Undangan VIP

salman-king

SAIFUL BAHRI

Semenjak kedatangan Raja Salman, Raja Kerajaan Saudi Arabia ke Indonesia, gegap gempita media terdengar di mana-mana. Bahkan sebelum sang raja datang. Tulisan ini tidaklah hendak menganalisis hal-hal yang berkaitan dengan kedatangan beliau. Tapi, sekedar menuliskan sebuah refleksi salah satu dari agenda kunjungan beliau di Indonesia yang berkaitan dengan undangan.

Dalam beberapa acara beliau, baik yang di gedung parlemen, di masjid Istiqlal atau pertemuan dengan para ulama dan tokoh masyarakat, tentu mengundang beberapa tamu khusus. Sudah tentu, tamu yang diundang bersifat istimewa. Sebagian merasakan beruntung bisa hadir bertemu langsung dengan Sang Raja. Euforia dan kebanggaan tersebut sebenarnya sangat wajar, manusiawi dan natural. Terlebih jika menilik posisi negara yang dipimpin dengan negara yang dikunjungi memiliki kaitan historis yang lumayan kuat, di samping secara emosional dan ideologis memiliki kedekatan, yaitu sebagai bangsa muslim yang memungkinkan membuat poros baru dunia.

Bagi sebagian orang bahkan sampai membuat meme dan gambar-gambar lelucon yang menyatakan bahwa ia diundang atau ditelpon oleh Raja Salman. Bahkan beberapa di antaranya berlebihan, sampai membuat anekdot ia telah dikirim sejumlah uang.

Terlepas dari berbagai analisis para pakar dan tokoh terkait kunjungan Raja Salman, tak bisa dipungkiri bahwa sosoknya melekat di hati sebagian besar rakyat Indonesia. Baik yang pro atau yang kontra dengan kebijakannya, termasuk yang memiliki kepentingan dengannya secara langsung atau mereka yang memangku jabatan dan pemegang keputusan di negara ini.

Jika saja seseorang akan bangga ketika ia menerima undangan bertemu dengan Yang Mulia Raja Salman, lantas kebahagiaan seperti apa yang kelak dirasakan seorang mukmin di surga. Ketika ia dimasukkan surga dengan segala fasilitas mewah yang belum pernah dijumpainya di dunia, kemudian bertemu langsung tanpa perantara dan bisa melihat serta berbicara dengan Sang Raja manusia, Allah, pemilik segala kerajaan alam semesta, langit dan bumi serta dunia-akhirat. Siapapun di antara kita berpeluang menerima undangan VIP tersebut. Bertemu langsung dari Sang Maha Raja dari segala manusia, termasuk para raja dari manusia di dunia.

Untuk mendapatkan undangan VIP tersebut, manusia sudah dilatih –setiap hari- terlebih dahulu memenuhi undangan dan seruan dari-Nya. Yaitu undangan untuk mendatangi rumah-Nya (Baitullah) setiap hari lima kali. Sayangnya, kebanyakan manusia mengabaikan undangan tersebut. Harusnya ia berbahagia, karena yang mengundang sebenarnya adalah Sang Raja Manusia, melalui corong-corong pengeras masjid dan mushalla yang meneruskan suara para muadzin dengan berbagai macam iramanya. Lima kali dalam sehari. Dan terus berlangsung sejak zaman Nabi SAW hingga saat ini di berbagai belahan bumi.

Jika kita mudah melangkahkan kaki memenuhi undangan VIP menghadap-Nya setiap hari. Maka undangan-undangan VIP berikutnya akan mudah dipenuhi. Undangan membantu saudara-saudara kita yang terlunta-lunta di pengungsian semenjak terusir dari tanah mereka di Palestina. Undangan untuk peduli membantu recovery para korban perang di Gaza. Membantu menyelamatkan rumah Allah, al-Masjid al-Aqsha yang terus dinista dan berada dalam bahaya dintimidasi oleh penjajahan yang sudah tulis dari mendengar kecaman dunia. Menyelematkan Palestina dari ekspansi pendudukan-pendudukan serta pemukiman ilegal yang terus berlangsung. Dan ada banyak undangan VIP lainnya. Termasuk melawan setiap kezhaliman, di mana pun adanya. Allâhu al-Musta’ân.

 

Catatan Keberkahan 44

Jakarta, 02.03.2017