Raising The Standard of Giving

Naskah Khutbah Idul Fitri 1440 H

Dr. Saiful Bahri, M.A.

Al-Hijrah CIDE (Center for Islamic Dakwah and Education)

Croatian Club Punchbowl, Sydney, NSW

 

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

الله أكبر (9) . الله أكبر كبيراً والحمد لله كثيراً. وسبحان الله بكرةً وأصيلاً. لا إله إلاّ الله والله أكبر، الله أكبر ولله الحمد. الحمد لله الذي فرض علينا الصيام وبعث لنا خير الأنام. أشهد أن لا إله إلاّ الله وحده، صَدَقَ وعْدَه ونصَر عبْدَه وأعزّ جُنْدَه وهزَم اْلأحْزَابَ وحدَه، وأشهد أنّ محمداً عبده ورسوله لا نبي بعده، فصلوات الله وسلامُه على هذا النبي الكريم وعلى آله وذريته وأصحابه أجمعين. أمّا بعد، فيا عباد الله أوصي نفسي وإياكم بتقوى الله، إنه من يتق ويصبر فإن الله لا يضيع أجر المحسنين. يقول المولى عز وجل: (حَتَّىٰ إِذَا أَتَوْا عَلَىٰ وَادِ النَّمْلِ قَالَتْ نَمْلَةٌ يَا أَيُّهَا النَّمْلُ ادْخُلُوا مَسَاكِنَكُمْ لَا يَحْطِمَنَّكُمْ سُلَيْمَانُ وَجُنُودُهُ وَهُمْ لَا يَشْعُرُونَ) (النمل :18). طِبْتُمْ وطابَ ممْشَاكُمْ وتَبَوّأتمْ مِن الجنّة منزلاً .

Allahu Akbar x 3, walillahil hamd

Ma’asyiral muslimin wal muslimat rahimakumullah.

Segala puji dan syukur kita kumandangkan. Menandai kemenangan yang dikaruniakan Allah Swt. Sebuah kemenangan yang diraih melalui sebuah proses pendidikan dan pembiasaan dari Allah yang Maha Agung.

Allah anugerahkan berbagai kebaikan di bulan mulia ini. Kemuliaan sebagaimana Ia muliakan Jibril pembawa wahyu-Nya, menjelma malaikat terbaik-Nya. Ia muliakan Muhammad SAW, penerima kalam suci-Nya, menjadi manusia termulia. Ia muliakan malam yang menjadi sarana turunnya al-Quran. Malam kemuliaan (lailatul qadar) dan malam keberkahan (lailatun mubarakah) Ia menamakannya. Malam yang kadar kualitasnya melebihi seribu bulan.

Allah yang Maha Lembut itu mewajibkan mewajibkan puasa kepada kita. Dia menggunakan panggilan khusus yang bahkan sebelumnya tak pernah dikenal oleh Bangsa Arab. (يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا) “wahai orang-orang yang beriman”. Secara eksplisit panggilan seperti ini hanya dipakai pada surat atau ayat-ayat yang turun di Madinah; yaitu diulang sebanyak delapan puluh sembilan (89) kali. Mengindikasikan banyak hal; di antaranya:

Panggilan tersebut adalah panggilan sayang dan cinta karena menonjolkan pemenuhan perintah untuk mengimani Allah, Rasul dan seterusnya. Sekaligus berfungsi sebagai pujian.

Panggilan tersebut selalu digunakan dalam bentuk plural (jama’). Menandakan bahwa dalam kondisi bersama dan berkelompok lebih mudah dan memungkinkan untuk mengekspresikan keimanan dan perilaku keagamaan. Sekaligus perintah untuk merekayasa kebaikan secara sosial. Seperti pendidikan Ramadan, tatkala banyak orang berpuasa (wajib), kemudian membiasakan baca al-Quran, qiyâmullail (tarawih dan tahajud), berdoa, bersedekah, silaturahmi dan sebagainya. Maka secara tak sadar kita lebih mudah melakukan hal-hal tersebut. Saat itu orang yang terbaik di antara kita adalah benar-benar orang berkualitas sebagai cerminan doa ibâdurrahmân (وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا) “jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang bertakwa”. Itu adalah permohonan menjadi yang terbaik di antara orang-orang baik. Juara di antara para juara.

Bulan Ramadan adalah nafas baru. Nafas kehidupan yang tawarkan optimisme untuk mengalahkan diri sendiri sebelum mengalahkan bisikan setan dari kalangan jin dan manusia. Nafas kemenangan itu terdengar menggema saat Allah bersumpah, (والصّبح إذا تنفّس) “dan demi subuh apabila fajarnya mulai menyingsing” (QS. At-Takwîr [81]:18).

Setiap pagi menyingsing datang maka pada hakikatnya Allah berikan kesempatan kita dengan nafas baru optimisme untuk raih kemenangan. Dan Ramadan Allah datangkan dengan ribuan kebaikan yang dijanjikan-Nya sebagaimana Dia lebihkan lailatul qadar dari malam-malam lain, bahkan lebih baik dari seribu bulan.

(يا باغي الخير أقبل ●  ويا باغي الشر أقصر)

Wahai pemburu kebaikan terimalah (peluang kebaikan) ●  wahai pelaku keburukan berhentilah (bermaksiat)

 

Allahu Akbar x 3, walillahil hamd

Ma’asyiral muslimin wal muslimat rahimakumullah

Allah yang Maha Pengasih dan Penyayang telah menganugerahkan nikmat yang tak terhitung dan tak berbilang. Baik kenikmatan berbentuk materi maupun non materi. Allah memberi akal untuk berpikir dan sarana mencari ilmu. Allah berikan rizki berupa harta dan kesehatan. Allah memberikan keluarga dan teman serta komunitas pergaulan. Allah memberikan ketenangan hidup dan kebahagiaan. Sesekali memang Allah memberikan ujian kepada kita, namun secara umum nikmatnya lebih mendominasi hidup kita.

Nikmat-nikmat yang sangat banyak tersebut bahkan sebagian besar kita tidak memintanya, Allah memberinya setiap saat, apapun kondisi kita. Semua manusia bahkan makhluk-Nya mendapatkannya. Baik ia taat atau pun bermaksiat, baik ia sadar atau pun lalai kepada-Nya, semua dianugerahkan kepada orang baik dan para durjana.

Yang akan dinilai dari Allah adalah respon hamba-Nya. Apakah ia bersyukur atau mengingkarinya? Apakah karunia tersebut dipergunakan sebagaimana mestinya dengan baik dan bermanfaat atau digunakan untuk memuaskan hawa nafsurnya?

Maka, pada saat Allah anugerahkan bulan Ramadan adalah nikmat yang sangat luar biasa. Allah turunkan al-Quran di dalamnya untuk membimbing manusia menjalani hidup yang bermartabat, bermanfaat dan mulia di dunia. Menjalankan fungsi kepemimpinan terhadap semua manusia dan makhluk Allah di bumi-Nya.

Di bulan yang berkah ini kita dimudahkan melakukan banyak kebaikan, dan terasa ringan. Puasa, shalat berjamaah, membaca al-Quran, shalat malam, bersedekah dan berbuat ihsan semua terasa ringan karena Allah menjadikannya demikian. Setan dan keburukan dibelenggu. Pintu neraka ditutup rapat. Surga dan pengampunannya di buka lebar-lebar. Allah ingin hamba-hamba-Nya tak berputus asa mengejar rahmat-Nya.

Saat kita diberikan kecukupan ilmu, rizki berbentuk materi, keluarga dan banyak hal lain, yang kita naikkan bukanlah standar hidup kita. Bukan pula gengsi dan prestise social di hadapan manusia. Namun, saat kita berkecukupan itulah waktu yang tepat untuk mensyukurinya dengan menaikkan standar memberi dan berbagi, raising standard of giving and sharing.

Saatnya kita evaluasi agar kita lebih menaikkan standar pemberian kita kepada dhuafa dan kaum miskin

Saatnya kita evaluasi memberi waktu terbaik kepada anak-anak serta keluarga kita, memberikan nafkah terbaik yang halal dan thayyib kepada mereka untuk menghadirkan keberkahan dalam kehidupan kita.

Saatnya kita memberi yang terbaik untuk merawat cinta agar terus tumbuh kembang kepada pasangan hidup kita, istri atau suami kita.

Saatnya kita berikan waktu terbaik untuk tekun belajar al-Quran, rajin membacanya, mencontohkannya kepada anak-anak dan orang yang kita cintai.

Saatnya kita berikan yang terbaik untuk Rasulullah SAW, dengan perbanyak shalawat dan mengamalkan sunnah-sunnahnya serta mengenalkan sirah beliau kepada sebanyak mungkin manusia

Saatnya kita berikan waktu terbaik untuk menghadap Allah dengan sepenuh jiwa, berdoa dan berzikir mendekatkan diri padanya, lebih dekat lagi agar kita meraih kemenangan dengan cinta dan maghfirah-Nya

Saatnya memberi yang terbaik, karena Allah janjikan kebaikan yang terbaik dari sebuah malam yang bernilai lebih baik dari seribu bulan.

Allahu Akbar x 3, walillahil hamd

Ma’asyiral muslimin wal muslimat rahimakumullah

Rasulullah SAW sangat dermawan, dan ketika di bulan Ramadan kedermawanan beliau melebihi angina yang bertiup sebagaimana dijelaskan dalam hadis al-Bukhari

عن عبد الله بن عباس رضي الله عنهما قال: “كان رسول الله صلى الله عليه وسلم أجود الناس، وكان أجود ما يكون في رمضان حين يلقاه جبريل، وكان يلقاه في كل ليلة من رمضان فيُدارسه القرآن، فالرسول الله صلى الله عليه وسلم أجودُ بالخير من الريح المرسَلة”

Mari belajar dari Sahabat Rasulullah SAW ketika mencontohkan keteladanan memberi pada saat kesulitan. Adalah Ali bin Abi Thalib tokoh protagonis tersebut. Ketika ia hendak sarapan tak lagi menjumpai makanan di rumahnya. Ia pun keluar rumah untuk menjemput rizki dan mencari makanan untuk istri dan anaknya. Fatimah melepasnya dengan ridho dan sepenuh jiwa mendoakan suaminya.

Siang hari beliau mendapatkan uang yang cukup membeli makanan untuk keluarganya. Di tengah perjalanan ia menjumpai al-Miqdad yang terlihat pucat dan keletihan. Ali memaksanya untuk berterus terang. Ternyata al-Miqdad sudah dua hari belum memberi makan keluarganya. Maka, Ali pun menarik tangan kanan al-Miqdad. Ia pun mengepalkan uang yang didapatkannya ke telapak tangan al-Miqdad.

“Pulanglah… berilah makan keluargamu!”

Al-Miqdad berkaca-kaca, sangat berterima kasih kepada Ali. Ia pergi setelah memeluknya dan mendoakan dengan sepenuh cinta.

Ali lega bisa menolong sahabatnya, meskipun ia kebingungan bagaimana akan memberi makan keluarganya. Ia pun ke Masjid Nabawi. Sore hari Rasulullah SAW, mertuanya menjumpainya, setelah bertanya kabar, kata-kata Rasulullah SAW benar-benar terdengar bagai petir menyambar.

“Ali, malam ini aku ingin makan di rumahmu!”

“Bagaimana aku akan menjamu, sedangkan tiada apa-apa di rumah?” Ali tertegun sejenak. Namun, segera ia mengiyakan dengan penuh keyakinan, “Labbaik ya Rasulullah!”

Malam harinya Ali pun menghantarkan Rasulullah SAW ke rumahnya untuk makan malam. Hati Ali berkecamuk. Namun, ia terheran ketika Fatimah berseri-seri menyambutnya. Terlebih saat Fatimah mengatakan, “Ayahku… suamiku… bersegeralah masuk. Aku telah menyiapkan makanan untuk kalian”

Sejenak Ali tercengang. Namun, keheranannya terjawab ketika Fatimah berujar, “Suamiku, sore tadi ada seseorang mengantarkan makanan untuk kita”. Dada Ali seketika bergemuruh. Ia penuhi rasa syukur tak terkira. Ia bertahmid memuji Allah.

Rasulullah SAW pun tersenyum seraya bersabda, “Ali, sore tadi Jibril menemuiku, ia diperintahkan untuk menyampaikan pesan kepadaku untuk makan malam di rumahmu”

Subhanallaah… sebuah kisah persaudaraan dan itsar yang luar biasa.

Rasulullah SAW pun sangat menyayangi pada dhuafa dan kaum lemah. Suatu ketika beliau sedang mengajarkan Islam kepada para budak dan orang-orang miskin. Kemudian beberapa bangsawan Quraisy hendak menemui beliau. Rasulullah SAW adalah orang yang sangat ramah, ia pun menyambut para tetamu pembesar tersebut dengan senyum lebar. Mendadak wajah beliau berubah, salah tingkah, karena para pembesar itu berkata dengan penuh keangkuhan, “Suruh pulang mereka Muhammad, kami tak bias duduk Bersama mereka”.

Rasulullah SAW terdiam. Beliau tak tahu harus menjawab apa. Namun, tak lama Allah turunkan ayat untuk mempertegas posisi beliau.

وَلَا تَطْرُدِ الَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُم بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ يُرِيدُونَ وَجْهَهُ ۖ مَا عَلَيْكَ مِنْ حِسَابِهِم مِّن شَيْءٍ وَمَا مِنْ حِسَابِكَ عَلَيْهِم مِّن شَيْءٍ فَتَطْرُدَهُمْ فَتَكُونَ مِنَ الظَّالِمِينَ

Dan janganlah kamu mengusir orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan petang hari, sedang mereka menghendaki keridhaan-Nya. Kamu tidak memikul tanggung jawab sedikitpun terhadap perbuatan mereka dan merekapun tidak memikul tanggung jawab sedikitpun terhadap perbuatanmu, yang menyebabkan kamu (berhak) mengusir mereka, (sehingga kamu termasuk orang-orang yang zalim). (Surah al-An’am: 52)

Rasulullah SAW adalah orang yang sangat peduli dengan orang-orang lemah, tertindas dan miskin.

Allahu Akbar x 3, walillahil hamd

Ma’asyiral muslimin wal muslimat rahimakumullah

Waktu yang Allah berikan kepada kita sangat terbatas, sebagaimana kebaikan yang Allah mudahkan kita di bulan Ramadan. Karena itu Allah berfirman, “أياماً معدودات” dan kini hari-hari indah itu telah berlalu. Namun, kita mendapat pelajaran berharga supaya pandai memanfaatkan peluang kebaikan sekecil apapun. Karena Rasul SAW pun berpesan agar kita tak meremehkan kebaikan sekecil apapun sekalipun hanya tersenyum.

Allah mengajarkan kepada kita sebuah kebaikan kecil yang kekal. Kebaikan seekor semut yang direkam al-Quran di dalam surah an-Naml. Bahkan dijadikan sebuah nama surah. Simaklah kisah tersebut.

حَتَّىٰ إِذَا أَتَوْا عَلَىٰ وَادِ النَّمْلِ قَالَتْ نَمْلَةٌ يَا أَيُّهَا النَّمْلُ ادْخُلُوا مَسَاكِنَكُمْ لَا يَحْطِمَنَّكُمْ سُلَيْمَانُ وَجُنُودُهُ وَهُمْ لَا يَشْعُرُونَ

Hingga apabila mereka sampai di lembah semut berkatalah seekor semut: Hai semut-semut, masuklah ke dalam sarang-sarangmu, agar kamu tidak diinjak oleh Sulaiman dan tentaranya, sedangkan mereka tidak menyadari” (Surah an-Naml: 18)

Suatu hari bisa jadi nama kita akan dilupakan orang. Karena itu investasikan apa yang Allah karuniakan ini untuk memberi dan berbagi. Bisa jadi amal yang kita lakukan sepele dan seolah tak berarti, namun bisa jadi pula Allah kekalkan sebagaimana kebaikan seekor semut di atas. Mengekalkan nama kita dalam doa-doa kebaikan di bibir-bibir orang shalih. Amal ibnu adam yang terputus, bisa disambung dengan ilmu yang bermanfaat, amal jariyah dan anak-anak shalih yang tak hanya kita batasi dari anak-anak kandung kita saja.

Spirit memberi ini kita dapatkan dari doa yang diajarkan Nabi Muhammad SAW kepada Aisyah untuk mencari kebaikan lailatul qadar, “Ya Allah Engkau adalah Maha Pemaaf, menyukai memaafkan, maka ampunilah aku”

اللهم إنك عفو تحب العفو فاعف عني

Al-Afwu berarti kelebihan, kemaafan dan kemampuan. Allah juga menuturkannya di dalam surah al-Baqarah 219

وَيَسْأَلُونَكَ مَاذَا يُنفِقُونَ قُلِ الْعَفْوَ

“Dan mereka bertanya kepadamu apa yang mereka nafkahkan. Katakanlah: “Yang lebih dari keperluan”.

Maka yang bias memberi adalah yang memiliki kelebihan. Tepatnya orang-orang yang menaklukan ketidakberdayaannya. Ia memberi harta ketika menaklukan kekikiran dan kemiskinan serta kecintaan berlebih terhadap dunia. Ia memberi maaf ketika memiliki kelebihan dan kelapangan hati dan jiwa. Ia beribadah dengan sepenuh cinta karena memiliki kelebihan kekuatan dan ketetapan hati beriman kepada Allah. Memberikan waktu yang lebih dari biasanya, dari kebanyakan manusia.

Gunakanlah waktu yang Allah berikan dengan sebaik-baiknya. Semoga semua amal kebaikan kita di bulan Ramadan ini. Aamiin

*****

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا. اللهم صل علي سيدنا محمد وعلى آله وصحبه وسلم .اللهمّ اغفر لجميع المسلمين والمسلمات الأحياء منهم والأموات إنك سميع قريب مجيب الدعوات. اللهم تقبل صلاتنا وقيامنا وصيامنا وركوعنا وسجودنا وتلاوتنا وصدقاتنا وأعمالنا، وتمّم تقصيرنا يا رب العالمين. اللهمّ إنك عفو تحبّ العفو فاعف عنا يا كريم. اللهمّ توفنا مسلمين وألحقنا بالصالحين .

Ya Allah, Dzat yang Maha Memuliakan dan Menghinakan, muliakanlah kedua orang tua kami dan guru-guru kami. Wahai Dzat yang memiliki segala kekuatan, berikan kekuatan kepada kami untuk menjaga kebaikan yang Engkau biasakan kepada kami di bulan Ramadan. Anugerahkan kami kelebihan iman dan daya untuk membendung daya rusak hawa nafsu kami.

Ya Rahman, jadikanlah kami jalan kemudahan bagi saudara kami yang kesulitan. Jadikanlah kami jalan petunjuk bagi orang-orang yang mungkin masih tersesat. Jadikanlah kami jalan kebahagiaan bagi saudara kami yang tertimpa sengsara dan derita atau musibah. Jadikanlah kami jalan ketenangan bagi saudara kami yang dilanda gundah gulana. Jadikanlah kami jalan kesejukan di tengah panasnya pertikaian dan perseteruan para manusia. Jadikanlah kami jalan solusi bagi berbagai masalah yang menimpa.

Dzat yang Maha Adil, jadikanlah kami jalan keadilan bagi saudara-saudara kami yang tertindas dan terzhalimi.

Dzat yang Memiliki Cinta, kekalkanlah cinta-Mu di rumah-rumah kami. Teduhkanlah rumah kami dengan mawaddah dan rahmah-Mu. Hadirkanlah sakinah-Mu kepada kami, anak istri, suami kami. Jadikanlah keturunan kami para pelayan al-Quran, para penghafal al-Quran, para pengajar al-Quran, para ahlul Quran yang Engkau muliakan.

Ya Rahman, ampuni tangan-tangan kami masih belum maksimal ulurkan keteduhan untuk anak-anak yatim di sekitar kami

Ya Rahman ampuni mata-mata kami yang belum maksimal kami gunakan untuk menekuri dan rajin membaca ayat-ayat-Mu. Maafkan jika kami masih memandang remeh dan rendah saudara-saudara kami.

Maafkan mulut dan lisan kami yang masih jarang terbimbing berdzikir mengagungkan nama-Mu dan menyucikan Dzat-Mu. Mulut kami kasih kotor dengan gunjingan aib-aib saudara kami. Jari-jari kami masih ringan menuliskan hal-hal yang kurang bermanfaat.

Ampunilah dosa dan khianat mata kami, dosa mulut dan lisan kami, dosa telinga, tangan, kaki serta anggota tubuh kami.

Ampunilah dan maafkan keterbatasan kami dalam berbakti dan berbuat ihsan kepada kedua orang tua kami, guru-guru kami. Ampunilah keterbatasan kami dalam mendidik anak-anak kami. Ampunilah kami yang masih sering menyakiti tetangga dan sahabat-sahabat kami.

Ya Qawiyyu ya Aziz, karuniakan kepada kami para pemimpin yang bertaqwa dan takut kepada-Mu. Bimbinglah agar para ulama kami terlindungi dari fitnah harta dan kekuasaan, kuatkan mereka dalam membimbing kami agar semakin Engkau cintai. Jadikanlah negeri kami, negeri yang aman, makmur dan Engkau ridhai. Tempatkanlah para pahlawan dan pejuang negeri kami bersama para syuhada dan nabi-nabi-Mu. Ya Allah jangan Engkau adzab kami karena perbuatan maksiat dan zhalim orang-orang yang tak menyayangi kami dan orang yang tak mengenal takut kepada-Mu. Berikanlah kami kesempatan untuk bertaubat dan memperbaiki diri.

Ya Allah tautkan selalu kebaikan di hati kami, lekatkan kecintaan pada iman dan jalan-jalan hidayah-Mu. Jauhkanlah dari kefasikan dan jalan-jalan kerusakan yang memudarkan cahaya iman di hati kami. Engkau Maha Tahu bahwa kami berkumpul untuk mencintai-Mua. Kami bersimpuh untuk bersujud pada-Mu. Kami menghiba untuk memohon kepada-Mu. Kami tengadahkan tangan menanti maghfirah-Mu. Kami mengeluhkan ketidakberdayaan kami. Bimbinglah. Teguhkanlah. Kuatkanlah agar kami tak mudah diadudomba oleh setan yang bersekongkol dengan musuh-musuh-Mu.

 

اللهمّ انصر إخواننا المستضعفين في فلسطين وفي سوريا وسائر بلاد المسلمين. رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا. ربنا آتنا في الدنيا حسنة وفي الآخرة حسنة وقنا عذاب النار. والحمد لله رب العالمين

تقبل الله منا ومنكم وكل عام وأنتم بخير وإلى الله أقرب وعلى طاعته أدوم

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Sydney, 01 Syawal 1440 H

               05 Juni 2019M

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s