Malam Seribu Bulan


Tadabbur Surah al-Qadar

Saiful Bahri

Mukaddimah

Menurut para ulama Surat Al-Qadar merupakan surat makkiyah yang diturunkan setelah surat Abasa([1]). Kebanyakan mushaf yang beredar saat ini, juga dalam buku-buku tafsir, hadits dan buku-buku keislaman lainnya menggunakan al-Qadar sebagai nama surat ini, dikarenakan seringnya disebut dan diulang dalam surat ini; yaitu sebanyak tiga kali dalam lima ayatnya. “lailatulqadr” artinya “’azhamatu al-qadr wa asy-syaraf” (malam yang agung kedudukan dan kemuliaannya), seperti dituturkan oleh para ulama([2]).

Adapun tema besar surat ini adalah pembicaraan turunnya al-Qur’an dari al-lauh al-mahfuzh ke langit dunia pada suatu malam yang sangat dimuliakan Allah. Dia perintahkan para malaikat-Nya untuk membagi-bagi keberkahan kepada hamba-hamba-Nya di bumi sampai terbitnya fajar. Itulah sebuah malam yang nilainya melebihi seribu bulan yang tidak bersentuhan dengan al-Qur’an([3]). Dan konten al-Qur’an yang pertama kali diturunkan kepada Nabi Muhammad saw telah dibicarakan sebelumnya dalam surat al-‘Alaq.

Malam Kemuliaan, Malam Keberkahan

Allah menurunkan al-Qur’an ke bumi pada suatu malam yang dimuliakan-Nya. Sebagaimana termaktub dalam pembukaan surat ini,

إِنَّا أَنزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ

Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Quran) pada malam kemuliaan” (QS. Al-Qadar [97]: 01)

Lailatul qadar yang artinya bermacam-macam, diantaranya sebagaimana disebut di atas yaitu malam yang memiliki kedudukan dan kemuliaan. Maka dari itu perbuatan baik yang dilakukan dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah saat itu, maka akan sangat dimuliakan Allah.

Malam yang nilainya melebihi kebaikan seribu bulan, yang artinya melebihi tiga puluh ribu (30.000) malam lainnya, atau melebihi usia delapan puluh empat (84) tahun lamanya.

Karenanya malam tersebut dimuliakan. Apalagi hamba-hamba-Nya yang memuliakan malam itu dan mengisinya dengan berbagai amal salih, tentu akan dimuliakan melebihi tiga puluh ribu orang biasa yang tak menganggap, lalai dengan malam tersebut atau mengabaikannya.

وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ – لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِّنْ أَلْفِ شَهْرٍ

Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan”(QS. Al-Qadar [97]: 02-03)

Di malam itu Allah jadikan sebuah malam sebagai fasilitas waktu diturunkan-Nya kalam-Nya yang suci diperuntukkan kepada umat manusia melalui kekasih-Nya, Muhammad SAW. Al-Quran yang mulia itu menularkan keberkahan bagi sebuah malam yang akan terus dimuliakan sepanjang masa. Kebaikan yang hanya bisa ditakar oleh Sang Pemiliknya. Melebihi kebaikan seribu bulan atau tiga puluh ribu malam lainnya.

Maka diantara cara terbaik untuk meraih kebaikan dan keberkahan ini adalah dengan berlomba-lomba tingkatkan kualitas interaksi dengan Al-Quran. Dimulai dari menggiatkan bacaannya selama Bulan Ramadan.

Mengapa Allah begitu mengistimewakan malam itu. Malam yang hanya sebagian saja dari waktunya dijadikan Allah sebagai fasilitator turunnya Kalam-kalam suci itu dari lauh mahfuzh-Nya. Bulan yang di dalamnya terdapat satu malam tersebut juga kemudian dimuliakan oleh Allah melebihi bulan-bulan lainnya. Di bulan ini, Allah wajibkan puasa yang menjadi ibadah special antara Dia dan hamba-Nya. Karena hanya Dia saja yang sanggup memberikan balasan dan karena puasa tidak bisa dikalkulasikan dengan angka-angka.

Menariknya, adalah Allah tidak mengatakan bahwa malam lailatul qadar ini lebih baik dari “seribu bulan”. Kalimat seribu bulan memiliki kedalaman makna. Mengapa Allah tak menggantikannya dengan tiga puluh ribu malam yang juga senilai seribu bulan? Atau dengan delapan puluh empat tahun yang juga setara dengan seribu bulan?

Pertama, membandingkan malam lailatul qadar yang personal dengan seribu bulan yang komunal memiliki tujuan khusus untuk meninggikan nilai keistimewaan malam ini secara komunal.

Kedua, malam lailatul qadar yang dirahasiakan tersebut memiliki arti bahwa untuk mengejar kebaikan di malam tersebut tidaklah bisa ditempuh dengan cara-cara instan. Karena kebaikan tidaklah datang dengan tiba-tiba, namun perlu pembiasaan dan bertahap dalam melakukan dan menebarkannya. Dan seandainya hijab dibuka maka kemungkinan besar malam-malam lainnya akan ditinggalkan oleh orang-orang yang malas.

Ketiga, jika menilik dari susunan redaksi al-Quran secara zhahir, seolah-olah malam ini hanya terjadi sekali saja, yaitu ketika Allah menurunkan al-Quran. Baik bagi pendapat yang mengatakan itu terjadi di baitul izzah ataupun yang berpendapat mulai diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW. Namun, menurut jumhur ulama malam lailatul qadar ini terjadi setiap tahun. Mengingat Rasulullah SAW menyuruh umat Islam untuk berburu kebaikan lailatul qadar di bulan Ramadan. Terkhusus di malam-malam terakhir di bulan Ramadan.

Ibunda Aisyah binti Abi Bakar Ash Shiddiq ra. meriwayatkan sabda Rasulullah, ”Carilah lailatul qadr pada hari-hari ganjil di sepuluh hari terakhir pada bulan Ramadhan” (HR. Bukhari Muslim)

Pada sepuluh hari terakhir, Rasulullah Saw. meningkatkan ibadahnya melebihi 20 hari yang telah lewat. Ali bin Abi Thalib ra. meriwayatkan, “Rasulullah Saw. ketika telah memasuki sepuluh hari terakhir mengencangkan sarung dan membangunkan keluarganya” (HR.Ahmad)

Hal-hal di atas mengindikasikan bahwa Allah akan senantiasa menyediakan malam kemuliaan tersebut setiap tahunnya. Dan Allah akan memberikannya kepada hamba-hamba yang dipilih oleh-Nya. Rasulullah SAW yang merupakan manusia pilihan Allah pun berusaha keras untuk meraih malam kemuliaan tersebut. Maka sungguh merugi orang yang telah disediakan kemuliaan tetapi dirinya enggan meraihnya.

Kegigihan Rasulullah Saw. hendak memberi contoh kepada kita betapa siapapun dia, jika tak menggunakan peluang ini akan sangat merugi dan menyesal di kemudian hari. Apakah dia telah memiliki tabungan yang banyak sehingga ia malas menggunakan peluang yang sulit terulang lagi. Karena tak ada jaminan hal ini akan didapatinya di tahun depan. Semuanya serba ghaib. Atau bagi mereka yang hari-hari sebelumnya penuh dengan kekhilafan dan dosa serta kelalaian. Saat inilah kebangkitan hakiki itu meraih kemuliaan yang dibentangkan Allah.

Generasi Terbaik

Abu Musa al Asy’ari meriwayatkan sabda Rasulullah Saw. “Perumpamaan seorang mukmin yang membaca Al Qur’an seperti buah Utrujjah, baunya harum dan rasanya enak. Sedang orang mukmin yang tak suka membaca Al Qur’an bagaikan buah Tamr, tak ada baunya dan rasanya manis….” (HR. Bukhari Muslim)

Perumpaan yang indah. Mukmin yang mencintai al-Quran harumnya sangat wangi dan rasanya sangat enak. Maka sangat wajar malam lailatul qadar sangat mulia. Nilainya secara personal mengalahkan seribu bulan yang komunal yang terdiri dari puluhan ribu malam lainnya. Sebuah perbandingan yang sangat jelas menuntun kita untuk makin dekat dengan al-Quran

Generasi-generasi pertama yang dekat dengan al-Quran memiliki kualitas yang terbukti mengalahkan puluhan ribu orang, berbagai kaum di berbagai dunia dengan penaklukan-penaklukan yang dilakukan pada masa sahabat. Jiwa-jiwa yang terpatri al-Quran tak gentar berhadapan dengan apapun, tak takut melampaui berbagai rintangan apapun, tak menyerah di depan tantangan apapun, memiliki cita-cita yang tak terukur oleh usia mereka. Kekal terukir dalam tinta emas sejarah. Generasi-generasi al-Quran tersebut mampu memberikan sumbangan riil kepada peradaban manusia dan kemudian dikenang oleh orang yang datang setelahnya.

تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِم مِّن كُلِّ أَمْرٍ – سَلَامٌ هِيَ حَتَّىٰ مَطْلَعِ الْفَجْرِ

Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar.” (QS. Al-Qadar [97]: 04-05)

Keistimewaan lainnya malam al-qadar adalah bahwa di malam tersebut para malaikat Allah turun mengawal kalam-Nya yang suci yang diturunkan untuk mengatur segala urusan makhluk-Nya. Malaikat-malaikat tersebut jumlahnya sangat banyak. Menjejali semesta dengan keramaiannya, memenuhi langit dan menutupinya. Serempak turun ke bumi dipimpin oleh Jibril alaihissalam kekasih Allah, pimpinan para malaikat. Mereka membawa kedamaian ke bumi hingga fajar menyingsing. Kedamaian yang hanya Allah saja yang ketahui hakikatnya. Kedamaian yang sanggup meredam segala keburukan malam itu. Kedamaian yang dititahkan untuk mengiringi kemuliaan malam tersebut. Malam yang bersentuhan dengan kalam yang dimuliakan dari Sang Maha Mulia. Fajar baru menyingsing memberkan harapan kebaikan bagi para makhluk-Nya. Khususnya mereka yang memburu kemuliaan di malam tersebut dengan memuliakan al-Quran.

Semua yang bersentuhan dengan al-Quran menjadi yang terbaik. Malaikat pembawanya adalah malaikat terbaik, Jibril alaihissalam. Nabi yang menerimanya, Nabi Muhammad SAW menjadi nabi yang terbaik. Malam yang menjadi sarana waktu turunnya, menjadi malam yang terbaik. Maka, umat yang menerima dan kemudian mengamalkannya, membaca dan mengajarkannya, akan menjadi umat dan manusia terbaik.

 

——————————————————

* Tadabbur surat Al-Qadar (Kemuliaan): [96]

([1]) lihat: Jalaluddin as-Suyuthi, al-Itqân fi ‘Ulûmi al-Qur’ân, hlm.22; Badruddin az-Zarkasyi, al-Burhân fi ‘Ulûmi al-Qur’ân, hlm. 249. Prof. Dr. Jum’ah Ali Abd. Qadir, Ma’âlim Suar al-Qur’ân, Vol.2, hlm.829

([2]) Tesis penulis: Kitab Lawami’ al Burhan wa Qawathi’ al-Bayan fi Ma’ani al-Qur’an Karya Imam al-Ma’iny: Dirasah wa Tahqiq, Vol.2, hlm. 890.

([3]) Muhammad Ali Ash-Shabuni, Ijazu al-Bayan fi Suar al-Qur’an, hlm. 306

Iklan

Melampaui Keterbatasan Fisik


Inilah jalan yang kami pilih dan akan berujung pada satu dari dua pilihan;menang dengan kebebasan atau gugur sebagai syuhada”

(Ahmad Yasin)

Dua hari yang lalu pada 22 Maret adalah tepat 14 tahun gugurnya seorang simbol perlawanan Bangsa Palestina. Simbol kegigihan dan pantang menyerah, Syekh Ahmad Yasin. Beliau gugur sebagai syahid setelah melewati bertahun-tahun membakar semangat putra-putri Palestina untuk tidak menyerah memperjuangkan kemerdekaannya, mengakhiri penjajahan dan kezhaliman serta selalu menjaga  Masjid al-Aqsha dari berbagai penistaan dan ancaman.

Kurang lebih sepekan sebelumnya, 14 Maret 2018 seorang fisikawan terkemuka Stephen Hawking juga menghembuskan nafasnya, menandai akhir kehidupannya, setelah puluhan tahun mematahkan vonis medis yang menyatakan akhir kehidupannya di saat ia masih muda, dahulu.

Ahmad Yasin, sejak berusia 16 tahun ia lumpuh dan menjalani hidupnya dengan keterbatasan fisik. Demikian halnya Hawking, sejak ia berusia 21 tahun juga lumpuh, kemudian menjalani sisa hidupnya dengan ketidakberdayaan fisik. Namun, keduanya tidaklah menjadi pesakitan. Keduanya melompati batas-batas ketidakberdayaan fisik. Keduanya terbang dengan idealisme dan cita-citanya masing-masing. Memang benar, secara ideologis keduanya bertentangan. Ahmad Yasin, seorang muslim yang termotivasi keyakinan dan imannya; sedang Hawking, seorang atheis yang tak mempercayai adanya Tuhan, ia tetap termotivasi dengan humanismenya sebagai manusia.

Dari keduanya, dunia belajar melawan ketidakberdayaan dan keterbatasan fisik. Hawking termotivasi melawan vonis medis dan menjejaki mimpi-mimpi serta cita-citanya. Ia menjelma menjadi rujukan penting secara saintifik dalam bidang fisika, dengan teori kosmologinya.

Sedangkan, Ahmad Yasin bukan sekedar melawan ketidakberdayaan fisiknya, namun ia menjadi simbol kuat perlawanan bangsanya yang terjajah. Kondisi fisiknya yang sangat lemah tak menjadikannya absen dalam perlawanan. Justru dialah yang menyulut dan terus mempertahankan perjuangan melawan penjajahan.

Hawking, bersama keterbatasan fisiknya sudah terpendam di dalam tanah, tapi dunia termotivasi perlawanannya terhadap keterbatasannya tersebut. Dunia bahkan sangat menghormati teori-teorinya. Jejak-jejak saintifiknya terekam di lini masa sejarah manusia.

Demikian halnya Syeikh Ahmad Yasin, berdarah-darah jasadnya saat ajal menjemputnya. Terbunuh oleh kepengecutan yang dipuja-puja para durjana. Tubuhnya yang ringkih itu bahkan harus dihujani rudal supermahal dari kendaraan yang juga berharga mahal. Musuh-musuhnya mengira kematiannya menyudahi perannya semasa hidup. Sepeninggalnya, ruh perlawanan terus menggelora di setiap sudut-sudut hati bangsa Palestina. Bahkan, sampai-sampai anak-anak kecil dan para perempuan menjelma menjadi pejuang-pejuang gigih yang tak takut resiko perjuangan, meraih kemerdekaan dan mengembalikan kebebasan.

Jika hari ini banyak manusia yang utuh secara fisik, sehat badannya, bahkan mendapatkan berbagai fasilitas kehidupan yang mapan, namun  berjiwa kerdil maka seharusnya malu pada mereka berdua.

Jika ada orang-orang yang sehat dan sempurna fisiknya, tapi merelakan dirinya dijajah oleh syahwat dunia dan ambisi materi, maka seharusnya mereka malu pada mereka berdua.

Jika ada orang-orang yang berbadan sehat, tapi diam saja melihat kezhaliman dan penjajahan terhadap dirinya, maka mereka sudah menjadi mayat-mayat hidup sebelum matinya. Dan orang-orang yang mendiamkan kezhaliman tersebut terjadi tanpa ada rasa keterpanggilan menyingkirkannya, maka kebaikan telah benar-benar mati dalam dirinya.

Maka, sebaik-baik kondisi mempertahankan motivasi untuk melawan keterbatasan-keterbatasan adalah dengan membersamai para pejuang dan membaca kisah-kisah perjuangan. Kebaikan dan kebenaran takkan pernah menyerah, selama berada di dalam hati para pejuang. WalLâhu al-Musta’ân.

 

Catatan Keberkahan 94

Jakarta, 24.03.2018

SAIFUL BAHRI

Pengungsi, Korban Terorisme

 “We can’t help everyone, but everyone can help someone” (Ronald Reagan)

Pernah merasakan delay penerbangan? Atau transit yang panjang di tengah perjalanan? Atau penerbangan ditunda karena overbook? Sungguh tak nyaman, pastinya. Hal-hal ini tak seberapa jika dibandingkan dengan ketidaknyamanan yang dialami para pengungsi yang kehilangan tempat tinggal.

Belakangan, dunia sibuk membicarakan terorisme dan perang melawan terorisme. Porsi perbincangan yang demikian besar sampai mengurangi kerja-kerja nyata meringankan para korban terorisme, yaitu para pengungsi. Para pengungsi akibat bencana alam, biasanya tak sampai membuat mereka meninggalkan tanah airnya. Meskipun tak ringan dalam menangani mereka, namun -secara umum- recoverynya berjalan baik. Namun, para pengungsi akibat konflik bersenjata dan peperangan, jauh lebih berat menanganinya.

Jika menilik Konvensi Internasional tahun 1951 tentang pengungsi, bahwa yang dimaksud “refugee” (pengungsi) adalah,”orang yang dikarenakan oleh ketakutan yang beralasan akan penganiayaan, yang disebabkan oleh alasan ras, agama, kebangsaan, keanggotaan dalam kelompok sosial dan partai politik tertentu, berada di luar negara kebangsaannya dan tidak menginginkan perlindungan dari negara tersebut.”

Data UNHCR tahun 2016 menyebutkan jumlah mereka melebihi angka 65 juta jiwa, atau naik 10 juta lebih dari tahun sebelumnya. Itu artinya, satu dari setiap 113 orang di dunia adalah pengungsi atau pindah secara paksa dari negaranya; atau setiap tiga detik, terdapat satu orang yang “terpaksa” menjadi pengungsi.

Beberapa tahun ini Suriah menjadi penyumbang terbesar bertambahnya angka pengungsi, karena konflik di negara itu berkepanjangan. Di beberapa tempat –bahkan– para pengungsi ada yang sudah sampai tiga generasi, karena mereka benar-benar tak bisa kembali ke tempat asal. Rakyat Palestina yang terusir dari negaranya sejak 1948, hampir semua tak bisa kembali ke tanah air mereka yang dirampas. Pada hari kelam tersebut, lebih dari 50% penduduk Palestina terusir. Lebih dari satu juta orang dipaksa keluar dari Palestina. Peristiwa ini dikenal dengan yaum an-nakbah. Kini jumlah pengungsi Palestina yang terdata resmi di UNRWA per 1 Juni 2017 adalah 5.869.733 jiwa, sebagian besar berada di negara tetangga mereka Yordania, kemudian di Gaza yang sudah terisolasi hampir satu dasawarsa lamanya.

Mengharapkan dunia yang tenang tanpa peperangan adalah keinginan sebagian besar manusia. Namun, keinginan mulia tersebut dikalahkan oleh ambisi dan syahwat sebagian kecil manusia yang bersenyawa menjadi setan yang mengubah pribadi manusia yang seharusnya mulia, menjadi lebih buruk dari binatang.

Bencana besar bagi kemanusiaan adalah saat terjadi hilangnya kepedulian dan persatuan menghadapi kezhaliman. Dan kerugiaan terbesar manusia dalam melawan waktu adalah dengan menyia-nyiakan peluang dan potensi kebaikan yang Allah sediakan. Dalam surah al-‘Ashr setiap manusia terancam kerugian karena salah mempersepsikan dan menggunakan waktu. Mereka yang menyatu dalam group value kebaikan yang bisa terhindar dari kerugian tersebut. Beriman, beramal baik secara bersama-sama dan masif, kemudian terus saling menasehati dalam kebenaran dan kesabaran.

Sebaliknya, jika sabar menguap, baik karena para penasihat bosan menasehati dan orang-orang enggan mendengarkan kritikan dan nasehat (hilangnya tawashau bi ash-shabr), pertanda keangkuhan sedang mencengkeram. Cengkraman keangkuhan berakibat tiada lagi nasihat-nasihat kebenaran (lenyapnya tawashau bi al-haqq), berganti puja-puji para penjilat atau caci-maki orang-orang bodoh. Jika itu terjadi, orang-orang akan lebih sibuk bicara daripada berbuat baik (sedikitnya amal shalih), dusta akan mewabah dan kebohongan terus dibangga-banggakan. Jika hal-hal tersebut merajalela, maka iman dan keyakinan akan menipis dan kemudian hilang. Tiada lagi yang tersisa kecuali kerugian besar dan penyesalan.

Waktu kita tak banyak, karena terbatas. Solusi terbaik yang Allah berikan dalam Surah al-‘Ashr, tinggal kita laksanakan. Mengajak sebanyak mungkin orang-orang percaya dan beriman untuk berbuat baik dan saling menasehati. Kezhaliman pasti tumbang, digantikan cinta dan kasih sayang. Dan saat itu terjadi, tiada lagi orang-orang yang terasing dari negeri mereka. Bersatu, selamatkan para pengungsi dan hentikan -segera- berbagai jenis kezhaliman di muka bumi ini. WalLâhu al-Musta’ân.

 

Catatan Keberkahan 93

Jakarta, 17.03.2018

SAIFUL BAHRI

Siklus Peradaban Manusia

 “Hari-hari sulit akan melahirkan para pahlawan. Para pahlawan membuat perubahan dan menghasilkan kemakmuran. Kemakmuran dan kemewahan melahirkan orang-orang manja. Orang-orang manja membuat hari-hari menjadi sulit

(Abdurrahman Ibnu Khaldun, w. 19.03.1406 M)

Hari-hari ini adalah hari yang sulit bagi umat Islam. Hampir setiap hari terbaca dan terdengar berita tak mengenakkan di berbagai media mainstream tentang umat Islam. Dari sejak stigma negatif, ketertinggalan di berbagai sektor kehidupan, hingga carut marutnya politik dan ekonomi. Terlebih jika dikaitkan dengan momen dan menilik lini masa sejarah masa lalu.

Di bulan ini, ada sejarah pilu umat Islam untuk dikenang. Tepatnya, 3 Maret 1924 M ketika lonceng pupus dan runtuhnya Turki Usmaniy, yaitu ketika secara resmi jabatan khalifah sebagai pimpinan tertinggi umat Islam dihapuskan. Berakhirlah kisah tentang Daulah Usmaniyyah setelah berdiri mengayomi jutaan kaum muslimin dan berkhidmah serta memberikan kontribusi membangun peradaban manusia lebih dari enam abad lamanya. Ada banyak kisah di baliknya. Selain ada berbagai faktor internal yang melatari keruntuhan ini, terdapat konspirasi global yang menjatuhkannya. Dimulai dari permintaan Zionis Internasional yang meminta fasilitas tanah Palestina untuk mewujudkan mimpi mereka, berdirinya Negara Yahudi. Permintaan kepada Sultan Abdulhamid ini ditolak mentah-mentah. Maka, waktu bertutur mundur, menghitung satu demi satu rencana busuk terhadap sultan dan kekhilafahan ini.

Terdapat rincian yang detail tentang kejadian pahit tersebut. Sebaiknya, lebih bijak sekedar dijadikan spion untuk sedikit menengok masa lalu. Bersiaplah membangun masa depan yang serba misteri bagi siapa saja.

Tokoh yang wafat di bulan ini pun, bisa kita highlight pernyataannya tentang siklus peradaban. Hari-hari sulit yang dihadapi umat saat ini –biidznillah– akan segera melahirkan para pahlawan.

****

Hari-hari sulit di masa lalu bagi bangsa Mesir di tengah pacekliknya, memunculkan Yusuf dengan perubahan signifikan. Swadaya dan swasembada pangan kemudian menjadikan mereka supplier dan penolong bagi negara-negara tetangganya. Yusuf datang tidak tiba-tiba, ia sudah lebih dulu ditempa dengan berbagai kesulitan sebelum bangsa Mesir mengalaminya bersama-sama. Yusuf pun bermodalkan benda-benda, istana, orang-orang yang sama. Bahkan di antara mereka terdapat nara pidana yang diabaikan dan tak dianggap masyarakat. Dengan keimanan dan kecerdasan manajemennya, krisis berubah menjadi kejayaan

****

Hari-hari sulit Bani Israel, di tengah kebijakan zhalim Fir’aun yang mengeksekusi ribuan bayi lelaki, Allah munculkan Musa. Lalu, ia dikirim ke pusat kezhaliman, diistana Fir’aun. Rasa berhutang budi serta kesalahan yang pernah dibuatnya tak membuatnya bisa dibungkam. Bani Israilpun diselamatkan Allah dengan kemenangan.

Hari-hari sulit Bani Israil berlanjut, Jalut yang menakutkan dengan bala tentaranya yang sama-sama kejam. Bani Israil enggan memenuhi ajakan Raja Thalut untuk membangun pasukan kuat melawan Jalut. Maka mereka dibuat malu, Allah mengirimkan seorang Dawud kecil untuk menunjukkan tanda-tanda kekuasaan Allah. Jalut tewas di tangan Dawud kecil, dengan sebuah batu kecil saja. Lalu, Dawud pun mewarisi kerajaan Thalut, membangun kejayaan dan kemakmuran untuk rakyatnya.

****

Krisis kemanusiaan, pertikaian antara Aus dan Khazraj di kota Yatsrib yang berkepanjangan dan menahun tak kunjung usai. Allah kirimkan Nabi Muhammad SAW yang dengan singkat mengakhiri peperangan dan perseteruan yang tak perlu tersebut. Mereka digabung dan dipersaudarakan bersama kaum muhajirin. Negara baru dengan ruh baru, disegani oleh berbagai kekuatan yang sudah eksis terlebih dahulu. Pelan dan pasti, kekuatan-kekuatan besar seperti Persia dan Romawi bahkan akhirnya tunduk dan takluk kepada pengikutnya.

Karena, setelah gelap gulita dan pekatnya malam, fajar akan segera menyingsing. Sinar mentari mengikuti putaran waktu menghadirkan semangat bagi para manusia yang bersyukur. Bersama alam, hadirkan kesyukuran datangnya nafas baru. Bernafaslah bersama sumpah Allah, “Demi waktu subuh ketika bernafas” (QS. At-Takwir: 18). WalLâhu al-Musta’ân.

 

Catatan Keberkahan 92

Jakarta, 08.03.2018

SAIFUL BAHRI

Benteng di Hari Akhir


Rasulullah SAW bersabda:

Benteng kaum muslimin di saat perang dahsyat (al-malhamah) adalah Ghouta,
di sebelah kota yang dikenal dengan Damaskus

(HR. Abu Dawud, Ahmad dan Ibnu Asakir dari sahabat Abu Darda’ ra)

Peristiwa hancurnya dunia yang sering disebut hari akhir atau kiamat adalah misteri yang tak bisa diungkap oleh siapapun. Nabi Saw tidak pernah secara eksplisit memberitahu kapan peristiwa dahsyat tersebut terjadi. Tak sedikit yang merinci ciri-ciri hari akhir yang disabdakan oleh beliau dalam banyak kesempatan. Sebagian pihak ada yang menyusunnya menjadi sebuah lini masa menuju akhir kehidupan dunia. Tapi, susunan lini masa tersebut tak bisa dipastikan kebenarannya, karena sabda Nabi Saw ibarat puzzle yang  tak tersusun, perlu penelitian yang super cermat untuk menyusunnya. Namun, pada akhirnya akan mentok pada sebuah tabir besar bernama misteri. Tak ada yang mengetahui kepastiannya.

Di antara ciri-ciri hari akhir adalah terjadinya perang dahsyat di Bumi Syam (malhamah kubrâ). Hadis di atas, menyebut Ghouta yang nanti menjadi salah satu benteng di hari akhir bagi umat Islam. Namun, sayangnya tragedi kemanusiaan yang memilukan sedang terjadi di sana. Nyawa manusia sangat tak dihargai oleh sebuah tindakan tak berperikemanusiaan dan kezhaliman kembali dipertontonkan. Dunia tak sanggup berbuat apa-apa. Sebagian masih ada yang berteriak. Yang lainnya diam membisu tak peduli. Gencatan senjata yang diputuskan oleh lembaga otoritatif dunia, PBB pun tak diindahkan.

Itu lah Ghouta modern, melengkapi daftar lara umat Islam saat ini. Tak sedikit yang mengaitkan kota tersebut dengan hadis Nabi yang disebut di awal tulisan ini. Bisa jadi hal tersebut tidak salah, namun, bisa jadi sebenarnya Ghouta adalah wilayah yang lebih luas.

Ghouta adalah istilah untuk menyebut beberapa provinsi. Ia merupakan kawasan bio-geographis, suatu kawasan cincin hijau agrikultur yang mengelilingi Damaskus, dari bagian timur laut hingga barat daya. Dikenal sebagai kawasan subur. Banyak hasil pertanian berasal dari daerah ini: gandum, cherry, plum, aprikot, dan buah-buahan lokal. Ghouta dibagi menjadi Ghouta Timur dan Barat. Di dalamnya terdiri dari beberapa kota kecil.

Derita kaum muslimin di Syam, khususnya di Suriah yang dalam tujuh tahun terakhir menjadi tragedi kemanusiaan terbesar yang mengakibatkan hilangnya nyawa manusia tak terhitung, dan jutaan lainnya terusir. Belum lagi jika ditambah poros masalah di jantung kota Syam, Baitul Maqdis dan Palestina, tentu akan semakin membuat umat semakin merasa terpuruk.

Sabda Nabi Saw di atas justru menggambarkan kondisi sebaliknya. Kata benteng, adalah refleksi kekokohan dan mengisyaratkan kemenangan serta penaklukan. Dalam riwayat lain yang berasal dari Auf bin Malik, digambarkan tentang kemenangan yang akan diraih kaum muslimin.

Di lain sisi, benteng bisa mengindikasikan pusat ekspansi dan perencanaan strategis. Dengan arus migrasi (pengungsian) yang besar, memang bisa menjadi masalah kemanusiaan yang besar, khususnya di Eropa. Namun, di lain pihak mereka sekaligus menjadi salah satu penambah daya sebar Islam ke Eropa makin meningkat. Masalah kemanusiaan yang ditimbulkan tak sedikit, namun bukan berarti tidak mendatangkan kebaikan.

Meski -bisa jadi- tak ada hubungan langsung dengan kasus di atas, tak ada salahnya dihubungkan sebagai sebuah berita dan kabar baik dan pemupuk optimisme. Simaklah, cerita tentang Premiere League di Inggris. Kasta tertinggi sepak bola di negeri Ratu Elizabeth tersebut mempertemukan sejumlah pertandingan antar 20 klub sepak bola. Di dalamnya terdapat banyak pemain muslim yang ikut berlaga. Sebanyak 18 klub dari total 20 klub selalu terdapat setidaknya satu atau dua pemain muslim dalam satu klub. Bahkan Arsenal, menjadi klub penampung pemain muslim terbanyak, terdapat setidaknya lima orang di sana.

Karenanya, saat pagi menyingsing terdengar sumpah Allah, “dan demi subuh ketika bernafas (mulai menyingsing)” (QS. at-Takwir: 18). Itu adalah nafas-nafas baru yang Allah berikan kepada setiap kita. Untuk memupuk optimisme mempertahankan idealisme kebaikan dan menyebarkan nilai serta spiritnya, sekaligus peluang untuk mengakhiri segala kezhaliman dan keburukan dengan taubat. Termasuk mencegah dan melawan setiap kezhaliman yang nampak di bumi Allah. WalLâhu al-Musta’ân.

 

Catatan Keberkahan 91

Jakarta, 01.03.2018

SAIFUL BAHRI

 

Note: Hadis Riwayat Abu Dawud, Ahmad dan Ibnu Asakir di awal tulisan ini dishahihkan oleh al-Hakim dan disepakati oleh Adz-Dzahabi. Sebagian ulama mendhaifkan hadis ini, seperti tertera dalam tautan berikut: http://www.islamsyria.com/portal/consult/show/585