Pelita-Pelita Baitul Maqdis

Maimunah pernah bertanya dan meminta fatwa tentang Baitul Maqdis kepada Rasulullah SAW. Kemudian beliau menjawab, “Tempat kebangkitan dan perkumpulan (manusia). Datanglah ke sana dan shalatlah di dalamnya, sesungguhnya shalat di sana setara dengan seribu shalat  di tempat lainnya”. Maimunah bertanya, “Bagaimana jika saya tak bisa ke sana?”. Rasulullah bersabda, “Hadirkanlah minyak zaitun untuk meneranginya, siapa yang mengerjakannya seperti halnya datang di sana” (HR. Ahmad, Abu Dawud, Ibnu Majah dan Ath-Thabrany).

Kegigihan Maimunah menarik untuk ditadabburi dan diteladani. Setelah Rasul SAW menjelaskan keutamaan Baitul Maqdis, Maimunah mencari tahu opsi lain untuk meraihnya, ketika ia terjebak dalam keterbatasan. Dan beliau memberi solusi lain untuk meraih keutamaan tersebut. Setelah itu, tidak dijelaskan apa yang dilakukan Maimunah. Orang cerdas sanggup membaca kelanjutan kisah di atas. Pertanyaan dari seorang budak lemah yang dijawab dengan penuh hikmah.

Demikian halnya saat Rasulullah SAW mengajarkan Islam kepada Shuhaib ar-Rumiy, Bilal bin Rabah dan beberapa budak, datang para pembesar dan bangsawan Quraisy kepada beliau. Dengan muka berseri beliau menyambut semua tamu, tanpa membedakannya. Mempraktekkan sunnahnya, memuliakan dan menghormati tamu. Namun, ketika para bangsawan tersebut menolak duduk sejajar dengan para budak, mereka merasa lebih mulia dari budak-budak itu, kemudian mereka meminta agar para budak itu disuruh pulang. Rasulullah SAW salah tingkah dan berubah mimik wajahnya. Allahlah yang kemudian menjawabnya dengan keras, “Dan janganlah kamu mengusir orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan petang hari, sedang mereka menghendaki keridhaan-Nya. Kamu tidak memikul tanggung jawab sedikit pun terhadap perbuatan mereka dan merekapun tidak memikul tanggung jawab sedikit pun terhadap perbuatanmu, yang menyebabkan kamu (berhak) mengusir mereka, (sehingga kamu termasuk orang-orang yang zalim).” (QS. Al-An’âm: 52)

Apa yang menyebabkan para bangsawan tersebut merasa lebih baik dari Bilal dan Shuhaib? Atau bahkan seorang budak perempuan seperti Maimunah? Harusnya mereka malu, demikian juga kita. Karena mereka memiliki tekad kuat untuk meraih kemuliaan, meskipun itu sekedar menyalakan pelita di Baitul Maqdis. Keterbatasan kondisi Maimunah tak membuatnya menyerah untuk meraih kemuliaan Baitul Maqdis. Demikian halnya Shuhaib dan Bilal, meraih posisi penting di sisi Rasulullah SAW. Bahkan Bilal, sang muadzin Rasulullah SAW disabdakan bahwa beliau mendengar terompah Bilal di surga.

Kehidupan modern dan suasana metropolitan kota-kota besar, serta hilangnya daya tarik spiritual membentuk karakter manusia menjadi tamak dan memandang sesamanya dengan ukuran materi. Kemuliaan mereka distandarkan dengan sudut pandang matrealistik. Padahal kekayaan adalah ujian berat Allah untuk manusia, “…Tidakkah Allah lebih mengetahui tentang orang-orang yang bersyukur (kepada-Nya)?” (QS. Al-An’am: 53)

Saatnya setiap kita berpikir meraih kemuliaan dengan perencanaan yang disesuaikan dengan kondisi masing-masing. Bahkan, sekalipun ada ukuran materi maka materi tersebut sekedar menjadi simbol kemuliaan. Mari, tadabburi pesan Allah di ayat selanjutnya, “Apabila orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami itu datang kepadamu, maka katakanlah: “Salâmun ‘alaikum. Tuhanmu telah menetapkan atas diri-Nya kasih sayang…” (QS. Al-An’âm: 54)

Saat diri kita berada dalam komunitas kaum beriman pun, ukuran kebaikannya adalah yang pertama mendoakan dan membacakan salam, salâmun alaikum! Ini menandakan bahwa pacuan kebaikan itu terjadi di mana saja dan kapan saja dengan ukuran yang berbeda-beda. Belajarlah dari Abu bakar (baca: Mengerahkan Segalanya) yang selalu ingin memberi yang terbaik.

Shuhaib, Bilal dan Maimunah telah memiliki rencana mereka meraih kemuliaan dengan kondisi mereka. Apa perencanaan kita? Masih mengeluh dengan keterbatasan? WalLâhu al-Musta’ân.

 

Catatan Keberkahan 75

Jakarta, 27.10.2017

SAIFUL BAHRI

Iklan

Rahasia Tasbih Ketundukan dan Takbir Kemenangan


Ada yang menggelitik penulis ketika mendengar sambutan singkat Syeikh Abdul Jalil al-Karuriy pada pembukaan seremonial Multaqa Ruwwad ke-9 yang diadakan di Istanbul pada 20-21 Oktober 2017. Beliau mengomentari pembacaan ayat surah al-Isra’ yang diawali dengan tasbih dan diakhiri dengan takbir. “Jika suatu usaha pembelaan terhadap Masjid al-Aqsha dibuka dengan tasbih kepada Allah, maka insyaallah akan berakhir dengan sebuah takbir kemenangan.” ungkapnya dengan penuh semangat yang mengundang tepuk tangan para peserta.

Surah al-Isra’ yang dalam beberapa mushaf juga disebut dengan Surah Bani Israil, dibuka dengan sebuah kejadian fenomenal yaitu Isra’ Nabi Muhammad SAW. Perjalanan dahsyat dari Masjid al-Haram ke Masjid al-Aqsha tersebut terekam secara tekstual dalam surah ini. Rasulullah SAW dipanggil menghadap Allah untuk menerima sebuah titah tentang shalat. Allah tak langsung memberangkatkan beliau ke Sidratul Muntaha dan kemudian ke suatu tempat yang hanya diketahui-Nya. Namun, beliau ditransitkan di Masjid al-Aqsha. Tentu hal ini mengandung hikmah tersendiri berupa amanah yang diberikan kepada beliau dan umatnya untuk menjaga Masjid al-Aqsha.

Kajian tematik surah ini menunjukkan perilaku buruk Bani Israil di masa lalu dan prediksi al-Quran tentang masa depan mereka yang juga tak kalah buruknya. Kerusakan-kerusakan yang dilakukan atau disebabkan oleh mereka ini kelak akan menjadi sebab punahnya mereka. Hal ini menjadi stimulus tersendiri bahwa kekuatan mereka yang mungkin terkesan hebat, pada hakikatnya menjadi salah satu penyebab utama kehancuran mereka. Hal tersebut karena kelebihan tersebut justru dijadikan alat dan sarana terjadinya kerusakan di bumi ini. Saat itulah Allah mengganti mereka dengan generasi yang mentauhidkan-Nya, Allah mengganti mereka dengan generasi yang sungguh-sungguh dan benar-benar mengagungkan asma-Nya.

Maka, dalam perjuangan melawan berbagai kezhaliman, termasuk yang dilakukan oleh penjajah di Palestina sudah semestina diawali dengan tasbih yang menjadikannya sebagai sarana totalitas ketundukan. Ketika bertasbih, seorang pejuang sedang menyucikan Allah. Ini maknanya, ia juga menyucikan niat perjuangannya, menyucikan motivasi perjuangannya, menyucikan diri dari godaan-godaan yang mungkin dijumpai di antara perjuangannya; godaan popularitas, materi dan lain sebagainya.

Jika seorang mampu melakukan tasbih secara total, maka akan menjadi nyata kata “SUBHANA” yang berbentuk mashdar yang menjadi akar kata dalam ungkapan kata Bahasa Arab. Artinya, dengan atau tanpa adanya orang-orang yang bertasbih kepada-Nya, Allah tetap saja Mahasuci. Sebelum adanya manusia pun alam seisinya sudah bertasbih kepada-Nya (sabbaha lillâh), dan hingga saat ini pun alam tetap saja menyucikan dan bertasbih kepada-Nya (yusabbihu lillâh). Maka tak heran, Allah juga memerintahkan manusia untuk bertasbih kepada-Nya (sabbihisma rabbika).

Totalitas tasbih ketundukan ini benar-benar akan menundukkan ego dan pamrih para pembela kebenaran dan pejuang yang melawan kezhaliman. Jika, mereka melakukannya dengan benar, maka mereka akan dengan mudah bertakbir mengagungkan Allah. Dalam shalat pun Allah menjadikan takbir sebagai pembuka dan pertanda perpindahan gerakan-gerakan shalat. Tasbih dan takbir sangat berkaitan erat. Karenanya kata-kata ini menjadi dzikir yang paling banyak yang dibaca seorang mukmin dalam shalatnya.

Jika takbir seperti ini sudah bisa dilakukan dengan ringan dan kontinyu, maka akan datang saatnya sebuah pekikan takbir kemenangan. Takbir yang menandai sebuah kuasa Sang Pemaksa yang mengirim para penakluk dan pengusir kezhaliman. Takbir yang menandai keagungan kuasa Sang Agung yang tiada berbatas. Takbir yang menandai kemenangan dan keberpihakan kebenaran meskipun sedikit pembelanya dan dilecehkan oleh banyak orang. Takbir pertanda raihan keberuntungan dan kebahagiaan. AlLâhu Akbar walLâhu al-Musta’ân.

 

Catatan Keberkahan 74

Istanbul, 21.10.2017

SAIFUL BAHRI

Motivasi “Insyâ’alLâh”

Motivasi Allah kepada Nabi Muhammad SAW dan umatnya selalu menghadirkan nuansa inspiratif yang dahsyat. Di antara sekian motivasi, simaklah dahsyatnya motivasi kalimat insyâ’alLâh yang dikisahkan melalui cerita tentang seorang anak kecil (Ismail) dan seorang Nabi Syu’aib, mertua dari Nabi Musa AS.

Saat Nabi Ibrahim bermimpi mendapat perintah untuk menyembelih putra tercintanya Ismail, beliau mendapati anaknya yang masih kecil menjelma menjadi kedewasaan yang sempurna.

Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insyâ’alLâh kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar” (Ash-Shâffât: 102)

Jawaban Ismail mengajarkan kita tiga hal penting:

  1. Dia memanggil ayahnya dengan panggilan sayang (yâ abati) meskipun selama ini ayahnya jauh secara fisik tapi efektif dalam pembinaan akidah melalui ibunya.
  2. “Kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu” (if’al mâ tu’mar) menandakan bahwa dia sangat paham siapa yang memerintah ayahnya.
  3. (ستجدني إن شاء الله من الصابرين) “insyâ’alLâh kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”. Adalah sebuah motivasi untuk sungguh-sungguh berusaha menjadi seorang penyabar kemudian berserah diri ada Allah dari usaha yang dilakukannya.

Energi positif dari pernyataan Ismail adalah mendidik anak-anak yang kelak akan menjadi generasi penerus ini selalu kuat mental dan prinsip serta kokoh akidahnya. Seberapa berat cobaan yang dihadapi, dengan mudah ia akan katakan “insyâ’alLâh kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”. Untuk menjadi pribadi yang sabar secara benar tidaklah mudah, perlu kedewasaan, perlu tempaan matang, perlu kokohnya pertautan kepasrahan kepada Allah. Anak kecil ini menjadi dewasa. Sangat berbeda dengan anak-anak sekarang umumnya yang dewasa secara biologis, namun sayangnya rapuh secara prinsip dan ideologis serta psikologis.

Kisah kedua yang bisa dijadikan motivasi adalah jawaban Nabi Syuaib setelah mendengar kisah pelarian Nabi Musa. Berkatalah dia (Syu’aib): “Sesungguhnya aku bermaksud menikahkan kamu dengan salah seorang dari kedua anakku ini, atas dasar bahwa kamu bekerja denganku delapan tahun dan jika kamu cukupkan sepuluh tahun maka itu adalah (suatu kebaikan) dari kamu, maka aku tidak hendak memberati kamu. Dan kamu insyâ’alLâh akan mendapatiku termasuk orang-orang yang baik“. (Al-Qashash: 27)

Dengan berkata demikian Nabi Syuaib ingin memberikan motivasi pada Musa, bahwa seberat apapun masalahnya Allah akan memberi jalan keluar yang baik. Hal ini sekaligus juga memotivasi dirinya untuk menjadi jalan keluar yang baik tersebut. “Insyâ’alLâh aku termasuk orang baik!” Menariknya ia menawarkan kerjasama (simbiosis mutualisme) yaitu dengan menjadikannya menantu yang baik.

Spirit dua “insyâ’alLâh” di atas bisa dijadikan quotes motivation yang menginspirasi umat ini. Bahwa seberat apapun masalah yang dihadapi, semakin banyak anak-anak yang mengatakan seperti ungkapan Ismail, maka takkan perlu ada yang dicemaskan. Karena, bila anak-anak kecil saja berani menyatakan demikian, sudah seharusnya orang-orang dewasa malu jika tak mampu mengatakannya.

Demikian halnya saat terjadi banyaknya problematika di tengah masyarakat, ungkapan insyâ’alLâh Nabi Syu’aib menjadi inspirasi bahwa sudah seharusnya para orang tua menjadi penenang. Menjadi jalan keluar yang baik. Memotivasi anak-anak muda untuk tidak menyerah dengan rintangan. Dan justru dengan masalah yang terjadi adalah jalan terbaik merekrut kader-kader penerusnya, sekaligus diajak bekerja sama dengan baik.

Tiga komponen umat yang terdiri anak-anak, orang tua, anak muda bersatu, rasanya tak perlu mencemaskan kondisi apapun yang terjadi. Karena, semuanya memiliki pertautan kepasrahan yang produktif kepada Allah. Yaitu, berupa kesabaran yang menggerakkan dengan dahsyat, serta kesalihan yang memotivasi diri dan orang lain untuk lebih kuat dari masalah, seberat apapun masalah yang dihadapi. AlLâhu al-Musta’ân.

 

Catatan Keberkahan 73

Jakarta, 15.10.2017

SAIFUL BAHRI

Menjadi Generasi Sekarang

Ketika menjumpai kondisi yang negatif atau terpuruk, kita sering menggunakan pendekatan motivatif futuristik. Misalnya, saat melihat kondisi umat Islam secara umum di Timur, Barat, Utara dan Selatan, hampir semuanya seolah terstigmatisasi negatif. Belum lagi, bila bicara tentang krisis kemanusiaan yang dahsyat di abad ini. Suriah dan Rohingya, adalah kasus-kasus besar yang mengimbuhi masalah berat sebelumnya, Palestina yang juga belum terlihat ujung solusinya. Biasanya, untuk melipur lara tak jarang kita mengalihkan semangat juang ke generasi setelah kita. Maka secara otomatis, itu sama dengan mengatakan bahwa diri kita tidaklah hadir sebagai solusi. Atau kurang percaya diri tampil memberi solusi dan justru banyak berharap pada generasi akan datang.

Jika estafet ini berlanjut, maka tidak mustahil kendala yang sama akan dialami oleh generasi setelah kita. Mereka akan melakukan estafet masalah dan estafet harapan. Mereka pun saat menjadi “sekarang” akan mengatakan bahwa solusinya ada di generasi “mendatang”. Demikian terjadi dan akan terus tak berujung.

Maka, sudah saatnya umat Islam ini mengatakan dan mendoktrin dirinya bahwa dialah generasi sekarang yang harus hadir sebagai solusi, bukan keturunannya. Benar, mereka akan melanjutkan, tapi bukan sekedar melanjutkan mimpi saja. Namun, lebih pada melanjutkan aksi nyata yang mengatrol prestasi umat ini.

Maka, semangatnya adalah semangat “SEKARANG”. Lakukan sekarang, mulai dari yang mungkin untuk dimulai. Kemudian lakukan secara komunal dan masif. Belajarlah semangat “sekarang” ini dari Zulaikha, “Berkata isteri Al Aziz: “Sekarang jelaslah kebenaran itu, akulah yang menggodanya untuk menundukkan dirinya (kepadaku), dan sesungguhnya dia termasuk orang-orang yang benar” (QS. Yusuf: 51)

Pendekatan “sekarang” bisa lebih membuka diri untuk melakukan pendekatan introspektif dibanding menyalahkan orang lain. Dengan pendekatan tersebut, seseorang tidak fokus pada masalah atau penyebab masalah. Ia akan fokus pada mencari solusi dan jalan keluar.

Lihat pula apa yang diberikan oleh Allah kepada orang-orang yang terus mempertahankan spirit juangnya, “Sekarang Allah telah meringankan kepadamu dan dia telah mengetahui bahwa padamu ada kelemahan. Maka jika ada diantaramu seratus orang yang sabar, niscaya mereka akan dapat mengalahkan dua ratus orang kafir; dan jika diantaramu ada seribu orang (yang sabar), niscaya mereka akan dapat mengalahkan dua ribu orang, dengan seizin Allah. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar” (QS. Al-Anfal: 66)

Maka permasalahannya terletak pada manajemen harapan. Kitalah yang seharusnya mengharapkan untuk menyaksikan diri terlibat langsung terhadap penyelesaian masalah yang saat ini terjadi. Kalau pun itu tidak terjadi maka generasi setelah kita akan meningkatkan usahanya lebih gigih dank eras lagi. Mentalitas “sekarang” ini jugalah yang akan mendesak dan mengusir kebiasaan menunda dan inferior (rasa rendah diri) serta tak percaya dengan kemampuan yang Allah berikan.

Jika melihat secara internal, setiap manusia selalu dibekali keistimewaan oleh Allah dengan segudang potensi positif dan prestasi. Jika melihat kepada eksternal, maka seseorang akan menempatkan diri secara proporsional. Ia tak sombong dengan tetap menghormati orang lain (tidak terlalu merasa superior), tidak juga merasa buruk jika dibandingkan orang lain.

Semangat inilah yang dimiliki oleh para sahabat Nabi Muhammad saw. Kuburan mereka menyebar ke pelosok dunia, karena jiwa ekspansif yang termotivasi menyebar kebaikan. Mereka pun tak pernah takut kepada selain Allah, dengan segala keterbatasan. Jadilah, mereka disegani kemudian membuka pintu dakwah dan kemenangan bagi generasi setelahnya. Jadilah Umar atau Shalahuddin yang akan menaklukan kezaliman di Baitul Maqdis dan sekitarnya. Atau setidaknya bisikkan pada diri ini, akan benar-benar menyaksikan kehadiran Umar atau Shalahuddin tak lama lagi. AlLâhu al-Musta’ân.

 

Catatan Keberkahan 72

Jakarta, 10.10.2017

SAIFUL BAHRI

Yusuf Sang Penakluk

Yusuf bin Ayyub, Abu al-Muzhaffar Shalahuddin al-Ayyubi.

Namanya bertahan lebih dari 830 tahun. Dia yang taklukkan sang penakluk (al-Qâhirah), kota baru bernama Cairo yang dibangun Panglima Jauhar ats-Tsaqiliy untuk dijadikan sebagai ibukota Dinasti Fatimiyah. Tadinya, ibukota Mesir adalah Fustat, sejak Amr bin Ash memasuki Mesir.

Saat Fatimiyah berkuasa, di sebelah Timur Laut Fustat dibangun kota baru yang menjadi jantung kekuasaan. Khalifah al-Muiz li Dinillah lah yang menamakan kota itu dengan al-Qahirah, pada 11 Juni 972 M. Tahun 1168 M Fustat dibumihanguskan sebagai strategi menahan Pasukan Salib. Al-Maqrizy menggambarkan suasana kota yang mencekam setelah dibakar selama 45 hari. Sepi, lengang, tak bertuan, padahal tadinya menjadi pusat kekuasaan.

Tiga tahun berikutnya (1171 M) Shalahuddin menaklukkan Cairo dan mengakhiri kepemimpinan Dinasti Fatimiyah, sekaligus menjadi tanda berdirinya Dinasti Ayyubiyah. Shalahuddin segera membangun benteng-benteng yang melindungi Mesir dan Cairo dari serangan pasukan salib. Benteng megah dengan perencanaan supercerdas itu bukan hanya menjadi tembok kokoh, namun difungsikan sebagai supplier air bersih untuk para penduduk. Paduan benteng dan saluran air itu memanjang, mengelilingi kota Cairo. Sebagian benteng  dan sumur tua tersebutbisa dilihat di Qal’ah Shalahuddin (Saladin Citadel) yang terletak di kawasan al-Abaqea, Cairo.

Shalahuddin tak hanya berbekal tentara untuk menaklukkan Cairo dan Dinasti Fathimiyah. Mesir ditundukkan dengan kekuatan pribadinya, sebelum tentaranya. Rakyat menjadi padu bersamanya melawan gempuran dahsyat Pasukan Salib ke Mesir. Dan tak mampu –bahkan- injakkan kaki lama-lama di bumi para nabi tersebut. Shalahuddin bersama rakyat Mesir gagalkan ekspansi salibis.

Yusuf muda, taklukkan kota penakluk dengan akhlak dan karakternya yang kuat dan berpengaruh. Hal yang sama ia lakukan saat menaklukkan Damaskus. Cairo dan Damaskus adalah dua kota penting yang menjadi gerbang penaklukan Masjid al-Aqsha. Kemudian, perang puputan di Hithin, 4 Juli 1187 M menjadi mimpi buruk bagi pasukan Salib yang menguasai Masjid al-Aqsha dan Jerusalem. (baca: http://www.aspacpalestine.com/id/item/736-para-inspirator)

Pasca kemenangan di Hithin memberikan suntikan mental bagi umat Islam sekaligus tekanan psikis yang buruk bagi aliansi pasukan salib. Terlebih dengan terbunuhnya tak sedikit dari pasukan elit mereka (Ksatria Templar). Selanjutnya Shalahuddin lebih intensif melakukan strategi penguasaan daerah yang mengelilingi Jerussalem (Al-Quds). Dalam waktu singkat, berturut-turut kota-kota yang ditaklukkan Shalahuddin: Asqalan, Akka, An-Nashirah, Haifa, Nablus, Denin, Bisan, Yafa, Beirut, Ramallah, Betlehem, al-Khalil.

Kabar kemenangan Shalahuddin semakin membuat Jerusalem gempar. Al-Quds yang selama 88 tahun di bawah kekuasaan dan kendali Kristen semakin menyadari detik-detik akhir kekuasaannya. Akhirnya, pada tanggal 2 Oktober 1187 M, Masjid al-Aqsha kembali ke pangkuan umat Islam.

Sejak tahun 1948 sampai saat ini Masjid al-Aqsha, Jerusalem dan Palestina diduduki dan dijajah oleh Zionis Israel. Sudah 69 tahun lamanya, umat Islam merindukan kembalinya masjid suci tersebut ke tangan umat Islam.

Siapa yang bersedia menjadi Yusuf-Yusuf sang penakluk itu? Atau setidaknya melahirkan dan membesarkannya, menyiapkannya memasuki kota Jerusalem dengan penuh izzah seperti 830 tahun yang lalu.

Mulailah proyek penaklukan itu dari diri dan keluarga. Jangan katakan itu menjadi garapan anak cucu kita, karena jika itu yang kita lakukan maka takkan berujung menjadi kenyataan. Namun, jika kita bertekad kitalah yang menjadi Yusuf Shalahuddin, bisa jadi kalau tak terwujud anak cucu kitalah yang meneruskannya. AlLâhu al-Musta’ân.

 

Catatan Keberkahan 71

Jakarta, 02.10.2017

SAIFUL BAHRI

*) Dedicated to Shalahuddin al-Ayyubi. Mengenang al-Fathu ash-Shalâhy (02.10.1187 M/27.07.853 H)