Mengerahkan Segalanya


Umar bin Khattab dan sahabat Nabi saw menjadikan peristiwa hijrah ke Madinah adalah patokan penghitungan kalender Islam. Dalam hijrah terdapat berbagai spirit positif yang menandai kenaikan level peradaban Islam. Spirit kegigihan dan pantang menyerah, totalitas pengorbanan dan kebersamaan, spirit menjaga eksistensi dan keberlangsungan estafet dakwah.

Hijrah bukan sekedar menjadi momen pergerakan atau perpindahan fisik dari satu tempat ke tempat lainnya. Namun, hijrah adalah perpindahan level keberagamaan; dari level kesalihan individu menjadi level komunal yang lebih besar; mencapai level state (negara) yang berdaulat, independen dan bergaul dengan dunia internasional. Eksistensinya bukan hanya sekedar diakui, tapi sudah dalam tahap diplomasi dan negosiasi. Dialog dengan peradaban maju saat itu pun dilakukan, misalnya dengan dua negara aidaya, Romawi dan Persia. Meskipun, ada beberapa gangguan internal di Madinah dari kalangan ahli kitab (kaum status quo) yang merasa tersaingi. Atau pihak antagonis kuffâr Quraisy beserta sekutunya.

Dengan beberapa keterbatasan di periode awal Madinah, kondisi kaum muslimin jauh lebih baik daripada di Mekah. Karena, terlembagakan dan terstruktur secara sosial, politik, ekonomi dan budaya dengan cukup baik.

Penulis takkan mengajak menelusuri perjalanan hijrah Nabi Muhammad SAW. Kajian seperti ini banyak dikupas, dan pernah dikaji pada catatan terdahulu. Namun, satu hal yang menarik untuk dihighlight adalah apa yang dilakukan oleh seorang sahabat Nabi saw, Abu Bakar ash-Shiddiq.

Abu Bakar mengerahkan seluruh yang ia punya dan yang bisa dijangkau untuk melancarkan proses hijrah.

  1. Aisyah yang saat itu masih kecil, tapi nanti berperan meriwayatkan beberapa hadis yang terkait hijrah Nabi Muhammad SAW ke Madinah. Beliau adalah putri Abu Bakar sekaligus istri Rasulullah SAW.
  2. Kakaknya, Asma’ binti Abi Bakar, adalah orang yang menyalurkan logistik dan keperluan sehari-hari Rasulullah SAW padahal beliau saat itu sedang dalam kondisi hamil.
  3. Kakaknya, Abdullah bin Abu Bakar, berperan sebagai informan yang mencari tahu apa yang dibicarakan kaum Quraisy, termasuk sayembara perburuan terhadap Nabi Muhammad SAW.
  4. Pembantunya, Amir bin Fuhairah yang menggembala kambing untuk menghilangkan jejak perjalanan Nabi Muhammad saw dan Abu Bakar.
  5. Kolega bisnisnya, Abdullah bin Uraiqith. Meskipun ia belum memeluk Islam tapi dipercaya Abu Bakar sebagai penunjuk jalan ke Madinah melalui jalur yang tak biasa. Tak ada bukti sejarah yang menyatakan bahwa ia kemudian bersyahadat. Tapi, kejujuran dan profesionalismenya lah yang membuat Abu Bakar melibatkannya dalam sebuah peristiwa bersejarah ini.

Bukan kali ini saja Abu Bakar menjadi terdepan dalam pengorbanannya. Dalam Perang Tabuk, beliau memberikan dan mengerahkan segalanya. Karena, keluarganya selalu dididik untuk memberi dan mendermakan apa saja. Dididik mandiri dan menjadi solusi bagi masalah sosial yang terjadi, dan bukan menjadi beban serta problem.

Jika, saat ini umat Islam secara umum secara politik, ekonomi, budaya menjadi kelompok yang kurang menonjol, bahkan mungkin tertindas dan terstigma negatif, maka sosok seperti Abu Bakar sangat dinantikan. Muslim Rohingya di Rakhine, Myanmar, ancaman Zionis di Palestina, kondisi Suriah membuat sebagian umat Islam menjadi underestimate. Padahal, yang perlu dilakukan bangkit dan menjadi “Abu Bakar”. Mengerahkan keluarga dan semua daya jangkau untuk melakukan hijrah spirit, hijrah cara berpikir dan siap berkorban apa saja.

Geliat pengkajian keislaman di perkantoran, masjid-masjid saat week end, serta maraknya semangat menghafal al-Quran serta studi-studi dan konsultasi keislaman adalah pertanda bahwa ada banyak potensi positif. Belum lagi perubahan demografi di Eropa, terkhusus Rusia, Jerman, Perancis dan Inggris yang menyuguhkan data mencengangkan terkait populasi muslim di sana. Maka berbuatlah, jadilah Abu Bakar-Abu Bakar. WalLâhu al-Musta’ân.

Catatan Keberkahan 70

Jakarta, 23.09.2017

SAIFUL BAHRI

Iklan

Afrika

Dalam Mu’jam al-Buldân disebutkan; kata Afrika diambil dari sebuah nama penguasa negeri Saba’ di Yaman, Ifriqis bin Shaifiy, yang dikalahkan oleh rakyat Ethiopia. Dikejar-kejar dan terlunta-lunta hingga ke Libya, melewati padang pasir dan bertemu dengan kabilah Barbar yang mendiami tanah-tanah subur dan hijau. Nama Afrika mula-mula populer di timur benua ini. Sebagian sejarawan dan penulis Arab, mengambil derivasi nama Afrika dari kata “fu-ri-qa” yang berarti terpisah atau terbagi. Karena secara geografis, tanah Afrika terpisah dari Eropa dan Asia. Afrika terpisah oleh Laut Mediterania yang memisahkannya dengan Eropa serta Laut Merah yang membatasinya dengan Asia. Sebagian kecil -di ujung Mesir- kemudian dibelah sepanjang 160 kilometer dan dinamakan dengan Terusan Suez.

Jika Mesir adalah gerbang Islam di Afrika, maka kabilah Barbar adalah gerbang Islam ke Eropa. Tak mengherankan, jika di sepanjang pesisir utara Afrika dan sebagian wilayah timur, Islam sangat dominan, padahal sebelumnya tak terlihat. Pelahan namun pasti, peradaban Mesir kuno yang identik dengan kemajuan peradaban batu, namun secara ideologis menjadi negeri penyembah banyak dewa dan banyak sebutan untuk Tuhan mereka. Mesir berubah warna. Demikian juga negeri-negeri pesisir utara, Libya, Maroko, Tunisia, Aljazair, Moritania; bahkan kemudian disebut sebagai negara Arab. Penyebutan ini tidaklah didasarkan secara etnologis maupun geografis. Penamaan ini lebih bernuansa ideologis. Islam melekat sebagai identitas, menyatu dengan istilah Arab yang menjadi ciri komunikasi masyarakat muslim saat itu. Warna Islam ini pun tak hanya terjadi di utara dan timur, tapi menyebar hingga ke barat, tengah, sampai ke selatan, meskipun populasi dan persentasi kuantitas yang tak sama.

Negeri yang subur itu, pernah menjadi sasaran penjajahan. Pasca revolusi industri Eropa, negara-negara maju Eropa melakukan aneksasi terhadap negeri-negeri Afrika dan Asia. Mereka menjajah untuk mengeksploitasi sumber daya alam dan memperbudak orang-orangnya. Meski secara fisik penjajahan tersebut sesuai target, namun secara ideologis tak banyak berpengaruh. Pesisir utara Afrika, warna Islam tetap dominan dan Bahasa Arab menjadi bahasa resmi dan komunikasi rakyatnya.

Jika penjajahan fisik pernah dilakukan di masa lalu, maka di era revolusi telekomunikasi dan pasca gelombang ketiga –meminjam istilah third wave-nya Alvin Tofler- penjajahan fisik dilakukan sebagai finishing penjajahan mental. Sebagian negara-negara Afrika kini lebih banyak menjadi proxy dari kepentingan negara-negara besar. Sebagaimana hal yang sama terjadi di Asia, termasuk di Indonesia.

Tak heran, jika Zionis Israel membidik Afrika. Mereka hendak menancapkan pengaruh. Dimulai dari tengah, karena merasa sudah menggenggam jalur masuk Afrika, Mesir sebagai salah satu pintunya. Dengan jargon normalisasi Israel-Afrika, mereka hendak melaksanakan KTT di Togo Oktober ini. Afrika, masih memiliki nurani dan solidaritas kepada Palestina. Arus normalisasi ini terblok dan batal dilaksanakan. Headline media masa dunia memberitakan pengunduran waktu yang belum definitif. Tentunya, warga Afrika tetap berharap normalisasi ini tak dideklarasikan. Rakyat Afrika tahu, bahwa penjajahan Israel terhadap Palestina tidak bisa dibenarkan. Mereka tahu, sebagian pejabat atau pengusaha dan orang-orang kaya di benua ini bermain belakang dan mengambil keuntungan dari normalisasi ini. Mereka yang sudah menjalin hubungan tentu ingin pengesahan terhadap apa yang dilakukan. Alhamdulillah, nurani mayoritas rakyatnya menolaknya. Karena, memang penjajahan tidaklah bisa dibenarkan secara kemanusiaan. Apalagi jika manusia tersebut adalah muslim, maka setidaknya ada dua simpul yang menjadikannya menolak penjajahan Israel, yaitu simpul kemanusiaan dan simpul ideologis. Semoga rakyat Afrika dan pemerintah negeri-negerinya konsisten menolak berhubungan dengan penjajah Israel. WalLâhu al-Musta’ân.


Catatan Keberkahan
69

Jakarta, 18.09.2017

SAIFUL BAHRI

Terus Mengagungkan Allah


Jamaah haji dari berbagai penjuru dunia pelahan-lahan mulai meninggalkan tanah suci untuk kembali ke tempat asalnya. Karena ibadah haji adalah latihan, penempaan dan pembekalan spiritual. Maka, saatnya mereka mengintegrasikan hal itu dalam kehidupan nyata. Salah satu sarana dan cara untuk melanggengkan spirit kebaikan yang didapat selama menjalani rangkaian ibadah haji adalah dengan terus berdzikir kepada Allah.

Apabila kamu telah menyelesaikan ibadah hajimu, maka berdzikirlah dengan menyebut Allah, sebagaimana kamu menyebut-nyebut (membangga-banggakan) nenek moyangmu, atau (bahkan) berdzikirlah lebih banyak dari itu…” (QS. Al-Baqarah: 200)

Maka, siapapun dari jamaah haji tersebut ketika ia kembali dan menempati perannya masing-masing, maka bagaikan ia meneruskan manasik hajinya dalam hidup kesehariannya. Ia akan berbuat adil, menyayangi sesamanya, bersyukur atas karunia-karunia Allah dan berbagai peran positif lainnya. Selain itu, ia akan menahan diri dari jebakan-jebakan nasfu dan bisikan setan yang terus mengepungnya. Jika ia melakukan hal tersebut, harapannya menjadi tanda bahwa hajinya mabrur, manasik ibadahnya diterima Allah dan menuai hasil baik, bermanfaat untuk sesamanya.

Hal yang serupa juga terjadi pada saat setiap mukmin mendirikan shalat. Maka, spirit kebaikan yang ada di dalam shalat pun seharusnya menginspirasinya untuk terus mengagungkan Allah. Dzat yang ia agungkan dengan takbir belasan atau bahkan puluhan kali dalam shalatnya. Saat ia bertasbih dalam shalat, ia akan senantiasa menyucikan Allah dalam kehidupannya. Saat ia membaca al-Fatihah yang selalu diulang di setiap awal rakaat, ini pertanda totalitas penghambaan yang seharusnya. Ketika ia tutup shalat dengan salam, ini pertanda bahwa ia pun akan segera menjadi duta perdamaian, kedamaian, ketentraman dan kesejahteraan bagi seisi alam. Karena memang demikianlah peran manusia sesungguhnya. Karena Allah mencipta manusia untuk menjadi khalifah Allah di bumi-Nya. Memakmurkan dan menjaga karunia Allah dan berbagai ciptaan-Nya.

Maka apabila kamu telah menyelesaikan shalat(mu), ingatlah Allah di waktu berdiri, di waktu duduk dan di waktu berbaring…” (QS. an-Nisa’: 103)

Usai shalat, seorang mukmin yang sudah menunaikannya pun berdzikir. Ia luangkan waktu sejenak untuk meneruskan munajatnya di luar shalat. Kemudian ia bangkit, menjemput karunia Allah dan sekaligus memproyeksikannya untuk banyak hal yang bermanfaat, sambil terus ia mengagungkan dan mengingat, berdzikir dengan asma Allah.

Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung.” (QS. Al-Jumu’ah: 10)

Maka, jika takbir ini terus dilakukan dengan benar di dalam dan di luar ibadah shalat dan ibadah haji, dan bibir-bibir umat Islam terus basah dengan dzikir kepada Allah, maka kondisi umat Islam akan segera membaik.

Mengapa, perintah dzikir di dalam al-Quran senantiasa diikuti dengan frekuensi yang banyak. Karena jika dzikir itu hanya sedikit, maka berpotensi penyimpangan. Baik penyimpangan awal sebagai bentuk rutinitas yang tak terjiwai, atau penyimpangan karakter munculnya kemunafikan ketika dzikir tak lagi membekas dan menginspirasi kebaikan.

Dengan dzikir yang banyak, dengan senantiasa mengagungkan asma Allah dengan takbir yang benar, maka umat ini –biidznillah- akan kembali besar. Orang yang membesarkan Allah maka ia akan memiliki kebesaran dan kemuliaan yang Allah berikan untuk memimpin peradaban ini. Dan sebaliknya, bila ia mengerdilkan atau mengecilkan Allah, maka Allah akan benar-benar hilang dan kemudian ia menjadi orang yang terlupakan. Allah, mengabaikannya, dunia pun takkan pernah mengapresiasinya.

Pilihan ada di tangan kita untuk terus mengagungkan Allah dan mendengungkan janji-janji kemenangan dari-Nya. Agar spirit dan inspirasi kebaikan terus berdengung dalam diri kita. WalLâhu al-Musta’ân.

Catatan Keberkahan 68

Jakarta, 07.09.2017

SAIFUL BAHRI

Takbir yang Tak Lagi Menggentarkan

June 13, 2012  (AP Photo/Anurup Titu, File)

Saat takbir menggema di berbagai penjuru dunia, umat Islam berbahagia. Merayakan Idul Adha, dengan mengagungkan asma Allah. Bukan hanya satu malam atau satu hari, namun selama empat hari. Allah hadiahkan sebuah syi’ar melalui ibadah qurban. Pengorbanan yang merupakan ibadah yang sangat dianjurkan bagi umat Islam. Menapaki sunnah Nabi Ibrahim, dan keluarganya (putranya Ismail dan ibunya Hajar) yang kemudian dikukuhkan oleh Rasulullah SAW untuk dijalankan dan ditetapkan sebagai syariat bagi umatnya. Bahkan beliau tak pernah meninggalkan ibadah qurban setiap tahunnya, dalam kondisi apapun. Jelas-jelas beliau bersabda, “Barang siapa yang mampu berqurban dan ia tak melakukannya, maka jangan sekali-kali mendekati mushalla kami”.

Keagungan Allah semakin terasa, karena dua sampai tiga juta umat Islam serempak berkumpul di suatu tempat yang sama, memutihi padang Arafah, berwukuf, bermunajat, menengadah dan menyebut Tuhan yang sama. Tuhan yang menganugerahkan hari bahagia, Idul Adha.

Demikianlah seharusnya, syiar-syiar ajaran agama ini, adalah untuk menambah kebahagiaan bagi umat Islam dalam menjalankan syariat dan ajaran agama. Ajaran yang membebaskan dari berbagai jenis perbudakan, dari apapun dan siapapun.

Gema takbir yang membahana tersebut seharusnya membuat umat ini bukan hanya bahagia, namun mereka juga bangga dan berperan dalam kehidupan, serta dihargai perannya bagi kemanusiaan. Hal yang seharusnya membuat “orang lain” setidaknya mengepreasi dan tak berani mengganggu.

Sayangnya, kebahagiaan dan mimpi bangga tersebut berbalik dengan realitas yang terjadi. Nestapa pilu dan kisah kezhaliman yang belum terhentikan di Bumi Syam, di tanah suci Baitul Maqdis, Palestina, kini terangkat kembali kisah kezhaliman lainnya. Adalah kisah dari etnis muslim Rohingnya dari Rakhine State, di Myanmar. Padahal mereka tadinya adalah merupakan bagian dari kisah perjuangan rakyat Burma (sekarang Myanmar) dalam melawan penjajahan Inggris. Sayangnya, kisah perjuangan mereka berakhir dengan pengkhianatan dari sesama bangsa yang dulu pernah bersama melakukan perlawanan terhadap penjajahan. Mereka hanya dianggap sebagai pendatang dan kemudian bahkan tak diterima oleh pemerintah Myanmar. Mereka diusir, diminta kembali ke tempat asal mereka, Bangladesh. Tapi pemerintah Bangladesh pun setengah-setengah menerima. Negara-negara tetangga pun memang membantu mereka, tapi bantuan-bantuan tersebut terkesan tak serius, sehingga ribuan nyawa tetap tak terselamatkan, dan puluhan ribu lainnya terkatung-katung nasibnya. Mereka, menjadi bangsa tanpa negara, stateless.

Sebenarnya, di setiap negara akan selalu ada multi etnis. Dan faktanya mereka bisa hidup berdampingan, meski kadang terjadi konflik karena berbagai dinamika yang terjadi. Namun, yang terjadi di Myanmar, adalah sebuah kezhaliman yang bukan hanya harus dihentikan, tapi para pelakunya harus segera diseret dan dihukum secara adil.

Mengapa tatanan dunia baru yang sering diklaim serba modern ini tak mampu menghentikan kezhaliman ini? Mengapa darah dan nyawa umat Islam menjadi sangat tidak berharga untuk dilindungi?

Dan mengapa gema takbir yang terdengar secara nyata melalui pembesar-pembesar suara tak lagi menggentarkan dan mencegah tindak kezhaliman terhadap umat Islam?

Rasanya, selain usaha memobilisasi bantuan kemanusiaan dan advokasi secara internasional dan massif, kita perlu lakukan pendekatan introspektif dalam bertakbir. Apakah takbir yang terucap dan keluar dari bibir ini benar dan mampu menghadirkan keagungan dan kebesaran Allah. Jika faktanya, Allah menjadi kecil dan hilang dalam kehidupan, karena kita tak lagi menjiwai takbir tersebut, maka mungkin inilah salah satu sebab hidup kita menjadi kecil dan tak berharga. Padahal, sebelum takbir Idul Adha, kita telah bertakbir lima kali setiap rekaat dalam shalat kita.

Selamatkan Muslim Rohingya, Bangsa Palestina. Mulailah dengan bertakbir yang benar. Agungkan Allah dalam diri.

 

Catatan Keberkahan 67

Jakarta, 02.09.2017

SAIFUL BAHRI