MANUSIA DAN SEJARAH MASA DEPAN

Saiful Bahri

Hari seperti biasanya, ketika pagi senyum anak-anak merekah menyambut. Mereka telah menyiapkan ucapan selamat ulang tahun dengan kreasi khas anak-anak. Tak lama, karena ada beberapa kesibukan masing-masing.

Kemarin adalah hari yang spesial, sekalipun kegiatan yang memberatkan dan tugas-tugas serta serasa seperti air bah yang mengguyur tanpa pernah tahu kapan berhentinya. Ada dua buku yang menjadi hadiah special hari itu. Keduanya karya seorang Guru Besar sejarah dunia yang relatif masih muda tapi produktif, sebut saja Yuval Noah Harari. Buku pertama berjudul Sapiens, a Brief History of Humankind yang sudah diterjemah lebih dari 20 bahasa. Buku kedua berjudul Homo Deus, a Brief History of Tomorrow. Juga sudah dicetak lebih dari 4 juta eksemplar.

Istri saya membawakannya sebagai hadiah spesial hari itu. Kami berdua berbagi, ia membaca buku pertama dan saya membaca buku kedua. Di beberapa kesempatan kami saling mendiskusikan isinya. Malam sudah larut, saya juga masih harus membuka-buka sebuah draft disertasi yang harus diujikan pagi ini secara tertutup, prodi memberi amanah untuk menjadi bagian dari anggota tim penguji. Tapi rasa penasaran yang tinggi membuat buku tersebut sulit dilepas begitu saja.

Alhamdulillah, hari ini semuanya bisa dilalui dengan lancar dengan bimbingan Allah. Buku Homo Deus pun selesai terbaca.

Kenapa saya penasaran dengan kedua buku tersebut, khususnya buku kedua?

Buku tersebut menerbangkan saya pada linimasa sejarah peradaban umat Islam di salah satu periode emasnya. Mengingatkan saya pada sosok Muhammad bin Ismail al-Bukhori (W. 256 H) seorang pakar hadis yang juga pakar sejarah. Beliau menulis at-Târîkh al-Kabîr, sebuah kompilasi sejarah manusia, yaitu para manusia perawi hadis Nabi Muhammad SAW. Tak lama setelah itu datang Abu Ja’far ath-Thabariy (W. 310), seorang pakar tafsir dan ilmu al-Quran menulis karya berisi sebuah sejarah manusia yang lebih lengkap. Ensiklopedi monumentalnya tersebut berjudul Târîkh ar-Rusul wa al-Mulûk yang membahas sejarah manusia sejak penciptaan hingga berbagai peristiwa yang terjadi di tahun 302 H, atau kira-kira 8 tahun menjelang wafatnya beliau.

Setelah itu ada Ibnu Katsir (W. 774 H) yang memiliki kemiripan dengan ath-Thabary. Pakar tafsir yang juga pakar sejarah tersebut menuliskan sejarah yang lebih lengkap dan tebal dari pendahulunya, magnum opusnya tersebut diberi judul Al-Bidâyah wa an-Nihâyah yang selesai ditulis pada tahun 768 H. Menariknya, Ibnu Katsir ternyata juga menuliskan sejarah masa depan (history of tomorrow), hanya saja perspektifnya sangat jauh mencakup berbagai alam (multiverse) menjangkau alam yang tidak diketahui seperti apa jauhnya. Dalam dua atau tiga jilid terakhirnya beliau menjelaskan sejarah berakhirnya dunia dan hari kebangkitan, berdasarkan sumber teks yang bisa dijangkaunya, ayat atau hadis atau atsar-atsar.

Itulah barangkali yang memantik penasaran saya, untuk segera menuntaskan Homo Deus, a Brief History of Tomorrow.

Harari yang setahun lebih tua dari saya itu, ternyata memiliki kepakaran sejarah yang sangat mumpuni. Data-data, analisis filosofis dan retorisnya sangat memukau sehingga secara tak sadar pembaca mungkin akan terbius dengan bangunan teori evolusinya yang sebagian pernah disampaikan oleh Darwin. Tak banyak yang saya ketahui dari buku Sapiens karena saya belum membaca buku tersebut, hanya tahu dari hasil diskusi beberapa bagiannya dari istri saya.

Dalam Homo Deus, Harari meneropong masa depan manusia dengan data-data kredibel. Ada perbandingan data kelaparan dan data obesitas yang memungkinkan untuk diperkirakan terjadi di tahun 2030. Dengan fasih ia juga mengupas sejarah Firaun dan pembangunan megabendungan danau buatan di Fayoum, saya seolah mengikuti kuliah Egyptology. Tak ketinggalan sejarah perang di masa lalu, termasuk perang salib dan perang-perang yang dianggap sebagai bencana kemanusiaan yang memilukan. Analisis-analisis berbagai revolusi di Rumania sampai di Mesir. Ia juga mengenang masa-masa mengenal internet dan mengoperasikan komputer di masa lalu, kemudian membandingkan dengan kondisi kekinian.

Saya juga membayangkan bagaimana aplikasi GPS Waze mendistribusikan informasi jalanan yang macet dan yang tidak kepada para penggunanya. Karena jalan alternatif yang tak macet bisa jadi akan berubah macet jika semua pengguna Waze diberikan informasi yang sama. Analisis yang smart.

Ia juga berbicara perkembangan pesat kecerdasan buatan dan robot cerdas. Undang-undang dan regulasi tentang binatang serta paradoksal tikus-tikus laboratorium. Analog-analog yang dibangun membuat pembaca (mungkin) akan berkerut untuk kemudian mengangguk-anggukan kepala membenarkan. Teori manusia dan agama misalnya, statemennya yang mengatakan bahwa agama menjadi faktor penting bagi manusia modern, mengalahkan kepercayaan manusia modern pada revolusi industri dan robot-robot yang sudah teruji secara nyata. Membandingkan kerja robot yang tak jarang dipaksa sampai energy terakhirnya, seperti produk industri, computer laptop dan sebagainya.

Harari menyebut, penganut agama-agama termasuk agama Islam, dulunya kreatif, namun kini menjadi reaktif. Saya mengernyutkan dahi sejenak dan melakukan pendekatan introspektif. Tidak salah. Itu memang terjadi. Bangunan opininya tentang radikalisme bisa jadi juga benar, tapi ada unsur lain yang luput dan tak disebutkan, seperti ketidakadilan dan kesewenangan misalnya.

Karena itu, kemudian saya berkesimpulan bahwa sekalipun ia berusaha obyektif, namun subyektifitasnya tetap saja tak bisa ditutupi. Apalagi tentang sejarah. Karena, memang sejarah yang dituliskan dan diwariskan selalu terikat dengan subyektifitas.

Jika ingin tahu subyektivitas yang saya maksud diantaranya, bukan sekedar tentang teori evolusi atau agama yang ditulisnya sebagai ranah netral dan menjadi kebebasan manusia untuk memilih sebebas-bebasnya. Namun, lihatlah tulisannya yang sebenarnya tak banyak, tapi cukup bisa dianggap membangun opini keberpihakan pada pembicaraan Jerusalem, terlepas siapa dia dan buku ini berbahasa asli apa, tapi sejujurnya saya tak tahu apakah ia seorang penganut zionisme atau bukan.

Saya mulai berpikir, apakah ketika saya mencoba memihak kepada Bangsa Palestina yang terjajah, tertindas oleh kesewenangan dengan data-data yang bisa diakses siapa saja berarti saya tak lagi obytektif?

Apakah ketika saya terbatas membantu atau bahkan tak bisa membantu saudara-saudara saya yang terdampak bencana di Lombok, Palu, Donggala, Banten, Lampung dan sebagainya saya juga kehilangan kepakaran saya?

Tetangga-tetangga saya yang sedang sakit atau saudara, teman dan kerabat yang memerlukan bantuan, saya juga masih terbatas mengulurkan tangan menebar optimisme dan kebaikan.

Hiruk pikuk pilpres dan pileg yang tak lama lagi membuat fanatisme brutal saya temui di mana-mana. Etika, kebesaran jiwa, kesantunan bahasa menjadi hilang seketika.

Apakah saya yang juga mendukung salah satu capres dan partai tertentu juga kehilangan kepakaran dan obyektifitas? Saya mencoba menjawab sendiri pertanyaan saya dengan membaca The Death of Expertise nya Tom Nichols. Justru bangunan keilmuan dan kepakaran pada akhirnya akan melahirkan keberpihakan. Jika suatu saat diposisikan untuk menengahi maka, keberpihakan tersebut tidak dinampakkan untuk suatu alasan atau tidak ditonjolkan untuk menjaga perasaan orang atau pihak yang dihadapinya.

Namun, kepakaran dan keilmuan akan mati bila digunakan secara brutal dan fanatik buta. Keduanya juga akan mati, bila dipupuk dengan keangkuhan, kesombongan dan ketamakan.

Ya Rabb, ampuni hamba yang terbatas memaksimalkan anugerah ilmu dan nikmat yang Kau berikan untuk memihak pada orang-orang dan siapapun yang harus dibela dan ditolong.

Ya Rabb, ampuni hamba yang menjadikan kesibukan sebagai tameng untuk berkarya dan menutupi ketidakberdayaan di tengah kehidupan yang makin dicengkram hedonistic

Ya Rabb, tolonglah orang-orang lemah dan terzhalimi di manapun mereka berada.

 

Jakarta, 17.01.2019

Bertambah usia, berkurang umur

 

Sinyal-Sinyal Kekuasaan Allah di Hari Lahir Nabi SAW

Saiful Bahri

Dalam al-Bidayah wa an-Nihayah, Ibnu Katsir menuturkan beberapa kisah ajaib yang membersamai kelahiran manusia agung, Muhammad SAW. Di antaranya, padamnya api abadi Kaum Majusi di Persia. Istana Kisra Persia tergoncang sehingga beberapa balkon -yang dituliskan Ibnu Katsir sebanyak 14- di antaranya rusak, sebagiannya terjatuh dan roboh. Peristiwa-peristiwa tersebut bagi sebagian orang adalah kejadian biasa, terutama para penganut madzhab matrealisme dan nihilisme, sebagaimana bencana alam atau musibah, akan dianggap sebagai peristiwa alam yang lumrah dan sangat biasa. Namun, sebagai kaum beriman tak ada peristiwa alam yang tak direncanakan oleh Allah. Semuanya berjalan sesuai dengan kehendak-Nya. Tak sedikit dari para alim mengaitkan beberapa peristiwa tersebut dengan istimewanya kelahiran sang calon nabi terakhir ini. Menurut mereka, itu adalah sinyal-sinyal kekuasaan Allah yang dikirimkan bagi manusia supaya segera menyudahi kezhaliman dan kejahilan mereka.

Adapun al-Quran memberikan nuansa lebih sejuk dan dahsyat. Firman Allah SWT, “…Sesungguhnya telah datang kepadamu cahaya dari Allah, dan Kitab yang menerangkan.” (Surah al-Mâ’idah: 15)

Yang dimaksud lafazh “nûr” ini menurut para mufassir adalah Rasulullah SAW. Beliau adalah cahaya yang dikirim Allah untuk mengeluarkan manusia dari kegelapan (zhulumât) menuju terangnya cahaya (nûr) petunjuk Allah. Kegelapan yang dimaksud adalah perilaku menyimpang manusia, persekutuannya dengan para musuh Allah, penghambaan kepada materi dan benda, kezhaliman yang mereka lakukan.

Isyarat-isyarat kemahakuasaan Allah juga tergambar jelas saat beliau ikut turun langsung menggali parit saat menghadapi konspirasi aliansi kuffar pada perang Ahzab. Beliau memberi kabar optimisme dengan tiga percikan yang mengisyaratkan futuhat Islamiyah di masa mendatang, ke Yaman, Persia dan Romawi.

Maka, sebagai manusia yang memiliki akal seharusnya peristiwa alam yang Allah hadirkan di hadapannya menjadikannya lebih arif dan bijak menyikapinya. Terutama dengan penyikapan yang berbasis iman. Maka, carut marutnya dunia saat ini bagi orang beriman bukanlah sebagai berita buruk semata, namun hal tersebut akan semakin merapatkannya kepada Allah. Kisah-kisah kezhaliman yang terjadi semakin merajalela pun tak menyurutkan nyali untuk tetap melawannya dan menumbangkannya.

Kisah penyerangan pasukan Zionis Israel yang terakhir ke Gaza, adalah sinyal kuat dahsyatnya kekuasaan Allah. Rakyat lemah yang diembargo dan diblokade lebih dari sepuluh tahun itu sudah tentu akan dianggap ringkih dan underestimate. Nyatanya, mereka sanggup membalas roket dengan roket, serangan dengan serangan yang membuat mereka menyerah di luar perkiraan siapapun. Sekalipun sebagian besar roket tersebut hanya selongsong saja, tetaplah hal tersebut merupakan sinyal bahwa perlawanan terhadap penjajahan takkan pernah berhenti.

Ketika isu-isu terorisme dan radikalisme yang dikaitkan dengan Islam menjadi “dagangan” kampanye pemilu di berbagai belahan dunia, justru hal tersebut menjadi promosi gratis yang bombastis. Lihatlah perkembangan Islam di Eropa dan sikap para pemegang kebijakan serta tak sedikit dari para politisi di benua biru yang mulai jengah dengan Islamphobia.

Kelahiran nabi agung nan mulia ini bagi umat Islam adalah cahaya penuntun perjuangan untuk menumbangkan kezhaliman dan mengusir penjajahan. Agar tak ada lagi penindasan di muka bumi dan tak lagi ada darah manusia yang ditumpahkan tanpa dosa.

Khutbah Idul Adha 1439 H

Idul Adhaku

MEMBANGUN KESALIHAN KOLEKTIF
(Dahsyatnya Motivasi Kata “InsyāalLāh

Dr. H. Saiful Bahri, MA.

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

الله أكبر (9 مرات) . الله أكبر كبيراً والحمد لله كثيراً. وسبحان الله بكرةً وأصيلاً. لا إله إلاّ الله والله أكبر، الله أكبر ولله الحمد. الحمد لله الذي فرض علينا الحجّ والعمرة لمن استطاع إليه سبيلاً. أشهد أن لا إله إلاّ الله وحده، صَدَقَ وعْدَه ونصَر عبْدَه وأعزّ جُنْدَه وهزَم اْلأحْزَابَ وحدَه، وأشهد أنّ محمداً عبده ورسوله لا نبي بعد، فصلوات الله وسلامُه على هذا النبي الكريم وعلى آله وأصحابه أجمعين. أمّا بعد، فيا عباد الله أوصي نفسي وإياكم بتقوى الله، إنه من يتق ويصبر فإن الله لا يضيع أجر المحسنين. يقول المولى عز وجل: فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَىٰ فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانظُرْ مَاذَا تَرَىٰ ۚ قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ ۖ سَتَجِدُنِي إِن شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ﴾ (الصافات: 102). طِبْتُمْ وطابَ ممْشَاكُمْ وتَبَوّأتمْ مِن الجنّة منزلاً .

Allahu Akbar x 3, walillahil hamd
Ma’asyiral muslimin wal muslimat rahimakumullah.

Segala puji dan syukur kita panjatkan, takbir dan tahmid kita kumandangkan. Menandai kemenangan yang dikaruniakan Allah Swt. Kemenangan yang paling esensi, kembali menjadi suci dengan pengampunan dan maghfirah-Nya. Sebelum hari ini, kita disunnahkan untuk puasa Arafah. Hal ini dimaksudkan bukan karena sekedar untuk membersamai dan merasakan suasana yang dialami para jamaah haji yang wukuf di sana, tapi untuk mendapatkan apa yang Allah janjikan berupa rahmat dan garansi ampunan-Nya.

Allah selalu memiliki cara dan momen untuk menumbuhkan optimisme pada hamba-hamba-Nya. Setelah peluang-peluang kebaikan Allah buka di bulan Ramadan, Dia buka pula peluang kebaikan puasa di bulan Syawwal. Bulan Dzulqa’dah sebagai bulan haram dan kemudian berbagai kebaikan Allah buka di bulan ini; Dzulhijjah.

Amal-amal baik di awal bulan ini bahkan tiada yang sanggup menandinginya, selain seseorang yang keluar dari rumahnya membawa harta dan jiwanya, berniat jihad fi sabilillah kemudian ia tidak kembali karena gugur.

Allahu Akbar x 3, walillahil hamd
Ma’asyiral muslimin wal muslimat rahimakumullah.

Ibadah qurban menjadi sebuah ibadah spesial di bulan ini. Di dalamnya terdapat spirit pengorbanan yang luar biasa, sebagaimana dicontohkan oleh Nabi Ibrahim as. Yaitu pengorbanannya dari sejak memupuk kesabaran menghadapi kaumnya dan bapaknya yang lebih suka mendukung rezim yang zhalim, hingga sabar menanti sang buah hati berpuluh-puluh tahun lamanya, sampai harus dihadapkan pada sebuah cobaan berat meninggalkan istri dan anaknya di tempat yang tiada kehidupan di sana. Pun saat ia menemuinya kembali setelah lebih sewindu Allah kembali mengujinya dengan perintah menyembelih anak kesayangannya.

Itulah, mengapa Allah kemudian menyematkan cinta-Nya pada beliau dengan menjulukinya “Khalilullah” (kekasih Allah), gelar yang tak semua orang bahkan nabi-nabi-Nya sekalipun mendapatkannya. Allah juga jadikan keturunan-keturunannya banyak yang diangkat menjadi nabi dan rasul. Diberkahi dan dicintai alam semesta.

Allahu Akbar x 3, walillahil hamd
Ma’asyiral muslimin wal muslimat rahimakumullah.

Motivasi Allah kepada Nabi Muhammad SAW dan umatnya selalu menghadirkan nuansa inspiratif yang dahsyat. Di antara sekian motivasi, simaklah dahsyatnya motivasi kalimat insyâ’alLâh yang dikisahkan melalui cerita tentang seorang anak kecil (Ismail) dan seorang Nabi Syu’aib, mertua dari Nabi Musa AS (menurut sebagian riwayat)

Saat Nabi Ibrahim bermimpi mendapat perintah untuk menyembelih putra tercintanya Ismail, beliau mendapati anaknya yang masih kecil menjelma menjadi kedewasaan yang sempurna.

Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insyâ’alLâh kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar” (Ash-Shâffât: 102)

Jawaban Ismail mengajarkan kita tiga hal penting:

  1. Dia memanggil ayahnya dengan panggilan sayang (yâ abati) meskipun selama ini ayahnya jauh secara fisik tapi efektif dalam pembinaan akidah melalui ibunya.
  2. “Kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu” (if’al mâ tu’mar) menandakan bahwa dia sangat paham siapa yang memerintah ayahnya.
  3. (ستجدني إن شاء الله من الصابرين) “insyâ’alLâh kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”. Adalah sebuah motivasi untuk sungguh-sungguh berusaha menjadi seorang penyabar kemudian berserah diri ada Allah dari usaha yang dilakukannya.

Energi positif dari pernyataan Ismail adalah mendidik anak-anak yang kelak akan menjadi generasi penerus ini selalu kuat mental dan prinsip serta kokoh akidahnya. Seberapa berat cobaan yang dihadapi, dengan mudah ia akan katakan “insyâ’alLâh kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”. Untuk menjadi pribadi yang sabar secara benar tidaklah mudah, perlu kedewasaan, perlu tempaan matang, perlu kokohnya pertautan kepasrahan kepada Allah. Anak kecil ini menjadi dewasa. Sangat berbeda dengan anak-anak sekarang umumnya yang dewasa secara biologis, namun sayangnya rapuh secara prinsip dan ideologis serta psikologis.

Kisah kedua yang bisa dijadikan motivasi adalah jawaban Nabi Syuaib setelah mendengar kisah pelarian Nabi Musa. Berkatalah dia (Syu’aib): “Sesungguhnya aku bermaksud menikahkan kamu dengan salah seorang dari kedua anakku ini, atas dasar bahwa kamu bekerja denganku delapan tahun dan jika kamu cukupkan sepuluh tahun maka itu adalah (suatu kebaikan) dari kamu, maka aku tidak hendak memberati kamu. Dan kamu insyâ’alLâh akan mendapatiku termasuk orang-orang yang baik“. (Al-Qashash: 27)

Dengan berkata demikian Nabi Syuaib ingin memberikan motivasi pada Musa, bahwa seberat apapun masalahnya Allah akan memberi jalan keluar yang baik. Hal ini sekaligus juga memotivasi dirinya untuk menjadi jalan keluar yang baik tersebut. “Insyâ’alLâh aku termasuk orang baik!” Menariknya ia menawarkan kerjasama (simbiosis mutualisme) yaitu dengan menjadikannya menantu yang baik.

Spirit dua “insyâ’alLâh” di atas bisa dijadikan quotes motivation yang menginspirasi umat ini. Bahwa seberat apapun masalah yang dihadapi, semakin banyak anak-anak yang mengatakan seperti ungkapan Ismail, maka takkan perlu ada yang dicemaskan. Karena, bila anak-anak kecil saja berani menyatakan demikian, sudah seharusnya orang-orang dewasa malu jika tak mampu mengatakannya.

Demikian halnya saat terjadi banyaknya problematika di tengah masyarakat, ungkapan insyâ’alLâh Nabi Syu’aib menjadi inspirasi bahwa sudah seharusnya para orang tua menjadi penenang. Menjadi jalan keluar yang baik. Memotivasi anak-anak muda seperti Musa untuk tidak menyerah dengan rintangan. Dan justru dengan masalah yang terjadi adalah jalan terbaik merekrut kader-kader penerusnya, sekaligus diajak bekerja sama dengan baik.

Tiga komponen umat yang terdiri anak-anak, orang tua, anak muda bersatu, rasanya tak perlu mencemaskan kondisi apapun yang terjadi. Karena, semuanya memiliki pertautan kepasrahan yang produktif kepada Allah. Yaitu, berupa kesabaran yang menggerakkan dengan dahsyat, serta kesalihan yang memotivasi diri dan orang lain untuk lebih kuat dari masalah, seberat apapun masalah yang dihadapi.

Allahu Akbar x 3, walillahil hamd
Ma’asyiral muslimin wal muslimat rahimakumullah.

Bangsa kita saat ini memerlukan motivasi energi insyâ’alLâh. Terutama untuk menyatukan bangsa dalam menghadapi musibah yang melanda saudara-saudara sebangsa kita di Nusa Tenggara Berat dan sekitarnya yang terdampak bencana alam berupa gempa bumi. Kemampuan mereka untuk mengatakan insyâ’alLâh bisa bersabar akan menjadi berita baik bahwa mental dan spirit akan mengalahkan kesulitan apapun. Di lain pihak kita yang mampu membantu mereka juga mampu mengatakan insyâ’alLâh kita bisa membantu mereka karena kita adalah orang baik-baik.

Figur-figur seperti Nabi Ismail, Nabi Syuaib dan Nabi Musa ini diperlukan untuk menyatukan kembali bangsa ini dalam menghadapi musibah, dalam memupuk optimisme membangun bangsa, dalam mengalahkan berbagai ketidakberdayaan ekonomi, carut marut politik, dinamika kekuasaan, perilaku budaya yang bergeser. Akhir-akhir ini bangsa kita tercabik-cabik persaudaraannya, rajutan persatuannya rawan terurai karena perbedaan sudut pandang dan kecenderungan politik. Kepedulian memudar karena ditelan pola dan gaya hidup hedonistik dan matrealistik. Kesenjangan semakin menganga karena mismanajemen dan kualitas pengelolaan yang terbatas dan kurangnya pendekatan introspektif setiap diri kita.

Semoga hadirnya momen ibadah qurban, Hari Raya Idul Adha ini menghadirkan suasana kebahagiaan yang produktif, yaitu dengan memberikan kepedulian kepada saudara-saudara kita yang tertimpa musibah, baik musibah karena bencana alam seperti di NTB ataupun bencana kemanusiaan seperti penjajahan di Palestina ataupun peperangan di Suriah serta di berbagai belahan bumi lainnya.

Allahu Akbar x 3, walillahil hamd
Ma’asyiral muslimin wal muslimat rahimakumullah.

Marilah kita tanamkan spirit kesalihan kolektif komponen bangsa ini melalui kekuatan motivasi insyâ’alLâh. Semoga Allah jadikan kita sebagai ahli hikmah yang bijak dalam bersikap, ahli kebaikan yang mudah mengulurkan bantuan dan memupuk harapan, menjadi penerus kebaikan yang tak pernah terhenti, serta menjadi pewaris surga-Nya dengan dikumpulkan bersama orang-orang shalih dan para kekasih-Nya.

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا. اللهم صل علي سيدنا محمد وعلى آله وصحبه وسلم .اللهمّ اغفر لجميع المسلمين والمسلمات الأحياء منهم والأموات إنك سميع قريب مجيب الدعوات. اللهمّ ارزقنا حجّ بيتك المحرم وزيارة نبيك الكريم وأَوْرِدْنا حوضه في الجنة. رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا.

Ya Allah, jadikan anak-anak kami seperti Nabi-Mu Ismail yg sanggup bersabar menghadapi ujian apapun, bersabar menjadi dewasa memikul tanggungjawab dan amanah dari-Mu.

Ya Allah. Jadikanlah pemuda-pemuda kami seperti Nabi Musa yang tidak putus asa mencari jalan kebaikan dari kesulitan yang menderanya. Menjadi orang yang ringan membantu di saat sulitnya. Menjadi orang kuat dalam segala kondisi. Menjadi orang yang menghargai dan menghormati orang tua dan menyayangi keluarganya.

Ya allah. Jadikanlah orang-orang tua kami seperti Nabi Syuaib yang terus memupuk harapan dan menyalurkan energi optimisme kepada kaum muda penerus mereka. Membersamai dengan nasihat-nasihat dan keteladanan.

Ya Allah ya Tuhan kami, jadikan kami jalan kemudahan bagi saudara kami yang terlilit kesulitan.

Ya Allah ya Tuhan kami, jadikan kami jalan kebahagiaan bagi saudara kami yang didera penderitaan

Ya Allah ya Tuhan kami, jadikan kami jalan petunjuk bagi saudara kami yg menjauh dr tuntunan-Mu

Ya Allah ya Tuhan kami, jadikanlah kami jalan kebaikan bagi saudara kami yang ingin memperbaiki diri.

Ya Allah… Ampunilah tangan-tangan kami yang masih enggan mengulurkan bantuan.

Ya Allah… Ampunilah mata-mata kami yang masih sering berkhianat dan memandang tajam pada saudara kami. Kadang merendahkan. Kadang menyakiti perasaan saudara kami.

Ya Allah… Ampunilah lisan-lisan kami yang masih sering menggunjingkan aib saudara kami.

Ampunkan ya Allah. Maafkan ya Allah keterbatasan kami dalam membaca kitab-Mu. Kelemahan kami dalam membina amanah-Mu. Keteledoran kami dalam mendidik anak-anak kami. Kekurangan kami dalam berbakti pada orang tua kami. Kealpaan kami dalam berkontribusi kepada peluang-peluang kebaikan yang Engkau bukakan setiap hari.

Maafkan ya Allah… tangan-tangan kami yang enggan mengusap anak-anak yatim. Tangan-tangan kami yang masih berat membuka-buka mushaf-Mu.

Maafkan mata-mata kami yang masih berat memandang huruf demi huruf ayat-ayat-Mu.

Maafkan lisan-lisan kami yang masih berat melafazkan dan mendengungkan dzikir dan mengeja al-Quran-Mu.

Maafkan kami yang belum menunaikan hak-hak saudara kami, tetangga kami, guru-guru kami, dan orang-orang yang memiliki hubungan dengan kami. Maafkan ya Rahman.

 

ربنا آتنا في الدنيا حسنة وفي الآخرة حسنة وقنا عذاب النار. والحمد لله رب العالمين . تقبل الله منا ومنكم وكل عام وأنتم بخير وإلى الله أقرب وعلى طاعته أدوم

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Perth, 10 Dzulhijjah 1439 H
 22 Agustus 2018 M

 

DAHSYATNYA CINTA DAN KESETIAAN

Sebuah Elegi dari Kisah Nyata

Sebelum Nabi Muhammad saw diangkat menjadi rasul, Abul Ash bin Rabi’ menghadap beliau.
“Saya ingin menikahi Zainab, putri sulung Anda”
Sebuah contoh kesantunan dan tatakrama.

Nabi Muhammad saw. menjawab, “Aku tak mau melakukannya sebelum meminta izin padanya”. Sesuai syariat yang nanti akan diwahyukan kepadanya.

Nabi saw. menyampaikannya pada Zainab. “Anak pamanmu mendatangiku dan menyebut-nyebut namamu. Apakah engkau rela ia menjadi suamimu?”

Wajahnya memerah dan ia tersenyum. Malu-malu.

Nabi saw. kemudian menikahkan Zainab dengan Abul Ash. Bermulalah dahsyatnya sebuah kisah cinta. Dari pernikahan berkah ini lahirlah Ali dan Umamah.

Tiba masanya muncul sebuah masalah baru.

Yaitu, terkait diutusnya Nabi Muhammad saw sebagai Rasul Allah. Saat itu Abul Ash sedang bepergian beberapa saat lamanya. Ketika ia kembali, Zainab sudah memeluk Islam dan mengimani risalah yg dibawa ayahnya. Abul Ash pun mengetahuinya.
Zainab berkata, “Aku punya sebuah berita besar untukmu”.

Abul Ash berdiri, lalu meninggalkan Zainab.
Zainab mengejarnya, kemudian ia berkata:
“Ayahku diutus sebagai nabi dan aku telah memeluk Islam.”

Abul Ash menjawab, “Bagaimana sikapmu? Beritahu aku!”

Zainab menimpali, “Aku takkan mendustakan ayahku. Karena ia bukan pendusta. Ia adalah orang jujur dan sangat dipercaya. Bukan hanya aku yang berislam kepadanya. Ibuku dan saudara-saudaraku juga melakukannya. Ali bin Abi Thalib sepupuku juga beriman. Anak bibimu, Usman bin Affan juga memeluk Islam. Sahabatmu Abu Bakar juga menyatakan Islam”.

Kalau Aku…. kata Abul Ash.
“Aku tak mau nanti orang-orang mengatakan Abul Ash menghinakan kaumnya, kafir dengan nenek moyangnya demi istrinya. Ayahmu pasti akan tertuduh. Mohon maaf. Hargailah sikapku?”
Sebuah dialog cinta yang jauh dari memperturutkan ego dan gengsi.

Zainab tersenyum, “Jika bukan aku, siapa lagi yang akan memaklumimu? Tapi suamiku, aku adalah istrimu. Aku ingin membantumu dalam kebaikan hingga engkau bisa memutuskannya dengan benar.”

Zainab membuktikan kata-katanya selama 20 tahun. Ia bersabar. Setia dengan cintanya. Setia dengan akidahnya.

Abul Ash tetap berada dalam sikapnya. Hingga sampailah saat hijrah nabawi. Zainab menghadap ayahnya.

“Ya Rasulallah, mohon izin aku ingin menetap bersama suamiku.” Bukti cintanya yang sangat dalam. Dan Nabi saw mengizinkannya dengan penuh sayang.

Zainab menetap di Mekah. Saat terjadi Perang Badar, suaminya memutuskan bergabung berperang bersama pasukan Quraisy. Menarget Nabi Muhammad dan kaum muslimin.
Suaminya memerangi ayahnya.

Bermalam-malam ia menangis dan merintih, tenggelam dalam duka. Ia panjatkan doa dan bermunajat penuh kepasrahan.

“Ya Allah… aku takut jika setiap matahari terbit akan menerima kenyataan bahwa anakku menjadi yatim atau aku kehilangan ayahku…”

Abul Ash bertempur masih dengan keyakinanya. Meski ia sendiri tak benar-benar yakin akan sikapnya.
Usailah pertempuran Badar. Abul Ash tertawan. Beritanya sampai ke Mekah.

Dengan penuh cemas ia menanyakan tentang kabar ayahnya
“Kaum Muslimin menang” ia mendapat kabar demikian.
Ia bersujud pada Allah, mensyukuri karunia-Nya.
Ia juga bertanya berita tentang suaminya.

Mereka menjawab, “Ia ditawan oleh mertuanya.”
Ia bergegas ingin menebus suaminya. Ia kirimkan kalung perhiasan.
Ia tak punya apa-apa yang berharga selain perhiasan dari ibunya yang ia kenakan. Perhiasan yang selalu melekat di dadanya. Kalung itu kemudian dibawa saudara kandung Abul Ash menghadap Rasulullah saw.

Nabi Muhammad saw terhenyak ketika melihat kalung istrinya, Khadijah yg sangat dikenalnya.

“Tebusan siapa ini?”

“Tebusan Abul Ash bin Rabi`”

Ada tetesan air mengalir dari pelupuk mata beliau, seraya berbisik pelan, ”Ini adalah kalung Khadijah.” Sebuah ungkapan kesetiaan yang terpatri dalam hati. Tak luntur meski jasad pemiliknya sudah bertahun-tahun terpendam dalam tanah.
Beliau kemudian berdiri dan berkata, “Wahai manusia… Lelaki ini tidak aku cela sebagai menantu.”
Sebuah narasi pengakuan dan sikap adil yang nyata.

“Mengapa kalian tak bebaskan ia dari tawanan? Mengapa kalian tak mengembalikan kalung tebusannya kepada Zainab?”

Para sahabat menjawab , “Labbaik, wahai Rasulullah”
Kesantunan dan ketaatan tertulis dalam sejarah.

Nabi saw kemudian memberikan kalung tersebut kepada Abul Ash dan berkata, “Sampaikan kepada Zainab agar jangan mengabaikan kalung Ibunya, Khadijah.” Sebuah pesan cinta dan kesetiaan yang dahsyat.

Nabi saw. berkata, “Wahai Abul Ash aku sampaikan sebuah rahasia.”
Kemudian Abul Ash mendekati Rasulullah saw.

“Wahai Abul Ash. Sesungguhnya Allah sudah memerintahkan kepadaku untuk memisahkan antara perempuan muslimah dan orang kafir. Maka, kembalikanlah putriku kepadaku!”

Dengan penuh penghormatan Abil Ash berkata, “Siap. Aku akan melakukannya!”

Zainab keluar rumah menuju gerbang kota Mekah hendak menyambut jantung hatinya. Sabar ia tunggu kedatangan suaminya.
Abul Ash terlihat. Tak lama kemudian ia mendekat. Suaminya membisikinya. “Aku akan pergi”

“Ke mana?” pendar mata binar Zainab kembali meredup
“Bukan aku, tapi Engkau yg pergi. Aku berjanji menyerahkanmu pada ayahmu!”
“Mengapa?”
“Untuk memisahkan antara aku dan dirimu. Kembalilah pada ayahmu!”
Abul Ash menepati janjinya.

“Mengapa engkau tak membersamaiku saja. Masuklah Islam” Zainab membujuk penuh harap, penuh cinta.

Dan Abul Ash tetap pada pendiriannya. Zainab pun meninggalkan Mekah. Meninggalkan suaminya. Menaati perintah Allah dan ayahnya. Ia hijrah ke Madinah membawa anak-anaknya.
Sejak saat itu, selama 6 tahun silih berganti para lelaki melamarnya. Namun, Zainab tak pernah berkenan menerima. Ia tetap setia menunggu cintanya yang tertinggal di Mekah. Bersama sekeping harap agar mantan suaminya datang menghadap ayahnya dan membersamainya kembali seperti sedia kala.

Setelah tahun-tahun sulit. Menjelang terjadinya Fathu Makkah, Abul Ash sebagaimana biasa ia melakukan perjalanan, berdagang ke negeri Syam.

Dalam perjalanan pulang ke Mekah ia bersama kafilah dagang Quraisy membawa 100 ekor unta dengan 170 orang. Mereka terendus oleh pasukan mata-mata umat Islam. Mereka pun akhirnya ditawan. Namun, Abul Ash berhasil kabur, lenyap dan menghilang.

Abul Ash berlindung di balik kegelapan malam yang semakin gelap serta larut. Ia mengendap-endap memasuki kota Madinah. Bersembunyi beberapa saat.

Menjelang fajar ia semakin mendekat. Rumah Zainab yang ditujunya. Inilah tsiqoh, sebuah kepercayaan.

Zainab bertanya, “Apakah Engkau datang dalam keadaan muslim?”

Abul Ash menjawab, “Bukan. Aku kabur!”

“Mengapa engkau tidak berislam saja”

“Tidak”

Abul Ash meminta jaminan dan perlindungan. Dan Zainab bersedia melindungi. Menjamin dirinya.

“Jangan takut, anak bibiku. Selamat datang wahai Abu Ali dan Abu Umamah”

Rasulullah saw. berdiri di mihrab, mengimami kaum muslimin Shalat Fajar berjamaah. Beliau mengucapkan takbiratul ihram, para makmum di belakang beliau juga bertakbir. Saat itu dari shaf jamaah perempuan, Zainab mengangkat suaranya. Ia berkata, “Aku Zainab binti Muhammad, telah memberi jaminan kepada Abul Ash, maka lindungilah dia.”

Ketika selesai shalat, Nabi Muhammad saw. menoleh kepada para jamaah dan bertanya, “Apakah kalian semua mendengar seperti yang aku dengar?”

Mereka menjawab, “Ya, wahai Rasulullah.”

Nabi Muhammad saw bersabda, “Demi Dzat yang diriku ada dalam genggaman-Nya. Aku tidak tahu kecuali apa yang aku dengar, seperti yang kalian dengar. Sungguh orang yang paling lemah di antara kaum muslimin telah memberi perlindungan.”

Nabi Saw berdiri menyeru, “Wahai para manusia. Sungguh terhadap lelaki ini sebagai menantu saya tidaklah mencelanya.Menantuku ini telah berbicara denganku dan ia membenarkanku, ia memberi janji dan ia menunaikan janjinya terhadapku”.

Penuh khidmat dan hening para sahabat Nabi saw mendengarkannya.

“Bila kalian setuju untuk mengembalikan hartanya dan membiarkannya pulang ke negerinya, maka ini lebih aku sukai. Tetapi bila kalian menolak, maka semua urusan kuserahkan kepada kalian, keputusan ada di tangan kalian. Saya takkan memprotesnya.”

Inilah musyawarah. Beliau tidak menggunakan otoritas kepemimpinannya.

“Kami bersedia menyerahkan kembali hartanya” para sahabat menyetujui Rasulullah saw. Dan inilah adab dan kesantunan sebagai balasan keteladanan dan tawadhu pemimpin.

Lalu Nabi Saw bersabda, “Wahai Zainab, kita telah memberi perlindungan kepada orang yang engkau beri perlindungan dan jaminan.”

Lalu Rasulullah membersamai putrinya ke rumahnya, “Wahai Zainab! Hormatilah Abul Ash. Dia itu putra bibimu, dia adalah ayah dari anak-anakmu. Tetapi jangan dekati dia, itu tidak halal bagimu.” Syariat dipraktekkan dan dipadu dengan akhlak mulia serta kasih sayang.

Zainab menganggukkan kepala, “Labbaik, wahai Rasulullah.”

Zainab menemui Abul Ash bin Rabi’ dan berkata, “Perceraian kita telah menyulitkan kita. Maukah engkau masuk Islam dan tinggal bersama kami?”
Harapan dan cinta menyatu, keluar dari bibir putri manusia termulia. Namun, Allah belum mengabulkannya.

Abul Ash mengambil hartanya dan pulang menuju Mekah. Sesampai di kota Mekah ia berkata kepada penduduk Mekah, “Wahai penduduk Mekah, terimalah harta kalian. Apakah masih ada yang kurang?”

Mereka menjawab, “Semoga Allah membalas kebaikan kepadamu. Engkau telah menunaikan amanah dengan sangat baik.”

Abul Ash berkata, “Aku sungguh bersaksi bahwa tiada tuhan kecuali Allah dan bahwa Muhammad adalah Rasul-Nya.”

Bergegas, Ia pun pergi berhijrah menuju Madinah. Menjemput hidayahnya. Menyusun kembali kepingan cinta dan kesetiaannya.

Ketika waktu fajar, ia memasuki kota Madinah. Ia bergegas menghadap Nabi Saw. Dia berkata, “Wahai Rasulullah, kemarin Engkau memberi perlindungan kepadaku. Kini, saksikanlah aku datang dan bersaksi bahwa tiada tuhan melainkan Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan-Nya.”
Abul Ash melanjutkan, “Wahai Rasulullah, apakah engkau memberi izin kepadaku untuk kembali (ruju’) kepada Zainab?”

Nabi saw. memegang pundak Abul Ash dan berkata, “Mari berjalan bersamaku.”

Beliau ke rumah Zainab, mengetuk pintu dengan penuh bahagia, “Anakku, Zainab. Ini anak bibimu datang kepadaku. Dia meminta izin kepadaku untuk kembali kepadamu. Bersediakah engkau?”

Maka, nampak muka Zainab kemerahan seraya tersenyum. Malu-malu. Pertanda rela, ungkapan persetujuannya.
Seisi Madinah gegap gempita, menyambut bahagia. Merayakan pertemuan cinta dan kesetiaan. Langit cerah, seputih ketulusan cinta Zainab.

Namun, ini bukan akhir sebuah kisah…

Setahun kemudian, Zainab putri Rasulullah saw. dipanggil oleh Allah. Ajalnya telah sampai.
Isak tangis kesedihan Abul Ash terdengar. Menyayat siapa saja yang mendengarnya. Para sahabat menyaksikan.

Rasulullah saw mengusapnya. Turut merasakan kesedihan yang mendalam. Menerima takdir Allah dengan penuh keimanan.

Suara berat Abul Ash menyeruak, “Wahai Rasulullah aku tak mampu hidup tanpa Zainab”

Dan benar, setahun kemudian ia menyusul kekasihnya.

Menghadap Allah subhânahu wa ta’âlâ

Itulah kisah tentang cinta dan kesetiaan. Bersyukurlah, Allah telah karuniakan perempuan baik mendampingimu. Rawatlah cintanya. Ajaklah membangun istana cinta di dunia. Kelak Allah akan membalasmu dengan karunia cinta yang abadi, kesetiaan yang tak pernah luntur oleh masa.

Dialih bahasakan oleh al-faqîr ilâ ‘afwi rabbih
Dr. Saiful Bahri
dengan beberapa perubahan redaksi dan penambahan.

Sumber tulisan:
1. https://www.ahlalhdeeth.com/vb/showthread.php?t=208173 atau di tautan: https://al-maktaba.org/book/31615/34748
2. Beberapa redaksi diambil dari At-Tarikh al-Islamiy karya Mahmud Syakir, Siyar a’lâm an-Nubalâ karya Imam al-Hafizh Syamsuddin adz-Dzahabiy.
3. Hadis jaminan Zainab kepada Abul Ash juga diriwayatkan oleh ath-Thabraniy, al-Hakim dan al-Baihaqi dari riwayat Ummu Salamah ra.

**

Bogor, 13.07.2018

Pertanyaan “Siapa Anda?”

Ketika seseorang mendapat pertanyaan “Siapa Anda”, tentu akan merespon secara berbeda sesuai konteks dan intonasi. Pertanyaan ini bisa merupakan murni pertanyaan yang artinya keperluan untuk mendapatkan informasi, atau sebagai pembuka untuk mengungkap identitas lawan bicara. Biasanya pertanyaan seperti ini dilontarkan dengan datar, tak jarang disertai tambahan kata maaf dan nama, sehingga redaksinya kira-kira, “Maaf, siapa nama Anda?” atau “Maaf, dengan siapa?” atau jika lebih menghormati bisa ditambah kata bapak atau ibu.

Namun, pertanyaan di atas bisa juga merupakan tantangan. Biasanya, difungsikan untuk pembuktian kualitas dan identitas yang diinginkan oleh si penanya. Intonasinya sedikit naik, dan biasanya tak diperlukan basa-basi dalam menjawab sebagaimana pertanyaan yang disampaikan juga tanpa basa-basi.

Pertanyaan di atas bisa merupakan penghinaan atau mengingkari keberadaan orang yang sedang ditanya. Biasanya diiringi intonasi yang sedikit naik atau bahkan dengan suara yang sangat tinggi. Kemudian, gestur tubuh penanya juga tidak sedikit pun menunjukkan penghormatan terhadap lawan bicaranya. Pertanyaan jenis ini tidak selamanya berkonotasi negatif. Al-Quran di beberapa kesempatan menggunakan pertanyaan seperti ini (dikenal dengan istifhâm inkâriy) yang ditujukan kepada para pendusta risalah nabi Muhammad SAW, para pelaku kezhaliman dan para durjana. Meskipun, tentunya tak boleh disamakan dengan perkataan manusia.

Sebaliknya, orang-orang angkuh dan sombong juga akan mengalamatkan pertanyaan tersebut kepada orang yang direndahkan, dianggap tidak kredibel, maka ia dihinakan secara berlebihan.

Bagaimana jika pertanyaan tersebut dilontarkan kepada seseorang yang sedang mengerjakan kewajibannya, menunaikan tugas dengan sebaik-baiknya atau melaksanakan amanah yang dibebankan kepadanya. Mungkin, ia akan luruh atau drop mentalnya karena merasa tak dihargai. Mungkin ia akan tertantang untuk membuktikan bahwa ia bisa berbuat lebih baik. Atau ia akan membuktikan bahwa ia memiliki nama yang layak untuk disebut dan tidak dipertanyakan keberadaannya.

Tiga fungsi pertanyaan di atas bisa sekaligus berlaku untuk manusia yang masih memiliki hati nurani ketika melihat kezhaliman dan penindasan yang terjadi di negeri Syam dan khususnya di Palestina dan Suriah.

Pertanyaan siapa Anda pertama, untuk mengungkap identitas, berlaku menumbuhkan solidaritas orang yang dizhalimi dan tertindas. Baik sebagai muslim atau bahkan “sekedar” sebagai manusia, pasti akan tercabik-cabik hatinya, bila ia hanya diam menyaksikan kondisi yang tidak manusiawi yang sedang terjadi di sana.

Pertanyaan siapa Anda kedua, untuk menyampaikan tantangan juga berlaku. Jika, sudah menjawab sebagai muslim atau manusia, maka harusnya dibuktikan sanggup berbuat sesuatu yang bermakna untuk menolong sesamanya.

Pertanyaan siapa Anda ketiga, untuk menunjukkan pengingkaran dan penghinaan ketika ada orang yang mengaku sebagai manusia atau muslim, namun masih bisa dengan santainya tidak peduli dengan kasus-kasus kemanusiaan yang menimpa saudaranya sesama manusia atau sesama muslim.

Kecuali jika seseorang memang benar-benar tak mengetahui kondisi yang sedang terjadi, maka kembali ke pertanyaan pertama. Jika ia tak tahu, maka diperlukan edukasi yang baik sehingga mampu memahami permasalahan dengan baik. Jika informasi yang tersampaikan cukup baik maka seseorang akan tertantang untuk berbuat.

Saat ini, drama kezhaliman dan aksi kelaliman sedang dipertontonkan dengan semena-mena dan terang-terangan. Dunia seisinya menyaksikan dengan terang benderang, namun tak mampu merespon dengan baik.

Di saat di berbagai belahan dunia sibuk menyambut kemajuan industri dan teknologi serta menikmati kemakmuran, ternyata terdapat banyak anak manusia yang terzhalimi. Mereka bertahun-tahun hidup di pengasingan, terusir dari kampung halaman. Saat mereka berkali-kali berusaha untuk kembali, mereka dinistakan dan dibunuhi, bahkan dijuluki melakukan anarkisme dan terorisme. Dunia terbalik, karena sang penjajah dipuja dan dibela. Sang penista dan durjana diterima dengan tangan terbuka dan senyum basa-basi yang penuh ekspresi kepalsuan. Sementara orang-orang terzhalimi terus terkepung dengan ketidakberdayaan. Mereka terjebak oleh kemiskinan dan kelaparan. Carut marut, angka pengangguran, infrastrukur fisik yang buruk, dan segudang kekurangan tampak menganga menambah luka.

Maka jawablah: Siapa Anda?

 

Catatan Keberkahan 97

Jakarta, 18.04.2018

SAIFUL BAHRI

Khutbah Jumat Isra Mi’raj: Misi Menghadirkan Keberkahan dan Menumpas Kezhaliman

Dr. H. Saiful Bahri, M.A

الحمد لله القائل «سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَىٰ بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ»، أشهد أن لا إله إلا الله، وأشهد أنّ محمّدا رسول الله، اللهم صل وسلم عليه وعلى آله وأصحابه. فيا عباد الله أوصي نفسي وإياكم بتقوى الله فقد فاز المتقون. أما بعد

_Kaum Muslimin, jama’ah shalat jumuah rahimakumullah_

Marilah kita syukuri nikmat Allah SWT yang sangat melimpah. Diberikan kepada kita, baik diminta ataupun tidak, disadari atau tidak, bahkan disyukuri atau tidak. Dalam berbagai kondisi makhluk-Nya, Allah senantiasa anugerahkan nikmat-Nya tanpa memilah-milih. Hanya rasa syukur yang membedakan posisi seorang hamba di sisi-Nya. Namun, hanya sedikit yang mampu melakukannya. Semoga kita termasuk hamba-Nya yang bersyukur. Hamba yang dibersamai Allah dalam segala kondisi. Suka maupun duka. Sedih dan gembira, dalam keadaan sendiri ataupun bersama.

Salah satu karunia dan nikmat Allah yang besar yang dikaruniakan kepada Nabi Muhammad SAW adalah perjalanan Isra dan Mi’raj. Seperti yang kabarkan Allah pada awal surah al-Isra’.

Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al-Masjidil Haram ke Al-Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami.” (Al-Isra’: 01)

Ayat di atas menjelaskan keterkaitan antara Masjid al-Haram dan Masjid al-Aqsha. Dua masjid penting umat Islam. Allah transitkan Nabi Muhammad saw di Masjid al-Aqsha sebelum mi’raj ke langit dan sidratul muntaha, padahal Dia mampu memberangkatkan beliau langsung tanpa transit. Terdapat isyarat penting tentang Masjid al-Aqsha.

Pertama, Allah ingin tunjukkan posisi penting kedua masjid yang disebut dalam ayat ini.

Kedua, Allah mengabarkan keterkaitan semua risalah di bumi-Nya dengan eksistensi bumi yang diberkahi tersebut. Orbit risalah keberkahan itu –di antaranya– berasal dari tempat itu.

Ketiga, Allah hanya akan wariskan bumi yang diberkahi tersebut kepada kaum yang beriman, dari kalangan mana pun, tanpa membedakan jenis kelamin dan etnis mereka.

Penaklukan (futuhât) Masjid Al-Aqsha di era amirul mukminin Umar ra, memberikan nuansa cerita perjuangan yang berkesinambungan. Sekaligus menggambarkan bahwa pembebasan Masjid al-Aqsha dan al-Quds tidak bergantung pada figur personal –saja– tetapi lebih kepada keshalihan kolektif.

_Kaum Muslimin, jama’ah shalat jumuah rahimakumullah_ …

Tak ada sedikit pun yang meragukan keshalihan personal Nabi Muhammad SAW, sebagaimana tak terjadi perbedaan pendapat tentang keshalihan generasi pertama (para shahabat). Tetapi, tentu ada hikmah lain yang dikehendaki Allah, terjadinya pembebasan al-Quds dan dikembalikannya Masjid al-Aqsha ke tangan umat Islam justru terjadi setelah wafatnya Nabi Muhammad SAW.

Di antara hikmah tersebut adalah kesinambungan ruh dan jiwa serta keimanan. Karena, faktanya bahwa Masjid al-Aqsha hanya akan diwariskan kepada orang-orang yang beriman saja. Demikian ditegaskan oleh Allah dari sejak diutusnya para nabi hingga kaum-kaum beriman yang mengikutinya.

Lihatlah Nabi Luth yang disertai pamannya, Nabi Ibrahim ketika Allah selamatkan dari siksa pedih yang akan ditimpakan kaumnya, hujan batu dan dibalikkannya tanah tempat mereka berada.

(وَنَجَّيْنَاهُ وَلُوطًا إِلَى الْأَرْضِ الَّتِي بَارَكْنَا فِيهَا لِلْعَالَمِينَ ﴾ (الأنبياء: 71)

Kata (الذي باركنا فيها) “sebuah negeri yang Kami berkahi” penggunaan yang senada seperti dalam peristiwa isra’. Ini juga disebutkan saat Allah akan menyelamatkan Nabi Musa dari kejaran Firaun dan tentaranya (Surah al-A’raf: 137), atau disebut sebagai tanah suci “al-ardhu al-muqaddasah”(Surah al-Maidah: 21), yaitu Baitul Maqdis atau Palestina saat ini.

Dalam kisah Nabi Sulaiman yang diberi mukjizat angin oleh Allah, juga pernah berkunjung ke negeri yang diberkahi tersebut seperti dituturkan dalam Surah al-Anbiya’ ayat 81.

_Kaum Muslimin, jama’ah shalat jumuah rahimakumullah_

Masjid al-Aqsha adalah tempat sujud tertua kedua di dunia setelah Masjid al-Haram. Adamlah manusia pertama yang injakkan kakinya di sana, seorang nabi muslim yang beriman kepada Allah dan esakan-Nya.

Demikian dilanjutkkan keturunan Nuh, Ibrahim, Luth. Bahkan sampai saat keturunan Ya’qub ke tanah suci ini Masjid al-Aqsha dijaga oleh orang-orang yang beriman. Hingga datang saatnya Masjid al-Aqsha dikuasai orang-orang zhalim yang berbuat kerusakan dan menebar kemungkaran yang disebut oleh al-Quran dengan sebutan “qauman jabbârin”. Musa alaihissalâm dititahkan Allah memasukinya dan mengambil alih kendali kepemimpinan dan kemakmuran di tanah suci tersebut. Sayangnya titah tersebut dibantah oleh kaumnya. Dan Allah menghukum mereka. Bahkan mengharamkannya untuk selama-lamanya (menurut sebagian mufassirîn).

Allah juga kirimkan Dawud ‘alaihissalâm pemuda berusia belasan tahun yang hanya seorang penggembala kambing yang tergabung dalam pasukan yang dipimpin Thalut. Seorang pemuda muslim yang beriman ini bahkan tak dikenal siapa-siapa. Ia hanya seorang prajurit biasa sebagaimana yang lainnya. Tetapi kisahnya berubah setelah Allah mengakhiri rezim Jalut melalui dirinya. Ia menjadi pewaris mulia yang kemudian ditahbiskan menjadi seorang raja.

Allah juga kirim Zakariya dan putranya Yahya di tanah suci ini. Sepasang bapak anak yang nabi ini juga keponakannya Isa al-Masîh Allah kirim ke tanah suci. Tapi justru ketiganya diburu dan menjadi target pembunuhan oleh bangsa Yahudi saat itu. Dua yang pertama Allah takdirkan terbunuh sebagai syahid di tangan para durjana, sementara Isa Allah selamatkan dan angkat ke langit-Nya.

Tanah suci Bait al-Maqdis merupakan tanah yang –hanya– diwariskan oleh Allah hanya kepada siapapun dari hamba-Nya yang beriman, dari mana pun asalnya, tanpa diskriminasi kesukuan dan etnis serta jenis kelamin.

_Kaum Muslimin, jama’ah shalat jumuah rahimakumullah_

Penjagaan, pemeliharaan, jihad mempertahankan kesuciannya dan seterusnya tidaklah hanya menjadi tanggungjawab nabi-nabi, melainkan menjadi tanggung jawab semua orang beriman yang mengesakan Allah dan bersaksi bahwa Muhammad SAW sebagai utusan-Nya di mana pun, berasal dari mana pun, berlatar belakang apapun. Maka permasalahan al-Aqsha dan al-Quds tidaklah tereduksi hanya menjadi masalah bangsa Palestina, tetapi ini menjadi masalah universal seluruh umat Islam, lintas geografi, etnis bahkan lintas generasi, sampai tanah suci tersebut kembali kepada umat Islam. Keesaan Allah benar-benar ditegakkan di sana.

Unjuk rasa yang terjadi akhir-akhir ini di Palestina sejak 30 Maret 2018 yang sudah memakan korban jiwa tak sedikit, bukan sekedar memperjuangkan hak kembali ke tanah air mereka. Bukan sekedar permasalahan tanah. Namun, ini adalah misi menumpas kezhaliman dan mengakhiri penjajahan yang secara terang benderang dipertontonkan, tapi dunia seolah tak berdaya menghadapinya. Kita harus mendukung Bangsa Palestina memperoleh hak kemerdekaannya sekaligus menjaga Masjid Suci umat Islam. Menghadirkan kembali cinta dan kasih sayang di bumi yang diberkahi, jauh dari penindasan dan kezhaliman yang semena-mena.

Kita harus belajar inspirasi kemenangan dari Khalifah Umar bin Khattab saat memasuki kota suci dengan kepala tegak, namun tanpa keangkuhan. Penuh tawadhu dan kesederhanaan. Mengundang decak kagum dan penghormatan. Sarat dengan kesantunan dan toleransi, penuh penghayatan jiwa kemanusiaan sekaligus menjadi penjaganya dari segala bentuk kezhaliman, apapun namanya, siapapun pelakunya .

Simaklah apa yang dilakukan Umar saat memasuki kota al-Quds.  Umar bin Khattab minta ditunjukkan oleh Pendeta Sophronius letak Masjid al-Aqsha, tempat yang dijadikan ahlul kitab beribadah. Setelah memasukinya ia bertakbir “Inikah masjid yang diberitahu oleh Rasulullah SAW?”, gumamnya. Waktu itu Masjid al-Aqsha  hanya merupakan pelataran dan tanah lapang yang luas. Sentrumnya berupa sebuah batu mulia yang menjadi pijakan Nabi Muhammad SAW saat hendak mi’raj, yang dijadikan kiblat shalat Nabi Musa dan kaumnya Bani Israil.

Beliau ingin melanjutkan tradisi sentralisasi masjid. Masjid dijadikan sebagai pusat peradaban. Dari masjid semuanya beliau ingin memulai. Maka di masjid itulah titik temu semua sendi peradaban Islam. Politik, ekonomi, kehidupan sosial, hukum, bahkan militer semua bermula dari tempat sujud. Ruh inilah yang saat ini digugat oleh kaum sekuler liberal yang ingin melunturkan ruh Islam agar jauh dari fisik umat Islam. Tak heran bila mereka mendengungkan agar Islam dan masjid sebagai ikonnya dijauhkan dari berbagai aspek kehidupan manusia. Seolah ingin dikatakan bahwa masjid hanya menjadi tempat shalat dan membaca al-Quran saja.

Saat Umar memasuki bait al-Maqdis dari al-Jabiyah untuk menandatangi piagam perdamaian dengan penduduk kota, Pendeta Sophronius mempersilakan dan memohon kepada beliau melakukan shalat di Gereja al-Qiyamah. Tetapi Umar menolaknya. Beliau mengatakan , “Jika aku shalat di dalamnya, aku khawatir orang-orang setelahku akan mengatakan ini mushalla Umar, kemudian mereka akan berusaha membangun masjid di tempat ini”. Itulah toleransi sesungguhnya yang diajarkan Umar. Santun dan argumentatif.

جعلنا الله وإيّاكم الذين يستمعون القول فيتبعون أحسنه. بارك الله لكم في القرآن الكريم ونفعنا وإياكم من الآيات والذكر الحكيم. استغفر الله العظيم لي ولكم ولسائر المؤمنين. استغفروه إنه هو الغفور الرحيم

Menyambut Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad saw.
Jakarta, 11.04.2018

Ujian Ketakutan

Ujian manusia di dunia sangat beragam. Salah satu ujian yang pasti akan dilalui seorang manusia adalah sedikit rasa takut. Rasa takut adalah refleksi kelemahan manusia terhadap masa depannya. Sehebat apapun ilmu seseorang takkan pernah mampu menjangkau masa depannya. Karena itulah, seseorang diuji dengan rasa takutnya.

Sebagian orang takut miskin di masa tuanya. Sebagian lainnya takut ditinggalkan oleh orang-orang dekatnya, takut gagal usahanya, takut kehilangan kekuasaan. Sebagian besar selebriti dunia, takut kehilangan magis popularitasnya. Para pendusta takut kebohongannya terbongkar. Para durjana takut aib-aibnya diketahui. Para penipu takut korban-korbannya sadar, kemudian menuntutnya. Sebagian orang takut hidup susah, takut mati dan sengsara. Sebagian manusia takut dicela dan dicaci, dan sangat ingin dipuja-puji. Sebagian lainnya takut dimarahi dan dimurkai, takut kehilangan pekerjaan dan karirnya, takut kehilangan keluarga dan orang-orang yang dicintainya.

Itulah beberapa sampel ketakutan manusia yang sebagian besar bersifat materi dan berorientasi kebendaan. Padahal ada sesuatu yang patut dikhawatirkan oleh manusia yang pasti mati dan akan dibangkitkan kembali serta diadili nantinya. Kematian personal adalah gerbang hari akhir yang akan dimasuki oleh setiap manusia. Kecerdasan seseorang diukur dari persiapannya menghadapi kehidupan setelah kematiannya. Itulah yang diistilahkan oleh Nabi Muhammad saw. dengan al-kayyis, yaitu orang yang benar-benar cerdas.

Rasa takut yang menjadi ujian pokok manusia adalah jenis ketakutan tersebut dan cara ia meresponnya. Jika ketakutannya benar, maka track yang akan dilaluinya akan menghantarkannya kepada kesuksesan di masa hidupnya, baik di dunia maupun di akhirat. Namun sebaliknya, jika salah orientasi maka akan menyengsarakan hidupnya, di dunia, terlebih nanti di akhirat.

Al-khauf pada ayat 155 Surah al-Baqarah merupakan ketakutan dasar. Jika ditindaklanjuti dengan benar akan menanjak pada rasa takut di tangga berikutnya yaitu khudhû’ dan khusyû’ yaitu rasa takut yang diikuti dengan ketundukan kepada Allah. Pada klimaksnya seseorang akan meraih hakikat takut yang sesungguhnya yaitu khasyyah (خشية), sebagaimana dituturkan firman Allah, “Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama.” (QS. Fathir: 28). Ketakutan pada Allah menghasilkan kekuatan dan kecerdasan, mengantar sang pemilik rasa tersebut pada derajat keilmuan yang tertinggi.

Namun, lihatlah orang kaya yang takut miskin dan kehilangan hartanya. Al-Quran menuturkan kisah Qarun. Ia menyerah dengan ketakutannya dan meresponnya dengan kesalahan berikutnya; kikir dan sombong.

Saksikan pula Fir’aun yang takut kehilangan kekuasaannya. Ia membunuhi bayi-bayi lelaki Bani Israil, tapi justru ia biarkan orang yang menjadi mimpi buruknya, hilangnya kekuasaan sekaligus kezhalimannya yang melampaui batas.

Bacalah kisah keangkuhan dan ketakutan Abu Jahal terhadap pengaruh Nabi Muhammad saw, membuatnya selalu mengerahkan segalanya untuk menghalangi, justru yang ditakutinya menjadi nyata dan ia tewas oleh kehinaannya. Ketakutan pengaruh ini dilanjutkan Abdullah bin Ubay, sang pemimpin munafik yang takut tersaingi oleh hadirnya Nabi Muhammad saw di Yatsrib. Ia pun selalu meneror dan memfitnah beliau. Akibatnya, ia meninggal dengan penuh hina.

Orang-orang zhalim takut dan terhantui oleh kezhalimannya. Sementara pemimpin yang adil takut menzhalimi dan menyengsarakan rakyatnya.

Para penjajah takut orang-orang teraniyaya bangkit dan melakukan perlawanan serta perjuangan meraih kemerdekaannya. Seperti yang dilakukan bangsa Palestina yang takkan pernah berhenti meraih kedaulatannya, hak asasi manusia yang dilindungi oleh undang-undang internasional serta sejalan dengan fitrah sebagian besar penduduk bumi ini.

Sebaliknya, Israel yang menjajah mereka dan merenggut kedaulatan mereka akan terus terhantui oleh kezhalimannya. Batu-batu kecil pernah membuat mereka takut. Pisau-pisau dapur pun pernah membuat mereka paranoid. Anak-anak kecil juga pernah memerangkap mereka dalam ketakutan. Para perempuan tak berdaya juga membuat mereka takut. Dan, hari-hari ini mereka sangat takut dengan kerumunan. Dan jika ketakutan-ketakutan semakin membabi buta, itu pertanda mereka takkan pernah melaluinya kecuali dengan kegagalan dan kekalahan.

Luruskan orientasi takut, agar tak terjerembab pada kehinaan dan kebinasaan. Karena Allah berjanji takkan pernah mengumpulkan dua rasa takut pada diri hamba-Nya. Jika seseorang takut Allah di dunia, Dia berjanji akan mengamankannya di akhriat. Bila ia tak takut Allah di dunia, kelak Allah akan timpakan ketakutan yang dahsyat padanya di akhirat. WalLâhu al-Musta’ân.

 

Catatan Keberkahan 96

Jakarta, 09.04.2018

SAIFUL BAHRI