DAHSYATNYA MOTIVASI LAFAZH INSYAALLAH DALAM AL-QURAN

DR. Saiful Bahri, M.A

Lafazh (إن شاء الله) [dibaca: in syâAllâh] sangat akrab di telingat para pembaca al-Quran. Al-Quran secara eksplisit menyebutkan lafazh _in syâAllâh_ sebanyak enam kali (Surah Al-Baqarah: 70, Yusuf: 99, al-Kahfi: 69, al-Qashash: 27, ash-Shafat: 102, al-Fath: 27). Esensi lafazh _in syâAllâh_ adalah persoalan etika kepada Allah dengan mengembalikan hak prerogatif sebagai penentu keputusan terhadap apa yang berlaku bagi siapa saja dan apa saja di berbagai alam ciptaan-Nya. Secara ideologis merupakan salah satu indikator keimanan seseorang yang bertawakkal kepada Allah. Artinya, sebagai manusia seseorang sudah mengerahkan segenap daya dan usahanya sebagai ikhtiar, kemudian ia menyusuri ruang takdir yang menjadi ranah ilahiyah berharap segala sesuatu sama seperti harapannya tau lebih baik lagi.

Adapun Al-Quran menyebut lafazh _in syâAllâh_ dalam berbagai tema sebagai berikut:

  1. Diucapkan oleh Bani Israil sebagai alasan untuk menghindari _taklif_ atau perintah Allah untuk menyembelih seekor sapi. (berkonotasi negatif)

قَالُوا ادْعُ لَنَا رَبَّكَ يُبَيِّن لَّنَا مَا هِيَ إِنَّ الْبَقَرَ تَشَابَهَ عَلَيْنَا وَإِنَّا إِن شَاءَ اللَّهُ لَمُهْتَدُونَ

Mereka berkata: “Mohonkanlah kepada Tuhanmu untuk kami agar Dia menerangkan kepada kami bagaimana hakikat sapi betina itu, karena sesungguhnya sapi itu (masih) samar bagi kami dan sesungguhnya kami insya Allah akan mendapat petunjuk (untuk memperoleh sapi itu)“. (Surah al-Baraqah: 70)

Maka sudah seharusnya saat kita berkomitmen untuk menepati suatu janji dengan seseorang maka sudah tepat menyebut lafazh ini. Namun, jika kemudian dijadikan tameng dan alasan untuk tidak datang secara sengaja maka hal tersebut seperti sindiran Allah kepada Bani Israil.

  1. Motivasi Yusuf dalam menenangkan keluarganya yang baru memasuki negeri Mesir

فَلَمَّا دَخَلُوا عَلَىٰ يُوسُفَ آوَىٰ إِلَيْهِ أَبَوَيْهِ وَقَالَ ادْخُلُوا مِصْرَ إِن شَاءَ اللَّهُ آمِنِينَ

Maka tatkala mereka masuk ke (tempat) Yusuf: Yusuf merangkul ibu bapanya dan dia berkata: “Masuklah kamu ke negeri Mesir, insya Allah dalam keadaan aman“. (Surah Yusuf: 99).

Hal ini patut untuk dicontoh dalam memberikan rasa optimis dan motivasi yang baik bagi orang yang berada dalam kondisi atau suasana baru. Jika ia pemegang kebijakan –setidaknya– merupakan jaminan darinya sebagai pimpinan kepada rakyat dan orang yang ditanggungnya. Ucapan ini menjadi gambaran kuatnya keyakinan dan iman Nabi Yusuf kepada Allah.

  1. Optimisme Nabi Musa dalam menuntut ilmu ketika berguru pada Khidr

قَالَ سَتَجِدُنِي إِن شَاءَ اللَّهُ صَابِرًا وَلَا أَعْصِي لَكَ أَمْرًا

Musa berkata: “Insya Allah kamu akan mendapati aku sebagai orang yang sabar, dan aku tidak akan menentangmu dalam sesuatu urusanpun”. (Surah Al-Kahfi: 69).

Perkataan Nabi Musa bertemakan optimisme dan keinginan kuat sebagai penuntut ilmu untuk mengikuti arahan dan kesepakatan dengan gurunya. Ini sekaligus menunjukan etika dan moralitas yang tinggi yang dibarengi dengan kepercayaan yang kuat kepada Allah.

  1. Motivasi Syu’aib (seorang nabi atau orang shalih) yang memberi solusi terhadap masalah Nabi Musa

قَالَ إِنِّي أُرِيدُ أَنْ أُنكِحَكَ إِحْدَى ابْنَتَيَّ هَاتَيْنِ عَلَىٰ أَن تَأْجُرَنِي ثَمَانِيَ حِجَجٍ ۖ فَإِنْ أَتْمَمْتَ عَشْرًا فَمِنْ عِندِكَ ۖ وَمَا أُرِيدُ أَنْ أَشُقَّ عَلَيْكَ ۚ سَتَجِدُنِي إِن شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّالِحِينَ

Berkatalah dia (Syu’aib): “Sesungguhnya aku bermaksud menikahkan kamu dengan salah seorang dari kedua anakku ini, atas dasar bahwa kamu bekerja denganku delapan tahun dan jika kamu cukupkan sepuluh tahun maka itu adalah (suatu kebaikan) dari kamu, maka aku tidak hendak memberati kamu. Dan kamu Insya Allah akan mendapatiku termasuk orang-orang yang baik”. (Surah Al-Qashash: 27).

Ungkapan ini merupakan motivasi diri untuk tetap selalu menjadi orang baik dalam kondisi apapun. Orang baik yang berarti selalu siap membantu dan menjadi jalan keluar bagi masalah yang dihadapi oleh siapapun. Ia menawarkan solusi dan berusaha mengurai kesulitan. Ia menjadi orang tua yang mengayomi. Iniah yang selayaknya dicontoh oleh para pemimpin dan juga rakyatnya untuk terus selalu menjadi solusi dan bersimpati kepada masalah yang dihadapi orang lain. Lafazh ini juga sekaligus doa dan harapan penguatan dari Allah agar terus menjadikan pengucapnya orang yang terus menjadi baik, tak bosan menjadi orang baik dan membersamai orang-orang yang terlilit kesulitan, terjebak kesulitan atau terkurung kelemahan dan ketidakberdayaan.

  1. Ismail memotivasi diri untuk menjadi orang sabar dalam menerima takdir Allah, dikatakan kepada ayahnya, Ibrahim

فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَىٰ فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانظُرْ مَاذَا تَرَىٰ ۚ قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ ۖ سَتَجِدُنِي إِن شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ

Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!” Ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”. (Surah Ash-Shafat: 102).

Lafazh ini merupakan penguatan diri sekaligus penegasan dan permohonan agar dikuatkan oleh Allah. Siapapun orangnya datangnya cobaan dan musibah tak bisa diterka dan ditebak. Saat itu terjadi ia tak berharap bantuan dan penguatan siapapun dari manusia, ia berharap Allah yang pertama. Jika ada manusia yang menguatkan maka itu adalah bonus tambahan.

  1. Motivasi dan kabar gembira akan datangnya kemenangan dari Allah, Fathu Makkah

لَّقَدْ صَدَقَ اللَّهُ رَسُولَهُ الرُّؤْيَا بِالْحَقِّ ۖ لَتَدْخُلُنَّ الْمَسْجِدَ الْحَرَامَ إِن شَاءَ اللَّهُ آمِنِينَ مُحَلِّقِينَ رُءُوسَكُمْ وَمُقَصِّرِينَ لَا تَخَافُونَ ۖ فَعَلِمَ مَا لَمْ تَعْلَمُوا فَجَعَلَ مِن دُونِ ذَٰلِكَ فَتْحًا قَرِيبًا

Sesungguhnya Allah akan membuktikan kepada Rasul-Nya, tentang kebenaran mimpinya dengan sebenarnya (yaitu) bahwa sesungguhnya kamu pasti akan memasuki Masjidil Haram, insya Allah dalam keadaan aman, dengan mencukur rambut kepala dan mengguntingnya, sedang kamu tidak merasa takut. Maka Allah mengetahui apa yang tiada kamu ketahui dan Dia memberikan sebelum itu kemenangan yang dekat. (Surah Al-Fath: 27).

Adapun ungkapan _in syâAllâh_ yang terakhir merupakan kabar gembira yang Allahlah semata menginginkannya terjadi untuk hamba-Nya yang beriman kepada-Nya. Berita kemenangan yang dijanjikan-Nya, yang dinanti-nanti oleh hamba-Nya yang terus tak henti berdoa. Manusia berusaha menebar kebaikan dan melawan kezhaliman. Namun, Allah lah yang karuniakan kemenangan dengan cara dan kuasa-Nya.

 

Al-Quran juga menyebut makna _in syâAllâh_ secara implisit yang terkandung di dua tempat dengan maksud teguran (Al-Kahfi: 23-24) dan celaan atau sindiran buruk (Al-Qalam: 17-18)

Pertama:

Dan jangan sekali-kali kamu mengatakan tentang sesuatu: “Sesungguhnya aku akan mengerjakan ini besok pagi, kecuali (dengan menyebut): “Insya Allah”. Dan ingatlah kepada Tuhanmu jika kamu lupa dan katakanlah: “Mudah-mudahan Tuhanku akan memberiku petunjuk kepada yang lebih dekat kebenarannya dari pada ini”. (Al-Kahfi: 23-24)

Ayat ini merupakan teguran Allah kepada Nabi Muhammad SAW ketika ditanya oleh kuffar Quraisy tentang: Ashabul Kahfi, Raja Dzulkarnain dan ruh. Tiga hal tersebut sesungguhnya adalah ejekan kaumnya yang mendapatkan ide dari ahli kitab yang dijumpai mereka, sekaligus tantangan kepada Nabi Muhammad SAW. Beliau dengan tegas akan menjawab “besok”. Namun, berhari-hari jawaban tak datang dan Jibril tak turun menemui beliau. Allah menegur beliau untuk mengajarkan kepada umatnya bahwa Allah lah yang serba maha, punya kuasa dan memutuskan segala.

Kedua:

Sesungguhnya Kami telah mencobai mereka (musyrikin Mekah) sebagaimana Kami telah mencobai pemilik-pemilik kebun, ketika mereka bersumpah bahwa mereka sungguh-sungguh akanmemetik (hasil)nya di pagi hari, dan mereka tidak mengatakan ‘in syâAllâh’ (al-Qalam: 17-18)

[terjemah di atas adalah penafsiran versi Mujahid yang dinukil al-Qurthubi, disebut juga oleh al-Baghawiy, sedangkan ath-Thabari menyebut pendapat Ikrimah yang mengartikan “mereka tak menyisihkan (hak fakir miskin)”]

Ayat ini menjelaskan adzab dan cobaan yang Allah berikan kepada pemilik kebun di Yaman ketika mereka memastikan panen kebun namun mereka enggan memikirkan nasib orang-orang miskin di sekitar mereka, mereka juga tidak mengucapkan insyaallah. Mereka sombong dan angkuh merencanakan banyak hal dan bersembunyi dari orang-orang lemah dan miskin. Sombong dan kehilangan simpati sosial. Maka Allah turunkan siksa kebun mereka habis dan musnah seketika. Rencana mereka buyar. Keangkuhan mereka remuk berkeping-keping

Dengan kajian ini semoga kita mendapatkan motivasi dan kandungan inspirasi kebaikan dari dahsyatnya pesan dari lafazh _in syâAllâh_ di dalam al-Quran.

 

Jakarta, 29.01.2019

 

🗒🗒🗒🗒 🗒🗒🗒🗒

📷 IG: drsaifulbahri

🐤 Twitter: @L_saba

👤 Fanpage: Halaqah Tadabbur Al-Quran

📹 Youtube: Halaqah Tadabbur Al-Quran

🌐 www.saifulelsaba.wordpress.com

 

Ketika Ruh Bertemu Jasad (Tadabbur Surah At-Takwir)

Dr. Saiful Bahri, M.A

Al-Quran adalah fakta kebenaran. Kalam Allah yang disampaikan secara sempurna dan penuh amanah. Oleh malaikat perantara wahyu, Jibril ‘alaihissalâm yang disegani dan ditaati para malaikat-Nya. Ditunaikan penuh dan disampaikan kembali oleh manusia yang paling dicintai-Nya. Yang tak gila pujian dan jabatan. Tidak gila harta dan kekayaan.

Tidak pula kikir atau menyembunyikan wahyu dari Tuhannya, sekalipun berisi teguran keras dan hal-hal yang tak mengenakkannya.

 

Mukaddimah: Visualisasi Hari Akhir

Selama ini kebanyakan orang sering memvisualisasikan hari kiamat berujung pada kehancuran dunia dan seisinya saja. Padahal, hari kiamat yang sesungguhnya baru dimulai ketika manusia dibangkitkan kembali dari kuburnya, jiwa-jiwa dipertemukan dengan jasadnya dan kemudian diperhitungkan segala perbuatannya, hingga mendapatkan putusan akhir dari Sang Mahaadil dan Maha Bijaksana. Kesemua ini tergambar jelas di dalam kitab-Nya yang merupakan petunjuk bagi manusia, namun hanya bermanfaat bagi mereka yang mau mengambilnya sebagai pedoman bagi jalan hidupnya.

Surat At-Takwir ini diturunkan di Mekah setelah Surat al-Masad([1]). Surat ini membahas berbagai hal tersebut di atas sebagai tema pokok hari kiamat dari dua angel yang berbeda. Yaitu peristiwa kehancuran dunia dan isinya di satu sisi, serta suasana hari kiamat setelah kebangkitan di lain sisi. Titik tekan surat ini yang membedakannya dengan surat sebelum dan sesudahnya adalah pembicaraan tentang al-Quran, yaitu sebagai sumber berita hari kiamat dan apa yang akan terjadi di sana. Maklumat-maklumat yang serba ghaib namun harus diimani dan diyakini sepenuhnya([2]). Hal-hal tersebut divisualisasikan seolah nyata, nampak jelas dan terjadi di depan mata. Sumber wahyu tersebut tidaklah sebuah kabar dusta, karena diturunkan oleh Sang Maha Pemilik semua, melalui perantara pilihan-Nya; Malaikat Jibril ‘alaihissalâm. Disampaikan kepada segenap manusia oleh manusia pilihan-Nya juga. Manusia mulia yang tak tamak terhadap dunia, tak berambisi pada jabatan, tak terobsesi pada mimpi dan khayalan serta puja-puji sesamanya. Sumber wahyu tersebut juga bukan dongeng kaum terdahulu atau perkataan setan yang selalu memperdaya.

Hari Kehancuran Dunia Seisinya

Sebagai permulaan deskripsi hari kiamat, Allah memberikan berita sebagaimana surat-surat sebelumnya dengan menyebut tanda-tandanya.

١) إِذَا الشَّمْسُ كُوِّرَتْ (٢) وَإِذَا النُّجُومُ انكَدَرَتْ (٣) وَإِذَا الْجِبَالُ سُيِّرَتْ (٤) وَإِذَا الْعِشَارُ عُطِّلَتْ (٥) وَإِذَا الْوُحُوشُ حُشِرَتْ (٦) وَإِذَا الْبِحَارُ سُجِّرَتْ

Apabila matahari digulung, dan apabila bintang-bintang berjatuhan, dan apabila gunung-gunung dihancurkan, dan apabila unta-unta yang bunting ditinggalkan (tidak diperdulikan), dan apabila binatang-binatang liar dikumpulkan, dan apabila lautan dijadikan meluap” (QS. At-Takwîr [81]: 1-6)

Suasana yang mengerikan divisualisasikan dengan jelas agar bisa ditangkap oleh nalar manusia, dipahami secara gamblang. Matahari digulung, ditiadakan. Sumber energi dan cahaya di dunia itu tak lagi menyala, karena dititahkan oleh penciptanya untuk selesai, ajalnya tiba. Az-Zajjâj menjelaskan makna asal kuwwirat adalah seperti halnya sorban yang digunakan untuk melingkari dan menggulung kepala([3]). Maka seolah matahari yang sebelumnya menjadi terang benderang, berubah tak bercahaya, lenyap dan entah ke mana. Sementara, bintang-bintang dengan berbagai bentuk, ukuran yang sangat banyak jumlahnya berjatuhan menghujani bumi. Semesta bertumbukan, bertabrakan, terjadi berbagai benturan keras yang menghancurkan satu dan yang lainnya. Hakikat langit yang belum pernah terkuak itu, yang semula terlihat tenang berubah menjadi penuh keributan dan kemudian hancur tiada berbekas.

Sedangkan bumi, tempat kehidupan manusia, gunung-gunung diterbangkan, dicabut dan dihancurkan. Pasak bumi yang menahan lapisan tanah-tanahnya dicabut sehingga terjadi kerusakan yang parah. Unta-unta yang hamil, simbol kepemilikan dunia yang dibanggakan oleh orang-orang Arab waktu itu, tak lagi dipedulikan. Saat hari kehancuran seperti itu tiada lagi yang memperhatikan harta kekayaannya, meskipun sangat melimpah dan berkecukupan. Karena saat hari kehancuran di depan mata, dunia seisinya menjadi tiada berharga.

Demikian halnya binatang-binatang buas dikumpulkan menjadi satu. Itu adalah titah Allah yang sanggup menjinakkan ciptaan-Nya yang paling buas dan berbahaya, dikumpulkan satu dengan jenis-jenis lainnya dengan kuasa dan titah-Nya. Kehancuran semakin nyata dengan diluapkannya air laut yang seolah siap menelan daratan dengan semua yang ada di atasnya.

Itulah visualisasi kehancuran yang disampaikan Allah dalam pembukaan surat ini. Dahsyat leburnya. Efek kehancurannya sangat mengerikan. Tidak pernah terjadi sebelumnya. Tak pernah terbayangkan oleh siapapun. Demikianlah, kejadian hari kehancuran ketika tiupan sangkakala yang pertama terdengar.

Hari Kebangkitan: Sangat Mencekam dan Menakutkan

Selanjutnya Allah jelaskan suasana yang jauh lebih mencekam dan menakutkan saat manusia telah dibangkitkan dari kuburnya. Setelah tiupan sangkakala kebangkitan ditiup Malaikat Israfil.

٧) وَإِذَا النُّفُوسُ زُوِّجَتْ (٨) وَإِذَا الْمَوْءُودَةُ سُئِلَتْ (٩) بِأَيِّ ذَنبٍ قُتِلَتْ (١۰) وَإِذَا الصُّحُفُ نُشِرَتْ (١١) وَإِذَا السَّمَاءُ كُشِطَتْ (١٢) وَإِذَا الْجَحِيمُ سُعِّرَتْ (١٣) وَإِذَا الْجَنَّةُ أُزْلِفَتْ (١٤) عَلِمَتْ نَفْسٌ مَّا أَحْضَرَتْ

 “Dan apabila ruh-ruh dipertemukan (dengan tubuh), dan apabila bayi-bayi perempuan yang dikubur hidup-hidup ditanya, karena dosa apakah dia dibunuh? Dan apabila catatan-catatan (amal perbuatan manusia) dibuka, dan apabila langit dilenyapkan, dan apabila neraka Jahim dinyalakan, dan apabila surga didekatkan, maka tiap-tiap jiwa akan mengetahui apa yang telah dikerjakannya.” (QS. At-Takwîr [81]: 7-14)

Suasana yang kedua ini sebenarnya jika divisualisasikan dengan benar, maka akan menghadirkan kondisi yang sangat mencekam dan teramat menakutkan. Yaitu, di saat Allah bangkitkan manusia ruh-ruh mereka menyatu kembali dalam jasad mereka. Allah memiliki tujuan khusus membangkitkan mereka. Yaitu untuk ditanya, “dan apabila bayi-bayi perempuan yang dikubur hidup-hidup ditanya, karena dosa apakah dia dibunuh?”. Manusia-manusia zhalim di zamannya akan segera terbayang di depannya kejahatan-kejahatan yang pernah mereka lakukan. “Bayi-bayi perempuan yang dibunuh” adalah di antara representasi kezhaliman yang terjadi di zaman wahyu ini diturunkan. Maka, sejatinya saat manusia bangkit dengan ruh dan jasadnya ia akan segera teringat amal-amal perbuatannya. Kezhaliman dan kekhilafannya segera hadir dengan jelas di depannya. Dan sang mazhlum akan ditanya terlebih dahulu sebelum si zhalim dipermasalahkan di pengadilan Sang Maha Tinggi. Apa kesalahan orang-orang mazhlum tersebut hingga harus menjadi korban kezhaliman yang semena-mena? Berapa kalikah kezhaliman serupa terjadi dan terulang-ulang? Karenanya Allah menegaskan “Dan apabila catatan-catatan (amal perbuatan manusia) disebar”. Kata “nusyirat” mengindikasikan bahwa catatan amal setiap manusia bisa diakses siapa saja. Secara bahasa “nasyara” berarti menyebarkan, maka bentuk pasifnya (mabni li al-majhûl) adalah “nusyira” yang berarti disebar. Bisa jadi digandakan cetakannya, bisa juga disebarkan secara digital, bisa juga melalui layar-layar lebar yang bisa dilihat manusia dari berbagai penjuru. Tiada lagi yang bisa ditutup-tutupi di saat Allah membuka akses yang seluas-luasnya kepada semua makhluk-Nya.

Di hari yang menegangkan tersebut, langit tak lagi ada. Allah membuka hijab-Nya. Surga terasa hadir di sana, tapi sebaliknya neraka juga dirasakan ada di sekeliling manusia. Suasana tersebut cukup menggambarkan kondisi yang sangat mencekam. Mengancam siapa saja. Tiada rasa aman, terutama bagi para pendosa. Para pelaku kezhaliman dan penistaan di dunia.

Sumpah-Sumpah Allah dengan Fenomena Alam

            Setelah membahas dua kejadian hari kiamat, yaitu hari kehancuran dunia dan isinya serta hari kebangkitan di saat semua manusia dimintai pertanggungjawabannya, maka Allah bersumpah untuk satu hal penting lainnya.

١٥) فَلَا أُقْسِمُ بِالْخُنَّسِ (١٦) الْجَوَارِ الْكُنَّسِ (١٧) وَاللَّيْلِ إِذَا عَسْعَسَ (١٨) وَالصُّبْحِ إِذَا تَنَفَّسَ

 “Sungguh, Aku bersumpah dengan bintang-bintang, yang beredar dan terbenam, demi malam apabila telah hampir meninggalkan gelapnya, dan demi subuh apabila fajarnya mulai menyingsing” (QS. At-Takwîr [81]: 15-18)

Bintang-bintang dan malam adalah istilah bagi manusia. Waktu adalah batasan yang Allah ciptakan untuk manusia. Dari tempatnya hidup ada waktu yang disebut pagi setelah malam. Di saat yang sama di tempat lainnya ada waktu-waktu yang berbeda. Hal-hal tersebut akan menjadi makna besar bagi tanda-tanda kekuasaan Allah. Pesan kekuasaan ini hanya bisa dipahami oleh mereka yang mau menggunakan nalar sehatnya.

Milyaran bahkan tiada terhitung banyaknya bintang yang tersebar di alam semesta, kegelapan malam yang menyelimuti dunia, dan di saat kemudian beranjak terang. Siapakah yang mendatangkan pagi dengan berbagai harapan? Nafas baru dikembalikan Allah kepada para makhluk-Nya untuk memulai hidup baru di hari itu. Nafas baru yang berarti sebuah perbaikan masa lalu dan hari sebelumnya. Jika hari sebelumnya dipenuhi dengan maksiat dan kelalaian, maka hari baru dan nafas baru tersebut adalah pintu kesempatan yang Allah buka untuk bertaubat. Jika hari sebelumnya adalah waktu penuh ukiran prestasi kebaikan, maka nafas baru hari itu adalah kesempatan untuk bersyukur lebih dengan menebar energi kebaikan yang Allah berikan. Menularkan semangat bersyukur dan spirit memperbaiki prestasi.

Pagi hari dipersonifikasikan hidup. Ia seolah bernyawa dan bernafas. Nafas-nafasnya adalah cahaya dan kehidupan. Gerakan-gerakan di pagi hari adalah geliat kehidupan([4]). Maka lihatlah manusia di pagi hari. Mereka bergeliat hidup. Anak-anak kecil bersekolah. Orang-orang sibuk menyiapkan diri berangkat bekerja dan beraktivitas, padahal sebelumnya mereka semua terdiam seperti orang mati di saat terbaring memejamkan mata. Tertidur di malam hari. Perubahan tersebut adalah karunia Dzat yang serba maha. Tanaffasa artinya memanjang cahayanya hingga sampai terang benderang([5]). Karena Allah yang Maha Penyayang tidaklah langsung mengubah kegelapan menjadi terang benderang secara tiba-tiba, melainkan melalui proses dan tahapan-tahapan. Dari gelap gulita, berangsung terang, hingga menjadi terik dan sangat benderang.

Karunia-karunia tersebut hendaklah disyukuri manusia. Tanda-tanda kekuasaan yang dikirim Allah sebagai pesan kuasanya kepada setiap makhluk-Nya.

Al-Quran: Firman Allah yang Tersampaikan Penuh Amanah

١٩) إِنَّهُ لَقَوْلُ رَسُولٍ كَرِيمٍ (٢۰) ذِي قُوَّةٍ عِندَ ذِي الْعَرْشِ مَكِينٍ (٢١) مُّطَاعٍ ثَمَّ أَمِينٍ

 “Sesungguhnya Al Quran itu benar-benar firman (Allah yang dibawa oleh) utusan yang mulia (Jibril), yang mempunyai kekuatan, yang mempunyai kedudukan tinggi di sisi Allah yang mempunyai ‘Arsy, yang ditaati di sana (di alam malaikat) lagi dipercaya”. (QS. At-Takwîr [81]: 19-21)

Sumpah-sumpah Allah di ayat-ayat sebelumnya menjadi sebuah entry point bagi sebuah fakta besar dan pernyataan penting. Yaitu, tentang kebenaran al-Quran yang merupakan kalam dan titah Allah. Yang disampaikan kepada Nabi Muhammad SAW melalui sang pembawa wahyu terbaik. Malaikat terbaik-Nya, Jibril ‘alaihissalâm. Malaikat yang diberi kekuatan dan memiliki kedudukan tinggi di sisi Allah. Disegani dan ditaati oleh semua malaikat-Nya. Terpercaya dan tak pernah berkhianat. Ia sampaikan secara utuh dan sempurna pesan-pesan Allah melalui kalam-Nya. Tak dikurangi atau dilebihkan. Seperti adanya titah dari Tuhannya. Al-Qur’an adalah sumber informasi tervalid tentang datangnya hari kiamat. Sumber segala ajaran dan syariat Nabi Muhammad SAW. Sumber yang benar dan tidak boleh didustakan oleh siapapun.

Menafikan Tuduhan Para Pendusta

٢٢) وَمَا صَاحِبُكُم بِمَجْنُونٍ (٢٣) وَلَقَدْ رَآهُ بِالْأُفُقِ الْمُبِينِ (٢٤) وَمَا هُوَ عَلَى الْغَيْبِ بِضَنِينٍ (٢٥) وَمَا هُوَ بِقَوْلِ شَيْطَانٍ رَّجِيمٍ (٢٦) فَأَيْنَ تَذْهَبُونَ

Dan teman kalian (Muhammad) itu bukanlah sekali-kali orang yang gila. Dan sesungguhnya Muhammad itu melihat Jibril di ufuk yang terang. Dan dia (Muhammad) bukanlah orang yang bakhil untuk menerangkan yang ghaib. Dan Al Quran itu bukanlah perkataan syaitan yang terkutuk, maka ke manakah kamu akan pergi?”. (QS. At-Takwîr [81]: 22-26)

Nabi Muhammad SAW sebelum menerima wahyu dan menjalankan tugas risalahnya, adalah orang yang diakui kebaikannya serta kedudukannya di tengah kaumnya. Namun, karena permaklumannya sebagai rasul Allah, beliau menjadi terdustakan. Tersakiti lahir batinnya. Disakiti fisiknya. Dituduh gila dan sebagainya. Padahal beliau masih sama dengan sebelum menerima wahyu. Yaitu orang terpercaya, al-amîn. Tiada berdusta, tak pernah menyembunyikan wahyu dari Tuhan-Nya. Jika itu terjadi maka, surat seperti Abasa sudah semestinya tak beliau sampaikan karena berisi sebuah teguran keras kepadanya. Demikian halnya tentang hari kiamat. Bukan karena beliau tak mau menyampaikan hakikatnya. Bukan pula karena kikir dan pelit informasi. Namun, hal itu semata karena memang rahasia dan misteri hari kiamat menjadi hak prerogatif Allah untuk menjelaskannya. Waktu kejadian yang sangat dirahasiakan bahkan kepada manusia yang paling dicintai-Nya sekalipun. Adalah menjadi hikmah agar semua manusia menyiapkan diri sebaik-baiknya. Kata dhanin([6]) menggambarkan tuduhan-tuduhan tersebut. Baik berarti tuduhan buruk secara umum atau lebih khusus yang berarti bakhil dan pelit. Maka, kalam Allah ini membebaskan Nabi Muhammad SAW dari berbagai tuduhan kaumnya tersebut. Tak lain dan tak bukan Muhammad hanya menerima wahyu dari Tuhannya dan kemudian ditugaskan untuk menyampaikannya kepada kaumnya tanpa penambahan dan pengurangan darinya.

Fungsi Al-Quran

٢٧) إِنْ هُوَ إِلَّا ذِكْرٌ لِّلْعَالَمِينَ (٢٨) لِمَن شَاءَ مِنكُمْ أَن يَسْتَقِيمَ (٢٩) وَمَا تَشَاءُونَ إِلَّا أَن يَشَاءَ اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ

Al Quran itu tiada lain hanyalah peringatan bagi semesta alam, (yaitu) bagi siapa di antara kamu yang mau menempuh jalan yang lurus. Dan kamu tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu) kecuali apabila dikehendaki Allah, Tuhan semesta alam”. (QS. At-Takwîr [81]: 27-29)

Al-Quran adalah petunjuk bagi semua manusia. Namun, hanya orang yang mau mengambilnya sebagai peringatan saja yang mampu tersentuh olehnya. Petunjuk Allah tersebut sebenarnya bisa diakses oleh siapa saja. Namun, banyak di antara manusia mengabaikannya. Maka, hanya mereka yang dirahmati Allah saja yang bisa benar-benar mampu disampaikan Allah pada jalan lurus yang berakhir pada kenikmatan abadi. Yaitu bagi mereka yang mau gigih berusaha menjemput hidayah. Menyukuri nikmat luar biasa yang Allah karuniakan kepada mereka. Berupa manusia terbaik yang diutus-Nya kepada kaumnya dan segenap umat manusia dan karunia berupa al-Quran, semua petunjuk jalan kebenaran ada di dalamnya.

Jika dua karunia besar ini disyukuri, niscaya orang-orang yang mengimani keduanya akan dimudahkan Allah untuk mendapatkan petunjuk-Nya. Tersampaikan kepada hikmat keabadian melalui jalan lurus yang cepat. Yaitu jalan mereka yang diberi nikmat oleh-Nya. Jalan para nabi dan orang-orang shalih. Bukan jalan mereka yang dimurkai dan dilaknat oleh-Nya. Bukan pula jalan mereka yang tersesat yang takkan pernah sampai pada nikmat keabadian, namun terperosok ke dalam kesengsaraan dan keburukan yang abadi. Wal îyadzu bilLâh.

 

—————————————————

* Tadabbur surah at-Takwîr (Menggulung): [81]

([1]) lihat: As-Suyuthi, Al-Itqân, hlm. 20-22, Badruddin az-Zarkasyi, al-Burhân, 1/249, Ash-Shabuniy, Îjâz al-Bayân, hlm. 281, Dr. Jum’ah Ali Abd. Qadir, Ma’âlim Suar al-Qur’ân, 2/757.

([2]) Ash-Shabuniy, Îjâz al-Bayân, hlm. 281-282.

([3]) Az-Zajjâj, Ma’âniy al-Qur’an wa I’râbuhû, vol 5, hlm. 224.

([4]) Sayyid Quthb, Fî Zhilâli al-Qur’ân, vol 6, hlm. 3842.

([5]) Al-Wahidy, Al-Wasîth fî Tafsîr al-Qur’âni al-Majîd, vol 4, hlm. 430.

([6]) Jika dibaca dengan dhadh (ض) maka berarti  pelit. Maksudnya, Nabi Muhammad tidaklah pelit dan menyembunyikan sesuatu yang diwahyukan kepadanya.(lihat: Az-Zajjâj, Ma’âniy al-Qur’an wa I’râbuhû, vol 5, hlm. 227) Dan jika dibaca dengan huruf zha’ (ظ) ada yang mengartikannya sebagai tertuduh dengan tuduhan jelek. (Az-Zajjâj, Ibid). Ath-Thabary menyebutkan perkataan tersebut merupakan pendapat Ibnu Abbas dan muridnya Said bin Jubair serta Ibrahim an-Nakha’iy (al-Thabary, Jâmi’ al-Bayân, vol. 30, hlm. 103)

MANUSIA DAN SEJARAH MASA DEPAN

Saiful Bahri

Hari seperti biasanya, ketika pagi senyum anak-anak merekah menyambut. Mereka telah menyiapkan ucapan selamat ulang tahun dengan kreasi khas anak-anak. Tak lama, karena ada beberapa kesibukan masing-masing.

Kemarin adalah hari yang spesial, sekalipun kegiatan yang memberatkan dan tugas-tugas serta serasa seperti air bah yang mengguyur tanpa pernah tahu kapan berhentinya. Ada dua buku yang menjadi hadiah special hari itu. Keduanya karya seorang Guru Besar sejarah dunia yang relatif masih muda tapi produktif, sebut saja Yuval Noah Harari. Buku pertama berjudul Sapiens, a Brief History of Humankind yang sudah diterjemah lebih dari 20 bahasa. Buku kedua berjudul Homo Deus, a Brief History of Tomorrow. Juga sudah dicetak lebih dari 4 juta eksemplar.

Istri saya membawakannya sebagai hadiah spesial hari itu. Kami berdua berbagi, ia membaca buku pertama dan saya membaca buku kedua. Di beberapa kesempatan kami saling mendiskusikan isinya. Malam sudah larut, saya juga masih harus membuka-buka sebuah draft disertasi yang harus diujikan pagi ini secara tertutup, prodi memberi amanah untuk menjadi bagian dari anggota tim penguji. Tapi rasa penasaran yang tinggi membuat buku tersebut sulit dilepas begitu saja.

Alhamdulillah, hari ini semuanya bisa dilalui dengan lancar dengan bimbingan Allah. Buku Homo Deus pun selesai terbaca.

Kenapa saya penasaran dengan kedua buku tersebut, khususnya buku kedua?

Buku tersebut menerbangkan saya pada linimasa sejarah peradaban umat Islam di salah satu periode emasnya. Mengingatkan saya pada sosok Muhammad bin Ismail al-Bukhori (W. 256 H) seorang pakar hadis yang juga pakar sejarah. Beliau menulis at-Târîkh al-Kabîr, sebuah kompilasi sejarah manusia, yaitu para manusia perawi hadis Nabi Muhammad SAW. Tak lama setelah itu datang Abu Ja’far ath-Thabariy (W. 310), seorang pakar tafsir dan ilmu al-Quran menulis karya berisi sebuah sejarah manusia yang lebih lengkap. Ensiklopedi monumentalnya tersebut berjudul Târîkh ar-Rusul wa al-Mulûk yang membahas sejarah manusia sejak penciptaan hingga berbagai peristiwa yang terjadi di tahun 302 H, atau kira-kira 8 tahun menjelang wafatnya beliau.

Setelah itu ada Ibnu Katsir (W. 774 H) yang memiliki kemiripan dengan ath-Thabary. Pakar tafsir yang juga pakar sejarah tersebut menuliskan sejarah yang lebih lengkap dan tebal dari pendahulunya, magnum opusnya tersebut diberi judul Al-Bidâyah wa an-Nihâyah yang selesai ditulis pada tahun 768 H. Menariknya, Ibnu Katsir ternyata juga menuliskan sejarah masa depan (history of tomorrow), hanya saja perspektifnya sangat jauh mencakup berbagai alam (multiverse) menjangkau alam yang tidak diketahui seperti apa jauhnya. Dalam dua atau tiga jilid terakhirnya beliau menjelaskan sejarah berakhirnya dunia dan hari kebangkitan, berdasarkan sumber teks yang bisa dijangkaunya, ayat atau hadis atau atsar-atsar.

Itulah barangkali yang memantik penasaran saya, untuk segera menuntaskan Homo Deus, a Brief History of Tomorrow.

Harari yang setahun lebih tua dari saya itu, ternyata memiliki kepakaran sejarah yang sangat mumpuni. Data-data, analisis filosofis dan retorisnya sangat memukau sehingga secara tak sadar pembaca mungkin akan terbius dengan bangunan teori evolusinya yang sebagian pernah disampaikan oleh Darwin. Tak banyak yang saya ketahui dari buku Sapiens karena saya belum membaca buku tersebut, hanya tahu dari hasil diskusi beberapa bagiannya dari istri saya.

Dalam Homo Deus, Harari meneropong masa depan manusia dengan data-data kredibel. Ada perbandingan data kelaparan dan data obesitas yang memungkinkan untuk diperkirakan terjadi di tahun 2030. Dengan fasih ia juga mengupas sejarah Firaun dan pembangunan megabendungan danau buatan di Fayoum, saya seolah mengikuti kuliah Egyptology. Tak ketinggalan sejarah perang di masa lalu, termasuk perang salib dan perang-perang yang dianggap sebagai bencana kemanusiaan yang memilukan. Analisis-analisis berbagai revolusi di Rumania sampai di Mesir. Ia juga mengenang masa-masa mengenal internet dan mengoperasikan komputer di masa lalu, kemudian membandingkan dengan kondisi kekinian.

Saya juga membayangkan bagaimana aplikasi GPS Waze mendistribusikan informasi jalanan yang macet dan yang tidak kepada para penggunanya. Karena jalan alternatif yang tak macet bisa jadi akan berubah macet jika semua pengguna Waze diberikan informasi yang sama. Analisis yang smart.

Ia juga berbicara perkembangan pesat kecerdasan buatan dan robot cerdas. Undang-undang dan regulasi tentang binatang serta paradoksal tikus-tikus laboratorium. Analog-analog yang dibangun membuat pembaca (mungkin) akan berkerut untuk kemudian mengangguk-anggukan kepala membenarkan. Teori manusia dan agama misalnya, statemennya yang mengatakan bahwa agama menjadi faktor penting bagi manusia modern, mengalahkan kepercayaan manusia modern pada revolusi industri dan robot-robot yang sudah teruji secara nyata. Membandingkan kerja robot yang tak jarang dipaksa sampai energy terakhirnya, seperti produk industri, computer laptop dan sebagainya.

Harari menyebut, penganut agama-agama termasuk agama Islam, dulunya kreatif, namun kini menjadi reaktif. Saya mengernyutkan dahi sejenak dan melakukan pendekatan introspektif. Tidak salah. Itu memang terjadi. Bangunan opininya tentang radikalisme bisa jadi juga benar, tapi ada unsur lain yang luput dan tak disebutkan, seperti ketidakadilan dan kesewenangan misalnya.

Karena itu, kemudian saya berkesimpulan bahwa sekalipun ia berusaha obyektif, namun subyektifitasnya tetap saja tak bisa ditutupi. Apalagi tentang sejarah. Karena, memang sejarah yang dituliskan dan diwariskan selalu terikat dengan subyektifitas.

Jika ingin tahu subyektivitas yang saya maksud diantaranya, bukan sekedar tentang teori evolusi atau agama yang ditulisnya sebagai ranah netral dan menjadi kebebasan manusia untuk memilih sebebas-bebasnya. Namun, lihatlah tulisannya yang sebenarnya tak banyak, tapi cukup bisa dianggap membangun opini keberpihakan pada pembicaraan Jerusalem, terlepas siapa dia dan buku ini berbahasa asli apa, tapi sejujurnya saya tak tahu apakah ia seorang penganut zionisme atau bukan.

Saya mulai berpikir, apakah ketika saya mencoba memihak kepada Bangsa Palestina yang terjajah, tertindas oleh kesewenangan dengan data-data yang bisa diakses siapa saja berarti saya tak lagi obytektif?

Apakah ketika saya terbatas membantu atau bahkan tak bisa membantu saudara-saudara saya yang terdampak bencana di Lombok, Palu, Donggala, Banten, Lampung dan sebagainya saya juga kehilangan kepakaran saya?

Tetangga-tetangga saya yang sedang sakit atau saudara, teman dan kerabat yang memerlukan bantuan, saya juga masih terbatas mengulurkan tangan menebar optimisme dan kebaikan.

Hiruk pikuk pilpres dan pileg yang tak lama lagi membuat fanatisme brutal saya temui di mana-mana. Etika, kebesaran jiwa, kesantunan bahasa menjadi hilang seketika.

Apakah saya yang juga mendukung salah satu capres dan partai tertentu juga kehilangan kepakaran dan obyektifitas? Saya mencoba menjawab sendiri pertanyaan saya dengan membaca The Death of Expertise nya Tom Nichols. Justru bangunan keilmuan dan kepakaran pada akhirnya akan melahirkan keberpihakan. Jika suatu saat diposisikan untuk menengahi maka, keberpihakan tersebut tidak dinampakkan untuk suatu alasan atau tidak ditonjolkan untuk menjaga perasaan orang atau pihak yang dihadapinya.

Namun, kepakaran dan keilmuan akan mati bila digunakan secara brutal dan fanatik buta. Keduanya juga akan mati, bila dipupuk dengan keangkuhan, kesombongan dan ketamakan.

Ya Rabb, ampuni hamba yang terbatas memaksimalkan anugerah ilmu dan nikmat yang Kau berikan untuk memihak pada orang-orang dan siapapun yang harus dibela dan ditolong.

Ya Rabb, ampuni hamba yang menjadikan kesibukan sebagai tameng untuk berkarya dan menutupi ketidakberdayaan di tengah kehidupan yang makin dicengkram hedonistic

Ya Rabb, tolonglah orang-orang lemah dan terzhalimi di manapun mereka berada.

 

Jakarta, 17.01.2019

Bertambah usia, berkurang umur