Cinta dan Pengkhianatan

Persiapan Rasulullah SAW untuk menaklukkan kota Mekah (Fathu Makkah) dilakukan secara rahasia dan diam-diam. Sahabat beliau, Abu Bakar bahkan sampai tak diberitahu. Hanya pasukan khusus dari kaum muslimin yang mengetahui rencana ini. Di antara orang tersebut adalah Hatib bin abi Balta’ah. Namun, sayangnya Hatib justru bermaksud membocorkan rencana Rasulullah SAW kepada kaum Quraisy.

Hatib bin Abi Balta’ah berkirim surat untuk memberitahu mereka tentang hal itu. Surat tersebut dikirim melalui seorang wanita yang menuju Mekah.

Allah SWT turunkan wahyu kepada Rasulullah SAW perihal bocornya rencana tersebut. Beliau segera memanggil Ali, Zubair dan Miqdad dan memerintahkan untuk menyusul perempuan yang dimaksud.

Setelah mereka menjumpainya, Ali segera menginterogasinya. “Keluarlanlah surat itu!”

Ia menjawab “Surat apa, saya tidak membawa surat apapun”

Mereka bertiga lebih tegas mengatakan, “Betul kamu tidak membawa surat apap pun! Kamu mau berikan surat itu atau kami akan tanggalkan pakaianmu!”.

Akhirnya perempuan itu  pun mengeluarkan surat dari sanggulnya.

Di depan Rasulullah SAW surat dari Hatib dibacakan. Rasulullah SAW, dengan suara berat mengatakan, “Wahai Hatib! Apa yang telah kamu lakukan?”

Hatib menjawab ,“Wahai Rasulullah! Janganlah Engkau tergesa-gesa menuduh. Sesungguhnya aku seorang yang sangat dekat hubungannya dengan Quraisy dan aku bukankah orang yang terbaik di antara mereka, dan di antara orang yang bersamamu dari Muhâjirîn. Mereka mempunyai kaum kerabat dan mereka ingin menjaga keluarga serta harta mereka. Maka aku adalah seorang yang ingin memelihara kerabatku. Aku tidak melakukan hal ini karena memusuhimu, atau karena kafir dan murtad dari Islam.”

Umar pun bermaksud membunuh Hatib karena pengkhianatannya, tapi Rasulullah SAW memaafkannya. Allah pun menurunkan Surat al-Mumtahanah untuk memperingatkan kaum muslimin.

*****

Allah berfirman, “Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu,
sedang kamu mengetahui.
” (QS. Al-Anfâl: 27)

Allah melarang kaum beriman untuk terjebak dalam pengkhianatan kepada Allah dan Rasul-Nya, sebagaimana dilarang untuk mengkhianati setiap amanah yang diberikan kepada mereka. Jika targetnya adalah menghindari pengkhianatan terbesar kepada Allah dan Rasul-Nya. Maka, Allah membimbing umat ini untuk mengetahui potensi sekaligus menjadi salah satu sebab terjadinya pengkhianatan. Ayat selanjutnya menyebutkan, “Dan ketahuilah, bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan dan sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar.

Penyebutan, harta (amwâl) dan anak-anak (aulâd) setelah warning di atas, tentu memiliki maksud. Agar umat ini berhati-hati dalam berinteraksi dengan keduanya. Keduanya merupakan perhiasan hidup manusia di dunia. Mencintai harta dan anak-anak adalah sesuatu yang sangat natural dan normal. Namun, keduanya berpotensi menjadi hal yang membahayakan jika tidak dididik dan dibiasakan dalam kebaikan. Maka, di saat harta dan anak-anak menjauhkan dari Allah dan Rasul-Nya itulah yang disebut pengkhianatan.

Kisah Hatib di atas, mengisyaratkan bahwa seseorang bisa saja terjebak pengkhianatan secara tak sadar. Kadarnya pun bisa meningkat hingga paling berbahaya, seperti peringatan Allah dalam surah al-Anfâl.

Maka, diperlukan seni mencintai harta dan anak-anak agar tidak menjebak pada pengkhianatan. Anak-anak perlu dididik bahwa harta adalah amanah sekaligus sarana. Keduanya harus berujung dan berpangkal baik. Didapatkan dari cara halal, kemudian dikelola dan disalurkan dengan baik. Anak-anak mesti diyakinkan bahwa yang memberi rizki adalah Allah, sedangkan orang tuanya hanya berusaha menyalurkan kepada anak-anak. Kikir dan sombong perlu dikikis sedemikian rupa, dengan meringankan tangan untuk menyalurkannya ke berbagai proyek-proyek kebaikan. Itulah solusi yang Allah berikan setelah memberikan warning di QS. at-Thaghabun ayat 14-15. Pada ayat ke 16, Allah memberikan solusinya, “Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu dan dengarlah serta taatlah dan berinfaklah yang baik untuk dirimu. Dan barangsiapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung.

Baik dalam surah al-Anfal maupun at-Taghabun Allah memberi solusi pencegahan dalam mencintai anak dan harta, yaitu ketakwaan dan berinfak. Saatnya di rumah-rumah kita ada tabung-tabung solidaritas, khususnya bagi Palestina, kemudian ada tabung infak kemanusiaan lainnya, selain tabungan yang kita biasakan untuk anak-anak belajar berhemat. WalLâhu al-Musta’ân.

 

Catatan Keberkahan 90

Jakarta, 23.02.2018

SAIFUL BAHRI

Iklan

MUTIARA-MUTIARA SURGA

Penduduk surga digambarkan memiliki struktur tubuh seperti Nabi Adam yaitu 60 hasta (menurut riwayat Bukhari [no. 6227] dan Muslim [no. 2834] dari Abu Hurairah). Sedangkan usia mereka sekitar 33 tahun (menurut riwayat Imam Ahmad dan At-Tirmidzi [2545] dari Mu’adz bin Jabal). Istilah ayah, ibu, anak, cucu dan kakek bisa dibedakan secara fisik di dunia. Namun, hal tersebut tidak terjadi di akhirat. Karena, semua manusia memiliki fisik serta usia yang sebaya dan hampir sama. Uniknya, di dalam surga terdapat anak-anak kecil. Ada dua keterangan yang menyebutnya demikian. Yaitu di Surah ath-Thûr: 24 dan Surah al-Wâqi’ah: 17.

Di dalam al-Quran anak-anak kecil disebut dengan berbagai redaksi, yaitu: (ولدان) bentuk plural dari (وليد), (أولاد) bentuk plural (ولد), (غلمان) bentuk plural dari kata (غلام). Ini belum termasuk kata (بنون), (بنين) atau (بنات) dan sebagainya.

(وَيَطُوفُ عَلَيْهِمْ غِلْمَانٌ لَّهُمْ كَأَنَّهُمْ لُؤْلُؤٌ مَّكْنُونٌ (الطور:24)

Dan berkeliling di sekitar mereka anak-anak muda untuk (melayani) mereka, seakan-akan mereka itu mutiara yang tersimpan.” (Surah Ath-Thur: 24)

Kata ghilmânun lahum di atas menunjukkan isyarat bahwa anak-anak kecil yang belum baligh akan menemui kembali keluarganya yang masuk surga dan berkumpul bersama mereka. Kata ghulam single dari ghilmân biasanya digunakan untuk usia kanak-kanak menjelang remaja/baligh.

(يَطُوفُ عَلَيْهِمْ وِلْدَانٌ مُّخَلَّدُونَ (الواقعة: 17)

Mereka dikelilingi oleh anak-anak kecil yang tetap kecil.” (Surah Al-Waqi’ah: 17)

Kata mukhalladûn setelah kata wildân mengisyaratkan mereka akan tetap menjadi anak-anak selamanya di surga. Anak-anak yang selalu menghadirkan keceriaan, kesenangan dan kebahagiaan bagi yang melihatnya. Bentuk single dari kata wildân adalah walîd yang berarti anak-anak dari sejak usia kecilnya. Diidentikkan anak kecil yang tidak berdaya atau lemah. Fir’aun pernah menyebut Nabi Musa dengan kata ini di Surah Asy-Syu’ara: 18. Juga termasuk yang dikecualikan atau mendapatkan keringanan dalam berhijrah atau berjihad fî sabîlillâh di zaman Rasulullah SAW (lihat Surah An-Nisa’: 35).

Maka, anak-anak kecil yang meninggal dunia pada hakikatnya merupakan tabungan bagi keluarganya, khususnya kedua orang tuanya. Anak-anak yang sudah lama dinantikan hadir di tengah keluarga, namun kemudian harapan itu sirna, tentu perih rasanya. Anak-anak kecil ceria yang menjadi pelipur lara dan pengibur orang tua di saat lelah dengan pekerjaan dan beban-beban hidup, tiba-tiba menghilang. Wajah-wajah yang menyajikan senyum dan tawa lebar tiba-tiba membuat rumah senyap, tentu berat bagi yang mengalaminya. Kehilangan mutiara-mutiara kehidupan itu berat dan sedih dirasa.

Itulah gambaran-gambaran kepedihan yang dialami oleh orang-orang yang kehilangan anaknya. Baik kehilangan karena belum sempat menatap dunia, atau karena sakit, atau karena kecelakaan, atau karena bencana alam atau pun sebab-sebab lainnya. Sedih yang tak  terbayangkan. Karena semua manusia yang normal sangat menyukai kehadiran anak-anak kecil. Keceriaan dan wajah lucunya menghias dan meramaikan suasana.

Lalu bagaimana jika anak-anak kecil itu hilang dari kehidupan keluarganya karena bencana kezhaliman dan peperangan yang dilakukan sesama manusia. Suriah, Iraq, Rakhine, Afghanistan, Somalia atau kejadian-kejadian lainnya yang berskala kecil sampai masif. Tetap saja menghadirkan luka di atas duka. Duka yang membuat luka semakin menganga. Lebar seolah tiada lagi ada yang sanggup menutup dan merajutnya, mengusir penderitaan dengan menghadirkan kebahagiaan.

Maka, jangan tanyakan tentang Palestina. Bahkan anak-anak kecil di sana sudah hilang urat takutnya. Mata-mata mereka tak lagi mengeluarkan air. Sedih, marah atau kecewa tak lagi bisa dibedakan. Waktu menangis ibu dan kakak mereka juga tak banyak. Karena kezhaliman sudah menjadi tayangan reguler harian. Kezhaliman seperti pertunjukan yang hanya ditonton, namun tak bisa dihentikan.

Jika ingin menjumpai mereka, temui mereka di surga. Dapatkan kembali mutiara-mutiara kehidupan yang hilang. WalLâhu al-Musta’ân.

 

Catatan Keberkahan 89

Jakarta, 15.02.2018

SAIFUL BAHRI

Pergi dan Kembali

Berpisah dengan orang yang dicintai tentu berat dan menyedihkan. Apalagi jika kehilangan untuk selamanya. Allahlah yang menyatukan orang-orang yang lama berpisah. Disatukan secara fisik dalam keadaan sehat dan sangat baik. Kadang ada yang dipertemukan secara fisik, salah satunya jasad yang ditinggal nyawa. Kadang Allah menyatukan puzzle-puzzle memori seseorang ketika kembali ke tempat asalnya, atau tempat leluhurnya.

Seorang lelaki bernama Farukh meninggalkan keluarganya. Ia tinggalkan istrinya, Suhailah bersama 30 ribu dinar. Ia tak tahu kalau istrinya sedang hamil. Ia keluar dari kota Madinah untuk berjihad ke Khurasan dan beberapa tempat lainnya. 27 tahun ia berjihad mengawal risalah kenabian Muhammad SAW dan menyebarkan dakwahnya. Relung kerinduannya menyeruak, mengusik hatinya. Ia pun bergegas kembali ke Madinah, menengok keluarganya, setelah hampir tiga dasawarsa tanpa kabar.

Farukh memasuki Madinah. Dengan syahdu ia shalat di Masjid Nabawi. Usai shalat ia saksikan sebuah halaqah ilmu yang dihadiri orang banyak, membludak. Ia tak tahu, siapa suara pemuda yang dikelilingi orang-orang. Ia pun bertanya. Mereka menduga ia bukan penduduk Madinah, karena tak mengenal seorang alim tersohor bernama Rabiah ar-Ra’yi. Setelah halaqah ilmu selesai, ia menjenguk Suhailah. Sesampai di rumah, seorang pemuda menghalanginya memasuki rumah. Dalam beberapa riwayat disebut sampai terjadi percekcokan antara Farukh dan sang pemuda. Hingga muncullah Suhailah. Pertemuan yang mengharukan yang tak diperkirakan sebelumnya olehnya dan anaknya.

Suhalilah ditanya Farukh, apakah uang yang ditinggalkannya mencukupi? Suhailah mempersilakan Farukh memasuki rumah dan menyediakan hidangan untuknya. Ia akan beritahu harta yang dititipkan kepadanya.

“Pergilah dan shalatlah di masjid Nabawi, Farukh”

“Iya. Aku sudah melakukannya” Farukh menyahutinya

“Apakah engkau mendengar orang-orang menyebut tentang Rabi’ah ar-Ra’yi, orang alim yang berilmu seluas samudra?”

“Betul, aku mendengarnya demikian” Farukh menjawab pelan

“Apakah engkau rela, seandainya uangmu kugunakan untuk mendidik seseorang yang punya ilmu seperti dia?” Suhailah serius bertanya

“Pasti istriku. Pasti!”

“Ketahuilah, Rabi’ah itu anakmu! Apa yang kau titipkan kepadaku kunafkahkan untuknya!”

Farukh berdiri kemudian berlari memeluk anaknya. Kemudian ia keluar dan berteriak, “Rabi’ah ar-Ra’yi adalah anakku”

*****

Adalah anak kecil yang yatim yang dibawa oleh ibunya, mengunjungi tanah leluhurnya. Sepeninggal ayahnya, Muhammad Idris kembali ke Mekah. Ia menghafal al-Quran di sana, kemudian berpindah ke Madinah untuk menjadi murid Imam Malik, sang guru besar hadis Nabi Muhammad SAW. Kemudian ia hijrah ke Yaman, lalu ke Baghdad dan menjadi ulama terkenal di sana. Kemudian beliau juga menetap di Mesir hingga akhir hayatnya.

Anak yatim, sang musafir yang berhobi travelling ini adalah seorang alim di antara empat imam madzhab. Imam Muhammad bin Idris asy-Syafi’i. Saat ia kembali ke tanah haram, ia mengumpulkan memori asal dirinya yang bersuku Quraisy. Pun saat beliau terinspirasi sabda Nabi Muhammad SAW untuk mengunjungi tiga masjid suci. Menariknya, saat beliau ke Masjid al-Aqsha adalah saat kembalinya memori masa kecilnya di sebuah wilayah yang tak jauh darinya. Beliau di lahirkan di Gaza. Semenjak Umar bin Khattab menaklukkan Baitul Maqdis, beliau mengangkat Ubadah bin Shamit sebagai Qadhi di sana juga menugaskan Syadad bin Aus. Para sahabat tak sedikit yang berbondong-bondong ke tanah suci kiblat pertama umat Islam ini. Para tabi’in meneruskannya, Muqatil, al-Auza’i, Sufyan ats-Tsauriy, Lays bin Sa’d. Imam Syafi’i termasuk dalam kafilah para ulama yang berkunjung ke Masjid al-Aqsha dan sempat mengajar di sana. Masjid al-Aqsha mengumpulkan puzzle-puzzle memori para tokoh. Baik pengalaman pribadi mereka atau menelusuri jejak kenabian saat hendak bermi’raj bertemu Allah.

Tak sedikit, anak-anak kecil dan para istri yang dipisahkan secara zhalim dengan ayah, suami atau saudara. Dipisahkan oleh tembok rasial. Dijauhkan oleh kezhaliman yang didiamkan banyak manusia. Kezhaliman yang seringnya hanya terlihat dibalik kaca televisi atau media sosial. Semoga Allah segera pertemukan kembali mereka. Dengan sebuah pertemuan yang mulia. Melalui kemenangan yang mengakhiri penjajahan dan kezhaliman yang sudah sangat lama. Seperti Farukh, ketika shalat fajar di Masjid Nabawi, atau seperti Imam Syafi’i saat kembali ke tanah kelahirannya, mengunjungi Baitul Maqdis dan mengajarkan ilmu yang didapatkan dari jejak-jejak leluhurnya. Wallahu al-Musta’ân.

 

Catatan Keberkahan 88

Jakarta, 08.02.2018

SAIFUL BAHRI

Anak-Anak Yatim Hebat

Kata “yatim” dalam bentuk single disebut di dalam al-Quran sebanyak 9 kali. Sedangkan kata “yatâmâ” yang berarti plural anak-anak yatim disebut sebanyak 13 kali. Posisi anak yatim sangat dimuliakan dalam al-Quran. Tak sedikit orang-orang hebat yang disebut al-Quran adalah anak-anak yatim. Pemimpin para pecinta anak yatim adalah Nabi Muhammad SAW, yang dulunya merupakan anak yatim, karena beliau tak pernah bertatap muka dengan ayah kandungnya. Tak heran, beliau sangat mencintai anak yatim. Para pengkafil yatim beliau janjikan akan selalu dekat dengannya nanti di surga Allah. Dan siapa yang menghardik dan memusuhi atau berbuat zhalim kepada anak yatim sama saja bermusuhan dengannya juga termasuk satu dari sekian karakter para pendusta agama Allah.

Nabi Isa as. juga anak yatim, karena memang beliau tak pernah memiliki ayah secara biologis. Beliau menjadi tanda kekuasaan penciptaan Allah. Sama halnya Adam as, yang juga tak pernah memiliki orang tua, karena dia diciptakan Allah sebagai manusia pertama yang tak berhubungan dengan ciptaan Allah lainnya. Adam diciptakan dari ketidakadaan.

Maryam, ibu Isa, juga terlahir sebagai anak yatim. Ia disiapkan Allah menjadi pembuka munculnya ayat-ayat dan tanda kekuasaan Allah di masa yang akan datang.

Sedangkan Yusuf as. meski ia memiliki orang tua, tapi masa kecil, remaja hingga dewasanya menjadi yatim. Karena beliau dijauhkan dari ayahnya juga keluarganya.

Nabi Ismail as. putra Nabi Ibrahim, juga menjadi yatim sejak kecilnya, karena dihijrahkan ke tempat yang jauh dari ayahnya. Ia juga hanya beberapa kali saja berjumpa dengan ayahnya.

Anak yatim mungkin sebuah istilah yang seringnya diperuntukkan menggambarkan kondisi seorang anak yang kehilangan ayahnya. Sebenarnya kehilangan ayah tidaklah hanya kehilangan permanen, bisa juga karena banyak hal anak-anak kehilangan ayahnya. Kehadiran fisiknya tak ada, kabarnya tak diketahui, tidak jelas rimbanya. Hal itu lebih menyedihkan jika sang ayah sebenarnya masih berstatus sebagai orang yang ada atau masih hidup.

Di bumi keberkahan Baitul Maqdis, mungkin saat ini bila dipersentasikan jumlah anak-anak yatim sangat banyak. Keyatiman yang terjadi bila diakibatkan sebab-sebab natural, barangkali kondisi seperti ini bisa diantisipasi, baik oleh perorangan atau kelembagaan melalui lembaga-lembaga kemanusiaan. Tapi, seandainya anak-anak yatim itu hadir dan muncul akibat sebuah peristiwa kerusakan atau keburukan yang disebabkan oleh kezhaliman, maka itulah yang harus segera diselesaikan oleh semua manusia yang masih memiliki nurani.

Anak-anak kecil di Gaza dan sebagian besar wilayah Palestina yang tinggal menyisakan beberapa persen saja dari wilayah aslinya, adalah gambaran suram bentuk keyatiman yang memprihatinkan. Mereka bahkan bukan kehilangan ayah tapi juga kakak-kakaknya. Sang ayah dan kakak, sebagian meninggal sebagai korban perang, atau di dalam penjara Zionis Israel tanpa bisa dilacak keberadaannya. Sebagian lagi, diketahui berada di dalam penjara, namun tak bisa ditemui dengan tanpa alasan yang jelas. Sebagian lain, menghilang tanpa kabar. Sebagian berada jauh di suatu tempat, sebagian lagi tidak menentu di tempat-tempat pengungsian, beranak-pinak di pengungsian tanpa memiliki tanah air dan tak pernah bisa kembali untuk menjenguk anak-anaknya yang dulu.

Jika, saja al-Quran menganjurkan umat Islam untuk memperhatikan anak-anak yatim secara umum. Lalu, anak-anak yatim yang sangat menderita akibat kezhaliman di Palestina, sudah semestinya harus diakhiri penderitaan mereka. Belumlagi, anak-anak yatim yang juga berada di balik jeruji besi kezhaliman Israel. Meskipun, faktanya para pejuang yang hebat selalu terlahir sebagai anak-anak kecil. Fakta mencengangkan terjadi justru angka kelahiran tumbuh berkembang di Palestina, dalam keadaan yang sangat sulit.

Wahai orang-orang yang ingin bertetangga dengan Rasulullah SAW, berbuatlah sesuatu untuk anak-anak yatim Baitul Maqdis. Wallahu al-Musta’ân.

 

Catatan Keberkahan 87

Jakarta, 01.02.2018

SAIFUL BAHRI