Ketika Ruh Bertemu Jasad (Tadabbur Surah At-Takwir)

Dr. Saiful Bahri, M.A

Al-Quran adalah fakta kebenaran. Kalam Allah yang disampaikan secara sempurna dan penuh amanah. Oleh malaikat perantara wahyu, Jibril ‘alaihissalâm yang disegani dan ditaati para malaikat-Nya. Ditunaikan penuh dan disampaikan kembali oleh manusia yang paling dicintai-Nya. Yang tak gila pujian dan jabatan. Tidak gila harta dan kekayaan.

Tidak pula kikir atau menyembunyikan wahyu dari Tuhannya, sekalipun berisi teguran keras dan hal-hal yang tak mengenakkannya.

 

Mukaddimah: Visualisasi Hari Akhir

Selama ini kebanyakan orang sering memvisualisasikan hari kiamat berujung pada kehancuran dunia dan seisinya saja. Padahal, hari kiamat yang sesungguhnya baru dimulai ketika manusia dibangkitkan kembali dari kuburnya, jiwa-jiwa dipertemukan dengan jasadnya dan kemudian diperhitungkan segala perbuatannya, hingga mendapatkan putusan akhir dari Sang Mahaadil dan Maha Bijaksana. Kesemua ini tergambar jelas di dalam kitab-Nya yang merupakan petunjuk bagi manusia, namun hanya bermanfaat bagi mereka yang mau mengambilnya sebagai pedoman bagi jalan hidupnya.

Surat At-Takwir ini diturunkan di Mekah setelah Surat al-Masad([1]). Surat ini membahas berbagai hal tersebut di atas sebagai tema pokok hari kiamat dari dua angel yang berbeda. Yaitu peristiwa kehancuran dunia dan isinya di satu sisi, serta suasana hari kiamat setelah kebangkitan di lain sisi. Titik tekan surat ini yang membedakannya dengan surat sebelum dan sesudahnya adalah pembicaraan tentang al-Quran, yaitu sebagai sumber berita hari kiamat dan apa yang akan terjadi di sana. Maklumat-maklumat yang serba ghaib namun harus diimani dan diyakini sepenuhnya([2]). Hal-hal tersebut divisualisasikan seolah nyata, nampak jelas dan terjadi di depan mata. Sumber wahyu tersebut tidaklah sebuah kabar dusta, karena diturunkan oleh Sang Maha Pemilik semua, melalui perantara pilihan-Nya; Malaikat Jibril ‘alaihissalâm. Disampaikan kepada segenap manusia oleh manusia pilihan-Nya juga. Manusia mulia yang tak tamak terhadap dunia, tak berambisi pada jabatan, tak terobsesi pada mimpi dan khayalan serta puja-puji sesamanya. Sumber wahyu tersebut juga bukan dongeng kaum terdahulu atau perkataan setan yang selalu memperdaya.

Hari Kehancuran Dunia Seisinya

Sebagai permulaan deskripsi hari kiamat, Allah memberikan berita sebagaimana surat-surat sebelumnya dengan menyebut tanda-tandanya.

١) إِذَا الشَّمْسُ كُوِّرَتْ (٢) وَإِذَا النُّجُومُ انكَدَرَتْ (٣) وَإِذَا الْجِبَالُ سُيِّرَتْ (٤) وَإِذَا الْعِشَارُ عُطِّلَتْ (٥) وَإِذَا الْوُحُوشُ حُشِرَتْ (٦) وَإِذَا الْبِحَارُ سُجِّرَتْ

Apabila matahari digulung, dan apabila bintang-bintang berjatuhan, dan apabila gunung-gunung dihancurkan, dan apabila unta-unta yang bunting ditinggalkan (tidak diperdulikan), dan apabila binatang-binatang liar dikumpulkan, dan apabila lautan dijadikan meluap” (QS. At-Takwîr [81]: 1-6)

Suasana yang mengerikan divisualisasikan dengan jelas agar bisa ditangkap oleh nalar manusia, dipahami secara gamblang. Matahari digulung, ditiadakan. Sumber energi dan cahaya di dunia itu tak lagi menyala, karena dititahkan oleh penciptanya untuk selesai, ajalnya tiba. Az-Zajjâj menjelaskan makna asal kuwwirat adalah seperti halnya sorban yang digunakan untuk melingkari dan menggulung kepala([3]). Maka seolah matahari yang sebelumnya menjadi terang benderang, berubah tak bercahaya, lenyap dan entah ke mana. Sementara, bintang-bintang dengan berbagai bentuk, ukuran yang sangat banyak jumlahnya berjatuhan menghujani bumi. Semesta bertumbukan, bertabrakan, terjadi berbagai benturan keras yang menghancurkan satu dan yang lainnya. Hakikat langit yang belum pernah terkuak itu, yang semula terlihat tenang berubah menjadi penuh keributan dan kemudian hancur tiada berbekas.

Sedangkan bumi, tempat kehidupan manusia, gunung-gunung diterbangkan, dicabut dan dihancurkan. Pasak bumi yang menahan lapisan tanah-tanahnya dicabut sehingga terjadi kerusakan yang parah. Unta-unta yang hamil, simbol kepemilikan dunia yang dibanggakan oleh orang-orang Arab waktu itu, tak lagi dipedulikan. Saat hari kehancuran seperti itu tiada lagi yang memperhatikan harta kekayaannya, meskipun sangat melimpah dan berkecukupan. Karena saat hari kehancuran di depan mata, dunia seisinya menjadi tiada berharga.

Demikian halnya binatang-binatang buas dikumpulkan menjadi satu. Itu adalah titah Allah yang sanggup menjinakkan ciptaan-Nya yang paling buas dan berbahaya, dikumpulkan satu dengan jenis-jenis lainnya dengan kuasa dan titah-Nya. Kehancuran semakin nyata dengan diluapkannya air laut yang seolah siap menelan daratan dengan semua yang ada di atasnya.

Itulah visualisasi kehancuran yang disampaikan Allah dalam pembukaan surat ini. Dahsyat leburnya. Efek kehancurannya sangat mengerikan. Tidak pernah terjadi sebelumnya. Tak pernah terbayangkan oleh siapapun. Demikianlah, kejadian hari kehancuran ketika tiupan sangkakala yang pertama terdengar.

Hari Kebangkitan: Sangat Mencekam dan Menakutkan

Selanjutnya Allah jelaskan suasana yang jauh lebih mencekam dan menakutkan saat manusia telah dibangkitkan dari kuburnya. Setelah tiupan sangkakala kebangkitan ditiup Malaikat Israfil.

٧) وَإِذَا النُّفُوسُ زُوِّجَتْ (٨) وَإِذَا الْمَوْءُودَةُ سُئِلَتْ (٩) بِأَيِّ ذَنبٍ قُتِلَتْ (١۰) وَإِذَا الصُّحُفُ نُشِرَتْ (١١) وَإِذَا السَّمَاءُ كُشِطَتْ (١٢) وَإِذَا الْجَحِيمُ سُعِّرَتْ (١٣) وَإِذَا الْجَنَّةُ أُزْلِفَتْ (١٤) عَلِمَتْ نَفْسٌ مَّا أَحْضَرَتْ

 “Dan apabila ruh-ruh dipertemukan (dengan tubuh), dan apabila bayi-bayi perempuan yang dikubur hidup-hidup ditanya, karena dosa apakah dia dibunuh? Dan apabila catatan-catatan (amal perbuatan manusia) dibuka, dan apabila langit dilenyapkan, dan apabila neraka Jahim dinyalakan, dan apabila surga didekatkan, maka tiap-tiap jiwa akan mengetahui apa yang telah dikerjakannya.” (QS. At-Takwîr [81]: 7-14)

Suasana yang kedua ini sebenarnya jika divisualisasikan dengan benar, maka akan menghadirkan kondisi yang sangat mencekam dan teramat menakutkan. Yaitu, di saat Allah bangkitkan manusia ruh-ruh mereka menyatu kembali dalam jasad mereka. Allah memiliki tujuan khusus membangkitkan mereka. Yaitu untuk ditanya, “dan apabila bayi-bayi perempuan yang dikubur hidup-hidup ditanya, karena dosa apakah dia dibunuh?”. Manusia-manusia zhalim di zamannya akan segera terbayang di depannya kejahatan-kejahatan yang pernah mereka lakukan. “Bayi-bayi perempuan yang dibunuh” adalah di antara representasi kezhaliman yang terjadi di zaman wahyu ini diturunkan. Maka, sejatinya saat manusia bangkit dengan ruh dan jasadnya ia akan segera teringat amal-amal perbuatannya. Kezhaliman dan kekhilafannya segera hadir dengan jelas di depannya. Dan sang mazhlum akan ditanya terlebih dahulu sebelum si zhalim dipermasalahkan di pengadilan Sang Maha Tinggi. Apa kesalahan orang-orang mazhlum tersebut hingga harus menjadi korban kezhaliman yang semena-mena? Berapa kalikah kezhaliman serupa terjadi dan terulang-ulang? Karenanya Allah menegaskan “Dan apabila catatan-catatan (amal perbuatan manusia) disebar”. Kata “nusyirat” mengindikasikan bahwa catatan amal setiap manusia bisa diakses siapa saja. Secara bahasa “nasyara” berarti menyebarkan, maka bentuk pasifnya (mabni li al-majhûl) adalah “nusyira” yang berarti disebar. Bisa jadi digandakan cetakannya, bisa juga disebarkan secara digital, bisa juga melalui layar-layar lebar yang bisa dilihat manusia dari berbagai penjuru. Tiada lagi yang bisa ditutup-tutupi di saat Allah membuka akses yang seluas-luasnya kepada semua makhluk-Nya.

Di hari yang menegangkan tersebut, langit tak lagi ada. Allah membuka hijab-Nya. Surga terasa hadir di sana, tapi sebaliknya neraka juga dirasakan ada di sekeliling manusia. Suasana tersebut cukup menggambarkan kondisi yang sangat mencekam. Mengancam siapa saja. Tiada rasa aman, terutama bagi para pendosa. Para pelaku kezhaliman dan penistaan di dunia.

Sumpah-Sumpah Allah dengan Fenomena Alam

            Setelah membahas dua kejadian hari kiamat, yaitu hari kehancuran dunia dan isinya serta hari kebangkitan di saat semua manusia dimintai pertanggungjawabannya, maka Allah bersumpah untuk satu hal penting lainnya.

١٥) فَلَا أُقْسِمُ بِالْخُنَّسِ (١٦) الْجَوَارِ الْكُنَّسِ (١٧) وَاللَّيْلِ إِذَا عَسْعَسَ (١٨) وَالصُّبْحِ إِذَا تَنَفَّسَ

 “Sungguh, Aku bersumpah dengan bintang-bintang, yang beredar dan terbenam, demi malam apabila telah hampir meninggalkan gelapnya, dan demi subuh apabila fajarnya mulai menyingsing” (QS. At-Takwîr [81]: 15-18)

Bintang-bintang dan malam adalah istilah bagi manusia. Waktu adalah batasan yang Allah ciptakan untuk manusia. Dari tempatnya hidup ada waktu yang disebut pagi setelah malam. Di saat yang sama di tempat lainnya ada waktu-waktu yang berbeda. Hal-hal tersebut akan menjadi makna besar bagi tanda-tanda kekuasaan Allah. Pesan kekuasaan ini hanya bisa dipahami oleh mereka yang mau menggunakan nalar sehatnya.

Milyaran bahkan tiada terhitung banyaknya bintang yang tersebar di alam semesta, kegelapan malam yang menyelimuti dunia, dan di saat kemudian beranjak terang. Siapakah yang mendatangkan pagi dengan berbagai harapan? Nafas baru dikembalikan Allah kepada para makhluk-Nya untuk memulai hidup baru di hari itu. Nafas baru yang berarti sebuah perbaikan masa lalu dan hari sebelumnya. Jika hari sebelumnya dipenuhi dengan maksiat dan kelalaian, maka hari baru dan nafas baru tersebut adalah pintu kesempatan yang Allah buka untuk bertaubat. Jika hari sebelumnya adalah waktu penuh ukiran prestasi kebaikan, maka nafas baru hari itu adalah kesempatan untuk bersyukur lebih dengan menebar energi kebaikan yang Allah berikan. Menularkan semangat bersyukur dan spirit memperbaiki prestasi.

Pagi hari dipersonifikasikan hidup. Ia seolah bernyawa dan bernafas. Nafas-nafasnya adalah cahaya dan kehidupan. Gerakan-gerakan di pagi hari adalah geliat kehidupan([4]). Maka lihatlah manusia di pagi hari. Mereka bergeliat hidup. Anak-anak kecil bersekolah. Orang-orang sibuk menyiapkan diri berangkat bekerja dan beraktivitas, padahal sebelumnya mereka semua terdiam seperti orang mati di saat terbaring memejamkan mata. Tertidur di malam hari. Perubahan tersebut adalah karunia Dzat yang serba maha. Tanaffasa artinya memanjang cahayanya hingga sampai terang benderang([5]). Karena Allah yang Maha Penyayang tidaklah langsung mengubah kegelapan menjadi terang benderang secara tiba-tiba, melainkan melalui proses dan tahapan-tahapan. Dari gelap gulita, berangsung terang, hingga menjadi terik dan sangat benderang.

Karunia-karunia tersebut hendaklah disyukuri manusia. Tanda-tanda kekuasaan yang dikirim Allah sebagai pesan kuasanya kepada setiap makhluk-Nya.

Al-Quran: Firman Allah yang Tersampaikan Penuh Amanah

١٩) إِنَّهُ لَقَوْلُ رَسُولٍ كَرِيمٍ (٢۰) ذِي قُوَّةٍ عِندَ ذِي الْعَرْشِ مَكِينٍ (٢١) مُّطَاعٍ ثَمَّ أَمِينٍ

 “Sesungguhnya Al Quran itu benar-benar firman (Allah yang dibawa oleh) utusan yang mulia (Jibril), yang mempunyai kekuatan, yang mempunyai kedudukan tinggi di sisi Allah yang mempunyai ‘Arsy, yang ditaati di sana (di alam malaikat) lagi dipercaya”. (QS. At-Takwîr [81]: 19-21)

Sumpah-sumpah Allah di ayat-ayat sebelumnya menjadi sebuah entry point bagi sebuah fakta besar dan pernyataan penting. Yaitu, tentang kebenaran al-Quran yang merupakan kalam dan titah Allah. Yang disampaikan kepada Nabi Muhammad SAW melalui sang pembawa wahyu terbaik. Malaikat terbaik-Nya, Jibril ‘alaihissalâm. Malaikat yang diberi kekuatan dan memiliki kedudukan tinggi di sisi Allah. Disegani dan ditaati oleh semua malaikat-Nya. Terpercaya dan tak pernah berkhianat. Ia sampaikan secara utuh dan sempurna pesan-pesan Allah melalui kalam-Nya. Tak dikurangi atau dilebihkan. Seperti adanya titah dari Tuhannya. Al-Qur’an adalah sumber informasi tervalid tentang datangnya hari kiamat. Sumber segala ajaran dan syariat Nabi Muhammad SAW. Sumber yang benar dan tidak boleh didustakan oleh siapapun.

Menafikan Tuduhan Para Pendusta

٢٢) وَمَا صَاحِبُكُم بِمَجْنُونٍ (٢٣) وَلَقَدْ رَآهُ بِالْأُفُقِ الْمُبِينِ (٢٤) وَمَا هُوَ عَلَى الْغَيْبِ بِضَنِينٍ (٢٥) وَمَا هُوَ بِقَوْلِ شَيْطَانٍ رَّجِيمٍ (٢٦) فَأَيْنَ تَذْهَبُونَ

Dan teman kalian (Muhammad) itu bukanlah sekali-kali orang yang gila. Dan sesungguhnya Muhammad itu melihat Jibril di ufuk yang terang. Dan dia (Muhammad) bukanlah orang yang bakhil untuk menerangkan yang ghaib. Dan Al Quran itu bukanlah perkataan syaitan yang terkutuk, maka ke manakah kamu akan pergi?”. (QS. At-Takwîr [81]: 22-26)

Nabi Muhammad SAW sebelum menerima wahyu dan menjalankan tugas risalahnya, adalah orang yang diakui kebaikannya serta kedudukannya di tengah kaumnya. Namun, karena permaklumannya sebagai rasul Allah, beliau menjadi terdustakan. Tersakiti lahir batinnya. Disakiti fisiknya. Dituduh gila dan sebagainya. Padahal beliau masih sama dengan sebelum menerima wahyu. Yaitu orang terpercaya, al-amîn. Tiada berdusta, tak pernah menyembunyikan wahyu dari Tuhan-Nya. Jika itu terjadi maka, surat seperti Abasa sudah semestinya tak beliau sampaikan karena berisi sebuah teguran keras kepadanya. Demikian halnya tentang hari kiamat. Bukan karena beliau tak mau menyampaikan hakikatnya. Bukan pula karena kikir dan pelit informasi. Namun, hal itu semata karena memang rahasia dan misteri hari kiamat menjadi hak prerogatif Allah untuk menjelaskannya. Waktu kejadian yang sangat dirahasiakan bahkan kepada manusia yang paling dicintai-Nya sekalipun. Adalah menjadi hikmah agar semua manusia menyiapkan diri sebaik-baiknya. Kata dhanin([6]) menggambarkan tuduhan-tuduhan tersebut. Baik berarti tuduhan buruk secara umum atau lebih khusus yang berarti bakhil dan pelit. Maka, kalam Allah ini membebaskan Nabi Muhammad SAW dari berbagai tuduhan kaumnya tersebut. Tak lain dan tak bukan Muhammad hanya menerima wahyu dari Tuhannya dan kemudian ditugaskan untuk menyampaikannya kepada kaumnya tanpa penambahan dan pengurangan darinya.

Fungsi Al-Quran

٢٧) إِنْ هُوَ إِلَّا ذِكْرٌ لِّلْعَالَمِينَ (٢٨) لِمَن شَاءَ مِنكُمْ أَن يَسْتَقِيمَ (٢٩) وَمَا تَشَاءُونَ إِلَّا أَن يَشَاءَ اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ

Al Quran itu tiada lain hanyalah peringatan bagi semesta alam, (yaitu) bagi siapa di antara kamu yang mau menempuh jalan yang lurus. Dan kamu tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu) kecuali apabila dikehendaki Allah, Tuhan semesta alam”. (QS. At-Takwîr [81]: 27-29)

Al-Quran adalah petunjuk bagi semua manusia. Namun, hanya orang yang mau mengambilnya sebagai peringatan saja yang mampu tersentuh olehnya. Petunjuk Allah tersebut sebenarnya bisa diakses oleh siapa saja. Namun, banyak di antara manusia mengabaikannya. Maka, hanya mereka yang dirahmati Allah saja yang bisa benar-benar mampu disampaikan Allah pada jalan lurus yang berakhir pada kenikmatan abadi. Yaitu bagi mereka yang mau gigih berusaha menjemput hidayah. Menyukuri nikmat luar biasa yang Allah karuniakan kepada mereka. Berupa manusia terbaik yang diutus-Nya kepada kaumnya dan segenap umat manusia dan karunia berupa al-Quran, semua petunjuk jalan kebenaran ada di dalamnya.

Jika dua karunia besar ini disyukuri, niscaya orang-orang yang mengimani keduanya akan dimudahkan Allah untuk mendapatkan petunjuk-Nya. Tersampaikan kepada hikmat keabadian melalui jalan lurus yang cepat. Yaitu jalan mereka yang diberi nikmat oleh-Nya. Jalan para nabi dan orang-orang shalih. Bukan jalan mereka yang dimurkai dan dilaknat oleh-Nya. Bukan pula jalan mereka yang tersesat yang takkan pernah sampai pada nikmat keabadian, namun terperosok ke dalam kesengsaraan dan keburukan yang abadi. Wal îyadzu bilLâh.

 

—————————————————

* Tadabbur surah at-Takwîr (Menggulung): [81]

([1]) lihat: As-Suyuthi, Al-Itqân, hlm. 20-22, Badruddin az-Zarkasyi, al-Burhân, 1/249, Ash-Shabuniy, Îjâz al-Bayân, hlm. 281, Dr. Jum’ah Ali Abd. Qadir, Ma’âlim Suar al-Qur’ân, 2/757.

([2]) Ash-Shabuniy, Îjâz al-Bayân, hlm. 281-282.

([3]) Az-Zajjâj, Ma’âniy al-Qur’an wa I’râbuhû, vol 5, hlm. 224.

([4]) Sayyid Quthb, Fî Zhilâli al-Qur’ân, vol 6, hlm. 3842.

([5]) Al-Wahidy, Al-Wasîth fî Tafsîr al-Qur’âni al-Majîd, vol 4, hlm. 430.

([6]) Jika dibaca dengan dhadh (ض) maka berarti  pelit. Maksudnya, Nabi Muhammad tidaklah pelit dan menyembunyikan sesuatu yang diwahyukan kepadanya.(lihat: Az-Zajjâj, Ma’âniy al-Qur’an wa I’râbuhû, vol 5, hlm. 227) Dan jika dibaca dengan huruf zha’ (ظ) ada yang mengartikannya sebagai tertuduh dengan tuduhan jelek. (Az-Zajjâj, Ibid). Ath-Thabary menyebutkan perkataan tersebut merupakan pendapat Ibnu Abbas dan muridnya Said bin Jubair serta Ibrahim an-Nakha’iy (al-Thabary, Jâmi’ al-Bayân, vol. 30, hlm. 103)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s