BERTEMUNYA CINTA DAN KEPAHLAWANAN

salahuddin

Ada berbagai alasan seseorang untuk menikah. Bagi seorang muslim, utamanya ia sedang menjalankan sunnah Rasulullah SAW yang diikuti para sahabat dan tabi’in setelahnya. Motivasi ideologis sangat laik untuk dijadikan alasan utama. Tapi, jika alasan tersebut menjadi satu-satunya motivasi, menurut penulis tentunya tidak selamanya demikian. Tujuan dan alasan pernikahan, meskipun bermuara satu, cabangnya bisa banyak. Belum lagi, jika terjadi disorientasi dalam membangun sebuah pernikahan.

Sebagian menikah karena kegelisahan dan desakan syahwat yang manusiawi, tentu tidak aib jika dibangun persepsi positif dan pijakan moral yang dikedepankan.

Sebagian menikah karena menindaklanjuti sebuah rasa yang sulit untuk dideskripsikan. Orang banyak menamakannya cinta, sebuah rasa yang orang banyak merasakannya karena manusiawi. Tetapi, banyak orang salah mempersepsikannya. Cinta itu memiliki dan mengatur perilaku, kata sebagian orang. Faktanya, cinta adalah anugerah Allah. Musa pun Allah jadikan seorang anak yang sejuk dipandang mata, cinta tumbuh berkembang di sekitarnya.

Dan Aku telah melimpahkan kepadamu cinta (kasih sayang) yang datang dari-Ku; dan supaya kamu diasuh di bawah pengawasan-Ku” (QS. Thaha: 39)

Maka perilaku sebagian orang yang mengultuskan dan mendewakan cinta untuk membangun sebuah pernikahan adalah tindakan yang kurang bijak. Allah lah yang menjanjikan menurunkan cinta dan kasih sayang secara bersamaan dan menumbuhkannya melalui pernikahan yang juga menjadi tanda kekuasaan-Nya. Ada pertemuan dan penyatuan dua makhluk yang serba berbeda.

Sebagian orang menikah karena sudut pandang matrealistik. Baik materi yang melekat pada fisik orang, kecantikan fisik, atau materi yang menempel belakangan seperti kekayaan harta.

Sebagian lagi menikahi seseorang karena jabatan dan posisi sosial atau kehormatan dan prestise sosial. Serta sekian cerita yang mengatasnamakan cinta dan misteri rasa yang berada dalam dada dua makhluk Allah yang berbeda; laki-laki dan perempuan

Simaklah, sebuah kisah menarik. Sebuah sudut pandang tentang cinta yang menjadi energi positif. Cinta yang menumbuhkan keberanian. Cinta yang menemukan pelabuhan kegundahan seorang laki-laki akan kondisi masyarakat, dan seorang perempuan yang juga merasakan hal yang tak jauh berbeda. Takdir mempertemukan mereka berdua. Mereka, menjemputnya dengan berbagai ikhtiar dan usaha.

Dikisahkan seorang penguasa Tikrit (Irak), bernama Ayyub bin Syadzi; yang lebih dikenal dengan sebutan Sultan Najmuddin Ayyub ingin mencari pasangan hidupnya. Ia belum menikah dalam waktu yang cukup lama. Sampai-sampai saudara kandungnya, Asaduddin Syerkuh sering keheranan dan mengulangi pertanyaannya, siapa yang ia cari dan mengapa ia tak segera menikah. JAwaban singkat Najmuddin Ayyub selalu sama, “Aku belum mendapatkan calon istri yang pas.”

Asaduddin pun bermaksud mencarikan calon yang cocok untuk kakaknya. IA memberikan pilihan kepada Ayyub. “Bagaimana dengan puteri Malik Syah—anak Sultan Muhammad bin Malik Syah—Raja Bani Saljuk atau putri Nizhamul Mulk—menteri besar yang terkenal di zaman Abbasiyah.”

Namun, Ayyub pun menjawab ringan. “Tak ada yang cocok untukku!”

Asaduddin bingung dan heran, ia pun mendesak kakaknya, siapa yang sebenarnya dicarinya. Akhirnya ia menemukan jawaban dari misteri yang dipendam sang kakak. Ia mencari seorang perempuan yang bersedia melahirkan seorang pemberani dan pahlawan yang mampu menaklukkan kembali Baitul Maqdis dari tangan tentara salib dan mengembalikannya ke tangan umat Islam.

Tikrit tidaklah jauh dari Baitul Maqdis. Itulah, rupanya kegundahan seorang Gubernur Tikrit. Gubernur lajang yang sedang berikhtiar mencari jodohnya.

Maka, pada suatu hari, Najmuddin duduk bersama seorang lelaki tua di sebuah masjid di Tikrit. Mereka membincangkan banyak hal. Tiba-tiba ada seorang gadis yang memanggil lelaki tua tersebut dari balik tirai. Ia pun bergegas menemui sang gadis, setelah meminta izin kepada Najmuddin Ayyub.

Rupanya, lelaki tua itu adalah ayahnya. Ia berbicara dengan putrinya. Menanyakan mengapa ia menolak lelaki yang melamarnya. Sebenarnya apa yang diinginkannya. Sang gadis menjawab dengan sedikit emosional. Ada isakan kecil mengiringinya. “Aku inginkan seorang pemuda yang menggandeng tanganku ke surga. Aku ingin melahirkan darinya seorang pemberani yang bersedia dan mampu mengembalikan Baitul Maqdis kepada kaum muslimin.”

Deg. Ayyub mendengar kata-kata gadis itu dengan jelas, meski sang gadis lirih mengatakannya kepada ayahnya.

“Dia cocok untukku!” Ayyub membatin dalam-dalam.

Inilah rekayasa dan skenario Allah. Najmuddin yang kaya dan berkuasa. Sementara gadis itu adalah seorang yang biasa, dari kalangan rakyat jelata. Namun, sang gubernur tak memedulikannya.

“Aku ingin menikahinya dan titik.” Demikian ia mengikrarkan niatnya.

Ayyub memanggil lelaki tua tersebut. Lelaki tua itu terkaget dan terkejut keheranan.

“Tapi, ia seorang gadis yang miskin dan biasa. Ayahnya, adalah seorang yang seperti Anda lihat”

Najmuddin Ayyub berkata tegas, “Ini yang aku inginkan. Aku ingin menikahi seorang perempuan yang dengannya aku berharap meraih surga. Aku ingin dia mau melahirkan dariku anak lelaki yang pemberani yang akan menaklukkan kembali Baitul Maqdis. Merealisasikan mimpi dan cita-citaku!”

Itulah pertemuan cinta dan kepahlawanan dari dua kasta sosial yang berbeda. Allah yang menyatukan dua cinta. Cinta kembalinya Baitul Maqdis ke tangan yang berhak mengurusnya. Kepahlawanan yang muncul menyingkirkan gengsi materi dan jabatan sosial serta mata dan perkataan orang yang mungkin akan mempertanyakan pertemuan dua cinta ini.

Dari mereka berdua, lahirlah seorang lelaki pemberani yang namanya menggetarkan siapa saja yang mengetahuinya. Lahirlah dengan izin dan karunia Sang Maha Cinta, dari pernikahan cinta dan kepahlawanan ini. Yusuf namanya. Yusuf bin Ayyub. Dan kita lebih mengenalnya dengan SHALAHUDDIN AL-AYYUBI.

 

Catatan Keberkahan 41

Puncak, 19.01.2017

SAIFUL BAHRI

Iklan

NAFAS-NAFAS BARU

air-dan-kupu2

SAIFUL BAHRI

Perubahan atau pergantian waktu adalah sebuah karunia dan salah satu nikmat Allah. Di samping itu hal tersebut menjadi tanda-tanda kekuasaan Allah yang mengubah segalanya. Perubahan adalah ciri utama makhluk-Nya. Jika waktu ini dijadikan malam selamanya oleh Allah, maka siapa tuhan selain-Nya yang sanggup mendatangkan cahaya seterang siang? Sebaliknya, jika waktu ini dijadikan siang selamanya oleh Allah, maka siapakah yang sanggup membuat malam sebagai waktu normal untuk beristirahat para manusia? Itulah yang disampaikan Allah dalam firman-Nya di QS. Al-Qashash: 71-72.

Momentum pergantian tahun yang baru saja berlalu beberapa waktu, bagi sebagian orang dijadikan titik tolak perubahan. Dalam lingkup mikro saja tak jarang kalender baru tersebut dijadikan patokan untuk membuat perencanaan keuangan, membuat perencanaan kegiatan dan sebagainya.

Sebenarnya tak ada yang salah dengan siang atau malam. Demikian juga matahari dan bulan yang Allah yang salah satu kegunaannya adalah menjadi ukuran waktu. Dengan patokan matahari, umat Islam menentukan waktu shalat seperti yang diperintahkan oleh Rasulullah SAW untuk meniru dan menyontoh shalatnya. Dengan patokan bulan, umat Islam ini juga menggunakan penanggalan untuk melaksanakan puasa Ramadan, menunaikan zakatnya juga melaksanakan manasik haji.

Berbagai peristiwa sudah terjadi sepanjang tahun 2016. Ada yang membuat mata-mata ini sembab menyaksikan berbagai berita yang memilukan dan menyakiti rasa kemanusiaan kita. Ada yang membuat bibir-bibir ini tersenyum menghayati berbagai suka cita. Ada nada kemarahan menyaksikan kezhaliman dipertontonkan di mana-mana. Ada kekecewaan karena berbagai harapan yang terhalangi atau bahkan tersingkirkan. Ada rasa optimisme membuncah menyaksikan kebangkitan umat di tengah berbagai himpitan makar dan konspirasi. Berbagai rasa bercampur. Mengaduk emosi dan perasaan kita. Namun, yang paling menonjol sepanjang tahun kemarin adalah berbagai berita yang memburukkan citra umat Islam. Baik masifnya media massa yang mewartakan berbagai pengeboman dan aksi-aksi terorisme yang diklaim ISIS ada di belakangnya, atau pun suasana pilu yang menimpa Libya, Iraq, dan Suriah di samping permasalahan utama di Timur Tengah pemukiman ilegal Israel yang terus dibangun meskipun ditengah kecaman dunia internasional. Penistaan-penistaan yang dilakukan terhadap Masjid al-Aqsha.

Di balik nestapa kemanusiaan yang sama-sama dialami oleh Palestina dan Suriah, simaklah berbagai keajaiban dan kisah-kisah heroik anak-anak kecil di berbagai pengungsian Palestina.

Ketika bencana kemanusiaan semakin memburuk di Suriah, khususnya di Aleppo, para anak-anak kecil di Gaza juga berbagai tempat pengungsian Palestina di Jordania dan Libanon, juga yang ada di Turki semua menggalang dana kemanusiaan untuk para anak-anak dan pengungsi Suriah. Padahal sebagaimana kita tahu, kondisi mereka, para pengungsi Palestina sangat memerlukan bantuan kemanusiaan. Terkhusus mereka yang berada di Gaza yang belum terecovery dengan baik pasca serangan Israel di tahun 2014 yang lalu.

Perihal bantuan kemanusiaan ini, tidaklah selalu sejalan secara empirik dengan kemampuan materi seseorang atau kecerdasan intelektualnya. Karena yang menjadi sumbunya adalah kepekaan spiritual yang melengkapi kepekaan intelektual (pengetahuan dan informasi), kepekaan emosional (sedih dan pilu) dan kepekaan sosial (sebagai bentuk rasa solidaritas kemanusiaan). Kepekaan spiritual adalah bentuk nyata dari hasil ibadah seseorang yang menghubungkannya dengan Allah secara vertikal.

Bantuan kemanusiaan yang diberikan mereka, yang juga sedang terbelit kesulitan berangkat dari spirit kebesaran Allah yang dideklarasikannya setiap shalat dan dalam setiap perpindahan gerakan di dalamnya. Spirit ingin lebih disayangi Allah dan menebar kasih sayang. Agar segala bentuk permusuhan dan keserakahan manusia segera sirna dan tersingkirkan.

Spirit ini barangkali keinginan para pengungsi itu untuk menghadirkan surga dalam bentuk lain di dunia. Surga yang tidak hanya berbentuk kemakmuran dan gelimang materi serta kekayaan yang kasad mata terlihat. Surga dalam bentuk solidaritas sesama, kepedulian terhadap mereka yang mengalami kesulitan. Itulah spirit yang disampaikan oleh Rasulullah SAW, bahwa bisa jadi sedekah satu dirham mengalahkan sedekah seribu dirham. Karena si pemiliki satu dirham menyumbangkan setengah hartanya yang “hanya” dua dirham, si penyumbang seribu dirham ia memiliki ribuan atau ratusan ribu lainnya. Karena tak selamanya diukur dengan parameter angka.

Spirit perubahan bergantinya waktu adalah ruh optimis yang selalu Allah berikan kepada para makhluknya. Setiap pagi kita seolah mendengarkan lantunan optimisme dari firman-Nya, “Dan demi waktu shubuh ketika bernafas” (QS. At-Takwir: 18)

Itulah nafas-nafas baru yang Allah karuniakan untuk setiap makhluknya. Jika seorang hamba-Nya di hari kemarin berbuat maksiat, nafas baru ini adalah kesempatannya untuk kembali dan bertaubat. Jika hari yang lalu ia telah lewati dengan prestasi, maka nafas baru adalah menciptakan peluang prestasi berikutnya, atau setidaknya mempertahankan atau menebar kebaikannya. Semuanya diberikan Allah peluang dan pintu-pintu kebaikan setiap paginya.

Maka, ketika kalender berganti, jika manusia yang ada hanya sekedar mengganti kalender yang lama dengan yang baru, maka ia belum menghayati makna perubahan dan sunnah pergantian yang sedang Allah perjalankan untuknya.

Saatnya umat ini bertansformasi, mengubah dirinya bersama nafas baru yang Allah kirimkan setiap pagi. Peristiwa apapun yang dilalui umat ini di tahun lalu, kini saatnya mengubah diri sendiri untuk mengisi peluang dan memasuki pintu-pintu kebaikan yang telah Allah buka.

Bersama nafas baru, jangan beri peluang para durjana merenggut optimism. Raih kemenangan. Kemerdekaan. Bebaskan dari segala belenggu yang menghalangi sampai di jalan Allah, Sang Pemberi nafas-nafas baru di setiap pagi. HasbunalLâhu wani’mal wakîl.

 

Catatan Keberkahan 40

Jakarta, 09.01.2017