GELOMBANG HATI

Gelombang Hati

Perawakannya biasa, bahkan bisa dikatakan sederhana. Dari postur tubuhnya bisa ditaksir, beliau berusia cukup tua. Berdiri disampingnya seolah membersamai ayah. Entah mengapa, petang ini beliau lah orang spesial yang Allah kirim menyebelahi saya.

Saat imam Shalat Maghrib membaca akhir ayat surah an-Naba’, tiba-tiba beliau terisak. Bahunya terguncang. Tanpa terasa, air mata ini ikut meleleh. Tanpa direncanakan dan diprediksi sebelumnya. Tiba-tiba saja, ada rasa yang tak terkatakan. Ada suasana yang tak terlukiskan. Ada beribu kesan yang tak bisa digambarkan. Kesyahduan yang agak cukup lama berkurang dan hampir hilang. Tertindih berbagai kesibukan, oleh rapat-rapat dan penugasan. Amanah yang bertubi-tubi. Maraton menyiapkan berbagai tulisan dan materi presentasi. Membuat laporan dan tentunya sekaligus sebagai kepala rumah tangga yang memiliki tanggung jawab.

Saya bersyukur Allah kirimkan gelombang yang menarik senar-senar hati agar kembali peka. Kepekaan dalam shalat yang menjadi energi semangat. Tetesan air yang tak banyak itu sudah cukup menjadi getaran yang ditulari oleh gelombang yang berasal dari si bapak tua di samping saya.

Saya semakin meyakini, inilah mengapa shalat berjamaah sangat dianjurkan. Selain menjadi sarana merekayasa kekhusyukan dan semangat kebaikan, ia menjadi media penangkap gelombang kesyahduan yang bisa jadi Allah kirimkan melalui siapa saja yang ada saat itu. Bisa melalui bacaan imam yang tiba-tiba menyentuh sanubari terdalam. Bisa melalui isak kecil seseorang di samping kita. Atau bahkan tiba-tiba melalui sesuatu yang ada dalam diri ini.

Terima kasih Ya Rabb, engkau kirimkan sebuah gelombang kehidupan di dalam hati yang terdalam.

******

Sinyal-sinyal dan gelombang ini sebenarnya juga dialami oleh banyak orang dalam hidupnya. Contohnya, saat menguap biasanya akan bergelombang menularkan kepada beberapa orang di sekelilingnya. Semangat atau kondisi sebaliknya juga menular dan menjalar kepada orang-orang di sekeliling kita. Itulah makna urgendi komunitas dan sebuah rekayasa kebaikan.

Dalam surah al-Ashr, Allah memvonis dengan kemahatahuan-Nya bahwa manusia itu berada dalam kerugian. Kata “al-Insân” yang single lebih menekankan setiap individu atau person yang diperhatikan. Tetapi pengecualian dan solusi terhindar dari kerugian disebut oleh Allah dalam bentuk plural.

“… kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.” (QS. al-‘Ashr: 3)

Perhatikanlah kata “âmanû”, “wa ‘amilû” dan “wa tawâshaw” semuanya disebut dalam bentuk plural. Hal ini menekankan pentingnya berkelompok membentuk group value. Mengadakan dan membuat komunitas yang merekayasa bergelombangnya kebaikan secara natural. Sekilas sepertinya bertentangan. Rekayasa dan natural. Padahal keduanya sangat berhubungan. Rekayasa adalah untuk sebuah prakondisi. Dan mempertahankan kondisi natural artinya tak ada pemaksaan.

Bersyukur dipertemukan dengan tak sedikit orang-orang yang bersemangat. Membersamai para dai dan pejuang. Tak jarang berada di tengah-tengah ulama dan shalihîn. Itu semua adalah kesyukuran dari nikmat dan karunia Allah yang tak pernah terhitung banyaknya.

Maka, kemudian jika gelombang-gelombang kebaikan yang dilakukan oleh berbagai orang di dunia ini kemudian sampai melalui berbagai media adalah Allah yang mengirimnya. Sekaligus membuka hati ini untuk siap menerima kiriman sinyalnya.

Berbagai kisah kezhaliman dari Bumi Syam, khususnya di Palestina, masih selalu hadir meski tersekat oleh jarak geografis. Itu karena Allah yang mengirim gelombangnya. Di saat mungkin beberapa pihak sangat terbiasa mendengar berita pengeboman di Iraq. Atau serangan udara yang menewaskan sekian orang di Suriah. Atau baku tembak yang menghasilkan korban nyawa sangat banyak. Seolah menjadi berita biasa. Saking biasanya media memberitakannya. Dingin seolah tanpa getaran.

Maka bersyukurlah, jika Allah mengirimkannya kepada kita. Jika kemudian hati ini menerima sinyal gelombang yang Allah kirimkan. Itu pertanda Allah menyayangi kita, Allah member nikmat lain kepada kita. Dan sekaligus memberikan amanah-Nya kepada kita untuk melaksanakan risalah peradaban yang ditaklifkan kepada manusia. Manusia, tetapi tidak semua manusia. Berharap, diri ini dapat dan mampu tunaikan amanah dan risalah membangun peradaban sebagaimana para nabi memulainya kemudian ditutup oleh risalah kekal Sang Nabi akhir zaman. Lalu, dilanjutkan oleh para sahabat dan tabi’in setelahnya. Maka, meneruskannya adalah sebuah anugerah sekaligus amanah yang kelak akan dimintai pertanggungjawabannya.

Bersama rapatkan barisan. Kokohkan komunitas yang baik. Rekayasa, besarkan gelombang-gelombang kebaikan. Agar semakin menyentuh senar-senar kepekaan di hati setiap hamba-Nya. Allâhu al-Musta’ân.

 

Catatan Keberkahan 39

Jakarta, 20.09.2016

DR. SAIFUL BAHRI, M.A

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s