat menyambut baik kami. Sambutan berupa respon yang baik selama kajian. Ibu-ibu yang berjihad menyediakan makanan terbaik. Panitia yang selalu stand by. Belum lagi, para jamaah yang selalu menemani di rumah belakang.

Saya sempat berpikir bahwa makan selepas tarawih hanya akan terjadi sesekali saja. Faktanya, kemudian hampir tiap malam selalu saja ada yang mengajak keluar untuk sekedar menikmati suasana malam sambil mencicipi kuliner Sydney. Ajakan favorit yang paling sering tentunya ke Lakemba. Penduduk Sydney bahkan Australia tentu tahu ada apa di Lakemba, terutama di Haldon Street. Festival Ramadan menjadikan jalan utama tersebut menjadi ramai bahkan hingga sahur. Padahal umumnya took-toko pun tutup jam 5 sore atau paling lambat di jam 9 malam.

Tawaran mencicipi camel burger dan juz wortel adalah yang paling sering kami terima. Alhamdulillah, segala puji bagi Allah yang menjadikan Ramadan sebagai festival berbagai kebaikan. Di dalam masjid dan dalam keseharian menjadi ajang perlombaan dan fastabiqul khairat.

Belum lagi undangan buka bersama, dan termasuk memenuhi undangan open house di bulan syawal. Alhamdulillah Allah memberi kesehatan dan kekuatan untuk mengunjungi satu persatu, termasuk ke kediaman Bapak Konjen di Wisma KJRI juga para sesepuh masyarakat di Sydney. Meskipun tak semua undangan bisa didatangi tentunya.

Malam-malam yang mengharukan juga kami nikmati bersama para pemburu lailatul qadar yang beri’tikaf selama 10 hari terakhir di bulan Ramadan. Menjalani bersama shalat tahajud dan menengadahkan tangan bersama mengetuk pintu ampunan dan rahmat Allah melalui doa, munajat dan muhasabah menjelang sahur.

Keindahan yang sempurna. Terlebih saat Allah karuniakan dan kabarkan datangnya kemenangan saat Idul Fitri. Bersama kaum muslimin menjemput kemenangan yang dijanjikan Allah. Kemenangan yang membuat iblis dan setan serta bala tentaranya menangis. Karena, apa yang mereka lakukan dengan jebakan-jebakan selama setahun menjadi sirna bersama ampunan Allah untuk umat Islam serta turunnya rahmat dan sayang-Nya.

Jika Ust Agus Setiawan diamanahi menyampaikan khutbah Idul Fitri di Sydney, maka saya menjalankan amanah untuk terbang ke Canberra. Bersama masyarakat muslim Indonesia saya menyampaikan khutbah Idul Fitri di KBRI Canberra.

Musim sibuk penerbangan kali ini, membuat kepulangan kami tertunda. Rasa rindu dan kangen dengan keluarga harus ditahan sesaat. Alhamdulillah, ada banyak hikmahnya. Kami masih sempat bersilaturahim dengan masyarakat. Selain itu, kami juga sempat menikmati dinginnya salju dan berselancar di Perisher, Blue Valley Mountain.

Kepergian bulan Ramadan memang membuat sedih orang-orang yang mengetahui kemuliaan yang ada di dalamnya. Karena seandainya semua tahu kebaikan yang ada di dalamnya tentu semua orang akan berharap sepanjang tahun adalah seperti bulan Ramadan. Tapi, terbitnya bulan Syawal adalah kebahagiaan bagi umat Islam menerima hadiah rahmat dan pembebasan dari murka dan neraka Allah. Kini kita tinggal merawatnya.

Demikian juga kami, dengan berakhirnya Ramadan berarti akan segera berakhir kebersamaan fisik di Sydney dengan masyarakat muslim yang ramah dan sangat inspiratif ini. Ada suanana haru yang tak bisa digambarkan melalui kata-kata. Akan tetapi, ada kebahagiaan dan optimisme lain, karena kami akan segera bertemu keluarga di Indonesia. Keluarga yang rela berbagi waktu, mengikhlaskan kami melanjutkan tradisi dakwah di mana dan kapan saja. Istri yang gigih memerankan semua terutama menjadi ibu yang baik dan sabar bagi anak-anak. Anak-anak kami yang tentunya terkurangi kebersamaan dengan ayah mereka. Semoga Allah menggantinya dengan pahala serta menjaga mereka dengan dijadikan anak-anak shalih yang akan menuntun kami ke surga.

Siang ini, Jumat 30.06.2017 masih ada agenda terakhir di Masjid Al-Hijrah. Agar spirit kebaikan terjaga insyaallaah khutbah Jumat nanti saya akan mengangkat tema: Memakmurkan Masjid & Melanjutkan Tradisi-Tradisi Kebaikan. Diantara poin-poin pentingnya:

  1. Mempertahankan komunitas yang baik dengan selalu membersamai mereka serta saling menasehati dalam kebaikan
  2. Memakmurkan masjid, dengan memberikan perhatian dan pengorbanan untuk berbagai hal di antaranya: perawatan dan kebersihannya, kenyamanan dalam beribadah (terutama shalat), meramaikannya dengan majelis ilmu dan dzikir serta berbagai kegiatan positif lainnya.
  3. Jadikan masjid ==> sebagai pusat kegiatan dan majelis perencanaan strategis
  4. Jadikan masjid ==> sebagai sanggar-sanggar al-Quran, tempat-tempat tahfizh, mempelajari al-Quran dan menyebarkan spirit kebaikan yang terkandung di dalamnya
  5. Jadikan masjid ==> sebagai basis data masyarakat, terutama komunitas masyarakat di Sydney dan Australia kemudian membuat peta dakwah untuk mengajak semua untuk berbuat dan memberi kemanfaatan
  6. Jadikan masjid ==> sebagai tempat regenerasi anak-anak dan pemuda dengan membiasakan mereka supaya akrab dengan masjid dan bergaul dengan orang-orang yang sering berada di dalamnya
  7. Jadikan masjid ==> sebagai sarana sharing kebahagiaan dan berbagai kepedulian dengan sesama. Dalam al-Quran perintah shalat seringnya disandingkan dengan perintah menunaikan zakat.

Mudah-mudahan rajutan persaudaraan dan pertalian ukhuwah ini dikekalkan Allah hingga hari kiamat dan dipertemukan kembali diakhirat dalam naungan ridho Allah serta dikumpulkan bersama Nabi Muhammad saw dan shalihin shalihat yang menyintai dan dicintai-Nya.

Terima kasih secara khusus saya ucapkan kepada pimpinan CIDE, Pak Ichsan akbar, Gota (Moh Sjam), Uda Riski Patiroi dan Uda Panji Budiman. Panitia Ramadan yang dikomandoi Pak Lukman kemudian Pak Imam yang incharge dengan update jadwal harian. Juga kepada Uda Uli, Muhammad Haikal, Mas Arif, Pak Elvo, Mas Zain, Allen Rahman, Jufri dan para pegiat youth, Pak Adi, Pak Joko, Pak Eko, Mas Teguh Waluyo dan Pak Ahmad. Juga kepada Pak Wawan, Pak Bambang dan Pak Farid. Tak lupa kepada Pak Novianto dan keluarga.

Juga terima kasih kepada Mas Dito, Mas Teguh Suwondo, Pak Aulia juga Pak Presiden CIDE yang meluangkan waktu dari sejak menyiapkan kami untuk berwisata ke Snowy Mountain. Juga Colonel Riva yang menjadi guide sekaligus tuan rumah selama kami di Canberra.

Terima kasih kepada Bapak Dubes di Canberra serta Bapak Konjen di Sydney. Juga Mas Ibrahim serta pak Imam Malik sekeluarga dan Pak Abrar yang menjamu kami selama di Canberra.

Terima kasih kepada masyarakat di Western Sydney, terkhusus pengurus CIDE yang tinggal di sana, juga kelurga Ust Arif Taufik, Bang Haris dan sebagainya.

Juga kepada Iqro Foundatian, Pak Nur, Pak Mico, Pak Yudi, Pak Beri, Pak Narto, Pak Uki dan lainnya

Terima kasih Bang Nazar dan Andre yang juga teman kami selama kami di Universitas al-Azhar Mesir. Pak Maswan dan Pak Sobri atas masakan-masakannya.

Juga tentunya Ibu-ibu yang namanya tidak saya sebutkan satu persatu. Bu Lili dan komunitas ODOJ di NSW, juga ibu-ibu di MTRI.

Selain itu terima kasih khusus kepada asatidz: Dr. Agus Setiawan, Ust. Musyaffa, Ust. Henmaidi, Ust. Ziyad. Imam shalat selama di Masjid al-Hijrah, Ust. Toriq Jamil al-Hafizh, juga Ust. Musa al-Barqy dan Ust. Taqiyuddin.

Mohon maaf bila banyak nama tidak bisa saya sebutkan satu persatu. Namun tidaklah mengurangi rasa cinta dan penghormatan saya. Mohon maaf pula bila selama sebulan lebih berinteraksi terdapat banyak kehilafan dan kesalahan serta keterbatasan.

Kullu ‘âm wa antum bi khoir, Minal ‘âidin wal Fâizin.

 

Sydney, 30.06.2017

Jumat menjelang siang

 

SAIFUL BAHRI

 

Undangan VIP

salman-king

SAIFUL BAHRI

Semenjak kedatangan Raja Salman, Raja Kerajaan Saudi Arabia ke Indonesia, gegap gempita media terdengar di mana-mana. Bahkan sebelum sang raja datang. Tulisan ini tidaklah hendak menganalisis hal-hal yang berkaitan dengan kedatangan beliau. Tapi, sekedar menuliskan sebuah refleksi salah satu dari agenda kunjungan beliau di Indonesia yang berkaitan dengan undangan.

Dalam beberapa acara beliau, baik yang di gedung parlemen, di masjid Istiqlal atau pertemuan dengan para ulama dan tokoh masyarakat, tentu mengundang beberapa tamu khusus. Sudah tentu, tamu yang diundang bersifat istimewa. Sebagian merasakan beruntung bisa hadir bertemu langsung dengan Sang Raja. Euforia dan kebanggaan tersebut sebenarnya sangat wajar, manusiawi dan natural. Terlebih jika menilik posisi negara yang dipimpin dengan negara yang dikunjungi memiliki kaitan historis yang lumayan kuat, di samping secara emosional dan ideologis memiliki kedekatan, yaitu sebagai bangsa muslim yang memungkinkan membuat poros baru dunia.

Bagi sebagian orang bahkan sampai membuat meme dan gambar-gambar lelucon yang menyatakan bahwa ia diundang atau ditelpon oleh Raja Salman. Bahkan beberapa di antaranya berlebihan, sampai membuat anekdot ia telah dikirim sejumlah uang.

Terlepas dari berbagai analisis para pakar dan tokoh terkait kunjungan Raja Salman, tak bisa dipungkiri bahwa sosoknya melekat di hati sebagian besar rakyat Indonesia. Baik yang pro atau yang kontra dengan kebijakannya, termasuk yang memiliki kepentingan dengannya secara langsung atau mereka yang memangku jabatan dan pemegang keputusan di negara ini.

Jika saja seseorang akan bangga ketika ia menerima undangan bertemu dengan Yang Mulia Raja Salman, lantas kebahagiaan seperti apa yang kelak dirasakan seorang mukmin di surga. Ketika ia dimasukkan surga dengan segala fasilitas mewah yang belum pernah dijumpainya di dunia, kemudian bertemu langsung tanpa perantara dan bisa melihat serta berbicara dengan Sang Raja manusia, Allah, pemilik segala kerajaan alam semesta, langit dan bumi serta dunia-akhirat. Siapapun di antara kita berpeluang menerima undangan VIP tersebut. Bertemu langsung dari Sang Maha Raja dari segala manusia, termasuk para raja dari manusia di dunia.

Untuk mendapatkan undangan VIP tersebut, manusia sudah dilatih –setiap hari- terlebih dahulu memenuhi undangan dan seruan dari-Nya. Yaitu undangan untuk mendatangi rumah-Nya (Baitullah) setiap hari lima kali. Sayangnya, kebanyakan manusia mengabaikan undangan tersebut. Harusnya ia berbahagia, karena yang mengundang sebenarnya adalah Sang Raja Manusia, melalui corong-corong pengeras masjid dan mushalla yang meneruskan suara para muadzin dengan berbagai macam iramanya. Lima kali dalam sehari. Dan terus berlangsung sejak zaman Nabi SAW hingga saat ini di berbagai belahan bumi.

Jika kita mudah melangkahkan kaki memenuhi undangan VIP menghadap-Nya setiap hari. Maka undangan-undangan VIP berikutnya akan mudah dipenuhi. Undangan membantu saudara-saudara kita yang terlunta-lunta di pengungsian semenjak terusir dari tanah mereka di Palestina. Undangan untuk peduli membantu recovery para korban perang di Gaza. Membantu menyelamatkan rumah Allah, al-Masjid al-Aqsha yang terus dinista dan berada dalam bahaya dintimidasi oleh penjajahan yang sudah tulis dari mendengar kecaman dunia. Menyelematkan Palestina dari ekspansi pendudukan-pendudukan serta pemukiman ilegal yang terus berlangsung. Dan ada banyak undangan VIP lainnya. Termasuk melawan setiap kezhaliman, di mana pun adanya. Allâhu al-Musta’ân.

 

Catatan Keberkahan 44

Jakarta, 02.03.2017