Bumi Allah Luas

الأقصى

Jika mendengar istilah bahwa bumi Allah itu luas, langsung terlintas di benak kita firman Allah di Surah an-Nisâ’: 97 yang menegaskan kecaman Allah terhadap orang-orang yang enggan berhijrah ke Madinah. Demikian pula firman Allah di Surah al-Ankabût: 56 dan Surah az-Zumar: 10, adalah anjuran Allah jika seandainya beribadah di suatu tempat menjadi demikian sulit dan berat, maka terdapat bumi Allah lain yang luas yang bisa menjadi tempat beribadah.

Secara tekstual, ayat-ayat di atas mengisyaratkan anjuran hijrah yang bermakna fisik. Padahal hijrah bukan –HANYA– dimaknai perpindahan fisik. Jika menilik peristiwa hijrah nabawiyah ke kota Madinah merupakan perpindahan level beribadah dari skup individu menuju level yang lebih luas yaitu komunal dengan menciptakan grup value atau pada level negara. Di samping itu terdapat sekian makna hijrah yang berarti non fisik.

Tak heran jika nantinya akan ada saja pihak-pihak yang menyuarakan solusi bagi tragedi kemanusiaan yang terjadi di Palestina, penjajahan, pendudukan ilegal, perampasan tanah sampai berbagai jenis kejahatan yang terjadi, yaitu berupa solusi hijrah fisik. Artinya jika bangsa Palestina mau pindah dari tanah mereka saat ini maka –seolah– masalah kemanusiaan yang mereka hadapi akan selesai. Padahal masalah yang sesungguhnya adalah sangat krusial dan berdimensi sangat ideologis. Maka justru, kepindahan fisik umat Islam di Palestina keluar dari Palestina, khususnya dari Masjid al-Aqsha menjadi sangat tak dianjurkan. Mereka wajib untuk menjaga agar amanah Masjid al-Aqsha bisa terus dijaga dari pendudukan dan perampasan tempat-tempat suci oleh rezim Zionis Israel.

Akhir Maret 1976 adalah sebuah nestapa kelabu bagi rakyat Palestina, khususnya para petani. Pemerintah Zionis Israel merampas sekitar 21 hektar tanah Palestina di Desa Arraba, Sakhnin, Dir Hana, Thar’ân, Thamra dan Kabul serta beberapa wilayah lainnya. Pada tanggal 29 Maret 1976 diberlakukan darurat sipil yang melarang siapapun keluar rumah dari mulai pukul lima petang hingga pukul lima pagi di hari berikutnya. Sehari kemudian, 30 Maret 1976 para petani Palestina melakukan demonstrasi besar-besaran sebagai bentuk perlawanan dan melakukan mogok massal. Militer Zionis dengan keras merespon demonstrasi tersebut. Banyak korban jiwa berjatuhan. Sejak saat itu setiap tanggal 30 Maret sering disebut sebagai “Hari Tanah”, mengenang kekejaman dan kezhaliman rezim zionis yang melakukan perampasan tanah milik individu dan publik di berbagai wilayah Palestina.

Maka, logika mengenai hijrah untuk kasus Palestina harusnya dibalik. Jika bumi Allah itu luas, seharusnya tak ada perampasan tanah. Tak ada pengusiran yang semena-mena. Tak ada pembangungan pemukiman-pemukiman ilegal di atas tanah-tanah Palestina.

Jika bumi Allah itu luas, mengapa para imigran ilegal zionis yang dimobilisasi dari berbagai negara tersebut tidak mencari tanah-tanah yang tidak berpenghuni. Seharusnya mereka bisa menempati tanah-tanah kosong tak berpenghuni yang tersebar di berbagai tempat.

Jika bumi Allah itu luas, mengapa para penduduk asli Palestina harus terusir keluar dari tanah mereka sehingga berdiaspora ke berbagai belahan bumi. Sebagian besar terkatung-katung dan berstatus sebagai pengungsi atau sebagai pencari suaka di berbagai negara-negara sekitarnya.

Itulah sebuah ironi kemanusiaan di zaman modern, ketika masih ada sebuah bangsa yang harusnya memiliki negara yang berdaulat, kini hidup sebagai bangsa terjajah. Terjadi pembiaran terhadap penjajahan dan perampasan semena-mena ini. Dunia internasional tak berdaya menghentikan pembangunan pemukiman-pemukiman ilegal di Palestina. Masyarakat internasional tak berkutik menyaksikan berbagai penistaan terhadap Masjid al-Aqsha. Hal-hal buruk ini terjadi saat seruan toleransi didenungkan di mana-mana dan hak asasi manusia menjadi standar kehidupan internasional.
Catatan Keberkahan 48

Jakarta, 31.03.2017

 

SAIFUL BAHRI

Superhero

heroeslgcgogo.jpg

Kalau diperhatikan saat ini produksi film-film hollywood kembali sering memunculkan tokoh dan karakter superhero. Lihat saja deretan filmnya sangat banyak. Publikasi yang jor-joran. Mengapa, sampai ada eksplorasi yang berlebihan tentang tokoh-tokoh superhero tersebut? Bisa jadi karena ruang hampa yang muncul terlalu banyak. Hampa harapan karena para pemegang kebijakan dunia ini semakin tidak bersinergi. Benturan-benturan politis semakin mengemuka. Tragedi kemanusiaan semakin banyak dan melebar. Pembiaran yang terjadi terhadap pembunuhan, penjajahan, pengusiran semena-mena adalah bentuk-bentuk tindakan tidak manusiwai.

Krisis Suriah yang tak kunjung jelas ujungnya. Penjajahan Zionis terhadap Palestina yang semakin brutal meski dikecam oleh banyak bangsa. Serta berbagai krisis kemanusiaan lainnya, seperti kelaparan di Somalia. Hal-hal tersebut adalah potret peradaban modern kita.

Maka, sebenarnya wajar jika manusia mulai merindukan sosok superhero. Khayalan mereka mulai berfantasi menunggu datangnya manusia yang bukan manusia biasa. Agar masalah-masalah yang terjadi saat ini terselesaikan dengan segera dan tidak bertele-tele. Padahal persepsi mereka tentang superhero ini terlalu utopis. Bahkan hanya ilusi belaka.

Yang kita perlukan saat ini bukan superhero seperti yang digambarkan oleh para sineas hollywood. Yang kita perlukan saat ini adalah orang-orang yang tak menyerah dengan keterbatasan dan keadaan. Yang tak menyerah meski kezhaliman dipertontonkan di mana-mana. Yang tak menyerah meskipun kemungkaran bergelombang datang menyerbu dan menyerang. Yang tetap kokoh meskipun dikepung berbagai konspirasi.

Yang kita perlukan dengan urgen dan segera adalah persatuan. Persatuan umat ini akan menjadikan misi kepemimpinan umat Islam sebagai rahmat bagi alam semesta. Umat yang bersatu akan mengembalikan peran vital dalam memimpin peradaban manusia, pasca kepemimpinan Nabi Muhammad SAW dan para sahabatnya dan diteruskan oleh para generasi berikutnya.

Peran umat Islam dan perkhidmatannya terhadap peradaban manusia memnag tak bisa hanya diukur melalui politik dan kekuasaan. Sehingga pasca runtuhnya Khilafah Usmaniyyah 1924 M tak bisa langsung dikatakan bahwa umat Islam tak lagi berperan dalam membangun peradaban. Jika dikatakan berkurang mungkin ada benarnya, namun hal tersebut tak berarti nihil sama sekali.

Umat Islam dan manusia pada umumnya saat ini menanti hadirnya para pejuang dan pahlawan yang benar-benar memiliki tekad baja dan tanpa pamrih keduniaan dan materi. Mereka itu bukanlah manusia super yang bisa terbang atau tak tembus peluru atau berkulit baja. Mereka manusia yang normal seperti kebanyakan manusia. Tapi manusia yang nilainya melebihi seribu komunitas manusia lainnya. Bagaikan malam lailatul qadar yang melebihi seribu bulan. Karena kedekatannya dengan kalam dan wahyu Allah yang mulia.

Kembalilah kepada al-Quran, manusia super akan segera hadir membawa umat Islam memimpin peradaban manusia. Al-Quran yang menjelma dalam dirinya sehingga perkataan-perkataannya searah dengan al-Quran. Perbuatan-perbuatannya sejalan dengan panduan-panduan langit. Tingkah lakunya tak menyelisihi apa yang menjadi rambu-rambu dari Allah dan Rasul-Nya. Menjelma kembali seperti abu Bakar, Umar, Usman dan Ali serta generasi terbaik umat ini. Takkan sulit diwujudkan jika umat ini segera sadar dan kembali bersatu dengan panduan kitab-Nya. Wallaahu al-Musta’ân.

 

Catatan Keberkahan 47

Jakarta, 24.03.2017

SAIFUL BAHRI

Satu Jantung Satu Kiblat

Jantung-652x373

Jantung adalah pusat kehidupan manusia, baik kehidupan yang berarti fisiologis ataupun non-fisiologis. Al-Quran memiliki perhatian terhadap pembahasan jantung yang disebut dengan lafazh qalbu. Kata qalbu yang single (beserta derivasinya) diulang dalam al-Quran di 53 ayat. Sedangkan kata qulûb diulang dalam 104 ayat. Qalbun bisa berarti organ fisik manusia; jantung dan juga bisa diartikan non-fisik sebagai alat perasa, memahami, tempat iman, cinta, kufur dan benci serta berbagai rasa yang lainnya. Kadang bisa berarti dua-duanya sekaligus. Adapun jika al-Quran menyebutnya dengan fu’âd yang pluralnya af’idah diartikan dengan makna non fisik yaitu alat memahami dan merasakan.

Kedua kata di atas lazimnya diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan kata “HATI” yang berarti tidak fisiologis. Namun, jika tidak dijelaskan secara rinci bisa dipahami secara salah. Karena tidak definitif dan bahkan jika diarahkan ke organ tubuh hati (lever) maka tidak tepat.

Selama ini banyak kalangan menganggap bahwa jantung hanya berfungsi sebagai mesin pompa darah. Tapi, mulai abad 21 dan ketika terjadi perkembangan pesat di bidang pencangkokan jantung dan pembedahan jantung, para peneliti mulai menyadari adanya fenomena aneh dan tidak wajar yang terjadi secara psikologis pada pasien setelah dilakukan operasi pencangkokan jantung. Hal ini menandakan bahwa jantung itu tak bisa hanya dilihat secara fisiknya saja.

“mereka mempunyai qalbu, tetapi tidak dipergunakan untuk memahami”. (Sûrah Al-A’râf:179) ayat senada di surah al-Hajj: 46. Qalbu disebut sebagai alat untuk memahami.

Rasulullah SAW juga bersabda bahwa jantung merupakan organ penting. Baik secara fisik maupun non fisik. Jika ia baik maka keseluruhan anggota badan manusia akan baik, demikian juga yang berarti non fisik, jika ia baik maka secara umum ia akan menjadi manusia yang baik.

Jantung sehat secara fisik, akan mempengaruhi kesehatan dan kebugaran fisik. Jantung sehat secara non fisik (memahami, beriman, bersyukur), maka akan memacu manusia menjadi pribadi baik. Menjaga kesehatan jantung (qalbun) bisa dilakukan melalui dzikrullah (Ar-Ra‘d [13]:28), (Al-Anfâl [8]:2), (Âl-Imrân [3]:191), juga dengan tilawah al-Quran, karena Allah senantiasa memerintahkan untuk membaca al-Quran dalam kondisi apapun meskipun hanya sedikit dan sebentar (lihat Surah al-Muzammil: 20).

Jika qalbun manusia sehat, maka kondisi sosial akan sehat dan baik. Qalbun juga memancarkan gelombang elektromagnetik yang bisa saling mempengaruhi, menguatkan dan memotivasi. Jika demikian terjadi, gelombang kebaikan benar-benar bisa dibesarkan. Maka takkan ada kesenjangan sosial terlihat.

Bagaimana saat ini kita saksikan? Yang hidup di belahan bumi Eropa, orang bermain-main bola bergaji miliaran rupiah perpekannya, sementara ada ribuan/jutaan nyawa hilang karena bencana kekeringan dan kelaparan di Somalia. Di belahan bumi tertentu, daging makanan untuk hewan peliharaan lebih tinggi dan mahal dari daging yang dimakan oleh manusia di negara berkembang. Bahkan di beberapa tempat, jangankan daging, makanan pun langka didapatkan.

Di tempat-tempat tertentu orang dimanjakan dengan fasilitas properti dan gedung-gedung pencakar langit, sementara di Tepi Barat dan khususnya al-Quds rumah-rumah milik mereka sendiri digusur dengan semena-mena, di Jalur Gaza banyak sekolah tetap harus berfungsi meski gedung-gedungnya berupa reruntuhan, dan berbagai fasilitas publik lainnya karena lambannya proses recovery yang terhalang kendala suplay bahan di perbatasan atau terbatasnya dana pembangunan.

Sebagai umat Islam, selayaknya lebih memikirkan dulu saudara-saudara kita yang tertindas oleh kezhaliman dan terjebak oleh musibah kelaparan. Satu jantung dan satu kiblat. Selanjutnya memimpin peradaban memakmurkan bumi Allah dan bermanfaat untuk seluruh umat manusia.

 

Catatan Keberkahan 46

Jakarta, 17 Maret 2017

SAIFUL BAHRI