Fikih Prediksi dan Prediksi Fikih (2)

Pembahasan tentang Ekonomi Syariah, setidaknya mencakup tiga sektor. Yaitu: Keuangan syariah, sektor riil dan filantropi. Yang lebih banyak dikaji dan lebih marketable adalah justru keuangan syariah. Sebagian bahkan mengidentikkan ekonomi Islam dengan perbankan Islam. Padahal, sektor terbesar yang menjadi rujukan dan kajian utamanya yang terdapat di dalam al-Quran adalah sektor ketiga yaitu filantropi. Kata-kata zakat, shadaqah, infaq beserta berbagai derivasinya dan kata-kata yang semakna cukup banyak bertebaran di berbagai tempat dalam al-Quran dan hadis. Belum termasuk anjuran menyantuni anak yatim, memberi makan orang fakir dan miskin serta memberi bantuan secara umum kepada berbagai pihak. Hal tersebut sebenarnya mengindikasikan perlunya kajian lebih mendalam di sektor ketiga ini. Selain kegunaannya di lapangan, hal tersebut diharapkan akan berdampak besar untuk motivasi dan penggalangan kemanusiaan yang lebih maksimal dan efektif.

Inilah yang disebut prioritas dan timbangan dalam menentukan sebuah program atau kegiatan. Karena terbatasnya sumber daya, baik manusia maupun sumber pendukung materi dan lainnya. Dengan menggunakan fikih prediksi (fiqhu al-ma’âlât), maka hal-hal di atas bisa diprediksi dengan ilmu dan kemudian disikapi serta ditindaklanjuti. Apalagi konsideran-konsideran makin banyak dan canggih di era kemajuan teknologi seperti saat ini.

Demikian halnya kajian tentang konflik di Timur Tengah, khususnya yang terjadi di Palestina. Kebanyakan kajian konflik terpusat pada masalah politik dan kemanusiaan. Padahal kajian tentang, sejarah, al-Quds (Baitul Maqdis) dan Masjid al-Aqsha secara khusus menjadi titik utama dan target penjajahan Zionis Israel. Tahapan-tahapan yang dilakukan zionis Israel sangat jelas. Mereka bermula dari membentuk komunitas, sosialisasi, kemudian negara, pengakuan publik, menguasasi ekonomi, politik dan media. Target dan fokus mereka adalah al-Quds dan Masjid al-Aqsha.

Klaim sepihak Gedung Putih mengenai Jerusalem adalah bukti fokusnya kerja mereka. Hal yang sebenarnya juga sudah diprediksi oleh para pejuang pembebasan Palestina, juga tak sedikit dari para ulama dan ilmuwan muslim. Sayangnya, prediksi tersebut tak sampai ditindaklanjuti pada langkah startegis untuk melindungi al-Quds dan Masjid al-Aqsha. Sehingga, dampaknya di tataran masyarakat umum pun tak sedikit yang menanyakan, memang apa bahayanya klaim AS terhadap Jerusalem di akhir tahun lalu?

Sebagian umat ini cukup aware dengan al-Quds dan Masjid al-Aqsha yang menjadi pusaran konflik. Namun, sosialisasi kepada dunia internasional serta keterbatasan memproteksinya seolah membuat asumsi betapa superiornya AS sehingga bisa membuat keputusan apapun. Di lain pihak menandakan Palestina dan umat Islam khususnya menjadi pihak yang lemah, bukan hanya karena tertindas dan sering terstigmakan negatif tapi dukungan yang didapat pun tidak berpengaruh dalam realitas lapangan.

Tanpa bermaksud mengecilkan apalagi mengesampingkan kajian-kajian kemanusiaan, pengungsi, tawanan, rekayasa demografi dan pemukiman ilegal, penangkapan tak manusiawi, perampasan aset atau kajian-kajian politik, ekonomi dan lainnya, maka tingkat perhatian dan kesadaran tentang al-Quds dan Masjid al-Aqsha perlu terus ditingkatkan dan disosialisasikan. Apalagi bagi umat Islam, bukan hanya diikat secara historis, keduanya memiliki tautan ideologis yang sangat kuat. Mendukung dan membela kemerdekaan Palestina, artinya melakukan segala upaya untuk melindungi Masjid al-Aqsha dan Baitul Maqdis. Di mulai dari upaya-upaya individu dalam keluarga, kemudian melalui penyadaran di berbagai forum resmi (pendidikan formal), maupun non formal (seminar, ceramah, khutbah, tulisan) dan menggunakan berbagai media cetak dan internet. Bila hal ini menjadi perhatian utama umat ini, maka soliditas umat takkan terganggu, meski mendapatkan perlawanan yang berat dan penjajahan yang tak kompromis melakukan penistaan dan kezhaliman. Saatnya melawan kezhaliman dengan lebih cerdas. Wallahu al-Musta’ân.

 

Catatan Keberkahan 85

Jakarta, 18.01.2018

SAIFUL BAHRI

Iklan

Fikih Prediksi dan Prediksi Fikih


Revolusi telekomunikasi atau lebih tren industry 4.0 membawa dampak besar. Awalnya, revolusi industri keempat ini menyasar dunia bisnis dan manufaktur. Namun, perkembangannya akan merambah berbagai sektor kehidupan manusia. Klaus Schwab membahas dampaknya secara global sebagaimana berpengaruh pada komunitas masyarakat[1] bahkan sampai kehidupan individu manusia modern. Menurutnya, revolusi industri keempat ini bukan hanya mengubah apa yang bisa dikerjakan manusia, tapi akan mengubah secara pelan dan pasti “siapa kita”. Efek dan pengaruhnya bahkan akan sampai pada taraf personal. Masalah privasi, gaya konsumerisme, persepsi kerja dan rekreasi, peningkatan karir individu dan sebagainya[2].

Di era seperti ini, kebutuhan modifikasi fikih bagi umat Islam sangat urgen. Sebelumnya, seorang alim terkemuka Dr. Yusuf al-Qaradhawi mempopulerkan fikih prioritas (fiqh al-aulawiyât), maka saatnya umat ini perlu mempertajam lagi dengan fikih prediksi (tawaqqu’ât) yang pernah dibahas oleh para fuqaha dengan sebutan fiqhu al-ma’âlât. Tentunya, tanpa mengesampingkan urgensi fikih-fikih lain.

Di antara imam madzâhib yang punya pandangan prediktif adalah Abu Hanifah, yang tinggal di Iraq dengan berbagai masalah baru. Kasus talak tiga yang diputuskan Umar bin Khattab pun karena menggunakan pertimbangan prediktif. Sekiranya tak diantisipasi, mungkin semakin banyak yang mempermainkan talak.

Penulis takkan membawa ranah fikih ibadah. Ini sudut pandang lain, karena selain fikih prediksi, kita pun perlu membekali prediksi fikih. Bagaimana masalah-masalah baru disikapi dengan pendekatan hukum fikih. Tak bisa dihindari fikih harus menyikapi transaksi elektronik, termasuk e-money, belum lagi dengan semakin majunya dunia mesin (robot). Manusia mulai terdesak oleh teknologi yang diciptakannya.

Ketergantungan yang sangat tinggi terhadap industri dan mesin akan menyebabkan masalah. Utamanya adalah problem identitas, baik identitas kebangsaan, ideologi maupun sampai tahapan identitas gender. Sebagian manusia modern sudah sulit ditebak jenis kelamin aslinya, dikarenakan beberapa hal. Kepekaan sosial menipis, keuletan mulai pudar, dibarengi dengan ketergesaan dalam banyak hal.

Maka, hadirnya ilmu dan etika, yang menjasad dalam diri manusia menjadi penting dan mendesak. Karena, ilmu dan etika yang dirangkum dalam sebuah kewajiban menuntut ilmu oleh Rasulullah SAW ini menjadi kewajiban individu, yang perlu didukung oleh komunitas sosial dan negara berkewajiban memfasilitasi serta meningkatkan efektifitasnya.

Inilah yang penulis maksudkan dengan fikih prediksi. Bukan sekedar membayangkan masa depan, tapi apa yang perlu disiapkan. Melek literasi dan meningkatkan reading habbit yang disiapkan juga demikian, perlu dipilah dan disusun prioritasnya. Secara pribadi, apa yang menjadi tema penting untuk sering dibaca umat ini -tentunya setelah al-Quran dan Hadis-. Kemampuan-kemampuan apa saja yang perlu disiapkan dalam keluarga? Selanjutnya negara mengarahkan basis massa yang kuat untuk membuat ketahanan nasional di bidang tertentu.

Kondisi umat Islam dengan pendekatan politik dan ekonomi memang memprihatinkan. Namun, jika umat tak keluar dari kungkungan view ini, maka akan tenggelam dalam emosi kesedihan, kemarahan dan kekecewaan. Padahal, jika dilihat dari potensi, kemungkinan akan lahir ide-ide brilian. Bukankah, kajian-kajian keislaman di perkantoran dan beberapa komplek perkotaan perlu dibaca dengan fikih prediksi? Ini kesempatan membuat kampus keislaman terbuka yang terintegrasi guna penyadaran masif. Islamic finance beserta turunannya menjadi tren yang tak bisa dielakkan, merupakan peluang lainnya yang dahsyat. Kita perlu memancing para pakar untuk membawa umat ini menelusuri bersama, fikih prediksi agar lebih produktif dan efektif. WalLâhu al-Musta’ân.

Bersambung …

Catatan Keberkahan 84

Jakarta, 11.01.2018

SAIFUL BAHRI

______________________

[1] Klaus Schwab, The Fourth Industrial Revolution, (Geneva: World Economic Forum, 2016), hlm. 86, 88

[2] Ibid, hal. 92

Relativitas Waktu

Karunia waktu adalah salah satu nikmat yang sering dilalaikan manusia. Padahal Allah tak sedikit bersumpah dengan nama dan satuan waktu, juga menyebutnya dalam al-Quran. Waktu-waktu yang disebut seperti malam, siang, pagi dan petang adalah pertanda keniscayaan manusia dibatasi oleh waktu. Sementara satuan waktu, seperti tujuh hari atau malam, sepuluh hari, tiga puluh atau empat puluh hari, bilangan bulan, tahun dan seterusnya adalah pertanda Allah memperhatikan nominal-nominal tersebut, namun tak berarti mengkultuskan. Karena hakikat waktu bukanlah pada bilangan atau angka, namun pada apa yang terjadi atau diperbuat manusia.

Nilai manusia tak selalu diukur dari usia. Seseorang berusia 40 tahun belum tentu lebih baik dari yang berusia 30 tahun. Jika ukurannya angka, maka umat Nabi Muhammad SAW kalah kualitas dengan umat Nabi Nuh ‘alaihissalam. Demikian halnya kuantitas amal, tidak pula menjadi barometer nilai manusia. Karena yang dinilai Allah adalah kualitasnya.

Sebaliknya, jika yang menjadi patokan adalah standar modern bisa jadi Nabi Nuh dinilai sebagai nabi yang gagal karena dengan waktu panjang hanya sedikit saja pengikutnya. (baca: Angka-Angka dan Batas Kemampuan)

Mari belajar dari kemuliaan yang Allah sematkan lailatul qadar. Malam itu nominalnya satu, tapi nilainya mengalahkan seribu bulan. Tingkat kelebihan dan keistimewaannya juga limitless (tanpa batas). Hanya Allah saja yang mengetahui kelebihan kuailtas tersebut.

Di zaman sekarang diperlukan pengetahuan yang baik tentang efektivitas waktu dan kegiatan. Banjir informasi di era digital menjadikan internet menjadi kebutuhan primer manusia modern. Berinteraksi dengan mesin menjadi keniscayaan. Jika tak punya modal pemahaman baik tentang literasi media, maka ia akan ditenggelamkan oleh teknologi modern.

Sebagian orang waktunya habis untuk mengumpulkan materi demi menghidupi diri dan keluarganya. Sebagian muda habis waktu di depan gadgetnya. Sebagian lagi dihabiskan dengan permainan-permainan yang melenakan. Sebagian yang memahami, bahwa pertempuran zaman modern berbentuk proxy (jarak jauh) dan menggunakan media, menjadikannya meladeni semua isi media; terutama media sosial. Sehingga ia kehabisan waktu dan tidak fokus.

Orang-orang yang cerdas adalah yang mampu fokus. Nabi Muhammad SAW mengajarkan melatih kecerdasan sebagai “al-kayyis” yaitu yang mengetahui dan menyiapkan kehidupan setelah mati. Hanya sedikit orang yang membayangkan dan menyiapkan kehidupan setelah matinya. Sebagian besar manusia berkhayal tentang kehidupan dunianya dan melupakan kehidupan setelahnya. Andai semua khayalannya bisa terwujud, maka kebanyakan manusia hanya berkhayal hidup di dunia saja. Itulah jebakan hidup matrealisme dan hedonisme.

Jika dzikir istighfar ada waktu-waktu istimewa, dan membaca al-Quran juga demikian, maka perlu menyusun strategi agar usia kita yang tak banyak ini lebih bermanfaat. Agar waktu satu hari kita bisa bernilai lebih baik dari puluhan, ratusan atau ribuan hari manusia lainnya, maka kitalah yang perlu fokus dan menyusun prioritasnya. Kita perlu mempartisi waktu kita. Namun, membagi bukan untuk memisah-misahkan satu dengan lainnya. Karena pada hakikatnya, hidup dan mati seseorang bisa dipersembahkan semuanya untuk beribadah kepadaAllah SWT. Demikian halnya saat kita menyaksikan kezhaliman terjadi di mana-mana. Maka perlu mulai dan fokus dari sumbernya. Dari kezhaliman global, tapi aksinya dimulai dari individu dan keluarga dekat.

Keterbatasan waktu kita ini juga sebaiknya tak membuat diri ini terpancing untuk banyak berkomentar dan terlalu memikirkan komentar orang di sekitar kita. Berbuatlah, maka Allah akan menyaksikannya. Berbuatlah kebaikan, dan jangan remehkan sekecil apapun. Jadikan waktu ini penuh berkah, dengan senyuman dan tebarkan optimisme. Bisa jadi, hal tersebutlah yang akan meruntuhkan kezhaliman yang makin merajalela dan ditakuti oleh orang yang lemah imannya. WalLâhu al-Musta’ân.

 

Catatan Keberkahan 83

Jakarta, 08.01.2018

SAIFUL BAHRI

Persepsi Kemenangan

Sebagian orang mempersepsikan kemenangan dengan kekuasaan yang absolut. Sebagian lagi mempersepsikan kemenangan dengan hegemoni berupa keinginan yang bisa dipaksakan kepada pihak lain. Sebagian lagi mempersepsikan kemenangan dengan mengalahkan, menghinakan serta menindas orang lain. Sebagian lain mempersepsikan kemenangan dengan kekayaan tanpa batas, sehingga –menurutnya– ia sanggup melakukan apa saja dengan kekayaannya.

Sedangkan al-Quran mempersepsikan kemenangan yang diterjemahkan secara literal sebagai “al-fauz” dengan beberapa hal. Ada kalanya kata al-fauz diberi keterangan dengan “al-mubîn” yang berarti kemenangan yang jelas dan nyata. Di lain kesempatan disebutkan dengan keterangan “al-kabîr” yang bermakna kemenangan yang besar. Adapun sifat yang paling banyak disebut di dalam al-Quran adalah kata “al-azhim” yang berarti kemenangan yang agung, menandakan sebuah karunia yang luar biasa.

  1. Kata al-fauz al-mubîn disebut di dalam di dua tempat yaitu di QS. al An’âm: 16 dan al-Jâtsiyah: 30. Dalam dua kesempatan tersebut Allah menjelaskan kemenangan yang nyata dan jelas adalah ketika seseorang diselamatkan dari siksa dan adzab Allah, dan kemudian dimasukkan ke dalam golongan hamba yang diberi rahmat oleh-Nya.
  2. Kata al-fauz al-kabîr disebut hanya sekali yaitu di surah al-Burûj: 11 yang menjelaskan rahmat kemenangan Allah yaitu ketika seseorang diberikan surga Allah yang mengalir di bawahnya berbagai jenis sungai yang jernih dan indah.
  3. Penyebutan sifat terbanyak tentang al-fauz terdapat di beberapa tempat, di antaranya: QS. An-Nisâ’: 12, QS. Al-Mâ’idah: 119, QS. At-Taubah: 72, 89 dan 100, QS. Al-Hadid: 12 dan QS. At-Taghabun: 9). Bahwa seseorang akan benar-benar dikaruniai kemenangan yang hakiki dan kekal adalah pada saat ia berada di dalam surga Allah dan tinggal di sana selama-lamanya, meraih keabadian dalam kebahagiaan. Biasanya al-Quran menggambarkannya dengan kata “khâlidîna fîhâ

Demikianlah, sekilas tentang persepsi kemenangan di dalam al-Quran. Sangat sederhana dan lugas serta ringkas. Hanya saja, untuk meraihnya diperlukan upaya yang tak ringan, serta tak bisa dikerjakan sendirian. Karena harus terlebih dulu menyingkirkan kezhaliman terbesar, yaitu syirik serta aliansi kezhaliman lainnya. Pendustaan terhadap ayat-ayat Allah, kesombongan dan keangkuhan. Termasuk di antaranya kezhaliman yang dilakukan di antara sesama manusia. Karena kezhaliman bukan sekedar menjadi musuh kemanusiaan, tetapi sudah diproklamirkan sebagai musuh Allah. Dalam salah satu hadits qudsi-Nya, Allah berfirman, “Sesungguhnya Aku telah mengharamkan kezhaliman atas diri-Ku…” (al-Hadis).

Maka, jika kita menemukan kezhaliman di bumi Allah, selaiknya kita berusaha menyingkirkannya. Jika tak bisa melakukan perlawanan, maka setidaknya tidak memberikan dukungan kepadanya untuk berkembang, hingga kemudian menindas kemanusiaan. Jika pun ini tak bisa dilakukan, maka menjauhlah dari sumber kezhaliman. Itulah yang akan menyelamatkan dari hancurnya peradaban manusia.

Salah satu bentuk kezhaliman yang nyata di zaman modern adalah penjajahan terhadap kedaulatan suatu bangsa, seperti yang dialami oleh Bangsa Palestina. Maka, mengembalikan kemerdekaan mereka, menjadi tugas kemanusiaan. Jika kita adalah bangsa Indonesia, maka itu adalah menjadi amanah konstitusi. Bila, kita adalah umat Islam, maka itu menjadi amanah menjaga Masjid Suci al-Aqsha. Dan menjadi apapun, semua akan bermuara satu: akhiri kezhaliman yang terjadi di Palestina, terutama di al-Quds dan Jalur Gaza. Sebagai apa dan siapapun, maka penjajahan dan kezhaliman di atas dunia ini harus dilenyapkan, karena bertentangan dengan nasionalisme dan jiwa kebangsaan, bertentangan dengan kemanusiaan, serta nilai-nilai ketuhanan. WalLâhu al-Musta’ân.

 

Catatan Keberkahan 82

Jakarta,23.12.2017

SAIFUL BAHRI

Kartu Biru atau Kartu Merah

Sepanjang tahun 1967-1994 Pemerintah Israel telah mencabut 12 ribu lebih kartu identitas penduduk kota al-Quds (Jerusalem). Akhir tahun 2012, terdapat setidaknya 20 ribu anak-anak di kota ini yang tidak bisa dimasukkan ke dalam Kartu Keluarga orang tuanya.

Terdapat dua jenis kartu bagi penduduk kota al-Quds. Kartu berwarna biru menjelaskan identitas kependudukan asli yang dikeluarkan oleh Departemen Dalam Negeri Israel. Belakangan kartu manual mulai diarahkan untuk diganti dengan e-ktp yang berbasis biometrik. Dalam beberapa rilis berita dikabarkan bahwa kartu tersebut bukanlah kartu identitas permanen, tetapi hanya merupakan kartu izin tinggal selama sepuluh tahun dan harus diperpanjang setelahnya setelah mendapatkan izin dari kementerian. Saat ini hanya terdapat 35 ribu saja penduduk Palestina di al-Quds yang memiliki jenis kartu seperti ini. Satu lagi jenis kartu berwarna hijau, yang dikeluarkan oleh otoritas Palestina. Inibelum beberapa jenis kartu lainnya yang mengatur secara khusus dan detil bagi penduduk kota al-Quds secara ketat. Saat ini terdapat sekitar 315 ribu penduduk al-Quds yang memiliki kartu hijau ini.

Lalu, apa makna klaim sepihak 6 Desember lalu dari Gedung Putih yang mendeklarasikan Jerusalem sebagai Ibukota bagi Israel?

  1. Resolusi internasional yang dikeluarkan PBB terkait situs-situs suci bagi Umat Islam dan kaum Nasrani di Jerusalem menjadi tidak berlaku, karena Israel mempunyai kendali penuh terhadap ibukotanya dan bisa melakukan apa saja.
  2. Israel akan membangun pangkalan militernya di “ibukota” rampasannya. Selain itu kantor kementerian dan kemudian gedung-gedung pemerintahan serta pusat-pusat strategis negara. Kemudian akan memaksa -sedikit demi sedikit- pemindahan kedutaan negara-negara yang memiliki hubungan diplomatik dengan Israel. Tentu hal ini memerlukan wilayah fisik yang luas.
  3. Pemerintah Israel akan semakin leluasa membangun pemukiman dan bangunan-bangunan fisik lainnya di dalam kota al-Quds.
  4. Membatasi kunjungan umat Islam atau siapa saja yang hendak berkunjung ke al-Quds, bahkan bisa melarang siapa saja tanpa alasan yang definitif.
  5. Lebih dari 315 ribu penduduk asli Palestina di kota al-Quds terancam pengusiran dan aset-aset mereka bisa diambil alih kapan saja, dikarenakan mereka memiliki kartu hijau, bukan kartu identitas yang dikeluarkan pemerintah Israel.
  6. Sekitar 35 ribu penduduk Palestina di kota al-Quds hanya memiliki kartu identitas (biru) yang berarti maksimal memiliki izin tinggal hanya sepuluh tahun. Setelahnya, mereka belum tentu diizinkan tinggal kembali di kota al-Quds.
  7. Ribuan anak kecil Palestina yang namanya tidak tercantum di kartu keluarga terancam diusir. Dan tidak mungkin mereka akan keluar dari kota al-Quds sendiri. Setidaknya, salah satu dari keluarganya akan menyertainya jika suatu saat terjadi razia kependudukan.
  8. Situs utama umat Islam, Masjid al-Aqsha terancam dipunahkan dan dirampas identitasnya, secara bertahap. Jika selama ini sudah berhasil membatasi akses masuk bagi orang-orang yang hendak shalat, maka saat ini menjadi sempurna berkuasa penuh mengendalikannya. Dan jika nanti terlihat hanya sedikit saja yang shalat, dikarenakan sulitnya akses memasuki masjid,maka alasan penutupan masjid akan dibuat. Umat Islam terancam kehilangan amanah Allah untuk menjaga masjid suci ini.

Jika saat ini terjadi kemarahan global yang diakibatkan pernyataan sepihak seperti diatas. Maka sangat wajar. Karena kediktatoran sedang dipertontonkan. Sebuah kezhaliman didukung secara terbuka, tanpa rasa malu dan segan. Negara-negara muslim pun tak berkutik. Rekomendasi normatif KTT OKI –tanpa bermaksud mengecilkan- rasanya takkan mampu menghentikan penjajahan terang-terangan yang didukung oleh pihak-pihak yang selama ini mengagungkan hak asasi manusia. Orang-orang yang menganggap suci kebebasan dan kemerdekaan, telah merampas kedaulatan dan kebebasan orang-orang tak berdosa.

Jika, ada marah yang dibolehkan, inilah saatnya marah. Marah yang bermartabat. Kemarahan yang penuh maruah. Sebagaimana, Aisyah meriwayatkan sebuah hadis.

عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ مَا ضَرَبَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ شَيْئًا قَطُّ بِيَدِهِ وَلَا امْرَأَةً وَلَا خَادِمًا إِلَّا أَنْ يُجَاهِدَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَمَا نِيلَ مِنْهُ شَيْءٌ قَطُّ فَيَنْتَقِمَ مِنْ صَاحِبِهِ إِلَّا أَنْ يُنْتَهَكَ شَيْءٌ مِنْ مَحَارِمِ اللَّهِ فَيَنْتَقِمَ لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ

“Rasulullah SAW tak pernah sama sekali memukul sesuatu dengan tangannya, juga tidak pernah memukul wanita (istri), dan juga pembantu(nya). Kecuali saat berjihad di jalan Allah. Dan tidaklah beliau disakiti dengan sesuatu, lalu beliau membalas pelakunya, kecuali jika ada sesuatu di antara hal-hal yang diharamkan Allah dilanggar, maka beliau akan membalas dengan hukuman karena Allah”(HR Muslim no. 2328, Abu Dawud no. 4786, dan Ibnu Majah no. 1984).

Apa yang lebih buruk dari penjajahan, pengusiran, penistaan terhadap masjid suci al-Aqsha?

Sebelum mereka mengeluarkan kartu biru atau menahannya, mengusir pemegang kartu hijau dari al-Quds. Angkatlah dan berilah mereka kartu merah. WalLâhu al-Musta’ân.


Catatan Keberkahan 81

Jakarta, 16.12.2017

SAIFUL BAHRI

Batas Merah dan Fathu Makkah


Setiap peraturan ada batas-batasnya. Lampu lalu lintas di setiap perempatan, jika berwarna merah maka tak boleh ada kendaraan yang melaju. Setiap wilayah terdapat pagar-pagar yang tak bisa dilanggar dan dilalui. Demikian, senada dengan hadis Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh an-Nu’man bin Basyir ra, “… sesungguhnya setiap raja memiliki pagar-pagar, dan pagar-pagar Allah adalah hal-hal yang diharamkan-Nya…” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dalam potongan hadis tersebut terdapat kejelasan hal yang halal dan kejelasan yang haram, kemudian terdapat wilayah abu-abu yang menjadi syubhat. Orang-orang yang menjaga dirinya dari wilayah syubuhât, maka ia menjaga agama dan kehormatannya. Jika ia sanggup maka ia akan semakin menjauh dari wilayah merah, wilayah larangan.

Demikian halnya, saat Presiden Amerika, Trump tanggal 6 Desember 2017 di tengah hari, ia mendeklarasikan secara eksplisit pemindahan kedutaan AS untuk Israel ke Kota al-Quds ia telah menembus batas merah tersebut.

Coba lihat respon dunia. Meledak. Apalagi umat Islam, menjadi pihak yang paling tersakiti. Secara khusus lagi adalah Bangsa Palestina yang selama ini terampas kedaulatannya oleh Zionis Israel. Sebenarnya hal tersebut tidak mengherankan jika dilihat dari sejarah sikap Amerika secara politis terhadap Israel yang terus menjadi support dan pelindung bagi mereka. Berapa resolusi PBB yang terdowngrade? Berapa kesepakatan internasional yang diveto Amerika untuk melindungi kejahatan kemanusiaan Israel? Siapa lagi yang bisa menghentikan pembangunan pemukiman ilegal Israel di wilayah-wilayah Palestina? Sebagian terkaget-kaget, meski sebelumnya bisa diprediksi. Sebagian tersadar dan tak mampu berbuat apa-apa, selain mengecam. Setidaknya ini lebih baik dari pada tidak bersikap sama sekali. Padahal, penistaan dan penjajahan ini perlu respon keras terutama dalam percaturan negara-negara secara internasional.

Penjajahan, pencaplokan, perampasan, tindakan-tindakan tak manusiawi Zionis Israel terhadap Palestina selama ini sebenarnya juga tak bisa ditolelir. Namun, dunia internasional seolah tak berdaya dan tak mampu merespon keras terhadap ketidakadilan dan kezhaliman serta penjajahan Israel tersebut. Setidaknya, umat Islam masih bisa menahan diri dan lebih banyak mengalah serta masih menempuh jalan-jalan damai dalam menyikapi kejahatan-kejahatan tersebut. Respon-respon perlawanan fisik pun terjadi sesekali saja, ada letupan-letupan kecil atau setidaknya tak besar.

Namun, saat deklarasi pemindahan kedutaan AS ini ke Al-Quds, maka Amerika dan Israel sudah masuk batas-batas merah yang menjadi zona larangan keras. Pihak-pihak yang selama ini menyuarakan perdamaian, justru mereka lah yang menghancurkannya. Menariknya, pihak yang menjadi pendukung utama Trump adalah aktivis-aktivis Kristen Avangelis. Yahudi Ortodoks sendiri sebenarnya menentang kebijakan Trump. Hal ini menegaskan bahwa Zionisme tak lagi membasiskan kekuatan pada pemeluk agama Yahudi saja, tapi mereka akan mengerahkan semua ideologi untuk mencapai keinginan kembali ke bukit zion, ke tanah suci al-Quds di Palestina.

Secara historis, sirah Nabi Muhammad SAW menuturkan keajaiban. Pada saat Kuffar Quraisy membuat perjanjian yang merugikan umat Islam, yang dikenal dengan Perjanjian Hudaibiyah. Sekutu pihak Quraisy lah yang memulai melanggar perjanjian, mengkhianati kesepakatan. Inilah yang kemudian justru menjadi pembuka kemenangan umat Islam dengan peristiwa Fathu Makkah.

Dengan semangat tersebut, saat ini umat Islam perlu bangkit menyusun strategi kemenangan. Dukungan internasional yang bukan hanya berbasis ideologi ini sudah semestinya dikapitalisasi dan dioptimalkan. Jika ada persekutuan yang berbasis pengkhianatan, maka seharusnya persekutuan yang meneguhkan kemanusiaan, memuliakan martabat kedaulatan suatu bangsa harus diperkuat.

Jika lampu merah sudah menyala itu pertanda lampu hijau segera menggantikannya, saat semua kendaraan memacu gasnya.

Jika batas-batas merah sudah diterjang, bersiaplah akan ada konsekuensi berat dan resiko yang harus ditanggung pelanggarnya.

Islam tak pernah mengajarkan membenci agama dan pemeluknya, termasuk Yahudi atau Kristen sekalipun atau keyakinan manapun. Yang saat ini harus dijadikan musuh bersama adalah sebuah ideologi yang merusak keharmonisan bernama Zionisme. Lawan, sebagaimana rakyat Palestina pernah meletuskan kemarahannya melalui batu-batu di bulan ini tiga puluh tahun yang lalu. Intifadhah, saatnya meletus kembali dan menjemput kemenangannya. WalLâhu al-Musta’ân.

 

Catatan Keberkahan 80

Jakarta, 07.12.2017

SAIFUL BAHRI

Angka-Angka dan Batas Kemampuan

Manusia hidup dibatasi ruang dan waktu. Namun, batas-batas waktu dan ruang, hakikatnya Allah yang memilikinya. Dia bisa ciptakan jarak yang jauh untuk seseorang dan sebaliknya Dia mampu mendekatkan jarak untuk yang lainnya. Dia bisa mempersingkat waktu untuk seseorang dan bisa pula memanjangkan sesuai kehendaknya.

Lihatlah, waktu yang sangat singkat menurut ashâbul kahfi yang berada di dalam gua, ternyata setara dengan 300 atau 309 tahun lamanya. Demikian pula jarak yang sangat jauh menjadi sangat dekat bila Sulaiman yang menempuh perjalanannya, karena ia dikaruniai kendaraan berupa angin yang super cepat. Demikian halnya Nabi Muhammad SAW saat bermi’raj menghadap Allah, melalui langit-langit dan kemudian sidratul muntaha, lalu penuh misteri di mana pertemuannya dengan Allah terjadi. Waktu dan tempat tak berlaku di hadapan Allah, karena Dialah penciptanya. Nabi Muhammad pun menempuh jarak unlimited dengan waktu yang sangat singkat.

Waktu juga menjadi ukuran manusia modern sesuai dengan kepentingannya. Bagi kaum matrealis waktu adalah aset materi. Bagi pemuja modal atau kaum kapitalis, waktu harus diuangkan. Waktu adalah kesempatan untuk apa saja.

Tak heran jika Al-Quran memuat jenis-jenis waktu di dalamnya. Malam, adalah waktu yang paling banyak disebut secara frekuensi. Sedangkan pagi adalah jenis waktu yang paling banyak variannya. Keistimewaan waktu malam sangat banyak. Di antaranya, Allah memilih malam sebagai waktu turunnya al-Quran. Secara eksplisit keterangan tentang turunnya al-Quran di malam hari bisa diketahui dari awal Surah ad-Dukhan dan Surah al-Qadar. Maka, Allah pun memerintah nabi-Nya juga umat beliau untuk membaca al-Quran, terkhusus di malam hari, bahkan perintah ini terulang dua kali dengan redaksi yang sama di dalam satu ayat, yaitu di akhir Surah al-Muzammil (ayat ke 20).

Menariknya, Allah juga bersumpah atas nama kumpulan waktu melalui awal Surah al-Ashr. “Wal ‘ashr” (Demi Masa), menunjukkan bahwa hampir rata-rata manusia terjebak dalam kerugian. Karena al-Ashr yang dimaksud adalah perasan waktu, produktivitas waktu yang tidak sekedar menilik pada angka-angka. Baik angka waktu yang dilalui atau bahkan angka hasilnya. Ini membuktikan bahwa belum tentu seseorang yang berusia lima puluh tahun akan lebih baik dari orang yang baru berusia dua puluh tahun. Demikian juga patokan angka materi. Seseorang yang mendapatkan take home pay bulanan sebesar milyaran, belum tentu lebih baik dari orang yang hanya mendapatkannya sejumlah beberapa juta saja.

Di antara contoh yang memperjelas relatifitas angka-angka tadi adalah usia muda para sahabat semisal Aisyah binti Abi Bakar, Mu’adz bin Jabal, Abdullah bin Abbas dan sahabat lainnya sering menjadi rujukan bagi para sahabat senior (kibâr ash-shahâbah). Imam an-Nawawy ad-Dimasyqi yang berusia empat puluh lima tahun, namun memiliki karya-karya monumental dan jumlahnya sangat banyak.

Nabi Nuh ‘alaihissalâm, diutus Allah kepada kaumnya, “…maka ia tinggal di antara mereka seribu tahun kurang lima puluh tahun. Maka mereka ditimpa banjir besar, dan mereka adalah orang-orang yang zalim.” (QS. Al-Ankabût: 14)

Jika menggunakan standar ukuran modern maka Nabi Nuh bisa dikategorikan sebagai nabi yang gagal. Karena kesempatan yang diberikan sangat banyak, namun hasilnya tidak sesuai harapan. Faktanya justru sebaliknya, Nabi Nuh merupakan satu dari lima nabi istimewa yang digelari dengan ulul azmi. Beliau menjadi sangat ikonik dengan kesabaran. Berbicara kesabaran dan keteguhan takkan bisa dilewatkan tanpa bersentuhan dengan kisahnya.

Maka, simpulan sederhana tulisan ini adalah bahwa angka-angka itu hanya membantu manusia mengukur suatu capaian dan memudahkan evaluasi. Namun, nilai dan kualitasnya hanya Allah lah yang menentukan. Hanya itulah batas kemampuan manusia. Ia dibatasi ruang dan waktu. Maka, jika ia mampu melompatinya dengan kualitas, ia akan lolos dari jerat kerugian sebagaimana Allah tegaskan dalam surah al-Ashr. Itulah yang disebut kualitas kehidupan (keberkahan). Allah memberkahi waktu seseorang juga tempat ia berada. Mendekatlah dengan orbit keberkahan tersebut.

Di antara orbit keberkahan yang Allah ciptakan di bumi ini adalah al-Masjid al-Aqsha. Dalam bahasa al-Quran, Allah memberkahi sekelilingnya (lihat Surah al-Isra’: 1). Namun, makna “haul” di sini belum tentu menunjukkan batasan ruang dan waktu. Itulah makna yang menggerakkan Seorang Maimunah meraih keberkahan Baitul Maqdis (baca Catatan Keberkahan 75: Pelita-Pelita Baitul Maqdis)

Dengan waktu yang terbatas juga ruang yang pasti juga terbatas, berbuatlah “apa saja” yang dianggap baik oleh Allah, karena Dial ah penentu kualitas perbuatan yang menjadi pembobot kualitas kebaikan. Adapun setiap gerak-gerik perbuatan kita, pasti akan mendatangkan resiko atau komentar dari orang lain. Dengan atau tanpa komentar, Allah lah yang menilai. Maka, berbuatlah! Apa saja. Biar Allah yang melihat dan menilainya. WalLâhu al-Musta’ân.

Catatan Keberkahan 79

Jakarta, 04.12.2017

SAIFUL BAHRI