Bijak Menyikapi Post Power Syndrome (Tadabbur Kisah Nabi Ayub AS)

Dr. Saiful Bahri, M.A

 

Allah mengaruniakan kelebihan sebagian hamba-Nya di atas hamba-hamba-Nya yang lain. Demikian pula Allah mengurangkan suatu hal dari hamba-Nya, sedangkan yang lain dilebihkan darinya.

Manusia dalam perjalanannya hidup di dunia mengalami proses yang berliku, dari proses penciptaannya yang tak sederhana. Proses panjang yang Allah sering meminta kita untuk mengkajinya. Penciptaan manusia adalah sebuah tanda dari sekian bukti kekuasaan Allah. Dari sejak tak punya nama manusia terlahir di dunia kemudian disebut dan dipanggil dengan nama khusus yang disediakan oleh orang tua pada umumnya. Dari sejak tak mampu melakukan apa-apa, ia belajar melihat, berbicara, berjalan, merasakan, mengungkapkan, memahami dan memahamkan. Dari sejak tak membawa apa-apa ketika lahir, kemudian ia diberi nikmat oleh Allah banyak hal.

Setelah terlahir di dunia sebagai bayi, kemudian menjadi anak-anak, remaja, dewasa, dan kembali lemah di saat tua.

Umumnya, manusia menyorot usia produktifnya. Saat ia sedang menikmati kegagahannya. Ketika ia meniti karir suksesnya. Ketika ia berbunga-bunga mencoba memetik bahagia. Dewasa dan matang, memiliki pasangan hidup dan anak-anak sebagai penyejuk mata dan jiwa. Ada kemudahan harta. Dihormati, dianggap dan didudukkan sebagai manusia terhormat dalam struktur sosial di lingkungannya. Ada jabatan struktural dan fungsional. Ada pula kekuasaan dan banyak kewenangan di tangannya. Memiliki jaringan yang luas, menikmati pertemanan yang luar biasa.

Keinginan yang diimpikannya menjadi nyata. Setelah kerja keras dan proses panjang. Allah lah -sesungguhnya- yang mengaruniakannya.

Berapa lama ia menikmatinya? Sepuluh, duapuluh, tiga puluh atau empat puluh tahun?

Nominal waktu inilah yang sering menjadi fokus manusia, padahal angka hanya menjadi salah satu ukuran, pada hakikatnya nilai lah yang lebih menentukan dari pada nominalnya, meskipun angka tak mungkin dihindari.

Sebagian orang mengira bahwa sukses itu harus di usia muda dan produktif. Sehingga, di saat seseorang sudah menua dan ia merasa belum apa-apa bisa membuatnya bersedih. Padahal persepsi tersebut tak selamanya benar.

Ada orang tergiur dengan kisah sukses seorang muda, tapi mereka tersadar betapa kemudian di usia yang belum terlalu tua ia terserang stroke dan kemudian meninggal dunia.

Seorang yang belum dikarunia putra atau putri di usia pernikahannya yang menginjak satu dasawarsa tak jarang bersedih hatinya, tapi ternyata Allah memiliki rencana hendak menyiapkannya di usia ke sebelas. Matang dalam mendidik anaknya.

Ada pula yang bahkan tak dikarunia anak kandung, tapi ia adalah ibu dan ayah bagi anak-anak yatim, pahlawan untuk mereka.

Saat usia-usia produktif mulai surut, berkurang dan bahkan kemudian hilang, orang bisa dibuat sedih karenanya.

Inilah yang dikenal dengan masa-masa kritis post power syndrome. Orang kaya yang jatuh miskin. Pejabat yang pensiun. Penguasa yang lengser atau dilengserkan. Tokoh yang dielu-elukan kemudian dilupakan. Orang yang terbiasa telinganya dimanja dengan puja-puja, kemudian sunyi tak mendengar apa-apa. Itulah masa-masa sulit yang perlu belajar bijak menyikapinya.

Karena masa-masa sulit seperti ini cenderung membuat seseorang lebih sensitif, mudah tersinggung serta terjebak dengan perspektif-perspektif negatif menurut sudut pandang dirinya yang sangat subyektif. Mudah marang, murung dan bersedih serta tertutup adalah tanda-tanda lainnya yang makin memberatkan.

Allah membentangkan kisah-kisah al-Quran untuk kita lihat dan kita baca. Divisualisasikan dan kemudian diambil sebagai ibrah dan pelajaran (lesson learned). Panduan al-Quran supaya kita bijak menyikapi post power syndrome ini melalui kisah Nabi Ayyub.

وَاذْكُرْ عَبْدَنَا أَيُّوبَ إِذْ نَادَى رَبَّهُ أَنِّي مَسَّنِيَ الشَّيْطَانُ بِنُصْبٍ وَعَذَابٍ -ارْكُضْ بِرِجْلِكَ هَذَا مُغْتَسَلٌ بَارِدٌ وَشَرَابٌ – وَوَهَبْنَا لَهُ أَهْلَهُ وَمِثْلَهُمْ مَعَهُمْ رَحْمَةً مِنَّا وَذِكْرَى لأولِي الألْبَابِ – وَخُذْ بِيَدِكَ ضِغْثًا فَاضْرِبْ بِهِ وَلا تَحْنَثْ إِنَّا وَجَدْنَاهُ صَابِرًا نِعْمَ الْعَبْدُ إِنَّهُ أَوَّابٌ

Dan ingatlah akan hamba Kami Ayub ketika ia menyeru Tuhannya; “Sesungguhnya aku diganggu setan dengan kepayahan dan siksaan”. (Allah berfirman): “Hantamkanlah kakimu; inilah air yang sejuk untuk mandi dan untuk minum. Dan Kami anugerahi dia (dengan mengumpulkan kembali) keluarganya dan (Kami tambahkan) kepada mereka sebanyak mereka pula sebagai rahmat dari Kami dan pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai pikiran. Dan ambillah dengan tanganmu seikat (rumput), maka pukullah dengan itu dan janganlah kamu melanggar sumpah. Sesungguhnya Kami dapati dia (Ayub) seorang yang sabar. Dialah sebaik-baik hamba. Sesungguhnya dia amat taat (kepada Tuhannya).” (Surah Shad: 41-44)

Nabi Ayyub alaihissalam adalah satu di antara nabi-nabi Bani Israil dari keturunan Ya’qub bin Ishaq bin Ibrahim. Nabi Ayyub tadinya adalah orang yang kaya raya dan memiliki anak-anak yang banyak. Kemudian Allah berikan cobaan, anak-anaknya meninggal, keluarganya menjauh, teman-temannya tak ada lagi yang mengelilinginya. Ia kehilangan segalanya, hanya didampingi oleh seorang istrinya saja.

Ibnu Katsir menyebut kekayaan Ayyub dari berbagai jenis: harta banyak, binatang ternak dan peliharaan, hamba sahaya, tanah-tanah yang luas, demikian pula anak-anak dan keluarga, pertemanan (jaringan).

Kemudian Allah berikan cobaan berupa berkurangnya harta dan kesehatannya. Beliau menjadi miskin dan sakit. Anak-anaknya meninggal. Beliau menderita sakit berkepanjangan sehingga harus menjauh dari kampungnya. Tiada yang menemaninya kecuali istrinya Laia. Ia yang berkhidmah melayaninya, menyuapinya, memandikannya. Hartanya makin menipis. Suatu hari ia memanggil-manggil istrinya, namun tiada jawaban. Ia makin bersedih. Dengan hati teriris ia bersumpah, jika disembuhkan dari sakitnya akan ia puluk istrinya seratus kali. Antara marah, sedih dan kecewa. Meskipun akhirnya ia menyesali sumpahnya. Terlebih saat ia tahu bahwa istrinya pergi menjual perabot rumah tangga untuk menambal sulam kebutuhan hariannya.

Maka saatnya tiba Allah pulihkan ia dari sakit berkepanjangan. Allah perintahkan Ayyub untuk memukul-mukulkan kakinya di tanah, kemudian keluar air yang dingin untuk dijadikan obat dengan berendam dan minum darinya. Allah kembalikan kebugaran dan kesehatannya.

Kebahagiaannya berubah sedih saat ia berada dalam dilema, antara menaati sumpahnya kepada Allah dan antara kecintaannya yang dalam kepada istrinya. Allah yang Maha Sayang memberinya solusi. Ia tak perlu memukul istrinya seratus kali, ia pula tak perlu menyakiti istri yang sangat setia dan menyintainya. Di saat yang sama ia juga tak perlu menyelisihi janji dan sumpah kepada Allah. Allah perintahkan kepadanya untuk mengambil seikat rumput yang diperkirakan jumlahnya seratusan kemudian dipukulkan kepada istrinya, sebagai tanda cinta sekaligus syukur kepada Allah yang memberinya kesembuhan dan mengembalikan keadaannya.

Ath-Thabary menyebut dalam Tarikhnya Ayyub hidup hingga berusia 93 tahun atau lebih kemudian dikaruniai kembali anak-anak. Bahkan anaknya bernama Basyar dari istri setianya, konon ialah nantinya yang disebut-sebut dengan julukan Dzulkifli yang diangkat sebagai nabi oleh Allah SWT.

Kesabaran Ayyub menjalani masa sulit perlu ditiru. Bahwa ketidakberdayaan, kesulitan, kebangkrutan bukanlah akhir dari segalanya. Meskipun, sebagai manusia Allah memperlihatkan adanya pasang surut semangat Ayub pun pernah khilaf menyikapinya. Secara umum, kesabaran menyikapi masa-masa sulit ini bisa dijadikan semangat dan motivasi menyambut post power syndrome.

Pesan moral yang bisa diambil dari kisah ini adalah:

  1. Yakinkan diri bahwa Allah lah yang mengaruniai kesuksesan dan semua nikmat-Nya
  2. Bersyukur dan berbagilah saat mendapatkan nikmat agar Allah makin menyayangi
  3. Tidak angkuh dan sombong ketika kuat dan sukses
  4. Menggunakan waktu produktif sebaik-baiknya (kaya, sehat, muda, kaya) adalah yang disebutkan dalam hadis Nabi Muhammad SAW.
  5. Saat ditimpa musibah atau kekurangan atau kesulitan segera kembali kepada Allah. Tempat aman berkeluh kesah dan berdoa serta menyandarkan harapan. Meskipun ia tetap tak menutup diri dari orang lain (tetap berusaha terbuka namun tidak mengandalkannya, Allah lah sumber kekuatannya)
  6. Tidak terlalu memikirkan respon dan sikap orang lain di sekitar kita.
  7. Tidak takut menghadapi masa turunnya produktivitas dengan cara tetap produktif berbuat dan menebarkan kebaikan
  8. Memperbanyak dzikir kepada Allah untuk mengurangi pengaruh hawa nafsu dan bisikan setan yang menyesatkan

Tak ada istilah pensiun dari kebaikan atau produktivitas bagi mereka yang memiliki mental sabar yang luar biasa. Penyakit dan ketidakberdayaan fisik atau keterbatasan materi setelah memiliki segalanya takkan mencegah seseorang untuk terus berkontribusi menebarkan kebaikan dan menginspirasi orang-orang di sekitarnya. Tentunya, dengan kondisi terkini yang dialaminya

Dan bila Allah menjadi tempat kembali, Dia lah yang akan memberi jalan keluar yang baik, termasuk di saat ada dua pilihan sulit dan dilematis seperti yang Nabi Ayyub hadapi.

 

Jakarta, 02.02.2019