Takdir Persaudaraan dan Indahnya Hijrah

A Note of the Spiritual Journey in Muktamar IMSA-MISG 2019

Manusia punya rencana, namun Allah memiliki keputusan yang berlaku. Jumat malam, 20 Desember waktu Indonesia panitia Muktamar IMSA (Indonesian Muslim Society in America) menghubungi saya. Meminta kehadiran saya pada Muktamar 2019 yang diadakan di Chicago pada Selasa-Sabtu, 24-28 Desember 2019. Karena salah satu pembicara utama pada muktamar kali ini berhalangan datang, disebabkan kendala visa. Sekilas nampak hal yang mudah untuk mengambil keputusan, karena secara teknis ini adalah tanggal-tanggal liburan sekolah. Namun, menjadi berat karena bersamaan dengan PHL (perkiraan hari lahir) kehamilan keempat istri saya.

Mengiyakan berarti meninggalkan istri dalam kondisi yang sangat perlu support saya. Jika sebaliknya, berarti menghilangkan kesempatan menolong orang lain yang dalam kesulitan di saat diri ini memungkinkan melakukannya. Meskipun tentu panitia memiliki plan C, namun waktu yang sangat mepet tidaklah mudah prakteknya.

Setelah bermusyawarah dengan orang tua dan keluarga, bismillah, saya putuskan menerima undangan ini. Sabtu siang di sela-sela mengajar, keputusan saya tersebut saya sampaikan kepada panitia melalui sebuah pesan singkat. Saya hanya berharap Allah memudahkan proses persalinan istri. Saya ingin mendampingi istri di saat-saat keberadaan saya menjadi support baginya yang sedang mempertaruhkan nyawa.

Pekan yang berat, aktivitas yang sulit ditinggalkan. Bahkan keberadaan ibu bapak di Jakarta pun kurang bisa saya manfaatkan untuk birrul walidain secara maksimal. Mereka justru lebih banyak waktu bersama istri dan anak-anak.

Sabtu pulang petang, Ahad pagi hingga siang masih juga banyak kegiatan. Alhamdulillah, keluarga besar sedang berkumpul. Saya berusaha mengejar pertemuan keluarga di waktu makan siang. Keluarga besan dari Sukabumi juga sedang bergabung. Meski terlambat, alhamdulillah bisa membersamai momen langka tersebut. Keluarga besar langka dengan anak mantu dan cucu-cucu berkumpul.

Siang itu adalah kesempatan terakhir bersama Ibu Bapak karena besok Senin 23 Des akan kembali ke Kudus. Maka saya gunakan untuk mengajak beliau bersama istri dan anak berkeliling Jakarta. Meski pun cuaca sangat mendung.

Senin, 23 Desember adalah hari terakhir untuk pergi ke imigrasi menuntaskan kekurangan administratif karena nama di paspor baru tidak mencantumkan nama ayah, sedangkan di visa US di paspor lama mencantumkan nama ayah. Namun, menurut informasi yang valid, menambah nama tidak bisa dilakukan satu hari. Di samping kondisi liburan panjang akhir tahun, cuti bersama jelang natal dan berbagai kondisi lainnya. Maka, tawakkal dan pasrah adalah yang terbaik.

Sejak sampai rumah menjelang maghrib istri sakit perut dengan intensitas yang cukup sering. Pukul 21.00 saya putuskan untuk membawanya ke klinik bersalin yang terdekat dari rumah. Malam itu saya berharap persalinan istri mudah. Namun, hingga pagi Seninnya kemajuan tidak signifikan. Maka, dengan masukan dokter diambillah tindakan medis untuk membantu memudahkan proses persalinan. Alhamdulillah pembukaan demi pembukaan berjalan baik. Meski konsekuensinya, rasa sakit yang dahsyat dirasakan istri saya. Saya hanya bisa berdoa sambil meminta doa orang-orang baik di dekat saya.

Alhamdulillah, kelahiran putri keempat saya lancar, dengan inayah dan riayah Allah. Ibu dan anak sehat dan baik-baik saja. Alhamdulillah, Allah mengabulkan permintaan saya yang ingin memperdengarkan kalimat adzan dan iqomah di telinga anak saya.

Alhamdulillah istri dan anak bisa saya bawa pulang ke rumah, sekalipun dianjurkan untuk menambah mengingap semalam lagi.

Beberapa jam lagi saya harus ke bandara. Karena hari akan segera berubah menjadi Selasa, 24 Desember. Saya sudah memutuskan untuk berangkat sesuai komitmen awal. Alhamdulillah, istri saya kuat. Istri yang hebat dan anak-anak yang memaklumi kondisi ayahnya.

Bismillah… Allah menerbangkan saya ke Amerika melalui Tokyo. Sejak saya naik pesawat, saya tak lagi bisa menahan mata yang sudah sangat beratnya. Setelah berdoa safar saya tak kuasa menahan lelah dan kantuk yang luar biasa. Perjalanan panjang Jakarta-Tokyo nyaris saya gunakan semua untuk tidur. Demikian halnya Tokyo-Chicago, juga relatif panjang saya gunakan sebagian besarnya untuk tidur.

Alhamdulillah, sampai di Chicago masih di hari yang sama. 24 Desember 2019. Tadinya agak heran melihat waktu penerbangan. Bagaimana mungkin take off jam 17.00 dan sampai jam 14.00 di hari yang sama? Karena perbedaan waktu. Subhanallah… saya merasakan teori relativitas waktu secara langsung. Betapa waktu yang membatasi manusia pun sangat relatif. Perjalanan panjang terasa singkat, waktu seolah berhenti. Satu karena sebagian besar saya gunakan tidur. Kedua, US terlambat waktunya sekitar 13-14 jam dari Jepang. Alhamdulillah, imigrasi lancar, perjalanan ke tempat acara juga lancar.

Hilton Oak Brook Chicago menjadi tempat perhelatan akbar Muktamar IMSA-MISG 2019.

Panitia menyambut dengan hangat dan sangat ramah. Demikian halnya para peserta muktamar yang juga berdatangan dari berbagai penjuru state di Amerika Serikat. Saya segera naik ke kamar hotel yang sudah tersedia untuk bersiap-siap pada Welcoming Session.

Panggung utama muktamar kali ini dibukan dengan Welcoming Session dengan dua nara sumber; saya dan Ibu Rosmawati Zainal, seorang pegiat konseling remaja di Malaysia.

Alhamdulillah, Allah memudahkan segalanya. Persalinan, perjalanan, presentasi materi dan membersamai panitia dan peserta muktamar yang luar biasa.

Ada nuansa haru menyeruak dalam dada saya. Menyaksikan dan membersamai secara langsung acara yang sangat luar biasa. 1200 peserta berkumpul dalam satu tempat. Hampir semua ruangan dipakai rangkaian kegiatan muktamar kali ini. Bahkan, panitia menyediakan publikasi yang sangat bagus melalui website dan sosial media. Sehingga bisa diikuti oleh para alumni muktamar sebelumnya dan oleh siapa saja di berbagai belahan dunia.

Opening Ceremony dilakukan pada pagi hari 25 Desember 2019. Ternyata bukan hanya saya yang merasakan dahsyatnya acara ini. Dalam sambutannya berbagai tokoh yang diundang ke panggung menyampaikan apresiasinya. Sejak dari Presiden IMSA, Pak Syafrin dan Presiden MISG, hingga Wakil Duta Besar RI di Washington, juga Dr. Mazlee Malik Menteri Pendidikan Malaysia yang berkesempatan datang pada acara ini.

Acara muktamar IMSA ini merupakan kombinasi acara family gathering dan acara konferensi atau seminar internasional. Mewadahi semua usia dan menjadi sarana pertemuan dan persaudaraan umat Islam, khususnya masyarakat muslim Indonesia di Amerika dan Canada, para student dari Malaysia berkumpul dan berkenalan, di samping menjadi arena pertemuan ulang beberapa keluarga yang lama tak bersua.

Anak-anak kecil ada kelas khusus pada acara muktamar ini. Madrasah namanya. Terbagi dalam dua kelas besar. Kelas 4-8 tahun dan kelas 8-12 tahun. Remaja (youth) pun memiliki kegiatan yang tersusun rapi untuk mereka. Selain materi inti yang dipresentasikan di ruang utama ballroom hotel, para peserta memiliki kesempatan mengikuti sesi lainnya yang berlangsung pararel dengan narasumber yang sangat beragam dalam dua bahasa. Bahasa Indonesia/Malaysia, dan Bahasa Inggris tentunya. Termasuk sesi istimewa di hari terakhir, Yaumun Nisa. Ruang utama “dikuasai” ibu-ibu, karena hari itu adalah hari mereka. Hanya saya lelaki satu-satunya di ruang besar itu selain camera man yang meliput acara.

Setiap harinya, diadakan shalat malam yang dilanjutkan dengan Shalat Shubuh berjamaah serta mengikuti tausiyah singkat dan dzikir pagi. Disediakan pula fasilitas untuk olahraga di pagi hari untuk laki-laki dan perempuan secara terpisah. Kegiatan tahsin tilawah al-Quran juga dipandu dengan baik.

Tema utama yang diambil sebagai tajuk besar muktamar ini adalah Hijrah: Transforming Oneself in Challenging Time. Tema yang sangat relevan menghadapi kondisi terkini yang dirasakan hampir oleh semua umat Islam di berbagai belahan dunia.

Sebagai salah satu narasumber, saya diamanahkan menyampaikan berbagai sesi dengan tema turunannya. Alhamdulillah, amanah ini, satu persatu bisa ditunaikan dengan segala keterbatasan. Pastinya, panitia akan memakluminya karena posisi saya hanya menggantikan narasumber yang sudah siap sebelumnya.

Saya tak berharap muluk-muluk kecuali berkontribusi dalam memotivasi diri dan peserta muktamar untuk sama-sama berhijrah, meningkatkan kualitas diri dan kelompok dalam berislam dan memberikan kemanfaatan bagi seluas-luas lingkungan. Sebagai bentuk refleksi keimanan kepada Allah dan hari akhir.

Saya memiliki kesan yang sangat luar biasa. Tak berlebihan, jika saya katakan pengalaman yang lengkap. Tempat acara yang termasuk “wah”, konsumsi yang bagus, narasumber yang komplit karena menghadirkan para akademisi, aktivis kemanusiaan, pegiat muallaf center, praktisi kesehatan, para dai imam, dan ustadz serta ustadzah, sampai para pejabat pemerintah RI dan Malaysia.

Di muktamar ini saya berjumpa dengan para senior saya. Ustadz Muhammad Joban, alumni al-Azhar Mesir, Imam besar yang tinggal di Seatle. Ustadz Fahmi Zuber, juga alumni al-Azhar yang menjadi Imam di lembaga IMAAM di Washington DC, ustadz Muhammad Ihsan, alumni al-Azhar yang menjadi Imam di Masjid al-Hikmah di Ney York. Di samping para tokoh terkemuka lainnya. Seperti ustadz Syamsi Ali, dai kondang yang sangat dikenal di Amerika yang kini memimpin pesantren di Amerika.

Di muktamar ini saya menemukan sikap low profile seorang pejabat tinggi sekelas menteri, DR. Mazlee Malik, Menteri Pendidikan Malaysia yang turut bermalam di hotel bersama keluarganya.

Kegiatan yang sangat padat namun sarat dengan makna kekuatan spiritual dan intelektual serta menggambarkan eratnya persaudaraan.

Bagaimana tidak, acara ini sudah dimulai sejak sejam lebih sebelum adzan subuh dikumandangkan. Shalat malam yang dipimpin para hafizh muda dari berbagai state, membuat para orang tua optimis menyambut masa depan para pemuda dan Islam di Amerika. Ruangan yang diperkirakan hanya berkapasitas 400-500an orang itu tak mampu menampung peserta yang berlomba menjemput kenikmatan shalat malam bersama. Terhanyut bersama kalam Allah, menyelami indahnya kata-kata dahsyat, menikmati irama bacaan yang bervariasi. Dari suara anak-anak muda yang menumbuhkan semangat dan optimisme. Syahdu. Haru. Kenikmatannya hanya bisa dirasakan oleh orang yang ada di tempat itu.

Satu hal lagi yang membuat saya salut adalah, IMSA mampu memberdayakan potensi-potensi dari peserta pengajian di berbagai lokaliti-lokaliti yang ada di berbagai state Amerika. Terutama tuan rumah, Chicago. Satu untuk sesepuhnya Pak Iskandar, salut untuk pejabat konsulat jendralnya, terutama Pak Fajar yang sangat dekat membersamai. Selain panitia lokal di Chicago, perlu dicatat bahwa dapur hotel Hilton “dikuasai” 100%. Di sini uniknya, peserta muktamar diberikan pilihan untuk menjadi volunteer pada kegiatan ini. Mereka dipersilakan memilih di bidang apa mereka akan membantu. Bisa dibayangkan kesibukan dapur. Makan tiga kali sehari, dengan jumlah tak kurang dari 1200 orang yang harus dilayani plus para pembicara dan tamu undangan.

Tak heran jika kemudian para peserta juga sangat kooperatif ketika diajak bekerjasama menjaga ketertiban dan terutama kebersihan tempat acara. Masing-masing bertanggungjawab atas “bekas” makanan dan minumannya. Subhanallah… mahasuci Allah yang menggerakkan hati-hati orang-orang baik sebanyak itu. Semua antusias luar biasa.

Saya menahan diri dari perasaan yang campur aduk dalam diri. Haru. Salut. Dan termotivasi.

Perjalanan panjang Chicago ke Tokyo saya kali ini seperti sebelumnya juga terasa pendek. Hanya saja, sebelumnya saya gunakan untuk tidur. Kali ini saya gunakan memutas memori, menuliskannya dengan sepenuh hati, menjiwai rasa dan sanubari. Tak terasa beberapa kali saya menyeka air mata yang sesekali menyembul dan melewati pipi.

Terima kasih saya ucapkan kepada para panitia dan IMSA yang memberi kesempatan kepada saya untuk berkontribusi seklaigus menikmati dahsyatnya berhijrah.

Bu Dewi Yulia yang menjadi penghubung tersambungnya saya dengan acara muktamar ini. Pak Syafrin, Presiden IMSA yang low profile dan mengayomi. Mas Aria, ketua panitia yang berjibaku demi terlaksananya muktamar kali ini. Pak Herman yang selalu mendampingi saya sejak menjemput di bandara di Ohare International Airport. Ustadz Muhamad Joban yang selalu menginspirasi, Ustadz Fahmi dan Ust Ihsan, Ustadz Adi dari Los Angels, Mas Rofiq sekeluarga dari Arizona, Pak Arif, Pak Budiman, Pak Ridho, Pak Yusuf, Pak Krisna, Pak Iwan MC yang selalu menghidupkan suasana, Pak Joko dan Pak Fajar. Pak Kurniawan Alfiza, meskipun mertua beliau sedang dirawat beliau masih aktif membersamai, Segenap kru Radio IMSA, Kang Soni, Pak Ibrahim, Pak Marwan dari Canada dan Mas Ilham. Dan terutama para pegiat IMSA Sister yang luar biasa, dari Bu Nani, Bu Dewi dan Bu Vanda serta yang lainnya yang saya lupa mengingat nama-nama mereka. Ingin rasanya saya mengunjungi mereka-mereka semua di berbagai state di Amerika, namun karena keterbatasan kali ini saya berharap bisa kembali bersua.

Ada banyak nama dan wajah yang tak bisa saya sebutkan namun cukup memberi pelajaran berharga makna persaudaraan dan kegigihan yang luar biasa. Terima kasih. Kunjungan pertama ke Amerika yang sangat berkesan. Detil-detil tentang Muktamar IMSA-MISG bisa diikuti melalui website: https://muktamar.us/, atau social media Facebook, atau di Instragram.

Kini saya berjarak beberapa jam dengan Jakarta. Saatnya saya membawa motivasi dan inspirasi kebaikan ini kepada anak dan istri saya.

Saatnya membersamai Nusaibah, Fatma, Umar dan Humaira serta ibunya.

Chicago-Tokyo, 28 Desember 2019

 

Note:

  • Jakarta-Chicago: irit satu hari. Berangkat dan tiba masih di hari yang sama
  • Chicago-Jakarta: kehilangan satu hari. Berangkat 28 Desember, tiba di rumah sudah 30 Desember 2019
  • Menanti boarding dari Bandara Narita, Tokyo

Galeri Muktamar IMSA:

Biidznillah gambar lainnya menyusul…