Raising The Standard of Giving

Naskah Khutbah Idul Fitri 1440 H

Dr. Saiful Bahri, M.A.

Al-Hijrah CIDE (Center for Islamic Dakwah and Education)

Croatian Club Punchbowl, Sydney, NSW

 

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

الله أكبر (9) . الله أكبر كبيراً والحمد لله كثيراً. وسبحان الله بكرةً وأصيلاً. لا إله إلاّ الله والله أكبر، الله أكبر ولله الحمد. الحمد لله الذي فرض علينا الصيام وبعث لنا خير الأنام. أشهد أن لا إله إلاّ الله وحده، صَدَقَ وعْدَه ونصَر عبْدَه وأعزّ جُنْدَه وهزَم اْلأحْزَابَ وحدَه، وأشهد أنّ محمداً عبده ورسوله لا نبي بعده، فصلوات الله وسلامُه على هذا النبي الكريم وعلى آله وذريته وأصحابه أجمعين. أمّا بعد، فيا عباد الله أوصي نفسي وإياكم بتقوى الله، إنه من يتق ويصبر فإن الله لا يضيع أجر المحسنين. يقول المولى عز وجل: (حَتَّىٰ إِذَا أَتَوْا عَلَىٰ وَادِ النَّمْلِ قَالَتْ نَمْلَةٌ يَا أَيُّهَا النَّمْلُ ادْخُلُوا مَسَاكِنَكُمْ لَا يَحْطِمَنَّكُمْ سُلَيْمَانُ وَجُنُودُهُ وَهُمْ لَا يَشْعُرُونَ) (النمل :18). طِبْتُمْ وطابَ ممْشَاكُمْ وتَبَوّأتمْ مِن الجنّة منزلاً .

Allahu Akbar x 3, walillahil hamd

Ma’asyiral muslimin wal muslimat rahimakumullah.

Segala puji dan syukur kita kumandangkan. Menandai kemenangan yang dikaruniakan Allah Swt. Sebuah kemenangan yang diraih melalui sebuah proses pendidikan dan pembiasaan dari Allah yang Maha Agung.

Allah anugerahkan berbagai kebaikan di bulan mulia ini. Kemuliaan sebagaimana Ia muliakan Jibril pembawa wahyu-Nya, menjelma malaikat terbaik-Nya. Ia muliakan Muhammad SAW, penerima kalam suci-Nya, menjadi manusia termulia. Ia muliakan malam yang menjadi sarana turunnya al-Quran. Malam kemuliaan (lailatul qadar) dan malam keberkahan (lailatun mubarakah) Ia menamakannya. Malam yang kadar kualitasnya melebihi seribu bulan.

Allah yang Maha Lembut itu mewajibkan mewajibkan puasa kepada kita. Dia menggunakan panggilan khusus yang bahkan sebelumnya tak pernah dikenal oleh Bangsa Arab. (يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا) “wahai orang-orang yang beriman”. Secara eksplisit panggilan seperti ini hanya dipakai pada surat atau ayat-ayat yang turun di Madinah; yaitu diulang sebanyak delapan puluh sembilan (89) kali. Mengindikasikan banyak hal; di antaranya:

Panggilan tersebut adalah panggilan sayang dan cinta karena menonjolkan pemenuhan perintah untuk mengimani Allah, Rasul dan seterusnya. Sekaligus berfungsi sebagai pujian.

Panggilan tersebut selalu digunakan dalam bentuk plural (jama’). Menandakan bahwa dalam kondisi bersama dan berkelompok lebih mudah dan memungkinkan untuk mengekspresikan keimanan dan perilaku keagamaan. Sekaligus perintah untuk merekayasa kebaikan secara sosial. Seperti pendidikan Ramadan, tatkala banyak orang berpuasa (wajib), kemudian membiasakan baca al-Quran, qiyâmullail (tarawih dan tahajud), berdoa, bersedekah, silaturahmi dan sebagainya. Maka secara tak sadar kita lebih mudah melakukan hal-hal tersebut. Saat itu orang yang terbaik di antara kita adalah benar-benar orang berkualitas sebagai cerminan doa ibâdurrahmân (وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا) “jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang bertakwa”. Itu adalah permohonan menjadi yang terbaik di antara orang-orang baik. Juara di antara para juara.

Bulan Ramadan adalah nafas baru. Nafas kehidupan yang tawarkan optimisme untuk mengalahkan diri sendiri sebelum mengalahkan bisikan setan dari kalangan jin dan manusia. Nafas kemenangan itu terdengar menggema saat Allah bersumpah, (والصّبح إذا تنفّس) “dan demi subuh apabila fajarnya mulai menyingsing” (QS. At-Takwîr [81]:18).

Setiap pagi menyingsing datang maka pada hakikatnya Allah berikan kesempatan kita dengan nafas baru optimisme untuk raih kemenangan. Dan Ramadan Allah datangkan dengan ribuan kebaikan yang dijanjikan-Nya sebagaimana Dia lebihkan lailatul qadar dari malam-malam lain, bahkan lebih baik dari seribu bulan.

(يا باغي الخير أقبل ●  ويا باغي الشر أقصر)

Wahai pemburu kebaikan terimalah (peluang kebaikan) ●  wahai pelaku keburukan berhentilah (bermaksiat)

 

Allahu Akbar x 3, walillahil hamd

Ma’asyiral muslimin wal muslimat rahimakumullah

Allah yang Maha Pengasih dan Penyayang telah menganugerahkan nikmat yang tak terhitung dan tak berbilang. Baik kenikmatan berbentuk materi maupun non materi. Allah memberi akal untuk berpikir dan sarana mencari ilmu. Allah berikan rizki berupa harta dan kesehatan. Allah memberikan keluarga dan teman serta komunitas pergaulan. Allah memberikan ketenangan hidup dan kebahagiaan. Sesekali memang Allah memberikan ujian kepada kita, namun secara umum nikmatnya lebih mendominasi hidup kita.

Nikmat-nikmat yang sangat banyak tersebut bahkan sebagian besar kita tidak memintanya, Allah memberinya setiap saat, apapun kondisi kita. Semua manusia bahkan makhluk-Nya mendapatkannya. Baik ia taat atau pun bermaksiat, baik ia sadar atau pun lalai kepada-Nya, semua dianugerahkan kepada orang baik dan para durjana.

Yang akan dinilai dari Allah adalah respon hamba-Nya. Apakah ia bersyukur atau mengingkarinya? Apakah karunia tersebut dipergunakan sebagaimana mestinya dengan baik dan bermanfaat atau digunakan untuk memuaskan hawa nafsurnya?

Maka, pada saat Allah anugerahkan bulan Ramadan adalah nikmat yang sangat luar biasa. Allah turunkan al-Quran di dalamnya untuk membimbing manusia menjalani hidup yang bermartabat, bermanfaat dan mulia di dunia. Menjalankan fungsi kepemimpinan terhadap semua manusia dan makhluk Allah di bumi-Nya.

Di bulan yang berkah ini kita dimudahkan melakukan banyak kebaikan, dan terasa ringan. Puasa, shalat berjamaah, membaca al-Quran, shalat malam, bersedekah dan berbuat ihsan semua terasa ringan karena Allah menjadikannya demikian. Setan dan keburukan dibelenggu. Pintu neraka ditutup rapat. Surga dan pengampunannya di buka lebar-lebar. Allah ingin hamba-hamba-Nya tak berputus asa mengejar rahmat-Nya.

Saat kita diberikan kecukupan ilmu, rizki berbentuk materi, keluarga dan banyak hal lain, yang kita naikkan bukanlah standar hidup kita. Bukan pula gengsi dan prestise social di hadapan manusia. Namun, saat kita berkecukupan itulah waktu yang tepat untuk mensyukurinya dengan menaikkan standar memberi dan berbagi, raising standard of giving and sharing.

Saatnya kita evaluasi agar kita lebih menaikkan standar pemberian kita kepada dhuafa dan kaum miskin

Saatnya kita evaluasi memberi waktu terbaik kepada anak-anak serta keluarga kita, memberikan nafkah terbaik yang halal dan thayyib kepada mereka untuk menghadirkan keberkahan dalam kehidupan kita.

Saatnya kita memberi yang terbaik untuk merawat cinta agar terus tumbuh kembang kepada pasangan hidup kita, istri atau suami kita.

Saatnya kita berikan waktu terbaik untuk tekun belajar al-Quran, rajin membacanya, mencontohkannya kepada anak-anak dan orang yang kita cintai.

Saatnya kita berikan yang terbaik untuk Rasulullah SAW, dengan perbanyak shalawat dan mengamalkan sunnah-sunnahnya serta mengenalkan sirah beliau kepada sebanyak mungkin manusia

Saatnya kita berikan waktu terbaik untuk menghadap Allah dengan sepenuh jiwa, berdoa dan berzikir mendekatkan diri padanya, lebih dekat lagi agar kita meraih kemenangan dengan cinta dan maghfirah-Nya

Saatnya memberi yang terbaik, karena Allah janjikan kebaikan yang terbaik dari sebuah malam yang bernilai lebih baik dari seribu bulan.

Allahu Akbar x 3, walillahil hamd

Ma’asyiral muslimin wal muslimat rahimakumullah

Rasulullah SAW sangat dermawan, dan ketika di bulan Ramadan kedermawanan beliau melebihi angina yang bertiup sebagaimana dijelaskan dalam hadis al-Bukhari

عن عبد الله بن عباس رضي الله عنهما قال: “كان رسول الله صلى الله عليه وسلم أجود الناس، وكان أجود ما يكون في رمضان حين يلقاه جبريل، وكان يلقاه في كل ليلة من رمضان فيُدارسه القرآن، فالرسول الله صلى الله عليه وسلم أجودُ بالخير من الريح المرسَلة”

Mari belajar dari Sahabat Rasulullah SAW ketika mencontohkan keteladanan memberi pada saat kesulitan. Adalah Ali bin Abi Thalib tokoh protagonis tersebut. Ketika ia hendak sarapan tak lagi menjumpai makanan di rumahnya. Ia pun keluar rumah untuk menjemput rizki dan mencari makanan untuk istri dan anaknya. Fatimah melepasnya dengan ridho dan sepenuh jiwa mendoakan suaminya.

Siang hari beliau mendapatkan uang yang cukup membeli makanan untuk keluarganya. Di tengah perjalanan ia menjumpai al-Miqdad yang terlihat pucat dan keletihan. Ali memaksanya untuk berterus terang. Ternyata al-Miqdad sudah dua hari belum memberi makan keluarganya. Maka, Ali pun menarik tangan kanan al-Miqdad. Ia pun mengepalkan uang yang didapatkannya ke telapak tangan al-Miqdad.

“Pulanglah… berilah makan keluargamu!”

Al-Miqdad berkaca-kaca, sangat berterima kasih kepada Ali. Ia pergi setelah memeluknya dan mendoakan dengan sepenuh cinta.

Ali lega bisa menolong sahabatnya, meskipun ia kebingungan bagaimana akan memberi makan keluarganya. Ia pun ke Masjid Nabawi. Sore hari Rasulullah SAW, mertuanya menjumpainya, setelah bertanya kabar, kata-kata Rasulullah SAW benar-benar terdengar bagai petir menyambar.

“Ali, malam ini aku ingin makan di rumahmu!”

“Bagaimana aku akan menjamu, sedangkan tiada apa-apa di rumah?” Ali tertegun sejenak. Namun, segera ia mengiyakan dengan penuh keyakinan, “Labbaik ya Rasulullah!”

Malam harinya Ali pun menghantarkan Rasulullah SAW ke rumahnya untuk makan malam. Hati Ali berkecamuk. Namun, ia terheran ketika Fatimah berseri-seri menyambutnya. Terlebih saat Fatimah mengatakan, “Ayahku… suamiku… bersegeralah masuk. Aku telah menyiapkan makanan untuk kalian”

Sejenak Ali tercengang. Namun, keheranannya terjawab ketika Fatimah berujar, “Suamiku, sore tadi ada seseorang mengantarkan makanan untuk kita”. Dada Ali seketika bergemuruh. Ia penuhi rasa syukur tak terkira. Ia bertahmid memuji Allah.

Rasulullah SAW pun tersenyum seraya bersabda, “Ali, sore tadi Jibril menemuiku, ia diperintahkan untuk menyampaikan pesan kepadaku untuk makan malam di rumahmu”

Subhanallaah… sebuah kisah persaudaraan dan itsar yang luar biasa.

Rasulullah SAW pun sangat menyayangi pada dhuafa dan kaum lemah. Suatu ketika beliau sedang mengajarkan Islam kepada para budak dan orang-orang miskin. Kemudian beberapa bangsawan Quraisy hendak menemui beliau. Rasulullah SAW adalah orang yang sangat ramah, ia pun menyambut para tetamu pembesar tersebut dengan senyum lebar. Mendadak wajah beliau berubah, salah tingkah, karena para pembesar itu berkata dengan penuh keangkuhan, “Suruh pulang mereka Muhammad, kami tak bias duduk Bersama mereka”.

Rasulullah SAW terdiam. Beliau tak tahu harus menjawab apa. Namun, tak lama Allah turunkan ayat untuk mempertegas posisi beliau.

وَلَا تَطْرُدِ الَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُم بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ يُرِيدُونَ وَجْهَهُ ۖ مَا عَلَيْكَ مِنْ حِسَابِهِم مِّن شَيْءٍ وَمَا مِنْ حِسَابِكَ عَلَيْهِم مِّن شَيْءٍ فَتَطْرُدَهُمْ فَتَكُونَ مِنَ الظَّالِمِينَ

Dan janganlah kamu mengusir orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan petang hari, sedang mereka menghendaki keridhaan-Nya. Kamu tidak memikul tanggung jawab sedikitpun terhadap perbuatan mereka dan merekapun tidak memikul tanggung jawab sedikitpun terhadap perbuatanmu, yang menyebabkan kamu (berhak) mengusir mereka, (sehingga kamu termasuk orang-orang yang zalim). (Surah al-An’am: 52)

Rasulullah SAW adalah orang yang sangat peduli dengan orang-orang lemah, tertindas dan miskin.

Allahu Akbar x 3, walillahil hamd

Ma’asyiral muslimin wal muslimat rahimakumullah

Waktu yang Allah berikan kepada kita sangat terbatas, sebagaimana kebaikan yang Allah mudahkan kita di bulan Ramadan. Karena itu Allah berfirman, “أياماً معدودات” dan kini hari-hari indah itu telah berlalu. Namun, kita mendapat pelajaran berharga supaya pandai memanfaatkan peluang kebaikan sekecil apapun. Karena Rasul SAW pun berpesan agar kita tak meremehkan kebaikan sekecil apapun sekalipun hanya tersenyum.

Allah mengajarkan kepada kita sebuah kebaikan kecil yang kekal. Kebaikan seekor semut yang direkam al-Quran di dalam surah an-Naml. Bahkan dijadikan sebuah nama surah. Simaklah kisah tersebut.

حَتَّىٰ إِذَا أَتَوْا عَلَىٰ وَادِ النَّمْلِ قَالَتْ نَمْلَةٌ يَا أَيُّهَا النَّمْلُ ادْخُلُوا مَسَاكِنَكُمْ لَا يَحْطِمَنَّكُمْ سُلَيْمَانُ وَجُنُودُهُ وَهُمْ لَا يَشْعُرُونَ

Hingga apabila mereka sampai di lembah semut berkatalah seekor semut: Hai semut-semut, masuklah ke dalam sarang-sarangmu, agar kamu tidak diinjak oleh Sulaiman dan tentaranya, sedangkan mereka tidak menyadari” (Surah an-Naml: 18)

Suatu hari bisa jadi nama kita akan dilupakan orang. Karena itu investasikan apa yang Allah karuniakan ini untuk memberi dan berbagi. Bisa jadi amal yang kita lakukan sepele dan seolah tak berarti, namun bisa jadi pula Allah kekalkan sebagaimana kebaikan seekor semut di atas. Mengekalkan nama kita dalam doa-doa kebaikan di bibir-bibir orang shalih. Amal ibnu adam yang terputus, bisa disambung dengan ilmu yang bermanfaat, amal jariyah dan anak-anak shalih yang tak hanya kita batasi dari anak-anak kandung kita saja.

Spirit memberi ini kita dapatkan dari doa yang diajarkan Nabi Muhammad SAW kepada Aisyah untuk mencari kebaikan lailatul qadar, “Ya Allah Engkau adalah Maha Pemaaf, menyukai memaafkan, maka ampunilah aku”

اللهم إنك عفو تحب العفو فاعف عني

Al-Afwu berarti kelebihan, kemaafan dan kemampuan. Allah juga menuturkannya di dalam surah al-Baqarah 219

وَيَسْأَلُونَكَ مَاذَا يُنفِقُونَ قُلِ الْعَفْوَ

“Dan mereka bertanya kepadamu apa yang mereka nafkahkan. Katakanlah: “Yang lebih dari keperluan”.

Maka yang bias memberi adalah yang memiliki kelebihan. Tepatnya orang-orang yang menaklukan ketidakberdayaannya. Ia memberi harta ketika menaklukan kekikiran dan kemiskinan serta kecintaan berlebih terhadap dunia. Ia memberi maaf ketika memiliki kelebihan dan kelapangan hati dan jiwa. Ia beribadah dengan sepenuh cinta karena memiliki kelebihan kekuatan dan ketetapan hati beriman kepada Allah. Memberikan waktu yang lebih dari biasanya, dari kebanyakan manusia.

Gunakanlah waktu yang Allah berikan dengan sebaik-baiknya. Semoga semua amal kebaikan kita di bulan Ramadan ini. Aamiin

*****

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا. اللهم صل علي سيدنا محمد وعلى آله وصحبه وسلم .اللهمّ اغفر لجميع المسلمين والمسلمات الأحياء منهم والأموات إنك سميع قريب مجيب الدعوات. اللهم تقبل صلاتنا وقيامنا وصيامنا وركوعنا وسجودنا وتلاوتنا وصدقاتنا وأعمالنا، وتمّم تقصيرنا يا رب العالمين. اللهمّ إنك عفو تحبّ العفو فاعف عنا يا كريم. اللهمّ توفنا مسلمين وألحقنا بالصالحين .

Ya Allah, Dzat yang Maha Memuliakan dan Menghinakan, muliakanlah kedua orang tua kami dan guru-guru kami. Wahai Dzat yang memiliki segala kekuatan, berikan kekuatan kepada kami untuk menjaga kebaikan yang Engkau biasakan kepada kami di bulan Ramadan. Anugerahkan kami kelebihan iman dan daya untuk membendung daya rusak hawa nafsu kami.

Ya Rahman, jadikanlah kami jalan kemudahan bagi saudara kami yang kesulitan. Jadikanlah kami jalan petunjuk bagi orang-orang yang mungkin masih tersesat. Jadikanlah kami jalan kebahagiaan bagi saudara kami yang tertimpa sengsara dan derita atau musibah. Jadikanlah kami jalan ketenangan bagi saudara kami yang dilanda gundah gulana. Jadikanlah kami jalan kesejukan di tengah panasnya pertikaian dan perseteruan para manusia. Jadikanlah kami jalan solusi bagi berbagai masalah yang menimpa.

Dzat yang Maha Adil, jadikanlah kami jalan keadilan bagi saudara-saudara kami yang tertindas dan terzhalimi.

Dzat yang Memiliki Cinta, kekalkanlah cinta-Mu di rumah-rumah kami. Teduhkanlah rumah kami dengan mawaddah dan rahmah-Mu. Hadirkanlah sakinah-Mu kepada kami, anak istri, suami kami. Jadikanlah keturunan kami para pelayan al-Quran, para penghafal al-Quran, para pengajar al-Quran, para ahlul Quran yang Engkau muliakan.

Ya Rahman, ampuni tangan-tangan kami masih belum maksimal ulurkan keteduhan untuk anak-anak yatim di sekitar kami

Ya Rahman ampuni mata-mata kami yang belum maksimal kami gunakan untuk menekuri dan rajin membaca ayat-ayat-Mu. Maafkan jika kami masih memandang remeh dan rendah saudara-saudara kami.

Maafkan mulut dan lisan kami yang masih jarang terbimbing berdzikir mengagungkan nama-Mu dan menyucikan Dzat-Mu. Mulut kami kasih kotor dengan gunjingan aib-aib saudara kami. Jari-jari kami masih ringan menuliskan hal-hal yang kurang bermanfaat.

Ampunilah dosa dan khianat mata kami, dosa mulut dan lisan kami, dosa telinga, tangan, kaki serta anggota tubuh kami.

Ampunilah dan maafkan keterbatasan kami dalam berbakti dan berbuat ihsan kepada kedua orang tua kami, guru-guru kami. Ampunilah keterbatasan kami dalam mendidik anak-anak kami. Ampunilah kami yang masih sering menyakiti tetangga dan sahabat-sahabat kami.

Ya Qawiyyu ya Aziz, karuniakan kepada kami para pemimpin yang bertaqwa dan takut kepada-Mu. Bimbinglah agar para ulama kami terlindungi dari fitnah harta dan kekuasaan, kuatkan mereka dalam membimbing kami agar semakin Engkau cintai. Jadikanlah negeri kami, negeri yang aman, makmur dan Engkau ridhai. Tempatkanlah para pahlawan dan pejuang negeri kami bersama para syuhada dan nabi-nabi-Mu. Ya Allah jangan Engkau adzab kami karena perbuatan maksiat dan zhalim orang-orang yang tak menyayangi kami dan orang yang tak mengenal takut kepada-Mu. Berikanlah kami kesempatan untuk bertaubat dan memperbaiki diri.

Ya Allah tautkan selalu kebaikan di hati kami, lekatkan kecintaan pada iman dan jalan-jalan hidayah-Mu. Jauhkanlah dari kefasikan dan jalan-jalan kerusakan yang memudarkan cahaya iman di hati kami. Engkau Maha Tahu bahwa kami berkumpul untuk mencintai-Mua. Kami bersimpuh untuk bersujud pada-Mu. Kami menghiba untuk memohon kepada-Mu. Kami tengadahkan tangan menanti maghfirah-Mu. Kami mengeluhkan ketidakberdayaan kami. Bimbinglah. Teguhkanlah. Kuatkanlah agar kami tak mudah diadudomba oleh setan yang bersekongkol dengan musuh-musuh-Mu.

 

اللهمّ انصر إخواننا المستضعفين في فلسطين وفي سوريا وسائر بلاد المسلمين. رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا. ربنا آتنا في الدنيا حسنة وفي الآخرة حسنة وقنا عذاب النار. والحمد لله رب العالمين

تقبل الله منا ومنكم وكل عام وأنتم بخير وإلى الله أقرب وعلى طاعته أدوم

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Sydney, 01 Syawal 1440 H

               05 Juni 2019M

Getting Up Close and Intimate to Allah

by Saiful Bahri

Khutbah Jumat, 31.05.2019
Masjid al-Hijrah, Sydney, NSW

الحمد لله الحكيم الرحمن الذي علم القرآن وأمدّنا بأنواع الإحسان، أشهد أن لا إله إلا الله وحده الملك المنّان، وأشهد أن محمّداً عبد الله ورسوله سيّد أهل الجنان، فاللهمّ صلّ وسلم وبارك على هذا النبيّ الكريم ذي رأفة وحنان، وعلى آله وأصحابه ومن تبعه بإحسان. فيا عباد الله أوصي نفسي وإياكم بتقوى الله فقد فاز المتقون. قال تعالى في محكم تنزيله:(وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ ۖ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ ۖ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ) ، طبتم وطاب ممشاكم وتبوّأتم من الجنة منزلا، آمين.

My Muslim Brothers rahimakumullah
We always praise and thank Allah SWT for giving us all unlimited gifts, no matter what condition we’re in. And we send blessing and salutation upon the Prophet Muhammad SAW, his household, and all his companions. We ask Allah SWT to bless them, to bless all of us, every single one of us. We ask Allah to grant us goodness and happiness in our life in this world and in the hereafter. Aamiin

My Muslim Brothers rahimakumullah
Not a few of the companion asked the Prophet Muhammad about lailatul qadar, when it happened and what are the signs. However, Aisyah bint Abi Bakar, the wife of the Prophet Muhammad SAW who is clever asked with the very urgency, “What did I do that night?”
Subhanallah … look at the intelligence of this ummul mukminin’s vision?

And the Prophet answered by teaching a dua, “O Allah, you are forgiving, like forgiving, so forgive me”

اللهم إنك عفو تحب العفو فاعف عني

We have passed more than three weeks in Ramadan. We have been taught by Allah to have a soft and sensitive heart, then we are more encouraged afterwards to continue asking for forgiveness. And in the last third of this month, the Prophet Muhammad gave an example to be more active in approaching Allah, getting nearer dan ultimate to Him. Rasulullah SAW woke his family at night, intensified his worship and multiplies dzikr and praying is a form of more approaching efforts. He gives examples of how you should be grateful for the expensive time Allah gives to His servants.
If one third of the night, often known as the night of the end, can we answer that our name includes those who get the mercy of Allah? If it turns out we are not sure, Allah gave a third of the second night known as forgiveness nights. When the second third passes, we don’t know whether our names are listed in the list of names that get maghfirah and forgiveness from Allah?
However, Allah gave us the opportunity to use and maximize the last third of the month. It is even possible that in these nights Allah sent down the multiplicity of goodness which we later referred to as lailatul qadar. That is the goodness of the night in contact with the Holy al-Quran. So we should use this opportunity well. Get closer and ultimate to Allah.

Learning from Aisyah’s question, we should understand the spirit of du’a that the Prophet taught to try to get the night of lailatul qadar. We are not taught to cultivate numbers, or to pursue good points. However, we are being taught to understand priorities. Because of the limited time Allah gave. As He said, every ummah has a death (وَلِكُلِّ أُمَّةٍ أَجَلٌ),
And for every nation is a [specified] term. So when their time has come, they will not remain behind an hour, nor will they precede [it]. This time limitation must make the faithful man smarter.

Dear Brothers rahimakumullah….
Then these precious times will not be long enough to pass, the Most True, Allah has said, “ayyaman ma’dudat” only certain days, we are obliged to fast. Ready or not, like it or not, whether you have done it or neglected, Ramadan will leave soon and does not guarantee that it will greet us again in the coming year. The remaining time should be used properly.
Allah guarantees that he is very close, to make people aware of returning to Him immediately before it’s too late. If you (Muhammad) are asked about me, I am very close. I grant people who ask me … Allah confirms it.
So, What are we waiting for. Allah likes when His servants ask and humble themselves to Him.
Allah glorifies a night that touches His heart. Then of course Allah will glorify the oral and throat reading His verses. Allah will glorify the eyes who stay up reading His verses. Allah guarantees two types of eyes that are not touched by Hell. Eyes that are on guard all night, jihad fi sabilillah and eyes that shed tears are afraid of Allah. Allah will also glorify the ears that hear His verses and words.

There are at least six important things that we can learn at the end of this month of Ramadan
1. There is a night lailatul qadar and advice to hunt for good in it
2. Prompts to multiply prayer and hope for forgiveness and ask for deliverance from the torment of the Fire of Allah
3. Give i’tikaf and keep quiet in the mosque
4. Perform the night prayer(qiyamullail)
5. Increase Reciting, memorizing and contemplating towards the Al Quran
6. Carry out zakat (especially zakat fitrah)

My Dear Brothers Rahimakulullah
Not a few of hadith shahih explain the intensity of worship of the Prophet Muhammad in the last third of the month of Ramadan, especially in the evenings.
The existence of i’tikaf teaches this people to make the mosque a central daily activity. With i’tikaf besides being aimed at getting closer to Allah with various services such as night prayers, reading the al-Quran, praying and dzikr, a believer is taught to know his brother better, understand and tolerate his brother. He is taught to get along well with fellow believers. He is also taught to purify the soul. Taught how to follow the actions and activities of the Prophet Muhammad in the month of Ramadan. He is taught to keep his oral and behaviour while in the mosque.

Dear Brother rahimakumullah…
Ramadan is leaving… This Ramadan will be gone…
But, the Farewell of Ramadan is not a disaster, nor it is the end of the opportunity for good. The Farewell of Ramadan is a valuable lesson for humans, that everything will soon leave. So the best of human beings are those who are aware and prepare themselves before it’s too late.
The habits or traditions that Allah has taught this month, hopefully we can continue in the months after Ramadan.
If the six values that the Prophet Muhammad taught us to do well, there will be no more humiliated Muslims. There will no longer be muslims fighting againts each other. There will be nothing more condescending. Because with Allah’s blessing, Muslims live their lives as a noble people with their religion, with their guidance in the al-Quran. And his greatest victory is when he gets forgiveness from Allah and is saved from hell and His wrath in this world and the hereafter.
Hopefully all our good deeds will be accepted by Allah and become the inspiration for the birth of the next goodness after Ramadan. Aamiin

****

معاشر المسلمين رحمكم الله…
ليلة القدر خير من ألف شهر كما قاله المولى عز وجل. والعمل الصالح فيها له أجر وثواب عظيم. هي ليلة تنزل فيها القرآن الكريم على رسول الله – صلى الله عليه وسلم – إنها ليلة عظيمة مباركة يسعى فيها عباد الله إلى نيل شرف رضاه وعفوه ومغفرته تعالى. وكان – صلى الله عليه وسلم – يقول : (تحروا ليلة القدر في العشر الأواخر من رمضان). كثير من أصحاب النبيّ – صلى الله عليه وسلم – كانوا يسألون عن وقوعها وتوقيتها أو أماراتها.
فلنسمع ماذا سألته أم المؤنين عائشة رضي الله عنها. فعن السيدة عائشة – رضي الله عنها – قلت يا رسول الله أرأيت إن علمت أي ليلة ليلة القدر ما أقول فيها قال قولي: (اللهم إنك عفو تحب العفو فاعف عني) – صحيح الترمذي. هذا السؤال يعلمنا أولويات العمل والتخطيط. في الحين الذي سأل كثير من الناس عن متى و كيف، كانت رضي الله عنها سألت عن “ماذا أفعل وماذا أقول”. وهذا يدل على ذكائها. فالأمر غير متوقف على التحري والطلب على ليلة القدر، ولكن ثمة عمل نعده فيها، للتحري بها والمجاهدة في طلبها.
فالرسول صلى الله عليه وسلم علمنا كيف ننتهز هذه الفرصة الثمينة.

وجدنا على الأقل ستة دروس مهمة والأعمال يمكننا إعدادها في خلال هذه الأيام الباقية الغالية من شهر رمضان:
1. التحري ليلة القدر بالأعمال الصالحة
2. الاعتكاف بالمساجد
3. تلاوة القرآن وحفظه وتدبره
4. قيام الليل
5. الإكثار من الأذكار والدعاء
6. الزكاة والإنفاق

بالاعتكاف مثلا علمنا الله أن نجعل المسجد هو مصدر النشاطات، منه نبدأ وإليه نعود. من خلال الاعتكاف علمنا الله أن نتعارف مع إخواننا بالمسجد، فالأمر ليس مجرد الصلاة والذكر وتلاوة القرآن بل هناك التعامل والتعايش الحيوي الأخوي بين المسلمين.
بقيام الليل يقوي المؤمن علاقته بالله ويجعله يتقرب أكثر إليه ليفوز بمحبته وغفرانه والعتق من آلام عذاب النار. بالتعامل الفعال مع القرآن يقوي المؤمن علاقته بكتاب الله ويجعله دليل حياته في الدنيا لنيل سعادة الدارين. و بالزكاة والإنفاق يقوي المؤمن علاقته بالإنسانية، أصبح رقيق القلب ويملأ صدره بالرأفة والحنان ويستعد أن يكون رسول السلام والأمان إلى جميع البشر بل إلى سائر مخلوقات الله في الأرض.
بهذه الإرشادات يعيش المسلمون بكمال العزة حيث يعيشون في ظلال القرآن وقوة الأخوّة ونالوا شرف ليلة القدر، شرف القيادة الخيرية للإنسانية.

معاشر المسلمين….

صدق الله تعالى إذ قال “أياما معدودات”، شئنا أم أبينا فرمضان سيمضي قريبا في لحظات سريعة. هذه الأيام الجميلة المباركة سيترك كل إنسان بدون ضمان هل سيعود إليه في العام القادم. طوبى لمن دخل رمضان ونال شرف ليلة القدر وخسر من أدرك رمضان ولم يغفر له كما قاله النبي صلى الله عليه وسلم. رزقنا الله وإياكم قيام ليلة القدر إيمانا واحتسابا على الوجه الذي يرضيه عنا
نسأل الله رب العرش الكريم أن يتقبل أعمالنا وأن يغفر لنا ذنوبنا، وأن يعيد لنا وللأمة الإسلامية الخيرية واليمن والبركات، اللهم آمين.
أقول قولي هذا، جعلنا الله وإياكم من الذين يستمعون القول فيتبعون أحسنه، بارك الله لي ولكم في القرآن الكريم ونفعني وإياكم من الآيات والذكر الحكيم، فأستغفر الله العظيم لي ولكم ولسائر المسلمين، استغفروه إنه هو الغفور الرحيم.

Praising and Making Parents Happy

by SAIFUL BAHRI

Khutbah Jumat, 17.05.2019

CIDE Academy, Doonside, NSW

 

الحمد لله الذي وصى الإنسانَ بوالديه إحساناً، أشهد أن لا إله إلا الله وحده الذي أعدّ للظلمين عذابا أليماً، وأشهد أن محمّداً عبد الله ورسوله الذي كان بالمؤمنين رحيماً، فاللهمّ صلّ وسلم وبارك على هذا النبيّ المبعوث رحمة للعالمينَ، وعلى آله وأصحابه وجميع المسلمينَ. فيا عباد الله أوصي نفسي وإياكم بتقوى الله فقد فاز المتقون. قال تعالى في محكم تنزيله:(  وَرَفَعَ أَبَوَيْهِ عَلَى الْعَرْشِ وَخَرُّوا لَهُ سُجَّدًا ۖ وَقَالَ يَا أَبَتِ هَٰذَا تَأْوِيلُ رُؤْيَايَ مِن قَبْلُ قَدْ جَعَلَهَا رَبِّي حَقًّا ۖ وَقَدْ أَحْسَنَ بِي إِذْ أَخْرَجَنِي مِنَ السِّجْنِ وَجَاءَ بِكُم مِّنَ الْبَدْوِ مِن بَعْدِ أَن نَّزَغَ الشَّيْطَانُ بَيْنِي وَبَيْنَ إِخْوَتِي ۚ إِنَّ رَبِّي لَطِيفٌ لِّمَا يَشَاءُ ۚ إِنَّهُ هُوَ الْعَلِيمُ الْحَكِيمُ) ، طبتم وطاب ممشاكم وتبوّأتم من الجنة منزلا، آمين.

My Muslim Brothers rahimakumullah

We always praise and thank Allah SWT for giving us all unlimited gifts, no matter what condition we’re in. And we send blessing and salutation upon the Prophet Muhammad SAW, his household, and all his companions. We ask Allah SWT to bless them, to bless all of us, every single one of us. We ask Allah to grant us goodness and happiness in our life in this world and in the hereafter. Aamiin

Our parents are a gift from Allah. He has chosen for us our parents. We have no choice but to accept Allah’s decision. This is a test of faith for everyone, are they grateful for this noble gift?

Parents sacrifice their happiness for their children, even sacrifice their lives for their beloved children. Look at the mother who risk her lives while giving birth. Her smile broke when she could embrace her beloved child born into the world, to greet life. Then they will be taken care, raise up with love.

Children are very valuable gems for parents. Because of that, parents are generally very careful in guarding them. On average, parents want their children to be more successful and happier than them. They are willing to give everything to their children. They sacrifice their time, soul, energy, mind and everything they have for their children.

A mother going through childbirth will feel struggles and fatigue that could not be describe. And that feeling would suddenly disappear when she sees her beloved child. Likewise, the father who struggles to make a living for him, tiredness of body and physical pain will also disappear as soon as he watches his son succeed and steadfastly live his life. That is their love, the love of parents to their children, selfless love, sincere love, love that their children do not expect to return.

My Muslim Brothers rahimakumullah

That is why it is very natural for Allah to give a will to humans after forbidding syirik and associating with Him, Allah intends to do good to parents. Even though they differ in their beliefs and creeds, it is still a testament to kindness and birrulwalidain although this has not changed. Allah forbide saying “uff” to them, forbidding to make a sound that could hurt their heart and make them sad. Allah gives us a real example of how we should do good and treat our parents. There are many noble stories in the Al-Quran. Among them is the story of the success of the Prophet Yusuf who became the young leader of the country of Egypt. Reconciliation and improving relations within the brothers ended beautifully. He invited all his family to come to Egypt. Allah describes it in Surah Yusuf verse 100

وَرَفَعَ أَبَوَيْهِ عَلَى الْعَرْشِ وَخَرُّوا لَهُ سُجَّدًا وَقَالَ يَا أَبَتِ هَٰذَا تَأْوِيلُ رُؤْيَايَ مِن قَبْلُ قَدْ جَعَلَهَا رَبِّي حَقًّا

And he raised his parents upon the throne, and they bowed to him in prostration. And he said, “O my father, this is the explanation of my vision of before. My Lord has made it reality

When Prophet Yusuf was at the top of his success, he was happy and grateful to Allah for His gifts. And he never forgot the services of his parents. He raised his parents to the royal throne.

Imagine …

His parents came from a far away village. From a place not like his country, not from a metropolitan city. Parents and brothers from the village who were recited by the Al-Quran with the word “al-Badwi”. The Prophet Yusuf was not ashamed to acknowledge his parents, not ashamed of introducing his parents to the people he led. At the same time he forgave all the past that had happened between him and his brothers. A powerful example of a Prophet Yusuf.

Nowadays not a few of the children were successful and achieved their dreams but they forgot their parents. They no longer want to acknowledge and introduce them to their friends. They let their parents remain in trouble. This condition is predicted by the Prophet Muhammad, that one of the sign of Judgment Day is when slaves give birth to their masters. This means that many children enslave their parents. They are ashamed to admit and even enslave and afflict them in old age. This is called evil deeds “uququl walidain” which became the second major sin after syirik.

Parents are the inheritance and honor of children in their homes. Take care and take care. Their prayers and blessings are the way to gain the blessing of Allah. Their support makes life easier for the child. If they are still alive and around us, let’s praise and make them happy to the best we can. If they have died, pray for them continuously. May Allah bless them and put them in a glorious place with the prophets and noble people. Aamiin

*****

 

 …معاشر المسلمين رحمكم الله

أوصي نفسي وإياكم أن نشكر الله تعالى على منحه لنا هذه الأيام المباركة الجميلة. كما نشكره تعالى على نعمة الوالدين. فالوالدين نعمة وعطاء من الله الكريم لكل إنسان.  فلا أحد منا يختار أشخاصا ليكونوا والدين لنا. هذا قضاء من الله ونعمة منه اختبارا لنا أنشكره أم نكفره.

قد أولى الإسلام الوالدين اهتماماً بالغاً، حيث جعل طاعتهما وبرّهما من أفضل العبادات والقربات إلى الله تعالى، ثم نهى كذلك عن عقوقهما، وشدّد على هذا الأمر  في عديد من الآيات القرآنية، منها قوله سبحانه وتعالى: (وَقَضَى رَبُّكَ أَلاَّ تَعْبُدُوا إِلاَّ إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلاَهُمَا فَلاَ تَقُل لَهُمَا أُفٍّ وَلاَ تَنْهَرْهُمَا وَقُل لَهُمَا قَوْلاً كَرِيمًا وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّل مِنَ الرَّحْمَةِ وَقُل رَبِّي ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيراً) ، الإسراء/23 . لقد أمرنا الله عز وجلّ بتوحيده في العبادة وعدم الشرك فيها، وقد قرن برّ الوالدين بذلك الأمر، وكلمة القضاء في الآية السّابقة جاءت بمعنى الوجوب والإلزام. كما أنّه تعالى قد قرن شكرهما بشكره في قوله: (أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَيَّ الْمَصِيرُ) ، سورة لقمان، 14 ، فإنّ الشّكر لله سبحانه وتعالى يكون على نعمة الإيمان، وأمّا شكر الوالدين فيكون على نعمة التّربية الصّالحة.

لقد مرّ  الوالدون حياتهم بمشقة عظيمة لأجل أبنائهم، لقد بذلوا أقصى جهودهم لتربيتهم. ويقصّ الله تبارك تعالى طبيعة خلق الإنسان وما يتحمله الوالدان من مشقة وجَهد في تربية ورعاية الأبناء حتى يبلغوا أشدّهم، ويثني تعالى هنا على أمر عظيم. حيث ربط شكره بشكر الوالدين كما سبق. ومعنى ذلك أن شكر الله تعالى لا يتحقق دون شكر الوالدين.

ومن خير الأمثال في بر الوالدين كما أخبرنا تعالى في سورة يوسف الآية 100.

( وَرَفَعَ أَبَوَيْهِ عَلَى الْعَرْشِ وَخَرُّوا لَهُ سُجَّدًا ۖ وَقَالَ يَا أَبَتِ هَٰذَا تَأْوِيلُ رُؤْيَايَ مِن قَبْلُ قَدْ جَعَلَهَا رَبِّي حَقًّا)

فالنبيّ يوسف عليه السلام بكل تواضع رفع أبويه على العرش الملكي. وبكل فخر عرّفهما أمام الملأ والمجتمع. فلا يستحيي ولا يستنكر أن والديه وإخوته جاؤوا من البدو . وهذا خلق كريم من النبي الكريم. وفي الحين الذين نعيشه اليوم قد يستحيي الولد أن يعرّف والديه أمام أصحابه أو مديره حين بلغ إلى قمّة نجاحه في العمل وله مكانة مرموقة في المجتمع. كما أخبرنا الحبيب صلى الله عليه وسلم أن من أمارات الساعة أن تلد الأمة ربّتها، فقد حدث ذلك في أماكن عدّة. فالأبناء لا يحسنون البر والإحسان تجاه والديه. فكأنهم نسوا تضحيتهما في تربيتهم. قد ضحا بسعادتهما لأجل سعادة الأبناء. ضحا بأوقاتهما وكل شيء لديهما لأجل أبنائهما.

فهذا الشهر تمرين لكل مسلم في الإمساك عن القول الذي يؤذي مشاعر الآخرين، لأنه يريد أن يتذوّق حلاوة الطاعة. فضلا عن القول الذي يؤذي مشاعر الوالدين، فقد نهانا تبارك وتعالى حيث قال (فَلَا تَقُل لَّهُمَا أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُل لَّهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا) . وبزكاته وصدقاته يبرز التكافل والشعور بالتعاطف والاهتمام بالضعفاء. فكيف إذا كان هؤلاء الضعفاء هم الوالدون فهم أحق ببرّ الأبناء. فرمضان يعلم كل مسلم ليعود إلى أسرته بالمودّة والألفة لتتقوّى بنية المحبة في البيت الذي تأسس روح القيادة للبشرية والتربية الذاتية القوية، انطباقا لدعاء عباد الرحمن في سورة الفرقان

(وَالَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا)

إذا كان الوالدان يعيشان معنا اليوم فلنكرمهما نبرّهما قبل فوات الأوان. فالوالدين هدية وكرامة لكل إنسان في بيته. وإذا كانا قد التحقا بالله فلنحسن الدعاء لهما بالاستمرار.

نسأل الله رب العرش الكريم أن يكرِم والدينا في دارين ويرحمهما كما ربّونا صغارا. ونسأل الله أن

يتقبل أعمالنا وأن يغفر لنا ذنوبنا، وأن يعيد لنا وللأمة الإسلامية الخيرية واليمن والبركات، اللهم آمين.

أقول قولي هذا، جعلنا الله وإياكم من الذين يستمعون القول فيتبعون أحسنه، بارك الله لي ولكم في القرآن الكريم ونفعني وإياكم من الآيات والذكر الحكيم، فأستغفر الله العظيم لي ولكم ولسائر المسلمين، استغفروه إنه هو الغفور الرحيم.

Being A Hero Not Superhero

by Saiful Bahri

Khutbah Jumah, 10.05.2019

Masjid al-Hijrah, Tempe, Sydney, NSW

الحمد لله الذي فرض علينا الصيام وسنّ لنا القيام، أشهد أن لا إله إلا الله ذو الجلال والإكرام، وأشهد أن محمّداً عبد الله ورسوله الذي أعطي جوامع الكلم ونفائس الحكم، فاللهمّ صلّ وسلم وبارك على هذا النبيّ سيد الخلائق والأنام، وعلى آله وأصحابه الكرام. فيا عباد الله أوصي نفسي وإياكم بتقوى الله فقد فاز المتقون. قال تعالى في محكم تنزيله: ( شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِّنَ الْهُدَىٰ وَالْفُرْقَانِ ۚ ) ، طبتم وطاب ممشاكم وتبوّأتم من الجنة منزلا، آمين.

 

My Muslim Brothers rahimakumullah

We thank Allah for bringing us these beautiful days, Ramadan to improve ourselves, giving us the opportunity to make changes and taubah . Salutation accompanied by greetings to the Prophet Muhammad PBUH, the prophet who trusted his people who delivered all the treatises from his Lord with full honesty and intelligence.

My Brothers in Islam, Dear Muslims rahimakumullah

The presence of Ramadan encourages improvement for everyone. Regardless of the past. If someone is good, then he will try to be the best. If he has ever committed sin and evil, then this is the time to stop and immediately improve himself. This is what is called the spirit of heroism.

Being a hero is not required to be an extraordinary person. Like the superhero described by Hollywood. A hero is not those who have no shortcomings. It is not those who do not have limitations. Nor are the people who have extraordinary powers. A hero is those who wants to improve themselves. A hero is an ordinary person who has extraordinary ideas. When the world measures everything with matter, it pursues non-matter, pursuing the pleasure of Allah.

Despair is something that is not permitted by Allah. Nothing cannot be fixed. Allah published the dawn and presented the morning to drive away the darkness of the night. Because of that He said in the Quran Surah at-Takwir verse 18 (وَالصُّبْحِ إِذَا تَنَفَّسَ) For the time of dawn when breathing. It is as if dawn is His living being. As every sunrise brings new breath for all of us and for every single one of us who wants to accept the opportunity of goodness, regardless of their past.

Ramadan comes with hope. The merits are multiplied in them. The door of the hell fire is closed tightly, so that as many people as possible do not look at actions that can drag him into hell.

Fasting which is carried out in full faith will melt away sins and mistakes, as Prophet Muhammad has mentioned in one of the hadith. (من صام رمضان إيمانا واحتسابا غفر له ما تقدم من ذنبه)

Night prayers, qiyamullail are also like that. Zakah, sahadaqah is a practise to share happiness. Du’a and Zikir is also an action to get closer to a deeper bond with Allah SWT.

Allah also teaches every Muslim to look back at his family. In order for the love that God has bestowed on him to care for and grow, he cleans it with harmony and gratitude. How wonderful, if Ramadan is the month of family evaluation, for all family members.

Loss and harm to those who meet Ramadan, but their sins are not forgiven by Allah. That is a sign that he did not take advantage of the opportunity that Allah gave to them. The spirit of Ramadan heroism is needed to improve contemporary problems that is faced by humans. It is true that today humans have problems, namely competition with robots and technological advances, humans face the problem of biological science discoveries that are not limited to morals and ethics. Humans have environmental and climate problems caused by damage made by humjlui00ans themselves. These problems are actually related to mentality. The main problem for humans is not robots or technology, nor smartphones, nor weather or nature. The main problem of a man is himself. The human problem is when he is submissive to the greed of his lust. So, people who basically have the nature of goodness turns to greed, ambitious and have no concern for their environment. Both the environment as human beings or the natural environment. Allah gives special time to every human being, daily at every third night, weekly at every Friday and monthly at Ayyamul Baydh, which is every thirteenth, fourteenth and fifteenth of every month. However, many missed the opportunity. So, Allah gives a special time once a year. So that humans stop momentarily evaluating themselves. In order for him to be able to carry out Allah’s mandate to be a leader in the world, guard and care for nature. Honesty, discipline, sincerity, caring, love and affection and being big-spirited being forgiving are important lessons from Allah this month.

Hopefully, every alumni of Ramadan will become a true hero. Heroes who are ready to transform make social changes for the better.

 

My Brothers in Islam, Dear Muslims rahimakumullah

A believer who succeeded in Ramadan is targeted at achieving piety with the best standards of good people in his environment. Fasting trains him to restrain himself, is able to calculate the priority of his charity, focus on his target. Its fast forms a high character of discipline combined with honesty and a serious ethos. His prayer really inspired him to leave bad and vile things. His zakah and shadaqah make him have a deep sense of empathy and sympathy for others, concern for the environment. At the same time motivating him beyond helplessness, he becomes a person who is able to give and share. Al-Quran has become the spirit of this month, lailatul qadar transformed into the best night that exceeded a thousand months. So, the interaction with the Koran is increased to achieve the infinite virtues. Achieve more than a thousand communities around it. He gets the good of the world and the hereafter. His prayer and dzikir made him a rabbaniy-oriented person, always related to his heart with Allah. Have high trust because they feel supported by Allah. Has an extraordinary ethos because it does not lack in enthusiasm. He comes with a spirit to make it easy and lighten others. He transformed into a person who was liked but did not expect praise from others. His hands are light, helpful and helpful because they are often used to count the remembrance of Allah. The light oral said well, because it was always wet murmuring remembrance to Allah. His eyes were kind and friendly because he often read verses of the Al-Quran, his ears sorting out good things to hear and responding quickly if there was anything that needed to be corrected. In the midst of his family, wife, children and even his parents, he became an inspiration for kindness and harmony. Tenderness and affection bring the power of love in his home.

His fasting makes him stay away from bad words. Because the bad words can hurt some ones feeling. So, he will not be able to achieve contentment of fasting Ramadan.

This is the person who deserves to be a hero. Heroes who are able to subdue themselves before others. Heroes who are able to sacrifice without limits. Treasure and soul, belongs to Allah, which he always uses in accordance with His direction May this year’s Ramadan provide positive energy for change for our nation and Ummah. Presenting heroes who are able to lead and inspire the environment. Being a solution to the presence of various challenges and problems. Hopefully all our good deeds will be accepted by God and become the inspiration for the birth of the next goodness. Aamiin

*****

معاشر المسلمين رحمكم الله…

أوصي نفسي وإياكم أن نشكر الله تعالى على منحه لنا هذه الأيام المباركة الجميلة. حين يتيسر لنا الصيام والقيام وتلاوة القرآن  والأذكار والصدقات والأعمال الصالحة الأخرى. هذا الشهر الكريم هو عطاء ورحمة لكل أمة محمد صلى الله عليه وسلم، وفرصة لتحسين ماضينا. إذا كان الماضي مليئاً بالتفوّق الحسنات فهذا فرصة لترقية الحسنات ونشرها وسط المجتمع الأوسع. و إذا كان الماضي عبارة عن مجموع الأخطاء والذنوب فهذا فرصة لتكفيرها بالتوبة.

هذا الشهر الكريم يُخْرِج ويُنْتِج بَطَلاً. البطل الحقيقي لا كالبطل الذي صوّره أفلام هوليوود. هذا البطل هو شخص عادي، ولكنه عنده همة عالية وطموحات كريمة لخدمة مجمتمعه. فلربما هذا الشخص له ماضي، ولكنه تعايش له بالحكمة. أدرك أنّ ربه غفور رحيم فلا داعي للحزن بــأخطاء الماضي فهو بذلك الإدراك يتوب إلى الله متابا ويستغفره ليلا ونهارا. ولا داعي للخوف بالمستقبل، فكل مستقبل غائب وفي يد الله قضاءه.

إذن، البطل ليس شخصا ذا قوة جسدية خارقة مثل “سوبرمان” لمواجهة أعباء الحياة الإنسانية ومشاكلها، بل البطل هو شخص عادي الذي يؤمن قوّة ربه الذي رباه وأعطاه العقل ليفكر ويتفكر ويسخره له لمواصلة درب الحياة.

فلله نفحات، يومية وأسبوعية وشهرية وسنوية، حيث نزل سبحانه وتعالى في سماء الدنيا في آخر كل ثلث الليل قائلاً “فهل من مستغفر  فأغفر له، فهل من سائل فأعطيته … الحديث”، فكل جمعة لها ميزة حسنة نعرفها على لسان سيد المرسلين “ما من يوم الجمعة إلا وفيه ساعة الإجابة”، وكل شهر سن لنا صيام أيام البيض. ولكن الناس في غفلة من هذه النفحات الغالية. فالله سبحانه وتعالى أخضر لنا هذا الشهر الكريم المبارك، إبرازاً لرحمته تجاه الأمة الإسلامية، ففيه أنزل القرآن معجزة كبرى وخالدة، ففيه ليلة القدر التي قدرها خير من ألف شهر. التعايش والعلاقة مع القرآن تولّد البركة والخيرية، فجبريل عليه السلام حامل الوحي والقرآن أصبح أشرف الملك وإمامهم، ورسول الله محمّد صلى الله عليه وسلم متلقي القرآن هو أشرف الخلائق والبشر، فالليلة التي أنزل فيها القرآن أصبح أشرف الليال، فشهر رمضان الذي أنزل فيه القرآن هو الشهر الكريم.

فهذا الشهر فيه روح الخيرية والمتخرج منه يُرْجا أن تكون له خيرية وصدارة لقيادة حضارة الإنسان ومواجهة المشاكل. مشاكل الإنسان ليست تقدّم التكنولوجيا أو البيئة، فالمشكلة هي معنوية الإنسان. فهو مسؤول أصلا لإعمار الأرض والمحافظة على البيئة،  وليس الاشتغلال بها اتباعا لهواه. ظهر الفساد في البحر والبر بما كسبت أيدي الناس، بسبب سوء مسؤوليتهم.

فهذا الشهر تمرين لكل مسلم في الإمساك عن الحلال حتى لا يتجاوز الحد بالإسراف فضلا عن المكروهات والمحرمات. بصيامه يتملك على نفسه ويسخر في ما يرضي الله وينفع غيره. وبصلاته ينهى عن الفخشاء والمنكر. وبزكاته وصدقاته يبرز التكافل والشعور بالتعاطف والاهتمام بالضعفاء، وبدعائه وأذكاره لله يكون شخصا قوّيا دوام التواصل مع الله. فرمضان يعلمه ليعود إلى أسرته بالمودّة والألفة لتتقوّى بنية المحبة في البيت الذي تأسس روح القيادة للبشرية والتربية الذاتية القوية، انطباقا لدعاء عباد الرحمن في سورة الفرقان ( وَالَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا ) . فالمسلم بصومه يحفظ لسانه ويمسك من أن يؤذي مشاعر الآخرين، لأنه يريد أن يتذوّق حلاوة الطاعة.

بهذه المواصفات يكون هذا الشخص العادي المسلم بطلا لأسرته ومجتمعه، يصبح حلا لمشاكلهم، يورث الهمّة العالية بمعنويته ويتجنب من اليأس في الحياة.

نسأل الله رب العرش الكريم أن يتقبل أعمالنا وأن يغفر لنا ذنوبنا، وأن يعيد لنا وللأمة الإسلامية الخيرية واليمن والبركات، اللهم آمين.

أقول قولي هذا، جعلنا الله وإياكم من الذين يستمعون القول فيتبعون أحسنه، بارك الله لي ولكم في القرآن الكريم ونفعني وإياكم من الآيات والذكر الحكيم، فأستغفر الله العظيم لي ولكم ولسائر المسلمين، استغفروه إنه هو الغفور الرحيم.

Bijak Menyikapi Post Power Syndrome (Tadabbur Kisah Nabi Ayub AS)

Dr. Saiful Bahri, M.A

 

Allah mengaruniakan kelebihan sebagian hamba-Nya di atas hamba-hamba-Nya yang lain. Demikian pula Allah mengurangkan suatu hal dari hamba-Nya, sedangkan yang lain dilebihkan darinya.

Manusia dalam perjalanannya hidup di dunia mengalami proses yang berliku, dari proses penciptaannya yang tak sederhana. Proses panjang yang Allah sering meminta kita untuk mengkajinya. Penciptaan manusia adalah sebuah tanda dari sekian bukti kekuasaan Allah. Dari sejak tak punya nama manusia terlahir di dunia kemudian disebut dan dipanggil dengan nama khusus yang disediakan oleh orang tua pada umumnya. Dari sejak tak mampu melakukan apa-apa, ia belajar melihat, berbicara, berjalan, merasakan, mengungkapkan, memahami dan memahamkan. Dari sejak tak membawa apa-apa ketika lahir, kemudian ia diberi nikmat oleh Allah banyak hal.

Setelah terlahir di dunia sebagai bayi, kemudian menjadi anak-anak, remaja, dewasa, dan kembali lemah di saat tua.

Umumnya, manusia menyorot usia produktifnya. Saat ia sedang menikmati kegagahannya. Ketika ia meniti karir suksesnya. Ketika ia berbunga-bunga mencoba memetik bahagia. Dewasa dan matang, memiliki pasangan hidup dan anak-anak sebagai penyejuk mata dan jiwa. Ada kemudahan harta. Dihormati, dianggap dan didudukkan sebagai manusia terhormat dalam struktur sosial di lingkungannya. Ada jabatan struktural dan fungsional. Ada pula kekuasaan dan banyak kewenangan di tangannya. Memiliki jaringan yang luas, menikmati pertemanan yang luar biasa.

Keinginan yang diimpikannya menjadi nyata. Setelah kerja keras dan proses panjang. Allah lah -sesungguhnya- yang mengaruniakannya.

Berapa lama ia menikmatinya? Sepuluh, duapuluh, tiga puluh atau empat puluh tahun?

Nominal waktu inilah yang sering menjadi fokus manusia, padahal angka hanya menjadi salah satu ukuran, pada hakikatnya nilai lah yang lebih menentukan dari pada nominalnya, meskipun angka tak mungkin dihindari.

Sebagian orang mengira bahwa sukses itu harus di usia muda dan produktif. Sehingga, di saat seseorang sudah menua dan ia merasa belum apa-apa bisa membuatnya bersedih. Padahal persepsi tersebut tak selamanya benar.

Ada orang tergiur dengan kisah sukses seorang muda, tapi mereka tersadar betapa kemudian di usia yang belum terlalu tua ia terserang stroke dan kemudian meninggal dunia.

Seorang yang belum dikarunia putra atau putri di usia pernikahannya yang menginjak satu dasawarsa tak jarang bersedih hatinya, tapi ternyata Allah memiliki rencana hendak menyiapkannya di usia ke sebelas. Matang dalam mendidik anaknya.

Ada pula yang bahkan tak dikarunia anak kandung, tapi ia adalah ibu dan ayah bagi anak-anak yatim, pahlawan untuk mereka.

Saat usia-usia produktif mulai surut, berkurang dan bahkan kemudian hilang, orang bisa dibuat sedih karenanya.

Inilah yang dikenal dengan masa-masa kritis post power syndrome. Orang kaya yang jatuh miskin. Pejabat yang pensiun. Penguasa yang lengser atau dilengserkan. Tokoh yang dielu-elukan kemudian dilupakan. Orang yang terbiasa telinganya dimanja dengan puja-puja, kemudian sunyi tak mendengar apa-apa. Itulah masa-masa sulit yang perlu belajar bijak menyikapinya.

Karena masa-masa sulit seperti ini cenderung membuat seseorang lebih sensitif, mudah tersinggung serta terjebak dengan perspektif-perspektif negatif menurut sudut pandang dirinya yang sangat subyektif. Mudah marang, murung dan bersedih serta tertutup adalah tanda-tanda lainnya yang makin memberatkan.

Allah membentangkan kisah-kisah al-Quran untuk kita lihat dan kita baca. Divisualisasikan dan kemudian diambil sebagai ibrah dan pelajaran (lesson learned). Panduan al-Quran supaya kita bijak menyikapi post power syndrome ini melalui kisah Nabi Ayyub.

وَاذْكُرْ عَبْدَنَا أَيُّوبَ إِذْ نَادَى رَبَّهُ أَنِّي مَسَّنِيَ الشَّيْطَانُ بِنُصْبٍ وَعَذَابٍ -ارْكُضْ بِرِجْلِكَ هَذَا مُغْتَسَلٌ بَارِدٌ وَشَرَابٌ – وَوَهَبْنَا لَهُ أَهْلَهُ وَمِثْلَهُمْ مَعَهُمْ رَحْمَةً مِنَّا وَذِكْرَى لأولِي الألْبَابِ – وَخُذْ بِيَدِكَ ضِغْثًا فَاضْرِبْ بِهِ وَلا تَحْنَثْ إِنَّا وَجَدْنَاهُ صَابِرًا نِعْمَ الْعَبْدُ إِنَّهُ أَوَّابٌ

Dan ingatlah akan hamba Kami Ayub ketika ia menyeru Tuhannya; “Sesungguhnya aku diganggu setan dengan kepayahan dan siksaan”. (Allah berfirman): “Hantamkanlah kakimu; inilah air yang sejuk untuk mandi dan untuk minum. Dan Kami anugerahi dia (dengan mengumpulkan kembali) keluarganya dan (Kami tambahkan) kepada mereka sebanyak mereka pula sebagai rahmat dari Kami dan pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai pikiran. Dan ambillah dengan tanganmu seikat (rumput), maka pukullah dengan itu dan janganlah kamu melanggar sumpah. Sesungguhnya Kami dapati dia (Ayub) seorang yang sabar. Dialah sebaik-baik hamba. Sesungguhnya dia amat taat (kepada Tuhannya).” (Surah Shad: 41-44)

Nabi Ayyub alaihissalam adalah satu di antara nabi-nabi Bani Israil dari keturunan Ya’qub bin Ishaq bin Ibrahim. Nabi Ayyub tadinya adalah orang yang kaya raya dan memiliki anak-anak yang banyak. Kemudian Allah berikan cobaan, anak-anaknya meninggal, keluarganya menjauh, teman-temannya tak ada lagi yang mengelilinginya. Ia kehilangan segalanya, hanya didampingi oleh seorang istrinya saja.

Ibnu Katsir menyebut kekayaan Ayyub dari berbagai jenis: harta banyak, binatang ternak dan peliharaan, hamba sahaya, tanah-tanah yang luas, demikian pula anak-anak dan keluarga, pertemanan (jaringan).

Kemudian Allah berikan cobaan berupa berkurangnya harta dan kesehatannya. Beliau menjadi miskin dan sakit. Anak-anaknya meninggal. Beliau menderita sakit berkepanjangan sehingga harus menjauh dari kampungnya. Tiada yang menemaninya kecuali istrinya Laia. Ia yang berkhidmah melayaninya, menyuapinya, memandikannya. Hartanya makin menipis. Suatu hari ia memanggil-manggil istrinya, namun tiada jawaban. Ia makin bersedih. Dengan hati teriris ia bersumpah, jika disembuhkan dari sakitnya akan ia puluk istrinya seratus kali. Antara marah, sedih dan kecewa. Meskipun akhirnya ia menyesali sumpahnya. Terlebih saat ia tahu bahwa istrinya pergi menjual perabot rumah tangga untuk menambal sulam kebutuhan hariannya.

Maka saatnya tiba Allah pulihkan ia dari sakit berkepanjangan. Allah perintahkan Ayyub untuk memukul-mukulkan kakinya di tanah, kemudian keluar air yang dingin untuk dijadikan obat dengan berendam dan minum darinya. Allah kembalikan kebugaran dan kesehatannya.

Kebahagiaannya berubah sedih saat ia berada dalam dilema, antara menaati sumpahnya kepada Allah dan antara kecintaannya yang dalam kepada istrinya. Allah yang Maha Sayang memberinya solusi. Ia tak perlu memukul istrinya seratus kali, ia pula tak perlu menyakiti istri yang sangat setia dan menyintainya. Di saat yang sama ia juga tak perlu menyelisihi janji dan sumpah kepada Allah. Allah perintahkan kepadanya untuk mengambil seikat rumput yang diperkirakan jumlahnya seratusan kemudian dipukulkan kepada istrinya, sebagai tanda cinta sekaligus syukur kepada Allah yang memberinya kesembuhan dan mengembalikan keadaannya.

Ath-Thabary menyebut dalam Tarikhnya Ayyub hidup hingga berusia 93 tahun atau lebih kemudian dikaruniai kembali anak-anak. Bahkan anaknya bernama Basyar dari istri setianya, konon ialah nantinya yang disebut-sebut dengan julukan Dzulkifli yang diangkat sebagai nabi oleh Allah SWT.

Kesabaran Ayyub menjalani masa sulit perlu ditiru. Bahwa ketidakberdayaan, kesulitan, kebangkrutan bukanlah akhir dari segalanya. Meskipun, sebagai manusia Allah memperlihatkan adanya pasang surut semangat Ayub pun pernah khilaf menyikapinya. Secara umum, kesabaran menyikapi masa-masa sulit ini bisa dijadikan semangat dan motivasi menyambut post power syndrome.

Pesan moral yang bisa diambil dari kisah ini adalah:

  1. Yakinkan diri bahwa Allah lah yang mengaruniai kesuksesan dan semua nikmat-Nya
  2. Bersyukur dan berbagilah saat mendapatkan nikmat agar Allah makin menyayangi
  3. Tidak angkuh dan sombong ketika kuat dan sukses
  4. Menggunakan waktu produktif sebaik-baiknya (kaya, sehat, muda, kaya) adalah yang disebutkan dalam hadis Nabi Muhammad SAW.
  5. Saat ditimpa musibah atau kekurangan atau kesulitan segera kembali kepada Allah. Tempat aman berkeluh kesah dan berdoa serta menyandarkan harapan. Meskipun ia tetap tak menutup diri dari orang lain (tetap berusaha terbuka namun tidak mengandalkannya, Allah lah sumber kekuatannya)
  6. Tidak terlalu memikirkan respon dan sikap orang lain di sekitar kita.
  7. Tidak takut menghadapi masa turunnya produktivitas dengan cara tetap produktif berbuat dan menebarkan kebaikan
  8. Memperbanyak dzikir kepada Allah untuk mengurangi pengaruh hawa nafsu dan bisikan setan yang menyesatkan

Tak ada istilah pensiun dari kebaikan atau produktivitas bagi mereka yang memiliki mental sabar yang luar biasa. Penyakit dan ketidakberdayaan fisik atau keterbatasan materi setelah memiliki segalanya takkan mencegah seseorang untuk terus berkontribusi menebarkan kebaikan dan menginspirasi orang-orang di sekitarnya. Tentunya, dengan kondisi terkini yang dialaminya

Dan bila Allah menjadi tempat kembali, Dia lah yang akan memberi jalan keluar yang baik, termasuk di saat ada dua pilihan sulit dan dilematis seperti yang Nabi Ayyub hadapi.

 

Jakarta, 02.02.2019

DAHSYATNYA MOTIVASI LAFAZH INSYAALLAH DALAM AL-QURAN

DR. Saiful Bahri, M.A

Lafazh (إن شاء الله) [dibaca: in syâAllâh] sangat akrab di telingat para pembaca al-Quran. Al-Quran secara eksplisit menyebutkan lafazh _in syâAllâh_ sebanyak enam kali (Surah Al-Baqarah: 70, Yusuf: 99, al-Kahfi: 69, al-Qashash: 27, ash-Shafat: 102, al-Fath: 27). Esensi lafazh _in syâAllâh_ adalah persoalan etika kepada Allah dengan mengembalikan hak prerogatif sebagai penentu keputusan terhadap apa yang berlaku bagi siapa saja dan apa saja di berbagai alam ciptaan-Nya. Secara ideologis merupakan salah satu indikator keimanan seseorang yang bertawakkal kepada Allah. Artinya, sebagai manusia seseorang sudah mengerahkan segenap daya dan usahanya sebagai ikhtiar, kemudian ia menyusuri ruang takdir yang menjadi ranah ilahiyah berharap segala sesuatu sama seperti harapannya tau lebih baik lagi.

Adapun Al-Quran menyebut lafazh _in syâAllâh_ dalam berbagai tema sebagai berikut:

  1. Diucapkan oleh Bani Israil sebagai alasan untuk menghindari _taklif_ atau perintah Allah untuk menyembelih seekor sapi. (berkonotasi negatif)

قَالُوا ادْعُ لَنَا رَبَّكَ يُبَيِّن لَّنَا مَا هِيَ إِنَّ الْبَقَرَ تَشَابَهَ عَلَيْنَا وَإِنَّا إِن شَاءَ اللَّهُ لَمُهْتَدُونَ

Mereka berkata: “Mohonkanlah kepada Tuhanmu untuk kami agar Dia menerangkan kepada kami bagaimana hakikat sapi betina itu, karena sesungguhnya sapi itu (masih) samar bagi kami dan sesungguhnya kami insya Allah akan mendapat petunjuk (untuk memperoleh sapi itu)“. (Surah al-Baraqah: 70)

Maka sudah seharusnya saat kita berkomitmen untuk menepati suatu janji dengan seseorang maka sudah tepat menyebut lafazh ini. Namun, jika kemudian dijadikan tameng dan alasan untuk tidak datang secara sengaja maka hal tersebut seperti sindiran Allah kepada Bani Israil.

  1. Motivasi Yusuf dalam menenangkan keluarganya yang baru memasuki negeri Mesir

فَلَمَّا دَخَلُوا عَلَىٰ يُوسُفَ آوَىٰ إِلَيْهِ أَبَوَيْهِ وَقَالَ ادْخُلُوا مِصْرَ إِن شَاءَ اللَّهُ آمِنِينَ

Maka tatkala mereka masuk ke (tempat) Yusuf: Yusuf merangkul ibu bapanya dan dia berkata: “Masuklah kamu ke negeri Mesir, insya Allah dalam keadaan aman“. (Surah Yusuf: 99).

Hal ini patut untuk dicontoh dalam memberikan rasa optimis dan motivasi yang baik bagi orang yang berada dalam kondisi atau suasana baru. Jika ia pemegang kebijakan –setidaknya– merupakan jaminan darinya sebagai pimpinan kepada rakyat dan orang yang ditanggungnya. Ucapan ini menjadi gambaran kuatnya keyakinan dan iman Nabi Yusuf kepada Allah.

  1. Optimisme Nabi Musa dalam menuntut ilmu ketika berguru pada Khidr

قَالَ سَتَجِدُنِي إِن شَاءَ اللَّهُ صَابِرًا وَلَا أَعْصِي لَكَ أَمْرًا

Musa berkata: “Insya Allah kamu akan mendapati aku sebagai orang yang sabar, dan aku tidak akan menentangmu dalam sesuatu urusanpun”. (Surah Al-Kahfi: 69).

Perkataan Nabi Musa bertemakan optimisme dan keinginan kuat sebagai penuntut ilmu untuk mengikuti arahan dan kesepakatan dengan gurunya. Ini sekaligus menunjukan etika dan moralitas yang tinggi yang dibarengi dengan kepercayaan yang kuat kepada Allah.

  1. Motivasi Syu’aib (seorang nabi atau orang shalih) yang memberi solusi terhadap masalah Nabi Musa

قَالَ إِنِّي أُرِيدُ أَنْ أُنكِحَكَ إِحْدَى ابْنَتَيَّ هَاتَيْنِ عَلَىٰ أَن تَأْجُرَنِي ثَمَانِيَ حِجَجٍ ۖ فَإِنْ أَتْمَمْتَ عَشْرًا فَمِنْ عِندِكَ ۖ وَمَا أُرِيدُ أَنْ أَشُقَّ عَلَيْكَ ۚ سَتَجِدُنِي إِن شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّالِحِينَ

Berkatalah dia (Syu’aib): “Sesungguhnya aku bermaksud menikahkan kamu dengan salah seorang dari kedua anakku ini, atas dasar bahwa kamu bekerja denganku delapan tahun dan jika kamu cukupkan sepuluh tahun maka itu adalah (suatu kebaikan) dari kamu, maka aku tidak hendak memberati kamu. Dan kamu Insya Allah akan mendapatiku termasuk orang-orang yang baik”. (Surah Al-Qashash: 27).

Ungkapan ini merupakan motivasi diri untuk tetap selalu menjadi orang baik dalam kondisi apapun. Orang baik yang berarti selalu siap membantu dan menjadi jalan keluar bagi masalah yang dihadapi oleh siapapun. Ia menawarkan solusi dan berusaha mengurai kesulitan. Ia menjadi orang tua yang mengayomi. Iniah yang selayaknya dicontoh oleh para pemimpin dan juga rakyatnya untuk terus selalu menjadi solusi dan bersimpati kepada masalah yang dihadapi orang lain. Lafazh ini juga sekaligus doa dan harapan penguatan dari Allah agar terus menjadikan pengucapnya orang yang terus menjadi baik, tak bosan menjadi orang baik dan membersamai orang-orang yang terlilit kesulitan, terjebak kesulitan atau terkurung kelemahan dan ketidakberdayaan.

  1. Ismail memotivasi diri untuk menjadi orang sabar dalam menerima takdir Allah, dikatakan kepada ayahnya, Ibrahim

فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَىٰ فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانظُرْ مَاذَا تَرَىٰ ۚ قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ ۖ سَتَجِدُنِي إِن شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ

Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!” Ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”. (Surah Ash-Shafat: 102).

Lafazh ini merupakan penguatan diri sekaligus penegasan dan permohonan agar dikuatkan oleh Allah. Siapapun orangnya datangnya cobaan dan musibah tak bisa diterka dan ditebak. Saat itu terjadi ia tak berharap bantuan dan penguatan siapapun dari manusia, ia berharap Allah yang pertama. Jika ada manusia yang menguatkan maka itu adalah bonus tambahan.

  1. Motivasi dan kabar gembira akan datangnya kemenangan dari Allah, Fathu Makkah

لَّقَدْ صَدَقَ اللَّهُ رَسُولَهُ الرُّؤْيَا بِالْحَقِّ ۖ لَتَدْخُلُنَّ الْمَسْجِدَ الْحَرَامَ إِن شَاءَ اللَّهُ آمِنِينَ مُحَلِّقِينَ رُءُوسَكُمْ وَمُقَصِّرِينَ لَا تَخَافُونَ ۖ فَعَلِمَ مَا لَمْ تَعْلَمُوا فَجَعَلَ مِن دُونِ ذَٰلِكَ فَتْحًا قَرِيبًا

Sesungguhnya Allah akan membuktikan kepada Rasul-Nya, tentang kebenaran mimpinya dengan sebenarnya (yaitu) bahwa sesungguhnya kamu pasti akan memasuki Masjidil Haram, insya Allah dalam keadaan aman, dengan mencukur rambut kepala dan mengguntingnya, sedang kamu tidak merasa takut. Maka Allah mengetahui apa yang tiada kamu ketahui dan Dia memberikan sebelum itu kemenangan yang dekat. (Surah Al-Fath: 27).

Adapun ungkapan _in syâAllâh_ yang terakhir merupakan kabar gembira yang Allahlah semata menginginkannya terjadi untuk hamba-Nya yang beriman kepada-Nya. Berita kemenangan yang dijanjikan-Nya, yang dinanti-nanti oleh hamba-Nya yang terus tak henti berdoa. Manusia berusaha menebar kebaikan dan melawan kezhaliman. Namun, Allah lah yang karuniakan kemenangan dengan cara dan kuasa-Nya.

 

Al-Quran juga menyebut makna _in syâAllâh_ secara implisit yang terkandung di dua tempat dengan maksud teguran (Al-Kahfi: 23-24) dan celaan atau sindiran buruk (Al-Qalam: 17-18)

Pertama:

Dan jangan sekali-kali kamu mengatakan tentang sesuatu: “Sesungguhnya aku akan mengerjakan ini besok pagi, kecuali (dengan menyebut): “Insya Allah”. Dan ingatlah kepada Tuhanmu jika kamu lupa dan katakanlah: “Mudah-mudahan Tuhanku akan memberiku petunjuk kepada yang lebih dekat kebenarannya dari pada ini”. (Al-Kahfi: 23-24)

Ayat ini merupakan teguran Allah kepada Nabi Muhammad SAW ketika ditanya oleh kuffar Quraisy tentang: Ashabul Kahfi, Raja Dzulkarnain dan ruh. Tiga hal tersebut sesungguhnya adalah ejekan kaumnya yang mendapatkan ide dari ahli kitab yang dijumpai mereka, sekaligus tantangan kepada Nabi Muhammad SAW. Beliau dengan tegas akan menjawab “besok”. Namun, berhari-hari jawaban tak datang dan Jibril tak turun menemui beliau. Allah menegur beliau untuk mengajarkan kepada umatnya bahwa Allah lah yang serba maha, punya kuasa dan memutuskan segala.

Kedua:

Sesungguhnya Kami telah mencobai mereka (musyrikin Mekah) sebagaimana Kami telah mencobai pemilik-pemilik kebun, ketika mereka bersumpah bahwa mereka sungguh-sungguh akanmemetik (hasil)nya di pagi hari, dan mereka tidak mengatakan ‘in syâAllâh’ (al-Qalam: 17-18)

[terjemah di atas adalah penafsiran versi Mujahid yang dinukil al-Qurthubi, disebut juga oleh al-Baghawiy, sedangkan ath-Thabari menyebut pendapat Ikrimah yang mengartikan “mereka tak menyisihkan (hak fakir miskin)”]

Ayat ini menjelaskan adzab dan cobaan yang Allah berikan kepada pemilik kebun di Yaman ketika mereka memastikan panen kebun namun mereka enggan memikirkan nasib orang-orang miskin di sekitar mereka, mereka juga tidak mengucapkan insyaallah. Mereka sombong dan angkuh merencanakan banyak hal dan bersembunyi dari orang-orang lemah dan miskin. Sombong dan kehilangan simpati sosial. Maka Allah turunkan siksa kebun mereka habis dan musnah seketika. Rencana mereka buyar. Keangkuhan mereka remuk berkeping-keping

Dengan kajian ini semoga kita mendapatkan motivasi dan kandungan inspirasi kebaikan dari dahsyatnya pesan dari lafazh _in syâAllâh_ di dalam al-Quran.

 

Jakarta, 29.01.2019

 

🗒🗒🗒🗒 🗒🗒🗒🗒

📷 IG: drsaifulbahri

🐤 Twitter: @L_saba

👤 Fanpage: Halaqah Tadabbur Al-Quran

📹 Youtube: Halaqah Tadabbur Al-Quran

🌐 www.saifulelsaba.wordpress.com

 

Ketika Ruh Bertemu Jasad (Tadabbur Surah At-Takwir)

Dr. Saiful Bahri, M.A

Al-Quran adalah fakta kebenaran. Kalam Allah yang disampaikan secara sempurna dan penuh amanah. Oleh malaikat perantara wahyu, Jibril ‘alaihissalâm yang disegani dan ditaati para malaikat-Nya. Ditunaikan penuh dan disampaikan kembali oleh manusia yang paling dicintai-Nya. Yang tak gila pujian dan jabatan. Tidak gila harta dan kekayaan.

Tidak pula kikir atau menyembunyikan wahyu dari Tuhannya, sekalipun berisi teguran keras dan hal-hal yang tak mengenakkannya.

 

Mukaddimah: Visualisasi Hari Akhir

Selama ini kebanyakan orang sering memvisualisasikan hari kiamat berujung pada kehancuran dunia dan seisinya saja. Padahal, hari kiamat yang sesungguhnya baru dimulai ketika manusia dibangkitkan kembali dari kuburnya, jiwa-jiwa dipertemukan dengan jasadnya dan kemudian diperhitungkan segala perbuatannya, hingga mendapatkan putusan akhir dari Sang Mahaadil dan Maha Bijaksana. Kesemua ini tergambar jelas di dalam kitab-Nya yang merupakan petunjuk bagi manusia, namun hanya bermanfaat bagi mereka yang mau mengambilnya sebagai pedoman bagi jalan hidupnya.

Surat At-Takwir ini diturunkan di Mekah setelah Surat al-Masad([1]). Surat ini membahas berbagai hal tersebut di atas sebagai tema pokok hari kiamat dari dua angel yang berbeda. Yaitu peristiwa kehancuran dunia dan isinya di satu sisi, serta suasana hari kiamat setelah kebangkitan di lain sisi. Titik tekan surat ini yang membedakannya dengan surat sebelum dan sesudahnya adalah pembicaraan tentang al-Quran, yaitu sebagai sumber berita hari kiamat dan apa yang akan terjadi di sana. Maklumat-maklumat yang serba ghaib namun harus diimani dan diyakini sepenuhnya([2]). Hal-hal tersebut divisualisasikan seolah nyata, nampak jelas dan terjadi di depan mata. Sumber wahyu tersebut tidaklah sebuah kabar dusta, karena diturunkan oleh Sang Maha Pemilik semua, melalui perantara pilihan-Nya; Malaikat Jibril ‘alaihissalâm. Disampaikan kepada segenap manusia oleh manusia pilihan-Nya juga. Manusia mulia yang tak tamak terhadap dunia, tak berambisi pada jabatan, tak terobsesi pada mimpi dan khayalan serta puja-puji sesamanya. Sumber wahyu tersebut juga bukan dongeng kaum terdahulu atau perkataan setan yang selalu memperdaya.

Hari Kehancuran Dunia Seisinya

Sebagai permulaan deskripsi hari kiamat, Allah memberikan berita sebagaimana surat-surat sebelumnya dengan menyebut tanda-tandanya.

١) إِذَا الشَّمْسُ كُوِّرَتْ (٢) وَإِذَا النُّجُومُ انكَدَرَتْ (٣) وَإِذَا الْجِبَالُ سُيِّرَتْ (٤) وَإِذَا الْعِشَارُ عُطِّلَتْ (٥) وَإِذَا الْوُحُوشُ حُشِرَتْ (٦) وَإِذَا الْبِحَارُ سُجِّرَتْ

Apabila matahari digulung, dan apabila bintang-bintang berjatuhan, dan apabila gunung-gunung dihancurkan, dan apabila unta-unta yang bunting ditinggalkan (tidak diperdulikan), dan apabila binatang-binatang liar dikumpulkan, dan apabila lautan dijadikan meluap” (QS. At-Takwîr [81]: 1-6)

Suasana yang mengerikan divisualisasikan dengan jelas agar bisa ditangkap oleh nalar manusia, dipahami secara gamblang. Matahari digulung, ditiadakan. Sumber energi dan cahaya di dunia itu tak lagi menyala, karena dititahkan oleh penciptanya untuk selesai, ajalnya tiba. Az-Zajjâj menjelaskan makna asal kuwwirat adalah seperti halnya sorban yang digunakan untuk melingkari dan menggulung kepala([3]). Maka seolah matahari yang sebelumnya menjadi terang benderang, berubah tak bercahaya, lenyap dan entah ke mana. Sementara, bintang-bintang dengan berbagai bentuk, ukuran yang sangat banyak jumlahnya berjatuhan menghujani bumi. Semesta bertumbukan, bertabrakan, terjadi berbagai benturan keras yang menghancurkan satu dan yang lainnya. Hakikat langit yang belum pernah terkuak itu, yang semula terlihat tenang berubah menjadi penuh keributan dan kemudian hancur tiada berbekas.

Sedangkan bumi, tempat kehidupan manusia, gunung-gunung diterbangkan, dicabut dan dihancurkan. Pasak bumi yang menahan lapisan tanah-tanahnya dicabut sehingga terjadi kerusakan yang parah. Unta-unta yang hamil, simbol kepemilikan dunia yang dibanggakan oleh orang-orang Arab waktu itu, tak lagi dipedulikan. Saat hari kehancuran seperti itu tiada lagi yang memperhatikan harta kekayaannya, meskipun sangat melimpah dan berkecukupan. Karena saat hari kehancuran di depan mata, dunia seisinya menjadi tiada berharga.

Demikian halnya binatang-binatang buas dikumpulkan menjadi satu. Itu adalah titah Allah yang sanggup menjinakkan ciptaan-Nya yang paling buas dan berbahaya, dikumpulkan satu dengan jenis-jenis lainnya dengan kuasa dan titah-Nya. Kehancuran semakin nyata dengan diluapkannya air laut yang seolah siap menelan daratan dengan semua yang ada di atasnya.

Itulah visualisasi kehancuran yang disampaikan Allah dalam pembukaan surat ini. Dahsyat leburnya. Efek kehancurannya sangat mengerikan. Tidak pernah terjadi sebelumnya. Tak pernah terbayangkan oleh siapapun. Demikianlah, kejadian hari kehancuran ketika tiupan sangkakala yang pertama terdengar.

Hari Kebangkitan: Sangat Mencekam dan Menakutkan

Selanjutnya Allah jelaskan suasana yang jauh lebih mencekam dan menakutkan saat manusia telah dibangkitkan dari kuburnya. Setelah tiupan sangkakala kebangkitan ditiup Malaikat Israfil.

٧) وَإِذَا النُّفُوسُ زُوِّجَتْ (٨) وَإِذَا الْمَوْءُودَةُ سُئِلَتْ (٩) بِأَيِّ ذَنبٍ قُتِلَتْ (١۰) وَإِذَا الصُّحُفُ نُشِرَتْ (١١) وَإِذَا السَّمَاءُ كُشِطَتْ (١٢) وَإِذَا الْجَحِيمُ سُعِّرَتْ (١٣) وَإِذَا الْجَنَّةُ أُزْلِفَتْ (١٤) عَلِمَتْ نَفْسٌ مَّا أَحْضَرَتْ

 “Dan apabila ruh-ruh dipertemukan (dengan tubuh), dan apabila bayi-bayi perempuan yang dikubur hidup-hidup ditanya, karena dosa apakah dia dibunuh? Dan apabila catatan-catatan (amal perbuatan manusia) dibuka, dan apabila langit dilenyapkan, dan apabila neraka Jahim dinyalakan, dan apabila surga didekatkan, maka tiap-tiap jiwa akan mengetahui apa yang telah dikerjakannya.” (QS. At-Takwîr [81]: 7-14)

Suasana yang kedua ini sebenarnya jika divisualisasikan dengan benar, maka akan menghadirkan kondisi yang sangat mencekam dan teramat menakutkan. Yaitu, di saat Allah bangkitkan manusia ruh-ruh mereka menyatu kembali dalam jasad mereka. Allah memiliki tujuan khusus membangkitkan mereka. Yaitu untuk ditanya, “dan apabila bayi-bayi perempuan yang dikubur hidup-hidup ditanya, karena dosa apakah dia dibunuh?”. Manusia-manusia zhalim di zamannya akan segera terbayang di depannya kejahatan-kejahatan yang pernah mereka lakukan. “Bayi-bayi perempuan yang dibunuh” adalah di antara representasi kezhaliman yang terjadi di zaman wahyu ini diturunkan. Maka, sejatinya saat manusia bangkit dengan ruh dan jasadnya ia akan segera teringat amal-amal perbuatannya. Kezhaliman dan kekhilafannya segera hadir dengan jelas di depannya. Dan sang mazhlum akan ditanya terlebih dahulu sebelum si zhalim dipermasalahkan di pengadilan Sang Maha Tinggi. Apa kesalahan orang-orang mazhlum tersebut hingga harus menjadi korban kezhaliman yang semena-mena? Berapa kalikah kezhaliman serupa terjadi dan terulang-ulang? Karenanya Allah menegaskan “Dan apabila catatan-catatan (amal perbuatan manusia) disebar”. Kata “nusyirat” mengindikasikan bahwa catatan amal setiap manusia bisa diakses siapa saja. Secara bahasa “nasyara” berarti menyebarkan, maka bentuk pasifnya (mabni li al-majhûl) adalah “nusyira” yang berarti disebar. Bisa jadi digandakan cetakannya, bisa juga disebarkan secara digital, bisa juga melalui layar-layar lebar yang bisa dilihat manusia dari berbagai penjuru. Tiada lagi yang bisa ditutup-tutupi di saat Allah membuka akses yang seluas-luasnya kepada semua makhluk-Nya.

Di hari yang menegangkan tersebut, langit tak lagi ada. Allah membuka hijab-Nya. Surga terasa hadir di sana, tapi sebaliknya neraka juga dirasakan ada di sekeliling manusia. Suasana tersebut cukup menggambarkan kondisi yang sangat mencekam. Mengancam siapa saja. Tiada rasa aman, terutama bagi para pendosa. Para pelaku kezhaliman dan penistaan di dunia.

Sumpah-Sumpah Allah dengan Fenomena Alam

            Setelah membahas dua kejadian hari kiamat, yaitu hari kehancuran dunia dan isinya serta hari kebangkitan di saat semua manusia dimintai pertanggungjawabannya, maka Allah bersumpah untuk satu hal penting lainnya.

١٥) فَلَا أُقْسِمُ بِالْخُنَّسِ (١٦) الْجَوَارِ الْكُنَّسِ (١٧) وَاللَّيْلِ إِذَا عَسْعَسَ (١٨) وَالصُّبْحِ إِذَا تَنَفَّسَ

 “Sungguh, Aku bersumpah dengan bintang-bintang, yang beredar dan terbenam, demi malam apabila telah hampir meninggalkan gelapnya, dan demi subuh apabila fajarnya mulai menyingsing” (QS. At-Takwîr [81]: 15-18)

Bintang-bintang dan malam adalah istilah bagi manusia. Waktu adalah batasan yang Allah ciptakan untuk manusia. Dari tempatnya hidup ada waktu yang disebut pagi setelah malam. Di saat yang sama di tempat lainnya ada waktu-waktu yang berbeda. Hal-hal tersebut akan menjadi makna besar bagi tanda-tanda kekuasaan Allah. Pesan kekuasaan ini hanya bisa dipahami oleh mereka yang mau menggunakan nalar sehatnya.

Milyaran bahkan tiada terhitung banyaknya bintang yang tersebar di alam semesta, kegelapan malam yang menyelimuti dunia, dan di saat kemudian beranjak terang. Siapakah yang mendatangkan pagi dengan berbagai harapan? Nafas baru dikembalikan Allah kepada para makhluk-Nya untuk memulai hidup baru di hari itu. Nafas baru yang berarti sebuah perbaikan masa lalu dan hari sebelumnya. Jika hari sebelumnya dipenuhi dengan maksiat dan kelalaian, maka hari baru dan nafas baru tersebut adalah pintu kesempatan yang Allah buka untuk bertaubat. Jika hari sebelumnya adalah waktu penuh ukiran prestasi kebaikan, maka nafas baru hari itu adalah kesempatan untuk bersyukur lebih dengan menebar energi kebaikan yang Allah berikan. Menularkan semangat bersyukur dan spirit memperbaiki prestasi.

Pagi hari dipersonifikasikan hidup. Ia seolah bernyawa dan bernafas. Nafas-nafasnya adalah cahaya dan kehidupan. Gerakan-gerakan di pagi hari adalah geliat kehidupan([4]). Maka lihatlah manusia di pagi hari. Mereka bergeliat hidup. Anak-anak kecil bersekolah. Orang-orang sibuk menyiapkan diri berangkat bekerja dan beraktivitas, padahal sebelumnya mereka semua terdiam seperti orang mati di saat terbaring memejamkan mata. Tertidur di malam hari. Perubahan tersebut adalah karunia Dzat yang serba maha. Tanaffasa artinya memanjang cahayanya hingga sampai terang benderang([5]). Karena Allah yang Maha Penyayang tidaklah langsung mengubah kegelapan menjadi terang benderang secara tiba-tiba, melainkan melalui proses dan tahapan-tahapan. Dari gelap gulita, berangsung terang, hingga menjadi terik dan sangat benderang.

Karunia-karunia tersebut hendaklah disyukuri manusia. Tanda-tanda kekuasaan yang dikirim Allah sebagai pesan kuasanya kepada setiap makhluk-Nya.

Al-Quran: Firman Allah yang Tersampaikan Penuh Amanah

١٩) إِنَّهُ لَقَوْلُ رَسُولٍ كَرِيمٍ (٢۰) ذِي قُوَّةٍ عِندَ ذِي الْعَرْشِ مَكِينٍ (٢١) مُّطَاعٍ ثَمَّ أَمِينٍ

 “Sesungguhnya Al Quran itu benar-benar firman (Allah yang dibawa oleh) utusan yang mulia (Jibril), yang mempunyai kekuatan, yang mempunyai kedudukan tinggi di sisi Allah yang mempunyai ‘Arsy, yang ditaati di sana (di alam malaikat) lagi dipercaya”. (QS. At-Takwîr [81]: 19-21)

Sumpah-sumpah Allah di ayat-ayat sebelumnya menjadi sebuah entry point bagi sebuah fakta besar dan pernyataan penting. Yaitu, tentang kebenaran al-Quran yang merupakan kalam dan titah Allah. Yang disampaikan kepada Nabi Muhammad SAW melalui sang pembawa wahyu terbaik. Malaikat terbaik-Nya, Jibril ‘alaihissalâm. Malaikat yang diberi kekuatan dan memiliki kedudukan tinggi di sisi Allah. Disegani dan ditaati oleh semua malaikat-Nya. Terpercaya dan tak pernah berkhianat. Ia sampaikan secara utuh dan sempurna pesan-pesan Allah melalui kalam-Nya. Tak dikurangi atau dilebihkan. Seperti adanya titah dari Tuhannya. Al-Qur’an adalah sumber informasi tervalid tentang datangnya hari kiamat. Sumber segala ajaran dan syariat Nabi Muhammad SAW. Sumber yang benar dan tidak boleh didustakan oleh siapapun.

Menafikan Tuduhan Para Pendusta

٢٢) وَمَا صَاحِبُكُم بِمَجْنُونٍ (٢٣) وَلَقَدْ رَآهُ بِالْأُفُقِ الْمُبِينِ (٢٤) وَمَا هُوَ عَلَى الْغَيْبِ بِضَنِينٍ (٢٥) وَمَا هُوَ بِقَوْلِ شَيْطَانٍ رَّجِيمٍ (٢٦) فَأَيْنَ تَذْهَبُونَ

Dan teman kalian (Muhammad) itu bukanlah sekali-kali orang yang gila. Dan sesungguhnya Muhammad itu melihat Jibril di ufuk yang terang. Dan dia (Muhammad) bukanlah orang yang bakhil untuk menerangkan yang ghaib. Dan Al Quran itu bukanlah perkataan syaitan yang terkutuk, maka ke manakah kamu akan pergi?”. (QS. At-Takwîr [81]: 22-26)

Nabi Muhammad SAW sebelum menerima wahyu dan menjalankan tugas risalahnya, adalah orang yang diakui kebaikannya serta kedudukannya di tengah kaumnya. Namun, karena permaklumannya sebagai rasul Allah, beliau menjadi terdustakan. Tersakiti lahir batinnya. Disakiti fisiknya. Dituduh gila dan sebagainya. Padahal beliau masih sama dengan sebelum menerima wahyu. Yaitu orang terpercaya, al-amîn. Tiada berdusta, tak pernah menyembunyikan wahyu dari Tuhan-Nya. Jika itu terjadi maka, surat seperti Abasa sudah semestinya tak beliau sampaikan karena berisi sebuah teguran keras kepadanya. Demikian halnya tentang hari kiamat. Bukan karena beliau tak mau menyampaikan hakikatnya. Bukan pula karena kikir dan pelit informasi. Namun, hal itu semata karena memang rahasia dan misteri hari kiamat menjadi hak prerogatif Allah untuk menjelaskannya. Waktu kejadian yang sangat dirahasiakan bahkan kepada manusia yang paling dicintai-Nya sekalipun. Adalah menjadi hikmah agar semua manusia menyiapkan diri sebaik-baiknya. Kata dhanin([6]) menggambarkan tuduhan-tuduhan tersebut. Baik berarti tuduhan buruk secara umum atau lebih khusus yang berarti bakhil dan pelit. Maka, kalam Allah ini membebaskan Nabi Muhammad SAW dari berbagai tuduhan kaumnya tersebut. Tak lain dan tak bukan Muhammad hanya menerima wahyu dari Tuhannya dan kemudian ditugaskan untuk menyampaikannya kepada kaumnya tanpa penambahan dan pengurangan darinya.

Fungsi Al-Quran

٢٧) إِنْ هُوَ إِلَّا ذِكْرٌ لِّلْعَالَمِينَ (٢٨) لِمَن شَاءَ مِنكُمْ أَن يَسْتَقِيمَ (٢٩) وَمَا تَشَاءُونَ إِلَّا أَن يَشَاءَ اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ

Al Quran itu tiada lain hanyalah peringatan bagi semesta alam, (yaitu) bagi siapa di antara kamu yang mau menempuh jalan yang lurus. Dan kamu tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu) kecuali apabila dikehendaki Allah, Tuhan semesta alam”. (QS. At-Takwîr [81]: 27-29)

Al-Quran adalah petunjuk bagi semua manusia. Namun, hanya orang yang mau mengambilnya sebagai peringatan saja yang mampu tersentuh olehnya. Petunjuk Allah tersebut sebenarnya bisa diakses oleh siapa saja. Namun, banyak di antara manusia mengabaikannya. Maka, hanya mereka yang dirahmati Allah saja yang bisa benar-benar mampu disampaikan Allah pada jalan lurus yang berakhir pada kenikmatan abadi. Yaitu bagi mereka yang mau gigih berusaha menjemput hidayah. Menyukuri nikmat luar biasa yang Allah karuniakan kepada mereka. Berupa manusia terbaik yang diutus-Nya kepada kaumnya dan segenap umat manusia dan karunia berupa al-Quran, semua petunjuk jalan kebenaran ada di dalamnya.

Jika dua karunia besar ini disyukuri, niscaya orang-orang yang mengimani keduanya akan dimudahkan Allah untuk mendapatkan petunjuk-Nya. Tersampaikan kepada hikmat keabadian melalui jalan lurus yang cepat. Yaitu jalan mereka yang diberi nikmat oleh-Nya. Jalan para nabi dan orang-orang shalih. Bukan jalan mereka yang dimurkai dan dilaknat oleh-Nya. Bukan pula jalan mereka yang tersesat yang takkan pernah sampai pada nikmat keabadian, namun terperosok ke dalam kesengsaraan dan keburukan yang abadi. Wal îyadzu bilLâh.

 

—————————————————

* Tadabbur surah at-Takwîr (Menggulung): [81]

([1]) lihat: As-Suyuthi, Al-Itqân, hlm. 20-22, Badruddin az-Zarkasyi, al-Burhân, 1/249, Ash-Shabuniy, Îjâz al-Bayân, hlm. 281, Dr. Jum’ah Ali Abd. Qadir, Ma’âlim Suar al-Qur’ân, 2/757.

([2]) Ash-Shabuniy, Îjâz al-Bayân, hlm. 281-282.

([3]) Az-Zajjâj, Ma’âniy al-Qur’an wa I’râbuhû, vol 5, hlm. 224.

([4]) Sayyid Quthb, Fî Zhilâli al-Qur’ân, vol 6, hlm. 3842.

([5]) Al-Wahidy, Al-Wasîth fî Tafsîr al-Qur’âni al-Majîd, vol 4, hlm. 430.

([6]) Jika dibaca dengan dhadh (ض) maka berarti  pelit. Maksudnya, Nabi Muhammad tidaklah pelit dan menyembunyikan sesuatu yang diwahyukan kepadanya.(lihat: Az-Zajjâj, Ma’âniy al-Qur’an wa I’râbuhû, vol 5, hlm. 227) Dan jika dibaca dengan huruf zha’ (ظ) ada yang mengartikannya sebagai tertuduh dengan tuduhan jelek. (Az-Zajjâj, Ibid). Ath-Thabary menyebutkan perkataan tersebut merupakan pendapat Ibnu Abbas dan muridnya Said bin Jubair serta Ibrahim an-Nakha’iy (al-Thabary, Jâmi’ al-Bayân, vol. 30, hlm. 103)