Pertanyaan “Siapa Anda?”

Ketika seseorang mendapat pertanyaan “Siapa Anda”, tentu akan merespon secara berbeda sesuai konteks dan intonasi. Pertanyaan ini bisa merupakan murni pertanyaan yang artinya keperluan untuk mendapatkan informasi, atau sebagai pembuka untuk mengungkap identitas lawan bicara. Biasanya pertanyaan seperti ini dilontarkan dengan datar, tak jarang disertai tambahan kata maaf dan nama, sehingga redaksinya kira-kira, “Maaf, siapa nama Anda?” atau “Maaf, dengan siapa?” atau jika lebih menghormati bisa ditambah kata bapak atau ibu.

Namun, pertanyaan di atas bisa juga merupakan tantangan. Biasanya, difungsikan untuk pembuktian kualitas dan identitas yang diinginkan oleh si penanya. Intonasinya sedikit naik, dan biasanya tak diperlukan basa-basi dalam menjawab sebagaimana pertanyaan yang disampaikan juga tanpa basa-basi.

Pertanyaan di atas bisa merupakan penghinaan atau mengingkari keberadaan orang yang sedang ditanya. Biasanya diiringi intonasi yang sedikit naik atau bahkan dengan suara yang sangat tinggi. Kemudian, gestur tubuh penanya juga tidak sedikit pun menunjukkan penghormatan terhadap lawan bicaranya. Pertanyaan jenis ini tidak selamanya berkonotasi negatif. Al-Quran di beberapa kesempatan menggunakan pertanyaan seperti ini (dikenal dengan istifhâm inkâriy) yang ditujukan kepada para pendusta risalah nabi Muhammad SAW, para pelaku kezhaliman dan para durjana. Meskipun, tentunya tak boleh disamakan dengan perkataan manusia.

Sebaliknya, orang-orang angkuh dan sombong juga akan mengalamatkan pertanyaan tersebut kepada orang yang direndahkan, dianggap tidak kredibel, maka ia dihinakan secara berlebihan.

Bagaimana jika pertanyaan tersebut dilontarkan kepada seseorang yang sedang mengerjakan kewajibannya, menunaikan tugas dengan sebaik-baiknya atau melaksanakan amanah yang dibebankan kepadanya. Mungkin, ia akan luruh atau drop mentalnya karena merasa tak dihargai. Mungkin ia akan tertantang untuk membuktikan bahwa ia bisa berbuat lebih baik. Atau ia akan membuktikan bahwa ia memiliki nama yang layak untuk disebut dan tidak dipertanyakan keberadaannya.

Tiga fungsi pertanyaan di atas bisa sekaligus berlaku untuk manusia yang masih memiliki hati nurani ketika melihat kezhaliman dan penindasan yang terjadi di negeri Syam dan khususnya di Palestina dan Suriah.

Pertanyaan siapa Anda pertama, untuk mengungkap identitas, berlaku menumbuhkan solidaritas orang yang dizhalimi dan tertindas. Baik sebagai muslim atau bahkan “sekedar” sebagai manusia, pasti akan tercabik-cabik hatinya, bila ia hanya diam menyaksikan kondisi yang tidak manusiawi yang sedang terjadi di sana.

Pertanyaan siapa Anda kedua, untuk menyampaikan tantangan juga berlaku. Jika, sudah menjawab sebagai muslim atau manusia, maka harusnya dibuktikan sanggup berbuat sesuatu yang bermakna untuk menolong sesamanya.

Pertanyaan siapa Anda ketiga, untuk menunjukkan pengingkaran dan penghinaan ketika ada orang yang mengaku sebagai manusia atau muslim, namun masih bisa dengan santainya tidak peduli dengan kasus-kasus kemanusiaan yang menimpa saudaranya sesama manusia atau sesama muslim.

Kecuali jika seseorang memang benar-benar tak mengetahui kondisi yang sedang terjadi, maka kembali ke pertanyaan pertama. Jika ia tak tahu, maka diperlukan edukasi yang baik sehingga mampu memahami permasalahan dengan baik. Jika informasi yang tersampaikan cukup baik maka seseorang akan tertantang untuk berbuat.

Saat ini, drama kezhaliman dan aksi kelaliman sedang dipertontonkan dengan semena-mena dan terang-terangan. Dunia seisinya menyaksikan dengan terang benderang, namun tak mampu merespon dengan baik.

Di saat di berbagai belahan dunia sibuk menyambut kemajuan industri dan teknologi serta menikmati kemakmuran, ternyata terdapat banyak anak manusia yang terzhalimi. Mereka bertahun-tahun hidup di pengasingan, terusir dari kampung halaman. Saat mereka berkali-kali berusaha untuk kembali, mereka dinistakan dan dibunuhi, bahkan dijuluki melakukan anarkisme dan terorisme. Dunia terbalik, karena sang penjajah dipuja dan dibela. Sang penista dan durjana diterima dengan tangan terbuka dan senyum basa-basi yang penuh ekspresi kepalsuan. Sementara orang-orang terzhalimi terus terkepung dengan ketidakberdayaan. Mereka terjebak oleh kemiskinan dan kelaparan. Carut marut, angka pengangguran, infrastrukur fisik yang buruk, dan segudang kekurangan tampak menganga menambah luka.

Maka jawablah: Siapa Anda?

 

Catatan Keberkahan 97

Jakarta, 18.04.2018

SAIFUL BAHRI

Iklan

Khutbah Jumat Isra Mi’raj: Misi Menghadirkan Keberkahan dan Menumpas Kezhaliman

Dr. H. Saiful Bahri, M.A

الحمد لله القائل «سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَىٰ بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ»، أشهد أن لا إله إلا الله، وأشهد أنّ محمّدا رسول الله، اللهم صل وسلم عليه وعلى آله وأصحابه. فيا عباد الله أوصي نفسي وإياكم بتقوى الله فقد فاز المتقون. أما بعد

_Kaum Muslimin, jama’ah shalat jumuah rahimakumullah_

Marilah kita syukuri nikmat Allah SWT yang sangat melimpah. Diberikan kepada kita, baik diminta ataupun tidak, disadari atau tidak, bahkan disyukuri atau tidak. Dalam berbagai kondisi makhluk-Nya, Allah senantiasa anugerahkan nikmat-Nya tanpa memilah-milih. Hanya rasa syukur yang membedakan posisi seorang hamba di sisi-Nya. Namun, hanya sedikit yang mampu melakukannya. Semoga kita termasuk hamba-Nya yang bersyukur. Hamba yang dibersamai Allah dalam segala kondisi. Suka maupun duka. Sedih dan gembira, dalam keadaan sendiri ataupun bersama.

Salah satu karunia dan nikmat Allah yang besar yang dikaruniakan kepada Nabi Muhammad SAW adalah perjalanan Isra dan Mi’raj. Seperti yang kabarkan Allah pada awal surah al-Isra’.

Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al-Masjidil Haram ke Al-Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami.” (Al-Isra’: 01)

Ayat di atas menjelaskan keterkaitan antara Masjid al-Haram dan Masjid al-Aqsha. Dua masjid penting umat Islam. Allah transitkan Nabi Muhammad saw di Masjid al-Aqsha sebelum mi’raj ke langit dan sidratul muntaha, padahal Dia mampu memberangkatkan beliau langsung tanpa transit. Terdapat isyarat penting tentang Masjid al-Aqsha.

Pertama, Allah ingin tunjukkan posisi penting kedua masjid yang disebut dalam ayat ini.

Kedua, Allah mengabarkan keterkaitan semua risalah di bumi-Nya dengan eksistensi bumi yang diberkahi tersebut. Orbit risalah keberkahan itu –di antaranya– berasal dari tempat itu.

Ketiga, Allah hanya akan wariskan bumi yang diberkahi tersebut kepada kaum yang beriman, dari kalangan mana pun, tanpa membedakan jenis kelamin dan etnis mereka.

Penaklukan (futuhât) Masjid Al-Aqsha di era amirul mukminin Umar ra, memberikan nuansa cerita perjuangan yang berkesinambungan. Sekaligus menggambarkan bahwa pembebasan Masjid al-Aqsha dan al-Quds tidak bergantung pada figur personal –saja– tetapi lebih kepada keshalihan kolektif.

_Kaum Muslimin, jama’ah shalat jumuah rahimakumullah_ …

Tak ada sedikit pun yang meragukan keshalihan personal Nabi Muhammad SAW, sebagaimana tak terjadi perbedaan pendapat tentang keshalihan generasi pertama (para shahabat). Tetapi, tentu ada hikmah lain yang dikehendaki Allah, terjadinya pembebasan al-Quds dan dikembalikannya Masjid al-Aqsha ke tangan umat Islam justru terjadi setelah wafatnya Nabi Muhammad SAW.

Di antara hikmah tersebut adalah kesinambungan ruh dan jiwa serta keimanan. Karena, faktanya bahwa Masjid al-Aqsha hanya akan diwariskan kepada orang-orang yang beriman saja. Demikian ditegaskan oleh Allah dari sejak diutusnya para nabi hingga kaum-kaum beriman yang mengikutinya.

Lihatlah Nabi Luth yang disertai pamannya, Nabi Ibrahim ketika Allah selamatkan dari siksa pedih yang akan ditimpakan kaumnya, hujan batu dan dibalikkannya tanah tempat mereka berada.

(وَنَجَّيْنَاهُ وَلُوطًا إِلَى الْأَرْضِ الَّتِي بَارَكْنَا فِيهَا لِلْعَالَمِينَ ﴾ (الأنبياء: 71)

Kata (الذي باركنا فيها) “sebuah negeri yang Kami berkahi” penggunaan yang senada seperti dalam peristiwa isra’. Ini juga disebutkan saat Allah akan menyelamatkan Nabi Musa dari kejaran Firaun dan tentaranya (Surah al-A’raf: 137), atau disebut sebagai tanah suci “al-ardhu al-muqaddasah”(Surah al-Maidah: 21), yaitu Baitul Maqdis atau Palestina saat ini.

Dalam kisah Nabi Sulaiman yang diberi mukjizat angin oleh Allah, juga pernah berkunjung ke negeri yang diberkahi tersebut seperti dituturkan dalam Surah al-Anbiya’ ayat 81.

_Kaum Muslimin, jama’ah shalat jumuah rahimakumullah_

Masjid al-Aqsha adalah tempat sujud tertua kedua di dunia setelah Masjid al-Haram. Adamlah manusia pertama yang injakkan kakinya di sana, seorang nabi muslim yang beriman kepada Allah dan esakan-Nya.

Demikian dilanjutkkan keturunan Nuh, Ibrahim, Luth. Bahkan sampai saat keturunan Ya’qub ke tanah suci ini Masjid al-Aqsha dijaga oleh orang-orang yang beriman. Hingga datang saatnya Masjid al-Aqsha dikuasai orang-orang zhalim yang berbuat kerusakan dan menebar kemungkaran yang disebut oleh al-Quran dengan sebutan “qauman jabbârin”. Musa alaihissalâm dititahkan Allah memasukinya dan mengambil alih kendali kepemimpinan dan kemakmuran di tanah suci tersebut. Sayangnya titah tersebut dibantah oleh kaumnya. Dan Allah menghukum mereka. Bahkan mengharamkannya untuk selama-lamanya (menurut sebagian mufassirîn).

Allah juga kirimkan Dawud ‘alaihissalâm pemuda berusia belasan tahun yang hanya seorang penggembala kambing yang tergabung dalam pasukan yang dipimpin Thalut. Seorang pemuda muslim yang beriman ini bahkan tak dikenal siapa-siapa. Ia hanya seorang prajurit biasa sebagaimana yang lainnya. Tetapi kisahnya berubah setelah Allah mengakhiri rezim Jalut melalui dirinya. Ia menjadi pewaris mulia yang kemudian ditahbiskan menjadi seorang raja.

Allah juga kirim Zakariya dan putranya Yahya di tanah suci ini. Sepasang bapak anak yang nabi ini juga keponakannya Isa al-Masîh Allah kirim ke tanah suci. Tapi justru ketiganya diburu dan menjadi target pembunuhan oleh bangsa Yahudi saat itu. Dua yang pertama Allah takdirkan terbunuh sebagai syahid di tangan para durjana, sementara Isa Allah selamatkan dan angkat ke langit-Nya.

Tanah suci Bait al-Maqdis merupakan tanah yang –hanya– diwariskan oleh Allah hanya kepada siapapun dari hamba-Nya yang beriman, dari mana pun asalnya, tanpa diskriminasi kesukuan dan etnis serta jenis kelamin.

_Kaum Muslimin, jama’ah shalat jumuah rahimakumullah_

Penjagaan, pemeliharaan, jihad mempertahankan kesuciannya dan seterusnya tidaklah hanya menjadi tanggungjawab nabi-nabi, melainkan menjadi tanggung jawab semua orang beriman yang mengesakan Allah dan bersaksi bahwa Muhammad SAW sebagai utusan-Nya di mana pun, berasal dari mana pun, berlatar belakang apapun. Maka permasalahan al-Aqsha dan al-Quds tidaklah tereduksi hanya menjadi masalah bangsa Palestina, tetapi ini menjadi masalah universal seluruh umat Islam, lintas geografi, etnis bahkan lintas generasi, sampai tanah suci tersebut kembali kepada umat Islam. Keesaan Allah benar-benar ditegakkan di sana.

Unjuk rasa yang terjadi akhir-akhir ini di Palestina sejak 30 Maret 2018 yang sudah memakan korban jiwa tak sedikit, bukan sekedar memperjuangkan hak kembali ke tanah air mereka. Bukan sekedar permasalahan tanah. Namun, ini adalah misi menumpas kezhaliman dan mengakhiri penjajahan yang secara terang benderang dipertontonkan, tapi dunia seolah tak berdaya menghadapinya. Kita harus mendukung Bangsa Palestina memperoleh hak kemerdekaannya sekaligus menjaga Masjid Suci umat Islam. Menghadirkan kembali cinta dan kasih sayang di bumi yang diberkahi, jauh dari penindasan dan kezhaliman yang semena-mena.

Kita harus belajar inspirasi kemenangan dari Khalifah Umar bin Khattab saat memasuki kota suci dengan kepala tegak, namun tanpa keangkuhan. Penuh tawadhu dan kesederhanaan. Mengundang decak kagum dan penghormatan. Sarat dengan kesantunan dan toleransi, penuh penghayatan jiwa kemanusiaan sekaligus menjadi penjaganya dari segala bentuk kezhaliman, apapun namanya, siapapun pelakunya .

Simaklah apa yang dilakukan Umar saat memasuki kota al-Quds.  Umar bin Khattab minta ditunjukkan oleh Pendeta Sophronius letak Masjid al-Aqsha, tempat yang dijadikan ahlul kitab beribadah. Setelah memasukinya ia bertakbir “Inikah masjid yang diberitahu oleh Rasulullah SAW?”, gumamnya. Waktu itu Masjid al-Aqsha  hanya merupakan pelataran dan tanah lapang yang luas. Sentrumnya berupa sebuah batu mulia yang menjadi pijakan Nabi Muhammad SAW saat hendak mi’raj, yang dijadikan kiblat shalat Nabi Musa dan kaumnya Bani Israil.

Beliau ingin melanjutkan tradisi sentralisasi masjid. Masjid dijadikan sebagai pusat peradaban. Dari masjid semuanya beliau ingin memulai. Maka di masjid itulah titik temu semua sendi peradaban Islam. Politik, ekonomi, kehidupan sosial, hukum, bahkan militer semua bermula dari tempat sujud. Ruh inilah yang saat ini digugat oleh kaum sekuler liberal yang ingin melunturkan ruh Islam agar jauh dari fisik umat Islam. Tak heran bila mereka mendengungkan agar Islam dan masjid sebagai ikonnya dijauhkan dari berbagai aspek kehidupan manusia. Seolah ingin dikatakan bahwa masjid hanya menjadi tempat shalat dan membaca al-Quran saja.

Saat Umar memasuki bait al-Maqdis dari al-Jabiyah untuk menandatangi piagam perdamaian dengan penduduk kota, Pendeta Sophronius mempersilakan dan memohon kepada beliau melakukan shalat di Gereja al-Qiyamah. Tetapi Umar menolaknya. Beliau mengatakan , “Jika aku shalat di dalamnya, aku khawatir orang-orang setelahku akan mengatakan ini mushalla Umar, kemudian mereka akan berusaha membangun masjid di tempat ini”. Itulah toleransi sesungguhnya yang diajarkan Umar. Santun dan argumentatif.

جعلنا الله وإيّاكم الذين يستمعون القول فيتبعون أحسنه. بارك الله لكم في القرآن الكريم ونفعنا وإياكم من الآيات والذكر الحكيم. استغفر الله العظيم لي ولكم ولسائر المؤمنين. استغفروه إنه هو الغفور الرحيم

Menyambut Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad saw.
Jakarta, 11.04.2018

Ujian Ketakutan

Ujian manusia di dunia sangat beragam. Salah satu ujian yang pasti akan dilalui seorang manusia adalah sedikit rasa takut. Rasa takut adalah refleksi kelemahan manusia terhadap masa depannya. Sehebat apapun ilmu seseorang takkan pernah mampu menjangkau masa depannya. Karena itulah, seseorang diuji dengan rasa takutnya.

Sebagian orang takut miskin di masa tuanya. Sebagian lainnya takut ditinggalkan oleh orang-orang dekatnya, takut gagal usahanya, takut kehilangan kekuasaan. Sebagian besar selebriti dunia, takut kehilangan magis popularitasnya. Para pendusta takut kebohongannya terbongkar. Para durjana takut aib-aibnya diketahui. Para penipu takut korban-korbannya sadar, kemudian menuntutnya. Sebagian orang takut hidup susah, takut mati dan sengsara. Sebagian manusia takut dicela dan dicaci, dan sangat ingin dipuja-puji. Sebagian lainnya takut dimarahi dan dimurkai, takut kehilangan pekerjaan dan karirnya, takut kehilangan keluarga dan orang-orang yang dicintainya.

Itulah beberapa sampel ketakutan manusia yang sebagian besar bersifat materi dan berorientasi kebendaan. Padahal ada sesuatu yang patut dikhawatirkan oleh manusia yang pasti mati dan akan dibangkitkan kembali serta diadili nantinya. Kematian personal adalah gerbang hari akhir yang akan dimasuki oleh setiap manusia. Kecerdasan seseorang diukur dari persiapannya menghadapi kehidupan setelah kematiannya. Itulah yang diistilahkan oleh Nabi Muhammad saw. dengan al-kayyis, yaitu orang yang benar-benar cerdas.

Rasa takut yang menjadi ujian pokok manusia adalah jenis ketakutan tersebut dan cara ia meresponnya. Jika ketakutannya benar, maka track yang akan dilaluinya akan menghantarkannya kepada kesuksesan di masa hidupnya, baik di dunia maupun di akhirat. Namun sebaliknya, jika salah orientasi maka akan menyengsarakan hidupnya, di dunia, terlebih nanti di akhirat.

Al-khauf pada ayat 155 Surah al-Baqarah merupakan ketakutan dasar. Jika ditindaklanjuti dengan benar akan menanjak pada rasa takut di tangga berikutnya yaitu khudhû’ dan khusyû’ yaitu rasa takut yang diikuti dengan ketundukan kepada Allah. Pada klimaksnya seseorang akan meraih hakikat takut yang sesungguhnya yaitu khasyyah (خشية), sebagaimana dituturkan firman Allah, “Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama.” (QS. Fathir: 28). Ketakutan pada Allah menghasilkan kekuatan dan kecerdasan, mengantar sang pemilik rasa tersebut pada derajat keilmuan yang tertinggi.

Namun, lihatlah orang kaya yang takut miskin dan kehilangan hartanya. Al-Quran menuturkan kisah Qarun. Ia menyerah dengan ketakutannya dan meresponnya dengan kesalahan berikutnya; kikir dan sombong.

Saksikan pula Fir’aun yang takut kehilangan kekuasaannya. Ia membunuhi bayi-bayi lelaki Bani Israil, tapi justru ia biarkan orang yang menjadi mimpi buruknya, hilangnya kekuasaan sekaligus kezhalimannya yang melampaui batas.

Bacalah kisah keangkuhan dan ketakutan Abu Jahal terhadap pengaruh Nabi Muhammad saw, membuatnya selalu mengerahkan segalanya untuk menghalangi, justru yang ditakutinya menjadi nyata dan ia tewas oleh kehinaannya. Ketakutan pengaruh ini dilanjutkan Abdullah bin Ubay, sang pemimpin munafik yang takut tersaingi oleh hadirnya Nabi Muhammad saw di Yatsrib. Ia pun selalu meneror dan memfitnah beliau. Akibatnya, ia meninggal dengan penuh hina.

Orang-orang zhalim takut dan terhantui oleh kezhalimannya. Sementara pemimpin yang adil takut menzhalimi dan menyengsarakan rakyatnya.

Para penjajah takut orang-orang teraniyaya bangkit dan melakukan perlawanan serta perjuangan meraih kemerdekaannya. Seperti yang dilakukan bangsa Palestina yang takkan pernah berhenti meraih kedaulatannya, hak asasi manusia yang dilindungi oleh undang-undang internasional serta sejalan dengan fitrah sebagian besar penduduk bumi ini.

Sebaliknya, Israel yang menjajah mereka dan merenggut kedaulatan mereka akan terus terhantui oleh kezhalimannya. Batu-batu kecil pernah membuat mereka takut. Pisau-pisau dapur pun pernah membuat mereka paranoid. Anak-anak kecil juga pernah memerangkap mereka dalam ketakutan. Para perempuan tak berdaya juga membuat mereka takut. Dan, hari-hari ini mereka sangat takut dengan kerumunan. Dan jika ketakutan-ketakutan semakin membabi buta, itu pertanda mereka takkan pernah melaluinya kecuali dengan kegagalan dan kekalahan.

Luruskan orientasi takut, agar tak terjerembab pada kehinaan dan kebinasaan. Karena Allah berjanji takkan pernah mengumpulkan dua rasa takut pada diri hamba-Nya. Jika seseorang takut Allah di dunia, Dia berjanji akan mengamankannya di akhriat. Bila ia tak takut Allah di dunia, kelak Allah akan timpakan ketakutan yang dahsyat padanya di akhirat. WalLâhu al-Musta’ân.

 

Catatan Keberkahan 96

Jakarta, 09.04.2018

SAIFUL BAHRI

Hari Bumi untuk Siapa?

Masyarakat dunia mengenal hari bumi pada bulan April, karena pada bulan diperingati sebagai hari bumi sedunia. Sejarah mencatat, peringatan Hari Bumi (Earth Day) diselenggarakan pertama kali pada 22 April 1970 di Amerika Serikat. Penggagasnya adalah Gaylord Nelson, seorang senator Amerika Serikat dari Wisconsin yang juga pengajar lingkungan hidup.

Saat itu jutaan orang turun ke jalan, berdemonstrasi dan memadati Fifth Avenue di New York untuk mengecam perusakan terhadap bumi. Majalah Time memperkirakan bahwa jumlah massa yang turun ke jalan pada demonstrasi tersebut mencapai sekitar 20 juta. Momen ini lalu dijadikan sebagai peringatan hari bumi sedunia. Hari Bumi kemudian menjadi sebuah gerakan global yang mendunia. Pelaksanaannya di seluruh dunia dikordinasi oleh Earth Day Network’s, sebuah organisasi nirlaba beranggotakan berbagai LSM di seluruh dunia.

PBB sendiri memilih tanggal 20 Maret, ketika matahari tepat diatas khatulistiwa sebagai peringatan Hari Bumi. Ini mengacu pada ide “hari bagi orang-orang Bumi” yang dicetuskan aktivis perdamaian John McConnell. Hari yang lebih dikenal sebagai “Hari Bumi Equinoks” ini diperingati PBB setiap tahunnya sejak 21 Maret 1971. Namun PBB juga mengakui tanggal 22 April sebagai hari bumi yang dilaksanakan secara global. PBB secara resmi merayakannya 22 April sebagai “International Mother Earth Day“.

*****

Baik PBB maupun para aktivis lingkungan yang menggagas hari bumi di atas, dengan tanggal yang berbeda, tentunya tak sama dengan hari bumi di Palestina. Sejak terjadi perampasan aset dan tanah Palestina pada tahun 1948, tak sedikit penduduk asli Palestina kehilangan tempat tinggalnya. Hal tersebut terjadi secara sistematis dan terprogram oleh para penjajah Bangsa Palestina yang menduduki tanah suci tersebut secara ilegal. Tercatat sejak tahun 1948 hingga 1972 ada 1 juta hektar tanah milik rakyat Palestina yang berhasil dirampas Israel. Kondisi buruk ini terus meningkat di setiap tahunnya, Israel tanpa henti memperluasan wilayah tanah jajahan mereka.

Akumulasi dari segala kezhaliman dan perampasan tanah (land grab) tersebut terjadi di tahun 1976, yang mencapai klimaksnya pada hari Sabtu, 30 Maret 1976. Rakyat Palestina bersatu padu melakukan perlawanan. Mereka menuntut dikembalikannya tanah mereka yang dirampas. Beragam aksi dilakukan, seperti aksi mogok massal dan demonstrasi turun ke jalan.

Aksi massa ini direspon secara brutal oleh Israel. Pasukan bersenjata Israel memmuntahkan timah panas kea rah para demonstran. Sedikitnya 6 orang gugur dalam peristiwa itu, dan puluhan lainnya terluka, serta lebih dari 300 orang ditangkap.

Pada Jumat 30 Maret 2018kemarin, ribuan rakyat Palestina mulai anak-anak, wanita hingga dewasa, berunjuk rasa di sepanjang perbatasan Gaza. Ini dilakukan dalam rangka memperingati Hari Bumi Palestina dengan mengangkat tema “Great March Return”. Para pengunjuk rasa memiliki dua tuntutan utama yaitu hak kembali ke kampung halaman bagi rakyat Palestina yang terusir sejak 1948 dan mengakhiri blokade terhadap Jalur Gaza.

Sebagaimana 42 tahun silam, kali ini respon Israel pun tak kalah brutal. Bom gas air mata dan timah-timah panas dimuntahkan ke arah para pengunjuk rasa yang sering terstigma negatif sebagai teroris dan melakukan tindakan melawan hukum. Otoritas Kesehatan Palestina menyebutkan, sebagaimana diberitakan oleh Ma’an News Agency (https://www.maannews.com/), 17 orang meninggal dunia dan 1416 lainnya terluka akibat serangan zionis tersebut.Dunia internasional kali ini kembali bungkam, sesekali terdengar kecaman yang tidak berdampak besar. Demikian juga PBB tetap saja tak mampu berbuat apa-apa menyaksikan kebrutalan tak manusiawi dan kezhaliman yang nampak jelas yang disaksikan milyaran manusia di planet ini.

Jika para pecinta lingkungan menyuarakan hari bumi sebagai perlawanan mereka terhadap kerusakan lingkungan yang terjadi secara global, maka seharusnya penduduk dunia lebih bersuara ketika land grab (perampasan tanah) dilakukan oleh sebuah negara secara terstruktur dan penuh kezhaliman. Berikan bangsa Palestina hak kembali (right to return) dan segera akhiri blokade terhadap mereka.

Wahai para pecinta bumi, mana suaramu di Hari Bumi? Akhiri kezhaliman, sekarang juga. WalLâhu al-Musta’ân.

 

Catatan Keberkahan 95

Jakarta, 31.03.2018

SAIFUL BAHRI

Malam Seribu Bulan


Tadabbur Surah al-Qadar

Saiful Bahri

Mukaddimah

Menurut para ulama Surat Al-Qadar merupakan surat makkiyah yang diturunkan setelah surat Abasa([1]). Kebanyakan mushaf yang beredar saat ini, juga dalam buku-buku tafsir, hadits dan buku-buku keislaman lainnya menggunakan al-Qadar sebagai nama surat ini, dikarenakan seringnya disebut dan diulang dalam surat ini; yaitu sebanyak tiga kali dalam lima ayatnya. “lailatulqadr” artinya “’azhamatu al-qadr wa asy-syaraf” (malam yang agung kedudukan dan kemuliaannya), seperti dituturkan oleh para ulama([2]).

Adapun tema besar surat ini adalah pembicaraan turunnya al-Qur’an dari al-lauh al-mahfuzh ke langit dunia pada suatu malam yang sangat dimuliakan Allah. Dia perintahkan para malaikat-Nya untuk membagi-bagi keberkahan kepada hamba-hamba-Nya di bumi sampai terbitnya fajar. Itulah sebuah malam yang nilainya melebihi seribu bulan yang tidak bersentuhan dengan al-Qur’an([3]). Dan konten al-Qur’an yang pertama kali diturunkan kepada Nabi Muhammad saw telah dibicarakan sebelumnya dalam surat al-‘Alaq.

Malam Kemuliaan, Malam Keberkahan

Allah menurunkan al-Qur’an ke bumi pada suatu malam yang dimuliakan-Nya. Sebagaimana termaktub dalam pembukaan surat ini,

إِنَّا أَنزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ

Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Quran) pada malam kemuliaan” (QS. Al-Qadar [97]: 01)

Lailatul qadar yang artinya bermacam-macam, diantaranya sebagaimana disebut di atas yaitu malam yang memiliki kedudukan dan kemuliaan. Maka dari itu perbuatan baik yang dilakukan dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah saat itu, maka akan sangat dimuliakan Allah.

Malam yang nilainya melebihi kebaikan seribu bulan, yang artinya melebihi tiga puluh ribu (30.000) malam lainnya, atau melebihi usia delapan puluh empat (84) tahun lamanya.

Karenanya malam tersebut dimuliakan. Apalagi hamba-hamba-Nya yang memuliakan malam itu dan mengisinya dengan berbagai amal salih, tentu akan dimuliakan melebihi tiga puluh ribu orang biasa yang tak menganggap, lalai dengan malam tersebut atau mengabaikannya.

وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ – لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِّنْ أَلْفِ شَهْرٍ

Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan”(QS. Al-Qadar [97]: 02-03)

Di malam itu Allah jadikan sebuah malam sebagai fasilitas waktu diturunkan-Nya kalam-Nya yang suci diperuntukkan kepada umat manusia melalui kekasih-Nya, Muhammad SAW. Al-Quran yang mulia itu menularkan keberkahan bagi sebuah malam yang akan terus dimuliakan sepanjang masa. Kebaikan yang hanya bisa ditakar oleh Sang Pemiliknya. Melebihi kebaikan seribu bulan atau tiga puluh ribu malam lainnya.

Maka diantara cara terbaik untuk meraih kebaikan dan keberkahan ini adalah dengan berlomba-lomba tingkatkan kualitas interaksi dengan Al-Quran. Dimulai dari menggiatkan bacaannya selama Bulan Ramadan.

Mengapa Allah begitu mengistimewakan malam itu. Malam yang hanya sebagian saja dari waktunya dijadikan Allah sebagai fasilitator turunnya Kalam-kalam suci itu dari lauh mahfuzh-Nya. Bulan yang di dalamnya terdapat satu malam tersebut juga kemudian dimuliakan oleh Allah melebihi bulan-bulan lainnya. Di bulan ini, Allah wajibkan puasa yang menjadi ibadah special antara Dia dan hamba-Nya. Karena hanya Dia saja yang sanggup memberikan balasan dan karena puasa tidak bisa dikalkulasikan dengan angka-angka.

Menariknya, adalah Allah tidak mengatakan bahwa malam lailatul qadar ini lebih baik dari “seribu bulan”. Kalimat seribu bulan memiliki kedalaman makna. Mengapa Allah tak menggantikannya dengan tiga puluh ribu malam yang juga senilai seribu bulan? Atau dengan delapan puluh empat tahun yang juga setara dengan seribu bulan?

Pertama, membandingkan malam lailatul qadar yang personal dengan seribu bulan yang komunal memiliki tujuan khusus untuk meninggikan nilai keistimewaan malam ini secara komunal.

Kedua, malam lailatul qadar yang dirahasiakan tersebut memiliki arti bahwa untuk mengejar kebaikan di malam tersebut tidaklah bisa ditempuh dengan cara-cara instan. Karena kebaikan tidaklah datang dengan tiba-tiba, namun perlu pembiasaan dan bertahap dalam melakukan dan menebarkannya. Dan seandainya hijab dibuka maka kemungkinan besar malam-malam lainnya akan ditinggalkan oleh orang-orang yang malas.

Ketiga, jika menilik dari susunan redaksi al-Quran secara zhahir, seolah-olah malam ini hanya terjadi sekali saja, yaitu ketika Allah menurunkan al-Quran. Baik bagi pendapat yang mengatakan itu terjadi di baitul izzah ataupun yang berpendapat mulai diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW. Namun, menurut jumhur ulama malam lailatul qadar ini terjadi setiap tahun. Mengingat Rasulullah SAW menyuruh umat Islam untuk berburu kebaikan lailatul qadar di bulan Ramadan. Terkhusus di malam-malam terakhir di bulan Ramadan.

Ibunda Aisyah binti Abi Bakar Ash Shiddiq ra. meriwayatkan sabda Rasulullah, ”Carilah lailatul qadr pada hari-hari ganjil di sepuluh hari terakhir pada bulan Ramadhan” (HR. Bukhari Muslim)

Pada sepuluh hari terakhir, Rasulullah Saw. meningkatkan ibadahnya melebihi 20 hari yang telah lewat. Ali bin Abi Thalib ra. meriwayatkan, “Rasulullah Saw. ketika telah memasuki sepuluh hari terakhir mengencangkan sarung dan membangunkan keluarganya” (HR.Ahmad)

Hal-hal di atas mengindikasikan bahwa Allah akan senantiasa menyediakan malam kemuliaan tersebut setiap tahunnya. Dan Allah akan memberikannya kepada hamba-hamba yang dipilih oleh-Nya. Rasulullah SAW yang merupakan manusia pilihan Allah pun berusaha keras untuk meraih malam kemuliaan tersebut. Maka sungguh merugi orang yang telah disediakan kemuliaan tetapi dirinya enggan meraihnya.

Kegigihan Rasulullah Saw. hendak memberi contoh kepada kita betapa siapapun dia, jika tak menggunakan peluang ini akan sangat merugi dan menyesal di kemudian hari. Apakah dia telah memiliki tabungan yang banyak sehingga ia malas menggunakan peluang yang sulit terulang lagi. Karena tak ada jaminan hal ini akan didapatinya di tahun depan. Semuanya serba ghaib. Atau bagi mereka yang hari-hari sebelumnya penuh dengan kekhilafan dan dosa serta kelalaian. Saat inilah kebangkitan hakiki itu meraih kemuliaan yang dibentangkan Allah.

Generasi Terbaik

Abu Musa al Asy’ari meriwayatkan sabda Rasulullah Saw. “Perumpamaan seorang mukmin yang membaca Al Qur’an seperti buah Utrujjah, baunya harum dan rasanya enak. Sedang orang mukmin yang tak suka membaca Al Qur’an bagaikan buah Tamr, tak ada baunya dan rasanya manis….” (HR. Bukhari Muslim)

Perumpaan yang indah. Mukmin yang mencintai al-Quran harumnya sangat wangi dan rasanya sangat enak. Maka sangat wajar malam lailatul qadar sangat mulia. Nilainya secara personal mengalahkan seribu bulan yang komunal yang terdiri dari puluhan ribu malam lainnya. Sebuah perbandingan yang sangat jelas menuntun kita untuk makin dekat dengan al-Quran

Generasi-generasi pertama yang dekat dengan al-Quran memiliki kualitas yang terbukti mengalahkan puluhan ribu orang, berbagai kaum di berbagai dunia dengan penaklukan-penaklukan yang dilakukan pada masa sahabat. Jiwa-jiwa yang terpatri al-Quran tak gentar berhadapan dengan apapun, tak takut melampaui berbagai rintangan apapun, tak menyerah di depan tantangan apapun, memiliki cita-cita yang tak terukur oleh usia mereka. Kekal terukir dalam tinta emas sejarah. Generasi-generasi al-Quran tersebut mampu memberikan sumbangan riil kepada peradaban manusia dan kemudian dikenang oleh orang yang datang setelahnya.

تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِم مِّن كُلِّ أَمْرٍ – سَلَامٌ هِيَ حَتَّىٰ مَطْلَعِ الْفَجْرِ

Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar.” (QS. Al-Qadar [97]: 04-05)

Keistimewaan lainnya malam al-qadar adalah bahwa di malam tersebut para malaikat Allah turun mengawal kalam-Nya yang suci yang diturunkan untuk mengatur segala urusan makhluk-Nya. Malaikat-malaikat tersebut jumlahnya sangat banyak. Menjejali semesta dengan keramaiannya, memenuhi langit dan menutupinya. Serempak turun ke bumi dipimpin oleh Jibril alaihissalam kekasih Allah, pimpinan para malaikat. Mereka membawa kedamaian ke bumi hingga fajar menyingsing. Kedamaian yang hanya Allah saja yang ketahui hakikatnya. Kedamaian yang sanggup meredam segala keburukan malam itu. Kedamaian yang dititahkan untuk mengiringi kemuliaan malam tersebut. Malam yang bersentuhan dengan kalam yang dimuliakan dari Sang Maha Mulia. Fajar baru menyingsing memberkan harapan kebaikan bagi para makhluk-Nya. Khususnya mereka yang memburu kemuliaan di malam tersebut dengan memuliakan al-Quran.

Semua yang bersentuhan dengan al-Quran menjadi yang terbaik. Malaikat pembawanya adalah malaikat terbaik, Jibril alaihissalam. Nabi yang menerimanya, Nabi Muhammad SAW menjadi nabi yang terbaik. Malam yang menjadi sarana waktu turunnya, menjadi malam yang terbaik. Maka, umat yang menerima dan kemudian mengamalkannya, membaca dan mengajarkannya, akan menjadi umat dan manusia terbaik.

 

——————————————————

* Tadabbur surat Al-Qadar (Kemuliaan): [96]

([1]) lihat: Jalaluddin as-Suyuthi, al-Itqân fi ‘Ulûmi al-Qur’ân, hlm.22; Badruddin az-Zarkasyi, al-Burhân fi ‘Ulûmi al-Qur’ân, hlm. 249. Prof. Dr. Jum’ah Ali Abd. Qadir, Ma’âlim Suar al-Qur’ân, Vol.2, hlm.829

([2]) Tesis penulis: Kitab Lawami’ al Burhan wa Qawathi’ al-Bayan fi Ma’ani al-Qur’an Karya Imam al-Ma’iny: Dirasah wa Tahqiq, Vol.2, hlm. 890.

([3]) Muhammad Ali Ash-Shabuni, Ijazu al-Bayan fi Suar al-Qur’an, hlm. 306

Melampaui Keterbatasan Fisik


Inilah jalan yang kami pilih dan akan berujung pada satu dari dua pilihan;menang dengan kebebasan atau gugur sebagai syuhada”

(Ahmad Yasin)

Dua hari yang lalu pada 22 Maret adalah tepat 14 tahun gugurnya seorang simbol perlawanan Bangsa Palestina. Simbol kegigihan dan pantang menyerah, Syekh Ahmad Yasin. Beliau gugur sebagai syahid setelah melewati bertahun-tahun membakar semangat putra-putri Palestina untuk tidak menyerah memperjuangkan kemerdekaannya, mengakhiri penjajahan dan kezhaliman serta selalu menjaga  Masjid al-Aqsha dari berbagai penistaan dan ancaman.

Kurang lebih sepekan sebelumnya, 14 Maret 2018 seorang fisikawan terkemuka Stephen Hawking juga menghembuskan nafasnya, menandai akhir kehidupannya, setelah puluhan tahun mematahkan vonis medis yang menyatakan akhir kehidupannya di saat ia masih muda, dahulu.

Ahmad Yasin, sejak berusia 16 tahun ia lumpuh dan menjalani hidupnya dengan keterbatasan fisik. Demikian halnya Hawking, sejak ia berusia 21 tahun juga lumpuh, kemudian menjalani sisa hidupnya dengan ketidakberdayaan fisik. Namun, keduanya tidaklah menjadi pesakitan. Keduanya melompati batas-batas ketidakberdayaan fisik. Keduanya terbang dengan idealisme dan cita-citanya masing-masing. Memang benar, secara ideologis keduanya bertentangan. Ahmad Yasin, seorang muslim yang termotivasi keyakinan dan imannya; sedang Hawking, seorang atheis yang tak mempercayai adanya Tuhan, ia tetap termotivasi dengan humanismenya sebagai manusia.

Dari keduanya, dunia belajar melawan ketidakberdayaan dan keterbatasan fisik. Hawking termotivasi melawan vonis medis dan menjejaki mimpi-mimpi serta cita-citanya. Ia menjelma menjadi rujukan penting secara saintifik dalam bidang fisika, dengan teori kosmologinya.

Sedangkan, Ahmad Yasin bukan sekedar melawan ketidakberdayaan fisiknya, namun ia menjadi simbol kuat perlawanan bangsanya yang terjajah. Kondisi fisiknya yang sangat lemah tak menjadikannya absen dalam perlawanan. Justru dialah yang menyulut dan terus mempertahankan perjuangan melawan penjajahan.

Hawking, bersama keterbatasan fisiknya sudah terpendam di dalam tanah, tapi dunia termotivasi perlawanannya terhadap keterbatasannya tersebut. Dunia bahkan sangat menghormati teori-teorinya. Jejak-jejak saintifiknya terekam di lini masa sejarah manusia.

Demikian halnya Syeikh Ahmad Yasin, berdarah-darah jasadnya saat ajal menjemputnya. Terbunuh oleh kepengecutan yang dipuja-puja para durjana. Tubuhnya yang ringkih itu bahkan harus dihujani rudal supermahal dari kendaraan yang juga berharga mahal. Musuh-musuhnya mengira kematiannya menyudahi perannya semasa hidup. Sepeninggalnya, ruh perlawanan terus menggelora di setiap sudut-sudut hati bangsa Palestina. Bahkan, sampai-sampai anak-anak kecil dan para perempuan menjelma menjadi pejuang-pejuang gigih yang tak takut resiko perjuangan, meraih kemerdekaan dan mengembalikan kebebasan.

Jika hari ini banyak manusia yang utuh secara fisik, sehat badannya, bahkan mendapatkan berbagai fasilitas kehidupan yang mapan, namun  berjiwa kerdil maka seharusnya malu pada mereka berdua.

Jika ada orang-orang yang sehat dan sempurna fisiknya, tapi merelakan dirinya dijajah oleh syahwat dunia dan ambisi materi, maka seharusnya mereka malu pada mereka berdua.

Jika ada orang-orang yang berbadan sehat, tapi diam saja melihat kezhaliman dan penjajahan terhadap dirinya, maka mereka sudah menjadi mayat-mayat hidup sebelum matinya. Dan orang-orang yang mendiamkan kezhaliman tersebut terjadi tanpa ada rasa keterpanggilan menyingkirkannya, maka kebaikan telah benar-benar mati dalam dirinya.

Maka, sebaik-baik kondisi mempertahankan motivasi untuk melawan keterbatasan-keterbatasan adalah dengan membersamai para pejuang dan membaca kisah-kisah perjuangan. Kebaikan dan kebenaran takkan pernah menyerah, selama berada di dalam hati para pejuang. WalLâhu al-Musta’ân.

 

Catatan Keberkahan 94

Jakarta, 24.03.2018

SAIFUL BAHRI

Pengungsi, Korban Terorisme

 “We can’t help everyone, but everyone can help someone” (Ronald Reagan)

Pernah merasakan delay penerbangan? Atau transit yang panjang di tengah perjalanan? Atau penerbangan ditunda karena overbook? Sungguh tak nyaman, pastinya. Hal-hal ini tak seberapa jika dibandingkan dengan ketidaknyamanan yang dialami para pengungsi yang kehilangan tempat tinggal.

Belakangan, dunia sibuk membicarakan terorisme dan perang melawan terorisme. Porsi perbincangan yang demikian besar sampai mengurangi kerja-kerja nyata meringankan para korban terorisme, yaitu para pengungsi. Para pengungsi akibat bencana alam, biasanya tak sampai membuat mereka meninggalkan tanah airnya. Meskipun tak ringan dalam menangani mereka, namun -secara umum- recoverynya berjalan baik. Namun, para pengungsi akibat konflik bersenjata dan peperangan, jauh lebih berat menanganinya.

Jika menilik Konvensi Internasional tahun 1951 tentang pengungsi, bahwa yang dimaksud “refugee” (pengungsi) adalah,”orang yang dikarenakan oleh ketakutan yang beralasan akan penganiayaan, yang disebabkan oleh alasan ras, agama, kebangsaan, keanggotaan dalam kelompok sosial dan partai politik tertentu, berada di luar negara kebangsaannya dan tidak menginginkan perlindungan dari negara tersebut.”

Data UNHCR tahun 2016 menyebutkan jumlah mereka melebihi angka 65 juta jiwa, atau naik 10 juta lebih dari tahun sebelumnya. Itu artinya, satu dari setiap 113 orang di dunia adalah pengungsi atau pindah secara paksa dari negaranya; atau setiap tiga detik, terdapat satu orang yang “terpaksa” menjadi pengungsi.

Beberapa tahun ini Suriah menjadi penyumbang terbesar bertambahnya angka pengungsi, karena konflik di negara itu berkepanjangan. Di beberapa tempat –bahkan– para pengungsi ada yang sudah sampai tiga generasi, karena mereka benar-benar tak bisa kembali ke tempat asal. Rakyat Palestina yang terusir dari negaranya sejak 1948, hampir semua tak bisa kembali ke tanah air mereka yang dirampas. Pada hari kelam tersebut, lebih dari 50% penduduk Palestina terusir. Lebih dari satu juta orang dipaksa keluar dari Palestina. Peristiwa ini dikenal dengan yaum an-nakbah. Kini jumlah pengungsi Palestina yang terdata resmi di UNRWA per 1 Juni 2017 adalah 5.869.733 jiwa, sebagian besar berada di negara tetangga mereka Yordania, kemudian di Gaza yang sudah terisolasi hampir satu dasawarsa lamanya.

Mengharapkan dunia yang tenang tanpa peperangan adalah keinginan sebagian besar manusia. Namun, keinginan mulia tersebut dikalahkan oleh ambisi dan syahwat sebagian kecil manusia yang bersenyawa menjadi setan yang mengubah pribadi manusia yang seharusnya mulia, menjadi lebih buruk dari binatang.

Bencana besar bagi kemanusiaan adalah saat terjadi hilangnya kepedulian dan persatuan menghadapi kezhaliman. Dan kerugiaan terbesar manusia dalam melawan waktu adalah dengan menyia-nyiakan peluang dan potensi kebaikan yang Allah sediakan. Dalam surah al-‘Ashr setiap manusia terancam kerugian karena salah mempersepsikan dan menggunakan waktu. Mereka yang menyatu dalam group value kebaikan yang bisa terhindar dari kerugian tersebut. Beriman, beramal baik secara bersama-sama dan masif, kemudian terus saling menasehati dalam kebenaran dan kesabaran.

Sebaliknya, jika sabar menguap, baik karena para penasihat bosan menasehati dan orang-orang enggan mendengarkan kritikan dan nasehat (hilangnya tawashau bi ash-shabr), pertanda keangkuhan sedang mencengkeram. Cengkraman keangkuhan berakibat tiada lagi nasihat-nasihat kebenaran (lenyapnya tawashau bi al-haqq), berganti puja-puji para penjilat atau caci-maki orang-orang bodoh. Jika itu terjadi, orang-orang akan lebih sibuk bicara daripada berbuat baik (sedikitnya amal shalih), dusta akan mewabah dan kebohongan terus dibangga-banggakan. Jika hal-hal tersebut merajalela, maka iman dan keyakinan akan menipis dan kemudian hilang. Tiada lagi yang tersisa kecuali kerugian besar dan penyesalan.

Waktu kita tak banyak, karena terbatas. Solusi terbaik yang Allah berikan dalam Surah al-‘Ashr, tinggal kita laksanakan. Mengajak sebanyak mungkin orang-orang percaya dan beriman untuk berbuat baik dan saling menasehati. Kezhaliman pasti tumbang, digantikan cinta dan kasih sayang. Dan saat itu terjadi, tiada lagi orang-orang yang terasing dari negeri mereka. Bersatu, selamatkan para pengungsi dan hentikan -segera- berbagai jenis kezhaliman di muka bumi ini. WalLâhu al-Musta’ân.

 

Catatan Keberkahan 93

Jakarta, 17.03.2018

SAIFUL BAHRI